Anda di halaman 1dari 16
  • 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Pre eklamsia dan eklampsia merupakan penyulit dalam proses persalinan yang kejadiannya senantiasa tetap tinggi. Tingginya angka kejadian pre eklampsia merupakan faktor utama penyebab timbulnya eklampsia yang dapat mengancam hidup ibu bersalin. Tingginya angka kematian bulin sebagai akibat perkembangan dari pre eklampsia yang tidak terkontrol memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap tingginya angka kematian. Dari kasus persalinan yang dirawat di rumah sakit 3-5 % merupakan kasus pre eklampsia atau eklampsia ( Manuaba, 1998 ). Dari kasus tersebut 6 % terjadi pada semua persalinan, 12 % terjadi pada primi gravida. Masih tingginya angka kejadian ini dapat dijadikan sebagai gambaran umum tingkat kesehatan ibu bersalin dan tingkat kesehatan masyarakat secara umum. Dengan besarnya pengaruh pre eklampsia terhadap tingginya tingkat kematian bulin, maka sudah selayaknya dilakukan upaya untuk mencegah dan menanganikasus- kasus pre eklampsia. Perawatan pada bulin dengan preeklamsia merupakan salah satu usaha nyata yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi-komplikasi sebagai akibat lanjut dari pre eklampsia tersebut.

1.2 Tujuan

1)

Mengetahui definisi dari eklampsia

2)

Mengetahui etiologi eklampsia

3)

Mengetahui bagaimana manifestasi klinis eklampsia

4)

Mengetahui komplikasi yang bisa timbul dari eklampsia

5)

Mengetahui penatalaksanaan serta pemeriksaan penunjang yang digunakan

6)

Memahami pathway dari eklampsia

7)

Memahami asuhan keperawatan eklampsia

1.3

Rumusan Masalah

  • 1. Apa definisi dari eklampsia ?

  • 2. Bagaimana etiologinya ?

  • 3. Bagaimana manifestasi klinisnya ?

  • 4. Apa komplikasi yang bisa timbul ?

  • 5. Bagaimana penatalaksanaan serta pemeriksaan penunjang yang digunakan ?

  • 6. Bagaimana pathway dari eklampsia ?

  • 7. Bagaimana asuhan keperawatan ntuk eklampsia ?

  • 2.1 Definisi

BAB II TINJAUAN TEORITIS

Eklampsia adalah kelainan akut pada ibu hamil, saat hamil tua, persalinan atau

masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala preeclampsia (hipertensi, edems, proteinuri). (Wirjoatmodjo, 2000: 49). Eklampsia adalah suatu keadaan dimana didiagnosis ketika preeklampsia memburuk menjadi kejang (helen varney;2007) Eklampsia merupakan serangan konvulsi yang mendadak atau suatu kondisi yang dirumuskan penyakit hipertensi yang terjadi oleh kehamilan, menyebabkan kejang dan koma, (kamus istilah medis : 163,2001) Eklampsia merupakan serangan kejang yang diikuti oleh koma, yang terjadi pada wanita hamil dan nifas (Ilmu Kebidanan : 295, 2006)

  • 2.2 Epidemiologi

Eklampsia selalu menjadi masalah yang serius, bahkan merupakan salah satu keadaan paling berbahaya dalam kehamilan. Statistik menunjukkan di Amerika Serikat kematian akibat eklampsia mempunyai kecenderungan menurun dalam 40 tahun terakhir, dengan persentase 10 % 15 %. Antara tahun 1991 1997 kira-kira 6% dari seluruh kematian ibu di Amerika Serikat adalah akibat eklampsia, jumlahnya mencapai 207 kematian. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa eklampsia dan pre eklamsia berat harus selalu dianggap sebagai keadaan

yang mengancam jiwa ibu hamil. Eklampsia di Indonesia masih merupakan penyakit pada kehamilan yang meminta korban besar dari ibu dan bayi. Dari berbagai pengumuman, diketahui kematian ibu berkisar antara 9,8% - 25,5% sedangkan kematian bayi lebih tinggi lagi, yakni 42,2%-48,9%. Sebaliknya, kematian ibu dan bayi di negara maju lebih kecil. Tingginya kematian ibu dan anak di negara-negara yang kurang maju disebabkan oleh kurang sempurnanya pengawasan antenatal dan natal. Sebab kematian bayi terutama oleh hipoksia intrauterin dan prematuritas. Berlawanan dengan yang sering diduga, eklampsia

tidak menyebabkan hipertensi menahun. Ditemukan bahwa pada penderita yang mengalami eklampsia pada kehamilan pertama, frekuensi hipertensi 15 tahun kemudian/lebih, tidak lebih tinggi daripada mereka yang hamil tanpa eklampsia.

  • 2.3 Klasifikasi Eklamsia

2.3.1 Eklampsia di bagi menjadi 3 golongan :

1). Eklampsia antepartum ialah eklampsia yang terjadi sebelum persalinan (ini paling sering terjadi),

  • a. kejadian 15% sampai 60 %

  • b. serangan terjadi dalam keadaan hamil

2). Eklampsia intrapartum ialah eklampsia saat persalinan

  • a. Kejadian sekitar 30 % sampai 35 %

  • b. Saat sedang inpartu

  • c. Batas dengan eklampsia gravidarum sulit ditentukan

3). Eklampsia postpartum ialah eklampsia setelah persalinan

  • a. Kejadian jarang

  • b. Terjadinya serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir

  • 2.4 Etiologi

Sampai saat ini, etiologi pasti dari eklampsia belum diketahui. Ada beberapa teori

mencoba menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut sehingga kelainan ini sering dikenal sebagai the diseases of theory. Adapun teori-teori tersebut antara lain :

  • 1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan

  • 2. Peran faktor imunologis

  • 3. Beberapa studi juga mendapatkan adanya aktivasi system komplemen pada pre-eklampsi/eklampsi.

  • 4. Peran faktor genetik /familial

  • 5. Terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi preeklampsi/ eklampsi pada anak-anak dari ibu yang menderita preeklampsi/eklampsi.

  • 6. Peran renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS)

  • 2.5 Manifestasi Klinis

Eklampsia terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih, yaitu: kejang-kejang atau

koma. Kejang dalam eklampsia ada 4 tingkat, meliputi :

  • 1. Tingkat awal atau aura ( invasi ) Berlangsung 30 35 detik, mata terpaku dan terbuka tanpa melihat ( pandangan kosong ), kelopak mata dan tangan bergetar, kepala diputar ke kanan dan ke kiri.

  • 2. Stadium kejang tonik Seluruh otot menjadi kaku, wajah kaku, tangan menggenggam dan kaki membengkok kedalam, pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit, berlangsung kira kira 20 30 detik

  • 3. Stadium kejang klonik Semua otot berkontraksi dan berulang ulang dalam waktu yang cepat, mulut terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa, dan lidah dapat tergigit.Mata melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis.Setelah berlangsung 1 -2 menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik nafas, seperti mendengkur.

  • 4. Stadium koma Lamanya ketidaksadaran ini beberapa menit sampai berjam jam.Kadang antara kesadaran timbul serangan baru dan akhirnya penderita tetap dalam keadaan koma.

2.6 Patofisiologi

2.6 Patofisiologi 2.7 Komplikasi Komplikasi yang terberat adalah kematia ibu dan janin, usaha utama adalah melahirkan

2.7 Komplikasi

Komplikasi yang terberat adalah kematia ibu dan janin, usaha utama adalah

melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita preeclampsia dan eklampsia.

1. Terhadap janin dan bayi.

  • a. Solution plasenta Karena adanya tekanan darah tinggi, maka pembuluh darah dapat mudah

pecah sehingga terjadi hematom retoplasenta yang menyebabkan sebagian plasenta dapat terlepas.

  • b. Asfiksia mendadak, persalinan prematuritas, kematian janin dalam rahim.

  • c. Hemolisis Kerusakan atau penghancuran sel darah merah karena gangguan integritas membran sel darah merah yang menyebabkan pelepasan hemoglobin. Menunjukkan gejala klinik hemolisis yang dikenal karena ikterus. 2. Terhadap ibu

    • a. Hiprofibrinogenemia Adanya kekurangan fibrinogen yang beredar dalam darah, biasanya dibawah 100mg persen. Sehingga pemeriksaan kadar fibrinogen harus secara berkala.

    • b. Perdarahan otak Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal pada penderita eklampsia.

    • c. Kelainan mata Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung sampai seminggu. Perdarahan kadang-kadang terjadi pada retina yang merupakan tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri.

    • d. Edema paru paru

    • e. Nekrosis hati Nekrosis periportal hati pada eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum. Kerusakan sel-sel hati dapat diketahui dengan pemeriksaan faal hati, terutama penentuan enzim-enzimnya.

    • f. Sindroma HELLP Merupakan suatu kerusakan multisistem dengan tanda-tanda : hemolisis, peningkatan enzim hati, dan trombositopenia yang diakibatkan disfungsi endotel sistemik. Sindroma HELLP dapat timbul pada pertengahan kehamilan trimester dua sampai beberapa hari setelah melahirkan.

    • g. Kelainan ginjal Kelainan ini berupa endoteliosis glomerulus yaitu pembengkakan sitoplasma sel endotelial tubulus ginjal tanpa kelainan struktur lainnya. Kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.

    • h. Komplikasi lain yaitu lidah tergigit, trauma dan fraktur karena jatuh akibat kejang - kejang pneumonia aspirasi, dan DIC.

    • i. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intra uterin.

  • 2.7 Pemeriksaan Penunjang

    • 1. Pemeriksaan laboratorium

      • a. Darah rutin

      • b. Pemeriksaan darah lengkap

  • 2. Pemeriksaan diagnostik

    • a. Ultrasonografi

    • b. Elektrokardiograf

  • 2.8 Diagnosa Banding

  • 2.8.1

    Diagnosa banding dari pre eklamsi ringan :

    1) Hipertensi kronik : adanya hipertensi yang menetap oleh sebab apapun, yang

    ditemukan pada kehamilan ≤ 20 minggu atau hipertensi yang menetap setelah 5

    minggu pasca persalinan. 2) Transient hipertention : timbulnya hipertensi dalam kehamilan pada wanita yang tekanan darahnya normal dan tidak menpunyai gejala lain. Gejala ini akan hilang setelah 10 hari pasca persalinan. 3) Pemeriksaan penunjang : urine rutin / lengkap

    2.8.2

    Diagnosa banding dari pre eklamsi berat :

    1)

    Hipertensi kronik dan kehamilan

    2)

    Kehamilan dengan sindrom nefrotik

    3)

    Kehamilan dengan payah jantung

    4)

    Pemeriksaan penunjang Lab :

    • - Hb, Hct, AT

    • - urine lengkap

    • - asam urat darah

    • - fungsi hati

    • - fungsi ginjal

    2.8.3

    Diagnosa banding dari kehamilan yang disertai kejang- kejang :

     

    1)

    Febrile convulsion ( panas + )

    2)

    Epilepsi ( anamnesa epilepsi + )

    3)

    Tetanus( kejang tonik atau kaku kuduk )

    4)

    Miningitis atau ensefalitis ( fungsi lumbal )

    5)

    Tumor otak

    2.9 Penatalaksanaan umum

    • 2.9.1 Penanganan Kejang :

      • a. Beri obat anti konvulsan

    b.Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedeka, sedotan, masker

    O 2 dan tabung O 2 )

    • c. Lindungi pasien dengan keadaan trauma

    • d. Aspirasi mulut dan tonggorokkan

    • e. Baringkan pasien pada posisi kiri, trendelenburg untuk mengurangi resiko aspirasi

    • f. Beri oksigen 4-6 liter / menit

    • 2.9.2 Penanganan Umum :

      • a. Jika tekanan diastolic > 110 mmHg, berikan hipertensi sampai tekanan diastolic diantara 90-100 mmHg.

      • b. Pasang infuse RL dengan jarum besar (16 gauge atau lebih)

      • c. Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload

      • d. Kateterisasi urine untuk mengeluarkan volume dan proteinuric

      • e. Jika jumlah urine kurang dari 30 ml / jam

      • f. Infus cairan dipertahankan 1 1/8 ml/jam

      • g. Pantau kemungkinan oedema paru

      • h. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.

      • i. Observasi tanda-tanda vital, refleks dan denyut jantung setiap jam

      • j. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda oedema paru. Jika ada oedema paru hentikan pemberian cairan dan berikan diuretic

      • k. Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan beadside

    l. Dosis awal : beri MgSO 4 (4 gram) per IV sebagai larutan 20%, selama 5

    menit. Diikuti dengan MgSO 4 (50%) 5 gr 1ml dengan 1 ml lignokain 2% (dalam setopril yang sama) pasien akan merasa agar panas sewaktu pemberian MgSO 4

    • m. Dosis pemeliharaan : MgSO 4 (50%) 5 gr + lignokain 2% (1ml) 1 m setiap 4 jam kemudian dilanjutkan sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang terakhir

    • n. Sebelum pemberian MgSO 4 periksa : frekuensi pernafasan minimal 16 / menit. Refleks Patella (+), urin minimal 30 ml / jam dalam 4 jam terakhir

    • o. Stop pemberian MgSO 4 , jika : frekuensi pernafasan < / >

    • p. Siapkan antidotlim jika terjadi henti nafas, Bantu dengan ventilator. Beri kalsium glukonat 2 gr ( 20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan-lahan sampai pernafasan mulai lagi.

    BAB III KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

    3.1

    Pengkajian

    Data yang dikaji pada ibu dengan pre eklampsia adalah :

    • 1. Data subyektif :

      • a. Identitas pasien dan penanggung jawab:Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida , < 20 tahun atau > 35 tahun

      • b. Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan kabur.

      • c. Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM

      • d. Riwayat kehamilan : riwayat kehamilan ganda, mola hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklampsia atau eklampsia sebelumnya

      • e. Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan

      • f. Psiko sosial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya.

  • 2. Data Obyektif :

    • a. Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam

    • b. Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema

    • c. Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress

    • d. Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika refleks + )

    • e. Pemeriksaan penunjang :

  • i. Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur, diukur 2 kali dengan interval 6 jam ii. Laboratorium : protein urine dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ), kadar

    iii.

    hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric acid biasanya > 7 mg/100 ml Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu

    iv. Tingkat kesadaran ; penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada

    otak

     

    v.

    USG ; untuk mengetahui keadaan janin

    vi.

    NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin.

    3.2

    Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

     

    3.2.1

    Diagnosa Pre Op :

    • 1. Cemas berhubungan dengan prosedur invasif saat operasi SC yang akan

    dilakukan.

    • 3.2.2 Diagnosa Post Op :

      • 1. Resiko cidera berhubungan dengan kejang berulang

      • 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

      • 3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive

    • 3.3 Rencana Tindakan Keperawatan

      • 3.3.1 Intervensi Pre Op :

    Diagnosa

     

    Kriteria Hasil

    Intervensi

    Rasional

    Keperawatan

     

    Cemas berhubungan dengan prosedur invasif saat operasi

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan

    • 1. Beritahu klien tentang prosedur pembedahan

    • 1. Klien dapat mengetahui prosedur

    SC akan dilakukan

    selama 3 x 24 jam

    Kriteria Hasil :

    • 2. Beri kesempatan

    pembedahan

    diharapkan masalah

    pada klien untuk mengungkapkan

    • 2. Dapat meringankan beban pikiran klien

    keperawatan dapat

    rasa cemasnya

    • 3. Lingkungan yang

    teratasi

    • 3. Ciptakan suasana tenang dan

    tenang dan nyaman dapat mengurangi

    a.

    Klien tidak

    nyaman

    rasa cemas klien

    cemas lagi

    b.

    Klien terlihat

    tenang

     

    c. Klien terlihat rileks

       
    • 3.3.2 Intervensi Post Op :

    Diagnosa Keperawatan

     

    Kriteria Hasil

    Intervensi

    Rasional

    Resiko cidera

    Tujuan: Setelah

    • 1. Monitor tekanan

    • 1. Tekanan diastole >

    berhubungan dengan

    dilakukan tindakan

    darah tiap 4 jam

    • 110 mmHg dan sistole

    kejang berulang

    keperawatan selama 3

    • 2. Kaji tingkat

    • 160 atau lebih

    x

    24 jam diharapkan

    kesadaran pasien

    merupkan indikasi

    masalah keperawatan

    • 3. Kaji adanya

    dari PIH

    dapat teratasi

    tanda-tanda

    • 2. Penurunan kesadaran

    • 3. Gejala tersebut

    Kriteria Hasil :

    eklampsia

    sebagai indikasi

    a. Kesadaran Compos

    (hiperaktif, reflek

    penurunan aliran

    Metis , GCS : 15 ( 4- 5-6 )

    patella dalam, penurunan nadi,

    darah otak

    b.

    Tanda tanda vital

    dan respirasi, nyeri

    • 4. Kolaborasi dengan

    merupakan

    ginjal, jantung dan

    dalam batas normal TD: 120/80 mmHg Suhu: 36 37 C

    epigastrium dan oliguria )

    tim medis dalam

    manifestasi dari perubahan pada otak,

    Nadi: 60 80 x/mnt RR: 16 20 x/menit

    pemberian anti hipertensi dan SM

    paru yang mendahului status kejang

    • 4. Anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah dan SM untuk mencegah terjadinya kejang

    Nyeri akut berhubungan

    Tujuan: Setelah

    keperawatan selama 3

    • 1. Kaji skala nyeri

    • 1. Setiap skala nyeri

    dengan agen cidera fisik

    dilakukan tindakan

    • 2. Ajarkan teknik relaksasi

    memiliki managemen yang berbeda

    x

    24 jam diharapkan

    • 3. Ajarkan teknik

    • 2. Relaksasi dapat

     

    masalah keperawatan

    nafas dalam

    mengalihkan persepsi

    dapat teratasi

    • 4. Berikan posisi yang

    nyeri

    Kriteria hasil :

    nyaman

    • 3. Tekhnik nafas dalam

    • 5. Kolaborasi

    dapat mengurangi rasa

    • a. Klien tidak

    • b. Skala nyeri 2 3 (

    pemberian

    nyeri

    meringis

    1 10 )

    analgetik

    • 4. Posisi yang nyaman dapat mengurangi sensasi nyeri

    • c. Pasien melaoporkan rasa nyeri hilang atau berkurang

    • 5. Terapi analgetik dapat membantu melokalisir nyeri

    Resiko infeksi berhubungan dengan

    Tujuan: Setelah dilakukan tindakan

    • 1. Monitor tanda tanda vital

    • 1. Mengetahui keadaan umum klien

    prosedur invasif

    keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan

    • 2. Kaji keadaan luka (kontinuitas dari

    • 2. Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi

    masalah keperawatan dapat teratasi

    kulit) terhadap adanya: edema,

    • 3. Meminimalkan terjadinya kontaminasi

    Kriteria Hasil :

    rubor, kalor, dolor,

    • 4. Leukosit yang

    • a. Menunjukkan

    dan mencapai

    fungsi laesa

    meningkat artinya

    regenerasi jaringan

    penyembuhan tepat waktu

    • 3. Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka

    sudah terjadi proses infeksi

    • 5. Obat antibiotik dapat membantu membunuh

    • b. Pada area luka

    • 4. Kolaborasi

    kuman

    tampak bersih dan

    pemeriksaan darah

    tidak kotor

    : leukosit

    • c. Luka tidak

    • 5. Kolaborasi

    menunjukkan tanda- tanda infeksi

    pemberian obat - obatan antibiotika sesuai indikasi

    • 4.1 Kesimpulan

    BAB IV

    PENUTUP

    Eklampsia adalah kelainan akut pada ibu hamil, saat hamil tua, persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang atau koma, dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala preeclampsia (hipertensi, edems, proteinuri). (Wirjoatmodjo, 2000: 49). Eklampsia di bagi menjadi 3 golongan : Eklampsia antepartum ialah eklampsia yang terjadi sebelum persalinan, kejadian 150 % sampai 60 %, serangan terjadi dalam keadaan hamil. Eklampsia intrapartum ialah eklampsia saat persalinan, Kejadian sekitar 30 % sampai 35 %, Saat sedang inpartu, Batas dengan eklampsia gravidarum sulit ditentukan dan Eklampsia postpartum ialah eklampsia setelah persalinan, Kejadian jarang, Terjadinya serangan kejang atau koma setelah persalinan berakhir

    • 4.2 Saran

    Dalam pembuatan asuhan keperawatan ini penulis telah menyelesaikan semaksimal mungkin dengan hasil sesuai yang ada di hadapan para pembaca yang budiman. Namun

    penulis sadar akan kata pepatah “Tiada Gading Yang Tak Retak” yang mana tidak ada

    manusia yang sempurna dan penulis menyadari akan hal itu. Sehingga penulis memohon maaf yang sebesar besarnya apabila terjadi kesalahan baik dalam penyusunan maupun penulisan serta isi yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, penulis mohon saran yang bersifat membangun sehingga dapat terjadi perbaikan dalam penyusunan asuhan keperawatan yang akan datang.

    DAFTAR PUSTAKA

    Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta: EGC Corwin Elizabeh.J.2009 Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 9 Alih bahasa Tim penerbit PSIK UNPAD, Jakarta: EGC Mansjoer, Arif dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedoteran Universitas Indonesia Carpenito,Lynda Juall, 2001, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi, Jakarta : EGC Price, Silvia A, 2006. Patofisiologi, volume 2, Jakarta: Buku kedokteran EGC.