Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Filariasis merupakan salah satu penyakit yang termasuk endemis di Indonesia,


kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan tropis
(Abercrombie et al, 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali ditemukan di
Indonesia pada tahun 1877, setelah itu tidak muncul dan sekarang muncul kembali.
Pada daerah tropis dan subtropis kejadiannya terus meningkat disebabkan oleh
karena perkembangan kota yang cepat dan tidak terencana, yang mencetak berbagai
sisi perkembangbiakan nyamuk yang akan menularkan penyakit ini. Penyakit ini
menjadi persisten karena kurangya alat kontrol dan strategi yang efektif dan mudah
diterapkan pada negara endemis. Seiring dengan terjadinya perubahan pola
penyebaran penyakit di negara-negara berkembang, penyakit menular masih berperan
sebagai penyebab utama kesakitan dan kematian. Penyakit ini merupakan penyakit
menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria, Penyakit filariasis lymfatik
merupakan penyebab kecacatan menetap dan berjangka lama terbesar kedua di dunia
setelah kecacatan mental. Di Indonesia, mereka yang terinfeksi filariasis bisa terbaring
di tempat tidur selama lebih dari lima mingggu per tahun, Tiga spesies cacing filaria
penyebab filariasis limfatik adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia
timori. Wuchereria bancrofti merupakan spesies yang paling umum ditemukan pada
kasus infestasi oleh cacing ini (SCHMIDT dan ROBERT, 2000).
Penyebaran penyakit diperantarai oleh nyamuk sebagai vektor, cacing dewasa
filaria hidup pada pembuluh limfa sedangkan mikrofilaria hidup dalam darah
(MCMAHON dan SIMONSEN, 1996). Di dalam tubuh manusia cacing filaria hidup
di saluran dan kelenjar getah bening(limfe), dapat menyebabkan gejala klinis akut dan
gejala kronis. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk. Cacing betina
melepaskan mikrofilaria dalam pembuluh darah tepi dan dihisap oleh nyamuk yang
selanjutnya agen infeksi ini disebarkan dari hewan ke manusia atau dari manusia ke
manusia karena gejala klinis akut dari filariasis yang mewakili 11% dari masa usia
produktif. Untuk keluarga miskin, total kerugian ekonomi akibat ketidakmampuan
karena filariasis adalah 67%dari dari totalpengeluaranrumahtangga perbulan.

1
Filariasis di dunia dilaporkan menghabiskan dana 5 juta US $ setiap tahun
untuk penanggulangannnya dan menduduki ranking 3 setelah malaria dan tubercolosis
(Anonim, 2002). DataWHO, diperkirakan 120juta orang di 83 negara di dunia
terinfeksi penyakit filariasis dan lebih dari 1,5 milyar penduduk dunia (sekitar 20%
populasidunia) berisiko terinfeksi penyakit ini. Dari keseluruhan penderita, terdapat
dua puluh lima juta penderita laki - laki yang mengalami penyakit genital (umumnya
menderita hydrcocele) dan hampir lima belas juta orang, kebanyakan wanita,
menderita lymphoedema atari elephantiasis pada kakinya. Sekitar 90% infeksi
disebabkan oleh Wucheria Bancrofti, dan sebagian besar sisanya disebabkan Brugia
Malayi. Vektor utama Wucheria Bancrofti adalah nyamuk Culex, Anopheles, dan
Aedes. Nyamuk dari spesies Mansonia adalah vektor utama untuk parasit Brugarian,
namun di beberapa area, nyamuk Anopheles juga dapat menjadi vektor penularan
filariasis. Parasit Brugarian banyak terdapat di daerah Asia bagian selatan dan timur
terutama India, Malaysia, Indonesia,Filipina,danChina.2,3 Hampir seluruh wilayah
Indonesia adalah daerah endemis filariasis, terutama wilayah Indonesia Timur yang
memiliki prevalensi lebih tinggi. Sejak tahun 2000 hingga 2009 di iaporkan kasus
kronis filariasis sebanyak 11.914 kasus yang tersebar di 401 kabupaten/ kota. Hasil
laporan kasus klinis kronis filariasis dari kabupaten/ kota yang ditindaklanjuti dengan
survey endemisitas filariasis, sampai dengan tahun 2009 terdapat 337 kabupaten/ kota
endemis dan 135 kabupaten/ kota nonendemis.
Pengendalian yang perlu adalah peningkatan pemantauan (surveilans) untuk
menemukan penderita kaki gajah akut dan kronis, serta penatalaksankan pengobatan
agar penderita mampu merawat dirinya sendiri (ANONIM., 2005d). Upaya
pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata. Masyarakat
juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif. Dengan mengetahui mekanisme
penyebaran filariasis dan upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasinya,
Pengobatan dilakukan dengan albendazole dan diethylcarbamazine (DEC) tetapi
pengobatan yang lebih ideal masih perlu diteliti lebih lanjut (ANONIM., 2000;
SCHMIDT dan ROBERT, 2000).

1.2. Rumusan Masalah

a. Apa yang di maksud dengan penyakit filariasis?

b. Apa agent penyakit filariasis?

2
c. Bagaimana gejala yang ditimbulkan oleh penyakit filariasis?

d. Berapa lama masa inkubasi penyakit filariasis?

e. Bagaimana epidemiologi penyakit filariasis?

f. Bagaimana cara penularan penyakit filariasis?

g. Bagaimana sumber penularan penyakit filariasis?

h. Apa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit filariasis?

i. Bagaimana siklus hidup agent penyakit filariasis?

j. Bagaimana metode pengendalian penyakit filariasis?

1.3. Tujuan

a. Mampu mengetahui definisi penyakit filariasis?

b. Mampu mengetsahui agent penyakit filariasis?

c. Mampu mengetsahui gejala yang ditimbulkan oleh penyakit filariasis?

d. Mampu mengetsahui masa inkubasi penyakit filariasis?

e. Mampu mengetsahui epidemiologi penyakit filariasis?

f. Mampu mengetsahui cara penularan penyakit filariasis?

g. Mampu mengetsahui sumber penularan penyakit filariasis?

h. Mampu mengetsahui faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit


filariasis?

i. Mampu mengetsahui siklus hidup agent penyakit filariasis?

j. Mampu mengetsahui metode pengendalian penyakit filariasis?

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI PENYAKIT

Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang


disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles,
Culex, Armigeres. Cacing tersebut hidup di saluran dan kelenjar getah bening dengan
manifestasi klinik akut berupa demam berulang, peradangan saluran dan saluran
kelenjar getah bening. Pada stadium lanjut dapat menimbulkan cacat menetap berupa
pembesaran kaki, lengan, payudara dan alat kelamin (Chin J, 2006). Pengertian lain
menjelaskan filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan cacing filaria
yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening (Depkes RI, 2008), sedangkan
menurut Gandahusada dkk tahun 2003 filariasis limfatik adalah penyakit yang
disebabkan oleh salah satu dari 3 jenis cacing filaria yaitu : Wuchereria bancrofti,
Brugia malayi dan Brugia timori yang penularannya melalui vektor nyamuk.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa filariasis adalah
penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria Cacing ini ditularkan
oleh berbagai spesies yang hidup di saluran dan kelenjar limfe, Infeksi cacing filaria
dapat menyebabkan gejala klinis dan akut, dengan gejala akut berupa demam berulang,
disertai tanda-tanda peradangan kelenjar/saluran getah bening, serta pada stadium
lanjut berupa cacat anggota tubuh. Cacing ini hidup di kelenjar dan saluran getah bening
(limfe) sehingga menimbulkan peradangan pada kelenjar dan saluran getah bening
(andenolymphangitis), terutama pada daerah pangkal paha dan ketiak. Peradangan
biasanya disertai demam yang timbul berulang kali dan dapat berlanjut menjadi abses
yang dapat pecah dan menimbulkan jaringan parut.
Penyakit kaki gajah ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikrokopis
darah. Sampai saat ini hal tesebut masih ini dirasa kurang karna microfilaria hanya
muncul dan menampilkan diri didalam darah pada waktu malam hari selama beberapa
jam saja (nocturnal periodicity). Penyakit ini bersifat menahun dan bila tidak mendapat
pengobatan dengan baik dapat menimbulkan cacat menetap berupa penbesaran kaki,
lengan, payudara dan alat kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Penderita yang
telah cacat biasanya akan merasa rendah diri (stigma) apalagi dengan adanya anggapan

4
yang keliru dari masyarakat tentang penyakit filaria sebagai penyakit keturunan atau
penyakit kutukan.
Filariasis dapat menyerang laki-laki maupun perempuan di semua golongan
umur. Apabila tidak mendapatkan pengobatan yang sempurna, akan dapat
menimbulkan cacat menetap yang sukar disembuhkan, yaitu berupa pembesaran pada
kaki, lengan, payudara, buah zakar (scrotum), dan kelamin wanita

2.2 AGENT PENYAKIT

Agen penyebab penyakit filariasis adalah cacing nematoda dari family filasodea
yang berbentuk seperti benang, hidup berbelit satu sama lain dalam saluran limfe
manusia. Cacing tersebut terdiri atas:

1. Wucheriria bancrofti

Wucheriria bancrofti kelas dari anggota hewan tak bertulang belakangyang


termasuk dalam filum Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti
benang maka disebut filaria. Wucheriria bancrofti jantan berukuran 35 sampai 40 mm
dengan diameter 0,1 mm dan cacing betina berukuran 80 mm sampai 100 mm dengan
diameter 0,24 sampai 0,30 mm. Cacing wucheriria bancrofti dewasa tinggal dalam
darah dan limfe di kaki Jika terlalu banyak jumlahnya, dapat menyumbat aliran limfe
sehingga kaki menjadi membengkak. (Rempengan dan Laurentz, 1993)

Pada manusia wucheriria bancrofti dapat hidup kira-kira lima tahun sesudah
menembus kulit, melalui gigitan nyamuk larva meneruskan perjalanannya kepembuluh
darah dan kelenjar limfe tempat mereka tumbuh sampai dewasa dalam waktu satu
tahun. Pada saat dewasa, cacing ini menghasilkan telur kemudian akan menetas
menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut mikrofilaria. Microfilaria kemudian
meninggalkan cacing induknya, menembus dinding pembuluh limfe menuju

5
kepembuluh darah yang berdekatan atau terbawa aliran limfe kedalam aliran darah.
(Herdiman T. Pohan, 2002, dalam hasiri 2005 ) Larva ini dapat berpindah ke peredaran
darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada nyamuk yang menggigit, maka larva
tersebut dapat menembus dinding usus nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk,
kemudian setelah mengalami pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika
nyamuk itu menggigit orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini, demikian
seterusnya.

Microfilaria setelah di warnai akan menunjukkan inti-inti dan berbagai alat


dalam yang dapat dilihat mikroskop fase kontras. Penelitian baru dengan menggunakan
pewarnaan khusus memperlihatkan kait-kait dan duri-duri dironggga kepala berbagai
spesies microfilaria dan faring berbentuk benang yang berjalan dari ujung anterior ke
innen-korper.

Wuchereria bancrofti ditemukan di daerah perkotaan seperti Jakarta, Bekasi,


Tangerang, Semarang, dan Pekalongan. Wuchereria bancrofti bersifat periodik
nokturna, artinya mikrofilaria banyak terdapat dalam darah tepi pada malam
hari. Wuchereria bancrofti tipe perkotaan ditularkan oleh nyamuk Culex
quinquefasciatus yang berkembangbiak di air limbah rumah tangga,
sedangkan Wuchereria bancrofti tipe pedesaan ditularkan oleh nyamuk dengan
berbagai spesies antara lain Anopheles, Culex, dan Aedes

2. Brugia malayi

Brugia malayi merupakan kelas nematoda (cacing gelang), salah satu dari tiga
agen penyebab filariasis limfatik pada manusia. Brugia malayi serupa dengan
wucheriria bancrofti tetapi mempunyai ukuran yang lebih kecil. Cacing brugia malayi
betina berukuran 4355mm dengan diameter 130-170 mikrometer dan jantan dengan

6
panjang 13-30mm dengan diameter 70-80mikrometer Berbeda dengan wucheriria
bancrofti yang ekornya tak memiliki nuklei(titik inti) di ekornya,sementara Berbeda
dengan wucheriria bancrofti yang ekornya tak memiliki nuklei(titik inti) di
ekornya,sementara Brugia malayi memiliki nuklei di ekornya memiliki nuklei di
ekornya (Rempengan dan Laurent, 1993). Larva stadium III dapat dibedakan dari
wucheriria bancrofti karena lebih kecil dan papil kaudal yang kurang menonjol. Cacing
ini hidup dalam kelenjar dan saluran limfe, periodisitas nokturnal, bersarung, dan
berbentuk khas tidak senyata wucheriria bancrofti. Dalam tubuh nyamuk tumbuh
menjadi larva infektif dalam waktu 6 12 hari.

Brugia malayi terjadi dalam dua tahap diskrit yaitu dalam vektor nyamuk dan
dalam manusia. Kedua tahap sangat penting untuk siklus hidup parasit.
Nyamuk berfungsi sebagai vektor biologis dan hospes perantara yang diperlukan untuk
siklus perkembangan dan transmisi Brugia malayi. Nyamuk membutuhkan darah
manusia dan makan mikrofilaria ingests (seperti cacing telur berselubung) yang
beredar dalam aliran darah manusia. 5-7 Pada nyamuk, mikrofilaria kandang selubung,
menembus midgut, dan bermigrasi ke otot-otot dada adalah peningkatan mikrofilaria
dalam ukuran, meranggas, dan berkembang menjadi larva infektif selama rentang 7-21
hari. Tidak ada multiplikasi atau reproduksi seksual mikrofilaria terjadi di nyamuk. 8-
1 Larva infektif (L3) bermigrasi ke kelenjar ludah, masukkan belalai dan melarikan
diri ke kulit manusia ketika nyamuk memakan waktu makan darah.

Brugia malayi mengalami pengembangan lebih lanjut pada manusia serta


reproduksi seksual dan produksi telur. 1-2 Larva infektif (L3) secara aktif menembus
kulit melalui lubang gigitan dan berkembang menjadi orang dewasa dalam sistem
limfatik selama rentang waktu 6 bulan. Cacing dewasa dapat bertahan hidup dalam
sistem limfatik untuk 5-15 tahun. Para pria dan wanita dewasa cacing mate dan betina
menghasilkan rata-rata 10.000 telur berselubung (mikrofilaria) setiap hari mikrofilaria
ini memasuki aliran darah dan pameran periodisitas nokturnal klasik dan
subperiodicity. Nyamuk lain mengambil makan darah dan ingests mikrofilaria
tersebut. Infeksi tergantung pada nyamuk mengambil makan darah selama episode
periodik -. Ketika mikrofilaria yang hadir dalam aliran darah. Brugia malayi tersebar
di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku. Brugia malayi tipe
periodik nokturna, mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Nyamuk

7
penularnya adalah Anopheles barbirostis pada daerah persawahan. Brugia malayi tipe
subperiodik nokturna, mikrofilaria ditemukan lebih banyak pada siang hari dalam
darah tepi. Nyamuk penularnya adalah Mansonia sp pada daerah rawa.

3. Brugia timori

Cacing gelang yang menyebabkan penyakit Timor filariasis, Cacing dewasa


hidup dalam saluran dan kelenjar limfe. Mikrofilarianya menyerupai mikrofilaria
brugia malayi, yaitu lekuk badannya pata-patah dan susunan intinya tidak teratur,
perbedaannya terletak dalam hal:
a. Panjang kepala sama dengan tiga kali lebar kepala
b. Ekornya mempunyai inti tambahan yang ukurannya lebih kecil daripada inti-
inti lainnyadan letaknya lebih berjauhan bila dibandingkan dengan inti
tambahan brugia malayi
c. Sarungnya tidak mengambil warna pulasan giemza
d. Ukurannya lebih panjang dari mikrofilaria brugia malayi, mikrofilaria bersifat
nokturnal.

Brugia timori tersebar di kepulauan Flores, Alor, Rote, Timor, dan


Sumba. Brugia timorii tipe non periodik, mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada
malam maupun siang hari. Nyamuk penularnya adalah Mansonia uniformis yang
ditemukan di hutan rimba. Brugia timori tipe periodik nokturna, mikrofilaria ditemukan
dalam darah tepi pada malam hari. Nyamuk penularnya adalah Anopheles barbostis di
daerah persawahan di Nusa Tenggara Timur dan Maluku Tenggara.

2.3 GEJALA PENYAKIT


Gejala-gejala yang terdapat pada penderita Filariasis meliputi gejala awal (akut)
dan gejala lanjut (kronik), Pada dasarnya gejala klinis filariasis yang disebabkan oleh
infeksi Wucheria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori adalah sama, tetapi gejala
klinis akut tampak lebih jelas dan lebih berat pada infeksi oleh B. malayi dan B. timori.

8
infeksi W. bancrofti dapat menyebabkan kelainan pada saluran kemih dan alat kelamin,
tetapi infeksi oleh B. malayi dan B. timori tidak menimbulkan kelainan pada saluran
kemih dan alat kelamin (Depkes RI, 2008) . Hal ini tergantung pada daerah geografi,
spesies parasit, respons imun penderita dan intensitas infeksi. Gejala biasanya tampak
setelah 3 bulan infeksi,tapi umumnya masa tunasnya antara 8-12 bulan.
1. Gejala Klinis Akut

Gejala klinis akut berupa Gejala awal (akut) yang bisa disebut limfadenitis,
limfangitis, adenolimfangitis yang disertai demam, sakit kepala, rasa lemah ditandai
dengan demam berulang 1-2 kali atau lebih setiap bulan selama 3-4 hari apabila bekerja
berat, timbul benjolan yang terasa panas dan nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa
adanya luka di badan, dan teraba adanya tali urat seperti tali yang bewarna merah dan
sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak dan berjalan kearah ujung kaki atau tangan,
dan dapat pula terjadi abses. Abses dapat pecah yang kemudian mengalami
penyembuhan dengan menimbulkan parut, terutama di daerah lipat paha dan ketiak.
Parut lebih sering terjadi pada infeksi B. malayi dan B. timori dibandingkan dengan
infeksi W. brancofti, demikian juga dengan timbulnya limfangitis dan limfadenitis.
Sebaliknya, pada infeksi W. brancofti sering terjadi peradangan buah pelir, peradangan
epididimis dan peradangan funikulus spermatikus (Depkes RI, 2008).

2. Gejala Klinis Kronis


Gejala lanjut (kronis) ditandai dengan pembesaran pada kaki, tangan, kantong
buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita sehingga menimbulkan cacat yang
menetap (Depkes RI, 2005).
a. Limfedema Pada infeksi W. brancofti terjadi pembengkakan seluruh kaki,
seluruh lengan, skrotum, penis, vulva, vagina, dan payudara, sedangkan pada infeksi
Brugia, terjadi pembengkakan kaki di bawah lutut, lengan di bawah siku dimana siku
dan lutut masih normal (Depkes RI, 2008).
b. Lymph Scrotum Lymph scrotum pelebaran saluran limfe superfisial pada
kulit scrotum, kadangkadang pada kulit penis, sehingga saluran limfe tersebut mudah
pecah dan cairan limfe mengalir keluar dan membasahi pakaian. Ditemukan juga lepuh
(vesicles) besar dan kecil pada kulit, yang dapat pecah dan membasahi pakaian, hal ini
mempunyai risiko tinggi terjadinya infeksi ulang oleh bakteri dan jamur, serangan akut

9
berulang dan dapat berkembang menjadi limfedema skrotum. Ukuran skrotum kadang-
kadang normal kadang-kadang membesar (Notoatmodjo, 1997)
c. Kiluria Kiluria adalah kebocoran atau pecahnya saluran limfe dan pembuluh
darah di ginjal (pelvis renal) oleh cacing filaria dewasa spesies W. brancofti, sehingga
cairan limfe dan darah masuk ke dalam saluran kemih. Gejala yang timbul pada kiluria
adalah air kencing seperti susu, karena air kencing banyak mengandung lemak dan
kadang-kadang disertai darah (haematuria), sukar kencing, kelelahan tubuh, kehilangan
berat badan (Depkes RI, 2008).
d. Hidrokel Hidrokel adalah pembengkakan kantung buah pelir karena
terkumpulnya cairan limfe di dalam tunica vaginalis testis. Hidrokel dapat terjadi pada
satu atau dua kantung buah pelir, dengan gambaran klinis dan epidemiologis sebagai
berikut:
1) Ukuran skrotum kadang-kadang normal tetapi kadang-kadang sangat besar
sekali, sehingga penis tertarik dan tersembunyi.
2) Kulit pada skrotum normal, lunak dan halus.
3) Akumulasi cairan limfe disertai dengan komplikasi yaitu Chyle (Chylocele),
darah (haematocele) atau nanah (pyocele). Uji transiluminasi dapat
digunakan untuk membedakan hidrokel dengan komplikasi dan hidrokel
tanpa komplikasi. Uji transiluminasi ini dapat dikerjakan oleh dokter
Puskesmas yang sudah dilatih.
4) Hidrokel banyak ditemukan didaerah endemis W. bancrofti dan dapat
digunakan sebagai indikator adanya infeksi W. bancrofti.

2.4 MASA INKUBASI


Masa inkubasi ekstrinsik untuk W. bancrofti antara 10-14 hari, sedangkan B.
malaVyi dan B. timori antara 8-10 hari. Periodisitas mikrofilaria dan perilaku
menggigit nyamuk berpengaruh terhadap risiko penularan. Mikrofilaria yang bersifat
periodik nokturna (mikrofilaria hanya terdapat di dalam darah tepi pada waktu malam)
memiliki vektor yang aktif mencari darah pada waktu malam, sehingga penularan juga
terjadi pada malam hari. Di daerah dengan mikrofilaria sub periodik nokturna dan non
periodik, penularan terjadi siang dan malam hari. Khusus untuk B. malayi tipe sub
periodik dan non periodik nyamuk Mansonia menggigit manusia atau kucing, kera yang
mengandung mikrofilaria dalam darah tepi, maka mikrofilaria masuk kedalam lambung
nyamuk menjadi larva infektif Di samping faktorfaktor tersebut, mobilitas penduduk

10
dari daerah endemis filariasis ke daerah lain atau sebaliknya, berpotensi menjadi media
terjadinya penyebaran filariasis antar daerah (DepKes RI, 2008)

2.5 EPIDEMIOLOGI
Distribusi dan prevalensi penyakit filariasis tampaknya meningkat dibanyak
tempat di Afrika dan Asia. Infeksi wucheriria bancrofti endemis diantara garis 41
lintang utara dan 30 lintang selatan, terutama Afrika, Kepulauan Pasifik, Asia
Tenggara, Korea Utara, India Barat, Amerika Tengah dan Dataran Pantai Timur
Amerika Selatan. Infeksi Brugia Malayi jauh lebih terbatas distribusinya dan terdapat
di India, Burma, Muangthai, Vietnam, Cina, Korea Selatan, Jepang, Malaysia,
Indonesia, Brunei, Papua Nugini dan Filipina. Kini parasit tersebut sudah menghilang
dari Srilanka. Infeksi Brugia Timori hanya ditemukan di Indonesia bagian timur.
Penyakit ini diperkirakan seperlima penduduk dunia atau 1.1milyar penduduk
beresiko terinfeksi, terutama di daerah tropis dan beberapa daerah subtropis. Penyakit
ini dapat menyebabkan kecacatan, stigma sosial, hambatan psikososisal, dan penurunan
produktivitas kerja penderita, keluarga dan masyarakat sehingga menimbulkan
kerugian ekonomi yang besar. Dengan demikian penderita menjadibeban keluarga dan
negara. Sejak tahun 2000 hingga 2009 di Iaporkan kasus kronis filariasis sebanyak
11.914 kasus yang tersebar di 401 kabupaten/ kota.4,24 Penyakit filariasis terutama
ditemukan di daerah khatulistiwa dan merupakan masalah di daerah dataran rendah.
Tetapi kadang-kadang juga ditemukan di daerah bukit yang tidak terlalu tinggi.
DiIndonesiafilariasis tersebar luas, daerah endemis terdapat terdapat di banyak pulau di
seluruh nusantara, seperti di Sumatera dan sekitarnya, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
NTT, Maluku, dan Irian Jaya.
Secara epidemiologi cacing filaria dibagi menjadi 6 tipe, yaitu
a. Wuchereria bancrofti tipe perkotaan (urban) Ditemukan di daerah perkotaan
seperti Bekasi, Tangerang, Pekalongan dan sekitarnya memiliki periodisitas nokturna,
ditularkan oleh nyamuk. Cx. quinquefasciatus yang berkembang biak di air limbah
rumah tangga.
b. Wuchereria bancrofti tipe pedesaan (rural) Ditemukan di daerah pedesaan
luar Jawa, terutama tersebar luas di Papua dan Nusa Tenggara Timur, mempunyai
periodisitas nokturna yang ditularkan melalui berbagai spesies nyamuk Anopheles dan
Culex.

11
c. Brugia malayi tipe periodik nokturna Mikrofilaria ditemukan di darah tepi
pada malam hari. Jenis nyamuk penularnya adalah Anopheles barbirostis yang
ditemukan di daerah persawahan.
d. Brugia malayi tipe subperiodik nokturna Mikrofilaria ditemukan di darah tepi
pada siang dan malam hari, tetapi lebih banyak ditemukan pada malam hari. Jenis
nyamuk penularnya adalah Mansonia spp yang ditemukan di daerah rawa.
e. Brugia malayi tipe non periodik Mikrofilaria ditemukan di darah tepi baik
malam maupun siang hari. Jenis nyamuk penularnya adalah Mansonia bonneae dan
Mansonia uniformis yang ditemukan di hutan rimba.
f. Brugia timori tipe periodik nokturna Mikrofilaria ditemukan di darah tepi
pada malam hari. Jenis nyamuk penularnya adalah An. barbirostris yang ditemukan di
daerah persawahan Nusa Tenggara Timur, Maluku Tenggara.

2.6 CARA PENULARAN


1. Proses dan Faktor Penularan Filariasis, penularan Filariasis dapat terjadi bila ada
tiga unsur, yaitu adanya :
a. sumber penularan, baik manusia atau hospes reservoir yang mengandung
mikrofilaria dalam darahnya;
b. vektor, yakni nyamuk yang dapat menularkan Filariasis; dan
c. manusia yang rentan terhadap Filariasis.

a. Faktor Cara Nyamuk Menghisap Darah Manusia Seseorang dapat tertular Filariasis,
apabila orang tersebut mendapat gigitan nyamuk infektif. Proses perpindahan
cacing filaria dari nyamuk ke manusia adalah sebagai berikut:
1) Nyamuk yang mengandung larva infektif (larva stadium 3- L3) menggigit
manusia,

12
2) Larva L3 akan keluar dari probosisnya dan tinggal dikulit sekitar lubang
gigitan nyamuk.
3) Pada saat nyamuk menarik probosisnya, larva L3 akan masuk melalui
lubang bekas gigitan nyamuk dan bergerak menuju ke sistem limfe.

Berbeda dengan penularan pada malaria dan demam berdarah, proses terjadinya
perpindahan larva L3 dari nyamuk ke manusia tersebut tidak mudah, sehingga rantai
penularan cacing filaria pada suatu daerah tertentu juga tidak mudah.
b. Faktor Daur Hidup Cacing Filaria Dalam Tubuh Manusia Rantai penularan
Filariasis pada suatu daerah juga dipengaruhi oleh perkembangan larva L3 dalam
tubuh manusia menjadi cacing filaria dewasa, lama hidup dan kemampuan
memproduksi anak cacing filaria (mikrofilaria) yang dapat menular (infektif).

1) Makrofilaria dan Mikrofilaria Larva L3 berkembang menjadi cacing dewasa


(makrofilaria), kemudian cacing dewasa ini akan menghasilkan ribuan anak cacing
(mikrofilaria) perhari. Cacing dewasa tidak menular, tetapi anak cacing yang berada
di peredaran darah tepi akan terhisap oleh nyamuk yang menggigitnya dan
kemudian ditularkan kembali pada orang lain.
2) Masa Perkembangan Makrofilaria Ketika larva L3 masuk dalam tubuh manusia
memerlukan periode waktu lama untuk berkembang menjadi cacing dewasa. Larva
L3 Brugia malayi dan Brugia timori akan menjadi cacing dewasa dalam kurun
waktu lebih dari 3,5 bulan, sedangkan Wuchereria bancrofti memerlukan waktu
kurang lebih 9 bulan (6-12 bulan).
3) Lama Hidup Cacing Dewasa Dalam Tubuh Manusia Cacing dewasa (makrofilaria)
yang ada dalam tubuh manusia mampu bertahan hidup selama 5-7 tahun. Selama

13
hidup yang lama tersebut, dapat menghasikan ribuan mikroflaria setiap hari,
sehingga dapat menjadi sumber penularan dalam periode waktu yang sangat
panjang.
4) Waktu-waktu Penularan Mikroflaria Pada Nyamuk Mikrofilaria dapat terhisap oleh
nyamuk yang mengigit manusia (menular pada nyamuk), jika mikrofilaria berada
di darah tepi. Oleh karena itu, di daerah dimana mikrofilaria bersifat periodik
nokturna, yaitu mikrofilaria keluar memasuki peredaran darah tepi pada malam hari,
dan bergerak ke organ-organ dalam pada siang hari, mikrofilaria menular pada
nyamuk yang aktif pada malam hari. Sementara di daerah dengan microfilaria
subperiodik nokturna dan non periodik, penularan dapat terjadi pada siang dan
malam hari.
2. Faktor Daur Hidup Cacing Filaria Dalam Tubuh Nyamuk
a. Perkembangan menjadi cacing infektif Mikrofilaria yang terhisap oleh
nyamuk, tidak segera menjadi infektif, tetapi memerlukan perkembangan
menjadi larva L1, larva L2 dan akhirnya menjadi larva L3 yang infektif (masa
inkubasi ektrinsik). Spesies Brugia memerlukan waktu 8-10 hari, spesies
Wuchereria memerlukan waktu 10-14 hari.

b. Kemampuan perkembangan mikrofilaria dalam tubuh nyamuk Kemampuan


Nyamuk untuk mendapatkan mikrofilaria saat menghisap darah manusia yang
positif mikrofilaria sangat terbatas, tetapi terlalu banyak mikrofilaria terhisap,
dapat menyebabkan kematian nyamuk tersebut. Sebaliknya, apabila
mikrofilaria yang terhisap oleh nyamuk terlalu sedikit
maka kemungkinan terjadinya penularan menjadi kecil karena stadium
larva L3 yang dihasilkan juga sedikit. Kepadatan vektor, suhu dan kelembaban
juga sangat berpengaruh terhadap penularan Filariasis. Suhu dan kelembaban
berpengaruh terhadap umur nyamuk, sehingga microfilaria yang telah ada

14
dalam tubuh nyamuk tidak cukup waktunya untuk tumbuh menjadi larva
infektif L3.
c. Faktor Pemukiman dan Perpindahan Penduduk Disamping faktor-faktor
tersebut diatas, mobilitas penduduk dari daerah endemis ke non endemis atau
sebaliknya, berpotensi menjadi media terjadinya penyebaran Filariasis antar
daerah.
d. Hospes Filaria Spesieis Brugia malayi tipe sub periodic dan non periodik juga
terdapat pada kucing dan kera dengan nyamuk penularnya adalah nyamuk
mansonia. Adanya binatang yang menjadi hospes cacing filaria, akan menjadi
salat satu masalah dalam upaya eliminasi Filariasis di Indonesia.

2.7 SUMBER PENULARAN


Empat faktor yang mempengaruhi terjadinya penularan Filariasis, yaitu adanya:
Cacing filaria, manusia dan hospes lain sebagai sumber penularan, vektor penular
Filariasis dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi keberadaan vektor dan manusia
rentan terhadap penularan Filariasis. Pada daerah yang terdapat seseorang yang
mengidap cacing filaria sebagai sumber penularan, maka proses terjadinya penularan
Filariasis dari sumber penularan ke orang lain disekitarnya tidak mudah, tetapi
menyatakan tidak terjadi penularan juga tidak mudah dilakukan.
Sumber penularan Filariasis utama adalah manusia terinfeksi cacing filaria.
Adanya penularan atau adanya sumber penularan Filariasis pada suatu wilayah tertentu
dapat diidentifikasi berdasarkan:
a) Adanya penderita Filariasis klinis (akut atau kronis). Semakin banyak jumlah
penderita Filariasis semakin dicurigai adanya penularan Filariasis. Adanya

15
penderita Filariasis baru juga memperkuat dugaan adanya penularan Filariasis
di wilayah tersebut
b) Adanya orang yang ditemukan positif mikrofilaria dalam darahnya. Adanya
angka microfilaria rate yang tinggi, semakin memperkuat dugaan adanya
penularan aktif.
c) Disamping adanya sumber penularan tersebut, jenis nyamuk dan kondisi
lingkungan, menjadi faktor penentu identifikasi daerah yang terdapat penularan
Filariasis

2.8 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENBGARUHI PENYEBARAN DAN


PENULARAN
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap distribusi kasus filariasis dan mata
rantai penularannya. Biasanya daerah endemis B. malayi adalah daerah dengan hutan
rawa, sepanjang sungai atau badan air lain yang ditumbuhi tanaman air. Daerah
endemis W. bancrofti tipe perkotaan (urban) adalah daerah-daerah perkotaan yang
kumuh, padat penduduknya dan banyak genangan air kotor sebagai habitat dari vektor
yaitu nyamuk Cx. quinquefasciatus. Sedangkan daerah endemis W. bancrofti tipe
pedesaan (rural) secara umum lingkungannya sama dengan daerah endemis B. malayi.
Lingkungan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk, dimana di Kabupaten Bangka
Barat banyak terdapat lobang bekas penambangan timah dan digenangi oleh air. Secara
umum lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan fisik, lingkungan biologik dan
lingkungan sosial, ekonomi dan budaya (Depkes RI, 2007).
a. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik mencakup antara lain keadaan iklim, keadaan geografis,
struktur geologi, suhu, kelembaban dan sebagainya. Lingkungan fisik erat kaitannya
dengan kehidupan vektor, sehingga berpengaruh terhadap munculnya sumber-sumber
penularan filariasis. Lingkungan fisik dapat menciptakan tempat-tempat perindukan
dan beristirahatnya nyamuk. Lingkungan dengan tumbuhan air di rawa-rawa dan
adanya hospes reservoir (kera, lutung dan kucing) berpengaruh terhadap penyebaran B.
malayi sub periodik nokturna dan non periodik.
1) Suhu Udara
Suhu udara berpengaruh terhadap pertumbuhan, masa hidup serta keberadaan
nyamuk. Menurut Chwatt (1980), suhu udara yang optimum bagi kehidupan
nyamuk berkisar antara 25-30o C (Depkes RI, 2007).

16
2) Kelembaban Udara
Kelembaban berpengaruh terhadap pertumbuhan, masa hidup serta keberadaan
nyamuk. Kelembaban yang rendah akan memperpendek umur nyamuk.
Kelembaban mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit,
istirahat, dan lain-lain dari nyamuk. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas
paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang
tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit, sehingga
meningkatkan penularan (Depkes RI, 2009).
3) Angin Kecepatan
Angin pada saat matahari terbit dan terbenam yang merupakan saat terbangnya
nyamuk ke dalam atau keluar rumah, adalah salah satu faktor yang ikut menentukan
jumlah kontak antara manusia dengan nyamuk. Jarak terbang nyamuk (flight
range) dapat diperpendek atau diperpanjang tergantung kepada arah angin. Jarak
terbang nyamuk Anopheles adalah terbatas biasanya tidak lebih dari 2-3 km dari
tempat perindukannya. Bila ada angin yang kuat nyamuk Anopheles bisa terbawa
sampai 30 km.
4) Hujan
Hujan berhubungan dengan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk
dewasa. Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan,
jumlah hari hujan jenis vektor dan jenis tempat perkembangbiakan (breeding
place).
5) Sinar Matahari
Sinar matahari memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada spesies nyamuk.
Nyamuk An. aconitus lebih menyukai tempat untuk berkembang biak dalam air
yang ada sinar matahari dan adanya peneduh. Spesies lain tidak menyukai air
dengan sinar matahari yang cukup tetapi lebih menyukai tempat yang rindang,
Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda. An.
sundaicus lebih suka tempat yang teduh, An.hyrcanus spp dan An. punctulatus spp
lebih menyukai tempat yang terbuka, dan An. barbirostris dapat hidup baik di
tempat teduh maupun yang terang (Depkes RI, 2007).
6) Tempat Perkembang Biakan Nyamuk Tempat perkembangbiakan nyamuk adalah
genangan genangan air, baik air tawar maupun air payau, tergantung dari jenis
nyamuknya. Air ini tidak boleh tercemar harus selalu berhubungan dengan tanah.
Berdasarkan ukuran, lamanya air (genangan air tetap atau sementara) dan macam

17
tempat air, klasifikasi genangan air dibedakan atas genangan air besar dan
genangan air kecil
b. Lingkungan Biologik
Lingkungan biologik dapat menjadi faktor pendukung terljadinya penularan
filariasis. Contoh lingkungan biologik adalah adanya tanaman air, genangan air, rawa-
rawa, dan semak-semak sebagai tempat pertumbuhan nyamuk Mansonia spp.
Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi
kehidupan larva karena ia dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari
serangan makhluk hidup lainnya.
Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (Panchax
spp), gambusia, nila, mujair dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk di
suatu daerah. Selain itu adanya ternak besar seperti sapi, kerbau dan babi dapat
mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila ternak tersebut
dikandangkan tidak jauh dari rumah, hal ini tergantung pada kesukaan menggigit
nyamuknya (Depkes RI, 2009).
Telur Mansonia ditemukan melekat pada permukaan bawah daun tumbuhan
inang dalam bentuk kelompok yang terdiri dari 10-16 butir. Telurnya berbentuk
lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing. Lalu, larva dan pupanya melekat pada
akar atau batang tumbuhan air dengan menggunakan alat kaitnya. Alat kait tersebut,
kalau pada larva terdapat pada ujung siphon, sedangkan pada pupa ditemukan pada
terompet. Sehingga, dengan alat kait itu, baik siphon maupun terompet dapat
berhubungan langsung dengan udara (Oksigen) yang ada di jaringan udara tumbuhan
air. Keberadaan tumbuhan air mutlak diperlukan bagi kehidupan nyamuk Mansonia,
dan diketahui spesies nyamuk ini merupakan salah satu vektor penularan dari penyakit
kaki gajah. Adapun tumbuhan air yang dijadikan sebagai inang Mansonia sp., antara
lain eceng gondok, kayambang, dan lainnya. Untuk memberantas dan memutuskan
penularan penyakit filariasis ini, selain melakukan pengobatan pada penderita juga
perlu dilakukan pemberantasan vektor penyakitnya. Caranya, bisa dengan
menggunakan herbisida yang mematikan tumbuhan inangnya. Atau bisa juga secara
mekanis melakukan pembersihan perairan dari tumbuhan air yang dijadikan inang
oleh nyamuk Mansonia sp.
c. Lingkungan Kimia
Dari lingkungan ini yang baru diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari
tempat perkembangbiakan. Sebagai contoh An. sundaicus tumbuh optimal pada air

18
payau yang kadar garamnya berkisar antara 12 18% dan tidak dapat berkembang
biak pada kadar garam 40% ke atas, meskipun di beberapa tempat di Sumatera Utara
An. sundaicus sudah ditemukan pula dalam air tawar. An. letifer dapat hidup ditempat
yang asam/pH rendah (Depkes RI, 2009).
d. Lingkungan Sosial, Ekonomi, dan Budaya Lingkungan sosial
Ekonomi dan kultur adalah lingkungan yang timbul sebagai akibat adanya
interaksi antar manusia, termasuk perilaku, adat istiadat, budaya, kebiasaan dan tradisi
penduduk. Kebiasaan bekerja di kebun pada malam hari atau kebiasaan keluar pada
malam hari, atau kebiasaan tidur perlu diperhatikan karena berkaitan dengan intensitas
kontak vektor (bila vektornya menggigit pada malam hari). Insiden filariasis pada
laki-laki lebih tinggi daripada insidens filariasis pada perempuan karena umumnya
laki-laki lebih sering kontak dengan vektor karena pekerjaannya (Notoatmodjo S,
1997).

2.9 SIKLUS HIDUP AGENT

Siklus Hidup Cacing Filaria

Siklus hidup ketiga spesies cacing filaria (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan
Brugia timori ) adalah hampir mirip, dapat terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk
tersebut menggit dan menghisap darah orang yang terserang filariasis, sehingga mikro
filaria yang terdapat ditubuh penderita ikut terhisap kedalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria
tersebut masuk kedalam tubuh nyamuk, kemudian menembus dinding lambung dan
bersarang diantara otot otot dada (Toraksi).

Bentuk mikrofilaria menyerupai sosis yang disebut larva stadium I. Dalam waktu
kurang lebih satu minggu larva ini berganti kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang
yang yang disebut larva stadiun II. Pada hari kesepuluh dan seterusnya larva berganti kulit
untuk kedua kalinya, sehingga menjadi lebih panjang dan kurus, ini adalah larva stadium
III. Gerak larva stadium III ini sangat aktif, sehingga larva mulai bermigrasi mula mula
ke rongga perut (Abdomen) kemudian pindah ke kepala dan alat tusuk nyamuk.

Apabila nyamuk mikrofilaria ini menggigit manuisa maka mikrofilaria yang sudah
berbentuk larva infektif (Larva stadium III) secara aktif ikut masuk kedalam tubuh manusia
(Hospes),bersama sama dengan aliran darah dalam tubuh manusia.Larva keluar dari
pembuluh darah dan masuk ke pembuluh limfe. Didalam pembuluh limfe larva

19
mengalamidua kali pergantian kulit dan tumbuh menjadi dewasa yang sering disebut larva
stadium IV dan larva stadium V. Cacing filaria yang sudah dewasa bertempat di pembuluh
limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe dan akan terjadi pembengkakan. Cacing
filaria sendiri memiliki ciri sebagai berikut :

1. Cacing dewasa (makrofilaria) berbentuk seperti benang berwarna putih kekuningan.


Sedangkan larva cacing filaria (kirofilaria berbentuk seperti benang berwarna putih
susu..

2. Makrofilaria yang betina memiliki panjang kurang lebih 65-100mm dan ekornya lurus
berujung tumpul. Untuk makro filaria yang jantan memiliki panjang kurang lebih
40mm dan ekor melingkar.Sedangkan mikrofilaria memilki panjang kurang labih 250
mikron, bersarung pucat

3. Tempat hidup makrofilaria jantan dan betina di saluran limfe. Tetapi pada malam hari
mikrofilaria terdapat didalam darah tepi sedangkan pada siang hari mikrofilaria
terdapat di kapiler alat- alat dalam seperti paru- paru, jantung, dan hati.

2.10 METODE PENGENDALIAN


2.10.1 Cara Pencegahan
a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis mengenai cara
penularan dan cara pengendalian vektor nyamuk.
b. Mengidentifikasi vektor dengan mendeteksi adanya larva infektif dalam
nyamuk dengan menggunakan umpan manusia; mengidentifikasi waktu dan
tempat menggigit nyamuk serta tempat perkembangbiakannya. Jika penularan
terjadi oleh nyamuk yang menggigit pada malam hari di dalam rumah maka
tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan,
menggunakan pestisida residual, memasang kawat kasa, tidur dengan
menggunakan kelambu (lebih baik yang sudah dicelup dengan insektisida
piretroid), memakai obat gosok anti nyamuk (repellents) dan membersihkan
tempat perindukan nyamuk seperti kakus yang terbuka, ban-ban bekas, batok
kelapa dan membunuh larva dengan larvasida. Jika ditemukan Mansonia
sebagai vektor pada suatu daerah, tindakan yang dilakukan adalah dengan

20
membersihkan kolam-kolam dari tumbuhan air yang menjadi sumber oksigen
bagi larva tersebut.
c. Pengendalian vektor jangka panjang mungkin memerlukan perubahan
konstruksi rumah dan termasuk pemasangan kawat kasa serta pengendalian
lingkungan untuk memusnahkan tempat perindukan nyamuk. (Soedarto,1990).
d. Melakukan pengobatan dengan menggunakan diethilcarbamazine citrate (DEC,
Banocide, Hetrazan, Notezine ); Diberikan DEC 3x1tablet 100mg selama
10 hari berturut-turut dan parasetamol 3x1 tablet 500 mg dalam 3 hari pertama.
Pengobatan ini ini terbukti lebih efektif bila diikuti dengan pengobatan setiap
tahun sekali menggunakan DEC dosis rendah (25-50 mg/kg BB) selama 5 tahun
berturut-turut atau konsumsi garam yang diberi DEC (02- 0,4 mg/kg BB) selama
5 tahun. Namun pada beberapa kasus timbulnya reaksi samping dapat
mengurangi partisipasi masyarakat, khususnya di daerah endemis
onchocerciasis. Invermectin dan albendazole juga telah digunakan; saat ini
pengobatan dosis tunggal setahun sekali dengan kombinasi obat ini akan lebih
efektif. Di daerah endemis filariasis dimana onchocerciasis tidak endemis WHO
menyarankan dilakukan pengobatan massal menggunakan obat dosis tunggal
sekali setahun selama 5-7 tahun yaitu kombinasi DEC 6 mg/kg BB dengan 400
mg albendazole, atau garam DEC dalam bentuk fortifikasi yang biasanya
diberikan secara reguler selama 5 tahun. Di daerah endemis onchocerciasis
dianjurkan pemberian invermectin dengan albendazole (400 mg). Wanita hamil
dan anak < 2 tahun, tidak boleh diberikan DEC + albendazole. Anak yang
tingginya < 90 cm dan ibu menyusui minggu pertama tidak boleh diberikan
invermectin + albendazole. Di daerah endemis loiasis tidak dilakukan
pengobatan massal, ditakutkan terjadi efek samping berat (Depkes RI,2009)

2.10.2 Pengendalian Pada Kasus, Kontak, Lingkungan


a. Laporkan kepada instansi kesehatan yang berwenang; di daerah endemis
tertentu di kebanyakan negara, bukan merupakan penyakit yang wajib
dilaporkan, kelas 3 C. Laporan penderita disertai dengan informasi tentang
ditemukannya mikrofilaria memberikan gambaran luasnya wilayah transmisi di
suatu daerah.
b. Isolasi tidak dilakukan. Kalau memungkinkan penderita dengan mikrofilaria
harus dilindungi dari gigitan nyamuk untuk mengurangi penularan.

21
c. Karantina tidak ada.
d. Penyelidikan kontak dengan sumber infeksi; dilakukan sebagai bagian dari
gerakan yang melibatkan masyarakat.
e. Pengobatan spesifik: pemberian diethilcarbamazine citrate (DEC, Banocide,
Hetrazan, Notezine) dan Invermectin hasilnya membuat sebagian atau seluruh
mikrofilaria hilang dari darah, namun tidak membunuh seluruh cacing dewasa.
Mkrofilaria dalam jumlah sedikit hanya dapat dideteksi dengan teknik
konsentrasi. DEC umumnya menimbulkan reaksi umum akut dalam 24 jam
pertama dari pengobatan sebagai akibat dari degenerasi dan matinya
mikrofilaria; reaksi ini biasanya diatasi dengan Parasetamol, anti histamine atau
kortikosteroid. Limfadenitis dan limfangitis lokal mungkin juga terjadi karena
matinya cacing dewasa. Antibiotik pada stadium awal infeksi dapat mencegah
terjadinya gejala sisa pada sistem limfe yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
Perawatan kulit untuk mencegah terjadinya lesi, latihan gerak, elevasi tungkai
yang kena, kalau terjadi infeksi jamur atau bakteri, berikan salep anti jamur atau
anti bakteri untuk mencegah terjadinya dermatoadenolimfangitis yang dapat
berkembang menjadi limfoedema. Manajemen limfoedema antara lain
perawatan lokal tungkai yang terkena; dekompresi bedah. Tindakan bedah
diperlukan pada hydrocele. (Depkes RI, 2009).

2.10.3 Tindakan-tindakan epidemiologis


Pengendalian Hospes Rservoir ini hinggasekarang belum ada data
tentang pengedalian hospes reservoir filariasis diIndonesia, kera merupakan hewan
yangdilindungi, sehingga sukar untuk membunhnya secara besar-besaran. Selainitu kera yang
menjadi vektor filariasissangat liar dan sukar ditangkap.
barangkali pengendalian dapat dilakukan denganmenjauhkan kera dari manusia,
sehingganyamuk yang didekat manusia tidakterkena infeksi dari kera itu. Kucingsebagai
hospes reservoir juga merupakanmasalah yang tidak mudah dipecahkan.Jika mungkin
barangkali dilakukan pengobatan masal pada kucing- kucing,tapi jangkauan akan jauh
lebih rendah dari pada manusia.
Sehingga nyamuk yang didekat manusia tidak terkena infeksi darikera itu. Kucing
sebagai hospes reservoir juga merupakan masalah yang tidakmudah dipecahkan.Jika
mungkin barangkali diakukan pengobatan masal pada kucing, tapi jangkauan ak
an jauh lebih rendah daripada manusia. Peran sertamayarakat dalam penanggulangan

22
agartarget dan sasaran pemberantasankemungkinan besar upaya penanggulangan yang
disertai masyarakatakan mencapai hasil yang diharapkanyaitu menurunya prevalensi
penyakitsampai titik yang tidak membahayakan.

2.10.4 Tindakan- tindakan jika terjadi KLB

Upaya penanggulangan KLB

1. Penyelidikan epidemilogis.

2. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita termasuk


tindakan karantina.

3. Pencegahan dan pengendalian.

4. Pemusnahan penyebab penyakit.

5. Penanganan jenazah akibat wabah.

6. Penyuluhan kepada masyarakat.

7. Upaya penanggulangan lainnya.

Tindakan pengendalian KLB meliputi pencegahan terjadinya KLB pada


populasi, tempat dan waktu yang berisiko (Bres, 1986). Dengan demikian untuk
pengendalian KLB selain diketahuinya etiologi, sumber dan cara penularan
penyakit masih diperlukan informasi lain. Informasi tersebut meliputi :

1. Keadaan penyebab KLB

2. Kecenderungan jangka panjang penyakit

3. Daerah yang berisiko untuk terjadi KLB (tempat)

4. Populasi yang berisiko (orang, keadaan imunitas)

23
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam sistem
limfe dan ditularkan oleh nyamuk. Bersifat menahun dan menimbulkan cacat menetap.
Gejala klinis berupa demam berulang 3-5 hari, pembengkakan kelenjar limfe,
pembesaran tungkai, buah dada, dan skrotum. Dapat didiagnosis dengan cara deteksi
parasit dan pemeriksaan USG pada skrotum. Mekanisme penularan yaitu ketika
nyamuk yang mengandung larva infektif menggigit manusia, maka terjadi infeksi
mikrofilaria. Tahap selanjutnya di dalam tubuh manusia, larva memasuki sistem limfe
dan tumbuh menjadi cacing dewasa. Kumpulan cacing filaria dewasa ini menjadi
penyebab penyumbatan pembuluh limfe. Akibatnya terjadi pembengkakan kelenjar
limfe, tungkai, dan alat kelamin.Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan
menghindari gigitan nyamuk dan melakukan 3M. Pengobatan menggunakan DEC
dikombinasikan dengan Albendazol dan Ivermektin

3.2 SARAN
Diharapkan pemerintah dan masyarakat lebih serius menangani kasus filariasis
karena penyakit ini dapat membuat penderitanya mengalami cacat fisik sehingga akan
menjadi beban keluarga, masyarakat dan Negara.

24
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2014 Tentang


Penanggulangan Filariasis
Notoatmodho, Soekidjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : RhinekaCipta;
2007
Entjang, Indan. 1982. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung : Penerbit Alumni. Noble,
Elmer R. & Glenn A. Noble. 1989. Parasitologi Biologi Parasit Hewan Edisi Kelima.
Yogyakarta :Gajah Mada University Press
Widoyono.2008.Penyakit Tropis : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan
Pemberantasannya. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Dr. Isrin Ilyas DTMH, MPH. Sub Direktorat Filariasis, Direktorat Jenderal PPM dan
PLP. Departemen Kesehatan RI., Jakarta Simposium Filariasis, Seminar Penyakit
Menu/ar, 21 Maret 1988.
Baroji dick. (1999). Beberapa Aspek Bionomik Vektor Filariasis Anopheles flaviroslris
Ludlowdi Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timut, NTT. Buletin Penelitian
Kesehatan Vol. 26. No. l.h.36-46.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2005). Ditjen PP&PL, Pedoman
pengobatan massal filariasis. h.1-3.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Ditjen PP&PL, Subdit Filariasis
Dan Schistosomiasis. Situasi Filariasis Di Indonesia Tahun 2007 dan Rencana
Kegiatan Tahun 2008.
Soeyoko. (2002). Penyakit Kaki Gajah (Filariasis Limfatik): Permasalahan dan
Alternatif Penanggulangannya. Universitas Gajah Mada
Departemen Kesehatan RI, Petunjuk Pelaksanaan Pemberantasan Penyakit Kaki
Gajah di Indonesia, 1992.
Depkes RI. 2008. Pedoman Program Eliminasi Filariasis Di Indonesia dan Kunci
Identifikasi Nyamuk Mansonia Ditjen PP & PL Depkes RI.
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasannya. Erlangga.
Supali, T. dkk. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. FKUI. Jakarta.

25