Anda di halaman 1dari 19

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN PADA SAPI PERAH (KERING

KANDANG)

Oleh:
Kelas: B
Kelompok: 7

Neysa Ardelia 200110140309


Aliya Jinan Kulfi 200110150059
M. Fairuz Rafsanjani 200110150068
Silfani Sabila Bilqisti 200110150170
Subaika 200110150218
Aisyah Ananda Nugraha 200110150228

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
DAFTAR ISI
Bab Halaman

Halaman Cover ................................................................................ i

Daftar Isi ........................................................................................... ii

I Pendahuluan ..................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 1

1.3. Maksud dan Tujuan..................................................................... 2

II Tinjauan Pustaka ............................................................................. 3

III Pembahasan ...................................................................................... 5

IV Kesimpulan ....................................................................................... 7

Daftar Pustaka ................................................................................. 8

Lampiran .......................................................................................... 9

ii
I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sapi perah merupakan ternak yang tujuan utamanya untuk memproduksi susu.

Susu merupakan sumber protein yang baik karena mengandung asam aminon

esensial. Oleh karena itu peternakan sapi perah merupakan salah satu usaha yang

memiliki nilai ekonomis karena kebutuhan masyarakat terhadap protein terutama

protein hewani mulai meningkat. Untuk menghasilkan susu yang memiliki

kuantitas dan kualitas yang baik maka harus dilakukan manajemen yang baik
pula. Manajemen tersebut diantaranya adalah manajemen pakan, manajemen

perkandangan, manajemen reproduksi dan manajemen pemasaran.

Manajemen pakan merupakan salah satu manajemen yang memberikan

banyak kendala bagi para peternak. Pakan yang diberikan pada sapi perah harus

diperhatikan kualitas dan kuantitasnya terlebih dahulu, karena apabila tidak

diperhatikan dapat mengakibatkan penurunan produksi susu. Pakan yang

berkualitas baik diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak, akan tetapi


pakan tersebut akan menghabiskan biaya yang relatif tinggi. Biaya pakan yang

dipengaruhi oleh inflasi dan kenaikan harga menjadi perhatian utama parapelaku

usaha peternakan. Tingginya harga bahan baku pakan mendorong perlunya

strategi yang tepat untuk mencapai efisiensi dan efektivitas produksi ternak.

Orientasi efisiensi dalam penggunaan pakan sangat terkait dengan kualitas

dampak terhadap performa ternak.

Manajemen pakan pada sapi perah juga harus memperhatikan fase yang

sedang dijalani oleh sapi tersebut. Untuk setiap fasenya membutuhkan tingkat

nutrisi yang berbeda. Perbedaan kebutuhan nutrisi tersebut sesuai dengan tingkat

produksi atau laktasi sapi. Pada puncak produksi dibutuhkan nutrisi yang lebih

3
baik karena agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan nutrisi dan hasil

produksi. Begitu pula apabila produksi pada posisi paling rendah, pakan yang

dibutuhkan pun tidak terlalu membutuhkan kandungan yang baik. Oleh karena itu

sebagai mahasiswa fakultas peternakan sudah sewajibnya kita mengetahui,

memahami dan mengaplikasikan manajemen pakan pada sapi perah.

1.2 Rumusan Masalah


(1) Bagaimana upaya penyediaan pakan sepanjang tahun?
(2) Bagaimana complete feed sebagai solusi pemberian pakan?
(3) Bagaimana manajemen pemberian pakan pada sapi perah?

1.3 Maksud dan Tujuan


(1) Mengetahui upaya penyediaan pakan sepanjang tahun.
(2) Mengetahui complete feed sebagai solusi pemberian pakan.
(3) Mengetahui manajemen pakan pada sapi perah.

4
II

PEMBAHASAN

2.1 Upaya Penyedian Pakan Sepanjang Tahun

Bahan pakan adalah setiap bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna

sebagian atau seluruhnya, dapat diabsorpsi dan bermanfaat bagi ternak. Oleh

karena itu agar dapat disebut sebagai bahan pakan maka harus memenuhi semua

persyaratan tersebut, sedang yang dimaksud dengan pakan adalah bahan yang

dapat dimakan, dicerna dan diserap baik secara keseluruhan atau sebagian dan

tidak menimbulkan keracunan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang

mengkonsumsinya (Kamal, 1998).

Pakan ternak ruminansia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu hijauan dan

konsentrat. Imbangannya dapat bervariasi sesuai dengan tujuan pemberian pakan.

Pada kondisi intensif, ternak ruminansia dapat diberi pakan konsentrat dengan

proporsi yang lebih tinggi, bahkan dapat mencapai 85% dari total pakan yang

diberikan. Berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2006, produksi hijauan pakan

dari padang penggembalaan dan sumber-sumber alami makin berkurang dengan


adanya peralihan fungsi lahan. Namun, data menunjukkan luas padang

penggembalaan di Indonesia sekitar 3 juta hektar pada tahun 1989 dan sampai

sekarang masih tercatat sekitar 3 juta hektar (Haryanto, 2009).

Ketersediaan pakan merupakan faktor penting dalam usaha peternakan,

terlebih ketersediaan hijauan pakan di musim kemarau. Ketersediaan bahan

makanan ternak akhir-akhir ini terasa semakin terbatas. Hal ini disebabkan antara

lain oleh meningkatnya harga bahan baku makanan ternak, dan semakin

menyusutnya lahan bagi pengembangan produksi hijauan akibat penggunaan

lahan untuk keperluan pangan dan tempat pemukiman. Oleh karena itu, perlu

dicari sumber daya baru yang potenisal untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak

5
alternatif yang mampu menggantikan sebagian atau seluruh hijauan serta dapat

mengurangi ketergantungan kepada penggunaan bahan konsentrat yang sudah

lazim digunakan (Hanafi, 2004).

Ada 2 masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya pakan

ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan

nutrient. Masalah pertama adalah bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah

pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggir serat kasarnya.

Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen ligniselulosa

(karbohidrat komplek) yang sulit dicerna. Masalah lainnya adalah ketersediaan

pakan yang tidak kontiniu. Ini dikarenakan langkanya bahan pakan terutama di

musim kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah

dilakukan. Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan

adalah dengan membuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea

(amoniasi) dan awetan hijauan (silase) (Hanafi, 2008). Pengolahan bahan pakan

dengan pengeringan sagat tergantung dengan musim/panas matahari, sedangkan

pengolahan dengan amoniasi (penambahan urea) acapkali terjadi kasus toksikasi

karena tingginya ammonia. Teknologi yang sekarang berkembang adalah


pembuata pakan tidak hanya sekedar awet (silase), tetapi juga kadar nutrient

sesuai dengan kebutuhan gizi ternak (Sofyan dan Febrisiantosa , 2007)

2.2 Complete Feed Sebagai Solusi Pemberi Pakan

Pengembangan teknologi formulasi pakan ternak potong yaitu yang disebut

dengan complete feed (CF) atau pakan siap saji. Pakan siap saji untuk ruminansia

merupakan campuran antara bahan pakan konsentrat dan hijauan (Utomo, 2003).

Pakan komplit sangat cocok diterapkan di Indonesia mengingat sebagian besar

usaha peternakan dikelola oleh masyarakat peternak yang kurang menguasai

penyusunan ransum (Suhartanto et al., 2003). Pemberian pakan dalam bentuk

6
pakan siap saji harus memperhatikan kehidupan mikrobia rumen karena pencerna

serat kasar ini hidup baik pada kondisi derajat keasaman netral, sehingga turunnya

pH dalam rumen pada pemberian pakan siap saji harus dihindari agar tidak terjadi

penurunan kecernaan serat kasar (Utomo, 2003). Menurut Utomo et al. (2008),

pengurangan ukuran partikel pakan dengan penggilingan kemudian dibuat pelet

merupakan salah satu perlakuan pradigesti pada pakan berserat secara fisik yang

mampu meningkatkan kecernaan. Bentuk pakan lengkap berupa pelet

memudahkan saat pemberian, dan penanganan pakan menjadi lebih praktis

(Suhartanto et al., 2003).

Penyusunan formula dan pembuatan complete feed yaitu dengan pemilihan

bahan bahan baku limbah pertanian yang potensial pada masing-masing daerah

Kelompok Peternak. Selanjutnya dilakukan penyusunan proporsi masing-masing

bahan untuk membuat complete feed. Bahan dan proporsi yang akan dijadikan

percontohan adalah sebagai berikut:

Onggok : 20 %

Dedak padi : 15 %

Kulit kopi : 10 %
Kaliandra : 20 %

Bekatul : 10 %

Bungkil kelapa : 17,5 %

Tetes : 6 %

Mikroba starter : 1 %

Proses selanjutnya adalah pencacahan/penggilingan bahan menjadi

partikel yang kecil. Selanjutnya bahan di komposit sampai homogen dan

diletakkan pada drum plastik kemudian ditutup dengan rapat. Campuran pakan

didiamkan selama 4-6 minggu, dan selanjutnya pakan complete feed siap

diberikan pada ternak. Pada tahap awal mungkin ternak kurang menyukai

7
complete feed, sehingga perlu adanya adaptasi pakan terhadap ternak (Aju tjatur,

2015)

Penggunaan bahan pakan lokal untuk complete feed diharapkan dapat

meminimalisir biaya pakan karena menggunakan bahan pakan yang sudah

tersedia di sekitar tempat tinggal peternak tanpa harus membeli dan melaui proses

fermentasi juga diharapkan dapat meningkatkan nilai nutrisi complete feed itu

sendiri. Fermentasi merupakan salah satu teknologi untuk meningkatkan nilai gizi

pakan berserat tinggi. Complete feed dengan bahan pakan lokal melaui proses

fermentasi juga diharapkan dapat meningkatkan nilai nutrisi complete feed itu

sendiri di samping menunjang produktivitas ternak

2.3 Manajemen Pemberian Pakan Pada Sapi Perah

Pakan merupakan salah satu komponen yang paling dibutuhkan oleh ternak untuk

dapat mempertahankan hidupnya serta melakukan proses produksi. Dalam suatu usaha

peternakan, pada umumnya kebutuhan terhadap pakan merupakan kebutuhan utama.

Kualitas pakan yang baik serta didukung dengan pemberian yang baik pula terhadap

ternak akan meningkatkan performa dan produktivitas ternak. Pada sapi perah, pemilihan

dan pemberian jenis pakan harus dilakukan secara tepat, karena akan berpengaruh

terhadap kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan (Lubis, 1992).

A. Phase Feeding

Phase Feeding adalah suatu program pemberian pakan yang dibagi ke dalam

periode-periode berdasarkan pada produksi susu, persentase lemak susu, konsumsi pakan,

dan bobot badan (Siregar, 1993).

Fase 1, laktasi awal (early lactation), 0 70 hari setelah beranak. Selama periode

ini, produksi susu meningkat dengan cepat, puncak produksi susu dicapai pada 4-6

minggu setelah beranak. Pada saat ini konsumsi pakan tidak dapat memenuhi kebutuhan

zat-zat makanan (khususnya kebutuhan energi) untuk produksi susu, sehingga jaringan-

8
jaringan tubuh dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan. Menurut Tillamn dkk (1991)

Selama fase ini, penyesuaian sapi terhadap ransum laktasi merupakan cara manajemen

yang penting. Setelah beranak, konsentrat perlu ditingkatkan 1-1,5 lb per hari untuk

memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang meningkat dan meminimisasi problem tidak

mau makan dan asidosis. Namun perlu diingat, proporsi konsentrat yang berlebihan (lebih

dari 60% BK ransum) dapat menyebabkan asidosis dan kadar lemak yang rendah. Tingkat

serat kasar ransum tidak kurang dari 18% ADF, 28% NDF, dan hijauan harus

menyediakan minimal 21% NDF dari total ransum. Bentuk fisik serat kasar juga penting,

secara normal ruminasi dan pencernaan akan dipertahankan bila lebih dari 50% hijauan

panjangnya 1 atau lebih.

Kandungan protein merupakan hal yang kritis selama laktasi awal. Upaya untuk

memenuhi atau melebihi kebutuhan PK selama periode ini membantu konsumsi pakan,

dan penggunaan yang efisien dari jaringan tubuh yang dimobilisasi untuk produksi susu

(Sugeng, 1998). Ransum dengan protein 19% atau lebih diharapkan dapat me-menuhi

kebutuhan selama fase ini. Tipe protein (protein yang dapat didegradasi atau tidak

didegradasi) dan jumlah protein yang diberikan dipengaruhi oleh kandungan zat makanan

ransum, metode pemberian pakan, dan produksi susu. Sebagai patokan, yang diikuti oleh

banyak peternak (di luar negeri) memberikan 1 lb bungkil kedele atau protein suplemen

yang ekivalen per 10 lb susu, di atas 50 lb susu (Sumarno, 1998).

Bila zat makanan yang dibutuhkan saat laktasi awal ini tidak terpenuhi, produksi

puncak akan rendah dan dapat menyebabkan ketosis. Produksi puncak rendah, dapat

diduga produksi selama laktasi akan rendah. Bila konsumsi konsentrat terlalu cepat atau

terlalu tinggi dapat menyebabkan tidak mau makan, acidosis, dan displaced abomasum.

Untuk meningkatkan konsumsi zat-zat makanan:

beri hijauan kualitas tinggi,

protein ransum cukup,

9
tingkatkan konsumsi konsentrat pada kecepatan yang konstan setelah

beranak,

tambahkan 1,0-1,5 lb lemak/ekor/hari dalam ransum,

pemberian pakan yang konstan, dan

minimalkan stress.

Fase 2, konsumsi BK puncak, 10 minggu kedua setelah beranak. Selama fase ini,

sapi diberi makan untuk mempertahankan produksi susu puncak selama mungkin.

Konsumsi pakan mendekati maksimal sehingga dapat me-nyediakan zat-zat makanan

yang dibutuhkan. Sapi dapat mempertahankan bobot badan atau sedikit meningkat.

Konsumsi konsentrat dapat banyak, tetapi jangan melebihi 2,3% bobot badan (dasar BK).

Kualitas hijauan tinggi perlu disediakan, minimal konsumsi 1,5% dari bobot badan

(berbasis BK) untuk mempertahankan fungsi rumen dan kadar lemak susu yang normal

(Siregar, 1994). Untuk meningkatkan konsumsi pakan:

beri hijauan dan konsentrat tiga kali atau lebih sehari,

beri bahan pakan kualitas tinggi,

batasi urea 0,2 lb/sapi/hari,

minimalkan stress,

gunakan TMR (total mix ration).

Fase 3, pertengahan laktasi akhir, 140 305 hari setelah beranak. Fase ini

merupakan fase yang termudah untuk me-manage. Selama periode ini produksi susu

menurun, sapi dalam keadaan bunting, dan konsumsi zat makanan dengan mudah dapat

dipenuhi atau melebihi kebutuhan. Level pem-berian konsentrat harus mencukupi untuk

memenuhi kebutuhan produksi, dan mulai mengganti berat badan yang hilang selama

laktasi awal (Lubis, 1992). Sapi laktasi membutuhkan pakan yang lebih sedikit untuk

mengganti 1 pound jaringan tubuh daripada sapi kering. Oleh karena itu, lebih efisien

mempunyai sapi yang meningkat bobot badannya dekat laktasi akhir daripada selama

kering.

10
Fase 4, periode kering, 45 60 hari sebelum beranak. Fase kering penting.

Program pemberian pakan sapi kering yang baik dapat meminimalkan problem metabolik

pada atau segera setelah beranak dan meningkatkan produksi susu selama laktasi

berikutnya. Sapi kering harus diberi makan terpisah dari sapi laktasi. Ransum harus

diformulasikan untuk memenuhi kebutuhannya yang spesifik: maintenance, pertumbuhan

foetus, pertambahan bobot badan yang tidak terganti pada fase 3. Konsumsi BK ransum

harian sebaiknya mendekati 2% BB; konsumsi hijauan minimal 1% BB; konsumsi

konsentrat bergantung kebutuhan, tetapi tidak lebih 1% BB. Setengah dari 1% BB

(konsentrat) per hari biasanya cukup untuk program pemberian pakan sapi kering

(Kartadisastra, 1997).

Sapi kering jangan terlalu gemuk. Memberikan hijauan kualitas rendah,

seperti grass hay, lebih disukai untuk membatasi konsumsi. Level protein 12% cukup

untuk periode kering.

Sedikit konsentrat perlu diberikan dalam ransum sapi kering dimulai 2 minggu sebelum

beranak, bertujuan:

mengubah bakteri rumen dari populasi pencerna hijauan seluruhnya

menjadi populasi campuran pencerna hijauan dan konsentrat;

meminimalkan stress terhadap perubahan ransum setelah beranak.

Kebutuhan Ca dan P sapi kering harus dipenuhi, tetapi perlu dihindari pemberian

yang berlebihan; kadang-kadang ransum yang mengandung lebih dari 0,6% Ca dan 0,4%

P meningkatkan kejadian milk fever. Trace mineral, termasuk Se, harus disediakan dalam

ransum sapi kering. Juga, jumlah vitamin A, D. dan E yang cukup dalam ransum untuk

mengurangi kejadian milk fever, mengurangi retained plasenta, dan meningkatkan daya

tahan pedet.

Problem yang potensial selama fase 4 meliputi milk fever, displaced abomasum,

retained plasenta, fatty liver syndrome, selera makan rendah, gangguan metabolik lain,

dan penyakit yang dikaitkan dengan fat cow syndrome.

11
Manajemen kunci yang harus diperhatikan selama periode kering, meliputi:

observasi kondisi tubuh dan penyesuaian pemberian energi bila

diperlukan,

penuhi kebutuhan zat makanan tetapi cegah pemberian yang berlebihan,

perubahan ransum 2 minggu sebelum beranak, dengan menggunakan

konsentrat dan jumlah kecil zat makanan lain yang digunakan dalam ransum

laktasi,

cegah konsumsi Ca dan P yang berlebihan, dan

batasi garam dan mineral sodium lainnya dalam ransum sapi kering

untuk mengurangi problem bengkak ambing.

Pada waktu kering, kondisi tubuh sapi 2 atau 3, sedangkan saat beranak 3,54,0. Selama

60 hari periode kering, sapi diberi makan untuk mendapatkan PBB: 120 200 lbs.

B. Challenge Feeding (Lead Feeding).

Challenge feeding atau lead feeding, adalah pemberian pakan sapi laktasi

sedemikian sehingga sapi ditantang untuk mencapai level produksi susu puncaknya sedini

mungkin pada waktu laktasi.

Karena ada hubungan yang erat antara produksi susu puncak dengan produksi

susu total selama laktasi, penekanan harus diberikan pada produksi maksimal antara 3 8

minggu setelah beranak (Siregar, 1993).

Persiapan untuk challenge feeding dimulai selama periode kering;

sapi kering dalam kondisi yang baik,

transisi dari ransum kering ke ransum laktasi, mempersiapkan bakteri

rumen.

Setelah beranak challenge feeding dimaksudkan untuk meningkatkan pemberian

konsentrat beberapa pound per hari di atas kebutuhan sebenarnya pada saat itu.

Maksudnya adalah memberikan kesempatan pada setiap sapi untuk mencapai produksi

puncaknya pada atau dekat potensi genetiknya.

12
Waktu beranak merupakan pengalaman yang sangat traumatik bagi sapi yang

berproduksi tinggi. Akibatnya, banyak sapi tertekan selera makannya untuk bebe-rapa

hari setelah beranak. Sapi yang berproduksi susu sangat tinggi tidak dapat mengkonsumsi

energi yang cukup untuk mengimbangi energi yang dikeluarkan. Konsekuensinya, sapi

akan melepaskan cadangan lemak dan protein tubuhnya untuk suplementasi

ransumnya. Tujuan dari pemberian pakan sapi yang baru beranak adalah untuk menjaga

ketergantungannya terhadap energi dan protein yang disimpan, sekecil dan sesingkat

mungkin. Penolakan makanan merupakan ancaman yang besar, sangat perlu dicegah

(Sugeng, 1998).

Challenge feeding membantu sapi mencapai produksi susu puncaknya lebih dini

daripada yang seharusnya, sehingga keuntungan yang dapat diambil adalah, bahwa pada

saat itu, secara fisiologis sapi mampu beradaptasi terhadap produksi susu tinggi.

C. Corral (Group) Feeding (Pemberian pakan (group) di kandang).

Pemberian pakan secara individual pada sapi-sapi laktasi sudah mengarah

ke mechanized group feeding. Hal ini dikembangkan untuk kenyamanan dan peng-

hematan tenaga kerja, dibandingkan ke feed efficiency. Saat ini, peternakan dengan

beberapa ratus sapi laktasi adalah biasa, dan beberapa peternakan bahkan me-miliki

beberapa ribu ekor. Untuk merancang program nutrisi sejumlah besar ternak, dapat

diadaptasikan terhadap kebutuhan spesifik sapi-sapi perah, sapi-sapi di-pisahkan ke

dalam kelompok-kelompok berdasarkan produksi (dan kebutuhan nutrisi).

Bila produser memutuskan pemberian pakan secara kelompok, perlu ditentukan jumlah

kelompok yang akan diambil. Untuk menentukan jumlah kelompok tersebut

pertimbangan perlu diberikan pada hal-hal berikut:

besar peternakan (herd size),

tipe dan harga bahan pakan,

tipe perkandangan, pemberian pakan, dan sistem pemerahan

13
integrasi ekonomi secara keseluruhan dari operasional, sebagai contoh

tenaga kerja, mesin-mesin peralatan, dan lain-lain.

Pada peternakan besar (lebih dari 250 sapi perah laktasi), sistem yang biasa digunakan

adalah minimal dibentuk 5 kelompok:

sapi-sapi produksi tinggi (90 lb. susu/ekor/hari)

sapi-sapi produksi medium (65 lb. susu/ekor/hari)

sapi-sapi produksi rendah (45 lb susu/ekor/hari)

sapi-sapi kering

sapi-sapi dara beranak pertama

Lebih banyak kelompok dapat dilakukan pada peternakan yang sangat besar bila kandang

dan fasilitas tersedia. Karena pertimbangan pemberian pakan dan sosial, disarankan

maksimal 100 ekor sapi per kelompok. Melalui sistem ini setiap ke-lompok diberi makan

menurut kebutuhannya. Kelompok dengan produksi tinggi harus diberi makan yang

mengandung zat-zat makanan kualitas tertinggi pada tingkat maksimal. Sapi produksi

medium harus diberi makan sedemikian sehingga dapat mengurangi biaya pakan,

meningkatkan kadar lemak, memperbaiki fungsi rumen, mempertahankan persistensi.

Sapi produksi rendah sebagaimana untuk produksi medium hanya perlu dipertimbangkan

untuk menghindari kegemukan yang berlebihan.

Salah satu problem dalam pemberian pakan secara berkelompok menyangkut

adaptasi tingkah laku dari sapi-sapi yang baru dikelompokkan, seperti peck order tetapi

masalah ini tidak terlalu besar. Untuk mengatasi masalah ini pindahkan beberapa ekor

sapi bersama-sama ke dalam kelompok baru sebelum diberi makan.

Bila program pemberian pakan secara kelompok diikuti, konsentrat jarang diberikan di

tempat pemerahan, biasanya diberikan di kandang. Pemberian pakan berkelompok dapat

dengan mudah beradaptasi pada penggunaan complete feed syaitu konsentrat, hijauan,

dan suplemen dicampur menjadi satu, tidak diberikan terpisah. Beberapa produser yang

menggunakan complete feeds lebih menyukai pemberian hijauan kering, khususnya long

14
stemmed hay secara terpisah untuk meningkatkan stimulasi rumen dan fasilitas

pencampuran, karena long hay sulit dicampur dalam mixer.

Keuntungan pemberian pakan berkelompok dan complete feed adalah:

produser dapat menggunakan formulasi khusus yang penting untuk

ternak

mengeliminasi kebutuhan penyediaan mineral ad libitum

konsumsi ransum yang tepat

difasilitasi pemberian pakan secara mekanis, sehingga mengurangi

tenaga kerja yang dibutuhkan

mengeliminasi problem yang dikaitkan dengan konsumsi yang tidak

terkontrol dari bahan pakan tertentu

mengurangi resiko gangguan pencernaan, seperti seperti displaced

abomasum

mengurangi pemberian pakan di tempat pemerahan

penggunaan maksimal dari formulasi ransum biaya terendah

menutupi bah.pakan yang tidak palatabel, seperti urea

dapat diadaptasikan terhadap sistem kandang konvensional

memungkinkan produser menetapkan rasio serat kasar terhadap proporsi

konsentrat dalam ransum

mengurangi resiko kekurangan micronutrient

menyediakan operator dengan gambaran konsumsi pakan harian

kelompok, yang kemudian dapat digunakan memperbaiki manajemen

Di antara kerugian dari pemberian pakan berkelompok dan complete feed adalah:

memerlukan peralatan pencampuran yang khusus untuk meyakinkan

mencampur secara merata

tidak ekonomis membagi peternakan kecil ke dalam kelompok-kelompok

tidak dapat diaplikasikan terhadap peternakan yang digembalakan

15
sulit untuk membuat kelompok-kelompok pada beberapa design kandang

dapat terjadi mismanagement seperti fat cow syndrome dan problem kesehatan seperti

kesulitan melahirkan, reproduksi yang jelek, produksi rendah, konsumsi bahan kering

rendah, dan gangguan metabolik. Dalam berbagai kasus problem-problem tersebut tidak

timbul segera, biasanya muncul beberapa bulan kemudian

16
III
KESIMPULAN

Ketersediaan bahan pakan untuk ruminansia di Indonesia umumnya

berasal dari hijauan dan limbah pertanian. Untuk mengatasi kekurangan

pakan di musim kemarau, maka dilakukan proses pengawetan dengan

tujuan memperpanjang daya simpan dengan pembuatan silase, pembuatan

hay, dan amoniasi.

Penggunaan bahan pakan lokal untuk complete feed diharapkan dapat

meminimalisir biaya pakan dan melaui proses fermentasi juga diharapkan


dapat meningkatkan nilai nutrisi complete feed itu sendiri.

Pada sapi perah, pemilihan dan pemberian jenis pakan harus dilakukan secara

tepat, karena akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas susu yang

dihasilkan. Manajemen pakan sapi perah terbagi menjadi tiga fase yaitu feeding

phase, lead feeding, dan group feeding .

17
DAFTAR PUSTAKA

Aju Tjatur. 2015. Pengembangan Usaha Kelompok Peternak Sapi Perah. Fakultas

Peternakan Universitas Kanjuruhan Malang. Malang.

Hanafi, N.D .2008. Teknologi Pengawetan Pakan Ternak. Program Studi

Produksi Ternak Universitas Sumatera Utara. USU Repository.

Hanafi, N.D,.2004. Perlakuan Silase dan Amoniasi Daun Kelapa Sawit Sebagai

Bahan Baku Pakan Domba. Program Studi Produksi Ternak Universitas

Sumatera Utara. USU Digitalized Library.

Haryanto, B. 2009. Inovasi Teknologi Pakan Ternak Dalam Sistem Integrasi

Tanaman-Ternak Bebas Limbah Mendukung Upaya Peningkatan Produksi

Daging. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian 2(3), 2009 :163-176

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak

Ruminansia. Kansius, Yogyakarta.

Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangun, Jakarta.

Siregar, S.B. 1993. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharan, dan Analisa Usaha.

PT Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. PT Penebar Swadaya, Jakarta.

Sofyan, A,. dan A, Febrisiantosa. 2007. Pakan Ternak dengan Silase. Majalah

Inovasi Edisi 5 Desember 2007.

Sugeng, Y.B.,1998. Sapi Perah, Penebar Swadaya, Jakarta.

Suhartanto, B., B.P. Widyobroto, dan R. Utomo. 2003. Produksi ransum lengkap

(complete feed) dan suplementasi undegraded protein untuk meningkatkan

produksi dan kualitas daging sapi potong. Laporan Penelitian Ilmu Pengetahuan

Terapan (Hibah Bersaing X/3). Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta.

18
Sumarno, B. 1991. Penuntun Hijauan Makanan Ternak. Dinas Peternakan Jawa

Tengah, Jawa Tengah.

Tillman, A.D., Hartadi, H. Reksohadiprojo, S. 1991. Ilmu Makanan Ternak

Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Utomo, R. 2003. Penyediaan pakan di daerah tropik: problematika, kontinuitas,

dan kualitas. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Fakultas Peternakan

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Utomo, R., S.P.S. Budhi, A. Agus, dan C.T. Noviandi. 2008. Teknologi dan

Fabrikasi Pakan. Bagian Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan.

Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

19