Anda di halaman 1dari 9

PERAN BALAI DIKLAT LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN MAKASSAR DALAM

MENINGKATKAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA KELOMPOK TANI HUTAN DESA


TABO-TABO UNTUK MENGEMBANGKAN USAHA GULA SEMUT

Adi Riyanto Suprayitno1

Abstract

Most of Tabo-Tabos villagers is palm farmers. During this time, palm juice is only used as beam
brown sugar. In fact, if this palm juice is processed into crystal palm sugar then it will offer a
higher price. Based on that condition, The Environtmen and Forestry Training Board of
Makassar, now, is trying to encourage farmers palm of Tabo-Tabos villagers to proccess palm
juice into crystal palm sugar. However, the clarity of the market is important to be noted,
because it will be a motivation for farmers to procces palm juice into crystal palm sugar.

Key words: Palm juice, crystal palm sugar, the clarity of the market.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pada umumnya masyarakat desa sekitar hutan, yang sebagian besar adalah petani,
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sangat bergantung pada potensi-potensi alam yang
tersedia dalam hutan yang ada disekitarnya. Optimalisasi pemanfaatan potensi-potensi alam ini
apabila dilakukan secara bijak oleh masyarakat sekitar hutan maka akan memberikan nilai
tambah yang positip bagi peningkatan taraf hidup (kesejahteraan) serta dapat mendukung
kelestarian hutan. Namun, pada kenyataannya kebanyakan anggota masyarakat sekitar hutan
belum mampu memanfaatkan potensi alam hutan secara optimal sehingga dapat memiliki nilai
ekonomis yang tinggi. Ketidakmampuan ini, pada dasarnya, disebabkan oleh kualitas sumber
daya manusia (SDM) yang masih terbatas. Oleh karena itu, dalam konteks pembangunan
kehutanan, menjadi sebuah keharusan untuk melakukan upaya peningkatan kualitas SDM
masyarakat sekitar hutan. Sebuah upaya yang bertujuan untuk memperkuat masyarakat sekitar
hutan sesuai dengan usahanya, agar lebih baik, lebih menguntungkan, lebih sejahtera, mandiri,
terampil, dinamis, efisien dan professional dengan lingkungan hutan yang terpelihara dan
lestari.

Peningkatan kualitas SDM telah menjadi perhatian dalam setiap program pembangunan
di dunia. Sebagai makhluk sosial, manusia dianugerahi akal dan budi, serta diberikan kehendak

1 WI Madya BDK Makassar


yang perlu dihargai dan ditumbuhkembangkan ke arah yang benar dan dilaksanakan sebagai
amanah. Penumbuhkembangan akal-budi dan pengendalian kehendak hanya dapat terjadi dan
tercapai jika individu-individu terpanggil dan terdorong secara sadar untuk senantiasa berada di
dalam nuansa belajar. Belajar tidak selalu diartikan sebagai menimba ilmu di bangku sekolah,
melainkan dapat belajar di mana saja, kapan saja, dan belajar apa saja. Adler (dalam Salkind,
1985) menyatakan bahwa tujuan belajar adalah pertumbuhan, tidak seperti tubuh (yang
semakin tua semakin lemah) maka pikiran manusia dapat tumbuh terus sepanjang hayat
dikandung badan (The purpose of learning is growth unlike our bodies, our minds can continue
growing as we continue to live). Ungkapan tersebut menegaskan, bahwa belajar dapat
dilakukan setiap orang di sepanjang hidupnya. Namun, persoalannya adalah tidak setiap
individu memiliki dorongan yang sama kuatnya untuk senantiasa mau belajar. Hal ini diungkap
juga oleh Linconln (Salkind, 1985), kegiatan/aksi manusia dapat dimodifikasi sampai batas
tertentu, tetapi ciri (alamiah, unik) manusia tidak dapat diubah (Huma action can be modified to
some extend, but human nature cannot be changed).

Peningkatan kualitas SDM masyarakat sekitar hutan dapat dilakukan melalui upaya
pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah proses membelajarkan
masyarakat atau sebuah upaya mengajak dan mendorong masyarakat agar mau menjadi insan
pembelajar sehingga tahu, mau, dan mampu untuk menuju ke kondisi hidup yang lebih baik.
Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah paradigma pembangunan yang berkeadilan di
mana arah pembangunan berpusat pada rakyat. Pembangunan yang berpusat pada rakyat
melihat masyarakat sebagai subyek bukan obyek pembangunan, serta menghargai dan
mempertimbangkan prakarsa rakyat juga kekhasan masyarakat setempat. Pengembangan
ekonomi, atau ekonomi suatu daerah, termasuk masyarakat sekitar hutan, menghendaki peran
serta aktif masyarakat yang sebesar-besarnya dalam kehidupan ekonomi sehingga
pengambilan keputusan dilakukan secara mandiri oleh anggota masyarakat. Campur tangan
birokrasi/pemerintah dalam pengambilan keputusan secara bertahap harus mengalami
pergeseran dan makin minimal.

Rumusan Masalah

Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, memiliki kawasan hutan
dengan tujuan khusus (KHDTK Tabo-Tabo) yang diperuntukan demi kepentingan kelancaran
kegiatan pendidikan dan latihan. Kawasan Hutan Diklat Tabo-Tabo terletak di Desa Tabo-Tabo
Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep. Secara geografis kawasan ini terletak pada 4 0 43
35 sampai 40 45 18 Lintang Selatan dan 1190 38 50 sampai 1190 41 06 Bujur Timur.
Kawasan Hutan Diklat Tabo-Tabo meliputi areal kawasan seluas kurang lebih 601,262 hektar.
Desa Tabo-Tabo berjarak 77 kilometer dari pusat Ibukota Propinsi, 17 kilometer dari pusat
Ibukota Kabupaten dan 15 kilometer dari pusat kecamatan. Sebagian besar masyarakat desa
Tabo-Tabo merupakan masyarakat petani, diantaranya adalah petani aren. Pemanfaatan
potensi ekonomis pohon aren (Arenga pinnata) oleh masyarakat sekitar Hutan Diklat Tabo-
Tabo masih terbatas, yakni masih sebatas pada pembuatan gula aren dalam bentuk balok/
batok. Keterbatasan ini disebabkan oleh masih rendahnya pengetahuan masyarakat untuk
melakukan diversifikasi produk nira aren, dan juga gula semut belum dikenal luas oleh
masyarakat Desa Tabo-Tabo.

Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran pemberdayaan masyarakat sekitar


hutan di Desa Tabo-Tabo melalui upaya peningkatan kapasitas anggota kelompok tani hutan
(KTH) dalam melakukan diversifikasi nira aren menjadi gula semut.

Metode Kajian

Metode yang mendasari penulisan ini adalah pengamatan lapangan (observasi), yaitu
mengamati langsung terhadap apa yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan tabo-tabo,
dan dilakukan penelitian tindakan berupa memberikan kegiatan kepada masyarakat sekitar
hutan tabo-tabo untuk melaksanakan studi banding di wilayah lain yaitu di Kabupaten
Bulukumba.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembentukan Kelompok Tani Hutan (KTH) di Desa Tabo-Tabo dalam rangka


pemberdayaan masyarakat petani sekitar hutan.

Kegiatan penguatan kelembagaan masyarakat petani sekitar hutan merupakan sebuah


kegiatan dalam rangka memberdayakan masyarakat petani sekitar hutan agar mau dan mampu
secara mandiri berperan serta dalam pengelolaan dan pelestarian hutan untuk meningkatkan
kesejahteraannya. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan pembentukan
kelompok-kelompok tani. Dengan pendekatan kelompok tani maka banyak manfaat yang akan
dipetik oleh masyarakat sekitar hutan. Balai Diklat LHK Makassar, pada tahun 2014, telah
memfasilitasi terbentuknya dua KTH yaitu KTH Mattiro Decceng dan KTH Mappaenre Dale
yang telah dikukuhkan pada tahun 2016. Tujuan dibentuknya KTH adalah untuk lebih
meningkatkan dan mengembangkan kemampuan petani dan keluarganya sebagai subjek
pembangunan melalui pendekatan kelompok sehingga dapat lebih berperan dalam
pembangunan kehutanan. KTH diharapkan dapat menjadi model dan berfungsi sebagai media
penyuluhan yang lebih terarah dalam perubahan aktivitas usahatani yang lebih baik.

Pendekatan kelompok dianggap penting karena masyarakat desa Tabo-Tabo dibimbing


dan dibina untuk berkelompok yaitu agar mereka memiliki wadah untuk berorganisasi dan
bersosialisasi. Sebagaimana pada umumnya, di dalam setiap kelompok biasanya selalu saja
ada orang yang lebih dahulu memiliki informasi baru yang berguna bagi anggota lain. Mereka
ini secara sadar atau tidak dapat memajukan anggota lainnya. Kelompok ini akan berfungsi
sebagai kelas belajar, wahana bekerjasama, dan unit produksi. Mereka diajak belajar sambil
bekerja. Hal ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan bagi kelompok, yang akan
menciptakan keakraban para anggota kelompok yang akan bermuara pada terciptanya
kekohesifan kelompok. Melalui kerjasama kelompok mereka mengembangkan kemampuan-
kemampuan mengidentifikasi masalah sampai mencari upaya pemecahan masalah dan
akhirnya diharapkan dapat mengambil sendiri keputusan. Dalam kegiatan kelompok
masyarakat dibimbing untuk belajar memecahkan masalah-masalah yang dihadapi serta
dibimbing untuk membiasakan mencari kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik sehingga
secara bertahap mereka akan menjadi sumber daya manusia yang berinisiatif, produktif dan
berswadaya. Dengan bimbingan yang berorientasi pada pendekatan mandiri, maka kelompok
dibimbing untuk dapat mengambil keputusan terhadap masalah-masalah yang mungkin
dihadapi.

Proses Membelajarkan Masyarakat membuat Gula Semut melalui Studi Banding

Melihat potensi aren yang cukup tinggi di KHDTK Tabo-Tabo, Balai Diklat Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Makassar berinisiatif mengajak masyarakat desa Tabo-Tabo, khususnya
petani aren yang tergabung dalam kelompok tani hutan (KTH) binaan Balai Diklat LHK
Makassar, untuk belajar melakukan diversifikasi produk nira aren yaitu melakukan pembuatan
gula semut yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan dengan gula balok.
Pembuatan gula semut dipilih karena pada dasarnya proses pembuatannya mirip dengan
proses pembuatan gula aren balok, hanya sedikit berbeda pada akhir proses. Artinya sebagian
besar keterampilan pembuatan gula semut sudah dikuasai oleh masyarakat, dengan demikian
akan lebih mudah dalam membuatnya. Dengan mempelajari keterampilan pembuatan gula
semut diharapkan masyarakat terdorong untuk secara bertahap memproduksi gula semut.

Pola pembelajaran dilakukan melalui studi banding di Desa Gunung Sinalu Kabupaten
Bulukumba. Kelompok Tani Desa Tabo-Tabo diajak untuk melihat proses pembuatan gula
semut dan melakukan diskusi dengan petani gula semut di Bulukumba. Mereka juga berdiskusi
tentang prospek pemasaran gula semut. Dengan pendekatan seperti ini maka petani Desa
Tabo-Tabo belajar langsung melalui proses belajar dari petani dan untuk petani, sehingga
diharapkan mereka dapat termotivasi untuk melakukan pembuatan gula semut setelah kembali
ke Desa Tabo-Tabo. Beberapa pengetahuan yang diperoleh masyarakat dari hasil studi
banding adalah gula semut memiliki banyak kelebihan dari gula merah yang sudah lebih dahulu
dikenal oleh masyarakat, diantaranya:
1. Dapat disimpan dalam waktu kurang lebih tiga tahun tanpa mengalami perubahan setelah
dikeringkan dan dibungkus rapat (kadar air 2-3% dengan pengemasan yang tertutup rapat)
2. Mudah larut dan bentuknya menarik
3. Nilai ekonomisnya tinggi, harganya relatif lebih tinggi dibandingkan gula balok
4. Memiliki aroma khas
5. Bentuknya kering dan tidak lembek
6. Ketersediaan pasar jelas

Proses Pembuatan Gula Semut

Bagi petani aren desa Tabo-Tabo, proses pembuatan nira aren menjadi gula semut
bukan merupakan hal yang sulit. Mereka sudah familiar dari mulai proses penyadapan nira
sampai dengan memasaknya sehingga matang dan siap diolah menjadi gula semut. Langkah-
langkah atau proses pembuatan nira aren menjadi gula semut, berdasarkan hasil studi banding
adalah sebagai berikut:

1. Persiapan nira aren. Proses pembuatan gula semut diawali dengan tahap persiapan bahan
dan pembersihan nira yang telah disadap dan akan diolah. Nira mempunyai sifat mudah
asam karena adanya proses fermentasi. Oleh karena itu, nira harus segera diolah setelah
diambil dari pohon, paling lambat 90 menit setelah dikeluarkan dari bumbung.
2. Pemasakan nira aren. Setelah dilakukan penyaringan nira, kemudian nira tersebut
dituangkan dalam wajan besar atau bejana yang khusus untuk memasak nira menjadi gula,
selanjutnya nira dipanaskan dengan menggunakan api dari kayu bakar dengan suhu antara
120-130 derajat celcius. Adapun untuk memperoleh warna gula yang cerah dan untuk
menghindari busa yang berlebihan, tambahkan minyak kelapa dengan perbandingan 1
sendok makan untuk 25 liter nira aren.
3. Selama pemasakan nira, perlu dilakukan pengadukan sehingga panasnya dapat merata.
4. Pemasakan dianggap selesai apabila tetesan nira dimasukkan ke dalam air membentuk
gumpalan atau serabut gula, kemudian gumpalan tersebut dipegang dengan tangan,
apabila tidak lengket maka berarti gula sudah masak. Untuk lebih memastikan apakah gula
sudah masak atau belum maka gumpalan gula tersebut dilempar dengan keras ke wajan.
Apabila sudah berbunyi keras maka gula dianggap sudah masak
5. Pembuatan Kristal gula semut. Setelah gula masak, maka gula diangkat dari wajan dan
didinginkan/didiamkan dulu selama 10-15 menit, kemudian dilakukan pengadukan. Mula-
mula dilakukan pengadukan secara perlahan-lahan dan setelah mulai membentuk serbuk
pengadukan dipercepat, sehingga akan dihasilkan serbuk gula semut.
6. Tahapan terakhir dalam proses pembuatan gula semut adalah pengayakan serbuk gula, hal
ini adalah untuk memperoleh keseragam ukuran serbuk.
7. Pengemasan. Proses terakhir dari pembuatan gula semut adalah pengemasan.
pengemasan yang baik adalah dengan menggunakan plastik yang tahan panas dan kedap
air serta tidak mudah rusak, adapun ukuran kemasan disesuaikan dengan keadaan dan
permintaan pasar.

Peningkatan Peran Penyuluh Kehutanan dalam Memotivasi Masyarakat untuk Melakukan


Diversifikasi Nira Aren

Terkait dengan upaya diversifikasi nira aren menjadi gula semut, menjadi sebuah
tantangan bagi Balai Diklat LHK melalui upaya-upaya penyuluhan kehutanan untuk memotivasi
dan menggerakkan masyarakat agar terus mau untuk terlibat aktif dalam kegiatan atau aktivitas
pengolahan gula semut. Kegiatan penyuluhan kehutanan memiliki peran penting terhadap
proses belajar masyarakat desa Tabo-Tabo. Peran terpenting dari penyuluh kehutanan adalah
melakukan upaya mengubah perilaku individu, keluarga, dan masyarakat Desa Tabo-Tabo
sedemikian rupa sehingga masyarakat Desa Tabo-Tabo tersebut tahu, mau, mampu, dalam arti
terdorong untuk belajar, guna mencapai perilaku baru yang lebih positip yaitu mengolah nira
aren menjadi gula semut, dan pada gilirannya akan meningkatkan kualitas SDM petani dan
kesejahteraan, serta terpeliharanya hutan diklat Tabo-Tabo

Sebelum proses perubahan perilaku itu dilakukan yaitu mengajak masyarakat desa
Tabo-Tabo untuk mengolah nira aren menjadi gula semut, maka masyarakat Desa Tabo-Tabo
perlu disadarkan terlebih dahulu akan beragam potensi yang dimilikinya, termasuk di dalamnya
hal-hal yang tergolong sebagai kendala atau kelemahan yang berpotensi menghambat
terjadinya proses perubahan. Berbagai potensi yang melemahkan yang biasanya ditemukan
adalah: (1) lemahnya dorongan masyarakat untuk melakukan perubahan, antara lain karena
masyarakat telah merasa puas dengan kondisi status quo-nya, walaupun mungkin kualitas
SDM-nya tergolong rendah, (2) lemahnya dorongan atau minat masyarakat untuk melibatkan
diri dalam proses belajar.

Kelemahan-kelemahan di atas dapat diminimalisir, dengan mengoptimalkan peranan


penyuluhan. Peranan penyuluhan akan optimal jika:

1. Perubahan yang hendak dicapai merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat. Petani
aren harus merasa bahwa gula semut merupakan kebutuhannya. Apabila masyarakat
belum merasakan bahwa gula semut adalah kebutuhannya, maka menjadi tugas penyuluh
kehutanan, dengan berbagai strategi, metode dan teknik penyuluhan, untuk membangkitkan
kebutuhan masyarakat.
2. Nuansa belajar pada masyarakat dapat ditumbuhkembangkan di dalam sistem sosial
masyarakat. Tanaman aren bukan hal yang asing bagi masyarakat ds Tabo-Tabo, karena
sebagian dari mereka adalah petani gula. Oleh karena itu, lebih mudah untuk mengajak
mereka belajar cara pengolahan nira aren menjadi gula semut.
3. Masyarakat dapat disadarkan mengenai potensi yang dimiliknya serta masalah yang
dihadapinya, dan bahwa masalah yang dihadapi dapat diatasi melalui pendayagunaan
potensi yang dimilikinya. Penyuluh kehutanan harus merancang proses pembelajaran yang
partisipatif, bersama masyarakat melakukan kegiatan menganalisa potensi dan kelemahan
yang ada berkaitan dengan usaha pengolahan gula semut. Dan berama-sama mencari
alternatif pemecahan masalah.
4. Masyarakat perlu disadarkan bahwa kondisi sekarang adalah nasib yang dapat diubah/
diperbaiki ke arah yang lebih baik, dan bahwa hidup atau nasib yang lebih baik adalah hak
sasaran sepenuhnya. Penyuluh kehutanan dapat memotivasi dengan memberikan informasi
atau referensi keberhasilan petani gula semut di tempat lain
5. Masyarakat dapat disadarkan, bahwa perubahan perilaku yang akan dicapai merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari upaya peningkatan harga diri dan martabat serta kualitas
SDM sasaran. Perubahan perilaku dalam bentuk aktivitas usahatani yang lebih baik dapat
dilihat dari adanya peningkatan-peningkatan dalam produktivitas usahatani yang pada
gilirannya akan meningkatkan pendapatan petani sehingga akan mendukung terciptanya
kesejahteraan yang lebih baik bagi petani dan keluarganya.
6. Yang terpenting dari upaya memotivasi masyarakat untuk mengolah nira aren menjadi gula
semut adalah kejelasan pasar. Balai Diklat LHK Makassar melalui kegiatan penyuluhan
kehutanan, pada tahap awal, diharapkan dapat memberikan jaminan ketersediaan pasar
dengan harga yang lebih menguntungkan. Petani produsen sangat senang apabila
mendapatkan harga yang tinggi pada saat menjual produksinya. Untuk hasil-hasil itu perlu
ada pasaran serta harga yang cukup tinggi guna membayar kembali biaya-biaya tunai dan
daya upaya yang telah dikeluarkan petani sewaktu memproduksinya. Ketidakjelasan pasar
akan mereduksi semangat petani aren desa Tabo-Tabo yang dapat bermuara pada
berhentinya produksi gula semut. Menurut A.T Mosher (1987), seorang ahli pertanian yang
pendapatnya masih dijadikan rujukan sampai dengan saat ini, bahwa diperlukan tiga hal
dalam memasarkan hasil usaha tani, yaitu :

a. Adanya pihak di suatu tempat yang membeli hasil usaha tani, artinya perlu ada
permintaan (demand) terhadap hasil usaha tani ini.
b. Sistem tata niaga yang berjalan baik dimana ada pihak yang menjadi penyalur dalam
penjualan hasil usaha tani.
c. Kepercayaan petani pada kelancaran sistem tataniaga itu. Kebanyakan petani harus
menjual hasil-hasil usaha taninya sendiri atau di pasar setempat. Jika sistem tata niaga
gula semut berjalan lancar dan petani telah percaya akan kelancaran sistem tersebut
maka, maka petani tidak harus menjual sendiri produksinya ke pasar..
Ketiga hal yang disampaikan Mosher tersebut harus menjadi pertimbangan bagi kegiatan
penyuluhan kehutanan yang dilakukan oleh Balai Diklat LHK Makasar. Balai diklat LHK
Makassar diharapkan dapat menjembatani atau menjadi penyalur antara petani aren
dengan pasar, sehingga produksi gula semut Tabo-Tabo dapat berkesinambungan, karena
petani percaya bahwa produk gula semutnya ada yang menampung atau membeli.
Penutup

Potensi aren Tabo-Tabo perlu dioptimalkan pemanfaatannya, tidak hanya untuk


diproses menjadi gula balok, tetapi perlu diarahkan pada produk yang memiliki pasar dan nilai
jual yang lebih baik, yaitu menjadi gula semut. Keberhasilannya bergantung pada mau atau
tidaknya masyarakat untuk mengolah nira aren menjadi gula semut. Upaya-upaya untuk
mendorong masyarakat mengolah nira aren menjadi gula semut, perlu dilakukan. Informasi
pasar, kejelasan pasar menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong masyarakat
memproduksi gula semut. Oleh karena itu, agar kegiatan produksi gula aren dapat berjalan
secara berkesinambungan, untuk tahap awal, BDLHK Makassar perlu memfasilitasi
ketersediaan pasar tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Mosher A.T. 1987. Menggerakkan Dan Membangun Pertanian. Jakarta: Yasaguna.

Salkind NJ. 1985. Theories of Human Development. New York: Jpohn Wiley and Sons,.

Anda mungkin juga menyukai