Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ASMA

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Asma adalah gangguan imflamasi kronik saluran nafas yang melibatkan bayak
sel dan elemenya. Penyakit imflamasi kronik saluran nafas menyebabkan
peningkatan hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berupa
mengi,dada terasa berat dan batuk-batuk terutama pada malam menjelang pagi hari.
Dimana saluran pernafasan mengalami penyempitan karena hiperaktifitas terhadap
rangsangan tertentu yang menyebabkan terjadinya peradangan dan penyempitan
yang bersifat sementara. Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan
nafas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan atau tanpa
pengobatan. Umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia di bawah lima
tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tiga puluh tahunan.

B. Rumusan Masalah
A. Menjelaskan tentang pengertian asma
B. Menjabarkan tentang etiologi dari asma
C. Menjabarkan tentang patofisiologi asma
D. Menyebutkan manifestasi klinik dari asma
E. Menjelaskan tentang perawatan, pengobatan dan pencegahan asma
F. Menyebutkan komplikasi asma
G. Memberitahukan pemeriksaan penunjang pada klien asma
H. Asuhan Keperawatan pada klien dengan asma

C. Tujuan
Setelah membaca makalah ini di harapakan seluruh mahasiswa mahasiswi
akademi keperawatan YRS. Jakarta khususnya tingkat 2 dapat mengetahui tentang
penyakit asma.

D. Pembatasan Makalah
Dalam pembahasan makalah ini hanya di batasi tentang pengertian, etiologi,
patofiisologi, manifestasi klinik, komplikasi, pengobatan dan pencegahan,serta
pemeriksaan penunjang dari penyakit asma.
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian
Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang
dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada
jalan nafas). (Polaski : 1996).
Asthma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan
dengan bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996). Asthma adalah
penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi
berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001).
Dimana saluran pernafasan mengalami penyempitan karena hiperaktifitas
terhadap rangsangan tertentu yang menyebabkan terjadinya peradangan dan
penyempitan yang bersifat sementara. Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan
obstruksi jalan nafas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversible dengan
atau tanpa pengobatan. Umumnya asma lebih sering terjadi pada anak-anak usia di
bawah lima tahun dan orang dewasa pada usia sekitar tiga puluh tahunan.

B. Etiologi
Asma agaknya di turunkan secara poligenik dan alergi salah satu faktor
pencetus asma tetapi belum pasti bagaimana caranya. Salah satu sel yang
memegang peranan penting pada patogenesis asma ialah sel mast. Sel mast dapat
terangsang oleh berbagai pencetus misalnya alergen, infeksi, exercise. Ada
beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan asthma
Faktor predisposisi
Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alerg biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.
Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit
asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
- Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
- ngestan, yang masuk melalui mulut
ex: makanan dan obat-obatan
- Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
ex: perhiasan, logam dan jam tangan
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan
asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan,
musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk
bunga dan debu.
Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga
bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang
timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi
perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya
belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium
hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu
libur atau cuti.
Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan
asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai
aktifitas tersebut.

C. Patofisiologi

Proses terjadinya asma dapat dijelaskan bahwa serangan asma dapat terjadi
apabila terdapat perubahan didalam pernafasan yaitu imflamasi atau bengkak. Jika
alergen sebagai faktor pencetus yang masuk ke dalam tubuh sehingga merangsang
sel plasma atau sel pembentuk antibodi, dan alergen tersebut akan menempel pada
sel mast sehingga terjadi pembengkakan yang mudah mengalami iritasi.
Lendir yang pekat akan dihasilkan dan menyumbat saluran pernafasan,
penderita akan batuk-batuk untuk mengosongkan saluran pernafasan yang
tersumbat.
Jika imflamasi sering terjadi dan keadaannya terus, lapisan saluran
pernafasan akan mengental dan menyebabkan penderita lebih sulit bernafas. Pada
asma yang timbul akibat reaksi imunologik, reaksi antigen antibody menyebabkan
lepasnya mediator kimia yang dapat menimbulkan kelainan patologi tadi. Mediator
kimia tersebut adalah :
a. Histamin
- Kontraksi otot polos
- Dilatasi pembuluh kapiler dan kontraksi pembuluh vena, sehingga terjadi edema
- Bertambahnya sekresi kelenjar dimukosa bronchus, bronkhoilus, mukosaa, hidung
dan mata
b. Bradikinin
- Kontraksi otot polos bronchus
- Meningkatkan permeabilitas pembuluh darah
- Vasodepressor (penurunan tekanan darah)
- Bertambahnya sekresi kelenjar peluh dan ludah
c. Prostaglandin
- bronkokostriksi (terutama prostaglandin F)

Stadium Asma
Stadium I
Waktu terjadinya edema dinding bronkus, batuk proksisimal, karena iritasi dan batuk
kering. Sputum yang kental dan mengumpul merupakan benda asing yang
merangsang batuk
Stadium II
Sekresi bronkus bertambah banyak dan batuk dengan dahak yang jernih dan
berbusa. Pada stadium ini anak akan mulai merasa sesak napas berusaha bernapas
lebih dalam. Ekspirasi memanjang dan terdengar bunyi mengi. Tampak otot napas
tambahan turut bekerja. Terdapat retraksi supra sternal, epigastrium dan mungkin
juga sela iga. Anak lebih senang duduk dan membungkuk, tangan menekan pada
tepi tempat tidur atau kursi. Anak tampak gelisah, pucat, sianosisi sekitar mulut,
toraks membungkuk ke depan dan lebih bulat serta bergerak lambat pada
pernapasan. Pada anak yang lebih kecil, cenderung terjadi pernapasan abdominal,
retraksi supra sternal dan interkostal.
Stadium III
Obstruksi atau spasme bronkus lebih berat , aliran udara sangat sedikit sehingga
suara napas hampir tidak terdengar. Stadium ini sangat berbahaya karena sering
disangka ada perbaikan. Juga batuk seperti ditekan. Pernapasan dangkal, tidak
teratur dan frekuensi napas yang mendadak meninggi.
D. Manifestasi Klinik
Salah satu ciri asma adalah hilangnya keluhan di luar serangan. Artinya pada saat
serangan, penderita asma bisa kelihatan amat menderita (banyak batuk,sesak nafas
hebat,dan bahkan sampai tercekik),tetapi di luar serangan dia terlihat sehat-sehat
saja (bisa main-main,jalan-jalan dll).
Klasifikasi tingkat penyakit asma dapat di bagi berdasarkan frekuensi kemunculan
gejala:
1. Intermintten, yaitu sering tanpa gejala atau munculnya kurang dari 1 kali dalam
seminggu dan gejala asma malam berkurang dari 2 kali dalam sebulan.Jika seperti
itu yang terjadi,berarti faal paru masih baik.
2. Persisten ringan,yaitu gejala asma lebih dari 1 kali dalam seminggu dan
serangannya sampai mengganggu aktivitas,termasuk tidur.Gejala asma malam lebih
dari 2 kali dalam sebulan,semua ini membuat faal paru relatif menurun.
3. Persisten sedang,yaitu gejala asma terjadi setiap hari dan serangan sudah
mengganggu aktivitas,serta terjadinya 1-2 kali seminggu.Gejala asma malam lebih
dari 1 kali dalam seminggu.Faal paru menurun.
4. Persisten berat,yaitu gejala asma terjadi terus menerus.Gejala asma malam dapat
terjadi hampoir setiap malam akibatnya faal paru sangat menurun.
Tanda dan Gejala :
Secara umumnya tanda dan gejala asma adalah :
Sesak nafas
Batuk berdahak atau batuk kering
Mengi,karna pengaruh hormon kortisol yang rendah dan karna berbagai faktor lain
Nafasnya pendek-pendek
Bibir dan kuku tampak kebiruan
Kadar O2 yang menurun dan CO2 yang meningkat
E. Komplikasi
Efisema
Atelektasis
Bronkiektasis
Bronkopneumonia
Status asmatikus
Kegagalan jantung
Kegagalan pernafasan
Pnemu thoraks
Kerja pernapasan meningkat, kebutuhan O2 meningkat. Orang asma tidak sanggup
memenuhi kebutuhan O2 yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk bernapas
melawan spasme bronkhiolus, pembengkakan bronkhiolus, dan mukus yang kental.
Situasi ini dapat menimbulkan pneumothoraks akibat besarnya tekanan untuk
melakukan ventilasi.
Kematian

F. Pengobatan dan Pencegahan


Pengobatan :
Pada prinsipnya pengobatan asma di bagi menjadi 2 golongan,yaitu:
Anti imflamasi,merupakan pengobatan rutin yang bertujuan mengontrol penyakit
serta mencegah serangan atau biasa di kenal dengan obat pengontrol.antara lain:
- Steroid inhalasi
- Sodium Kromoglikat
- Kortikosteroid sistemik
- Angios beta-2 kerja lama
Bronkodilator,merupakan pengobatan saat serangan unuk mengatasi eksaserbasi
atau serangan yang di kenal dengan obat pelega,antara lain :
- Angios beta-2 kerja singkat
- Antilolionegrik
- Metilsatin

Pencegahan :
Menghindari faktor-faktor pencetus asma dan menggunakan obat asma untuk
mengurangi pembengkakan saluran pernafasan dengan pengobatan secara cepat
atau jangka pendek dengan menggunakan obat pelega dan pengobatan jangka
panjang dengan menggunakan obat seperti steroid.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium.
a. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya:
Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil.
Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.
Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan
viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b. Pemeriksaan darah.
Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, atau asidosis.
Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana
menandakan terdapatnya suatu infeksi.
Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu
serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

2. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah
dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila
terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan
semakin bertambah.
Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru.
Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka
dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
3. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
4. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3
bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu:
Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock
wise rotation.
Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right
bundle branch block).
Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan VES
atau terjadinya depresi segmen ST negative.
5. Scanning Paru
Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara
selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru.
6. Spirometri

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ASMA


1. PENGKAJIAN
Identitas Klien :
a. Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan, alergi, debu, udara dingin.
b. Riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak nafas, keringat dingin.
c. Status mental : lemas, takut, gelisah.
d. Gastrointestinal : adanya mual, muntah.
e. Pola aktivitas : kelemahan tubuh, cepat lelah.
f. Kaji pengetahuan anak dan orang tua tentang penyakit dan pengobatan
g. Riwayat psikososial: factor pencetus, stress, latihan, kebiasaan dan rutinitas,
perawatan sebelumnya
h. Pemeriksaan fisiik
Pernapasan
- Napas pendek
- Wheezing
- Retraksi
- Takipnea
- Batuk kering
- Ronkhi
Kardiovaskuler
-Takikardia
-Neurologis
-Kelelahan
Ansietas : Sulit tidur
Muskuloskeletal: Intolerans aktifitas, Integumen
Sianosis : pucat
Psikososial : Tidak kooperatif selama perawatan

Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektifnya kebersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus.
2. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan ekpansi paru
3. Gangguan kurangnya nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat
4. Intoleran aktivitas berhubungan dengna kelemahan fisik
5. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan
kurangnya informasi.