Anda di halaman 1dari 3

A.

Judul Resensi
Hakekat Pendidikan dan Peradaban
B. Data Buku
- Judul buku : Sokola Rimba
- Pengarang : Butet Manurung
- Penerbit : Kompas
- Tahun terbit beserta cetakan : Terbit 2013, Cetakan Ketiga, November 2015
- Tebal buku : xxviii + 384 hlm
- ISBN : 978-979-709-996-1
C. Isi Resensi Buku (Sinopsis, Kelebihan, dan Kekurangan)
Kehidupan masyarakat yang masih tradisional sering mengalami dilema yang begitu
mendalam sebagai akibat dari perkembangan zaman yang ada. Keadaan inilah yang dialami
oleh orang Rimba. Bagi orang Rimba, kehidupan mereka di Rimba merupakan cara hidup
yang sangat mereka sukai. Hal ini dikarenakan apa yang mereka butuhkan semuanya telah
tersedia, sehingga tidak perlu ada interaksi dengan dunia luar. Namun, kondisi seperti ini
tidak bisa selamanya dipertahankan. Arus modernisasi yang terus merayu, mengganggu,
mengepung dahsyat dari segala penjuru rimba, berusaha menyerang Orang Rimba lahir dan
batin! Orang Rimba diperhadapkan dengan berbagai tantangan dari luar yang memaksa
mereka (baik suka maupun tidak suka) untuk bergabung dengan dunia luar tersebut. Mulai
dari pembalakan (logging), ladang, perambahan hasil hutan, program transmigrasi, pasar
dengan segala daya pikat, berbagai program LSM, misionaris dengan pendekatan
keagamaan mereka, hingga Negara melalui proyek-proyek departemennya seperti Program
Pemukiman Kembali Masyarakat (PMKT), dan sebagainya.

Kemajuan yang terjadi di luar sana tidak berbanding lurus dengan kemajuan Orang Rimba.
Jika ingin digambarkan dalam skala angka, di luar sana sudah maju pada angka 10,
sedangkan orang Rimba masih berada pada angka 3. Pernyataan seperti ini dilandasi oleh
kenyataan bahwa Orang Rimba belum tersentuh dunia pendidikan. Kerapkali, Orang Rimba
ditipu oleh orang terang (sebutan bagi orang luar yang tidak berasal dari Rimba) misalnya
dalam transaksi jual-beli. Orang Rimba belum tahu menulis, membaca, dan berhitung.
Jangankan itu mengerti angka, dan huruf saja belum. Melihat kondisi ini, Saur Marlina
Manurung atau yang sering disapa Butet ini mulai memperkenalkan dunia pendidikan
kepada Orang Rimba agar mereka menjadi siap untuk menghadapi perubahan yang akan
terus terjadi.

Dalam buku ini, diceritakan kisah perjalanan Butet dari awal interaksinya dengan Orang
Rimba yaitu sebagai fasilitator Pendidikan di Warsi1, hingga membuat sebuah lembaga yang
bernama SOKOLA2. Lebih lanjut juga diceritakan selama proses pengabdiannya, Butet
diperhadapkan dengan berbagai macam tantangan, seperti penolakan Orang Rimba atas

1
Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat konservasi di Jambi.
2
Dalam Bahasa Rimba artinya sekolah atau belajar. Sokola merupakan lembaga yang bergerak di bidang
pendidikan. Dibentuk oleh Butet bersama ke-empat rekannya yaitu Dodi Rokhdian, Aditya Indit Dipta
Anindita, Oceu Apristawijaya, dan Willy Marlupi.
kegiatannya karena takut akan dikutuk/membawa sial3, bagaimana merancang suatu
kurikulum pendidikan yang dapat diterima dengan mudah oleh Orang Rimba (kurangnya
pengetahuan yang memadai tentang pendidikan), kemudian bagaimana mengajak kaum
perempuan Rimba untuk terlibat menikmati pendidikan (karena faktor budaya). Bukan
hanya itu saja, Butet juga menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapinya tidak hanya
berasal dari kelompok Orang Rimba, tetapi juga berasal dari komunitasnya sendiri yaitu
Warsi. Hal ini bisa kita temukan dalam Bagian X. Pada bagian ini sangat lengkap diceritakan
refleksi Butet selama terlibat langsung mendorong pendidikan di Rimba yang tidak hanya
sebatas bisa baca-tulis, tapi lebih dari itu yaitu pengembangan kualitas pribadi orang-orang
Rimba. Dengan harapan bahwa Orang Rimba dapat memperjuangkan sendiri hak-haknya.

Keunggulan dari buku ini ialah bahasa yang digunakan sangat familiar dan mudah dipahami
oleh pembaca. Meskipun ada beberapa kalimat yang juga ditulis menggunakan bahasa
Rimba, tapi kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sehingga pembaca dapat
mengerti kalimat tersebut. Terlampir juga beberapa Daftar Kata dari bahasa Orang Rimba
pada bagian akhir buku yang membuat pembaca dapat menambah wawasannya mengenai
bahasa Orang Rimba.

Ada satu hal menarik lagi yang menurut saya menjadi keunggulan dari buku ini yaitu Butet
berhasil membuat pembaca membayangkan dan merasakan apa yang sedang terjadi ketika
suatu hal itu diceritakan. Sedih, senang, lucu semuanya diungkapkan dengan bahasa yang
santai dan pesannya dapat diserap dengan mudah oleh pembaca. Sungguh luar biasa.

Bagian yang paling saya suka ialah di bagian Epilog. Pada bagian tersebut Butet meringkas
perjalanan panjangnya bersama Orang Rimba dalam beberapa lembar halaman, dan catatan
reflektif hasil kunjungannya ke Rimba pada tahun 2012. Di ceritakan juga anak-anak / murid-
murid4 yang menjadi kader guru dalam meneruskan perjuangan Butet di bidang pendidikan.
Semuanya terangkum dengan rapih dan indah. Pemikiran dan kritik tentang konsep
pendidikan, peradaban serta harapan Butet atas orang Rimba juga di jelaskan secara
lengkap. Pada bagian itu juga secara tidak langsung membuat saya berada dalam
perenungan panjang mengenai makna pendidikan, peradaban, dan hakekat bagi seseorang
yang sangat cinta akan apa yang dia lakukan untuk kemajuan orang lain.

Sungguh, saya tidak bisa menemukan pilihan kata yang tepat untuk memberikan penilaian
atas buku ini, secara khusus perjuangan Butet (dan teman-temanya serta kader-kader guru
orang Rimba). Excellent! Marvellous! (Semoga kata-kata ini yang tepat paling tepat)

Sebagus apapun sesuatu di dunia ini, tentu memiliki kekurangan, karena kesempurnaan
hanya dimiliki oleh Tuhan Yang Maha Esa, sama halnya dengan buku Sokola Rimba ini. Ada
beberapa hal yang menjadi catatan untuk penyempurnaan buku ini. Seperti yang sudah saya
sebutkan diatas bahwa dalam buku ini dicantumkan istilah dalam bahasa Rimba yang perlu

3
Diawali dengan penolakan hingga akhirnya diterima oleh Orang Rimba yang sadar akan pentingnya
pendidikan.
4
Murid-murid angkatan pertama yang belajar baca-tulis 15 atau 16 tahun yang lalu, yaitu Mijak, Pengendum,
Penyuruk, Bekilat, Peniti Benang, Linca, dan Gentar.
dijelaskan secara detail. Buku ini memang telah menjelaskannya, tetapi penempatan
catatan-catatan tersebut berada di akhir buku, sedangkan kata-kata asing tersebut berada di
bagian depan ataupun tengah dari buku ini. Jika pembaca menemukan suatu istilah asing
dan ingin mengetahui maknanya, ia harus membuka bagian akhir buku ini dan kembali pada
halaman sebelumnya, begitu seterusnya. Hal ini dirasakan sangat menggangu, dan tidak
proporsional jika dicantumkan dibagian akhir buku. Sebaiknya catatan-catatan tersebut di
letakan pada bagian bawah setiap halaman yang ada istilah asing-asing tersebut, sehingga
fungsinya sama seperti catatan kaki, dan pembaca merasa nyaman dan enak untuk
membacanya.

Terlepas dari hal tersebut, pada prinsipnya, buku ini telah memenuhi hasrat saya sebagai
seorang pembaca yang haus akan pengetahuan, inspirasi dan motivasi.

D. Penutup Resensi (Kenapa buku ini ditulis dan kepada siapa buku ini ditujukan)
Buku ini sangat cocok untuk semua kalangan, khususnya oleh pubik pembaca buku generasi
muda yang selalu membutuhkan figure pahlawan, idola, dan panutan dalam menjalani
kehidupan dan menyongsong masa depan. Lewat buku ini, Butet memberi semua gizi batin
yang diperlukan setiap orang muda: idealisme, inspirasi, dan motivasi yang menumbuhkan
keberanian dan semangat melakukan petualangan yang positif. Tidak ada penyesalan bagi
siapapun yang membaca buku ini.