Anda di halaman 1dari 29

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material 1


Modul F Uji Impak

oleh :
Nama : Chairani Tiara Sayyu
NIM : 13715047
Kelompok :8
Anggota : Waridil Iqbal (13713016)
Immanul Ilmi Rais (13715030)
M. Aribiarto Renardi (13715032)
Dwiki Panji (13715053)
Deri Ripandi (13715054)

Tanggal Praktikum : 14 Maret 2017


Tanggal Penyerahan Laporan : 18 Maret 2017
Nama Asisten (NIM) : Rilwanu Lukman Amrullah (13713022)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Material berupa logam banyak digunakan pada kehidupan untuk membuat
suatu konstruksi. Setiap jenis logam mempunyai sifat mekanik yang berbeda.
Untuk mengetahui sifat mekanik dari suatu logam, maka dibutuhkan pengujian.
Salah satu pengujian terhadap logam adalah uji impak. Uji impak dilakukan untuk
mengetahui kekerasan, ketangguhan, serta keuletan. Pada uji impak, digunakan
beban impak yang berupa beban dinamis dengan strain rate yang tinggi. Pengujian
impak ini dilakukan pada kondisi ekstrem dimana material akan lebih mungkin
untuk patah getas[3]. Ada tiga faktor utama atau kondisi ekstrem dimana material
akan patah getas, yaitu adanya triaxial state of stress (adanya takikan/notch),
terjadi pada temperatur rendah, dan diberikan beban dengan strain rate yang
tinggi[1].
Peristiwa yang terjadi karena patah getas adalah peristiwa tenggelamnya
kapal titanic pada tahun 1912 dan tenggelamnya kapal-kapal perang pada kejadian
perang dunia kedua. Pada kedua peristiwa tersebut, terjadi perubahan sifat
material dari ulet (ductile) menjadi getas (brittle). Hal tersebut terjadi karena
energi impak yang diterima oleh material menjadi sedikit karena penurunan
temperatur. Kapal titanic dan kapal perang tersebut terbuat dari baja yang
berstruktur kristal BCC, dimana material baja ini memang memiliki kekuatan
impak baik saat berlayar pada laut dengan temperatur hangat, akan tetapi kekuatan
impak sangat menurun jika berlayar pada laut bertemperatur rendah. Oleh karena
itu, baja pada kapal menjadi getas dan rentan mengalami kegagalan sehingga
kapal titanic dan kapal-kapal perang pada perang dunia kedua mengalami
kegagalan[2].
1.2 Tujuan
1. Menentukan energi impak yang diterima masing-masing material dan faktor
HI dari masing-masing material
2. Menentukan bentuk patahan setiap material setelah dilakukan pengujian
impak dan temperatur transisi dari masing-masing material
3. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan material dengan
beban impak.
BAB II
TEORI DASAR

Pengujian impak adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui


keuletan, kekuatan, dan ketangguhan dari suatu material. Prinsip pengujian impak
adalah menghitung energi yang diberikan oleh beban (pendulum) dan menghitung
energi yang diserap oleh spesimen[4]. Kondisi yang diberlakukan pada pengujian
agar kondisi menjadi ekstrem (yang dapat menyebabkan kegagalan atau patah
pada material) adalah (1) deformasi pada temperatur yang rendah, (2) beban
impak dengan strain yang tinggi, dan (3) adanya triaxial stress state (adanya
takikan/notch)[1].
Pengujian impak menggunakan spesimen yang memiliki notch/takikan.
Pengujian impak menggunakan spesimen yang memiliki takikan bertujuan untuk
mengetahui tendensi material untuk berperilaku dalam sifat getas. Pengujian ini
dapat mengetahui perbedaan yang tidak dapat diketahui pada uji tarik. Pada
pengujian impak ini, ada dua spesimen yang dapat digunakan. Spesimen pertama
adalah Charpy Bar yang biasa digunakan di Amerika Serikat, dan spesimen kedua
adalah Izod Bar yang biasa digunakan di Eropa dan Inggris. Spesimen Charpy
memiliki penampang berbentuk persegi empat berukuran 10x10 mm dengan
takikan bersudut 45o dengan bentuk v, dan kedalamannya berukuran 2 mm
dengan 0,25 mm root-radius[3]. Berikut adalah gambar spesimen Charpy dengan
beberapa tipe dan spesimen Izod.

Gambar 2.1 Spesimen Charpy Tipe A, B, C [4]



Gambar 2.2 Spesimen Izod Tipe D [4]

Selain itu, terdapat perbedaan peletakkan spesimen Charpy dan spesimen


Izod pada mesin uji impak. Spesimen charpy diletakkan secara horizontal dengan
letak arah takikan tidak berhadapan langsung dengan beban impak. Sementara,
spesimen Izod diletakkan secara vertikal pada mesin uji impak dengan letak arah
takikan berhadapan langsung dengan beban impak[1].
Takikan/Notch menghasilkan triaxial stress state. Konsentrasi plastik
maksimum dapat dicari dengan menggunakan persamaan:
K = (1 + phi - w ) (Persamaan 2.1)
2 2
Dimana w adalah sudut dari takikan tersebut. Triaxial stress state yang dihasilkan
sangat bergantung dengan dimensi dari spesimen dan spesifikasi dari notch
tersebut[3].
Selain mencari energi yang diterima oleh spesimen, pengukuran atau hasil
pengujian yang didapat dari pengujian impak adalah melihat dan menganalisis
dari permukaan patahan untuk menentukan apakah patahan bersifat getas atau
ulet. Patahan yang bersifat getas berbentuk granular/rata (cleavage fracture),
sedangkan patahan bersifat ulet berbentuk fibrous/seperti berserat (shear fracture).
Kedua patahan ini dapat dilihat tanpa perlu perbesaran atau mikroskop. Bentuk
patahan granular atau cleavage akan terlihat lebih bersinar sementara bentuk
patahan fibrous kurang bersinar[3]. Selain itu, pada bentuk patahan fibrous/ulet
akan terlihat shear lip[4]. Berikut adalah bentuk patahan getas dan patahan ulet.

!
Gambar 2.3 Bentuk Patahan Getas dan Bentuk Patahan Ulet [5]
Pengujian impak menggunakan spesimen yang memiliki takikan akan
menjadi lebih signifikan jika dilakukan pada temperatur yang berbeda sehingga
kapan transisi material dari ulet menjadi getas dapat ditentukan. Perlu
diperhatikan bahwa energi impak akan menurun seiring menurunnya temperatur,
tetapi pada kebanyakan kasus, menurunnya energi impak tidak terlalu tajam/
ekstrem. Hal ini menyebabkan sulitnya menentukan temperatur transisi secara
akurat. Saat pemilihan material (yang akan berefek pada ketangguhan takikan atau
tendensi menjadi getas), temperatur transisi sangat penting. Semakin tinggi
temperatur transisi, maka tendensi material menjadi getas akan menurun dan
ketangguhan dari material meningkat[3].
Pada pengujian impak Charpy, dicari energi yang diserap/diterima oleh
spesimen ketika diberi beban impak. Informasi tambahan dapat dicari jika
pengujian impak memberikan data beban-waktu dari spesimen tersebut. Pada
gambar 2.4, kurva menunjukkan kurva antara beban dengan waktu yang ideal dari
pengujian Charpy[3].

Gambar 2.4 Kurva Beban dengan Waktu pada Pengujian Charpy[3]


Dengan kurva seperti pada gambar 2.4, dapat ditentukan energi yang
dibutuhkan untuk mengawali patahan, energi yang dibutuhkan untuk
mempropagasi patahan, dan informasi dari beban seperti yielding umum, beban
maksimum, dan beban patahan. Apabila kecepatan dari pendulum diasumsikan
konstan selama test, maka untuk mencari energi dapat digunakan persamaan
berikut[3]:
E = vo integral P dt (Persamaan 2.2)
dimana vo adalah kecepatan awal pendulum, P adalah beban, dan t adalah
waktu. Akan tetapi, asumsi bahwa kecepatan pendulum adalah konstan tidak dapat
digunakan, karena kecepatan berkurang sebanding dengan beban yang diberikan
pada spesimen[3]. Secara umum, dapat digunakan persamaan:
Et = E (1-alfa) (Persamaan 2.3)
dimana Et adalah energi total patahan, dan alfa adalah E/4Eo, dengan Eo
adalah energi awal[3].
Kegunaan utama dari pengujian impak Charpy adalah untuk memilih
material yang resistan pada patah getas yang dapat ditentukan dengan melihat
kurva temperatur transisi. Jenis material berpengaruh terhadap sifat dari material
tersebut pada kurva temperatur transisi. Pada gambar 2.5, dapat dilihat bahwa
logam fcc berkekuatan medium dan rendah serta sebagian besar logam hcp
memiliki kekuatan takikan yang tinggi sehingga tidak akan mengalami patah getas
jika tidak ada pengaruh lingkungan seperti keadaan kimiawi yang reaktif. Material
berkekuatan tinggi (sigmao > E/150) mempunyai kekuatan takikan yang rendah
sehingga patah getas dapat terjadi pada stress tertentu dengan segala variasi
temperatur serta strain rate jika ada kelemahan/flaws. Untuk baja berkekuatan
tinggi, aluminium, dan titanium, pada temperatur rendah maka ketiga jenis logam
tersebut akan retak dengan adanya brittle cleavage. Sementara pada temperatur
tinggi, retakan terjadi dengan adanya kerusakan dari energi yang rendah (low
energy rupture). Kekuatan takikan pada logam BCC berkekuatan rendah dan
medium, serta Be, Zn, dan keramik, sangat bergantung pada temperatur. Pada
temperatur rendah, patahan terjadi dengan cleavage/patah getas, sedangkan pada
temperatur tinggi patahan terjadi dengan patah ulet. Dapat disimpulkan bahwa
terdapat transisi dari takikan getas menjadi takikan yang lebih kuat dengan
bertambahnya temperatur. Dapat dilihat efek temperatur terhadap kekuatan
takikan pada gambar 2.5[3].
Gambar 2.5 Efek Temperatur terhadapa Kekuatan Takikan [3]
Prinsip dari penggunaan kurva temperatur transisi adalah menentukan
temperatur diatas dimana patah getas tidak akan terjadi. Terdapat beberapa tipe
temperatur transisi seperti pada kurva gambar 2.6. Temperatur transisi T1 disebut
fracture transition plastic (FTP), yaitu temperatur dimana sifat patahan berubah
dari getas menjadi ulet. Pada temperatur di atas FTP, patahan akan berupa 100%
ulet. Temperatur T2 pada kurva disebut fracture-appearance transition temperature
(FATT), yaitu temperatur dimana patahan akan berupa 50% cleavage/getas dan
50% ulet/shear. T5 pada kurva disebut nil ductility temperature (NDT), yaitu
temperatur dimana patahan akan terjadi tanpa deformasi plastis dan sifat patahan
akan berubah dari ulet menjadi getas. Pada temperatur di bawah NDT, patahan
akan berbentuk 100% patah getas[3].

Gambar 2.6 Tipe Temperatur Transisi dari Pengujian Charpy[3]


Kemudian, temperatur transisi dapat dipengaruhi oleh faktor metalurgi.
Perubahan temperatur lebih dari 50oC dapat mempengaruhi komposisi kimia atau
mikrostruktur pada mild steel. Perubahan temperatur transisi terbesar dihasilkan
oleh kandungan karbon dan mangan. Temperatur transisi T3 pada gambar 2.6 akan
meningkat sebanyak 14oC dengan meningkatnya 0.1 persen karbon. Sementara, T3
akan menurun sekitar 5oC dengan meningkatnya 0.1 persen mangan.
Menambahkan jumlah karbon akan berpengaruh terhadap energi maksimum dan
bentuk kurva dari energi-temperatur transisi. Untuk hasil yang memuaskan, rasio
jumlah mangan dengan karbon adalah 3:1. Efek dari jumlah karbon pada
spesimen dapat dilihat pada gambar 2.7. Selain itu, fosfor juga berpengaruh dalam
menaikkan temperatur transisi. Begitu pula dengan nikel, silikon, dan
molybdenum, serta chromium walau berefek sedikit. Ketangguhan takikan
dipengaruhi oleh jumlah oksigen. Dengan menaiknya jumlah oksigen, temperatur
transisi juga akan naik[3].

Gambar 2.7 Pengaruh Jumlah Karbon terhadap Energi Impak[3]


Selain komposisi kimia dalam spesimen, besar butiran juga berpengaruh
pada temperatur transisi. Dengan menaikkan nomor ASTM pada ferit, temperatur
transisi akan menurun untuk mild steel. Perlakuan terhadap spesimen seperti hot-
rolled juga berpengaruh pada temperatur transisi. Dengan dilakukannya hot-rolled
pada spesimen, maka temperatur transisi menjadi lebih tinggi. Dilakukannya
strain aging pada baja berkarbon rendah dapat meningkatkan temperatur
transisi[3].
Untuk menganalisa patahan pada spesimen, digunakan fracture analysis
diagram seperti pada gambar 2.8.

Gambar 2.8 Diagram Analisis Patahan (Fracture Analysis Diagrams) [3]


Pada Diagram tersebut, ada temperatur NDT (nill ductility temperature),
CAT (crack-arrest temperature), FTE (fracture transition elastic), dan FTP
(fracture transition plastic). Temperatur diatas dimana stress elastis tidak dapat
membuat propagasi retakan adalah FTE. Sedangkan, temperatur tertinggi dimana
propagasi patahan yang tidak stabil akan terjadi pada nilai stress apapun adalah
CTA[3].
FAD (fracutre analysis diagram) data digunakan dalam beberapa cara
tertentu. Contohnya adalah menggunakan FAD untuk menentukan baja yang
mempunyai FTE dibawah temperatur servis yang ditentukan. Dengan kriteria
seperti itu, cacat terburuk tidak akan berpropagasi selama stress masih elastis.
Pada gambar 2.8, dapat disimpulkan bahwa patahan tidak akan berpropagasi pada
stress tersebut asalkan temperatur tidak dibawah NDT 0oC[3].
Selain itu, tes dinamik (DT) dapat digunakan untuk membuat FAD seperti
pada gambar 2.9. Di bawah NDT, material akan menjadi getas dan memiliki
patahan yang rata. Pada temperatur diatas NDT, terdapat kenaikan energi untuk
patah dan patahan akan memiliki shear lip pada permukaannya. Di atas FTE,
material akan mengalami patah ulet dan memiliki permukaan patahan yang
kasar[3].
Gambar 2.9. Hasil Percobaan Tes Dinamik[3]
BAB III
DATA PENGOLAHAN

Material 1 : Aluminium
Material 2 : ST-37
Mesin : Wolpret

T (oC) h (mm) p (mm) l (mm) t (mm) A (mm2) E (J) H (J/


mm2)
-40 7.52 62.98 9.55 9.52 71.82 27 0.38
-20 7.52 62.97 9.39 9.52 70.61 15 0.21
26.1 7.52 62.64 9.31 9.52 70.01 18 0.26
40 7.52 63.56 9.28 9.52 69.79 20 0.29
80 7.52 63.34 9.51 9.52 71.52 72 1.01

Tabel 3.1 Tabel Hasil Pengujian Impak Spesimen Aluminium

80

60
Energy absorbed (J)

40

20

0
-40 -20 0 20 40 60 80
Temperatur (oC)

Gambar 3.1 Kurva Pengujian Impak Spesimen Aluminium


T (oC) h (mm) p (mm) l (mm) t (mm) A (mm2) E (J) H (J/
mm2)

80 7.98 61.71 10.06 9.98 80.28 205 2.55

40 7.79 64.39 9.96 9.79 77.59 192 2.47

26.1 7.96 62.27 9.77 9.96 77.77 179 2.30

-20 8.00 64.89 9.88 10.00 79.04 12 0.15

-40 7.96 63.20 9.99 9.96 79.52 6 0.08

Tabel 3.2 Tabel Hasil Pengujian Impak Spesimen ST-37

300

225
Energy absorbed (J)

150

75

-75
-40 -20 0 20 40 60 80
Temperatur (oC)

Gambar 3.2 Kurva Hasil Pengujian Impak Spesimen ST-37


Dari Hasil Percobaan, dapat diamati bentuk patahan dari masing-masing
spesimen. Bentuk patahan dari spesimen adalah sebagai berikut:

Spesimen T (oC) Bentuk Patahan

Aluminium 80 Ulet

Aluminium 40 Ulet

Aluminium 26.1 Ulet

Aluminium -20 Ulet

Aluminium -40 Ulet

Baja ST-37 80 Ulet

Baja ST-37 40 Ulet

Baja ST-37 26.1 Ulet

Baja ST-37 -20 Getas

Baja ST-37 -40 Getas

Tabel 3.3 Bentuk Patahan Spesimen

Kemudian, dari kurva hasil percobaan, dapat ditentukan temperatur


transisi (NDT,FATT, dan FTD) dari spesimen baja dan spesimen aluminium. Pada
kurva aluminium di gambar 3.1, dengan bentuk kurva demikian, sulit ditentukan
berapa dan dimana letak temperatur transisi. Sementara pada kurva baja di gambar
3.2, dapat ditentukan temperatur transisi.
300

225
Energy absorbed (J)

150

75

-75
-40 -20 0 20 40 60 80
Temperatur (oC)

Gambar 3.3 Kurva untuk Mencari Temperatur Transisi


Dari kurva diatas dengan garis pembaginya, dapat diperkirakan temperatur
transisi dari baja ST-37. NDT (nill ductility temperatur) adalah sekitar 28oC, FATT
(fracture appearance transition temperature) adalah sekitar 9oC sampai 15oC, dan
FTP (fracture transition plastic) adalah sekitar 40oC.
BAB IV
ANALISIS DATA

Pada pengujian impak, dapat ditentukan apakah material yang diuji


mengalami patah getas atau patah ulet. Pengujian dilakukan pada dua jenis
material yang berbeda, yaitu aluminium dan baja ST-37 dengan variasi temperatur
tertentu.
Pada spesimen aluminium yang diuji pada temperatur kamar (26.1oC),
permukaan patahan terdapat shear lip dan terlihat kasar pada bagian tengah
(fibrous). Dapat disimpulkan bahwa aluminium saat diuji pada temperatur kamar
mengalami patahan ulet. Hal tersebut disebabkan oleh struktur kristal aluminium
yang berbentuk FCC sehingga memiliki slip sistem yang banyak dan tingkat
deformasi plastis yang tinggi. Dengan demikian, walau bukan pada temperatur
tinggi, spesimen tetap akan mengalami patah ulet. Patahan spesimen aluminium
pada suhu kamar dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.1 Patahan Aluminium pada Temperatur Kamar (26.1oC)


Pada spesimen aluminium yang diuji pada temperatur 40oC, permukaan
patahan terlihat kasar (fibrous) dan terdapat shear lip. Dapat disimpulkan bahwa
pada temperatur 40oC, aluminium tetap mengalami patah ulet. Dengan
dinaikkannya temperatur, terlihat pada permukaan patahan bahwa daerah fibrous
lebih banyak daripada saat 26.1oC. Hal tersebut dikarenakan oleh dilewatinya
temperatur transisi sehingga spesimen lebih ulet dibandingkan sebelumnya.
Patahan spesimen dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 4.2 Patahan Aluminium pada 40oC
Pada pengujian ketiga, aluminium diuji pada temperatur sebesar 80oC.
Pada permukaan patahan, dapat dilihat bahwa spesimen tidak terpisah/patah
seutuhnya, tetapi masih menempel. Dan pada permukaan patahan dapat dilihat
daerah yang tidak rata (fibrous). Hal tersebut dikarenakan oleh semakin tingginya
temperatur, maka aluminium akan bersifat lebih ulet daripada sebelumnya karena
melewati temperatur transisi sehingga spesimen menjadi lebih sulit patah. Patahan
aluminium pada pengujian ketiga dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.3 Patahan Aluminium pada 80oC


Pada pengujian keempat, aluminium diuji pada temperatur -20oC dengan
cara diberi nitrogen cair. Pada permukaan patahan, dapat dilihat masih ada daerah
kasar (fibrous) dan shear lip yang terbentuk di pinggir patahan. Dengan demikian,
pada temperatur -20oC, aluminium masih mengalami patah getas. Hal ini
disebabkan oleh struktur kristal aluminium yang berbentuk FCC sehingga tidak
mengalami patahan getas walau temperatur diturunkan. Patahan aluminium pada
-20oC dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.4 Patahan Aluminium pada Temperatur -20oC


Pada pengujian kelima, aluminium diuji pada temperatur -80oC. Setelah
dilakukan pengujian impak, permukaan patahan diamati. Pada permukaan
patahan, masih terdapat daerah kasar (fibrous) dan shear lip. Hal ini disebabkan
oleh struktur aluminium berupa FCC sehingga tidak berubah sifat menjadi getas
saat temperatur diturunkan lagi. Patahan dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.5 Patahan Aluminium pada Temperatur -80oC


Pada pengujian pertama baja ST-37, temperatur pada pengujian adalah
26.1oC (temperatur kamar). Pada patahan dapat dilihat bahwa spesimen tidak
terbelah menjadi dua dan masih menempel. Dan pada patahan terlihat daerah
kasar (fibrous). Artinya, baja ST-37 mengalami patah ulet pada temperatur kamar.
Hal ini disebabkan oleh temperatur yang digunakan pada pengujian telah
melewati temperatur transisi dimana baja menjadi lebih ulet. Patahan dapat dilihat
pada gambar 4.6.
Gambar 4.6 Patahan Baja ST-37 pada 26.1oC
Pada pengujian kedua baja ST-37, temperatur yang digunakan saat
pengujian adalah 40oC. Pada patahan dapat dilihat bahwa spesimen tidak terbelah
menjadi dua dan masih menempel. Pada permukaan patahan dapat dilihat daerah
kasar/fibrous. Dengan demikian, baja ST-37 pada temperatur 40oC mengalami
patah ulet. Hal ini disebabkan oleh temperatur yang tinggi dan melewati
temperatur transisi sehingga spesimen menjadi lebih ulet dibandingkan
sebelumnya. Patahan dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.7 Patahan Baja ST-37 pada 40oC


Pada pengujian ketiga baja ST-37, temperatur yang digunakan saat
pengujian adalah sebesar 80oC. Setelah pengujian, spesimen tidak terbelah
menjadi dua dan panjang retakan lebih pendek dibandingkan pada dua pengujian
sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh temperatur yang semakin tinggi sehingga
sifat ulet pada spesimen menjadi lebih kuat. Patahan dapat dilihat pada gambar
4.8.
Gambar 4.8 Patahan Baja ST-37 pada Temperatur 80oC
Pada pengujian keempat baja ST-37, temperatur yang digunakan adalah
temperatur dibawah temperatur kamar, yaitu -20oC. Setelah pengujian, dapat
dilihat daerah halus dan rata pada patahan dan terlihat lebih bersinar dibandingkan
hasil patahan pada pengujian sebelumnya. Hal ini disebabkan temperatur yang
digunakan lebih rendah dibandingkan temperatur transisi sehingga baja
mengalami perubahan sifat menjadi getas. Akan tetapi, dikarenakan struktur baja
yaitu BCC, maka seiring diturunkannya temperatur maka spesimen akan menjadi
lebih getas. Patahan baja pada -20oC dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.9 Patahan Baja ST-37 pada Temperatur -20oC


Pada pengujian kelima baja ST-37, temperatur yang digunakan lebih
rendah dibandingkan pengujian keempat, yaitu sebesar -40oC. Setelah pengujian
impak, dapat dilihat permukaan patahan lebih halus dan rata dibandingkan
sebelumnya, serta terlihat lebih bersinar (shiny) dibandingkan empat pengujian
sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh temperatur yang lebih rendah daripada
temperatur transisi sehingga spesimen menjadi lebih getas. Patahan pada -40oC
lebih rata daripada patahan pada -20oC dikarenakan temperatur yang lebih rendah
menyebabkan spesimen bersifat semakin getas. Patahan dapat dilihat pada gambar
berikut.

Gambar 4.10 Patahan Baja ST-37 pada Temperatur -40oC


Kemudian, dari grafik pada bab (iii) pengolahan data, dapat dilihat bentuk
kurva pada spesimen aluminium dan baja ST-37. Pada spesimen baja ST-37,
temperatur transisi seperti NDT, FATT, dan FTP dapat diestimasi dan ditentukan.
Akan tetapi, pada spesimen aluminium, temperatur transisi sulit untuk ditentukan.
Hal tersebut dikarenakan aluminium memiliki struktur kristal FCC dengan sistem
slip yang lebih banyak sehingga akan terus berdeformasi plastis walau diberi
temperatur yang rendah. Sedangkan, spesimen baja berstruktur kristal BCC
dimana sistem slip lebih sedikit mengakibatkan deformasi plastis akan lebih
sedikit dan akan mengalami patah getas saat diberi temperatur rendah. Dari grafik
tersebut, dapat diperkirakan temperatur transisi kristal, yaitu NDT sekitar -28oC,
FATT sekitar 9oC sampai 15oC, dan FDT sekitar 40oC.
Selain itu, pada grafik pengolahan data pada gambar 3.1, dapat dilihat
trends dari grafik. Dapat disimpulkan dari grafik percobaan bahwa semakin tinggi
temperatur maka spesimen menjadi lebih ulet, dan semakin rendah temperatur
maka spesimen menjadi lebih getas. Hal tersebut disebabkan pada temperatur
yang rendah, vibrasi partikel pada spesimen menjadi lebih sedikit dan pergerakan
partikel menjadi lebih rendah sehingga energi yang diserap menjadi semakin kecil
dan kemungkinan terjadinya deformasi plastis menjadi semakin kecil. Akan tetapi,
terdapat galat pada grafik pengujian aluminium. Pada temperatur -40oC, energi
yang diterima spesimen lebih besar daripada energi yang diterima spesimen pada
temperatur -20oC. Anomali tersebut disebabkan terjadinya kesalahan saat
dilakukannya pengujian impak. Kesalahan tersebut adalah tidak diletakkannya
spesimen dengan benar sehingga beban impak tidak mengenai bagian tengah/
notch spesimen. Dengan demikian, energi yang diterima menjadi lebih besar
daripada seharusnya karena beban impak tidak mengenai notch yang berfungsi
sebagai daerah yang memiliki tingkat konsentrasi stress tinggi. Selain itu, dapat
terjadi kesalahan saat mengatur temperatur uji sehingga temperatur uji tidak tepat
pada -40oC. Oleh karena itu, terdapat error pada hasil percobaan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Energi Impak dan HI yang didapat oleh tiap spesimen adalah sebagai berikut:

Spesimen T (oC) Energi Impak (J) HI (J/mm2)

Aluminium 80 72 1.01

Aluminium 40 20 0.29

Aluminium 26.1 18 0.26

Aluminium -20 15 0.21

Aluminium -40 27 0.38

Baja ST-37 80 205 2.55

Baja ST-37 40 192 2.47

Baja ST-37 26.1 179 2.30

Baja ST-37 -20 12 0.15

Baja ST-37 -40 6 0.08

2. Temperatur transisi dari spesimen aluminium tidak dapat ditentukan


dikarenakan bentuk kristal FCC, sedangkan pada spesimen baja temperatur
transisi dapat ditentukan karena berstruktur kristal BCC dengan nilai NDT sekitar
28oC, FATT sekitar 9oC sampai 15oC, dan FTP sekitar 40oC. Bentuk patahan dari
tiap spesimen adalah sebagai berikut:
Spesimen T (oC) Bentuk Patahan

Aluminium 80 Ulet

Aluminium 40 Ulet

Aluminium 26.1 Ulet

Aluminium -20 Ulet

Aluminium -40 Ulet

Baja ST-37 80 Ulet

Baja ST-37 40 Ulet

Baja ST-37 26.1 Ulet

Baja ST-37 -20 Getas

Baja ST-37 -40 Getas

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya patah getas adalah adanya triaxial


state of stress (adanya notch/takikan), temperatur yang rendah, dan beban impak
dengan strain rate yang tinggi.

5.2 Saran
Sebaiknya digunakan spesimen baru agar tidak terjadi anomali atau error pada
hasil percobaan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Callister Jr., William D., dan Rethwisch, David G. Materials Science and
Engineering 9th edition. John Wiley & Sons, Inc. 2015
2. Amyreeza. 4 Kecelakaan Hebat Akibat Kegagalan Material. diakses pada 15
Maret 2017 pukul 16.00. https://metallurgistwannabe.wordpress.com/
2015/08/01/4-kecelakaan-hebat-akibat-kegagalan-material/
3. Dieter, G.E. Mechanical Metallurgy SI Metric Edition. McGraw-Hill Book Co.
1988
4. ASTM E23/E23-07a. Standard Test Methods for Notched Bar Impact Testing
of Metallic Materials. ASTM International.
5. Carmack, Blaine. Brittle Fracture. diakses pada 15 Maret 2017 pukul 16.00.
http://libatoms.github.io/QUIP/_images/brittle-vs-ductile.png
6. Akhmeteli. Why don't FCC metals have a brittle-to-ductile temperature
transition?. diakses pada 17 Maret 2017 pukul 18.00. http://
physics.stackexchange.com/questions/74983/why-dont-fcc-metals-have-a-brittle-
to-ductile-temperature-transition
LAMPIRAN

1. Tugas Setelah Praktikum


1. Buatlah kurva yang menghubungkan antara temperatur dengan energi yang
diserap oleh spesimen, baik aluminium dan baja secara digital!

80
Energy absorbed (J)

60

40

20

0
-40 -20 0 20 40 60 80
Temperatur (oC)

Kurva Energi yang diserap dengan Temperatur (Aluminium)

300
Energy absorbed (J)

225

150

75

-75
-40 -20 0 20 40 60 80
Temperatur (oC)

Kurva Energi yang diserap dengan Temperatur (Baja ST-37)


Kurva diatas dibuat berdasarkan hasil percobaan pengujian impak.
2. Tentukan temperatur transisi dari kedua material tersebut! Apakah kegunaan
dari temperatur transisi suatu material? Apakah semua material mempunyai
temperatur transisi? Jelaskan dengan baik dan tepat!
Dari hasil percobaan, dapat diperikirakan temperatur transisi baja. NDT
terdapat pada sekitar -28oC, FATT terdapat pada sekitar 9oC sampai 15oC, dan
FTP terdapat pada sekitar 40 o C. Temperatur transisi berguna untuk
memperkirakan kapan material akan berubah sifat menjadi getas atau menjadi
ulet, serta untuk menentukan batas kondisi penggunaan dari suatu material supaya
tidak mengalami kegagalan. Tidak semua material mempunyai temperatur transisi,
contohnya adalah logam berstruktur kristal FCC, seperti aluminium. Logam
berstruktur FCC tetap bersifat ulet walau pada temperatur rendah. Hal ini
disebabkan oleh stress yang diperlukan untuk menggerakkan dislokasi tidak
bergantung pada temperatur, sehingga pada FCC kegagalan terjadi dengan adanya
plastic flows, bukan propagasi retakan[6].

3. Buatlah analisis mengenai bentuk permukaan patahan untuk semua spesimen!


Untuk logam berstruktur kristal FCC dan HCP, kedua tipe logam ini tidak
mempunyai temperatur transisi sehingga akan tetap bersifat ulet pada temperatur
rendah, maka bentuk permukaan patahan akan kasar (fibrous), terdapat shear lip,
dan tidak bersinar (dull). Untuk logam berstruktur kristal BCC, pada temperatur
rendah logam akan bersifat getas sehingga bentuk permukaan patahannya akan
rata (cleavage), halus, dan terlihat bersinar (shiny). Sementara, pada temperatur
tinggi, logam BCC akan bersifat ulet sehingga bentuk permukaan patahannya
akan kasar (fibrous), terdapat shear lip, dan tidak terlihat bersinar (dull).
2. Tugas Tambahan
1. Sebutkan dan Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi patahan getas!
Faktor utama yang mempengaruhi patahan getas adalah adanya triaxial state of
stress (adanya notch/takikan), temperatur rendah, dan diberikan beban impak
dengan strain rate yang tinggi. Adanya notch menyebabkan terjadinya konsentrasi
stress yang tinggi pada daerah tersebut sehingga material akan lebih mudah patah.
Pada temperatur rendah, vibrasi pada material akan semakin berkurang,
pergerakan partikel akan berkurang dan energi impak yang diserap material juga
semakin berkurang sehingga kemungkinan terjadinya deformasi plastis akan
mengecil dan pada akhirnya material akan mengalami patah getas. Dengan
semakin tingginya strain rates pada beban impak, maka waktu yang dibutuhkan
oleh material untuk menyerap energi semakin sedikit dan akhirnya energi impak
yang diserap material menjadi lebih kecil. Dengan energi impak yang kecil, maka
material akan mengalami patah getas. Terdapat faktor-faktor lain yang
mempengaruhi patahan getas pada material seperti komposisi kimia pada
spesimen dan perlakuan pada spesimen. Komposisi kimia seperti jumlah karbon
dan mangan akan mempengaruhi temperatur transisi. Begitu pula perlakuan pada
spesimen seperti hot-rolled dan strain aging yang mempengaruhi temperatur
transisi. Semakin tinggi temperatur transisi, maka kemungkinan material untuk
patah getas semakin besar karena dibutuhkan energi serta temperatur yang tinggi
untuk dapat mengalami patah ulet.