Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah


Perkembangan industri saat ini menghadapi tantangan yang cukup berat
dikarenakan menipisnya sumber daya alam, baik sebagai bahan baku industri maupun
sebagai sumber energi. Upaya pemanfaatkan biomassa lignoselulosa menjadi suatu
harapan untuk terus berkembangnya industri, khususnya industri kimia. Biomassa
lignoselulosa merupakan biomassa yang berasal dari tanaman dengan komponen
utama, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin.
Ada banyak sumber energi alternatif yang dapat dikembangkan. Biomassa
dapat dijadikan salah satu alternatif. Salah satu keunggulan biomassa jika digunakan
sebagai sumber energi dibandingkan dengan sumber fosil yaitu mengurangi limbah
organik karena memafaaatkan limbah. Sampah organik seperti sampah pertanian
(jerami, tongkol), limbah pengolahan biodiesel (cangkang biji jarak pagar, cangkang
sawit), sampah kota, limbah kayu, ranting, dan pengolahan kayu (sawdust)
merupakan limbah yang keberadaanya kurang bermanfaat.
Fraksionasi biomassa merupakan salah satu konsep pengolahan biomassa
yang dianggap mampu memberikan hasil / produk maksimal serta mampu
meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Penggunaan bahan baku yang
berharga murah dan pemakaian proses ramah lingkungan tentu akan mendorong
terbentuknya suatu sistem industri yang lebih baik.

1.2 Tujuan Percobaan


1. Menjelaskan pengaruh variabel terhadap produk fraksionasi biomassa
2. Menghitung neraca massa pada sistem fraksionasi biomassa
3. Menghitung yield sistem fraksionasi biomassa
4. Menghitung persenase recovery komponen-komponen utama biomassa
5. Bekerjasama dalam tim secara profesional

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ampas Tebu


Ampas tebu merupakan salah satu limbah padat pabrik gula. Ampas tebu
jumlahnya berlimpah di Indonesia. Ampas tebu merupakan limbah padat dari
pengolahan industri gula tebu yang volumenya mencapai 30-40% dari tebu
giling. Saat ini perkebunan tebu rakyat mendominasi luas areal perkebunan tebu
di Indonesia. Ampas tebu termasuk biomassa yang mengandung lignoselulosa
sangat dimungkinkan untuk dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif seperti
bioetanol atau biogas. Ampas tebu memiliki kandungan selulosa 52,7%,
hemiselulosa 20,0%, dan lignin 24,2% (Samsuri et al., 2007).

Holoselulosa merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan selulosa


dan hemiselulosa. Selulosa adalah polimer glukosa (hanya glukosa) yang tidak
bercabang. Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa dengan menggunakan
asam atau enzim. Hidrolisis menggunakan asam biasanya dilakukan pada temperatur
tinggi. Proses ini relatif mahal karena kebutuhan energi yang cukup tinggi. Pada
tahun 1980-an, mulai dikembangkan hidrolisis selulosa dengan menggunakan
enzim selulase (Gokhan Coral, et al., 2002). Selanjutnya glukosa yang dihasilkan
dapat difermentasi menjadi etanol. Ampas tebu yang mengandung selulosa,
hemiselulosa dan lignin tidak dapat langsung difermentasi oleh mikroba menjadi
biofuel, karena ampas tebu merupakan senyawa komplek lignoselulosa. Lignin
dihilangkan terlebih dahulu agar proses hidrolisis selulosa dan hemiselulosa
menjadi etanol berjalan secara optimal.

2.2 Komponen Penyusun Biomassa


Komponen utama penyusun biomassa adalah selulosa, hemiselulosa, dan
lignin. Oleh karena itu biomassa sering disebut sebagai bahan berlignoselulosa.

2
2.2.1 Selulosa
Selulosa adalah polimer yang tersusun atas unit-unit glukosa melalui ikatan -
1,4-glikosida. Bentuk polimer ini memungkinkan selulosa saling menumpuk/terikat
menjadi bentuk serat yang sangat kuat. Panjang molekul selulosa ditentukan oleh
jumlah unit glukosa di dalam polimer yang disebut dengan derajat polimerisasi.
Derajat polimerisasi selulosa tergantung pada jenis tanaman dan umumnya dalam
kisaran 200-27.000 unit glukosa. Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa dengan
menggunakan asam atau enzim.

Gambar 2.1. Struktur Selulosa

Selulosa dapat larut dalam asam pekat (seperti asam sulfat 72%) yang
mengakibatkan terjadinya pemecahan rantai selulosa secara hidrolisis. Hidrolisis
selulosa dapat terhalang oleh lignin dan hemiselulosa yang ada di sekitarnya, namun
laju hidrolisis selulosa akan meningkat seiring kenaikan temperatur dan tekanan
(Fengel dan Wegener, 1985).
Selulosa digunakan secara luas dalam industri tekstil, deterjen, pulp dan
kertas. Selulosa juga digunakan dalam pengolahan kopi dan dalam industri farmasi
sebagai zat untuk membantu sistem pencernaan serta proses fermentasi dari biomassa
menjadi biofuel, seperti bioetanol (Saadah, 2010).

2.2.2 Hemiselulosa
Hemiselulosa adalah bagian dari kelompok polisakarida yang memiliki rantai
pendek dan bercabang. Pada tumbuhan, hemiselulosa berfungsi sebagai bahan
pendukung dinding sel. Hemiselulosa juga merupakan senyawa polimer yang terdapat

3
pada biomassa. Pada berbagai jenis tanaman, jumlah dan jenis monomer penyusun
hemiselulosa berbeda-beda.
Hemiselulosa mirip dengan selulosa yang merupakan polimer gula. Namun,
berbeda dengan selulosa yang hanya tersusun dari glukosa, hemiselulosa tersusun
dari bermacam-macam jenis gula. Monomer gula penyusun hemiselulosa terdiri dari
monomer gula berkarbon 5 (C-5) dan 6 (C-6), misalnya: xylosa, mannose, glukosa,
galaktosa, arabinosa, dan sejumlah kecil rhamnosa, asam glukoroat, asam metal
glukoronat, dan asam galaturonat (Saadah, 2010). Xylosa adalah salah satu gula C-5
dan merupakan gula terbanyak kedua di di biosfer setelah glukosa.Stuktur penyusun
dari hemiseluloda dapat dilihat pada gambar 2. Jumlah hemiselulosa di dalam
biomassa lignoselulosa sebesar 11% hingga 37% (berat kering biomassa).
Hemiselulosa lebih mudah dihidrolisis daripada selulosa, tetapi gula C-5 lebih sulit
difermentasi menjadi etanol daripada gula C-6.

Gambar 2.2 Struktur Monomer Pembentuk Hemiselulosa (Isroi, 2008)

4
2.2.3 Lignin
Lignin merupakan komponen makromolekul kayu ketiga. Struktur molekul
lignin sangat berbeda bila dibandingkan dengan polisakarida karena terdiri atas gugus
aromatik yang tersusun dari unit-unit fenil propana. Selama perkembangan sel, lignin
dimasukkan sebagai komponen terakhir dalam dinding sel, menembus diantara fibril-
fibril sehingga memperkuat dinding sel. p-hidroksinamil alkohol, l p-koumaril
alkohol, koniferil alkohol dan sinapil alkohol merupakan senyawa induk (prekursor)
primer seperti pada Gambar 2.3 dan prekursor tersebut merupakan unit pembentuk
lignin (Fengel dan Wegener, 1995).

Gambar 2.3 Struktur Lignin (Brunow et al.,1995)

Lignin mempunyai kelarutan yang sangat rendah dalam kebanyakan pelarut.


Lignin dapat larut dalam asam organik pekat dan alkali encer, namun tidak larut
dalam air maupun asam mineral kuat. Lignin dapat diisolasi dengan cara
menghidrolisis, mengekstraksi atau mengubah menjadi turunan lignin. Lignin sangat
tahan terhadap degradasi, baik secara biologi, enzimatis, maupun kimia. Lignin
memiliki energi yang tinggi karena jumlah karbon yang relatif tinggi dibandingkan
dengan selulosa dan hemiselulosa, (Saadah, 2010).

5
2.3 Fraksionasi Biomassa
Fraksionasi biomassa adalah proses pemilahan biomassa menjadi komponen
utama komponen utama penyusun biomassa yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin
dengan tanpa banyak merusak ataupun mengubah ketiga komponen tersebut menjadi
senyawa lain. Selanjutnya, hasil pemilahan tersebut dapat diolah dengan berbagai
proses menjadi senyawa ataupun produk yang bernilai jual (Myerly dkk. 1981).
Fraksionasi biomassa menggunakan pelarut organik banyak dikembangkan,
karena lebih murah dan relatif ramah lingkungan, pelarutnya dapat direcovery serta
cocok untuk proses skala menengah. Beberapa proses fraksionasi yang menggunakan
pelarut adalah :
a. Proses Organosolv
Proses organosolv adalah proses pemisahan serat dengan menggunakan
bahan kimia organik seperti metanol, etanol, aseton, asam asetat, dan lain-lain.
Proses ini telah terbukti memberikan dampak yang baik bagi lingkungan dan
sangat efisien dalam pemanfaatan sumber daya hutan.Dengan menggunakan
proses organosolv diharapkan permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh
industri pulp dan kertas akan dapat diatasi. Hal ini karena proses organosolv
memberikan beberapa keuntungan, antara lain yaitu rendemen pulp yang
dihasilkan tinggi, daur ulang lindi hitam dapat dilakukan dengan mudah, tidak
menggunakan unsur sulfur sehingga lebih aman terhadap lingkungan, dapat
menghasilkan by-products (hasil sampingan) berupa lignin dan hemiselulosa
dengan tingkat kemurnian tinggi. Ini secara ekonomis dapat mengurangi biaya
produksi, dan dapat dioperasikan secara ekonomis pada kapasitas terpasang
yang relatif kecil yaitu sekitar 200 ton pulp per hari.
Pembuatan pulp dengan organosolv (berdasarkan pemanfaatan pelarut
organik sebagai media delignifikasi) dapat digunakan sebagai teknologi
pemurnian biomassa, karena produk yang dihasilkan terdiri dari selulosa serta
liquor yang terdiri dari hemiselulosa dan lignin yang bebas dari belerang.

6
Asam hidrolisis dapat digunakan untuk menghidrolisis hemiselulosa menjadi
monomer pembentuk hemiselulosa.
Ada berbagai macam jenis proses organosolv, namun yang telah
berkembang pesat pada saat ini adalah proses alcell (alcohol cellulose) yaitu
proses pulping dengan menggunakan bahan kimia pemasak alkohol, proses
acetocell (menggunakan asam asetat), dan proses organocell (menggunakan
metanol).

b. Proses Acetosolv
Penggunaan asam asetat sebagai pelarut organik disebut dengan proses
acetosolv. Proses acetosolv dalam pengolahan pulp memiliki beberapa
keunggulan, antara lain: bebas senyawa sulfur, daur ulang limbah dapat
dilakukan hanya dengan metode penguapan dengan tingkat kemurnian yang
cukup tinggi, dan nilai hasil daur ulangnya jauh lebih mahal dibanding dengan
hasil daur ulang limbah kraft (Simanjutak, 1994).
Keuntungan dari proses acetosolv adalah bahan pemasak yang digunakan
dapat diambil kembali tanpa adanya proses pembakaran bahan bekas
pemasak. Selain itu proses tersebut dapat dilakukan tanpa menggunakan
bahan-bahan organik. (Isroi, 2008). Proses ini menghasilkan by-product
berupa furfuraI, levulinic acid, hydroxyl methyl furfural, metanol, dan methyl
acetat (Wistara, 2007).

2.4 Delignifikasi
Delignifikasi adalah proses penyisihan lignin dari biomassa. Proses
delignifikasi terjadi karena putusnya ikatan -aril eter dalam makromolekul lignin.
Ikatan -aril eter merupakan pengikat rantai-rantai polimer lignin pada makromolekul
lignoselulosa padatannya. Pemutusan ikatan lignin tersebut disebabkan oleh adanya
ion hidrogen (H+) yang berasal dari cairan pemasak, sehingga lignin yang lepas dari
makromolekul lignoselulosa dapat larut dalam larutan pemasak (Sarkanen, 1990).

7
Ada beberapa metode untuk pembuatan pulp yang merupakan proses
pemisahan selulosa dari senyawa pengikatnya, terutama lignin yaitu secara mekanis,
semikimia dan kimia. Pada dasarnya pembuatan pulp terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Pembuatan Pulp Mekanik, merupakan proses penyerutan kayu dimana
kayu gelondong setelah dikuliti diserut dalam batu asah yang diberi
semprotan air. Akibat proses ini banyak serat kayu yang rusak.
2. Pembuatan Pulp Secara Kimia adalah proses dimana lignin dihilangkan
sama sekali hingga serat-serat kayu mudah dilepaskan pada
pembongkaran dari bejana pemasak (digester) atau paling tidak setelah
perlakuan mekanik lunak.
3. Keberhasilan proses delignifikasi ditunjukkan oleh derajat delignifikasi
dan selektivitas fraksionasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
delignifikasi antara lain konsentrasi asam organik, nisbah cairan-padatan
dan waktu reaksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses delignifikasi ini adalah:


1. Waktu pemasakan
Waktu pemasakan dipengaruhi oleh konsentrasi lignin. Semakin besar
konsentrasi lignin yang terdapat dalam bahan baku, maka semakin lama
waktu pemasakan.
2. Konsentrasi larutan pemasak
Konsentrasi larutan pemasak sebanding dengan kadar lignin. Kadar lignin
yang besar membutuhkan konsentrasi larutan pemasak yang besar.
3. Pencampuran bahan
Pencampuran bahan dapat dipengaruhi oleh pengadukan. Pengadukan
dapat meratakan campuran antara larutan dengan bahan baku yang akan
dipisahkan ligninnya.

8
4. Perbandingan larutan pemasak dengan bahan baku
Semakin kecil perbandingan antara larutan pemasak dengan bahan baku,
maka lignin yang akan dipisahkan dari bahan baku juga akan semakin
kecil.
5. Ukuran bahan
Semakin besar ukuran bahan, maka semakin lama waktu prosesnya.
6. Suhu dan Tekanan
Suhu dan tekanan berbanding lurus dengan waktu proses. Apabila suhu
dan tekanan yang digunakan tinggi, maka waktu proses akan semakin
cepat. Tekanan optimum yang digunakan yaitu 1 atm dan suhu sekitar 100
o
C 110 oC .

9
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat-alat yang digunakan


Tabel 3.1 Alat alat yang digunakan
Percobaan
Nama Alat Ukuran Jumlah
ke-
1 Labu reaksi
500 ml 3
(Pemrosesan (Erlenmeyer)
bahan baku) Kondensor
1
Refluks
Pemanas 1
Corong 1
Gelas Piala 1000 ml 2
2 (Recovery Tabung reaksi
6
Lignin) (Kuvet)
Sentrifugasi 1

3.2 Bahan-bahan yang digunakan


Tabel 3.2 Bahan bahan yang digunakan
Percobaan ke- Nama Bahan Jumlah
1 (Pemrosesan Biomassa 20 gram
bahan baku) Asam Asetat 98 % 134,238 ml
Katalis H2SO4 98 % 7,396 ml
Aquades 16,295 ml
2 (Recovery Filtrat (Black Liquor) 1 ml
Lignin) Aquades 6 ml

3.3 Prosedur Percobaan


3.3.1 Pemrosesan Bahan Baku
1. Ambil sedikit biomassa sebagai sampel untuk menghitung kadar airnya, yaitu
dengan cara menimbang berat awal biomassa. Kemudian biomassa dioven
hingga beratnya konstan. Kemudian kadar air dapat ditentukan dengan cara :

100 %

10
2. Biomassa 20 gram diperkecil ukurannya kemudian dimasukkan kedalam labu
reaksi. Kemudian ke dalam labu reaksi dimasukkan 108,67 ml asam asetat.
3. Kondensor refluks dipasang sebagai penutup reaktor dan sirkulasi air
pendingin dioperasikan.
4. Pemanas dioperasikan, pada saat cairan mulai mendidih, 0,5906 ml H2SO4
sebagai katalis diumpankan melalui bagian atas kondensor melalui corong,
dan waktu reaksi dicatat sebagai waktu awal proses fraksionasi biomassa
terjadi.
5. Setelah waktu proses tercapai, pemanas dimatikan dan reaktor didinginkan.
6. Setelah reaktor dingin, sirkulasi air pendingin dimatikan, dan kondensor
dilepaskan dari reaktor.
7. Padatan dan cairan pemasak bekas dalam reaktor dipisahkan dengan saringan
yang dilengkapi kain di atasnya. Biarkan sampai kira-kira seluruh cairan
pemasak turun (volume filtrat).
8. Padatan yang diperoleh dicuci dengan 100 ml asam asetat 98 % dan filtratnya
ditampung diatas filtrat hasil penyaringan pertama (black liquor)
9. Filtrat yang diperoleh tadi digunakan untuk percobaan recovery lignin.
10. Padatan yang telah dicuci dengan asam asetat dicuci kembali dengan aquades
sampai air hasil cuciannya menjadi jernih. Air bekas cucian dibuang.
11. Padatan yang telah dicuci bersih dikeringkan di udara terbuka selama kira-kira
24 jam. Padatan yang telah kering ditimbang sebagai berat pulp.
Berat pulp kering
Perolehan pulp = x100 %
Berat Biomassa

3.3.2 Recovery Lignin


1. 1 ml black liquor dimasukkan ke dalam kuvet sentrifugal dan ditambahkan 6
ml air. Begitu seterusnya sehingga terdapat 6 kuvet yang berisi 1 ml black
liquor ditambah 10 ml air.

11
2. Campuran cairan di dalam kuvet disentrifugasi pada kecepatan 5000 rpm
dengan waktu 10 menit.
3. Hasil sentrifugasi disaring dengan menggunakan corong an kertas saring.
4. Padatan yang diperoleh pada kertas saring dikeringkan dalam oven sampai
berat konstan, dan diperoleh berat lignin yang direcovery dari sampel black
liquor.
volume black liquor
Berat lignin sampelx
volume sampel
Recovery Lignin = x100 %
Berat lignin dalam bahan baku

Kondensor
spiral

statip
erlenmeyer

Bak air
pendingin

pemanas

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Fraksionasi Biomassa

12
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


4.1.1 Pembentukan Pulp (Delignifikasi)
Pada praktikum ini, perbandingan antara biomasa dengan pelarut adalah 1:20
dengan variasi waktu proses masing - masing 30 menit, 60 menit, dan 90 menit
dengan menggunakan katalis H2SO4. Data Hasil percobaan akan ditampilkan pada
Tabel 4.1 berikut;

Tabel 4.1 Perolehan Pulp


Variabel Berat Pulp Kering (gram) Perolehan Pulp
30 menit 12,766 63,89%
60 menit 12,33 60,88%

90 menit 10,12 50,0247%

Perolehan Pulp
70
60
perolehan pulp (%)

50
40
30 perolehan pulp

20
10
0
30 menit 60 menit 90 menit

Gambar 4.1 Perbandingan Berat Pulp Kering

13
4.1.2 Recovery Lignin
Percobaan recovery lignin dilakukan dengan cara mencampur black liquor
dengan aquades dengan perbandingan 1:6. Tiap sampel dibagi ke dalam kuvet. Yang
selanjutnya disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rpm selama 15 menit.

Tabel 4.2 Berat Lignin dengan Variasi Konsentrasi dan Volume Pelarut
Variabel Volume Black Liquor (ml) Perolehan Lignin
30 menit 95,6 21,27%
60 menit 110,2 24,15%

90 menit 120 56,84%

Kemudian hasil dari recovey lignin dapat dilihat pada Gambar 4.2 berikut;

Perolehan Lignin
60
Perolehan lignin (%)

50
40
30
20
10
0
30 menit 60 menit 90 menit

Gambar 4.2 Perolehan Lignin pada Recovery Lignin

4.2 Pembahasan
Gambar 4.1 memperlihatkan bahwa dengan peningkatan waktu proses maka
perolehan pulp yang didapat akan cenderung menurun. Hal ini dimungkinakan karena
belum terpisahnya lignin dari biomassa. Penurunan yield pulp disebabkan karena
hilangnya zat ekstraktif, delignifikasi dan terjadinya hidrolisis polisakarida pada
biomassa [Parajo et al., 1993]. Penurunan yield pulp relatif lebih besar pada waktu
reaksi dari 60 menit ke 120 menit, Waktu reaksi yang lama akan menyebabkan

14
pemutusan ikatan lignin yang semakin banyak, karena pelarut akan semakin
lama bereaksi dengan lignin. Sehingga akan menyebabkan yield pulp menurun
[Oktarizona et al., 2016]. Itulah mengapa terdapat penurunan yield pulp yang cukup
besar pada proses pemasakan dengan waktu 90 menit. Selain itu, dapat diambil
penyataan bahwa lama waktu reaksi berbanding terbalik dengan perolehan pulp.
Standart pulp non-wood untuk dijadikan bahan baku adalah pulp dengan yieid
berkisar antara 40 - 65%. Jika dilihat dan yield pulp yang dihasilkan, yakni berkisar
50 64% maka pulp ampas tebu yang hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai
bahan baku alternatif untuk industri pulp.
Pulp terbentuk dari proses organosolv dimana terjadi proses delignifikasi
yang merupakan pelarutan lignin dalam proses pulping. Lignin terlarut dalam asam
merupakan salah satu sifat kimia yang menunjukkan kandungan serta reaktifitas
lignin dalam kondisi asam.
Kemudian dilakukan recovery lignin dari black liquor yang dihasilkan dari
proses pemasakan atau delignifikasi. Dengan cara mencampurkan black liquor
dengan aquadest dengan perbandingan volume 1:6. Dari Gambar 4.2 terlihat bahwa
recovery lignin semakin besar seiring dengan peningkatan waktu.
Dari rangkuman keduanya dapat diketahui pulp yang dihasilkan berkisar
antara 50- 64% sedangkan recovery ligninnya diantar 21 57%. Hasil ini masih
sedikit lebih tinggi jika hendak digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas.
Perolehan yang baik menurut standar industri pulp berkisar antara 40 55% dengan
kadar lignin 4,3 14,4% [Smook 1934 dan Parajo et al. 1993].

15
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
1. Pulp yang dihasilkan menurun seiring dengan peningkatan waktu.
2. Pada recovery lignin, lignin yang didapat berbanding lurus dengan lama
waktu proses.

5.2 Saran
1. Sebelum melaksanakan praktikum sebaiknya praktikan menyediakan segala
perlengkapan praktikum, diantaranya masker dan sarung tangan tebal. Karena
pada saat pemerasan biomassa yang sudah melalui proses fraksionasi akan
menghasilkan bau yang tidak enak dan berbahaya jika diperas langsung
dengan tangan.
2. Praktikan berhati-hati dan teliti ketika proses pencampuran H2SO4 kedalam
labu reaksi.
3. Perhitungan kadar selulosa dan recovery lignin dilakukan dengan teliti
sehingga didapatkan hasil yang tepat.

16
DAFTAR PUSTAKA

Brunow, G., Karhunen, P., Lundquist, K., Olson, S., dan Stomberg, R, 1995,
Investigation of Lignin Models of the Biphenyl Type by X-Ray
Crystallography and NMR Spectroscopy. J. Chem. Crystallogr.

Fengel, D. dan G. Wegener. 1995. Kayu : Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-Reaksi.


Diterjemaahkan oleh Sastrohamidjojo, H. Terjemahan dari : Wood :
Chemical, Ultrastructure, Reactions. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Myerly, R.C, M.D. Nicholson. R. Katzen, JM. Taylor. 1981. The Forest Refinery.
Chemtech.March : 186 192.

Oktarizona, S., Zulfansyah, Helwani, Z. 2016. Pengaruh Kondisi Proses terhadap


Yield dan Kadar Lignin Pulp pada Fraksionasi Rumput Perimping dalam
Media Asam Formiat. Jom FTEKNIK Volume 3 No.1.

Parajo, J.C., Alonso, J.L and Vazquez, G. 1993. On The Behavior of Lignin and
Hemicellulose During Acetosolv Processing. Bioresource Technology. 46:
233-240

Saadah. 2010. Produksi Enzim Selulosa oleh Aspergillus niger,


http://eprints.undip.ac.id/13064/1/BAB_I_-_V.pdf, diakses pada 09 Oktober
2017

Smook, G.A. 1934. Handbook for Pulp and Paper Technologist. Canadian
Cataloguing in Publication Data

Sarkanen, K. S., 1990, Chemistry of Solvent Pulping, Tappi Journal.

Zulfansyah., Amraini, S.Z., Linda, R., Lestari, D.B. 2010. Pembuatan Pulp Ampas
Tebu dengan Proses Acetosolv. Seminar Nasional Sains & Teknologi - III.

17
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

1. Neraca Massa Proses Organosolv

H2SO4 98%
Air 2%
32%

As asetat 98%
Air 2%
As asetat 75%
Ampas tebu 20 gram
Kadar air 62,05%

2. Menggunakan Pelarut Asam asetat


2.1 Persiapan Bahan
Berat ampas tebu basah = 3,11 gram
Waktu Berat ampas tebu kering
60 menit 1,21 gram
65 menit 1,19 gram
70 menit 1,18 gram
75 menit 1,18 gram

3,111,18
Kadar air dalam ampas tebu = 100%
3,11

= 62,05 %
62,05
Berat air dalam ampas tebu = 20 = 12,4 gram
100

Berat kering ampas tebu = 20 gram 12,411158 gram = 7,6 gram

Perbandingan ampas tebu dengan pelarut 1 : 20


Berat Pelarut = 20 7,6 gram = 152 gram

18
75
Asam asetat = 100 152 = 114 gram
114
V= = (1,050,98)+(10,02) = 108,6749 ml

2
Air dalam asam asetat = 100 108,6749 = 2,173498 ml

Asam formiat (murni) = 108,6749 ml - 2,173498 ml


= 106,5015 ml
1
Volume asam sulfat = 100 108,6749 = 1,0867 gram

1,0867
Volume asam sulfat yang digunakan = = = 0,5906 ml
1,84
0,5906
HCl (murni) = = 1,8456
32%
0,5906
Air dalam HCl = 100% = 0,8685%
0.68

Total kandungan air keseluruhan = 25% 152 ml


= 38 ml
Air yang terkandung dalam asam formiat + air dalam HCl + air dalam ampas tebu
= 2,1734 ml + 0,8685 ml + 12,42158 ml
= 15,45648 ml
Jadi, air yang perlu ditambahkan = 38 ml 15,45648 ml
= 22,5435 ml
2.2 Pemprosesan Bahan Baku
Perolehan pulp (selulosa) dengan menggunakan pelarut asam asetat (30 menit)
Berat pulp kering = 12,7266 gram
Berat biomassa kering = 19,98 gram

Perolehan pulp = 100%

12,766
= 100%
19,98

= 63,89%

19
Perolehan pulp (selulosa) dengan menggunakan pelarut asam asetat (60 menit)
Berat pulp kering = 12,33 gram
Berat biomassa kering = 20,25 gram

Perolehan pulp = 100%

12,33
= 20,25 100%

= 60,88%
Perolehan pulp (selulosa) dengan menggunakan pelarut asam asetat (90 menit)
Berat pulp kering = 10,12 gram
Berat biomassa kering = 20,23 gram

Perolehan pulp = 100%

10,12
= 20,23 100%

= 50,0247%
Perolehan lignin dengan menggunakan pelarut asam asetat perbandingan 1:6
Volume black liquor (30 menit) = 95,6 ml



Perolehan lignin = x 100%

95,6
0,01067
1
= x 100%
24% 19,98

= 21,27 %
Perolehan lignin dengan menggunakan pelarut asam asetat perbandingan 1:6
Volume black liquor (30 menit) = 110,2 ml ml



Perolehan lignin = x 100%

110,2
0,01067
1
= x 100%
24% 20,25

= 24,1502 %
Perolehan lignin dengan menggunakan pelarut asam asetat perbandingan 1:6
Volume black liquor (30 menit) = 120 ml

20



Perolehan lignin = x 100%

120
0,023
1
= x 100%
24% 20,23

= 56,84 %

21
LAMPIRAN B
DOKUMENTASI

Gambar B.1 Menimbang sampel Gambar B.2 20 gram Sampel + Aquades


untuk mengetahui kadar air sampel + CH3COOH dimasukkan ke erlenmeyer

Gambar B.3 Proses pemanasan Gambar B.4 Black liquor dari 3 variasi
setelah ditambahkan katalis asam waktu pemanasan
sulfat

Gambar B.5 Pulp yang diperoleh

22