Anda di halaman 1dari 16

Makalah Manajemen Piutang

Posted on Februari 11, 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penjualan barang atau jasa adalah merupakan sumber pendapatan perusahaan.


Dalam melaksanakan penjualan kepada para konsumen,perusahaan dapat
melakukannya secara tunai atau secara kredit. Sudah barang tentu perusahaan akan
lebih menyukai jika transaksi penjualan dapat dilakukan secara tunai, karena
perusahaan akan segera menerima kas dan kas tersebut dapat segera digunakan
kembali untuk mendatangkan pendapatan selanjutnya. Di pihak lain para konsumen
umumnya lebih menyukai bila perusahaan dapat melakukan penjualan secara
kredit, karena pembayaran dapat ditunda. Dalam kenyataannya, penjualan kredit
pada kebanyakan menimbulkan adanya piutang atau tagihan. Transaksi kreditpaling
sedikit melibatkan dua pihak kreditur, yaitu pihak yang menjualbarang atau jasa dan
memperoleh piutang, dan debitur yaitu pihak yang melakukan pembelian dan
menjadikan utang.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka dirumuskanlah beberapa masalah dibawah ini :

1) Apa yang dimaksud dengan piutang?

2) Apa saja ruang lingkup manajemen piutang?

3) Apa saja jenis piutang?

1.3 Tujuan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1) Untuk mengetahui pengertian piutang

2) Untuk mengetahui ruang lingkup manajemen piutang


3) Untuk mengetahui jenis piutang

1.4 Manfaat

1) Memahami lebih dalam mengenai piutang dan berbagai konsep didalamnya

2) Mendapatkan panduan dalam pengaplikasian cara pengendalian piutang

3) Menjadi bahan referensi dalam tulisan yang berkaitan dengan manajemen


piutang

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Piutang

Piutang merupakan salah satu unsur dari aktiva lancar dalam neraca perusahaan
yang timbul akibat adanya penjualan barang dan jasa atau pemberian kredit
terhadap debitur yang pembayaran pada umumnya diberikan dalam tempo 30 hari
(tiga puluh hari) sampai dengan 90 hari (sembilan puluh hari). Dalam arti luas,
piutang merupakan tuntutan terhadap pihak lain yang berupa uang, barang-barang
atau jasa-jasa yang dijual secara kredit. Piutang bagi kegunaan akuntansi lebih
sempit pengertiannya yaitu untuk menunjukkan tuntutan-tuntutan pada pihak luar
perusahaan yang diharapkan akan diselesaikan dengan penerimaan jumlah uang
tunai.

Pada umumnya piutang timbul akibat dari transaksi penjualan barang dan jasa
perusahaan, dimana pembayaran oleh pihak yang bersangkutan baru akan dilakukan
setelah tanggal transaksi jual beli. Mengingat piutang merupakan harta perusahaan
yang sangat likuid maka harus dilakukan prosedur yang wajar dan cara-cara yang
memuaskan dengan para debitur sehingga perlu disusun suatu prosedur yang baik
demi kemajuan perusahaan.

Piutang dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu piutang usaha dan piutang
lain-lain.
Menurut Soemarso piutang usaha adalah atau penyerahan aktiva atau jasa lain
kepada pihak dengan siapa ia berpiutang:Perusahaan mempunyai hak klaim
terhadap seseorang atau perusahaan lain dengan adanya hak klaim ini perusahaan
dapat menuntut pembayaran dalam bentuk uang.

Piutang usaha menunjukkan klaim yang akan dilunasi dengan uang yang tidak
didukung dengan janji tertulis yang timbul dari penjualan barang-barang atau jasa-
jasa yang dihasilkan perusahaan. Piutang usaha meliputi piutang yang timbul karena
penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal
perusahaan. Piutang usaha adalah tagihan yang tidak didukung dengan janji tertulis
yang hanya dilengkapi oleh surat jalan, faktur/tanda terima lainnya yang telah
ditandatangani oleh debitur sehingga pernyataan telah menerima barang ada
didalam surat-surat tersebut.

Selain itu pengertian piutang yang pada umumnya digolongkan dalam aktiva lancar
yang berarti bahwa tagihan-tagihan pada pihak lain yang nantinya akan diminta
pembayarannya dalam jangka waktu yang tidak lama (kurang dari satu tahun) yang
biasanya digolongkan dalam piutang jangka pendek.

Piutang usaha jangka pendek dapat dibagi atas dua yaitu:

1) Piutang usaha/piutang terhadap langganan

Piutang usaha/piutang terhadap langganan dalam perkiraan piutang usaha dicatat


sebagai tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang merupakan usaha
perusahaan yang normal/kurang dari 1 tahun, disajikan dalam neraca sebagai aktiva
lancar, tetapi apabila telah lebih dari jangka waktu 1 tahun maka akan dilaporkan
sebagai aktiva tidak lancar. Jadi tagihan kepada langganan yang biasanya disebut
piutang dagang adalah tuntutan keuangan terhadap pihak lain baik perorangan
maupun organisasi-organisasi atau debitur-debitur lainnya.

2) Piutang yang akan diterima

Piutang yang akan diterima merupakan kontrak prestasi yang sebenarnya sudah
menjadi hak perusahaan, akan tetapi belum/tidak saatnya untuk diterima, piutang ini
timbul pada suatu akhir periode dimana sebenarnya tagihan tersebut akan diterima
pada periode yang akan datang.

Adapun hal-hal yang termasuk dalam piutang yang akan diterima adalah:

a) Bunga yang masih harus diterima yang timbul dari aktiva yang dimiliki
perusahaan, seperti wesel tagih dan bon.

b) Piutang sewa yang masih harus diterima yang timbul dari hasil penyewaan,
seperti gedung, mobil dan alat-alat besar lainnya.
c) Pendapatan piutang merupakan pendapatan yang akan diterima sebagai hasil
investasi dalam perusahaan.

Penggolongan piutang dan umur piutang dapat digolongkan ke dalam 4 jenis, yaitu:

a) Piutang lancar adalah piutang yang diharapkan tertagihnya dalam 1 tahun atau
siklus usaha normal

b) Piutang tidak lancar adalah tagihan/piutang yang tidak dapat ditagih dalam
jangka waktu 1 tahun

c) Piutang yang dihapuskan adalah suatu tagihan yang tidak dapat ditagih lagi
dikarenakan pelanggan mengalami kerugian/bangkrut (tidak tertagih)

d) Piutang dicadangkan adalah tagihan yang disisihkan sebelumnya untuk


menghindari piutang tidak tertagih

2.2 Ruang Lingkup Manajemen Piutang

Piutang merupakan aktiva lancar yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas
dalam waktu satu tahun atau dalam satu periode akuntansi. Piutang pada umumnya
timbul dari hasil usaha pokok perusahaan. Namun selain itu, piutang juga dapat
ditimbulkan dari adanya usaha dari luar kegiatan pokok perusahaan.

Warren Reeve dan Fess mengklasifikasikan piutang kedalam tiga kategori yaitu
piutang usaha, wesel, tagih, dan piutang lain-lain

sebagai berikut :

1. Piutang Usaha

Piutang usaha timbul dari penjualan secara kredit agar dapat menjual lebih banyak
produk atau jasa kepada pelanggan. Transaksi paling umum yang menciptakan
piutang usaha adalah penjualan barang dan jasa secara kredit. Piutang tersebut
dicatat dengan mendebit akun piutang usaha. Piutang usaha semacam ini normalnya
diperkirakan akan tertagih dalam periode waktu yang relative pendek, seperti 30
atau 60 hari. Piutang usaha diklasifikasikan di neraca sebagai aktiva lancar.

1. Wesel Tagih

Wesel tagih adalah jumlah yang terutang bagi pelanggan di saat perusahaan telah
menerbitkan surat utang formal. Sepanjang wesel tagih diperkirakan akan tertagih
dalam setahun. Maka biasanya diklasifikasikan dalam neraca sebagai aktiva lancar.
Wesel biasanya digunakan untuk periode kredit lebih dari 60 hari. Wesel bisa
digunakan untuk menyelesaikan piutang usaha pelanggan. Bila wesel tagih dan
piutang usaha berasal dari transaksi penjualan maka hal itu kadang-kadang disebut
piutang dagang

1. Piutang lain-lain

Piutang lain-lain biasanya disajikan secara terpisah dalam neraca. Jika piutang ini
diharapkan akan tertagih dalam satu tahun, maka piutang tersebut diklasifikasikan
sebagai aktiva lancar. Jika penagihannya lebih dari satu tahun maka piutang ini
diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar dan dilaporkan dibawah judul investasi.
Piutang lain-lain meliputi piutang bunga, piutang pajak, dan piutang dari pejabat
atau karyawan perusahaan.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Piutang Usaha

Menurut Bambang Riyanto, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi piutang usaha


adalah sebagai berikut:

a) Volume Penjualan Kredit

Makin besar proporsi penjualan kredit dari total penjualan maka jumlah investasi
dalam piutang juga demikian. Artinya, perusahaan harus menyediakan investasi
yang lebih besar dalam piutang dan meski berisiko semakin besar, profitabilitasnya
juga akan meningkat

b) Syarat Pembayaran Penjualan Kredit

Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila
perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat artinya keselamatan kredit
lebih diutamakan dari profitabilitasnya. Syarat pembayaran yang ketat antara lain
tampak dari batas waktu pembayaran yang pendek atau pembebanan bunga yang
berat untuk pembayaran piutang terlambat. Umumnya, syarat pembayaran penjualan
kredit dinyatakan dengan term tertentu, misalnya 2/10 net 30. Ini berarti apabila
pembayaran dilakukan dalam waktu 10 hari sesudah waktu penyerahan barang, si
pembeli akan mendapatkan potongan tunai sebesar 2% dari harga penjualan, dan
pembayaran selambat-lambatnya dilakukan dalam waktu 30 hari sesudah waktu
penyerahan barang.

c) Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit

Dalam penjualan secara kredit, perusahaan dapat menetapkan batas maksimal bagi
kredit yang diberikan kepada para pelanggan. Makin tinggi batas waktu yang
diberikan kepada pelanggan, makin besar pula dana yang diinvestasikan kedalam
piutang.

d) Kebijakan dalam Penagihan Piutang


Kebijakan dalam menagih piutang, secara aktif ataupun pasif, dapat dilakukan oleh
perusahaan. Perusahaan yang menjalankan kebijakan aktif dalam menagih piutang
akan mempunyai pengeluaran dana yang lebih besar untuk membiayai aktivitas ini,
namun dapat memperkecil resiko tidak tertagihnya piutang. Perusahaan juga
berharap agar pelanggan menyetor pembayaran hutang tepat waktu. Kebijakan ini
ditempuh dengan cara:

a. Memungut secara langsung

b. Memberi peringatan dengan mengirim surat kepada pelanggan.

e) Kebiasaan Pembayaran Pelanggan

Sebagian pelanggan mempunyai kebiasaan membayar dengan menggunakan


kesempatan mendapatkan cash discount, sedang sebagian lagi tidak demikian.
Setelah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi piutang usaha, alangkah lebih
baik perusahaan memperhatikan faktor-faktor tesebut dengan mengelola piutang
usaha secara efektif dan efisien.

4. Manajemen Piutang Usaha

Piutang yang diberikan perusahaan kepada para langganannya diharapkan dapat


tertagih tepat pada waktunya, akan tetapi ada kalanya piutang tidak dapat ditagih
kembali. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, perusahaan perlu mengelola
piutang.

Menurut Ridwan S.Sunjaya pada umumnya manajer keuangan langsung mengawasi


piutang usaha melalui keterlibatannya dalam pengelolaan:

a) Kebijakan kredit

1) Seleksi dalam pemberian kredit

Seleksi dalam pemberiaan kredit adalah suatu keputusan dimana


seseorang/perusahaan akan memberikan kredit kepada pelanggannya dan berapa
besar kredit yang akan diberikan.

5-K dalam kredit

Lima dimensi utama yang sering digunakan oleh analis kredit perusahaan untuk
menganalisa kemampuan pemohon kredit

yaitu:
* Karakater

Meneliti dan memperhatikan sifat pribadi, cara hidup dan status sosial. Hal ini
penting karena berkaitan dengan kemauan untuk membayar.

* Kemampuan

Meneliti kemampuan pimpinan perusahaan beserta stafnya dalam meraih penjualan


ataupun pendapatan yang dapat diukur dari penjualan yang dicapai pada masa lalu.
Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk membayar.

* Kapital

Mengukur posisi keuangan secara umum dengan memperhatikan kapital/modal


yang dimiliki perusahaan juga perbandingan hutang dan capital.

* Kolateral

Mengukur besarnya aktiva yang akan diikatkan sebagai kolateral atas kredit.

* Kondisi

Memperhatikan kondisi perekonomian serta kecenderungan perekonomian yang


akan mempengaruhi terhadap jalannya usaha perusahaan.

> Memperoleh informasi kredit

Jika pelanggan ingin mengetahui persyaratan kredit, biasanya bagian kredit akan
memberikan formuilir yang harus diisi tentang keuangan, informasi kredit dan
referensi. Melalui permohonan tersebut, perusahaan memperoleh informasi
tambahan dari sumber lain. Jika perusahaan sudah pernah memberikan kredit
kepada pemohon maka perusahaan mempunyai sejarah dari informasi
pembayarannya.

> Menganalisa informasi kredit

Perusahaan menyusun prosedur khusu untuk digunakan dalam analisa


kredit/evaluasi pemohon kredit. Seringkali perusahaan tidak hanya harus menetukan
kemampuan kredit dari pelanggan, tetapi juga harus memperkirakan jumlah
maksimum kredit yang akan diberikan.

1) Standar kredit

Standar kredit adalah persyaratan minimum untuk memberikan kredit kepada


pelanggan. Hal-hal lain seperti nama baik langganan sehubungan dengan kredit atau
pembayaran utang-utang dagangnya baik kepada perusahaan sendiri maupun kepada
perusahaan lain, referensi kredit, rata-rata jangka waktu pembayaran utang dagang
dan beberapa ratio financial tertentu dari perusahaan langganan akan dapat
memberikan suatu dasar penilaian bagi perusahaan sebelum memberikan atau
melakuakn penjualan kredit

2) Persyaratan kredit

Persyaratan kredit adalah syarat pembayaran yang dibutuhkan bagi pelanggan.


Misalnya, syarat kredit dinyatakan seperti 2/10 net 30 artinya pembeli menerima
potongan sebesar 2% bila pembayaran paling lambat dilakukan dalam waktu 30 hari
setelah awal periode kredit. Tetapi jika pelanggan tidak mengambil diskon tunai
maka keseluruhan pembayaran harus dilakukan dalam waktu 30 hari setelah awal
periode kredit.

b) Kebijakan penagihan piutang

Kebijakan penagihan piutang adalah sekumpulan prosedur penagihan suatu piutang


dagang pada saat jatuh tempo. Perusahaan harus berhati-hati untuk tidak terlalu
agresif dalam usaha-usaha mengumpulkan piutang dari para langganannya.
Bilamana langganan tidak dapat membayar tepat pada waktunya maka sebaiknya
perusahaan menunggu sampai suatu jangka waktu tertentu dianggap wajar sebelum
menerapkan prosedur-prosedur pengumpulan piutang. Sejumlah teknik
pengumpulan piutang yang biasanya dilakukan oleh perusahaan bilamana langganan
atau pembeli belum membayar sampai dengan waktu yang telah ditentukan adalah
sebagai berikut:

1. Melalui surat

2. Melalui telepon

3. Melalui kunjungan personal

4. Tindakan yuridis.

Berdasarkan uraian di atas diharapkan perusahaan dapat meminimumkan jumlah


piutang yang tidak tertagih sehingga menuntut perusahaan untuk memiliki
manajemen piutang yang baik. Manajemen piutang tersebut diharapkan dapat
menetapkan kebijakan-kebijakan yang dapat dijadikan pedoman dalam
pengendalian piutang.

5. Perputaran Piutang

Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungan yang erat
dengan volume penjualan kredit, karena timbulnya piutang disebabkan oleh
penjualan barang-barang secara kredit dan hasil dari penjualan secara kredit netto
dibagi dengan piutang rata-rata merupakan perputaran piutang.
Nilai dari perputaran piutang tergantung dari syarat pembayaran piutang tersebut.
Makin lunak atau makin lama syarat pembayaran yang ditetapkan berarti makin
lama modal terikat dalam piutang. Mengenai perputaran piutang.

Pendapat mengenai perputaran piutang menurut Drs. Munawir mengatakan bahwa:


Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai dengan
menghitung tingkat perputaran piutang turn over receivable yaitu, dengan
membagi total penjualan kredit neto dengan piutang rata-rata.

Menurut Warren Reeve perputaran piutang adalah Usaha (account receivable


turn over) untuk mengukur seberapa sering piutang usaha berubah menjadi kas
dalam setahun.

Dari dua pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa perputaran piutang itu
ditentukan dua faktor utama, yaitu penjualan kredit dan rata-rata piutang. Rata-rata
piutang dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan piutang awal periode dengan
piutang akhir periode dibagi dua. Adakalanya angka penjualan kredit untuk suatu
periode tertentu tidak dapat diperoleh sehingga yang digunakan sebagai penjualan
kredit adalah angka total penjualan.

Dari uraian di atas maka perputaran piutang dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dari definisi dapat diketahui bahwa rasio perputaran yang tinggi mencerminkan
kualitas piutang yang semakin baik. Tinggi rendahnya perputaran piutang
tergantung pada besar kecilnya modal yang diinvestasikan dalam piutang. Makin
cepat perputaran piutang berarti semakin cepat modal kembali. Tingkat perputaran
piutang suatu perusahaan dapat menggambarkan tingkat efisiensi modal perusahaan
yang ditanamkan dalam piutang, sehingga makin tinggi perputaran piutang berarti
makin efisien modal yang digunakan.

Selain perputaran piutang yang digunakan sebagai indikator terhadap efisien atau
tidaknya piutang, ada indikator lain yang cukup penting yaitu jika waktu rata-rata
pengumpulan piutang (average collection periode). Jangka waktu pengumpulan
piutang adalah angka yang menunjukkan waktu rata-rata yang diperlukan untuk
menagih piutang.

Perumusan dari uraian di atas adalah sebagai berikut:

Jumlah hari penjualan dalam piutang memberi tolak ukur mengenai lamanya waktu
piutang dagang yang beredar. Semakin besar rasio umur piutang, semakin besar
kemungkinan rasio tidak tertagihnya piutang.

Perubahan rasio antara penjualan kredit dan rata-rata piutang disebabkan oleh
banyak hal. Munawir mengemukakan bahwa faktor-faktor penyebabnya adalah
sebagai berikut:

1. Turunnya penjualan dan naiknya piutang


2. Turunnya piutang dan diikuti turunnya penjualan dalam jumlah yang lebih besar

3. Naiknya penjualan diikuti naiknya piutang dalam jumlah yang lebih besar

4. Turunnya penjualan dengan piutang yang tetap

5. Naiknya piutang sedangkan penjualan tidak berubah.

Terlepas dari hal-hal tersebut diatas, dalam piutang, resiko kerugian akibat piutang
yang tidak dapat diterima pembayarannya selalu ada. Ada dua metode penyisihan
piutang yaitu :

a) Metode penghapusan langsung

Dalam metode ini kerugian piutang yang tidak bisa ditagih, dicatat langsung pada
periode saat terjadinya penghapusan piutang dengan perkiraan debet beban
penghapusan piutang dan kredit perkiraan piutang dagang.

b) Metode Penyisihan/cadangan.

Ada metode ini, setiap akhir periode dilakukan penaksiran terhadap piutang yang
dimiliki perusahaan, sehingga diperoleh taksiran dari piutang yang disangsikan
dapat diterima pembayarannya. Taksiran ini dicatat pada perkiraan debet beban
piutang dan kredit pada perkiraan penyisihan piutang.

Jumlah taksiran kerugian piutang dapat ditetapkan atas dasar :

1) Atas dasar jumlah penjualan

Piutang terjadi karana akibat dari penjualan kredit maka taksiran menhunakan
jumlah penjualan selama periode bersangkutan. Yaitu dengan membandingkan
kerugian piutang yang sebenarnya terjadi dengan total pejualan kemudian
dilakukan perubahan-perubahan atas kemungkinan yang akan datang. Biasanya
dalam bentuk persentase.

2) Atas dasar saldo piutang

Jumlah ini dihitung dengan cara mengalikan suatu persentase tertentu dengan saldo
piutang pada akhir periode. Dengan demikian yang dijadikan dasar adalah jumlah
piutang dagang yang dimiliki perusahaan pada akhir periode.

3) Atas dasar analisis usia piutang

Penerapan metode ini pada dasarnya sama dengan penentuan taksiran kerugian
piutang atas dasar saldo piutang, metode ini dikelompokan menjadi kelompok
piutang yang belum jatuh tempo, dan kelompok yang telah jatuh tempo. Sedangkan
kelompok yang telah jatuh tempo dikelompokkan atas dasar lamanya jatuh tempo.
Lamanya tunggakan, dihitung dari tanggal jatuh tempo piutang sampai tanggal 31
Desember.

6. Resiko Kerugian Piutang

Setiap usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan akan mengandung resiko
yang tidak dapat dihindari. Dalam hal ini resiko hanya bisa dikendalikan agar
berada dalam batas yang wajar. Resiko yang timbul karena transaksi penjualan
secara kredit disebut resiko kerugian piutang.

Menurut S.Munawir berpendapat bahwa : Semakin besar suatu perusahaan semakin


besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Dan kalau perusahaan
tidak membuat cadangan terhadap kemungkinan kerugian yang timbul karena tidak
tertagihnya piutang berarti perusahaan telah memperhitungkan labanya terlalu
besar.

Resiko kerugian piutang terdiri dari beberapa macam yaitu :

a) Resiko tidak dibayarnya seluruh tagihan (Piutang)

Resiko ini terjadi jika jumlah piutang tidak dapat direalisasikan sama sekali. Hal ini
bisa disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya karena seleksi yang kurang baik
dalam memilih langganan sehingga perusahaan memberikan kredit kepada
langganan yang tidak potensial dalam membayar tagihan, juga dapat terjadi adanya
stabilitas ekonomi dan kondisi negara yang tidak menentu sehingga piutang tidak
dapat dikembalikan.

b) Resiko tidak dibayarnya sebagian piutang

Hal ini akan mengurangi pendapatan perusahaan, bahkan bisa menimbulkan


kerugian bila jumlah piutang yang diterima kurang dari harga pokok barang yang
dijual secara kredit.

c) Resiko keterlambatan pelunasan piutang

Hal ini akan menimbulkan adanya tambahan dana atau untuk biaya penagihan.
Tambahan dana ini akan menimbulkan biaya yang lebih besar apabila harus
dibelanjai oleh pinjaman.

d) Resiko tidak tertanamnya modal dalam piutang

Resiko ini terjadi karena adanya tingkat perputaran piutang yang rendah sehingga
akan mengakibatkan jumlah modal kerja yang tertanam dalam piutang semkin besar
dan hal ini bisa mengakibatkan adanya modal kerja yang tidak produktif.

2.3 Jenis Piutang


1. Piutang Dagang adalah jumlah yang terutang oleh pelanggan untuk barang dan
jasa yang telah diberikan sebagai bagian dari operasi bisnis normal. Piutang dagang
biasanya yang paling signifikan yang dimiliki perusahaan. Piutang dagang dapat
digolongkan sebagai berikut :

2. Piutang Usaha merupakan jumlah yang dibayarkan oleh pelanggan atas penjualan
barang dan jasa dalam kegiatan usaha normal. Waktu pembayaran piutang usaha
pada umumnya antara 30-60 hari. Pemberian kredit ini dilakukan dengan perjanjian
informal antara penjual dan pembeli yang didukung oleh dokumen-dokumen
perusahaan, seperti faktur pesanan penjualan dan kontrak penyerahan. Biasanya
piutang dagang dikenakan biaya, walaupun ada kemungkinan bunga ataupun beban
ditambahkan jika pembayaran tidak dilakukan dalam satu periode yang telah
ditentukan yaitu periode dimana debitur wajib melunasi hutangnya, b. Wesel Tagih
(Notes Receivable) adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu
pada tanggal tertentu di masa depan. Wesel tagih dapat berasal dari penjualan,
pembiayaan ataupun transaksi lainnya. Tetapi wesel tagih kebanyakan berasal dari
transaksi peminjaman uang yaitu dengan diberikannya trade receivable dengan
disertai wesel. Wesel tagih bisa bersifat jangka panjang.

3. Piutang Non Dagang adalah semua piutang yang timbul dari transaksi-
transaksi yang secara tidak langsung berhubungan dengan penjualan barang atau
penyerahan jasa yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk diantaranya :

a. Piutang yang timbul dari transaksi pinjaman, seperti piutang kepada perusahaan
afiliasi, piutang karyawan,

b. Piutang kepada perusahaan asuransi, atas kerugian-kerugian yang


dipertanggungjawabkan.

c. Piutang pajak yang disetor.

d.Piutang yang timbul dari pesanan atas penjualan atau penerbitan surat-surat
berharga atau sekuritas seperti piutang saham, piutang pemesa surat utang obligasi.

e. Piutang yang timbul dan merupakan fungsi waktu dan piutang pendapatan seperti
piutang bunga, sewa, dividen, royalitas.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Piutang adalah tagihan kepada pihak lain dimasa yang akan datang karena
terjadinya transaksi dimasa lalu. Piutang, salah satu jenis transaksi akutansi yang
mengurusi penagihan konsumen yang berhutang pada seseorang, suatu perusahaan,
atau suatu organisasi untuk barang dan layanan yang telah diberikan pada konsumen
tersebut. Kebijaksanaan kredit (standar kredit/kualitas rekening yang diterima,
jangka waktu/periode kredit yang diberikan, discount/potongan tunai yang diberikan
untuk pembayaran yang lebih awal.

Piutang usaha jangka pendek dapat dibagi atas dua yaitu:

a) Piutang usaha/piutang terhadap langganan

b) Piutang yang akan diterima

faktor-faktor yang dapat mempengaruhi piutang usaha adalah sebagai berikut:

a) Volume Penjualan Kredit

b) Syarat Pembayaran Penjualan Kredit

c) Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit

d) Kebijakan dalam Penagihan Piutang


e) Kebiasaan Pembayaran Pelanggan

Resiko kerugian piutang terdiri dari beberapa macam

yaitu :

a. Resiko tidak dibayarnya seluruh tagihan (Piutang)

b. Resiko tidak dibayarnya sebagian piutang

c. Resiko keterlambatan pelunasan piutang

d. Resiko tidak tertanamnya modal dalam piutang

3.2 Saran

Adapun saran yang ingin penulis sampaikan adalah keinginan penulis atas
partisipasi pembaca, agar sekiranya mau memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kemajuan penulisan makalah ini. Kami sadar bahwa penulis
adalah manusia yang pasti nya mmiliki kesalahan. Oleh karena itu, dengan adanya
kritik dan saran dari pembaca, penulis bisa mengkoreksi diri dan menjadikan
makalah kedepan menjadimakalahyang lebih baik lagi dan dapat memberikan
manfaat yang lebih bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2061522-pengertian-
piutang/

http://www.getbookee.org/ruang-lingkup-manajemen-piutang/
http://id.shvoong.com/business-management/accounting/2174446-definisi-
pengertian-piutang-dan-jenis/