Anda di halaman 1dari 72

ISI

Budidaya Pala - Budidaya Petani. Pada kesempatan kali ini blog Budidaya Petani akan
membahas mengenai Cara Budidaya Pala dan beberapa informasi lain yang berhubungan dengan
budidaya pala. Budidaya Pala banyak ditemui misalnya di daerah Sulawesi, Irian atau Aceh.
Berikut artikel tentang budidaya tanaman pala tersebut.

Pala merupakan tanaman buah asli Indonesia yang berasal dari Banda dan Maluku.Tanaman pala
memiliki beberapa jenis yaitu: Myristica fragrans Houtt, Myristica argentea Ware, Myristica fattua
Houtt, Myristica specioga Ware, Myristica Sucedona BL, Myristica malabarica Lam.
Jenis pala yang banyak dibudidayakan adalah jenis Myristica fragrans, karena mempunyai nilai
ekonomi lebih tinggi daripada jenis lainnya. Manfaat pala adalah selain sebagai rempah-rempah,
pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam
industri pengalengan, minuman dan juga kosmetik.

Kulit, batang dan daun pala : Batang pohon pala hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
Sedangkan kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri
Fuli : Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman
pala, disebut bunga pala. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual di dalam
negeri.
Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempah-rempah.
Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang
disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat
baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntah-muntah dan lain-lainya.
Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses
menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala,
kKristal daging buah pala.

Iklim Untuk Budidaya Pala

Tanaman pala juga membutuhkan iklim yang panas dengan curah hujan yang tinggi dan
agak merata/tidak banyak berubah sepanjang tahun.
Suhu udara lingkungan 20-30 derajat C sedangkan, curah hujan terbagi secara teratur
sepanjang tahun. Tanaman pala tergolong jenis tanaman yang tahan terhadap musim kering
selama beberapa bulan.

Media Tanam Pala

Tanaman ini membutuhkan tanah yang gembur, subur dan sangat cocok pada tanah
vulkasnis yang mempunyai pembuangan air yang baik. Tanaman pala tumbuh baik di tanah
yang bertekstur pasir sampai lempung dengan kandungan bahan organis yang tinggi.
Sedangkan pH tanah yang cocok untuk tanaman pala adalah 5,5 6,5. Tanaman ini peka
terhadap gangguan air, maka untuk tanaman ini harus memiliki saluran drainase yang baik.
Pada tanah-tanah yang miring seperti pada lereng pegunungan, agar tanah tidak mengalami
erosi sehingga tingkat kesuburannya berkurang, maka perlu dibuat teras-teras melintang
lereng.
Ketinggian Tempat Untuk Budidaya Pala

Tanaman pala dapat tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 500-700 m dpl.
Sedangkan pada ketinggian di atas 700 m, produksitivitas tanaman akan rendah.

Perbanyakan bibit dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam hal ini biji
yang digunakan berasal dari:

Biji sapuan: biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti
mengenai pohon induknya.
Biji terpilih: biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal ini
ada 3 macam biji terpilih, yaitu:

- biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas
diketahui);
- biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas
diketahui;
- biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua
klon atau lebih.

Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak.
Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang
mempunyai sifat-sifat yaitu pohon dewasa yang tumbuhnya sehat; dan mampu berproduksi tinggi
dan kwalitasnya baik.

Biji-biji dari pohon induk terpilih yang akan digunakan sebagai benih harus diseleksi, yaitu dipilih
biji-biji yang ukurannya besar dengan bobot minimum 50 gram/biji, berbentuk agak bulat dan
simetris, kulit biji berwarna coklat kehitam-hitaman dan mengkilat, tidak terserang oleh hama dan
penyakit. Buah pala yang dipetik dari pohon dan akan dijadikan benih harus segera diambil bijinya,
paling lambat dalam waktu 24 jam biji-biji tersebut harus sudah disemaikan. Hal ini disebabkan
oleh sifat biji pala yang daya berkecambahnya dapat cepat menurun.

Tanah tempat penyemaian harus dekat sumber air untuk lebih memudahkan melakukan
penyiraman pesemaian. Tanah yang akan dipakai untuk penyemaian harus dipilih tanah yang subur
dan gembur. Tanah diolah dengan cangkul dengan kedalaman olakan sekitar 20 cm dan dibuat
bedengan dengan ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang
akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Kemudian tanah yang sudah diolah
tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi)
secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan
dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase.
Bedengan diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2
m dan sebelah Barat 1 m. maksud pemberian peneduh ini adalah agar pesemaian hanya terkena
sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu
persemaian itu terlindungi oleh peneduh.
Tanah bedengan disiram air sedikit demi sedikit sehingga kebasahannya merata dan tidak sampai
terjadi genangan air pada bedengan. Kemudian biji-biji pala disemaikan dengan membenamkan
biji pala sampai sedalam sekiat 1 cm di bawah permukaan tanah bedengan. Jarak persemaian antar-
biji adalah 15X15 cm. Posisi dalam membenamkan biji/benih harus rapat, yakni garis putih pada
kulit biji terletak di bawah. Pemeliharaan pesemaian terutama adalah menjaga tanah bedengan
tetap dalam keadaan basah (disiram dengan air) dan menjaga agar tanah bedengan tetap bersih dari
gulma).

Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian
tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur
yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong
polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak.

Polybag yang sudah berisi bibit tanaman harus diletakkan pada tempat yang terlindung dari sinar
matahari/diletakkan berderet-deret dan diatasnya diberi atap pelindung berupa anyaman daun
kelapa/jerami.
Pemeliharaan dalam polybag terutama adalah menjaga agar media tumbuhnya tetap bersih dari
gulma dan menjaga media tumbuh dalam keadaan tetap basah namun tidak tergantung air. Agar
tidak tergenang air, bagian bawahnya dari polybag harus diberi lubang untuk jalan keluar air
siraman/air hujan.
Bibit-bibit tersebut dapat dilakukan pemupukan ringan, yakni dengan pupuk TSP dan urea masing-
masing sektar 1 gram tiap pemupukan. Pupuk ditaruh di atas permukaan media tumbuh kemudian
langsung disiram. Pemupukan dilakukan 2 kali dalam setahun, yakni pada awal musim hujan dan
pada akhir musim hujan. Setelah bibit tanaman mempunyai 35 batang cabang, maka bibit ini
dapat dipindahkan/ditanam di lapangan.

Perbanyakan bibit tanaman pala dengan cara mencangkok bertujuan untuk mendapatkan tanaman
yang mempunyai sifat-sifat asli induknya-pohon yang dicangkok. Hal yang diperhatikan dalam
memilih batang/cabang yang akan dicangkok adalah dari pohon yang tumbuhnya sehat dan mampu
memproduksi buah cukup banyak, pohon yang sudah berumur 1215 tahun. Batang yang sudah
berkayu, tetapi tidak terlalu tua/terlalu muda.

Cara mencangkok:

Batang dikelupas kulitnya dengan pisau tajam secara melingkar sepanjang 34 cm. Posisi
cangkokan sekitar 25 cm dari pangkal batang/cabang. Lendir/kambium yang melapisi kayu
dihilangkan dengan cara disisrik kambiumnya, batang yang akan dicangkok tersebut
dibiarkan selama beberapa jam sampai kayunya yang tampak itu kering benar.
Ambillah tanah yang gembur dan sudah dicampuri dengan pupuk kandang dalam keadaan
basah dan menggumpal. Kemudian tanah tersebut ditempelkan/dibalutkan pada bagian
batang yang telah dikuliti berbentuk gundukan tanah. Gundukan tanah tersebut kemudian
dibalut dengan sabut kelapa/plastik. Agar tanah dapat melekat erat pada batang yang sudah
dikuliti,
maka sabut kelapa/plastik pembalut itu diikat dengan tali secara kuat pada bagian bawa,
bagian tengah dan bagian atas. Bila menggunakan pembalut dari palstik, maka bagian atas
dan bagian bawah harus diberi lubang kecil untuk memasukkan air siraman (lubang bagian
atas) dan sebagai saluran drainase (lubang bagian bawah). Bila pencangkokkan ini berhasil
dengan baik, maka setelah 2 bulan akan tumbuh perakarannya. Jika perakaran cangkokkan
itu sudah siap untuk dipotong dan
dipindahkan keranjang atau ditanam langsung di lapangan.

3) Perbanyakan Bibit Pala Dengan Cara Peyambungan (Enten Dan Okulasi)


Perbanyakan bibit pala dengan sistem penyambungan adalah menempatkan bagian tanaman yang
dipilih pada bagian tanaman lain sebagai induknya sehingga membentuk satu tanaman bersama.
Sistem penyambungan ini ada dua cara, yakni:
A. Penyambungan Pucuk (entern, grafting) : Penyambungan pucuk ini ada tiga macam yaitu :

Enten celah (batang atas dan batang bawah sama besar)


Enten pangkas atau kopulasi
Enten sisi (segi tiga)

B. Penyambungan mata (okulasi) : Penyambungan mata ada tiga macam yaitu :

Okulasi biasa (segi empat)


Okulasi T
Forkert
Setelah 3-4 bulan sejak penyambungan dengan sistem enten atau okulasi itu dilakukan dan
jika telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada penyambungan enten) dan
mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman sudah dapat ditanam di lapangan.

Perbanyakan Cara Penyusuan (Inarching Atau Approach Grafting). Dalam sistem penyusuan ini,
ukuran batang bawah dan batang atas harus sama besar (kurang lebih besar jari tangan orang
dewasa). Cara melakukannya adalah sebagai berikut:

Pilihlah calon bawah dan batang atas yang mempunyai ukuran sama.
Lakukanlah penyayatan pada batang atas dan batang bawah dengan bentuk dan ukuran
sampai terkena bagian dari kayu.
Tempelkan batang bawah tersebut pada batang atas tepat pada bekas sayatan tadi dan
ikatlah pada batang atas tepat pada bekas sayatan dan ikat dengan kuat tali rafia.

Setelah beberapa waktu, kedua batang tersebut akan tumbuh bersama-sama seolah-olah batang
bawah menyusu pada batang atas sebagai induknya. Dalam waktu 46 minggu, penyusuan ini
sudah dapat dilihat hasilnya. Jika batang atas daun-daunnya tidak layu, maka penyusuan itu dapat
dipastikan berhasil. Setelah 4 bulan, batang bagian bawah dan bagian atas sudah tidak diperlukan
lagi dan boleh dipotong serta dibiarkan tumbuh secara sempurna. Jika telah tumbuh sempurna,
maka bibit dari hasil penyusuan tersebut sudah dapat ditanam di lapangan.

Tanaman pala dapat diperbanyak dengan stek tua dan muda yang dengan 0,5% larutan hormaon
IBA. Penyetekan menggunakan hormon IBA 0,5%, biasanya pada umur 4 bulan setelah dilakukan
penyetekan sudah keluar akar-akarnya. Kemudian tiga bulan berikutnya sudah tumbuh perakaran
yang cukup banyak. Percobaan lain adalah dengan menggunakan IBA 0,6% dalam bentuk kapur.
Penyetekan dengan menggunakan IBA 0,6%, biasanya setelah 8 minggu sudah terbentuk kalus di
bagian bawah stek. Kemudian jika diperlukan untuk kedua kalinya dengan larutan IBA 0,5%,
maka setelah 9 bulan kemudian sudah tampak perakaran.

Kebun untuk tanaman pala perlu disiapkan sebaik-baiknya, di atas lahan masih terdapat semak
belukar harus dihilangkan. Kemudian tanah diolah agar menjadi gembur sehingga aerasi
(peredaran udara dalam tanah) berjalan dengan baik. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan pada
musim kemarau supaya proses penggemburan tanah itu dapat lebih efektif. Pengolahan tanah pada
kondisi lahan yang miring harus dilakukan menurut arah melintang lereng. Pengolahan tanah
dengan cara ini akan membentuk alur yang dapat mencegah aliran permukaan tanah/menghindari
erosi. Pada tanah yang kemiringan 20% perlu dibuat teras-teras dengan ukuran lebar sekitar 2 m,
dapat pula dibuat teras tersusun dengan penanaman sistem kountur, yaitu dapat membentuk teras
guludan, teras kredit/teras bangku.

Penanaman bibit dilakukan pada awal musim hujan. Hal ini untuk mencegah agar bibit tanaman
tidak mati karena kekeringan, bibit tanaman yang berasal dari biji dan sudah mempunyai 35
batang cabang biasanya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sehingga
pertumbuhannya dapat baik. Penanaman yang berasal dari biji dilakukan dengan cara sebagai
berikut: polybag (kantong pelastik) di lepaskan terlebih dahulu, bibit dimasukkan kedalam lubang
tanam dan permukaan tanah pada lubang tanam tersebut dibuat sedikit dibawah permukaan lahan
kebun. Setelah bibit-bibit tersebut ditanam, kemudian lubang tanam tersebut disiram dengan air
supaya media tumbuh dalam lubang menjadi basah.
Bila bibit pala yang berasal dari cangkok, maka sebelum ditanam daun-daunnya harus dikurangi
terlebih dahulu untuk mencegah penguapan yang cepat. Lubang tanam untuk bibit pala yang
berasal dari cangkang perlu dibuat lebih dalam. Hal ini dimaksudkan agar setelah dewasa tanaman
tersebut tidak roboh karena sistem akaran dari bibit cangkokan tidak memiliki akar tunggang.
Setelah bibit di tanam, lubang tanam harus segera disiram supaya media tumbuhan menjadi basah.
Penanaman bibit pala yang berasal dari enten dan okulasi dapat dilakukan seperti menanam bibit-
bibit pala yang berasal dari biji. Lubang tanaman perlu dipersiapkan satu bulan sebelum bibit
ditanam. Hal ini bertujuan agar tanah dalam lubangan menjadi dayung (tidak asam), terutama jika
pembuatannya pada musim hujan, lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm untuk jenis
tanah ringan dan ukuran 80x80x80 cm untuk jenis tanah liat. Dalam menggali lubang tanam,
lapisan tanah bagian atas harus dipisahkan dengan lapisan tanah bagian bawah, sebab kedua
lapisan tanah ini mengandung unsur yang berbeda. Setelah beberapa waktu, tanah galian bagian
bawah di masukkan lebih dahulu, kemudian menyusul tanah galian bagian atas yang telah
dicampur dengan pupuk kandang secukupnya. Jarak tanam yang baik untuk tanaman pala adalah:
pada lahan datar adalah 9x10 m. Sedangkan pada lahan bergelombang adalah 9x9 m.
Untuk mencegah kerusakan atau bahkan kematian tanaman, maka perlu di usahakan tanaman
pelindung yang pertumbuhannya cepat, misalnya tanaman jenis Clerisidae atau jauh sebelumnya
bibit pala di tanam, lahan terlebih dahulu di tanami jenis tanaman buah-buahan/tanaman kelapa.

Penyulaman harus dilakukan dilakukan jika bibit tanaman pala itu mati/pertumbuhannya
kurang baik.
Pada akhir musim hujan, setelah pemupukan sebaiknya segera dilakukan penyiraman agar
pupuk dapat segera larut dan diserap akar. Pada waktu tanaman masih muda, pemupukan
dapat dilakukan dengan pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik ( pupuk
kimia sama dengan pupuk buatan) yaitu berupa TSP, Urea dan KCl. Namun jika tanaman
sudah dewasa/sudah tua, pemupukan yang dan lebih efektif adalah pupuk anorganik.
Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal musim hujan dan pada akhir
musim hujan.
Sebelum pemupukan dilakukan, hendaknya dibuat parit sedalam 10 cm dan lebar 20 cm
secara melingkar di sekitar batang pokok tanaman selebar kanopi (tajuk pohon), kemudian
pupuk TSP, Urea dan KCl ditabur dalam parit tersebut secara merata dan segera ditimbun
tanah dengan rapat. Jika pemupukan di lakukan pada awal musim hujan, setelah dilakuakan
pada akhir musim hujan, maka untuk membantu pelarutan pupuk dapat dilakukan
penyiraman, tetapi jika kondisinya masih banyak turun hujan tidak perlu dilakukan
penyiraman.

Hama dan Penyakit Tanaman Pala

Hama
Penggerek batang. Tanaman pala yang terserang oleh hama ini dalam waktu tertentu dapat
mengalami kematian. Gejala: terdapat lubang gerekan pada batang diameter 0,51 cm, di mana
didapat serbuk kayu. Pengendalian yang dilakukan

menutup lubang gerekan dengan kayu/membuat lekukan pada lubang gerekan dan
membunuh hamanya.
memasukkan/menginjeksikan (menginfuskan) racun serangga seperti Dimicron 199 EC
dan Tamaran 50 EC sistemik ke dalam batang pohon pala menggunakan alat bor, dosis
yang dimasukkan sebanyak 1520 cc dan lubang tersebut segera ditutup kembali.

Anai-Anai / Rayap. Hama anai-anai mulai menyerang dari akar tanaman, masuk ke pangkal
batang dan akhirnya sampai ke dalam batang. Gejala: terjadinya bercak hitam pada permukaan
batang, jika bercak hitam itu dikupas, maka sarang dan saluran yang dibuat oleh anai-anai (rayap)
akan kelihatan. Pengendalian: menyemprotkan larutan insektisida pada tanah di sekitar batang
tanaman yang diserang, insektisida disemprotkan pada bercak hitam supaya dapat merembes
kedalam sarang dan saluran-saluran yang dibuat oleh anai-anai tersebut.
Kumbang Aeroceum fariculatus. Hama kumbang berukuran kecil dan sering menyerang biji
pala. Imagonnya menggerek biji dan meletakkan telur di dalamnya. Di dalam biji tersebut, telur
akan menetas dan menjadi larva yang dapat menggerek biji pala secara keseluruhan. Pengendalian:
mengeringkan secepatnya biji pala setelah diambil dari buahnya.

Penyakit
Kanker batang. Gejala: terjadinya pembengkakan batang, cabang atau ranting tanaman yang
diserang. Pengendalian: membersihkan kebun dari semak belukar, memangkas bagian yang
terserang dan dibakar.
Belah putih. Penyebab: cendawan coreneum sp. yang dapat menyebabkan buah terbelah dan
gugur sebelum tua. Gejala: terdapat bercak-bercak kecil berwarna ungu kecoklat-coklatan pada
bagian kuliat buah. Bercak-bercak tersebut membesar dan berwarna hitam. Pengendalian:

membuat saluran pembuangan air (drainase) yang baik;


pengasapan dengan belerang di bawah pohon dengan dosis 100 gram/tanaman.
Rumah Laba-Laba. Menyerang cabang, ranting dan daun. Gejala: daun mengering dan kemudian
diikuti mengeringnya ranting dan cabang. Pengendalian: memangkas cabang, ranting dan daun
yang terserang, kemudian dibakar.
Busuk buah kering. Penyebab: jamur Stignina myristicae. Gejala: berupa bercak berwarna coklat,
bentuk bulat dan cekung dengan ukuran bercak bervariasi, yakni dari yang berukuran sangat kecil
sampai sekitar 3 cm; pada kulit buah tampak gugusan-gugusan jamur berwarna hijau kehitam-
hitaman dan akhirnya bercak-bercak tersebut terjadi kering dan keras. Pengendalian: kondisi
kelembaban di sekitar pohon pala perlu dikurangi, misalnya dengan mengurang kerimbunan
pohon-pohon lain di sekitar pala dengan memangkas sebagian cabang-cabangnya yang berdaun
rimbun, kemudian tanah di sekitar pohon dibersihkan, tidak terdapat gulma atau tanaman-tanaman
perdu lainnya; buah pala dan daun yang terserang penyakit ini segera dipetik dan dipendam dalam
tanah; dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida secara yang rutin, yakni 24 minggu
sekali, baik pada saat ada serangan maupun tidak ada serangan dari penyakit ini, fungsida yang
dapat digunakan adalah yang mengandung bahan aktif mancozeb, karbendazim dan benomi.
Busuk buah basah. Penyebab: jamur Collectotrichum gloeosporiodes, yang menyerang atau
menginfeksi buah yang luka. Gejala: buah pala tampak busuk warna coklat yang sifatnya lunak
dan basah; gejala ini timbul pada sekitar tangkai buah yang melekat pada buah sehingga buah
mudah gugur.
Gugur buah muda. Gejala: adanya buah muda yang gugur. Penyebab: penyakit ini belum
diketahui dengan jelas. Pengendalian: dengan mengkombinasikan (memadukan) antara
pemupukan dan pemberian fungisida.

Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi
secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai
produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 6070 tahun. Buah pala dapat
dipetik (dipanen) setelah cukup masak (tua), yakni yaitu sekitar 67 bulan sejak mulai bunga
dengan tanda-tanda buah pala yang sudah masak adalah jika sebagian dari buah tersebut tersebut
murai merekah (membelah) melalui alur belahnya dan terlihat bijinya yang diselaputi fuli warna
merah. Jika buah yang sudah mulai merekah dibiarkan tetap dipohon selama 2-3 hari, maka
pembelahan buah menjadi sempurna (buah berbelah dua) dan bijinya akan jatuh di tanah. Di
Daerah Banda, dikenal 3 macam waktu panen tiap tahun, yaitu: (1) panen raya/besar (pertengahan
musim hujan); panen lebih sedikit (awal musim hujan) dan panen kecil (akhir musim hujan). Panen
buah pala pada permulaan musim hujan memberikan hasil paling baik (berkualitas tinggi) dan
bunga pala (fuli) yang paling tebal.

Pemetikan buah pala dapat dilakukan dengan galah bambu yang ujungnya diberi/dibentuk
keranjang (jawa: sosok). Selain itu dapat pula dilakukan dengan memanjat dan memilih serta
memetik buah-buah pala yang sudah masak benar.

Setelah buah-buah pala masak dikumpulkan, buah yang sudah masak dibelah dan antara daging
buah, fuli dan bijinya dipisahkan. Setiap bagian buah pala tersebut ditaruh pada wadah yang
kondisinya bersih dan kering. Biji-biji yang terkumpul perlu disortir dan dipilah-pilahkan menjadi
3 macam yaitu:

yang gemuk dan utuh;


yang kurus atau keriput; dan
yang cacat.

Biji pala yang diperoleh dari proses ke-I tersebut segera dijemur untuk menghindari serangan hama
dan penyakit. Biji dijemur dengan panas matahari pada lantai jemur/tempat lainnya. Pengeringan
yang terlalu cepat dengan panas yang lebih tinggi akan mengakibatkan biji pala pecah. Biji pala
yang telah kering ditandai dengan terlepas bagian kulit biji (cangkang), jika digolongkan akan
kocak dan kadar airnya sebesar 810 %.
Biji-biji pala yang sudah kering, kemudian dipukul dengan kayu supaya kulit buijinya pecah dan
terpisah dengan isi biji. Isi biji yang telah keluar dari cangkangnya tersebut disortir berdasarkan
ukuran besar kecilnya isi biji:

Besar: dalam 1 kg terdapat 120 butir isi biji.


Sedang: dalam 1 kg terdapat sekitar 150 butir isi biji.
Kecil: dalam 1 kg terdapat sekitar 200 butir isi biji.

Isi biji yang sudah kering, kemudian dilakukan pengapuran. Pengapuran biji pala yang banyak
dilakukan adalah pengapuran secara basah, yaitu:

Kapur yang sudah disaring sampai lembut dibuat larutan kapur dalam bak besar/bejana
(seperti yang digunakan untuk mengapur atau melabur dinding/tembok).
Isi biji pala ditaruh dalam keranjang kecil dan dicelupkan dalam larutan kapur sampai 23
kali dengan digoyang-goyangkan demikian rupa sehingga air kapur menyentuh semua isi
biji.
Selanjutnya isi biji itu diletakkan menjadi tumpukan dalam gudang untuk diangin-anginkan
sampai kering.

Setelah proses pengapuran perlu diadakan pemeriksaaan terakhir untuk mencegah kemungkinan
biji-biji pala tersebut cacat, misalnya pecah yang sebelumnya tidak diketahui.
Pengawetan biji pala juga dapat dilakukan dengan teknologi baru, yakni dengan fumigasi dengan
menggunakan zat metil bromida (CH3 B1) atau karbon bisulfida (CS2)

Pengeringan Bunga Pala (Fuli) dijemur pada panas matahari secara perlahan-lahan selama
beberapa jam, kemudian diangin-anginkan. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai fuli itu
kering. Warna fuli yang semula merah cerah, setelah dikeringkan menjadi merah tua dan akhirnya
menjadi jingga. Dengan pengeringan seperti ini dapat menghasilkan fuli yang kenyal (tidak rapuh)
dan berkualitas tinggi sehingga nilai ekonomisnya pun tinggi pula.

Pemecahan tempurung biji pala dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

Dengan tenaga manusia : Cara memecah tempurung dari biji pala dilakukan dengan cara
memukulnya dengan kayu sampai tempurung tersebut pecah. Cara memecah tempurung
biji pala memerlukan keterampilan khusus, sebab kalau tidak isi biji akan banyak yang
rusak (pecah) sehingga kulitasnya turun.
Dengan mesin : Cara ini banyak digunakan petani pala. Secara sederhana dapat diterangkan
bahwa mekanisme kerja dan alat ini sama dengan yang dilakukan oleh manusia, yakni
bagian tertentu dari mesin menghancurkan kulit buah pala sehingga yang tinggal adalah isi
bijinya. Keuntungan dari penggunaan mesin adalah tenaga, waktu dan biaya
operasionalnya dapat ditekan. Disamping itu kerusakan mekanis dari isi biji juga lebih
kecil.

Untuk menentukan kualitas dari inti biji pala yang dihasilkan, kriteria yang harus diperhatikan
adalah sebagai berikut:
A. Pala kupas ABCD:

bji relatif berat


bentuknya sempurna dan tidak keriput
tidak diserang hama/penyakit
tidak pecah/rusak mekanis.

B. Pala kupas RIMPEL:

biji relatif berat


berkeriput
tidak pecah
tidak diserang hama/penyekit

C. Pala kupas B.W.P.

berkeriput
ada kerusakan mekanis
diserang hama dan penyakit
ringan

Dari hasil penyortiran kualitas biji tersebut, kita akan mendapatkan berat rata-rata yang berbeda,
yakni:

1. Pala kupas ABCD dalam satu sak berat (90 kg).


2. Pala kupas RIMPEL dalam satu sak berat (80 kg).
3. Pala kupas B.W.P. dalam satu sak berat (75 kg).

Kriteria untuk menentukan standar kualitas fuli didasarkan pada warna, bentuk serta kematangan
dari fuli. Kriteria kualitas fuli adalah:

1. Fuli I (moce one): dari buah yang sudah tua; keadaan fuli utuh; warnanya bagus (merah).
2. Fuli II (moce two): dari buah yang sudah tua; keadaan fuli tidak utuh lagi;
3. Gruis I dan II: fuli hancur; lapuk dan mudah pecah; warnanya hitam.

Khusus untuk Gruise II digunakan mesin penghancur untuk lebih menghaluskan fuli.
Kualitas biji pala ditentukan oleh:
1. Jarak tanam: jarak tanam bukan saja mempengaruhi kuantitas, tetapi menentukan kualitas
pala yang dihasilkan. Dengan jarak tanam yang rapat biasanya kita akan dapatkan buah-
buah yang kecil.
2. Pemeliharaan: pemeliharaan juga mempengaruhi kualitas pala yang dihasilkan. Akibat dari
pemeliharaan yang tidak baik buah pala mudah diserang oleh hama atau penyakit (terbelah
putih) sehingga kualitas buah kurang baik.
3. Cara pemetikan dan prosesing: buah yang dipetik pada waktu masih muda, biji dan fuli
yang kita dapatkan kualitasnya akan rendah. Demikian pula dengan prosesing yang kurang
baik, misalnya penjemuran yang dilakukan secara tergesa-gesa, biji pala yang dihasilkan
tentu akan banyak yang pecah.

Setiap kemasan diambil contohnya sebanyak 3 kg dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh
tersebut dicampur merata tanpa menimbulkan kerusakan, kemudian dibagi 4 dan dua bagian
diambil secara diagonal. Cara ini dilakukan beberapa kali sampai contoh mencapai 3 kg untuk
dianalisa.

Jumlah kemasan dalam partai: 1 sampai 100, minimum jumlah contoh yang diambil 5.
Jumlah kemasan dalam partai: 101 sampai 300, minimum jumlah contoh yang diambil 7.
Jumlah kemasan dalam partai: 301 sampai 500, minimum jumlah contoh yang diambil 9.
Jumlah kemasan dalam partai: 501 sampai 1000, minimum jumlah contoh yang diambil
10.
Jumlah kemasan dalam partai: lebih dari 1000, minimum jumlah contoh yang diambil 15.
Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman/dilatih
lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.

Tujuan pengemasan adalah mencegah kerusakan produk hingga ke tangan konsumen. Pengemasan
yang umum adalah dengan karung plastik karena dapat mencegah kerusakan dalam waktu yang
relatif lama. Pengepakan biji dan fuli pala dilakukan secara sederhana. Pala yang telah disortir
dipak dengan menggunakan karung goni berlapis dua. Rata-rata dari setiap kualitas
pala adalah sebagai berikut:

Pala kupas ABCD dalam satu sak berat 90 kg.


Pala kupas RIMPEL dalam satu sak berat 80 kg.
Pala kupas B.W.P. dalam satu sak berat 75 kg.

Khusus untuk pengepakan fuli biasanya dilakukan dalam peti kayu (triplek) dengan berat rata-rata
70-75 kg/peti. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan pengepakan adalah: fuli yang
akan dipak harus difumigasi terlebih dahulu. Pemberian fumigant pada biji pala dan fuli harus
dilakukan di suatu ruang yang tertutup rapat selama 2 x 24 jam. Fumigant yang biasa digunakan
adalah Methyl Bromida.
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Tanaman pala ( Myristica fragrans houtt) adalah tanaman asli Indonesia yang berasal dari
pulau Banda. Tanaman ini merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih
dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis, selain di Indonesia terdapat
pula di Amerika, Asia dan Afrika. Pala termasuk famili Myristicaceae yang terdiri atas 15 genus
(marga) dan 250 species (jenis). Tanaman pala merupakan tumbuhan berbatang sedang dengan
tinggi mencapai 18 m, memiliki daun berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu hijau
sepanjang tahun. Pohon pala dapat tumbuh di daerah tropis pada ketinggian di bawah 700 m dari
permukaan laut, beriklim lembab dan panas, curah hujan 2.000-3.500 mm tanpa mengalami
periode musim kering secara nyata. Daerah penghasil utama pala di Indonesia adalah Kepulauan
Maluku, Sulawesi Utara, Sumatra Barat, Nanggroe Aceh Darusalam, Jawa Barat dan Papua.

Pala dikenal sebagai tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomis dan multiguna karena
setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan dalam berbagai industri. Biji, fuli dan minyak pala
merupakan komoditas ekspor dan digunakan dalam industri makanan dan minuman. Minyak yang
berasal dari biji, fuli dan daun banyak digunakan untuk industri obat-obatan, parfum dan kosmetik.
Buah pala berbentuk bulat berkulit kuning jika sudah tua, berdaging putih. Bijinya berkulit tipis
agak keras berwarna hitam kecokelatan yang dibungkus fuli berwarna merah padam.Buah pala
terdiri atas daging buah (77,8%), fuli (4%), tempurung (5,1%) dan biji (13,1%). Secara komersial
biji pala dan fuli (mace) merupakan bagian terpenting dari buah pala dan dapat dibuat menjadi
berbagai produk antara lain minyak atsiri dan oleoresin.

B. TUJUAN

1. Mengetahui tata cara prosesing benih.

2. Mengetahui prospek pasar benih.

3. Menambah pengetahuan tentang tanaman dan benih pala yang berkualitas.


BAB II
TEKHNIK BUDIDAYA

A. SYARAT TUMBUH

1. Tanah

Tanah berstruktur remah (Vulkanis) / gembur dan kaya akan bahan organik.

Derajat keasaman (PH) tanah antara 5,5 7

Tanah tidak becek/ ada genangan air.

2. Iklim

Curah hujan 2.656 mm/th dengan distribusi merata.

Suhu udara 18 34 C

B. TEKNIK BUDIDAYA

1. Persemaian

Biji- biji pala yang akan digunakan sebagai benih harus memenuhi beberapa syarat, antara

lain :

- Harus berasal dari pohon induk terpilih,

- Biji segar matang, panen berwarna coklat muda dan tertutup penuh dengan seludang fuli

yang berwarna merah,


- Biji yang kering berwarna coklat tua sampai hitam mengkilap dengan bobot minimal 50

gram/biji, serta tidak terserang hama dan penyakit.

Setelah pemetikan haruslah disemaikan dengan selambat lambatnya + 24 jam

penyimpanan. Untuk mendapatkan benih dengan daya kecambah yang tinggi, sebaiknya biji

diambil dari pohon induk yang letaknya berdekatan dengan pohon yang berbunga jantan.

Pengecambahan, perlu dilakukan sebab biji pala termasuk benih rekalsitran yang cepat menurun

daya kecambahnya. Perkecambahan dapat dilakukan dengan beberapa cara sbb :

- Sesaat setelah panen segera lakukan seleksi benih dengan memilih benih

yang tua ditandai dengan tempurung mengkilat berwarna hitam kecoklatan, bebas dari hama

dan penyakit, tidak keriput dengan fuli tebal dan biji besar

- Selanjutnya tutup dengan karung goni atau daun rumbia atau kertas koran.

Kelembaban harus selalu dijaga

- Untuk mempercepat pengecambahan dapat diberi perlakuan pemecahan

kulit/batok pangkal biji, sehingga retak atau belah atau mengelupas dengan tidak merusak

daging bijinya. Dapat dilakukan pengikiran/hampelas batok pangkal biji sehingga tipis

- Setelah biji berkecambah, kemudian dilakukan pesemaian pada polibeg yang

telah disediakan (diisi dengan media campuran kompos/pupuk kandang dan tanah. 1:1).

Pesemaian sangat diperlukan di dalam pengadaan bibit untuk perkebunan pala.

Pembibitan ini merupakan langkah awal dari penentuan terlaksananya usaha perkebunan

tanaman tersebut. Pesemaian dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengecambahkan biji

dengan menggunakan kotak yang telah diisi pasir halus, serbuk

sabut kelapa, serbuk gergaji yang sudah steril. Biji diatur sedemikian rupa dan bersentuhan dan
bakal kecambah mengarah pada satu sisi yang sama. Setelah berumur 4-8 minggu, bakal akar

sudah keluar dengan diikuti keluarnya kecambah, selanjutnya bisa dipindahkan ke polibag.

Pesemaian dapat pula dilakukan pada bedengan yang sudah disiapkan sebelum buah

dipetik. Pesemaian ini sekaligus berfungsi sebagai persemaian pemeliharaan dan diperlukan

pengolahan tanah yang sempurna. Jarak tanam pada pesemaian ini perlu diatur yaitu 15 x 15 cm

atau 15 x 20 cm agar nanti pada saat pemindahan mudah diputar pada umur + 1 tahun dengan

ketinggian + 1 meter. Pesemaian dapat juga dilakukan langsung pada polibag ukuran 20 x 30 cm.

Media yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang 2 : 1, polibag

diatur berjejer di bawah naungan dengan lebar 120 cm, sedangkan panjangnya tergantung situasi

setempat. Dengan mempergunakan polibag akan mempermudah pemindahan bibit ke lapangan.

2. Persiapan Lahan

Sebelum bibit ditanam, kebun harus sudah dipersiapkan. Pada garis besarnya, persiapan

lahan meliputi kegiatan sebagai berikut :

Pemangkasan semak belukar dan penebangan pohon-pohon (kebun yang baru dibuka).

Sebaiknya pembukaan areal ini dilakukan pada musim kemarau, sehingga semak belukar

tersebut tidak cepat tumbuh kembali.

Pengolahan tanah, dimaksudkan untuk menggemburkan tanah, menyingkirkan akar dan sisa-sisa

tanaman serta menciptakan areal yang serasi. Pengolahan tanah pada areal miring harus

dilakukan menurut arah melintang lereng (contour). Efek utama pengolahan tanah menurut

cara ini adalah terbentuknya alur yang dapat menghambat aliran permukaan dan

menghindari terjadinya penghanyutan tanah bagian atas (erosi). Pada

tanah dengan tingkat kemiringan 20 % perlu dibuat teras dengan ukuran + 2 m (disesuaikan dengan
keadaan solum tanah, makin dalam solum makin lebar ukuran teras) atau dapat pula dibuat teras

terusan dengan penanaman sistem contour.

Sebelum dilakukan pembuatan lubang tanam, ditentukan dahulu jarak tanam

yang akan digunakan. Pada umumnya jarak tanam untuk tanaman pala ialah 9 x 10 m dengan

sistem bujur sangkar atau 10 x 10 m. Dengan jarak tanam tersebut dahan-dahannya tidak

akan bersilangan dan dengan keadaan ini kapasitas untuk berproduksi adalah maksimal

pada umur dewasa (Flach, 1966). Pembuatan lubang tanam biasanya berukuran 60 x 60 x 60

cm. Pada tanah yang berliat tinggi, sebaiknya ukuran lubang tanam lebih besar 100 x 100 x

100 cm. Tanah lapisan atas dan lapisan bawah dipisah, karena kedua lapisan tersebut

mengandung unsur yang berbeda. Setelah pembuatan lubang tanam berumur lebih satu bulan,

tanah dikembalikan, lapisan bawah kembali ke lapisan bawah dan lapisan atas

setelah dicampur dengan pupuk kandang matang, baru dimasukkan kembali ke dalam

lubang bagian atas. Dua atau tiga minggu kemudian penanaman dapat dilakukan.

3. Penanaman

Bibit yang akan ditanam biasanya yang telah berumur lebih satu tahun dan tidak lebih dari

dua tahun. Kalau bibit lebih dari ketentuan tersebut, akibat lama dipembibitan, pertumbuhannya

akan terlambat, sebab akar sudah berlipat-lipat. Sebaiknya penanaman dilaksanakan pada awal

musim penghujan agar ketersediaan air terjamin.

Cara penanaman adalah dengan membuat lubang tanam kecil ditengah lubang tanam awal,

setinggi dan selebar keranjang atau polibag bibit, lalu polibag disayat dari atas ke bawah dengan

pisau secara hati-hati agar akar dan tanah dalam polibag tersebut tidak rusak, kemudian dilakukan

penanaman sampai leher batang terkubur tanah, lalu tanah dirapihkan kembali. Uintuk menjaga

tanaman muda dari sengatan matahari langsung perlu dibuatkan naungan dari tiang bambu atau
kayu dengan atap daun kelapa atau alang-alang, sampai tanaman betul-betul tahan dari sinar

matahari.

Pola Tanam

Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani, salah satu upaya adalah dengan

memanfaatkan lahan seoptimal mungkin, dengan menanam berbagai jenis tanaman dengan

memperhatikan syarat tumbuh dari setiap tanaman itu sendiri. Peluang tanaman pala sebagai

tanaman pokok atau pun sebagai tanaman sela sangat memungkinkan karena banyak lahan

diantaranya belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk menentukan/ mendapatkan jenis tanaman

apa yang tepat bergandengan dengan tanaman pala, beberapa hal yang perlu di perhatian adalah

sebagai berikut :

- Kesesuaian lingkungan yang diartikan sebagai kecocokkan lahan untuk tanaman

tersebut.

- Tidak bersifat saling merugikan baik terhadap tanaman sela atau tanaman

pokok.

- Tidak menimbulkan persaingan, terutama dalam pengambilan zat

makanan.

- Tidak memiliki kesamaan sebagai inang timbulnya hama atau penyakit.

- Memiliki kemampuan saling menguntungkan.

- Tanaman tersebut memiliki nilai ekonomis.

- Berwawasan lingkungan, artinya berkemampuan mengawetkan alam.

Sehingga kelestariannya tetap terjamin sesuai konsep ekologi yang diinginkan bersama.

Sebagai contoh upaya menekan sekecil mungkin tingkat erosi tanah yang kelak dapat menurunkan

tingkat kesuburan tanah. Peluang tanaman pala sebagai tanaman sela jumlahnya tergantung umur
tanaman pokok, pada tanaman kelapa berumur 10 tahun, tanaman pala dapat tumbuh dan

berproduksi cukup baik sebagai tanaman sela diantara tanaman kelapa. Sedangkan sebagai

tanaman pokok, tanaman pala dapat dipola tanamkan dengan berbagai jenis tanaman palawija,

tanaman temu-temuan serta berbagai tanaman obat. Jarak tanam pala yang biasa dipergunakan

adalah 10 x 10 m, dengan jarak tanam tersebut banyak lahan yang kosong terutama pada saat

tanaman pala berumur dibawah 4-5 tahun, lahan ini dapat dimanfaatkan untuk ditanami berbagai

jenis tanaman semusim misalnya tanaman palawija.

4. Pemupukan

Untuk menjamin ketersediaan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman pala terutama unsur

makro (N, P dan K ) di dalam tanah, bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, maka diperlukan

pemupukan. Dosis pemupukan yang dianjurkan berdasarkan tingkat umur untuk tanaman pala.

5. Pemeliharaan

Lakukan penyulaman bila ada tanaman yang mati.

Siangi pertanaman sebelum dilakukan pemupukan bila terdapat gulma.

6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Disamping perbaikan teknik bercocok tanam, perlu pula diupayakan penanggulangan

serangan hama dan penyakit sehingga kelangsungan pertanaman serta kualitas dan kuantitas

produksi dapat terus dipertahankan malah dapat ditingkatkan.

- Hama-hama yang sering dijumpai menyerang biji pala adalah Oryzaephilus Mercator (Faufel)

dan Areacerus fasciculatus.

Kedua hama ini bersifat kosmopolitan dan menyebabkan kerugian besar terutama pada

produk-produk dalam simpanan. Hama lain adalah yang menyerang batang yaitu Batocera

hercules. Hama ini banyak ditemukan di Sulawesi Utara dengan tingkat serangan yang cukup
tinggi. Usaha pengendalian terhadap hama yang menyerang biji yang sudah berada

digudang-gudang adalah dengan melakukan fumigasi Methyl Bromida. Sedangkan penyemprotan

insektisida kontak dapat pula dilakukan untuk serangan di lapang dengan menggunakan insektisida

Malathion. Pengendalian terhadap hama penggerek batang adalah dengan memberikan insektisida

pada kapas kemudian dimasukkan pada semua lobang gerekan dan kemudian ditutup dengan

sepotong kayu.

- Penyakit

Penyakit utama yang paling merugikan pada pertanaman pala di Indonesia adalah penyakit

busuk kering dan busuk basah yang disebabkan oleh jamur serta penyakit layu yang diduga

disebabkan oleh mikroorganisme.

Penyakit busuk kering

Penyakit busuk basah

Penyakit Layu

7. Panen

Tanaman pala mulai berbuah pada umur 7 - 8 tahun dan pada umur 10 tahun dapat

berproduksi secara menguntungkan. Tanaman pala hasil grafting dapat berbuah umur 4 - 5 tahun

sedang tanaman hasil cangkokan berbuah umur 3 - 4 tahun. Produksi tanaman pala terus

meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi dan dapat terus berproduksi

sampai umur 60 - 70 tahun. Dalam satu tahun pala dapat dipanen dua kali.

Umumnya buah pala telah dapat dipanen setelah cukup tua, umur buah + 6 bulan sejak dari

bunga. Tanda-tanda buah pala yang sudah cukup tua adalah jika sebahagian buah pala dari suatu

pohon sudah merekah.


Cara pemanenan buah pala dapat dilakukan dengan menggunakan galah yang pada

bagian ujungnya diberi keranjang atau dengan cara memetik langsung dengan cara menaiki

batang dan memilih buah-buah yang telah betul-betul tua. Buah yang telah dipetik segera

dibelah, dipisahkan daging buah, biji dan fulinya. Biji pala dan fulinya segera dijemur untuk

menghindari serangan hama dan penyakit yang dapat mengurangi mutunya.

BAB III
PROSESING BENIH

A. Pembersihan Benih
1. Pemungutan/Pengumpulan Benih
Kegiatan pemungutan benih tidak kalah pentingnya dengan pemilihan sumber benih, karena bila
pemungutan benih dilakukan dengan tidak benar maka akan diperoleh benih dengan mutu yang
jelek. Semua usaha yang dilakukan untuk mencari sumber benih yang baik akan percuma bila
pengumpulan benih tidak dilakukan dengan cara yang benar. Untuk itu perlu juga adanya suatu
regu khusus untuk pengambilan benih karena pekerja kontrak biasanya kurang memperhatikan
mutu benih mereka hanya melihat jumlahnya saja. Berikut ini diterangkan beberapa hal yang
perlu diperhatikan dan dilakukan dalam kegiatan pengumpulan benih.

1. Yang perlu dilakukan sebelum benih dikumpulkan

Menentukan waktu pengumpulan benih. Setiap jenis pohon memiliki masa berbuah
tertentu untuk itu mengetahui masa berbunga atau berbuah perlu dilakukan sehingga
waktu panen yang tepat dapat ditentukan dengan tepat pula. Tanda-tanda buah masak
perlu diketahui sehingga buah yang dipetik cukup masak (masak fisiologis)
Menyiapkan alat yang dibutuhkan untuk pengumpulan benih

2. Cara pengumpulan benih


Benih yang dikumpulkan dipermukaan tanah : Benih yang dikumpulkan dipermukaan
tanah seringkali mutunya tidak sebaik yang dikumpulkan langsung dari pohon, benih
akan hilang daya kecambahnya jika terkena sinar matahari (benih yang rekalsitran), benih
akan terserang hama/penyakit dan benih yang berkecambah.
Benih yang dikumpulkan langsung dari pohon : Pengambilan dengan cara ini yaitu, benih
yang sudah masak dipetik langsung dengan bantuan galah/tangga, cabang yang jauh
dapat ditarik dengan tali/kait kayu. Pengambilan juga dapat dilakukan dengan cara
diguncang. Pengambilan dengan cara ini dapat menggunakan terpal/ plastik untuk
menampung benih yang jatuh. Mutu benih yang dikumpulkan dengan cara ini sangat
baik, karena dapat memilih buah yang betul-betul matang. Setelah benih dikumpulkan
dimasukkan kedalam wadah untuk dibawah ketempat pengolahan.

3. Beri label identitas


Setiap wadah berisi buah / polong harus diberi label agar identitas benih tetap diketahui.
4. Penyimpanan sementara
Bila tidak mungkin untuk untuk langsung mengekstrasi biji, simpanlah wadah yang berisi
buah/polong ditempat yang kering dan dingin dengan ventilasi udara yang baik. Jangan
meletakkan wadah langsung dilantai, tetapi beri alas kayu sehingga memungkinkan peredaran
udara dibawah wadahya, dengan demikian bagian bawahnya tidak lembab.
2. Penanganan Benih Setelah Dikumpulkan
Penanganan benih harus dilakukan dengan baik, agar mutu benih dapat dipertahankan. Kegiatan
penanganan benih meliputi : Sortasi buah/polong, ekstrasi benih, pembersihan benih, sortasi
benih, pengeringan benih.

1. Sortasi buah/ polong : Sortasi buah/ polong merupakan kegiatan pemisahan buah/polong
yang susah masak dari yang belum/kurang masak, kemudian dimasukkan kedalam wadah
yang terpisah.
2. Ekstrasi benih : Ekstrasi benih adalah proses pengeluaran benih dari buahnya/polongnya.
Cara ekstrasi berbeda-beda tergantung dari jenis pohon, dapat dilakukan dengan bantuan
alat dan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan benih.

Benih dari buah berdaging : Buah yang berdaging dibuang pericarp buahnya dengan cara
merendam buah tersebut dalam air, sehingga daging buahnya mengembang sedang
bijinya mengendap.
Benih dari buah kering : Benih dijemur dipanas matahari, contohnya : polong-polongan
dari Leguminoceae, kerucut dari Coniferae, capsule dari Eucaliptus, dsb. Sehingga
terbuka.

1. Pembersihan dan sortasi benih : Benih yang sudah diekstrasi masih mengandung kotoran
berupa sekam, sisa polong, ranting, sisa sayap, daging buah, tanah dan benih yang rusak,
harus dibuang untuk meningkatkan mutunya. Ada dua cara sederhana untuk
membersihkan benih yaitu:

Cara sederhana : manual dengan tampi/nyiru atau menggunakan saringan.


Cara mekanis : menggunakan alat peniup benih (seed blower) setelah pembersihan jika
dirasa perlu dilakukan sortasi benih untuk memilih benih sesuai dengan ukuran.

2. Pengeringan benih
Benih yang baru diekstrasi biasanya mengandung kadar air yang cukup tinggi, untuk itu perlu
dikeringkan sebelum benih benih itu disimpan (tetapi tidak semua benih biasa dikeringkan).
Kadar air untuk masing-masing benih berbeda-beda, misalnya ada benih benih yang
dikeringkan sampai kadar air rendah sehingga dapat disimpan lama, benih benih ini disebut
benih yang ortodoks, contohnya: akasia, kayu besi, salawaku, gamal, dll. Sebaliknya ada benih
yang tidak dapat dikeringkan dan tidak dapat disimpan lama. Benih benih ini disebut benih
yang bersifat rekalsitran seperti: meranti, damar, mahoni, dll.
3. Penyimpanan Benih
Perlakuan yang terbaik pada benih ialah menanam benih atau disemaikan segera setelah benih
benih itu dikumpulkan atau dipanen, jadi mengikuti cara-cara alamiah, namun hal ini tidak
selalu mungkin kareana musim berbuah tidak selalu sama, untuk itu penyimpanan benih perlu
dilakukan untuk menjamin ketersediaan benih saat musim tanam tiba.
Tujuan penyimpanan :

Menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi)
Melindungi biji dari serangan hama dan jamur
Mencukupi persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi kebutuhan.

Ada dua faktor yang penting selama penyimpanan benih yaitu, suhu dan kelembaban udara.
Umumnya benih dapat dipertahankan tetap baik dalam jangka waktu yang cukup lama, bila suhu
dan kelembaban udara dapat dijaga maka mutu benih dapat terjaga. Untuk itu perlu ruang khusus
untuk penyimpanan benih.

Untuk benih ortodoks

Benih ortodoks dapat disimpan lama pada kadar air 6-10% atau dibawahnya. Penyimpanan dapat
dilakukan dengan menggunakan wadah seperti : karung kain, toples kaca/ plastik, plastik, laleng,
dll. Setelah itu benih dapat di simpan pada suhu kamar atau pada temperature rendah cold
storage umumnya pada suhu 2-5oC.

Untuk benih rekalsitran

Benih rekalsitran mempunyai kadar air tinggi, untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih
perlu dipertahankan selama penyimpanan. Penyimpanan dapat menggunakan serbuk gergaji atau
serbuk arang. Caranya yaitu dengan memasukkan benih kedalam serbuk gergaji atau arang
Berikut adalah tabel mengenai tahap-tahap penyimpanan benih :
No Tahap-tahap Mengapa Metode dan teknik
Penyimpanan diperlukan
benih
1 Menanam tanaman Untuk kesehatan & Memilih tanaman &
yang sehat lingkungan benih organik
2 Pilih benih yang Untuk mendapatkan Memilih benih yang
terbaik tanaman yang terbaik utuh bukan yang rusak
3 Gunakan waktu & Untuk mendapatkan Memilih tanaman
metode yang sesuai benih yang lebih baik yang terbaik, tanpa
untuk serangga, sehat dan
mengumpulkan siap untuk dipanen
benih dari tanaman
4 Membersihkan Untuk mencegah Merendam selama
benih dengan benar jamur sekurangnya
1 hari 1 malam, lalu
bersihkan
5 Keringkan benih Untuk mengurangi Tutup benih dengan
dengan benar kadar air agar kain dan jemur, atau
benih bisa bertahan gunakan pengering
lama benih
6 Simpan benih Untuk menjaga Simpan di tempat yang
dengan benar kualitas dan agar sejuk
bertahan lama dan kering
B. Grading
Bibit adalah awal dari kehidupan tanaman. Masing-masing benih harus menjalani proses
tertentu seperti pengeringan, pembersihan, dan grading. Grading benih adalah tindakan untuk
memeriksa kualitas benih yang akan berperan sebagai keturunan berikutnya. Grading merupakan
penggolongan benih berdasarkan dari ukuran atau warna. Penggolongan tersebut dilaksanakan
berdasarkan pada sifat-sifat morfologi benih atau fisiologi benih seperti dimensi benih atau berat
jenis benih. Grading benih dapat mencegah penggunaan benih yang tidak baik. Hal ini dapat
membantu mengurangi biaya pemupukan, budidaya, dan pengendalian gulma. Grading
(pemilahan benih) dilakukan untuk mendapatkan benih yang seragam dalam ukuran, bentuk dan
bobotnya (Anonim, 2010).
Terdapat beberapa cara grading benih:

1. Secara manual, dengan menggunakan tangan dan ketelitian kita ketika memisahkan benih
menjadi beberapa kelompok (ukuran).
2. Secara mekanik, dengan menggunakan alat yang memiliki beberapa saringan bertingkat
dengan diameter lubang yang berbeda setiap tingkat. Tingkat atas selalu lebih besar
diameternya dibandingkan dengan tingkat yang berada dibawahnya.
3. Pemisahan benih berdasarkan warna melalui komputer dengan cara Pre-Vac dan IDS
yang populer khususnya untuk jenis tanaman berdaun jarum. Dengan demikian akan
didapatkan benih yang berkualitas baik dengan ukuran seragam.
4. Memisahkan benih yang rusak karena mesin dari benih yang tidak rusak dengan
memanfaatkan perbedaan tingkat penyerapan (uptake) air.
5. Pemisahan melalui inkubasi pengeringan (Incubation Drying Separation), yaitu
memisahkan benih yang mati dengan memanfaatkan perbedaan tingkat pengeringan
benih.

C. Perlakuan Benih
1. Perlakuan benih padi sebelum penanaman

1. Menyortir benih yang masih memiliki daya tumbuh tinggi dengan menggunakan
larutan garam.

Siapkan larutan garam dalam ember dengan volume sesuai dengan benih padi yang akan
disortir. Konsentrasi larutan garam (takaran garam) tersebut diukur dengan menggunakan
telur ayam/bebek mentah. Masukkan telur ke dalam ember berisi air. Masukkan garam
sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk pelan. Pemberian garam dihentikan
ketika telur mulai mengapung dalam air, hal ini menunjukkan bahwa kandungan garam
telah cukup sebagai penguji benih.
Masukkan benih padi yang akan disortir. Kemudian diaduk sehingga semua benih
tercampur dengan larutan garam tersebut. Biarkan beberapa menit, sehingga terlihat
benih padi tersebut tenggelam dan sebagian kecil terapung.
Benih yang masih terapung merupakan benih hampa/rusak/tidak sempurna, sehigga tidak
layak untuk dijadikan bibit. Walaupun benih tersebut dapat tumbuh, akan tetapi akan
tumbuh menjadi bibit yang tidak sempurna.
Benih yang tenggelam dipilih sebagai benih yang akan disemaikan. Benih tersebut
kemudian dibilas dengan air bersih sebanyak 2 kali agar larutan garamnya tercuci dengan
baik.

2. Memeram benih sebelum disemai.


Benih yang akan disemai sebaiknya dibantu pertumbuhannya dengan cara diperam.
Benih direndam dalam air bersih selama kurang lebih 1 jam, kemudian ditiriskan dalam
ayakan atau saringan sampai tidak ada air yang menetes.
Benih yang lembab tersebut kemudian dimasukkan dalam karung goni atau karung terigu
(atau kain katun) dan dibiarkan selama 2 hari dalam ruangan yang terlindung.
Setelah dua hari akan nampak pada pangkal benih berwarna putih yang menandakan
bahwa akar benih telah mulai tumbuh dan telah siap disemai dalam persemaian.
Benih yang telah diperam akan memiliki daya tumbuh yang lebih cepat dan lebih baik
dibanding dengan benih yang tidak diperam, sehingga dalam persemaian akan tumbuh
lebih kuat dan sehat.

Produksi padi yang baik dimulai dari benih yang baik.


2. Perlakuan benih setelah pasca panen
Seiring benih diberi perlakuan tertentu yang tujuannya adalah untuk mencegah atau mematikan
penyebab penyakit yang terbawa oleh benih. Benih dapat diperlakukan dengan berbagai cara
antara lain dengan menggunakan sinar ultraviolet : infra merah, panas dengan penggunaan zat-
zat kimia. Berdasarkan sifat dan masalahnya perlakuan benih dapat dibedakan menjadi :

1. Disinfektasi benih: apabila perlakuan diberikan dengan tujuan untuk mengeradikasi


patogen yang telah menginfeksi benih, dimana patogennya berada dalam kulit biji atau
jaringan jaringan yang lebih dalam. Contoh:

Perlakuan benih dengan air panas.


Perendaman benih dalam 0,8 % acetid acid selama 24 jam.
Organisme penyebab bakterial kanker dapat dieradikasi dari benih tomat dengan cara
membiarkan benih bersama daging buahnya mengalami fermentasi selama 96 jam pada
20 0C. patogen akan mati disebabkan meningkatnya kandungan asam dalam daging buah.

1. Disinfestasi benih yang ditujukan terhadap organisme yang terdapat dipermukaan benih.
Bahan kimia yang digunakan antara lain: ceresa MDB panogen 15 ceresan L dan
chipcote.
2. Proteksi benih didasarkan pada prinsip untuk melindungi benih dan kecambah tanaman
dengan suatu fungisida yang akan mencegah infeksi dan kerusakan yang disebabkan oleh
patogen terutama organisme tanah. Contohnya: captan, thiram, dichlone.

Beberapa sejumlah organik yang diberikan pada benih tanaman berbiji kecil sebagai disinfestasi
juga bertindak sebagai protektan. Misalnya senyawa heksaclorobenzena yang diberikan pada
benih gandum bertindak sebagai disinfestan dan protektan terhadap serangan semut teliospore
dalam tanah. Cara pemberantasan yang efektif untuk penyakit yang terbawa oleh benih ialah
dengan mengetahui terlebih dahulu kehadiran patogen pada benih sebelum benih ditanam yaitu
dengan pengujian benih. Tindakan selanjutnya adalah mencegah dilakukannya penanaman atau
mengadakan perlakuan benih terlebih dahulu sebelum tanam.
Tujuan dari perlakuan benih yang telah disebutkan diatas adalah untuk mencegah dan membasmi
terjadinya infeksi yang disebabkan oleh patogen yang terbawa benih baik didalam, dipermukaan
maupun bersama benih. Dengan perlakuan benih maka inokulum yang terdapat pada benih dapat
dibasmi secara langsung atau pada waktu setelah benih berkecambah. Selain itu perlakuan benih
juga dapat melindungi benih dari serangan patogen yang berada dalam tanah hal ini dikarenakan
benih dan kecambah tanaman pada awal pertumbuhannya sangat peka terhadap serangan patogen
tanah.
Bahan-bahan kimia yang digunakan untuk memberantas hama maupun penyakit tanaman dikenal
dengan istilah pestisida yang berasal dari kata caido yang berarti membunuh. Menurut
penggunaanya pestisida dibedakan menjadi insektisida, rodentisida, bakterisida dan lainnya.
Sedangkan untuk cendawan disebut fungisida, secara ideal fungisida harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:

1. Fungisida harus efektif pada konsentrasi yang tidak membahayakan benih atau tanaman
yang diperlakukan
2. Tidak beracun bagi manusia ataupun hewan.
3. Cukup stabil dan lekat agar tetap efektif dalam waktu lama
4. Tidak memiliki efek samping yang dapat merugikan keseimbangan biologis
5. Tidak menimbulkan resistensi pada patogen.
6. Harganya cukup murah ditinjau dari segi ekonomis.

Berdasarkan Komposisinya fungisida dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Senyawa tembaga (Cu)


2. Senyawa belerang
3. Senyawa air raksa (Hg)
4. Senyawa quinon
5. Senyawa benzene
6. Senyawa heterosiklis
7. Senyawa fosfor organik
8. Zat-zat anti biotika

Untuk Perlakuan Benih fungisida dapat digunakan secara:

1. Kering (dry methode): fungisida berbentuk tepung (dust).


2. Basah (wet methode): fungisida digunakan dalam bentuk cairan atau larutan (liquid).
1. Slurry Methode: fungisida digunakan sebagai suspensi dan dicampur dengan
benih didalam suatu alat yang disebut slurry treader, benih tak perlu dikeringkan.
2. Quick wet methode: fungisida digunakan ialah yang mudah menguap dalam
konsentrasi pekat yang dicampurkan secara merata.

3. Perlakuan Benih untuk tujuan memecahkan dormansi


Untuk mengetahui dan membedakan/memisahkan apakah suatu benih yang tidak dapat
berkecambah adalah dorman atau mati, maka dormansi perlu dipecahkan. Masalah utama yang
dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/kecambah benih yang dormansi adalah bagaimana
cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipersingkat. Ada
beberapa cara yang telah diketahui adalah :

1. Perlakuan mekanis

Diantaranya yaitu dengan Skarifikasi. Skarifikasi mencakup cara-cara seperti


mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau,
memecah kulit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki
sumbat gabus. Tujuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras
sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas.

1. Perlakuan kimia.

Tujuan dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada
waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi
pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah.

Sebagai contoh perendaman benih ubi jalar dalam asam sulfat pekat selama 20 menit
sebelum tanam.
o Perendaman benih padi dalam HNO3 pekat selama 30 menit.
o Pemberian Gibberelin pada benih terong dengan dosis 100 200 PPM.

Bahan kimia lain yang sering digunakan adalah potassium hidroxide, asam hidrochlorit,
potassium nitrat dan Thiourea. Selain itu dapat juga digunakan hormon tumbuh antara lain:
Cytokinin, Gibberelin dan iuxil (IAA).
2. Perlakuan perendaman dengan air.
Perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh
benih. Caranya yaitu : dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu 60 70 0C dan
dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu. Untuk benih apel, direndam dalam
air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2 menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan.
3. Perlakuan dengan suhu.
Stratifikasi

Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembab
(Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat
menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan
yang merangsang pertumbuhan. Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman,
bahkan antar varietas dalam satu famili. Benih apel yang diberi perlakuan stratifikasi pada 4 0C
selama lebih dari 2 bulan persentase perkecambahannya meningkat.

Perlakuan dengan cahaya

Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan.


Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas
cahaya dan panjang hari. Menurut Flint dan McAlister menemukan bahwa cahaya merah lebih
efektif dalam memecahkan doemansi pada benih selada vatietas Arlington fancy. Sedangkan
cahaya biru terutama cahaya infra merah sangat menghambat perkecambahan.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari uraian di atas maka dapat diambil beberapa kesimpulan, diantaranya :

1. Benih bermutu tinggi ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor fisik
2. Processing / pengolahan benih terbagi atas beberapa bagian, yaitu pembersihan benih,
grading dan perlakuan benih
3. Pembersihan terdiri dari pemungutan/pengumpulan benih, penanganan benih setelah
dikumpulkan, dan penyimpanan benih
4. Grading benih adalah tindakan untuk memeriksa kualitas benih yang akan berperan
sebagai keturunan berikutnya
5. Perlakuan benih terdiri dari perlakuan benih padi sebelum penanaman, perlakuan benih
setelah pasca panen dan perlakuan benih untuk tujuan memecahkan dormansi
6. Menyortir benih yang masih memiliki daya tumbuh tinggi dengan menggunakan larutan
garam
7. Seiring benih diberi perlakuan tertentu yang tujuannya adalah untuk mencegah atau
mematikan penyebab penyakit yang terbawa oleh benih
8. Masalah utama yang dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/kecambah benih yang
dormansi adalah bagaimana cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara
agar dormansi dapat dipersingkat
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1998. Pedoman Pembangunan Hutan Tanaman Industri. Departemen Kehutanan
Badan penelitian dan Pengembangan Kehutanan.
Anonim. 2010. Seed Cleaning, Drying & Grading Services. http://www.yellowpages.com.
Diakses Selasa, 4 Mei 2010.
Anonim. 2010. Perlakuan Benih Padi. http://sukatani-banguntani.blogspot.com. Jumat 7 Mei
2010.
Coppelad, 1980. Principles of Seed Science and Technology. Burgess Publ. co. Minneapolis,
Minnesota.
Doran, J. C., Turnbull, J.W., Bolland, J. D. 1983. Handbook on seed of dry-zone acacias. A
guide for collecting, extracting, cleaning, and stering the seed and for treatment to promote
germination of dry-zone acacias. FAO Rome.
Kartasapoetra, A.G. 1986. Teknologi Benih. Bina Aksara. Jakarta.
Schmidt, L. 2002. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis
(terjemahkan) Dr. Mohammad Naiem dkk. Bandung.
Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.
Winarno, F.G. 1981. Fisiology Lepas Panen. Sastra Hudaya Jakarta.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat

serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah pada Mata Kuliah Budidaya

Tanaman Tahunan sebagai tugas tambahan dan merupakan kewajiban kami sebagai

mahasiswa dalam menyelesaikan proses pembelajaran mata kuliah tersebut.

Adapun judul yang kami angkat pada kesempatan kali ini tentang Budidaya

Tanaman Pala. Sebagai bahan referensi kami untuk menyelesaikan makalah pada mata

kuliah ini.

Ucapan terimakasih juga kami hanturkan kepada semua pihak yang telah

membantu proses penyelesaian makalah ini. Dan kami sadar bahwa makalah ini jauh

dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat kami

harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan pertanian di

Indonesia dan menjadi bahan referensi bagi pembacanya.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................. ii

DAFTAR ISI ................... iii

BAB. I. PENDAHULUAN ................. 1


I. 1. Latar Belakang ............................ 1

I. 2. Rumusan Masalah ...................... 2

I. 3. Tujuan .................................. 2

I. 4. Manfaat ..................................................................................... 2

BAB. II. PEMBAHASAN .......................... 3

II. 1. Sejarah dan Penyebarannya ........................................................ 3

II. 2. Sistematika dan Morfologi Tanaman ................................................ 3

II. 3. Syarat Tumbuh ................................................................ 8

II. 4. Teknik Budidaya ........................................................................... 9

II. 5. Pengolahan dan Penganekaragaman Hasil ................................... 23

BAB. III. PENUTUP ...................... 27

III. 1. Kesimpulan ................. 27

III. 2. Saran ..................... 27

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 29

BAB. I

PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang

Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaman asli Indoesia, sudah

terkenal sebagai tanaman rempah sejak abad ke 18. Sampai saat ini Indonesia

merupakan produsen pala terbesar dunia (70-75%). Negara produsen lainnya adalah

Grenada sebesar 20-25%, kemudian selebihnya India, Srilangka dan Malaysia.


Komoditas pala Indonesia sebagaian besar dihasilkan oleh perkebunan rakyat

yaitu sekitar 98.84%, dengan pola budidaya ektensif jarang dipelihara. Luas areal

pertanaman pala di Indonesia pada tahun 1996 mencapai 60.735 ha menurun menjadi

43.873 ha tahun 2000. Produksi tahun 2000 sekitar 7.587 ton, produktivitas tahun 1999

mencapai 482.8 kg/ha dengan total produksi sekitar 19.163 ton ( BPS, 2000).

Hasil yang diambil dari pala yang diperdagangkan di pasaran dunia adalah biji,

fuli, dan minyak atsiri serta daging buah yang digunakan untuk industri makanan di dalam

negeri. Biji dan fuli digunakan dalam industri pengawetan ikan, pembuatan sosis,

makanan kaleng dan sebagai adonan kue, karena minyak atsiri dan lemak yang

dikandungnya memberikan aroma merangsang nafsu makan. Minyak pala dari hasil

penyulingan merupakan bahan baku industri obat-obatan, pembuatan sabun, parfum

dsb.

Ekspor pala Indonesia tahun 1995 mencapai 2.976 ton dengan nilai 5.197.590 US

$, sedangkan fulinya 1.63 ton dengan nilai 10.011.433 US $. (BPS, 1995). Pada tahun

2000, nilai ekspor mencapai 10.000 ton dengan nilai 39.000.000 US $ (BPS, 2000).

Harga pala Indonesia di pasar dunia saat ini masih lebih rendah dibanding pala Grenada,

hal ini diduga karena mutu yang kurang baik dan tidak dikuasainya sistem perdagangan

luar negeri, meskipun pala Indonesia diketahui mempunyai aroma yang lebih baik.

I. 2. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas, yang menjadi permasalahan dalam makalah ini yaitu:

a. Sejarah dan Penyebaran Tanaman Pala.

b. Sistematika dan Morfologi Tanaman Pala

c. Syarat Tumbuh Tanaman Pala


d. Teknik Budidaya Tanaman Pala.

e. Pengolahan dan Penganekaragaman Hasil

I. 3. Tujuan

Adapun yang menjadi tujuan dalam makalah ini yaitu :

a. Untuk mengetahui sejarah dan penyebaran tanaman pala

b. Untuk mengetahui sistematika dan morfologi tanaman pala

c. Untuk mengetahui syarat tumbuh tanaman pala

d. Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman pala

e. Untuk mengetahui cara pengolahan dan penganekaragaman hasil tanaman

pala.

I. 4. Manfaat

Dengan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

a. Makalah ini diharapkan menjadi salah satu bahan informasi bagi masyarakat

secara umum.

b. Dapat memberikan informasi ilmiah bagi petani dan instansi terkait tentang

Budidaya Tanaman Pala.

BAB. II

PEMBAHASAN

II. 1. Sejarah dan Penyebarannya

Maluku merupakan pusat asal tanaman pala dengan keragaman yang tinggi

(Deinum, 1949). Tanaman ini termasuk salah satu tanaman rempah-rempah yang

menjadi rebutan bangsa-bangsa yang datang ke Indonesia, antara lain bangsa Portugis
tahun 1511. Biji dan fulinya dibawa ke daratan Eropa dan dijual dengan harga yang

sangat mahal. Harga yang tinggi ini merupakan perangsang bagi bangsa-bangsa lain

untuk datang ke Indonesia. Tahun 1600 V.O.C. menguasai perdagangan tanaman

rempah-rempah di Maluku. J.P. Zoen Coen menempatkan orang-orang yang dipercayai

untuk mengelola hutan-hutan pala tersebut, sebagai miliknya. Dengan segala macam

usaha luas areal tanaman ini dibatasi, tahun 1627 penduduk dilarang menanam tanaman

selain daripada yang ditetapkan oleh V.O.C dan yang sudah tua juga harus ditebang.

Tanaman pala kemudian dikembangkan ke daerah Minahasa dan Kepulauan

Sangir Talaud, Sumatra Barat dan Bengkulu tahun 1748, kemudian menyusul di Jawa,

Aceh, dan Lampung. Pada zaman kekuasaan Inggris, tanaman ini disebarkan pada

beberapa daerah jajahannya tetapi tidak berhasil baik. Di Malaya dikalahkan oleh karet,

di pulau kecil India Barat (Grenada) dapat berhasil baik, sehingga daerah ini menjadi

saingan Indonesia dalam ekspor pala di dunia.

II. 2. Sistematika dan Morfologi Tanaman

Sistematika pala Banda menurut CERE (1961) adalah sebagai berikut :

- Kelas : Angiospermae

- Sub klas : Dicotyledonae

- Ordo : Ramales

- Family : Myristicaceae

- Genus : Miristica

- Species : fragran HOUTT

Famili Myristicaceae hanya memiliki satu genus dengan lebih 200 species yang

tersebar di daerah tropis (Ridley, 1912). Beberapa species pala yang memiliki arti
ekonomi penting dan khususnya berfungsi sebagai rempah-rempah, obat atau minyak

atsiri.

Deskripsi tanaman pala Menurut Heyne (1927), Hadad dan Hamid (1990), Hadad

(1991) terdapat 8 jenis pala yang ditemukan di Maluku yaitu :

a. Myristica succedawa BL., jenis ini di Ternate disebut Pala Patani

b. M. speciosa Warb, dikenal dengan nama Pala Bacan atau pala Hutan,

c. M. schefferi Warb dikenal dengan nama pala Onin atau Gosoriwonin,

d. M. fragrans Houtt dikenal dengan nama Pala Banda ,

e. M. fatua Houtt dikenal dengan nama laki-laki, pala Fuker (Banda) atau pala Hutan

(Ambon),

f. M. argantea Warb dikenal dengan nama Pala Irian atau Pala Papua, (7) M.

tingens BL. dikenal dengan nama Pala Tertia dan

g. M. sylvetris Houtt dikenal dengan nama Pala Burung atau Pala Mendaya

(Bacan) atau Pala Anan (Ternate).

Hasil eksplorasi dari berbagai daerah dan sentra produksi pala di kepulauan

Maluku, Irian Jaya dan Sulawesi Utara, telah terkumpul 430 nomor aksesi (Hadad et al,

1996). Dari nomor-nomor yang berproduksi,12 diantaranya berumur genjah dengan

variasi morfologi yang tinggi. Namun demikian kekerabatan diantara nomor-nomor

koleksi tersebut secara genetik belum diketahui dengan pasti dan saat ini penelitian DNA

molekuler, sex ratio, hubungan kekerabatan dan lain-lain sedang dilakukan.

- Jenis M. fragrans

Disebut juga sebagai pala asli atau nutmeg tree dan berasal dari Pulau Banda

(Deinum, 1949). Pala jenis inilah yang umum dibudidayakan di Indonesia, India, Grenada
dan Malaysia sebab kualitas biji dan fulinya adalah yang terbaik (Heyne, 1927). Pala yang

dikembangkan di Sulawesi Utara juga sebagian berasal dari P.Banda walaupun demikian

kualitasnya tidak sebaik pala Banda yang dihasilkan dari P.Banda (Deinum,1949).

Penampilan pala Banda antara lain : Bentuk percabangan teratur, daunnya kecil sampai

sedang, buahnya bulat. Biji besar dan fulinya tebal dan keduanya berkualitas baik, tebal

dan harum khas pala (Hadad dan Syakir, 1992).

- Jenis pala M. argantea

Disebut juga dengan pala Papua memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Bentuk pohon

bulat, tinggi, besar dan rimbun. Percabangan tidak teratur. Daunnya tebal dan lebar. Ciri

khas yang paling menonjol adalah bentuk

buahnya lonjong dan besar. Daging buah yang tebal dan besar cocok untuk bahan

manisan, asinan, minuman, dan bahan-bahan makanan serta minuman lainnya. Melihat

keragaman pohonnya, pala jenis ini cocok sebagai pohon pelindung dan penghijauan.

- Jenis pala M. speciosa

Dikenal dengan nama pala Hutan. Bentuk pohonnya bulat dan rimbun,

percabangan tidak teratur dan daunnya lebar dan agak tipis. Ciri khasnya adalah buah

dan bijinya terkecil sebesar biji kacang tanah dengan fulinya yang paling tipis. Pala jenis

ini hanya cocok sebagai pohon pelindung dan penghijauan.

- Jenis pala M. succedanea

Disebut pala Patani, banyak dibudidayakan di Maluku Utara, bentuk pohon

piramidal sampai lonjong, bentuk buahnya agak lonjong sedangkan bijinya bulat sampai

lonjong dan fulinya agak tebal. Kualitas biji dan fulinya agak kurang dibandingkan pala

Banda.
Diskripsi tanaman pala menurut Ochse (1931); Hadad dan Hamid (1990); Hadad

(1991) adalah sebagai berikut :

Bentuk pohon pala, berpenampilan indah tinggi 10-20 m, menjulang tinggi ke atas

dan ke pinggir, mahkota pohonnya meruncing, berbentuk piramidal (kerucut), lonjong

(silindris) dan bulat dengan percabangan relatif teratur. Dedaunan yang rapat dengan

letak daun yang berselang seling secara teratur. Daunnya berwarna hijau mengkilap dan

gelap, panjang 5-14 cm dengan lebar 3-7 cm, tangkai daun 0.4-1.5 cm panjangnya. Cara

pembungaannya unisexual-dioecious, walaupun terdapat juga yang

polygamous/hermaphrodite. Buahnya bulat sampai lonjong, berwarna hijau kekuning-

kuningan, apabila masak akan berbelah dua, diameter 3-9 cm. Daging buahnya/pericarp

tebal dan rasanya asam. Biji berbentuk bulat sampai lonjong, panjangnya 1.5-4.5 cm

dengan lebar 1-2.5 cm. Warnanya coklat dan mengkilap pada bagian luarnya. Kernel

bijinya berwarna keputih-putihan. Fulinya merah gelap dan ada pula yang putih kekuning-

kuningan dan membungkus biji menyerupai jala yang tebal dan ada yang tipis.

Hasil penelitian Hadad et al (2002) yang dilakukan di KP.Cicurug.

Menyatakan bahwa dari 430 aksesi tanaman pala yang ditanam diketahui ada dua

pohon yang mempunyai tingkat produksi yang paling tinggi yaitu jenis pala banda

nomor 11 dan jenis pala patani nomor 33. Pala merupakan tanaman berumah dua

(dioecious) dimana bunga jantan dan bunga betina terdapat pada individu/pohon yang

berbeda. Sehingga untuk menentukan populasi tanaman dengan perbandingan jenis

kelamin jantan dan betina optimum pada pertanaman pala harus menunggu sampai

tanaman berbunga (lebih kurang 5 tahun).


Deynum (1949) mengemukakan bahwa dari 100 biji atau pohon pala rata-

rata terdapat 55 pohon betina, 40 pohon jantan dan 5 pohon yang

hermaphrodite.

Menurut Hadad dan Syakir (1992),bunga keluar dari ujung cabang dan ranting.

Bunga betina mempunyai kelopak dan mahkota meskipun perkembangannya tidak

sempurna. Warna bunga kuning, dengan diameter + 2.5 mm serta panjangnya + 3 mm.

Mahkota bunga betina bersatu mulai dari bagian pangkal dan pada bagian atas

terbuka menjadi 2 bagian yang simetris. Kelopak kecil dan menutup sebagian kecil

dari bagian bawah mahkota. Di dalam mahkota terdapat bakal buah dengan garis

tengah + 2.5 mm. Pada bagian ujung terdapat pestil yang bersatu dengan bakal

bunga. Kepala putik terbelah pada bagian ujungnya. Di dalam bakal buah

terdapat bakal kulit biji dan bakal biji.

Selanjutnya Hadad dan Syakir (1992) menyatakan bahwa bentuk bunga jantan

agak berbeda dengan bunga betina walaupun warna bunganya juga kuning,

dengan diameter 1.5 mm dan panjang + 3 mm. Mahkota dari bunga jantan

bersatu dari pangkal pada 5/8 bagian dan kemudian terbagi menjadi 3 bagian.

Kelopak berkembang tidak sempurna, bentuknya seperti cincin yang melingkar

pada bagian pangkal mahkota. Benang sari berbentuk silindris merupakan tangkai

bersatu, panjangnya + 2 mm. Sari melekat pada tangkai tersebut membentuk baris-

baris yang jumlahnya 8 buah dan berpasangan. Antara baris dibatasi oleh jalur

kecil + 1/10 mm lebarnya.

II. 3. SYARAT TUMBUH

A. Iklim.
Tanaman pala memerlukan iklim tropis yang panas dengan curah hujan yang

tinggi tanpa adanya periode kering yang nyata. Rata-rata curah hujan di daerah asal

tanaman pala yaitu Banda, adalah sekitar 2.656 mm/th dengan jumlah hari hujan 167 hari

merata sepanjang tahun. Meskipun terdapat bulan-bulan kering, tetapi selama bulan

kering tersebut masih terdapat 10 hari hujan dengan sekurang-kurangnya 100 mm

(Deinum, 1949 dalam Flach, 1966). Menurut Ridley (1912) penanaman pala di Pulau

Banda sampai dengan ketinggian 458 meter diatas permukaan laut (Anon, 1974).

Sedangkan Flach (1966) di Pulau Papua tidak menanam tanaman pala melebihi

ketinggian di atas 700 m dari permukaan laut, sehingga tanaman pala dapat tumbuh baik

pada ketinggian 0-700 m diatas permukaan laut.

Daerah-daerah pengusahaan tanaman pala memiliki fluktuasi suhu yang berbeda-

beda yaitu berkisar antara 180C - 340C. Deinum (1949) mengatakan bahwa suhu yang

terbaik untuk pertumbuhan tanaman pala antara 25 0C - 300C. Walaupun demikian para

pakar berpendapat, tanaman pala akan berkembang dengan baik di daerah tropis

dengan kisaran (fluktuasi) suhu yang tidak besar. Tanaman pala sangat peka terhadap

angin kencang, karenanya tanaman ini tidak sesuai diusahakan pada areal yang terbuka

tanpa tanaman pelindung atau penahan angin. Menurut keterangan Deinum (1949) angin

yang bertiup terlalu kencang, bukan saja menyebabkan penyerbukan bunga terganggu,

malahan buah, bunga dan pucuk tanaman akan lusuh berguguran (Anon, 1974).

Oleh karena itu daerah-daerah yang tiupan anginnya keras, diperlukan tanaman

pelindung yang ditanam dipinggirannya. Akan tetapi tanaman pelindung yang terlalu

rapat dapat menghambat pertumbuhan pala, dan menjadi saingan dalam mendapatkan

unsur hara.
B. Tanah

Tanaman pala memerlukan tanah yang subur dan gembur, terutama tanah-tanah

vulkanis, miring atau memiliki pembuangan air yang baik atau drainase yang baik (Heyne,

1987). Menurut Flach (1966) tanaman pala akan tumbuh baik pada tanah yang bertekstur

dari pasir sampai lempung (loam). Sedangkan Ridley (1912) mengemukakan bahwa

makin rendah tanah Clay semakin baik untuk pertumbuhan tanaman pala. Keadaan

tanah dengan reaksi sedang sampai netral (pH 5.5 - 7 ) merupakan rata-rata yang baik

untuk pertumbuhan tanaman pala, karena keadaan kimia maupun biologi tanah berada

pada titik optimum.

Untuk pengusahaan tanaman pala di daerah baru perlu sekali diperhatikan tentang

kesesuaian iklim, jenis tanah, suhu, pH tanah, drainase dan sebagainya agar tanaman

dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik.

II. 4. TEKNIK BUDIDAYA

A. Pengadaan bahan tanaman untuk bibit

Pada dasarnya pengadaan tanaman pala dapat dilakukan dengan beberapa cara

- Perbanyakan dengan biji

- Perbanyakan dengan cangkokan

- Perbanyakan dengan okulasi

- Perbanyakan dengan sambungan / grafting

Perbanyakan dengan biji

Biji- biji pala yang akan digunakan sebagai benih harus memenuhi beberapa

syarat, antara lain :

- Harus berasal dari pohon induk terpilih,


- Biji segar matang, panen berwarna coklat muda dan tertutup penuh dengan

seludang fuli yang berwarna merah,

- Biji yang kering berwarna coklat tua sampai hitam mengkilap dengan bobot

minimal 50 gram/biji, serta tidak terserang hama dan penyakit (Emmyzar, et al,

1989).

Setelah pemetikan haruslah disemaikan dengan selambat lambatnya + 24 jam

penyimpanan. Untuk mendapatkan benih dengan daya kecambah yang tinggi,

sebaiknya biji diambil dari pohon induk yang letaknya berdekatan dengan pohon yang

berbunga jantan. Pengecambahan, perlu dilakukan sebab biji pala termasuk benih

rekalsitran yang cepat menurun daya kecambahnya. Perkecambahan dapat dilakukan

dengan beberapa cara sbb :

- Sesaat setelah panen segera lakukan seleksi benih dengan memilih

benih yang tua ditandai dengan tempurung mengkilat berwarna hitam

kecoklatan, bebas dari hama dan penyakit, tidak keriput dengan fuli

tebal dan biji besar

- Sediakan serbuk gergaji yang sudah lapuk atau jerami campur humus,

dalam kotak atau bedengan pengecambahan dengan lebar 0,50-1

meter dan panjang sesuai kebutuhan. Siram dengan larutan gula 10

%, biarkan selalu lembab. Kemudian letakan benih pala secar

berbaris benih yang baru diseleksi dengan jarak berdekatan (0,50 x 1

cm atau 1 x 1 cm).

- Selanjutnya tutup dengan karung goni atau daun rumbia atau kertas

koran. Kelembaban harus selalu dijaga


- Untuk mempercepat pengecambahan dapat diberi perlakuan

pemecahan kulit/batok pangkal biji, sehingga retak atau belah atau

mengelupas dengan tidak merusak daging bijinya. Dapat dilakukan

pengikiran/hampelas batok pangkal biji sehingga tipis

- Setelah biji berkecambah, kemudian dilakukan pesemaian pada

polibeg yang telah disediakan (diisi dengan media campuran

kompos/pupuk kandang dan tanah. 1:1). Pesemaian sangat diperlukan

di dalam pengadaan bibit untuk perkebunan pala.

Pembibitan ini merupakan langkah awal dari penentuan terlaksananya usaha

perkebunan tanaman tersebut. Pesemaian dapat dilakukan dengan terlebih dahulu

mengecambahkan biji dengan menggunakan kotak yang telah diisi pasir halus, serbuk

sabut kelapa, serbuk gergaji yang sudah steril. Biji diatur sedemikian rupa dan

bersentuhan dan bakal kecambah mengarah pada satu sisi yang sama. Setelah berumur

4-8 minggu, bakal akar sudah keluar dengan diikuti keluarnya kecambah, selanjutnya

bisa dipindahkan ke polibag.

Pesemaian dapat pula dilakukan pada bedengan yang sudah disiapkan sebelum

buah dipetik. Pesemaian ini sekaligus berfungsi sebagai persemaian pemeliharaan dan

diperlukan pengolahan tanah yang sempurna. Jarak tanam pada pesemaian ini perlu

diatur yaitu 15 x 15 cm atau 15 x 20 cm agar nanti pada saat pemindahan mudah diputar

pada umur + 1 tahun dengan ketinggian + 1 meter. Pesemaian dapat juga dilakukan

langsung pada polibag ukuran 20 x 30 cm. Media yang digunakan berupa campuran

tanah dan pupuk kandang 2 : 1, polibag

diatur berjejer di bawah naungan dengan lebar 120 cm, sedangkan panjangnya
tergantung situasi setempat. Dengan mempergunakan polibag akan mempermudah

pemindahan bibit ke lapangan.

Perbanyakan dengan cangkokan

Pada dasarnya mencangkok tanaman pala sama dengan mencangkok tanaman

lainnya. Pencangkokan tanaman adalah usaha perbanyakan tanaman dengan tidak

mengurangi sifat-sifat induknya. Pada umumnya pohon-pohon yang akan dicangkok

adalah dari pohon-pohon yang terpilih dan cabang yang dicangkok adalah yang sudah

berkayu tapi tidak terlalu tua atau terlalu muda

Penelitian dengan cangkokan yang dilakukan di Grenada berhasil dengan

memuaskan. Dengan memilih cabang yang cukup besar. pada jarak 15 cm dari batang,

kulit dikupas lebih dari separuh sepanjang 2-3 cm. Luka akibat pengelupasan ditutup,

kemudian dibalut tanah yang sebelumnya telah dicampur pupuk kandang. Pada umur 6

bulan setelah perlakuan , sudah keluar akar yang cukup banyak (Rismunandar, 1987).

Cara lain dari cangkokan yang dilakukan oleh Nicols dan Cricksbank dalam Rismunandar

(1987) ialah dengan memilih cabang tanaman berdiameter rata-rata 1,5 cm. Cabang

disayat dari bawah ke atas sepanjang 5 cm, luka akibat pemotongan ditutup dengan MOS

yang telah dibasahi, selanjutnya dibungkus. Cangkokan akan mulai berakar pada umur

4-18 bulan.

Perbanyakan dengan okulasi

Perbanyakan dengan okulasi pada tanaman pala dilakukan sebagaimana

pengokulasian tanaman lainnya, yaitu dengan cara okulasi T terbalik atau cara Fokkert

yang disempurnakan. Hanya untuk mendapatkan mata tunas dari entres yang dekat

dengan daun yang utuh sangat sulit sebab kebanyakan diperoleh mata tidur, tetapi pada
percabangan yang sudah tua dan besar selalu mata tunas tersebut dapat

tumbuh segera setelah dilakukan pemotongan cabang bagian ujung. Hal ini yang

menyebabkan pelaksanaan okulasi pada tanaman pala selalu gagal, karena mata entres

jauh lebih tebal atau lebih besar dari diameter batang bawah.

Perbanyakan dengan sambungan (grafting)

Ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu penyambungan pada pucuk dan susuan.

- Sambungan pada pucuk (enten)

Cara ini merupakan cara yang banyak dilakukan pada penyambungan tanaman

yang sulit diokulasi. Penyambungan ini dilakukan pada umur bibit 3-4 bulan setelah

berkecambah. Ambil entres dari tunas ortotrop yang besarnya sama dengan batang

bawah. Cara penyambungan tanaman (batang bawah) dipotong pada bagian pucuk + 3

- 5 cm, pada ketinggian 15 - 20 cm dari permukaan tanah, lalu dibelah + 1 - 1.5 cm. Ambil

entres berdaun 4 - 6 dari tunas ortotrop, buang daun bagian bawah 2-4 lembar pada

bagian pangkal, entres diruncingkan pada bagian kiri dan kanan sehingga berbentuk V.

Selanjutnya masukkan belahan pada batang bawah tadi, lalu

diikat dengan tali plastik es, untuk mendapatkan keberhasilan yang sempurna, bibit

sambungan tadi ditaruh di dalam bedengan dan tutup dengan sungkup plastik. Perlu

disiram pagi dan sore hari seperlunya dan jangan sampai air berlebihan. Bila bibit cukup

banyak, sebaiknya bibit jangan disungkup individu tapi disungkup dalam kurungan plastic

- Susuan (apprough / grafting)

Bibit yang berumur + 4 bulan dimana pertengahan batang mulai beralih dari warna

hijau ke merah kecoklatan adalah yang terbaik untuk disambung secara susuan lalu dicari

tunas yang sama besarnya (sebaiknya tunas tegak lurus) pada pohon induk terpilih, lalu
disayat pada sisi bagian tengah sepanjang 3 - 5 cm dan tebal 2 - 4 mm, demikian pula

pada batang bawah bibit tadi. Bekas sayatan pada bibit dan tunas tadi ditempelkan pada

luka yang sama, usahakan kedua kambium bertemu, kemudian diikat dengan tali plastik

es dimulai dari bawah ke atas secara rapat dan kuat, agar air tidak masuk, biasanya pada

umur 60 - 75 hari penyambungan susuan itu sudah bersatu dan sudah bisa dipotong + 5

cm dibawah sambungan pada tunas pohon induk (entres), bekas luka diolesi dengan ter

tanaman untuk menghindari infeksi, sedang batang bagian atas dari sambungan pada

bibit (batang bawah) sebaiknya jangan terus dipotong, tetapi disayat + 7 cm diatas

sambungan lalu dirundukkan ke bawah,setelah 15 - 20 hari baru dipotong.

Bibit setelah putus dari pohon induk ditaruh di tempat teduh dengan intensitas

penyinaran + 25 %, dan secara perlahan-lahan

ditingkatkan dengan cara membuka atap/pelindung sedikit demi sedikit. Hal ini penting,

untuk memberi kesempatan pertumbuhan akar, sehingga pada penanaman di kebun

akan mengurangi gangguan akar. Bibit yang disemai dalam polibag, penanamannya

dapat langsung ke lapangan.

B. Persiapan lahan

Sebelum bibit ditanam, kebun harus sudah dipersiapkan. Pada garis besarnya,

persiapan lahan meliputi kegiatan sebagai berikut :

Pemangkasan semak belukar dan penebangan pohon-pohon (kebun yang

baru dibuka). Sebaiknya pembukaan areal ini dilakukan pada musim

kemarau, sehingga semak belukar tersebut tidak cepat tumbuh kembali.

Pengolahan tanah, dimaksudkan untuk menggemburkan tanah,

menyingkirkan akar dan sisa-sisa tanaman serta menciptakan areal yang


serasi. Pengolahan tanah pada areal miring harus dilakukan menurut arah

melintang lereng (contour). Efek utama pengolahan tanah menurut cara

ini adalah terbentuknya alur yang dapat menghambat aliran permukaan

dan menghindari terjadinya penghanyutan tanah bagian atas (erosi). Pada

tanah dengan tingkat kemiringan 20 % perlu dibuat teras dengan ukuran

+ 2 m (disesuaikan dengan keadaan solum tanah, makin dalam solum

makin lebar ukuran teras) atau dapat pula dibuat teras terusan dengan

penanaman sistem contour.

Sebelum dilakukan pembuatan lubang tanam, ditentukan dahulu jarak

tanam yang akan digunakan. Pada umumnya jarak tanam untuk tanaman

pala ialah 9 x 10 m dengan sistem bujur sangkar atau 10 x 10 m. Dengan

jarak tanam tersebut dahan-dahannya tidak akan bersilangan dan dengan

keadaan ini kapasitas untuk berproduksi adalah maksimal pada umur

dewasa (Flach, 1966). Pembuatan lubang tanam biasanya berukuran 60 x

60 x 60 cm. Pada tanah yang berliat tinggi, sebaiknya ukuran lubang tanam

lebih besar 100 x 100 x 100 cm. Tanah lapisan atas dan lapisan bawah dipisah,

karena kedua lapisan tersebut mengandung unsur yang berbeda. Setelah

pembuatan lubang tanam berumur lebih satu bulan, tanah dikembalikan, lapisan

bawah kembali ke lapisan bawah dan lapisan atas setelah dicampur dengan pupuk

kandang matang, baru dimasukkan kembali ke dalam lubang bagian atas. Dua atau

tiga minggu kemudian penanaman dapat dilakukan.

C. Penanaman
Bibit yang akan ditanam biasanya yang telah berumur lebih satu tahun dan tidak

lebih dari dua tahun. Kalau bibit lebih dari ketentuan tersebut, akibat lama dipembibitan,

pertumbuhannya akan terlambat, sebab akar sudah berlipat-lipat. Sebaiknya penanaman

dilaksanakan pada awal musim penghujan agar ketersediaan air terjamin.

Cara penanaman adalah dengan membuat lubang tanam kecil ditengah lubang

tanam awal, setinggi dan selebar keranjang atau polibag bibit, lalu polibag disayat dari

atas ke bawah dengan pisau secara hati-hati agar akar dan tanah dalam polibag tersebut

tidak rusak, kemudian dilakukan penanaman sampai leher batang terkubur tanah, lalu

tanah dirapihkan kembali. Uintuk menjaga tanaman muda dari sengatan matahari

langsung perlu dibuatkan naungan dari tiang bambu atau kayu dengan atap daun kelapa

atau alang-alang, sampai tanaman betul-betul tahan dari sinar matahari.

Pola Tanam

Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani, salah satu upaya adalah dengan

memanfaatkan lahan seoptimal mungkin, dengan menanam berbagai jenis tanaman

dengan memperhatikan syarat tumbuh dari setiap tanaman itu sendiri. Peluang tanaman

pala sebagai tanaman pokok atau pun sebagai tanaman sela sangat memungkinkan

karena banyak lahan diantaranya belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk

menentukan/ mendapatkan jenis tanaman apa yang tepat bergandengan dengan

tanaman pala, beberapa hal yang perlu di perhatian adalah sebagai berikut :

- Kesesuaian lingkungan yang diartikan sebagai kecocokkan lahan untuk

tanaman tersebut.

- Tidak bersifat saling merugikan baik terhadap tanaman sela atau

tanaman pokok.
- Tidak menimbulkan persaingan, terutama dalam pengambilan zat

makanan.

- Tidak memiliki kesamaan sebagai inang timbulnya hama atau penyakit.

- Memiliki kemampuan saling menguntungkan.

- Tanaman tersebut memiliki nilai ekonomis.

- Berwawasan lingkungan, artinya berkemampuan mengawetkan alam.

Sehingga kelestariannya tetap terjamin sesuai konsep ekologi yang diinginkan

bersama. Sebagai contoh upaya menekan sekecil mungkin tingkat erosi tanah yang kelak

dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah. Peluang tanaman pala sebagai tanaman

sela jumlahnya tergantung umur tanaman pokok, pada tanaman kelapa berumur 10

tahun, tanaman pala dapat tumbuh dan berproduksi cukup baik sebagai tanaman sela

diantara tanaman kelapa. Sedangkan sebagai tanaman pokok, tanaman pala dapat

dipola tanamkan dengan berbagai jenis tanaman palawija, tanaman temu-temuan serta

berbagai tanaman obat. Jarak tanam pala yang biasa dipergunakan adalah 10 x 10 m,

dengan jarak tanam tersebut banyak lahan yang kosong terutama pada saat tanaman

pala berumur dibawah 4-5 tahun, lahan ini dapat dimanfaatkan untuk ditanami berbagai

jenis tanaman semusim misalnya tanaman palawija.

D. Pemeliharaan

Untuk menjamin keberhasilan berproduksi di masa mendatang, maka sejak awal

pertanaman pala perlu pemeliharaan yang baik, di antara kegiatan pemeliharaan

pertanaman pala adalah :

Penanaman pohon pelindung,


Tanaman muda umumnya tidak tahan terhadap panas sinar matahari langsung,

sehingga diperlukan naungan serta penanaman pohon pelindung yang sekaligus sebagai

penahan angin karena tanaman pala sangat peka terhadap angin yang keras.

Beberapa pohon pelindung dapat digunakan diantaranya Albazia, Lamtoro,

Glirisidia dan berbagai jenis tanaman leguminosae lainnya. Setelah tanaman pala

berumur 3 - 4 tahun, pohon pelindung dapat dikurangi secara bertahap.

Penyulaman

Bibit yang mati, dan yang pertumbuhannya terhambat sebaiknya segera dilakukan

penyulaman agar tidak menjadi parasit dalam usaha pertanaman pala. Kegiatan

penyulaman ini dapat dilakukan sejak umur satu bulan setelah tanam.

Penyiangan

Biasanya setelah tanaman berumur 2 - 3 bulan, rumput dan tanaman pengganggu

lainnya disekitar pertanaman pala sudah banyak yang tumbuh. Hal ini menimbulkan

persaingan tanaman pala dengan rerumputan tersebut dalam penggunaan unsur hara,

oleh sebab itu perlu dilakukan penyiangan agar persaingan dalam pengambilan unsur

hara dapat diperkecil, sehingga tanaman pala tumbuh dan berkembang dengan baik.

Untuk selanjutnya penyiangan cukup dilakukan sekitar piringan tanaman yang

pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan

perkembangan gulma.

Pemupukan

Untuk menjamin ketersediaan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman pala

terutama unsur makro (N, P dan K ) di dalam tanah, bagi pertumbuhan dan produksi
tanaman, maka diperlukan pemupukan. Dosis pemupukan yang dianjurkan berdasarkan

tingkat umur untuk tanaman pala.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Disamping perbaikan teknik bercocok tanam, perlu pula diupayakan

penanggulangan serangan hama dan penyakit sehingga kelangsungan pertanaman

serta kualitas dan kuantitas produksi dapat terus dipertahankan malah dapat

ditingkatkan.

- Hama-hama yang sering dijumpai menyerang biji pala adalah Oryzaephilus

Mercator (Faufel) dan Areacerus fasciculatus.

Kedua hama ini bersifat kosmopolitan dan menyebabkan kerugian besar terutama

pada produk-produk dalam simpanan. Hama lain adalah yang menyerang batang yaitu

Batocera hercules. Hama ini banyak ditemukan di Sulawesi Utara dengan tingkat

serangan yang cukup tinggi. Usaha pengendalian terhadap hama yang menyerang biji

yang sudah berada digudang-gudang adalah dengan melakukan fumigasi

Methyl Bromida. Sedangkan penyemprotan insektisida kontak dapat pula dilakukan untuk

serangan di lapang dengan menggunakan insektisida Malathion. Pengendalian terhadap

hama penggerek batang adalah dengan memberikan insektisida pada kapas kemudian

dimasukkan pada semua lobang gerekan dan kemudian ditutup dengan sepotong kayu.

- Penyakit

Penyakit utama yang paling merugikan pada pertanaman pala di Indonesia adalah

penyakit busuk kering dan busuk basah yang disebabkan oleh jamur serta penyakit layu

yang diduga disebabkan oleh mikroorganisme.

1. Penyakit busuk kering


Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur yaitu Stigmina myrtaceae. Gejala

penyakit umumnya ditemukan pada buah yang telah berusia 5 - 6 bulan ke atas. Pada

buah yang terinfeksi akan diketemukan bercak coklat atau hitam kehijauan dengan

ukuran yang bervariasi. Serangan penyakit ini merupakan bercak yang mengering, buah

menjadi keras, dan pada permukaan kulit terbentuk masa jamur berwarna hitam

kehijauan, diikuti dengan pecahnya buah dan buah kemudian gugur (Mandang-

Sumaraw, 1985).

2. Penyakit busuk basah

Mandang-Sumaraw (1985) menyebutkan bahwa penyebab penyakit ini adalah

jamur Colletotrichum gloesporioides Penzig. Penyakit ini muncul pada saat buahbuah

hampir masak atau buah yang pecah kadang ditemukan bersama-sama dengan

serangan penyakit busuk kering. Pada buah yang terinfeksi terjadi peribahan warna

menjadi coklat, daging buah busuk, lunak dan berair/kebasah-basahan. Bila gejala

berkembang nampak buah seperti habis dimasak air panas. Buah terserang pada

pangkalnya, sehingga akan mudah gugur ke tanah. Pengendalian kedua penyakit ini

pada prinsipnya sama karena penyebab kedua penyakit tersebut adalah jamur dan

bagian yang terserang adalah buah.

Pendekatan yang dapat dilakukan adalah menghilangkan sumber inokulum, mengurangi

kelembaban dan melindungi buah dengan penyemprotan fungisida. Menghilangkan

inokulum dapat dilakukan dengan cara membenamkan buah-buah yang sakit/terserang

ke dalam tanah. Mengurangi kelembaban kebun dengan mempergunakan jarak tanam

yang lebar misalnya 10 x 10 meter, pembersihan tumbuhan pengganggu disekitar

tanaman, mengurangi tanaman pelindung, serta kalau perlu melakukan pemangkasan


cabang dan ranting yang saling persentuhan, serta penyemprotan dengan fungisida

Delsene MX-200, pada musim hujan.

3. Penyakit Layu

Diduga penyebab penyakit layu ini adalah Mikroorganisme patogenik didukung

oleh keadaan lingkungan yang sangat lembab. Gejala nampak pada daun, daun

menguning dan layu dari pucuk bagian atas, berlanjut dari satu cabang ke cabang lain

kemudian gugur seluruhnya dan tanaman mati meranggas. Jika akarnya dibongkar

terlihat warna hitam kecoklatan. Secara keseluruhan gejala ini mirip dengan gejala BPKC

pada tanaman cengkeh (Asman, et al., 1992). Penanggulangan yang dapat dianjurkan

antara lain, mengurangi kelembaban kebun dengan memotong tanaman liar sehingga

sinar matahari cukup masuk diantara tanaman pala. Membuat saluran drainase sekeliling

kebun agar air tidak menggenang, memusnahkan tanaman yang terserang serta

penyemprotan fungisida Dithane M-45, Benlite, Difolatan 4f.

4. Penyakit lain

Penyakit lain yang menyerang tanaman pala dalam skala kecil dan sporadic serta

secara eknomis nilai kerusakan\nya relatif kecil antara lain penyakit antrachnosa pada

daun dan benang putih. Penanggulangan terhadap kedua jenis penyakit ini adalah sama

yaitu mengurangi kelembaban kebun, memotong dan memusnahkan ranting yang

terinfeksi, serta penyemprotan dengan fungisida.

E. Panen

Tanaman pala mulai berbuah pada umur 7 - 8 tahun dan pada umur 10 tahun

dapat berproduksi secara menguntungkan. Tanaman pala hasil grafting dapat berbuah

umur 4 - 5 tahun sedang tanaman hasil cangkokan berbuah umur 3 - 4 tahun. Produksi
tanaman pala terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi dan

dapat terus berproduksi sampai umur 60 - 70 tahun. Dalam satu tahun pala dapat dipanen

dua kali.

Umumnya buah pala telah dapat dipanen setelah cukup tua, umur buah + 6 bulan sejak

dari bunga. Tanda-tanda buah pala yang sudah cukup tua adalah jika sebahagian buah

pala dari suatu pohon sudah merekah.

Cara pemanenan buah pala dapat dilakukan dengan menggunakan galah yang

pada bagian ujungnya diberi keranjang atau dengan cara memetik langsung dengan cara

menaiki batang dan memilih buah-buah yang telah betul-betul tua. Buah yang telah

dipetik segera dibelah, dipisahkan daging buah, biji dan fulinya. Biji pala dan fulinya

segera dijemur untuk menghindari serangan hama dan penyakit yang dapat mengurangi

mutunya.

II. 5. PENGOLAHAN DAN PENGANEKARAGAMAN HASIL

Buah pala terdiri atas daging buah (pericarp) dan biji yang terdiri atas fuli,

tempurung dan daging biji. Fuli adalah serat tipis (areolus) berwarna merah atau

kuning muda, berbentuk selaput berlubang-lubang seperti jala yang terdapat antara

daging dan biji pala. Menurut Somaatmadja (1984), dari buah pala segar dihasilkan

daging buah sebanyak 83.3 %, fuli 3.22 %, tempurung biji 3.94 %, dan daging biji

sebanyak 9.54 %.

Pemanfaatan buah pala secara optimal serta dilakukannya usaha-usaha

penganekaragaman bentuk produk pala yang dipasarkan sangat penting sehingga

pendapatan petani pala tidak hanya tergantung dari penjualan biji pala saja. Selain

peningkatan nilai tambah bagi usaha pemanfaatan buah pala secara optimal akan
meningkatkan daya tahan petani pala terhadap perubahan harga biji pala akhirakhir ini.

Semua bagian buah pala dapat dijadikan bahan olahan yang mempunyai nilai ekonomis.

Biji dan fuli pala kering merupakan dua bentuk komoditas pala di pasar intenasional,

keduanya dapat diolah menjadi minyak pala yang memberikan nilai tambah, sedangkan

daging buahnya dapat dibuat berbagai macam produk pangan seperti manisan pala, sari

buah, selai pala, chutney dan jelli.

a. Biji dan fuli kering

Untuk dijadikan bahan yang dapat diekspor, biji dan fuli pala perlu dilakukan

pengolahan terlebih dahulu. Proses pengolahan dimulai dengan melepaskan biji dari

dagingnya, fuli yang membungkus biji dilepas dengan jalan memipil mulai dari ujung.

Pengeringan biji dan fuli dapat dilakukan dengan penjemuran atau menggunakan alat

pengering.

Secara tradisional biji pala dijemur dengan memakai alas tikar atau lantaim semen

dibawah sinar matahari. Yang harus diperhatikan dalam penjemuran adalah lamanya

pengeringan harus tepat. Pengeringan yang terlalu cepat dengan panas yang tinggi

mengakibatkan biji menjadi pecah. Biji yang telah cukup kering adalah yang telah terlepas

dari bagian cangkangnya dengan kadar air 8 - 10 %. Sedangkan pengeringan fuli dengan

bantuan sinar matahari dilakukan secara perlahan-lahan selama beberapa jam,

kemudian dikering anginkan. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai fuli menjdi kering.

Cara pengeringan semacam ini dapat menghasilkan fuli yang kenyal (tidak rapuh) dan

bermutu tinggi.

b. Minyak pala
Biji pala dan fuli dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak pala. Minyak

pala biasanya disuling dari biji pala berumur 3 - 4 bulan dengan rendemen minyaknya 6

- 17 %. Biji pala yang tua, rendemennya lebih rendah 8 - 13 %. Penyulingan biji pala dan

fuli dapat dilakukan dengan sistem uap bertekanan rendah (+ 1 atmosfer) atau dilakukan

secara dikukus. Untuk tingkat pengrajin, penyulingan secara pengukusan lebih

memungkinkan karena investasinya lebih murah. Biji pala yang akan disuling digiling

terlebih dahulu, untuk memudahkan keluarnya minyak atsiri dari bahan. Penyulingan biji

pala dengan kapasitas besar hendaknya bahan di

dalam ketel disusun secara difraksi (diberi antara) agar uap air dapat berpenetrasi

dengan merata, dengan demikian penyulingan akan lebih singkat dan rendemennya lebih

tinggi. Penyulingan cara itu membutuhkan waktu 8 jam dengan rendemen minyak 13.33

%, sedang tanpa difraksi membutuhkan waktu 10 jam dengan rendemen minyak 12.98

% (Hernani dan Risfaheri, 1990).

Untuk penyulingan fuli pala tidak perlu fulinya dihancurkan sebelum disuling.

Kadar minyak atsiri dari fuli yang masih muda yang berwarna keputih-putihan berkisar 7

- 18 % (Rismunandar, 1987). Penampakan minyak pala dan fuli hamper sama, keduanya

berwarna jernih hingga kuning pucat dan mempunyai susunan kimia yang sama.

c. Oleoresin dan mentega pala

Oleoresin terdiri dari minyak atsiri dan resin serta komponen-komponen

pembentuk flavor lainnya (senyawa-senyawa) yang tidak mudah menguap yang

menentukan rasa khas pala. Tahap-tahap pembuatan oleoresin adalah persiapan bahan,

ekstraksi dengan pelarut organik dan pengambilan kembali pelarut organik.


Menurut Somaatmadja (1984), ekstraksi pala langsung dengan etanol dingin

dapat menghasilkan 18 - 26 % oleoresin dan hasil tersebut didinginkan dan disaring.

Oleoresin yang dihasilkan menjadi 10 - 12 %, sisanya adalah lemak trimiristin yang

disebut mentega pala. Bila digunakan pelarut benzena, oleoresin pala yang dihasilkan

sebelum dilakukan penyaringan mencapai 31 - 37 %. Pada pembuatan oleoresin fuli, fuli

yang di ekstrak dengan petroleum eter dapat menghasilkan 27 - 32 % oleoresin yang

mengandung 8.5 - 22 % minyak atsiri. Ekstraksi dengan etanol panas dapat

menghasilkan 22 - 27 % oleoesin dan hasil tersebut didinginkan dan disaring. Oleoresin

yang dihasilkan menjadi 1 - 13 % dan sisa yang terpisah berupa mentega fuli. Lemak

pala juga dapat diekstrak dengan hotpress karena kadar lemaknya cukup tinggi (29 - 40

%), lemak ini dapat disebut sebagai mentega pala (Somaatmadja, 1984).

d. Daging buah pala

Daging buah pala dapat diolah menjadi berbagai macam produk pangan seperti

manisan pala, sari buah, selai pala, chutney dan jelli. Manisan pala biasanya

menggunakan buah pala yang masih muda, sedangkan untuk bentuk olahan lainya dapat

digunakan daging buah pala yang telah masak.

Ada dua macam manisan pala yaitu manisan basah dan manisan kering. Manisan

basah dibuat dengan cara merendam daging buah pala dalam larutan garam selama +

1/2 hari untuk menarik kotoran dan getahnya, lalu dicuci bersih. Kemudian direndam

dalam gula pasir sehingga keluar cairan. Cairan tersebut dipisahkan kemudian

dikentalkan dengan penambahan gula. Selanjutnya buah pala direndam kembali dalam

cairan gula tersebut. Untuk membuat manisan kering, daging buah pala yang telah bersih

direndam dalam gula pasir kemudian dijemur sampai kering.


BAB III

PENUTUP

III. 1. Kesimpulan

Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan tanaman asli Indoesia, sudah

terkenal sebagai tanaman rempah sejak abad ke 18. Sampai saat ini Indonesia

merupakan produsen pala terbesar dunia (70-75%).

Maluku merupakan pusat asal tanaman pala dengan keragaman yang tinggi

(Deinum, 1949). Tanaman ini termasuk salah satu tanaman rempah-rempah yang

menjadi rebutan bangsa-bangsa yang datang ke Indonesia, antara lain bangsa Portugis

tahun 1511.

Teknik budidaya tanaman pala meliputi : pengadaan bahan tanam untuk bibit,

persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan dan panen

Pada dasarnya pengadaan tanaman pala dapat dilakukan dengan beberapa cara,

yaitu : perbanyakan dengan biji, perbanyakan dengann cangkokan, perbanyakan dengan

okulasi dan perbanyakan dengan sambungan / grafting

Pemanfaatan buah pala secara optimal serta dilakukannya usaha-usaha

penganekaragaman bentuk produk pala untuk dipasarkan. Semua bagian buah pala

dapat dijadikan bahan olahan yang mempunyai nilai ekonomis. Biji dan fuli pala kering

merupakan dua bentuk komoditas pala di pasar intenasional, keduanya dapat diolah

menjadi minyak pala yang memberikan nilai tambah, sedangkan daging buahnya dapat
dibuat berbagai macam produk pangan seperti manisan pala, sari buah, selai pala,

chutney dan jelli.

III. 2. Saran

Penyusun berharap kepada pembaca untuk menyimak, mempelajari dan

menggunakan makalah Budidaya Tanaman Pala sebagai motivasi dan menjadi

referensi kepada pembaca dalam melakukan kegiatan usaha disektor pertanian.

Akhirnya penyusun sadari sepenuhnya bahwa makalah yang kami susun jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat

penulis harapkan. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam

menyelesaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

- Anonymous, 1974. Pedoman teknik budidaya pala. Direktorat Jenderal

Perkebunan. Jakarta : 56.

- Asman. A., M. Tombe, M. E. Ester.S.R. Djiwanti dan D. Sitepu. 1992. Identifikasi

dan biologi penyakit pala di Sumatra Barat.

- Laporan hasil penelitian Balitro. BPS. 1995. Statistik Perkebunan Indonesia.

Jakarta.

- BPS. 2000. Statistik Perkebunan Indonesia. Jakarta.

- Cere. 1961. Plant Taxonomy. Prentice. Hall Inc. Englewood Cliffs. N. Jersey.

- Deinum, H., 1949. Nootsmuskaat en foelie, dalam C.J.J. Van Hallen C. Van de

Koppel (ed) De Landbouw in de Indishe Archiple, Deel III W. Van Hoevs

Gravenhage. 665-685.
- Emmyzar., Rosman, R, Muhammad, H. 1989. Tanaman Pala. Perkembangan

penelitian agronomi tanaman rempah dan obat. Edisi khusus Littro vol. V. No. 1.

1989. 5 hal.

- Hadad, M. E.A. 1991. Keragaan plasma nutfat pala di propinsi Maluku hasil

eksplorasi dan pelestarian 1990/1991. Makalah pada seminar plasma nutfah

tanaman hortikultura, industri dan pangan. Puslitbangtan. September 1991 Bogor

: 12

- Hadad,M. E. A. dan A. Hamid, 1990. Mengenal berbagai plasma nutfah pala di

daerah Maluku Utara.

- Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Bogor. VIII ; 1213 - 1222.

- Hadad,M. E. A. dan Syakir. M. 1992. Pengadaan bahan tanaman pala.

Perkembangan Penelitian Tanaman Pala dan Kayumanis. Edisi khusus penelitian

tanaman rempah dan obat Balittro vol. VIII No. 1, 1992, hal 1-7.

- Hernani dan Risfaheri, 1990. Pengaruh cara penempatan bahan pada penyulingan

biji pala terhadap rendemen dan mutu minyaknya.

- Medkom Puslitbangtri No. 5. Hal 93-98.

- Heyne, K., 1927. De Nuttings Planten Van Nederlandesh Indish. Ruygrok and Co.

Batavia ; 196.

- Lubis, Yacob, M. 1992. Budidaya tanaman pala. Perkembangan Penelitian

Tanaman Pala dan Kayumanis Edisi khusus penelitian tanaman rempah dan obat

Balittro vol. VIII No.1. 1992 hal 8 - 20.


- Mandang. Sumaraw, S. 1981. Penyakit - penyakit jamur pada buah pala di Kab

Minahasa. Makalah Kongres Nasional VI, PFI, Bukit Tinggi, 11-13 Mei, 12p.

- Mandang, Sumaraw, S. 1985. Biologi penyebab penyakit busuk buah pala

khususnya busuk kering. Tesis S3 UGM. Tidak dipublikasikan.

- Ochse.J. J. 1931. Indieshe groonten (met inbergrijp van aardvrachten en

kruiderijen) Dep. Landb.

- Nijverth en Handel. Buiten Zerg. Ridley, H. N. 1912. Spices. Mac Millan Co., St.

Merten, S Street London.

- Rismunandar, 1987. Budidaya dan tataniaga pala. Penebar Swadaya, Jakarta.

- Rosman, R., Emmyzar., Made, 1989. Studi kesesuaian lahan dan iklim tanaman

pala (Myristica fragrans). Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

- Somaatmadja, D., 1984. Penelitian dan Pengembangan Pala dan Fuli. Komunikasi

No.215. BBIHP, Bogor. 18 hal. 31

Diposting oleh Rachmat Sibali di 22.55


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Rachmat Sibali
Lihat profil lengkapku
Arsip Blog
2016 (4)

2015 (11)

2014 (28)
o November (4)
o Juni (7)
o Mei (1)
o April (6)
Stadion yang akan digunakan pada Piala Dinia 2014 ...
Makalah Prospek Pengembangan Tanaman Hortikultura ...
Makalah Prospek pengembangan Tanaman Markisa
Makalah Teknik Budidaya Tanaman Pala
Budidaya Tanaman Padi
Budidaya Tanaman Murbei
o Maret (10)

Google+ Followers
Google+ Followers
Translate
Pilih Bahasa Pilih Bahasa

Translate
kursor Jam Layout
teks ikut kursor!-- floating twitter Bird -->
bintang jatuh Layout
!-- floating twitter Bird -->
Tema PT Keren Sekali. Gambar tema oleh molotovcoketail. Diberdayakan oleh Blogger.
)
i
l
a
b
i
s
t
a
m
h
c
a
r
(
g
n
a

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia memiliki berbagai macam hasil bumi yang menjadi incaran para penjajah. Salah
satunya, buah pala. Buah pala di Indonesia yang terkenal berasal pulau Banda Naira. Banda Naira,
pulau di wilayah timur Indonesia ini merupakan penghasil buah pala terbaik di dunia. Di pulau
yang sempat menjadi tempat pengasingan dua tokoh nasional, Bung Hatta dan Sjahrir ini, bisa
dikatakan menjadi tempat sejarah Indonesia bermula.
Pala dikenal sebagai buah yang digunakan untuk menambah cita rasa makanan, menjaga daging
tetap baik dalam waktu lama jika dibalurkan pala sebelum disimpan, hingga umumnya, pala
dikenal sebagai penyedap atau pengawet alami. Namun, pada kenyataannya, buah pala menyimpan
khasiat lain, baik untuk kecantikan, kesehatan, dan penenang.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui buah pala.
2. Untuk mengetahui manfaat dan khasiat dari buah pala.
3. Untuk mengetahui cara mengolah buah pala.
4. Untuk mengetahui buah pala yang berkualitas.

C. Manfaat
1. Mengetahui buah pala
2. Mengetahui manfaat dan khasiat buah pala.
3. Mengetahui cara mengolah buah pala.
4. Mengetahui buah pala yang berkualitas.

D. Sistematika Penulisan
HALAMAN JUDUL
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
C. Manfaat
D. Sistematika Penulisan
BAB II : TINJAUAN TEORI
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
BUAH PALA

A. SEJARAH SINGKAT
Pala (Myristica Fragan Haitt) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli
Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala menyebar ke Pulau
Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271
sampai 1295 pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera.

B. JENIS TANAMAN
Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan
Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah
menjadi komoditi perdagangan yang penting sejak masa Romawi. Pala disebut-sebut dalam
ensiklopedia karya Plinius "Si Tua". Semenjak zaman eksplorasi Eropa pala tersebar luas di daerah
tropika lain seperti Mauritius dan Karibia (Pulau Grenada). Istilah pala juga dipakai untuk biji pala
yang diperdagangkan.
Tumbuhan ini berumah dua (dioecious) sehingga dikenal pohon jantan dan pohon betina.
Daunnya berbentuk elips langsing. Buahnya berbentuk lonjong seperti lemon, berwarna kuning,
berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya. Bila masak,
kulit dan daging buah membuka dan biji akan terlihat terbungkus fuli yang berwarna merah. Satu
buah menghasilkan satu biji berwarna coklat. Pala dipanen biji, salut bijinya (arillus), dan daging
buahnya. Dalam perdagangan, salut biji pala dinamakan fuli, atau dalam bahasa Inggris disebut
mace, dalam istilah farmasi disebut myristicae arillus atau macis). Daging buah pala dinamakan
myristicae fructus cortex. Panen pertama dilakukan 7 sampai 9 tahun setelah pohonnya ditanam
dan mencapai kemampuan produksi maksimum setelah 25 tahun. Tumbuhnya dapat mencapai
20m dan usianya bisa mencapai ratusan tahun.
Sebelum dipasarkan, biji dijemur hingga kering setelah dipisah dari fulinya. Pengeringan
ini memakan waktu enam sampai delapan minggu. Bagian dalam biji akan menyusut dalam proses
ini dan akan terdengar bila biji digoyangkan. Cangkang biji akan pecah dan bagian dalam biji
dijual sebagai pala.
Biji pala mengandung minyak atsiri 7-14%. Bubuk pala dipakai sebagai penyedap untuk roti atau
kue, puding, saus, sayuran, dan minuman penyegar (seperti eggnog). Minyaknya juga dipakai
sebagai campuran parfum atau sabun.
Tanaman pala memiliki beberapa jenis, antara lain:
1. Myristica fragrans Houtt
2. Myristica argentea Ware
3. Myristica fattua Houtt
4. Myristica specioga Ware
5. Myristica Sucedona BL
6. Myristica malabarica Lam

C. MANFAAT TANAMAN
Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri
yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik.
1) Kulit batang dan daun
Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan kino hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri.
2) Fuli
Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala,
disebut bunga pala. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual didalam negeri.
3) Biji pala
Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempahrempah. Buah
pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh
kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan
yang terganggu, obat muntahmuntah dan lain-lainya.
4) Daging buah pala
Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi
makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kKristal daging buah
pala.

D. KHASIAT PALA
Khasiat dari pala diantaranya adalah :
1. Pereda sakit perut
Buah pala ternyata sejak zaman dulu dikenal sebagai obat alami untuk mengatasi gangguan
pencernaan, diare, dan kembung. Minyak esensial dan zat kimiawi alami lainnya yang ada di dalam
buah ini membantu kelancaran saluran pencernaan. Untuk membantu masalah pencernaan,
taburkan sedikit, tak lebih dari setengah sendok teh dalam semangkuk oatmeal sarapan setiap hari
selama 2 minggu.
2. Membantu tidur
Jika Anda memiliki masalah untuk tidur, tuangkan segelas susu hangat dan sedikit pala bubuk.
Susu mengandung tryptophan, asam amino yang berubah menjadi serotonin dalam tubuh,
sementara buah pala membantu serotonin bertahan lebih lama, begitu penjelasan dari Michael
Murray, ND, pengarang The Encyclopedia of Healing Foods.
3. Pereda sakit gigi
Bagi yang pernah merasakan sakit gigi, pasti pernah merasakan obat yang dioleskan dokter pada
gigi. Rasanya pedas seperti pala. Ya, karena buah pala memang sudah sejak lama digunakan untuk
meredakan sakit gigi dan gusi meradang. "Coba pijatkan satu-dua tetes minyak pala pada gusi jika
terasa sakit atau meradang," saran Sara Snow, pengarang Sara Snow's Fresh Living.
Tambahannya, zat dalam minyak pala membantu memerangi bakteri dalam mulut yang bisa
menyebabkan gigi berlubang.

E. ZAT YANG TERKANDUNG DI DALAM PALA


Biji pala mengandung 73 % gliserida jenuh yang terdiri atas komponen-komponen asam
lemak : asam laurat 1,5 %, asam miristat 76,6 %, asam palmitat 10,5 %, asam oleat 10,5 % dan
asam linoleat 1,3 %. Proporsi asam miristat yang begitu besar terikat dalam trigliserida
menunjukan bahwa senyawa trigliserida, dalam hal ini trimiristin terdapat dalam jumlah atau
proporsi yang sama dengan asam mirista. Jika asam palmitat dan asam laurat dibandingkan relatif
terhadap asam miristat, maka proporsi trimiristin didalam gliserida adalah kira-kira 77 % atau 55
% dari lemak total. Bomer dan Ebark berhasil mengisolasi 40 % trimiristin dengan cara
mentransasi biji pala.
Trimiristin adalah suatu gliserida atau lebih tepat trigliserida yang terbentuk dari gliserol
dan asam miristat. Rumus molekulnya adalah :
O CH2-O- C-(CH2)12CH3
O
CH-O- C-(CH2)12CH3
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3
Nama lain dari asam miristat adalah asam tetra tetradekanoar wujudnya berupa kristaL berwarna
putih agak berminyak. Rumus molekulnya adalah CH3(CH2)12COOH. Titik leleh 54,4 oC dan
titik didih 326,2 oC. Sangat larut dalam alkohol dan eter.
Asam miristat pertama kali di isolasi oleh Playfair pada tahun 1841 dan sekaligus
menemukan bahwa asam miristat merupakan komponen utama biji pala ditemukan pula bahwa
asam miristat terdapat dalam semua spesies myritica tetapi dalam jumlah yang tidak begitu besar
dibandingkan dengan pala.
Meskipun asam miristat larut dalam alkohol dan eter, ia tidak larut dalam air. Sifat ini digunakan
untuk mengkristalkan asam miristat dari hasil hidrolisa trimiristin. Kegunaan asam miristat adalah
untuk sabun, kosmetik, farfum, dan ester sintesis untuk flafor dan aditif pada makanan.
Prosedur dan tehnik pemisahan asam miristat dari biji pala pada dasarnya adalah ekstraksi
trimiristin dari biji pala menggunakan pelarut yang sesuai untuk mendapatkan trimiristin
sebanyak-banyaknya. Karena trimiristin ini terdapat dalam biji pala dengan kadar tinggi, maka
hasil ekstraksi yang murni dapat dicapai dengan cara ekstrasi sederhana dan kristalisasi. Setelah
didapatkan kristal trimiristin yang murni tahap selanjutnya adalah menghidrolisa trimiristin dalam
suasana basa sehingga dihasilkan asam miristat dan gliserol. Asam miristat kemudian dipisahkan
dengan cara kristalisasi. Reaksi hidrolisa yang terjadi adalah sebagai berikut :
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3 CH2-OH
OO
CH-O- C-(CH2)12CH3 + H2O CH-OH + CH3(CH2)12C-OH
O
CH2-O-C-(CH2)12CH3 CH2-OH
Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamfen (zat membius),
dipenten, pinen safrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda (asam-miristinat, asam-oleat,
borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula, vitamin A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung
trimyristin.
Biji pala dikenal sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans
dengan lapisan kapur, setelah fulinya disingkirkan. Bijinya mengandung minyak terbang, dan
memiliki wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Sebanyak 8 17% minyak terbang yang
ditawarkan merupakan bahan yang terpenting pada fuli.
F. KEGUNAAN PALA
PaIa dikenal sebagai obat pelepas kelebihan gas di usus dan sebagai obat perut. Kulit dan
daunnya mengandung minyak terbang dengan wangi pala yang menyenangkan. Pala Irian dipakai
sebagai obat pencahar sedangkan pala jantan dipakai sebagai obat rnencret dan obat perangsang.
Bunga kering (kembang Pala) dipakai pada pelbagai campuran jamu.
Getah segar yang berwarna kehijau-hijauan dari buahnya (beserta air) dipakai sebagai obat
kumur untuk mengobati sariawan. Sabun Pala beguna untuk mengobati encok. Kegunaan khusus
dari biji Pala, yarig dikenal sebagai Nux moschata M.moschata adalah sebagai obat homoeo-pathi.
Biji kerasnya setelah dicuci untuk menghilangkan kapurnya, dibuat menjadi tinktur (direndam
dalam alkohol) atau tepung. Obat homoeopathis berguna untuk mengobati sakit histeri, sembelit,
mencret dan penyakit sulit tidur atau perut kembung.
Biji PaIa telah terbukti berhasil mengobati mencret pada manusia maupun pada hewan. Di India
maupun di Indonesia, biji Pala sudah umum dipakai sebagai obat mencret. Berdasarkan
pembuktikan di labolatorium bahwa biji pala bereaksi dengan prostaglandin-prostaglandin.
Jika takaran biji pala terlampau tinggi maka akan menimbulkan efek merangsang (hampir
mendekati keracunan), karena biji pala menimbulkan efek membius dan menimbulkan rangsangan
yang kuat pada urat-saraf disusul oleh depresi dan tanda-tanda keracunan seperti sakit kepala,
kejang, halusinasi, pusing kepala, runtuh, dan sebagainya. Biji pala menyebabkan rasa ngantuk,
kulit dan selaput lindir kering, gemetaran, hilang ingatan dan rasa berat di kepala
Asam miristat merupakan komponen utama dalam biji pala. Sekitar 76,6 % kandungan asam
miristat dalam biji pala. Pada percobaan kali ini untuk mendapatkan asam miristat dilakukan
dengan cara ekstraksi soxhlet dari biji pala.
Mula-mula biji pala dihancurkan sampai benar-benar halus kemudian ditimbang, sekitar 67,3582
gr kemudian dibungkus dengan kertas saring yang di ikat kencang dan kemudian dimasukan
kedalam soxhlet. Dengan menggunakan larutan kloroform pada rangkaian alat soxhlet tersebut
kemudian di panaskan dengan menggunakan alat penangas yang diletakan dibawahnya, serbuk
halus biji pala tersebut diekstraksi secara sempurna sampai menghasilkan larutan bening yakni
sebanyak 7 kali sirkulasi. Setelah itu labu di dinginkan, dari hasil ekstrak tersebut kemudian
ditambahkan 50 ml aseton dan dipanaskan lagi pada penangas air sekitar 1 jam. Setelah itu larutan
dalam tabung tersebut didinginkan lagi selama 1 jam sebab penghablurannya berjalan lambat.
Kemudian campuran tersebut kembali didinginkan dalam air es selama 1 jam. Selanjutnya
disaring dengan cara Buchner, namun hal ini tidak menghasilkan endapan ( tidak terbentuk kristal
). Akibatnya untuk memperoleh asam miristat gagal. Sebab kristal yang diperoleh dari hasil
penyaringan tersebut nantinya setiap 0,5 gr kristal akan ditambahkan NaOH GM dan 20 ml
ethanol, selanjutnya direfluks selama 1 jam kemudian ditambahkan lagi dengan 20 ml asam klorida
pekat tetes demi tetes yang akan membentuk endapan putih, kemudian akan disaring dan dicuci
dengan 10 ml air. Dari hasil tersebut diuji titik lelehnya untuk mendapatkan asam miristat.
Pada percobaan telah dilakukan sebanyak 2 kali, namun hasilnya tidak juga didapatkan
yaitu berupa endapan/kristal setelah penyaringan. Hal mungkin saja adanya kesalahan prosedur
kerja yang ada pada penuntun praktikum.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Buah pala mengandung zat-zat : minyak terbang (myristin, pinen, kamfen (zat membius),
dipenten, pinen safrol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliseda (asam-miristinat, asam-oleat,
borneol, giraniol), protein, lemak, pati gula, vitamin A, B1 dan C. Minyak tetap mengandung
trimyristin.
Biji pala dikenal sebagai Myristicae Semen yang mengandung biji Myristica Fragrans
dengan lapisan kapur, setelah fulinya disingkirkan. Bijinya mengandung minyak terbang, dan
memiliki wangi dan rasa aromatis yang agak pahit. Sebanyak 8 17% minyak terbang yang
ditawarkan merupakan bahan yang terpenting pada fuli.

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini, tentunya penulis menyadari bahwa dalam pembuatannya
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis berharap adanya saran dan kritik dari
pembaca yang bersifat membangun demi kelancaran dan kesempurnaan tugas makalah berikutnya.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ i


DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG........................................................................... 1
B. TUJUAN................................................................................................. 1
C. MANFAAT............................................................................................. 1
D. SISTEMATIKA PENULISAN.............................................................. 2

BAB II TINJAUAN TEORI


BUAH PALA.............................................................................................. 3
A. Sejarah Singkat........................................................................................ 3
B. Jenis Tanaman.......................................................................................... 3
C. Manfaat Tanaman.................................................................................... 4
D. Khasiat Pala............................................................................................. 5
E. Zat yang Terkandung di dalam Pala........................................................ 6
F. Kegunaan Pala......................................................................................... 7

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN...................................................................................... 10
B. SARAN................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA
DAFTARA PUSTAKA

1) http://id.wikipedia.org/wiki/Pala
2) http://female.kompas.com/read/2010/10/16/11093032/Khasiat.Rahasia.Si.Buah.Pala
3) http://industri17imafa.blog.mercubuana.ac.id/tag/mengisolasi-trimiristin-dari-biji-pala/