Anda di halaman 1dari 103

ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAN UJI PESTISIDA

NABATI HASIL ISOLASI DARI RIMPANG LENGKUAS


(Alpinia galanga) TERHADAP LALAT BUAH
(Bactrocera sp.)

SKRIPSI

YUNITA FLORENSIA SARAGIH


150822021

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAN UJI PESTISIDA
NABATI HASIL ISOLASI DARI RIMPANG LENGKUAS
(Alpinia galanga) TERHADAP LALAT BUAH
(Bactrocera sp.)

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

YUNITA FLORENSIA SARAGIH


150822021

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
PERSETUJUAN

Judul :iAnalisis Komponen Minyak Atsiri Dan


IUjiiiPestisida Nabati Hasil Isolasi Rimpang
Ilengkuas (Alpinia galanga) Terhadap Lalat Buah
I(Bactrocera sp.)
Kategori : Skripsi
Nama : Yunita Florensia Saragih
Nomor Induk Mahasiswa : 150822021
Program : Sarjana(S1) Kimia
Departemen : Kimia
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara

Disetujui di
Medan, Oktober 2017

Komisi Pembimbing
Pembimbing II Pembimbing I

Dr. Mimpin Ginting, M.S Drs. Darwis Surbakti, M.S

NIP. 195510131986011001 NIP.195307071983031001

Diketahui/ Disetujui oleh


Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua,

Dr. Cut Fatimah Zuhra, S.Si, M.Si


NIP. 197404051999032001
PERNYATAAN

ANALISISKOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAN UJI PESTISIDA


NABATI HASIL ISOLASI DARI RIMPANG LENGKUAS
(Alpinia galanga) TERHADAP LALAT BUAH
(Bactrocera sp.)

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, kecuali beberapa
kutipan dan ringkasan yang masing - masing disebutkan sumbernya.

Medan, Oktober 2017

YUNITA FLORENSIA SARAGIH


150822021
PENGHARGAAN

Segala puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus atas
karuniaNya yang selalu melimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Sarjana Sains di
Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU.
Adapun judul skripsi ini adalah Analisis Kandungan Minyak Atsiri Dan Uji
Pestisida Nabati Dari Lengkuas (Alpinia galanga) Terhadap Lalat Buah
(Bactrocera sp.). Penulis menyadari banyak mendapatkan dukungan, motivasi,
dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Kerista Sebayang, M.S selaku Dekan FMIPA USU.


2. Ibu Dr. Cut Fatimah Zuhra, M.Sidan Ibu Dr. Sovia Lenny, M.Si selaku
Ketua dan Sekretaris Departemen Kimia FMIPA USU.
3. Bapak Firman Sebayang, M.S selaku Koordinator Program S1 Kimia
Ekstensi.
4. Bapak Drs. Darwis Surbakti, M.S selaku dosen pembimbing I dan Bapak
Dr. Mimpin Ginting, M.S selaku dosen pembimbing II yang telah banyak
membimbing serta member masukan yang sangat bermanfaat sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Seluruh Staff Pegawai dan Dosen di Departemen Kimia FMIPA USU.
6. Adek-adek Asisten Laboratotium Kimia Organik FMIPA USU ( Lois,
Yeski, May, Bama, Deni, Siska, Mutiara, Epria) dan Ibu Pinde S.Si selaku
Kepala Laboratorium Hama Penyakit & Tanaman Fakultas Pertanian USU
yang telah banyak membantu penulis dalam melakukan penelitian.
7. Terkhusus Ayahanda London Saragih,SH dan Ibunda Candra Sembiring,
S.Kep, Ners, serta adik-adik penulis Aknesia, Dearman, dan Hendra, yang
telah banyak memberikan bantuan berupa doa, dukungan moril,dan materi
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat penulis Ricka, Desi, Wahyu, Santi, Ira, Frynando, Jodi dan yang
terkasih Agus Purba, serta teman-teman seperjuangan Kimia Ekstensi
2015 FMIPA USU yang selalu menyemangati saya dalam proses
penelitian dan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, karena masih
banyak terdapat kekurangan baik dari segi isi maupun penyusunan kata. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
untuk penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi kita semua.
ANALISIS KOMPONEN KIMIA MINYAK ATSIRI DAN UJI PESTISIDA
NABATI HASIL ISOLASI DARI RIMPANG LENGKUAS
(Alpinia galanga) TERHADAP LALAT BUAH
(Bactrocera sp.)

ABSTRAK

Minyak atsiri rimpang lengkuas (Alpinia galanga) yang diisolasi dengan metode
hidrodestilasi menggunakan alat Stahl. Rimpang lengkuas didestilasi selama 4-5
jam menghasilkan minyak atsiri sebanyak 0,43 % (b/b). Komponen kimia minyak
atsiri rimpang lengkuas yang dianalisa menggunakan GC-MS terdiri dari 21
senyawa dimana diantaranya sebanyak 9 senyawa yang dapat diidentifikasi, yaitu:
1,8-Sineol (52,11%), 4-Allyphenil Asetat (13,13%), Eugenyl Asetat (8,79%),
1,6,10-Dodecatriene,7,11-dimethyl-3-methyleneoo(4,67%),oo-Pinenoo(4,01), 1-
Terpinen-4-ol (3,37%), Geranyl Asetat (3,27%), Metil Eugenol (2,82%), Farnesyl
Asetat (1,63%). Uji pestisida nabati dari minyak atsiri rimpang lengkuas
menunjukkan mortalitas Bactrocera sp. Tertinggi sebesar 96,7% pada konsetrasi
minyak atsiri 3%.

Kata Kunci : Rimpang Lengkuas, Ektraksi, Minyak Atsiri, Pestisida


CHEMICAL COMPONENTS ANALYSIS OF ESSENSIAL OILS
AND NATURAL PESTICIDE FROM ISOLATION OF
Alpinia galanga RHIZOME TO Bactrocera sp. FLIES

ABSTRACT

Essential oil of galangal rhizome (Alpinia galanga) have been isolated with
hydrodestilation method use Stahl apparatus. The galangal rhizome have
hydrodestilation for 4-5 hours resulting essensial oil amount 0.43% (w / w) of
essential oils. Chemical components of essential oil of galangal rhizomes have
been analyzed use GC-MS shown 21 compounds: 1.8-Cineol (52.11%), 4-
Allyphenyl Acetate (13.13%), Eugenyl Acetate (8.79%), 1,6,10-
Dodecatriene,7,11-dimethyl-3-methylene(4.67%), -Pinen (4.01), 1-Terpinen-4-
ol(3.37%), Geranyl Acetate (3.27%), Methyl Eugenol (2.82%), Farnesyl Acetate
(1.63%). Natural pesticide activity test of essential oil of galangal rhizome
showed mortality of Bactrocera sp.highest of 96.7% at 3% essential oil
concentration.

Keywords : Alpinia galanga rhizome, Extrack, Essential oil, Pesticide


DAFTAR ISI

Halaman
Persetujuan ii
Pernyataan iii
Penghargaan iv
Abstrak v
Abstract vi
Daftar isi vii
Daftar tabel ix
Daftar gambar x
Daftar lampiran xi

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1


1.2. Permasalahan 2
1.3. Pembatasan Masalah 3
1.4. Tujuan Penelitian 3
1.5. Manfaat Penelitian 3
1.6. Lokasi Penelitian 3
1.7. Metodologi Percobaan 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Lengkuas (Alpinia galanga) 4


2.2. Habitat dan Persebaran 5
2.3. Deskripsi Tumbuhan 5
2.3.1. Kandungan Kimia Lengkuas 6
2.3.2. Manfaat Lengkuas 6
2.4. Lalat Buah 7
2.5. Minyak Atsiri 8
2.5.1. Kegunaan Minyak Atsiri 8
2.5.2. Isolasi Minyak Atsiri dengan Destilasi 9
2.5.3. Komponen Kimia Minyak Atsiri 10
2.5.4. Biosintesa Pembentukan Minyak Atsiri 11
2.6. Analisa Kromatografi Gas 15
2.7. Analisa Spektrometri Massa 16
2.8. Metode Pengendalian Hama Serangga 17
2.9. Pestisida Nabati 19
2.8.1. Penggolongan Pestisida 19

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1. Alat 25
3.2. Bahan 26
3.3. Prosedur Penelitian 26
3.3.1. Penyediaan Sampel 26
3.3.2. Isolasi Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Dengan Alat 26
Destilasi
3.3.3. Analisa Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Dengan GC- 27
MS
3.3.4. Pengujian Pestisida 28
3.3.4.1. Pembuatan Larutan Pestisida Nabati Dari 29
Minyak Atsiri Lengkuas
3.3.4.2. Perbanyakan Serangga Uji (Rearing) 28
3.3.4.3. Aplikasi Pestisida Terhadap Lalat Buah 29
(Bactrocera sp.)
3.4. Bagan Penelitian 30
3.4.1. Isolasi Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Dengan Stahl 30
3.4.2. Analisis Minyak Atsiri Dengan GC-MS 30
3.4.3. Uji Pestisida Nabati Rimpang Lengkuas (Alpinia 31
galanga)
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian 32


4.1.1. Penentuan Kadar Minyak Atsiri 32
4.1.2. Hasil Analisis GC-MS 33
4.1.3. Mortalitas Harian Lalat Buah (Bactrocera sp.) 36
4.1.4. Mortalitas Total Lalat Buah ( Bactrocera sp.) 38
4.2. Pembahasan 39
4.2.1. Minyak Atsiri dari Hasil Destilasi dengan Alat Stahl 39
4.2.2. Analisis Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas 39
4.2.3. Uji Pestisida Nabati Hasil Isolasi Rimpang Lengkuas 57
( Alpinia galanga)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 58
5.2 Saran 58

DAFTAR PUSTAKA 59
LAMPIRAN 64
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman


Tabel

4.1 Hasil Hidrodestilasi Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas 32


4.2. Senyawa Hasil Analisis GC-MS Minyak Atsiri Rimpang 34
Lengkuas
4.3. Hasil Analisa GC-MS Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas 35
yang dapat Diinterpretasi sebanyak 10 buah senyawa
berdasarkan Standart Library Willey dan NIST (>1%)
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


Gambar

2.1 Rimpang Alpinia galanga 4


2.2 Lalat Buah 7
2.3 Biosintesa Terpenoid 11
2.4 Perubahan Senyawa Monoterpen 12
2.5 Reaksi Biogenik Beberapa Seskuiterpen 13
4.1 Kromatogram Hasil Analisa GC Minyak Atsiri 33
Rimpang Lengkuas
4.2 Grafik mortalitas harian Bactrocera sp. 36
4.3 Grafik mortalitas total Bactrocera sp. 38
4.2 Spektrum Massa -Pinen 39
4.3 Pola fragmentasi senyawa -Pinen 40
4.4 Spektrum Massa 1,8- Sineol 41
4.5 Pola Fragmentasi Senyawa 1,8 Sineol 42
4.6 Spektrum Massa 1-Terpinen-4-ol 43
4.7 Pola Fragmentasi Senyawa 1-Terpinen-4-ol 44
4.8 Spektrum Massa 4-Allyphenyl Asetat 45
4.9 Pola Fragmentasi Senyawa 4-Allyphenyl Asetat 46
4.10 Spektrum Massa Geranyl Asetat 47
4.11 Pola Fragmentasi Senyawa Geranyl Asetat 48
4.12 Spektrum Massa Metil Eugenol 49
4.13 Pola Fragmentasi Senyawa Metil Eugenol 50
4.14 Spektrum Massa 1,6,10-Dodecatriene,7,11-dimethyl-3- 51
methylene
4.15 Pola Fragmentasi Senyawa 1,6,10-Dodecatriene,7,11- 52
dimethyl-3-methylene
4.16 Spektrum Massa Eugenyl Asetat 53
4.17 Pola Fragmentasi Senyawa Eugenyl Asetat 54
4.18 Spektrum Massa Farnesyl Asetat 55
4.19 Pola Fragmentasi Farnesyl Asetat 56
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


Lampiran

1. Perhitungan Konsentrasi Minyak Atsiri 65


2. Mortalitas Bactrocera sp. 65
3. Dokumentasi Penelitian 70
4. Spektrum GC-MS senyawa -Pinen 71
5. Spektrum GC-MS senyawa -Pinen 72
6. Spektrum GC-MS senyawa - Myrcene 73
7. Spektrum GC-MS senyawa 1,8- Sineol 74
8. Spektrum GC-MS senyawa - Terpinen 75
9. Spektrum GC-MS senyawa 1-Terpinen-4-ol 76
10. Spektrum GC-MS senyawa Bornyl Asetat 77
11. Spektrum GC-MS senyawa Trans- Carvyl Asetat 78
12. Spektrum GC-MS senyawa 4- Allyphenil Asetat 79
13. Spektrum GC-MS senyawa Geranyl Asetat 70
14. Spektrum GC-MS senyawa Metil Eugenol 81
15. Spektrum GC-MS senyawa Caryophyllen 82
16. Spektrum GC-MS senyawa - Bergamotene 83
17. Spektrum GC-MS senyawa 1,6,10-Dodecatriene,7,11- 84
dimethyl-3-methylene
18. Spektrum GC-MS senyawa - Selinen 85
19. Spektrum GC-MS senyawa Pentadecane 86
20. Spektrum GC-MS senyawa -Bisabolen 87
21. Spektrum GC-MS senyawa Eugenil Asetat 88
22. Spektrum GC-MS senyawa Benzeneacetic Acid 89
23. Spektrum GC-MS senyawa Xexadecane 90
24. Spektrum GC-MS senyawa Farnesyl Asetat 91
1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Untuk meningkatkan hasil pertanian, tentunya dapat dilakukan dengan perawatan


pada tanaman seperti memberikan pupuk untuk menyuburkan tanaman dan
pestisida sebagai pengendali hama (Novalia, 2005). Akhir-akhir ini banyak kasus
yang menunjukkan bahwa penggunaan pestisida sintetis semakin tidak efektif dan
bahkan dapat dikatakan gagal. Hal ini terbukti dari semakin banyaknya muncul
hama yang resisten terhadap pestisida dan terjadi resurjensi, baik pada serangga
hama atau penyakit, bahkan gulma, karena tidak adanya musuh alami
(Geogorpoulos, 1982 ).

Melihat kerugian yang ditimbulkan oleh penggunaan pestisida sintetis


tersebut maka akhir-akhir ini para petani maupun peneliti mulai meneliti
penggunaan pestisida nabati atau kembali ke alam. Pestisida alam sering juga
dikatakan "pestisida ramah lingkungan". Pestisida nabati adalah senyawa kimia
berasal dari tumbuhan yang digunakan untuk memberantas organisme
pengganggu (Sudrajat, 1999).

Tumbuhan yang diketahui mempunyai potensi besar untuk dikembangkan


sebagai pengendali serangga hama adalah dari kelompok Meliaceae,
Rutaceae, Asteraceae, Anonaceae, Labiatae, Aristolochiaceae, Malvaceae,
Zingiberaceae, dan Solanaceae (Dadang, 1999).

Menurut Gerrits dan Latum (1988) pestisida alam tidak terbatas, hanya
substansi yang berasal dari tumbuhan tetapi dapat berasal dari binatang dan
mikroorganisme. Pestisida botani di alam banyak jenisnya terutama di daerah
tropika yang sangat kaya dengan tumbuhan. Pestisida botani yang sudah diketahui
dan diteliti khasiatnya antara lain piretrum (Chrysantemum cinaeriraefollum),
tuba (Denis elliptica), daun serta biji nimba (Azadirachta indica), biji sirsak
2

(Annona muricata), rimpang lengkuas (Alpinia galanga) dan jenis


tumbuhan lainnya.

Lengkuas/laos (Alpinia galanga) merupakan tanaman yang mudah


dibudidayakan dan mengandung minyak atsiri yakni komponennya adalah metil
sinamat, sineol, kamfer, eugenol, dan galangin, yang cara kerjanya sebagai
bioktoksin terhadap serangga (Hastuti, 2006).

Hasil penelitian Oka dan Fanny (2008), menunjukkan bahwa minyak atsiri
lengkuas (Alpinia galanga) mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus
pada konsentrasi 1000 ppm sebesar 7 mm. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa
minyak atsiri rimpang lengkuas didominasi oleh 8 senyawa : D-limonen;
Eukaliptol; 3-sikloheksen-1-ol, 4-metil-1-(1-metietil); Fenol, 4-(2-profenil)-asetat;
2,6-oktadien-1-ol,3,7-dimetilasetat;oo1,6,10-dodekatrien,7,11-dimetil-3-metilen;
Pentadesen;oosikloheksen,1-metil-4-(5-metil-1-metilen-4-heksenil).O
Hasil penelitian Lely (2017), pada lengkuas merah (Alpinia purpurata K.
Schum) dari hasil analisis GC-MS terdeteksi 21 senyawa dalam minyak atsiri
rimpang lengkuas merah dimana senyawa terbesarnya yaitu eukaliptol (46,73%),
-pinen (9,04%), 4-allylphenyl asetat (7,86%), dan caryophyllene (3,85%).

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan analisis


komponen minyak atisiri dan uji pestisida nabati hasil isolasi dari rimpang
lengkuas (Alpinia galanga) terhadap lalat buah (Bactrocera sp.). Isolasi minyak
atsiri dilakukan dengan menggunakan metode destilasi air (hidrodestilasi) dan
aplikasinya sebagai pestisida nabati terhadap lalat buah (Bactrocera sp.).

1.2. Perumusan Masalah


1. Komponen senyawa kimia utama apakah yang terkandung dalam minyak
atsiri rimpang lengkuas (Alpinia galanga) hasil hidrodestilasi yang dianalisis
dengan GC-MS ?
2. Bagaimanakah potensi minyak atsiri rimpang lengkuas sebagai pestisida
nabati terhadap lalat buah (Bactrocera sp.) ?
3

1.3. Pembatasan Masalah


1. Rimpang lengkuas diperoleh dari Pasar Pagi, Medan
2. Minyak lengkuas diperoleh dengan metode hidrodestilasi menggunakan alat
Stahl

1.4 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui komponen senyawa kimia utama yang terkandung dalam
minyak atsiri rimpang lengkuas (Alpinia galanga) hasil hidrodestilasi yang
dianalisis dengan GC-MS.
2. Untuk mengetahui potensi minyak atsiri rimpang lengkuas sebagai pestisida
nabati terhadap lalat buah (Bactrocera sp).

1.5. Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi di bidang kimia organik
mengenai komponen kimia yang terdapat dalam minyak atsiri dan potensi minyak
atsiri rimpang lengkuas sebagai pestisida nabati.

1.6. Lokasi Penelitian


Penyulingan minyak atsiri rimpang lengkuas dilakukan di Laboratorium Kimia
Organik FMIPA USU, untuk analisa spektrofotometer GC-MS dilakukan di
Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM, uji potensi pestisida nabati dilakukan
di Laboratorium Hama & Penyakit Tumbuhan (HPT) Fakultas Pertanian USU.

1.7. Metodologi Penelitian


Penelitian ini dilakukan secara eksperimen laboratorium dan sebagai objek
penelitian adalah rimpang lengkuas yang diperoleh dari Pasar Pagi, Medan.
Rimpang lengkuas segar dipotong-potong kecil-kecil dan ditimbang, kemudian
dimasukkan kedalam labu Stahl. Minyak atsiri yang masih bergabung dengan air
dijenuhkan dengan NaCl, lalu dimasukkan kedalam corong pisah, ditambahkan
dietil eter, didiamkan hingga diperoleh dua lapisan. Lapisan atas ditambahkan
Na2S04 anhidrous, lalu didekantasi. Minyak atsiri yang diperoleh dianalisa dengan
spektrofotometer GC-MS untuk mengetahui komponen kimianya, serta uji potensi
minyak atsiri sebagai pestisida nabati dengan metode perbandingan konsentrasi.
4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Lengkuas (Alpinia galanga)

Lengkuas atau laos (Alpinia galanga) merupakan jenis tumbuhan umbi-umbian


yang bisa hidup di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Tanaman ini
memiliki nama ilmiah Alpinia galangal (L) Sw. atau Lenguas galangal (L) Stuntz,
atau Alpinia pyramidata (B1) K. Schum. Adapun nama daerahnya adalah
langkueh, lengkues, lengkueh, lingkuas, engkuas, ringkuas, lingkoas, lincuas,
langkuasa, dan hingkuase (Yudotomo, 2002).

Gambar 2.1. Rimpang Alpinia galanga

Adapun klasifikasi tanaman lengkuas adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Alpinia

Species : Alpinia galanga


5

2.2. Habitat dan Persebaran

Lengkuas tumbuh di tempat terbuka, yang mendapat sinar matahari penuh atau
yang sedikit terlindung. Lengkuas menyukai tanah yang lembab dan gembur,
tetapi tidak suka tanah yang becek. Tumbuh subur di daerah dataran rendah
sampai 1200 meter di atas permukaan laut (Sinaga, 2009).

Di Indonesia banyak ditemukan tumbuh liar di hutan jati atau di dalam


semak belukar. Tumbuhan ini berasal dari Asia tropika tetapi tidak begitu jelas
dari daerah mana. Ada yang menduga berasal dari Cina, ada juga yang
berpendapat berasal dari Bengali. Tetapi sudah sejak lama digunakan secara luas
di Cina dan Indonesia terutama di pulau Jawa. Sekarang tersebar luas di berbagai
daerah di Asia tropis, antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Cina bagian
selatan, Hongkong, India, Bangladesh, dan Suriname. Di Indonesia, mula-mula
banyak ditemukan tumbuh di daerah Jawa Tengah, tetapi sekarang sudah di budi-
dayakan di berbagai daerah. Di Malaya, selain yang tumbuh liar juga banyak yang
ditanam oleh penduduk di kebun atau pekarangan rumah (Deria, 2011).

2.3. Deskripsi Tumbuhan

Di Indonesia, terutama pulau Jawa, dikenal dua jenis lengkuas, yakni lengkuas
yang kulit luar rimpangnya berwarna putih dan kulit luar rimpangnya berwarna
kemerahan. Lengkuas berkulit merah biasanya memiliki serat yang lebih kasar,
sementara yang putih lebih halus. Namun, keduanya berbau aromatis (Muhlisah,
1999).

Batangnya tegak, tersusun oleh pelepah-pelepah daun yang bersatu


membentuk batang semu, berwarna hijau agak keputih- putihan. Batang muda
keluar sebagai tunas dari pangkal batang tua. Daun tunggal, berwarna hijau,
bertangkai pendek, tersusun berseling. Daun di sebelah bawah dan atas biasanya
lebih kecil dari pada yang di tengah. Bentuk daun lanset memanjang, ujung
runcing, pangkal tumpul, dengan tepi daun rata. Pertulangan daun menyirip.
Panjang daun sekitar 20 - 60 cm, dan lebarnya 4 - 15 cm. Pelepah daun lebih
kurang 15 - 30 cm, beralur, warnanya hijau. Bunga lengkuas merupakan bunga
majemuk berbentuk lonceng, berbau harum, berwarna putih kehijauan atau putih
6

kekuningan, terdapat dalam tandan bergagang panjang dan ramping, yang terletak
tegak di ujung batang. Bunga agak berbau harum. Buahnya buah buni, berbentuk
bulat, keras. Sewaktu masih muda berwarna hijau-kuning, setelah tua berubah
menjadi hitam kecoklatan, berdiameter lebih kurang 1 cm. Rimpang kecil dan
tebal, berdaging, berbentuk silindris, diameter sekitar 2-4 cm, dan bercabang-
cabang. Bagian luar berwarna coklat agak kemerahan atau kuning kehijauan
pucat, mempunyai sisik-sisikberwarna putih atau kemerahan, keras mengkilap,
sedangkan bagian dalamnya berwarna putih. Daging rimpang yang sudah tua
berserat kasar. Apabila dikeringkan, rimpang berubah menjadi agak kehijauan,
dan seratnya menjadi keras dan liat. Untuk mendapatkan rimpang yang masih
berserat halus, panen harus dilakukan sebelum tanaman berumur lebih kurang 3
bulan. Rasanya tajam pedas, menggigit, dan berbau harum karena kandungan
minyak atsirinya (Sinaga, 2009).

2.3.1. Kandungan Kimia Lengkuas

Lengkuas merupakan tanaman obat yang memiliki banyak manfaat, kandungan


minyak atsiri terdiri dari metil-sinamat, sineol, eugenol, kamfer, seskuiterpen, -
pinen, galangin, dan lain-lain (Sinaga, 2009).

2.3.2. Manfaat Lengkuas

Rimpangnya sering digunakan untuk mengatasi gangguan lambung, misalnya


kolik dan untuk mengeluarkan angin dari perut (stomachikum), menambah nafsu
makan, menetralkan keracunan makanan, menghilangkan rasa sakit
(analgetikum), melancarkan buang air kecil (diuretikum), mengatasi gangguan
ginjal, dan mengobati penyakit herpes. Juga digunakan untuk mengobati diare,
disentri, demam, kejang karena demam, sakit tenggorokan, sariawan, batuk
berdahak, radang paru-paru, pembesaran limpa, dan untuk menghilangkan bau
mulut. Disamping itu rimpang lengkuas juga dianggap memiliki khasiat sebagai
anti tumor atau anti kanker terutama tumor di bagian mulut dan lambung, dan
kadang-kadang digunakan juga sebagai afrodisiaka (peningkat libido). Minyak
lengkuas (Oleum galanga) sering ditambahkan sebagai aroma dalam pembuatan
minuman keras dan bir. Oleum galanga juga bersifat insektisida (Sinaga, 2009).
7

2.4. Lalat Buah

Lalat buah (Bactrocera sp.) merupakan spesies lalat buah yang paling melimpah
di Bogor, Depok dan Jakarta selain B . papayae. Lalat buah ini selalu ada dan
melimpah karena keberadaan tanaman inangnya. Selain menyerang jambu biji,
lalat buah ini menyerang berbagai macam buah-buahan antara lain belimbing,
kluwih, cabai, nangka, jambu bol, tomat, mangga, pepaya (Siwi et al., 2006).

2.2. Lalat Buah

Menurut Deptan (2002), lalat buah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Kelas : Insecta

Ordo : Diptera

Famili : Tephritidae

Genus : Batrocera

Spesies : Batrocera sp.

Lalat buah dengan nama ilmiah Bractrocera sp. tergolong dalam ordo Diptera dan
famili Tephritidae. Famili ini beranggotakan lalat-lalat yang berukuran kecil
sampai sedang yang biasanya mempunyai bintik-bintik atau pita (band) pada
sayap-sayapnya. Bintik-bintik tersebut sering kali membentuk pola menarik dan
rumit. Pada kebanyakan jenis lalat buah sel anal pada sayapnya memiliki juluran
8

distal yang lancip di bagian posterior. Lalat buah melewati 4 stadium


metamorfosis yaitu telur, larva, pupa, dan imago (Borror et al., 1996)

2.5. Minyak Atsiri

Minyak atsiri adalah salah satu kandungan tanaman yang sering disebut minyak
terbang. Minyak atsiri dinamakan demikian karena minyak tersebut mudah
menguap. Selain itu, minyak atsiri juga disebut essential oil (dari kata essence)
karena minyak tersebut memberikan bau pada tanaman (Koensoemardiyah, 2010).

Minyak atsiri dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama


adalah minyak atsiri yang mudah dipisahkan menjadi komponen-komponen atau
penyusun murninya. Komponen-komponen ini dapat menjadi bahan dasar untuk
diproses menjadi produk-produk lain. Contohnya adalah minyak daun mint,
minyak sereh, dan minyak daun cengkeh. Komponen utama tersebut biasanya
dipisahkan atau diisolasi dengan penyulingan bertingkat atau dengan proses kimia
yang sederhana. Kelompok kedua, merupakan minyak atsiri yang sulit dipisahkan
menjadi komponen murninya. Contohnya adalah minyak akar wangi, minyak
nilam dan minyak kenanga (Sastrohamidjojo, 2004).
2.5.1. Kegunaan Minyak Atsiri

Peranan paling utama dari minyak atsiri pada tumbuhan itu sendiri adalah sebagai
pengusir serangga (mencegah daun dan bunga rusak) serta sebagai pengusir
hewan-hewan pemakan daun lainnya (herbivora), bersifat antimikroba dan
menarik serangga untuk membantu penyerbukan bunga (Gunawan dan Mulyadi,
2004).

Minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri,


misalnya industri parfum, kosmetika, obat-obatan dan sebagai bahan penyedap
(flavoring agent) dalam industri makanan dan minuman (Guenther, 1987).

Pada konsentrasi tinggi, minyak atsiri dapat digunakan sebagai anastetik


lokal, misalnya minyak cengkeh yang digunakan untuk mengatasi sakit gigi, tetapi
dapat merusak selaput lender. Beberapa minyak atsiri juga digunakan sebagai
pelancar haid (emenagogue) seperti minyak atsiri dari kayu manis (Cinnamomum
9

burmanii), pala (Myrictica fragrans). Kebanyakan minyak atsiri juga bersifat


antibakteri dan antijamur yang kuat. Minyak daun sirih (Piper betle) adalah salah
satu minyak atsiri yang bersifat sebagai antibakteri. Minyak ini dapat
menghambat pertubuhan beberapa jenis bakteri pathogen seperti Escherichia coli,
Salmonella sp., Staphlococcus aureus, Klebsiella dan Pasteurella (Agusta, 2000).

Disamping bersifat antibakteri, minyak atsiri juga memiliki sifat


antioksidan seperti minyak atsiri daun tahi ayam (Tagetes erecta L) yang aktif
terhadap bakteri Basilus subtilis, Escherichia coli dan Salmonell sp. juga memiliki
aktivitas antioksidan dimana pada minyak atsiri tersebut ditemukan adanya
senyawa golongan fenol (Ginting, dkk, 2016).

2.5.2. Isolasi Minyak Atsiri dengan Destilasi

Destilasi merupakan metode yang paling berfungsi untuk memisahkan dua zat
yang berbeda, tetapi tergantung beberapa faktor, termasuk juga perbedaan tekanan
uap air (berkaitan dengan perbedaan titik didihnya) dari komponen-komponen
tersebut. Destilasi melepaskan uap air pada sebuah zat yng tercampur yang kaya
dengan komponen yang mudah menguap daripada zat tersebut (Pasto,1992).

Dalam pengertian industri minyak atsiri dibedakan tiga tipe destilasi, yaitu:
1.iPenyulinganOAirjsauidhauhauisiuafhaiudiaudhiadiidudihuidahaidu
Pada metode ini, bahan tanaman yang akan disuling mengalami kontak langsung
dengan air mendidih. Bahan dapat mengapung di atas air atau terendam secara
sempurna, tergantung pada berat jenis dan jumlah bahan dan air mendidih
(Lutony, 1994).

2.iPenyulinganOUapOdanOAirkosijiosadjcuioadhfduaifhiduafhiauhfi
Bahan tanaman yang akan diproses secara penyulingan uap dan air ditempatkan
dalam suatu tempat yang bagian bawah dan tengah berlubang-lubang yang akan
ditopang di atas. Bahan tanaman yang akan disuling hanya terkena uap dan tidak
terkena air yang mendidih (Sastrohamidjojo, 2004).
10

3. Penyulingan Uap
Penyulingan uap disebut juga penyulingan tak langsung. Didalam proses
penyulingan dengan uap ini, uap dialirkan melalui pipa uap berlingkar yang
berpori dan berada di bawah bahan tanaman yang akan disuling. Kemudian uap
akan bergerak menuju ke bagian atas melalui bahan yang disimpan di atas
saringan (Lutony, 1994).

2.5.3. Komponen Kimia Minyak Atsiri

Minyak atsiri biasanya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang
terbentuk dari unsur karbon (C), Hidrogen (H), dan oksigen (O). Pada umumnya
komponen kimia minyak atsiri dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1. Golongan hidrokarbon yang terdiri dari persenyawaan Terpen
Persenyawaan yang termasuk golongan ini terbentuk dari unsur karbon (C),
dan hidrogen (H). Jenis Hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri
sebagian besar terdiri dari monoterpen (2 unit isopren), dan politerpen.
2. Golongan hidrokarbon teroksigenasi
Komponen kimia dari golongan ini terbentuk dari unsur Karbon (C), Hidrogen
(H), dan Oksigen (O). Persenyawaan yang termasuk dari golongan ini adalah
persenyawaan alkohol, aldehid, ester, fenol. Ikatan karbon yang terdapat
dalam molekulnya dapat terdiri dari ikatan tunggal, dan ikatan rangkap dua
dan ikatan rangkap tiga. Terpen mengandung ikatan tunggal dan ikatan
rangkap dua. Senyawa terpen memiliki aroma kurang wangi, sukar larut dalam
alkohol encer dan jika disimpan dalam waktu lama akan terbentuk resin.
Golongan hidrokarbon teroksigenasi merupakan senyawa yang penting dalam
minyak atsiri karena umumnya aroma yang lebih wangi. Fraksi terpen perlu
dipisahkan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk pembuatan parfum,
sehingga didapatkan minyak atsiri yang bebas terpen (Ketaren, 1985).
11

2.5.4. Biosintesa Pembentukan Minyak Atsiri


Berdasarkan proses biosintesinya atau pembentukan komponen minyak atsiri di
dalam tumbuhan, minyak atsiri dapat dibedakan menjadi dua golongan: golongan
pertama adalah turunan terpena yang terbentuk dari asam asetat melalui jalur
biosintesis asam mevalonat. Golongan kedua adalah senyawa aromatik yang
terbentuk dari biosintesis asam siklamat melalui jalur fenil propanoid (Agusta,
2000).
Senyawa yang dihasilkan ini dengan asetil koenzim A melakukan
kondensasi jenis aldol menghasilkan rantai karbon bercabang sebagaimana
ditemukan pada asam mevalonat. Reaksi-reaksi berikutnya ialah fosforilasi,
eliminasi asam fosfat dan dekarboksolasi menghasilkan IPP (Isopentenil
Pirofosfat) yang selanjutnya berisomerisasi menjadi DMAPP (Dimetil Pirofosfat)
oleh enzim isomerase. IPP sebagai unit merupakan langkah pertama dari
polimerisasi isoterpen untuk menghasilkan terpenoid. Penggabungan ini terjadi
karena serangan elekron diikuti oleh penyingkiran ion pirofosfat. Serangan ini
menghasilkan Geranil Pirofosfat (GPP) yakni senyawa antara bagi semua
senyawa monoterpen. Penggabungan selanjutnya antara satu unit IPP dan GPP,
dengan mekanisme yang sama seperti antara IPP dan DMAPP menghasilkan
Farnesil Pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawa antara bagi semua senyawa
seskuiterpen.
Senyawa-senyawa diterpen dari Geranil-geranil Pirofosfat (GGPP) yang
berasal dari kondensasi antara satu unit IPP dan FPP dengan mekanisme yang
sama. Sintesa terpenoid sangat sederhana sifatnya. Ditinjau dari segi teori reaksi
organik sintesa ini hanya menggunakan beberapa jenis reaksi dasar. Reaksi-reaksi
selanjutnya dari senyawa antara GPP, FPP, GGPP untuk menghasilkan senyawa-
senyawa terpenoid satu per satu hanya melibatkan beberapa jenis reaksi sekunder.
Reaksi-reaksi sekunder ini lazimnya adalah hidrolisa, siklisasi, oksidasi, reduksi,
dan reaksi-reaksi spontan yang dapat berlangsung dengan mudah dalam suasana
netral dan pada suhu kamar, seperti isomerisasi, dehidrasi, dekarbosilasi dan
sebagainya. Berikut ini adalah gambar biosintesa terpenoid yang dapat dilihat
pada Gambar 2.3
12

Gambar 2.3. Biosintesa Terpenoid (Achmad, 1985)

Untuk menjelaskan dapat diambil beberapa contoh monoterpen. Dari segi


biogenetik, perubahan geraniol, nerol dan linalool dari yang satu menjadi yang
lain berlangsung sebagai akibat reaksi isomerisasi. Ketiga alkohol ini, yang
13

berasal dari hidrolisa geranil pirofosfat (GPP) dapat menjalanireaksi-reaksi


sekunder berikut, misalnya dehidrasi menghasilkan mirsena, oksidasi menjadi
sitral dan oksidasi reduksi menghasilkan sitronelal. Berikut ini adalah contoh
perubahan senyawa monoterpen, dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4 Perubahan Senyawa Monoterpen (Achmad, 1985)

Senyawa-senyawa seskuiterpen diturunkan dari cis-farnesil pirofosfat dan


trans-farnesil pirofosfat melalui reaksi siklisasi dan reaksi sekunder lainnya.
Kedua isomer farnesil pirofosfat ini dihasilkan in vivo melalui mekanisme yang
sama seperti isomerisasi antara geraniol dan nerol. Perubahan farnesil pirofosfat
menjadi seskuiterpen terlihat pada Gambar 2.5.
14

Gambar 2.5 Reaksi Biogenik Beberapa Seskuiterpen (Achmad, 1985)


15

2.6. Analisa Kromatografi Gas

Kromatografi gas digunakan untuk memisahkan komponen campuran kimia


dalam suatu bahan berdasarkan perbedaan polaritas campuran. Fase gerak akan
membawa campuran sampel menuju kolom. Campuran dalam fase gerak akan
berinteraksi dengan kecepatan yang berbeda dimana interaksi komponen dengan
fase diam dengan waktu yang paling akhir (Eaton, 1989). Pemisahan tercapai
dengan partisi sampel antara fase gas bergerak dan fase diam berupa cairan
dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat padat
penunjangnya (Khopkar, 2003).

KomponenoutamaodalamoKromatografioGas:dssdsdsfdsfsdfdsfsdfdsfsdf
1.Gas pembawa

Pemilihan gas pembawa sampai taraf tertentu bergantung pada detektor


yangdipakai hantar hambang, ionisasi nyala, tangkap elektron, atau khas terhadap
unsur. Nitrogen, Helium, Argon, Hidrogen, dan Karbon dioksida adalah gas yang
paling sering dipakai sebagai gas pembawa karena mereka tidak reaktif serta dapat
dibeli dalam keadaan murni dan kering dalam kemasan tangki bervolume besar
dan bertekanan tinggi. Hal yang menentukan ialah bahwa kita harus memakai gas
paling murni (Gritter, 1991)

2. Sistem Injeksi

Lubang injeksi didesain untuk memasukkan sampel secara cepat dan efesien. Pada
dasarnya, ada 4 jenis injektor pada kromatografi gas, yaitu:

a. Injeksi langsung (direct injection), yang mana sampel yang diinjeksikan akan
diuapkan dalam injektor yang panas dan 100% masuk menju kolom.

b. Injeksi terpecah (split injection), yang mana sampel yang diinjeksikan diuapkan
dalam injektor yang panas dan selanjutnya dilakukan pemecahan.

c. Injeksi tanpa pemecahan (splitness injection), yang mana hampir semua


sampel diuapkan dalam injektor yang panas dan dibawa ke dalam kolom
karena katup pemecah ditutup.
16

d. Injeksi langsung ke kolom (on coloum injection), yang mana ujung semprit
dimasukkan langsung ke dalam kolom.

Teknik injeksi langsung ke dalam kolom digunakan untuk senyawa-senyawa yang


mudah menguap, karena kalau penyuntikkannya melalui lubang suntik,
dikwatirkan akan terjadi peruraian senyawa tersebut karena suhu yang tinggi
(Rohman, 2009).

3. Kolom

Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahaan karena didalamnya


terdapat fase diam. Oleh karena itu, kolom merupakan komponen sentral pada
kromatografi gas (Rohman, 2009).

4. Fase diam

Fase diam dibedakan berdasarkan kepolarannya, yaitu nonpolar, semi polar dan
polar. Berdasarkan minyak atsiri yang nonpolar sampai sedikit polar, maka untuk
keperluan analisis sebaiknya digunakan kolom fase diam yang bersifat nonpolar
(Agusta, 2000).

5. Suhu

Suhu merupakan salah satu faktor utama yang menentukan hasil analisis
Kromatografi Gas dan Spektrometri Massa. Umumnya yang sangat menentukan
adalah pengaturan suhu injektor dan kolom (Agusta, 2000).
6. Detektor

Detektor yang digunakan pada sistem GC-MS harus stabil dan tidak merusak
senyawa yang dideteksi. Pada system GC-MS ini, yang berfungsi sebagai detektor
adalah spektrometer massa itu sendiri yang terdiri atas sistem ionisasi dan sistem
analisis (Agusta, 2000).

2.7. Analisa Spektrometri Massa

Spektrometer massa adalah suatu alat berfungsi untuk mendeteksi masing-masing


molekul komponen yang telah dipisahkan pada sistem kromatografi gas yang
17

terdiri dari sistem analisis dan sistem ionisasi dan sistem molekul. Prinsip
spektrometri massa (MS) ialah senyawa organik (sampel) ditembak dengan
berkas elektron dan menghasilkan ion bermuatan positif yang mempunyai energi
yang tinggi karena lepasnya elektron dari molekul yang dapat pecah menjadi ion
positif yang lebih kecil (ion fragmen). Spektrum massa merupakan grafik antara
limpahan relatif lawan perbandingan massa/muatan (m/z). Terpisah fragmen ion
positif didasarkan pada massanya. Kejadian tersederhana adalah tercampaknya
satu elektron dari molekul dalam fasa gas oleh sebuah elektron dalam berkas
elektron dan membentuk suatu kation radikal (M+ )

M + e M+ + 2e

Satu proses yang disebabkan oleh tabrakan elektron pada kamar pengion
spektrometer massa adalah ionisasi dari molekul yang berupa uap dengan
kehilangan satu elektron dan terbentuk ion molekul bermuatan positif, karena
molekul senyawa organik mempunyai elektron berjumlah genap maka proses
pelepasan satu elektron menghasilkan ion radikal yang mengandung satu elektron
tidak berpasangan.

M - 1e M+

Proses lain molekul yang berupa uap tersebut menangkap sebuah elektron
membentuk ion radikal bermuatan negatif dengan kemudian terjadi jauh lebih
kecil (10-2) dari padaion radikal bermuatan positif (Sudjadi, 1983).

Informasi yang diperoleh dari kedua teknik ini yang digabung dalam intrument
GC-MS adalah hasil dari masing-masing spektra. Untuk spektra GC, informasi
terpenting yang didapat adalah waktu retensi untuk tiap-tiap senyawa dalam
sampel. Sedangkan untuk spektra MS bias diperoleh informasi mengenai massa
molekul relatif dari sampel tersebut (Skoog, 1991).

2.8. Metode Pengendalian Hama Serangga

Pengendalian mekanik bertujuan untuk mematikan atau memindahkan hama


secara langsung baik dengan tangan atau dengan bantuan alat dan bahan lain.
Caranya sederhana dan dapat dilakukan oleh setiap orang, tetapi yang jelas
18

memerlukan tenaga yang banyak yang berarti cukup mahal, harus dilakukan
secara kontiniu dan efisiensi serta efektivitasnya rendah (Untung, 2001).

Adapun beberapa teknik pengendalian mekanik yang sering dilakukan dalam


praktek pengendalian hama, yaitu:

1. Pengendalian dengan tangan


Cara ini merupakan teknik yang paling sederhana dan murah tentunya.
Yang dikumpulkan adalah fase hidup lama yang mudah ditemukan seperti
telur dan larva. Kecuali pengambilan dan pengumpulan dilakukan
terhadap hama, dapat juga diadakan pengumpulan bagian-bagian tanaman
yang terserang (Untung, 2001).
2. Perangkap umpan
Umpan yang diberikan dapat berupa makanan yang disenangi serangga.
Misalnya, lalat buah maka umpannya adalah buah atau buah-buahan tiruan
yang dilaburi lem dan aroma atau esens buah-buahan yang banyak dijual
ditoko kimia. Perangkap umpan ini dapat digunakan untuk menjerat
serangga yang aktif pada siang hari maupun malam hari. Kelemahan dari
perangkap ini adalah kesulitan untuk mengidentifikasi umpan yang sesuai
dengan serangga tertentu.
3. Perangkap bau dan aroma
Umumnya serangga tertarik dengan aroma tertentu, misalnya bau tape, bau
busuk atau bau harum. Sifat ini dimanfaatkan untuk menarik serangga agar
berkerumun. Setelah itu serangga dijerat di perekat.
4. Perangkap kurung
Selain dengan menggunakan perekat atau cairan, dapat pula digunakan
perangkap serangga yang berupa perangkap kurung. Penggunaan
perangkap kurung ini adalah dengan memanfaatkan sifat serangga yang
tertarik terhadap cahaya, warna, dan umpan serta sifat serangga yang
mempunyai kecenderungan terbang menuju keatas atau kesamping,
terutama kearah yang lebih terang (Kusnaedi, 1996).
19

2.9. Pestisida Nabati

Pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari
tumbuhan. Karena terbuat dari bahan alami/nabati maka jenis pestisida ini bersifat
mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan
relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang.
Pestisida nabati bersifat pukul dan lari (hit and run), yaitu apabila diaplikasikan
akan membunuh hama pada waktu itu dan setelah hamanya terbunuh maka
residunya akan cepat menghilang di alam. Dengan demikian, tanaman akan
terbebas dari residu pestisida dan aman untuk di konsumsi (Kardinan, 2004).

Sudarmo (2005) menyatakan bahwa pestisida nabati dapat membunuh atau


menganggu serangga hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik yaitu dapat
melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal.

Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik yaitu:

1. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa

2. Menghambat pergantian kulit

3. Menganggu komunikasi serangga

4. Menyebabkan serangga menolak makan

5. Menghambat reproduksi serangga betina

6. Mengurangi nafsu makan

7. Memblokir kemampuan makan serangga

8. Mengusir serangga

2.9.1. Penggolongan Pestisida

Pestisida mempunyai sifat-sifat fisik, kimia dan daya kerja yang berbeda-beda,
karena itu dikenal banyak macam pestisida. Pestisida dapat digolongkan menurut
berbagai cara tergantung pada kepentingannya, antara lain: berdasarkan sasaran
20

yang akan dikendalikan, berdasarkan cara kerja, berdasarkan struktur kimianya,


asal dan sifat kimia, berdasarkan bentuknya dan pengaruh fisiologisnya.

A. Berdasarkan asal bahan yang digunakan untuk membuat pestisida, yaitu :


1. Pestisida Sintetik, yaitu pestisida yang diperoleh dari hasil sintesa kimia,
contoh: organoklorin, organofospat, dan karbamat.
2. Pestisida Nabati, yaitu pestisida yang berasal dari tumbuh-tumbuhan,
contoh: neem oil yang berasal dari pohon mimba.
3. Pestisida Biologi, yaitu pestisida yang berasal dari jasad renik atau
mikrobia, contoh: jamur, bakteri atau virus.
4. Pestisida Alami, yaitu pestisida yang berasal dari bahan alami, contoh:
bubur bordeaux (Jimenez, 2007).

B. Penggolongan pestisida berdasarkan sasaran, yaitu:

1. Insektisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia yang bisa


mematikan semua jenis serangga.
2. Fungisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun dan
bisa digunakan untuk memberantas dan mencegah fungi/cendawan.
3. Bakterisida. Disebut bakterisida karena senyawa ini mengandung bahan
aktif beracun yang bisa membunuh bakteri.
4. Nermatisida, digunakan untuk mengendalikan nematoda.
5. Akarisida atau mitisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia
yang digunakan untuk membunuh tungau, caplak, dan laba-laba.
6. Rodenstisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun
yang digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat,
misalnya tikus.
7. Moluskisida adalah pestisida untuk membunuh moluska, yaitu siput,
bekicot serta tripisan yang banyak dijumpai di tambak.
8. Herbisida adalah senyawa kimia beracun yang dimanfaatkan untuk
membunuh tumbuhan pengganggu yang disebut gulma.
9. Pestisida lain seperti Pisida, Algisida, Advisida dan lain-lain.
21

10. Pestisida berperan ganda yaitu pestisida yang berperan untuk membasmi 2
atau 3 golongan organism pengganggu tanaman (Wudianto,2010).

C. Berdasarkan sifat dan cara kerja racun pestisida, yaitu:


1. Racun kontak
Pestisida jenis ini bekerja dengan masuk ke dalam tubuh serangga lewat
kulit (kutikula) dan di transportasikan ke bagian tubuh serangga tempat
pestisida aktif bekerja.
2. Racun pernafasan (Fumigan)
Pestisida jenis ini dapat membunuh serangga dengan bekerja lewat sistem
pernafasan.
3. Racun lambung
Jenis pestisida yang membunuh serangga sasaran jika termakan serta
masuk ke dalam organ pencernaannya.
4. Racun Sistematik
Cara kerja seperti ini dapat dimiliki oleh insektisida, fungisida, dan
herbisida. Racun sistemik disemprotkan atau ditebarkan pada bagian
tanaman akan terserap ke dalam jaringan tanaman melalui akar atau daun,
sehingga dapat membunuh hama yang berada di dalam jaringan tanaman
seperti jamur dan bakteri. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati
setelah memakan atau menghisap cairan tanaman yang telah disemprot.
5. Racun metabolisme
Pestisida ini membunuh serangga dengan mengintervensi proses
metabolismenya.
6. Racun protoplasma
Ini akan mengganggu fungsi sel karena protoplasma sel menjadi rusak
(Djojosumarto, 2008).

D. Berdasarkan bentuk formulasi pestisida

Formulasi pestisida yang dipasarkan terdiri atas bahan pokok yang disebut bahan
aktif (active ingredient) yang merupakan bahan utama pembunuh organisme
22

pengganggu dan bahan ramuan (inert ingredient), Beberapa jenis formulasi


pestisida sebagai berikut:

1. Tepung hembus, debu (dust = D )


Bentuknya tepung kering yang hanya terdiri atas bahan aktif, misalnya
belerang atau dicampur dengan pelarut aktif, kandungan bahan aktifnya
rendah sekitar 2-10%. Dalam penggunaannya pestisida ini harus
dihembuskan menggunakan alat khusus yang disebut duster.
2. Butiran (granula = G) Pestisida ini berbentuk butiran padat yang
merupakan campuran bahan aktif berbentuk cair dengan butiran yang
mudah menyerap, bagian luarnya ditutup dengan suatu lapisan.
3. Tepung yang larut dalam air (water-sofable powder= SP)
Pestisida berbentuk SP ini sepintas mirip WP. Penggunaanya pun
ditambahkan air. Perbedaannya terletak pada kelarutannya. Bila WP tidak
bisa terlarut dalam air, SP bisa larut dalam air. Larutan ini jarang sekali
mengendap, maka dalam penggunaannya dengan penyemprotan,
pengadukan hanya dilakukan sekali pada waktu pencampuran.
4. Suspensi (flowable concentrate = F)
Formulasi ini merupakan campuran bahan aktif yang ditambah pelarut
serbuk yang dicampur dengan sejumlah kecil air. Hasilnya adalah seperti
pasta yang disebut campuran basah. Campuran ini dapat tercampur air
dengan baik dan mempunyai sifat yang serupa dengan formulasi WP yang
ditambah sedikit air.
5. Cairan (emulsifiable concentrare = EC)
Bentuk pestisida ini adalah cairan pekat yang terdiri dari campuran bahan
aktif dengan perantara emulsi (emulsifiet). Dalam penggunaanya, biasanya
dicampur dengan bahan pelarut berupa air. Hasil pengencerannya atau
cairan semprotnya disebut emulsi.
6. Solution (S)
Solution merupakan formulasi yang dibuat dengan melarutkan pestisida ke
dalam pelarut organik dan dapat digunakan dalam pengendalian jasad
pengganggu secara langsung tanpa perlu dicampur dengan bahan lain.
Formulasi ini hampir tidak ditemui(Wudianto, 2010).
23

E. Berdasarkan bahan aktifnya

Penggunaan pestisida yang paling banyak dan luas berkisar pada satu diantara
empat kelompok besar berikut yaitu :

1. Organoklorini(Chlorinatediiihydrocarbon)
Organoklorin merupakan racun terhadap susunan saraf (neuro toxins) yang
merangsang sistem saraf baik pada serangga maupun mamalia,
menyebabkan tremor dan kejang-kejang.
2. Organofosfat0(Organooophosphates0000Ops)
Ops umumnya adalah racun pembasmi serangga yang paling toksik secara
akut terhadap binatang bertulang belakang seperti ikan, burung, kadal
(cicak) dan mamalia), mengganggu pergerakan otot dan dapat
menyebabkan kelumpuhan. Organofosfat dapat menghambat aktifitas dari
cholinesterase, suatu enzim yang mempunyai peranan penting pada
transmisi dari signal saraf.
3. Karbamat0(carbamat)
Sama dengan organofosfat, pestisida jenis karbamat menghambat enzim-
enzim tertentu, terutama cholinesterase dan mungkin dapat memperkuat
efek toksik dari efek bahan racun lain. Karbamat pada dasarnya
mengalami proses penguraian yang sama pada tanaman, serangga dan
mamalia. Pada mamalia karbamat dengan cepat diekskresikan dan tidak
terbio konsentrasi namun bio konsentrasi terjadi pada ikan.
4. Piretroid
Salah satu insektisida tertua di dunia, merupakan campuran dari beberapa
ester yang disebut pyretrin yang diektraksi dari bunga dari genus
Chrysantemum. Jenis pyretroid yang relatif stabil terhadap sinar matahari
adalah : deltametrin, permetrin, fenvlerate. Sedangkan yang tidak stabil
terhadap sinar matahari dan sangat beracun bagi serangga adalah : difetrin,
sipermetrin, fluvalinate, siflutrin, fenpropatrin, tralometrin, sihalometrin,
flusitrinate. Piretrum mempunyai toksisitas rendah pada manusia tetapi
menimbulkan alergi pada orang yang peka, dan mempunyai keunggulan
diantaranya: diaplikasikan dengan takaran yang relatif sedikit, spekrum
24

pengendaliannya luas, tidak persisten, dan memiliki efek melumpuhkan


yang0sangatobaik0(Kusnoputranto,01996).

F. Berdasarkan Jarak/Frekuensi Penyemprotan Pestisida Sesuai Golongan


1. Golongan0Organofosfat
Berdasarkan masa degradasinya dalam lingkungan yaitu sekitar 2 minggu
maka frekuensi/jarak penyemprotan golongan ini adalah 2 minggu sekali
2. GolonganoKarbamat
Golongan ini hampir sama dengan organofosfat, dimana golongan ini juga
tidak persisten, mulai banyak dipasaran. Masa degradasi di lingkungan
hampir sama dengan organofosfat yaitu sekitar 12-14 hari, oleh karena itu
maka frekuensi penyemprotannya berkisar 12-14 hari.
3. GolonganoPiretroid
Dibandingkan dua golongan diatas, golongan Piretroid yang paling baru.
Golongan Piretroid memiliki beberapa keunggulan, diantaranya
diaplikasikan dengan takaran relatif sedikit, spektrum pengendaliannya
luas, tidak persisten, dan memiliki efek melumpuhkan (knock down effect)
yang sangat baik, masa terdegradasi dalam lingkungan juga singkat,
berkisar antara 10-12 hari, jadi jarak/frekuensi penyemprotan juga berkisar
10-12 hari ( Djojosumarto, 2008).
25

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Alat

Alat Stahl
Beaker glass 100 ml Pyrex
Botol aquadest
Botol penyemprot
Botol vial
Corong pisah Pyrex
Gelas Erlenmeyer 250 ml Pyrex
GC-MS Shimadzu
Kain kasa
Kertas label
Hotplate Cimarec 2
Labu ukur 50 ml Pyrex
Labu destilasi 1000 ml Pyrex
Lemari pendingin Toshiba
Neraca analitis Mettler AE 2000
Panci aluminium
Pipet tetes
Pompa air
Sarung tangan
Selang
Spatula
Statif dan klem
Teflon
Toples plastik
26

3.2. Bahan

Aquadest
Buah jeruk
Dietil eter p.a Merck
Na2S04 anhidrous p.a Merck
Natrium klorida
Pasir steril
Rimpang lengkuas
Tween 80 p.aoMerck

3.3. Prosedur Penelitian


3.3.1. Penyediaan Sampel

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang lengkuas yang
diperoleh dari Pasar Pagi, Medan. Rimpang lengkuas dibersihkan terlebih dahulu,
kemudian dicuci, dan dipotong kecil-kecil.

3.3.2. Isolasi Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Dengan Alat Destilasi Stahl
Sebanyak 300 gram rimpang lengkuas dipotong kecil-kecil dan dimasukkan
kedalam labu alas bulat volume 1000 mL ditambahkan aquadest sebanyak 500
mL, dihubungkan dengan alat penyuling Stahl yang dilengkapi dengan pemanas
minyak, dipanaskan hingga mendidih selama 4-5 jam hingga menghasilkan
destilat air bersama minyak atsiri. Destilasi diakhiri setelah destilat yang keluar
jernih. Destilat minyak bersama air yang diperoleh ditampung pada gelas
Erlenmenyer. Kemudian ditambahkan NaCl padat hingga terjadi larutan jenuh,
lalu dimasukkan kedalam corong pisah, ditambahkan dietil eter, didiamkan hingga
diperoleh dua lapisan. Lapisan atas ditambahkan Na2SO4 anhidrous, lalu
didekantasi, dimasukkan kedalam botol vial, ditutup rapat dan disimpan ditempat
sejuk. Minyak atsiri yang diperoleh dianalisis kandungan kimianya menggunakan
alat GC-MS dan dilanjutkan pengujian sebagai pestisida (Shara, 2012).
27

3.3.3. Analisa Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Dengan GC-MS

Cuplikan dimasukkan kedalam gerbang suntik pada sebuah alat GC-MS.


Selanjutnya kondisi disesuaikan dengan kondisi dibawah ini kemudian diamati
kromatogram yang dihasilkan oleh recorder serta mass spektra masing-masing
senyawa.Kondisi alat GC-MS, yaitu:

Kolom : Agilent HP 5MS


Panjang : 30 meter
Gas Pembawa : Helium
Pengion : EI
GC-2010
Column Oven Temperature : 60.0 oC
Injection Temperature : 300oC
Injection Mode : Split
Flow Control Mode : Pressure
Pressure : 13.0 kPa
Total Flow : 38.9 mL/min
Column Flow : 0.51 mL/min
Linear Velocity : 26.2 cm/sec
Purge Flow : 3.0 mL/min
Split Ratio : 68.8
Equlibrium Time : 1.0 min
GCMS-QP2010
Ion Source Temperature : 250.00 oC
Interface Temperature : 305.00 oC
Solvent Cut Time : 2.80 min
Detector Gain Mode : Relative
Detector Gain : +0.00 kV
MS
Start End Time : 60.00 min
ACQ Mode : Scan
Even Time : 0.50 sec
28

Scan Speed : 1250


Start m/z : 28.00
End m/z : 600.00

3.3.4. Pengujian Pestisida

3.3.4.1. Pembuatan Larutan Pestisida Nabati Dari Minyak Atsiri Lengkuas

Pengujian pestisida nabati minyak atsiri lengkuas di uji pada konsentrasi 1% (v/v),
2% (v/v), dan 3% (v/v) dilarutkan dalam labu 50 ml dengan aquadest sebagai
pelarut dan tween 80 sebagai pengelmusi.

3.3.4.2.Perbanyakan Serangga Uji (Rearing)

Perbanyakan serangga uji dilakukan dengan mengumpulkan buah-buahan yang


terindikasi terserang lalat buah, yaitu buah jeruk. Buah yang didapatkan
diletakkan dalam wadah plastik yang telah di isi dengan pasir steril dan kemudian
ditutup dengan kain kasa. Jumlah pasir yang digunakan adalah sebanyak 1/3
volume wadah. Wadah plastik diletakkan di ruang pemeliharaan dengan suhu
yang disesuaikan dengan suhu optimum bagi perkembangan lalat buah, yaitu
berkisar antara 27-30 C. Jeruk dibiarkan selama beberapa hari hingga membusuk
dan telur berubah menjadi larva, kemudian menjadi pupa. Selanjutnya pupa
dikeluarkan dari dalam pasir ke atas permukaan pasir untuk memudahkan
keluarnya lalat buah dewasa. Waktu yang dibutuhkan larva untuk menjadi imago
10-12 hari. Pupa yang menetas menjadi imago diberikan madu diatas kain kasa
sebagai pakan lalat buah tersebut. Kemudian lalat buah yang diperoleh dari hasil
perbanyakan digunakan sebagai serangga uji (Untung, 2001).
29

3.3.4.3. Aplikasi Pestisida Terhadap Lalat Buah (Bactrocera sp. )

Masing-masing pestisida nabati dimasukkan kedalam botol penyemprot sesuai


dengan label konsentrasinya. Disediakan 4 buah toples plastik yakni: toples-1
sebagai kontrol, toples-2 dengan konsentrasi 1%, toples-3 dengan konsentrasi 2%,
dan toples-4 dengan konsentrasi 3%. Dimasukkan pakan buah jeruk sebagai
sumber makanan lalat buah. Kemudian lalat buah hasil perbanyakkan (rearing)
dimasukkan ke dalam toples masing-masing sebanyak 10 ekor per ulangan,
ditutup dengan kain kasa. Disemprotkan masing-masing pestisida pada toples-2
(1%) , toples-3 (2%) , dan toples-4 (3%). Diamati dan dicatat jumlah lalat buah
yang mati didalam toples selama 7 hari (Kusnaedi, 1996).
30

3.4. Bagan Penelitian


3.4.1. Isolasi Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas Dengan Alat Stahl

300 gr rimpang lengkuas


dimasukkan kedalam labu Stahl 1 Liter
ditambahkan aquadest 500 mL
dirangkai alat Stahl
didihkan selama 4-5 jam pada suhu 1000C
hingga keluar uap air bersama minyak
Destilat
dimasukkan kedalam corong pisah
dijenuhkan dengan NaCl
diekstraksi dengan eter

Lapisan Atas Lapisan Bawah

ditambahkan Na2SO4 anhidrous


diuapkan untuk menghilangkan pelarut eter
didekantasi

Minyak atsiri

ditimbang

Analisa GC-MS Analisa Pestisida Nabati

3.4.2. Analisis Minyak Atsiri Dengan GC-MS

Cuplikan
diinjeksikan kedalam GC-MS
diamati kromatogram yang dihasilkan
Hasil
31

3.4.3. Uji Pestisida Nabati Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga)

Uji Pestisida Nabati Rimpang Lengkuas (Alpania galanga)

Dilakukan perbanyakkan serangga uji (rearing )


Disediakan toples plastik sesuai perlakuan
Dimasukkan pakan lalat buah (jeruk) ke dalam toples
Lalat buah hasil rearing di masukkan ke dalam toples sebanyak 10 ekor/toples,
dan di tutup dengan kain kasa

Penyemprotan Pestisida Nabati

Diamati selama 7 hari

Hasil Pengamatan
32

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1. Penentuan Kadar Minyak Atsiri

Hasil isolasi minyak atsiri rimpang lengkuas (Alpinia galanga) diperoleh dengan
metode hidrodestilasi menggunakan alat Stahl. Dari hasil destilasi rimpang
lengkuas segar sebanyak 900 gram diperoleh rata-rata 1,31 gram (b/b) dan kadar
minyak atsiri sebesar 0,43 % (Tabel 4.1.).

Tabel 4.1 Hasil Hidrodestilasi Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas

Sampel Minyak Atsiri Persentase


No.
(gram) (gram) (%)

1. 300 1,36 0,45

2. 300 1,32 0,44

3. 300 1,25 0,41

Rata-rata 300 1,31 0,43


33

4.1.2. Hasil Analisis GC-MS

Minyak atsiri yang dihasilkan secara hidrodestilasi dianalisis dengan Gas


Chromatography - Mass Spectroscopy (GC-MS). Kromatogram hasil analisis GC
menunjukkan terdapatnya 21 puncak senyawa (Gambar 4.1 ) yang menunjukkan
adanya 21 senyawa yang terkandung dalam minyak atsiri tersebut (Tabel 4.2) dan
senyawa dari hasil interpretasi yang dapat diindentifikasi sebanyak 9 buah
senyawa berdasarkan standart library Willey dan NIST (>1%) seperti pada Tabel
4.3.

Gambar 4.1. Kromatogram Hasil Analisa GC Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas


34

Tabel 4.2. Senyawa Hasil Analisis GC-MS Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas

RT Massa Relatif Rumus %


No. Nama Senyawa
(Menit) Senyawa Molekul Area
1. 7,259 136 C10H16 - Pinen 4,01

2. 8,567 136 C10H16 - Pinen 0,68

3. 9,055 136 C10H16 - Myrcene 0,53

4. 10,557 154 C10H18O 1,8- Sineol 52,11

5. 11,266 136 C10H16 - Terpinen 0,56

6. 15,157 154 C10H18O 1-Terpinen-4-ol 3,37

7. 18,399 196 C12H20O2 Bornyl Asetat 0,77

8. 19,900 194 C12H18O2 Trans- Carvly Asetat 0,41

9. 20,272 176 C11H12O2 4- Allyphenyl Asetat 13,13

10. 21,187 196 C12H20O2 Geranyl Asetat 3,27

11. 21,846 178 C11H14O2 Metil Eugenol 2,82

12. 22,294 204 C15H24 Caryophyllen 0,34

13. 22,294 204 C15H24 - Bergamoten 0,27


1,6,10-
14. 23,189 204 C15H24 Dodecatriene,7,11- 4,67
dimethyl-3-methylene
15. 24,100 204 C15H24 - Selinen 0,14

16. 24,249 212 C15H32 Pentadecane 0,27

17. 24,592 204 C15H24 - Bisabolen 0,97

18. 25,124 206 C12H14O3 Eugenil Asetat 8,79

19. 28,222 266 C13H14O6 Benzeneacetid Acid 1,06

20.. 25,124 260 C16H33Cl Hexadecane 0,20

21. 32,384 264 C17H28O2 Farnesyl Asetat 1,63


35

Tabel 4.3. Hasil Analisa GC-MS Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas yang dapat
Diinterpretasi sebanyak 9 buah senyawa berdasarkan Standart Library Willey dan
NIST (>1%)

RT Massa Relatif Rumus %


No. Nama Senyawa
(Menit) Senyawa Molekul Area
1. 10,557 154 C10H18O 1,8- Sineol 52,11

2. 20,272 176 C11H12O2 4- Allylphenyl Asetat 13,13

3. 25,124 206 C12H14O3 Eugenyl Asetat 8,79


1,6,10-
4. 23,189 204 C15H24 Dodecatriene,7,11- 4,67
dimethyl-3-methylene
5. 7,259 136 C10H16 - Pinen 4,01

6. 15,157 154 C10H18O 1-Terpinen-4-ol 3,37

7. 21,187 196 C12H20O2 Geranyl Asetat 3,27

8. 21,846 178 C11H14O2 Metil Eugenol 2,82

9. 28,619 264 C17H28O2 Farnesyl Asetat 1,63


36

4.1.3. Mortalitas Harian Lalat Buah ( Bactrocera sp.)

Hasil pengamatan terhadap mortalitas (jumlah kematian) harian lalat buah dengan
perlakuan konsentrasi dari isolasi minyak atsiri rimpang lengkuas (Alpinia
galanga) yang berbeda menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi minyak atsiri
3% bersifat toksik terhadap lalat buah (Bactrocera sp.). Gambar fluktuasi
mortalitas harian lalat buah dapat dilihat pada Gambar 4.2

Mortalitas Harian Bactrocera sp.


25
SAMPEL

20 MA 1%
MA 2%
% KEMATIAN

15 MA 3%
KONTROL
10

0
1 2 3 4 5 6 7
Hari

Gambar 4.2 Grafik mortalitas harian Bactrocera sp.

Gambar 4.19 memperlihatkan bahwa penggunaan minyak atsiri rimpang


lengkuas memberikan fluktasi yang berbeda dari setiap perlakuan. Hari pertama
semua perlakuan telah mampu mematikan lalat buah kisaran 3,3% - 16,7%
kecuali pada perlakuan kontrol. Mortalitas harian pada hari pertama setelah
aplikasi terlihat bahwa pada perlakuan konsentrasi minyak atsiri 3% telah
mencapai puncak dengan persentase 16,7%.

Pada hari kedua pengamatan menunjukkan persentase mortalitas lalat buah


yang paling tinggi terjadi pada perlakuan kosentrasi minyak atsiri 2% dan 3%
menghasilkan persentase yang sama dengan persentase 10% sedangkan perlakuan
pada kontrol tidak ada perubahan.
37

Pada hari ketiga pengamatan menunjukkan persentase mortalitas lalat buah


pada perlakuan konsentrasi minyak astsiri 3% lebih tinggi dibandingkan
konsentrasi minyak atsiri 1% dan 2% dengan persentase 16,7% . Hal ini diduga
bahwa bahan aktif dari minyak atsiri masih bekerja dengan baik setelah aplikasi .
Sedangkan perlakuan pada kontrol tidak ada perubahan.

Pada hari keempat pengamatan menunjukkan perlakuan konsentrasi


minyak atsiri masih mampu mematikan lalat buah kisaran 6,7% - 20% kecuali
pada perlakuan kontrol. Persentase paling tinggi masih diperoleh pada konsentrasi
minyak atsiri 3% dengan puncak persentase 20%.

Pada hari kelima pengamatan menunjukkan semua perlakuan masih


mampu mematikan lalat buah kisaran 3,3% - 13,3% kecuali pada perlakuan
kontrol. Persentase paling tinggi terjadi pada konsentrasi minyak atsiri 3% dengan
puncak persentase 13,3%.

Pada hari keenam pengamatan menunjukkan perlakuan konsentrasi


minyak atsiri masih mampu mematikan lalat buah kisaran 6,7% - 13,3% dan
terjadi perubahan pada perlakuan kontrol dengan persentase 6,7%. Terjadinya
perubahan pada perlakuan kontrol diduga karna adanya faktor intensitas cahaya,
sesuai pendapat Vivit (2011) menyatakan lalat buah lebih menyukai cahaya terang
dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada ditempat gelap.

Pada hari ketujuh pengamatan menunjukkan persentase mortalitas harian


lalat buah setelah aplikasi memperlihatkan bahwa semua perlakuan masih mampu
mematikan lalat buah dengan persentase mortalitas berkisar 3,3% - 13,3 %. Hal
ini terjadi karena semakin sedikitnya senyawa yang melekat pada wadah
perlakuan yang telah diaplikasikan, sehingga senyawa yang terakumulasi
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mematikan lalat uji.
38

4.1.4. Mortalitas Total Lalat Buah ( Bactrocera sp.)

Hasil pengamatan persentase mortalitas total lalat buah setelah diamati


menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi minyak atsiri 1%, 2%, dan 3% dapat
membunuh lalat buah sebesar 40%, 70%, dan 96,7% sedangkan pada kontrol
sebesar 13,3%.

Mortalitas Total Bactrocera sp.


120

100
% KEMATIAN

80

60

40

20

0
MA 1% MA 2% MA 3% KONTROL
SAMPEL

Gambar 4.3 Grafik hubungan konsentrasi dengan % total kematian Bactrocera


sp.

Perlakuan minyak atsiri lengkuas pada konsentrasi 1% dan 2% kurang


efektif, karena hanya mematikan lalat buah <90%. Sedikitnya persentase
mortalitas lalat buah disebabkan minyak atsiri yang sifatnya mudah terurai atau
terdegradasi sehingga tidak banyak berpengaruh pada lalat uji. Hal ini sesuai
dengan pendapat Cabizzal et al (2004) mengatakan bahwa senyawa kimia yang
terdapat dalam bahan nabati cepat terurai dan residunya mudah hilang karena
mengalami degredasi oleh suhu ruangan, sehingga tidak peristen terhadap lalat
buah.
39

4.2. Pembahasan

4.2.1. Minyak Atsiri dari Hasil Destilasi dengan Alat Stahl

Dari sebanyak 900 gram rimpang lengkuas diperoleh minyak atsiri rimpang
sebanyak 1,31 gram (b/b) dengan persentase sebesar 0,43 % yang diperoleh dari
perhitungan berikut:
Berat minyak atsiri
% Kadar Minyak Atsiri = x 100%
Berat rimpang lengkuas

1,31 gram
= 300 gram x 100%
= 0,43 %

4.2.2. Analisis Minyak Atsiri Rimpang Lengkuas

Hasil analisis GC-MS terhadap minyak atsiri rimpang lengkuas menunjukkan


bahwa didalam minyak atsiri terdapat 9 senyawa yang dapat diinterprestasikan,
yaitu:

1. -Pinen
Puncak dengan RT 7,258 menit merupakan senyawa monoterpen (terpenoid)
dengan rumus molekul C10H16. Data spektrum menunjukkan puncak ion molekul
pada m/e 136 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 121, 105, 93, 77, 67,
53,41 dan puncak utama pada m/e 93. Dengan membandingkan data spektrum
yang diperoleh dengan data spektrum library Wiley, yang lebih mendekati adalah
senyawa -Pinen sebanyak 4,01 % dengan spektrum seperti gambar 4.2. Dan pola
fragmentasi secara hipotesis seperti gambar 4.3.

a.
40

b.

Gambar 4.2 Spektrum Massa -Pinen

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library

H3C CH3 +
H3C CH3 . H3C
H3C +e +
-2e H3C -.CH3 (15) H3C

m/e = 136 m/e = 121


(C10H16)+. (C9H13)+
-C2H4 (28)
H3C -C3H8 (44)
C +
H2C

m/e = 93 +
(C7H9)+
m /e = 77
-C3H4 (40) (C 6H 5)+

m/e = 53
(C4H5)+

Gambar 4.3. Pola fragmentasi senyawa -Pinen (Indah, 2010)


41

2. 1,8- Sineol
Puncak dengan RT 10,558 menit merupakan senyawa monoterpen (terpenoid)
dengan rumus molekul C10H18O. Data spektrum menunjukkan puncak ion
molekul pada m/e 154 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 140, 139, 125,
108, 84, 81, 69, 43, 41 dan puncak utama pada m/e 43. Dengan membandingkan
data spektrum yang diperoleh dengan data spektrum library Wiley, yang lebih
mendekati adalah senyawa 1,8-Sineol sebanyak 52,11 % dengan spektrum seperti
gambar 4.4. Dan pola fragmentasi secara hipotesis seperti gambar 4.5.

a.

b.

Gambar 4.4. Spektrum Massa 1,8- Sineol

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


42

CH3 CH3

O
CH3
O
+e O
-2e CH3 - CH3 (15)
CH3
CH3
CH3 m/e = 139
CH3 (C9H15O)
m/e = 154
(C10H18O)
-H2O (18)

-C2H6O (46)

CH3 CH

CH3
- C2H3 (27) m/e = 121
(C9H13)

m/e = 81
(C6H9)
CH2
m/e = 108
(C8H12)

-CH3 (15)

CH2
m/e = 93
(C3H9)

-C4H2 (50)

H3C CH3
m/e = 43
(C3H7)

Gambar 4.5. Pola Fragmentasi Senyawa 1,8 Sineol (Siahaan, 2012)


43

3. 1-Terpinen-4-ol
Puncak dengan RT 15,158 menit merupakan senyawa monoterpen (terpenoid)
dengan rumus molekul C10H18O. Data spektrum menunjukkan puncak ion
molekul pada m/e 154 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 136, 121, 111,
93, 71, 69, 43, 41 dan puncak utama pada m/e 71. Dengan membandingkan data
spektrum yang diperoleh dengan data spektrum library Wiley, yang lebih
mendekati adalah senyawa 1-Terpinen-4-ol sebanyak 3,37% dengan spektrum
seperti gambar 4.6. Dan pola fragmentasi secara hipotesis seperti gambar 4.7.

a.

b.

Gambar 4.6. Spektrum Massa1-Terpinen-4-ol

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


44

H3C
H3C H3C
CH3 CH3 OH
OH OH
H H

+e
- C3H7 ( 43)
-2e

CH3
CH3 CH3
m/e = 111
m/e = 154 (C7H11O)
(C10H18O)

-C3H4 (40)

OH

-CH2O (30)
H3C CH2 CH3

m/e = 41
(C3H5) m/e = 71
(C4H7O)

Gambar 4.7. Pola Fragmentasi Senyawa 1-Terpinen-4-ol (Siahaan, 2012)


45

4. 4- Allyphenyl Asetat
Puncak dengan RT 20,275 menit merupakan senyawa monoterpen (terpenoid)
dengan rumus molekul C11H12O2. Data spektrum menunjukkan puncak ion
molekul pada m/e 176 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 134, 117, 107,
91, 77, 63, 43, 41 dan puncak utama pada m/e 134. Dengan membandingkan data
spektrum yang diperoleh dengan data spektrum library NIST, yang lebih
mendekati adalah senyawa 4-Allyphenyl Asetat sebanyak 13,13 % dengan
spektrum seperti gambar 4.8. Dan pola fragmentasi secara hipotesis seperti
gambar 4.9.

a.

b.

Gambar 4.8. Spektrum Massa 4-Allyphenyl Asetat

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


46

O
O OH

O CH3 O CH3

+e
H2C
-2e -C2H2O (42)
H2C
H2C
m/e = 134
(C9H10O)

m/e = 176
(C11H12O2) -C2H3 (27)

OH

-CH2O (30)

m/e = 77
(C6H5) CH3
m/e = 107
(C7H7O)

Gambar 4.9. Pola Fragmentasi Senyawa 4-Allyphenyl Asetat (Suryani, 2010)


47

5. Geranyl Asetat
Puncak dengan RT 21,183 menit merupakan senyawa monoterpen dengan rumus
molekul C12H20O2. Data spektrum menunjukkan puncak ion molekul pada m/e
196 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 154, 136, 121, 107, 93, 80, 69,
41 dan puncak utama pada m/e 69. Dengan membandingkan data spektrum yang
diperoleh dengan data spektrum library NIST, yang lebih mendekati adalah
senyawa Geranyl Asetat sebanyak 3,27 % dengan spektrum seperti gambar 4.10.
Dan pola fragmentasi secara hipotesis seperti gambar 4.11.

a.

b.

Gambar 4.10. Spektrum Massa Geranyl Asetat

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


48

CH3 O CH3 O
H3C H 3C
+e
-2e O
H 3C O CH3 H3C CH3

m/e = 196
(C12H20O2)

-C2H2O (42)

H3C CH2
CH3
H 3C
m/e = 41
(C3H5)
H3C OH

-C2H4 (28) m/e = 154


(C10H18O)

-H2O (18)
CH3
H 3C
H 3C CH CH3
H 3C
CH2 -CH3 (15)
-C4H4 (52) H 3C CH2
H 3C
m/e = 69 m/e = 121
(C5H9) (C9H13)

m/e = 136
(C10H16)

Gambar 4.11. Pola Fragmentasi Senyawa Geranyl Asetat (Siahaan, 2012)


49

6. Metil Eugenol
Puncak dengan RT 21,850 menit merupakan senyawa monoterpen dengan rumus
molekul C11H14O2. Data spektrum menunjukkan puncak ion molekul pada m/e
178 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 163, 147, 135, 115, 103, 91, 77,
65, 51,41 dan puncak utama pada m/e 178.Dengan membandingkan data
spektrum yang diperoleh dengan data spektrum library Wiley, yang lebih
mendekati adalah senyawa Metil Eugenol sebanyak 2,82 % dengan spektrum
seperti gambar 4.12. Dan pola fragmentasi secara hipotesis seperti gambar 4.13.

a.

b.

Gambar 4.12. Spektrum Massa Metil Eugenol

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


50

O OCH3 O OCH3 O

OCH3 OCH3 OCH3

+e
-2e -CH3 (15)

CH2 CH CH2 CH2 CH CH2 CH2 CH CH2

m/e = 178 m/e = 163


(C11H14O2) (C10H11O2)

-OCH3 (31) -CO (28)

O CH3 OCH3

-CH3OH (32)

CH2 CH CH2
CH HC CH CH2
C CH
m/e = 135
(C9H11O)
H H H
m/e = 115
(C9H7) m/e = 147
(C10H11O) -CH3OH (32)

-C3H2 (38)

-C2H2 (26)

C CH CH2
m/e = 77 H
(C6H5)
-C2H2 (26) m/e = 103
(C8H7)

m/e = 51
(C4H3)

Gambar 4.13. Pola Fragmentasi Senyawa Metil Eugenol (Ginting, 1992 dan
Yulia, 2011)
51

7. 1,6,10-Dodecatriene,7,11-dimethyl-3-methylene
Puncak dengan RT 23,192 menit merupakan senyawa seskuiterpen dengan rumus
molekul C15H26O. Data spektrum menunjukkan puncak ion molekul pada m/e 204
diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e161, 133, 120, 107, 93, 79, 69, 55,41
dan puncak utama pada m/e 69. Dengan membandingkan data spektrum yang
diperoleh dengan data spektrum library NIST, yang lebih mendekati adalah
senyawa 1,6,10-Dodecatriene,7,11-dimethyl-3-methylene sebanyak 4,67 %
dengan spektrum seperti gambar 4.14. Dan pola fragmentasi secara hipotesis
seperti gambar 4.15.

a.

Gambar 4.14. Spektrum Massa 1,6,10-Dodecatriene,7,11-dimethyl-3-methylene

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


52

H3C
CH2 H3C
+e CH2
CH3 -2e
CH3 CH2
CH3 CH3 CH2

m/e = 204
(C15H24)

-C3H7 (43)

CH3

CH

CH3 CH3
m/e = 161
(C12H17)

-C3H5 (41)

CH3 CH

CH3 CH3

m/e = 120
(C9H12)

-C2H3 (27)

CH3
CH2
CH
CH3 CH2 CH3
-C2H4 (28) -2C (24)
m/e = 41 CH3
CH3
(C3H5) m/e = 69 m/e = 93
(C5H9) (C7H9)

Gambar 4.15.Pola Fragmentasi Senyawa 1,6,10-Dodecatriene,7,11-dimethyl-3-


imethylene (Larasati, 2007)
53

8. Eugenyl Asetat
Puncak dengan RT 25,125 menit merupakan senyawa monoterpen dengan rumus
molekul C12H14O3. Data spektrum menunjukkan puncak ion molekul pada m/e
206 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 164, 149, 131, 121, 103, 91, 77,
65, 43, 39 dan puncak utama pada m/e 164. Dengan membandingkan data
spektrum yang diperoleh dengan data spektrum library Wiley, yang lebih
mendekati adalah senyawa Eugenyl Asetat sebanyak 8,79 % dengan spektrum
seperti gambar 4.16. Dan pola fragmentasi secara hipotesis seperti gambar 4.17.

a.

b.

Gambar 4.16. Spektrum Massa Eugenyl Asetat

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


54

O
O
C OH
O CH3 C
O CH3 O
O CH3
CH3 +e O
-2e CH3 -C2H2O (42)

CH2 CH CH2
CH2 CH CH2
CH2 CH CH2
m/e = 206 m/e=164
(C12H14O3) (C10H12O2)

- CH3 (15)

OH
O

CH2 CH CH2

m/e= 149
(C9H9O2)

-H2O (18)

CH CH CH2
- C2H2 (26) - CO (28)

CH CH CH2 O

m/e = 77 m/e = 131


m/e = 131 (C9H7O)
(C6H5) (C8H7)

Gambar 4.17. Pola Fragmentasi Senyawa Eugenyl Asetat (Ginting, 1992


dan Suryani, 2010)
55

9. Farnesyl Asetat
Puncak dengan RT32,383 menit merupakan senyawa turunan seskuiterpen dengan
rumus molekul C17H28O2. Data spektrum menunjukkan puncak ion molekul pada
m/e 264 diikuti puncak-puncak fragmentasi pada m/e 204, 189, 161, 147, 136,
121, 107, 93, 81, 69, 41 dan puncak utama pada m/e 69. Dengan membandingkan
data spektrum yang diperoleh dengan data spektrum library NIST, yang lebih
mendekati adalah senyawa Farnseyl Asetatsebanyak 1,63% dengan spektrum
seperti gambar 4.18. Dan pola fragmentasi secara hipotesis seperti gambar 4.19.

a.

b.

Gambar 4.18. Spektrum Massa Farnesyl Asetat

Keterangan : a. Spektrum Massa Sampel

b. Spektrum Standart Library


56

CH3 O O
-2e CH3 O O
+e
CH3 CH3 CH3 CH3 CH3 CH3 CH3
CH3

m/e = 264
(C17H28O2)

-C3H7O2 (75)

H3 C CH2

CH3 CH3
CH3
m/e = 189
(C14H21)

-C2H4 (28)

H3 C
CH
CH3 CH3
m/e = 161
(C12H17)

-C4H4 (52)

H3C
CH3
-C2H4 (28)
H3 C CH2
CH3
m/e = 41 m/e = 69
(C3H5) (C5H9)

Gambar 4.19. Pola Fragmentasi Farnesyl Asetat (Saragih, 2008)


57

4.2.3. Uji Pestisida Nabati Hasil Isolasi Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga)

Dari Gambar 4.3 dapat diketahui bahwa rimpang lengkuas dapat membunuh
Bactorcera sp. Hal ini disebabkan oleh senyawa aktif yang ada pada rimpang
lengkuas yang mengandung senyawa 1,8 sineol yang mempunyai potensi sebagai
pestisida nabati (Kirana, 2016).

Cara kerja sineol yang terkandung dalam minyak atsiri sebagai racun
kontak yang mudah terserap melalui permukaan kulit lalat (Wilbraham, 1992).
Menurut Prasudjo (1984), racun kontak akan meresap kedalam tubuh binatang
dan akan mati bila tersentuh kulit luarnya.

Racun kontak akan masuk kedalam tubuh lalat melalui kutikula sehingga
apabila pestisida kontak langsung pada kulit maka sedikit demi sedikit molekul
pestisida akan masuk kedalam tubuh lalat. Seiring bertambahnya waktu maka
akumulasi dari pestisida yang masuk kedalam tubuh lalat akan menyebabkan
kematian (Wudianto, 2010).

Pestisida berbahan minyak atsiri aman bagi lingkungan, karena bersifat


tidak persisten. Hal ini karena minyak atsiri mudah terurai secara alami, sehingga
tidak tahan lama di air, udara, di dalam tanah, dan tubuh mamalia (Hartati, 2012)

Uji pestisida nabati minyak atsiri rimpang lengkuas menunjukkan bahwa


konsentrasi minyak atsiri 3% lebih efektif dibandingkan konsentrasi minyak atsiri
2% dan 1%. Hal ini dikarenakan persentase kematian konsentrasi 3% lebih besar
(96,7%) daripada konsentrasi 2% ( 70%) dan konsentrasi 1% (40%).Menurut
Priono (1999), bahwa insektisida nabati dengan pelarut air efektif jika hasilnya
mencapai 95% mematikan hama.
58

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil analisa GC-MS dari rimpang lengkuas (Alpinia


galanga) hasil hidrodestilasi dengan alat Stahl diperoleh komponen
senyawa utama yang terkandung di dalamnya adalah 1,8-Sineol (52,11%),
4-Allyphenil Asetat (13,13%), Eugenyl Asetat (8,79%), 1,6,10-
Dodecatriene,7,11-dimethyl-3-methylene (4,67%),-Pinen (4,01), 1-
Terpinen-4-ol (3,37%),Geranyl Asetat (3,27%), Metil Eugenol (2,82%),
Farnesyl Asetat (1,63%). Kadar minyak atsiri yang diperoleh dengan
metode hidrodestilasi adalah 0,43% dalam setiap 300 gram rimpang
lengkuas.
2. Minyak atsiri dengan konsentrasi 3% memiliki persentase kematian lebih
tinggi dibandingkan konsentrasi 2% dan 1% dengan persentase kematian
96,7%. Sehingga minyak atsiri rimpang lengkuas memiliki aktivitas
pestisida nabati yang efektif digunakan.

5.2. Saran
1. Perlu adanya uji pestisida minyak atsiri Alpinia galanga pada spesies
hama serangga yang lain.
2. Perlu adanya variasi konsentrasi lain yang digunakan untuk uji pestisida
nabati.
59

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S. 1985. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Universitas Terbuka


Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Jakarta: Penerbit
ITB
Borror, D. J, Triplehorn, C. A, Johnson, N. F. 1996. Pengenalan Pelajaran
Serangga. Edisike-6. Soetiyono P. penerjemah. Yogyakarta: Gajah Mada
Press. Terjemahan dari: AnIntroduction To The Study of Insects

Cabizzal, M. Angioni, A. Melis. Cabras, M. Tuberosa, CV. Cabraw. 2004.


Rotenone And Rotenoids In Cube, resins, Formulations, And Residues On
Olives. Journal Agric Food Chem, Volume 52 : 288-293

Dadang, 1999. Insect regulatory activity and active substancesof Indonesian


plants particularly to the diamondback moth. [disertasi]. Tokyo: Tokyo
University ofAgriculture

Georgopoulos. 1982. Fungicide Resistance in Crop Protection. Wageningen:


Centerfor Agricultural Publishing and Documentation

Deria,OD.O2011.OTanamanOLengkuas.Ohttp://desideria.blogspot.co.id/2011/09/
tanaman-lengkuas.html?m=1. Diakses pada tanggal 22 Februari 2017

Deptan.o2002.oPanduanoLalatoBuah.ohttp://www.deptan.go.id/ditlinhorti/makala
h/lalatbuah.htm. Diakses pada tanggal 3 Februari 2017

Djojosumarto, P. 2008. Pestisida dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Agromedia


Pustaka

Eaton, D.C. 1989. Laboratory Investigations In Organic Chemistry. USA:Mc-


Graw-Hill

Gerrits and Latum. 1988. Plant - Derived Pesticides in Developing Countries.


Ministry of Housing, Physical Planning and Environment (VROM)
60

Ginting, M. 1992. Sintesa Beberapa Senyawa Turunan Eugenol. [Tesis].


Bandung: ITB

Ginting, M., Pinem, D.A, dan Zuhra, C.F. 2016. Analisis Komponen Kimia, Uji
Aktivitas Antibakteri, Dan Uji Antioksidan Minyak Atsiri Daun Tahi
Ayam (Tagetes erecta L.), Prosiding Seminar Nasional Kimia dan
Pendidikan Kimia Medan, Hal: 133-139

Gritter, R.J. 1991. Pengantar Kromatografi. Terjemahan Kosasih Padmawinata.


Bandung: Penerbit ITB

Guenther, E. 1987. The Essential Oils. Terjemahan: Ketaren,R.S (1987). Minyak


Atsiri Jilid I. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hal 287-289

Gunawan, D dan Mulyadi, S. 2004. Ilmu Obat (Farmakognosi). Jilid I. Jakarta:


Penebar Swadaya

Hartati, S. Y. (2012). Prospek Pengembangan Minyak Atsiri sebagai Pestisida


Nabati. Perspektif, 11(1), 45-58.

Hastuti, D., Rusmana, Hasan, P., 2015. Uji Efektifitas Larutan Pestisida Nabati
Rimpang Lengkuas, Daun Serai, dan Daun Babadotan Pada Pengendalian
Hama Penghisap Buah (Helopeltis sp.) Of Cocoa Vol. 7, No. 2, p. 97 - 105

Indah, M. 2010. Isolasi Dan Analisis Kimia Dari Bunga Kecombrang (Etlingera
elatior) Dengan Gas Kromatografi-Spektometer Massa (GC-MS) Dan Uji
Aktivitas Antibakteri. [Tesis]. Medan : Universitas Sumatera Utara

Jimenez,oC.o2007.oPengertian0danooGolonganOOPestisida.Ohttps://independent
.academia.edu/cindyjimenez6. Diakses pada tanggal 28 Februari 2017

Kardinan, A., 2004. Pestisida Nabati Ramuan & Aplikasi. Jakarta: Penebar
Swadaya

Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta: Penerbit Balai


Pustaka
61

Kirana, G., Martanto, M., Ferdy, S. 2016. Bioaktifitas Senyawa 1,8 Sineol Pada
Minyak Atsiri.Universitas Kristen Satya Wacana: Salatiga

Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI- Press

Koensoemardiyah.2010. MinyakAtsiri untuk Industri Makanan, Kosmetik,


danAromaterapi.Yogyakarta: Penerbit Andi

Kusnaedi, 1996. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida. Bekasi: Penebar Swadaya

Kusnoputranto., 1996. Toksikologi Lingkungan. Jakarta: Pusat Penelitian Sumber


Daya Manusia Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Larasati, N. 2007. Karakterisasi Simplisia, Isolasi, Dan Analisis Komponen


Minyak Atsiri Buah Kemukus ( Cubebae fructus) Dari Wonosobo Dan
Padang Sidempuan Secara GC-MS. [Skripsi]. Medan : Universitas
Sumatera Utara

Lely, N., Nurhasana, F., dan Azizah, M. 2017. Aktivitas Antibakteri Minyak
Atsiri Rimpang Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K. Schum) Terhadap
Bakteri Penyebab Diare.Vol.7. No.1

Lutony, T. L, 1994. Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri. Bandung: PT.


Penebit Swadaya

Metcal, R.J. 1991. Chemical Ecology of Dacinae Fruit Flies


(Diptera_Tephritidae). Ann. Entomol. Soc. Am. 83 (6):1017-1030

Muhlisah, F. 1999. Temu-temuan dan Empon-empon, Budidaya dan Manfaatnya.


Cetakan 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Novalia. 2005. Uji Ekstrak Daun Mindi (Melia azedarach L.) Sebagai Insektisida
Nabati Terhadap Mortalitas Larva Spodoptera litura. [skripsi]. Gorontalo:
Fakultas Matematika dan IPA, Universitas Negeri Gorontalo
62

Saragih, M. 2008. Identifikasi Komponen Kimia Minyak Atsiri Buah


Kecombrang (etlingera elatior) Dan Uji Aktivitas Antioksi Dan Minyak
Atsiri Serta Ekstrak Air Dan Ekstrak Etanol Dengan Metode DPPH.
[Skripsi]. Medan : Universitas Sumatera Utara

Suryani, F. 2010. Analisis Gas Kromatografi-Spektrometer Massa (Gc-Ms) Dari


Kemenyan Sumatera Dengan Teknik Asap Cair Dan Esterifikasi. [Tesis].
Medan : Universitas Sumatera Utara

Oka, M dan Fanny, S. 2008. Isolasi Dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri
Dari Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga L.). Universitas Udayana.
Vol.2. No.2

Pasto, D.J. 1992. Experiment and Techniques in Organic Chemistry. New Jersey.
Prentice Hall

Prasodjo, B. (1984). Petunjuk Penggunaan Pestisida. Jakarta: Penebar Swadaya

Priono. 1999. Prospek dan Strategi Pemanfaatan Insektisida Alami dalam PHT.
Pusat Kaian PHT, Bogor. Rafael MS, Rojas H, Roper JJ, Nunomura SM,
Tadei WP. 2008. Potential Control of Aedes Aegypti (Diptera : Culicidae)
With Piper Aduncum L (Piperaceae) Extracts Demonstrant by
Chromosomal Biomarkers and Toxic Effects on Interphase Nuclei.

Rohman, A. 2009. Kimia Farmasi Analis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sastrohamidjojo, H. 2004. Kimia Minyak Atsiri. Jakarta : Gadjah Mada


University Press

Shara, Y. 2012. Analisis Komponen Kimia Dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak
Atsiri Bunga Tembelekan (Lantana camara L). [Skripsi]. Medan :
Universitas Sumatera Utara

Siahaan, L. 2012. Analisis Komponen Kimia Minyak Atsiri Rimpang Jahe Merah
(Zingiber officinale var. amarum) dengan GC-MS dan Uji Antioksidan
Menggunakan Metode DPPH. [Skripsi]. Medan : Universitas Sumatera
Utara
63

Sinaga,E. 2009. Alpinia galangal (L).Wild. http://ulsm.org/v12/artikel/ttg-


tanaman-obat/lunas/Lengkuas.pdf. Diakses pada tanggal 14 Februari 2017

Siwi S.S, Hidayat P, Suputa. 2006. Taksonomi dan Bioekologi Lalat Buah Penting
di Indonesia (Diptera: Tephritidae). Bogor: Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Skoog, D. A. 1991. Principles of Instrumental Analysis. Brooks Cole.USA

Sudarmo,S. and Sri M. 2014. Mudah Membuat Pestisida Nabati Ampuh.Jakarta:


PT Agro Media Pustaka

Sudjadi, M.S. 1983. Penentuan Struktur Senyawa Organik. Jakarta: Ghalia


Indonesia

Sudrajat.1999. Uji Toksisitas Ekstrak Kasar Biji Bengkuang (Pachyrhizus


erosus), Biji Selasih (Occimum basilicum) dan Rimpang Bangle (Zingiber
cassumunar). J. Agrik.10, 25-29

Untung, K. 2001. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Yogyakarta : Gadjah


iiMada University Press

Vivit, N.2011. Siklus Hidup Dropshila melanogaster. Universitas Agama Islam


Negeri: Cirebon

Wilbraham, A., & Matta, M. (1992). Pengantar Kimia Organik dan Hayati. In S.
A., Introduction to Organic and Biological Chemistry. Bandung: Penerbit
ITB

Wudianto,R. 2010. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Jakarta: Penebar Swadaya

Yudotomo, R.2002. https://independent.academia.edu/royyudotomo. Diakses pada


tanggal 15 Juni 2017

Yulia, 2011. Sintesis Metil Eugenol Melalui Eterifikasi Metil Nitrat Dengan
Eugenol Hasil Isolasi Dari Minyak Cengkeh. [Skripsi]. Medan :
Universitas Sumatera Utara
64

LAMPIRAN
65

Lampiran 1. Perhitungan Konsentrasi Minyak Atsiri

1. Konsentrasi 1%
V1 x N1= V2 x N2
V1 x 100% = 50 mL x 1%
V1 = 0,5 mL

2. Konsentrasi 2%
V1 x N1= V2 x N2
V1 x 100% = 50 mL x 2 %
V1 = 1 mL

3. Konsentrasi 3%
V1 x N1= V2 x N2
V1 x 100% = 50 mL x 3%
V1 = 1,5 mL

Lampiran 2. MortalitasBactrocera sp.

1. Mortalitas Harian


= 100%

Keterangan:
MH : Mortalitas Harian
x : Jumlah lalat buah yang diuji
y : Jumlah lalat buah yang masih hidup

Konsentrasi MA 1%

3029
= 100% = 3,3%
30
Konsentrasi MA 2%
30 27
= 100% = 10%
30

Konsentrasi MA 3%

30 25
= 100% = 16,7%
30

Kontrol
66

30 30
= 100% = 0%
30
Data Pengamatan

1. Hari/ Tanggal : Jumat/ 21 April 2017


Pukul : 08.00 WIB
Tabel Pengamatan Hari I

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% - - 1 1 3,3 %
2. MA 2% 1 1 1 3 10 %
3. MA 3% 2 1 2 5 16,7 %
4. Kontrol - - - - -

2. Hari/ Tanggal : Sabtu/ 22 April 2017


Pukul : 08.00 WIB
Tabel Pengamatan Hari II

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% 1 1 - 2 6,7 %
2. MA 2% - 1 2 3 10 %
3. MA 3% - 1 2 3 10 %
4. Kontrol - - - - -

3. Hari/ Tanggal : Minggu/ 23 April 2017


Pukul : 08.00 WIB
Tabel Pengamatan Hari III

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% 1 1 - 2 6,7 %
2. MA 2% 1 - 2 3 10 %
3. MA 3% 1 2 2 5 16,7 %
4. Kontrol - - - - -
4. Hari/ Tanggal : Senin/ 24 April 2017
Pukul : 08.00 WIB
Tabel Pengamatan Hari IV
67

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% 1 - 1 2 6,7 %
2. MA 2% 1 2 1 4 13,3 %
3. MA 3% 1 4 1 6 20%
4. Kontrol - - - - -

5. Hari/ Tanggal : Selasa/ 25 April 2017


Pukul : 08.00 WIB
Tabel Pengamatan Hari V

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% 1 - 1 2 6,7 %
2. MA 2% - - 1 1 3,3 %
3. MA 3% 2 2 - 4 13,3 %
4. Kontrol - - - - -

6. Hari/ Tanggal : Rabu/ 26 April 2017


Pukul : 08.00 WIB
Tabel Pengamatan Hari VI

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% - 1 1 3 6,7 %
2. MA 2% 1 1 1 3 6,7 %
3. MA 3% 2 1 1 4 13,3 %
4. Kontrol 1 1 - 2 6,7 %
68

7. Hari/ Tanggal : Kamis/ 27 April 2017


Pukul : 08.00 WIB
Tabel Pengamatan Hari VII

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% - - 1 1 3,3 %
2. MA 2% 1 2 1 4 13,3 %
3. MA 3% 1 - 1 2 10 %
4. Kontrol - - 1 1 3,3 %

2. Mortalitas Total


= 100%

Keterangan:
MT : Mortalitas Total
x : Jumlah lalat buah yang diuji
y : Jumlah lalat buah yang mati

Konsentrasi MA 1%

12
= 30 100% = 40%
Konsentrasi MA 2%
21
= 100% = 70%
30

Konsentrasi MA 3%

29
= 100% = 96,7%
30
Kontrol

4
= 100% = 13,3%
30
69

Tabel Mortalitas Total Bactrocera sp.

Masing-masing Mortalitas Total Mortalitas Persentase


No. Sampel
Lalat Buah Lalat Buah (%)
A B C
1. MA 1% 4 3 5 12 40%
2. MA 2% 5 7 9 21 70%
3. MA 3% 9 10 10 29 96,7%
4. Kontrol 2 1 1 4 13,3%
70

Lampiran 3. Dokumentasi Penelitian

Alat Stahl Minyak Atsiri Lengkuas

Pestisida Minyak Atsiri Perbanyakkan Serangga Uji

Wadah Pengujian Bactrocera sp. Lalat buah yang sudah mati


71

Lampiran 4. Spektrum GC-MS senyawa-Pinen


72

Lampiran 5. Spektrum GC-MS senyawa -Pinen


73

Lampiran 6. Spektrum GC-MS senyawa - Myrcene


74

Lampiran 7. Spektrum GC-MS senyawa 1,8- Sineol


75

Lampiran 8. Spektrum GC-MS senyawa- Terpinen


76

Lampiran 9. Spektrum GC-MS senyawa1-Terpinen-4-ol


77

Lampiran 10. Spektrum GC-MS senyawa Bornyl Asetat


78

Lampiran 11. Spektrum GC-MS senyawa Trans- Carvyl Asetat


79

Lampiran 12. Spektrum GC-MS senyawa 4- Allyphenil Asetat


80

Lampiran 13. Spektrum GC-MS senyawa Geranyl Asetat


81

Lampiran 14. Spektrum GC-MS senyawa Metil Eugenol


82

Lampiran 15. Spektrum GC-MS senyawa Caryophyllen


83

Lampiran 16. Spektrum GC-MS senyawa - Bergamotene


84

Lampiran 17. Spektrum GC-MS senyawa1,6,10-Dodecatriene,7,11-dimethyl-


3-methylene
85

Lampiran 18. Spektrum GC-MS senyawa - Selinen


86

Lampiran 19. Spektrum GC-MS senyawa Pentadecane


87

Lampiran 20. Spektrum GC-MS senyawa -Bisabolen


88

Lampiran 21. Spektrum GC-MS senyawa Eugenil Asetat


89

Lampiran 22. Spektrum GC-MS senyawa Benzeneacetic Acid


90

Lampiran 23. Spektrum GC-MS senyawa Xexadecane


91

Lampiran 24. Spektrum GC-MS senyawa Farnesyl Asetat