Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

LANDASAN PSIKOLOGIS DALAM PENDIDIKAN

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Landasan Kependidikan

Oleh
Dika Prestama (0103517092)
Tiara Vera Febriae (0103517094)
Rombel 5

JURUSAN PENDIDIKAN DASAR PGSD


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Psikologi pendidikan merupakan kajian tentang manusia belajar di latar pendidikan,
efektifitas intervensi pendidikan, psikologi pembelajaran dan psikologi sosial tentang sekolah
sebagai organisasi. Psikologi pendidikan selalu berkaitan dengan bagaimana peserta didik itu
belajar dan berkembang, dan kadang-kadang kajiannya terfokus pada anak-anak berbakat dan
anak-anak yang mengalami hambatan belajar.
Menurut Glover dan Ronning (dalam Rifai, 2010) menyatakan bahwa psikologi
mengkaji topik tentang perkembangan, perbedaan individu, pengukuran belajar dan moivasi
manusia. Dengan demikian psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai penerapan prinsip-
prinsip dan metode psikologi untuk mengkaji perkembangan, belajar, motivasi, pembelajaran,
penilaian dan isu-isu terkait lainnya yang mempengaruhi interaksi belajar mengajar.
Sebagai seorang pendidik, sudah seharusnya kita memahami tentang psikologi dan
psikologi pendidikan. Berbagai karakteristik setiap tahap perkembangan dari peserta didik. -
Perubahan perilaku individu dari setiap masa yang berbeda-beda. Serta bagaimana kita
sebagai pendidik, memperlakukan peserta didik sebagaimana mestinya. Untuk itu, penulis
ingin membahas dalam makalah ini dengan judul Landasan Psikologis dalam Pendidikan.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapunpermasalahan yang di bahasdalammakalahiniantara lain :
1. Apa itu psikologi dan psikologi pendidikan?
2. Apa saja ruang lingkup psikologi pendidikan ?
3. Apa saja kontribusi psikologi pendidikan dalam dunia pendidikan?
4. Bagaimana psikologi pendidikan memandang tahap perkembangan manusia dan
implikasinya bagi pendidik?
5. Teori-teori psikologi apa yang ditawarkan dalam proses pendidikan?
6. Apa manfaat psikologi bagi pendidik?

1.3 TUJUAN
Adapuntujuanpembahasandalammakalahinidiantaranya:
1. Mengetahui psikologi dan psikologi pendidikan.
2. Memahami ruang lingkup psikologi pendidikan.
3. Memahami kontribusi psikologi pendidikan dalam dunia pendidikan.
4. Memahami psikologi pendidikan terhadap tahap perkembangan manusia dan
implikasinya bagi pendidik.
5. Memahami teori-teori psikologi yang ditawarkan dalam proses pendidikan.
6. Mengetahui manfaat psikologi bagi pendidik.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN


Psikologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani Psychology yang merupakan
gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Secara
harafiah psikologi diartikan sebagal ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit
didefinisikan karena jiwa itu merupakan objek yang bersifat abstrak, sulit dilihat wujudnya,
meskipun tidak dapat dimungkiri keberadaannya. Dalam beberapa dasawarsa ini istilah jiwa
sudah jarang dipakai dan diganti dengan istilah psikis.
Pengertian Psikologi menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990),
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat
dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung. Menurut Dakir
(1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan
lingkungannya. Sedangkan menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku
individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka
adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk,
berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan,
berperasaan dan lain sebagainya.
Dari beberapa definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian psikologi
adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu
maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa tingkah
laku yang tampak maupun tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak
disadari.
Psikologi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia belajar
dalam pendidikan pengaturan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan
psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi. Psikologi pendidikan berkaitan dengan
bagaimana siswa belajar dan berkembang, dan sering terfokus pada sub kelompok seperti
berbakat anak-anak dan mereka yang tunduk pada khusus penyandang cacat .
Menurut Muhibin Syah (2002), psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi
yang menyelidiki masalah psikologis yang terjadi dalam dunia pendidikan. Tardif (dalam
Syah, 2002) juga mengatakan bahwa psikologi pendidikanadalah sebuah bidang studi yang
berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-
usaha kependidikan.
Dari beberapa pendapat tentang psikologi pendidikan, bisa disimpulkan bahwa
psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia di dalam dunia
pendidikan yang meliputi studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan
meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.

2.2 RUANG LINGKUP PSIKOLOGI PENDIDIKAN


Ada tiga elemen yang menjadi pusat perhatian dalam pendidikan yang juga menjadi
ruang lingkup kajian para ahli psikologi pendidikan dan para guru, yaitu : (1) anak didik, (2)
proses belajar, dan (3) situasi belajar (Abdul Hadis dalam Tri Joko, 2014).
1.Anak Didik
Sebagaimana kita pahami bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku,
kemampuan kognitif dan juga sikap terhadap sesuatu yang didapat dari proses latihan dan
pengalaman. Oleh karena itu keberadaan psikologi pendidikan adalah untuk mengkaji tentang
teori-teori belajar, prinsip-prinsip belajar, dan ciri-ciri khas peserta didik dalam perilaku
belajarnya. Intinya bahwa fokus kajian psikologi pendidikan terkait dengan belajar adalah
pada manusianya (peserta didik)
2. Proses Belajar
Pada proses belajar fokus kajian psikologi pendidikan adalah pada kemampuan peserta
didik menerima pelajaran dengan konsep belajar yang digunakan serta minat peserta didik
pada pelajaran dan juga terkait pada metode yang digunakan dan materi pelajaran yang
dipelajari. Melalui psikologi pendidikan, pendidik dan peserta didik mampu mengukur
kelebihan dan kekurangan dari proses belajar yang telah dijalani. Hal yang dapat diukur
adalah terkait minat terhadap metode pembelajaran dan juga materi pelajaran yang
diajarkan/dipelajari.
3. Situasi Belajar
Melalui psikologi pendidikan situasi belajar di desain sedemikian rupa agar sesuai
dengan kebutuhan peserta didik. Psikologi pendidikan menciptakan proses pendidikan yang
tidak memberikan tekanan secara psikologis kepada peserta didik. Tenaga pendidik akan
mampu mengetahui desain atau metode pembelajaran yang baik agar mampu membangkitkan
semangat belajar peserta didik nya.
2.3 KONTRIBUSI PSIKOLOGI PENDIDIKAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Dalam dunia pendidikan, guru
yang profesional harus mengetahui tentang keadaan jiwa dan karakteristik dari peserta didik
yang dia ajar.Setiap peserta didik memiliki karakter yang berbeda-beda antara peserta didik
yang satu dan peserta didik yang lainnya. Bahkan seorang anak yang lahir dalam keadaan
kembar identik sekali pun, memiliki tingkat kematangan, intelegensi, kecerdasan, dan faktor
pembawaan yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Oleh karena itu, seorang guru harus memahami dan menguasai tentang ilmu psikologi,
khususnya psikologi pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar seorang pendidik dapat mendidik
para siswa dalam proses belajar mengajar secara baik dan maksimal. Sehingga berhasil sesuai
dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

2.3.1 Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum


Secara psikologis, pengembangan diri siswa didasarkan pada kemampuan afektif,
kognitif, dan psikomotor. Kemampuan tersebut dapat dilihat dari perkembangan sikap,
motivasi, tingkah laku, dan komponen lainnya. Komponen pembelajaran merupakan proses
dari input ke output. Lalu, penggunaan kurikulum sebagai kerangka alur input menuju output
atau hasil yang baik memerlukan hakikat hakikat psikologi.
Kurikulum yang saat ini sedang dikembangkan adalah kurikulum berbasis kompetensi.
Kompetensi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pada ketrampilan, pengetahuan,
dan refleksi dalam berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak dengan refleksi
diri yang konsisten memungkinkan terbentuknya suatu individu individu yang unggul dan
kompeten.
2.3.2 Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Terkait dengan teori teori psikologi yang berdampak pada seseorang dalam bertingkah
laku, psikologi juga mempengaruhi sistem pembelajaran pada dunia pendidikan dengan
positif. Siswa menjadi bersungguh sungguh belajar ketika respon psikologinya dibimbing
oleh pengajar dengan baik.
Dan juga, proses pemahaman pembelajaran suatu topik menjadi lebih mudah dengan
penyelesaian masalah-masalah pembelajaran yang dialami. Keinginan atau hasrat menjadi
lebih tinggi dengan pendekatan psikologi dari guru dengan interaksi dan komunikasi yang
menyenangkan. Belajar itu dibuktikan dengan perubahan perilaku.Seseorang membutuhkan
bimbingan.Ujian perlu dilakukan namun didahului dengan pemahaman.
2.3.3 Peran Psikologi terhadap Sistem Penilaian
Psikologi juga telah memberikan peranannya dalam sistem penilaian. Misalnya,
dengan tes psikologi untuk mengetahui tingkat kecerdasan siswa, tes bakat untuk mengetahui
bakat yang potensial terdapat dalam diri siswa sehingga lebih mudah memberikan bimbingan
dalam membantu mengembangkan potensi diri siswa.
Tes aspek kepribadian juga dapat membantu guru mengenal lebih baik pribadi
siswanya sehingga bisa memberikan pendekatan yang lebih baik lagi dalam proses
pembelajaran. Berbagai tes psikologi tersebut membantu memberikan penilaian terhadap
masing masing siswa untuk mempermudah menjembatani keinginan, potensial, maupun
impian siswa sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.

2.4 PSIKOLOGI PENDIDIKAN MENGKAJI PERKEMBANGAN INDIVIDU DAN


IMPLEMENTASINYA BAGI PENDIDIK
2.4.1 Psikologi Pendidikan Mengkaji Perkembangan Individu
Perkembangan individu adalah proses perubahan pada manusia baik secara fisik
maupun secara mental sejak berada di dalam kandungan sampai manusia tersebut meninggal.
Proses perkembangan manusia terjadi dikarenakan manusia mengalami kematangan dan
proses belajar dari waktu ke waktu. Kematangan adalah perubahan yang terjadi pada individu
dikarenakan adanya pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang beranjak
menjadi dewasa akan mengalami perubahan pada fisik dan mentalnya.
Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada
seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki
kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan dan
belajarnya buruk.
Manusia dalam perkembangannnya mengalami perubahan dalam berbagai aspek yang
ada pada manusia dan aspek-aspek tersebut saling berhubungan dan berkaitan. Aspek-aspek
dalam perkembangan tersebut diantaranya adalah aspek fisik, mental, emosional dan sosial.
2.4.2 Tahap-Tahap dan Tugas Individu dalam Perkembangannya
Dalam konteks psikologis, kata perkembangan sering dipakai untuk menggambarkan
perkembangan secara psikis dan mental kepribadian. Sementara kata pertumbuhan lebih
mengacu pada soal fisik atau tubuh dari individu. Maka jika membahas tentang
perkembangan anak, disitu lebih diartikan sebagai suatu proses pertumbuhan bertahap dalam
hal psikis, sosial, emosional, moral dan mentalnya.
Robert Havighrust (dalam Joko, 2014) membagi perkembangan individu menjadi
empat tahap, yaitu masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun), masa kanak-kanak (6-12
tahun), masa remaja atau adolesen (12-21 tahun) dan masa dewasa (21-30 tahun).
Penulis hanya akan membahas pada 2 tahap, yaitu bayi dan kanak-kanak kecil serta masa
kanak-kanak, sesuai dengan kompetensi yang penulis kuasai, yaitu pendidikan di sekolah
dasar (SD).
1. Tugas perkembangan masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun) :
a. Belajar berjalan.
b. Belajar memakan makanan padat.
c. Belajar berbicara.
d. Belajar buang air kecil dan buang air besar.
e. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin.
f. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
g. Membentuk konsep konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam.
h. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang orang disekitarnya.
i. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan
katahati.
2. Tugas perkembangan masa kanak-kanak (6-12 tahun)
a. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan : bermain
sepakbola, loncat tali, berenang.
b. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai
makhlukbiologis.
c. Belajar bergaul dengan teman teman sebaya.
d. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
e. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
f. Belajar mengembangkan konsep sehari hari.
g. Mengembangkan kata hati
h. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi
i. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan lembaga lembaga.
Yellon dan Weinsten (dalam Joko, 2014) sepakat bahwa perkembangan individu
berlangsung secara bertahap. Pernyataan ini didasarkan pada karya-karya tokoh sebelumnya
yang menerangkan perkembangan jenis-jenis tingkah laku dalam kebudayaan barat pada
umur yang bervariasi, perkembangan tingkah laku tersebut diantaranya yaitu :
1. Perkembangan tingkah laku masa anak kecil (toddler)
a. Perkembangan fisiknya sangat aktif terutama untuk belajar menggerakkan anggota
tubuh
b. Perkembangan bahasa pengucapan kalimat serta belajar konsep dari benda yang
dilihat
c. Mulai menyukai anak-anak lain tetapi tidak bermain dengan mereka
d. Memeberikan respon dan mulai tergantung pada orang tua
2. Perkembangan jenis tingkah laku masa pra sekolah (prescholler)
a. Perkembangan otot yang mantap disertai koordinasi anggota tubuh
b. Bahasa berkembang dengan baik ditandai dengan pemahaman pada pandangan
orang lain
c. Mulai bisa menaati aturan-aturan dan menghormati kekuasaan
d. Memusatkan diri pada perbedaan gender dan kecakapan masing-masing dengan
mengekspresikan semua perasaan.
3. Perkembangan tingkah laku masa kanak-kanak (childhood)
a. Keterampilan anggota tubuh cukup baik dan turut serta dalam permainan kelompok
b. Menggunakan simbol/bahasa untuk memecahkan masalah
c. Mulai berorientasi pada kelompok yang mempengaruhi konsep dirinya
4. Perkembangan jenis tingkah laku masa remaja awal (early adolesence)
a. Pertumbuhan tubuhnya cepat ditandai dengan kematangan seksual
b. Mulai dapat berpikir abstrak
c. Menyesuaikan diri pada norma-norma kelompok dan berteman sebaya dan sejenis
5. Perkembangan jenis tingkah laku masa remaja akhir (late adolesence)
a. Mencapai kematangan fisik
b. Egosentrisme hilang dan dapat berpikir abstrak
c. Berminat kepada lawan jenis dan mulai mengadakan hubungan pribadi
d. Identitas dirinya mapan dilingkungan masyarakat
2.4.3 Implikasi Perkembangan Individu terhadap Perlakuan Pendidik yang
Diharapkan
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Yelon dan Weinstei, penulis hanya akan
membahas implikasi perkembangan individu terhadap perlakuan pendidik pada masa kanak-
kanak kecil, pra sekolah dan masa kanak kanak, sesuai dengan kompetensi yang penulis
tekuni, antara lain sebagai berikut :
1. Perlakuan pendidik yang diharapkan bagi peserta didik pada masa kanak-kanak kecil
a. Menyelenggarakan disiplin secara lemah lembut dan konsisten
b. Menjaga keselamatan tanpa perlindungan yang berlebihan
c. Bercakap cakap dan memberikan respon terhadap perkataan peserta didik
d. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif dan bereksplorasi
e. Menghargai hal hal yang dapat dikerjakan peserta didik
2. Perlakuan pendidik yang diharapkan bagi peserta didik pada masa pra sekolah
a. Memberikan tanggung jawab dan kebebasan kepada peserta didik secara berangsur-
angsur dan terus menerus
b. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta didik
c. Menyediakan benda-benda untuk dieksplorasi
d. Memberikan kesempatan untuk berinteraksi sosial dan kerja kelompok kecil
e. Menggunakan program aktif, seperti bernyanyi dengan bergerak, dll.
3. Perlakuan pendidik yang diharapkan bagi peserta didik pada masa kanak-kanak
a. Mendorong pertemanan dengan menggunakan projek-projek dan permainan
kelompok
b. Membangkitkan rasa ingin tahu
c. Secara konsisten mengupayakan disiplin yang tegas dan dapat dipahami
d. Bersama-sama menciptakan aturan dan kejujuran
e. Terbuka terhadap kritik

2.5 TEORI-TEORI PSIKOLOGI DALAM RANGKA PROSES BELAJAR DAN


IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN
Teori belajar adalah seperangkat pernyataan umum yang digunakan untuk menjelaskan
kenyataan mengenai belajar. Aplikasi teori belajar dalam situasi pembelajaran membutuhkan
kejelian dankecermatan guru untuk menangkap pesan-pesan yang terkandung dalam teori
belajar.Penggunaan teori belajar yang salah akan mengakibatkan terjadinya hambatan dalam
proses pembelajaran. Penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang
mendalamterhadap teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan
mengembangkannyasecara tepat guna dengan kondisi di Indonesia. Banyak teori belajar yang
dapat digunakan para guru untuk berbagai keperluan belajardan proses pembelajaran. Ada
tiga pandangan psikologi utama yang akan diuraikan dalamtulisan ini yaitu pandangan
psikologi Behavioristik, Kognitif, dan Humanisme.

2.5.1 Teori Belajar Behavioristik


Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner
tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang
menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan
praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini
menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang
yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin
kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Implikasinya terhadap pendidikan yaitu :
1) Perlakuan terhadap individu didasarkan kepada tugas yang harus dilakukan sesuai
dengan tahapan dan dalam pelaksanannya harus ada ganjaran dan kedisiplinan.
2) Metode belajar dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan disiplin ilmu tertentu
3) Tujuan kurikuler berpusat pada pengetahuan, keterampilan akademis dan tingkah laku
4) Pengelolaan kelas berpusat pada guru dengan interaksi sosial sebagai sarana untuk
mencapai tujuan tertentu dan bukan merupakan tujuan utama yang hendak dicapai
5) Kegiatan peserta didik diarahkan pada pemahiran keterampilan melalui pembiasaan
setahap demi setahap seara rinci

2.5.2 Teori Psikologi Kognitif


Perkembangan kognitif sebagian besar ditentukan oleh manipulasi dan interaksi aktif
anak dalam lingkungan. Pengetahuan datang dari tindakan. Teori perkembangan Piaget ini,
memandang bahwa perkembangan kognitif adalah suatu proses dimana anak secara aktif
membangun sistem makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan
interaksi-interaksi mereka (Trianto, 2010:29). Sementara itu, Nur (dalam Trianto, 2010)
menjelaskan bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi dan
berdiskusi membantu memperjelas pemikiran itu menjadi lebih logis.
Implikasinya terhadap pendidikan yaitu :
1) Perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan kognitif peserta didik
2) Motivasi berasal dari dalam individu
3) Tujuan kurikuler difokuskan untuk mengembangkan keseluruhan kemampuan kognitif,
bahasa dan motorik dengan interaksi sosial sebagai alat mengembangkan kecerdasan
4) Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik dengan guru sebagai fasilitator
5) Mengefektifkan mengajar dengan cara mengutamakan program pendidikan yang berupa
pengetahuan-pengetahuan terpadu secara hierarkis
6) Partisipasi peserta didik sangat dominan guna meningkatkan sisi kognitif peserta didik

2.5.3 Teori belajar Humanisme


Pada dunia pendidikan teori humanisme bertujuan agar pendidik atau pendidik
membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya sendiri dengan cara mengenal
potensi-potensi keunikan yang ada pada masing-masing peserta didik sehingga mereka lebih
percaya diri dan yakin akan kemampuannya. Teori humanisme percaya bahwa setiap individu
mampu membuat pilihan yang cerdas untuk bertanggungjawab atas perbuatannya. Jadi, teori
ini merupakan suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan cara untuk
memanusiakan manusia agar individu mampu mengembangkan potensi dan keunikan pada
masing-masing individu.
Dalam pelaksanaannya teori humanismeini berkaitan pula dengan pendekatan belajar
yang dikemukakan oleh Ausubel. Ausubel mengemukakakan tentang belajar bermakna atau
Meaningful Learning yaitu belajar merupakan asimilasi bermakna. Materi yang dipelajari
diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, dimana
ketika seorang peserta didik sedang belajar, materi yang dipelajarinya diasimilasikan dan
dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam belajar, faktor
motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa
motivasi dan keinginan maka tidak akan akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam
struktur kognitif yang dimiliki pendidik.
Teori Humanisme dengan pandangan eklektik -bersifat memilih yang terbaik dari
berbagai sumber, metode, teori-yang digunakan bertujuan agar perbedaan-perbedaan sudut
pandang yang selama ini terjadi dapat diartikan hal yang satu atau sama apabila dipandang
dengan cara berlainan. Sehingga teori ini memanfaatkan atau merangkum berbagai teori
belajar yang ada dengan tujuan untuk memanusiakan manusia, hal ini bukan saja mungkin
untuk dilakukan tetapi justru harus dilakukan.
Implikasinya terhadap pendidikan yaitu :
1) Perlakuan terhadap individu didasarkan pada kebutuhan dan kepribadian peserta didik
2) Motivasi belajar berasal dari dalam diri (intrinsik) karena keinginan untuk mengetahui
3) Metode belajar menggunakan metode pendekatan terpadu dengan menekankan kepada
ilmu-ilmu sosial
4) Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik yang mempunyai kebebasan
memilih dan guru hanya berperan untuk membantu
5) Untuk mengefektifkan mengajar makan pengajaran disusun dalam bentuk topik-topik
terpadu berdasarkan pada kebutuhan peserta didik

2.6 MANFAAT MEMPELAJARI PSIKOLOGI PENDIDIKAN


Terdapat beberapa manfaat mempelajari psikologi pendidikan menurut Muhammad dan
Wiyani (http://dosenpsikologi.com/psikologi-pendidikan), yaitu :
1. Memahami perbedaan siswa
Masing masing siswa memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda beda. Sebagai
guru, perlu untuk memahami perbedaan perbedaan karakteristik setiap siswa, tahap tumbuh
kembangnya, serta tipe perilakunya. Pemahaman tersebut dapat menghasilkan interaksi
pembelajaran yang sesuai dan pembelajaran yang efektif serta efisien.
Tidak hanya itu, pemahaman guru terhadap perbedaan-perbedaan tersebut
memungkinkan untuk memberikan interaksi belajar yang berbeda pula pada setiap siswa agar
pendekatan dan proses belajar lebih bisa diterima tanpa membeda bedakan siswa secara
personal atau pilih kasih.
2. Menciptakan iklim belajar yang kondusif di kelas
Kemampuan guru menciptakan iklim belajar yang kondusif meningkatkan efektifitas
kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar pendekatan
dan interaksi yang menyenangkan kepada siswa sesuai dengan masing masing karakteristik
siswa, akan memberikan iklim belajar yang kondusif dan proses pembelajaran yang efektif.
3. Memilih strategi pembelajaran yang tepat
Mempelajari psikologi untuk mengenal karakteristik masing masing siswa dan mengenal
metode pembelajaran yang disukai, akan memberikan kemampuan untuk memilih strategi
pembelajaran yang tepat di dalam kelas. Strategi pembelajaran yang sudah tepat, akan
memberikan situasi efektif belajar mengajar.
4. Memberikan bimbingan pada siswa
Psikologi memberikan kemampuan kepada guru untuk menjadi seorang pembimbing
bagi siswanya dengan pendekatan emosional dari hati ke hati untuk mendapatkan
kepercayaan siswa. Ketika siswa sudah memberikan rasa percayanya kepada guru, maka
proses membantu penyelesaian masalah untuk proses pembelajaran yang efektif akan dapat
dilakukan dengan mudah.
5. Berinteraksi dengan tepat dengan siswa
Prinsip-prinsip psikologi mendasari cara berkomunikasi yang tepat dalam pembelajaran.
Komunikasi dengan siswa dinyatakan dengan menempatkan diri sesuai tahapan tumbuh
kembang siswa. Sehingga dapat memberikan suatu interaksi yang menyenangkan.
Penyesuaian dengan tahapan rumbuh kembang siswa menciptakan pemahaman pengajar dari
sudut siswa dan mengetahui keinginan atau proses pembelajaran yang disukai dan juga
karakter masing masing siswa.
6. Memberikan evaluasi hasil pembelajaran
Sebagai seorang pendidik, dengan mempelajari psikologi pendidikan akan mampu
memberikan penilaian hasil pembelajaran secara adil. Selain itu juga dapat menyesuaikan
dengan kemampuan masing-masing siswa tanpa membedakan satu dengan yang lainnya.
Evaluasi hasil pembelajaran bisa berupa nilai ujian secara intelegensi, nilai sikap, dan nilai
keaktifan mengikuti kegiatan sekolah. Ketiga hal tersebut menentukan kualitas perbaikan
itngkah laku siswa menjadi lebih baik.
7. Memotivasi belajar
Bekal psikologi pendidikan untuk pengajar agar pengajar mampu memberikan dukungan,
dorongan atau motivasi untuk siswanya dalam semangat belajar yang lebih tinggi. Psikologi
pendidikan mengajarkan tentang memahami masing masing karakteristik siswa dan
memberikan motivasi sesuai dengan karakter tersebut agar lebih efektif mempengaruhi
semangat belajar siswa. Pemberian dukungan positif kepada siswa menghasilkan semangat
belajar yang meningkat.
8. Menetapkan tujuan pembelajaran
Psikologi pendidikan membantu pegajar untuk menentukan tujuan pembelajaran
terhadap perubahan perilaku seperti apa yang diinginkan sebagai hasil pembelajaran. Tujuan
pembelajaran ditetapkan pada setiap materi yang akan diberikan. Oleh karena itu, tujuan
pembelajaran dijadikan patokan kesesuaian hasil pembelajaran apakah nantinya dianggap
berhasil atau tidak.
9. Penggunaan media pembelajaran yang tepat
Pengetahuan psikologi pendidikan juga bermanfaat untuk menentukan media
pembelajaran yang tepat untuk siswa, misalnya media audio, visual, motorik, dan lain
sebagainya sebagai aktivitas pembelajaran yang menyenangkan. media pembelajaran juga
disesuaikan dengan materi belajar yang akan disampaikan. Siswa terkadang lebih tertarik
dengan proses pembelajaran yang menggunakan komponen audiovisual dalam proses
pemahaman materi dan lebih efisien dalam pengembangan imajinasi siswa.
10. Penyusunan jadwal pelajaran yang sesuai
Penyusunan jadwal pelajaran juga disesuaikan dengan kondisi siswa, seperti pelajaran
yang butuh pemikiran lebih rumit seperti matematika akan lebih baik jika diletakkan pada
jam belajar pertama, saat pikiran siswa masih segar dan konsentrasinya masih maksimal. Jika
mata pelajaran seperti matematika diletakkan pada akhir kelas, maka hal itu tidak akan
efektif.
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang perilak umanusia di dalam
dunia pendidikan yang meliputi studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan manusia yang tujuannya untuk mengembangkan dan
meningkatkan keefisien di dalam pendidikan.Ada tiga elemen yang menjadi pusat perhatian
dalam pendidikan yang juga menjadi ruang lingkup kajian para ahli psikologi pendidikan
dan para guru, yaitu : (1) anak didik, (2) proses belajar, dan (3) situasi belajar (Abdul Hadis
dalam Tri Joko, 2014).
Seorang guru harus memahami dan menguasai tentang ilmu psikologi, khususnya
psikologi pendidikan. Hal ini dimaksudkan agar seorang pendidik dapat mendidik para siswa
dalam proses belajar mengajar secara baik dan maksimal. Sehingga berhasil sesuai dengan
tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Kontribusi psikologi pendidikan antara lain : (1)
pengembangan kurikulum, (2) sistem pembelajaran, dan (3) sistem penilaian.
Penerapan teori belajar di kelas membutuhkan pemahaman yang mendalamterhadap
teori tersebut dan rasa senang untuk selalu menggunakan dan mengembangkannyasecara
tepat guna dengan kondisi di Indonesia. Banyak teori belajar yang dapat digunakan para guru
untuk berbagai keperluan belajardan proses pembelajaran. Ada tiga pandangan psikologi
utama yang akan diuraikan dalamtulisan ini yaitu pandangan psikologi Behavioristik,
Kognitif, dan Humanisme.
Terdapat beberapa manfaat mempelajari psikologi pendidikan menurut Muhammad dan
Wiyani, antara lain : (1) Memahami perbedaan siswa, (2) Menciptakan iklim belajar yang
kondusif di kelas, (3) Memilih strategi pembelajaran yang tepat, (4) Memberikan bimbingan
pada siswa, (5) Berinteraksi dengan tepat dengan siswa, (6) Memberikan evaluasi hasil
pembelajaran, (7) Memotivasi belajar, (8) Menetapkan tujuan pembelajaran, (9) Penggunaan
media pembelajaran yang tepat, dan (10) Penyusunan jadwal pelajaran yang sesuai.
3.2 Saran
Berdasarkan makalah yang disimpulkan maka saran yang dapat penulis sampaikan adalah
sebagai berikut:
a. Makalah dengan judul Landasan Psikologis Pendidikan ini semoga dapat memberikan
kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan, menjadi bahan kajian serta referensi
untuk penulisan karya tulis lainnya, agar memperoleh karya tulis ilmiah yang lebih baik.
b. Semoga guru dapat menerapkan dan mengimplementasikan segala bentuk informasi
yang tersaji pada makalah ini dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam
pembelajaran.
c. Semoga pendidik menyadari pentingnya psikologi pendidikan untuk menunjang segala
bentuk aktivitas dalam dunia pendidikan.
Daftar Pustaka

Joko Raharjo, Tri. 2014. Pancasila sebagai Landasan Pendidikan. Semarang : Unnes Press.
Muhibbin Syah. 2002. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung : Rosdakarya
RifaI, Ahmad; Catharia Tri Anni. 2010. Psikologi Pendidikan. Semarang: UNNES Press.
Sugiyanto. Psikologi Pendidikan, Bab IV Belajar dan Pembelajaran. Modul Program Studi
Bimbingan dan KonselingFakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta
Winaputra, Udin S, dkk. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas
Terbuka
http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/, diakses pada hari Senin, 9 Oktober 2017
pukul 10.15 WIB
http://belajarpsikologi.com/macam-macam-teori-belajar/, diakses pada hari Senin, 9 Oktober
2017 pukul 15.30 WIB
http://dosenpsikologi.com/psikologi-pendidikan, diakses pada hari Senin, 9 Oktober 2017
pukul 10.15 WIB
https://erudisi.com/pengertian-dan-ruang-lingkup-psikologi-pendidikan/, diakses pada hari
Rabu, 25 Oktober 2017 pukul 15.45 WIB
https://erudisi.com/peran-psikologi-dunia-pendidikan/ diakses pada hari Rabu, 25 Oktober
2017 pukul 15.50 WIB