Anda di halaman 1dari 9

Angka Putus Sekolah 73 Persen, Pendidikan Perlu

Berbenah
By
Heri CS
-
10/09/2016

Semarang, Idola 92.6 FM Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan negara sesuai
amanat UUD 1945. Namun, hingga usia 71 tahun kemerdekaan RI segenap masyarakatnya masih belum
mempunyai akses mengenyam dunia pendidikan formal selayaknya.

Meskipun pendidikan dasar 9 tahun di Indonesia dinilai sukses, akan tetapi jumlah anak usia wajib belajar
yang hanya sampai sekolah dasar (SD) cukup besar. Merujuk pada data di harian Kompas, pada tahun
2015-2016 saja, sekitar satu juta anak putus sekolah di SD tau hanya tamatan SD.

Faktor ekonomi menjadi penghambat utama mereka untuk melanjutkan sekolah. Padahal, dalam komitmen
tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 Bidang Pendidikan,
setiap Negara harus bisa memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalan pendidikan.

Targetnya, tersedianya pendidikan dasar dan menengah secara universal yang inklusif, setara, dan
berkualitas. Dari survey Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 73 persen kasus putus sekolah terjadi akibat
faktor ekonomi.

Lantas, upaya apa yang mesti dilakukan pemerintah terkait masih adanya jutaan anak yang
hanya lulus SD dan putus sekolah? Benarkah ini karena faktor ekonomi atau system yang tidak
berpihak pada mereka?

Peran Pendidikan Non-Formal Kurang


Budi Trikorayanto.
Budi Trikorayanto, Sekjen Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asahpena) mengakui
faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab masih banyaknya anak putus sekolah. Selain itu, juga karena
faktor pemerintah yang belum berperan maksimal di bidang pendidikan non formal.

Namun masalah ekonomi yang seperti apa? Satu contoh anak jalanan, atau pemulung didorong untuk
sekolah itu susah. Karena mereka (anak jalanan, red) sudah bisa mencari uang, dan merasakan
kemerdekaan di dunia jalanan dan itu lebih menarik bagi mereka ketimbang duduk di sekolah, berseragam,
dan menerima pelajaran dari sekolah. Dan itu terlalu jauh dari apa yang mereka rasakan sehari-hari, urai
Budi dalam Panggung Civil Society Radio Idola, Jumat (9/9).

Ya, menurut Budi, anak-anak jalanan saat ini lebih memilih bekerja menjadi anak jalanan ketimbang
sekolah. Tidak mudah menggiring mereka sekolah, mestinya ada upaya sekolah yang mendatangi
komunitas mereka.

Kita ada juga pendidikan non-formal. Artinya bila mereka tidak bisa sekolah, maka sekolah yang datang
menjemput. Tidak bisa sekolah memaksa mereka untuk memakai seragam, itu bukan dunia anak-anak
jalanan. Jadi sekolah perlu sektor non-formal, kemudian jemput anak-anak ke kolong jembatan, rel kereta
api, dan lingkungan lainnya, ujarnya.

Budi mengungkapkan, banyak anak sekarang ini enggan ke sekolah salah satunya karena faktor
pengajarnya. Inilah realitas yang sering terjadi di wilayah perkotaan. Kualitas guru kini tentu menjadi salah
satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah.

Lanjut Budi, mengenai adanya program Kartu Indonesia Pintar (KIP) oleh pemerintahan Presiden Joko
Widodo untuk mendukung pendidikan sangat membantu, meskipun masih terdapat kendala terutama untuk
daerah-daerah di pelosok Luar Jawa. Selain itu juga terkait pengawasan agar tepat sasaran.
Sangat membantu, tapi kalau kita lihat ke sekolah-sekolah SMK kebanyakan. Banyak sekali anak yang
terdaftar di sekolah, akan tetapi berangkatnya sesekali. Ini tanda Tanya, jadi mereka lebih tertarik dijalanan
daripada berangkat ke sekolah. Perlu evaluasi menyeluruh dari pemerintah serunya.

Budi menilai, standar nasional pendidikan, baik standar kompetensi, isi, sarana dan prasarana itu sudah
terlalu using. Sebab, pendidikan yang seragam dan berstandar itu peninggalan era revolusi industri.

Kompetensi gaya guru mengajar mesti dirubah. Jadi bukan zamannya lagi guru otoriter dikelas.
Pendidikan harus lebih mengikuti cara personal anak yang berbeda, katanya.

Faktor Ekonomi, Budaya, Penyebab Angka Putus Sekolah


Tinggi

Abduh Zen.
Sementara itu, Abduh Zen, Ketua Litbang PB PGRI dan Direktur Institute for Education Reform menilai
penyebab terbesar anak putus sekolah tebesar memang karena faktor ekonomi dan kemiskinan. Untuk itu
pemerintah mesti fokus untuk menyelesaikan problematika ini, melalui KIP misalnya.

Meskipun terkendala secara ekonomi, banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan KIP tu. KIP harus
menggunakan ATM, nah didaerah-daerah tertentu untuk mengaksesnya masih sulit. Kemudian factor
diluar ekonomi, faktor budaya misalnya membuat orang tidak berhasrat atau kebiasaan untuk sekolah,
pungkas Abduh Zen.

Dia menjelaskan, karena kompleksnya persoalan banyak masyarakat menilai sekolah tidak lagi menarik.
Sehingga dia sering mendengar keluhan untuk apa sekolah. Oleh sebab itu, pemerintah harus fokus
membenahinya dan jangan seperti pemburu yang menembak secara memberondong sembarangan di dalam
hutan rimba.
Saya yakin ada faktor tetap masalah budaya, geografi, dan ekonomi. Perlu update data masalah yang
perlu diidentifikasi kembali per wilayah, ucapnya.

Abduh Zen mengungkapkan, adanya sekolah rumah sebagai alternatif pendidikan bersifat sementara. Dia
menilai, sekolah rumah tidak akan menjadi solusi masalah pendidikan secara luas dan nasional.

Tetapi ini menjadi upaya penting pada daerah-daerah tertentu ketika pendidikan formal tak bisa
menjangkau. Dia mengingatkan bahwa substansi sekolah adalah membangun tradisi literasi, kemelekan
terhadap kehidupan ini.

Intinya yang penting orang bersekolah itu yang pertama kemampuan berpikir. Untuk memecahkan
permasalahan dalam kehidupanya sehari-hari paling tidak. Dan kemudian anak-anak harus punya
pemikiran berkembang dan maju, katanya.

Negara Dan Swasta Berperan Maksimal Angkat Pendidikan


Meskipun pendidikan dasar 9 tahun di Indonesia dinilai sukses, namun jumlah anak usia wajib belajar
yang hanya sampai SD cukup besar. Ini menjadi pekerjaan semua pihak agar pendidikan semakin merata
dan menyejahterakan.

Mulai dari pemerintah, kalangan swasta dan semua lapisan masyarakat. Masa depan di luar pendidikan
sekolah. Dan, tak kalah pentingnya ke depan, pemerintah juga mesti meningkatkan kapasitas dan kualitas
guru agar peserta didik semakin nyaman dan bersemangat untuk bersekolah.

Merujuk pada Abduh Zeh-Direktur Institute for Education Reform, orang bersekolah bertujuan agar
mampu berpikir, menalar secara rasional obyektif, dan bisa memecahkan masalah-masalah kehidupan yang
dihadapi sehari-hari.

Untuk itu perlu ditunjang dengan sarana dan prasarana yang mendukung dan ditopang pengajar yang
bersahabat. Dan, di sini negara melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa berperan optimal.
(Heri CS)

Ar Rahadian@chaqial

Share

Jakarta, CNN Indonesia -- Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan negara
sesuai amanat UUD 1945. Namun, hingga usia 71 tahun kemerdekaan RI, segenap
masyarakatnya masih belum mempunyai akses mengenyam dunia pendidikan formal
selayaknya.

Data UNICEF tahun 2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan
lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah
Menengah Pertama (SMP).

Begitupula data statistik yang dikeluarkan oleh BPS, bahwa di tingkat provinsi dan kabupaten
menunjukkan terdapat kelompok anak-anak tertentu yang terkena dampak paling rentan yang
sebagian besar berasal dari keluarga miskin sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke
jenjang selanjutnya.

Benarkah ini karena faktor ekonomi atau sistem yang tidak berpihak pada mereka?

Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, mengumumkan hasil
penelitian Hasil Bantuan Siswa Miskin Endline di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa
Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Ada temuan menarik.

Sebanyak 47,3 persen responden menjawab tidak bersekolah lagi karena masalah biaya,
kemudian 31 persen karena ingin membantu orang tua dengan bekerja, serta 9,4 persen karena
ingin melanjutkan pendidikan nonformal seperti pesantren atau mengambil kursus
keterampilan lainnya.

Mereka yang tidak dapat melanjutkan sekolah ini sebagian besar berijazah terakhir sekolah
dasar (42,1 persen) maupun tidak memiliki ijazah (30,7 persen). Meski demikian, rencana untuk
menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ternyata cukup besar, yakni 93,9
persen. Hanya 6,1 persen yan menyatakan tidak memiliki rencana untuk itu.

Peneliti PSKK UGM, Triyastuti Setianingrum, S.I.P., M.Sc. mengatakan dalam Focused Group
Discussion, pendidikan merupakan investasi modal manusia (human capital investment) dan
pemerintah harusnya memberi perhatian yang sungguh terhadap hal ini, terlebih dalam
merespons perubahan komposisi demografi.

Tingginya angka penduduk usia kerja hanya akan menjadi bonus (window of opportunity)
apabila penyediaan kesempatan kerja sudah sesuai dengan jumlah penduduk usia kerja serta
ditopang oleh kualitas angkatan kerja yang baik.

Triyas menambahkan, seperti siklus, kasus anak putus sekolah saling mempengaruhi satu sama
lain dengan persoalan kemiskinan. Putus sekolah mengakibatkan bertambahnya jumlah
pengangguran, bahkan menambah kemungkinan kenakalan anak dan tindak kejahatan dalam
kehidupan sosial masyarakat. Begitu seterusnya karena tingkat pendapatan yang rendah, akses
ke pendidikan formal pun sulit dicapai.

Peran Pendidikan Non-Formal Kurang


Pada kesempatan terpisah Sekjen Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif
(Asahpena), Budi Trikorayanto yang dikutip dari media radioidola.com, mengakui faktor
ekonomi menjadi salah satu penyebab masih banyaknya anak putus sekolah.

Namun masalah ekonomi yang seperti apa? Satu contoh, anak jalanan, atau pemulung didorong
untuk sekolah itu susah. Karena mereka sudah bisa mencari uang, dan merasakan kemerdekaan
di dunia jalanan dan itu lebih menarik bagi mereka ketimbang duduk di sekolah, berseragam,
dan menerima pelajaran dari sekolah. Dan itu terlalu jauh dari apa yang mereka rasakan sehari-
hari.

Menurut Budi, anak-anak jalanan saat ini lebih memilih bekerja menjadi anak jalanan ketimbang
sekolah. Tidak mudah menggiring mereka sekolah, mestinya ada upaya sekolah yang
mendatangi komunitas mereka.

Tidak bisa sekolah memaksa mereka untuk memakai seragam, itu bukan dunia anak-anak
jalanan. Jadi sekolah perlu sektor non-formal, kemudian jemput anak-anak ke kolong jembatan,
rel kereta api, dan lingkungan lainnya.

Dari beberapa kasus terungkap pula, banyaknya anak sekarang ini enggan ke sekolah salah
satunya karena faktor pengajarnya. Inilah realitas yang sering terjadi di wilayah perkotaan.
Kualitas guru kini tentu menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah.

Faktor Budaya Salah Satu Faktor Penyebab Putus Sekolah


Sementara itu, Abduh Zen, Ketua Litbang PB PGRI dan Direktur Institute for Education Reform
menilai penyebab terbesar anak putus sekolah memang karena faktor ekonomi dan kemiskinan.
Untuk itu pemerintah mesti fokus untuk menyelesaikan problematika ini, melalui KIP misalnya.

Meskipun terkendala secara ekonomi, banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan KIP.
Dikarenakan KIP harus menggunakan ATM dalam penarikannya di beberapa daerah tertentu
masih kesulitan dalam mengaksesnya. Kemudian di luar faktor ekonomi, faktor budaya misalnya
membuat orang tidak berhasrat untuk pergi ke sekolah.

Karena kompleksnya persoalan, banyak masyarakat menilai sekolah tidak lagi menarik. Sehingga
sering terdengar keluhan untuk apa sekolah. Oleh sebab itu, pemerintah harus fokus
membenahinya dan jangan seperti pemburu yang menembak secara memberondong
sembarangan di dalam hutan rimba.

Pada kesempatan itu Abduh Zen mengungkapkan, adanya sekolah rumah sebagai alternatif
pendidikan bersifat sementara. Dia menilai, sekolah rumah tidak akan menjadi solusi masalah
pendidikan secara luas dan nasional.

Tetapi ini menjadi upaya penting pada daerah-daerah tertentu ketika pendidikan formal tak bisa
menjangkau. Dia mengingatkan bahwa substansi sekolah adalah membangun tradisi literasi,
kemelekan terhadap kehidupan ini.

Dengan bersekolah anak memiliki kemampuan dalam berpikir secara optimal. Setidaknya denga
memiliki bekal pendidikan, anak dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-
sehari. Intinya anak-anak akan memiliki pemikiran yang berkembang dan maju.

Peran Pemerintah dan Swasta Dalam Mensukseskan Pendidikan


Meskipun pendidikan dasar 9 tahun di Indonesia dinilai sukses, namun jumlah anak usia wajib
belajar yang hanya sampai SD cukup besar. Ini menjadi pekerjaan semua pihak agar pendidikan
semakin merata dan menyejahterakan.

Mulai dari pemerintah, kalangan swasta dan semua lapisan masyarakat. Masa depan di luar
pendidikan sekolah. Dan, tak kalah pentingnya ke depan, pemerintah juga mesti meningkatkan
kapasitas dan kualitas guru agar peserta didik semakin nyaman dan bersemangat untuk
bersekolah.

Orang bersekolah bertujuan agar mampu berpikir, menalar secara rasional obyektif, dan bisa
memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

Untuk itu perlu ditunjang dengan sarana dan prasarana yang mendukung dan ditopang pengajar
yang bersahabat. Dan, di sini negara melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa
berperan optimal. (ded/ded)

Terpopu ler

Kamis, 21/09/2017 08:47 WIB


Hari Perdamaian dan Lonceng Jepang

Rabu, 20/09/2017 18:32 WIB

Anies Baswedan Bagi-Bagi Rahasia kepada Mahasiswa

Rabu, 20/09/2017 13:00 WIB