Anda di halaman 1dari 50

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material 1


Modul A Uji Tarik

oleh :
Nama : Chairani Tiara Sayyu
NIM : 13715047
Kelompok :8
Anggota : Waridil Iqbal (13713016)
Immanul Ilmi Rais (13715030)
M. Aribiarto Renardi (13715032)
Dwiki Panji (13715053)
Deri Ripandi (13715054)

Tanggal Praktikum : 21 Maret 2017


Tanggal Penyerahan Laporan : 27 Maret 2017
Nama Asisten (NIM) : Adhi Setyo Nugroho (13713025)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Material berupa logam banyak digunakan pada kehidupan untuk membuat
suatu konstruksi. Setiap jenis logam mempunyai sifat mekanik yang berbeda. Sifat
mekanik dapat berupa keuletan, kekerasan, kekuatan, dan lain-lain. Salah satu
pengujian yang dilakukan untuk mengetahui sifat mekanik dari logam adalah uji
tarik.
Uji tarik merupakan salah satu pengujian mekanik yang paling luas
digunakan untuk memberikan informasi dasar mengenai kekuatan pada material
dan sebagai tes untuk memberi spesifikasi pada material. Dalam pengujian tarik,
material akan diberi beban uniaxial hingga material mengalami peregangan dan
akhirnya patah. Dari hasil pengujian tarik, didapatkan beberapa sifat mekanik
material seperti keuletan, kekuatan tarik, kekuatan luluh (yield strength), ultimate
tensile strength, modulus elastisitas, modulus resilliance, dan ketangguhan.
Uji tarik berperan penting dalam proses manufaktur dan engineering.
Contohnya adalah peran uji tarik pada teknik sipil. Uji tarik memberi data sifat
mekanik material seperti ketangguhan dan yield strength. Konstruksi struktur
bergantung pada yield strength material agar dapat memperkirakan apakah
material dapat perform pada daerah elastis dalam keadaan normal. Selain itu,
ketangguhan penting dalam menentukan apakah struktur dapat bertahan jika
terjadi suatu peristiwa yang memberi beban tinggi seperti ledakan dan gempa
bumi.

1.2 Tujuan
1. Menentukan kurva engineering stress-strain dan true stress-strain uji tarik baja
ST-37.
2. Menentukan yield strength dan ultimate tensile strength baja ST-37.
3. Menentukan modulus elastisitas dan modulus resilience dari baja ST-37.
4. Menentukan konstanta strain-hardening dan konstanta kekuatan pada flow
curve dari baja ST-37.
BAB II
TEORI DASAR

Uji tarik digunakan untuk memberikan informasi mengenai sifat mekanik


dari suatu material. Pada pengujian tarik, spesimen akan diberi beban tarik
uniaxial selagi dilakukan pengamatan pada elongasi dari spesimen. Engineering
stress-strain dikonstruksi dari pengukuran beban-elongasi (Gambar 2.1)[1]. Untuk
mendapatkan engineering stress, dapat digunakan persamaan 2.1, dan
mendapatkan engineering strain menggunakan persamaan 2.2[1].

Gambar 2.1 Kurva Engineering Stress-Strain[1]


S=F (Persamaan 2.1)
A
e = l = lf-lo (Persamaan 2.2)
lo lo

Pada pengujian uji tarik, digunakan mesin uji tarik. Prinsip mesin uji tarik
adalah memanjangkan spesimen pada rate yang konstran, dan terus-menerus
secara bersamaan mengukur beban yang diberikan serta mengukur elongasi yang
dihasilkan. Alat untuk mengukur beban yang diberikan adalah load cell,
sedangkan alat untuk mengukur elongasi yang terjadi adalah extensometer. Mesin
uji tarik akan memberi data beban dan elongasi. Mesin uji tarik dapat dilihat pada
gambar 2.2[2].
Gambar 2.2 Mesin Uji Tarik[2]
Spesimen yang digunakan pada uji tarik memiliki kriteria atau spesifikasi
tertentu. Spesimen terdiri dari spesimen dengan penampang berbentuk segi empat,
spesimen dengan penampang berbentuk lingkaran, dan spesimen yang memiliki
pin. Spesifikasi terdiri dari panjang gage, lebar, tebal, dan lain-lain. Spesifikasi
spesimen dapat dilihat pada gambar 2.3, 2.4, dan 2.5.

Gambar 2.3 Spesimen Uji Tarik Berpenampang Segi Empat[3]


Gambar 2.4 Spesimen Uji Tarik yang memiliki Pin[3]

Gambar 2.5 Spesimen Uji Tarik Berpenampang Lingkaran[3]


Pada pengujian uji tarik, pertama spesimen sesuai standar ASTM E8
disiapkan. Lalu, diameter dan panjang spesimen serta gage length diukur oleh
jangka sorong. Kemudian, siapkan mesin uji tarik dan catat kondisi mesin, jenis
mesin, beban skala penuh, dan kecepatan tarik. Setelah itu, spesimen dipasang
pada mesin uji tarik dan mesin uji tarik dijalankan. Beban yang diberikan dan
perubahan diameter yang terjadi dicatat. Saat terjadi necking, diameter spesimen
dan beban diperhatikan dicatat. Setelah spesimen patah, panjang dan diameter
diukur. Dari hasil pengujian, maka akan didapatkan data beban (deltaF) dan
elongasi dari spesimen [l].
Informasi atau data dari hasil pengujian tarik adalah ultimate tensile
strength, yield strength, keuletan, modulus elastisitas, resilience, ketangguhan,
dan kurva true stress-strain.
Ultimate tensile strength adalah engineering stress maksimum yang dapat
ditahan oleh material tanpa mengalami kegagalan/patah[2]. Ultimate tensile
strength dapat dicari menggunakan persamaan :
Su = Pmax (Persamaan 2.3)[1]
Ao
Tensile strength mudah untuk ditentukan dan berguna untuk spesifikasi dan
quality control spesimen. Untuk material yang getas, tensile strength adalah
kriteria absolut dalam mendesain. Pada material ulet, tensile strength dapat
diartikan sebagai pengukuran beban maksimum yang dapat ditahan oleh material
dalam kondisi restriktif pada pembebanan sesumbu (uniaxial)[1].
Yield strength adalah stress yang dibutuhkan untuk membuat suatu jumlah
spesifik dari plastic strain. Strain offset bernilai 0.002 sangat sering digunakan[2].
Untuk mencari yield strength, dapat digunakan persamaan berikut.
So = P (strain offset=0.002) (Persamaan 2.4)[1]
Ao
Selain metode offset, terdapat 3 metode lainnya untuk mencari yield strength.
Metode pertama adalah true elastic limit, dimana dilakukan pengukuran strain
secara mikroskopik pada order 2x10-6. Metode kedua adalah proportional limit,
yaitu stress tertinggi dimana stress masih directly proportional terhadap strain.
Metode ketiga adalah elastic limit, yaitu stress terbesar yang dapat ditahan oleh
material tanpa adanya strain permanen sisa yang dapat diukur.
Ductility/keuletan adalah pengukuran kemampuan material untuk
mengalami deforamsi plastis sebelum mengalami kegagalan/patah[2]. Pengukuran
keuletan dilakukan untuk menentukan logam apa yang dapat dideformasi tanpa
mengalami patah dalam proses metalworking seperti rolling dan extrusion,
menentukan kemampuan logam untuk flow secara plastis sebelum patah, dan
sebagai indikator perubahan dalam tingkat ketidakmurnian dan kondisi proses[1].
Ductiliy dapat diekspresikan sebagai persen elongasi(%EL) atau persen luas yang
tereduksi (%RA)[2]. Persamaan untuk menentukan %EL dan %RA adalah sebagai
berikut.
%EL = Lf - Lo (Persamaan 2.5)[1]
Lo

%RA = Ao - Af (Persamaan 2.6)[1]


Ao
Modulus Elastisitas adalah rasio antara stress dengan strain saat deformasi
elastis. Modulus elastisitas adalah pengukuran terhadap kekakuan suatu
material[2]. Semakin besar modulus elastisitas, maka strain elastis yang
dihasilkan dari stress yang diberikan akan semakin kecil. Modulus elastisitas
ditentukan oleh kekuatan ikat (binding force) antar atom. Oleh karena itu,
modulus elastisitas merupakan salah satu sifat mekanik yang sangat sensitif(?).
Temperatur berpengaruh pada nilai dari modulus elastisitas. Dengan
bertambahnya temperatur, modulus elastisitas akan menurun. Modulus biasanya
diukur pada temperatur elevated oleh metode dinamik. Pengaruh temperatur
terhadap nilai modulus elastisitas dapat dilihat pada gambar 2.[1].

Gambar 2.6 Nilai Modulus Elastisitas pada Temperatur Berbeda[1]


Resilience adalah kemampuan suatu material untuk menyerap energi saat
berdeformasi elastis (sebelum material berdeformasi plastis). Untuk mencari
modulus of resilience, dapat digunakan persamaan 2., atau mencari luas dibawah
kurva sepanjang daerah elastis.
Ur = 1Soeo = 1 So So = So2 (Persamaan 2.7)[1]
2 2 E 2E
Toughness adalah kemampuan material untuk menyerap energi hingga
berdeformasi plastis. Toughness dapat dicari dengan menghitung luas di bawah
kurva stress-strain. Untuk material ulet, toughness dapat dicari dengan persamaan
berikut.
Ut = Suef
Ut = So + Su ef (Persamaan 2.8)[1]
2
Untuk material getas, kurva dapat diasumsikan sebagai parabola, sehingga untuk
mencari toughness dapat digunakan persamaan berikut.
Ut = 2 Suef (Persamaan 2.9)[1]
3
Kurva engineering stress-strain tidak memberikan indikasi sebenarnya dari
karakteristik deformasi logam karena kurva ini berdasar pada dimensi awal dari
spesimen, padahal dimensi ini berubah selama pengujian. Selain itu, logam ulet
saat ditarik dalam pengujian menjadi tidak stabil dan mengalami necking saat
pengujian. Dikarenakan luas penampang spesimen terus mengecil, maka beban
yang diperlukan untuk melanjutkan deformasi juga ikut menurun. Stress rata-rata
berdasar luas penampang awal akan menurun sehingga menyebabkan turunnya
kurva setelah melewati titik beban maksimum. Sebenarnya, logam terus
mengalami strain-harden hingga patah, jadi stress yang dibutuhkan untuk
melanjutkan deformasi meningkat. Apabila true stress, berdasarkan luas
penampang saat itu digunakan, maka kurva stress-strain akan terus meningkat
hingga mengalami patah. Apabila pengukuran strain juga dilakukan pada saat
pengujian, maka kurva yang akan didapatkan adalah kurva true stress-strain, yang
dapat disebut juga flow curve[1]. Untuk mencari true stress dan true strain, dapat
digunakan persamaan 2.
Gambar 2.7 Perbandingan Kurva Engineering dan Kurva True[1]
Flow curve pada banyak logam di daerah deformasi plastis yang sama/
uniform, dapat diekspresikan dengan persamaan berikut.
= K . n (Persamaan 2.10)[1]
dimana n adalah koefisien strain-hardening dan K adalah koefisien strength.
Kurva antara log true stress dan log true strain akan menghasilkan garis linear.
Gradien dari persamaan garis linear tersebut adalah koefisien strain-hardening dan
koefisien pada persamaan garis linear tersebut adalah koefisien strength[1].
Pada pengujian tarik ini, terdapat beberapa fenomena yaitu deformasi
plastis, necking, dan strain hardening. Deformasi plastis adalah deformasi yang
permanen atau tidak dapat kembali ke bentuk semula setelah beban dihilangkan
dan biasanya diikuti oleh perubahan susunan atom yang permanen[2]. Necking
adalah peristiwa terjadinya pengurangan luas penampang pada bagian neck
spesimen dikarenakan true stress rata-rata pada neck lebih besar daripada stress
yang dibutuhkan untuk menyebabkan flow jika dilakukan tarikan. Necking
dimulai pada beban maksimum saat deformasi tensile dari logam yang ulet. Pada
material plastic yang ideal, dimana strain hardening tidak terjadi, material akan
menjadi tidak stabil jika diberi beban dan akan terjadi necking saat yielding. Akan
tetapi, saat logam mengalami strain hardening, dimana kapasitas beban yang
diterima oleh spesimen cenderung meningkat, seiring dengan menurunnya
deformasi. Efek ini dilawan oleh penurunan luas penampang dari spesimen saat
terjadi elongasi. Necking terjadi pada beban maksimum, dimana peningkatan
stress karena penurunan luas penampang dari spesimen menjadi lebih besar dari
kemampuan logam untuk menahan beban dikarenakan adanya strain-hardening.
Kondisi tidak stabil (instability) yang menyebabkan necking ini dapat
didefinisikan dengan kondisi dP=0. Sehingga, dari kondisi tersebut membuat

persamaan berikut.
dP = 0
dP = dA + A d = 0 (Persamaan 2.11)[1]
Selain itu, untuk mencari nilai stress dan strain yang terjadi saat necking dapat
digunakan persamaan 2.12 dan 2.13
necking = P (Persamaan 2.12)[1]
Ai
necking = ln(Ao) (Persamaan 2.13)[1]
Ai
Fenomena ketiga adalah strain hardening, yaitu fenomena dimana kekerasan dari
suatu logam bertambah setelah diberi beban atau mengalami deformasi.
Fenomena ini pada awalnya terjadi peningkatan kerapatan dislokasi karena adanya
deformasi atau cold work akibat deformasi yang bermultiplikasi atau
pembentukan dislokasi baru. Akibatnya, jarak separasi rata-rata antara dislokasi
berkurang sehingga dislokasi-dislokasi menjadi lebih berdekatan. Sementara,
interaksi antara dislokasi dengan strain dislokasi adalah saling tolak-menolak.
Hasilnya adalah pergerakan dari dislokasi akan terhambat karena adanya dislokasi
lain. Dengan meningkatnya kerapatan dislokasi, perlawanan pada pergerakan
dislokasi oleh dislokasi lain menjadi semakin jelas. Dengan demikian, stress yang
dikenakan untuk mengubah/deform suatu metal akan meningkat dengan
meningkatnya cold work. Dengan kata lain, kekerasan dari logam meningkat.
Kurva stress-strain dari suatu logam dapat dipengaruhi oleh komposisi
kimianya. Contohnya adalah pengaruh jumlah atau komposisi logam pada baja.
Baja adalah paduan antara Fe dan C, dimana Fe memberikan sifat ulet dan C
memberikan sifat kuat. Pada baja karbon rendah, komposisi C lebih sedikit dari Fe
sehingga baja bersifat tidak terlalu kuat tetapi sangat ulet. Pada baja karbon tinggi,
komposisi C lebih banyak dari Fe sehingga baja bersifat sangat kuat tetapi tidak
terlalu ulet. Pada baja karbon medium, komposisi C dan Fe hampir sama sehingga
kekuatan dan keuletan dari baja ini medium atau pada kurva stress-strain berada di
tengah antara baja karbon rendah dan baja karbon tinggi.
Gambar 2.8 Pengaruh Komposisi C pada Baja terhadap Kurva Stress-Strain[4]
Selain itu, terdapat pengaruh lain yang mempengaruhi flow rate dari suatu
material pada pengujian tarik ini. Pengaruh pertama adalah pengaruh dari strain
rate. Semakin tinggi strain rate, maka flow rate akan meningkat. Meningkatnya
temperatur juga akan mempengaruhi strain rate yang akan mempengaruhi flow
rate. Yield stress dan flow stress pada strain plastic yang rendah akan lebih
terpengaruh oleh strain rate dibandingkan dengan tensile strength. Strain rate yang
tinggi akan menimbulkan yield point muncul pada pengujian baja karbon rendah
yang tidak menunjukkan yield point pada strain rate biasa. Pengaruh kedua adalah
temperatur. Kekuatan akan menurun dan kelenturan (ductility) akan meningkat
jika temperatur meningkat. Pengaruh temperatur terhadap kurva engineering
stress-strain dapat dilihat pada gambar 2.9.
Gambar 2.9 Pengaruh Temperatur terhadap Kurva Engineering Stress-Strain[1]
BAB III
DATA PENGOLAHAN
3.1 Data Percobaan
Jenis mesin : Tarno Gracki
Beban skala penuh : 40.000 N
Kecepatan tarikan : 5mm/min
Jenis material : ST-37
Gage length awal, L0 : 25 mm
Diameter awal, d0 : 6,25 mm
Gage length akhir : 35,80 mm
Diameter akhir : 4,11 mm
Kekerasan awal : 71,4 HRB
Kekerasan awal necking : 80,8 HRB
Kekerasan Patahan : 81,7 HRB

Tabel 3.1 Hasil data percobaan uji tarik

Beban Skala (kN), F Diameter (mm), d


0 6,25
10 6,26
11 6,26
12 6,26
13 6,25
14 6,25
15 6,25
13 6,19
14 6,17
15 6,13
16 6,08
16,5 6,05
17 6,00
17,5 5,94
17,9 (Fmax) 5,73
17,5 5,55
15 4,33
14 4,11

Tabel 3.2 Hasil data waktu dan voltase uji tarik

time(second) milivolt L e F
0 0 0 0 0
2 73 0,166667 0,006667 0,299084
4 152 0,333333 0,013333 0,622751
6 223 0,5 0,02 0,913642
8 333 0,666667 0,026667 1,364317
10 452 0,833333 0,033333 1,851865
12 562 1 0,04 2,302541
14 652 1,166667 0,046667 2,671275
16 751 1,333333 0,053333 3,076883
18 850 1,5 0,06 3,48249
20 967 1,666667 0,066667 3,961845
22 1085 1,833333 0,073333 4,445296
24 1212 2 0,08 4,965621
26 1290 2,166667 0,086667 5,285191
28 1407 2,333333 0,093333 5,764546
30 1505 2,5 0,1 6,166056
32 1594 2,666667 0,106667 6,530694
34 1709 2,833333 0,113333 7,001854
36 1799 3 0,12 7,370588
38 1896 3,166667 0,126667 7,768002
40 2016 3,333333 0,133333 8,259648
42 2130 3,5 0,14 8,726711
44 2227 3,666667 0,146667 9,124125
46 2315 3,833333 0,153333 9,484665
48 2403 4 0,16 9,845205
50 2522 4,166667 0,166667 10,33275
52 2639 4,333333 0,173333 10,81211
54 2761 4,5 0,18 11,31195
56 2893 4,666667 0,186667 11,85276
58 3010 4,833333 0,193333 12,33211
60 3186 5 0,2 13,05319
62 3267 5,166667 0,206667 13,38505
64 3382 5,333333 0,213333 13,85621
66 3482 5,5 0,22 14,26592
68 3577 5,666667 0,226667 14,65514
70 3616 5,833333 0,233333 14,81492
72 3313 6 0,24 13,57352
74 3167 6,166667 0,246667 12,97535
76 3157 6,333333 0,253333 12,93438
78 3216 6,5 0,26 13,1761
80 3206 6,666667 0,266667 13,13513
82 3196 6,833333 0,273333 13,09416
84 3108 7 0,28 12,73362
86 3255 7,166667 0,286667 13,33589
88 3264 7,333333 0,293333 13,37276
90 3333 7,5 0,3 13,65546
92 3382 7,666667 0,306667 13,85621
94 3479 7,833333 0,313333 14,25363
96 3470 8 0,32 14,21675
98 3519 8,166667 0,326667 14,41751
100 3607 8,333333 0,333333 14,77805
102 3704 8,5 0,34 15,17546
104 3734 8,666667 0,346667 15,29837
106 3734 8,833333 0,353333 15,29837
108 3753 9 0,36 15,37622
110 3743 9,166667 0,366667 15,33525
112 3812 9,333333 0,373333 15,61794
114 3802 9,5 0,38 15,57697
116 3880 9,666667 0,386667 15,89654
118 3968 9,833333 0,393333 16,25708
120 3919 10 0,4 16,05633
122 3988 10,16667 0,406667 16,33902
124 3910 10,33333 0,413333 16,01946
126 4037 10,5 0,42 16,53978
128 3988 10,66667 0,426667 16,33902
130 4095 10,83333 0,433333 16,77741
132 4037 11 0,44 16,53978
134 4056 11,16667 0,446667 16,61762
136 4066 11,33333 0,453333 16,65859
138 4125 11,5 0,46 16,90032
140 4144 11,66667 0,466667 16,97816
142 4186 11,83333 0,473333 17,15024
144 4173 12 0,48 17,09698
146 4203 12,16667 0,486667 17,21989
148 4193 12,33333 0,493333 17,17892
150 4234 12,5 0,5 17,3469
152 4263 12,66667 0,506667 17,46571
154 4273 12,83333 0,513333 17,50668
156 4261 13 0,52 17,45752
158 4272 13,16667 0,526667 17,50259
160 4293 13,33333 0,533333 17,58862
162 4310 13,5 0,54 17,65827
164 4302 13,66667 0,546667 17,6255
166 4340 13,83333 0,553333 17,78119
168 4330 14 0,56 17,74022
170 4322 14,16667 0,566667 17,70744
172 4330 14,33333 0,573333 17,74022
174 4332 14,5 0,58 17,74841
176 4330 14,66667 0,586667 17,74022
178 4320 14,83333 0,593333 17,69924
180 4320 15 0,6 17,69924
182 4291 15,16667 0,606667 17,58043
184 4339 15,33333 0,613333 17,77709
186 4341 15,5 0,62 17,78528
188 4310 15,66667 0,626667 17,65827
190 4331 15,83333 0,633333 17,74431
192 4341 16 0,64 17,78528
194 4359 16,16667 0,646667 17,85903
196 4349 16,33333 0,653333 17,81806
198 4330 16,5 0,66 17,74022
200 4341 16,66667 0,666667 17,78528
202 4351 16,83333 0,673333 17,82625
204 4349 17 0,68 17,81806
206 4351 17,16667 0,686667 17,82625
208 4342 17,33333 0,693333 17,78938
210 4351 17,5 0,7 17,82625
212 4361 17,66667 0,706667 17,86722
214 4369 17,83333 0,713333 17,9
(Vmax)
216 4361 18 0,72 17,86722
218 4350 18,16667 0,726667 17,82216
220 4340 18,33333 0,733333 17,78119
222 4331 18,5 0,74 17,74431
224 4320 18,66667 0,746667 17,69924
226 4281 18,83333 0,753333 17,53946
228 4253 19 0,76 17,42474
230 4226 19,16667 0,766667 17,31412
232 4194 19,33333 0,773333 17,18302
234 4213 19,5 0,78 17,26086
236 4115 19,66667 0,786667 16,85935
238 4095 19,83333 0,793333 16,77741
240 4095 20 0,8 16,77741
242 4007 20,16667 0,806667 16,41687
244 3968 20,33333 0,813333 16,25708
246 3831 20,5 0,82 15,69579
248 3831 20,66667 0,826667 15,69579
250 3763 20,83333 0,833333 15,41719
252 3704 21 0,84 15,17546
254 3567 21,16667 0,846667 14,61417
256 3440 21,33333 0,853333 14,09384

Kita dapat menentukan nilai L, elongasi, dan Fi dengan persamaan-


persamaan berikut:
L = kecepatan tarikan x waktui (3.1)
Elongasi = L (3.2)
Lo
F = Vi Fmax (3.3)
Vmax

Dari perhitungan diatas maka kita dapat membuat kurva F terhadap L


seperti pada Gambar 3.1 berikut.

18

13.5
F

4.5

0
0 7.5 15 22.5 30
L

Gambar 3.1 Kurva F terhadap L

3.2 Pengolahan Engineering Stress Engineering Strain


Untuk membuat kurva engineering stress (eng) terhadap engineering strain
(eng), maka kita membutuhkan data sebagai berikut:
A0 = 0,25 x x d02 (3.4)
Engineering stress, eng = F (3.5)
Ao
Engineering strain, eng = elongasi (3.6)
Data hasil perhitungan ditabulasikan pada Tabel 3.3 berikut.
Tabel 3.3 Hasil pengolahan engineering stress engineering strain

Engineering Stress Engineering Strain

0 0
0,009749 0,006667

0,020299 0,013333
0,02978 0,02
0,04447 0,026667
0,060361 0,033333
0,075051 0,04
0,08707 0,046667
0,100291 0,053333
0,113512 0,06
0,129136 0,066667
0,144894 0,073333
0,161854 0,08
0,17227 0,086667
0,187895 0,093333
0,200982 0,1
0,212868 0,106667
0,228225 0,113333
0,240244 0,12
0,253197 0,126667
0,269223 0,133333
0,284447 0,14
0,2974 0,146667
0,309152 0,153333
0,320904 0,16
0,336795 0,166667
0,35242 0,173333
0,368712 0,18
0,38634 0,186667
0,401964 0,193333
0,425468 0,2
0,436285 0,206667
0,451642 0,213333
0,464997 0,22
0,477683 0,226667
0,482891 0,233333
0,442428 0,24
0,422931 0,246667
0,421595 0,253333
0,429474 0,26
0,428139 0,266667
0,426803 0,273333
0,415052 0,28
0,434682 0,286667
0,435884 0,293333
0,445099 0,3
0,451642 0,306667
0,464596 0,313333
0,463394 0,32
0,469938 0,326667
0,48169 0,333333
0,494643 0,34
0,498649 0,346667
0,498649 0,353333
0,501187 0,36
0,499851 0,366667
0,509066 0,373333
0,50773 0,38
0,518147 0,386667
0,529899 0,393333
0,523355 0,4
0,532569 0,406667
0,522153 0,413333
0,539113 0,42
0,532569 0,426667
0,546859 0,433333
0,539113 0,44
0,54165 0,446667
0,542986 0,453333
0,550865 0,46
0,553402 0,466667
0,559011 0,473333
0,557275 0,48
0,561281 0,486667
0,559946 0,493333
0,565421 0,5
0,569294 0,506667
0,570629 0,513333
0,569027 0,52
0,570496 0,526667
0,5733 0,533333
0,57557 0,54
0,574502 0,546667
0,579577 0,553333
0,578241 0,56
0,577173 0,566667
0,578241 0,573333
0,578508 0,58
0,578241 0,586667
0,576906 0,593333
0,576906 0,6
0,573033 0,606667
0,579443 0,613333
0,57971 0,62
0,57557 0,626667
0,578375 0,633333
0,57971 0,64
0,582114 0,646667
0,580778 0,653333
0,578241 0,66
0,57971 0,666667
0,581046 0,673333
0,580778 0,68
0,581046 0,686667
0,579844 0,693333
0,581046 0,7
0,582381 0,706667
0,583449 0,713333
0,582381 0,72
0,580912 0,726667
0,579577 0,733333
0,578375 0,74
0,576906 0,746667
0,571698 0,753333
0,567958 0,76
0,564353 0,766667
0,560079 0,773333
0,562617 0,78
0,549529 0,786667
0,546859 0,793333
0,546859 0,8
0,535107 0,806667
0,529899 0,813333
0,511603 0,82
0,511603 0,826667
0,502522 0,833333
0,494643 0,84
0,476348 0,846667
0,459388 0,853333

Dari Tabel 3.3 diatas, maka kita dapat membuat kurva engineering stress
engineering strain seperti pada Gambar 3.2 berikut.

0.6

0.45
Stress

0.3

0.15

0
0 0.225 0.45 0.675 0.9
Strain
Gambar 3.2 Kurva engineering stress engineering strain

Dari kurva engineering stress vs engineering strain diatas kita dapat


menentukan nilai yield strength dan tensile stress seperti berikut.

Yield strength = 0,482891 GPa

Tensile stress = 0,583449 GPa

3.3 Pengolahan True Stress True Strain Sebelum Necking

Untuk membuat kurva true stress (true) terhadap true strain (true) sebelum
necking, maka kita membutuhkan data sebagai berikut:
True stress, true = eng x (eng + 1) (3.7)
True strain, true = ln(eng + 1) (3.8)
Data hasil perhitungan ditabulasikan pada Tabel 3.4 berikut.

Tabel 3.4 Hasil pengolahan true stress true strain sebelum necking

True Stress, true True Strain, true

0 0
0,009814 0,006645
0,020569 0,013245
0,030376 0,019803
0,045656 0,026317
0,062373 0,03279
0,078053 0,039221
0,091133 0,045611
0,10564 0,05196
0,120322 0,058269
0,137745 0,064539
0,15552 0,070769
0,174802 0,076961
0,187201 0,083115
0,205432 0,089231
0,22108 0,09531
0,235573 0,101352
0,25409 0,107359
0,269073 0,113329
0,285269 0,119263
0,305119 0,125163
0,324269 0,131028
0,341019 0,136859
0,356555 0,142656
0,372248 0,14842
0,392928 0,154151
0,413506 0,159849
0,43508 0,165514
0,458457 0,171148
0,479677 0,176751
0,510562 0,182322
0,52645 0,187862
0,547993 0,193371
0,567296 0,198851
0,585958 0,2043
0,595566 0,209721
0,548611 0,215111
0,527254 0,220473
0,528399 0,225807
0,541138 0,231112
0,542309 0,236389
0,543463 0,241638
0,531266 0,24686
0,559291 0,252055
0,563744 0,257223
0,578628 0,262364
0,590146 0,267479
0,610169 0,272568
0,61168 0,277632
0,623451 0,28267
0,642253 0,287682
0,662822 0,29267
0,671515 0,297632
0,674839 0,302571
0,681614 0,307485
0,68313 0,312375
0,699117 0,317241
0,700668 0,322083
0,718497 0,326903
0,738325 0,331699
0,732697 0,336472
0,749148 0,341223
0,737976 0,345951
0,76554 0,350657
0,759799 0,355341
0,783831 0,360003
0,776323 0,364643
0,783587 0,369262
0,789139 0,37386
0,804263 0,378436
0,811656 0,382992
0,823609 0,387527
0,824767 0,392042
0,834438 0,396536
0,836186 0,401011
0,848131 0,405465
0,857736 0,4099
0,863552 0,414315
0,864921 0,41871
0,870957 0,423087
0,87906 0,427444
0,886378 0,431782
0,888563 0,436102
0,900276 0,440403
0,902056 0,444686
0,904237 0,44895
0,909766 0,453197
0,914043 0,457425
0,917476 0,461635
0,919203 0,465828
0,923049 0,470004
0,920673 0,474162
0,934835 0,478302
0,93913 0,482426
0,936261 0,486533
0,944679 0,490623
0,950725 0,494696
0,958547 0,498753
0,96022 0,502793
0,95988 0,506818
0,966183 0,510826
0,972283 0,514818
0,975708 0,518794
0,98003 0,522754
0,981869 0,526699
0,987777 0,530628
0,99393 0,534542
0,999643 0,538441
1,001695 0,542324
1,003041 0,546193
1,004599 0,550046
1,006372 0,553885
1,007662 0,557709
1,002376 0,561519
0,999607 0,565314
0,997023 0,569095
0,993207 0,572861
1,001458 0,576613
0,981826 0,580352
0,9807 0,584076
0,984345 0,587787
0,966759 0,591484
0,960883 0,595167
0,931118 0,598837
0,934528 0,602493
0,921291 0,606136
0,910143 0,609766
0,879656 0,613382
0,851399 0,616986
Dari Tabel 3.4 diatas, maka kita dapat membuat kurva true stress true
strain sebelum necking seperti pada Gambar 3.3 berikut.

1.2

0.9
Stress

0.6

0.3

0
0 0.175 0.35 0.525 0.7
Strain

Gambar 3.3 Kurva true stress true strain sebelum necking

3.4 Pengolahan True Stress True Strain Sesudah Necking (Corrected)

Untuk membuat kurva true stress (true) terhadap true strain (true) setelah
necking, maka kita membutuhkan data sebagai berikut:
A = 0,25 x x d2 (3.9)
True stress, true = P (3.10)
Ai
True strain, true = ln(Ao) (3.11)
Ai

Data hasil perhitungan ditabulasikan pada Tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.5 Hasil pengolahan true stress true strain setelah necking

Corrected Stress-Strain corrected Strain


0 0
0,324909 -0,003197
0,3574 -0,003197
0,389891 -0,003197
0,423734 0
0,456329 0
0,488924 0
0,423734 0
0,465218 0,019293
0,508254 0,038773
0,551091 0,055154
0,573962 0,065046
0,601252 0,081644
0,631503 0,101745
0,694151 0,173732
0,723373 0,237567
1,018651 0,734028
1,055248 0,838317

Dari Tabel 3.5 diatas, maka kita dapat membuat kurva true stress true
strain setelah necking seperti pada Gambar 3.4 berikut.
1.2

0.9
Stress

0.6

0.3

0
-0.225 0 0.225 0.45 0.675 0.9
Strain

Gambar 3.4 Kurva true stress true strain setelah necking (corrrected)
Setelah kita dapat menentukan masing-masing kurva seperti pada Gambar
3.2, Gambar 3.3, dan Gambar 3.4, maka kita dapat menggabungkan ketiga kurva
tersebut dalam satu grafik supaya kita dapat membandingkan, seperti yang
ditunjukkan oleh Gambar 3.5 berikut.

1.2

Corrected Stress-Strain
0.9 Engineering Stress-Strain
True Stress
Stress

0.6

0.3

0
-0.225 0 0.225 0.45 0.675 0.9
Strain

Gambar 3.5 Perbandingan ketiga kurva stress strain

3.5 Pengolahan Flow Curve


Untuk membuat flow curve antara log stress terhadap log strain, maka kita
harus mengkonversi kurva true stress true strain sebelum necking menjadi
logaritma. Dengan begitu maka kita akan mendapatkan data seperti yang telah
ditabulasikan pada Tabel 3.6 berikut.
Tabel 3.6 Hasil logaritma true stress dan true strain

log true log true

0 0
-2,008170381 -2,177535

-1,686783013 -1,877941
-1,517473895 -1,703277
-1,340505234 -1,579759
-1,205000056 -1,484261
-1,107609275 -1,406485
-1,040322941 -1,340935
-0,976173165 -1,284333
-0,919654139 -1,234563
-0,860923732 -1,190181
-0,808214575 -1,150157
-0,757452554 -1,113729
-0,727692874 -1,080321
-0,687332243 -1,049484
-0,655449745 -1,020861
-0,627873784 -0,994166
-0,595011655 -0,969163
-0,570129744 -0,94566
-0,544745151 -0,923493
-0,51553074 -0,902524
-0,489094475 -0,882635
-0,467221525 -0,863726
-0,44787309 -0,845709
-0,42916717 -0,828508
-0,405687058 -0,812055
-0,383518131 -0,796291
-0,361430516 -0,781164
-0,338701753 -0,766628
-0,319050662 -0,752639
-0,291951912 -0,739162
-0,278642479 -0,726162
-0,261225198 -0,713608
-0,246190332 -0,701473
-0,232133426 -0,689731
-0,225070039 -0,678359
-0,260735809 -0,667337
-0,277980519 -0,656644
-0,277037758 -0,646263
-0,266692345 -0,636178
-0,26575307 -0,626373
-0,264830051 -0,616835
-0,27468795 -0,607549
-0,252361887 -0,598505
-0,248918309 -0,58969
-0,237600264 -0,581095
-0,229040514 -0,57271
-0,214549534 -0,564524
-0,213475524 -0,556531
-0,205197846 -0,548721
-0,192294051 -0,541087
-0,178603153 -0,533622
-0,172944506 -0,52632
-0,170799837 -0,519173
-0,166461457 -0,512176
-0,165496501 -0,505324
-0,155450077 -0,498611
-0,154487731 -0,492032
-0,143575128 -0,485581
-0,131752239 -0,479256
-0,135075631 -0,473051
-0,125432584 -0,466962
-0,131957571 -0,460985
-0,116031836 -0,455118
-0,119301266 -0,449355
-0,105777823 -0,443694
-0,109957688 -0,438132
-0,105912509 -0,432665
-0,102846321 -0,427291
-0,094602121 -0,422007
-0,090627761 -0,41681
-0,084278691 -0,411698
-0,08366883 -0,406667
-0,078605936 -0,401717
-0,077697308 -0,396844
-0,071536817 -0,392047
-0,066646417 -0,387322
-0,063711439 -0,38267
-0,063023808 -0,378086
-0,060003462 -0,373571
-0,055981464 -0,369121
-0,052380939 -0,364735
-0,051311798 -0,360412
-0,045624538 -0,35615
-0,044766435 -0,351947
-0,043717564 -0,347802
-0,04107029 -0,343713
-0,039033395 -0,33968
-0,037405335 -0,335701
-0,036588541 -0,331774
-0,0347752 -0,327899
-0,035894632 -0,324074
-0,029265173 -0,320297
-0,027274129 -0,316569
-0,028603092 -0,312888
-0,024715921 -0,309252
-0,021945296 -0,305661
-0,018386367 -0,302114
-0,0176291 -0,29861
-0,017782945 -0,295148
-0,014940394 -0,291727
-0,012207384 -0,288347
-0,01068024 -0,285005
-0,008760584 -0,281702
-0,007946653 -0,278438
-0,005340925 -0,27521
-0,002644137 -0,272018
-0,000155021 -0,268862
0,000735604 -0,265741
0,001318832 -0,262654
0,001992889 -0,259601
0,002758502 -0,25658
0,003314849 -0,253592
0,001030787 -0,250636
-0,000170879 -0,24771
-0,001294822 -0,244816
-0,002960126 -0,241951
0,000632532 -0,239115
-0,007965555 -0,236309
-0,008464003 -0,233531
-0,006852519 -0,23078
-0,014681556 -0,228057
-0,017329621 -0,225361
-0,03099539 -0,222692
-0,029407474 -0,220048
-0,035603277 -0,21743
-0,040890129 -0,214837
-0,05568731 -0,212269
-0,06986695 -0,209725

Dari Tabel 3.6 diatas, maka kita dapat membuat flow curve antara log true
stress log true strain seperti pada Gambar 3.5 berikut.
0.75
y = 0.9506x + 0.2853
R = 0.9632

0
Log True Stress

-0.75

-1.5

-2.25

-3
-3 -2.25 -1.5 -0.75 0

% Log True Strain

Gambar 3.5 Flow curve hasil pengujian tarik baja ST-37


Dari kurva, kita dapat mengetahui hasil regresi dari persamaan yang dibentuk
yaitu y = 0.9506x + 0.2853. Dari persamaan tersebut maka kita dapat menentukan
nilai strain hardening exponent (n) dan strength coefficient (K) seperti berikut.

= K . n (3.12)
log = nlog + log K (3.13)
Dari Persamaan 3.13 kita dapat hubungkan dengan y = mx + c, maka dari itu
bisa kita dapatkan hubungan seperti berikut,

m=n

c = log K

kemudian dari hasil regresi yang didapat, maka

n = 0,9506

log K = 0,2853

K = 1,9289.

3.6 Perhitungan Modulus of Elasticity dan Modulus of Resilience


Dari sebuah kurva engineering stress vs engineering strain, kita dapat
menentukan nilai Modulus of Elasticity (E) dan Modulus of Resilience dari
material yang kita uji tarik.
Modulus Elastisitas dan Resilience
0.5

0.375

0.25
y = 2.13x - 0.0113
Stress

R = 0.9989
0.125

-0.125
0 0.075 0.15 0.225 0.3

% Strain

Gambar 3.6 Kurva engineering stress engineering strain pada daerah linear
elastis
Modulus elastisitas, E = gradien kurva = 2,13 Gpa
Modulus of Resilience = Luas dibawah kurva = 0,0556 Joule/m3

3.7 Perhitungan Persen Elongasi dan Persen Reduced Area


Untuk menentukan persen elongasi dan percent reduced area material baja
ST-37 maka kita gunakan Persamaan (3.14) dan Persamaan (3.15) berikut,
Persen elongasi = Lf-Lo x 100% (3.14)
Lo
Persen reduced area = Ao - Af x 100% (3.15)
Ao

sehingga kita dapatkan,

persen elongasi = 43,2%

persen reduced area = 56,76%


BAB IV
ANALISIS

Percobaan uji tarik menggunakan mesin uji tarik Tarno Gracki dengan
memberikan gaya uniaxial pada ujung spesimen. Dari hasil percobaan, dapat
diamati bahwa bentuk patahan dari spesimen kasar (fibrous) dan tidak terlihat
bersinar. Dapat disimpulkan bahwa spesimen mengalami patah ulet pada
temperatur kamar. Spesimen merupakan logam berstruktur kristal BCC yang
mempunyai bidang slip lebih sedikit dari struktur kristal lain sehingga jika
temperatur diturunkan akan mengalami patah getas.
Saat dilakukan pengujian dapat diamati beberapa fenomena. Fenomena
pertama adalah deformasi plastis, yaitu deformasi yang permanen atau tidak dapat
kembali ke bentuk semula setelah beban dihilangkan dan biasanya diikuti oleh
perubahan susunan atom yang permanen[2]. Fenomena kedua adalah necking,
yaitu peristiwa terjadinya pengurangan luas penampang pada bagian neck
spesimen dikarenakan true stress rata-rata pada neck lebih besar daripada stress
yang dibutuhkan untuk menyebabkan flow jika dilakukan tarikan. Fenomena
ketiga adalah strain hardening yaitu fenomena dimana kekerasan dari suatu logam
bertambah setelah diberi beban atau mengalami deformasi. Fenomena ini pada
awalnya terjadi peningkatan kerapatan dislokasi karena adanya deformasi atau
cold work akibat deformasi yang bermultiplikasi atau pembentukan dislokasi baru.
Selain itu, setelah pengujian, temperatur pada spesimen lebih tinggi karena sedikit
panas dari mula-mula. Spesimen yang mengalami deformasi elastis dan plastis
menghasilkan energi mekanik dan akan terkonversi sebagai panas dan energi
untuk deformasi. Maka dari itu, ketika spesimen mengalami defleksi dan
deformasi, bagian permukaan material terasa panas[7].
Selain itu, dari data percobaan, didapatkan nilai yield strength sebesar
0,482891 GPa, nilai ultimate tensile strength sebesar 0,583449 GPa, nilai modulus
elastisitas sebesar 2,13 GPa, nilai modulus resilience sebesar 0,0556 Joule/m3,
nilai koefisien strain hardening sebesar 0,9506, nilai koefisien kekuatan (strength
coefficient) sebesar 1,9289 GPa, nilai persen elongasi sebesar 43,2%, dan nilai
persen reduction area sebesar 56,76%. Sementara dari literatur[5][6], yield
strength dari st-37 sebesar 225-235 MPa, tensile strength sebesar 360-510 MPa,
persen elongasi sebesar 16-24%, modulus elastisitas sebesar 190-210 GPa, Dapat
dilihat perbedaan sekitar 248 MPa antara nilai yield strength hasil percobaan
dengan literatur, perbedaan sekitar 74 MPa antara nilai tensile strength hasil
percobaan dengan literatur, dan perbedaan sekitar 207 GPa antara nilai modulus
elastisitas hasil percobaan dengan literatur,
Adanya perbedaan antara hasil percobaan dengan literatur disebabkan oleh
beberapa kesalahan/error. Pada saat melakukan pengujian, untuk mengukur
pengurangan diameter pada spesimen hanya menggunakan jangka sorong. Saat
melakukan pengukuran dengan jangka sorong, hasilnya tidak akurat dikarenakan
terburu-buru dan telat mengukur bersamaan dengan diberinya beban tertentu.
Selain itu, saat necking, pengukuran menjadi semakin tidak akurat dikarenakan
perubahan diameter terjadi dengan cepat sehingga praktikan tidak memiliki waktu
banyak untuk mengukur diameter secara teliti. Kesalahan/error berikutnya adalah
terdapat kesalahan paralaks saat melihat besar beban yang diberikan terhadap
spesimen dikarenakan ketidaktelitian praktikan. Kemudian, spesimen yang diuji
tidak diketahui apakah spesimen tersebut telah diberi perlakuan atau pengujian
sebelumnya, seperti heat treatment karena dengan diberikan perlakuan seperti itu
akan mengakibatkan adanya perbedaan modulus elastisitas dan sifat mekanik
lainnya, sehingga hasil pengujian yang didapat akan memiliki error.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengujian tarik, dapat disimpulkan:
1. Kurva Engineering Stress-Strain dan Kurva True Stress-Strain beserta Kurva
Corrected True Stress-Strain adalah sebagai berikut.

1.2
Corrected Stress-Strain
Engineering Stress-Strain
0.9 True Stress
Stress

0.6

0.3

0
-0.225 0 0.225 0.45 0.675 0.9
Strain

2. Dari hasil pengujian, didapatkan nilai yield strength dari baja st37 sebesar
0,482891 GPa dan nilai ultimate tensile strength sebesar 0,583449 GPa.
3. Dari hasil pengujian, didapatkan nilai modulus elastisitas dari baja st37 sebesar
2,13 GPa dan nilai modulus resilience sebesar 0,0556 Joule/m3 .
4. Dari hasil pengujian, didapatkan nilai koefisien strain hardening (n) sebesar
0,9506 dan nilai koefisien kekuatan (K) sebesar 1,9289 GPa.
5.2 Saran
1. Sebelum melakukan pengujian, praktikan lebih siap untuk mengukur
pengurangan diameter pada spesimen agar tidak terburu-buru dan hasil
pengujian akan lebih akurat.
2. Sebaiknya spesimen yang digunakan tidak pernah diberikan perlakuan seperti
heat treatment sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Dieter, G.E. Mechanical Metallurgy SI Metric Edition. McGraw-Hill Book Co.


1988
2. Callister Jr., William D., dan Rethwisch, David G. Materials Science and
Engineering 9th edition. John Wiley & Sons, Inc. 2015
3. ASTM E8/E8M. Standard Test Methods for Tension Testing of Metallic
Materials. ASTM International.
4. CalQlataTM. Carbon Steel. diakses pada 22 Maret 2017 pukul 08.40 WIB.
http://www.calqlata.com/images/materials/Carbon%20Steel%20Stress%20Strain
%20Curves.png
5. Henan Bebon International co.,ltd. Carbon and low alloy steel EN10025
St37-2 steel plate. diakses pada 25 Maret 2017 pukul 17.00 WIB. http://
www.steel-plate-sheet.com/pdf/st37-2.pdf
6. Steels.com Carbon Steel ST37. diakses pada 22 Maret 2017 pukul 08.40
WIB. http://www.steelss.com/Carbon-steel/st37-3u.html
7. Castellanos, Jose Louis Perez., dan Rusinek, Alexis. Temperature Increase
Associated With Plastic Deformation Under Dynamic Compression: Application
To Aluminium Alloy Al 6082. diakses pada 25 Maret 2017 pukul 17.00 WIB.
http://www.ptmts.org.pl/2012-2-perez-r.pdf
8. Narasimha N. Why are Lueder bands produced in low carbon steels and some
Alluminium and manganese alloys?. disks ada 26 Maret 2017 pukul 08.00 WIB.
https://qph.ec.quoracdn.net/main-qimg-ba1069fbeeb5a2ea65e08970231b3595
LAMPIRAN

1. Tugas Setelah Praktikum


1. Fenomena apa saja yang terjadi dalam pengujian tarik ini?
Pada pengujian tarik, terdapat beberapa fenomena yaitu deformasi plastis,
necking, dan strain hardening. Deformasi plastis adalah deformasi yang permanen
atau tidak dapat kembali ke bentuk semula setelah beban dihilangkan dan
biasanya diikuti oleh displacement atom yang permanen[2]. Necking adalah
peristiwa terjadinya pengurangan luas penampang pada bagian neck spesimen
dikarenakan true stress rata-rata pada neck lebih besar daripada stress yang
dibutuhkan untuk menyebabkan flow jika dilakukan tarikan. Necking dimulai
pada beban maksimum saat deformasi tensile dari logam yang ulet. Pada material
plastic yang ideal, dimana strain hardening tidak terjadi, material akan menjadi
tidak stabil jika diberi beban dan akan terjadi necking saat yielding. Akan tetapi,
saat logam mengalami strain hardening, dimana kapasitas beban yang diterima
oleh spesimen cenderung meningkat, seiring dengan menurunnya deformasi. Efek
ini dilawan oleh penurunan luas penampang dari spesimen saat terjadi elongasi.
Necking terjadi pada beban maksimum, dimana peningkatan stress karena
penurunan luas penampang dari spesimen menjadi lebih besar dari kemampuan
logam untuk menahan beban dikarenakan adanya strain-hardening. Kondisi tidak
stabil (instability) yang menyebabkan necking ini dapat didefinisikan dengan
kondisi dP=0. Fenomena ketiga adalah strain hardening, yaitu fenomena dimana
kekerasan dari suatu logam bertambah setelah diberi beban atau mengalami
deformasi. Fenomena ini pada awalnya terjadi peningkatan kerapatan dislokasi
karena adanya deformasi atau cold work akibat deformasi yang bermultiplikasi
atau pembentukan dislokasi baru. Akibatnya, jarak separasi rata-rata antara
dislokasi berkurang sehingga dislokasi-dislokasi menjadi lebih berdekatan.
Sementara, interaksi antara dislokasi dengan strain dislokasi adalah saling tolak-
menolak. Hasilnya adalah pergerakan dari dislokasi akan terhambat karena adanya
dislokasi lain. Dengan meningkatnya kerapatan dislokasi, perlawanan pada
pergerakan dislokasi oleh dislokasi lain menjadi semakin jelas. Dengan demikian,
stress yang dikenakan untuk mengubah/deform suatu metal akan meningkat
dengan meningkatnya cold work. Dengan kata lain, kekerasan dari logam
meningkat.

2. Jelaskan yang dimaksud dengan yield point phenomenon pada baja karbon
rendah!
Baja karbon rendah menunjukkan transisi yang terlokalisasi dari sifat
elastis menjadi plastis, berbeda dengan logam lain seperti aluminium yang
mempunyai flow curve dan transisi yang gradual. Pada yield point phenomenon,
peningkatan strain elastis menyebabkan beban juga meningkat, akan tetapi beban
akan menurun dan berkurang secara tiba-tiba, lalu berfluktuasi pada nilai yang
konstan, dan setelah itu akan meningkat lagi. Beban saat terjadi penurunan tiba-
tiba disebut upper yield point dan beban yang terjadi saat terjadi fluktuasi pada
nilai konstan disebut lower yield point. Yield point phenomenon ini dikaitkan
dengan ketidakmurnian pada baja karbon rendah akibat substitional atau
interstitial pada struktur atomiknya. Carbon interstitial (1.541 Angstrom) dan
nitrogen lebih besar daripada void/ ruang kosong (0.385 Angstrom) ketika kedua
atom tersebut menempati di ferit. Sehingga keduanya cenderung untuk
memisahkan atau segregasi ruang kosong untuk meminimalisir energy distorsi
kedua atom itu sendiri, dan menghasilkan atmosfer pada sekitar dislokasi. Stress
yang dibutuhkan dislokasi untuk menembus solute atom menjadi lebih besar dan
menghasilkan upper yield point. Ketika jumlah stress tertentu diberikan dan
dislokasi garis terbebas dari solute atom, terjadi slip pada nilai stress yang lebih
rendah. Dislokasi yang terbebas dari bidang slip menumpuk pada batas butir dan
stress dihasilkan dari penumpukan tersebut membuat sumber dislokasi baru yang
menyebabkan lower yield point.
3. Kenapa necking terjadi di pengujian tarik?
Necking adalah peristiwa terjadinya pengurangan luas penampang pada
bagian neck spesimen dikarenakan true stress rata-rata pada neck lebih besar
daripada stress yang dibutuhkan untuk menyebabkan flow jika dilakukan tarikan.
Necking dimulai pada beban maksimum saat deformasi tensile dari logam yang
ulet. Pada material plastic yang ideal, dimana strain hardening tidak terjadi,
material akan menjadi tidak stabil jika diberi beban dan akan terjadi necking saat
yielding. Akan tetapi, saat logam mengalami strain hardening, dimana kapasitas
beban yang diterima oleh spesimen cenderung meningkat, seiring dengan
menurunnya deformasi. Efek ini dilawan oleh penurunan luas penampang dari
spesimen saat terjadi elongasi. Necking terjadi pada beban maksimum, dimana
peningkatan stress karena penurunan luas penampang dari spesimen menjadi lebih
besar dari kemampuan logam untuk menahan beban dikarenakan adanya strain-
hardening. Kondisi tidak stabil (instability) yang menyebabkan necking ini dapat
didefinisikan dengan kondisi dP=0.

2. Tugas Tambahan
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fenomena Cottrel-Cloud!
Cotrell cloud atau atmosfer cotrell terjadi pada material berbentuk kristal
BCC dan FCC, dengan sedikit ketidakmurnian pada atom, seperti adanya karbon
atau nitrogen. Adanya interstitial atom membuat defect pada struktur material
tersebut dan menghasilkan daerah stress sisa di sekitar interstitial. Daerah stress
ini dapat dihilangkan dengan difusi intersititial atom ke dislokasi, yang memiliki
celah kecil. Terjadinya cottrel atmosphere ini menyebabkan terjadinya
peningkatan yield strength pada material dan membentuk upper yield point.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Luders Band!


Luders Band adalah suatu pita terlokalisasi dari deformasi plastis pada
logam yang mengalami tensile stress, dan biasanya terjadi pada baja karbon
rendah dan beberapa Al-Mg alloy. Pembentukan dari luders band ini didahului
oleh yield point dan penurunan flow stress. Kemudian, pita akan muncul sebagai
satu pita yang terlokalisasi diantara material yang telah berdeformasi plastis dan
yang belum terdeformasi yang bergerak dengan kecepatan cross-head yang
konstan. Pembentukan luders band dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 1. Pembentukan Luders Band [8]

3. Sesuai dengan percobaan yang telah dilakukan, apakah spesimen termasuk low,
medium, atau high carbon steel?
Dari hasil percobaan dan kurva yang diperoleh pada bab 3 (pengolahan data),
spesimen termasuk low carbon steel karena memiliki upper dan lower yield point
pada kurva engineering stress-strain yang salad satiny disebabkan ole cottrel
cloud/cottrel atmosphere dan mengalami yield point phenomenon. Dikarenakan
memiliki kurva engineering stress-strain seperti berikut, maka spesimen
merupakan low carbon steel.

0.6

0.45
Stress

0.3

0.15

0
0 0.225 0.45 0.675 0.9
Strain