Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
.

1.1 Latar Belakang

Ekotoksikologi merupakan ilmu yang mempelajari efek dari senyawa-


senyawa kimia terhadap populasi dan ekosistemnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung (DFG, 1983 dalam Palar, 2002).Pada dasarnya dalam sebuah
ekosistem, komponen abiotik dan komponen biotik akan saling mempengaruhi
dan saling ketergantungan. Penelitian yang terfokus kepada ranah ekotoksikologi
menitikberatkan pada efek senyawa toksikan (komponen abiotik) yang
mengakibatkan dampak berbahaya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
bagi organisme (komponen biotik) dalam sebuah ekosistem.
Aktivitas antropogenik sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari penggunaan
bahan-bahan kimia. Salah satu bahan kimia yang paling banyak digunakan
sehari-hari adalah hidrokarbon. Hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri
dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai
karbon dan atomatom hidrogen yang berikatan dengan rantai tersebut.
Hidrokarbon tersebar secar luas ke seluruh lautan, atmosfer, dan lingkungan
daratan (Malins, 1977 dalam Herdiyantoro, 2005) namun dapat berasal dari
minyak bumi atau merupakan asal-muasal yang baru.
Sisa dari penggunaan hidrokarbon yang dibuang ke lingkungan dapat
menncemari badan perairan. Dalam konsentrasi yang tinggi, dapat menyebabkan
bahaya bahkan dapat menimbulkan efek lethal bagi makhluk hidup. Oleh karena
itu, perlu diketahui dosis yang aman ataupun dosis yang menyebabkan kematian
agar tidak menimbulkan pencemaran, serta mengetahui dampak buruk bagi
organisme di dalamnya.

1
1.2. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Uji Toksisitas Sub-Lethal ini adalah untuk dapat
memahami dan melaksanakan persiapan, pemaparan, dan pengamatan Uji
Toksisitas Sub-Lethal serta mampu memahami dampak dari bahan toksik terhadap
organisme uji dengan mengamati gejala fisiologis dan gejala klinis.

1.3. Manfaat Praktikum


Manfaat dari praktikum Uji Toksisitas Akut ini adalah dapat memahami
dan mampu melaksanakan persiapan, pemaparan,dan pengamatan Uji Toksisitas
Sub-Lethal. Selain itu, praktikan dapat menganalisis hasil praktikum melalui
Survival Rate dengan beragam jenis bahan toksik serta dapat mengetahui
karakteristik dari jenis bahan toksik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum Uji Toksisitas Sublethal

Uji Toksisitas Subletal merupakan bagian dari uji toksisitas kuantitatif


yang dilakukan dengan pemaparan atau pendedahan dalam jangka waktu medium
sebagai bentuk skrining kedua atas indikasi dampak toksisitas. Biasanya efek
subletal dapat terjadi dalam beberapa hari, minggu sampai beberapa bulan.
Subletal ini menggunakan konsentrasi atau dosis menengah.

Secara normal uji toksisitas sublethal memerlukan studi inhalasi atau


penelanan selama 90 hari untuk mengetahui efek-efek spesifik dan nyata dari
bahan kimia pada organ dan biokimia dari binatang. Pengujian toksisitas
sebaiknya dilakukan secara berulang-ulang dan diarahkan terutama untuk
mendeteksi efek toksik yang secara jelas bukan akibat dari pemaparan kulit.

Pengujian secara kasar hanya berdasarkan pengamatan abnormalitas secara


pengamatan kasar dengan mata telanjang, tetapi untuk pengujian yang lebih
mendalam perlu pengambilan irisan suatu jaringan dan diperiksa di bawah
mikroskop untuk mengetahui terjadi abnormalitas sel-sel dalam organ. Pada
umumnya dalam pengujian perlu pengarnbilan cuplikan darah atau urin secara
teratur dari binatang percobaan untuk pemeriksaan dan analisis. Pengujian-
pengujian ini merupakan dasar bagi dosis yang digunakan dalam uji toksisitas
kronik.

Efek sub lethal dapat diamati pula tentang biokimia, fisiologi, tingkah laku
atau tingkat siklus hidup dari organisme tersebut. Pengamatan atau monitoring
terhadap efek sub lethal sangat penting dan merupakan gejala awal terhadap
perubahan fatal akibat keracunan sebelum terjadinya kematian, sehingga akibat
buruk selanjutnya bahkan kerusakan ekosostem dapat dihindari atau dicegah.
Pengaruh dari senyawa pencemar dapat diamati dalam tingkat seluler, enzim,
proses metabolisma dan regulasi (Sudarmadi, 1993).
2.2. Tinjauan Umum Biota Uji Ikan Bandeng

2.2.1 Morfologi dan Klasifikasi Ikan Bandeng

Ikan bandeng yang dalam bahasa latin adalah Chanos chanos, bahasa
Inggris Milk fish, pertama kali ditemukan oleh seseorang yang bernama Dane
Forsskal pada Tahun 1925 di laut merah. Ikan Bandeng (Chanos chanos)
termasuk dalam famili Chanidae (Milk Fish) yaitu jenis ikan yang mempunyai
bentuk memanjang, padat, pipih (compress) dan oval. Memiliki tubuh yang
panjang, ramping, padat, pipih, dan oval. menyerupai torpedo. Perbandingan
tinggi dengan panjang total sekitar 1 : (4,0-5,2). Sementara itu, perbandingan
panjang kepala dengan panjang total adalah 1 : (5,2-5,5) (Sudrajat, 2008). Ukuran
kepala seimbang dengan ukuran tubuhnya, berbentuk lonjong dan tidak bersisik.
Bagian depan kepala (mendekati mulut) semakin runcing (Purnowati et al, 2007).

Gambar 1. Ikan bandeng

Menurut Sudrajat (2008) Klasifikasi ikan bandeng (Chanos chanos) adalah


sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Malacopterygii
Famili : Chanidae
Genus : Chanos
Spesies : Chanos chanos
2.2.2 Habitat dan Kebiasaan Hidup Ikan Bandeng (Chanos chanos)

Ikan bandeng termasuk jenis ikan eurihaline, dimana dapat hidup pada
kisaran kadar garam yang cukup tinggi (0 140 promil). Oleh karena itu ikan
bandeng dapat hidup di daerah tawar (kolam/sawah), air payau (tambak), dan air
asin (laut) (Purnowati, et al., 2007). Ketika mencapai usia dewasa, ikan bandeng
akan kembali ke laut untuk berkembang biak (Purnomowati, dkk., 2007).
Pertumbuhan ikan bandeng relatif cepat, yaitu 1,1-1,7 % bobot badan/hari
(Sudrajat, 2008), dan bisa mencapai berat rata -rata 0,60 kg pada usia 5 - 6 bulan
jika dipelihara dalam tambak (Murtidjo, 2002).

Ikan bandeng merupakan jenis ikan laut yang daerah penyebarannya


meliputi daerah tropika dan sub tropika (Pantai Timur Afrika, Laut Merah sampai
Taiwan, Malaysia, Indonesia dan Australia). Di Indonesia penyebaran ikan
bandeng meliputi sepanjang pantai utara Pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa
Tenggara, Aceh, Sumatra Selatan, Lampung, Pantai Timur Kalimantan, sepanjang
pantai Sulawesi dan Irian Jaya. (Purnowati, et al., 2007).

2.3 Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos chanos)

Pertumbuhan merupakan suatu perubahan bentuk akibat pertambahan


panjang, berat dan volume dalam periode tertentu secara individual. Pertumbuhan
juga dapat diartikan sebagai pertambahan jumlah sel-sel secara mitosis yang pada
akhirnya menyebabkan perubahan ukuran jaringan. Pertumbuhan bagi suatu
populasi adalah pertambahan jumlah individu, dimana faktor yang
mempengaruhinya dapat berupa faktor internal dan eksternal. Faktor internal
meliputi umur, keturunan dan jenis kelamin, sedangkan faktor eksternal meliputi
suhu, makanan, penyakit, media budidaya, dan sebagainya (Haryono et al, 2001).
Sintasan (survival rate) adalah persentase ikan yang hidup dari jumlah
ikan yang dipelihara selama masa pemeliharaan tertentu dalam suatu wadah
pemeliharaan. Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya kualitas air, ketersediaan pakan yang sesuai dengan kebutuhan ikan,
kemampuan untuk beradaptasi dan padat penebaran. Tingkat kelangsungan hidup
dapat digunakan dalam mengetahui toleransi dan kemampuan ikan untuk hidup
(Effendi, 1997). Kelangsungan hidup sebagai salah satu parameter uji kualitas
benih. Peluang hidup suatu individu dalam waktu tertentu, sedangkan mortalitas
adalah kematian yang terjadi pada suatu populasi organisme yang dapat
menyebabkan turunnya populasi (Wulandari 2006). Ikan yang berukuran kecil
(benih) akan lebih rentan terhadap parasit, penyakit dan penanganan yang kurang
hati - hati. Kelangsungan hidup larva ditentukan oleh kualitas induk, telur,
kualitas air, serta rasio antara jumlah makanan dan kepadatan larva (Effendi,
1997).
Perubahan pada komponen abiotik akan mengganggu proses fisiologi dan
tingkah laku ikan terhadap ruang gerak yang pada akhirnya dapat menurunkan
kondisi kesehatandan fisiologis sehingga pemanfaatan makanan, pertumbuhan dan
kelangsungan hidup mengalami penurunan (Darmawangsa, 2008). Respon stres
terjadi dalam tiga tahap yaitu tanda adanya stres, bertahan, dan kelelahan. Proses
adaptasi ikan pada tahap awal akan mulai mengeluarkan energinya untuk bertahan
dari stress. Selama proses bertahan ini pertumbuhan akan menurun. Dampak dari
stress ini mengakibatkan daya tahan tubuh ikan menurun dan selanjutnya terjadi
kematian.

2.3 Tinjauan Umum Bahan Toksik

2.3.1 Benzena

Benzena merupakan senyawa aromatik tersederhana. Cincin benzene


dianggap sebagai induk sama seperti alkana rantai lurus. Gugus alkil, halogen dan
gugus nitro dinamai dalam bentuk awalan pada benzena itu. Untuk pertama
kalinya benzena diisolasi pada tahun 1825 oleh Michael Faraday dari residu
minyak yang tertimbun dalam pipa induk gas di London. Dewasa ini sumber
utama benzena, adalah benzena yang tersubstitusi dan senyawa aromatik lain
adalah petroleum. Sampai tahun 1940, batu bara merupakan sumber utama.
Bermacam-macam senyawa aromatik yang diperoleh dari sumber ini adalah
hidrokarbon, fenol dan senyawa heterosiklik aromatik ( Pudyoko S, 2010:
Fesenden et al. 1991).

Gambar 3. Struktur Benzen

(http://www.chem.ucla.edu/~harding/IGOC/B/benzene_ring01.png)

2.3.2. Cloroform

Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3), Kloroform


dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan
digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada
suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap sedangkan Aseton, juga
dikenal sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon, propan-2-on,
dimetilformaldehida, dan -ketopropana, adalah senyawa berbentuk cairan yang
tidak berwarna dan mudah terbakar. Ia merupakan keton yang paling sederhana
(Kloroform, 2012).

Gambar 5. Struktur Cloroform.


(https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9f/Chloroform_displa
yed.svg/1200px-Chloroform_displayed.svg.png)

2.3.3. Fenol

Fenol merupakan senyawa yang dapatmenimbulkan bau tidak sedap,


bersifat racun dan korosif terhadap kulit (iritasi), menyebabkan gangguan
kesehatan manusia dan kematian pada organisme yang terdapat pada air dengan
nilai konsentrasi tertentu (Qadeer&Rehan, 1998).Fenol terdiri dari rantai dasar
benzene aromatik dengan satu atau lebih kelompok hidroksil. Tingkat oksisitas
fenol beragam tergantung dari jumlah atom atau molekul yang melekat pada rantai
benzene-nya. Untuk fenol terklorinasi, semakin banyak atom klorin yang diikat
rantai benzena maka semakin toksik rantai tersebut. Klorofenol lebih bersifat
toksik pada biota air, seperti akumulasi dan lebih persisten disbanding dengan
fenol sederhana. Fenol sederhana seperti phenol, cresol dan xylenol mudah larut
dalam air dan lebih mudah didegradasi.

Gambar 4. Struktur Fenol

(http://structuresearch.merck-chemicals.com/cgi-
bin/getStructureImage.pl?owner=MDA&unit=CHEM&product=100201)

Senyawa fenol merupakan polutan yang sering ditemukan diperairan laut.


Sumber pencemar di laut berasal dari tumpahan minyak mentah, tumpahan bahan
bakar kapal maupun pembuangan limbah industry minyak bumi. Kehadiran
senyawa fenol di laut dapat membahayakan kehidupan biota laut karena fenol
bersifat toksik. Senyawa fenol dapat didegradasi oleh mikroorganisme pengurai
fenol, namun jumlah dan kemampuan mikroorganisme pengurai fenol sangat
terbatas karena sifat toksiknya

2.3.4 Crude Oil

Minyak mentah (crude oil) yang baru keluar dari sumur eksplorasi
mengandung bermacam-macam zat kimia yang berbeda baik dalam bentuk gas,
cair maupun padatan. Lebih dari separoh (50-98%) dari zat-zat tersebut adalah
merupakan hidrokarbon. Senyawa utama yang terkandung di dalam minyak bumi
adalah alifatik, alisiklik dan aromatik (Supriharyono 2000).

Minyak bumi ditemukan bersama-sama dengan gas alam. Minyak bumi


yang telah dipisahkan dari gas alam disebut juga minyak mentah (crude oil).
Minyak mentah dapat dibedakan atas:

a. Minyak mentah ringan (light crude oil), mengandung kadar logam dan
belerang rendah, berwarna terang dan bersifat encer (viskositas rendah).

b. Minyak mentah berat (heavy crude oil), mengandung kadar logam dan
belerang tinggi, memiliki viskositas tinggi sehingga harus dipanaskan agar
meleleh.

Gambar 6. Struktur Crude Oil

(http://www.scranton.edu/faculty/cannm/green-chemistry/english/img/industrial-
all/image006.gif)
Minyak mentah merupakan campuran yang kompleks dengan komponen
utama alkana dan sebagian kecil alkena, alkuna, siklo-alkana, aromatik, dan
senyawa anorganik. Minyak mentah mengandung sekitar 5098 % senyawa
hidrokarbon dan sisanya merupakan senyawa non-hidrokarbon (sulfur,nitrogen,
oxigen, dan beberapa logam berat seperti V, Ni dan Cu).

2.3.5 Oli bekas

Minyak pelumas adalah salah satu produk minyak bumi yang masih
mengandung senyawa-senyawa aromatik dengan indek viskositas yang rendah.
Fungsi minyak pelumas adalah mencegah kontak langsung antara dua permukaan
yang saling bergesekan. Minyak pelumas yang digunakan mempunyai jangka
waktu pemakaian tertentu, tergantung dari kerja mesin, minyak pelumas
merupakan sarana pokok dari suatu mesin untuk dapat beroperasi secara optimal.
Dengan demikian pelumas mempunyai peranan yang besar terhadap operasi
mesin, untuk dapat menentukan jenis pelumas yang tepat digunakan pada suatu
sistem mesin, perlu diketahui beberapa parameter mesin yang antara lain: kondisi
kerja, suhu, dan tekanan di daerah yang memerlukan pelumasan. Daerah yang
bersuhu rendah tentu akan menggunakan pelumas yang lain dengan daerah yang
bersuhu tinggi, demikian pula dengan daerah yang berkondisi kerja berat akan
menggunakan pelumas yang lain puladengan daerah yang berkondisi kerja ringan.
(Anton. L, 1985).

Gambar 7. Oli Bekas (https://pbs.twimg.com/media/CCEEHUvUkAACaI-.jpg)


2.4 Tinjauan Umum Pengamatan Fisiologis Ikan

Fisiologi dapat di defenisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi,


mekanisme, dan cara kerja dari organ, jaringan dan sel-sel organisme. Fisiologi
mencoba menerangkan faktor-faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi seluruh
proses kehidupan (Nawangsari, 1984). Ikan sebagai hewan air memiliki beberapa
mekanisme fisiologi yang tidak di miliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat
menyebabkan perkembangan organorgan ikan disesuaikan dengan kondisi
lingkungan.

Pengamatan fisiologis ikan dapat dianalisis dari gerakan buka tutup


operculum ikan. Sebagai biota perairan, Ikan merupakan mendapatkan Oksigen
terlarut dalam air. Pada hampir semua Ikan, insang merupakan komponen penting
dalam pertukaran gas, insang terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang
mengeras, dengan beberapa filamen insang di dalamnya (Fujaya. 1999; 103).
Pengaruh bahan toksik serta kelarutannya dalam perairan akan mempengaruhi
sistem fisiologis ikan yang dapat dianalisa dari frekuensi buka tutup operculum
ikan selama selang waktu tertentu dalam percobaan uji toksisitas sub-lethal.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Praktikum dan rekapitulasi data uji toksisitas sublethal dilaksanakan pada tanggal
13 Oktober hingga 20 Oktober 2017 pukul 10-12 WIB di Laboratorium
Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Padjadjaran.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
1) Bak fiber
Bak fiber digunakan untuk menampung stok ikan
2) Akuarium
Akuarium digunakan untuk media ikan selama pengamatan
3) Selang dan batu aerasi
Selang dan batu aerasi digunakan untuk memberikan aerasi pada ikan
4) Saringan ikan
Saringan ikan digunakan untuk mengambil ikan dari bak penampungan
5) Timbangan
Timbangan digunakan untuk menimbang berat ikan
6) Selang siphon
Selang siphon digunakan membersihkan kotoran pada akuarium
7) pH meter
pH meter digunakan untuk mengukur pH air akuarium
8) Hand counter
Hand counter digunakan untuk menghitung bukaan operculum ikan

3.2.2 Bahan
1) Ikan Uji (3 Kelas Ukuran)
2) Benzene
3) Fenol
4) Kloroform
5) Crude oil
6) Oli bekas
7) Pakan Ikan
8) Kertas Label
9) Tissue Laboratorium
10) Gloves

3.3 Prosedur Kerja


3.3.1 Persiapan Pelaksanaan Praktikum

Aklimatisasi ikan bandeng Chanos chanos

Membersihkan akuarium dan mengisi


air sebanyak 5 L

Setting alat aerasi beserta


perlengkapannya

Menyambungkan kabel ke sumber


arus listrik

3.3.2 Pelaksanaan Praktikum


1) Membuat larutan stok dari masing-masing polutan (4 bahan uji) dari botol
sumber.
2) Memasukkan masing-masing akuarium setiap kelompok dengan ikan uji
sebanyak 5 ekor (Ikan besar 2 ekor, ikan kecil 3 ekor)
3) Ikan uji ditimbang untuk menghitung bobot awal
4) Memasukkan polutan (dengan konsentrasi dan bahan polutan yang telah
ditentukan) ke dalam akuarium masing-masing kelompok kecuali kontrol.
3.3.3 Pengamatan Uji Sub-Lethal
Pengamatan ikan uji dilakukan pada setengah jam pertama dilanjutkan
dengan pengamatan harian selama satu minggu. Pemberian pakan diberikan setiap
hari sebanyak 1% dari bobot total ikan uji. Dibuat grafik gerak operculum
perkelompok dan perkelasserta grafik survival rate (SR) ikan uji

3.4 Analisis Data

Data dianalisis berdasarkan data kelas dibandingkan antara berbagai jenis


polutan dengan konsentrasi yang digunakan dibandingkan dengan kontrol dari
parameter yang tersaji pada data kelas tersebut. Bahasan meliputi jenis polutan,
konsentrasi polutan, waktu dedah, keadaan ikan uji, gejala fisiologis, gejala klinis,
dan survival rate.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN