Anda di halaman 1dari 100

Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan

Gedung Di Kota Semarang Tahun 2010

4.

Bab ini memaparkan dasar-dasar hukum


yang berkaitan dengan bangunan gedung
dan teknis pelaksanaan bangunan gedung
serta peraturan yang digunakan dalam
proses pelaksanaan pemeriksaan
keandalan bangunan gedung. Selain itu
dalam bab ini menjelaskan tentang
pendekatan dan metodologi dalam
pelaksanaan pemeriksaan keandalan dan
kelaikan bangunan gedung di Kota
Semarang tahun 2010.

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung


merupakan salah satu pekerjaan yang harus dilaksanakan berdasarkan metode dan
pendekatan teknis yang tepat dan sesuai dengan standard an aturan yang ada,
Penilaian andal atau tidaknya sebuah bangunan gedung tentunya akan dilihat dari
beberapa aspek. Pendekatan teknis dan metodologi memegang peran penting dan
utama untuk terlaksananya sebuah output yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam hal ini pendekatan teknis (technical approach) mempunyai pengertian terutama
dikaitkan pada langkah-langkah seperti halnya penapisan (screening), pelingkupan
(scoping), pelaksanaan (processing) serta manajemen pelaksanan dan pengelolaan.
Sedangkan metode kerja (methodology) mempunyai pengertian yang lebih mengarah
pada kriteria, prinsip dan formulasi analisis dalam masing-masing langkah penanganan
tersebut. Pendekatan teknis dan metodologi kerja dalam kegiatan Pemeriksaan
Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung di Kota Semarang yang akan dibahas dan
dijabarkan di sini hanya akan menekankan pada aspek-aspek secara makro sebelum
menginjak ke pelaksanaan di lapangan.
4.1. DASAR HUKUM PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

Dalam pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan


Gedung di Kota Semarang tahun 2010, tentunya memiliki pedoman-pedoman dan acuan
yang dijadikan sebagai dasar dari seluruh konsep dan metode pelaksanaan. Dasar
hukum tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan 4-1
Pendahuluan
Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan
Gedung
Di Kota Semarang Tahun

4.1.1. Dasar Hukum Pemeriksaan Keandalan Bangunan


Dasar hukum yang digunakan adalah:

1. PERMEN PU No. 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis


Bangunan Gedung

2. UU RI no 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung

3. PP no 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang


Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung

4.1.2. Dasar Hukum Terhadap Aksesibilitas Penyandang Cacat

1. PP no 30/ PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas


pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

2. PERMEN PU No 38/ PRT/ 2007 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan


Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.3. Dasar Hukum Tentang Pengamanan Kebakaran

1. KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Pengamanan


terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

2. SK MEN PU No 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis Manajemen


Penaggulangan Kebakaran di Perkotaan

3. SK Dirjen Perumahan dan Permukiman tentang Petunjuk Teknis Rencana


Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan Gedung

4. Keputusan Direktur Jenderal Perumahan dan Permukiman Departemen


Permukiman dan Prasarana Wilayah No 58/KPTS/DM/2002 tentang
Petunjuk Teknis Rencana Tindakan Darurat Kebakaran pada Bangunan
Gedung

5. PERMEN PU no 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem


Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan

4.1.4. Dasar Hukum Tentang Persyaratan Ijin dan Sertifikasi

1. PERMEN PU No 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Ijin Mendirikan


Bangunan

2. PERMEN PU No 26/ PRT/M/2007 Pedoman Tim Ahli Bangunan Gedung


Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan
Gedung
3. PERMEN PU no 24/ PRT/M/2008 tentang PedomanDi Kota Pemeliharaan
Semarang Tahundan

Perawatan Gedung
4. PERMEN PU No 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis
Bangunan Gedung

5. PERMEN PU No 25/ PRT/M/2007 Tentang Pedoman Sertifikasi Laik Fungsi


Bangunan Gedung

4.2. KERANGKA PIKIR

Kegiatan Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung dimulai


pemaharnan akan latar belakang, perlunya penyusunan permasalahan yang ada, tujuan
serta manfaat penyusunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Proses pernahaman ini
kernudian diteruskan dengan perumusan konsep, penentuan metode pelaksanaan
dan penentuan tahapan - tahapan pelaksanaan kegiatan.

4.2.1. Pengertian Umum


Keandalan Bangunan Gedung adalah keadaan bangunan gedung yang
memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan
bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang ditetapkan.
Pemeriksaan Keandalan Bangunan yang merupakan tolok ukur dimana sebuah
bangunan gedung dinyatakan laik fungsi, tentunya akan diuji secara teknis apakah
bangunan tersebut memenuhi persyaratan seperti yang telah ditentukan oleh
pemerintah. Persyaratan teknis bangunan diatur dalam PERMEN PU NO 29 TAHUN 2006.
Peraturan tersebut merupakan dasar hukum dari persyaratan teknis yang harus dimiliki
sebuah bangunan gedung.
4.2.2. Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan secara Umum
Untuk mengevaluasi keandalan sebuah bangunan gedung, maka diperlukan
sebuah proses yang secara umum akan dituangkan dalam diagram alur pikir berikut:
Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung
Di Kota Semarang Tahun 2010

TAHAP PERSIAPAN
TAHAP SURVEY DAN ANALISA OUTPUT DAN REKOMENDASI

PENDALAMAN & PEMAHAMAN KAK


PERSIAPAN KEBUTUHAN DATA, ALAT BANTU & KOORDINASI TIM TENTANG HASIL ANALISA
TEKNIK PENGUMPULAN DATA PEMERIKSAAN KEANDALAN BANGUNAN

KAJIAN KEPUSTAKAAN & PERATURAN TERKAIT


MEMPELAJARI PENGGUNAAN SOFTWARE
KEANDALAN BANGUNAN REKOMENDASI PERMASALAHAN

PERUMUSAN LANGKAH KEGIATAN & PENYIAPAN


ALAT KERJA PENGUMPULAN KELENGKAPAN GAMBAR
BANGUNAN YANG AKAN DIPERIKSA. KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS, PAKAR
AKADEMIS DAN INSTANSI TERKAIT UNTUK
PENYEMPURNAAN REKOMENDASI
KOORDINASI TIM TENTANG PERSIAPAN KEGIATAN
PENGUMPULAN DATA BANGUNAN YANG AKAN SURVEY
DIPERIKSA

PENYUSUNAN DRAFT LAPORAN AKHIR


SURVEY AWAL, PEMERIKSAAN DAN PENGUMPULAN
DATA LAPANGAN

PENENTUAN STANDAR DAN BATASAN KEGIATAN


PEMERIKSAAN INPUT DATA HASIL SURVEY KE DALAM SOFTWARE PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN
KEANDALAN BANGUNAN

PROSES PENGOLAHAN DATA PROGRAM


KEANDALAN DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG
KOORDINASI DENGAN TIM TEKNIS
HASIL PENGOLAHAN DATA PROGRAM KEANDALAN
DAN KELAIKAN BANGUNAN GEDUNG

DRAFT LAPORAN PENDAHULUAN


DRAFT LAPORAN ANTARA

PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN PRESENTASI LAPORAN DAN PERBAIKAN

LAPORAN PENDAHULUAN LAPORAN ANTARA LAPORAN AKHIR

Gambar 4-1 diagram alur pikir proses kegiatan pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan gedung

Laporan Pendahuluan 4-4


1. Tahap Persiapan
Sebelum proses pemeriksaan dilaksanakan, akan diakukan persiapan hal-
hal berikut:
a. Perlu dilakukan survei awal untuk melihat kondisi awal bangunan gedung
yang akan dilakukan pemeriksaan keandalannya dan pengumpulan data
berupa gambar as built drawings dan data umum bangunan gedung,
seperti:
- Gambar Perencanaan
Teknis.
- Gambar As Built Drawings.

- Gambar
IMB.
b. Konsolidasi satu tim tenaga terlatih yang dipimpin oleh seorang
koordinator sesuai yang dibantu oleh beberapa tim ahli dalam jumlah dan
kemampuannya sesuai disiplin ilmu dan tingkat kesulitan seluruh / bagian
gedung yang akan diperiksa keandalannya. Setiap tenaga ahli akan dibantu
oleh seorang atau lebih tenaga pelaksana lapangan sesuai dengan
kebutuhannya.
Pra survei dan data awal ini sangat penting untuk menentukan langkah-langkah
pengambilan data pada saat survei dan pada saat penilaian.

Untuk bisa mendapatkan data-data gedung sesuai dengan point a, maka yang perlu
dilakukan adalah:
a. Berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang dalam Penetapan
Bangunan Gedung sebagai Obyek Pemeriksaan Keandalan Bangunan
Gedung.

b. Berkoordinasi dengan instansi dan pemilik/pengelola bangunan gedung


yang akan disurvei, untuk membantu dalam proses perolehan data.

c. Mempelajari dan menggunakan Model Teknis Pemeriksaan Keandalan


Bangunan Gedung, dan melakukan penyesuaian terhadap aspek teknis
seperti yang diamanatkan dalam Permen PU No. 29/PRT/M/2006.

d. Menyusun form isian / questioner yang ditujukan kepada masing-masing


pemilik bangunan guna mempermudah perolehan data pada saat survey di
lapangan

Sedangkan isi dari formulir daftar isian secara umum yang juga akan digunakan
Laporan 4-1
Pendahuluan
sebagai acuan dan sasaran pemeriksaan adalah sebagai berikut:

Laporan 4-2
Pendahuluan
a. Data Umum

i. Nama Bangunan

ii. Lokasi/alamat

iii. Fungsi

iv. Luas/jumlah lantai

v. Pemilik
b. Data Penunjang

i. Tahun Pembangunan

ii. Sejarah kepemilikan, kerusakan, dan fungsi bangunan gedung

iii. Perencana

iv. Kontraktor

v. Pengawas

vi. Gambar Bangunan

vii. Nomor IMB (Ijin Membangun Bangunan)


c. Data Arsitektur
Pemeriksaan arsitektur dibatasi pada finishing bangunan baik yang
berada pada bagian dalam bangunan gedung, maupun yang berada
pada bagian luar bangunan gedung, mencakup:

i. Fungsi bangunan gedung terhadap kesesuaian peruntukan lahan.

ii. Interior, antara lain: finishing lantai/selubung bangunan,


dinding,pintu, jendela, plafon, kaca, dan mebel terpasang.

iii. Eksterior, antara lain: finishing dinding, lantai, pagar, dan


lingkungan penduduk.

d. Data Struktur
Pemeriksaan dilakukan terhadap

- sistem struktur (bearing wall, shear wall, rigid frames, rangka


kombinasi, rangka tabung dalam tabung dan rangka campuran)

- Bahan Struktur (kayu, pasangan batu, pasangan bata, beton


bertulang, beton precast, prestressed, baja, komposit, dll)

- Keselamatan Struktur
Harus menjamin terciptanya kondisi aman dan tercegahnya kondisi
berbahaya serta timbulnya bencana yang dapat diakibatkan oleh:

o Kegagalan struktur bangunan (akibat kesalahan


perencanaan, atau kesalahan pelaksanaan terkena beban
sementara yang melampaui kapasitas struktur)

o Kegagalan atau tidak berfungsinya utilitas

o Kegagalan akibat bencana alam ( gempa, angin , longsor)

o Kegagalan akibat kelalaian manusia (kebakaran, ledakkan)

- Kerutuhan Bangunan (akibat kelemahan struktur bangunan, akibat


bencana)

e. Data Utilitas
Pemeriksaan dilakukan terhadap

- Sistem transportasi vertikal lift (konstruksi lift, panel inspeksi,


panel operator, motor penggerak).

- Sistem transportasi vertical escalator (badan escalator, panel


kelistrikan, mesin penggerak).

- Sistem instalasi plumbing (sumber air bersih, penampungan dan


distribusi air bersih, air kotor dan limbah, air hujan, dan drainase ke
lingkungan).

- Sistem instalasi listrik (Sumber daya PLN, sumber daya genset).

- Sistem Instalasi tata udara /AC (sistem AC sentral, AC non sentral).

- Sistem instalasi penangkal petir (instalasi proteksi petir eksternal


dan internal).

- Sistem instalasi komunikasi (telepon, PABX, instalasi tata suara).

- Sistem pembuangan sampah, (shaft sampah, bak sampah


setempat, TPS, container sampah).

- Sistem Building Automation System (BAS).


f. Data Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran
Pemeriksaan dilakukan pada sistem proteksi pasif dan aktif yang
terdapat pada obyek bangunan gedung, termasuk pemeriksaan
terhadap peralatan pemadam kebakaran, material insulator
kebakaran. Sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran ini
dikelompokkan dalam:

- Lingkungan dan bangunan (persyaratan lingkungan, klasifikasi


bangunan, persyaratan bangunan).

- Bahan bangunan (persyaratan bahan lapis penutup dan bahan


komponen struktur bangunan).

- Struktur bangunan (persyaratan ketahanan terhadap api).

- Utilitas (alarm kebakaran, hydrant, sprinkler, pompa, sumber daya


listrik darurat, penangkal petir).

- Upaya penyelamatan (tangga kebakaran, koridor, pintu kebakaran,


lift kebakaran, penunjuk arah keluar, komunikasi darurat,
pengendalian asap, dll).

g. Aksesibilitas penyandang cacat


Evaluasi dilakukan pada sistem elemen aksesibiltas yang
terdapat pada obyek bangunan gedung, sesuai dengan ketentuan pada
Permen PU No. 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan
Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Antara lain:

Ukuran dasar ruang, Jalur pedestrian, jalur pemandu, area


parkir, pintu, ramp, tangga, lift, escalator, toilet, pancuran/
shower, wastafel, telepon, perlengkapan dan peralatan control,
perabot, rambu, marka.

2. Tahap Pemilihan Lokasi Kegiatan


Bangunan umum yang akan diperiksa keandalannya akan ditetapkan oleh
Dinas Tata Kota dan Perumahan Kota Semarang, sesuai dengan yang tertera
pada Bab I, lingkup wilayah kegiatan.
3. Tahap Pelaksanaan dan Pengumpulan Data Lapangan
Proses Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung dilaksanakan dalam
beberapa tahap. Pada tahap awal berupa pengumpulan data primer dan
sekunder baik berupa data gambar bangunan dan wawancara dengan
pemilik atau pengguna bangunan, serta observasi visual di lapangan untuk
mengidentifikasi kondisi bangunan gedung. Apabila didapatkan temuan
permasalahan yang kiranya perlu dibuktikan dan diuji kembali, baik
permasalahan dari aspek arsitektural, struktural, mekanikal elektrikal maupun
aksesibilitas, maka akan dilakukan pengecekan, pengukuran, pengujian dan
pengetesan dengan alat kerja sesuai permasalahan dan bagian aspeknya
masing-masing terhadap titik studi permasalahan tersebut.

4. Tahap Pengolahan Data dan Penentuan Penilaian Keandalan


Kondisi fisik yang dicatat dalam formulir isian untuk masing-masing
komponen digunakan untuk proses pengolahan dan penentuan nilai keandalan
dari segi arsitektur, struktur, utilitas, kebakaran, dan aksesibiltas, dengan
langkah-langkah sebagai berikut:

a. Pemeriksaan dari kesesuaian dan penyimpangan hasil pemeriksaan


kondisi fisik terhadap komponen yang yang terkait.

b. Menginput data hasil pemeriksaan dari masing-masing komponen ke


dalam software pemeriksaan keandalan bangunan gedung

c. Melakukan pembobotan terhadap data hasil pemeriksaan dari masing-


masing komponen hasil pemeriksaan.

d. Analisis keandalan dan kelaikan bangunan gedung hasil pemeriksaan


dengan cara penilaian total dari hasil pembobotan, dengan mengacu
angka standar yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan andal
atau tidaknya bangunan tersebut.

5. Tahap Penyusunan Laporan


Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung,
termasuk dokumentasi, meliputi:

a. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan.

b. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi memerlukan


tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek keandalan. Misal: struktur
bangunan gedung, sistem plumbing, air hujan, elektrikal, dll yang tidak
andal.

c. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan.

4.2.3. Alur Studi dan Format


Penelitian

Dalam studi ini alur penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai


berikut:

Gambar 4-2 Diagram Alur Penelitian

Data-data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan format yang


disusun oleh Dirjen Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL). Piranti lunak
berbasis Excel tersebut memuat lima aspek utama yang dinilai yaitu Arsitektur,
Struktur, Utilitas clan proteksi kebakaran, aksesibilitas dan tata bangunan serta
lingkungan.

4.3. PENDEKATAN PENILAIAN DAN KINERJA


BANGUNAN

4.3.1. Pendekatan Arsitektur Dan Kinerja


Bangunan

Perancangan sebuah bangunan gedung merupakan hasil dari proses


penciptaan karya arsitektural yangg bertujuan mewadahi manusia untuk melakukan
berbagai aktivitasnya. Oleh sebab itu hasil dari rancangan tersebut yaitu bangunan
gedung yang sudah dibangunan dan dihuni seharusnya mencitrakan kreativitas yang
unik dan spesifik dalam aspek fungsi, tata ruang, penampilan dan kinerjanya.
Melalui pendekatan ilmiah (scientific approach), wujud arsitektur sebuah
bangunan gedung dapat dievaluasi kualitasnya dengan pendekatan objective yang
mengacu pada aspek-aspek terukur berdasarkan standar-standar yang berlaku secara

Laporan 4-10
Pendahuluan
nasional maupun internasional.
Berdasarkan Permen PU No 29/PRT/M/2006, penelitian kinerja bangunan

Laporan 4-10
Pendahuluan
merupakan penyelidikan teradap tingkat pemenuhan terhadap persyaratan
kenyamanan dan kesehatan bangunan gedung. Kinerja yang balk dari sebuah
bangunan gedung akan menentukan tingkat pemakaian dan produktivitas
penghuni bangunan sesuai dengan tujuannya masing-masing.
Salah satu faktor yang menentukan kelancaran pekerjaan dalam bangunan
adalah tata ruang bangunan. Tata ruang bangunan ialah penentuan mengenai
kebutuhan-kebutuhan ruang dan tenang penggunaan secara terperinci dari ruang
ini yang timbul karena aktifitasnya untuk menyiapkan suatu susunan yang praktis
dan efisien serta faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja
perkantoran dengan biaya yang layak.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan tata
ruang bangunan dapat d i l a k ukan melalui beberapa pendekatan terhadap :
Kebutuhan jenis ruang

Sifat dan hubungan kelompok ruang

Standar besaran ruang

Jenis dan besaran ruang

Penyusunan ruang
Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan bangunan gedung, sampling
bangunan diperiksa dua komponennya.
4.3.2. Komponen Ruang
Dalam

Pammeter kinerja ruang dalam


(interior):
1) Spacial / Keruangan (spatial performance)

Layout ruang individu: ukuran, macam perabot, tempat duduk, faktor ergonomic.

Layout ruang kelompok: pengelompokan ruang, sirkulasi, pencapaian,


orientasi, penandaan
Pelayanan dan kesesuaian: sanitasi, alat-alat listrik, keamanan,
telekomunikasi, sirkulasi/transportasi.
Fasilitas kemudahan (amenities).

Faktor-faktor pemakaian dan control.


2) Termal (thermal performance)

Suhu udara.

Suhu radiant.

Kelembaban udara.

Laporan 4-1
Pendahuluan
Kecepatan udara.

Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.

Laporan 4-2
Pendahuluan
3) Akustik (acoustic performance)
Sumber bising (noise source).
Jalur rambat suara (sound path).
Penerima suara (sound receiver).
4) Visual (visual performance)
Latar belakang dan fokus cahaya (ambient and task levels): alami dan buatan.
Contrast dan brightness.
Warna

Informasi-informasi visual dan pemandangan

Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.


5) Kualitas udara dalam ruang (indoor air quality)
Suplai udara segar (fresh air).
Pergerakan dan distribusi udara segar. - Material pollutant.
Energy pollutant.
Faktor-faktor pemakaian dan kontrol.

Tabel 4-1
Batas-batas penerimaan (limit of acceptability)
Parameter Sub parameter Persyaratan Peraturan / Standar

Spasial Was ruang Sesuai luas aktivitas dasar


o
Termal Suhu 18 - 28 C
Kelembaban 4 0 -60%
Pergerakan udara rata-rata 0,15 - 0,25 m/det
Akustik Sound pressure level (SPQ <85 dB (A)
Kep Menkes RI No.
Visual Tingkat pencahayaan >100 lux
Kualitas udara Tingkat karbondioksida (CO2) 1000 ppm 1405/Menkes/SK/XI/2002

Debu 0,15 mg/m3


Komponen bangunan yang diamati:

- Plesteran lantai
- Pelapis muka dinding
- Pelapis dinding
- Pintu / jendela
- Pelapis muka langit-langit
4.3.3. Komponen ruang
luar

Parameter kinerja komponen pelingkup bangunan


(enclosure):
Ketahanan bangunan (building integrity)

Antisipasi beban: beban hidup, beban mati, getaran.

Kelembaban: hujan atau uap yang menyebabkan karat, kebocoran


atau pengembunan
Suhu: perbedaan panas, isolasi panas, perbedaan pemuaian dan
penyusutan akibat panas.
Pergerakan udara: infiltrasi atau exfiltrasi, perbedaan tekanan udara

Radiasi dan cahaya: radiasi matahari, radiasi lingkungan, visible light spectrum

Penanggulangan bahaya
api Komponen bangunan yang
diamati
Penutup atap

Pelapis muka dinding luar

Pelapis muka lantai luar

Pelapis lantai luar

Pelapis muka langit-langit luar


Beberapa aspek fisik yang sangat penting untuk diperhatikan dalam studi evaluasi
karena sangat menentukan kenyamanan bagi pemakai di dalamnya. Faktor-faktor
yang mempengaruhi fisik ruang adalah:
1. Warna
Sebagai bangunan gedung yang memiliki fungsi sebagai bangunan
rumah sakit, bangunan perkantoran, bangunan olah raga maka pemilihan
warna untuk ruang-ruang dalam bangunan akan sangat berpengaruh
terhadap penciptaan suasana ruang, terutama yang berkaitan dengan psikis
pemakai bangunan.
Pemilihan warna dapat berupa warna penerangan buatan yang
digunakan maupun warna yang dipakai sebagai bahan pelengkap ruangan
seperti bahan penutup dinding, furniture, bahan dekoratif ruangan dan
sebagainya.
Penyelesaian warna pada masing-masing banguna, baik untuk eksterior
ataupun interior menggunakan warna-warna cerah. Kondisi ini telah sesuai dan
sangat mendukung fungsi ataupun jenis kegiatan yang berlangsung,
sehingga penyelesaian warna ini perlu ditindak lanjuti.
Penerangan buatan di dalam ruang sebagaian besar menggunakan
penerangan umum yang bersifat langsung dengan menggunakan jenis lampu
daylight yang mempunyai efek perubahan warna relatif kecil.
2. Penghawaan
Suhu yang nyaman dan optimum untuk suatu ruang adalah 22

25 C dengan kelembaban 40 % - 60 %.Penyimpangan dari standard


tersebut akan mempengaruhi kelangsungan aktivitas dalam ruang,
penyimpangan ini dapat menimbulkan kelelahan, kegerahan, dsb. Oleh sebab
itu perlu dipikirkan mengenai pemecahan untuk memperoleh suhu dan
kelembaban yang sesuai dengan standard sehingga ruang menjadi
nyaman. Ketidaknyamanan ruang dipengaruhi oleh :
Radiasi dinding, atap, oleh sinar matahari

Panas karena suhu badan manusia

Peralatan dan bahan yang dapat menimbulkan panas


Salah satu Usaha yang dilakukan untuk menghindari ketidaknyamanan, adalah
:
Mengatur tata letak bangunan clan ruang sehingga dapat
mengurangi pengaruh langsung sinar matahari.
Penggunaan peralatan/bahan yang dapat mengurangi panas.

Mengkondisikan udara, balk dengan ventilasi alam maupun buatan


(AC).
Untuk mencapai kondisi ruang yang diinginkan yaitu dengan suhu
sekitar 22 - 25 C dan nilai kelembaban 40 % - 70 % dan kebutuhan udara
bersih 20 - 50 m3/jam per orang maka perlu pengkondisian ruang, yaitu
dengan cara pemasangan AC Pakage clan Split. Pemilihan sistem tergantung
pada kekhususan ruang clan kebutuhan ruang.
Pada kondisi bangunan eksisting secara umum luasan pelubangan
Binding untuk fungsi jendela sebagai tempat pertukaran udara berlangsung
telah memenuhi persyaratan apabila dibandingkan dengan luas ruangan di
dalamnya, kondisi ini didukung dengan sumbu akses bangunan. Penggunaan
sistem AC pada bangunan eksisting tentu saja akan sangat membantu
dalam menciptakan suasana kerja yang nyaman. Sebagai konsekuensinya biaya
operation maintenance perlu ditambahkan.
3. Penerangan
Dalam usaha untuk menunjang aktivitas yang terjadi maka dibutuhkan
sistem penerangan yang tepat. Sistem penerangan ini dibedakan menjadi
2 yang disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu :
a) Penerangan alami
Penerangan alami pada siang hari dapat dimanfaatkan untuk
ruang-ruang yang langsung berhubungan dengan luar. Penerangan
alam ini memiliki jarak jangka mencapai 6 kali tinggi bukaan sedangkan
selebihnya dapat diupayakan penerangan buatan.
b) Penerangan buatan
Sebagai bangunan perkantoran, pengadaan penerangan buatan
disesuaikan dengan aktivitas clan fungsi masing-masing ruang, yaitu :
Penerangan umum untuk memberikan iluminasi yang tersebar merata
ke seluruh ruangan, penerangan, penerangan khusus untuk ruang-ruang
yang membutuhkan ketelitian kerja yang cukup tinggi, selain itu juga untuk
menciptakan suasana yang diinginkan. Penerangan buatan pada siang hari
diupayakan hanya sebagai tambahan penerangan dari terang alami atau
untuk mengatasi permasalahan apabila kondisi tidak memungkinkan,
sehingga zonasi perletakan dari tata lampu yang ada perlu untuk
direncanakan secara seksama. Perletakan tata lampu dari penerangan buatan
yang terdapat pada bangunan eksisting, umumnya sebagai penerangan
umum dengan jenis penerangan langsung dan merata pada seluruh ruang.
Jumlah titik lampu clan jenis penerangan yang ada secara umum telah
memenuhi persyaratan. Pada perencanan nantinya perlu direncanakan
zonasi dari tata letak lampu yang mengacu pada terang alami yang
diterima oleh ruangan.
c) Penerangan campuran (alam dan buatan )
Pemanfaatan penerangan alami clan buatan, dimana terdapat suatu
aktivitas yang mempersyaratkan digunakannya sistem penerangan tersebut.
Adapun kebutuhan penerangan untuk tiap-tiap ruangan sesuai dengan
fungsinya dapat dikemukakan sebagai berikut :
Ruang umum yang meliputi ruang kerja pegawai membutuhkan iluminasi
sebesar 300 lux, koriclor membutuhkan 50 lux ( sekurang-kurangnya 1/5
daripada iluminasi ruangan kantornya ) (Standard Penerangan
buatan, Dirjen Cipta Karya, tahun 1985).
Ruang khusus yang meliputi ruang sidang dan ruang pertemuan
membutuhkan iluminasi sebesar 200 lux terutama dimanfaatkan untuk
diskusi.
Penerangan ini harus dapat diredupkan atau dikurangi untuk menunjukkan
slide, film, dsb.
4. Suara / Akustik
Untuk memperoleh kenikmatan suara/akustik terutama pada ruang-
ruang yang memeriukan persyaratan akustik tertentu, maka perlu diketahui
adanya sumber bunyi yang dalam hal ini dapat dibedakan menjadi :

Sumber bunyi yang berasal dari dalam bangunan seperti : suara yang
ditimbulkan oleh kegiatan manusia dan peralatan di dalamnya.
Sumber bunyi dari luar bangunan, seperti suara yang ditimbulkan oleh lalu
lintas dari jalan sekitar bangunan.
Untuk mengatasi menjalarnya bunyi, salah satu yang dapat dilakukan
adalah dengan memberhentikan suara, pemisahan suara dengan memisahkan
sumber bunyi dari ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan,
pencegahan suara dengan jalan memasang bahan penyerap langsung pada
sumber bunyi, masking dengan menutup suara atau bunyi dan memberikan
background musik lembut.
Pada kondisi eksisting ruang-ruang yang membutuhkan perencanaan
akustik umumnya berupa ruang sidang clan rapat. Secara umum penyelesaian
akustik pada ruang-ruang tersebut belum memenuhi persyaratan, sehingga
untuk perencanaan nantinya perlu dilakukan pembenahan pada ruangan
tersebut agar dapat difungsikan secara maksimal.
Metode pengumpulan data adalah salah satu cara yang paling tepat
dalam melakukan identifikasi dan menganalisis data. Metode pengumpulan data
yang akan dilakukan adalah dengan menggunakan beberapa indikator. Beberapa
indikator yang dapat dilakukan dalam metode pengumpulan data adalah
sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4-2
Indikator pengumpulan
data
Tingkatan data pengukuran
No. Data yang diperlukan
yang dipilih
1 Analisis arsip perencanaan Gambar-2 denah, spesifikasi, rencana anggaran biaya,
catatan manajemen penggunaan
Syarat: dokumen tersedia. Digunakan untuk memastikan
apakah parameter kinerja dijaminkan bagi para pengguna
dan aktivitasnya.
2 Analisis hunian dan penggunaan Observasi perilaku, rekaman jejak fisik, wawancara dan
kuisoner
Syarat: prosedur mudah dan sumber tersedia
3 Penyusunan instrumen sederhana Intrumen yang dibutuhkan tersedia
Syarat: Metode kajian dilakukan dapat dilakukan secara
cepat, instrument tersedia
4 Evaluasi Ambang batas (threshold) dibandingkan dengan standar
Guidelines
Sedangkan instrumen sederhana yang digunakan adalah menggunakan alat yang dapat
mendeteksi beberapa parameter suhu, kelembaban suatu ruang, kandungan kadar karbondioksida.
Gambar di bawah ini adalah alat yang akan dipakai untuk melakukan pengujian pads kegiatan studi
ini.

gambar 4-3. Alat Ukur Komponen Ruang Dalam

Keterangan:
Testo 435-2 untuk mengukur suhu, kelembaban , karbondioksida
Sound level meter LUTRON SL-4012 untuk mengukur tingkat kebisingan
Anemometer probe YK-200PAL-LUTRON + Intelligent Thermometer YK-2001TM untuk
mengukur laju kecepatan udara.
Light level meter LUTRON YK-200PLX untuk mengukur tingkat pencahayaan.
Distance meter - DISTO untuk mengukur jarak, lugs dan volume ruang

Sedangkan untuk mengumpulkan informasi yang dapat dipercaya (reliable data) dan
faktual, maka tahap awal yang penting untuk dilakukan adalah pemeriksaan lapangan.
a. Kesepakatan pemeriksaan (Inspection Agreement)

1) Pemahaman tujuan inspeksi

- Perlu ada kesepakatan tertulis antara pemeriksa dan


pemilik/pengelola bangunan gedung

- Tujuan dari kesepakatan adalah untuk menghindari perselisihan


dan ketidaksepahaman yang tidak perlu
2) Identifikasi kondisi fisik

3) Tahapan pengamatan visual dalam kondisi pencahayaan normal


atau khusus
4) Testing dengan peralatan tertentu

5) Batasan (limitation)
b. Pemeriksaan (Inspection)

1) Nama pemilik/pengelola bangunan

2) Alamat lokasi bangunan yang diamati

3) Tanggal dan waktu pemeriksaan

4) Identitas dari pemeriksa yang melakukan pemeriksaan

5) Kondisi ambien pada saat dilakukan penyelidikan yang dinilai


relevan dengan tujuan penyelidikan
6) Deskripsi dan identifikasi kondisi struktur bangunan

7) Identifikasi area tertentu yang tidak bisa diselidiki (meskipun


termasuk dalam lingkup peneyelidikan) dengan alasan tertentu.
8) Observasi dari hasil pemeriksaan.

c. Pelaporan (inspection records)

1) Identifikasi semua pihak yang terlibat

Nama dan alamat lembaga pemeriksa

Identitas personil yang melakukan pemeriksaan

Identitas pemilik/pengelola bangunan gedung.

2) Detail properti

Alamat bangunan gedung yang diperiksa

Deskripsi dan identifikasi bangunan, bagian dari bangunan


atau struktur lainnya.
3) Detail pemeriksaan

Tanggal pemeriksaan

Detail tentang tujuan, lingkup dan kriteria-kriteria yang disepakati

Kondisi ambien pada saat dilakukan pemeriksaan.

4) Batasan-batasan, berupa identifikasi beberapa area atau item yang


tidak diperiksa karena alasan tertentu dan jika diperlukan diberikan
rekomendasi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
5) Observasi

6) Item-item penting

7) Kesimpulan
4.3.4. Pendekatan Struktur

1. Konsep Perencanaan
Struktur yang didesain pada dasarnya harus memenuhi kriteria-kriteria
sebagai berikut:
a. Kesesuaian dengan lingkungan sekitar

b. Ekonomis

c. Kuat dalam menahan beban yang direncanakan

d. Memenuhi persyaratan kemampuan layanan

e. Mudah dalam hal perawatan (durabilitasnya tinggi)


Ada 2 filosofi dalam merencanakan elemen struktur beton bertulang yaitu:
a. Metoda Tegangan Kerja
Unsur struktur direncanakan terhadap beban kerja sedemikian rupa sehingga
tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan yang diijinkan, dimana:

b. Metoda Kekuatan Ultimit


Dengan metoda ini, unsur struktur direncanakan terhadap beban kekuatan
ultimit yang diinginkan, yaitu:

2. Kondisi Batas Struktur


Dalam evaluasi elemen beton bertulang ada beberapa kondisi batas yang dapat
dijadikan pedoman, yaitu:
a. Kondisi batas ultimit dapat disebabkan oleh beberapa faktor dibawah ini yaitu:

- Hilangnya keseimbangan lokal atau global

- Rupture, yaitu hilangnya ketahanan lentur clan geser elemen-elemen struktur


- keruntuhan progresif akibat adanya keruntuhan lokal pads daerah sekitarnya
Pembentukan sendi plastis
Ketidakstabilan struktur
Fatigue
b. Kondisi batas kemampuan layanan yang menyangkut berkurangnya fungsi
struktur, dapat berupa:
defleksi yang berlebihan pada kondisi layan
lebar retak yang berlebih
vibrasi yang mengganggu

c. Kondisi batas khusus, yang menyangkut kerusakan/keruntuhan akibat beban


abnormal, dapat berupa:
keruntuhan pada kondisi gempa ekstrim

kebakaran, ledakan atau tabrakan kendaraan

korosi atau jenis kerusakan lainnya akibat lingkungan


Konsep perencanaan batas dan evaluasi kondisi batas digunakan sebagai prinsip
dasar Peraturan Eeton Indonesia (SNI 03-2847-2002).

3. Prosedur Desain Berdasarkan Peraturan Beton Indonesia


Elemen struktur dan struktur harus selalu didesain untuk dapat
memikul beban berlebih dengan besar tertentu, diluar beban yang
diharapkan terjadi dalam kondisi normal. Kapasitas cadangan tersebut
diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya faktor-faktor overload"
dan faktor undercapacity".
Overload dapat terjadi akibat:
Perubahan fungsi struktur

Underestimate pengaruh beban karena penyederhanaan perhitungan

Urutan dan metoda konstruksi


Undercapacity dapat terjadi akibat:
Variasi kekuatan material

Workmanship

Tingkat pengawasan
Berdasarkan prosedur desain yang baku, kekuatan (resistance) elemen struktur
harus lebih besar Dada pengaruh beban, sehingga:
Resistance Penqaruh Beban
Untuk mengantisipasi kemungkinan lebih rendahnya resistensi (kekuatan)
elemen struktur daripada yang diperhitungkan/direncanakan dan kemungkinan
lebih besarnya pengaruh beban daripada yang direncanakan maka diperkenalkan
faktor reduksi kekuatan, yang nilainya <1, dan or beban yang nilainya > 1,
sehingga:

Laporan 4-20
Pendahuluan
Laporan 4-20
Pendahuluan
Prosedur desain yang memperhitungkan adanya faktor-faktor beban dan
resistance diatas disebut sebagai desain kekuatan ultimit. Prosedur desain ini
pada dasarnya merupakan metoda perencanaan kondisi batas dimana perhatian
utama ditekankan pada kondisi batas ultimit. Kondisi batas serviceabilitas
(kemampuan layanan) kemudian dicek setelah desain awal diperoleh.
Filosofi clasar metoda perencanaan ini terdapat pada SNI 03-2847-
2002 yang bunyinya adalah:
a. Struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua
penampang mempunyai kekuatan rencana minimum same dengan kuat
perlu, yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor
yang sesuai dengan ketentuan tata cara ini.
Dalam butir a diatas, kuat rencana adalah identik dengan ORn;

sedangkan kuat perlu mengacu pada pengaruh beban terfaktor, yaitu


a1S1 + a2S2 + ....
b. Komponen struktur juga harus memenuhi ketentuan lain yang tercantum
dalam tata cara ini untuk menjamin tercapainya perilaku struktur yang cukup
balk pada tingkat beban kerja. Butir 2 diatas mengharuskan adanya
pengontrolan lendutan dan lebar retak pada komponen struktur yang sudah
didesain.
Beban Terfaktor dan Kuat Perlu

SNI 03-2847 menguraikan tentang faktor-faktor beban dan kombinasi


beban terfaktor untuk perhitungan pengaruh beban.
Kombinasi beban terfaktor tersebut adalah:

Kombinasi beban coati dan beban


hidup: U = 1,2 D + 1,6 L
Jika pengaruh angin ikut diperhitungkan:
U = 0,75 (1,2 D + 1,6 L + 1,6 W) atau
U = 0,9 D + 1,3 W
Jika pengaruh gempa harus
diperhitungkan: U= 1,05 ( D + LR E
) atau
U = 0,9 ( D E )
Kuat perlu atau pengaruh beban terfaktor (seperti momen, geser, torsi
dan gaya aksial) dihitung berdasarkan kombinasi beban terfaktor U diatas. Kuat
perlu atau pengaruhpengaruh beban terfaktor tersebut ditulis dengan
simbol-
Laporan 4-1
Pendahuluan
simbol M, V, T, dan u, dimana subscript u menunjukkan bahwa nilai-nilai M, V, T
dan u tersebut didapat dari beban terfaktor U.

4. Investigasi Penanganan Struktur Gedung Yang Mengalami Retak-


Retak Dan Penurunan
Penyelidikan terhadap Bangunan Gedung dilakukan untuk mengetahui
Kelayakan dan Keamanan
Bangunan dan segi kekuatan strukturnya. Penyelidikan yang akan
dilakukan meliputi penyelidikan lapangan can laboratonium. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui Kelayakan dan Keamanan bangunan struktur eksisting.
Disamping itu, penyelidikan ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi
tentang metoda perbaikan atau perkuatan bilamana diperlukan.
Sebagai tahapan pertama sebelum dilakukannya analisis faktor
keamanan struktur, perlu dilakukan terlebih dahulu evaluasi yang mendalam
mengenai kondisi aktual struktur, termasuk pengukuran geometri struktur
dan karakteristik material bangunan eksisting. Hal ini perlu dilakukan mengingat
tidak tersedianya as built drawing bangungan eksisting. Untuk tujuan ini akan
dilakukan serangkaian pengujian yang sifatnya tidak merusak dengan
menggunakan alat-alat non destruktif seperti covermeter, pulse
echolgeoraclar, ultrasonic dan serangkaian pengujian yang sifatnya semi-
merusak seperti core drill, breaking out dan test sondir. Dengan pengujian-
pengujian tersebut akan dapat diketahui kondisi, diameter dan jumlah tulangan
terpasang, kualitas material beton dan kondisi struktur beton serta
kedalaman pondasi dan daya dukung pondasi.
Tahap selanjutnya adalah melakukan analisis struktur eksisting dengan
menggunakan data material dan struktural yang telah diperoleh. Analisis
struktur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat faktor keamanan struktur
eksisting. Bilamana tingkat faktor keamanan struktur tidak memadai maka
struktur perlu diperkuat. Bentuk-bentuk perkuatan yang sesuai akan
direkomendasikan untuk mengembalikan fungsi struktur kembali seperti semula,
Bentuk-bentuk perkuatan yang direkomendasikan tersebut kemudian
dituangkan dalam gambar rencana, spesifikasi teknis dan BOQ.
Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan Gedung
Di Kota Semarang Tahun 2010

Tabel 4-3
Lingkup Pekerjaan (Waktu Pelaksanaan Berdasarkan Lingkup Pekerjaan)
Tahapan
Tujuan Metodologi, Kerja, dan Pendekatan Teknis Keluaran Laporan
Pekerjaan

Studi Awal Untuk mengumpulkan sebanyak mungkin a. Kumpulan dokumen data/informasi mengenai gec
data yang diperlukan agar studi yang
1. Pengumpulan data sekunder: struktur dan material
akan dilakukan nantinya dapat berjalan
dengan efisien dengan memanfaatkan a. Data desain terdahulu
seoptimal mungkin data yang tersedia kriteria desain
tersebut. gambar dan perhitungan
spesifikasi
b. Data pelaksanaan

- as built drawing

- catatan perubahan dan


survai/Pemerik Untul memahami kondisi eksisting desain awal dan Spesifikasi
sawn struktur
1. Pemeriksaan visual dan pengambilan a. Peta kerusakan
dokumentasi sehubungan dengan kondisi struktur:
Global Untuk menentukan teknik dan metoda
pengujian yang optimal
b. Kondisi geometri aktual struktun
a. Pengamatan geometri struktur C. Dokumentasi

b. Pengamatan kerusakan/retak path


komponen struktur/nonstruktural

c. Deformasi berlebth
2. Pengukuran geometri elernen-elemen struktur a Geometni aktual elemen-elemen struktur
Pemeriksaan Untuk mendapatkan a Properties aktual material
Detail karakteristik material eksisting,
1. Pengukuran kondisi aktual material pada struktur
b. Perkiraan lokasi dan ukuran tulangan
kondisi penulangan dan

kondisi kerusakan
a. Core test c. Tebal selimut beton
Untuk mendapatkan kedalaman b. Covermeter test/Rebar detection
d. Kondisi kerusakan
pondasi clan perkiraan daya
dukung c. Breaking out e. Daya dukung tanah
Analisis Kondisi Untuk menentukan tingkat keamanan
d. Ultrasonic f. Perkiraan sistem pondasi
eksisting Struktur struktur eksisting terhadap kondisi
a. Analisis struktur Eksisting a. Kondisi eksisting struktur
pembebanan rencana dan mencari
penyebab kerusakan pada struktur
b. Kajian faktor keamanan struktur b. Faktor keamanan struktur

Kesimpulan Untuk menentukan langkah- langkah c.


a. Analisis daya dukung pondasi dan settlement
Analisis struktur
c.
a. Kapasitas cadangan struktur
Rekomendasi mengenai metoda pethaikan atau
dan Saran selanjutnya yang dianggap perlu.
perkuatan struktur bilaniana diperlukan
b.Analisis pondasi
b. Gambar rencana perbaikanlperkuatan

c. spesifikasi teknis

Laporan Pendahuluan 4-23


5. Penilaian Material/Struktur Beton Bertulang Eksisting

a. Pendahuluan
Penilaian struktur beton bertulang eksisting (struktur yang
sudah berdiri) diperlukan jika ada kekuatiran mengenai tingkat keamanan
struktur atau bagian-bagian struktur tersebut akibat adanva faktor-faktor
yang sebelumnya tidak diperhitungkan seperti:
1). Kesalahan perencanaan/pelaksanaan
Hal yang berhubungan dengan kemungkinan kesalahan
perencanaan/pelaksanaan dapat terdeteksi dari:
Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak
lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian
struktur.
Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur,
yang menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat balk
clan segi kekuatan maupun durabilitas (misal sifat kekedapan
terhadap air yang di syaratkan untuk bangunan seperti kolam
renang).
Hasil perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual)
yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur
atau komponenkomponen struktur.
2). Penurunan kinerja material/struktur ekisisting yang diakibatkan
oleh pengaruh internal-eksternal seperti:
Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah
tua. Atau karena serangan zat-zat kimia tertentu yang merusak
(seperti jenis-jenis senyawa asam).
Adanya kerusakan pada struktur/bagian-bagian struktur karena
bencana kebakaran, banjir atau gempa atau karena struktur
mengalami pembebanan tambahan akibat adanya leclakan di sekitar
struktur ataupun beban berlebih lainnya yang belum diantisipasi
dalam perencanaan.
3). Rencana redesain/perubahan peruntukan struktur yang
menimbulkan konsekuensi pada perubahan :
Perubahan fungsi/penggunaan strukur
Penambahan tingkat (pengembangan struktur)
4). Sarat untuk proses jual-beli atau asuransi suatu struktur bangunan.
Untuk hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali
jika ada tanda-tanda yang mencurigakan pada struktur.
Laporan 4-1
Pendahuluan
Pada umumnya, tujuan penilaian struktur adalah untuk menentukan salah
satu di bawah ini:
(1) ) Kemampuannya untuk tetap berfungsi sebagaimana yang diharapkan

berdasarkan desain awal.


(2) Jika kemampuannya sudah berkurang, maka perlu
ditentukan fungsi/beban yang cocok untuk kondisi struktur
saat ini.
(3) ) Sisa umur layananya.

(4) ) Kemampuannya untuk menerima beban yang lebih besar atau

melayani fungsi yang lain.


(5) ) Kelayakan untuk memodifikasi struktur sehingga sesuai dengan

peraturan/code yang berlaku


(6) ) Kondisi/tingkat kerusakan yang dialami struktur

Selain itu, penilaian struktur eksisting merupakan bagian terpenting dari


tahapan perencanaan pekerjaan perbaikan/perkuatan struktur.

b. Prosedur Penilaian Struktur Beton Eksisting


Tujuan utama penilaian struktur adalah untuk rnendapatkan
gambaran yang realistik mengenai kondisi struktur yang sedang dikaji. Hal-
hal yang dinilai diantaranya adalah kapasitas pembebanan struktur,
kemampuan layanan dan durabilitas.
Prosedur penilaian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan teknis
pada pekerjaan penilaian yang sedang dilakukan, Secara umum, ada enam
tahapan utama yang harus dilalui (lihat Tabel 4.4)
Tabel 4-4
Prosedur Penilaian Struktur Eksisting

Tahapan Tujuan Aktivitas

Studi awal Untuk mengkonfirmasi kualitas material Mengumpulkan/mereveiw data skunder


yang digunakan atau data-data penting seperti as built drawing, data material,
lainnya yang berkaitan dengan struktur laporan perhitungan/clesain. Data
yang sedang dikaji konstruksi dll.
Site observations.
Survei Untuk memahami karakteristik struktur, Pemeriksaan visual
Pemeriksaan Global memilih area yang akan diperiksa secara Pengambilan clokumen video
detail dan menentukan teknik pengujian Pengukuran geometry, defleksi, retak
yang cocok/optimal dan kerusakan lainnya
Pengujian NDT terbatas
Pengambilan Sampel
Pemeriksaan Detai Untuk mengurnpulkan data yang cukup Uji beban
clan terpercaya sehingga pemeriksaan Pengujian NDT yang efektif
p
struktur dapat dilakukan dengan tingkat engujian fisik kimiawi
keyakinan yang tinggi
Presentasi Hasil Untuk mempermudah penilaian Plot
Analisis stasistik
Interpretasi Hasil Untuk menilai kinerja struktur eksisting Analisis struktur
saat ini clan yang akan dating dan Analisis kerusakan dengan bantuan
membandingkannya dengan persyaratan pengalaman sebelumnya
yang ada
Rekomendasi
Untuk menentukan aksi selanjutnya yang
diperlukan seperti perbaikan/perkuatan,
treatment untuk pencegahan, demolisi
atau survey lanjut yang lebih
komprehensif

Dari keenam tahapan tersebut, tahapan survey/pemeriksaan global


clan pemeriksaan detail merupakan tahapan-tahapan yang terpenting dalam
prosedur penilaian material/struktur beton bertulang eksisting. Bagian
selanjutnya dari makalah ini akan lebih difokuskan pada pembahasan
mengenai pemeriksaan/pengujian material/struktur beton bertulang
eksisting.

c. Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting


Pemeriksaan struktur biasanya bertujuan untuk mendapatkan
informasi yang mendalam mengenal kondisi rnaterial/struktur dalam
bangunan. Hal-hal yang dilakukan dalam pemeriksaan struktur diantaranya
adalah:
Meng identif i kasi semua cacat dan kerusakan

Mendiagnosa penyebabnya

Mengevaluasi kerusakan/cacat yang sudali diidentifikasi


Beberapa bentuk metoda pengujian dapat digunakan untuk hal
tersebut, diantaranya pengujan-pengujian setempat yang bersifat tidak
merusak seperti pengujian ultrasonik, hammer dan lain-lain. Hasil
pengujian tersebut (yang merupakan parameter struktur yang aktual)
kemudian dapat dimanfaatkan untuk analisis kapasitas struktur atau
komponen-komponen struktur.
Bentuk lainnya dapat berupa 'load test" (pengujian pembebanan)
yang dapat bersifat setengah merusak ataupun merusak total komponen-
komponen bangunan yang diuji. Pada kebanyakan Situasi biasanya hasil
yang didapat dan "load test" lebih meyakinkan dibanding hasil dari bentuk-
bentuk pengujian lainnya. Namun walaupun begitu, bentuk "load test"
memerlukan waktu dan biaya yang besar dan tidak mudah untuk di lakukan.
Informasiinformasi yang diperoleh dan pemeriksaan/pengujian
struktur eksisting tersebut dapat digunakan untuk menentukan apakah
tindakan perbaikan/perkuatan struktur yang perlu dilakukan atau layak
secara ekonomis untuk dilakukan (dibandingkan misalnya dengan biaya
demolisi/penghancuran) Seiain itu. berdasarkan intormasiinformasi
tersebut juga dapat ditentukan metoda terbaik jika perbaikan/perkuatan
tersebut memang diperlukan.

6. Tahapan Dalam Pemeriksaan/Pengujian Struktur Eksisting


Secara garis besar, pemeriksaan/pengujian struktur eksisting terdiri atas
tiga tahapan. yaitu:
a. Tahapan Perencanaan
Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah, pemilihan metoda
pengujian yang akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang
dihadapi, penentuan banyaknya pengujian yang akan dilakukan, dan
pemlihan lokasi pengujian pada struktur/komponen struktur yang tentunya
diharapkan dapat mewakili kondisi struktur yang sebenarnva. Tahapan-
tahapan yang umumnya dilakukan pada tahapan perencanaan ini diuraikan
pada bagian berikut ini:
1). Penyelidikan
Visual
Pengamatan visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk
mendefinisikan permasalahan yang ada di lapangan. Berdasarkan
pengamatan visual ini bisa didapatkan informasi mengenai tingkat
kemampuan layanan (service ability) komponen struktur (seperti
lendutan), baik-tidaknya pengerjaan pada saat pembangunan
struktur/komponen struktur (misal ada tidaknya bagian keropos dan "
honeycombing" pada beton) dan jenis kerusakan yang dialami baik
pada tingkat material (misal pelapukan beton) maupun tingkat
struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton).
Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang
dapat mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada
struktur dan dapat membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan
penyebabnya.
Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan
jenis-jenis retak yang mungkin terjadi pada struktur beton (Gambar
4.3). Untuk dapat membedakan jenisjenis retak tersebut beserta
penyebabnya, perlu diIakukan penyelidikan yang mendalam mengenai
pola retak yang terjadi. berdasarkan penyelidikan tersebut bisa didapat
dugaan-dugaan awal mengenai penyebab retak.
Tabel 4.5 di bawah ini memperlihatkan bentuk-bentuk gejaIa
yang dapat timbul yang biasanya berhubungan deangan jenis-jenis
kerusakan tertentu. Pada session sebelumnya telah diberikan secara
detail bentuk-bentuk kerusakan yang umum pada material/struktur
beton bertulang eksisting beserta penyebabnya.

gambar 4-4. Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada


Beton
Tabel 4-5
Diagnosis Kerusakan Yang Teriadi pada Beton

Jangka Waktu
Gejala
Penyebab Pemunculan
Retak Pengelupasan Pengikisan Segera Lama
Defisiensi struktur X X X X
Korosi Tulangan X X
Serangan Kimiawi x X x x
Kebakaran X X x
Reaksi Internal X X x
Pengaruh Suhu X x x X
Susut X X X
Rangkak X x x
Proses Pengeringan yang Abnormal X x
Kerusakan Fisik x x x x x
Diadaptasi dari artikel D D. Higggins berjudul "Diagnosing the Causes of Detects or
Deterioration in Cocrete Structures"

2). Pemilihan Jenis Pengujian


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis
metoda pengujian untuk struktur eksisting terdiri atas:
Tingkat kerusakan struktur eksisting yang diizinkan

Waktu pengerjaan

Biaya yang tersedia

Tingkat keandalan hasil pengujian

Jenis permasalahan yang dihadapi

Peralatan yang tersedia


Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat
memenuhi semua hal diatas secara optimal, sehingga perlu adanya
suatu kompromi. Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-
metoda pengujian beton yang sifatnya tidak merusak (seperti halnya
ultrasonik can hammer test yang dapat digunakan untuk mengetahui
kuat tekan beton pada struktur) biasanya merupakan bentuk pengujian
yang sangat sederhana, cepat can murah. Namun, tingkat kesulitan
dalam mengkalibrasi hasil pengujian, misalnya untuk proses
interpretasi nilai kuat tekan beton, adalah tergolong tinggi. Disamping
itu, jika kalibrasi ini tidak dilakukan secara balk can benar, maka
tingkat keandalan hasil pengujian dengan menggunakan alatalat
tersebut akan menjadi rendah.
Sementara itu jenis pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan
sampel core can struktur beton eksisting yaitu kemudian
dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat memberikan informasi yang
lebih akurat mengenai nilal kuat tekan beton. Jadi, tingkat keandalan
hasil pengujian core tersebut adalah tergolong tinggi. Namun, cara
ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan memerlukan waktu
pengerjaan yang relatif lebih lama. Selain itu, cara ini juga
menimbulkan kerusakan pada struktur. 3adi dapat dilihat disini bawa
sebagai langkah awal dalam memilih jenis pengujian yang paling
p
sesuai dengan situasi clan kondisi yang ada erlu disusun terlebih
dahulu tingkat prioritas hal-hal yang akan clijaclikan sebagai clasar
pemilihan. Namun perlu diperhatikan bahwa biasanya tingkat akurasi
hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam
pemilihan jenis pengujian.
Biasanya, untuk mengatasi kelemahan pengujian-pengujian yang
disebutkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan
beberapa jenis/metoda pengujian. Sebagai contoh, karena dapat
memberikan hasil yang akurat, pengujian core dapat digabungkan
dengan bentuk-bentuk pengujian yang lain seperti pengujian
ultrasonic atau hammer. Disini, pengujian core dapat dilakukan
untuk mengkalibrasi hasil pengujian ultrasonic clan hammer. Karena
sifatnya yang hanya mengkalibrasi, jumlah sample core yang
diperlukan tentu saja dapat diperkecil. Sehingga kerusakan yang
timbul pun dapat diminimumkan.
3). Jumlah dan Lokasi Pengujian
Jumlah pengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh

Tingkat akurasi yang diinginkan (hubungannya dengan statistic)

Biaya yang dibutuhkan

Tingkat kerusakan yang ditimbulkan


Sebagai contoh, pada pengujian hammer, untuk mengetahui
nilai kuat tekan beton dengan tingkat akurasi yang tinggi biasanya
diperlukan dalam jumlah yang besar yang lokasi pengujiannya dapat
disebarkan sehingga mencakupi semua daerah komponen struktur yang
kan diuji.

Laporan 4-30
Pendahuluan
b. Tahapan Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan perlu diperhatikan tingkat kesulitan
dalam mencapai lokasilokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian.
System perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus direncanakan
clan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian harus
dilakukan dengan baik selama pelaksanaan. Selain itu, keselamatan tenaga
pelaksana harus benar-benar diperhatikan (tenaga pekerja perlu
dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti topi pengaman ("hard
hat"), tali pengikat can lain-lain). Pada saat pelaksanaan, perlu
diperhatikan pengaruh gangguan yang mungkin timbul dari pengujian
tersebut terhadap lingkungan (baik terhadap orang maupun terhadap
gedung-gedung struktur-struktur disekitar lokasi struktur yang sedang diuji).

gambar 4-5. Instrumen Dan Pelaksanaan Pengujian Kekuatan Beton

c. Tahapan interpretasi
Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda.

- Kalibrasi

- Peninjauan variasi hasil pengukuran

- Analisis Perhitungan

Laporan 4-1
Pendahuluan
7. Metoda Pengujian
Metoda pengujian untuk mengevaluasi kerusakan beton pads umumnya dapat
dibagi menjadi dua yaitu:
Metoda langsung
Sebagai contoh: pengamatan visual, analisis dan pengujian bahan.
Metoda tidak langsung
Pada metoda ini, dilakukan pengukuran parameter-parameter yang
dapat dikorelasikan dengan kekuatan, perilaku elastik atau kondisi
kerusakan bahan
Selain itu metoda pengujian dapat jugs dikelompokkan atas dasar
tingkat kerusakan yang ditimbulkan pads struktur, yaitu pengujian Non-
Destructive, pengujian Semi-Destructive, dan pengujian Destructive.
Metoda pengujian non-destruktive adalah metode pengujian yang tidak
merusak struktur/komponen struktur yang ditinjau. Yang tergolong dalam jenis
pengujian ini diantaranya adalah pengujian hammer, ultrasonic, dan kain-lain.
Metoda pengujian semi-destruktive adalah pengujian yang menimbulkan
kerusakan minor sampai sedang pads struktur/komponen struktur yang diuji.
Contoh dari pengujian ini diantaranya adalah pengujian pull-out, pengujian
core, pengujian beban batas (ultimatelcollapase load test) pada komponen-
komponen struktur.

a. Metoda Pengujian Kekerasan Permukaan (Schmidt


Hammer)
Metoda pengujian ini dilakukan deangan memberikan beban
impact (tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu
massa yang diaktifkan dengan memberikan energi yang besarnya
tertentu. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi
tumbukan dengan permukaan beton benda uji dapat memberi indikasi
kekerasan dan juga, juga setelah kalibrasi, dapat memberikan indikasi nilai
kuat tekan beton benda uji. Jenis hammer yang umum dipakai untuk
pengujian ini adalah "Schmidt rebound hammer" (Gambar 4.5). Alat ini
sangat berguna untuk mengetahui keseragaman material beton pada
struktur. Karena kesederhanaannya, pengujian deangan menggunakan alat
ini dapat dilakukan dengan cepat, sehinggadapat mencakup area pengujian
yang luas dalam waktu yang singkat. Alat ini sangat peka terhadap variasi
yang ada pada permukaan beton, misalkan keberadaan partikal batu
pada bagian-
bagian tertentu dekat permukaan. Oleh karena itu, diperlukan pengambilan
beberapa kali pengukuran di sekitar setiap lokasi pengukuran, yang
hasilnya kemudian dirata-ratakan. British Standarts (BS) mengisyaratkan
pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah
2
pengujian seluas maksimum 300 mm (jarak antara 2 lokasi pengukuran
tidak boleh dari pada 20 mm).
Secara umum alat yang digunakan untuk
:
Memeriksa keseragaman kualitas beton pada
struktur
Mendapatkan perkiraan nilai kuat tekan
beton
Mendapatkan informasi mengenai ketahanan beton terhadap abrasi
Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408
pt. 4 atau ASTM C805-
89.

gambar 4-6. Alat Ukur Schmidt Rebound Hammer

1). Kelebihan dan kekurangan "Schmidt Rebound Hammer"


Kelebihan
Murah

Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat

Praktis (mullah digunakan)


Tidak
merusak
Kekuranqan :
Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan/kehalusan permukaan.
Kelembaban beton. Sifat-sifat dan jenis agregat kasar, drajad karbonasi,
ukuran dan umur beton. Oleh karena itu perlu diingat bahwa beton yang
akan diuji haruslah dari jenis dan denngan kondisi sama.
Sulit mengkalibrasi hasil
pengukuran

Tingkat keandalan
rendah
Hanya memberikan informasi mengenai karakteristik beton
pada permukaan.
2). Kalibrasi
Seperti yang disebutkan sebelumnya. banyak sekali variabel yang
berpengaruh terhadap basil pengukuran dengan menggunakan "Schmidt
Rebound Hammer". Oleb karena itu sangat sulit untuk mendapakan
diagram kalibrasi yang bersifat umum yang dapat menghubungkan
parameter tegangan heton sebagai fungsi nilai Skala pemantulan
"rebound hammer" dan dapat diaplikasikan untuk sembarang beton. Jadi
dengan kata lain diagram Kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap jenis
campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu untuk setiap jenis beton
yang berbeda, perlu diperoleh diagram kalibrasi tersendiri. Untuk
mendapatkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian tekan
sample hasil Coring untuk setiap jenis beton Yang berbeda pada struktur
yang sedang ditinjau. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai
konstanta untuk mengkalibrasi bacaan yang didapat dari peralatan hammer
tersebut.
Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang
dibuat oleh produsen alat uji hammer sebaiknya dihindarkan. karena diagram
kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan
ukuran agregat tertentu. bentuk benda uji yang tertentu dan kondisi
test tertentu.
Tabel 4-6
Diagram Kalibrasi alat uji Hammer
Angka Pantulan Ratarata Kualitas Selimut Beton
>40 Baik, Lapisan keras
30-40 Cukup Baik
20-30 Kurang Baik
<20 Ada Retak/Delaminasi dekat permukaan
b. Metoda Pengujian Ultrasonik
Metoda pengujian ini dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa
kecepatan rambat gelombang yang melalui suatu media padat bergantung
pada sifat-sifat elastik media padat tersebut. Jika digunakan dengan balk
dan benar, alat ini dapat memberikan informasi yang banyak mengenai
kondisi bagian permukaan ataupun bagian dalam beton. Alat ini secara talk
langsung juga dapat memberikan informasi mengenai nilai kuat tekan
beton jika hubungan antara sifat-sifat elastik suatu bench padat
dengan nilai kuat tekannya diketahui.
Alat ini pada dasarnya terdiri atas pembangkit signal gelombang,
transducer pengirim (transmitter) dan transducer penerima (receiver). Alat
ini juga dilengkapi oleh alat pengukur dan perekam waktu yang dibutuhkan
oleh gelombang untuk merambat dan transmitter Le receiver (Gambar
4.6). Jika panjang lintasan jarak antara transmitter dan receiver)
diketahui, maka kecepatan rambat gelombang yang terjadi bisa dihitung.
3enis transducer yang sesuai untuk aplikasi pada material beton adalah
transducer dengan frekuensi pribadi berkisar antara 20 Khz dan 150Khz.
Standar metoda pengujian ultrasonik ini dapat dilihat pada BS 4408 pt.5
atau ASTM C 597.

1). Prinsip Pengukuran


Alat ini seperti disebutkan sebelumnya memanfaatkan
prinsip perambatan gelombang pada media padat. Seperti diketahui
ada tiga jenis gelombang yang timbul pada saat suatu massa padat
diberikan suatu impulse (getaran) yaitu, gelombang permukaan,
gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Dari ketiga
gelombang tersebut, gelombang longitudinal merupakan gelombang
yang mempunyai kecepatan tinggi dan yang memberikan banyak
informasi mengenai sifat- sifat fisik bahan padat yang dilaluinya. Dari
teori fisika diketahui bahwa
Jika kecepatan perambatan gelombang longitudinal dan berat
jenis bench padat yang dilaluinya diketahui, maka harga modulus elastik
dinamik dari bahan padat tersebut bisa dihitung berdasarkan persarnaan
diatas. Seperti diketahui untuk beton-beton yang terbuat dari jenis
batuan alam, nilai berat jenis dan poisson's rationya relatif mirip satu
sama lain. Sehingga untuk setiap beton untuk campuran yang
berbeda (namun menggunakan batuan alam) hubungan antara
kecepatan gelombang dan nilai modulus elastis betonnya dapat
diasumsikan tetap.

gambar 4-7. Alat Ultrasonic Pulse velocity

2). Penempatan Transduncer


Sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan tiga macam cara
yang bisa dilakukan untuk menempatkan transducer penyampai dan
penerima pads bends uji. Hal ini bisa dilihat pads Gambar 4.7 dan ketiga
cara-cara tersebut cara langsung (direct) merupakan pilihan yang
terbaik. Sedangkan cara tidak langsung (indirect) merupakan cara yang
kurang balk. Pads cara yang tidak langsung tingkat kepekaan gelombang
yang terbaca oleh receiver jauh lebih kecil daripada yang dihasilkan
dengan cara langsung. Oleh karena itu gelombang tersebut bersifat
sangat rentan terhadap ganggguan yang mungkin didapat selama
perambatannya. Hal ini tentunya dapat memperkecil tingkat akurasi basil
pengukuran.
Selain itu, pads cara yang tidak langsung. karena pola
penempatan transducernya, kecepatan gelombang akan dipengaruhi
secara dominan oleh kondisi permukaan solid. sehingga hasil yang
didapat tentunya tidak akan mewakili kondisi solid yang sebenarnya.
Kelemahan lain pads cara yang tidak langsung ini adalah sulitnya
mengetahui secara pasti berapa sebenarnya panjang lintasan yang
diialui oleh perambatan gelombang yang diukur. Untuk mengatasi hal
ini perlu dilakukan pengukuran yang berulan-ulang dengan cara
p
memindah- mindahkan posisi transducer enerima. sedang posisi
transducer penyampai dijaga tetap (sehingga didapat jarak antara
transducer yang berubah-ubah). Hasil pencatatan waktu perambatan
gelombang untuk masing-masing pengukuran kemudian diplot pads
grafik yang mengambarkan hubungan waktu perambatan sebagai fungsi
jarak antara transducer. Dengan regresi linear bisa didapat
persamaan yang linear untuk kedua parameter tersebut. Kemiringan
(slope) persamaan tersebut merupakan kecepatan rata-rata perambatan
gelombang yang dicari. Namun, cara ini sangat bergantung pads
kondisi permukaan solid di sepanjang penempatan transducer
penerima. Jika, sebagai contoh ada suatu diskontinuitas (retak-retak)
maka ketelitian hasil yang didapat menjadi berkurang.

gambar 4-8. Konfigurasi Transducer


3). Kalibrasi untuk Penukuran Nilai Kuat Tekan beton
Seperti disebutkan sebelumnya, pengukuran dengan
menggunakan alat ultrasonik ini hanya memberikan informasi mengenai
modulus elastisitas beton. Untuk bisa mengkorelasikan hasil pengukuran
dengan nilai kuat tekan beton, maka diperlukan suatu diagram kalibrasi.
Seperti diketahui hubungan modulus elastisitas beton dengan nilai kuat
tekannya sangat sulit dimodelkan. Banyak variabel-variabel dalam
campuran beton yang berpengaruh. Sehingga ada kemungkinan
bahwa beton yang memiliki nilai kuat tekan yang sama ternyata
memiliki modulus elastisitas yang berbeda. Oleh karena itu, sama
seperti halnya dengan pengukuran hammer, diperlukan diagram
kalibrasi tersendiri untuk setiap jenis campuran beton.

gambar 4-9. Hubungan antara Nilai Kuat Tekan Beton


dan Kecepatan Rambat Gelombang

Untuk pengujian lapangan, kalibrasi ini bisa dilakukan dengan mengambil


sample core yang dapat mewakili kondisi beton pada lokasi yang hendak diuji.
Sebelum diuji tekan. sample tersebut terlebih dahulu diuji ultrasonik. Korelasi
yang didapat dari uji ultrasonic dan uji tekan sample core ini kemudian
dijadikan dasar untuk pembuatan diagram kalibrasi untuk jenis beton tersebut.
Gambar 4.8 menunjukkan contoh hubungan antara nilai kuat tekan beton dan
kecepatan rambat gelombang ultrasonic.
4). Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Hasil
Pengukuran
Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap hasil
pengukuran dengan menggunakan Ultrasonik. Yaitu
suhu

kelembaban beton

posisi tulangan pada beton bertulang


Faktor-faktor tersebut diatas harus diperhatikan dalam
menginterprestasikan hasilhasil pengujian. Kondisi lain yang berpengaruh
terhadap rambatan gelombang dalam beton dapat dilihat pada Gambar
4.7. Untuk pengukuran nilai kuat tekan beton hasil pengujian ultrasonic
sangat dipengaruhi oleh umur beton, kondisi kandungan kadar air rasio
agregat semen, jenis agregat dan lokasi tulangan. Tabel 4.6 memberikan
kriteria penilaian basil pengujian ultrasonic.

gambar 4-10. Kondisi-kondisi yang Berpengaruh terhadap Rambatan Gelombang di Dalam Beton
5). Aplikasi
Banyak aplikasi yang dapat dilakukan dengan alat ukur ultrasonik
terutama yang berkaitan dengan pemeriksaan retak/kerusakan,
diantarnya:
Memeriksa keseragaman kualitas
bahan
Mendeteksi retak-retak dan honeycombing.
Karena pulse tidak bisa merambat melaui udara. adanya retak
atau rongga kosong pada lintasan rambatan dapat memperbesar
panjang lintasan (karena gelombang akan menjalar mengelilingi retak-
retak atau rongga kosong tersebut) sehingga waktu rambatan untuk
sampai ke transducer penerima menjadi lebih lama. Berdasarkan
prinsip ini, retak- retak atau rongga kosong pada beton atau benda
padat lainnya dapat dideteksi dan dapat di perkirakan dimensinya
(misal, kedalaman retakannya ) (gambar F.9).
Memperkirakan nilai kuat
beton
Memperkirakan ketebalan beton yang sudah lapuk
dibawah permukaan pelat lantai.
Alat ultrasonik juga dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat
tenal pelapukan yang sudah dialami pelat beton yang timbul akibat
kebakaran atau serangan zat kimiawi dengan cara penempatan
transducer yang tidak langsung (gambar 9)
Mengukur
ketebalan

Mengukur modulus elastis


bahan
Memonitor proses pengerasan
beton
Memperkirakan ketebalan bagian yang lapuk pada balok
kolom
Untuk aplikasi ini perlu diasumsikan bahwa kecepatan rambat
gelombang dipermukaan paling luar pada bagian betcn yang sudah lapuk
akibat serangan kimia kebakaran adalah nol. Sedangkan kecepatan
rambat gelombang pada bagian/lapisan dalam (interior) yang masih baik
p
diasumsikan dapat cliwakih oleh kecepatan rambat gelombang ada
bagian-bagian struktur lainnya yang kondisi betonnya masih baik

Laporan 4-40
Pendahuluan
(tidak terkena pengaruh kebakaran dan serangan zat kimia). Sebagai
contoh jika diperoleh waktu T yang diperlukan gelombang berjalan pada
lintasan L (termasuk tebal bagian yang lapuk) maka tebal bagian elemen
struktur

Laporan 4-40
Pendahuluan
yang lapuk/rusak. Adalah :
t = (TV L)
Dimana Vc = kecepatan rambat gelombang pada bagian beton
yang kondisinya masih baik. Cara ini sudah terbukti memberikan
estimasi yang cukup baik pada investigasi kerusakan beton bertulang
akibat kebakaran.
Tabel 4-7
Kriteria Penilaian Hasil Ultrasonic
Kecepatan Gelombang Kualitas Selimur Beton
>4 Baik
3-4 Cukup Baik
<3 Kurang Baik

Laporan 4-1
Pendahuluan
gambar 4-11. Penentuan Kedalaman Retakan

c. Uji Pembebanan (load test)


Uji pembebanan (load test) perlu dilakukan jika ternyata hasil
pengujian material, baik non-destructive maupun semi-destructive yang
kemudian diikuti dengan perhitungan analitis dengan menggunalan dimensi
dan sifat-sifat bahan yang sebenarnya, belum memuaskan pihak-pihak
terkait.
p
Tujuan load test ada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa
tingkat keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi
persyaratan peraturan bangunan yang ada, yang tujuannya untuk menjamin
keselamatan umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan
pada bagian-bagian struktur yang dicurigal tidak memenuhi persyaratan
tingkat keamanan berdasarkan data-data hasil pengujian material dan
pengamatan.
p
Uji pembebanan biasanya erlu dilakukan untuk kondisi-kondisi
berikut
ini:
Perhitungan analitis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena
keterbatasan informasi mengenai detail dan geometri struktur.
Kenerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kualitas
bahan, akibat serangan zat kimia, ataupun karena adanya kerusakan fisik
yang dialami bagian-bagianstruktur, akibat kebakaran, gempa,
pembebanan yang berlebihan, dan lain-lain.
Tingkat keamanan struktur yang sangat rendah akibat jeleknya kualitas
pelaksanaan ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang
sebelumnya tidak terdeteksi.
Struktur direncanakan dengan metoda-metoda yang non standart,
sehingga menimbulkan kekuatiran mengenaitingkat keamanan struktur
tersebut.
Perubahan fungsi struktur, sehingga menimbulkan pembebanan
tambahan yang belum diperhitungkan saat perencanaan.
Diperlukannya pembuktian mengenai kinerja suatu struktur yang barn
saja direnivasi/diperkuat.
(1) Jenis-Jenis Load Test
Uji pembebanan dikategorikan dalam 2 kelompok,
yaitu
Pengujian di tempat (in-situ) yang biasanya bersifat non-destructive

Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur


utamanya. Pengujian biasanya dilakukan di laboratorium yang bersifat
merusak. Pemilihan jenis uji pembebanan ini bergantung pada situasi
dan kondisi. Tetapi biasanya cara kedua dipilih jikacara pertama tidak
praktis (tidak mungkin) untuk dilaksanakan.
Selain itu pemilihan jenis pengujian pembebanan ini bergantung pada
tujuan diadakannya lod test. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui
tingkat layanan struktur, maka pillhan pertama tentunya paling baik.
Tetapi jika ingin mengetahui kekuatan batas dari suatu bagian struktur,
yang nantinya akan digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian
struktur lainnya yang mempunyai kondisi yang sama, maka cara kedualah
yang dipilih.
(2) Pengujian Pembebanan di Tempat (In-Situ Load Test)
Ujian utama dan pengujian ini adalah untuk memperlihatkan apakah
perilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load)
memenuhi persyaratan bangunan yang ada yang pada dasarnya dibuat
agar keamanan masyarakat umum terjamin. Perilaku struktur tersebut
dinilai berdasarkan pengukuran lendutan yang terjadi. Selain itu
penampakan struktur pada saat dibebani juga diukur/dievaluasi. sebagai
contoh, apakah retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam
batas-batas yang wajar. Beberapa hal yang patut men jadi perhatian
dalam pelaksanaan loading test akan diberikan dalam uraian berikut ini.
a) Persiapan dan Tatacara
Pengujian
ACI-318-'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya
bisa dilakukan jika struktur beton sudah berumur lebih dan 56 hari.
Pemilihan bagian struktur yang akan diuji dilakukan dengan
mempertimbangkan:
- permasalahan yang
ada

- tingkat keutamaan bagian struktur yang akan


diuji

- kemudahan
pelaksanaan
Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang
akan diuji dan beban ujinya juga harus pertimbangkan/dilihat
apakah kondisinya balk dan kuat. Selain itu "scaffolding" juga
harus dipersiapkan untuk mengantisipasi behan-beban yang timbul
jika terjadi keruntuhan pada bagian struktur yang diuji.
Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa
sehingga bagian struktur yang dmaksud benar-benar mendapatkan
beban yang sesuai dengan yang direncanakan. Hal ini kadangkala
sulit dilaksanakan. terutama untuk pengujian struktur lantai. Hal mi
dikarenakan adanya keterkaitan antara bagian struktur yang diuji
dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya. sehingga timbul
apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("load sharing
effect'). Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen non
struktural yang menempel pada bagian struktur yang akan diuji,
sebagai contoh "ceiling board". Elemen non struktural ini dapal
berfungsi mend istri busikan beban pada komponen-komponen
struktur dibawahnya yang sebenarnya tidak Baling berhubungan,
untuk menghinclan terjadinya distribusi beban yang tidak
diingini, maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya disolasikan
dari bagian struktur yang ada di sekitarnya.
ACI 318-'89 mengisyaratkan bahwa besarnya beban yang harus
diaplikasikan selama "load test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada
struktur) adalah: Beban total ?
0,85 ( 1,4D+1.L)
Dimana D=beban mati
L=benda hidup (termasuk faktor reduksinya)
Beban mati harus diaplikasikan selama 48 jam sebelum 'load test'
dimulai. sebelum beban diterapkan terlebih dahulu di dahului pembacaan
lendutan awal yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan
lendutan setelah penerapan beban harus di Lakukan secara bertahap dan
perahan-lahan. Sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pada
struktur. Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada
struktur yang diuji selama 24 jam, pembacaan lendutan bisa
dilakukan, setelah pembacaan, beban-beban bisa di lepaskan dari
struktur. Dua puluh empat jam setelah itu, pembacaan lendutan di
lakukan kembali.
Kriteria minimum yang harus dipenuhi dan hasil load test ini
adalah struktur tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda kerumuhan
seperti terbentuknya retak-retak yang berlebihan atau terjadi
lendutan yang besar yang bisa terlihat oleh mata atau terjadi
lendutan yang melebihi persyaratan keamanan yang telah ditetapkan
dalam peraturan-peraturan bangunan.
(b) Teknik Pembebanan
Pembebanan harus diiakukan sedemikian rupa sehingga laju dan
distribusi pembebanan dapat dikontrol. Beban-beban yang bisa
digunakan diantaranya air, bata/batako, kantong semen/pasir.
pemberat baja dan lainlain. Pemilihan beban yang akan digunakan
tergantung dengan distribusi pembebanan yang diinginkan,
besarnya total beban yang dibutuhkan, ketersediaan, dan
kemudahan pemindahannya.
(c) Pengukuran
Parameter yang biasanya di ukur dalam "load test" adalah
lendutan, lebar retak dan renggangan. Lebar retak yang terjadi
biasanya a diukur dengan menggunakan mikroskop tangan yang
dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang diberi garis-
garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda. cara pengukuran
adalah dengan rnembandingkan lebar retak yang terjadi lewat
pencropongan dengan
miikroskop, dengan lebar garis-garis berskala tersebut, pola retak-
retak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan garis-
garis yang meingikuti pola retak yang ada dengan menggunakan
spidol berwarna (diujung garis-garis retak tersebut kemudian
dituliskan informasi mengenai tingkat pembebanan dan lebar retak
yang sudah terjadi). Pengukuran lendutan hiasanya di lakukan
dengan menggunakan LVDT ( Linear Variable Displacement
Transducer) Sedangkan pengukuran regangan di lakukan dengan
menggunakan strain gage.
3) Uji Beban Merusak (Beban Batas)
Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian di tempat (in-situ) tidak
mungkin di lakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui
kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai
acuan dalam menilai bagianbagian struktur lainnya yang identik dengan
bagian yang diuji. Pengjian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya
yang besar, terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur
yang akan diuji dilaboratorium. Namun, walaupun begitu hasil yang bisa
diharapkan dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif.

4.3.5. PENDEKATAN UTILITAS


BANGUNAN

Bangunan - bangunan gedung yang telah dirancang oleh para arsitek, pada
akhirnya harus digunakan dan tempati oleh penggunanya. Pengguna bangunan gedung
ticlak hanya sekedar memakai can menempati gedung, tetapi harus pula menikmatinya.
Sehinga bangunan gedung tersebut harus memberikan rasa nyaman clan berfungsi
dengan balk, ticlalk hanya sekedar indah cipandang mata dari sudut karya seni. Untuk
itu bangunan gedung harus dilengkapi dengan sarana dan prasarana bangunan yang
mendukung fungsi dari gedung tersebut.
Utilitas bangunan sangat diperiukan untuk melengkapi suatu gedung, terutama
untuk gedung bertingkat yang memiliki lantai lebih dari satu. Kelengkapan dan
berfungsinya utilitas dari suatu gedung, akan memberikan jaminan keselamatan
clan kenyamanan penghuni yang menggunakan gedung tersebut.
Utilitas bangunan suatu gedung terdiri dari beberapa komponen, di mana setiap
komponen sating mendukung fungsi gedung serta kenyamanan dan keselamatan
orang- orang yang menggunakan gedung tersebut. Komponen-komponen utilitas
bangunan
tersebut antara lain adalah sistem instalasi pencegahan kebakaran, sistem transportai
vertikal, sistem plumbing, sistem instalasi listrik, sistem tata udara, sistem instalasi
penangkal petir dan sistem instalasi komunikasi.
1. Komponen Utilitas Bangunan
Untuk tujuan penelitian tingkat keandalan utilitas bangunan
gedung, sampling bangunan diperiksa berdasarkan tujuh komponennya,
yaitu :
a. Utilitas pencegahan kebakaran :
1). Sistem deteksi alarm kebakaran : alat-alat deteksi, titik panggil
manual, panel kontrol kebakaran, catu daya, alarm kebakaran, kabel
instalasi
2). Sprinkler otomatis pompa air, kepala sprinkler, kran uji, pipa instalasi

3). Gas pemadam api kumpulan tabung gas, alarm kebakaran, stater
otomatis, catu daya panel kontrol, kotak operasi manual, alat-alat
deteksi, nose) gas, kran pillih otomatis
4). Hidran : pompa air, pipa instalasi, tangki penekan, hidran kotak, hidran

pilar, sumber air, tangki penampungan


air
5). Tabung pemadam api ringan : tabung gas tersegel, selang

b. Utilitas transportasi vertikal :


1). Lift : motor penggerak, sangkar & alat kontrol, motor penggerak
pintu, kabel dan panel listrik, strik, rel', alat penyeirnbang, peredam.
Berdasarkan peraturan nasional: garis tengah kabel-kabel harus sekurang-
kurangnya 12 mm, banyaknya kabel minimal 3 buah, dan plat lantai
pemikul lift terbuat dari beton. Untuk keamanan, kabin lift harus tahan api
dan tertutup. Namun demikian harus ada lubang yang dapat digunakan
untuk menolong penumpang dalam keadaan darurat.

Tabel 4-8
Klasifikasi penggunaan lift
Lift untuk manusia Lift khusus
Tinggi gedung Kecepatan lift Jenis gedung Kecepatan lift
4 - 10 lantai 1.0 - 2.5 m/det Rumah sakit 2.5 - 3.5 m/det
10 - 15 lantai 3.0 - 3.5 m/det Rumah tinggal 1.0 - 1.3 m/det
15 - 20 lantai 3.5 - 4.0 m/det Lift barang
20 - 50 lantai 4.0 - 6.0 m/det 2-3 lantai 0.5 m/det
> 50 lantai 6.0 - 7.5 m/det 4-5 lantai 0.8 m/det

2). Eskalator : motor penggerak, alat kontrol, kabel & panel listrik,
rantai penarik, roda gigi penarik, badan eskalator, anak tangga
c. Utilitas plumbing
1). Air bersih : sumber air, tangki penampungan atas, pompa penampungan
& alat kontrol, pompa distribusi, listrik untuk panel pompa, pompa
instalasi, kran
2). Air kotor : kloset, saluran ke tangki septik, kran air gelontor, tangki septik,

bak cuci, saluran dari bak cuci ke saluran terbuka, lubang pengurasan,
pipa air hujan
d. Utilitas instalasi listrik
1). Sumber daya PLN : panel tegangan menengah, trafo, panel
distribusi, lampu, armatur, kabel instalasi
2). Sumber daya genset : motor penggerak, alternator, alat pengisian aki,
radiator, kabel instalasi, AMF, daily tank, panel
e. Utilitas instalasi tata udara

1) . Sistem tata udara sentral : sistem pendinginan langsung (media


air), sistem pendinginan tidak langsung (media udara)
2) . Sistem tata udara non sentral : sistem AC windows, sistem AC split

f. Utilitas instalasi penangkal petir

1). Instalasi proteksi petir eksternal : kepala penankal petir, hantaran


pembumian elektroda pembumian
2). Instalasi proteksi petir internal : arester tegangan lebih, pengikat
ekuipotensial hantaran pembumian, elektroda pembumian
g. Utilitas Instalasi komunikasi
1). Instalasi telepon : pesawat telepon, PABX, kabel instalasi

2). Instalasi tata suara : mikropon, panel system tata suara, speaker, kabel
instalsi

2. Pengumpulan Data

a. Observasi
Obeservasi adalah pengamatan visual yang dilakukan dengan survey
lapangan pada objek yang diteliti. Observasi ini diperlukan untuk
mendapatkan gambaran secara langsung objek yang dan untuk
mendapatkan informasi dari pengguna bangunan terhadap komponen utlitas
yang terdapat pada gedung tersebut. Berdasarkan pengamatan visual ini
akan diperoleh data-data mengenai kualitas, kuantitas Berta kelengkapan
dari komponen-komponen utilitas bangunan.
b. Pengukuran dan Pengujian
p
Pengukuran dan engujian dilakukan untuk mendukung data-data
p p
yang diperoleh dari engamatan visual. Pengukuran dan engujian dilakukan
p
terhadap komponen utilitas instalalsi listrik dan instalasi enangkal petir.
Peralatan-peralatan pengukuran yang digunakan adalah :

gambar 4-12. Alat ukur mekanikal elektrikal

Tabel 4-9
Batas Nilai Parameter Yang Diinginkan
No Parameter Nilai Yang Diinginkan Keteransan
1 Tegangan Listrik 198 - 240 V max 5 % min 10 %
2 Frekuensi 49,5 -50,5 Hz
3 Total Harmonic Distorsion < 5% Untuk saluran fasa
< 10% Untuk saluran netral
4 Pf dan cos 0,8 -1,0 Sifat lagging
5 Voltage unbalanced < 5%
6 Current unbalanced < 5%
7 Resistansi pentanahan < ion
8 Resistansi isolasi ~
4.3.6. PENDEKATAN ASPEK LINGKUNGAN
Sarana dari bangunan umum merupakan tempat dan atau alat yang
dipergunakan oleh masyarakat umum untuk melakukan kegiatannya, untuk itu perlu
dikelola demi kelangsungan kehidupan dan penghidupannya untuk mencapai keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial, yang memungkinkan penggunanya hidup dan
bekerja dengan produktif secara sosial ekonomis. Untuk itu sarana dan bangunan umum
tersebut harus memenuhi persyaratan kesehatan. Hal ini telah diamanatkan pada UU
No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Sarana dan bangunan umum dinyatakan memenuhi syarat kesehatan
lingkungan apabila memenuhi Kebutuhan fisiologis, psikologis clan dapat mencegah
penularan penyakit antar pengguna, penghuni dan masyarakat sekitarnya, selain itu
harus memenuhi persyaratan dalam pencegahan terjadinya Kecelakaan.
Dalam rangka melindungi, memelihara clan mewujudkan lingkungan yang
sehat pada sarana dan :angunan umum perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian
faktor risiko penyebab timbulnya penyakit sebagai bagian dari kegiatan surveilans
epidemiologi.
1. Komponen Lingkungan
Indikator penilaian Sarana Sanitasi bangunan meliputi beberapa
parameter sebagai berikut
a. Sarana air bersih

b. Drainase gedung

c. Sarana pembuangan air limbah

d. Sarana pembuangan sampan.

a. Sarana air bersih


Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari balk
domestik (rumah tangga) maupun non domestik (perkantoran, industri,
komersial dan fasilitas umum lainnya) yang kualitasnya memenuhi syarat
kesehatan clan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan clan dapat langsung diminum.
Air yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber
yang bersih clan aman, karena pencemaran air minum/air bersih dapat terjadi
p
mulai dari sumber air, selama proses engolahan maupun selama pengaliran di
dalam pipa distribusi. Beberapa sarana air bersih yang umum digunakan
untuk keperluan domestik ataupun non domestik diantaranya: sumur dangkal
(sumur gall, sumur pompa tangan dangkal), sumur dalam (sumur artesis),
Laporan 4-50
Pendahuluan
terminal air,

Laporan 4-50
Pendahuluan
PDAM. Demikian pula dalam suatu bangunan, pencemaran dalam sumber air
bersihnya pun dapat terjadi, oleh karena itu, sumber/sarana air bersih dalam
suatu bangunan perlu direncanakan. Misalnya jika menggunakan sarana
air bersih dari sumur, maka persyaratan konstruksi bangunan sumur harus
aman terhadap polusi yang disebabkan pengaruh luar, sehingga harus
dilengkapi dengan pagar keliling, selain itu bangunan pengambilan harus dapat
dikonstruksikan secara mudah dan ekonomis Berta dimensi sumur harus
memperhatikan kebutuhan maksimum harian.
Persyaratan kualitatif menggambarkan mutu atau kualitas dari air bersih.
Persyaratan ini meliputi persyaratan fisik, kimia, biologic dan radiologis.
Syarat kualitas air ini menunjukkan bahwa kandungan unsur fisik,
kimia,biologi dan radiologi harus berada dibawah ambang batas yang diatur
menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.907/Menkes/SK/VII/2002, sehingga
tidak membahayakan tingkat kesehatan manusia.
Batasan-batasan air yang bersih dan aman antara
lain
1. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit
penyakit.
2. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan
beracun.
3. Tidak berasa dan tidak
berbau.
4. Dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan domestik dan rumah
tangga.
5. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen
Kesehatan RI. Adapun syarat-syarat Kualitas Air Minum diantaranya seperti
terlihat pada tabel berikut

Laporan 4-1
Pendahuluan
Tabel 4-10
Persyaratan Kualitas Air Minum

b. Drainase Gedung
Bangunan yang dilengkapi dengan sistem plambing harus dilengkapi degan
sistem drainase untuk pembuangan air hujan yang berasa) dari atap maupun
jalur terbuka yang mengalirkan air. Air hujan yang dibawa dalam sistem
plambing ini harus disalurkan ke dalam lokasi pembuangan untuk air hujan. Hal
ini karena tidak boleh air hujan disalurkan ke dalam sistem plambing air
buangan yang hanya bertujuan untuk menyalurkan air buangan saja atau
disalurkan ke suatu tempat sehingga air hujan tersebut akin mengalir ke jalan
umum, menyebabkan erosi atau genangan air. Bila terdapat sistem plambing
air buangan dan air hujan dalam satu gedung maka tidak dianjurkan untuk
digabungkan kecuali hanya pada lantai paling bawah saja. Sistem plambing air
hujan yang digabung dengan air buangan pada lantai terbawah harus dilengkapi
dengan perangkap untuk mencegah keluarnya gas dan bau tidak enak dari
sistem tersebut.
Setiap gedung yang direncanakan/dibangun harus mempunyai
perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman
(dengan pengerasan) di dalam persil ke saluran pembuangan campuran kota.
Adapun sistem pengaliran air hujan dapat dilakukan dengan 2 Cara:
1. Sistem Gravitasi : yaitu melalui pipa dari atap dan balkon menuju
lantai dasar dan dialirkan langsung ke saluran kota
2. Sistem Bertekanan (Storm Water) : yaitu aiir hujan yang masuk ke lantai
basement melalui ramp dan air buangan lain yang berasal dari cuci mobil
dan sebagainya dalam bak penampungan sementara (sump pit) di lantai
basement terendah untuk kemudian dipompakan keluar menuju saluran
kota.
Gutter (talang atap) dan leader (talang tegak) air hujan digunakan untuk
menangkap air hujan yang jatuh ke atas atap atau bidang tangkap lainnya di
atas tanah. Dari leader kemudian dihubungkan ke titik-titik pengeluaran,
umumnya ke permukaan tanah atau sistem drainase bawah tanah
(underground drain). Tidak diperkenankan menghubungkannya dengan system
saluran saniter. Talang tegak dapat ditempatkan di dalam ruangan (conductor)
maupun di luar bangunan (leader).
Berdasarkan rekomendasi dari Copper & Brass Research Association beberapa
prinsip berkenaan dengan penentuan ukuran gutter & leader adalah :

1. Ukuran leader dibuat sama dengan outletnya, untuk menghindari kemacetan


aliran yang ditimbulkan oleh daun dan kotoran lainnya.
2. Jarak maksimum antar leader adalah 75 ft (22,86 m). Aturan yang paling
2 2
aman adalah untuk 150 ft (13,94 m ) luas atap dibutuhkan I inci luas leader.
Angka-angka tersebut dapat berubah akibat kondisi-kondisi local.
3. Ukuran outlet tergantung pada jumlah & jarak antar outlet, kemiringan atap
dan bentuk gutter.
4. Jenis gutter terbaik adalah jika punya kedalaman minimal sama dengan
setengah kali lebarnya dan tidak lebih dari 3/4 lebarnya.
Gutter berbentuk setengah lingkaran merupakan bentuk yang paling
ekonomis dalam kebutuhan materialnya dan menjamin adanya proporsi yang
tepat antara kedalaman dan lebar gutter. ukuran gutter tidak boleh lebih kecil
dari leadernya dan tidak boleh lebih kecil dari 4 inci.
c. Sarana Pembuangan Air Limbah

Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari
rumah tangga, industri, maupun tempat - tempat umum lainnya.
Jenis dan macam air limbah dikelompokkan berdasarkan sumber penghasil, yang
terdiri dari:
1). Air limbah domestic : berasal ari kegiatan penghunian, seperti rumah
tinggal, hotel, sekolah, Derkantoran, pertokoan, pasar dan fasilitas
pelayanan umum. Air limbah domestik dapat dikelompokkan menjadi:
air buangan kamar mandi

air buangan WC : air kotor/tinja

air buangan dapur clan cucian


2). Air limbah Industri : berasal dari kegiatan industri, seperti pabrik tekstil,
pabrik pangan, industri kima, dll.
3). Air limbah limpasan hujan : berasal dari air hujan yang melimpas di atas
permukaan tanah dan meresap ke dalam tanah.
Pada umumnya air limbah menganclung bahan-bahan atau zat - zat yang
dapat membahayakan kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan
hidup Meskipun merupakan sisa air , namun volumenya besar, karena lebih
kurang 80
% dari air yang digunakan kegiatan manusia sehari - hari dibuang dalam
bentuk yang sudah kotor (tercemar ). Untuk kemudian air limbah ini akan
mengalir ke sungai dan laut dimana air ini digunakan manusia kembali. Oleh
sebab itu air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara balk. Buruknya
kualitas sanitasi juga tercermin dari rendahnya persentase penduduk yang
terkoneksi dengan sistem pembuangan air limbah (sewerage system).

Sistem pengolahan air limbah dapat dilakukan melalui proses pengolahan


secara: 1). Pengolahan individual : pengolahan yang dilakukan sendiri-sendiri oleh
masing- masing rumah terhadap limbah domestic yang dihasilkan. Secara
diagramatis
penanganan air limbah secara individual ditunjukkan dalam gambar berikut:

gambar 4-13. Pengelolaan Individual


2). Pengolahan Individu pada Lingkungan Terbatas : dilakukan secara terpadu dalam
wilayah yang kecii, seperti hotel, rumah sakit, bandara dan fasilitas umum. Secara
diagramatis penanganan air limbah secara individual pada lingkungan terbatas
ditunjukkan dalam gambar berikut:

gambar 4-14. Pengelolaan Individu Pada Lingkungan Terbatas

3). Pengolahan Komunal : dilakukan pada suatu kawasan pemukiman, industri,


perdagangan, yang pada umumnya dibuang melalui jaringan riooi kota untuk
kemudian dialirkan ke suatu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Secara
diagramatis penanganan air limbah secara komunal ditunjukkan dalam gambar
berikut:

gambar 4-15. Pengelolaan Komunal

d. Sarana Pernbuangan Sampah

Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang keberadaannya


banyak menimbulkan masalah apabila tidak dikelola dengan baik. Apabila
dibuang dengan cara ditumpuk saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang
berbahaya bagi kesehatan manusia. Apabila dibakar akan menimbulkan
pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah disungai dapat mengakibatkan
pendangkalan sehingga menimbulkan banjir. Dengan demikian sampah yang
tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan
air dan udara. Selain itu juga sudah hares dimulai penerapan prinsip-
prinsip pengurangan volume sampah dengan menerapkan prinsip 4 R yaitu
(Reduce, Reuse, Recycle dan Replace ).
Secara umum system pengelolaan sampah ditinjau dari aspek teknis
operasional dapat ditunjukkan pads gambar berikut:

gambar 4-16. Pengelolaan Sampah

Berdasarkan gambar tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengelolaan


sampah dapat dilakukan dengan berbagai jalur, misalnya timbulan wampah masuk
ke pewadahan kemudian di bawa oleh kendaraan pengumpul langsung dibuang
ke tempat pembuangan akhir, atau jalur lain, misalnya setelah melalui bagian
pengumpulan kemudian dibawa ke bagian pemilahan dan pengolahan, setelah itu
dibuang ke tempat pembuangan akhir.
2. Pengumpulan Data, Peralatan dan Analisis Data

a. Pengumpulan Data
Data yang terkait dengan aspek lingkungan terdiri dari data sekunder
maupun data primer. Data sekunder yang akan dipergunakan dikumpulkan
dari berbagai sumber yang representative dan mewakili, terutama dokumen
yang berkaitan dengan upaya pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan dari
masing-masing pemilik bangunan. Data primer dikumpulkan dari hasil
observasi lapangan dan pengambilan sampel serta pengukuran di lokasi yang
telah ditetapkan. Untuk sarana air bersih, drainase dan air limbah, sampel air
diamati dan diambil sampelnya di titik-titik antara lain pads sumber air,
saluran air/drainase dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Sarana pembuangan sampah diamati terutama mengenai sistem pengelolaan
sampah secara umum yang meliputi: pewadahan/penyimpanan,
pengangkutan, pengolahan dan pembuangan akhir.
b. Peralatan
Untuk menunjang kegiatan monitoring penyehatan sarana dan bangunan umum
diperlukan instrumen berupa formulir pengamatan dan peralatan yaitu
i. Formulir Pengamatan
1) Formulir pemeriksaan

2) Formulir Inspeksi Sanitasi

ii. Peralatan pengukuran kualitas lingkungan antara lain


1) Pengukur kualitas air
2) Sanitarian Kit

3) Peralatan lain yang dipergunakan untuk mengukur kualitas lingkungan pada


penyehatan sarana dan bangunan umum.
c. Analisis Data
Metode analisis yang digunakan untuk sampel air mengacu pada Keputusan
Gubernur KDH Tingkat I Jawa Tengah Nomor: 660.1/26/1990 tentang Baku
Mutu Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah. Analisis aspek sanitasi mengacu
pada KepMenkes No. 288/Menkes/SK/III/2003 tentang Pedoman Penyehatan
Sarana dan Bangunan Umum.
4.4. KEBUTUHAN, PEROLEHAN DAN PENYAJIAN DATA

4.4.1. Kebutuhan dan Teknik Pengumpulan Data


Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini berupa survei pengumpulan
data sekunder dan primer di lapangan untuk mengidentifikasi kondisi bangunan
gedung dan menganalisis guna memperoleh temuan-temuan dilapangan.

Teknik pengumpulan data tersebut adalah dengan cara:

1. Data Primer

a. Observasi visual di lapangan dengan tim ahli. Tim ahli secara


spontan dengan sense dan pengalaman yang dimilikinya dapat
dijadikan pedoman awal bagaimana kondisi bangunan tersebut.

b. Melakukan pemotretan dan pengukuran untuk mendapatkan foto


kondisi lapangan dan beberapa penyimpangan-penyimpangan yang
ada.

c. Melakukan wawancara dengan kuisioner dan wawancara bebas


untuk mendapatkan gambaran umum dan sejarah mengeai
bangunan terkait.

d. Melakukan uji lab bila diperlukan.

2. Data Sekunder

a. Dengan melakukan studi pustaka contoh kajian teoritis.

b. Mengkopi dan mempelajari peraturan-peraturan yang terkait.

c. Mengkopi dan mempelajari gambar teknis bangunan gedung


(gambar IMB, gambar arsitektur, gambar struktur, dan gambar
mekanikal elektrikal bangunan gedung terkait, serta gambar as
built drawing) yang akan dilakukan pemeriksaan keandalan dan
kelaikan bangunan.

d. Browsing data-data peraturan terkait melalui internet.

4.4.2. Jenis Perolehan Data


Jenis data yang diperlukan untuk pemeriksaan keandalan
bangunan meliputi beberapa aspek. Masing-masing akan dinilai dengan
memberikan
parameter angka sesuai dengan kondisi item yang dinilai tersebut. Data-data
yang akan diobeservasi adalah sebagai berikut:

1. Data Umum Bangunan Gedung

a. Data utama :
Nama Bangunan : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan
pemeriksaan)
Lokasi / Alamat : (menunjukkan bangunan yang akan dilakukan
pemeriksaan)
Fungsi : (menjelaskan fungsi / kriteria bangunan tersebut)

Total luas: (menginformasikan luasan total bangunan tersebut)

Jumlah lantai: (menjelaskan bangunan yang akan diperiksa terdiri


atas berapa lantai)

2. Aspek Arsitektural

a. Kesesuaian penggunaan fungsi : (apakah bangunan tersebut masih


sesuai dengan fungsi awal saat bangunan tersebut berdiri, masih sesuai
dengan fungsi, atau sudah tidak sesuai).
b. Pelapis muka lantai : (apakah pelapis muka lantai masih dalam kondisi
baik, mengalami retak rambut, terbelah, pecah atau terkelupas).
c. Pelapis lantai : (apakah pelapis lantai masih dalam kondisi baik,
mengalami retak, terbelah, pecah, terkelupas atau pelapis lantai
tersebut licin/ slip yang dapat menyebabkan terpelesetnya pengguna).
d. Plesteran lantai : (apakah plesteran lantai masih dalam kondisi baik,
buram, mengalami retak, pecah/ rusak, terkelupas, ambles, berlumut,
atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna).
e. Pelapis dinding : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi baik,
luntur, pudar/ busam, mengapur, terkelupas atau berjamur ).
f. Plesteran dinding : (apakah plesteran dinding masih dalam kondisi baik,
mengalami retak, pecah atau terkelupas).
g. Pintu dan Jendela : (apakah pintu dan jendela masih dalam kondisi baik
bisa difungsikan sesuai fungsinya, atau dalam kondisi rusak, macet,
hilang dan tidak berfungsi)
h. Langit-langit dalam : (apakah kondisi langit-langit dalam pada posisi
baik, kusam, lembab, berlubang atau rusak)
i. Pelapis lantai luar : (apakah pelapis lantai luar masih dalam kondisi baik,
atau sudah kusam, retak, pecah,
j. Plesteran lantai luar :(apakah plesteran lantai luar masih dalam kondisi
baik, buram, mengalami retak, pecah/ rusak, terkelupas, ambles,
berlumut, atau hal lain yang dapat membahayakan pengguna).
k. Pelapis dinding luar : (apakah pelapis dinding /cat masih dalam kondisi
baik, luntur, pudar/ busam, terkelupas atau berjamur ).
l. Pelapis langit-langit :(apakah kondisi langit-langit dalam posisi baik,
kusam, lembab, berlubang atau rusak)
m. Penutup atap: (apakah penutup atap dalam keadaan baik, atau terlepas,
tanpa pengikat, retak, pecah, berlubang, bocor, rapuh)

3. Aspek Struktural
Sebelum dilakukan survey ke lapangan, akan dilakukan klasifikasi form isian
terlebih dahulu, apakah bangunan menggunakan :
a. Struktur rangka beton dan dinding pasangan

b. Struktur rangka baja dan dinding pasangan

c. Struktur rangka beton dan dinding geser

d. Struktur dinding pasangan dan rangka beton


praktis Item yang akan diperiksa adalah sebagai
berikut:
a. Pondasi, kepala pondasi, balok pondasi : (apakah masih kuat, kaku,
atau terjadi penurunan dan patah struktur)
b. Join balok-kolom: ( apakah masih kuat, kaku, atau terjadi patahan,
pecah pada beton, atau hanya retak rambut pada pelapis plesteran saja)
c. Kolom (baja/beton) : ( apakah masih kaku, kuat menopang beban di
atasnya, jika dari besi apakah terjadi karat, melengkung, ikatan
sambungan mur baut terlepas, jika dari beton apakah terjadi patah,
pecah, miring)
d. Balok (baja/beton) : ( apakah masih kaku, kuat menyalurkan beban, jika
dari besi apakah terjadi karat, melengkung, ikatan sambungan mur baut
terlepas, jika dari beton apakah terjadi patah, pecah, lendut, retak
rambut)
e. Pengaku silang : (apakah pengaku silang masih dalam keadaan kuat
atau hilang, hilang mur dan baut, lapuk/ berkarat)
f. Dinding geser : (apakah dinding geser masih dalam kondisi baik,
mampu menopang/ menahan beban, atau muncul retak, beton

Laporan 4-60
Pendahuluan
terkelupas, bocor pada basement)

Laporan 4-60
Pendahuluan
g. Slab lantai : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/
lendutan, patah, retak struktur, retak rambut, beton mengelupas)
h. Slab atap : (apakah dalam keadaan baik atau terjadi cekungan/ lendutan,
patah, retak struktur, retak rambut, beton mengelupas, lembab,
berjamur)
i. Rangka atap, ikatan angin-gording : (apakah masih dalam kondisi baik
mampu menahan beban penutup atap, apakah terdapat beban benda
yang menggantung dibawahnya seperti AC ducting atau rangka penutup
atap, atau terjadi lengkung, patah, atau hal-hal yang menghawatirkan
jika terjadi keruntuhan)
j. Penggantung langit-langit : (apakah penggantung langit-langit kuat,
kokoh, mampu menarik beban langit-langit yang ada di bawahnya,
apakah ikatan ke penghubung atasnya masih baik)
k. Penutup langit-langit : (apakah penutup langit-langit dalam kondisi baik,
lembab, atau rusak, terlepas ikatannya dengan rangka penggantungnya)
l. Dinding pasangan (bata/batako) : (apakah pasangan bata/ batako dalam
kondisi baik, atau rapuh, mudah hancur, kuat dalam penataan siarnya,
kuat dalam campuran semen ikatannya)
m. Balok anak, leufel, canopy: (apakah balok anak dalam kondisi bagus
atau patah, retak struktur, retak rambut, ikatannya menyatu dengan
balok induk, apakah leufel & kanopi masih kuat, tegak, atau miring,
meliuk, lendut, retak rambut)
n. Tangga (beton/baja/kayu) : ( apakah masih bisa berfungsi dengan baik,
mampu menahan beban pengguna yang melaluinya, atau terjadi
retak, lendut, pecah, hilang komponen pengikatnya, lapuk, berkarat)
o. Lantai bawah tanah : (apakah dalam kondisi baik, atau terjadi
pecah, retak, bocor, rembes, retak rambut, berjamur)

4. Utilitas dan Proteksi Kebakaran

a. Sistem deteksi alarm (meliputi alat deteksi, titik panggil manual, panel
control kebakaran, catu daya, alarm, kabel instalasi) : : (apakah tersedia
atau tidak, apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana mestinya,
ataukah rusak, komponen tidak lengkap, tidak terawat, hilang, tidak
berfungsi)

Laporan 4-1
Pendahuluan
b. Sprinkler otomatis (meliputi pompa air, kepala sprinkler, kran uji, tangki
air, pipa instalasi) : : (apakah tersedia atau tidak, apakah dalam kondisi
berfungsi sebagaimana mestinya, ataukah rusak, komponen tidak
lengkap, tidak terawat, hilang, tidak berfungsi)
c. Gas pemadam api (Kumpulan tabung gas pemadam api, alarm
kebakaran, stater otomatis, catu daya, panel control, kotak operasi
manual, alat deteksi kebakaran, Nosel gas, kran pemilih otomatis) : :
(apakah tersedia atau tidak, apakah dalam kondisi berfungsi
sebagaimana mestinya, ataukah rusak, komponen tidak lengkap, tidak
terawat, hilang, tidak berfungsi)
d. Hydrant (meliputi pompa air, pipa instalasi, tangki penekan atas/ alat
kontrol, hydrant box/ pillar, sumber air, tangki penampungan air) : :
(apakah tersedia atau tidak, apakah dalam kondisi berfungsi
sebagaimana mestinya, ataukah rusak, komponen tidak lengkap, tidak
terawat, hilang, tidak berfungsi)
e. Tabung pemadam api (tabung gas tersegel, selang) : : (apakah
tersedia atau tidak, apakah dalam kondisi berfungsi sebagaimana
mestinya, ataukah sudah expired, rusak, hilang segel, tidak terawat,
tidak berfungsi)

5. Utilitas Transportasi vertikal

a. Lift / elevator ( meliputi motor penggerak, sangkar dan alat control,


motor penggerak pintu, kabel dan panel listrik, rel, alat penyeimbang
sangkar, peredam sangkar) : (apakah terdapat lift atau tidak, apakah
masih dalam kondisi berfungsi dengan baik, atau terjadi permasalahan
yang kiranya membahayakan bagi pengguna lift)
b. Escalator (meliputi motor penggerak, alat control, kabel dan panel
listrik, rantai penarik, roda-roda gigi penarik, badan escalator, anak
tangga/ lantai) : : (apakah terdapat escalator atau tidak, apakah
masih dalam kondisi berfungsi dengan baik, atau macet, tidak
berfungsi, rusak salah satu komponen, dan permasalahan yang
kiranya membahayakan bagi pengguna escalator)
6. Utilitas Plumbing

a. Air Bersih (sumber air, tangki penampungan air, tangki air atas, pompa
penampung air dan control, pompa distribusi dan tangki hidrofor, listrik
untuk panel pompa, pompa instalasi, kran) : (apakah terdapat semua
komponen tersebut atau hanya beberapa, apakah semua komponen
masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi rusak, tidak terawat,
hilang)
b. Air kotor (Kloset, bidet, urinoir, saluran ke septictank, kran air gelontor,
septictank, bak cuci, wastafel, saluran dari wastafel ke saluran
terbuka, lubang saluran pengurasan lantai, pipa air hujan) : (apakah
terdapat semua komponen tersebut atau hanya beberapa, apakah
semua komponen masih berfungsi dengan baik atau dalam kondisi
rusak, tidak terawat, hilang)

7. Utilitas Instalasi listrik

a. Sumber daya PLN (Panel tegangan menengah, trafo, panel distribusi,


lampu TL/pijar/halogen/SL, lampu amatur, kabel instalasi) : (apakah
masih dalam kondisi baik, terawat, kering, bersih, atau rusak salah satu
komponen, tidak berfungsi dengan baik, hilang, tidak berfungsi)
b. Sumber daya Genset (Motor penggerak, altermator, alat pengisi aki,
radiator, kabel instalasi, AMF, Daily tank, panel) : (apakah masih dalam
kondisi baik, terawat, kering, bersih, atau rusak salah satu komponen,
tidak berfungsi dengan baik, hilang, tidak berfungsi)

8. Utilitas Instalasi tata udara

a. Sistim pendingin langsung (sentral dengan pendingin air)


(meliputi kompresor, evaporator, kondensor, panel distributor, kipas
udara evaporator, kipas udara kondensator, media pendingin, alat
control, diffuser grill, cerobong udara, menara pendingin, pipa
instalasi air pendingin kondensor, pompa sirkulasi air pendingin
kondensor, panel control) : : (apakah masih dalam kondisi baik,
terawat, bersih, atau rusak salah satu komponen, tidak berfungsi
dengan baik, hilang, tidak berfungsi)
b. Sistim pendingin tidak langsung (sentral dengan media udara)
(meliputi kompresor, evaporator, pipa instalasi air es, pipa sirkulasi air
es, kondensor, kipas udara kondensor, media pendingin, media
pendingin air es, unit pengelola udara, alat control cerobong udara,
diffuser grill, pipa instalasi air pendingin kondensor, pipa sirkulasi
pendingin kondensor, panel control) : : (apakah masih dalam kondisi
baik, terawat, bersih, atau rusak salah satu komponen, tidak berfungsi
dengan baik, hilang, tidak berfungsi)
c. Sistim AC window (non sentral)
(Kompresor, evaporator, kondensor) : : (apakah masih dalam kondisi
baik, terawat, bersih, atau rusak salah satu komponen, tidak berfungsi
dengan baik, hilang, tidak berfungsi)
d. Sistim AC split/ FCU (non sentral)
(Kompresor, evaporator, pipa instalasi, kondensor) : : (apakah masih
dalam kondisi baik, terawat, bersih, atau rusak salah satu komponen,
tidak berfungsi dengan baik, hilang, tidak berfungsi)

9. Utilitas Penangkal petir

a. Instalasi proteksi petir eksternal (meliputi kepala penangkal petir,


hantaran pembumian, elektroda pembumian) : : (apakah masih dalam
kondisi baik, terawat, bersih, atau rusak salah satu komponen, tidak
berfungsi dengan baik, hilang, tidak berfungsi)
b. Instalasi proteksi petir (meliputi arrester tegangan rendah, stri
pengikat ekuipotensial, hantaran pembumian, elektroda pembumian) : :
(apakah masih dalam kondisi baik, terawat, bersih, atau rusak salah
satu komponen, tidak berfungsi dengan baik, hilang, tidak berfungsi)

10. Utilitas instalasi komunikasi


a. Instalasi telepon (meliputi pesawat telepon, PABX, kabel instalasi) : :
(apakah terdapat komponen tersebut atau tidak, apakah masih dalam
kondisi baik, terawat, bersih, atau rusak salah satu komponen, tidak
berfungsi dengan baik, hilang, tidak berfungsi)
b. Instalasi tata suara (meliputi mikropon, panel system tata suara,
speaker, kabel instalasi) : : (apakah terdapat komponen tersebut
atau tidak, apakah masih dalam kondisi baik, terawat, bersih, atau
rusak salah satu komponen, tidak berfungsi dengan baik, hilang, tidak
berfungsi)
11. Aspek Aksesibilitas
a. Ukuran dasar ruang : (apakah ukuran dasar ruang dan luasan masih
sesuai dengan standar minimal kebutuhan ruang, atau tidak sesuai)
b. Jalur pedestrian dan ramp : (apakah terdapat jalur khusus untuk
pedestrian dan ramp, apakah dalam kondisi baik atau rusak)
c. Area parkir : (apakah terdapat area parkir yang mencukupi kebutuhan,
ataukah tidak mencukupi)
d. Perlengkapan dan peralatan kontrol : (semua peralatan control, baik
alarm, saklar lampu dll, apakah dapat dipakai dan dijangkau oleh semua
orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat, atau tidak memenuhi
persyaratan)
e. Toilet : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali orang
cacat/ sehat, atau tidak memenuhi persyaratan)
f. Pintu : (apakah memenuhi persyaratan ukuran, apakah dapat dilalui
oleh semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat, atau tidak
memenuhi persyaratan)
g. Lift aksesibilitas : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa
terkecuali orang cacat/ sehat, atau tidak memenuhi persyaratan)
h. Lift tangga : (apakah dapat dipakai oleh semua orang tanpa terkecuali
orang cacat/ sehat, atau tidak memenuhi persyaratan)
i. Telepon : (apakah dalam perletakan dan posisinya dapat dipakai oleh
semua orang tanpa terkecuali orang cacat/ sehat, atau tidak memenuhi
persyaratan)

4.4.3. Penyajian
data

Berdasarkan hasil dari proses pemeriksaan di lapangan, dan data yang telah diperoleh
dari pengisian daftar isian pemeriksaan keandalan bangunan, Penyajian data dituangkan
dalam sebuah perangkat lunak/ software keandalan bangunan gedung sesuai dengan
pembagian aspek masing-masing. Gambaran penilaian teknik penyajian data dapat
dilihat pada table berikut:
1. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Arsitektur (Tabel 4-11)

FORM - ARS
NILAI KEANDALAN KELOMPOK KOMPONEN : ARSITEKTUR

Nama Bangunan
Lokasi/Alamat
Fungsi
Luas 12000 m2
Jumlah lantai 8 lantai
Pemilik

NILAI K R I T E R I A P E N I L A I A N (dalam %) NILAI


SUB MAKSIMUM KONDISI N.K. KURANG N.K. TIDAK N.K. KEANDALAN
KOMPONEN
KOMPONEN KEANDALAN ANDAL (%) ANDAL (%) ANDAL (%) TOTAL
(%) 95 - 100 75 - <95 <75 (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)

Kesesuaian penggunaan 15 Sesuai 100 masih sesuai Tidak sesuai 15

fungsi fungsi dengan fungsi


Pelapis muka lantai 10 100,00% 100 baik 100 retak rambut - belah, pecah - 10
0
Plesteran lantai 10 100,00% 100 baik 100 retak rambut - retak, belah, - 10
RUANG DALAM (80%) 0 pecah
Pelapis muka dinding 10 100,00% 100 baik 100 buram, ter - hilang, tdak - 10
80
0 kelupas <10% tampak
Plesteran dinding 10 100,00% 100 baik 100 terkelupas <10% - hilang, tdak - 10
0 tampak
Pintu/jendela 15 100,00% 100 Berfungsi 100 Masih berfungsi - Tidak berfungsi - 15
0 baik

Pelapis muka langit 10 100,00% 100 baik 100 terkelupas <10% - Terkelupas - 10

langit 0 >=10%
SUB TOTAL
80

Penutup atap 10 1,00 100 baik 100 Tidak berlubang - berlubang, - 10

0 hancur
RUANG LUAR Pelapis muka dinding 2,5 100,00% 100 baik 100 buram <50% - buram >=50% - 2,5
luar 0
Pelapis muka lantai luar 3 100,00% 100 baik 100 aus, bergelombang - terbelah, pecah - 3
20
0 buram, kasar terlepas
Plesteran lantai luar 2,5 100,00% 100 baik 100 retak, terkelupas - terbelah, pecah - 2,5

0 berlubang <5% terlepas

(20%) Pelapis muka 2 100,00% 100 baik 100 terkelupas <10% - terkelupas - 2

langitlangit luar >=10%

SUB TOTAL 20

TOTAL 100

Kesimpulan :

1. Bangunan secara keseluruhan dapat dinilai ANDAL

Saran agar arsitektur bangunan secara keseluruhan andal


:1
2
3
4
5

Pemeriksa
Nama
NIP
Tanggal Pemeriksaan
Tanda Tangan
2. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Struktur

a. Struktur rangka beton dan dinding pasangan (Tabel 4-12)


Jumlah : lantai
lantai :
Pemilik

Nilai Nilai Faktor Reduksi


Sub
Kompone n Maks keandala Kondisi N.K Kurang N.K Tidak N.K
Kompone
Keandala n Andal (%) Andal (%) Andal (%)
n
n (%) kompone 95 - 100 85 - <95 < 85
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
Pondasi,
Kepala Tidak
Kuat, Kaku, Kuat, Kurang
Struktur Bawah Pondasi, 25 100 Stabil
100
Kaku, Stabil
stabil, 25
Balok retak, tidak
kuat, pecah
Pondasi
Sub Total 25,00
Dinding Kurang kuat,
Bahan/dime Kuat, kaku,
Pasangan retak
30 100 n si OK 100 retak,
diagonal/
30,00
Bata/Bata Bebas retak, lentur kecil
ko melintang
stabil

Kolom, Kuat, Kaku, Kuat, Kurang


Balok 20 100 berfungsi 100 kurang kuat/kaku, 20,00
Praktis baik kaku, fungsi kurang stabil
baik
Kuat, kaku, Kuat, kurang Retak,
Slab
4,5 100 bebas 100 kaku, retak bocor, tidak 4,50
Lantai retak, rata halus/bocor dapat
dipakai
Kuat, kaku, Kuat, kurang Kurang kuat,
Slab Atap 0,5 100 bebas bocor, 100 kaku, retak lendutan 0,50
mulus rambur besar

Rangka
Rangka
Atap, Kuat, kurang Lendut,
dan
Ikatan 5 100 tumpuan
100 kaku, awet, lapuk, 5,00
Angin, ada lendut pecah,
kuat, kaku,
kropos/ karat
Gording stabil
Sub Total 60,00
Rangka Lendut,
Kuat, Kuat, kaku,
Langit- 3 100 kaku, rata
100
kurang rata
lapuk, 3,00
langit pecah, tidak
rata
Penutup Bahan/dime Rata, kurang Kusam dan
langit- 2 100 n si OK, 100 mulus, ada retak.rusak 2,00
langit rata, kuat retak tak
Struktur Pelengka p berfungsi
Kuat, Kaku, Kuat, Kurang
Tangga 6 100 berfungsi 100 kurang kuat/kaku, 6,00
baik kaku, fungsi kurang stabil
baik
Kuat, rata, Rata, Retak,
Lantai
4 100 padat, kedap 100 padat, basah, 4,00
bawah air kedap air, amblas, tidak
retak-retak rata
Sub Total 15,00
TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN 100,00

Kesimpulan:
Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL

Saran agar struktur secara keseluruhan


1.
2.
3.

Pemeriksa
Nama :
NIP :
Tanggal Pemeriksaan :
Tanda Tangan :
b. Struktur rangka baja dan dinding pasangan (Tabel 4-13)

Nilai Nilai Faktor Reduksi


Kompone n Maks keandala Kondisi N.K Kurang N.K Tidak N.K
Sub Komponen
Keandala n Andal (%) Andal (%) Andal (%)
n (%) kompone 95 - 100 85 - <95 < 85
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
Pondasi, Kepala Kuat,
Tidak stabil,
Kuat, Kaku, Kurang
Struktur Bawah Pondasi, Balok 25 100 Stabil
100
Kaku,
retak, tidak 25
Pondasi kuat, pecah
Stabil
Sub Total 25,00
Kuat, lebar Tidak kaku,
Kuat, Kaku,
Join Kolom - Balok 15 100 Daktail
100 retak 0,1 - retak sudah 15,00
0,5 tampak

Kuat, Kaku, Kuat, retak Retak


Kolom Baja 20 100 Daktail
100
lentur lentur/geser
20,00

Kuat, Kaku, Kuat, retak Retak


Balok Baja 13 100 Daktail
100
lentur lentur/geser
13,00
Struktur Atas
Kuat, kaku, Kuat, retak
Pengaku Silang 2 100 menyatu
100
lentur
Retak terlihat 2,00

Kuat, Awet, Retak < 0,5


Slab Lantai 5 100 Aman
100
mm
Retak 1-3 mm 5,00

Rangka Atap, Ikatan Rata dan Lendut >


5 100 baik
100
L/300
Retak, bocor 5,00
Angin, Gording

Sub Total 60,00


Penggantung Langit- Kuat, Kuat, Kurang rata,
1 100 Rata/Datar
100
kurang rata ada lendutan
1,00
langit
Batang Tanpa
jangkar jangkar
Dinding Pasangan Kuat, tanpa
2 100 retak
100 lemah, dinding 2,00
Bata/Batako retak pasangan
rambut belah
Batang Tanpa
Struktur Pelengka p jangkar jangkar
Shotcrete Panel Kuat, tanpa
2 100 retak
100 lemah, dinding 2,00
Precast dinding pasangan
retak belah

Balok Anak, Leufel, Kuat, kaku, Kuat, retak Retak


5 100 daktail
100
lentur lentur/geser
5,00
Canopy

Retak Rusak, tidak


Tangga
5 100 Kuat, kaku 100 rambut, kaku, 5,00
beton/baja/kayu kuat, lendut melendut

Sub Total 15,00


TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN #####

Kesimpulan:
Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL

Saran agar struktur secara keseluruhan


1.
2.
3.

Pemeriksa
Nama :
NIP :
Tanggal Pemeriksaan :
Tanda Tangan :
c. Struktur rangka beton dan dinding geser (Tabel 4-14)
PENILAIAN KEANDALAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG RANGKA BETON DAN DINDING GESER

Nama Bangunan
Lokasi/Alamat
Fungsi
Luas 12000 m2
Jumlah lantai 8 lantai
Pemilik

Faktor Reduksi
Nilai
Nilai Maks
Kondisi N.K Kurang N.K N.K
Komponen Sub Komponen Keandalan Tidak Andal
Andal (%) Andal (%) (%)
(%)
95 - 100 85 - <95 < 85
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
Tidak stabil,
Pondasi, Kepala Kuat, Kaku, Kuat, Kurang
Struktur Bawah 25 100 Stabil
100
Kaku, Stabil
retak, tidak 25
Pondasi, Balok Pondasi kuat, pecah

Sub Total 25,00


Kuat, tetapi Tidak kaku,
Kuat, Kaku,
Join Kolom - Balok 10 100 Daktail
100 telah retak retak sudah 10,00
rambut tampak
Kuat, Kaku, Kuat, retak Retak
Kolom 15 100 Daktail
100
lentur lentur/geser
15,00

Kuat, Kaku, Kuat, retak Retak


Balok 15 100 Daktail
100
lentur lentur/geser
15,00

Kuat, Kaku, Kuat, retak Retak geser,


Struktur Atas Dinding Geser 10 100 Menyatu
100
lentur belah
10,00

Kuat, Awet,
Slab Lantai 4,5 100 Aman
100 Retak rambut Retak 1-3 mm 4,50

Kuat, Awet,
Slab Atap 0,5 100 Aman
100 Retak rambut Retak, bocor 0,50

Rangka Atap, Ikatan Kuat, Kaku,


5 100 Aman
100 Lendut > L/300 Retak, bocor 5,00
Angin, Gording
Sub Total 60,00
Penggantung Langit- Kuat, Kuat, kurang Kurang rata,
1 100 Rata/Datar
100
rata ada lendutan
1,00
langit
Batang jangkar Tanpa jangkar
Dinding Pasangan Kuat, tanpa
2 100 retak
100 lemah, retak ikat dinding 2,00
Struktur Pelengkap Bata/Batako rambut retak/belah
Balok Anak, Leufel, Kuat, kaku, Kuat, retak Retak
6 100 100 6,00
Canopy daktail lentur lentur/geser
Retak rambut, Rusak, tidak
Tangga beton/baja/kayu 6 100 Kuat, kaku 100
kuat, lendut kaku, melendut
6,00

Sub Total 15,00

TOTAL NILAI KEANDALAN BANGUNAN 100,00

Kesimpulan:
Struktur gedung secara keseluruhan adalah ANDAL

Saran agar struktur secara keseluruhan


1.
2.
3.

Pemeriksa
Nama :
NIP :
Tanggal Pemeriksaan :
Tanda Tangan :
3. Form Penilaian Keandalan Bangunan Aspek Utilitas (Tabel 4-15)

Form A
Uraian Analisa Nilai Keandalan Utilitas Bangunan Gedung

No. Komp. Util. Jenis Komponen Nilai Maks. ku Kondisi Andal, Kurang Andal, Keandalan
i Utilitas Gedung Keandalan (%) Tidak Andal (%) N ku
Instalasi: (%) Andal KA TA (%)
99 -100 95 - <99 <95
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Intalasi Pencegahan
1 20 100,00 100 x x
Kebakaran

2 Transportasi Vertikal 15 100,00 100 x x

3 Plambing 15 100,00 100 x x

4 Instalasi Listrik 20 100,00 100 x x

5 Tata Udara, AC 15 100,00 100 x x

Instalasi Penangkal
6 5 100,00 100 x x
Petir

7 Instalasi Komunikasi 10 100,00 100 x x

Total Nilai Keandalan seluruh Komponen Utilitas Maka Utilitas gedung secara keseluruhan : Andal/
(ku.i)
100,00 ANDAL
Kurang/Tidak Andal
Keterangan :
Andal : ku = 99 100 %; Kurang andal ; ku = 95 99 %; Tidak andal : ku = < 95 %

Pemeriksa : .
Nama : .
NIP : .
Tanggal Pemeriksaan : .
Tanda Tangan : .

Laporan 4-70
Pendahuluan
a. Form Penilaian Utilitas Instalasi Pencegahan Kebakaran (Tabel 4-16)
Form Utl-1
Nilai Keandalan Utilitas : Pencegahan Kebakaran
Nomor Kelompok Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Komponen Utilitas Fungsi Termasuk Kategori F. Reduksi
Utilitas Tingkat Tingkat
keandalan Kurang
Andal Tidak Andal
Pencegahan Kebakaran (100%) Andal
(%) 100% 95 -<100% <95 %

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)


SISTEM DETEKSI ALARM NF = 20
KEBAKARAN 100,00
1. Alat-alat deteksi 3 100 100 x x 3
2. Titik Panggil manual 3 100 100 x x 3
3. Panel control Kebakaran 4
1A 100 100 x x 4
4. Catu daya 3 100 100 x x 3
5. Alarm Kebakaran 3 100 100 x x 3
6. Kabel Instalasi 4 100 100 x x 4
SPRINKLER OTOMATIS NF = 20 100,00
1. Pompa Air 4 100 100 x x 4
2. Kepala Sprinkler 4 100 100 x x 4
1B 3. kran Uji 4 100 100 x x 4
4. Tangki Air 4 100 100 x x 4
5. Pipa Instalasi 4 100 100 x x 4
GAS PEMADAM API NF = 20 100,00
1.Kumpulan Tabung Gas 3
Pemadam Api 100 100 x x 3
2. Alarm Kebakaran 2 100 100 x x 2
3. Stater Otomatis 2 100 100 x x 2
1C 4. Catu Daya 2 100 100 x x 2
5. Panel Kontrol 2 100 100 x x 2
6. Kotak Operasi Manual 2 100 100 x x 2
7. Alat-alat Deteksi 3
kebakaran 100 100 x x 3
8. Nosel Gas 2 100 100 x x 2
9. Kran Pemilih Otomatis 2
100 100 x x 2
HIDRAN NF = 15 100,00
1. Pompa Air 3 100 100 x x 3
2. Pipa Instalasi 2 100 100 x x 2
3. Tangki Penekan 2
Atas/Alat Kontrol 100 100 x x 2
1D 4. Hidran Kotak 2 100 100 x x 2
5. Hidran Pilar 2 100 100 x x 2
6. Sumber Air 2 100 100 x x 2
7. Tangki Penampung Air 2
100 100 x x 2
TABUNG PEMADAM API NF = 15
RINGAN 100,00
1E 1. Tabung Gas Tersegel 8 100 100 x x 8
2.Selang 7 100 100 x x 7

Laporan 4-1
Pendahuluan
b. Form Penilaian Utilitas Transportasi Vertikal (Tabel 4-17)
Form Utl-2
Nilai Keandalan Utilitas : Transportasi Vertikal
Nomor Kelompok Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Komponen Utilitas Fungsi Termasuk Kategori F. Reduksi
Utilitas Tingkat Tingkat
keandalan Kurang keandalan
Andal Tidak Andal
Transportasi Vertikal (100%) Andal
(%) 100% 95 -<100% <95 % (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
LIF (LIFT) NF = 50 100,00
1. Motor Penggerak 8 100 100 x x 8
2. Sangkar dan alat Kontrol 7 100 100 x x 7
2A 3. Motor Penggerak Pintu 7 100 100 x x 7
4. Kabel dan Panel Listrik 7 100 100 x x 7
5. Rel 7 100 100 x x 7
6. Alat Penyeimbang Sangkar 7 100 100 x x 7
7. Peredam Sangkar 7 100 100 x x 7
ESKALATOR NF = 50 100,00
1. motor Penggerak 8 100 100 x x 8
2. Alat Kontrol 7 100 100 x x 7
2B 3. Kabel dan Panel Listrik 7 100 100 x x 7
4. Rantai Penarik 7 100 100 x x 7
5. Roda-roda gigi Penarik 7 100 100 x x 7
6. Badan Eskalator 7 100 100 x x 7
7. Anak Tangga/lantai 7 100 100 x x 7

c. Form Penilaian Utilitas Plambing (Tabel 4-18)


Form Utl-3
Nilai Keandalan Utilitas : Plambing
Nomor Kelompok Utilitas Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Komponen Utilitas Fungsi Tingkat Termasuk Kategori Tingkat F. Reduksi
Plumbing (100%) keandalan Andal Kurang Tidak Andal keandalan
(%) 100% 95 -<100% <95 % (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
AIR BERSIH NF = 50 100,00
1.Sumber air dari PAM *) dan Meter Air 5 100 100 x x 5
2. Sumber Air dari sumur dala, pompa air, alat control, 5 100 100 x x 5
3.Tangki Penampung Air 6 100 100 x x 6
3A 4. Tangki Air Atas : Menara 6 100 100 x x 6
5. Pompa Penampung air dan alat kontrol 6 100 100 x x 6
6. Pompa Distribusi dan Tangki Hidrofor dan alat control 6 100 100 x x 6
7. Listrik untuk Panel Pompa 5 100 100 x x 5
8. Pompa Instalasi 6 100 100 x x 6
9. Kran 5 100 100 x x 5
AIR KOTOR NF = 50 100,00
1. Kloset/ bidet/ Urinoir 7 100 100 x x 7
2. saluran ke Tangki Septik 6 100 100 x x 6
3. Kran Air gelontor 6 100 100 x x 6
3B 4. Tangki Septik 7 100 100 x x 7
5. Bak cuci, tempat cuci tangan 6 100 100 x x 6
6. saluran dari Bak cuci ke saluran terbuka 6 100 100 x x 6
7. Lobang/ saluran pengurasan lantai 6 100 100 x x 6
8. Pipa Air Hujan 6 100 100 x x 6
*) Bila hanya ada satu dari sumber air tersebut, maka jenis sumber air yang tidak ada diberikan
d. Form Penilaian Utilitas Instalasi listrik (Tabel 4-19)
Form Utl-
4
Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Listrik
Nomor Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Kelompok Komponen Utilitas Fungsi Tingkat Termasuk Kategori Tingkat . Reduks i
keandalan Kurang Tidak keandal
Utilitas Instalasi Listrik (100%) Andal
(%) 100% 95 - <95 % (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
SUMBER DAYA PLN NF = 50 100,00
1. Panel Tegangan Menengah 8 100 100 x x 8
2. Trafo 7 100 100 x x 7
4A 3. Panel Tegangan Tengah 7 100 100 x x 7
4. Panel Distribusi 7 100 100 x x 7
5. Lampu TL/ Pijar/ Halogen/ SL 7 100 100 x x 7
6. Armatur 7 100 100 x x 7
7. Kabel Instalasi 7 100 100 x x 7
SUMBER DAYA GENSET NF= 50 100,00
1. motor Penggerak 7 100 100 x x 7
2. Altermator 7 100 100 x x 7
3. Alat pengisi aki 4 100 100 x x 4
4B 4. Radiator/ pendingin 6 100 100 x x 6
5. Kabel Instalasi 7 100 100 x x 7
6. AMF 7 100 100 x x 7
7. Daily Tank 6 100 100 x x 6
e. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara sentral (Tabel 4-20)
Form Utl-5a
Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Sentral)
Nomor Kelompok Utilitas Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Komponen Utilitas Fungsi Tingkat Termasuk Kategori Tingkat F. Reduksi
Instalasi Tata Udara (Sentral) (100%) keandalan Andal Kurang Tidak keandalan
(%) 100% 95 -<100% <95 % (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
SISTEM PENDINGIN LANGSUNG NF=50 100,00
1. Kompresor 4 100 100 x x 4
2. Evaporator 4 100 100 x x 4
3. Kondensor 4 100 100 x x 4
4. Panel Distributor 3 100 100 x x 3
5. Kipas Udara Evaporator 3 100 100 x x 3
5A 6. Kipas Udara Kondensator 3 100 100 x x 3
7. Media Pendingin 3 100 100 x x 3
8. Pipa Instalasi Media Pendingin 3 100 100 x x 3
9. Alat Kontrol 3 100 100 x x 3
10. Difuser gril 4 100 100 x x 4
11. Cerobong Udara 3 100 100 x x 3
12. Menara Pendingin 4 100 100 x x 4
13. Pipa Instalasi air pendingin kondensor 3 100 100 x x 3
14. Pompa sirkulasi air pend kondensor 3 100 100 x x 3
15. Panel Kontrol 3 100 100 x x 3
SISTEM PENDINGIN TIDAK LANGSUNG NF = 50 100,00
1. Kompresor 4 100 100 x x 4
2. Evaporator 4 100 100 x x 4
3. Pipa Instalasi Air Es 4 100 100 x x 4
4. Pipa Sirkulasi Air Es 3 100 100 x x 3
5. Kondensor 3 100 100 x x 3
5B 6. Kipas Udara Kondensor 3 100 100 x x 3
7. Media Pendingin 3 100 100 x x 3
8. Media Pendingin Air Es 3 100 100 x x 3
9. Unit Pengolah Udara 5 100 100 x x 5
10. Alat Kontrol Cerobong Udara 3 100 100 x x 3
11. Difuser gril 5 100 100 x x 5
12. pipa instalasi air pendingin Kondensor 3 100 100 x x 3
13. pompa sirkulasi Pendingin Kondensor 4 100 100 x x 4
14. Panel Kontrol 3 100 100 x x 3
f. Form Penilaian Utilitas Instalasi Tata Udara non sentral (Tabel 4-21)

Form Utl-5b
Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Tata Udara (Non Sentral)
Nomor Kelompok Utilitas Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Komponen Utilitas Fungsi Tingkat Termasuk Kategori Tingkat F. Reduksi
Instalasi Tata Udara (Non Sentral (100%) keandalan Andal Kurang Tidak Andal keandalan
(%) 100% 95 -<100% <95 % (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
SISTEM AC WINDOW NF = 50 100,00
5A 1. Konpresor 18 100 100 x x 18
2. Evaporator 16 100 100 x x 16
3. Kondensor 16 100 100 x x 16
SISTEM AC SPLIT /FCU NF = 50 100,00
1. Konpresor 13 100 100 x x 13
5B 2. Evaporator 13 100 100 x x 13
3. Pipa Instalasi 12 100 100 x x 12
4. Kondensor 12 100 100 x x 12
Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang

g. Form Penilaian Utilitas Penangkal Petir (Tabel 4-22)


Form Utl-6
Nilai Keandalan Utilitas : Penangkal Petir
Nomor Kelompok Utilitas Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Komponen Utilitas Fungsi Tingkat Termasuk Kategori Tingkat F. Reduksi
Penangkal Petir (100%) keandalan Andal Kurang Tidak Andal keandalan
(%) 100% 95 -<100% <95 % (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
INSTALASI PROTEKSI PETIR NF = 50 100,00
6A 1. Kepala Penangkal Petir 16 100 100 x x 16
2. Hantaran Pem-bumi-an 16 100 100 x x 16
3. Elektroda Pem-bumi-an 18 100 100 x x 18
INSTALASI PROTEKSI PETIR NF = 50 100,00
1. Arester Tegangan Lebih 13 100 100 x x 13
7B 2. Stri Pengikat Ekuipotensial 12 100 100 x x 12
3. Hantaran Pem-bumi-an 12 100 100 x x 12
4. Elektroda Pem-bumi-an 13 100 100 x x 13
Catatan: Dipilih salah satu sesuai dengan kondisi sistem yang terpasang
h. Form Penilaian Utilitas Instalasi Komunikasi (Tabel 4-23)
Form Utl-7
Nilai Keandalan Utilitas : Instalasi Komunikasi
Nomor Kelompok Utilitas Bobot Nilai Tingkat Keandalan NKU ()
Komponen Utilitas Fungsi Tingkat Termasuk Kategori Nilai F. Reduksi
(100%) keandalan Kurang tingkat
Instalasi Komunikasi Andal Tidak Andal
(%) 100% 95 -<100% <95 % (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
INSTALASI TELEPON NF = 50 100,00
7A 1. Pesawat telepon 16 100 100 x x 16
2. PABX 18 100 100 x x 18
3.Kabel Instalasi 16 100 100 x x 16
INSTALASI TATA SUARA NF = 50 100,00
1. Mikropon 12 100 100 x x 12
7B 2. Panel system tata suara 13 100 100 x x 13
3. Speaker 13 100 100 x x 13
4. Kabel Instalasi 12 100 100 x x 12

4. Aspek Aksesibilitas (Tabel 4-24)


PENILAIAN KEANDALAN KOMPONEN AKSESIBILITAS LAINNYA

Nama Bangunan
Lokasi/Alamat
Fungsi
Luas 12000 m2
Jumlah lantai 8 lantai
Pemilik

Nilai Keandalan Kelompok : AKSESIBILITAS

Kondisi Kondisi Eksisting


Nilai Keandalan Eksisting Nilai
Elemen Aksesibilitas
Maksimum Keandalan
No. Kode Komponen Kondisi Kefungsian Elemen Rusak Parsial
Terfaktor Rusak
Komponen Perlengkapan & Peralatan Kontrol Keandalan Pedestrian Baik Sedang Berat
(%)
(%)
100>Ka95 95>Ka75 75>Ka>0
(1) (2) (3) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
PERLENG ada tidak
100,00 100,00 x x 50
Ya Tidak 40 40
KAPAN &
X
Stop Kontak, tombol & perlengkapan
x 5 5
Rambu aksesibilitas
x 5 5
Perlengka ada tidak
100,00 100,00 x x 50
Ya Tidak 40 40
pan
x
Peringatan berbentuk suara
X 5 5
Peringatan berbentuk visual
x 4 4
Peringatan berbentuk getaran
X 1 1
SUB TOTAL 100
Keterangan :
Andal : ku = 95 <100%; Kurang andal ; ku = 75 <95%; Tidak andal : ku = <75 %

KESIMPULAN
:

X ANDAL

KURANG

ANDAL TIDAK

ANDAL

Rekomendasi
1
2
3
4
5. Tata Bangunan dan Lingkungan (Tabel 4-25)
PENILAIAN KESESUAIAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

Nama Bangunan :
Alamat :
Fungsi Bangunan
: Pemilik :

Nilai Keandalan Kelompok : TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN

Nilai Keandalan Nilai


Maksimum
No. Kode Komponen Kondisi Kefungsian Terfaktor Keandalan
Keandalan
Komponen Parkir (%)

(1) (2) (3) (5) (10)


KESESUAIAN DENGAN DOKUMEN RENCANA KOTA
Kesesuaian dengan dokumen
Ya Tidak 5 5
rencana kota
Kesesuaian KDB x 2 2 100
Kesesuaian KLB x 2 2
Kesesuaian GSB x 1 1
SUB TOTAL 100
Keterangan :
Andal : ku = 95 <100%; Kurang andal ; ku = 75 <95%; Tidak andal : ku = <75 %
Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan
Gedung
Di Kota Sematang Tahun

FORM PENILAIAN KEANDALAN BANGUNAN (Tabel 4-26)

Nilai
Kategori Penilaian Bobot
Keandalan
No Aspek Yang dinilai Kurang Tidak
Andal NK NK NK Penilaian Total
Andal Andal
(%) (%) (%) (%) (%)
(1) (2) (3) (3) (4) (5) (6) (7)

1 Arsitektur 95% - 100.00 75% - - <75% - 10 10.00


100% <95%
2 Struktur Rangka Beton dan Dinding 95% - - 85% - 89.92 <85% - 30 30.00
Pasangan 100% <95%

3 Utilitas & Proteksi Kebakaran 100% 100.00 95% - - <95% - 50 50.00


<100%
4 Aksesibilitas 95% - 100.00 75% - - <75% - 5 5.00
100% <95%
5 Tata Bangunan & Lingkungan 95% - 100.00 75% - - <75% - 5 5.00
100% <95%
Jumlah Total 100 100.00

Bangunan yang diperiksa masuk kategori ANDAL

Interpretasi :
a. Nilai suatu bangunan "Andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas) atau
nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA, struktur=NKS, dan utilitas=NKU) tidak kurang dari
nilai batas terendah kategori andal sebagaimana tersebut dibawah
Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas)
b. atau
nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA, struktur=NKS, dan utilitas=NKU) tidak kurang dari
nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah

Laporan 4-1
Pendahuluan
Nilai suatu bangunan "Kurang andal" jika nilai keandalan suatu komponen bangunan (arsitektur/struktur/utilitas)
c. atau
nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur=NKA, struktur=NKS, dan utilitas=NKU) tidak kurang dari
nilai batas terendah kategori krang andal sebagaimana tersebut dibawah
1. Tingkat Keandalan Struktur dianggap :
Andal, bila NKA tidak kurang dari 95% atau
a. (95%<=NKA<=100%)
b. Kurang andal, bila NKA bernilai : 85%<=NKA<=95%
Tidak andal, bila NKA bernilai dibawah 85
c. %
2. Tingkat Keandalan Arsitektur dianggap
Andal, bila NKA tidak kurang dari 90% atau
a. (90%<=NKA<=100%)
b. Kurang andal, bila NKA bernilai : 75%<=NKA<=90%
Tidak andal, bila NKA bernilai dibawah 75
c. %
3. Tingkat Keandalan Utilitas dianggap
Andal, bila NKA tidak kurang dari 99% atau
a. (99%<=NKA<=100%)
b. Kurang andal, bila NKA bernilai : 95%<=NKA<=99%
Tidak andal, bila NKA bernilai dibawah 95
c. %
d. Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan, NKA, NKS, dan
NKU tidak boleh kurang dari 95 %
Pemeriksaan Keandalan dan Kelaikan Bangunan
Gedung
Di Kota Sematang Tahun

4.5. TAHAPAN KOMPILASI DATA INTERPRETASI DAN ANALISA

4.5.1. Kompilasi Data


Setelah proses pemeriksaan suatu bangunan sudah selesai maka didapatkan
data lapangan. Data yang nantinya telah diperoleh tersebut akan dikelompokkan
berdasarkan aspek masing-masing sesuai tabel di atas. Setelah dikelompokkan akan di
tabulasi atau di entry ke dalam format pemeriksaan keandalan dan kelaikan bangunan
gedung. Data tersebut akan digunakan untuk:
1. Menentukan nilai keandalan suatu komponen dari salah satu aspek bangunan

2. Menentukan tingkat kelaikan atau keandalan yang telah dianalisa

3. Menginterpretasikan nilai keandalan yang telah dianalisa menjadi makna fisik


dari bangunan yang telah diperiksa

4.5.2. Interpretasi

Suatu bagunan bapat disebut Andal bila nilai keandalan suatu bangunan
(komponen arsitektur, struktur, utilitas, aksesibilitas dan tata bangunan dan
lingkungan) atau nilai keandalan suatu segi dalam bangunan (arsitektur,
struktur, utilitas, aksesibilitas dan tata bangunan dan lingkungan) tidak kurang
dari nilai batas terendah kategori Andal.
Suatu bangunan dapat disebut kurang andal bila nilai keandalan suatu segi
dalam bangunan ( arsitektur, struktur, utilitas, aksesibilitas dan tata
bangunan dan lingkungan) termasuk dalam kategori kurang andal
Suatu bangunan dapat disebut tidak andal bila nilai keandalan suatu segi
dalam bangunan (arsitektur, struktur, utilitas, aksesibilitas dan tata bangunan
dan lingkungan) termasuk dalam kategori tidak andal

Tingkat keandalan Arsitektur dianggap:


1. Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% - 100%

2. Kurang Andal, bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95%

3. Tindak Andal, bila bobot nilai diantara < 75%

Tingkat keandalan Struktur dianggap:


1. Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% - 100%

2. Kurang Andal, bila bobot nilai diantara > 85% sampai < 95%

3. Tindak Andal, bila bobot nilai diantara < 85%

Laporan 4-1
Pendahuluan
Tingkat keandalan Utilitas
dianggap:
1. Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 99% atau >99% - 100%

2. Kurang Andal, bila bobot nilai diantara > 95% sampai < 99%

3. Tindak Andal, bila bobot nilai diantara < 95%

Tingkat keandalan Aksesibilitas


dianggap:
1. Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% - 100%

2. Kurang Andal, bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95%

3. Tindak Andal, bila bobot nilai diantara < 75%

Tingkat keandalan Tata Bangunan dan


Lingkungan:
1. Andal. Bila bobot nilainya tidak kurang dari 95% atau >95% - 100%

2. Kurang Andal, bila bobot nilai diantara > 75% sampai < 95%

3. Tindak Andal, bila bobot nilai diantara < 75%

Untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan gedung secara keseluruhan, nilai


keandalan Arsitektural, nilai keandalan struktural nilai keandalan aksesibilitas dan nilai
keandalan tata bangunan dan lingkungan tidak boleh kurang dari 95%. Namun
untuk nilai keandalan utilitas, khususnya keselamatan terhadap bahaya kebakaran,
tidak boleh kurang dari 99%.
Tabel 4-27
Penentuan nilai Keandalan Bangunan
ASPEK KEANDALAN NILAI DAN KATEGORI KEANDALAN
CATATAN
KONDISI ANDAL KURANG ANDAL TIDAK ANDAL
ARSITEKTUR >95%-100% >75% - 95% < 75%
STRUKTUR >95%-100% >85% - 95% < 85%
UTILITAS >99%-100% >95% - 99% < 95%
AKSESIBILITAS >95%-100% >75% - 95% < 75%

4.5.3. Analis
a

Analisa dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu tahap pembobotan masing-masing


komponen dan sub komponen, tahap perhitungan terhadap kondisi yang diakibatkan
adanya kerusakan (penurunan kondisi awal akibat kerusakan). Tahap penilaian
keandalan lantai masing-masing bangunan bila bangunan lebih dari satu lantai.
Penilaian per masing masing komponen diperoleh dari volume awal elemen yang ada
dikurangi dengan elemen yang rusak (factor reduksi). Nilai keandalan masing-
masing lantai dikalikan dengan bobot penilaian keandalan awal masing-masing
komponen
Tabel 4-28
Teknik pengisian analisa software Keandalan Bangunan

volume volume Faktor Faktor Nilai Nilai Kategori Nilai Keandalan


Lantai elemen reduksi reduksi KeandalanKeandalan
(i) yg rusak rusak posisi Tingkat Awal A KA TA

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
1
2
3
4
5
6
7
8

Tahap selanjutnya adalah tahap penilaian kondisi keandalan bangunan saat ini.
Setelah diperoleh kondisi keandalan saat ini, tahap berikutnya adalah melakukan
penilaian atau pengelompokan berdasarkan kategori nilai keandalan, yaitu Andal,
Kurang ndal dan Tidak andal.
Setelah kondisi keandalan saat ini masing-masing sub komponen diperoleh kemudian
dilakukan penilain total keandalan bangunan masing-masing komponen. Dari hasil akhir
penilaian total keandalan bangunan akan diperoleh kondisi bangunan saat ini andal,
kurang andal atau tidak andal.
Tabel 4-29
Rekapitulasi total nilai Keandalan Bangunan

Kategori Penilaian Bobot lai


No Aspek Yang dinilai Andal NK urang NK Tidak NK Penilai Keand
(% And (% Anda (% an (%) al
(1) (2) (3) )
(3) )(4) )
(5) (6) Total
(7)

1 Arsitektur 95% - 100% 100,00 75% - <95% - <75% - 10 10,00


2 Struktur Rangka Beton dan Dinding 95% - 100% - 85% - <95% 89,92 <85% - 30 30,00
3 Utilitas & Proteksi Kebakaran 100% 100,00 95% - <100% - <95% - 50 50,00
4 Aksesibilitas 95% - 100% 100,00 75% - <95% - <75% - 5 5,00
5 Tata Bangunan & Lingkungan 95% - 100% 100,00 75% - <95% - <75% - 5 5,00
Jumlah Total 100 100,00

Jumlah Total nilai semua komponen diberi bobot 100%, sedangkan nilai masing-masing
komponen dibagi berdasarkan tingkat urgensinya.
4.6. TAHAPAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Rekomendasi yang dihasilkan tergantung dari hasil pemeriksaan fisik bangunan


dan nilai keandalan bangunan gedung tersebut. Hasil dari rekomendasi tersebut dapat
diajukan oleh tim pemeriksa yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi kurang andal
atau tidak andal menjadi bangunan yang berkondisi Andal.
1. Perumusan kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan yang dapat menggambarkan
secara umum bagaimana penyelenggaraan pembangunan dan kondisi bangunan
negara/kantor pemerintah dan bangunan gedung untuk fungsi pelayanan
umum pada kab/kota.
2. Membuat surat rekomendasi/surat pernyataan pemeriksaan keandalan
bangunan terhadap masing-masing obyek bangunan gedung yang diperiksa
dan disetujui oleh Kepala Dinas/Instansi Teknis Pembina Penyelenggaraan
Bangunan Gedung.
3. Melakukan konsultasi dan pembahasan secara intensif dengan tim teknis, pakar,
akademisi, dan instansi terkait, serta unsur Pemerintah Kota guna memperoleh
masukan penyempurnaan rekomendasi.

4.7. KELUARAN/OUPUT

Keluaran akhir pekerjaan Pemeriksaan Keandalan Bangunan Gedung ini:


1. Laporan
Laporan hasil pelaksanaan pemeriksaaan keandalan bangunan gedung,
termasuk dokumentasi, meliputi:
a. Foto-foto kegiatan pemeriksaan keandalan.

b. Foto-foto sebagian/seluruh bangunan gedung yang terindikasi


memerlukan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi aspek
keandalan. Misal: struktur bangunan gedung, sistem plumbing, air
hujan, elektrikal, dll yang tidak andal.
c. Gambar/foto-foto lain yang diperlukan.

2. Rekomendasi
Rekomendasi yang berisi penanganan lebih lanjut terhadap bangunan
gedung yang telah diperiksa dalam bentuk surat peryataan pemeriksaan
keandalan bangunan gedung yang dibuat oleh konsultan pemeriksa dan
disetujui oleh instansi teknis pembina penyelenggara bangunan gedung di
Kabupaten/Kota.