Anda di halaman 1dari 14

PEMBIMBING KE ARAH ALAM FILSAFAT

1. Ada orang yang berkata, bahwa orang harus berfilsafat, untuk mengetahui apa yang disebut
filsafat itu. Mungkin ini benar, hanya kesulitannya: bilamana ia tahu, bahwa ia berfilsafat?
Mungkin ia mengira sudah berfilsafat dan mengira tahu pula apa filsafat itu, akan tetapi
sebenarnya ia sekali-kali tidak berfilsafat, jadi kelirulah ia dan dengan sendirinya salah pula
sangkanya tentang filsafat itu.

Akan tetapi mengapa kita ingin (harus) tahu, apa yang disebut filsafat, sedangkan jika
orang berilmu lain tidak atau kurang menghiraukan apanya ilmu yang diselenggarakan itu.
Mungkin karena orang segera mengira tahu apa yang dimaksud ilmu-ilmu itu.

Mungkin juga karena dalam filsafat banyak benar pendapat yang simpang siur tentang
apanya itu, sehingga orang segera hendak mengetahui apakah sebenarnya itu. Ini memang
dapat dibenarkan. Lagi pula bagi orang dewasa baik jugalah rasanya mengetahui benar apa yang
hendak dilakukan.

2. Pembatasan Nama. Barangkali nama Filsafat itu dapat menunjuk barang sedikit apa yang
disebut filsafat itu. Adapun kata filsafat itu kata Arab yang berhubung rapat dengan kata Yunani,
bahkan asalnyapun dari kata Yunani pula. Katanya Yunani ialah: filosofia. Dalam bahasa Yunani
kata filosofia itu merupakan kata majemuk yang terjadi dari filo dan sofia. Filo artinya cinta
dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin itu lalu berusaha mencapai yang
diingini itu. Sofia artinya kebijaksanaan . Bijaksana ini pun kata asing, adapun artinya ialah
pandai : tahu dengan mendalam. Jadi menurut namanya saja filsafat boleh dimaknakan:
ingin tahu dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan . Rumusan di atas itu
bolehlah disebut suatu definisi atau pembatasan. Akan tetapi pembatasan ini semata-mata
berdasarkan atas keterangan nama atau istilah. Pembatasan yang demikian itu disebut pula
pembatasan nama .

Pembatasan nama ini mungkin sudah menunjuk barang sedikit halnya atau isi istilah itu.
Akan tetapi kita tahu, bahwa nama sering juga menunjuk sesuatu yang amat sedikit sangkut-
pautnya dengan yang dinamai itu.
Misalnya dalam istilah mata sapi dalam maksud telur ceplok, sukar dicari hubungan
maksud dengan arti istilahnya.

3. Tahu. Daripada itu sebelum kita berani menerima apa nama dan isi istilah filsafat itu
sesuai, baiklah kita mengadakan penyeledikan dahulu, dan kita mulai dengan kata yang
terkandung di dalamnya seperti kami artikan di atas dan mulailah kita meninjau hal tahu ;
disitu akan kita perhatikan apa yang nampak dalam tahu itu, jadi kita akan memperhatikan gejala
tahu.

4. Gejala Tahu. Manusia berusaha tahu dan jika usahanya itu tercapai olehnya, maka puaslah
dia. Jadi ingin tahu itu merupakan gejala yang jelas Nampak pada hal tahu. Dari kecil, jika
manusia mulai dapat berbicara, gejala ingin tahu itu segera nampak, karena muncullah
bermacam-macam pertanyaan: apa ini, apa itu, mengapa demikian dan mengapa begitu.

Makin berkembang dia, makin banyalk yang ditanya, makin pandai, makin banyak pula
usahanya untuk tahu. Kalau ia sudah tau, maka puaslah dia. Ia mungkin banyak, mungkin sedikit
pengetahuannya tentang hal yang diketahuinya itu, akan tetapi barulah ia puas, kalau ia tahu,
bahwa hasil tahunya sesuai dengan hal yang diketahuinya. Ia memang ingin tahu, akan tetapi
tidak asal tahu saja, ia ingin tahu yang banar.

Pengetahuan yang benar ialah pengetahuan yang sesuai dengan hal yang diketahui itu,
sesuai dengan obyeknya. Kebenaran dalam tahu ialah persesuaian antara athu dengan obyeknya.
Maka daripada itu kebenaran ini disebut orang pula obyektivitas.

Apakah yang merupakan obyek tahu atau dengan kata yang lebih sederhana: apakah yang
diketahui orang? Maka jawabnya ialah: apa saja hendak diketahui orang, asal ada atau paling
sedikit mungkin ada. Sesuatu yang tak mungkin ada juga tidak merupakan penarik untuk
diketahui. Sehingga dapat dikatakan: yang menajadi obyek tahu ialah: yang ada dan yang
mungkin ada.

Ada lagi gejala pada manusia dalam tahunya, yaitu: ia tahu, bahwa ia tahu. Gejala ini
nampaknya demikian: kalau manusia bertanya: maka teranglah ia bahwa belum tahu. Dan kalau
ia telah dijawab pertanyaannya, maka tahulah, dan itupun ia tahu. Jadi waktu belum tahu, tahulah
dia bahwa ia belum tahu, maka bertanyalah dia, setelah diberi tahu, maka tahulah dia bahwa ia
tahu.
Adapun pengetahuan manusia itu merupakan pendapat yang disebut juga putusan. Dalam
putusan itu orang mengakui sesuatu terhadap sesuatu, isalnya: pohon itu tinggi. Ketinggian
diakui hubungannya dengan pohon. Putusan ini berlaku khusus, hanya untuk pohon ini saja.
Orang juga mungkin memiliki putusan yang berlaku umum, misalnya: segitiga itu jumlah
sudutnya ada 180o. Putusan ini umum, karena berlaku untuk semua segitiga dan tiap segitiga.

Pada dasarnya putusan dan pengetahuan itu sama: oleh karena ada putusan khusus dan
umum, maka ada pula pengetahuan khusus dan pengetahuan umum.

5. Pengatahuan dan Ilmu. Orang yang tahu, disebut mempunyai pengetahuan. Orang tahu akan
dunia dan alam yang mengelilinginya, ia tahu akan manusia lain yang hidup bersama degnan dia,
ia tahu akan dirinya, ia tahu akan cenderung-cenderung yang ada padanya. Kebanyakan
pengetahuan ini tercapai olehnya dari pengalaman, ialah persentuhan dengan indranya. Melalui
indranya ia kenal hal-hal di dumia sekitarnya: ia tahu akan timbul-tenggelam matahari,dengan
indranya ia tahu rasa sakit dan enak, ia tahu akan musim hujan dan kemarau, pendek kata ia tahu
akan hal-hal yang berubah-ubah, bergerak dan bermacam-macam pula.

Di samping pengetahuan tentang hal-hal yang berubah-ubah, beralih dan bermacam-


macam, ia tahu juga akan hukum atau aturan yang tetap, yang umum dan dari padanya berlaku
bagi satu dan semuanya. Misalnya ia tahu bahwa benda itu (tiap-tiap dan semuanya)
mengembang kalau dipanasi dan menyusut kalau didinginkan, ia tahu bahwa barang cair itu
dapat dan harus menguap kalau kena panas dan sebagainya. Pengetahuan itu walaupun tidak
sadar dan kerapkali juga tidak dirumuskan dengan kata-kata jitu dan tepat, tetapi diakui
kebenarannya serta dipergunakan dalam hubungannya dengan hidupnya sehari-hari; bercocok
tanam, perikanan dan juga dalam rumah tangga.

Pengetahuan yang demikian itu dimiliki, karena ia mempergunakan pengalaman yang


diolahnya lebih lanjut yang dipikirkan, kata orang tidak semuanya dengan pengalaman dan
pikirannya sendiri, kerapkali juga mempergunakan pengalaman dan pikiran orang lain.

Pengetahuan yang tidak amat sadar, pun pengetahuan tentang hal-hal yang berlaku umum
dan tetap serta pasti dan yang terutama dipergunakan untuk keperluan sehari-hari itulah kami
namai pengetahuan biasa, atau dengan singkat pengtahuan .
Kecuali pengetahuan yang terutama diarahkan kepada keperluan hidup sehari-hari itu,
adalah pengetahuan yang seakan-akan untuk tahu belaka. Dengan sadar diusahakan untuk
mengetahui sebenar-benarnya, diusakahan untuk supaya isi pengetahuan itu sesuai dengan hal
yang diketahui (obyeknya) itu. Tentu saja tidak selalu persesuaian ini tercapai, jadi ada
kekeliruan, tetapi ia tahu akan kekeliruanya itu dan diusahakan supaya kekeliruan itu lenyap dan
tenaganya dicurahkan, supaya tercapai olehnya kebenaran. Dengan demikian pengetahuan ini
mengajar dengan sadar kebenaran, tidaklah terutama menghiraukan kegunaannya dalam hidup
sehari-hari. Mungkin guna itu akan muncul juga, akan tetapi tujuan pertama ialah kebenaran:
Tahu itu boleh dikatakan terutama demi tahu belaka, tetapi tahu yang benar, jadi ia mengejar
atau menuntut kebenaran atau obyektivitasnya.

Dalam pada itu pengetahuan tersebut dalam usahanya tidaklah puas dengan cara yang
seba kebetulan, malainkan ia berusaha pula mencari jalan tertentu untuk mempermudah diri
mencapai tujuannya. Ia bekerja menurut jalan (Yunani: hodos) tertentu, maka dari itu
pengetahuan tadi disebut mempunyai metodos.

Menusia selalu waspada supaya pengetahuannya itu sesuai dengan obyeknya serta hasil-
hasilnya dikumpulkan dengan susunan tertentu pula sehingga semuanya itu merupakan
keseluruhan yang tersusun dengan teratur, inilah yang disebut sistim. Pengetahuan mempunyai
sistim.

Putusan-putusan yang diambil dan diharapkan kebenarannya itu juga tidak hanya terbatas
pada kegunaannya saja, pun tidak pada tempat serta waktunya, yang dicita-citakan ialah supaya
berlaku umum. Maka pengetahuan itu bercita-cita berlaku universal.

Berbeda benarlah pengetahuan yang terakhir ini dengan pengetahuan biasa yang kami
utarakan di atas dalam permulaan nomor ini.

Pengetahuan yang sadar menuntut kebenaran yang bermetodos, bersistim dan berlaku
universal kami sebut: Ilmu .

Kami pergunakan istilah ilmu karena kata ini, baik dalam bahasa Indonesia maupun
dalam bahasa daerah sudahlah menunjut pengetahuan yang tinggi . Ada yang
mempergunakan istilah Ilmu pengetahuan , tetapi kami memilih istilah ilmu , supaya
jangan membingungkan.
Jadi ilmu ini sebetulnya sudah terdapat pada tiap-tiap manusia. Boleh dikatakan, bahwa
pengetahuan itu, kalau dibandingkan dengan ilmu, merupakan biji. Kalau biji itu sudah tidak lagi
terpendam, melainkan sudah muncul (sadar), berkembang dengan teratur (bermetodos),
terpelihara baik (bersistim) serta berlaku universal maka adalah ilmu. Ilmu itu pun tidak hanya
tercapai dengan indra saja melainkan harus juga diolah, bukan juga dari seorang diri melainkan
orang bekerja sama untuk mencapai ilmu.

6. Bermacam-macam Ilmu. Obyek Materia dan Obyek Forma. Kita tahu ada bermacam-
macam ilmu. Ada ilmu hayat dan ada pula ilmu jiwa, ada ilmu bumi, ada ilmu bumi falak dan
sebagainya. Apakah yang membeda-bedakan suatu ilmu dari ilmu lainnya, apakah yang
menentukan macam ilmu itu? Telah dikatakan, bahwa ilmu itu mengejar kebenaran, artinya
mencoba-coba mencapai persesuaian antara pengetahuan dengan obyeknya. Ilmu adalah
mempunyai obyek, yang menjadi lapangan penyelidikannya. Kita ambil misalnya ilmu jiwa dan
ilmu hayat. Ilmu hayat menyelidiki hidup, pun hidup manusia. Jadi ilmu hayat menyelidiki
manusia juga dari sudut tertentu, yaitu sudut hidupnya yang sesuai dengan hidup lain-lain, boleh
dikata hidup luar. Adapun ilmu jiwa memandang manusia itu pula dari sudut hidupnya juga,
akan tetapi dari hidupnya yang lebih mendalam, dari yang sadar sampai kepada yang tidak sadar,
diselidikinyalah pendorong tindakan-tindakan manusia.

Nampaklah dari contoh diatas, ada dua macam ilmu yang berobyek satu. Adanya dua
macam itu karena ada dua sudut pandangan yang berlainan. Jadi mungkin benar ilmu
mempunyai lapangan penyelidikan (bahan penyelidikan) sama, akan tetapi oleh karena lain sudut
pemandangannya, maka lain pulalah macam ilmunya. Jadi yang menentukan macam ilmu itu
bukanlah hanya bahan atau lapangan penyelidikan, melainkan sudut tertentu pandangan
penyelidikan itu. Adapun lapangan atau bahan penyelidikan suatu ilmu itu disebut: Obyek
Materia . Sudut tertentu yang menentukan macam ilmu kalau obyek materianya sama lalu
disebut orang: Obyek Forma .

7. Jaman sekarang ini amat banyaklah ilmu, sehingga tak adalah kiranya satu hal yang tidak
diselidiki ilmu. Oleh karena sudut penyelidikan itupun hampir tak terbatas pula, maka tentu saja
selalu timbul macam-macam ilmu lagi. Ini memang sesuai dengan cenderung manusia yang telah
kami bentangkan di atas yaitu sifat manusia yang ingin tahu segala sesuatu yang ada, bahkan
yang mungkin ada. Walau pun harus dikatakan, bahwa penyelidikan orang dalam ilmu jaman
sekarang ini sudah amat mendalam, namun belum juga boleh dikatakan sudah sedalam-
dalamnya, bahkan bukan tujuan suatu ilmu untuk menggali obyeknya sedalam-dalamnya. Dalam
ilmu, misalnya ilmu bumi, pengetahuan orang memang sudah amat banyak, sehingga bumi kita
ini hamper tak mempunyai rahasia lagi bagi manusia. Begitu pula dalam ilmu alam. Apa saja
tidak diselidiki ilmu alam! Namun demikian ilmu alam tidaklah mempersoalkan dan memberi
jawab apakah sebenarnya inti sari alam itu, dari mana datangnya dan bagaimana adanya.
Tentangnya ada-nya alam diterima saja oleh ilmu alam, sedangkan dapat dan selayaknya ada
pertanyaan apakah sebenarnya ada itu dan bagaimana susunannya. Ini semuanya memang tidak
menjadi lapangan penyelidikan ilmu, kata ahli ilmu, itu bukan obyek ilmu.

Dengan demikian bagi ilmu masih ada tertinggal pertanyaan-pertanyaan yang tidak
dipersoalkan dan tidak dijawab, jadi boleh dikatakan bahwa ilmu pada umumnya belum dan
lebih baik tidak mencari keterangan atau sebab yang sedalam-dalamnya.

Ilmu memang menyelidiki obyeknya amat dalam, tetapi tidak sedalam-dalamnya: ia


membatasi diri. Adapun batasnya ialah pengalaman. Ilmu mengatakan, bahwa obyek di luar
pengalaman itu bukan lagi masuk ke dalam obyeknya.

Dengan demikian adalah hal-hal yang di luar obyek forma ilmu, obyek forma apakah itu?

Sebelum menjawab soal ini haruslah ditegaskan, bahwa adalah soal-soal yang ada di luar
lingkungan sudut pemandangan ilmu, soalnya amat dalam dan jika soal ini dapat dijawab, maka
lebih besarlah kepuasan orang, malahan mungkin ia sudah tidak perlu bertanya lagi tentang hal
itu, karena keterangan terakhir sudah diberikan kepadanya.

Maka daripada itu mungkinkah ada penyelidikan yang sudutnya ialah mencari keterangan
sedalam-dalamnya dan belumlah ia berhenti, jika belum mendapat atau paling sedikit mengira
mendapat keterangan yang sedalam-dalamnya. Mencari sebab atau keterangan tersebut mungkin
merupakan obyek forma suatu ilmu.

Ilmu yang mempunyai obyek forma: mencari sebab yang sedalam-dalamnya boleh
dikatakan mengatasi ilmu-ilmu lain. Ia tidak berhenti pada suatu batas seperti ilmu yang lain itu,
yaitu pengalaman, ia ingin tahu juga, pun jika pengalaman tidak lagi mampu. Ia hendak
menyelami hal yang sesungguhnya sampai habis-habisan dengan cara apapun juga dan dengan
kemampuan apapun juga yang ada padanya. Ini tidak lain daripada mengikuti cenderungnya
akan tahu, akan memiliki kebijaksanaan dan usaha memiliki pengetahuan atau keterangan yang
sedalam-dalamnya ini sesuai benar dengan arti filosofia yang kami bentangkan di atas.

8. Filsafat. Menurut penyelidikan kami di atas cinta pada kebijaksanaan tidaklah lain daripada
usaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya, dan hal yang demikian itu sesuai betul dengan
cenderung manusia akan tahu. Maka sesuai pula dengan cenderung dan sifat manusia jika filsafat
kami beri (untuk sementara) pembatasan: Ilmu (tentang segala sesuatu) yang menyelidiki
keterangan atau sebab yang sedalam-dalamnya .

Jadi kalau begitu, filsafat itu ilmu juga, dan jika ia ilmu maka haruslah mempunyai sifat
ilmilah, yaitu: dengan sadar menuntut kebenaran, bermetodos, bersistim dan berlaku umum.

9. Obyek Filsafat. Obyek Materia. Kami pandang sekarang apakah lapangan penyelidikan
filsafat itu, apakah obyek materianya? Menurut cenderung dan sifat manusia akan tahu seperti
kami bentangkan di atas itu tadi, maka segala-galanya hendak diselidiki untuk dicari keadaannya.
Segala sesuatunyalah yang menjadi lapangan penyelidikannya, segala yang ada dan yang
mungkin ada.

Jadi obyek materia filsafat ialah: ada dan yang mungkin ada. Samakah obyek filsafat
dengan obyek segala dan keseluruhan ilmu atau dapatkah dikatakan bahwa filsafat itu
keseluruhan dari segala ilmu yang menyelidiki segala sesuatunya juga?

Dapat dikatakan memang, bahwa obyek filsafat yang kami maksud obyek materianya
sama dengan obyek materia dari ilmu seluruhnya. Akan tetapi filsafat tetap filsafat dan bukanlah
merupakan kumpulan atau keseluruhan ilmu.

Atas dasar apakah sekarang ada perbedaan ilmu dan filsafat? Yang menentukan
perbedaan ilmu satu dengan yang lainnya ialah obyek forma. Adakah sekarang pandangan lain
yang terutama menjadi sudut pendangan filsafat? Ilmu mengatakan sendiri, bahwa ia membatasi
diri, ia berhenti pada dan berdasarkan atas pengalaman, sedangkan filsafat tidak membatasi diri,
ia hendak mencari keterangan yang sedalam-dalamnya. Disitulah letak sudut pandangan yang
khusus bukan pandangan ilmu, itulah sudut khusus dari filsafat. Maka dengan istilah di atas
harus kami katakan, obyek forma filsafat ialah: mencari keterangan yang sedalam-
dalamnnya .
10. Filsafat dan Ilmu serta Agama. Filsafat dan keseluruhan ilmu bertemu pada obyek materia
(segala yang ada dan yang mungkin ada) tetapi ilmu dan filsafat tetap berbeda, karena berbeda
obyek formanya.

Masuk jugakah agama dalam lingkungan filsafat? Oleh karena agama itu sesuatu yang
ada, tentu saja agama masuk juga ke dalam lingkungan filsafat, jadi mungkin ada filsafat agama.

Lain daripada itu mungkin juga ada beberapa hal yang agama amat penting, misalnya
Tuhan, kebajikan, buruk dan baik dan lain-lain, juga diselidiki oleh filsafat karena hal-hal itu
ada, atau paling sedikit mungkin ada. Dalam hal-hal yang demikian itu toh lain juga filsafat dan
agama. Dasar penyelidikannya lainlah agama dari filsafat. Sudut penyelidikan agama disadarkan
atas wahyu atau firman Tuhan. Kebenaran sesuatu dalam agama tergantung kepada diwahyukan
atau tidaknya. Yang diwahyukan Tuhan haruslah di percayai, daripada itu agama ada disebut
kepercayaan.

Alasan filsafat untuk menerima kebenaran bukanlah kepercayaan, akan tetapi


penyelidikan sendiri, pikiran belaka. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu, tetapi
tak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Mungkin ada beberapa hal yang masuk ke
wilayah agama juga diselidiki filsafat. Dapatkah ada pertentangan antara agama dan filsafat?
Pada prinsipnya tidak!

Karena kalau kedua-duanya memang mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu satu
dan tentulah sama!

Tak mungkinlah sesuatu itu pada prinsipnya benar dan tidak benar juga. Dalam buku
yang amat sederhana ini cukuplah rasanya dimajukan dengan tegas bahwa lapangan agama dan
filsafat dalam beberapa hal mungkin sama, akan tetapi dasarnya amat berlainan: filsafat
berdasarkan pikiran belaka adapun agama berdasarkan wahyu.

11. Pembatasan isi. Dalam no. 2 telah kami utarakan pembatasan nama bagi filsafat. Dalam
penyelidikan kami dalam nomor-nomor berikutnya, mulai dari tahu, maka timbullah beberapa
gejala da nada kesimpulan, bahwa disamping ilmu ada suatu ilmu (istimewa) yang melalui atau
mengatasi ilmu (biasa) serta oleh karena mencari keterangan yang sedalam-dalamnya, maka
mungkin memberi kepuasan yang mendalam kepada manusia dan patut disebut usaha (cinta)
kepada kebijaksanaan atau filsafat.
Dalam pada itu ternyata pula bahwa filsafat ini harus dibedakan dengan agama, karena ia
didasarkan pikiran belaka. Itulah dengan singkat yang merupakan isi filsafat. Kalau sekarang
kami susun rumusan yang merupakan pembatasan, maka boleh juga pembatasan atau definisi ini
disebut pembatasan isi.

Maka pembatasan isi filsafat ialah sebagai berikut: Filsafat ialah ilmu yang
berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran
belaka .

Definisi ini menyatakan bahwa filsafat masuk kegolongan ilmu, jadi haruslah ia bersifat
ilmiah, yaitu sadar menuntut kebenaran, bermetodos, dan bersistim serta berkalu umum. Dalam
obyek materianya ia sama dengan ilmu akan tetapi lainlah ia dari ilmu karena lain pula obyek
formanya yaitu: mencari sebab yang sedalam-dalamnya. Dari agamapun ia lain pula karena dasar
penyelidikannya lain, yaitu berdasarkan pikiran belaka. Dari pembentangan di atas itu ternyata
juga, bahwa arti Filsafat cinta kepada kebijaksanaan yang jadi namanya itu tepat jugalah:
definisi nama dan definisi isi bersesuaian juga.

12. Nama lain. Ada orang menamai filsafat metafisika . Adapun asal kata ini dari kata
Yunani pula. Waktu buku-buku karya filsuf Yunanu yang bernama ARISTOTELES didaftar,
ternyata ada banyaklah karangan-karangan yang tidak dimasukkan ke dalam golongan ilmu
ketika itu. Ilmu-ilmu itu disebut fisika. Karena buku-buku yang banyak itu tidak dimasukkan ke
dalam kelompok fisika, maka ditempatkan oranglah di belakang atau sesudah fisika itu dan
diberi nama metafisika, sebab kata meta artinya dibelakang atau sesudah .

Kemudian kira-kira pada abad pertengahan, setelah orang agak sependapat tentang sifat-
sifat filsafat, nama metafisika itu ternyata amat tepat bagi filsafat: yaitu pengetahuan atau ilmu
yang mengatasi segala fisika, yang tidak membatasi dirinya pada pengalaman. Ia keluar dari
pengalaman, dan bergerak terus untuk mencapai kebijaksanaan, yaitu keterangan yang sedalam-
dalamnya.

13. Pembagian Filsafat. Sudah kami katakana bahwa yang menjadi obyek (materia) dari filsafat
ialah segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Lebih singkat dan barangkali lebih tepat pula
boleh kami katakana, bahwa obyek filsafat itu ada. Adapun ada ini dapat ditinjau dari beberapa
penjuru dan menurut sudut peninjauan inilah ada bermacam-macam bagian filsafat dan
seluruhnya merupakan sistim.
14. Filsafat ada umum. Metaphisica Generalis. Ada mungkin dipandang dari sudut
keumumannya. Segala sesuatunya itu ada. Dalam realitas, terdapatlah bermacam-macam hal,
tetapi yang bermacam-macam itu semuanya mungkin ditangkap dalam adanya. Maka terdapatlah
ada yang bermacam-macam dan ada umum. Muncul segera pertanyaan, mungkinkah dalam ada
itu terdapat susunan yang menjadi dasar kesatuan dan permacam-macamannya?

Inilah salah satu soal ada pada umumnya. Dikatakan pada umumnya karena meliputi
apa saja yang ada. Jadi ada itu merupakan dasar segala yang ada. Tentulah masih amat banyak
soal-soal lain tentang ada umum ini, misalnya apakah sifat-sifatnya, apakah kemungkinannya.
Dengan demikian adalah filsafat ada umum. Namanya dalam bahasa umum: ontologia dan
ada pula yang menamainya metaphisica generalis.

15. Ada Khusus. Di samping ada umum tentulah terdapat ada khusus: yaitu ada
dipandang dari suatu sudut yang tertentu yang lain dari umum. Oleh karena sudut itu banyak
macamnya, adalah filsafat-bagian yang bermacam-macam pula.

16. Theodicea. Kekhususan dari ada itu mungkin terdapat dalam mutlaknya. Di dunia ini kami
kenal ada yang tidak mutlak, maksudnya: hal-hal di dunia ini adanya tidaklah harus. Hal itu
semuanya tidaklah harus ada, karena teranglah bahwa hal-hal itu pernah tak ada dan kemudian
akan tak ada pula. Hal-hal itu mungkin ada, dan mungkin pula tak ada. Demikianlah maka timbul
pertanyaan: adakah barangkali ada yang harus, yang selalu ada, tak pernah tak ada dan akan
selalu ada, jadi ada-nya itu dengan niscaya. Kalau nanti ternyata terdapat maka haruslah itu
diselidiki sifat-sifatnya, bagaimana kemampuannya lagi pula bagaimana hubungannya dengan
ada khusus tak mutlak.

17. Di samping ada mutlak adalah ada tidak mutlak. Banyaklah macamnya yang dapat
dimasukkan kegolongan ini dan ini semuanya haruslah diselidiki oleh filsafat dari sudut tertentu
pula, walaupun semuanya hendak dicari sebabnya yang terakhir atau sebabnya yang sedalam-
dalamnya. Ada tidak mutlak ini boleh kami bagi-bagi sebagai di bawah ini:

18. Filsafat alam. Cosmologia. Seperti kami katakan di atas, alam semesta dengan isinya itu
merupakan ada yang tidak harus ada, maka dapat kami namai ada tidak mutlak. Maka kami
ambil alam dulu. Oleh filsafat dicari inti alam itu, apakah sebenarnya itu, apakah sebenarnya isi
alam pada umumnya, dan apakah hubungannya satu sama lain serta hubungannya dengan ada
mutlak. Maka adalah filsafat alam yang biasanya disebut cosmologia.
19. Filsafat manusia. Anthropologia Mataphysica. Alam ini merupakan ada yang tidak
mutlak, karena ada-nya tidak dengan niscaya. Segala isi alam dengan alamnya sendiri itu
mungkin lenyap dan pernah tak ada. Tetapi dalam alam itu adalah sesuatu yang mempunyai
kedudukan istimewa, yaitu yang menyelidiki semuanya itu: manusia.

Maka adalah kekhususan ada (tidak mutlak) yang merupakan manusia, yang mempunyai
kemanusiaan. Tentu saja lalu ada soal-soal tentang menusia itu: apakah manusia itu sebenarnya,
apakah hubungannya satu sama lain, apakah kemampuan-kemampuannya, apa pendorong
hidupnya, apa sifat-sifat pendorong hidup itu dan lain-lain. Adapun filsafatnya disebut filsafat
manusia atau anthropologia metaphysica.

20. Filsafat tingkah laku. Ethica. Oleh karena manusia itu memang merupakan obyek istimewa
bagi penyelidikannya sendiri, maka mungkin juga diselidiki dari sudut tingkah lakunya,
bukanlah tingkah yang sesuai denga tingkah yang lain-lain yang bukan manusia, melainkan yang
khusus bagi manusia, yaitu tindakan-tindakan yang terdorong oleh kehendaknya diterangi oleh
budinya. Tindakan-tindakan itu dapat dikatakan baik atau buruk. Maka dicarilah ukuran-ukuran
untuk menilai baik-buruk itu. Apakah itu aturan yang subyektif atau itu norma atau ukuran yang
obyektif, lepas dari subyek yang menilai? Dicarilah jawab oleh filsafat akan pertanyaan-
pertanyaan tersebut dalam ethica atau filsafat tingkah laku.

21. Filsafat Budi. Logica. Dalam pada manusia adalah sesuatu yang mat penting dalam tindakan
penyelidikan, yaitu alat penyelidikannya yang biasanya disebut budi. Budi diselidikilah. Jika
belum ada kepastian tentang hal ini, sebetulnya semua penyelidikan akan goyang juga. Tanpa
budi itu takkan ada penyelidikan. Maka daripada itu dipersoalkan juga dan dicari jawabanya:
adakah manusia mempunyai budi, dapatkah budi itu mencapai kebenaran? Dengan segera
timbullah soal: apakah kebenaran itu. Sampai dimana kebenaran dapat dicapai oleh budi, seluruh
kebenaran ataukah hanya sebagian saja? Pendak kata seluruh isi budi diselidiki filsafat. Inilah
yang disebut filsafat budi atau logica.

Budi tidak hanya mempunyai isi. Dalam pekerjaan atau tindakannya ia mentaati cara-cara
yang ada aturannya, ia mempergunakan bahasa seperti: pengertian, jalan pikiran serta putusan-
putusan. Itu semuanya mempunyai aturan dan sifatnya masing-masing. Penyelidikan tentang
bahan dan aturan berpikir ini pun diadakan dan merupakan bagian daripada logica. Biasanya ini
disebut logica minor, adapun yang menyelidiki isi berpikir lalu disebut logica mayor.
22. Dengan demikian adalah enam bagian filsafat, yaitu: ontologia, theodicea, cosmologia,
anthropologia metaphysica, ethica, logica (minor dan mayor). Ada pula yang memajukan
bagian lain, misalnya aesthetica, yang menyelidiki hal indah serta mencari ukuran-ukuran
keindahan. Akan tetapi indah itu mungkin dipandang sebagai salah satu sifat daripada ada
dan ikutilah ia kebagian ontologia. Begitu pula politica dapat dimasukkan kepada ethica karena
dalam politik dan kenegaraan sebetulnya pandangannya tidak lain daripada pandangan tentang
manusia dalam tingkah lakunya terhubungan dengan manusia dan negara.

23. Ikhtisar.

24. Pandangan dunia. Pedoman hidup. Oleh karena filsafat itu menyelidiki segala sesuatunya,
maka boleh dikatakan berupa usaha mencari penyelesaian segala soal yang terdapat pada seluruh
dunia, dunia yang kelihatan (dunia pengalaman) dan dunia pikiran. Tidaklah berarti bahwa usaha
ini sudah berhasil seratus persen dan sudah mencapai kebenaran pula dalam segala bidang.
Tetapi teranglah, bahwa dari semenjak perkembangan dunia diadakan usaha ini dengan sungguh-
sungguh. Jika usaha ini berhasil entah sudah seratus persen entah belum, entah sudah
mencapai kebenaran atau belum maka hasil penyelidikan mendalam tentang seluruh dunia dan
alam ini patutlah disebut: pandangan dunia. Adapun pandangan ini meliputi pikiran atau budi
manusia, tingkah-lakunya, nilai tingkah-laku itu, hidupnya tujuan hidup itu, pendek kata meliputi
segala soal hidup, baik di dunia ini maupun hidup sesudah dunia ini. Dari sebab itu kerapkali
juga filsafat disebut: pedoman hidup.

Dapatkah filsafat memberi jawab atas segala soal dan pertanyaan? Pada prinsipnya
memang dapat dan kalau belum dapat, maka terus diusahakannya. Tetapi usaha selalu dengan
pikiran belaka. Maka dari itu seperti sudah kami tegaskan di atas bukanlah filsafat itu sama
dengan agama. Filsafat bukanlah agama.

Maka ada kemungkinan bahwa agama memberi pengetahuan yang lebih tinggi dari
filsafat, pengetahuan yang tak tercapai oleh budi biasa karena demikian tingginya hal itu hingga
hanya dapat diketahui karena diwahyukan.

Dalam ikhtisar sejarah filsafat yang akan berikut pada halaman-halaman di belakang ini
akan kita jumpai sarjana-sarjana yang biasanya disebut ahli filsafat atau filsuf. Dalam pada itu
akan kita jumpai ajarannya dan akan nampak pada kita itulah yang kami maksudkan dengan
uraian ajaran itu bahwa ahli-ahli itu mencari-cari jawab atas pertanyaan tentang ada yang
kami bentangkan di atas. Tidak tiap-tiap ahli membericarakan soal itu seluruhnya, pun tidak tiap-
tiap filsuf memberi jawab yang sama dan yang benar, tetapi mereka sungguh-sungguh mencari
jawab, mereka sungguh-sungguh mencari kebijaksanaan, mereka sebenarnyalah filsuf, pencinta
kebijaksanaan.

Kami ajukan dua macam cara penyelidikan untuk mendekati yang terkenal sebagai hasil
renungan para bijaksana itu.

25. Penyelidikan Historis dan Sistimatis. Dengan mengikuti ajaran ahli-hali pikir dalam
perkembangan jaman, dari suatu period eke periode yang berikutnya dari suatu tempat ke tempat
yang lain, orang dapat mengerti apa yang dimaksud dengan filsafat itu, atau sekurang-kurangnya
ia mempunyai gambarannya. Mungkin ia setuju dengan suatu pendapat, mungkin tidak, tetapi
orang mengambil inti-sarinya dan tahulah ia apakah yang diselidiki oleh filsuf-filsuf itu pada
umumnya, apakah kesamaannya dalam permacam-macaman mereka.

Meninjau filsafat dengan mengikuti perkembangannya, meninjau filsafat dari jaman ke


jaman, tinjauan yang demikian itu disebut: tinjauan historis. Tentu saja orang dapat juga
menempuh jalan lain, mengambil satu bagian dari filsafat itu: misalnya ia mengambil soal ada
dengan cabang-cabangnya. Dalam pada itu diselidiki bagaimana penyelesaian ahli filsafat yang
banyak itu terhadap soal yang satu itu. Yang dipentingkan bukanlah sejarahnya, melainkan
sistimnya. Penyelidikan filsafat menurut sistim itu disebut penyelidikan sistimatis.

Adapun caranya adalah dua macam:

a. Mungkin orang hanya memajukan sistim yang bermacam-macam itu saja. Misalnya soal
ontologia atau soal logica diselesaikan oleh filsuf A demikian dan oleh filsuf B demikian
dan oleh filsuf C lain caranya dan seterusnya. Ia sudah merasa puas mengetahui macam-
macam sistim itu, lalu diambilnya kesimpulan apakah sebetulnya filsafat itu.

b. Mungkin orang mengikuti salah satu aliran filsafat yang ada dan dalam penerangannya
(penerangan alirannya itu) aliran-aliran lain dikupasnya disbanding-bandingkannya
dengan aliran miliknya itu diselidiki benar tidaknya dan demikian adalah sikapnya
terhadap aliran-aliran itu.

Adapun cara penyelidikan kita ini mengikuti cara historis. Kami tidak mengajukan alam
filsafat seluruh dunia, pun tidak semua ahli pikir yang disebut filsuf itu, melainkan hanya
beberapa bagian dunia dengan beberapa filsufnya yang kami anggap bisa menolong kita
mengetahui barang sedikit akan alam pemikiran filsafat.