Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Trauma listrik merupakan salah satu jenis trauma yang sering terjadi,
trauma listrik juga disebut sebagai salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas.
Secara umum atau garis besar dapat dibagi menjadi Trauma sengatan petir, Trauma
listrik tegangan tinggi dan Trauma listrik tegangan rendah.

Luka bakar adalah suatu trauma yang dapat disebabkan oleh panas, arus
listrik, bahan kimia, petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan-jaringan yang
lebih dalam. Dalamnya luka bakar tergantung tinggi panasnya, penyebab dan
lamanya kontak dengan kulit. 1

Luka listrik adalah salah satu jenis luka karena peristiwa fisika. Trauma
listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran listrik
atau disebabkan oleh terkenanya pada saat berada dekat dengan sumber listrik.
Rangkaian listrik dalam hal ini adalah suatu kumpulan elemen atau komponen
listrik yang saling dihubungkan dengan cara-cara tertentu. Elemen atau komponen
memiliki dua buah terminal atau kutub pada kedua ujungnya. Pembatasan elemen
atau komponen listrik pada Rangkaian Listrik dapat dikelompokkan kedalam
elemen atau komponen aktif dan pasif. Elemen aktif adalah elemen yang
menghasilkan energi dalam hal ini adalah sumber tegangan dan sumber arus.
Elemen lain adalah elemen pasif dimana elemen ini tidak dapat menghasilkan
energi, dapat dikelompokkan menjadi elemen yang hanya dapat menyerap energi
dalam hal ini hanya terdapat pada komponen resistor atau banyak juga yang
menyebutkan tahanan atau hambatan dengan simbol R.1

Luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, merupakan
jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang
memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat
berubahnya energi listrik menjadi energi panas.1,2 Pada umumnya tanda utama
trauma listrik adalah luka bakar pada kulit. Gambaran makroskopis kerusakan kulit

1
yang kontak langsung dengan sumber listrik bertegangan rendah disebut electrical
mark. Luka listrik biasanya dapat diamati di titik masuk (entry point) maupun titik
keluar (exit point).2

Luka Listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke
dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya
fungsi suatu organ dalam. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik.
Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat fatal.1 Arus listrik yang mengalir
ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat membakar dan
menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi
mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada
jantung, otot atau otak.2

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 DEFINISI

Luka bakar atau combusio adalah suatu bentuk kerusakan dan kehilangan
jaringan disebabkan kontak dengan sumber suhu yang sangat tinggi seperti kobaran
api di tubuh (flame), jilitan api ke tubuh (flash), terkena air panas (scald), tersentuh
benda panas (kontak panas), akibat serangan listrik, akibat bahan-bahan kimia, serta
sengatan matahari (sunburn) dan suhu yang sangat rendah. Luka bakar berat
menyebabkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan dengan
cedera oleh sebab lain.. 1,2
Luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, merupakan jenis
trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda yang memiliki arus
listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat berubahnya energi
listrik menjadi energi panas.1,2 Pada umumnya tanda utama trauma listrik adalah
luka bakar pada kulit. Gambaran makroskopis kerusakan kulit yang kontak
langsung dengan sumber listrik bertegangan rendah disebut electrical mark. Luka
listrik biasanya dapat diamati di titik masuk (entry point) maupun titik keluar (exit
point).2
Luka listrik adalah salah satu jenis luka karena peristiwa fisika. Trauma
listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah perputaran aliran listrik
atau disebabkan oleh terkenanya pada saat berada dekat dengan sumber listrik.
Rangkaian listrik dalam hal ini adalah suatu kumpulan elemen atau komponen
listrik yang saling dihubungkan dengan cara-cara tertentu. Elemen atau komponen
memiliki dua buah terminal atau kutub pada kedua ujungnya. Pembatasan elemen
atau komponen listrik pada Rangkaian Listrik dapat dikelompokkan kedalam
elemen atau komponen aktif dan pasif. Elemen aktif adalah elemen yang
menghasilkan energi dalam hal ini adalah sumber tegangan dan sumber arus.
Elemen lain adalah elemen pasif dimana elemen ini tidak dapat menghasilkan
energi, dapat dikelompokkan menjadi elemen yang hanya dapat menyerap energi

3
dalam hal ini hanya terdapat pada komponen resistor atau banyak juga yang
menyebutkan tahanan atau hambatan dengan simbol R.1

Luka Listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke
dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya
fungsi suatu organ dalam. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik.
Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat fatal.1 Arus listrik yang mengalir
ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat membakar dan
menghancurkan jaringan tubuh. Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi
mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada
jantung, otot atau otak.2

II.2 ETIOLOGI

Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api, dan


ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi
paling rendah; dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh darah,
khususnya tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal.
Seringkali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber
arus maupun ground. .1,3

Trauma listrik terjadi saat seseorang menjadi bagian dari sebuah


perputaran aliran listrik atau bisa disebabkan pada saat berada dekat dengan sumber
listrik. Secara umum ada 2 jenis tenaga listrik, yaitu :3

1. Tenaga listrik alam, seperti petir


2. Tenaga listrik buatan, seperti arus listrik searah (DC) contohnya baterai dan
arus listrik bolak balik (AC) contohnya listrik PLN di rumah atau pabrik.

II.3 PATOFISIOLOGI

Terdapat 3 zona luka bakar menurut Jackson 1947 yaitu: 1

4
1. Zona Koagulasi

Merupakan daerah yang langsung mengalami kontak dengan sumber


panas dan terjadi nekrosis dan kerusakan jaringan yang irevisibel
disebabkan oleh koagulasi constituent proteins.1

2. Zona Stasis

Zona stasis berada sekitar zona koagulasi, di mana zona ini


mengalami kerusakan endotel pembuluh darah, trombosit, leukosit
sehingga penurunan perfusi jaringan diikuti perubahan permeabilitas
kapiler(kebocoran vaskuler) dan respon inflamasi lokal. Proses ini
berlangsung selam 12-24 jam pasca cedera, dan mungkin berkakhir
dengan nekrosis jaringan. 1

3. Zona Hiperemia

Pada zona hiperemia terjadi vasodilatasi karena inflamasi,


jaringannya masih viable. Proses penyembuhan berawal dari zona
inikecuali jika terjadi sepsi berat dan hipoperfusi yang
berkepanjangan. 1

Gambar II.1. Zona luka bakar Jackson 1947 dan efeknya terhadap
resusitasi adekuat dan inadekuat. 1

5
Elektron mengalir dalam tubuh secara abnormal sehingga menghasilkan
cedera atau kematian melalui depolarisasi otot dan saraf, inisiasi abnormal irama
elektrik pada jantung dan otak atau menghasilkan luka bakar elektrik internal
maupun eksternal melalui panas dan pembentukan pori di membran sel.2,3

Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan
penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus bolak balik (AC)
dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada.5 Aliran listrik
yang lama mengakibatkan kerusakan iskemik otak yang diikuti dengan gangguan
nafas.4

Cedera bisa berupa luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada:

1. Jenis dan kekuatan arus listrik.

Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu berbahaya jika


dibandingkan dengan arus bolak-balik (AC). Efek AC pada tubuh
manusia sangat tergantung kepada kecepatan berubahnya arus
(frekuensi), yang diukur dalam satuan siklus/detik (hertz). Arus
frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari arus frekuensi
tinggi dan 3-5 kali lebih berbahaya dari DC pada tegangan (voltase)
dan kekuatan (ampere) yang sama.

DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang kuat, yang


seringkali mendorong jauh/melempar korbannya dari sumber arus.
AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku pada posisinya,
sehingga korban tidak dapat melepaskan genggamannya pada
sumber listrik. Akibatnya korban terkena sengatan listrik lebih lama
sehingga terjadi luka bakar yang berat.

Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin


besar kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua jenis arus listrik
tersebut. Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere
(mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Pada arus serendah 60-100 mA
dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz yang mengalir

6
melalui dada dalam waktu sepersekian detik bisa menyebabkan
irama jantung yang tidak beraturan, yang bisa berakibat fatal. Arus
bolak-balik lebih dapat menyebabkan aritmia jantung dibanding arus
searah. Arus dari AC pada 100 mA dalam seperlima detik dapat
menyebabkan fibrilasi ventrikel dan henti jantung.

Efek yang sama ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA.

Jika arus langsung mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah


pacemaker, maka bisa terjadi gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh
lebih rendah (kurang dari 1 mA).

2. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik

Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau


memperlambat aliran arus listrik.

Resistensi jaringan, adalah sebagai berikut.


Resistensi rendah: Saraf, Darah, Membran mukosa, Otot
Resistensi sedang: Kulit kering, Tendon, Jaringan lemak
Resistensi tinggi: Tulang

Kebanyakan resistensi tubuh terpusat pada kulit dan secara langsung


tergantung kepada keadaan kulit. Resistensi kulit yang kering dan sehat rata-rata
adalah 40 kali lebih besar dari resistensi kulit yang tipis dan lembab.2 Resistensi
kulit yang tertusuk atau tergores atau resistensi selaput lendir yang lembab
(misalnya mulut, rektum atau vagina), hanya separuh dari resistensi kulit utuh yang
lembab. Resistensi dari kulit telapak tangan atau telapak kaki yang tebal adalah 100
kali lebih besar dari kulit yang lebih tipis. Arus listrik banyak yang melewati kulit,
karena itu energinya banyak yang dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit
tinggi, maka permukaan luka bakar yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan
keluarnya arus, disertai dengan hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik
keluarnya arus listrik.1

7
3. Adanya hubungan dengan bumi

Sehubungan dengan faktor tahanan, maka orang yang berdiri pada


tanah yang basah tanpa alas kaki, akan lebih berbahaya daripada
orang yang berdiri dengan mengggunakan alas sepatu yang kering,
karena pada keadaan pertama tahanannya rendah.1,2

4. Lamanya waktu kontak dengan konduktor

Makin lama korban kontak dengan konduktor maka makin banyak


jumlah harus yang melalui tubuh sehingga kerusakan tubuh akan
bertambah besar dan luas. Dengan tegangan yang rendah akan terjadi
spasme otot-otot sehingga korban malah menggenggam konduktor.
Akibatnya arus listrik akan mengalir lebih lama sehingga korban
jatuh dalam keadaan syok yang mematikan Sedangkan pada
tegangan tinggi, korban segera terlempar atau melepaskan konduktor
atau sumberlistrik yang tersentuh, karena akibat arus listrik dengan
tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi
otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.1,2

5. Aliran arus listrik

Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak
masuk sampai meninggalkan tubuh. Arus listrik paling sering masuk
melalui tangan, kemudian kepala; dan paling sering keluar dari kaki.

Arus listrik yang mengalir dari lengan ke lengan atau dari lengan ke
tungkai bisa melewati jantung, karena itu lebih berbahaya daripada
arus listrik yang mengalir dari tungkai ke tanah. Letak titik masuk
arus listrik (point of entry) dan letak titik keluar bervariasi sehingga
efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat.
Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya
daripada jika masuk dari sebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul
jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut.
Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang tanpa alas kaki

8
lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik,alas kaki dapat berfungsi
sebagai isolator, terutama yang terbuat dari karet.

II.4 MANIFESTASI KLINIS

Gejalanya tergantung kepada interaksi yang rumit dari semua sifat arus
listrik. Suatu kejutan dari sebuah arus listrik bisa mengejutkan korbannya sehingga
dia terjatuh atau menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang kuat. Kedua hal
tersebut bisa mengakibatkan dislokasi, patah tulang dan cedera tumpul. Kesadaran
bisa menurun, pernafasan dan denyut jantung bisa lumpuh. Luka bakar listrik bisa
terlihat dengan jelas di kulit dan bisa meluas ke jaringan yang lebih dalam.2

1. Kepala dan Leher

Kepala adalah titik kontak utama untuk cedera tegangan tinggi, dan
pasien mungkin menunjukkan luka bakar serta kerusakan neurologis.
Katarak timbul di sekitar 6 % kasus cedera tegangan tinggi, terutama
bila tersengat listrikdi sekitar kepala. Meskipun katarak mungkin
hadirlebih cepat atau lambat setelah kecelakaan itu, katarak biasanya
muncul beberapa bulansetelah kejadian. Ketajaman visual dan
pemeriksaan funduskopi harus dilakukanpada kemudian hari. Pasien
harus segera dirujuk ke dokter mata untuk mengetahui kemungkinan
terjadinya katarak ini.2

2. Sistem kardiovaskular

Serangan jantung, baik dari detak jantung atau fibrilasi ventrikel, adalah
kondisi umum yang akan terjadi dalam kecelakaan listrik. Pada
Elektrokardiografi (EKG) ditemukan sinus takikardi, sementara elevasi
segmen ST, QT reversibelsegmen perpanjangan, kontraksi ventrikel
prematur, fibrilasi atrium, danbundel branch block. Infark miokard akut
dilaporkan tetapi relatif jarang. Kerusakan otot rangka dapat

9
menghasilkan peningkatan fraksi CPK-MB, mengarah pada diagnosis
palsu infark miokard dalam beberapa pengaturan.2

3. Kulit

Selain serangan jantung, luka yang paling dahsyat yang terjadi saat
cedera listrik adalah kulit terbakar, yang paling parah pada luka masuk
dan tubuh yang kontak dengan tanah. Bagian tubuh yang paling sering
dari terkena kontak dengan sumber listrik ialah tangan dan tengkorak.
Daerah yang paling sering dari tanah adalah tumit. Seorang pasien
mungkin memiliki beberapa luka masuk dan titik kontak dengan tanah.
Luka bakar di listrik yang parah sering muncul keluhan seperti rasa
sakit, depresi, kuning abu-abu, belang-belang daerah dengan pusat
nekrosis, atau daerah yang mengeras seperti mumi. Arus tegangan
tinggi seringmengalir pada internal tubuh dan dapat membuat
kerusakan otot besar. Jika kontak dalam singkat. Namun, arus minimal
mungkin terjadi dan kerusakan kulit terlihat mungkin mewakili hampir
semua kerusakan. Seseorang sebaiknya tidak mencoba untuk
memprediksi jumlah kerusakan jaringan di bawahnya dari jumlah
keterlibatan kulit. Cedera listrik yang paling umum terlihat pada anak-
anak kurang dari 4 tahun adalah mulut luka bakar yang terjadi dari
mengisap pada kabel ekstensi listrik rumah tangga. Luka-luka bakar
biasanya merupakan luka bakar busur lokal, mungkin melibatkan
orbicularis oris otot, dan sangat mengkhawatirkan ketika komisura
yang terlibat karena dari kemungkinan deformitas kosmetik. Sebuah
risiko yang signifikan pendarahan tertunda dari arteri labial ada ketika
memisahkan escar . Kerusakan pertumbuhan dilaporkan , dan biasanya
dirujuk ke bedah mulut.2

Pada kulit terjadi escar yang bisa menyebabkan timbulnya sindrom


kompartemen. Syndrom kompartemen adalah suatu kondiri dimana terjadi
peningkatan tekannan insterstitial pada kompartemen osteofasial yang tertutup.

10
Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen pada
jaringan.

Gejala klinis yang umumnya ditemukan pada sindroa kompartemen


meliputi:

Pain : nyeri pada saat peregangan pasif pada otot-otot yang


terkena

Pallor : kulit terasa dingin jika dipalpasi, warna kulit biasanya pucat

Parastesia : biasanya terasa panas dan gatal pada daerah lesi

Paralisis : diawali dengan ketidak mampuan untuk menggerakkan


sendi

Pulselesness: berkurang atau hilangnya denyut nadi akibat adanya


gangguan perfusi arterial.

Dalam cedera tegangan tinggi, nekrosis otot dapat meluas ke tempat yang
jauh dari luka kulit yang terlihat, dan kompartemen sindrom terjadi sebagai akibat
dari pembuluh darahiskemia dan edema otot. Dekompresi fasciotomy atau amputasi
sering diperlukan karena kerusakan jaringan yang luas.

4. Ekstrimitas

Pelepasan mioglobin yang banyakdari otot yang rusak dapat


menyebabkan kerusakan Myoglobinuria. Vascular ginjal dari energi
listrik bisa menjadi jelas setiap saat isi ulang kapiler harus dikaji dan
didokumentasikan dalam semua ekstremitas, dan pemeriksaan
neurovaskular harus sering diulang. Karena arteri adalah sistem high-
flow, panas dapat hilang cukup baik dan menyebabkan sedikit
kerusakan awal jelas tapi hasilnya dalam kerusakan berikutnya.
Pembuluh darah, di sisi lain, adalah sistem aliran rendah, yang
memungkinkan energi panas untuk menyebabkan pemanasan lebih
cepat dari darah, dengan akibat trombosis . Akibatnya, ekstremitas

11
mungkin muncul pembengkakan pada awalnya. Dengan luka parah,
seluruh ekstremitas mungkin muncul pengerasan ketika semua elemen
jaringan, termasuk arteri, mengalami koagulasi nekrosis. Kerusakan
pada dinding pembuluh pada saat cedera juga dapat mengakibatkan
tertundatrombosis dan perdarahan, terutama dalam arteri kecil pada otot
.2

Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan


tubuh atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung secara cepat
dipakai Rules of Nine atau Rules of Walles dari Walles. Perhitungan cara ini hanya
dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh
yang berbeda. Pada anak-anak dipakai modifikasi Rule of Nines menurut Lund and
Browder, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. 1,2

Gambar II.2. Wallence Rule of Nines(1)

12
Gambar 7. Lund and Browder(1)

II.5 PENATALAKSANAAN

1. Prehospital

Hal pertama yang harus dilakukan jika menemukan pasien luka bakar di
tempat kejadian adalah menghentikan proses kebakaran. Maksudnya
adalah membebaskan pasien dari pajanan atau sumber dengan
memperhatikan keselamatan diri sendiri. Bahan yang meleleh atau
menempel pada kulit tidak bisa dilepaskan. Air suhu kamar dapat
disiriamkan ke atas luka dalam waktu 15 menit sejak kejadian, namun air
dingin tidak dapat diberikan untuk mencegah terjadinya hipotermia dan
vasokonstriksi. 1,2

2. Burn Resusitasi

Burn shock akan berkembang menjadi hypovolemi dan penghancuran


jaringan selular. Karakteristik dari tipe shock ini adalah penurunan cardiac

13
output dan volume plasma dan terjadi peningkatan cairan ekstraseluler,
edema dan oligouria.

3. Resusitasi jalan nafas

Bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang adekuat. Pada luka


bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi dikerjakan
sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi. Sebelum
dilakukan intubasi, oksigen 100% diberikan dengan menggunakan face
mask. Intubasi bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas,
fasilitas pemeliharaan jalan napas (penghisapan sekret) dan broncoalveolar
lavage. Krikotiroidotomi masih menjadi perdebatan karena dianggap
terlalu agresif dan morbiditasnya lebih besar dibandingkan intubasi.
Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus yang diperkirakan akan lama
menggunakan ETT yaitu lebih dari 2 minggu pada luka bakar luas yang
disertai cedera inhalasi. Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4
liter/menit melalui pipa endotracheal. Terapi inhalasi mengupayakan
suasana udara yang lebih baik disaluran napas dengan cara uap air
menurunkan suhu yang meningkat pada proses inflamasi dan mencairkan
sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Pada cedera inhalasi
perlu dilakukan pemantauan gejala dan distres pernapasan. Gejala dan
tanda berupa sesak, gelisah,takipneu, pernapasan dangkal, bekerjanya
otot-otot bantu pernapasan dan stridor. Pemeriksaan penunjang yang perlu
dilakukan adalah analisa gas darah serial dan foto thorax.1,2

4. Resusitasi cairan

Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah:

Preservasi reperfusi yang adekuat dan seimbang diseluruh pembuluh


vaskuler regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan

Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak


diperlukan.

14
Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk
menjamin survival seluruh sel

Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan


stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis. 1,3

a. Jenis cairan

Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid, cairan hipertonik dan
koloid: 1,3

Larutan kristaloid

Larutan ini terdiri atas cairan dan elektrolit. Contoh larutan ini adalah Ringer
Laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya dalam
plasma atau memiliki osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada keadaan
normal, cairan ini tidak hanya dipertahankan di ruang intravaskular karena
cairan ini banyak keluar ke ruang interstisial. Pemberian 1 L Ringer Laktat
(RL) akan meningkatkan volume intravaskuer 300 ml. 1,3

Larutan hipertonik

Larutan ini dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan


penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid. Larutan
garam hiperonik tersedia dalam beberapa konsentrasi, yaitu NaCl 1,8%, 3%,
5 %, 7,5% dan 10%. Osmolalitas cairan ini melebihi cairan intraseluler
sehingga cairan akan berpindah dari intraseluler ke ekstraseluler. Larutan
garam hipertonik meningkatkan volume intravaskuler melalui mekanisme
penarikan cairan dari intraseluler. 1,3

Larutan koloid

15
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES) dan Dextran.
Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran kapiler,
oleh karena itu sebagian akan tetap dipertahankan didalam ruang
intravaskuler. Pada luka bakar dan sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas
kapiler sehingga molekul akan berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan
memperburuk edema interstisium yang ada. 1,4

HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substitued amilopectin sintetik, HES


berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T dalam plasma
selama 5 hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek samping koagulopati
namun umumnya tidak menyebabkan masalah klinis. HES dapat
memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara menutup celah interseluler
pada lapisan endotel sehingga menghentikan kebocoran cairan, elektrolit dan
protein. Penelitian terakhir mengemukakan bahwa HES memiliki efek
antiinflamasi dengan menurunkan lipid protein complex yang dihasilkan oleh
endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan permeabilitas kapiler. Efek
antiinflamasi diharapkan dapat mencegah terjadinya SIRS. (1,4,7,10)

b. Dasar pemilihan Cairan

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan adalah


efek hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan permeabilitas kapiler,
oksigen, PH buffering, efek hemostasis, modulasi respon inflamasi, faktor
keamanan, eliminasi praktis dan efisien. Jenis cairan terbaik untuk resusitasi dalam
berbagai kondisi klinis masih menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian orang
berpendapat bahwa kristaloid adalah cairan yang paling aman digunakan untuk
tujuan resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian pendapat koloid
bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan karakteristik
masing-masing cairan yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada kasus luka
bakar, terjadi kehilangan ciran di kompartemen interstisial secara masif dan
bermakna sehingga dalam 24 jam pertama resusitasi dilakukan dengan pemberian
cairan kristaloid. 1,3

16
c. Penentuan jumlah cairan

Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga


sampai empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1 L cairan kristaloid akan
meningkatkan volume intravaskuler 300 ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan
cardiac output dan memperbaiki transpor oksigen.1,3

Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama

Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau ringer asetat,


menggunakan beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka
bakar > 25-30% atau dijumpai keterlambatan > 2 jam. Dalam <4 jam pertama
diberikan cairan kristaloid sebanyak 3[25%(70%xBBkg)] ml. 70% adalah volume
total cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh
dapat menimbulkan gejala klinik sidrom syok. 1,3

Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas < 25-
30%, tanpa atau dijumpai keterlambatan < 2 jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan
rumus baxter 3-4 ml/kgBB/% LB. 1,3

Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum


digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini
mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat
diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu luas tanpa keterlambatan. 1,3

Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut: 1,3

Pada 24 jam pertama: separuh jumlah cairan diberikan dalam 8


jampertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak
dan orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera
inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1% dari kebutuhan.

17
Penggunaan zat vasoaktif (dopamin dan dobutamin) dengan dosis 3
mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5% jumlah
tetesan dibagi rata dalam 24 jam.

Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral


(minimal 6-12cm H20) sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah
produksi urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5- 1ml /kg BB/jam maka
jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya.

Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis


dan sedimen).

Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas


cairan lambung melaui pipa nasogastrik. Jika , 200ml tidak ada gangguan
pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400 ml gangguan
berat. 1,3

Penatalaksanaan 24 jam kedua

Pemberian cairan yang menggunakan glukosa dan dibagi rata dalam 24


jam. Jenis cairan yang dapat diberikan adalah glukosa5% atau 10% 1500-
2000 ml. Batasan ringer laktat dapat memperberat edema interstisial.

Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah


produksi uin <1-2 ml/kgBB/jam,berikan vasoaktif samapi 5 mg/kgBB

Pemantauan analisa gas darah, elektrolit1,3

Penatalaksanaan setelah 48 jam

Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintanance

Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4 ml/kgBB),


hemoglobin dan hematokrit. 1,3

18
Rumus Baxter:

Pada dewasa:

Hari I: 3-4 ml x kgBB x % luas luka bakar

Hari II:Koloid: 200-2000 cc + glukosa 5%

Pemberian cairan volume pada 8 jam pertama dan volume diberikan


16jamberikutnya.

Pada anak:

Hari I:

RL:dex 5% = 17:3

(2cc x kgBB x % luas luka bakar) + keb. faal

Kebutuhan Faal:

<1 thn = kgBB X 100cc

5-15 thn = kgBB X 75cc

>15 thn = kgBB X 50cc

Hari II: sesuai kebutuhan faal

Formula Parkland: (1,4,7,10)

Hari I (24jam pertama):

8 jam pertama: [0,5 x (4 cc x kgBB x % TBSA )] / 8 jam =cc/jam

16 jam kedua: [0,5 X (4 cc x kg BB x % TBSA)] / 16 jam = cc/jam

Penambahan cairan rumatan pada anak :

19
4 cc/kgBB/jam dalam 10 kg pertama

2 cc/kg BB/jam dalam 10 kg kedua (11-20kg)

1 cc/kgBB/jam untuk tiap >20kg

Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1%


dari kebutuhan.Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari
produksi urin yaitu pada dewasa 0,5-1,0 cc/kg/jam dan pada anak 1,0-1,5
cc/kg/jam. 1,3

5. Perawatan luka

Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas,


mekanisme bernapas dan resusitasi cairan dilakukan. Tindakan meliputi
debridement secara alami, mekanik (nekrotomi) atau tindakan bedah
(eksisi), pencucian luka, wound dressing dan pemberian antibiotik topikal
. Tujuan perawatan luka adalah untuk menutup luka dengan mengupaya
proses reepiteliasasi, mencegah infeksi, mengurangi jaringan parut dan
kontraktur dan untuk menyamankan pasien. Debridement diusahakan
sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi
tangensial. Tindakan ini dilakukan setelah keadaan penderita stabil, karena
merupakan tindakan yang cukup berat. Untuk bullae ukuran kecil
tindakannya konservatif sedangkan untuk ukuran besar(>5cm) dipecahkan
tanpa membuang lapisan epidermis diatasnya. 1,3

Pengangkatan keropeng (eskar) atau eskarotomi dilakukan juga pada luka


bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab
pengerutan keropeng(eskar) da pembengkakan yang terus berlangsung
dapat mengakibatkan penjepitan (compartment syndrome) yang
membahayakan sirkulasi sehingga bahgian distal iskemik dan
nekrosis(mati). Tanda dini penjepitan (compartment syndrome) berupa
nyeri kemudian kehilangan daya rasa (sensibilitas) menjadi kebas pada

20
ujung-ujung distal. Keaadan ini harus cepat ditolong dengan membuat
irisan memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas. 1,3

Pencucian luka dilakukan dengan hidroterapi yaitu memandikan pasien


atau dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut
dengan kasa lembab steril dengan atau tanpa krim pelembap. Perawatan
luka tertutup dengan occlusive dressing untuk mencegah penguapan
berlebihan. Penggunaan tulle (antibiotik dalam bentuk sediaan kasa)
berfungsi sebagai penutup luka yang memfasilitasi drainage dan
epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi
pada luka. 1,3

6. Lain-lain

Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai profilaksis


infeksi dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Dalam3-5 hari pertana
populasi kuman yang sering dijumpai adalah bakteri Gram positif non-
patogen.Sedangkan hari 5-10 adalah bakteri Gram negative patogen.
Dalam 1-3 hari pertama pasca cedera, luka masih dalam keadaan steril
sehingga tidak diperlukan antibiotik. Beberapa antibiotik topikal yang
dapat digunakan adalah silver sulfadiazine 1%, silver nitrate dan mafenide
(sulfamylon) dan xerofom/bacitracin. Antasida diberikan untuk
pencegahan tukak beban (tukak stress/stress ulcer), antipiretik bila suhu
tinggi dan analgetik bila nyeri. 1,3

Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan


keseimbnagan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu
sebanyak 2500-3000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi. Kalau perlu
makanan diberikan melalui enteral atau ditambah dengan nutrisi
parenteral. Pemberian nutrisi enteral dini melalui nasaogastik dalam 24
jam pertama pasca cedera bertujuan untuk mencegah terjadinya atrofi
mukosa usus. Pemberian enteral dilakukan dengan aman bila Gastric

21
Residual Volume (GRV) <150 ml/jam yang menandakan pasase saluran
cerna baik. 1,3

Penderita yang sudah mulai stabil keadaannya perlu fisioterapi untuk


memperlancarkan peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau
perlu sendi diistirahatkan dalam posisi fungsional degan bidai.Penderita
luka bakar luas harus dipantau terus menerus. Keberhasilan pemberian
cairan dapat dilihat dari diuresis normal yaitu 1ml/kgBB/jam. Yang
penting juga adalah sirkulasi normal atau tidak dengan menilai produksi
urin,analisa gas darah, elektrolit, hemoglobin dan hematokrit. 1,3

II.6. KOMPLIKASI

Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat
perawatan kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan
grafting.Kompilkasi yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis dan
MODS.Selain itu komplikasi pada gastrointestinal juga dapat terjadi,ss yaitu atrofi
mukosa, ulserasi dan perdarahan mukosa, motilitas usus menurun dan ileus. Pada
ginjal dapat terjadi acute tubular necrosis karena perfusi ke renal menurun. Skin
graft loss merupakan komplikasi yang sering terjadi, hal ini disebabkan oleh
hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada fase lanjut suatu luka bakar, dapat
terjadi jaringan parut pada kulit berupa jaringan parut hipertrofik., keloid dan
kontraktur.Kontraktur kulit dapat menganggu fungsi dan menyebabkan kekeauan
sendi. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi yang intensif dan
kontraktur memerlukan tindakan bedah. 1,3

II.7 PROGNOSIS

Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas
permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan
kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor ini dapat sembuh 5-10
hari tanpa adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14
hari dan mugkin dapat menimbulkan luka parut. Jaringan parut akan membatasi

22
gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan dapat diperlukan untuk
membuang jaringan parut. 1,3

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat R, Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, ECG,


Jakarta, 2004; p 75-83

2. Gerard M Doherty. Current Surgical Diagnosis and Treatment. Edisi 12.


McGraw-Hill Companies. New York. p 245-259

3. Rubangi. S, 1990. Trauma listrik dan Halilintar. Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. Jakarta.http://eprints.ui.ac.id/13260/1/82850-
T6046-Trauma%20listrik-TOC.pdf

4. Benjamin C. Wedro. Agustus 2008. First Aid for Burns.


http://www.medicinenet.com.

24

Anda mungkin juga menyukai