Anda di halaman 1dari 11

URAIAN TUGAS AUDITOR

INSPEKTORAT
June 22, 2016 by Novi Cahyo Prabowo in Manajemen Fungsi Audit Internal Sektor Publik.
Dimilikinya anggaran dasar fungsi pengawasan yang tertuang di dalam dokumen audit charter memungkinkan inspektorat
sebagai fungsi pengawasan dapat melaksanakan aktivitas kegiatan pekerjaan auditnya dengan independen dan obyektif.
Namun, satu hal penting lainnya yang juga harus menjadi pertimbangan untuk pelaksanaan pekerjaan audit yang efektif adalah
masalah koordinasi pekerjaan dan pembagian tugas dari auditor yang melakukan pekerjaan audit. Bahwa fungsi pengawasan
inspektorat tidak akan efektif tanpa adanya penempatan personil yang tepat sesuai dengan pembagian tugas dan
tanggungjawabnya. Wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki seorang inspektur untuk mengarahkan fungsi pengawasan
yang dipimpinnya tidak akan berfungsi efektif tanpa adanya dukungan dari para stafnya yang tepat. Setiap staf audit harus
memiliki kedudukan organisasi yang jelas dalam posisi hirarkis dan tingkatan remunerasinya. Untuk mendapatkan keinginan
ini, perlu dibuatkan uraian tugas atas setiap auditor yang ada di fungsi pengawasan.

Uraian tugas memiliki pengaruh signifikan di fungsi pengawasan. Uraian tugas menggambarkan peran masing-masing pejabat
pengawas pemerintah (auditor) di fungsi pengawasan (Inspektorat). Fungsi pengawasan harus diisi oleh orang-orang yang
kompeten untuk pelaksanaan tugas. Perkembangan profesi audit internal saat ini sangat menuntut auditor yang profesional atas
berbagai upaya pelaksanan audit yang dilaksanakan. Hanya auditor yang memiliki kinerja baik dan terbaiklah yang dapat
dipertahankan. Prinsipnya adalah lebih baik memiliki jumlah auditor terbatas (jumlah yang sedikit) tetapi dengan kompetensi
tinggi dan memadai daripada memiliki jumlah auditor yang banyak tetapi dengan kompetensi dan kemampuan yang terbatas.
Fungsi pengawasan membutuhkan orang-orang yang memiliki daya intelegensia tinggi, intuitif, imajinatif, dan inisiatif tinggi.
Biasanya, tipe auditor ini sangat dicari dan memiliki nilai yang tinggi.

Dengan alasan latar belakang kompetensi yang tinggi tersebut, uraian tugas harus dibuat dengan hati-hati. Dalam uraian tugas
harus ditetapkan persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas dengan cara yang terbaik dan bukan hanya
sekedar selesai saja untuk penugasan yang dijalankan. Penggambaran uraian tugas sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya
harus menjadi dasar dan dikaitkan langsung dengan remunerasi yang diberikan kepada auditor yang berprestasi, agar hal ini
dapat menjadi daya tarik yang tinggi bagi siapapun auditornya, yaitu dalam rangka untuk memberikan yang terbaik untuk
setiap penugasan audit yang dilaksanakan.

Secara umum, uraian tugas auditor di lingkungan inspektorat terbagi menjadi dua, yaitu uraian tugas secara struktural dan
fungsional. Secara struktural, jabatan tertinggi di fungsi pengawasan dipegang oleh Kepala Inspektorat, yang dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 23 tahun 2007 tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah istilah Bawasda diganti menjadi Inspektorat dan Kepala Inspektorat diganti menjadi Inspektur, baik tingkat provinsi,
kabupaten, dan kota. Seorang inspektur atau kepala inspektorat umumnya dibantu oleh beberapa orang di bidang masing-
masing, yang memegang jabatan sesuai dengan sifat atau jenis pekerjaan audit yang menjadi area tanggung jawabnya,
misalnya:

1. Kepala Bidang Pengawasan Administrasi Umum; individu ini bertanggung jawab untuk memimpin, mengarahkan,

dan mengkoordinasikan para staf audit fungsi pengawasan yang melaksanakan pekerjaan penugasan audit atas

pelaksanaan anggaran (APBD), termasuk juga masalah keuangan dan administrasi kegiatan dan program.

2. Kepala Bidang Pengawasan Operasional & Kinerja; individu ini bertanggung jawab untuk memimpin, mengarahkan,

dan mengkoordinasikan para staf audit yang melaksanakan pekerjaan penugasan audit atas penilaian kinerja dan

efektivitas lembaga-lembaga daerah dalam rangka mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah.

3. Kepala Bidang Pengawasan Sistem Informasi; individu ini bertanggung jawab untuk memimpin, mengarahkan, dan

mengkoordinasikan para staf audit yang melaksanakan pekerjaan penugasan audit yang berkenaan dengan evaluasi
yang efektif, efisien, dan ekonomis pemanfaatan teknologi informasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah

dan untuk mencapai tujuan pemerintah daerah.

4. Kepala Bidang Pengawasan Khusus; individu ini bertanggung jawab untuk memimpin, mengarahkan, dan

mengkoordinasikan para staf audit yang melakukan tugas audit khusus, seperti: investigasi, audit kecurangan, dan

sebagainya.
Lebih rinci, pokok-pokok uraian tugas dan tanggung jawab dari inspektur dan para kepala bidang pengawasan yang berada di
bawah inspektur adalah sebagai berikut:

Uraian Tugas Inspektur:

1. Mengembangkan Audit Charter Inspektorat

2. Mengembangkan tujuan dan sasaran fungsi pengawasan inspektorat.

3. Menetapkan kebijakan audit dan mengarahkan secara teknis dan administratif fungsi pengawasan inspektorat.

4. Mengembangkan rencana kerja dan program audit jangka panjang dan tahunan untuk mengevaluasi pengendalian

manajemen di setiap kegiatan dan program pemerintah daerah.

5. Mengembangkan staf audit yang ada di lingkungan inspektoratnya agar memenuhi kompetensi yang dibutuhkan

untuk pekerjaan audit yang dilaksanakan.

6. Mengkoordinasikan pekerjaan audit di lingkungan inspektorat dengan aktivitas audit yang dilakukan auditor

eksternal.

7. Melakukan pengujian efektifitas di setiap tingkatan manajemen yang dibebankan tugas dan tanggung jawab

mengurus/mengelola sumber daya organisasi dan pengujian ketaatannya terhadap kebijakan dan prosedur yang

ditetapkan.

8. Merekomendasikan perbaikan pengendalian manajemen yang didesain untuk mengamankan sumber-sumber

organisasi, meningkatkan pertumbuhan daerah, dan memastikan ketaatannya terhadap undang-undang dan peraturan

pemerintah.

9. Melakukan reviu prosedur dan catatan untuk menilai kecukupannya dalam mencapai tujuan organisasi pemerintah

daerah yang ditetapkan.

10. Mengotorisasi laporan audit yang diterbitkan, termasuk rekomendasi untuk perbaikan keadaan yang masih

mengandung kelemahan.
11. Menilai kecukupan tindakan yang telah dilakukan manajemen atas kondisi yang mengandung kelemahan yang

dilaporkan, menerima tindakan perbaikan yang sudah memadai, dan mereviu secara kontinyu bersama dengan auditi

atas tindakan perbaikan yang dilaksanakan.

12. Melakukan audit khusus yang diminta manajemen, termasuk tugas reviu laporan keuangan daerah.

13. Menetapkan anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan berbagai aktivitas di lingkungan fungsi pengawasan

inspektorat.

14. Menyusun laporan aktivitas kegiatan fungsi pengawasan yang telah dilaksanakan selama satu periode dan

melaporkannya kepada kepala daerah.

15. Menjaga kualitas fungsi pengawasan inspektorat melalui pengembangan program Quality Assurance.
Uraian Tugas Kepala Bidang Pengawasan:
Dengan arahan dari inspektur, tugas dan tanggung jawab kepala bidang pengawasan di inspektorat adalah:

1. Menyiapkan rencana kerja audit jangka panjang atas berbagai kegiatan dan program yang dilaksanakan dalam

penyelenggaraan pemerintahan daerah.

2. Mengidentifikasi area-area yang akan menjadi target atau sasaran untuk diaudit, menilai tingkat signifikannya, dan

melakukan penilaian (tingkat risiko kegiatan dan program pemerintah daerah, terutama untuk masalah biaya,

jadwal waktu, dan mutu pelaksanaannya.

3. Menetapkan struktur tim yang akan ditugaskan untuk melakukan pekerjaan audit.

4. Memperoleh, menjaga, dan mengarahkan staf audit agar mampu menyelesaikan pekerjaan audit yang dibebankan

kepadanya

5. Memberikan arahan kepada tim audit mengenai area kegiatan yang akan diaudit dan menetapkan anggaran biaya

untuk pekerjaan audit yang akan dilaksanakan.

6. Mengembangkan sistem pengendalian biaya dan jadwal waktu audit agar setiap penugasan sesuai dengan rencana

kerja audit yang telah ditetapkan.

7. Menetapkan standar kinerja untuk pelaksanaan tugas audit dan melakukan reviu atas kinerja dibandingkan dengan

standar yang telah ditetapkan.

8. Menyajikan kepada auditi dan manajemen komunikasi hasil penugasan atas kegiatan dan program pemerintah daerah

yang telah diaudit.


9. Membangun sistem pemantauan terhadap berbagai aktivitas fungsi pengawasan untuk memastikan pencapaian atas

tujuan fungsi pengawasan dan kemampuannya memberikan pelayanan kepada pemerintah daerah dan seluruh

jajaran perangkat daerah.


Secara fungsional, uraian tugas auditor inspektorat mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara. Sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 19/1996 Tentang
Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya, ditetapkan di pasal 6 mengenai jenjang jabatan fungsional auditor adalah
sebagai berikut:

AUDITOR TRAMPIL
Auditor Trampil Pemula.
Auditor Trampil Pratama.
Auditor Trampil Muda.

AUDITOR AHLI
Auditor Ahli Pratama.
Auditor Ahli Muda.
Auditor Ahli Madya.
Auditor Ahli Utama.

Selanjutnya, di dalam Keputusan Menpan No. 19/1996 Pasal 7 dijelaskan mengenai uraian tugas dan kegiatan auditor untuk
masing-masing jenjang jabatan fungsional auditor, Uraian tugas baik untuk auditor trampil maupun ahli tergantung dari
perannya di dalam penugasan audit, yaitu apakah sebagai pengendali mutu, pengendali teknis, ketua tim, atau anggota tim.
Berikut sebagian dari uraian tugas dan kegiatan auditor trampil dan auditor ahli dalam menjalankan perannya:

Peran Sebagai Anggota Tim:


1. Melaksanakan pemeriksaan akuntan.
2. Melaksanakan audit keuangan dan atau ketaatan.
3. Mengkompilasi laporan.
4. Menguji dan menilai dokumen.
5. Melaksanakan audit operasional.
6. Mengkaji sistem pengendalian manajemen obyek pengawasan.
7. Mengkaji hasil pengawasan.
8. Memantau tindak lanjut hasil pengawasan.
9. Meringkas hasil pengawasan untuk pihak yang berkompeten.
10. Melaksanakan audit khusus.
11. Melaksanakan audit akuntabilitas.
12. Mengumpulkan data dan atau informasi intelijen.
13. Mengkaji hasil audit (peer review).
14. Mengkaji kinerja obyek pengawasan.
15. Melaksanakan penelitian di bidang pengawasan.
16. Memproses penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi.
17. Memberikan kesaksian dalam peradilan kasus hasil pengawasan.
Peran Sebagai Ketua Tim:
1. Melaksanakan pemeriksaan akuntan.
2. Melaksanakan audit keuangan dan atau ketaatan.
3. Melaksanakan audit operasional.
4. Melaksanakan audit khusus.
5. Melaksanakan audit akuntabilitas.
6. Menguji dan menilai dokumen.
7. Melaksanakan penelitian di bidang pengawasan.
8. Mengkaji hasil penelitian.
9. Mengkompilasi hasil pengawasan.
10. Meringkas hasil pengawasan untuk pihak yang berkompeten.
11. Mengkaji kinerja obyek pengawasan.
12. Mengkaji sistem pengendalian manajemen obyek pengawasan.
13. Mengkaji hasil audit (peer review)
14. Memantau tindak lanjut hasil pengawasan.
15. Memproses penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi.
16. Memberikan kesaksian dalam peradilan kasus hasil pengawasan.
17. Menyiapkan program kerja pengawasan tahunan.
18. Membina dan menggerakan Aparat Pengawasan Fungsional (APF).
19. Melaksanakan asistensi dan konsultansi di bidang pengawasan.
20. Melaksanakan penyuluhan di bidang pengawasan.
21. Membuat laporan akuntabilitas.
22. Mengkaji laporan hasil audit akuntabilitas.
23. Membuat laporan hasil pengawasan.
24. Mengkaji laporan hasil pengawasan.
25. Memaparkan hasil pengawasan.
Peran Sebagai Pengendali Teknis:
1. Mengkaji hasil pengawasan
2. Mengkaji kinerja obyek pemeriksaan.
3. Mengkaji hasil audit (peer review)
4. Memantau tindak lanjut hasil pengawasan.
5. Memproses penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi.
6. Memberikan kesaksian dalam peradilan kasus hasil pengawasan.
7. Menyiapkan kebijakan pengawasan tahunan.
8. Menyiapkan Rencana Kerja Pengawasan Tahunan.
9. Menyiapkan Program Kerja Pengawasan Tahunan.
10. Menyusun pedoman dan atau sistem pengawasan.
11. Memutakhirkan pedoman dan atau sistem pengawasan.
12. Menyusun petunjuk pelaksanaan dan atau petunjuk teknis.
13. Mengkaji laporan hasil pengawasan.
Peran Sebagai Pengendali Mutu:
1. Menyiapkan perumusan kebijakan pengawasan.
2. Menyiapkan rencana induk pengawasan.
3. Menyiapkan kebijakan pengawasan tahunan.
4. Menyiapkan Rencana Kerja Pengawasan Tahunan.
5. Menyiapkan Program Kerja Pengawasan Tahunan.
6. Menyusun pedoman dan atau sistem pengawasan.
7. Memutakhirkan pedoman dan atau sistem pengawasan.
8. Menyusun petunjuk pelaksanaan dan atau petunjuk teknis pengawasan.
9. Memutakhirkan petunjuk pelaksanaan dan atau petunjuk teknis pengawasan.
10. Mengkaji diklat pengawasan.
Untuk memastikan apakah auditor melaksanakan penugasan audit sesuai dengan uraian tugas dan memenuhi persyaratan mutu
pekerjaan auditnya, maka untuk monitoring dan pengendalian pekerjaan audit, antara lain dilakukan melalui:
1. Kartu Otorisasi Penugasan Audit
2. Daftar Check list 3. Kartu Pengendali Jam Pekerjaan Audit
4. Indeks di Kertas Kerja Audit
5. Program Kerja Audit
6. Kertas Kerja Audit
7. Rapat Pembahasan
8. Ikhtisar/Lembar Temuan dan Rekomendasi.
9. Draft Laporan.

Referensi:
Manajemen Fungsi Audit Internal Sektor Publik
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2007

RISIKO AUDIT
June 22, 2016 by Novi Cahyo Prabowo in Manajemen Fungsi Audit Internal Sektor Publik.
Dalam pekerjaan audit yang dilakukan, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya risiko audit. Secara umum,
risiko mengandung arti hambatan-hambatan yang mungkin terjadi yang dapat menghalangi pencapaian suatu tujuan yang telah
ditetapkan. Risiko audit merupakan risiko yang mungkin terjadi dalam penugasan audit yang dilaksanakan di mana auditor
tidak dapat mengungkapkan permasalahan yang mungkin terjadi dalam prosedur audit yang normal, walaupun pekerjaan audit
sudah dilakukan sesuai dan memenuhi standar audit yang berlaku.
Risiko audit terbagi menjadi tiga jenis, yaitu: risiko bawaan (inherent ), risiko pengendalian (control risk), dan risiko deteksi
(detection risk). Risiko bawaan adalah risiko yang disebabkan karena adanya potensi kerentanan yang terkandung di dalam
setiap pekerjaan, kegiatan, atau aktivitas yang dilaksanakan. Kerentanan aktivitas, kegiatan ataupun aktiva yang digunakan
dapat menimbulkan terjadinya kesalahan atau ketidakberesan atas pelaksanaan kegiatan atau penggunaan aktiva tersebut.
Risiko pengendalian adalah kemungkinan kelemahan pengendalian yang terjadi walaupun sudah dipasangkan pengendalian
atas suatu kegiatan dimaksud. Risiko deteksi adalah risiko tidak terdeteksinya suatu masalah meskipun prosedur audit yang
normal sudah dilaksanakan.

Dalam pekerjaan audit yang dilaksanakan, perlu dibedakan antara risiko operasional, risiko audit, dan kegagalan audit. Risiko
operasional adalah hambatan-hambatan yang mungkin terjadi dan dapat menghalangi pencapaian tujuan operasional. Risiko
audit sebagaimana yang sudah dijelaskan adalah kemungkinan auditor tidak berhasil mengidentifikasi suatu masalah meskipun
prosedur audit normal sudah dilaksanakan. Kegagalan audit adalah ketidakmampuan auditor untuk mengungkapkan suatu
masalah yang harus dideteksinya disebabkan karena audit dilaksanakan tidak sesuai standar dan pekerjaan audit dilaksanakan
di bawah standar audit yang telah ditetapkan. Untuk menghindarkan kegagalan dalam audit, auditor dan pimpinan fungsi
pengawasan harus menerapkan praktik-praktik yang memadai untuk mengendalikan pekerjaan
audit yang dilaksanakan.

LAPORAN KEMAJUAN PEKERJAAN


AUDIT (LAPORAN PROGRES)
June 22, 2016 by Novi Cahyo Prabowo in Manajemen Fungsi Audit Internal Sektor Publik.
Laporan kemajuan pekerjaan audit umumnya disiapkan satu atau tiga bulan sekali. Laporan progres ini mungkin juga disiapkan
sesuai permintaan atau kebutuhan, khususnya untuk memonitor sampai sejauh mana pekerjaan audit telah diselesaikan. Dalam
laporan kemajuan pekerjaan audit ini, seorang supervisor (pengendali teknis) dapat memperoleh informasi terkini mengenai
status pekerjaan yang dilaksanakan, rencana tindakan yang akan dilakukan, dan juga kendala-kendala yang dihadapi dalam
penyelesaian pekerjaan audit. Laporan kemajuan pekerjaan audit ini dipandang cukup efektif sebagai alat untuk pengendalian
pekerjaan audit. Namun, seorang pengendali teknis tentunya mengharapkan dari tim auditnya diperoleh laporan progres yang
sederhana atau tidak terlalu rumit yang mampu menyajikan informasi yang terkini mengenai status pekerjaan audit yang
sedang dikerjakan.

Contoh format sederhana dari laporan progres yang disiapkan mingguan di bawah ini menggambarkan posisi atau status
pekerjaan audit yang dilaksanakan. Laporan kemajuan pekerjaan audit yang disiapkan mingguan ini didesain untuk
menunjukkan anggaran yang dialokasikan, hari-hari yang digunakan dan dibutuhkan untuk penyelesaian pekerjaan audit. Di
samping itu, laporan mingguan ini juga menyajikan informasi mengenai tanggapan atas masalah-masalah yang diantisipasi
akan timbul serta informasi lain yang perlu disampaikan di dalam laporan progres tersebut.
Contoh format dari laporan progres mingguan ini sangat
fleksibel. Bentuk dan informasi yang disajikan di dalam laporan progres dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Contoh dari
laporan progres tersebut lebih difokuskan untuk kebutuhan pengendalian jumlah hari yang dialokasikan untuk pekerjaan audit.

PENGENDALIAN TUGAS AUDIT


June 22, 2016 by Novi Cahyo Prabowo in Manajemen Fungsi Audit Internal Sektor Publik.
Pelaksanaan tugas audit yang terkendali dan terstruktur dengan baik memiliki peluang yang lebih besar untuk keberhasilannya
mencapai tujuan dan sasaran audit yang telah ditetapkan. Keberhasilan pekerjaan audit yang dilaksanakan membutuhkan
pengalaman dan kemampuan auditor untuk menyelesaikan tugas audit yang dibebankan kepadanya. Satu tugas audit yang
sama namun dilaksanakan oleh dua orang auditor berbeda, kemungkinan akan bervariasi hasilnya. Beberapa faktor yang
menyebabkan kemungkinan hasilnya berbeda adalah:

1. Pemahaman auditor internal terhadap masalah yang diidentifikasi.

2. Pengalaman atas permasalahan yang dijumpai.

3. Kompetensi yang dimiliki auditor

4. Kemampuan analisis auditor.

5. Kreativitas, imajinatif, dan inisiatif auditor atas keputusan yang dibuatnya.


Tanpa adanya supervisi dan pengendalian atas anggaran biaya dan waktu, jadwal yang telah ditetapkan, kemajuan (disiapkan,
serta tanpa pedoman perumusan yang jelas untuk arah pekerjaan audit, maka akan membuat pekerjaan audit menjadi tidak
efektif dan efisien. Seorang inspektur atau kepala inspektorat di unit kerja audit harus memastikan bahwa sumber-sumber audit
yang digunakan telah sesuai dan diberdayakan seoptimal mungkin, yaitu dalam rangka pencapaian yang efektif dan efisien
tujuan dan sasaran audit yang telah ditetapkan.
Disiplin merupakan kata kunci untuk menggambarkan seorang auditor yang profesional dalam melaksanakan penugasan audit
yang dibebankan kepadanya. Disiplin merupakan suatu pemahaman yang jelas mengenai nilainilai suatu pekerjaan audit yang
dilaksanakan. Disiplin juga mengandung arti, suatu pemahaman akan nilai-nilai mengenai, misalnya ketepatan waktu,
pemanfaatan anggaran biaya secara efektif dan efisien, serta komitmen dalam penyelesaian tugas. Disiplin untuk
menyelesaikan pekerjaan audit tepat waktu merupakan salah satu bentuk yang esensial dalam pengendalian pekerjaan audit.
Bahwa pengendalian dapat terlaksana dengan berhasil sangat tergantung pada tingkat profesionalisme dan komitmen auditor
itu sendiri untuk menegakkan faktor disiplin di dalam dirinya.

Tugas supervisi dan pengendalian pekerjaan audit di lingkungan inspektorat merupakan kegiatan administrasi di dalam
fungsi pengawasan. Kegiatan supervisi dan pengendalian ini meliputi:

1. Pengendalian atas setiap pekerjaan audit.

2. Pemastian bahwa pelaksanaan pekerjaan audit sesuai dengan anggaran yang tersedia dan jadwal waktu yang telah

ditetapkan.

3. Identifikasi kemungkinan apakah anggaran perlu direvisi atau tidak.

4. Identifikasi laporan kemajuan pekerjaan dan gambaran mengenai proses

pekerjaan.

5. Reviu file permanen atas setiap pekerjaan audit.

6. Mengingatkan kepada auditor yang ditugaskan untuk selalu melakukan apa yang harus dikerjakan untuk memulai

suatu pekerjaan audit dengan metode atau cara yang telah ditetapkan di dalam manual kebijakan dan pedoman

audit yang ada di lingkungan inspektorat.

PEMANTAUAN TERHADAP
PENGEMBALIAN DANA BERGULIR
June 13, 2014 by Novi Cahyo Prabowo in Kasus Audit 3E + 1K.
KONDISI
Neraca Pemerintah ABC per tanggal 31 Desember 20xx menunjukkan saldo Investasi Non Permanen Dana Bergulir sebesar
Rp32.184.655.510,00.

Saldo tersebut merupakan saldo yang disajikan dalam neraca Dinas Pendapatan, Pengelolaan dan Aset ABC yang merupakan
SKPD yang bertugas melakukan pencatatan transaksi-transaksi pembiayaan.

Sedangkan secara teknis pengelolaan dana bergulir dilaksanakan oleh SKPD teknis terkait diantaranya Dinas Perindustrian
Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperindagkop) dengan saldo sebesar Rp15.246.118.760,00 per tanggal 31 Desember
20xx.

Pemeriksaan lebih lanjut terhadap dokumen dana bergulir di Disperindagkop diketahui bahwa berdasarkan data sisa dana
bergulir per 31 Desember 20xx, data menurut bidang akuntansi berbeda dengan data Disperindagkop.

Bidang akuntansi mencatat bahwa sisa dana bergulir sebesar Rp15.246.118.760,00, sedangkan menurut Disperindagkop
sebesar Rp12.342.409.898,00 sehingga terdapat selisih sebesar Rp2.903.708.862,00.
Atas perbedaan tersebut, Disperindagkop menjelaskan bahwa selisih tersebut merupakan dana bergulir yang telah disetorkan
oleh koperasi di rekening penampuangan pokok namun belum disetorkan ke Kas Daerah.

Disperindagkop mencatat pembayaran koperasi berdasarkan setoran yang masuk ke dalam rekening koperasi pada saat
pencocokkan pelunasan dengan pihak koperasi, sedangkan menurut informasi dari Bidang Akuntansi, sisa dana bergulir yang
dilaporkan adalah sisa tahun lalu dikurangi dengan pembayaran berdasarkan bukti Surat Tanda Setoran (STS).

Sampai saat pemeriksaan, belum diperoleh bukti seluruh rekening penampungan pengembalian pokok dana bergulir yang
belum disetor ke kasda.

KRITERIA
Undang-undang No.1 Tahun 2004 Pasal 13 ayat (2) yang menyatakan, Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dilakukan
melalui Rekening Kas Umum Daerah.

SEBAB :
1. Pengawasan Kepala Diperindakop terhadap pengembalian dana bergulir kurang memadai.

2. Petugas pengelola dana bergulir Disperindagkop dan pembukuan pada DPPKA tidak cermat melaksanakan tugasnya.

3. Tidak dilakukan rekonsiliasi secara periodik antara pengelola dana bergulir Disperindagkop dan pembukuan pada DPPKA.

AKIBAT:
1. Potensi penyimpangan dan tidak jelasnya hak dan kewajiban pemerintah daerah dan penerima dana bergulir diantaranya
dalam hal jumlah sisa dana bergulir yang masih harus dibayar penerima dana atau yang menjadi hak pemerintah daerah.

2. Angsuran pokok dana bergulir sebesar Rp2.903.708.862,00 yang ditampung di rekening koperasi berpotensi disalahgunakan
oleh Koperasi.

REKOMENDASI :
1. Menegur Kepala Disperindagkop karena lemah dalam mengawasi pengembalian dana bergulir.

2. Menegur petugas pengelola dana bergulir Disperindagkop dan pembukuan pada DPPKA karena tidak cermat melaksanakan
tugasnya.

3. Menginstruksikan Kepala Disperindagkop dan Kepala DPPKA untuk melakukan rekonsiliasi data Dana Bergulir dan atas
pengembalian dana bergulir yang masih berada di rekening penampungan koperasi agar secara disetorkan ke Kas Daerah.

PENGELOLAAN FUNGSI
PENGAWASAN INSPEKTORAT
July 10, 2014 by Novi Cahyo Prabowo in Manajemen Fungsi Audit Internal Sektor Publik.
Untuk merespon tantangan mengenai arti penting dan peran fungsi pengawasan inspektorat di lingkungan pemerintah daerah,
khususnya peran konsultan dan katalisnya, setiap kepala inspektorat dan seluruh pimpinan di jajaran pejabat pengawasnya
dituntut untuk mampu melakukan pengelolaan atau manajemen fungsi pengawasan inspektorat yang efektif. Berbagai upaya
dapat dilakukan untuk manajemen fungsi inspektorat yang efektif ini, di antaranya adalah melalui peningkatan kompetensi
teknis auditor di inspektorat, menyamakan persepsi dengan auditi (kepala daerah dan seluruh aparatur pemerintah daerah)
mengenai peran dan fungsi inspektorat, peningkatan dan penyempurnaan berbagai kebijakan dan prosedur audit, pemanfaatan
pendekatan audit yang sesuai dengan kebutuhan daerah, dan koordinasi pekerjaan audit dengan pihak terkait lainnya, termasuk
dengan auditor eksternal.
Pengelolaan atas fungsi pengawasan inspektorat tidak hanya terbatas pada struktur organisasinya saja, melainkan juga
termasuk pada pekerjaan audit yang dilaksanakan. Pengendalian pekerjaan audit dimulai dari sebelum pelaksanaan pekerjaan
audit hingga pelaporan dan pemantauan tindak lanjut terhadap rekomendasi yang disarankan, termasuk juga evaluasi mengenai
apakah pendekatan audit yang diterapkan sudah sesuai dengan kebutuhan atau keadaan. Proses audit ini merupakan suatu
proses yang kontinyu sepanjang kegiatan dan program di pemerintah daerah dilaksanakan.

Keberhasilan manajemen fungsi pengawasan atau audit internal inspektorat tidak boleh diukur dari volume atau jumlah temuan
yang berhasil dikumpulkan, melainkan juga harus lebih diarahkan pada manfaat apa yang diterima dengan keberadaan dan
hasil kerja Inspektorat. Beberapa ukuran keberhasilan pengelolaan fungsi pengawasan inspektorat daerah yang efektif, di
antaranya adalah:

o Keberadaan fungsi pengawasan inspektorat dapat menciptakan nilai tambah dan meningkatkan pengawasan yang

efektif dan memadai dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan mengacu pada praktik-praktik dan tata

kelola pemerintahan yang baik.

o Kepala daerah mengajak kepala inspektoratnya dan/atau pejabat pengawas di lingkungan inspektorat untuk

membahas secara bersama berbagai masalah penting atau signifikan dan kritikal yang membutuhkan penanganan dan

pengambilan keputusan yang segera.

o Unit-unit kerja operasional atau satuan kerja perangkat daerah di lingkungan pemerintahan daerah meminta auditor

inspektorat untuk membantu kelancaran kegiatan dan/atau program pemerintah daerah yang sedang dan akan

dilaksanakan.

o Auditor inspektorat dijadikan sumber untuk menetapkan nominasi mengisi formasi di lingkungan pemerintah daerah.

o Meningkatnya kemampuan teknis dan analisis para auditor inspektorat sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan

daerah.

o Meningkatnya kepuasan kepala daerah dan satuan kerja perangkat daerah terhadap hasil kerja auditor inspektorat.
Untuk mewujudkan manajemen fungsi pengawasan inspektorat daerah yang efektif, berikut ini komponen-komponen yang
menjadi fondasi dan pilar utama keberhasilan manajemen fungsi pengawasan inspektorat daerah adalah: Organisasi fungsi
pengawasan Inspektorat yang kokoh.

o Pengendalian pekerjaan audit di lingkungan Inspektorat

o Pengelolaan dan pengembangan staf audit Inspektorat

o Penyusunan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) dan Perencanaan Audit Jangka Panjang fungsi

pengawasan Inspektorat.

o Pelaksanaan Quality Assurance fungsi pengawasan Inspektorat.


PENGARUH KEAHLIAN DALAM PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI TERHADAP KINERJA AUDITOR PADA
KANTOR PERWAKILAN BPK-RI WILAYAH SUMATERA BAGIAN UTARA, 08 - See more at:
http://contohtesis.idtesis.com/kumpulan-judul-contoh-tesis-akuntansi.html/#sthash.uM1K1vjO.dpuf
ANALISIS FAKTOR FAKTOR KOMPETENSI APARATUR INSPEKTORAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP
KINERJA INSPEKTORAT KABUPATEN DELI SERDANG - See more at: http://contohtesis.idtesis.com/kumpulan-
judul-contoh-tesis-akuntansi.html/#sthash.uM1K1vjO.dpuf

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRUKTUR MODAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP


RENTABILITAS MODAL SENDIRI PADA INDUSTRI TEKSTIL YANG GO PUBLIC DI INDONESIA, - See more at:
http://contohtesis.idtesis.com/kumpulan-judul-contoh-tesis-akuntansi.html/#sthash.uM1K1vjO.dpuf

ANALISIS PERAN INTERNAL AUDITOR DALAM MEMPENGARUHI PENINGKATAN KINERJA OPERASIONAL


UNIT KERJA PADA BUMN PERKEBUNAN DI PROVINSI SUMATERA UTARA, 05 - See more at:
http://contohtesis.idtesis.com/kumpulan-judul-contoh-tesis-akuntansi.html/#sthash.uM1K1vjO.dpuf

PENGARUH KEAHLIAN , INDEPENDENSI, KECERMATAN PROFESIONAL DAN KEPATUHAN PADA KODE


ETIK TERHADAP KUALITAS AUDITOR PADA INSPEKTORAT PROPINSI SUMATERA UTARA, 09 - See more
at: http://contohtesis.idtesis.com/kumpulan-judul-contoh-tesis-akuntansi.html/#sthash.uM1K1vjO.dpuf

ANALISIS ATAS FAKTOR2 PENUNJANG KINERJA TIM AUDIT DAN EFEKTIVITAS PENCAPAIAN TUJUAN
AUDIT (STUDI PADA KANTOR PERWAKILAN KHUSUS DAN PERWAKILAN I-VI BPK-RI), 04 - See more at:
http://contohtesis.idtesis.com/kumpulan-judul-contoh-tesis-akuntansi.html/#sthash.uM1K1vjO.dpuf