Anda di halaman 1dari 8

Hal.

168
Area lain yang berperan penting adalah inferior lobus frontal dan area sekitarnya (gambar
11). Lesi pada daerah ini akan menyebabkan distorsi bahasa yang digunakan. Kedua area
ini dihubungkan oleh fasikulus arkuata. Lesi yang terjadi pada fasikulus ini akan
menimbulkan afasia konduksi yang umumnya terjadi akibat adanyacedera pada girus
supramarginal atau area disekitarnya.
Hemisfer sisnistra juga berperan sebagai pusat membaca di daerah girus angualaris lobus
parietal dan pusat menulis di lobus parietal bersama dengan lobus frontal. Pusat ingatan
pada benda terletak di lobus parietal yang berbatasan dengan lobus oksipital meluas
hingga perbatasan osipital dengan lobus temporal.

2. Hemisfer Dekstra
Hemisfer dekstra berperan dalam fingsi bahasa walau tidak dominan. Hemisfer ini
bertanggung jawab dalam pemahaman kata-kata sederhana, tetapi tidak disertai dengan
kemampuan motorik bahasa.

B. Gangguan Fungsi Berbahasa


Gangguan fungsi berbahasa disebut afasia, kemampuan bahasa merupak aktivitas yang
kompleks melibatkan banyak sirkuit, sehingga gangguan bahasa yang disebut afasia
sangat bervariasi, tergantung lokasi kerusakan yang didapat.

C. Pemeriksaan
Secara umum
Secara garis besar, penilaian gangguan berbahasa dilihat dari:

a. Artikulasi (pengucapan)
Pasien menjadi sulit mengeluarkan kata-kata atau terpatah-patah dengan ucapan
yang tidak jelas.

b. Fluensi
Pada keadaan normal seharusnya perseorangan dapat berbicara dua atau lebih
frasa dengan panjang normal diantara jeda.

Gangguan ringan dapat dideteksi dengan pemeriksaan verbal fluency test, yaitu
dengan meminta pasien untuk menyebutkan nama binatang sebanyak-banyaknya
dalam 1 menit dengan standard asli yang berbeda-beda untuk tiap hasilnya.

Hal. 169
c. Bentuk Sintatik (gramatikal)
Saat pasien berbicara, perlu diperhatikan kesesuaian dengan tata bahasa aslinya.
Pembicaraan tanpa memerhatikan tata bahasa (agrammatis) adalah pembicaraan yang
disederhanakan, karena kekurangan kata-kata grammatis (pelafalan, preposisi, dan
lain-lain) dan mengandung kesalahan tensis. Agramatisme berkaitan erat dengan
bahasa nonfluen.
d. Kesalahan parafasik
Pasien dapat mengalami kesalahan penggantian kata (word subtitution).
Kesalahan tersebut dapat besal dari bunyi (parafasia fonemik) seperti kursi disebutkan
kudri. Atau kesalahan bisa berupa makna (parafasia verbal), yaitu mengganti arti
sebuah kata dengan kata yang mempunyai konotasi sama, misalnya bangku disebut
meja.

e. Penemuan kata (word finding)


Pada ganggunan ini, pembicaraan pasien terdapat jeda (pause) yang mengikuti
pembicaraan yang bertele-tele. Misal: hal yang anda tulis di kertas dengan...

f. Garis melodik (prosodi)


Gangguan pada parsodi sering mengiringi artikulasi pengucapan yang buruk dan
menurunnya kelancaran bicara. Pasien berbicara dengan memaksa dan tidak mampu
menjaga bentuk melodisnya. Gangguan porsodi emosional (misal, modulasi suara,
nada dan titinada ang digunakan untuk mengekspresikan kondisi emosional) dapat
terjadi pada kerusakan hemisfer kanan.

Secara Khusus
Gangguan berbahasa secara khusus berkaitan dengan kerusakan pada struktur otak
tertentu dan diagnostik gangguan yang dapat sesuai dengan:

a. Fluensi
Hal ini menunjukkan kerusakan berada pada anterior atau posterior dari fisura sylvii.
Ketidakfasihan bahasa yang dimaksudkan adalah bicara menjadi lambat, nada bicara
menjadi tidak normal, dan artikulasi menjadi tidak jelas. Gangguan ini berkaitan dengan
kerusakan pada fisura sylvii anterior.

b. Repetisi.
Gangguan ini disebabkan oleh kerusakan daerah perisilvian atau disebut sebagai zona
bahasa. Gangguan lanjut terjadi jika kerusakan mengenai arteri serebri media, dan
menyertakan bagian sekitar dari fisura sylvii yang mencakup area Broca pada sisi
anterior, Wernicke pada sisi posterior, dan fasikulus arkuatus diantaranya.

Hal. 170
Repetisi harus diuji dengan serangkaian kata dan kalimat dengan kompleksitas yang
semakin meningkat. Paling baik dimulai dengan kata-kata tunggal pendek kemudian
dilanjutkan ke kata-kata dengan banyak suku kata, lalu akhirnya kalimat.

c. Pemahaman/komperhensi (comperhension)
Secara klinis dapat dilihat pasien dengan gangguan pada tingkat pemahaman kata dan
kalimat, dengan yang tidak terdapat gangguan. Umumnya kemampuan pemahaman pada
pasien afasia terutama didasari pemahaman mereka terhadap percakapan yang tidak
berstruktur. Pasien dengan gagngguan pemahaman umumnya masih dapat melakukan
perintah sederhana. Pasien dengan gangguan pemahaman ringan masih dapat melakukan
instruksi yang sederhana namun tidak dapat mengikuti instruksi yang lebih kompleks.
Sementara pasien dengan gangguan pemahaman yang lebih berat tidak dapat mengikuti
instruksi sederhana.

Pemahaman terhadap kata tunggal.

Dengan menggunakan benda yang ditemui sehari-hari yang biasa dimasukkan ke dalam
saku, pasien dimita untuk menunjukkannya satu-persatu secara bergiliran, jangan lupa
untuk menggunakan spektrum dari benda-benda tersebut yang berbeda familiaritasnya
dan bagian-bagian dari benda, karena kemampuan memahami selalu terpengaruh oelh
variabel ini. Penderita afasik berat mungkin mampu menunjukkan benda yang umum
namun tidak mampu pada benda yang tidak umum.

Hal. 171
Tiga buah benda yang umum ada di saku. Setelah dipastikan bahwa pasien dapat
memahami nama benda-benda tersebut, tes pemahaman dimulai menggunakan kisaran
sebuah struktur sintaktik, seperti:

- Letakan Pena di atas jam!


- Sentuh jam dengan pena!
- Sentuh kunci dan kemudian pena!
- Sentuhlah pena sebelum menyentuh kunci!
- Letakkan pena diantara jam dan kunci!
- Ambil jam dan berikan saya pena!
- Sentuhlah tidak hanya pena, namun juga kunci!, dan sebagainya.

Pemahaman konseptual

Ini dapat diuji dengan menggunakan sekolompok benda di saku yang sama dengan uji
sebelumnya, dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut:

- Tunjuk ke arah benda yang menunjukan berjalannya waktu!


- Sentuh benda yang digunakan untuk menulis!

Tes formal yang dapat dilakukan diantaranya uji token, yaitu pasien harus mengikuti
perintah yang kerumitan sintaktiknya semakin meningkat. Selain itu ada juga Peabody
picture voccabulary, suatu uji pencocokan gambar kata pada pemahaman kata tunggal.

D. Penamaan
Kemampuan untuk menyebutkan nama obyek dengan benar atau menggambarkan obyek
yang disebutkan akan terganggu pada hampir seluruh pasien dengan afasia dalam
tingkatan yang berbeda-beda.
Pasien cenderung menunjukkan kesalahan menamai/menyebut benda-benda berfrekuensi
rendah (kurang familiar)
Harus diingat bahwa identifikasi akurat benda-benda yang nampak secara visual juga
tergantung pada proses persepsial yang utuh. Terdapat sejumlah tes formal yang mudah
dilakukan dalam mengukur kemampuan penamaan, termasuk Graded Naming Test dan
Boston Naming Test.

Hal.172
E. Membaca
Berkurangnya minat baca di waktu senggang dapat diindikasikan adanya disleksia ringan,
tetapi gangguan memori tetap harus dipikirkan. Beberapa kasus dapat disertai aleksia
murni. Manisfetasi gangguan membaca sangat jelas dan hampir selalu disertai sindrom
lokal berupa hemianopia dekstra.
Kebanyakan contoh menyebutkan kemampuan membaca sejalan dengan kemampuan
bahasa dalam berucap, namun terkadang aleksia dapat terjadi dengan agrafia tanpa defisit
afasik lainnya. Lebih jarang dapat terjadi aleksia tanpa agrafia atau aleksia murni.

Pasien yang berhasil membaca kata dan kalimat, juga harus dinilai kapasitas membaca
dan memahami paragraf pendeknya. Membaca seksama yang simpel dapat diuji dengan
menuliskan sebuah perintah.
Setelah ditemukan permasalahan dalam membaca, selanjutnya ditentukan aspek yang
telah terganggu pada proses membaca normal, seperti:

Identifiaksi huruf
Kesalahan-kesalahan dalam membaca huruf tunggal dan strategi dalam kesusahan
menyebut huruf dengan benar terkadang tebantu dengan melacak sketsa huruf dengan
jari, emnunjukan aleksia murni.
Jenis kesalahan membaca
Kesalahan-kesalahan yang terbatas pada bagian awal kata terjadi pada neglect dyslexia ,
akibat sekunder dari kerusakan hemisfer kanan. Membaca sebuah kata sebagai sesuatu
yang lain terkait konseptual, namun bukan merupakan kata yang bunyinya tidak
berkaitan.
Membaca kata umun versus tidak umum
Kesulitan membaca kata-kata tertentu yang tidak mematuhi aturan bunyi bentuk hufuf
dalam bahasa inggris disebut kata tak umum. Adanya kecenderungan kesalahan kebiasaan
kata merupakan tanda pasti disleksia permukaan.

Hal. 173
Membaca nonkata
Pasien dengan disleksia mengalami gangguan pada rute membaca yang berakar dari
bunyi, tidak mampu membaca nonkata yang masih terbaca. Terdapat defisit lain pada
disleksia dalam, tetapi pada disleksia fonologis, satu-satunya permasalahan utama yaitu
dengan membaca kata-kata yang tidak mempunyai arti.

F. Menulis
Jika terdapat gangguan dalam menulis, perlu digali apakah kesulitan pada kemampuan
mengeja kata-kata atau pada kemampuan pengendalian motorik ketika menulis.
Gangguan lain seperti disleksia abai, perlu dipikirkan jika tidak ditemukan gangguan
pada aspek bahasa lain.
Kemampuan menulis dapat dianalisis melalui manual menulis, mengingat kata-kata dan
huruf individu, serta komposisi kalimat. Gangguan menulis biasanya dapat diketahui
dengan menulis spontan, mengikuti dikte dan pengejaan lisan.

G. Berbicara spontan
Analisis bicara spontan merupakan aspek yang paling penting dalam pemeriksaan baha
untuk pengelompokan afasia. Penilaian dilakukan setelah meminta pasien untuk
menggambar pemandangan yang rumit, anlisis ini lebih cocok pditerapkan pada afasia
yang diakibatkan stroke dan lesi-lesi fokal lainnya.

Hal. 174
FUNGSI EKSEKUTIF
Fungsi eksekutif berkaitan dengan kemampuan kognitif yang lebih kompleks. Secara
sederhana, Funahashi menyimpulakan bahwa fungsi eksekutif merupakan gabungan
berbagai proses perilaku yang memiliki tujuan yang jelas.
Manifestasi gangguan dan kesadaran diri terlihat berupa kesulitan dalam menjalankan
hal-hal berkaitan dengan komponen-komponen tersebut.

A. Neuroanatomi
Fungsi eksekutif diketahui memiliki hubungan dengan struktur konteks prefrontakl. Hal
ini tampak pada pasien dengan gangguan pada struktur korteks prefrontal akan
mengalami gangguan dalam hal pengambilan keputusan, membedakan benar dan salah,
pengorganisasian dan perencanaan. Dampaknya lebih lanjut terdapat pada gangguan
perilaku yang tidakdapat dikendalikan dan penurunan tingkat intelektualitas.

B. Gangguan fungsi eksekutif dan pemeriksaannya


1. Inisisai
Kemampuan inisiasi yaitu inisiatif untuk memulai percakapan, kegiatan atau tugas.

a. Observasi klinis dan analisis aktivitas pasien.


Secara umum pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat performa pasien dalam
melakukan kegiatan yang berbeda.

Apakah teradapat gangguan kepribadian


Apakah pasien masih dapat melakukan kegiatan sehari-hari?
Aktivitas apa yang dapat dilakuakn pasien tanpa bantuan
Apakah pasien cenderung pasif pada aktivitas di sekitarnya.

Hal. 175
b. Pemeriksaan khusus gangguan inisiasi

Kelancaran huruf (F. A. S)


Pasien akan diminta untuk menghasilkan sebanyak mungkin kata, kecuali nama
orang atau temapt dalam satu menit. Huruf awal yang sering digunakan adalah F, A, S.
Jumlah normal untuk tes ini adalah >30 kata.
Kelancaran menyebutkan nama hewan, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Pasien akan
diminta untuk menyebutkan sebanyak mungkin contoh dari kategori semantik
tersebut. Normalnya untuk tes ini yaitu >20 item.

2. Set-shifting
Merupakan kemampuan untuk beralih dari satu modalitas kognitif ke yang lain dan
mencegah respons yang tidak sesuai. Ada 2 instrumen untuk pemeriksaan set-shifting:

a. Wisconsin card sorting test


b. Trail making test

3. Kalkulasi
Kesulitan dalam menulis, membaca, dan memahami angka disebut akalkulia. Gangguan
ini harus dibedakan dari anaritmetria yaitu, pasien tidak mampu melakukan perhitungan
aritmatik, namun penomoran dasar masih baik.

Hal. 176
Penilaian komponen afasik pada akalkulia dimulai dengan menanyakan pasien dengan
beberapa pertanyaan berikut:

Menyebutkan angka dengan keras


Mengingat angka
Mengajukan angka berdasarkan perintah
Menuliskan serangkaian angka yang sederhana dan kompleks serta yang lainnya.

4. Perencanaan dan Organisasi (sequencing)


Kemampuan mempelajari dan mencapai tujuan dalam perencanaan dan organisasi.
Selaim perencanaan, setiap individu harus dapat membuat konsep perubahan dari situasi
saat ini. Pemeriksaan dilakukan denagn melakukan observasi klinis dan analisis aktivitas.
Secar umum evaluasi dapat dilakukan dengan mengamati jumlah pengaturan dan
aktivitas pasien dalam sehari penuh. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan dengan
memberikan perintah kompleks tanpa intruksi dan perencanaan sebelumnya. Fungsi
perencanaan yang lebih kompleks dapat diperiksa dengan melakukan pengukuran
berbasis fungsional. Observasi dan pertanyaan-pertanyaan dapat diaplikasikan dalam
tugas presepsi motorik fungsional dan kognitif. Pertanyaan uang yang familiar juga dapat
dikorelasikan ke dalam checklist atau digunakan dalam konjungsi dengan skala rating
frekuensi.

Hal. 178
Similarity test
Tes persamaan termasuk dengan menanyakan pada pasien dengan cara apa dua item
berkaitan secara konseptual terlihat serupa. Dimulai denagn yang sederhana antara
pasangan seperti kursi dan meja dan berlanjut ke pasangan yang lebih abstrak seperti
pusisi dan patung.

Selain itu terdapat cognitive estimates test merupakan uji formal yang dapat dilakukan
untuk pemeriksaan abstraksi. Pasien ditanyakan pertanyaan mengenai yang memerlukan
penilaian wakar untuk menjawabnya.
Contoh Kasus

Pasien, 65 tahun, pensiunan, datang ke IGD dengan bicara tidak nyambung, tetapi tidak
tampak ada gangguan memori peristen atau gangguan perilaku. Pasien mengatakan masih
aktif dalam pelayanan di angkatan laut, dan saat ini memiliki tempat tinggal di pinggir
pantai.

6 bulan sebelumnya pasien ditemukan tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Pasien
sadar kembali namun tampak bingung, bicara meracau berat dan persisten. Pasien
percaya bahwa sekarang ini sedang masa perang dan masih menjadi anggota aktif. Tidak
ada gangguan memori terhadap kejadian 50 tahun yang lalu. Tidak mampu mengingat hal
baru. Pasien kurang motivasi dan dorongan, sebelumnya pasien sangat aktif, sekarang
hanya menonton TV setiap hari.

Riwayat penyakit dahulu: hipertensi dan merokok ada. Tidak ada penyakit
serebrovaskuler sebelumnya. Konsumsi alkohol ada

Penilaian kognitif:

1. Penilaian umum: apatis dan tidak fokus. Tidak ada insight, perhatian penuh.
2. Orientasi: disorientasi berat; mengatakan saat ini adalah tahun 1945, gagal mengingat
waktu lain.
3. Atensi: normal; menghitung bulan ke belakang: cepat dana kurat; rentang digit ke
depan: 7; trentang digit ke belakang: 5
4. Fungsi eksekutif frontal: terdapat gangguan ringan
Kelancaran bicara: berkurang, dengan beberapa perseverasi: F,A,S: 10 kata per huruf;
hewan 12; abstraksi: interpretasi normal pada proverb dan persamaan; respons inhibisi:
normal.
5. Memori: terdapat defek yang buruk; anterograd: registrasi alamat dan nama: normal:
6/7 pada percobaan pertama; incidental recall pada percakapan: sanagt buruk; Retrogard:
recall mengalami defisit berat pada riwayat pribadi dan kejadian pada tahun 1940.
6. Bahasa: bicara spontan normal, fasih, dengan fonologi dan sintaks yang normal;
tidak ada parafasia; pemahaman: normal; penamaan: normal: 10/10; pengulangan:
normal; membaca: normal; menulis: normal.
7. Kalkulasi: normal
8. Fungsi hemisfer kanan: normal; neglect phenomena: tidak ada; visuokonstruksi:
normal dalam meniru figur 3 dimensi dan ROFCT; visuo-persepsi: tidak ada defisit.

Skor uji mental

MMSE: 21/30: berkurang pada pint orientasi dan recall 3 benda

Investigasi

CT scan: normal
MRI: infark talamus bilateral dana simetris dengan keikutsertaan grup nuclear.
Diagnosis: amnesticstroke: bilateral thalamic infraction (memori)
Diagnosis banding: onset akut dari sindrom medial
Sindrom wernicke - korsakoff (definisi vitamin b1), biasanya berkaitan denagn
alkoholisme
Kerusakan hipokamus anoksik diikuti denagn henti jantung
Ensefalitis virus herpes simpleks
Cedera kepala tertutup

Kesimpulan

Adanya manifestasi klinis koma, yang berkembang menjadi amnestic state dengan defisit
memori anterogard dan retrogard. Merupakan klinis khas untuk infark talamus bilateral.
CT scan pada pascastroke biasanya normal, tetapi didapatkan lesi yang klasik pada MRI.
Semua struktur memori vital diperdarahi oleh A. Serebri posterior. Normalnya, kedua
area talamus medial diperdarahi oleh arteri yang menembus ke daerah tersebut. Perlu
penilaian neuropsikologis pada kasus ini

Catatan

Memori jangka pendek baik


Terdapat disfungsi frontal karena ada gangguan aferenisasi frontal sekunder
Kelaianan pergerakan mata khas untuk sindrom ini