Anda di halaman 1dari 11

Dalam proses perbaikan kapal, terdapat istilah docking.

Docking adalah segala jenis


perbaikan yang dilakukan di atas dok. Mengingat kapal adalah suatu produk yang sangat
padat teknologi, maka dibutuhkan persiapan yang sangat matang sebelum dilakukannya
docking. Hal ini bertujuan untuk menekan biaya (cost) dan mempercepat waktu docking agar
kapal dapat segera digunakan kembali sesuai fungsinya. Berikut ini beberapa persiapan yang
harus dilakukan sebelum kapal naik dok :

1. PERSIAPAN DOCKING LIST


Sebelum kegiatan docking dilakukan, Fleet Superintendent (Surveyor dari pihak
perusahaan pelayaran/pemilik kapal) harus menyiapkan beberapa dokumen yang
diperlukan untuk menyusun Docking List. Ia juga bertanggungjawab untuk merencanakan
dan mengeksekusi kapal selama berada di galangan, koordinasi teknis, mutu pekerjaan,
dan keberterimaan terhadap pekerjaan docking yang dilaksanakan. Beberapa isi dari
Docking List dan hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
a. Catatan Perbaikan
Berisi tentang record perbaikan yang pernah dialami oleh kapal, baik docking
sebelumnya maupun perbaikan yang dilakukan oleh ABK sendiri ketika kapal
beroperasi.
b. Persiapan Keselamatan dan Keamanan Kapal Selama Dry Docking
Contoh dari persiapan ini yakni mengosongkan dan membersihkan (cleaning) tangki-
tangki, terutama tangki yang memuat bahan kimia. Hal ini bertujuan agar survey dan
perbaikan dapat dilakukan dengan baik.
c. Persyaratan Kelas Periodik
Pihak pelayaran sebaiknya memperhatikan jadwal survey periodik sebuah kapal.
Sehingga kapal melakukan docking hanya pada periode yang mewajibkan docking,
seperti ketika Survey Antara dan Survey Pembaruan Kelas. Kecuali untuk kapal yang
berpenumpang lebih dari 12 orang, diwajibkan naik dok di setiap survey tahunan.
d. Laporan-Laporan dari Engine dan Perawatan
Merupakan Laporan khusus yang berisi perawatan, kerusakan, perbaikan yang terjadi
pada mesin mulai dari engine dalam kondisi baru. Laporaan tersebut harus ada dalam
Docking List, dan berguna sebagai acuan survey pada mesin.
e. Laporan-Laporan dari Fleet Supevisor

2. PERSIAPAN PEMBUATAN SOW (SCOPE OF WORK)


SOW adalah daftar pekerjaan dan perbaikan yang dibuat oleh perusahaan pelayaran dan
diserahkan kepada pihak galangan.
a. Waktu Pembuatan
Persiapan dalam membuat SOW dilakukan tepat setelah kapal meninggalkan galangan
ketika perbaikan sebelumnya. Nahkoda kapal, Mualim 1, dan KKM (Kepala Kamar
Mesin) harus memasukkan daftar perbaikan baru secara sistematis dan teratur untuk
update List yang dimiliki Fleet Supervisor (Surveyor dari pihak perusahaan
pelayaran/pihak pemilik kapal).
b. Teknis Pembuatan
SOW dibuat buat berdasarkan daftar perbaikan yang tercatat. Lalu daftar tersebut
dievaluasi secara periodik dan bisa dihapus dari daftar bila sudah dilaksanakan.
Kemudian spesifikasi baru dari sebuah equipment yang telah diperbaiki harus lengkap
dan diterima oleh Maintenance Department setidaknya 6 bulan sebelum docking
dilaksanakan. Jadi, daftar itulah yang akan dibuat dasar pembuatan SOW.
c. Tambahan
Sebelum pelaksanaan docking, Fleet Supervisor memeriksa kapal (dalam aspek
keselamatan dan keamanan) dan mempersiapkan laporan inspeksi yang merupakan
perbandingan kondisi kapal dibandingkan dengan SOW. Hasil perbandingan tersebut
akan didiskusikan dengan pihak galangan.
Prosedur ini diperlukan untuk menghindari adanya pekerjaan tambahan yang baru
teridentifikasi saat kapal sudah di galangan. Pekerjaan tambahan tersebut dapat
menyebabkan meningkatnya biaya dan keterlambatan selesainya docking. Hal
tersebut sebisa mungkin harus dihindari.

3. PERSIAPAN
Bila SOW telah selesai, SOW tersebut dapat ditawarkan pada galangan-galangan yang
bersedia mengerjakan atau dengan kata lain ditenderkan. Namun bila ada kerusakan atau
permasalahan operasional yang bersifat darurat maka prosedur ini bisa ditiadakan
dengan cara langsung menunjuk galangan yang langsung bisa menangani kerusakan dan
permasalahan tersebut.
Dari proses sebelumnya telah ditentukan SOW dari kapal yang akan melakukan
docking. Dari SOW tersebut, owner akan membuka proses tender kepada pihak pihak
dock yang dipilih. Setiap dock akan mengajukan penawaran, dan owner akan memilih
dock yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, serta berdasarkan rekomendasi
dari owner surveyor. Proses ini memerlukan waktu yang cukup panjang. Jika kapal
mengalami masalah operasional yang cukup berat atau darurat, proses di atas dapat
diringkas.

4. REKOMENDASI DARI BADAN KLASIFIKASI, dll


Gambar : Macam macam kelas
Sebelum dilakukan docking, surveyor dari kelas (BKI, NK, GL dsb) akan menginspeksi
kapal. Dari hasil inspeksi, surveyor kelas akan membuat rekomendasi perbaikan yang
kemudian diserahkan kepada pihak kapal. Rekomendasi tersebut juga harus dimasukkan
ke dalam SOW dan nantinya juga turut diserahkan kepada pihak dock

5. DOKUMENTASI

Gambar : Ukuran utama kapal


SOW dikirimkan kepada pihak dock sebelum kapal datang. SOW yang dikirimkan juga
disertai informasi informasi lain yang relevan untuk keperluan proses docking. Informasi
teresebut mencakup
Informasi Kapal
Ukuran utama kapal
Gambar lines plan
Gambar general arrangement
Gambar tangki tangki
Gambar shell expansion
Sertifikat
Informasi pekerjaan swakelola
Merupakan informasi pekerjaan / perbaikan yang dilakukan oleh pihak kapal
sendiri. Segala perbaikan di dek didokumentasikan oleh Mualim I dan perbaikan di
kamar mesin oleh KKM. Informasi ini nantinya akan membantu pihak dock agar
lebih efisien saat proses docking.
Gambar : Swakelola sebuah kapal dalam kamar mesin
Prosedur Keselamatan
Gas freeing pada tangki dan kompartemen kosong yang tertutup dan jarang dibuka
Docking plan

Gambar : 3D manual Yacht Docking Plan


Dengan disertakannya prosedur keselamatn akan meningkatkan faktor safety para
pekerja yang akan melakukan docking. Jika prosedur keselamatan tidak dapat dilakukan
daat kapal masih dalam keadaan berlayar, pihak dock akan memeberikan bantuan saat
kapal tiba di dock.

6. PENENTUAN GALANGAN
Pemilihan galangan perbaikan, berikut kriterianya :
a) Material :
Membutuhkan material yang lebih sedikit karena memperbaiki dan memelihara
sesuatu yang sudah ada. Volume material berimbas kepada sistem dan manajemen
pembelian, arus keluar masuk material, termasuk penyimpanannya.
b) Pemakaian Lahan :
Waktu pemakaian lahan galangan untuk peletakan kapal boat lebih singkat untuk tiap
kapal karena pekerjaan reparasi memakan waktu lebih pendek. Tergantung ukuran
kapal boat yang diproduksi dan volume pekerjaan reparasi. Perlu diingat, pekerjaan di
atas garis air bisa dilakukan terapung, pekerjaan di bawah garis air harus dikerjakan di
dok (apapun jenis doknya).
c) Volume Pekerjaan :
Volume pekerjaan dan waktu pengerjaan reparasi per kapal boat bisa relatif sedikit
namun galangan bisa menangani jumlah kapal boat yang banyak dalam satu kurun
waktu. Tergantung ukuran kapal boat, dan ukuran lahan galangan.
d) Lingkungan
Dampak terhadap lingkungan lebih perlu diantisipasi karena galangan akan
menangani kapal boat yang sudah jadi dan beroperasi dengan kondisi awal yang diluar
kontrol galangan.
Pekerjaan reparasi bisa datang mendadak karena permasalahan teknis pada kapal
boat (kerusakan teknis atau kerusakan akibat kecelakaan). Waktu yang diperlukan
untuk perencanaan pekerjaan bisa sangat pendek kalau kapal tersebut diharapkan
bisa beroperasi kembali dalam waktu yang singkat.
e) Metodologi
Reparasi kapal mempunyai metode yang berbeda dengan produksi. Reparasi biasanya
berkaitan dengan pekerjaan bongkar dan pasang. Bongkar mempunyai teknik
tersendiri karena proses bongkar tidak boleh menyebabkan masalah baru. Urutan
pekerjaan harus menyesuaikan dengan kondisi kapal boat yang akan dikerjakan.
Metodologi pengerjaan produksi belum tentu bisa diterapkan di pengerjaan reparasi
dan sebaliknya.
f) Sumber Daya Manusia
Keahlian dan pengetahuan harus sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan reparasi.
Biasanya orang yang sudah biasa dan berpengalaman dalam pekerjaan produksi
belum tentu bisa mengerjakan pekerjaan reparasi dan sebaliknya.

7. PEMBERITAHUAN KEPADA BADAN KLASIFIKASI DAN SYAHBANDAR


Persiapan untuk kapal naik dok oleh pihak pemilik kapal, surveyor dan pihak dock
I. PIHAK KAPAL.
a. PERENCANAAN:
1) Merencanakan kapal naik dock.
2) Merencanakan docking list dan repair list.
3) Merencanakan muatan untuk naik dock.
4) Merencanakan surat menyurat untuk ke kantor pusat.
5) Merencanakan spare part untuk naik dock.
b. PERSIAPAN:
1) Menyiapkan drawing kapal.
2) Menyiapkan docking list dan repair list.
3) Menyiapkan trim yg dikehendaki.
4) Menyiapkan peralatan dan spare part yg ada di kapal.
II. PIHAK PEMILIK KAPAL:
a. PERENCANAAN:
1) Merencanakan kapal untuk naik dock.
2) Merencanakan tender harga dan tender dock.
3) Merencanakan peralatan dan spare part untuk dock.
4) Merencanakan dana untuk dock.
5) Merencanakan schedule kapal operasi.
b. PERSIAPAN:
1) Menyiapkan tender harga dana atender dock.
2) Menyiapkan surat kepada dock yang ikut tender.
3) Menyiapkan surat kepada instansi yg terkait.
4) Menyiapkan instruksi ke kapal.
5) Menyiapkan schedule kapal operasi.
6) Menyiapkan dana untuk dock.
III. PIHAK DOCK.
a. PERENCANAAN:
1) Merencanakan ikut tender.
2) Merencanakan dock space
3) Merencanakan SDM.
4) Merencanakan peralatan dan spare part.
5) Merencanakan fasilitas dock.
b. PERSIAPAN:
1) Menyiapkan ikut tender harga dan dock.
2) Menyiapkan peralatan2 dan spare part.
3) Menyiapkan SDM yang dibutuhkan.
4) Menyiapkan fasilitas dock.
5) Menyiapkan surat ke instansi terkait.

8. PEMBERITAHUAN OLEH NAHKODA


Sebelum berakhirnya sertifikat kapal, dalam hubungannya dengan modifikasi dan
perbaikan yang mempengaruhi validitas sertifikat, Nakhoda kapal setelah berdiskusi
dengan Senior Fleet Supervisor harus memberitahukan pada lembaga yang
mengeluarkan sertifikat.
Sertifikat kapal berguna untuk memberikan jaminan daripada asuransi, setiap
riwayat survey tahunan ataupun survey pertengahan dan bahkan survey spesial,
menginfokan kondisi daripada kapal itu sendiri sebelum masuk ke dock reparasi, dan
perusahaan dock tidak bertanggung jawab apabila terjadi kerusakan pada bagian yang
bukan dikerjakannya diluar repair list, ataupun bagian akibat daripada reparasi
perusahaan dock sebelumnya yang nantinya mempengaruhi kondisi dari bagian lain
yang ternyata masuk dalam repair list.

9. PERSIAPAN UNTUK PERBAIKAN & DOCKING DI GALANGAN


Sebelum docking, Nakhoda, KKM dan Mualim I harus memastikan bahwa semua
persiapan sudah diselesaikan, persiapan tersebut meliputi:
9.1. Ballasting dan trimming ke kondisi yang diinginkan.
Tangki-tangki ballast harus dikosongkan minimal hanya ada sedikit air dalam ballast
hanya untuk mengatur supaya stabilitas posisi kapal dapat ditentukan. Perbedaan
sarat haluan dan sarat buritan tidak boleh terlalu besar, kemiringan melintang kapal
pun harus diusahan nol. Semua ini dilakukan untuk memudahkan proses docking kapal
pada dudukan dock yang sudah ada.

9.2. Menguras dan melakukan gas-freeing pada tangki minyak yang akan dilaksanakan
perbaikan.
Adalah proses menghilangkan gas-gas yang berbahaya yang terkandung pada tangki-
tangki seperti H2S sebelum dilakukan proses perbaikan kapal. Proses ini bertujuan supaya
pada saat pengecekan pertama (first man entry) tidak terjadi kecelakaan kerja, meski
demikian personel yang ditugaskan wajib memakai perlengkapan keselamatan lengkap
seperti
Chemical resistant coverall,
Breathing apparatus,
Safety shoes dan Helm safety.
Sedangkan untuk meninimalisir kecelakaan kerja pada
manusia maka perlu diterapkan peraturan yang sesuai, yaitu:
a) Prosedur alat keselamatan (ISM CODE 16)
Selalu diperlihara dalam keadaan minimal sesuai standar
untuk lulus dalam safety equipment survey.
Dipelihara dan pemeliharaannya perlu dilakukan dengan
jarak waktu yang ditentukan perusahaan
Dicoba satu kali seminggu terhadap perlengkapan-
perlenkapan khusus bahwa alat-alat tersebut siap untuk dipakai.
Pemeliharaan juga harus mengikuti manufacturers instruction manuals. harus
ada satu file di anjungan mengenai cara kerja semua alat LSA & FFA di kapal.
Chief officer adalah orang yang bertanggung jawab saat proses pelaksanaan gas
freeing ini dan wajib diikuti oleh seluruh ABK di dek untuk menjalankan tindakan
keselamatan. Selama operasi gas freeing hanya personel yang terlibat langsung dalam
operasi ini saja yang diperbolehkan berada di dek utama.
b) Prosedur gas freeing
Untuk kapal oil tanker beradasarkan ISGOTT (International Safety Guide for Oil
tankers and Terminals) yang mengelurakan cold work permit mengenai perjijinan
melakukan kerja deck yang dapat menimbulkan adanya bahaya kebakaran, harus
diterapkan saat gas freeing juga.
Sedangkan proses gas freeing yaitu:
1. Tanki dikeringkan dari muatan minyak, semua suction valve didalam cargo tank
harus ditutup dan pipa cargo dialiri air laut dengan kecepatan sedang.
2. Stern lines harus ikut dibilas.
3. Air bilasan yang berminyak harus ditampung di sludge tank jangan dibuang
dilaut.
4. Setelah saluran pipa minyak, semua suction valve didalam tanki harus ditutup
rapat.
5. Membersihkan pipa heating coil dengan dorongan uap.
6. Kemudian gas ejector dioperasikan pada setiap cargo tank secara bergantian
masing masing selama 2 jam tergantung besar kecilnya cargo tank, selama itu
tutup tanki tidak boleh dibuka.
Jika tangki yang dihubungkan oleh sistem ventilasi umum, masing-masing
tangki harus diisolasi untuk mencegah transfer gas ke atau dari tank lain .
Saat proses freeing gas ini untuk gas yang telah dikeluarkan harus di cegah
supaya tidak masuk ke ruang akomodasi dengan cara mengubah arah haluan
kapal sesuai arah angin yang menjauhi ruang akomodasi.
Apabila proses freeing gasnya menggunakan blower maka yang digunakan
adalah blower fan portable. Blower portable yang digunakan juga hanya yang
berjenis system hidrolik atau pnumatis, untuk mencegah terjadinya percikan
api saat gas besentuhan dengan impeller yang bergesakan dengan
cashingnya. Dan apabila proses ini berlangsung saat kapal lego jangkar ,
mungkin perlu menghentikan sementara pengoperasian selama periode
tenang atau tidak ada angin, dan akan dilanjutkan kalau sudah ada angin lagi.
7. Setelah itu kandungan gas didalam tanki diukur dengan explosimeter. Selesai
pengukuran pada tangki kargo minyak dan didapat konfirmasi bebas dari uap
ledakan hidrokarbon (kurang dari 1% HC LEL), gas beracun , kontaminan dan
kandungan oksigen diukur pada 21% , bila sudah maka tutup tanki dapat
dibuka.
8. Setelah itu dipasang blower / kipas angin pada setiap tanki untuk memasukan
udara 2 jam.
9. Bila kandungan gas tanki sudah pada batas aman bagi orang / perkerja masuk
tanki diberikan, gas free certificate bagi tanki yang bersangkutan.

9.3. Mengamankan barang-barang berharga


Banyaknya aktifitas yang akan dilakukan saat perbaikan dikapal memungkinkan
akan terjadi pencurian pada kapal, walaupun pada perusahaan dock perbaikan itu
sudah terdapat sistem keamanan berupa tenaga kerja ataupun alat. Menurunkan
barang-barang yang tidak dipelukan dalam proses perbaikan kapal, misalnya drum dan
barang lainnya yang mudah bergeser.
9.4. Mengamankan hand-tools di kamar mesin dan di deck.
Hand tools disini adalah peralatan yang digunakan dalam pelayaran untuk
perawatan ataupun perbaikan yang dilakukan ABK. Hand tools dikawatirkan akan
membuat pekerjaan dari reparasi kapal terganggu.
9.5. Konfirmasi mengenai suku cadang yang di pesan oleh Perusahaan telah berada
ditempat dan dapat secepatnya tersedia setelah kapal berada di galangan.
Proses ini sangat berpengaruh dalam proses berbaikan nantinya di dock, semua
kebutuhuna repair list (RL) yang sudah ditentukan harus di konfirmasikan lagi kepada
perusahaan dock itu sendiri.
Sebelum konfirmasi ada beberapa tugas untuk di lakukan yaitu pembelian barang,
yaitu dilakukan oleh:
a. Owner
Membeli semua kebutuhan dan suku cadang untuk perbaikan, semua
kebutuhan dan suku cadang itu di konfirmasikan kepada pihak perusahaan dock.
Keuntungan:
Harga yang diterima owner biasanya lebih murah dalam pembelian spare part
dan material.
Kerugian:
Harus dilakukan oleh pihak owner sendiri, pihak dock hanya menyediakan
tempat.
Keterlambatan dari produsen spare part akan menambah biaya pada proses
docking kapal. Maka yang akan dirugikan adalah pihak owner.
Menambah biaya transport material atupun sparepart.
b. Perusahaan dock repair.
Membeli semua kebutuhan dan suku cadang untuk perbaikan, semua
kebutuhan dan suku cadang itu sesuai dari komposisi sifat dan kimawi dari
material yang dibutuhkan owner.
Keuntungan:
Pihak owner tidak perlu repot dalam proses pembelian.
Kerugian dalam pembelian ditanggung perusahaan dock.
Kerugian:
Harga yang diterima owner lebih mahal dalam pembelian spare part dan
material.
9.6. Persiapan-persiapan lain yang penting untuk mempercepat perbaikan dan
menghindari keterlambatan dan penambahan hari di galangan.
Penyusunan pekerjaan reparasi tambahan bila ada, data-data penunjang
Daftar reparasi tahap awal
Informasi dari crew kapal
Dari semua itu akan ditambahkan beberapa persiapan yaitu:
Penambahan / pengurangan pekerjaan sesuai dengan ketentuan class / surveyor.
Penambahan volume pekerjaan yang besar dapat terjadi apabila ada pekerjaan
diluar repair list awal yang apabila tidak diperbaiki akan mempengaruhi system
yang lainnya ataupun tidak sesuai dengan ketentuan. Maka akan menimbulkan
biaya tambahan, waktu docking tambahan. Semua itu berdasarkan dari keputusan
owner apabila dari awal memang hanya berdasarkan dana.
Akan terjadi perubahan schedule penambahan alokasi dana
9.7. Dokumen serah terima kapal dari owner ke pihak galangan.
Dokumen diserahkan kepada galangan dengan semua ketentuan yang telah disepakati
mulai dari repair list,sertifikat kapal (yang dibutuhkan), ukuran utama kapal, gambar
docking plan, gambar rencana garis, gambar rencana umum, gambar tangki-tangki,
gambar bukaan kulit, sertifikat-sertifikat kapal, yang selanjutnya akan dilakukan proses
masuk docking.

10. PENGAWASAN, TES FUNGSIONAL DAN PENGUJIAN OWNER SURVEYOR


Selama kapal menjalani proses repair, maka owner serveyor menjadi pihak yang
berfungsi mengawasi repairing. Dari pemilik kapal sendiri pastinya ingin semua pekerjaan
yang dikerjakan sesuai dengan yang ada di docking list. Sehingga perlu diadakan
pengawasan. Maka apabila pada waktu repair ada yang tidak sesuai dengan yang
diinginkan, maka owner surveyor segera memberitahu bahwa hal ini belum sesuai. Sebab
apabila proses repair yang seharusnya misal satu hari selesai , karena salah, maka bisa
menjadi dua hari atau lebih. Dan hal ini berdampak pada biaya sewa lahan dari galangan
yang cenderung mahal. Owner surveyor dalam melakukan tugasnya harus menyesuaikan
dengan regulasi dari yang disyaratkan oleh BKI

11. PENGONTROLAN
Owner Surveyor dibantu oleh tim harus selalu melakukan pengawasan pada semua
pekerjaan pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan selama berlangsungnya docking.
Pengawasan harus meliputi kualitas sesuai dengan spesifikasi dan jadwal
penyelesaiannya.
Segera setelah pekerjaan selesai, hasil pekerjaan harus diinspeksi untuk disetujui atau
ditolak. Owner Surveyor, dibantu oleh tim, harus mengkonfirmasikan semua pekerjaan
termasuk pekerjaan tambahan yang telah dikerjakan dan diselesaikan sesuai dengan:
Spesifikasi perbaikan
Persetujuan pekerjaan tambahan
Spesifikasi atas kebutuhan kualitas yang telah disetujui.
Jadwal dan rencana kemajuan kerja yang telah disetujui
12. PENGETESAN AKHIR
Ketika semua pekerjaan dan perbaikan dan juga pengawasan telah dijalankan, maka
sebagai finalisasi atau tahap akhir yaitu pengujian akhir. Semua sistem ataupun
komponen yang telah direpair atau dibangun baru akan ditest ulang apakah sudah
berjalan dengan baik atau belum. Owner surveyor akan bekerja sama dengan nahkoda
dan juga galangan untuk pengujian akhir ini. Nahkoda akan mengoperasikan semua sistem
dan juga komponen yang direpair, atau lebih mudahnya mengoperasikan kapal. Kemudian
nahkoda akan mengetes dan apabila dalam kapal masih terdapat kesalahan atau pun
missing repair , maka nahkoda akan melaporkan ke owner surveyor bahwa pada bagian
ini masih terdapat kesalahan. Maka owner surveyor akan langsung menkoordinir ke pihak
galangan bahwa pada bagian ini masih terdapat kegagalan sistem. Maka pihak galangan
akan memperbaiki ulang sistem yang gagal ataupun komponen tersebut, karena masih
menjadi tanggungan atau garansi dari galangan.