Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No.

03, September 2017, 27-35


ISSN: 2302-4496

PENGEMBANGAN LABORATORIUM VIRTUAL BERBASIS ALGODOO UNTUK


MELATIHKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA POKOK BAHASAN
GERAK PARABOLA

Novian Luki, Rudy Kustijono


Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya
Email: novianluki@yahoo.com

Abstrak

Telah dilakukan penelitian berjudul Pengembangan Laboratorium Virtual Berbasis Algodoo untuk
Melatihkan Keterampilan Proses Sains Siswa pada Pokok Bahasan Gerak Parabola dengan tujuan: (1)
menghasilkan laboratorium virtual berbasis Algodoo yang memenuhi kriteria kelayakan berupa valid, efektif,
dan praktis serta (2) mendeskripsikan ketercapaian keterampilan proses sains siswa yang dilatihkan dengan
menggunakan laboratorium virtual berbasis Algodoo pada pokok bahasan gerak parabola.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan menggunakan metode R&D (Research and
Development) menurut Borg dan Gall. Prosedur penelitiannya terdiri dari (1) studi pendahuluan (analisis
potensi dan masalah serta pengumpulan informasi) dan (2) pengembangan (pendesainan, validasi, revisi,
dan uji coba produk terbatas). Validasi dilakukan dengan pemberian lembar validasi kepada 3 orang
validator. Uji coba media dilakukan terhadap 27 siswa SMA Muhammadiyah 9 Surabaya menggunakan
metode pengamatan untuk menilai keterampilan proses sains siswa dan keterlaksanaan pembelajaran, serta
metode angket untuk menilai respon siswa. Data validasi dan keterampilan proses sains siswa dinilai
menggunakan skala Likert, sedangkan data keterlaksanaan pembelajaran dan respon siswa dinilai
menggunakan skala Guttman, yang selanjutnya diinterpretasikan dengan kriteria menurut Riduwan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kevalidan laboratorium virtual termasuk kategori sangat baik (materi
93,34%, ilustrasi dan tampilan 86,67%, serta kualitas penggunaan 84,44%; RPP 86,67%; dan LKS 89,29%),
kepraktisan berdasarkan keterlaksanaan pembelajarannya termasuk kategori sangat baik (92,31%), dan
keefektifan berdasarkan respon siswa termasuk kategori sangat baik (95,37%), serta rata-rata keterampilan
proses sains siswa juga termasuk kategori sangat baik (87). Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah
laboratorium virtual yang dikembangkan memiliki kelayakan sangat baik dan dapat melatihkan
keterampilan proses sains siswa dengan sangat baik.

Kata Kunci: laboratorium virtual, keterampilan proses sains, gerak parabola, Algodoo

Abstract

A study titled "Developing Algodoo-Based Virtual Laboratory to Practice Students Science Process Skills on
Parabolic Motion Topic" has conducted to (1) create an Algodoo-based virtual laboratory who meet the
eligibility criteria in the form of valid, effective, and practical, also to (2) describe the achievement of
students science process skills practiced using the Algodoo-based virtual laboratory on parabolic motion
topic. This research use R & D (Research and Development) method by Borg and Gall. Research procedure
consisted of (1) a preliminary study (analysis of the potentials and problems as well as the collection of
information) and (2) development (designing, validation, revision, and limited product trials). Validation is
done through the provision of validation sheet to 3 validators. Media trials conducted on 27 students of SMA
Muhammadiyah 9 Surabaya using observational method to assess students' science process skills and
learnings enforceability, as well as the questionnaire to assess students responses. Validations and
students science process skills data are assessed using a Likert scale, while learnings enforceabilities and
students responses data assessed using Guttman scale, which is then interpreted by the criteria per to
Riduwan. The results showed that the validity of the virtual laboratory is categorized as excellent (material
93.34%, illustrations and display 86.67%, as well as the usage quality 84.44%; RPP 86.67%; and LKS 89.29%),
the practicality based on the learnings enforceability is categorized as excellent (92.31%), and the

Novian Luki, Rudy Kustijono 27


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496
effectiveness based on students responses is categorized as excellent (95.37%), also the average students
science process skills are also categorized as excellent (87). The conclusion of this study is that virtual
laboratory developed on parabolic motion topic has an excellent feasibility and can be used to practice
students science process skills very well.

Keywords: virtual laboratory, science process skills, parabolic motion, Algodoo

PENDAHULUAN tertentu, dan (5) Pebelajar bertanggung jawab terhadap


Pada hakikatnya, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) proses belajarnya. Kurikulum pendidikan di Indonesia
merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang juga sudah mengenal dan menerapkan pendekatan
dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip, dan hukum saintifik, yaitu 5 kegiatan penting yang perlu dilakukan
yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian oleh siswa dalam proses belajarnya. Kegiatan-kegiatan
kegiatan dalam metode ilmiah. Hakikat IPA tersebut juga tersebut lebih dikenal dengan istilah 5M, terdiri dari
berlaku bagi Fisika yang merupakan salah satu cabang Mengamati, Menanya, Mencoba, Menalar, dan
dari sains dengan makna yang terluas. Pengaplikasian Mengomunikasikan yang sangat terkait dengan proses
hakikat IPA dalam pembelajaran fisika secara inkuiri dan keterampilan proses sains siswa.
menyeluruh terkadang dihambat oleh berbagai kendala Proses inkuiri yang ingin diterapkan pada
dalam proses pelaksanaannya. Selama ini tampaknya pembelajaran fisika biasanya dihambat oleh faktor teknis,
pengajaran sains di sekolah lebih memberi penekanan seperta yang terjadi pada pokok bahasan gerak parabola.
pada sains sebagai produk dari pada sains sebagai proses Kompetensi Dasar (KD) 4.5 untuk kelas X yang
dan sikap (Sastradi, 2016). tercantum dalam Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016
Pembelajaran fisika yang relevan dengan hakikat tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran
IPA membutuhkan proses inkuiri, yaitu suasana yang pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan
memungkinkan siswa terlibat langsung dalam proses Pendidikan Menengah adalah mempresentasikan data
belajarnya, sehingga dengan memiliki sikap ilmiah dan hasil percobaan gerak parabola dan makna fisisnya,
setelah melalui serangkaian proses pembelajaran, siswa yang melibatkan keterampilan proses sains pada pokok
dapat sampai pada suatu kesimpulan yang ia bentuk bahasan gerak parabola. Selain itu menurut Duwita
sendiri. Pembelajaran fisika seharusnya lebih (2014), gerak parabola termasuk pokok bahasan yang
menekankan pada keterampilan proses sehingga siswa membutuhkan ilustrasi sehingga perlu media untuk
menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, membantu pemahaman siswa. Pertimbangan lain adalah
teori, dan sikap ilmiah di pihak siswa yang dapat gerak parabola sulit dikondisikan secara langsung tanpa
berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk menggunakan peralatan eksperimen dengan kemampuan
pendidikan. Thoifuri (2007) menyatakan bahwa dalam khusus, serta dalam analisisnya terkadang dibutuhkan
mempelajari fisika tidak hanya berhubungan dengan penyederhanaan yang tidak dimungkinkan secara nyata
rumus-rumus, bilangan-bilangan, serta operasi- seperti pengabaian gesekan udara dan pengaruh
operasinya, tetapi juga berkenaan dengan ide-ide, pergerakan bumi. Ini menunjukkan bahwa pada pokok
struktur-struktur, dan hubungannya yang diatur secara bahasan gerak parabola harus didukung dengan media
logika sehingga fisika itu berkaitan dengan konsep- peralatan eksperimen, dan salah satu peralatan
konsep yang abstrak. Ukuran keberhasilan siswa dalam eksperimen terkait gerak parabola adalah PASCO
belajar fisika menurut Sappaile (dalam Sastradi, 2016) Projectile Launcher. Namun harga dari PASCO Projectile
tidak hanya ditentukan oleh penguasaan fisika secara Launcher ini relatif mahal sehingga penggunaannya
kognitif, afektif, dan psikomotor, tetapi juga perlu masih belum terlalu luas untuk sekolah-sekolah di
penguasaan pengetahuan tentang proses ilmiah, Indonesia.
keterampilan individu, dan pengetahuan fisika secara Di sisi lain, teknologi senantiasa berkembang
konseptual. Belajar dan pembelajaran fisika dapat dengan pesat dan sangat mempengaruhi kehidupan
diklasifikasikan menjadi lima hal penting (Widodo dalam manusia. Sebagai contoh, berbagai macam teknologi
Sastradi, 2016) antara lain: (1) Pebelajar telah memiliki yang digunakan untuk membantu kelangsungan hidup
pengetahuan awal, (2) Belajar merupakan proses manusia pada dekade 2000-an dengan cepat berkembang
pengkonstruksian suatu pengetahuan berdasarkan menjadi lebih canggih seperti yang kita jumpai sekarang.
pengetahuan yang telah dimiliki, (3) Belajar adalah Perkembangan teknologi tersebut juga berpengaruh di
perubahan konsepsi belajar, (4) Proses pengkonstruksian berbagai bidang seperti kesehatan, ekonomi, sosial dan
pengetahuan berlangsung dalam suatu konteks sosial budaya, informasi dan komunikasi, pendidikan, dan lain-

Novian Luki, Rudy Kustijono 28


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496

lain. Pengaruh yang ditimbulkannya bermacam-macam, dituntut untuk bisa menggunakan TIK dalam bentuk
ada yang memberikan dampak positif dan ada juga yang media pembelajaran, termasuk guru mata pelajaran fisika.
memberikan dampak negatif. Potensi dampak negatif Media pembelajaran dalam fisika sering
teknologi harus diminimalisir dengan memaksimalkan digunakan untuk membantu siswa dalam hal pemahaman
dan meningkatkan penggunaannya secara positif. Salah fisis karena selain persamaan matematis, hal itu juga
satu upaya untuk menerapkan perkembangan teknologi diperlukan agar Fisika menjadi lebih mudah untuk
secara positif dapat dilihat di bidang pendidikan. Guru, dipelajari. Sementara itu, banyak sekali macam dan jenis
tenaga kependidikan, pelajar, dan semua orang yang media pembelajaran yang bisa digunakan di pelajaran
terlibat di dalamnya telah merasakan berbagai hal positif fisika karena pembahasannya berkaitan erat dengan
terkait penerapan perkembangan teknologi. Mulai dari fenomena di sekitar kita. Ada juga beberapa bahasan di
penyusunan nilai dan rapor siswa, pengelolaan fisika yang membutuhkan media khusus dalam
administrasi, sarana dan prasarana sekolah, membantu pemahaman siswa yang disebabkan oleh
pengembangan potensi peserta didik, dan lain-lain, berbagai faktor seperti ruang lingkup mikroskopis,
semuanya tidak terlepas dari penggunaan teknologi. fenomena abstrak, pembatasan dengan tujuan
Selain itu, penerapan teknologi yang tak kalah penting di penyederhanaan yang tidak bisa dilakukan secara nyata,
bidang pendidikan adalah alat bantu saat proses dan sebagainya. Media khusus yang bisa digunakan
pembelajaran atau biasa disebut media pembelajaran. sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan tersebut
Karena penggunaan dan manfaatnya yang positif, hampir adalah penggunaan laboratorium virtual melalui software
semua guru di berbagai mata pelajaran dalam proses yang berhubungan dengan Fisika seperti Phet, Physion,
pembelajarannya tidak lepas dari media pembelajaran. PhysicsJS, dan Algodoo.
Luasnya penggunaan media pembelajaran yang Algodoo, sebuah physics simulator software,
mencakup hampir seluruh mata pelajaran menurut Sri sangat cocok digunakan sebagai media pembelajaran
Wardhani, Koordinator Widyaiswara PPPPTK berbasis komputer dalam mata pelajaran fisika.
Matematika, dalam Seminar Nasional Pemanfaatan Kemampuan software ini dalam memvisualisasikan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam gejala-gejala dan interaksi-interaksi fisis yang terjadi di
Pembelajaran Matematika Menyongsong Implementasi kehidupan nyata ke dalam dunia virtual sangat
Kurikulum 2013, selain berfungsi untuk memanfaatkan menyerupai keadaan sebenarnya, bahkan ditampilkan
teknologi secara positif juga didasari oleh Permenneg secara lebih menarik dengan animasi yang
PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang jabatan menyenangkan. Penelitian yang dilakukan oleh Harun
Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dalam pasal 6 elik (2015) mendapatkan kesimpulan bahwa
yang menguraikan kewajiban guru diantaranya adalah: menggunakan program Algodoo dalam pembelajaran
(1) Merencanakan pembelajaran/bimbingan, Fisika mempunyai dampak yang positif bagi siswa dan
melaksanakan pembelajaran/atau bimbingan yang dapat meningkatkan pemahaman siswa (Harun, 2015).
bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil Selain itu, penelitian yang dilakukan Samir L. Da Silva
pembelajaran/bimbingan, serta melaksanakan menyatakan bahwa simulasi yang dibuat dengan Algodoo
pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dan (2) mengenai gerak parabola dapat menghasilkan data yang
Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik sesuai dengan teori (Samir, 2014). Salah satu
dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan karakteristik dari software ini adalah physics-user-
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. friendly, yaitu sifat-sifat dan perilaku fisis dari gambar
Kewajiban memanfaatkan Teknologi Informasi yang dibuat oleh pengguna akan disimulasikan secara
dan Komunikasi (TIK) bagi guru juga berdasarkan pada otomatis tanpa harus memasukkan rumus-rumus
Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 mengenai Standar pemrograman sebelumnya. Banyaknya pilihan variabel
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dalam yang bisa diubah seperti gaya gravitasi, gesekan udara,
daftar kompetensi tersebut, kompetensi memanfaatkan massa, konstanta pegas, dan lain sebagainya, serta
TIK terdaftar dalam kompetensi pedagogik dan tersedianya fitur plot untuk analisis grafik dan visualisasi
kompetensi profesional untuk semua kelompok guru besaran vektor membuat Algodoo sangat sesuai
(Guru PAUD/TK/RA, Guru Kelas SD/MI, Guru Mata digunakan pada pembelajaran inkuiri dengan pendekatan
Pelajaran). Selain itu, dalam kesempatan yang sama saintifik untuk melatih keterampilan proses sains siswa.
Kepala PPPPTK Matematika Widodo berpendapat Namun, software Algodoo masih kurang dikenal di
dihapusnya mata pelajaran TIK dalam Kurikulum 2013 Indonesia sehingga jarang sekali Algodoo digunakan
bertujuan agar TIK digunakan sebagai sarana atau media sebagai media pendukung dalam pembelajaran fisika.
pembelajaran semua mata pelajaran. Jadi, semua guru

Novian Luki, Rudy Kustijono 29


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496

METODE pendahuluan. Tinjauan nilai persentase dari sisi aspek-


Penelitian ini adalah penelitian pengembangan aspek penilaian validitas menunjukkan bahwa hasil studi
dengan menggunakan metode R&D (Research and pendahuluan dan revisi-revisi menjangkau seluruh aspek
Development) menurut Borg dan Gall (dalam Mulyana, yang perlu dipertimbangkan dalam proses pengembangan
2016) hasil modifikasi yang dibatasi sampai pada tahap media penunjang pembelajaran. Diagram 1, 2, dan 3
uji coba terbatas. Prosedur penelitiannya terdiri dari (1) memperlihatkan bagaimana nilai persentase validitas
Tahap studi pendahuluan yang mencakup analisis potensi laboratorium virtual, RPP, dan LKS apabila ditinjau dari
dan masalah serta pengumpulan informasi yang sisi aspek-aspeknya.
dilakukan dengan menerapkan pendekatan deskriptif dan
(2) Tahap pengembangan terdiri dari pendesainan,
validasi, revisi, dan uji coba produk. Proses pendesainan
95,00%
awal dan revisi dilakukan dengan menerapkan
pendekatan deskriptif. Proses validasi dilakukan oleh 3 90,00%
orang yaitu 2 orang ahli materi dan media dari dosen 85,00% 93,34%
jurusan Fisika UNESA dan 1 orang praktisi guru fisika. 86,67% 84,44%
80,00%
Desain uji coba media yang dilakukan adalah pra-
75,00%
eksperimen berbentuk one shot case study (Sugiyono,
Materi Ilustrasi dan Kualitas
2012) atau evaluasi kelompok kecil (Susilana & Riyana, Tampilan Penggunaan
2007) menggunakan metode pengamatan untuk menilai
keterampilan proses sains siswa dan keterlaksanaan
pembelajaran, serta metode angket untuk menilai respon Diagram 1. Kevalidan Laboratorium Virtual
siswa dengan subjek penelitian sebanyak 27 siswa SMA
9 Muhammadiyah Surabaya. Semua data yang dihasilkan
termasuk jenis kuantitatif dengan instrumen
95,00% 86,67%
pengumpulan data meliputi lembar validasi media, RPP,
90,00% 93,34% 91,67% 87,34%
dan LKS yang dianalisis menggunakan skala Likert, 85,00%
lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran 80,00% 86,67% 86,65% 86,65%
75,00% 78,33%
dan angket respon siswa yang dianalisis 70,00%
menggunakan skala Guttman, serta 2 macam
lembar penilaian keterampilan proses sains siswa
yang dianalisis menggunakan skala Likert dan
Guttman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kevalidan Laboratorium Virtual beserta RPP Diagram 2. Kevalidan RPP
dan LKS Hampir semua aspek validitas laboratorium
Nilai persentase rata-rata validitas laboratorium
virtual, RPP, dan LKS memiliki nilai persentase 81%
virtual beserta RPP dan LKS sebagai komponen
yang menurut Riduwan (2012) termasuk kategori sangat
pendukungnya masing-masing adalah 88,15%; 86,67%;
dan 89,29%; yang ketiganya termasuk kategori sangat
baik. Hal ini membuktikan bahwa media penunjang
pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi satu
aspek kelayakan yaitu valid. Validitas yang tinggi 89,80%
tersebut tidak lepas dari proses studi pendahuluan dan
89,60%
revisi-revisi yang telah dilakukan sebagai metode awal
89,40%
dalam pengembangannya. Poin-poin penting yang 89,63%
didapatkan dari hasil studi pendahuluan menunjukkan 89,20%
bahwa laboratorium virtual yang dikembangkan memiliki 89,18%
89,00%
landasan teori yang kuat. Pendapat Akker (dalam Aisyah, 88,80%
2011) yang mengaitkan aspek valid dengan 2 hal, salah Syarat Didaktik Syarat Konstruksi
satunya adalah Apakah bahan ajar yang dikembangkan
berdasarkan pada rasional teoritik yang kuat, dengan
Diagram 3. Kevalidan LKS
demikian sudah terakomodasi oleh hasil studi

Novian Luki, Rudy Kustijono 30


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496

baik, kecuali aspek perumusan indikator pada validitas


5 Mengukur waktu
RPP sebesar 78,33% yang termasuk kategori baik. Hasil
ini sejalan dengan pendapat Akker (dalam Aisyah, 2011) 6 Pengulangan konsisten
yang mengaitkan Apakah terdapat konsistensi internal
7 Taraf ketelitian > 80%
pada bahan ajar yang dikembangkan dengan aspek
valid, karena konsistensi internal yang dimaksud dapat
berarti semua aspek penilaian validitas memiliki nilai Laboratorium virtual yang dikembangkan juga
61% seperti yang disyaratkan oleh Riduwan (2012). memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan apabila
Terkait dengan aspek perumusan indikator pada validitas dibandingkan dengan media pembanding PHET seperti
RPP, hal tersebut terjadi karena RPP yang dikembangkan ditunjukkan oleh Tabel 2.
memiliki perbedaan dengan RPP pada umumnya. Tabel 2. Perbandingan Laboratorium Virtual dengan
Indikator Pencapaian Kompetensi yang berkaitan erat PHET
dengan kata kerja operasional dan penilaian disusun Kemampuan Lab. Virtual
secara khusus untuk menilai keterampilan proses sains No Jenis
Dibanding PHET
siswa saja. Penilaian para validator untuk RPP pada poin
Gerakan animasi lebih
Kesesuaian penggunaan kata kerja operasional dengan
1 menyerupai keadaan
kompetensi yang diukur juga masih termasuk kategori
sebenarnya
cukup sehingga perlu proses pengembangan lebih lanjut. Kelebihan
Perlunya perbaikan pada aspek perumusan indikator Mengakomodasi analisis
masih dalam taraf bisa ditoleransi karena persentase 2 grafik untuk > 20 variabel
aspek tersebut masih 61% yang sesuai dengan pendapat berbeda
Riduwan (2012). Pembahasan yang perlu diperhatikan Perlu lebih banyak waktu
juga adalah terkait dengan data hasil percobaan 3 untuk beradaptasi dengan
menggunakan laboratorium virtual. Penelitian yang cara pengoperasiannya
Kekurangan
dilakukan Samir (2014), membahas perolehan data Berfungsi maksimal hanya
seputar gerak parabola menggunakan software Algodoo, 4 untuk PC dengan graphic
menghasilkan kesimpulan bahwa kecocokan antara hasil card bagus
analisis data dengan perhitungan teori mencapai 99%.
Kesimpulan tersebut sejalan dengan kevalidan data yang B. Kepraktisan pada Keterlaksanaan Pembelajaran
menghasilkan taraf ketelitian sebesar 99%, yang semakin Nilai persentase keterlaksanaan pembelajaran
memperkuat konsistensi internal laboratorium virtual sebesar 92,31% yang termasuk kategori sangat baik
sebagai penunjang pembelajaran. Taraf ketelitian tersebut menunjukkan bahwa laboratorium virtual sebagai
juga relatif sama dengan PHET sebesar 99% dan lebih penunjang pembelajaran dengan RPP dan LKS sebagai
baik dari PASCO sebesar 89% sebagai media komponen pendukung dapat diterapkan dan sekaligus
pembanding. menunjukkan kepraktisannya. Hal ini sesuai dengan
Proses pengembangan laboratorium virtual tidak pendapat Akker (dalam Aisyah, 2011) bahwa Aspek
lepas dari media pembanding PASCO sebagai model praktis hanya dapat dipenuhi jika: (1) Para ahli dan
dasar karena salah satu syarat agar bisa dikatakan valid praktisi menyatakan bahwa apa yang dikembangkan
adalah mampu mengakomodasi berbagai kemampuan dapat diterapkan dan (2) Kenyataan menunjukkan bahwa
PASCO dan hal ini ditunjukkan oleh Tabel 1. apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan.
Tabel 1. Perbandingan Laboratorium Virtual dengan Kegiatan pembelajaran sebagai tahap uji coba terbatas
PASCO dapat dilaksanakan karena para validator yang terdiri dari
Laboratorium ahli (dosen) dan praktisi (guru) menilai bahwa media
No Kemampuan PASCO
Virtual penunjang pembelajaran yang dikembangkan sudah
1 Mengubah kecepatan valid. Penilaian para validator tersebut diperkuat oleh
hasil keterlaksanaan pembelajaran yang termasuk
2 Mengubah sudut kategori sangat baik, sehingga aspek praktis dapat
dipenuhi.
3 Mengubah posisi Y

4 Mengukur jarak

Novian Luki, Rudy Kustijono 31


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496

validator yang terdiri dari ahli dan praktisi telah


memberikan nilai validitas sangat baik untuk
laboratorium virtual, RPP, dan LKS yang sekaligus
100,00% memenuhi satu syarat untuk bisa dikatakan praktis dan
80,00%
60,00% 100,00% 100,00% efektif. Nilai keterampilan proses sains siswa
40,00% 66,67% mengakomodasi parameter kedua sebagai bahan ajar
20,00%
0,00% efektif karena semua siswa nilainya 61%.

100,00%
80,00% 100,00% 100,00%
60,00% 95,83%
40,00% 65,28%
20,00% 90,28% 89,81% 75,00%
Diagram 4. Keterlaksanaan Pembelajaran 0,00%

Diagram 4. menunjukkan persentase


keterlaksanaan pembelajaran ditinjau dari tahapan
kegiatannya. Berdasarkan pendapat Riduwan (2012),
kegiatan pendahuluan dan inti termasuk kategori sangat
Diagram 5. Keterampilan Proses Sains
baik sedangkan kegiatan penutup termasuk kategori baik.
Tidak maksimalnya keterlaksanaan kegiatan penutup
Diagram 5. menunjukkan persentase keterampilan
berhubungan erat dengan waktu. Hasil validasi RPP oleh
proses sains siswa ditinjau dari jenis-jenisnya. Seluruh
para validator, yang menjadi dasar utama penilaian
siswa yang dibagi dalam 4 kelompok mampu untuk
keterlaksanaan pembelajaran, pada poin Kesesuaian
melaksanakan dua dari tujuh jenis kegiatan keterampilan
alokasi waktu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan
proses sains secara maksimal yaitu kegiatan questioning
kegiatan penutup dengan cakupan materi masih
dan predicting. Persentase kegiatan observing sebesar
termasuk kategori cukup yang menunjukkan perlu adanya
90,28% disebabkan karena hanya ada 1 kelompok yang
proses pengembangan lebih lanjut. Kenyataan di
memaksimalkan fitur yang tersedia di software Algodoo
lapangan bersesuaian dengan penilaian para validator.
seperti Zoom/Pan, View/Scroll, dan/atau memperlambat
Alokasi waktu selama 90 menit ternyata tidak bisa
simulasi dalam proses pengamatannya. Persentase
mengakomodasi seluruh kegiatan pembelajaran sehingga
kegiatan hypothesizing sebesar 89,81% disebabkan
kegiatan Guru memberikan umpan balik untuk
karena hanya beberapa siswa yang aktif dalam diskusi
mengetahui tingkat pemahaman siswa dan Guru
untuk menentukan hipotesis yang dapat diselidiki. Siswa
meluruskan konsep dan fakta yang disampaikan siswa
yang lain mengajukan pendapat dalam diskusi hanya
selama presentasi pada kegiatan penutup tidak
berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki
terlaksana. Ketidakterlaksanaan 2 poin kegiatan tersebut
sebelumnya, sedangkan siswa yang aktif melakukan studi
ternyata masih dalam taraf bisa ditoleransi karena
pustaka untuk memperkuat hipotesis mereka. Persentase
persentase keterlaksanaan kegiatan penutup masih 61%
kegiatan planning and investigating sebesar 95,83%
yang sesuai dengan pendapat Riduwan (2012).
disebabkan karena ada 1 kelompok yang tidak tepat
C. Keefektifan pada Keterampilan Proses Sains dan waktu dalam memperoleh semua data yang dibutuhkan.
Respon Siswa Kelompok tersebut terlihat kurang dalam membaca
Nilai rata-rata keterampilan proses sains siswa
petunjuk di LKS sehingga penggunaan waktunya tidak
sebesar 87 yang termasuk kategori sangat baik
efektif karena terlalu banyak bertanya pada guru hal-hal
menunjukkan bahwa laboratorium virtual yang
yang sebenarnya sudah ada petunjuknya. Persentase
dikembangkan tidak hanya bisa diterapkan namun juga
kegiatan interpreting sebesar 65,28% disebabkan karena
memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan
semua kelompok tidak bisa menjawab seluruh pertanyaan
sehingga termasuk media penunjang pembelajaran yang
dengan benar, namun 3 poin interpreting lainnya masih
efektif. Hal ini dikarenakan terpenuhinya parameter yang
bisa mereka lakukan seperti menganalisis dengan metode
diberikan Akker (dalam Aisyah, 2011) untuk aspek
grafik, membandingkan data dengan prediksi, dan
efektif yaitu (1) Ahli dan praktisi berdasarkan
menarik kesimpulan. Persentase kegiatan communicating
pengalamannya menyatakan bahwa bahan ajar tersebut
sebesar 75% karena presentasi semua kelompok masih
efektif dan (2) Secara operasional bahan ajar tersebut
kurang komunikatif, namun 3 poin kegiatan
memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Para

Novian Luki, Rudy Kustijono 32


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496

communicating lainnya masih bisa mereka lakukan. termasuk kategori sangat baik sehingga mendukung
Tidak maksimalnya 5 kegiatan keterampilan proses sains pernyataan bahwa bahan ajar yang dikembangkan
tersebut ternyata masih dalam taraf bisa ditoleransi dapat dikatakan efektif.
karena persentasenya masih 61% yang sesuai dengan
pendapat Riduwan (2012). Saran
Nilai rata-rata respon siswa sebesar 95,37% yang 1. Perlu dilakukan penelitian pengembangan lanjutan
termasuk kategori sangat baik menunjukkan bahwa dengan tahap revisi yang lebih mendalam dan uji
ketertarikan siswa dalam menggunakan laboratorium coba produk yang lebih luas agar data yang diperoleh
virtual sebagai penunjang pembelajaran sangat tinggi semakin empiris, sekaligus mengenalkan software
sehingga termasuk bahan ajar yang efektif. Hal ini Algodoo kepada lebih banyak guru dan siswa, dan
didasari oleh pendapat Suryadi (dalam Aisyah, 2011) lebih baik lagi apabila bisa sampai pada tahap
yang salah satu rinciannya pada aspek efektif adalah produksi massal.
Respon siswa dan guru terhadap pembelajaran yang 2. Perlu dilakukan penelitian sejenis dengan menyusun
dilaksanakan baik/positif. Salah satu validator yang rancangan percobaan yang berbeda, seperti peralatan
melakukan penilaian terhadap laboratorium virtual, RPP, eksperimen PASCO dimana berbagai kegiatan
dan LKS adalah seorang praktisi atau guru yang percobaan dalam suatu materi bisa diakomodasi oleh
memberikan validitas sangat baik sehinggan semakin satu alat eksperimen, karena potensi penggunaan
melengkapi unsur yang harus dipenuhi dalam rincian laboratorium virtual yang dikembangkan sangat luas
tersebut. dengan banyaknya fitur yang tersedia di software
Algodoo.
PENUTUP 3. Perlu dilakukan penelitian dengan tipe berbeda
Simpulan dimana penggunaan software Algodoo tidak
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dipersiapkan terlebih dahulu oleh peneliti melainkan
pengembangan laboratorium virtual berbasis Algodoo dilakukan dan dibuat sendiri oleh siswa, misalnya
sebagai penunjang pembelajaran untuk melatihkan implementasi metode pembelajaran problem based
keterampilan proses sains siswa pada pokok bahasan instruction yang berorientasi pada produk buatan
gerak parabola, dapat disimpulkan bahwa: siswa atau penugasan dalam bentuk proyek, karena
1. Persentase rata-rata validitas laboratorium virtual keunggulan dan karakteristik Algodoo lebih kepada
dari segi materi sebesar 93,34%, ilustrasi dan memfasilitasi kebebasan siswa dalam berkreasi dan
tampilan sebesar 86,67%, dan kualitas penggunaan berinteraksi dengan fenomena fisis.
sebesar 84,44%, yang didukung oleh validitas RPP
sebesar 86,67%, dan LKS sebesar 89,29%. DAFTAR PUSTAKA
Ketiganya termasuk kategori sangat baik sehingga
Artikel ini mengaju pada skripsi yang ditulis oleh Novian
bahan ajar yang dikembangkan dapat dikatakan Luki Aditia yang berjudul Pengembangan Laboratorium
valid. Virtual Berbasis Algodoo untuk Melatihkan
2. Persentase rata-rata keterlaksanaan pembelajaran Keterampilan Proses Sains Siswa pada Pokok Bahasan
berdasarkan penilaian praktisi adalah 92,31% yang Gerak Parabola.
termasuk kategori sangat baik sehingga bahan ajar Arya, Atam P. 1998. Introduction to Classical Mechanics.
yang dikembangkan dapat dikatakan praktis. Second Edition. New Jersey: Prentice Hall
3. Persentase rata-rata respon siswa terhadap
Chatib, Munif. 2014. Sekolahnya Manusia. Bandung:
laboratorium virtual sebagai penunjang pembelajaran Kaifa.
adalah 95,37% yang termasuk kategori sangat baik
sehingga bahan ajar yang dikembangkan dapat Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran.
dikatakan efektif. Jakarta: Rineka Cipta
4. Kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan laboratorium
virtual beserta RPP dan LKS sebagai komponen Dirjen Dikdasmen. 2015. Panduan Penilaian untuk
Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Kemendikbud
pendukungnya termasuk kategori sangat baik
sehingga kelayakan bahan ajar yang dikembangkan Greiner, Walter. 2004. Classical Theoretical Physics:
juga termasuk kategori sangat baik. Classical Mechanics, Point Particles, and
5. Persentase rata-rata keterampilan proses sains siswa Relativity. New York: Springer
berdasarkan penilaian menggunakan dua instrumen
berupa daftar cek dan rating scale adalah 87 yang Harun, Uur, and Untung. 2015. Evaluating and
Developing Physics Teaching Material with

Novian Luki, Rudy Kustijono 33


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496

Algodoo in Virtual Environment: Archimedes Nur, Mohammad. 2000. Buku Penduan Keterampilan
Principle. International Journal of Innovation in Proses & Hakikat Sains. Surabaya: Unesa
Science and Mathematics Education. Vol. 23 University Press.
(4): pp 40-50.
Riduwan. 2012. Skala Pengukuran Variabel-variabel
Hake, Richard. 1999. Analyzing Change/Gain Scores. Penelitian. Bandung: Alfabeta
Woodland Hills: Dept. of Physics, Indiana
University. Rankin, Lynn. 2006. Fundamentals of Inquiry
Facilitators Guide: Process Skills. San
Ibrahim, Muslimin. 2010. Dasar-dasar Proses Belajar Fransisco: Institute for Inquiry
Mengajar. Surabaya: Unesa University Press
Samir, Rodrigo, Judismar, Elias, Emilson, and Joao.
Indah, Duwita S dan Prabowo. 2014. Pengembangan 2014. Animation with Algodoo: A Simpe Tool
Alat Peraga Sederhana Gerak Parabola untuk for Teaching and Learning Physics. Exatas
Memotivasi Siswa pada Pembelajaran Fisika Online. Vol 5 (2): pp 28-39
Pokok Bahasan Gerak Parabola. Jurnal Inovasi
Pendidikan Fisika. Vol 3 (02): hal. 89-94 Sari, Mustika. 2015. Penerapan Pembelajaran IPBA
melalui Kegiatan Laboratorium Riil dan
Karamustafaolu, Sevilay. 2011. Improving The Laboratorium Virtual untuk Meningkatkan
Science Process Skills of Science Student Kompetensi Siswa pada Materi Gunung Api.
Teachers Using I Diagram. Eurasian Journal of Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas
Physics and Chemistry Education. Vol 3 (1): pp Negeri Surabaya
26-38
Sastradi, Trisna. 2016. Hakikat Belajar dan Pembelajaran
Kemendikbud. 2014. Permendikbud Nomor 103 Tahun Fisika, (Online),
2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan (http://www.mediafunia.com/2016/07/hakikat-
Dasar dan Pendidikan Menengah. Jakarta belajar-dan-pembelajaran-fisika.html, diakses 29
Agustus 2016)
Kemendikbud. 2015. Permendikbud Nomor 53 Tahun
2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Semiawan, Conny. 1992. Pendekatan Keterampilan
Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Proses: Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Belajar. Jakarta: PT Grasindo
Jakarta
Sudjana, Nana dan Rifai, Ahmad. 2005. Media
Kemendikbud. 2016. Permendikbud Nomor 24 Tahun Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algendindo
2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi
Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif,
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Jakarta
Sumarto. 2013. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),
Mulyana, Aina. 2016. Penelitian Pengembangan (Online),
(Research and Development) Pengertian, Tujuan (https://sumartoipa.wordpress.com/2013/06/15/h
dan Langkah-langkah R&D, (Online), akikat-ilmu-pengetahuan-alam-ipa/, diakses 29
(http://ainamulyana.blogspot.co.id/2016/04/pene Agustus 2016)
litian-pengembangan-research-and.html, diakses
25 Agustus 2016) Susilana, Rudi dan Riyana, Cepi. 2007. Media
Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima
Musfiqon, H. M. 2012. Pengembangan Media dan
Sumber Pembelajaran. Jakarta: Prestasi Sukmadinata, Nana S. 2010. Metode Penelitian
Pustakaraya Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Myers, Elizabeth. 2006. A Personal Study of Science Yazid, Aisyah. 2011. Kevalidan, Kepraktisan, dan Efek
Process Skills in A General Physics Classroom. Potensial Suatu Bahan Ajar, (Online),
Minnesota: Hamline Uniersity (http://aisyahyazid.blogspot.co.id/2011/12/kevali
dan-kepraktisan-dan-efek.html, diakses 24
Nirwana, Ratih Rizki. 2011. Pemanfaatan Laboratorium Agustus 2016)
Virtual dan E-Reference dalam Proses
Pembelajaran dan Penelitian Ilmu Kimia. http://unnes.ac.id/berita/teknologi-pendidikan-berperan-
Jurnal PHENOMENON. Vol 1 (1): hal. 115-123 penting-dalam-kurikulum-2013/comment-page-
1/, diakses 5 Agustus 2016

Novian Luki, Rudy Kustijono 34


Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika (JIPF) Vol. 06 No. 03, September 2017, 27-35
ISSN: 2302-4496

http://p4tkmatematika.org/2013/05/seminar-nasional-
pemanfaatan-teknologi-informasi-dan-
komunikasi-tik-dalam-pembelajaran-
matematika-menyongsong-implementasi-
kurikulum-2013/, diakses 6 Agustus 2016

http://www.ebay.com/itm/Pasco-ME-6831-Ballistic-
Pendulum-w-ME-6800-Ballistic-Launcher-
/121989093979, diakses 28 Agustus 2016

https://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi, diakses 4
Agustus 2016

http://www.algodoo.com/, diakses 11 Agustus 2016

https://www.pasco.com/, diakses 15 Agustus 2016

Novian Luki, Rudy Kustijono 35