Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

KOMUNIKASI GELOMBANG MIKRO

MODUL I : KONFIGURASI TRANSMISSION ANALYSIS


DENGAN PATHLOSS 5.0

Oleh :
Iman Noor Shofi
NIM 13101019

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK TELEKOMUNIKASI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA
PURWOKERTO
2016
MODUL I
KONFIGURASI TRANSMISSION ANALYSIS DENGAN PATHLOSS 5.0

I. DASAR TEORI
1.1. Sistem Transmisi Gelombang Mikro (Microwave)
Sistem transmisi gelombang mikro bekerja pada frekuensi UHF 300 MHz-
30 GHz (pada umumnya 1-3 GHz) yang mempunyai panjang gelombang dalam
ruang bebas antara 1 cm-1 m. Sinyal gelombang mikro dipancarkan melalui
lintasan lurus dari satu titik ke titik yang lain, dikenal dengan istilah lintasan
garis pandang atau line of sight (LOS). Stasiun yang digunakan, baik stasium
pemencar, penerima, maupun relai ditempatkan pada lokasi yang tinggi pada
menara antena yang tinggi pula, agar transmisi dapat mencakup daerah LOS
yang maksimum sehingga dapat diperoleh suatu lintasan gelombang yang
bersifat langsung (direct signal path).
Propagasi LOS gelombang mikro menggunakan gelombang radio atau RF
(Radio Frequency), yang juga merupakan gelombang elektromagnetik.
Komunikasi gelombang mikro dapat digunakan untuk komunikasi satelit
maupun komunikasi terenstrial yang merambat melalui atmosfer, sehingga efek
atmosfer sangat mempengaruhi energi dan berkas gelombangnya. Readaman
energi dan pemudaran berkas gelombang ini yang disebut dengan pemudaran
(fading).
Sistem transmisi gelombang mikro terdiri atas dua macam yaitu sistem
analog dan sistem digital. Sistem gelombang mikro analog menggunakan
gelombang radio dengan modulasi FM (Frequency Modulation), baik dengan
sistem penjamakan (Multiplexing) frekuensi atau FDM (Frequency Division
Multiplexing) maupun waktu atau TDM (Time Division Multiplexing).
Sedangkan sistem gelombang mikro digital menggunakan gelombang radio yang
termodulasi digital PSK (Phase Shift Keying), atau modulasi QAM (Quadrature
Amplitude Modulation) dan penjamakan yang digunakan adalah TDMA (Time
Division Multiple Access).[1]
1.2. Efek Atmosfer dan Pemudaran (Fading) pada Gelombang Mikro
Komunikasi gelombang mikro banyak diterapkan baik pada komunikasi
satelit maupun komunikasi terrestrial. Sebagai komunikasi terrestrial gelombang
mikro merambat melalui atmosfer, sehingga akan timbul dampak-dampak
sebagai berikut:
a. Efek atmosfer
Absorbsi
Absorbsi dapat disebabkan oksigen dalam atmosfer, hujan dan kabut. Hal
ini menyebabkan energi yang dipropagasikan mengalami redaman
(atenuasi meningkat). Hujan yang lebat menyebabkan atenuasi dapat
meningkat 1 dB/km pada gelombang yang berfrekuensi 6-10 GHz, dan
untuk gelombang dengan frekuensi lebih dari 10 GHz dapat meningkat
sampai 10 dB/km.
Refraksi (Pembiasan)
Hal ini terjadi karena pengaruh perubahan temperatur, kelembaban dan
kerapatan atmosfer refraksi dapat menyebabkan penyimpangan berkas
gelombang mikro dari sinyal yang merambat.
Jebakan atmosfer (Ducting)
Ini terjadi karena kondisi temperatur dan kerapatan atmosfer yang
bervariasi. Di sini berkas gelombang mikro hanya terpantul-pantul di suatu
daerah tertentu pada atmosfer, terjebak dan sulit dipropagasikan.
b. Efek relief bumi
Efek ini disebabkan oleh benda-benda yang berada di permukaan bumi,
misalkan batu, tumbuhan, gedung, bahkan dapat pula disebabkan oleh bentuk
kurva bumi itu sendiri, efek yang ditimbulkan antara lain:
Refleksi (Pemantulan)
Berupa pemantulan berkas yang menyebabkan berkas dapat berubah sudut
fasenya, berkas gelombang mikro yang berubah sudut fase dapat
menimbulkan penguatan atau redaman bagi energi berkas gelombang
mikro yang sudut fasenya tidak berubah. Salah satu contoh pementulan
misalnya pemantulan tanah atau ground reflection.
Gambar 1.1 : Pemantulan tanah (ground reflection)[2]
Daerah Fresnel
Daerah berkas gelombang mikro yang keluar dan masuk antena dipol /2
yang sefase dengan gelombang langsung. Daerah fresnel dirancang dengan
mempertimbangkan titik pantulan yang ada agar tidak menyebabkan
atenuasi yang besar.
Difraksi
Karakteristik gelombang mikro yang terjadi apabila berkas gelombang
mikro melewati penghalang dengan grazing incidence (hanya menyentuh
penghalang) yang kemudian diuraikan. Energi gelombang ini pun terurai,
besarnya tergantung oleh ukuran dan bentuk dari penghalang tersebut.
Redaman (loss) yang terjadi pada daerah dibelakang penghalang disebut
shadow loss. Redaman ini tergantung frekuensi, frekuensi tinggi
cenderung tidak didifraksikan. Difraksi lebih banyak terjadi pada frekuensi
rendah dan redaman yang terjadi lebih besar.[3]
II. HASIL DATA
2.1. Langkah Langkah Praktikum
a. Konfigurasi Map digital pada Pathloss 5.

Gambar 2.0 : Tampilan Awal Software Pathloss 5.0


Langkah pertama sebelum memulai pekerjaan adalah dengan memasukkan
database map digital kedalam pathloss 5 ini. Map digital yang digunakan
adalah SRTM (.hgt).
1. Klik menu Configure Set GIS configuration.
2. Sehingga muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.1 : Tampilan Configure Geographic System


3. Tekan tab Primary DEM, sehingga muncul tampilan seperti gambar
dibawah ini.
Gambar 2.2 : Tampilan Primary DEM
4. Pilih SRTM(World) untuk memasukkan data map digital, sehingga
muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.3 : Jendela SRTM (world)


5. Tekan Menu Files Import Index SRTM hgt Files
Gambar 2.4 : Menu Files Import Index SRTM hgt File
6. Masukkan data Map Digital, sehingga muncul tampilan seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 2.5 : SRTM hgt files yang telah terkonfigurasi


7. Tutup jendela SRTM(World) kemudian simpan konfigurasi anda pada
folder yang diinginkan.
Gambar 2.6 : Save konfigurasi
8. Peta digital yang disimpan memiliki format file .p5g files

b. Konfigurasi Site
Selanjutnya adalah konfigurasi site yang akan dianalisa, data data
yang diperlukan adalah titik koordinat site tersebut yang terdiri dari
latitude dan longitude. Adapun langkah konfigurasi site adalah sebagai
berikut:
1. Pada tampilan awal pathloss 5 ,Tekan menu View Site List, sehingga
muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.7 : Tampilan site list


2. Masukkan Site name yang dikehendaki, dengan data Latitude dan
Longitude dibawah ini :
Tabel 2.0 : Site name, Latitude, Longitude dan Elevation
No Site Latitude Longitude Elevation
(m)
1 Palopo 03 00 26.20 S 120 11 30.60 E 14.0
2 Welenrang 02 51 43.30 S 120 10 24.80 E 31.7
3 Kaleakan 02 57 13.00 S 120 03 01.00 E 1209.1
4 Rantepao 02 58 12.10 S 119 54 07.90 E 814.2

3. Jika suatu saat data yang dimasukkan kedalah Site List tersebut keliru,
maka data dapat diperbaiki.
4. Tekan menu Update PL5 files untuk proses update data yang telah di
perbaiki.
5. Tutup jendela Site List, bila ada konfirmasi untuk menyimpan file maka
simpanlah file tersebut, kemudian tarik garis untuk menghubungkan site
site tersebut sesuai dengan link yang diinginkan. Sehingga muncul
tampilan seperti gambar dibawah ini.
6. Tarik garis link antar site yang ingin di hitung.

Gambar 2.8 : Site Link


7. Tekan menu seperti pada gambar dibawah ini untuk melihat dalam bentuk
3D.
Gambar 2.9 : Menampilkan menu 3D dan 2D
8. Sehingga muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.10 : Tampilan 3D

Gambar 2.11 : Tampilan 2D

c. Konfigurasi Terrain data


Selanjutnya adalah konfigurasi kontur bumi atau terrain data link
yang akan dianalisa.
1. Klik kiri pada link yang akan dianalisa (pada garis yang menghubungkan
site satu dengan site lainnya).
2. Klik pada menu Terrain Data, sehingga muncul tampilan seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 2.12 : Menampilkan Terrain


3. Selanjutnya adalah men-generate terrain data berdasarkan map digital
yang sebelumnya telah dikonfigurasikan.
4. Pilih menu Operations Generate profile.

Gambar 2.13 : Menampilkan Generate profile


5. Sehingga muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.
Gambar 2.14 : Hasil dari Generate Path Profile
6. Pilih tanda centang, sehingga muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.15 : Menampilkan Profile Generated


7. Pilih tanda centang, sehingga muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.
Gambar 2.16 : Hasil dari Profile Generated
8. Secara otomatis program akan memunculkan terrain data sesuai dengan
map digital yang sebelumnya telah dikonfigurasikan.
9. Selanjutnya adalah menambahkan tinggi toleransi. Hal ini dilakukan jika
link atau jalur yang dilalui oleh komunikasi gelombang mikro ini melewati
hutan, rawa ataupun gedung gedung. Pada contoh ini kita akan
menambahkan tinggi pohon 10 m.
10. Klik kiri pada tabel Structure, sehingga muncul tampilan seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 2.17 : Membuka Range Of Structure


11. Pilih menu Range of stucture, karena kita akan menambah tinggi pohon
sekitar 10 m tersebut sepanjang jalur gelombang mikro tersebut.
Gambar 2.18 : Hasil dari Range Of Structure
d. Konfigurasi Ketinggian Antena
Selanjutnya adalah mengkonfigurasi tinggi antena yang harus
dipasang untuk mendapatkan LOS Propagasi.

Gambar 2.19 : Menampilkan Antenna Heights


1. Pilih menu Design Antenna heights, sehingga muncul tampilan seperti
gambar dibawah ini
Gambar 2.20 : Ketinggian antena

2. Setelah masuk kedalam Antenna Heights Windows, tekan icon


untuk menghitung secara otomatis berapa ketinggian antena yang layak
untuk dipasang berdasarkan terrain data yang terlah dikonfigurasi.

e. Konfigurasi Transmission Analisys


Selanjutnya adalah mengkonfigurasi parameter parameter yang akan
digunakan dalam menganalisa sistem transmisi tersebut. Diperlukan
beberapa data antena,feeder, radio, tipe cuaca, frekuensi kerja,
pengkanalan frekuensi, dan lain-lain. Data data tersebut dapat dimasukkan
dengan menekan bagian bagian yang terdapat seperti pada gambar
dibawah ini.
Gambar 2.21 : Parameter-Parameter Transmission Analisys
1) Sebagai contoh, kita akan memasukkan data antena yang akan dipakai.

2) Tekan icon , untuk memasukkan data antena.


3) Untuk memasukkan data data radio, feeder dll dapat dilakukan dengan
menekan ikon sesuai dengan perangkat yang akan dikonfigurasi.
4) Selanjutnya setelah menekan ikon antenna tersebut, maka akan muncul
tampilan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.22 : Antenna TR-TR pada PALOPO dan WALENRANG


5) Untuk mengkonfigurasi antena secara manual, kita dapat memasukkan
data data antenna di kolom yang telah disediakan, seperti gambar diatas.
6) Data antenna dapat juga dimasukkan berdasarkan database dari pathloss 5
itu sendiri. Karena program pathloss 5 ini memiliki banyak data untuk tipe
17ias17na,radio dll. Selebihnya 17ias didownload dari website pathloss itu
sendiri.

7) Tekan icon untuk konfigurasi antenna berdasarkan database pathloss


8) Sehingga muncul tampilan seperti gambaar dibawah ini.

Gambar 2.23 : Menampilkan Antenna Data File Index

9) Kemudian tekan icon , untuk memasukkan data antena dari program


pathloss 5.
10) Sehingga muncul tampilan seperti gambar dibawah ini.
Gambar 2.24 : Menampilkan Create Index
11) Setelah semua data antena masuk, maka tampilannya adalah seperti
gambar dibawah ini.

Gambar 2.25 : Hasil dari Create Index


12) Semua konfigurasi perangkat dalam dilakukan sengan meng-klik
perangkat yang akan dikonfigurasi.

f. Report
Terakhir, dalam setiap analisa tentunya diperlukan sebuah laporan atau
report. Oleh karena itu program pathloss 5 juga telah menyediakan sebuah
menu untuk merangkum semua konfigurasi yang telah dilakukan dalam
sebuah report. Terdapat beberapa report yang dapat kita lihat diantaranya
Path Profile, Transmission Details,Terrain Profile Listing, dll.

Gambar 2.26 : Menu Reports


1. Tekan menu Design-Report, sehingga muncul tampilan seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 2.27 : Mengubah Tampilan Path Profile


2. Pilih report yang ingin dilihat atau di cetak.

2.2. Hasil Report Modul I

Gambar 2.28 : Arah pancaran sinyal


75
70
65
60
55
50
45
Elevation (m)

40
35
30
25
20
15
10
5
0
-5
0 2 4 6 8 10 12 14 16
Path length (16.19 km)
Welenrang Frequency (MHz) = 8000.0 Palopo
Latitude 02 51 43.30 S K = 1.33 Latitude 03 00 26.20 S
Longitude 120 10 24.80 E %F1 = 100.00 Longitude 120 11 30.60 E
Azimuth 172.79 Azimuth 352.79
Elevation 32 m ASL Elevation 14 m ASL
Antenna CL 33.8 m AGL Antenna CL 50.5 m AGL

Gambar 2.29 : Hasil Path Profile link Welenrang Palopo


Rincian hasil data report terlampir seperti dibawah ini :
Welenrang Palopo
Latitude 02 51 43.30 S 03 00 26.20 S
Longitude 120 10 24.80 E 120 11 30.60 E
True azimuth () 172.79 352.79
Vertical angle () -0.06 -0.05
Elevation (m) 31.65 13.83
Antenna model HPX4-71W (TR) HP10-4477 (TR)
Antenna file name 1008 0812
Antenna gain (dBi) 36.70 44.50
Antenna height (m) 33.78 50.49
TX line model EW85 EW85
TX line unit loss (dB/100 m) 12.75 12.75
Connector loss (dB) 0.60 0.60
Circulator branching loss (dB) 3.00 3.00
Frequency (MHz) 8000.00
Polarization Vertical
Path length (km) 16.19
Free space loss (dB) 134.71
Atmospheric absorption loss (dB) 0.17
Net path loss (dB) 60.88 60.88
Radio model PASOLINK+ 8G 33MB PASOLINK+ 8G 33MB
Radio file name p+8g_16e1_16qam p+8g_16e1_16qam
TX power (dBm) 26.00 26.00
EIRP (dBm) 59.10 66.90
TX channel assignments 2l 7954.V 2h 8220.V
RX threshold criteria 1E-6 BER 1E-6 BER
RX threshold level (dBm) -81.50 -81.50
Receive signal (dBm) -34.88 -34.88
Thermal fade margin (dB) 46.62 46.62
Dispersive fade occurrence factor 1.00
Climatic factor 1.00
Terrain roughness (m) 6.10
C factor 3.29
Average annual temperature (C) 10.00
Fade occurrence factor (Po) 6.701E-002
Worst month multipath availability (%) 99.99985 99.99985
Worst month multipath unavailability (sec) 3.84 3.84
Annual multipath availability (%) 99.99996 99.99996
Annual multipath unavailability (sec) 11.52 11.52
Annual 2 way multipath availability (%) 99.99993
Annual 2 way multipath unavailability (sec) 23.04
Polarization Vertical
0.01% rain rate (mm/hr) 79.65
Flat fade margin - rain (dB) 46.62
Rain attenuation (dB) 46.62
Annual rain availability (%) 100.00000
Annual rain unavailability (min) 0.00
Annual rain + multipath availability (%) 99.99993
Annual rain + multipath unavailability (min) 0.38
III. ANALISA DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum modul I ini membahas mengenai Konfigurasi
Transmission Analisys menggunakan Pathloss 5.0, dimana menghubungkan
radio link dari dua kota berbeda yaitu kota Welenrang dan kora Palopo. Untuk
pemilihan penggunaan frekuensi yang digunakan untuk radio link yang
menghubungkan dua kota ini dipengaruhi oleh jarak atau radius antar dua kota
tersebut. Jarak dua kota terlihat pada gambar 2.29 sepanjang 16,19 km.
Penggolongan frekuensi pada praktikum kali ini dibagi menjadi 3 yaitu jarak 0
sampai 3 km menggunakan frekuensi 23 GHz, jarak 5 sampai 7 km
menggunakan frekuensi 15 GHz dan jarak 8 sampai 15 km menggunakan
frekuensi 7 sampai 8 GHz. Maka untuk jarak 16,19 km bisa menggunakan
frekuensi rentang 7 sampai 8 GHz. Untuk yang berjarak lebih dari 30 km maka
akan ada penambahan path profile data karena akan mengalami diffraction loss
dimana jarak terlalu jauh sehingga daya yang diterima receive akan melemah.
Dari jarak sejauh 16,19 km diberi penghalang seperti pohon dan juga
bangunan gedung. Terlihat pada gambar 2.29 ada penghalang berupa pohon pada
jarak 1 km dan pada jarak 15 km, sementara pada jarak 2 km diberi penghalang
gedung yang memiliki tinggi 15 meter, dan sepanjang jarak 2 sampai 12 km
diberi hutan yang terdiri dari banyak pohon. Untuk antena pemancar dan
penerima sendiri memiliki ketinggian 65 meter dari permukaan laut terlihat pada
gambar 2.29 atau untuk antena pemancar memiliki ketinggian 33,78 meter dan
antena penerima 50,49 meter seperti yang terlihat pada hasil report.
Hasil pancaran sinyal (multipath) bisa terlihat pada gambar 2.28 dimana
gelombang mikro mengalami refleksi (pemantulan) ketika mecapai tanah,
sedangkan ketika melewati pepohonan gelombang mikro masih bisa menembus
penghalang (obstacle) tetapi terdapat sedikit energi yang terserap (absorpsi) oleh
pepohonan. Hasil report pada gambar 2.29 juga membuktikan bahwa antara
pemancar dan penerima tidak terdapat penghalang pada daerah fresnel zone.
Fresnel zone merupakan daerah yang harus bebas dari penghalang agar link
komunikasi antara pemancar dan penerima dapat berjalan lancar tanpa ada
gangguan. Daerah fresnel zone terdapat diantara garis warna merah dan biru
pada gambar 2.29.
Hasil data report diatas untuk pemilihan antenna model memiliki perbedaan
dikarenakan pemilihan pada gambar 2.25 berbeda untuk +1 dan +2. Jika saat
memilih antenna model yang dipilih adalah +12 maka antenna model dari sisi
pemancar dan penerima menggunakan model yang sama dimana gain pada
antena pemancar sebesar 36,70 dBi dan penerima 44,50 dBi yang menggunakan
polarisasi vertikal. Pengaruh kehilangan daya dikarenakan penyerapan atmosfir
hanya sebesar 0,17 dB yang tidak begitu besar berpengaruh dan kehilangan daya
karena pemilihan jenis konektor hanya sebesar 0,60 dB yang berarti jenis
konektor yang digunakan termasuk bagus. Untuk rata-rata suhu tahunan link
microwave dari Willerang ke Palopo ini hanya sebesar 10o C. Pengaruh
kehilangan daya karena hujan sebesar 46,62 dB. Untuk kehandalan sistem
selama setahun dikatakan memiliki kualitas terbaik apabila memiliki nilai
sebesar 99,99999 %. Pada pengujian praktikum ini kehandalan sistem selama
setahun hanya memiliki nilai sebesar 99,99996 % dan kehandalan sistem saat
hujan selama setahun hanya sebesar 99,99993 %. Daya terima sinyal dari
pemancar sebesar -34,88 dBm dan sampai ke penerima lagi sebesar -34,88 dBm
yang artinya tidak ada kehilangan daya selama proses transmit diudara yang
didukung juga karena daerah fresnel zone nya tidak ada penghalang.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
1. Efek multipath pada praktikum modul I ini hanya dipengaruhi oleh
refleksi (pemantulan), dan absorpsi (penyerapan).
2. Availability (kehandalan sistem) tahunan memiliki nilai 99,99996%.
3. Daerah fresnel zone tidak memiliki obstacle (penghalang) sehingga
tidak mengganggu pancaran sinyal ke penerima.
4. Model antena yang digunakan pemancar dan penerima berbeda sehingga
ada beberapa nilai parameter yang berbeda.

B. SARAN
1. Sebelum praktikum sebaiknya praktikan sudah mempersiapkan
software pathloss 5.0 dan file pendukung lainnya.
2. Sebaiknya sebelum dan sesudah praktikum berdoa terlebih dahulu
3. Sebaiknya menunggu praktikan yang belum selesai agar tidak
ketinggalan dan bisa mengerti saat praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Anonyous. Diakses pada 12 Oktober melalui: http://digilib.mercubuana.ac.i
d/manager/n!@file_skripsi/Isi2772689083238.pdf
[2] Ray Dewi, ING. Wardana, Nurkholis Hamidi. 2012. Pengaruh Daya
Penyinaran Gelombang Mikro Terhadap Karakteristik Pembakaran Droplet
Minyak Jarak Pagar. Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Malang
[3] Sudarmilah Endah. 2002. Antisipasi Pengaruh Pemudaran Gelombang
(Fading) pada Transmisi Gelombang Mikro Digital dengan Space Diversity
dan Frequency Diversity. Surakarta. Teknik Elektro Universitas
Muhammadiyah