Anda di halaman 1dari 37

BUKU PANDUAN

KETERAMPILAN
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI

Diberikan pada Mahasiswa Semester V


Tahun Akademik 2017-2018

Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi
2017
PEMERIKSAAN GINEKOLOGI

DASAR-DASAR PEMERIKSAAN GINEKOLOGI

Pemeriksaan ginekologi adalah suatu prosedur klinik yang dilakukan secara bimanual
untuk menentukan atau mengetahui kondisi organ genitalia wanita, berkaitan dengan upaya
pengenalan atau penentuan ada tidaknya kelainan pada bagian tersebut. Pemeriksaan ini
merupakan rangkaian dari suatu prosedur pemeriksaan yang lengkap sehingga hasil pemeriksaan
ini terfokus pada tampilan genitalia eksterna dan upaya untuk mengetahui arah, besar, konsistensi
uterus dan serviks, kondisi adneksa, parametrium dan organ-organ disekitar genitalia interna
(rongga pelvik).

INDIKASI
Pemeriksaan bentuk, arah, besar, dan konsistensi uterus
Pemeriksaan adneksa dan parametrium
Pemeriksaan ballotemen
Konfirmasi kehamilan intra atau ektra uterin
Konfirmasi peradangaan atau infeksi
Pemeriksaan flour albus, perdarahan, tumor pelvik

TUJUAN PEMBELAJARAN :
Tujuan Instrusksional Umum
Diharapkan mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan ginekologi dengan benar.

Tujuan Instrusksional Khusus


Pada akhir pembelajaran ini, mahasiswa akan mampu untuk :
1. Melakukan anamnesis yang berhubungan dengan keluhan organ genitalia wanita
2. Melakukan pemasangan spekulum vagina dengan benar dan aman
3. Melakukan pemeriksaan bimanual dengan benar
4. Menegakkan diagnosis dan atau diagnosis banding
MEDIA DAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN :
1. Penuntun Belajar untuk pemasangan spekulum vagina
2. Penuntun Belajar untuk pemeriksaan bimanual
3. Kapas dan larutan antiseptik, spekulum cocor bebek (Graves speculum), meja instrumen,
lampu sorot, sarung tangan, sabun dan wastafel/air bersih untuk cuci tangan, handuk
bersih dan kering.
4. Kertas, pensil, pena dan kartu ibu.

CARA PELATIHAN :
Demonstrasi kompetensi sesuai dengan penuntun belajar
ANATOMI ORGAN REPRODUKSI WANITA

Seluruh organ reproduksi wanita terdapat di dalam rongga pelvis. Dinding rongga pelvis terdiri
dari bagian keras (bony pelvis) yaitu tulang pelvis dan bagian lunak yaitu persendian, ligamen dan otot.
Secara umum, organ reproduksi wanita terdiri dari dua bagian, yaitu organ dalam dan organ luar. Organ
luar adalah yang langsung terlihat seperti vulva dan organ lain di dalamnya serta vagina. Sementara organ
dalam ialah uterus, tuba dan ovarium.

PERINEUM DAN VULVA


Perineum adalah gerbang bagi rongga pelvis, yang biasanya diinterpretasikan sebagai tendon dari
korpus perinea atau bulbus perineum. Anterior terhadap bulbus perineum terdapat fisura yang dibatasi
oleh mons pubis dan labium mayora yang dikenal sebagai mons pubis. Vulva adalah orificium dari vagina.
Medial terhadap labium mayora terdapat dua labium minora yang bergabung dengan labium
mayora pada komisura posterior. Kedua labium minor bergabung pada komisura anterior, yang
melindungi vagina. Antara kedua labium minora terdapat membran tipis yang dikenal sebagai hymen.

VAGINA
Adalah saluran yang dikelilingi oleh jaringan otot yang kuat. Panjang dari bagian anterior dari
vagina adalah 7 cm, dengan panjang bagian posterior 2 cm lebih panjang. Sumbu dari vagina paralel
dengan orificium dari rongga pelvis, yang pada posisi terlentang membentuk sudut 30-40 derajat dari
bidang horizontal. Apabila seseorang ingin melakukan pemeriksaan ginekologi, sudut ini penting untuk
dimengerti.

Gb 1. Genitalia eksterna
Terdapat tepi mukosa di dalan lumen vagina yang dikenal sebagai columna rugaerum atau
columna vaginalis. Pada serviks uteri, vagina melipat mengelilingi serviks, membentuk forniks, yang
terdiri dari forniks anterior, posterior, serta lateral, berdasarkan posisinya terhadap serviks uteri. Bagian
yang teraksentuasi pada vagina disebut portio.

UTERUS
Uterus adalan organ muskular yang terdapat di tengah rongga pelvis. Ukuran normal pada
periode reproduksi adalah 7.5 x 5 x 2.5 cm. Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan (dari dalam ke luar) :
endometrium, myometrium dan perimetrium. Endometrum adalah jaringan mukosa dengan banyak
kelenjar dengan tebal beragam, tergantung pada siklus menstruasi. Myometrium adalah bagian paling
tebal yang terdiri dari jaringan otot. Perimetrium sesungguhnya adalah peritoneum .

Gambar 2. Genitalia Interna

Terdapat berbagai posisi dari uterus. Posisi uterus terhadap vagina dapat anteversi, retroversi,
dextroposisi atau sinistroposisi. Posisi uterus terhadap serviks dapat antefleksi, laterofleksi atau
retrofleksi. Kebanyakan wanita Indonesia ialah retrofleksi dengan sudut antara 45-90 derajat. Retrofleksi
ekstrem dari uterus disebut hiperretrofleksi. Serviks uteri, isthmus uteri dan korpus uteri adalah bagian
dari uterus. Isthmus uteri dari wanita tidak hamil sangat pendek, sehingga sering dianggap sebagai bagian
dari serviks. Serviks uteri memiliki dua struktur yang berbentuk tanduk, yang merupakan orificium dari
tuba uteri yang disebut kornu. Terdapat struktur berbentuk kubah diantara keduanya yang disebut fundus.
Kavitas di dalam uterus disebut kavum uteri, yang memanjang ke arah vagina melalui kanalis servikalis.

TUBA FALOPII
Tuba falopii adalah organ berbentuk kanal dengan panjang 10 cm. Seperti uterus, dindingnya
terdiri dari 3 bagian yaitu lapisan mukosa, lapisan otot dan lapisan serosa. Setiap tuba dibagi menjadi
bagian interstitial, isthmus, ampulla dan fimbria.
OVARIUM
Adalah organ yang memproduksi ovum, dan memiliki ukuran sangat beragam, tetapi biasanya 3.5
x 2.5 x 1 cm. Posisinya selalu berubah, bergantung pada postur, perubahan posisi usus dan perubahan
bentuk uterus pada kehamilan. Terdapat 4 kutub dari ovarium yang meliputi superior, inferior, anterior dan
posterior. Terdapat dua lapisan dari ovarium, yaitu korteks (bagian luar) dan medulla (bagian dalam).

LIGAMENTUM
Korpus uteri memiliki posisi yang bebas dan berubah-ubah, tergantung pada pengisian vesika
urinaria, walaupun serviks uteri memiliki posisi yang tetap. Struktur yang menyokong posisi uterus adalah
ligamentum rotundum, ligamentum sakrouterina dan ligamentum kardinale. Seluruh ligamentum adalah
sepasang ligamentum yang simetris pada sisi kiri dan kanan uterus. Sementara terdapat satu buah
ligamentum lebar, yaitu ligamentum latum, yang sesungguhnya merupakan lipatan dari peritoneum yang
meliputi tuba, dan memanjang ke arah ligamentum kardinale. Ligamentum latum dan struktur antara
bagian peritoneum yang terlipat dikenal sebagai parametrium.Seperti uterus, ovarium disokong pada
posisinya oleh mesovarium, ligamentum suspensorium ovarii (ligamentum infundibulo-pelvikum) dan
ligamentum ovarii proprium.
Keterangan Gambar:
1. Round ligament
2. Uterus
3. Kavum uteri
4. Uterus, permukaan
intestinal
5. Uterus
,
permu
kaan
versic
al (ke
arah
vesika
urinari
a)
6. Fundus uteri
7. Korpus uteri
Gambar 3. Genitalia 8. Palmate folds of
Interna, irisan antero- cervical canal
posterior 9. Kanalis servikalis
10. Forniks posterior
11. Cervical os
(external)
12. Isthmus uteri
13. Serviks,
supravaginal
portion
14. Serviks, vaginal
portion
15. Forniks anterior
16. Serviks
PROSEDUR PEMERIKSAAN

ANAMNESIS
Seperti halnya pemeriksaan fisik lain, kita harus melakukan anamnesis sebelum pemeriksaan. Hal ini
bertujuan untuk memberikan data mengenai:
Keluhan utama pasien dan lamanya.
Hari pertama haid terakhir.
Data mengenai siklus menstruasi (panjang siklus, regularitas, durasi menstruasi, perkiraan jumlah
dan tipe perdarahan menstruasi).
Riwayat dismenore.
Menarche.
Perdarahan di antara dua periode.
Discharge: tipe, warna, jumlah, bau dan kapan pertama keluar.
Pruritus pada vulva.
Keluhan abdominal : pembesaran, lokasi, discomfort (rasa tak enak pada perut) dan nyeri.
Riwayat perkawinan.
Keluhan yang berhubungan dengan koitus, libido, dispareunia dan orgasme.
Riwayat operasi abdomen dan operasi ginekologi.
Riwayat yang berhubungan dengan BAK dan BAB.
Keluhan sistemik dan keluhan pada sistem lain.
Riwayat penyakit dahulu dan riwayat genetik keluarga.

PEMERIKSAAN FISIK UMUM


Seperti halnya pemeriksaan fisik lainnya, inspeksi harus dilakukan sejak pasien masuk ke dalam
kamar periksa. Keadaan umum pasien, postur dan kesadaran harus diinspeksi dengan akurat.
Pemeriksaan fisik umum harus dilakukan untuk memperoleh data mengenai tanda vital, kondisi
organ vital (jantung dan paru), tanda anemia serta kelainan organ lain dari kepala hingga kaki. Berilah
perhatian khusus terhadap tanda yang berhubungan dengan kelainan ginekologi serta organ yang memiliki
hubungan terdekat dengan kelainan ginekologi.
PEMERIKSAAN ABDOMEN
Dilakukan dengan pasien pada posisi terlentang dengan lengan di samping dan dinding abdomen
dalam keadaan lemas. Lakukan inspeksi dengan memperhatikan kontur abdomen (apakah terdapat
pembesaran/ aksentuasi dari dinding abdomen, bila ada, tandai dan deskripsikan ukuran, bentuk dan
letaknya). Pada wanita hamil, perhatikan apakah terdapat hiperpigmentasi dan tanda regang pada dinding
abdomen yang dikenal sebagai striae gravidarum, garis hitam di tengah yang dikenal sebagai garis Fuska,
serta hiperpigmentasi lain di daerah abdomen. Setelah melahirkan, striae gravidarum akan berubah
berwarna putih keperakan yang dikenal sebagai striae albikans. Hemoperitoneum pada wanita putih dan
kurus, dapat terlihat bayangan kebiruan pada area umbilikus yang dikenal sebagai tanda Cullen.
Sebelum dilakukan palpasi letakkan tangan pada dinding abdomen agar pasien tidak terkejut oleh
perbedaan suhu. Lakukan palpasi dengan menggunakan seluruh telapak tangan.
Palpasi dimulai dengan menilai tegangan dinding abdomen dengan melakukan penekanan dan menilai
tahanannya. Rasa nyeri akan memaksa pasien untuk menegangkan dinding abdomennya, sehingga terasa
seperti menekan papan. Bila terdapat nyeri tekan dan massa di dalam abdomen, beri perhatian khusus.
Nyeri pada palpasi dapat berupa nyeri tekan atau nyeri lepas.

Gambar 4. Pemeriksaan Abdomen

Bila anda meraba massa atau tumor, perhatikan butir-butir di bawah ini :
Lokasi dan batas tumor
Ukuran tumor
Permukaan tumor
Konsistensi
Apakan tumor masuk panggul/ apakah tumor mobil atau terfiksasi pada organ disekitarnya.
Untuk menentukan suatu lokasi di abdomen, kita biasanya menggunakan kuadran (abdomen
dibagi menjadi 4 kuadran). Penentuan juga dapat dilakukan dengan menggunakan indikator spesifik
seperti jarak ke pusat, linea axillaris dan lain-lain. Palpasi terhadap pembesaran organ dalam juga
sebaiknya dilakukan.

PEMERIKSAAN PELVIS
Pemeriksaan ini biasanya membuat pasien was-was. Sebelum melakukannya, pemeriksa
sebaiknya mendekati pasien, sehingga pasien mau bekerjasama dalam pemeriksaan ini. Pemeriksaan
dilakukan dengan pasien dalam posisi litotomi, dengan posisi berbaring lemas dan meletakkan kakinya
pada foot rest, untuk melemaskan bagian panggul. Perineum harus berada tepat pada tepi meja
pemeriksaan, kemudian pemeriksa menggunakan sarung tangan secara aseptik.
Lakukan toilet vulva dan vagina dengan menggunakan kapas steril yang direndam dalam larutan
desinfektan non iritatif (mis : lysol), dengan menggerakkan kapas di dan sekitar vulva dan perineum dari
medial ke lateral atau dari sentral ke perifer. Area rektal harus dilakukan terakhir.

Gambar 5. Posisi Pemeriksaan Ginekologi

TEKNIK PEMERIKSAAN PELVIS INSPEKSI


Inspeksi harus menyertakan organ genitalia eksterna, terutama vulva, dimulai dengan memperhatikan
hygiene, keadaan keseluruhan dan apakah terdapat abnormalitas. Secara sistematik, lakukan observasi
terhadap hal-hal di bawah ini:
Distribusi rambut kemaluan dan kelainan dari folikelnya.
Kedaan kulit di vulva.
Keadaan klitoris.
Keadaan orificium urethrae externum.
Keadaan labia mayora dan minora.
Keadaan perineum dan komisura posterior (utuh /tidak).
Keadaan introitus vagina.
Apakah terdapat discharge yang mengalir keluar dari vagina (jumlah, tipe, warna, bau, dll).

INSPEKULO
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan spekulum dan hanya dilakukan apabila pasien
telah menikah atau pernah melakukan koitus. Spekulum yang sering digunakan adalah spekulum Sims
atau Graeves.
Spekulum Sims memberikan visualisasi yang lebih baik, tetapi harus menggunakan 2 tangan,
sementara Graeves hanya membutuhkan 1 tangan, sementara tangan lainnya dapat melakukan hal lain.
Pada beberapa keadaan, Sims dapat digunakan dengan bantuan orang lain. Pemeriksaan dapat dilakukan
dengan posisi litotomi atau pada posisi pasien menyamping.

Gambar 6. Pemeriksaan Inspekulo

PROSEDUR MEMASANG SPEKULUM GRAEVES


Geser labia mayora ke sisi kiri dan kanan dengan menggunakan ibu jari dan telujuk tangan kiri.
Tangan kanan memegang Graves dalam posisi oblik dan menggerakkan daun spekulum sampai mencapai
posisi kiri kanan. Spekulum tidak membutuhkan lubrikan atau disinfektan bila anda ingin mengambil
sampel sitologi. Spekulum dimasukkan dengan perlahan dan halus dalam posisi daun tertutup.
Perhatikan bahwa arah spekulum harus paralel terhadap sumbu panjang vagina. Setelah
memasukkan 2/3 daun spekulum ke dalam vagina, rotasikan 90 secara perlahan sampai daun spekulum
mencapai posisi superior-inferior, dan buka daun secara perlahan. Setelah serviks
dapat divisualisasikan, seluruh daun spekulum dimasukkan ke dalam vagina hingga mencapai forniks
anterior dan posterior.

Gambar 7. Spekulum Graeve

PROSEDUR MEMASANG SPEKULUM SIMS

Gambar 8. Spekulum Sims

Geser labia mayora ke sisi kiri dan kanan dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri,
dengan tangan kanan memegang spekulum posterior. Spekulum posterior dimasukkan secara perlahan
dalam posisi oblik. Setelah memasukkan 2/3 daun spekulum ke dalam vagina, rotasikan 90 secara
perlahan ke arah bawah, kemudian masukkan seluruh daun spekulum kedalam vagina hingga mencapai
forniks posterior. Setelah itu, tangan kiri memegang spekulum yang terpasang, dan tangan kanan
memegang spekulum superior. Daun spekulum superior dimasukkan secara datar sampai dengan mencapai
forniks anterior. Bila ada sesuatu yang ingin anda lakukan, dengan tangan kiri tetap memegang Sims
bawah, mintalah asisten
untuk memegang Sims atas. Pemasangan spekulum adalah benar apabila serviks terlihat dengan jelas.
Bila serviks terhalang discharge, bersihkan dengan menggunakan cairan saline atau cairan
disinfektan. Sebelumnya, perhatikan discharge, dan catat jumlah, konsistensi, warna dan baunya. Setelah
serviks tervisualisasi dengan jelas, lakukan assessment terhadap serviks secara hati-hati tentang, antara
lain, warna mukosanya (hiperemia, anemia, livide) serta abnormalitas seperti erosi, ektropion, laserasi,
sikatrik, granulasi, teleangiektasi, polip dan tumor.

Gambar 9. Inspeksi pada pemeriksaan Inspekulo


Setelah pemeriksaan selesai, spekulum ditarik secara perlahan dan memutar untuk memungkinkan
inspeksi dinding vagina, dengan menandai warna, petechiae, varises, granulasi, ulserasi, ulkus, fistula,
aksentuasi yang disebabkan oleh kelemahan dinding vagina (sistokel dan rektokel) dan tumor.

PEMERIKSAAN PANGGUL BIMANUAL


Pemeriksaan panggul bimanual (vaginal toucher) dilakukan dengan memasukkan tangan pemeriksa ke
dalam liang vagina sesuai sumbu vagina secara lembut dan perlahan. Sebelumnya beri lubrikan dan
desinfektan pada jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan yang akan digunakan untuk
pemeriksaan.Ibu jari dan telunjuk tangan kiri menggeser labia mayora ke sisi kiri dan kanan, sehingga
pemeriksa mudah memasukkan jari telunjuk dan jari tengan tangan kanan ke dalam introitus vagina.
Setelah tangan kanan masuk, tangan kiri berpindah ke suprapubik. Letakkan telapak tangan pada
suprapubik, dan dengan sedikit tekanan menunjuk langsung pada organ yang diperiksa.
A B

C D

Gambar 10 A-D. Pemeriksaan Bimanual

Palpasi dimulai dari vagina hingga forniks, serviks uteri, uterus, adneksa atau parametrium dan
seluruh rongga panggul.
Setelah tangan dikeluarkan, lakukan palpasi organ reproduksi eksternal (vulva, dsb).
Pemeriksaan harus dilakukan secara sistematis dan berurutan.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan pelvis bimanual :


Vagina :
Kelainan pada daerah introitus vagina (kista Bartolini, abses Bartolini)
Kekuatan dinding vagina
Sistokel atau rektokel, dan kista Gardner
Permukaan dan kondisi rugae (ulkus, tumor dan fistula)
Kelainan kongenital
Penonjolan forniks atau kavum Douglasi
Serviks uteri
Permukaan (sikatriks, ulkus, tumor)
Ukuran dan bentuk serviks uteri
Konsistensi (kenyal, lunak, tanda Hegar)
Kanalis servikalis terbuka atau tertutup
Mobilitas
Nyeri pada pergerakan
Uterus
Bentuk uterus
Ukuran atau dimensi uterus
Posisi uterus (anteversi, retroversi, antefleksi, retrofleksi, sinistro/ dekstroposisi)
Konsistensi (padat, lunak)
Permukaan uterus (bernodul, rata)
Mobilitas
Tumor (bentuk, ukuran, konsistensi)
Kelainan kongenital

Parametrium
Struktur adneksa (tuba, ovarium)
Parametrium (melebar, memendek)
Nyeri pada palpasi
Tumor (lokasi, ukuran, permukaan, konsistensi, mobilitas, hubungan dengan jaringan lain)
Keganasan

PEMERIKSAAN REKTOVAGINAL

Gambar 11. Pemeriksaan Rektovaginal


Pemeriksaan rektovaginal sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari semua pemeriksaan pelvis.
Pada pemeriksaan ini, jari tengah dilumuri dengan pelumas (minyak) dan dimasukkan dengan
hati-hati ke dalam rektum.
Saat jari tengah telah dimasukkan sebagian, masukkan jari telunjuk ke dalam vagina dengan hati-hati.
Tangan pemeriksa yang satunya diletakkan di suprapubik. Dengan cara ini, pemeriksaan uterus bagian
posterior dapat dilakukan lebih teliti.
Lakukan penilaian tonus muskulus sphingter ani, permukaan mukosa rektum, penonjolan atau adanya
massa pada rektum.
PEMERIKSAAN SITOLOGI VAGINA

Gambar 12. Kiri : Prosedur pemeriksaan sitologi vagina, kanan : pembuatan apusan

Untuk deteksi tumor ganas (Pap Smear):


Prosedur Pemeriksaan Pap Smear . Menurut Soepardiman (2002), Manuaba (2005), Rasjidi
(2008), Sarwono (2011).
1. Persiapan alat, alat yang akan digunakan, meliputi spekulum Bivalve (cocor bebek),
cytobrush, spatula Ayre, kaca objek yang telah diberi label atau tanda, dan alkohol
95%.
2. Pasien berbaring dengan posisi litotomi.
3. Pasang spekulum sehingga tampak jelas vagina bagian atas, forniks posterior, serviks
uterus, dan kanalis servikalis.

4. Periksa serviks apakah normal atau tidak.


5. Terlebih dahulu dilakukan tindakan pengambilan sampel endoserviks (dari kanalis
servikalis), karena kandungan musin yang banyak mencegah pengeringan sel. Ini
penting, terutama bila sampel sel berada dalam satu kaca benda.
6. Sangat dianjurkan mengambil bahan endoserviks dengan cytobrush, pengambilan
dengan lidi kapas (cotton bud).
7. Setelah diyakinkan cytobrush mencakup keseluruhan kanalis servikalis dilakukan
pemutaran sehingga sel melekat pada sikat tersebut.
8. Sel yang diperoleh dipindahkan ke kaca benda dengan memutar cytobrush (bukan
dengan menggesek lurus) sehingga mengisi sebagian kaca benda yang telah diberi
9. nomor atau nama masing- masing pasien (dianjurkan kaca benda frosted end atau
yang mudah ditulis dengan pencil).
10. Selanjutnya untuk pengambilan bahan ektoserviks dengan spatula Ayre (ujung yang
pendek) dimasukkan ke dalam endoserviks sedalam mungkin, dimulai dari arah jam
12 dan diputar 3600 searah jarum jam.
11. Bila pada pemeriksaan/inspekulo ditemukan kelainan cerviks bermakna, dilakukan
pengambilan sampel khusus (diagnostic pap smear).
12. Sediaan yang telah didapat, dioleskan di atas kaca objek pada sisi yang telah diberi
tanda dengan membentuk sudut 450 satu kali usapan.
13. Masukkan segera (dalam hitungan detik) apusan pada kaca benda ke dalam botol
berisi cairan fiksasi etil alkohol, di beberapa negara fiksasi dilakukan dengan
semprotan (spray fiksatif, bukan hair spray).
14. Bila sediaan apus akan dikirim dengan pos ke laboratorium sitologi, sediaan direndam
di dalam cairan fiksasi paling sedikit 30 menit, keluarkan dan keringkan di udara
terbuka. Sediaan apus jangan direndam dalam cairan fiksasi lebih dari 1 minggu
karena akan terjadi distorsi sel.
15. Kemudian sediaan yang telah dikeringkan dimasukkan ke dalam wadah transport
dan dikirim ke ahli patologi anatomi. Untuk diproses dan diperiksa.
Untuk pemeriksaan hormonal, pada wanita pascamenopase beberapa tetes sekret dari
puncak vagina dapat ditambahkan.
Kemudian dibuat sediaan apusan di kaca benda bersih yang kedua, untuk mendeteksi
kelainan endometrium.
Bila mukosa atrofi, spatula sebaiknya dibasahi dahulu dengan larutan garam fisiologis (NaCl
0,9 %). Bila sediaan apus mulai mengering dapat dilakukan rehidrasi dengan meneteskan
air selama beberapa saat sebelum dilakukan fiksasi.
Lalu dimasukkan ke dalam botol khusus (cuvette) berisi etil alkohol 95%.
Setelah kira-kira satu jam, kaca objek dikeluarkan dan dikeringkan, dilakukan pulasan
menurut Papanicolou.

Interpretasi Hasil Pap Smear

Terdapat banyak sistem dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan Pap Smear,


sistem Papanicolaou, sistem Cervical Intraepithelial Neoplasma (CIN), dan sistem
Bethesda.
Klasifikasi Papanicolaou membagi hasil pemeriksaan menjadi 5 kelas (Saviano, 1993),
yaitu:
Kelas I : Tidak ada sel abnormal.
Kelas II : Terdapat gambaran sitologi atipik, namun tidak
ada indikasi adanya keganasan.
Kelas III : Gambaran sitologi yang dicurigai keganasan,
displasia ringan sampai sedang.
Kelas IV : Gambaran sitologi dijumpai displasia berat.
Kelas V : Keganasan.

Sistem CIN pertama kali dipublikasikan oleh Richart RM tahun 1973 di Amerika Serikat
(Tierner & Whooley, 2002). Pada sistem ini, pengelompokan hasil uji Pap Smear terdiri
dari (Feig, 2001):
a. CIN I merupakan displasia ringan dimana ditemukan sel neoplasma pada
kurang dari sepertiga lapisan epitelium.
b. CIN II merupakan displasia sedang dimana melibatkan dua pertiga epitelium.
c. CIN III merupakan displasia berat atau karsinoma in situ yang dimana telah
melibatkan sampai ke basement membrane dari epithelium.
Klasifikasi Bethesda pertama kali diperkenalkan pada tahun 1988. Setelah melalui
beberapa kali pembaharuan, maka saat ini digunakan klasifikasi Bethesda 2001.
Klasifikasi Bethesda 2001 adalah sebagai berikut (Marquardt, 2002):

1. Sel skuamosa
a. Atypical Squamous Cells Undetermined Significance (ASCUS).
b. Low Grade Squamous Intraepithelial Lesion (LSIL).
c. High Grade Squamous Intraepithelial Lesion (HSIL).
d. Squamous Cells Carcinoma.

2. Sel glandular
a. Atypical Endocervical Cells
b. Atypical Endometrial Cells
c. Atypical Glandular Cells
d. Adenokarsinoma Endoservikal In situ
e. Adenokarsinoma Endoserviks
f. Adenokarsinoma Endometrium
g. Adenokarsinoma Ekstrauterin
h. Adenokarsinoma yang tidak dapat ditentukan asalnya (NOS)

Tabel klasifikasi Lesi prakanker (diambil dari HOGI, panduan pelayanan kilnik 2013)
Klasifikasi Sitologi (untuk skrining) Klasifikasi Histologi (untuk diagnosis)
Pap Bethesda NIS (Neoplasia Klasifikasi Deskriptif
Intraepitel Serviks) WHO
Kelas I Normal Normal Normal
Kelas II ASC-US Atipia Atipia
ASC-H
Kelas III LISDR NIS 1 termasuk Koilositosis
condiloma
Kelas III LISDT NIS 2 Displasia sedang
Kelas III LISDT NIS 2 Displasia berat
Kelas IV LISDT NIS 3 Karsinoma Insitu
Kelas V Karsinoma Invasif Karsinoma Invasif Karsinoma Invasif
ASCUS : Atypical Squamous of Undetermined Significance
ASCH : Atypical Squamous cell cannot exclude a high grade squamous epithelial lesion
LISDR : Lesi intraepitel skuamosa derajad rendah (LSIL: Low grade intraephitelial
lesion) LISDT : Lesi intraepitel skuamosa derajad tinggi (HSIL: High grade intraephitelial lesion)

INSPEKSI VISUAL DENGAN ASAM ASETAT (IVA TEST)


Inspeksi visual dengan asam asetat adalah pemeriksaan serviks secara langsung dengan
mata telanjang, tanpa menggunakan alat pembesar setelah serviks diusap dengan asam asetat
3-5%. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya lesi prakanker atau
kanker melalui perubahan warna epitel serviks menjadi putih, yang disebut acetowhite.
Adanya metaplasia skuamosa atipik pada serviks akibat stimulus onkogen dalam
perkembangan sel yang mengalami metaplasia akan menampakkan daerah peralihan yang
atipik. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan nisbah inti sitoplasma. Peningkatan ini
berakibat berkurangnya kemampuan sinar untuk menembus epitel. Epitel akan tampak putih
yang segera terlihat setelah serviks diusap dengan asam asetat 3-5%. Efek asam asetat akan
menyebabkan dehidrasi sel akibat peningkatan osmolaritas cairan ekstraseluler. Cairan
ekstraseluler yang bersifat hipertonik ini akan menarik cairan intraseluler sehingga membran sel
akan kolaps dan jarak antar sel semakin dekat. Epitel kolumnar akan menjadi plumper (gemuk)
setelah pemberian asam asetat, sehingga sel-sel mudah terlihat. Sel yang mengalami displasia
paling terpengaruh terhadap pemberian asam asetat karena memiliki inti yang besar dan
kromatin dengan kandungan protein tinggi. Akibatnya bila permukaan sel mendapat sinar, maka
sinar tidak akan diteruskan ke dalam stroma namun akan dipantulkan keluar permukaan sel.
Asam asetat juga mempunyai efek koagulasi protein dalam sitoplasma dan inti sehingga tampak
opaque dan putih. Epitel abnormal memiliki inti dengan kepadatan yang tinggi, sehingga
menghambat cahaya untuk menembus epitel. Hal ini menyebabkan sel akan terlihat berwarna
putih (acetowhite) oleh karena warna kemerahan pada pembuluh darah di bawah epitel tidak
terlihat. Inilah yang membedakan hasil ulasan pada epitel serviks yang normal. Pada keadaan
normal, epitel tidak berwarna dan tembus cahaya. Warna kemerahan yang terlihat merupakan
warna pembuluh darah di bawah epitel.
Derajat putihnya epitel pada reaksi acetowhite menunjukkan daerah dengan peningkatan
densitas inti yang mencerminkan bertambahnya jumlah, ukuran dan konsentrasi DNA sel yang
abnormal. Semakin tinggi konsentrasi protein, epitel akan semakin putih. Kondisi ini akan
berhubungan langsung dengan derajat displasia. Efek asam asetat akan mencapai puncak
sekitar 1-2 menit sesudah aplikasi dan akan menghilang dalam waktu 5 menit. Tindakan
pengusapan asam asetat dapat dilakukan beberapa kali selama pemeriksaan.
Untuk melakukan pemeriksaan IVA dibutuhkan tempat dan alat sebagai berikut :
- Ruang tertutup, karena pasien diperiksa dengan posisi litotomi
- Tempat tidur periksa yang memungkinkan pasien berada dalam posisi litotomi
- Terdapat sumber cahaya untuk melihat serviks
- Spekulum vagina
- Asam asetat 3-5%
- Swab (lidi kapas)
- Sarung tangan

Prosedur pemeriksaan IVA :


- Pasien berada di atas tempat tidur pemeriksaan dalam posisi litotomi.
- Pemeriksa duduk di depan vulva, dengan sumber cahaya terang berupa lampu sorot di
belakang pemeriksa.
- Visualisasi serviks dengan spekulum cocor bebek kering tanpa pelumas.
- Setelah serviks terlihat jelas, dengan sumber cahaya terang dari belakang pemeriksa,
serviks dipulas dengan asam asetat 3-5%. Ditunggu selama 1-2 menit. Dilihat perubahan
pada serviks dengan mata telanjang.
- Pada lesi prakanker akan terlihat warna bercak putih yang disebut acetowhite pada daerah
transformasi (IVA positif). Jika tidak terlihat bercak putih pada daerah transformasi disebut
IVA negatif.

Kategori yang dipergunakan untuk interpretasi hasil pemeriksaan IVA yaitu :


IVA negatif :
Serviks normal, permukaan epitel licin, tidak
ada reaksi acetowhite
Inflamasi :
Serviks dengan peradangan (servisitis),
kelainan jinak lainnya (polip)

IVA positif :
Terlihat bercak putih (reaksi acetowhite).
Semakin putih, tebal dan ukuran yang besar
dengan tepi tumpul, semakin berat derajat
kelainan.

Kanker serviks :
Gambaran pertumbuhan massa seperti
kembang kol, kemungkinan ditemukan jaringan
nekrotik, rapuh, mudah berdarah dengan
gambaran putih yang keras.

Bila ditemukan hasil IVA positif di pusat pelayanan kesehatan primer, maka pasien dirujuk ke
fasilitas kesehatan yang lebih tinggi untuk dilakukan konfirmasi diagnosis dengan kolposkopi
atau penatalaksanaan dengan cryotherapy.
Sebagai metode skrining, IVA memiliki kelebihan sebagai berikut :
1. Tidak invasif, pelaksanaannya lebih mudah dan lebih murah.
2. Dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan di semua tingkat pelayanan, termasuk perawat
dan bidan.
3. Alat yang dibutuhkan sangat sederhana.
4. Hasil didapat dengan segera.
5. Memiliki sensitivitas yang tinggi.
TIM MODUL PEMERIKSAAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Ketua : dr. Maya Mewengkang, SpOG


Sekretaris : dr. Suzanna P. Mongan, SpOG(K)
Anggota : Prof. DR. dr. Freddy Wagey, SpOG(K)
Prof. dr. Hermie M. M. Tendean, SpOG(K)
dr. Maria F. Loho,SpOG(K)
dr. Bismark Joel Laihad, SpOG(K)
dr. Frank Wagey, SpOG

TIM INSTRUKTUR SKILL LAB

1. dr. Maya Mewengkang, SpOG (Hp. 08124303917)


2. dr. Grace L. A. Turalaki, MKes
3. Prof. dr. Hermie M.M. Tendean, SpOG(K) (Hp. 0811438669)
4. dr. Maya F. Memah, MPdKed
5. Prof. DR. dr. Eddy Suparman, SpOG(K) (Hp. 0811431600)
6. dr. Christilia G. Wagiu, MKes
7. Prof. DR. dr. Freddy Wagey, SpOG(K) (Hp. 0811437099)
8. dr. Suzanna P. Mongan, SpOG(K) (Hp. 081343241818)
9. dr. Michaela E. Paruntu, MARS
10. dr. Edward Nangoy, MARS, SpFK
PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Waktu Deskripsi


# 1. Pengantar 2 menit Pengantar
# 2. Bermain Peran Tanya 15 menit 1. Mengatur posisi duduk mahasiswa,
& Jawab 2. Dua Orang instruktur memberikan
contoh bagaimana cara melakukan
Pemeriksaan Ginekologi mengguna-
kan Spekulum vagina dan peme-
riksaan Bimanual.Satu orang
instruktur sebagai penolong dan yang
lain sebagai ibu/pasien. Mahasiswa
menyimak/mengamati peragaan
dengan menggunakan Penuntun
Belajar,
3. Memberikan kesempatan kepada
Mahasiswa untuk bertanya dan
Instruktur memberikan penjelasan
tentang aspek-aspek yang penting
# 3. Praktek bermain peran 50 menit 1. Mahasiswa dibagi menjadi pasang-
dengan Umpan Balik an-pasangan. Seorang mentor diper-
lukan untuk mengamati 3 pasangan.
2. Setiap pasangan berpraktek melaku-
kan kunjungan (seorang mahasiswa
menjadi penolong dan yang lainnya
menjadi ibu/pasien) secara serempak
3. Mentor berkeliling diantara maha-
siswa dan melakukan supervisi
menggunakan ceklis
4. Mentor memberikan tema khusus
umpan balik kepada setiap pasangan
# 4. Curah Pendapat/ 15 menit 1. Curah Pendapat/Diskusi : Apa yang
Diskusi dirasakan mudah? Apa yang sulit?
Menanyakan bagaimana perasaan
mahasiswa yang berperan sebagai ibu.
Apa yang dapat dilakukan oleh bidan
agar ibu merasa lebih nyaman?
2. Instruktur menyimpulkan dengan
Menjawab pertanyaan terakhir dan
memperjelas hal-hal yang masih
belum dimengerti
Total waktu 150 menit
PENUNTUN BELAJAR
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN
GINEKOLOGI
NO. LANGKAH KLINIK KET
A. ANAMNESIS DAN PERSETUJUAN PEMERIKSAAN
1. Menyapa pasien dan memperkenalkan diri
2. Lakukan anamnesis secara sistematis:
- Identitas pasien
- Keluhan utama
- Perlangsungan penyakit/keluhan
- Jumlah anak dan siklus haid
- Riwayat penyakit
- Riwayat berobat
3. Jelaskan tentang prosedur pemeriksaan
4. Jelaskan tentang tujuan pemeriksaan
5. Jelaskan bahwa proses pemeriksaan mungkin akan menimbulkan perasaan
khawatir atau kurang menyenangkan tetapi pemeriksa berusaha
menghindarkan hal tersebut
6. Pastikan bahwa pasien telah mengerti prosedur dan tujuan pemeriksaan
7. Mintakan persetujuan lisan untuk melakukan pemeriksaan.
B. PERSIAPAN
1. PASIEN
Kapas dan larutan antiseptic
Tampong tang
Spekulum cocor bebek (Graves speculum)
Meja instrumen
Ranjang ginekologi dengan penopang kaki
Lampu sorot
2. PEMERIKSA
Sarung tangan DTT
Apron dan baju periksa
Sabun dan air bersih
Handuk bersih dan kering
C. MEMPERSIAPKAN PASIEN
1. Minta pasien untuk mengosongkan kandung kemih dan melepas pakaian dalam
2. Persilahkan pasien untuk berbaring di ranjang ginekologi
3. Atur pasien pada posisi litotomi.
4. Hidupkan lampu sorot, arahkan dengan benar pada bagian yang akan diperiksa
D. MEMAKAI SARUNG TANGAN
1. Cuci tangan kemudian keringkan dengan handuk bersih.
2. Buka lipatan sarung tangan, ambil sarung tangan dengan ibu jari dan telunjuk
tangan kanan pada bagian sebelah dalam kemudian pasang sesuai dengan jari-
jari tangan kiri. Tarik pangkat/gelang sarung tangan untuk mengencangkannya.
3. Ambil sarung tangan kanan dengan tangan kiri (yang telah menggunakan
sarung tangan) dengan menyelipkan jari-jari tangan kiri dibawah lipatan sarung
tangan, kemudian tahan pangkal sarung tangan tersebut dengan ibu jari tangan
kiri.
4. Pasang sarung tersebut pada tangan kanan, sesuaikan dengan alur masing-
masing jari tangan, kemudian kencangkan dengan cara menarik
pangkal/gekang sarung tangan.
E. PEMERIKSAAN
1. Duduklah pada kursi yang telah disediakan, menghadap ke aspekus genitalis
penderita.
2. Ambil kapas, basahi dengan larutan antiseptik kemudian usapkan pada daerah
vagina, vulva dan perineum.
. Lakukan periksa pandang (inspeksi) pada daerah vulva dan perineum
4. Buka celah antara kedua labium mayus, perhatikan muara uretra dan
introitus (bila kandung kemih belum dikosongkan, lakukan pemasangan
kateter untuk mengeluarkan air kemih)
5. Raba dan telusuri labium mayus kanan dan kiri (terutama dibagian kelenjar
Bartolin) dengan ibu jari dan ujung telunjuk (perhatikan dan catat kelainan-
kelainan yang ditemukan).
6. Ambil spekulum dengan tangan kanan, masukkan ujung telunjuk kiri pada
introitus (agar terbuka), masukkan ujung spekulum dengan arah sejajar
introitus (yakinkan bahwa tidak ada bagian yang terjepit) lalu dorong bilah ke
dalam lumen vagina.
7. Setelah masuk setengah panjang bilah, putar spekulum 90 hingga tangkainya
ke arah bawah.
Atur bilah atas dan bawah dengan membuka kunci pengatur bilah atas
bawah (hingga masing-masing bila menyentuh dinding atas dan bawah
vagina).
8. Tekan pengungkit bilah sehingga lumen vagina dan serviks tampak jelas
(perhatikan ukuran dan warna porsio, dinding dan sekret vagina atau forniks).
9. Setelah periksa pandang selesai, lepaskan pengungkit dan pengatur jarak bilah,
kemudian keluarkan spekulum.

GAMBAR 1. PEMERIKSAAN INSPEKULO


10. Letakkan spekulum pada tempat yang telah disediakan
11. Berdirilah untuk melakukan tuse vaginal, buka labium mayus kiri dan kanan
dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, masukkan jari telunjuk dan tengah
tangan kanan ke dalam vagina (vaginal toucher).
12. Letakkan ujung-ujung jari tangan kiri pada suprasimfisis, tentukan tinggi
fundus uteri (apabila besar kandungan memungkinkan untuk diraba dari luar).
Tangan dalam memeriksa dinding vagina, kemudian secara bimanual
tentukan besar uterus, konsistensi dan arahnya. Periksa konsistensi
serviks, keadaan parametrium dan kedua adneksa.
Pindahkan jari-jari tangan luar dan dalam ke bagian isthmus (tentukan
apakah ada tanda Hegar, dengan mencoba untuk mempertemukan kedua
ujung jari tangan luar dan dalam).

GAMBAR 2. PEMERIKSAAN BIMANUAL UNTUK MENILAI UTERUS

GAMBAR 3. PEMERIKSAAN BIMANUAL UNTUK MENILAI ADNEKSA

13. Tangan kiri menahan uterus pada bagian suprasimfisis, keluarkan jari tengah
dan telunjuk tangan kanan.
14. Angkat tangan kiri dari dinding perut, usapkan larutan antiseptik pada bekas
sekret/cairan di dinding perut dan sekitar vulva/perineum.
15. Beritahu ibu bahwa pemeriksaan sudah selesai dan persilahkan ibu untuk
mengambil tempat duduk.
F. PENCEGAHAN INFEKSI
1. Kumpulkan semua peralatan yang telah dipergunakan kemudian masukkan
dalam wadah yang berisi larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
2. Masukkan sampah bahan habis pakai pada tempat yang telah disediakan
(tempat sampah medis). Seka bagian-bagian yang dicemari sekret/cairan tubuh
dengan larutan klorin 0,5%.
3. Masukkan tangan ke dalam lauratan klorin 0,5%, bersihkan dari
sekret/cairan tubuh, kemudian lepaskan sarung tangan secara terbalik dan
rendam dalam larutan tersebut selama 10 menit.
4. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
5. Keringkan dengan handuk yang bersih
G. PENJELASAN HASIL PEMERIKSAAN
1. 1. Jelaskan pada pasien tentang hasil pemeriksaan
2. 2. Jelaskan tentang diagnosis dan rencana pengobatan
3. 3. Pastikan pasien mengerti apa yang telah dijelaskan
4. 4. Minta persetujuan tertulis (apabila akan dilakukan pemeriksaan atau
tindakan lanjutan).
5. 5. Persilahkan ibu ke ruang tunggu (apabila pemeriksaan selesai) atau ke
ruang tindakan (untuk proses/tindakan lanjutan).

BUKU ACUAN
1. Pemeriksaan Obstetri dan ginekologi. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo, 2006
2. Cunningham, Leveno, et al. Williams Gynecology 24th ed. McGraw-Hill, 2014
DAFTAR TILIK
KETRAMPILAN PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
Petunjuk : Berilah angka (0) didalam kotak yang tersedia jika keterampilan/kegiatan tidak
dilakukan, angka ( 1 ) jika belum memuaskan atau ( 2 ) jika memuaskan

NO ASPEK YANG DINILAI NILAI


0 1 2
Ananmnesis
1. Menyapa pasien dan memperkenalkan diri
2. Lakukan anamnesis secara sistematis
3. Jelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan
4. Jelaskan prosedur pemeriksaan
5. Minta persetujuan lisan untuk melakukan pemeriksaan
Persiapan Pemeriksaan
6. Persiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
7. Pastikan kandung kemih pasien sudah dikosongkan
8. Kandidat akan melakukan pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan fisis umum
9. Kandidat lakukan pemeriksaan fisis abdomen
Pemeriksaan Ginekologi
10. Beri instruksi berbaring dengan posisi litotomi dan melepaskan pakaian dalam
11. Cuci tangan dan pakai sarung tangan dengan baik dan benar
12. Pemeriksa duduk menghadap ke aspektus genitalis:
13. - Lakukan inspeksi genitalia interna
14. - Lakukan palpasi genitalia eksterna
15. - Lakukan inspekulo dengan memasukkan spekulum
16. Pemeriksa berdiri untuk melakukan pemeriksaan bimanual
Tindakan Pasca Pemeriksaan
17. Lakukan dekontaminasi alat dalam larutan chlorin 0,5% selama 10 menit
18. Buang sampah habis pakai pada tempat yang tersedia
19. Buka sarung tangan dan cuci tangan pasca tindakan
20. Menyampaikan hasil pemeriksaan dan diagnosis
21 Menyampaikan rencana pemeriksaan selanjutnya
Jumlah Nilai

GLOBAL PERFORMANCE: berikan penilaian anda secara keseluruhan terhadap penampilan


kandidat: 1 : KURANG
2 : CUKUP
3 : MEMUASKAN
4 : SANGAT MEMUASKAN
LEMBAR PENILAIAN MAHASISWA KETERAMPILAN PEMERIKSAAN
IN-SPEKULO & BIMANUAL
Nama Mahasiswa : Nama Penguji : .
NIM : . Tandatangan : .

Skor
No Aspek Keterampilan yang Dinilai
0 1 2
1 Melakukan anamnesis kasus ginekologi (simulasi)
2 Cek instrument dan material
3 Meminta pasien untuk tenang dalam posisi ginekologi
4 Mengoreksi posisi pasien (perineum tepat di tepi meja)
5 Memakai sarung tangan secara aseptik (melepas cincin, jam, dll)
6 Melakukan simulasi toilet vulva dan sekitarnya
7 Melakukan simulasi kateterisasi
8 Melakukan inspeksi area mons pubis, labia mayor dan labia minor
9 Memilih spekulum dan memasang sekrupnya
10 Memasukkan spekulum dengan tangan kanan
11 Memperlihatkan serviks dengan membuka speculum, mengoreksi
penerangan lampu (bila perlu)
12 Mengunci speculum
13 Melakukan simulasi membersihkan vagina menggunakan desinfektan
14 Melaporkan kondisi serviks
15 Melakukan observasi dinding vagina dengan memutar spekulum 90 o ke
kiri dan ke kanan
16 Melepaskan spekulum setelah mengendurkan sekrup yang terkunci
17 Meletakkan spekulum di tempatnya
18 Melakukan simulasi melubrikasi tangan dengan cairan lubrikasi
19 Berdiri, mengambil posisi dengan tangan kanan di vulva, dan tangan
kiri di supra pubis
20 Melakukan pemeriksaan bimanual dengan jari telunjuk dan jari tengah
21 Tangan kiri pada suprapubis membantu mengevaluasi organ yang
diperiksa
22 Melakukan simulasi membuka sarung tangan dan mencuci tangan
23 Melaporkan hasil pemeriksaan
24 Meletakkan instrumen ditempatnya
PENILAIAN PROFESIONALISME 1 2 3 4
JUMLAH SKOR

0 = Tidak dilakukan mahasiswa, atau dilakukan tetapi salah


1 = Dilakukan, tapi belum sempurna
2 = Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa karena
situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = Jumlah Skor x 100%


52
LEMBAR PENILAIAN MAHASISWA
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN PAP
SMEAR
Nama Mahasiswa : Nama Penguji : .
NIM : . Tandatangan : .

Skor
No Aspek Keterampilan yang Dinilai
0 1 2
1 Melakukan anamnesis kasus ginekologi (simulasi)
2 Cek instrument dan material
3 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
4 Meminta pasien untuk tenang dalam posisi ginekologi
5 Meminta ijin pasien untuk memulai pemeriksaan
6 Mengoreksi posisi pasien (perineum tepat di tepi meja, kaki pada pijakan)
7 Memakai sarung tangan secara aseptik (melepas cincin, jam, dll)
8 Inspeksi daerah vulva (melihat adanya lesi kulit, massa, discharge dari
vagina)
9 Melakukan toilet vulva
10 Memilih spekulum dan memasang sekrupnya
11 Membuka bibir vagina
12 Memasukkan spekulum dalam keadaan tertutup dengan tangan kanan
13 Menampilkan portio dengan membuka spekulum, mengoreksi penerangan
lampu (bila perlu)
14 Menggerakkan spekulum ke atas dan ke bawah bila portio belum terlihat
15 Mengunci speculum
16 Melaporkan kondisi portio dan serviks
17 Membersihkan portio dari lendir/ eksudat/ darah menggunakan lidi kapas
18 Mengambil bahan endoserviks dengan cytobrush, pengambilan dengan lidi
kapas (cotton bud).
19 Mengambil bahan ektoserviks dengan spatula Ayre ( ujung yang pendek)
dimasukkan ke dalam endoserviks sedalam mungkin, dimulai dari arah
jam 12 dan diputar 3600 searah jarum jam
20 Membuat apusan : mengoleskan spatula pada kaca objek bersih dengan
membentuk sudut 450 satu kali usapan, diberi label identitas pasien
21 Memfiksasi sediaan (dalam 10-15 detik) dengan Alkohol 95%
22 Melepaskan spekulum setelah mengendurkan sekrup yang terkunci
23 Meletakkan spekulum pada tempatnya
24 Membersihkan vulva dengan desinfektan
25 Memberi penjelasan pada pasien tentang kemungkinan efek samping
tindakan yang dapat terjadi dan apa yang harus dilakukan pasien
PENILAIAN ASPEK PROFESIONALISME 0 1 2 3 4
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa, atau dilakukan tetapi salah
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa = Jumlah Skor x 100%
54
CEKLIS PENILAIAN KETERAMPILAN PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
PEMERIKSAAN IVA TEST

Skor
No Aspek Keterampilan yang Dinilai
0 1 2
1 Cek instrument dan material
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Meminta ijin pasien untuk memulai pemeriksaan
4 Mengoreksi posisi pasien (perineum tepat di tepi meja, kaki pada
pijakan)
5 Memakai sarung tangan secara aseptik (melepas cincin, jam, dll)
6 Inspeksi daerah vulva (melihat adanya lesi kulit, massa, discharge dari
vagina)
7 Melakukan toilet vulva dan sekitarnya
8 Memilih spekulum dan memasang sekrupnya
9 Membuka bibir vagina
10 Meminta pasien untuk mengambil nafas dalam
11 Memasukkan spekulum dalam keadaan tertutup dengan tangan kanan
12 Menampilkan portio dengan membuka spekulum, mengoreksi
penerangan lampu (lampu sorot di belakang pemeriksa)
13 Menggerakkan spekulum ke atas dan ke bawah bila portio belum
terlihat
14 Mengunci speculum
15 Melaporkan kondisi portio dan serviks
16 Membersihkan portio dari lendir/ eksudat/ darah menggunakan lidi
kapas
17 Mencelupkan lidi kapas ke dalam cairan asam asetat 3-5%
18 Mengusap seluruh permukaan portio searah jarum jam menggunakan
lidi kapas yang sudah dibasahi asam asetat 3-5%, kemudian ditunggu
1-2 menit
19 Melakukan inspeksi seluruh permukaan portio secara teliti dengan
menggunakan lampu sorot
20 Melepaskan spekulum setelah mengendurkan sekrup yang terkunci
21 Meletakkan spekulum pada tempatnya
22 Membersihkan vulva dengan desinfektan
23 Memberi penjelasan pada pasien tentang hasil pemeriksaan dan apa
yang harus dilakukan pasien
PENILAIAN ASPEK PROFESIONALISME 0 1 2 3 4
JUMLAH SKOR

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan
mahasiswa karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak
diperlukan dalam skenario yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = Jumlah Skor x 100%


50