Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kunjungan ke Taman

Margasatwa Ragunan

DISUSUN OLEH:

VINA ANGGRAINI (34)

SMA NEGERI 47 JAKARTA


Jl. Delman Utama I RT 001 RW 1, Kebayoran Lama Selatan, 12240
Telp. (021) 7260904
Jakarta selatan
Pendahuluan
Kingdom animalia adalah salah satu kingdom yang memiliki anggota
yang paling banyak dan bervariasi. Secara garis besar kingdom animalia dapat
dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu golongan vertebrata (hewan
bertulang belakang) dan golongan invertebrata (hewan tak bertulang belakang.

Sehubungan dengan selesainya pembelajaran bab Kingdom Animalia


pada kelas sepuluh jurusan matematika ilmu alam di SMAN 47 Jakarta, guru
bidang studi biologi kelas sepuluh menyarankan agar siswa siswinya melakukan
kunjungan ke Taman Margasatwa Ragunan yang terletak di Jl. Harsono RM. No.
1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dalam kunjungan ini saya diminta
untuk mengamati salah satu ordo dari kelas mamalia, yaitu Primates.

Kunjungan ini saya lakukan untuk mengetahui tingkah laku, ciri


morfologi, habitat, dan jenis makanannya. Dengan mengamatinya secara
langsung, maka diharapkan kami dapat mengetahui secara lebih akurat mengenai
cara hidup dari ordo Primates tersebut.

Besar harapan saya agar laporan ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.
Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam laporan ini.

Tangerang Selatan, 16 April 2016


Penulis

Vina Anggraini

A. Kronologis Perjalanan
Hari Minggu, 10 April 2016, saya bersama 3 teman saya yaitu Dhyhan,
Luthfiah, dan Puti berangkat ke Taman Margasatwa Ragunan yang beralamat di
Jl. Harsono RM. No. 1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pukul 09.40
WIB dari Lawson Tanah Kusir menggunakan mobil. Perjalanan tersebut
memakan waktu hampir 40 menit, dengan kondisi lalu lintas yang cukup lancar.
Saat kami sampai disana, sudah banyak pengunjung yang datang. Mereka datang
dari berbagai kalangan, ada yang tua dan ada yang muda. Ada yang rombongan
dan ada yang hanya dua-tiga orang.

Kami membayar 4 tiket masuk untuk orang dewasa yang masing-masing


seharga Rp4000,-. Ketika memasuki area Taman Margasatwa Ragunan saya
disambut oleh betapa rindangnya area tersebut. Ini tempat wisata yang menarik
dan mendidik. Tidak diragukan lagi tempat ini termasuk daftar salah satu tempat
wisata terfavorit di ibu kota.

Setelah memasuki area Taman Margasatwa Ragunan, saya bergegas


menuju ke peta Taman Margasatwa Ragunan yang terletak di dekat pintu masuk
untuk mencari arah ke tujuan saya yakni Pusat Primata Schmutzer.

Tak jauh dari peta lokasi yang saya lihat, terlihat kandang Gajah Sumatera,
Elephas maximus sumatranus. Tubuh besarnya berjalan mengelilingi kandangnya
dan belalainya melambai kepada kerumunan anak-anak, membuat kerumunan itu
melompat gembira.

Tak lama saya berjalan, saya menemukan kandang burung unta, Struthio
camelus. Hewan dari kelas Aves ordo Struthioniformes ini memiliki bulu lebat
berwarna hitam dan kaki serta leher yang panjang. Hewan yang menurut saya
terlihat sangat anggun. Saya ng sekali saya harus mematuhi jadwal untuk
langsung mengunjungi Pusat Primata Schmutzer, tujuan utama kunjungan saya
hari itu sehingga saya harus segera berjalan menuju tempat tersebut. Meskipun
begitu saya masih menemui beberapa hewan lagi di perjalanan seperti Kapibara
Hydrochoerus hydrochaeris, dan Komodo Varanus komodoensis.

Untuk bisa masuk ke dalam


Schmutzer, saya harus membayar
Rp7.500,- untuk satu orang dewasa. Saya menitipkan tas bawaan dan membawa
ponsel untuk mengabadikan kenangan saya disana. Desain bagunan itu sendiri
sangat menarik menurut kami.

Saat memasuki Pusat Primata Schmutzer, saya


langsung disuguhi pemandangan indah dari lantai atas. Di
bawah saya terdapat pepohonan rindang dan tumbuhan
hijau yang rimbun. Meskipun cuaca cukup terik saat itu,
rasa bahagia dan takjub membuat saya bersemangat.

Saya berjalan menikmati indahnya pemandangan sekaligus mengobservasi

(Pintu masuk Pusat Primata Schmutzer) ciri umum dari primata. Sedikit cerita menarik saat saya melihat
orangutan. Saat itu terdapat dua ekor orangutan yang saya duga
sebagai seekor induk dan anak orangutan. Saat saya mendekat ke arah orangutan
betina yang saya anggap sebagai induk itu saya melihat bahwa orangutan tersebut
seperti mengajak berinteraksi kami, bahkan saya menganggap bahwa ia sedang
menggoda kami. Ia memainkan tongkat yang dipegangnya, meletakkan telapak
tangannya di kaca di hadapan saya dan sebagainya. Menurut saya tingkah tersebut
sangat menarik, tidak lama anaknya yang saya duga sebagai jantan mendekat ke
induknya dan mulai berinteraksi dengan kami. Lucunya, si anak ini terlihat sedikit
malu malu saat berinteraksi dengan kami, sehingga saya betah berlama lama di
lokasi teresbut. Setelah saya puas mengamati hewan-hewan tersebut, saya keluar
dari bangunan Pusat Primata Schmutzer. Di sebelah bangunan itu, berdiri sebuah
museum khusus primata. Di dalamnya ada patung orangutan, atau Pongo borneo,
yang dicat warna-warni oleh berbagai tokoh berbakat. Ada gambaran habitat asli
berbagai primata, maket dari Pusat Primata Schmutzer, patung tangan berbagai
primata, kronologi perkembangan primata, dan ada juga ruang teater, namun saat
saya datang, pertunjukannya belum dimulai sehingga saya tidak bisa menonton
pertunjukanitu.

Tidak terasa matahari sudah berada di puncaknya, saya beserta teman saya
bergegas ke masjid untuk shalat dzuhur. Jujus saja, saya kecewa dengan kondisi
masjidnya. Air untuk wudhu saat itu sepertinya habis dan mengalir sedikit. Dan
luas dari masjid tersebut tidak cukup untuk banyaknya pengunjung yang ingin
menunanaikan ibadah dengan nyaman. Saya harap pengelola Taman Margasatwa
dapat mengelola tempat beribadah dengan lebih baik.

Dikarenakan teman saya tidak membawa bekal makanan dari rumah, saya
dan teman-teman yang lain menyarankannya untuk membeli makanan disekitar
lokasi. Awalnya ia merasa ragu untuk membeli makanan di lokasi, dikarenakan
banyak yang mengatakan tentang harga makanan yang jauh lebih mahal di
bandingkan harga di luar lokasi. Namun, dikarenakan rasa lapar setelah
mengelilingi Pusat Primata Schmutzer akhirnya ia memutuskan untuk membeli
makanan untuk memuaskan rasa laparnya. Walaupun demikian ia harus
merasakan kebenaran bahwa makanan di Taman Margasatwa Ragunan jauh lebih
mahal dibandingkan harga makanan di luar lokasi. Sebungkus PopMie yang biasa
dihargai Rp5000,- di jual seharga Rp10.000,- di lokasi dan sebotol Teh Pucuk
Harum yang biasa dihargai Rp3000,- dijual seharga Rp8000,- di lokasi.

Setelah saya bersantap siang, saya kembali menjelajahi tempat yang belum
saya kunjungi. Saya kembali melihat ke penunjuk arah untuk mencari lokasi yang
akan saya kunjungi, saya memutuskan untuk berjalan ke arah utara, yaitu lokasi
Aquarium air tawar, kandang Macan, dan kandang reptil. Saya memulai berjalan
dari Pusat Primata Schmutzer yang terletak di selatan Taman Margasatwa tersebut
ke lokasi Aquarium air tawar. Cukup lama saya berjalan menuju lokasi yang saya
tuju dikarenakan rasa lelah yang telah menghinggapi saya setelah mengelilingi
Pusat Primata Schmutzer. Sepanjang perjalanan saya mengeluhkan tentang
berbagai hal, bercanda tawa untuk mengurangi kelelahan dan sejenak berhenti jika
melihat hewan yang belum saya kunjungi tadi. Berkat canda tawa, keimutan rakun
Procyon lotor dan kecantikan Pelikan Pelecanus conspicillum saya berhasil tiba di
tujuan saya yaitu aquarium air tawar. Jujur, saya sedikit kecewa dengan kondisi
aquarium air tawarnya, ada aquarium yang kosong dan rusak, dan kondisi
aquarium yang lain pun kurang baik. Setelah itu saya mengunjungi kandang
kandang disekitarnya, yaitu kandang macan dan reptil. Selesai melihat hewan di
sana saya memutuskan untuk menyudahi kunjungan saya ke Taman margasatwa
Ragunan.
Saya kembali pada pukul 14.00 WIB. Saya pergi ke arah Lawson Tanah
Kusir menggunakan jasa grabcar. Perjalanan pulang saya tempuh lebih lama
dibandingkan saat saya berangkat, dikarenakan kondisi lalu lintas yang jauh lebih
padat saat kami pulang. Kami tiba di Lawson Tanah Kusir sekitar pukul 15.00
WIB dan tak lama satu persatu dari kami dijemput oleh orang tua masing masing
untuk kembali kerumah.

B. Hasil Pengamatan

Primata merupakan salah satu


ordo dari kelas Mamalia, fillum
Chordata, dan termasuk dalam
kingdom Animalia. Merupakan
pemakan segala atau omnivora.
Memiliki ibu jari yang dapat
disentuhkan ke jari lain. Contoh
(Di dalam Pusat Primata Schmutzer) Primata adalah orangutan (Pongo
pygmaeus), beruk (Macaca sp.), dan lutung jawa (Trachypithecus auratus).

Seluruh primata memilik lima jari atau pentadactyly, bentuk gigi yang
sama dan rancangan tubuh primitif. Kekhasan lain dari primata adalah kuku
jari. Ibu jari dengan arah yang berbeda juga menjadi salah satu ciri khas primata,
tetapi tidak terbatas dalam primata saja; opossum juga memiliki jempol
berlawanan.

Dalam primata, kombinasi dari ibu jari berlawanan, jari kuku pendek
(bukan cakar) dan jari yang panjang dan menutup ke dalam adalah sebuah relik
dari posisi jari (brachiation) moyangnya pada masa lalu yang barangkali
menghuni pohon. Semua primata, bahkan yang tidak memiliki sifat yang biasa
dari primata lainnya (seperti loris), memiliki karakteristik arah mata yang bersifat
stereoskopik (memandang ke depan, bukan ke samping) dan postur tubuh tegak.

Berikut spesies-spesies dari ordo Primata yang saya amati.


1. Gorila Dataran Rendah

Klasifikasi

Ordo : Primata

Sub Ordo :
Anthropoidea

Famili : Pongidae

Genus : Gorila

Spesies : Gorila gorila

Gorilla mempunyai tangan dan kaki yang panjang, dimana tangannya lebih
panjang dari kaki. Dada gorila besar dan sebagian besar tubuhnya berbulu, kecuali
jari-jemari, wajah, ketiak, telapak kaki dan telapak tangan. Kepala gorila besar,
matanya kecil dan berwarna kecoklatan. Gorila tidak mempunyai ekor. Setiap
ekor gorila mempunyai hidung yang unik, seperti manusia yang mempunyai sidik
jari yang unik.

Panca indra gorila hampir serupa dengan manusia. Tubuh gorila jantan
hampir dua kali besarnya dibandingkan gorila betina. Gorila kebanyakan makan
tumbuh-tumbuhan. Setiap hari gorila butuh sekitar 25 kilogram makanan yang
terdiri dari daun-daunan, bunga-bunga, biji-bijian, batang dan tangkai pohon, dan
kuncup bunga. Kadang-kadang, gorila juga makan semut dan sejenis rayap.
Karean mendapat cairan cukup dari makanannya, gorila sangat jarang minum.

Habitatnya yaitu hutan primer dan sekunder yang lebat, daerah rawa
dataran rendah hutan pegunungan 3050 m di atas permukaan laut.

Gorila bisa hidup sampai 50 tahun di kebun binatang. Di alam liar, gorila
biasanya mencapai usai 35 tahun. Gorila bisa melakukan reproduksi saat berusia
10-12 tahun. Gorila betina mengandung sekitar 8 sampai 9.5 bulan dan bisa
melahirkan tiga gorila selama hidupnya. Bayi gorila bisa merangkak di usia
sekitar 2 bulan dan bisa berjalan di usia 9 bulan (jauh lebih awal dari bayi
manusia).
Hal yang unik pada gorilla di Schmutzer ini adalah, pada awal masuk ke
lokasi ini pengunjung akan disuguhkan sejarah singkat tentang masing masing
gorilla di tempat ini. Mengenai nama, tempat tanggal lahir, orang tua, bahkan
posisinya dalam kawanan gorilla itu.

2. Owa Kalawet

Klasifikasi

Ordo : Primata

Sub Ordo : Anthropoidea

Famili : Hylobatidae

Genus : Hylobates

Spesies : Hylobates agilis

Owa Kalawet bertubuh sedang. Panjang kepala dan tubuh hewan jantan
dewasa antara 462-475mm, sementara betinanya sedikit lebih besar (465-497
mm). Berat hewan jantan 4,9-6,5 kg, dan betinanya 5,9-6,8 kg.

Warna tubuhnya umumnya kehitaman hingga cokelat terang. Dengan


'topi/tudung' cokelat gelap, alis keputihan dan pipi serta dagu keputihan yang
mengesankan seperti berewok berwarna putih, melingkari wajah yang berwarna
hitam. Bagian dada dan perut, sisi dalam tungkai, serta ujung tangan dan kaki
berwarna cokelat gelap, setidaknya lebih gelap dari bagian tubuh lainnya; jari-jari
tangan dan kaki kehitaman. Punggung bagian bawah lebih terang warnanya.
Owa kalawet merupakan hewan yang aktif pada siang hari dan hidup
dalam satu kelompok, hal ini membantu untuk menghindari ancaman predator.
Apabila dalam keadaan terancam, salah satu anggota kelompok akan
mengeluarkan suara yang khas untuk memberitahu adanya ancaman.

Berhabitat di hutan primer dataran rendah dan daerah hutan rawa sampai
ketinggian 1.200 m di atas permukaan laut. Sering juga terdapat di daerah
perbatasan antara hutan rawa dan tanah kering. Makanannya adalah buah-buahan,
dedaunan, bunga, serta biji dan serangga.

3. Beruk

Klasifikasi

Ordo : Primata

Sub Ordo : Anthropoidea

Famili : Cercopithecidae

Genus : Macaca

Spesies : Macaca
nemestrina

Beruk mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan Macaca pada umumnya.


Tubuh Beruk berukuran panjang 47-58.5 cm, dengan panjang ekor 14-23cm dan
berat tubuh kisaran 3.5-9 kg. Tubuhnya tertutup oleh mantel rambut berwarna
coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan. Di bagian kepala, leher, punggung
sampai ekor berwarna gelap dan dibagian lain berwarna terang, muka
dari samping nampak moncong ke depan sedang jika dilihat dari depan nampak
bulat, di bagian atas nampak rambut membentuk setengah lingkaran berwarna
coklat kemerahan.
Habitatnya di hutan dataran rendah, hutan sekunder, hutan pantai, daerah
rawa dan hutan pegunungan sampai ketinggian 1700 m diatas permukaan laut.
Makannya yaitu buah-buahan, pucuk daun, biji-bijian, dan serangga.

Satwa ini hidup diatas pohon. Perpindahan untuk mendapatkan


makanan biasanya dilakukan diatas tanah. Satwa ini hidup berkelompok terdiri
dari 5-6 ekor sampai 40 ekor. Kelompok ini tidak menetap di suatu areal tertentu,
namun selalu berpindah-pindah. Di dalam kelompok sering dibagi menjadi
kelompok-kelompok yang lebih kecil. Jika dalam keadaan bahaya akan
menunjukkan perlawanan dengan ekspresi gerakan mereka yang lebih agresif.

4. Monyet Dige

Klasifikasi

Ordo : Primata

Sub Ordo : Anthopoidea

Famili : Cercopithecidae

Genus : Macaca

Spesies : Macaca hecki

Umumnya monyet dige lebih pendek jika dibandingkan dengan ukuran


tubuh monyet sulawesi lainnya. Panjang tubuhnya berkisar antara 47,9-55,7 cm
dan berat tubuh berkisar antara 8,8-11,2 kg. Bentuk mukanya lebar dengan jambul
tegak.warna tubuh hitam kecoklatan, rambut bagian depan berwarna hitam sangat
gelap, sedangkan kakinya lebih terang. Ukuran bantalan tungging paling besarjika
dibandingkan jenis monyet lainnya, dan bentuknya menyerupai ginjal.

Berhabitat di hutan hujan tropis dataran rendah sampai pegunungan pada


ketinggian 1.800 m di atas permukaan laut, Macaca hecki sering berkelana di
dasar hutan dengan menggunakan empat anggota tubuhnya (quadropedal).
Umumnya Macaca hecki lebih cepat bergerak di dasar hutan dibandingkan
dengan di pohon. Macaca hecki aktif pada siang hari (diurnal). Tempat tidur
dipilih pada cabang batang utama, tidur berkelompok pada satu pohon, dan tidak
membuat sarang.

Masa kebuntingan 160-170 hari, melahirkan anak satu jarang yang


kembar. Anak yang baru lahir berwarna kehitaman. Jarak kelahiran anak dengan
yang lainnya sekitar 13 bulan. Hewan yang tersebar di bagian utara Sulawesi
Tengah ini memakan buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian dan juga serangga.

5. Kukang

Klasifikasi

Ordo : Primata

Sub Ordo : Prosimia

Famili : Lorisidae

Genus : Nycticebus

Spesies : Nycticebus
coucang

Merupakan jenis primata yang gerakannya lambat. Warna rambutnya


beragam, dari kelabu keputihan, kecoklatan, hingga kehitam-hitaman. Pada
punggung terdapat garis cokelat melintang dari belakang hingga dahi, lalu
bercabang ke dasar telinga dan mata. Berat tubuhnya berkisar antara 0,375-0,9 kg,
dan panjang tubuh hewan dewasa sekitar 1930 cm.

Kukang adalah primata bertubuh kecil, kekar, dan berekor sangat pendek.
Kepalanya bulat, moncongnya meruncing, dan matanya besar. Rambut tubuhnya
halus dan lebat. Pola warnanya berbeda-beda menurut spesies sehingga digunakan
pula untuk identifikasi, namun umumnya bervariasi dari cokelat kelabu pucat
hingga warna tengguli. Sebuah garis cokelat berjalan dari ubun-ubun hingga
tengah punggung atau pangkal ekor. Biasanya terdapat lingkaran gelap yang
mengelilingi kedua mata, diseling oleh jalur pucat atau putih yang membujur di
antara kedua mata hingga ke dahinya. Di malam hari, matanya memantulkan
cahaya obor dengan jelas.

Gigitan kukang dikenal berbisa; suatu kemampuan yang jarang terdapat di


kalangan mamalia namun khas pada kelompok primata lorisid. Bisa tersebut
didapat kukang dengan menjilati sejenis kelenjar di lengannya; racun pada cairan
kelenjar itu diaktifkan tatkala bercampur dengan ludah. Gigitan berbisa itu
berguna untuk membuat jera pemangsa, dan juga untuk melindungi bayinya
dengan menyapukannya pada rambut tubuh anaknya.

Habitatnya di hutan bakau, hutan sekunder dan primer, hutan bambu, dan
daerah perkebunan. Makanannya adalah buah, serangga. keong, telur burung,
kadal, cicak, dan biji-bijian.

Kukang (Nycticebus sp.) memiliki penampilan yang lucu dan


menggemaskan sehingga banyak masyarakat umum yang gemar menjadikan
primata ini sebagai hewan peliharaan. Karenanya, semua jenis kukang telah
terancam oleh kepunahan. Kukang telah dilindungi oleh hukum Indonesia,
sehingga memperdagangkannya tergolong melanggar hukum (ilegal) dan
kriminal.

6. Siamang Kerdil

Klasifikasi

Ordo : Primata

Subordo : Anthropoidea

Famili : Hylobatidae

Genus : Hylobates

Spesies : Hylobates klossii


Siamang ditutupi oleh rambut yang lebat di sebagian besar tubuhnya,
kecuali wajah, jari, telapak tangan, ketiak, dan telapak kaki mereka. Siamang
memiliki tangan dengan empat jari panjang ditambah jempol yang lebih kecil.
Mereka memiliki kaki dengan lima jari, ditambah jempol kaki. Siamang bisa
memegang dan membawa barang-barang dengan kedua tangan dan kaki
mereka. Ketika mereka melakukan ayunan di pohon (disebut brachiating), mereka
menggunakan empat jari-jari tangan mereka seperti kail, tetapi mereka tidak
menggunakan jempol.

Siamang merupakan hewan yang lebih aktif pada siang hari. Mereka
bersosialisasi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari dua sampai tiga
ekor siamang. Berbeda dengan kera lainnya, siamang tidak mempunyai tempat
khusus untuk tidur. Mereka hanya tidur sendiri atau dengan beberapa ekor
siamang di celah antar cabang pada pepohoan. Mereka tidur dengan posisi tegak,
bersandar pada bantalan keras yang terletak di ujung belakang mereka. Bantalan
ini disebut ischial callosities.

Selain itu, siamang memiliki kantung tenggorokan yang biasa


disebut kantung gular. Kantung ini dapat mengembang menjadi besar seperti
kepala mereka yang berfungsi membuat pita suara lebih keras. Pada waktu dalam
keadaan bahaya, siamang betina akan mengeluarkan suara yang nyaring dan
diikuti oleh siamang jantan selama tiga hingga lima belas menit. Suara mereka
dapat terdengar dari jarak sekitar 6,5 km.

Habitatnya di hutan primer dan sekunder, daerah pantai atau hutan bakau
sampai daerah perbukitan. Siamang tidak dapat berenang dan takut air. Siamang
dapat bertahan hidup sekitar 35-40 tahun. Makanannya buah, dedaunan dan
serangga.
7. Simpanse

Klasifikasi

Ordo : Primata

Subordo : Anthropoidea

Famili : Pongidae

Genus : Pan

Spesies : Pan troglodytes

Simpanse adalah salah satu dari jenis primata tidak berekor. Simpanse
memiliki ukuran tubuh yang besar, dengan tinggi 77-92 cm untuk ukuran jantan,
dan untuk Simpanse betina memiliki tinggi antara 70-85 cm. Maksimal dari berat
tubuh Simpanse adalah 50 kg. Sekujur tubuhnya ditutupi oleh rambut yang lebat
dan panjang. Rambutnya berwarna hitam keabu-abuan. Simpanse memiliki rupa
muka dengan dagu agak menggantung, bibirnya tipis serta tonjolan di alis terlihat
jelas.

Hewan ini memiliki telinga berukuran cukup besar. Dada terlihat bidang,
dan anggota tubuhnya terlihat berukuran panjang, walaupun jari-jarinya terbilang
pendek. Wajah dari anak Simpanse sangat mirip dengan wajah induknya.
Perbedaannya hanya di telinga berwarna kemerahan serta rambutnya yang lebat
tidak lebat, serta tampak jarang.

Habitatnya di hutan savana kering, padang rumput, dan hutan hujan tropis.
Hewan ini lebih banyak hidup berada di atas pohon, dan bergerak berpindah dari
dahan dan ranting pohon, namun juga dapat ditemui di atas tanah. Makanannya
adalah bajing, kelinci, serangga, daun dan biji-bijian.
8. Orangutan

Klasifikasi

Ordo : Primata

Famili : Hominidae

Genus : Pongo

Spesies : Pongo pygmaeus

Mereka memiliki tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan
yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak
mempunyai ekor. Orangutan memiliki tinggi sekitar 1.25-1.5 meter. Tubuh
orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan. Mereka mempunyai kepala yang
besar dengan posisi mulut yang tinggi.

Saat mencapai tingkat kematangan seksual, orangutan jantan


memiliki pelipis yang gemuk pada kedua sisi, ubun-ubun yang besar, rambut
menjadi panjang dan tumbuh janggut disekitar wajah. Mereka
mempunyai indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan,
penciuman, pengecap, dan peraba. Berat orangutan jantan sekitar 5090 kg,
sedangkan orangutan betina beratnya sekitar 3050 kg.

Telapak tangan mereka mempunyai 4 jari-jari panjang ditambah 1 ibu


jari. Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip
dengan manusia. Orangutan masih termasuk dalam spesies kera
besar seperti gorila dan simpanse. Golongan kera besar masuk dalam
klasifikasi mammalia, memiliki ukuran otak yang besar, mata yang mengarah
kedepan, dan tangan yang dapat melakukan genggaman.
9. Lemur Ekor Cincin

Klasifikasi

Ordo : Primata

Sub Ordo : Prosimia

Famili : Lemuridae

Genus : Lemur

Spesies : Lemur catta

Hewan primata asal Madagaskar ini aktif di siang hari (diurnal) dan
menghabiskan sebagian besar waktunya di tanah (terestrial), meskipun mereka
juga dapat bergerak dengan baik di pepohonan.

Habitatnya di daerah semak belukar, gurun yang ditumbuhi pohon berduri,


dan hutan yang tumbuh di sepanjang sungai,

Karakteristik yang mencolok dari lemur ekor cincin adalah ekor mereka
yang panjang, berukuran sekitar 60 centimeter, yang dihiasi corak lingkaran
seperti cincin berwarna hitam dan putih.Tubuh mereka berwarna abu-abu
kemerahan yang bergradasi dari terang ke gelap. Mereka memiliki warna putih
pada bagian dalam tangan kaki mereka. Lemur ini memiliki telinga berwarna
putih dan lancip yang mirip dengan kucing. Lemur ekor cincin dewasa memiliki
berat rata-rata 2-2,4 kilogram dengan panjang tubuh beserta ekornya yang dapat
mencapai 95-110 cm..

Hewan ini memakan buah, bunga, daun, tanaman herbal dan tanaman yang
banyak mengandung getah.
10. Bekantan

Klasifikasi

Ordo : Primata

Famili : Cercopithecidae

Genus : Nasalis

Spesies : Nasalis larvatus

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis


monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan
merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis. Ciri-ciri
utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang
dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada
bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi
alam. Monyet betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai
pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai monyet
Belanda. Dalam bahasa Brunei (kxd) disebut bangkatan.

Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya dapat


mencapai 75cm dengan berat mencapai 24kg. Monyet betina berukuran 60cm
dengan berat 12kg. Spesies ini juga memiliki perut yang besar, sebagai hasil dari
kebiasaan mengonsumsi makanannya. Selain buah-buahan dan biji-bijian,
bekantan memakan aneka daun-daunan, yang menghasilkan banyak gas pada
waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan
jadi membuncit. Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan
pantai di pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai).

Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup


dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem
sosial bekantan pada dasarnya adalah One-male group, yaitu satu kelompok terdiri
dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga
terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Jantan
yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung
dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk
menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik,
kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang
kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya.
Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik,
sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.

Bekantan merupakan maskot fauna provinsi Kalimantan Selatan.


Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus
berlanjut, serta sangat terbatasnya daerah dan populasi habitatnya, bekantan
dievaluasikan sebagai Terancam Punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini
didaftarkan dalam CITES Appendix.
C. Dokumentasi

(Sesaat setelah memasuki kawasan Ragunan) (Gajah Sumatera Elephas maximus) sumatranus)

(Burung Unta Struthio camelus) (Kapibara Hydrochoerus hydrochaeris)

(Patung primata di depan Schmutzer) (Orangutan Pongo pygmaeus)


(Salah satu spot di Schmutzer)

(Didepan Museum Primata)

(Macan Tutul Srilanka Panthera pardus kotya)

(Pelikan Pelecanus conspicillum)