Anda di halaman 1dari 121

ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

BERBASIS AKRUAL DALAM PERSPEKTIF TEORI INSTITUSIONAL:


STUDI KASUS PADA PEMERINTAH KOTA MALANG

Disusun oleh:
Nina Eka Wahyuni
NIM. 125020301111011

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Meraih
Derajat Sarjana Ekonomi

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

i
LEMBAR PBNGESAHAN

Skripsidenganjudul:

ANALISTS IMPLEMENTASI STAI\TDARAKT]NTAI\iSI PEMERINTAHAN


BERBASIS AKRUAL DALAM PEBSPEKIIF IEOXI INSTITUSIONAL;
STI}DI KASUS PADA PEMERINTAH KOTA MAII\NG

Yang disustmoleh:
Nama : NinaEkaWahyuni
NIM : 12502A30111101I
Fakultas : Ekonomi danBisnis
Jurusan :Akuntansi
Telah dipertatrankandi dspn deunanpenguji pada tanggal 27 Jallruari2016 &n
dinyatakanmemenuhisyaratuntuk diterima-

SUSUNAI\IDEWAI{ PENGUJI
1. HelmyAdam, SE.,MSA.,Ak', CPMA'
NIP. 1979M03200501| w2
@osenPembimbing)
2. Nurlfiolis, Ph.D.,Ak., CA.
NrP. 196607061991031001 fl>-
(DosenPengujil)
3. MimaAniry4 SE.,MSA, Ak-, AAP A
NIP. 1984I 220 2014A42 W2
(DosenPengujiII)

Malang,2l Jantlprri20l6

1991031001
RIWAYAT HIDUP

Nama : Nina Eka Wahyuni


Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Tulungagung, 24 Januari 1994
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Alamat Rumah : Dsn Sanggrahan Lor RT 03/ RW 04, Desa
Sanggrahan, Kec. Boyolangu, Kab. Tulungagung,
Jawa Timur
Alamat Malang : Jl. Veteran Dalam 10 C, Lowokwaru, Malang,
Jawa Timur
Alamat Email : ninaekawahyuni@gmail.com

Riwayat Pendidikan :

Sekolah/ Universitas Jurusan Tahun

SDN 1 Wajakkidul - 2000-2006


SMP Negeri 1 Tulungagung - 2006-2009
SMA Negeri 1 Kedungwaru,
IPS 2009-2012
Tulungagung
UNIVERSITAS BRAWIJAYA, Malang Akuntansi 2012-sekarang

Pengalaman Kepanitiaan/Organisasi :
1. LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis) sebagai Staff
Departemen Hubungan Masyarakat Periode 2012-2013
2. HMJA (Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi) sebagai Staff Departemen
Administrasi dan Umum Periode 2012-2013
3. UABT UB (Unit Aktivitas Bulutangkis, Universitas Brawijaya) sebagai Staff
Departemen Kaderisasi Periode 2012-2013

ii
4. LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis) sebagai Koordinator
Divisi Komunikasi, Departemen Hubungan Masyarakat Periode 2014
5. HMJA (Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi) sebagai Penanggung
Jawab Bidang Administrasi, Departemen Administrasi dan Umum Periode
2012-2013
6. LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis) sebagai Bendahara
Umum Periode 2015
7. UABT UB (Unit Aktivitas Bulutangkis, Universitas Brawijaya) sebagai
Koordiantor Divisi Acara di Musyawarah Anggota UABT Tahun 2012
8. UABT UB (Unit Aktivitas Bulutangkis, Universitas Brawijaya) sebagai Staff
Divisi Acara di Invitasi Bulutangkis Mahasiswa 8 (IBM 8) Tingkat Nasional
Tahun 2013
9. HMJA (Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi) sebagai Staff Divisi Acara
di INTERAKSI (Introduksi dan Orientasi Akuntansi) 2013
10. HMJA (Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi) sebagai Koordinator
Divisi Kesekretarian di INTERAKSI (Introduksi dan Orientasi Akuntansi)
2014
11. LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis) sebagai Staff Divisi
Kesekretariatan di KATULISTIWA 5 (Karya Tulis Mahasiswa Tingkat
Nasional 6) Tahun 2015
12. LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis) sebagai Sekretaris
Pelaksana di Pelatihan Power Point dan Public Speaking Tahun 2013
13. LSME (Lingkar Studi Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis) sebagai Bendahara
Pelaksana di KATULISTIWA 6 (Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Nasional 6)
Tahun 2014
14. BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FEB UB sebagai Staff Divisi Bina
Disiplin dan Etika di PK2MABA "HEROES" Tahun 2013
15. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
sebagai panitia pada acara Pendidikan Dasar Penilaian I Properti Tahun 2014.
16. Integrated Center For Acoounting, Taxation, And Assurance Services
(ICATAS) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pajak Kanwil III Jawa

iii
Timur dalam acara Pengisian Bersama SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
Tahun Pajak 2014 dan Pelaporannya Melalui e-Filling sebagai Sekretaris
Pelaksana.

Pengalaman Pelatihan/ Seminar :


1. Workshop 7th Hasanuddin Accounting Days "Implementation of Accrual
Basic in Public Sector" yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin, Makassar, 21 Januari 2014.
2. Seminar Nasional 7th Hasanuddin Accounting Days "Enhancing
Accountability in Public Sector With Accrual Basic" yang diadakan oleh
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Makassar 20 Januari
2014.
3. Seminar Nasional Economic Week 2013 "Developing Indonesia Strong
Foundation" yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Airlangga, Surabaya 21 November 2013.
4. Diskusi Panel "Strategi Percepatan Reformasi Birokrasi" yang
diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, 21
Oktober 2013.
5. Seminar Perpajakan "PEMBAYAR PAJAK, PATRIOT BANGSA" yang
diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya, 18
Oktober 2012.
6. Seminar Nasional "When Islamic Economics Meet The Creative Industri"
dalam serangkaian acara 6th Sharia Economics Triumph Activity 2014 yang
diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Sebelas Maret,
Surakarta.
7. Seminar Nasional Asean Community "Membangun Kemandirian Anak
Bangsa Melalui Ide Kreatif dalam Menyongsong Asean Community 2015"
yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Makassar, 4
September 2014.

iv
8. Seminar Nasional "Melihat Potensi Pengembangan Industri Keuangan Syariah
di Tengah Perekonomian Dunia" yang diselenggarakan oleh KSEI ICON
Udayana kerjasama dengan MES BALI, Denpasar 4 Mei 2014.
9. Sosialisasi Sukuk Negara Ritel Seri SR-007 dan Kelas Edukasi Pasar Modal
kerjasama PT Trimegah Securities, Tbk dan Lab. Akuntansi, Investasi dan
Pasar Modal Jurusan Akuntansi FEB Universitas Brawijaya.

Pengalaman Pekerjaan :

Koordinator Mahasiswa di Integrated Center For Acoounting, Taxation, And


Assurance Services (ICATAS) FEB UB bekerjasama dengan Direktorat Jenderal
Pajak Kanwil III Jawa Timur.

Prestasi yang Pernah Diraih:


1. Juara II LKTI Nasional Explosion 2013 oleh Humanistik dan Kemenpan:
Reformasi Birokrasi UMKM dengan Konsep Integrated One Stop Service
melalui Linkage Channeling Programs untuk Menuju Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) 2015
2. Best Team National Development Students Conference UNAIR 2013
Techno Center Strategy (TCS): Sebagai Upaya Efektif Peningkatan Daya
Saing UKM Indonesia untuk Menuju MEA 2015
3. Juara III LKTI Nasional PIKIR 2014 oleh LKIM-PENA Universitas
Muhammadiyah Makassar "Strategi Alternatif Peningkatan Peran Financial
Inclusion Bagi Pegembangan UMKM Melalui Kolaborasi Crowdfunding
Empowerment System Dengan Local Wisdom Approach Dalam Menghadapi
Asean Economic Community (AEC) 2015.
4. Juara Harapan 1 Lomba Karya Tulis Ekonomi Islam "6th Economic Triumph
Activity 2014" di Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta : "Strategi
Pengembangan Pariwisata Syariah Berbasis Tripartite Collaboration dengan
Local Wisdom Approach Guna Mewujudkan Indonesia Sebagai Pemain
Utama Wisata Syariah Dunia"

v
5. Runner Up Best Idea dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Sharia Islamic
Economist Society (KSEI ICON) Universitas Udayana, Bali : "Syariah
Tourism Development Strategy: Optimalisasi Pariwisata Syariah Indonesia
yang Berdaya Saing Global Berbasis Local Wisdom Approach", 4 Mei 2014.
6. Finalis dalam kegiatan "Accounting Writing Competition 7th Hasanuddin
Accounting Days : Quo Vadis Accounting in Current Public Sector", 18-19
Januari 2014 : Integrated One Stop Service Sebagai Upaya Percepatan
Penggunaan Metode Accrual Basis Di Instansi Pemerintah
7. Finalis Call For Paper dalam acara Cooperative Fair 2014 "Jatidiri Koperasi
Sejati Menghasilkan Kesejahteraan Merata, Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, Depok 18 Februari 2014: "Revitalisasi KUD (Koperasi Unit Desa)
Melalui Pengoptimalan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat) Mandiri Perdesaan sebagai Wujud Persiapan Indonesia dalam
Menghadapi MEA 2015"
8. The Most Active Team of Cooperative Games , Universitas Indonesia Depok
18 Februari 2014.
9. Finalis 10 (sepuluh) terbaik tingkat Nasional dari SCEPTA 2015 (Scientific
Writing Competition of Politik and Law) di Universitas Muhammadiyah
Malang

vi
Teruntuk :
Kedua orang tua yang tak pernah lelah mengasuh dan mendidikku
Almamaterku tercinta, civitas akademika Universitas Brawijaya
Bangsa ini, Indonesiaku Jaya Merdeka!

vii
Motto:
Prinsip yang kuat, ada pada diri Anda sendiri.
Pada hakikatnya, kita semua adalah perantau,
maka merantaulah untuk mencari ilmu dan mengamalkannya

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat serta ridho-Nya, penulis dapat menyelesaikan penelitian ini yang berjudul:
"Analisis Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual
dalam Perspektif Teori Institusional: Studi Kasus pada Pemerintah Kota
Malang". Penelitian ini dituangkan dalam sebuah skripsi yang digunakan sebagai
salah satu syarat kelulusan dalam meraih derajat Sarjana Ekonomi (S.E.) program
Strata Satu (S1) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.
Selama melakukan penelitian dan menghasilkan sebuah tulisan skripsi ini,
tidak dipungkiri penulis mengalami beberapa kendala. Akan tetapi, kendala-
kendala ini dapat teratasi berkat adanya bimbingan dan arahan dari berbagai
pihak. Oleh karenanya penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan serta keyakinan pada diri penulis
untuk menyelesaikan penelitian yang dituangkan dalam bentuk skripsi ini, serta
Nabi Muhammad SAW yang merupakan panutan umat muslim untuk
senantiasa berjuang di jalan Allah melalui ilmu;
2. Keluarga tercinta yakni kedua orang tua Moch. Monasik dan Eni Pemiluwati
yang tiada henti memberikan "ghiroh" kepada penulis, serta dukungan dan doa
dari adik Dimas Dwi Wahyudi;
3. Bapak Helmy Adam, SE., MSA., Ak., CPMA. selaku dosen pembimbing yang
senantiasa dengan sabar memberikan saran-saran serta motivasi agar penulis
dapat menyelesaikan penelitian ini;
4. Bapak Nurkholis, Ph.D., Ak., CA. selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya;
5. Bapak Abdul Ghofar, DBA., CPMA., CA., Ak. selaku Sekretaris Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya;
6. Bapak Nurkholis, Ph.D., Ak., CA. selaku dosen penguji 1 (satu) yang telah
memberikan kritik dan saran untuk perbaikan penelitian dan skripsi ini;
7. Ibu Mirna Amirya, SE., MSA., Ak., AAP A. selaku dosen penguji 2 (dua) yang
senantiasa banyak memberikan saran dalam penelitian dan skripsi ini;

ix
8. Bapak/Ibu SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Pemerintah Kota Malang,
khususnya Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah, Dinas Kesehatan,
Inspektorat, dan Kecamatan Blimbing yang juga telah bersedia memberikan
informasi seluas-luasnya untuk menunjang penelitian ini serta doa dan motivasi
yang ditujukan kepada penulis agar mampu menyelesaikan penelitian ini.
9. Teman-teman LSME FEB-UB, ICATAS, Muchammad Asy'ari Mashbur
Nasran, Puput Ayu V., Gatra Bagus Sanubari, Ernika Ika, Onwardani Ayu
Estika, Biaini Naeli Muna, Fatmawati Yunita, Martina Dyah Ayu Retnanti,
Diana Nurindrasari, Mas Bagus, Mbak Areta, Mbak Atiya, Mas Rauf, serta
seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap proses penyelesaian
penelitian dan skripsi ini.
Proses penelitian yang mengambil latar belakang langsung di lingkungan
Pemerintah Kota Malang memberikan nuansa tersendiri tentang bagaimana peran
serta perkembangan akuntansi pemerintahan sampai saat ini. Semoga penelitian
yang dituangkan dalam bentuk skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan
berkah bagi semua pihak, khususnya dalam bidang ilmu akuntansi pemerintahan
di Indonesia. Aamiin.

Malang, Januari 2016


Penulis

x
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. xii


DAFTAR ISI ................................................................................................ xiii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xvi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xviii
ABSTRAK ................................................................................................... xix

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 12
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................... 12
1.4 Kontribusi Penelitian.............................................................. 12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 14


2.1 New Public Management (NPM) ............................................ 14
2.2 Perkembangan Standar Akuntansi Pemerintahan di Indonesia 15
2.3 Perkembangan Standar Akuntansi Pemerintahan di Dunia ...... 18
2.4 Pendekatan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
dalam "Free Market dan Pro-Regulation Perspective ............. 19
2.5 Teori Institusional .................................................................. 20
2.5.1 Mimetic Isomorphism ................................................... 22
2.5.2 Coercive Isomorphism .................................................. 22
2.5.3 Normative Isomorphism................................................ 22

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................... 24


3.1 Jenis Penelitian ...................................................................... 24
3.2 Paradigma Penelitian.............................................................. 25
3.3 Sumber dan Jenis Data ........................................................... 26

xi
3.4 Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 27
3.5 Merumuskan Informan Kunci................................................. 30
3.6 Teknik Analisis Data .............................................................. 32

BAB IV IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN


BERBASIS AKRUAL PEMERINTAH KOTA MALANG
TAHUN 2015 ............................................................................... 35
4.1 Sistem dan Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Malang .... 35
4.2 E-Finance Kota Malang ......................................................... 39
4.3 Program Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan
Interim Berbasis Akrual di Badan Pengelola Keuangan
dan Aset Daerah Kota Malang................................................ 41

BAB V HASIL ANALISIS ...................................................................... 53

5.1 Latar Belakang Implementasi Standar Akuntansi


Pemerintahan Berbasis Akrual di Pemerintah Kota Malang .... 53
5.2 Proses Institusionalisasi dalam Implementasi SAP
Basis Akrual di Pemerintah Kota Malang ............................... 54
5.3 Analisis Isomorphism dalam SAP Basis Akrual
di Pemerintah Kota Malang .................................................... 59
5.3.1 Mimetic Isomorphism dalam Implementasi
SAP Basis Akrual di Pemerintah Kota Malang .............. 60
5.3.2 Coercive Isomorphism dalam Implementasi
SAP Basis Akrual di Pemerintah Kota Malang .............. 61
5.3.3 Normative Isomorphism dalam Implementasi
SAP Basis Akrual di Pemerintah Kota Malang .............. 66
5.4 Implikasi Penelitian................................................................ 68
5.5 Rekomendasi Penelitian ......................................................... 70

xii
BAB VI Penutup ....................................................................................... 72

6.1 Kesimpulan ............................................................................ 72


6.2 Keterbatasan Penelitian .......................................................... 73
6.3 Saran Penelitian ..................................................................... 74

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 75


LAMPIRAN ................................................................................................ 79

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Daftar Informan Kunci .....................................................................31

Tabel 4.1 Checklist Laporan Keuangan (LK) Interim per 30 September 2015 ..44

Tabel 4.2 Checklist Restatement Neraca Audited 2014 ......................................46

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Gambaran Umum Sistem Akuntansi Pemerintah Kota Malang ......39

Gambar 4.2 Contoh Perhitungan Akumulasi Penyusutan Neraca

Audited 2014 ................................................................................49

Gambar 4.3 Contoh Neraca Audited 2014 Setelah Penyusutan .........................50

Gambar 5.1 Alur Peraturan SAP Berbasis Akrual di Kota Malang ...................59

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Wawancara Terhadap Informan ..........................................76

xvi
ABSTRAK

ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN


BERBASIS AKRUAL DALAM PERSPEKTIF TEORI INSTITUSIONAL:
STUDI KASUS PADA PEMERINTAH KOTA MALANG

Oleh :
Nina Eka Wahyuni (NIM. 125020301111011)

Dosen Pembimbing :
Helmy Adam, SE., MSA., Ak., CPMA. (NIP. 19790403 200501 1 002)

Penelitian ini memiliki tujuan untuk melakukan pengamatan secara mendalam


tentang implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual di
pemerintah Kota Malang yang ditinjau dalam perspektif teori institusional.
Metode yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah deskriptif kualitatif
dengan menggunakan paradigma interpretif. Adanya reformasi keuangan negara
di Indonesia, khususnya dalam bidang standar akuntansi pemerintahan merupakan
salah satu bentuk New Public Management yang dikeluarkan oleh lembaga
internasional dengan mengacu pada teori-teori di sektor swasta. Hal ini karena
pemerintah dianggap sebagai organisasi yang memiliki kualitas rendah dan tidak
memberikan akuntabilitas secara jelas kepada masyarakat. Namun, berdasarkan
hasil penelitian, implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual di
Pemerintah Kota Malang dapat terlaksana karena adanya sebuah aturan yang
melekat yakni dengan turunnya Permendagri No. 64 Tahun 2013 yang
menyebutkan bahwa implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual
paling lambat harus dilaksanakan pada tahun 2015. Dengan kata lain, pemerintah
Kota Malang melaksanakan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual ini
karena adanya sebuah tekanan dari organisasi yang memiliki kekuasaan lebih
besar dalam hal ini negara, yang disebut dengan coercive isomorphism. Kondisi
ini merupakan proses institusionalisasi yang terjadi dalam sebuah organisasi
pemerintahan. Mengingat sumber daya manusia yang dimiliki oleh pemerintah
tidak semua berlatar belakang pendidikan akuntansi, maka salah satu rekomendasi
yang dapat diberikan adalah dengan memberikannya sebuah edukasi secara
mendalam tentang makna standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual.
Sehingga, nantinya implementasi dari kebijakan perubahan basis akuntansi
pemerintahan ini dapat terlaksana dengan baik, yakni dari segi makna secara
teoritis maupun laporan keuangan yang dihasilkan.

Kata Kunci : Standar Akuntansi Pemerintahan Basis Akrual,


Teori Institusional, Pemerintah Kota Malang

xix
ABSTRACT

IMPLEMENTATION ANALYSIS OF ACCRUAL BASED GOVERNMENT


ACCOUNTING STANDARDS IN PERSPECTIVE INSTITUTIONAL
THEORY: A CASE STUDY IN PEMERINTAH KOTA MALANG

By:
Nina Eka Wahyuni (NIM. 125020301111011)

Advisor Lectures:
Helmy Adam, SE., MSA., Ak., CPMA. (NIP. 19790403 200501 1 002)

This research has a purpose to perform in depth observations on the


implementation of Accrual Based Government Accounting Standards in Malang
government reviewed in the perspective of institutional theory. The method used in
this research process is qualitative descriptive Interpretive. The existence of the
state of financial reform in Indonesia, particularly in the area of government
accounting standards is one of New Public Management issued by the
International agency with reference to the theories in the private sector. This is
because the government considered as organizations that have low quality and do
not provide clear accountability to the public. However, based on research results,
the implementation of Accrual Based Government Accounting Standards in
Pemerintah Kota Malang made possible by the existence of a rule attached to
Regulation of Permendagri No. 64 Tahun 2013, which states that the
implementation of Accrual Based Government Accounting Standards should be
implemented at the latest by the year 2015. In other words, Pemerintah Kota
Malang implement Accrual Based Government Accounting Standards due to a
pressure from the organization that has more power, in this case the state called
coercive pressures. This condition is an institutionalization process that occurs in
a government organization. Given the human resources owned by the government
do not have accounting background, then one recommendation that can be given
is to give an in depth education on the meaning of accrual based government
accounting standards. So, later on the implementation of the policy changes in
government accounting basis this can be done well, namely in terms of meaning
theoretically and financial statements are produced.

Keywords: Accrual Based Government Accounting Standards,


Institutional Theory, Pemerintah Kota Malang

xx
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengelolaan keuangan negara merupakan persoalan yang perlu mendapatkan

perhatian lebih, karena sangat berkaitan erat dengan kemakmuran bangsa

Indonesia. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 Pasal 23 ayat (1) yang menyebutkan

bahwa "Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai wujud

pengelolaan keuangan negara yang ditetapkan setiap tahun dengan undang-

undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar-

besarnya kemakmuran rakyat". Tentunya proses dalam menjalankan APBN ini

tidak lepas dari sistem pencatatan keuangan yang baik, yakni dengan memiliki

standar akuntansi yang akuntabel dan transparan. Namun sayangnya, anggapan

yang selama ini beredar di masyarakat tidak menggambarkan tentang sebuah

pengelolaan keuangan yang baik, mereka menganggap bahwa organisasi sektor

publik merupakan organisasi yang tidak produktif, tidak efisien, selalu rugi,

rendah kualitas, kurang inovasi dan kreativitas, dan kekurangan-kekurangan yang

lainnya (Mahmudi, 2010). Tentu saja hal ini menjadi sebuah introspeksi diri bagi

pemerintah bahwa ternyata belum mampu untuk memenuhi kepuasaan

masyarakat. Introspeksi inilah yang memunculkan sebuah reformasi baru di

bidang manajemen sektor publik yakni New Public Management (NPM). New

Public Management (NPM) memiliki konsep yaitu pemerintah fokus pada

efisiensi, yang menghasilkan lebih banyak kegiatan dengan biaya minimal

1
2

kemudian dilaporkan secara akuntabel dari segi sumber daya manusia maupun

sumber daya lain yang digunakan, sehingga nantinya akuntansi akan memiliki

peran yang cukup penting dalam perkembangan New Public Management sebagai

pengukuran kinerja (Bunea & Cosmina, 2008). Oleh sebab itu, perubahan atas

basis akuntansi yang digunakan oleh sektor publik dari kas menjadi akrual,

merupakan salah satu wujud dari adanya New Public Management.

Sebelum adanya New Public Management, Indonesia memiliki standar

akuntansi pemerintahan berbasis kas yang sistem pencatatannya berdasarkan

transaksi keluar masuknya kas negara/daerah saja. Kemudian, lambat laun

pemerintah melakukan pengkajian mengenai standar akuntansi pemerintahan yang

dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Pasal 36 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 menjelaskan bahwa:

"Ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja


berbasis akrual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13, 14, 15,
dan 16 undang-undang ini dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 5
(lima) tahun. Selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja
berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan pengakuan dan
pengukuran berbasis kas.

Jika melihat aturan yang terdapat pada undang-undang tersebut, standar akuntansi

pemerintahan berbasis akrual seharusnya dilaksanakan pada tahun 2008. Akan

tetapi, pemerintah baru mengatur secara khusus mengenai standar akuntansi

pemerintahan berbasis akrual ini pada tahun 2010 yakni dengan keluarnya PP No.

71 Tahun 2010. Adapun, tahapan dari basis kas menuju akrual diatur terlebih

dahulu dalam PP No. 24 Tahun 2005 yang bernama Cash Towards Accrual

(CTA). Cash Towards Accrual (CTA) ini berprinsip bahwa basis kas digunakan
3

untuk pengakuan transaksi pendapatan, belanja, dan pembiayaan, sedangkan basis

akrual digunakan untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana.

Masa transisi dari Cash Towards Accrual (CTA) menuju akrual tidak

dilakukan secara mendadak. Akan tetapi, pemerintah lebih menekankan kepada

proses belajar tahap demi tahap. Hal ini dibuktikan dengan masih adanya

Lampiran II pada PP No.71 Tahun 2010 yang menyediakan ruang bagi entitas

untuk melakukan transisi sebelum menuju ke basis arual penuh. Lampiran II pada

PP No.71 Tahun 2010 ini sebagai batu loncatan bagi pemerintah agar tidak

terkejut dalam menerapkan standar akuntansi basis akrual. Di sisi lain, pemerintah

pusat juga melakukan strategi tentang bagaimana proses penggunaan standar

akuntansi pemerintahan berbasis akrual pada tahun 2015 dapat terlaksana dengan

baik. Strategi tersebut adalah menyusun agenda yang dijelaskan pada saat diklat

akuntansi pemerintahan berbasis akrual oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan

Keuangan Kementerian Keuangan di Kota Malang, sebagai berikut

(http://www.bppk.kemenkeu.go.id) :

1. Tahun 2010 : Mengumpulkan informasi akrual, menyiapkan standar, dan

rencana implementasi;

2. Tahun 2011 : Menyiapkan peraturan, kebijakan, proses bisnis, dan sistem

akuntansi;

3. Tahun 2012 : Mengembangkan sistem akuntansi, pedoman, capacity

building, dan Information Technology;

4. Tahun 2013 : Uji coba implementasi Laporan Keuangan (LK),

penyempurnaan sistem, dan capacity building;


4

5. Tahun 2014 : Implementasi secara paralel dan Konsolidasi Laporan K/L

dan BUN, evaluasi dan finalisasi sistem.

6. Tahun 2015 : Implementasi penuh (Laporan Keuangan yang diberi opini

berbasis akrual kurang lebih sekitar 24.000 satuan kerja dan 177 KPPN).

Kemudian, pada tahun 2013 pemerintah menegaskan kembali dalam Pasal 10 ayat

(2) Permendagri No. 64 Tahun 2013 yang menyebutkan bahwa penerapan SAP

berbasis akrual pada pemerintah daerah paling lambat terlaksana pada tahun

anggaran 2015.

Namun, ketika proses transisi sistem akuntansi pemerintahan Indonesia

berlangsung, terdapat berbagai macam problematika yang mengiringi, mengingat

jarak antara basis kas menuju ke akrual tidak berlangsung lama. Menurut berita

ataupun penelitian-penelitian yang menggambarkan mengenai masa transisi

menuju sistem akuntansi pemerintahan berbasis akrual ini, problematika yang

sering terjadi yakni terletak pada sumber daya manusia. Sumber daya manusia

yang memiliki peran penting dalam penerapan basis akrual ini, harus mengalami

kesulitan ketika mereka bukan berasal dari background akuntansi ataupun

ekonomi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komite Standar Akuntansi

Pemerintahan (KSAP), Binsar Simanjuntak yang mengatakan bahwa tantangan

terbesar dari peralihan basis kas menuju basis akrual ini adalah komitmen yang

kuat dari pimpinan Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah, serta kesiapan

sumber daya manusia (http://www.kompasiana.com). Selain itu, sikap enggan

untuk melakukan perubahan, juga menjadi tantangan bagi penerapan standar

akuntansi pemerintahan berbasis akrual (http://www.bppk.kemenkeu.go.id/).


5

Dalam Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah

Tahun 2014 yang disampaikan oleh Reydonnyzar Moenek, Direktur Jenderal

Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri RI dengan tema "Menakar

Kesiapan Pemerintah Daerah dalam Implementasi Akuntansi Pemerintah Berbasis

Akrual", potensi permasalahan yang dapat ditimbulkan dari penerapan standar

akuntansi berbasis akrual pada pemerintah daerah, yakni sebagai berikut :

1. Perbedaan pada akun anggaran dengan akun pertanggungjawaban;

2. Belum memiliki pengaturan tentang penyusutan aset, baik penyusutan

pertama kali maupun penyusutan berkala;

3. Lemahnya sistem pengendalian intern;

4. Masih belum optimalnya penatausahaan aset Barang Milik Daerah

(BMD);

5. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) akuntansi padaSKPD/PPKD;

6. SKPD/PPKD yang belum sepenuhnya memanfaatkan aplikasi akuntansi

berbasis teknologi informasi.

Dengan demikian, pemerintah sebenarnya telah mengetahui problematika yang

akan terjadi jika menerapkan standar akuntansi berbasis akrual, dan hal ini

tentunya menjadi tantangan sendiri bagi pemerintahan dan seluruh elemen yang

terlibat untuk menyelesaikan problematika tersebut.

Pandangan publik terhadap penerapan standar akuntansi pemerintahan

berbasis akrual ini bermacam-macam. Ada yang optimis, ada pula yang masih

ragu apakah pemerintah daerah mereka mampu melaksanakannya atau tidak.

Gubernur Kalimantan Timur, yakni Awang Faroek Ishak percaya bahwa standar
6

akuntansi pemerintahan berbasis akrual dapat dilakukan pada akhir tahun 2015

ini. Beliau berpendapat bahwa pengelolaan keuangan yang baik merupakan unsur

utama untuk mencapai tujuan yang lebih besar yakni tata kelola pemerintahan

yang baik (http://www.beritasatu.com). Kemudian analisis yang dilakukan oleh

Tresnawati & Setiawan (2013) memberikan pernyataan bahwa laporan akrual

sejatinya bukan merupakan kebutuhan urgen dan memiliki kecenderungan sulit

diterapkan. Hal tersebut berkaca dari pemerintah daerah yang ada di Sumenep

mengenai pertanyaan tentang kebermanfaatan informasi akrual dan kesulitan

teknis pelaksanakannya. Kemudian, terdapat pendapat dari Setyaningsih (2013)

yang mengungkapkan bahwa pelaksanaan standar akuntansi pemerintahan

sebelumnya yakni PP 24 Tahun 2005 selama kurun waktu 2005-2009, masih

banyak kendala yang dihadapi oleh pemerintah pusat dan daerah. Hal ini

dibuktikan dengan masih sedikitnya laporan keuangan pemerintah pusat maupun

daerah yang memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), yang didukung

dengan data dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK-RI atas LKPD

Kabupaten/Kota se-Indonesia yang menyebutkan bahwa mulai tahun 2009 sampai

2013 yang mendapat opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) masih jauh lebih

banyak dari pada opini Wajar Tanpa Pengecualian.

Meskipun terdapat berbagai pendapat terkait standar akuntansi pemerintahan

berbasis akrual, pemerintah intinya tetap berusaha untuk dapat melaksanakannya

karena basis akrual ini sebagai salah satu bentuk reformasi di bidang laporan

keuangan negara/daerah. Hal ini sesuai dengan analisis yang diungkapkan oleh

pemerintahan melalui hasil studi dari The International Federation of Accountant


7

(IFAC) Public Sector Committee (2002) yang menyatakan bahwa laporan berbasis

akrual bermanfaat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah terkait biaya jasa

layanan, efisiensi, dan pencapaian tujuan. Laporan akrual juga dapat mengetahui

posisi keuangan pemerintah dan perubahannya, sehingga nantinya dapat diketahui

kemampuan pemerintah sebenarnya. Selain itu, akuntansi juga dapat

mengidentifikasi kesempatan dalam menggunakan sumber daya masa depan

(Simanjuntak, 2014).

Terlepas dari yakin atau tidak pemerintah dapat melaksanakan standar

akuntansi pemerintahan berbasis akrual, Tresnawati & Setiawan (2013)

menuliskan kembali analisisnya bahwa kenyataan yang terjadi, akrual merupakan

pesanan global yakni upaya universalitas aturan standar yang seragam di seluruh

dunia. Hal ini diungkapkan dalam lampiran III PP No. 71 Tahun 2010 yang

menyebutkan bahwa standar akuntansi pemerintahan dikembangkan dari PP No.

24 Tahun 2005 dengan mengacu International Public Sector Accounting

Standards (IPSAS) dan memperhatikan perundang-undangan lainnya. Dengan

kata lain, landasan dasar yang digunakan oleh pemerintah dalam menerapkan

standar akuntansi berbasis akrual ini lebih mengarah pada regulasi. Faktor dari

market model tidak terlalu signifikan karena masyarakat sendiri pada saat ini juga

tidak terlalu memahami mengenai laporan keuangan daerah, yang mereka ketahui

adalah pemerintah dikatakan berhasil jika pemerintah mampu memberikan

pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.

Melihat berbagai pemaparan tentang standar akuntansi pemerintahan berbasis

akrual ini, kembali lagi ke pemahaman awal bahwa sebenarnya perubahan ini
8

tidak terlepas dari suatu tuntutan dari pihak pusat ke daerah agar negaranya

dipandang memiliki kualitas pelaporan yang baik seperti negara maju yang

pertama kali menerapkan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual yakni

New Zealand. Kondisi demikian dapat dikategorikan dalam paham teori

institusional, yakni sebuah kenyataan bahwa struktur suatu organisasi dipengaruhi

oleh lingkungan sosial tempat ia berada (Carruthers, 1995). Teori institusional ini

sebenarnya merupakan teori yang berawal dari kajian-kajian di bidang sosiologi

(Darono, 2012), akan tetapi selanjutnya teori ini berkembang ke dalam disiplin

ilmu ekonomi, politik, hukum dan studi organisasi (Sunarto, 2004) yang akhirnya

pada tahun 2004 Dillard, Rigsby and Goodman memberikan pernyataan sebagai

berikut "Institutional theory is becoming one of the dominant theoritical

perspectives in organization theory and is increasingly being applied in

accounting research to study the practice of aacounting in organizations"

(Deegan & Unerman, 2006). Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa

teori institusional saat ini telah masuk ke dalam ranah "Financial Accounting

Theory" yang digunakan untuk mengembangkan penelitian-penelitian disiplin

ilmu akuntansi.

Adanya penerapan standar akuntansi berbasis akrual di berbagai pemerintah

daerah juga sebagai salah satu upaya untuk memperoleh legitimasi dari

pemerintah pusat, maka mereka berupaya melembagakan unsur-unsur lingkungan

(ide, logika, praktik, teknik, dan kebiasaan) ke dalam organisasi sehingga unsur-

unsur lingkungan menjadi bagian dari lembaga organisasi tersebut (Djamhuri,

2009). Semua hal yang pemerintah daerah tersebut lakukan adalah karena ingin
9

mendapat pengakuan dari pemerintah pusat bahwa mereka telah menerapkan

standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual sesuai dengan keinginan

pemerintah pusat dalam PP No. 71 Tahun 2010 dan perintah menerapkannya

sesuai dengan Permendagri No.64 Tahun 2013. Terlepas dari pemerintah daerah

tersebut siap atau tidak, mereka akan berusaha untuk menjadi mirip

(isomorphism) dengan kebijakan pemerintah pusat melalui cara coercive, mimetic,

dan normative (Amirya, dkk., 2013).

Adapun para akademisi yang memberikan kontribusinya dalam perubahan

basis akuntansi sektor pemerintah telah dilakukan oleh Universitas Airlangga,

Universitas Gadjah Mada, Universitas Syiah Kuala, Universitas Indonesia,

Universitas Udayana, dan Universitas Hasanuddin yang bekerja sama dengan

kegiatan State Accountability Revitalitation (STAR) - ADB Loan Nomor 2929-

INA, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Indonesia, dimana

para dosen tersebut menjadi peserta dalam Customized International Study and

Benchmarking Course on Public Sector Accrual Accounting at Massey University

New Zealand pada bulan Oktober tahun 2013. Hasilnya adalah berupa beberapa

jurnal tentang konsep dan pemikiran akuntansi pemerintah berbasis akrual, faktor

kunci sukses implementasi akuntansi pemerintah berbasis akrual, dan isu-isu

akuntansi khusus seputar implementasi akuntansi pemerintah berbasis akrual.

Melihat banyaknya akademisi yang melakukan penelitian mengenai konsep dasar

penerapan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual, tentu saja hal ini

memberikan ghiroh bagi peneliti untuk ikut andil dalam proses pencarian makna

dasar apakah penerapan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual yang


10

harus mulai diterapkan pada tahun 2015 ini ada keinginan murni dari pemerintah

daerah yang dalam hal ini dikhususkan pada studi kasus Pemerintah Kota Malang,

atau semata-mata hanya sendiko dhawuh dengan kebijakan pemerintah pusat.

Penelitian terdahulu yang juga menjadi motivasi dalam penelitian ini adalah

penelitian yang dilakukan oleh Permatasari (2014) dimana peneliti tersebut

memfokuskan penelitiannya pada Akrualisasi di Kabupaten Situbondo. Obyek

utama dalam penelitian Permatasari (2014) ini adalah mengidentifikasi pihak-

pihak yang berkepentingan (Kepala DPPKAD Kabupaten Situbondo, Kepala

Inspektorat Kabupaten Situbondo, Kepala Bagian Akuntansi DPPKAD Kabupaten

Situbondo, Kepala Bagian Anggaran dan Perbendaharaan DPPKAD Kabupaten

Situbondo, Kepala Bagian Akuntansi Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo, dan

para staf di DPPKAD Kabupaten Situbondo) dalam mempromosikan dan

memfasilitasi proses penerapan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual di

Kabupaten Situbondo. Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Faradillah (2013)

dengan fokus pembahasan tentang analisis kesiapan pemerintah daerah dalam

menerapkan standar akuntansi pemerintahan (PP No. 71 Tahun 2010) pada

Pemerintah Kota Makassar yang menghasilkan kesimpulan bahwa dasar dari

kesiapan Pemerintah Kota Makassar dalam menerapkan Standar Akuntansi

Pemerintahan berbasis akrual adalah sebuah formalitas semata dimana hal ini

hanya untuk memenuhi perintah dari regulasi yang telah dibentuk. Peristiwa

demikian ternyata tidak hanya terjadi di Kota Makassar, penelitian yang dilakukan

oleh Rahayu (2014) tentang Implementasi PP No. 71 Tahun 2010 Tentang Standar

Akuntansi Pemerintahan dan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas


11

Menuju Akrual di Jombang juga menghasilkan kesimpulan bahwa sampai tahun

2014, kesiapan Pemerintah Kabupaten Jombang dalam implementasi Standar

Akuntansi Pemerintahan berbasis akrual hanya merupakan refleksi diri dari

sebuah formalitas semata. Penelitian terbaru di tahun 2015 tentang Standar

Akuntansi Pemerintahan berbasis akrual dilakukan oleh Sitorus, dkk. (2015) yang

memfokuskan pada Kesiapan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan

Barang Milik Daerah (DPPKBMD) Kota Tomohon dalam menerapakan Standar

Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual dengan hasil bahwa DPPKBMD Kota

Tomohon selaku pengelola keuangan daerah belum memiliki kesiapan dalam

menerapkan peraturan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual. Selain itu,

penelitian sejenis yang mengacu pada teori institusional adalah penelitian yang

dilakukan oleh Amirya, dkk. (2013) yang menjelaskan tentang penerapan sistem

anggaran dan akuntansi Badan Layanan Umum (BLU) Universitas Brawijaya

mengalami gejala institutional isomorphism yakni organisasi BLU Universitas

Brawijaya tersebut ingin menjadi mirip dengan lingkungan kelembagaannya yang

dalam hal ini adalah peraturan pemerintah pusat tentang BLU.

Dengan demikian, maka peneliti akan melakukan analisis secara langsung ke

Pemerintah Kota Malang tentang bagaimana implementasi Standar Akuntansi

Pemerintahan (SAP) berbasis akrual pada tahun anggaran 2015 ini dalam

perspektif teori institusional. Dengan demikian, judul penelitian yang akan

diangkat oleh peneliti adalah "ANALISIS IMPLEMENTASI STANDAR

AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS AKRUAL DALAM


12

PERSPEKTIF TEORI INSTITUSIONAL: STUDI KASUS PADA

PEMERINTAH KOTA MALANG".

1.2 Rumusan Masalah

Mengacu pada uraian yang telah disampaikan pada latar belakang, maka

rumusan masalah yang diangkat oleh peneliti adalah bagaimana implementasi

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berbasis akrual dalam perspektif teori

institusional pada Pemerintah Kota Malang?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang

implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berbasis akrual dalam

perspektif teori institusional pada Pemerintah Kota Malang.

1.4 Kontribusi Penelitian

Hasil dari adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi,

yakni sebagai berikut :

a. Penelitian ini memberikan kontribusi pada disiplin ilmu akuntansi

pemerintahan, yang akan didukung dengan laporan mengenai bagaimana

bentuk implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Berbasis

Akrual pada Pemerintah Kota Malang dalam Perspektif Teori

Institusional.
13

b. Penelitian ini akan membuka paradigma baru mengenai penerapan basis

akuntansi akrual dalam pengelolaan keuangan pemerintah dan bagaimana

dampaknya.

c. Penelitian ini akan memberikan rekomendasi bagi Pemerintah Kota

Malang mengenai strategi-strategi yang dapat dilakukan ketika

menjalankan kebijakan dari pemerintah pusat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 New Public Management (NPM)

New Public Management merupakan suatu konsep perubahan manajemen

dalam pelayanan publik, yang dalam hal ini dilakukan oleh pemerintah.

Munculnya New Public Management ini dilatarbelakangi oleh kinerja sektor

publik yang dirasa kurang memberikan pelayanan yang maksimal kepada

masyarakat. Hal ini didukung dengan pernyataan dari Mahmudi (2007) bahwa

teori manajemen publik memiliki anggapan bahwa praktik manajemen sektor

swasta lebih baik dibandingkan dengan manajemen sektor publik. Dengan

demikian, upaya untuk terus melakukan perbaikan di bidang manajemen publik

akan dilakukan guna untuk menghilangkan praktik-praktik manajemen yang

dirasa merugikan masyarakat.

Menurut Sangkala (2012), karakteristik dari New Public Management (NPM),

antara lain yakni : (1) Perbaikan terus menerus dalam hal kualitas; (2)

Menekankan pada devolusi dan delegasi; (3) Memiliki sistem informasi yang

tepat; (4) Menekankan pada sebuah kontrak dan permintaan pasar; (5) pengukuran

kinerja; (6) Menekankan pada tingkat audit dan inspeksi. Dengan pernyataan

tersebut, secara tidak langsung sektor publik akan mengadopsi sedikit banyak dari

manajemen sektor swasta, dan dalam hal ini pedoman terbaru mengenai

penggunaan basis akrual pada instansi pemerintah juga merupakan salah satu

14
15

bentuk New Public Management (NPM). Hal ini telah diungkapkan oleh Upping

& Oliver (2011) bahwa,

"New Public Management (NPM) is a management philosophy which


focuses on the change in management practices of the public sector
towards more private sector practices, with accountability focusing on
results rather than processes. NPM introduces a new imperative for
efficiency and transparency into all elements of the public sector. One
important element of this change can be seen in the accounting practices
with a move from cash to accrual accounting, together with the adoption
of management accounting techniques to measure and control activities".

Akuntansi menjadi salah satu tombak dalam menyempurnakan konsep New

Public Management dengan tujuan agar dapat menyajikan laporan keuangan

secara transparan dan akuntabel kepada masyarakat.

Dengan New Public Management, diharapkan sektor publik dapat lebih

memberikan ruang selebar-lebarnya kepada masyarakat, agar tidak lagi terkukung

dengan konsep sektor publik memonopoli pasar, atau konsep sektor publik harus

steril dari rasa keingintahuan masyarakat terhadap pemerintahnya. Masyarakat

sebagai stakeholder terbesar wajib mengetahui apa saja yang dilakukan oleh

pemerintahnya.

2.2 Perkembangan Standar Akuntansi Pemerintahan di Indonesia

Awal perjalanan standar akuntansi pemerintahan mulai diceritakan pada saat

terjadinya reformasi dan penetapan undang-undang otonomi daerah. Menurut

Bastari (2004), pembaharuan manajemen keuangan daerah yang dilakukan pada

masa otonomi daerah dilakukan mulai dari hal yang mendasar, yakni sistem

penganggaran, perbendaharaan, dan pertanggungjawaban laporan keuangan. Pada

saat itu, yang wajib dilaporkan oleh Kepala Daerah adalah Laporan Perhitungan
16

Anggaran, Nota Perhitungan, Laporan Arus Kas, dan Neraca Daerah

(http://www.ksap.org). Peraturan yang melekat pada saat itu adalah UU No. 25

Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan antara pusat dan daerah, kemudian

PP No. 105 Tahun 2000 Tentang Pokok-Pokok Pengelola dan

Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Akan tetapi, pada implementasinya kedua

aturan ini mengalami berbagai kendala. Kendala ini disebabkan oleh ketentuan

dan pedoman yang belum jelas secara teknis mengenai pembuatan laporan

keuangan, dengan belum adanya standar akuntansi keuangan daerah yang baku

(Bastari, 2004).

Kemudian, pemerintah mulai melakukan kajian dengan mengeluarkan paket

undang-undang terbaru yang menaungi kebutuhan pengelolaan keuangan daerah

yang lebih baik, yakni sebagai berikut : (1) Undang-Undang No. 17 Tahun 2003

Tentang Keuangan Negara; (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 Tentang

Perbendaharaan Negara; (3) Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 Tentang

Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara; (4) UU No. 25

Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; (5) PP No. 23

Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum; (6) PP. No.

24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan; (7) PP No. 56 Tahun

2005 Tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah; (8) PP No. 58 Tahun 2005

Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; (9) Permendagri No.13 Tahun 2006

Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, dan revisi Permendagri No. 59

Tahun 2007; (10) PP No. 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan (Rusmana, 2013).


17

Perkembangan standar akuntansi pemerintahan yang paling mencolok tentu

saja ditandai dengan lahirnya PP No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar Akuntansi

Pemerintahan yang menekankan pada basis Cash Towards Accrual (CTA).

Sedangkan yang paling terbaru adalah PP No. 71 Tahun 2010 Tentang Standar

Akuntansi Pemerintahan berbasis Akrual (accrual) yang merupakan cita-cita dari

UU No. 17 Tahun 2003 Pasal 36 ayat (1), dan bentuk implementasi dari konsep

New Public Management.

Keberagaman pendapat mengenai standar akuntansi pemerintahan yang baku,

didasari oleh IPSAS (International Public Sector Accounting Standards) di bawah

organisasi IFAC (International Financial Accounting Committee) yang ternyata

membawa pengaruh cukup berarti bagi penyususnan standar akuntansi di

pemerintahan. Banyak pendapat antara mengadopsi standar internasional atau

disesuaikan dengan kondisi yang ada di pemerintahan Indonesia. Adanya

kebimbangan ini didasarkan karena dokumen dasar yang digunakan yakni Surat

Perintah Membayar (SPM) masih didasarkan pada basis kas (Bastari, 2004).

Menurut Bastari (2004), ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan oleh

pemerintah Indonesia sebelum mengadopsi secara penuh standar akuntansi

internasional, salah satu alasannya yakni adanya pernyataan dari Ronald J. Points

sebagai Presiden IFAC pada diskusi terbatas dengan Komite Standar di Jakarta

pada 10 Oktober 2002, yang mengatakan bahwa, ketika menerapkan standar

akuntansi suatu pemerintahan, alangkah baiknya jika disesuaikan dengan kondisi

dan kebutuhan suatu negara tersebut karena tidak semua standar internasional

cocok diterapkan dalam suatu negara.


18

2.3 Perkembangan Standar Akuntansi Pemerintahan di Dunia

Perkembangan standar akuntansi dunia terjadi karena ketidakpuasan yang

dipicu oleh kondisi utang pemerintah yang terus meningkat, pajak yang kian

tinggi, serta turunnya pertumbuhan ekonomi. Hal ini terjadi di beberapa negara

seperti New Zealand, Australia, dan Inggris sekitar pada tahun 1970-an dan 1970-

an. Dengan kondisi yang demikian, maka pemerintah diharapkan agar memiliki

manajemen sektor publik yang lebih akuntabel (Buhr, 2010). Sejarah

menceritakan bahwa salah satu negara yang paling terlihat kompleks

permasalahannya adalah New Zealand, yakni ketika New Zealand mengalami

stagnansi ekonomi yang membuat mereka melakukan inovasi untuk menjalankan

privatisasi dan desentralisasi di sektor publik. Pada tahun 1983, Perdana Menteri

Australia yakni Robert Hawke mendukung ide tentang pengelolaan berdasarkan

output, sehingga Australia melakukan privatisasi, restrukturisasi pemerintah, serta

melakukan evaluasi agar tercapai suatu tujuan yang baik (Janet & Robert, 2007).

Bentuk privatisasi dan restrukturisasi, salah satunya yakni dengan

memperbaharui standar akuntansi pemerintahan yang lebih akuntabel dan

memenuhi tujuan dari pengelolaan manajemen sektor publik yang lebih baik.

Standar akuntansi pemerintah dirasa memiliki pengaruh yang cukup signifikan

untuk memberikan informasi tentang kondisi laporan keuangan, sehingga

nantinya dapat dijadikan acuan untuk pengambilan suatu keputusan secara efektif

dan efisien (Organization for Economic Co-operation and Development, 2002).

Akan tetapi, untuk menerapkan basis akrual pada standar akuntansi pemerintahan

ternyata tidak mudah. Banyak negara-negara membutuhkan waktu yang cukup


19

lama karena kurangnya kebutuhan komparatif laporan keuangan antarsektor

publik untuk menilai kinerja (Jones dalam Buhr, 2012). Dalam proses

implementasinya basis akrual di negara lain ternyata juga memiliki tahapan demi

tahapan, yakni mulai basis kas, basis kas yang dimodifikasi, basis akrual yang

dimodifikasi, dan terakhir adalah basis akrual (Damayanti, 2013).

2.4 Pendekatan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dalam "Free Market

Perspective dan Pro-Regulation Perspective"

Proses terjadinya perubahan basis standar akuntansi pemerintahan,

menimbulkan berbagai asumsi tentang apa yang mendasari perubahan tersebut.

Jika mengacu pada The Regulation of Financial Accounting (Deegan & Unerman,

2006) terdapat dua teori yang dapat menggambarkan tentang latar belakang dari

perubahan standar akuntansi pemerintahan ini, yakni free market perspective dan

pro-regulation perspective. Free Market Perspective, tentu saja mengacu pada

perspektif pasar (permintaan para stakeholder yang berkepentingan dengan pasar

tersebut). Hal ini didukung dengan pendapat para pakar teori akuntansi, seperti

Jensen & Meckling (1976), Watts & Zimmerman (1978), Smith & Warner (1979),

serta Smith & Watts (1982) dalam Deegan & Unerman (2006), yang

mendefinisikan tentang free market perspective, yakni "Even in the absence of

regulation, there are private economics-based incentives for the organization to

provide credible information about its operations and performance to certain

parties outside the organization, otherwise the costs of the organization's

operations will rise". Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa jika tidak ada
20

sebuah regulasi pun, suatu perusahaan pasti akan memberikan informasi yang

kredible tentang operasi dan kinerja mereka kepada para pihak-pihak yang ada di

luar organisasi.

Perspektif yang kedua yakni pro-regulation perspective, yakni semua

berpedoman regulasi yang telah ditetapkan dengan tujuan agar semuanya

mendapatkan informasi yang sama sesuai dengan regulasi yang telah ditetapkan.

Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Deegan & Unerman (2006), yakni:

"Regulators often use the 'level playing field' argument to justify putting
regulations in place. From a financial accounting perspective, this means
that everybody should (on the basis of fairness) have access to the same
information. This is the basis of laws that prohibit insider trading, which
rely upon an acceptance of the view that there will not be, or perhaps
should not be, transfers of wealth between parties simply because one
party has access to information which others do not".

Dengan adanya regulator ini akan memberikan akses informasi yang sama, dan

mengurangi terjadinya asimetri informasi.

Jika melihat pengertian yang demikian perubahan standar akuntansi

pemerintahan saat ini lebih dominan dipengaruhi oleh "The Pro-Regulation

Perspective", meskipun dalam perkembangan akuntansi dunia menyebutkan

bahwa hal ini juga dipengaruhi oleh pendapat masyarakat yang menilai bahwa

sektor publik kurang memberikan informasi yang akuntabel dan transparan.

2.5 Teori Institusional

Teori institusional sangat erat kaitannya dengan sebuah lingkungan suatu

organisasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Carruthers (1995) bahwa paham

new institutionalism menggambarkan tentang struktur dari suatu organisasi


21

dipengaruhi oleh lingkungan sosial dimana dia berada. Jadi, jika berbicara

mengenai teori institusional, pasti berbicara juga mengenai bagaimana cara suatu

organisasi tersebut menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tujuan dari

pembentukan struktur organisasi adalah mencapai kesuksesan dengan

diperolehnya suatu pengakuan (legitimasi) atas segala kegiatan organisasi yang

telah dikerjakan untuk meningkatkan keluaran (outcome) yang efisien.

Bentuk penyesuaian diri dari suatu organisasi tersebut adalah dengan

berusaha menjadi mirip dengan organisasi lain yang biasa disebut dengan

isomorphism. Menurut DiMaggio & Powell (1983), isomorphism adalah suatu

proses yang memberikan batasan atau memaksa suatu organisasi agar menyerupai

dengan organisasi yang lain dalam kondisi lingkungan yang sama. Akan tetapi,

terkadang isomorphism tersebut akan memberikan tekanan institusional pada

organisasi, karena mereka harus melakukan perubahan yang sama (homogenitas)

(Meyer & Rowan,1997; Scott, 1995), dengan mereka merasa harus kerja keras

untuk menjadi sama tersebut.

Terdapat 3 (tiga) macam bentuk isomorphism, yakni (1) Mimetic

Isomorphism adalah peniruan organisasi dengan respon ketidakpastian; (2)

Coercive Isomorphism menunjukkan adalah organisasi mengambil beberapa cara

untuk melakukan adopsi dikarenakan tekanan negara (pengaruh politik),

organisasi yang memiliki kekuasaan lebih besar yang hal ini berdampak pada

legitimasi; (3) Normative Isomorphism, berkaitan dengan norma yang berlaku

(DiMaggio & Powell, 1983).


22

2.5.1 Mimetic Isomorphism

Menurut Nee (2003), alasan dari ketidakpastian dalam mimetic isomorphism

ini karena sedikitnya contoh organisasi yang ditiru, yang menyebabkan mereka

harus mencontoh dengan mengalami ambiguitas (kebingungan). Akan tetapi, hal

ini akan tetap dilakukan oleh organisasi dengan tujuan untuk meningkatkan

pengakuan mereka (legitimasi). Alasan yang lainnya adalah agar suatu organisasi

tersebut tidak tertinggal dengan organisasi lain yang sudah mapan (Hasbiy, 2015).

2.5.2 Coercive Isomorphism

Menurut DiMaggio & Powell (1983), coercive isomorphism adalah suatu

tekanan yang berasal dari organisasi lain yang memiliki kekuasaan lebih besar,

seperti negara. Melihat adanya tekanan dari organisasi yang mempunyai pengaruh

yang cukup besar, apalagi jika berhubungan dengan ketentuan negara, maka hal

ini akan menjadi desakan bagi suatu organisasi tersebut untuk berusaha

menyesuaikan diri agar memperoleh pengakuan (legitimasi).

2.5.3 Normative Isomorphism

Normative isomorphism, tentu saja hal ini berkaitan erat dengan norma-norma

yang berlaku dalam suatu organisasi tersebut. Ada beberapa hal yang menarik dari

normative isomorphism, yakni : (1) latar belakang pendidikan formal, dan sebuah

legitimasi yang berdasar dari aspek kognitif dari perguruan tinggi; (2) tingkat

pertumbuhan lembaga profesional yang akan memunculkan praktik baru di

seluruh organisasi (DiMaggio & Powell, 1983). Dalam normative isomorphism,


23

mereka melakukan promosi atas standar normatif yang membuat mereka (para

profesional) tersebut dapat setara dengan suatu organisasi. Para profesional

tersebut memiliki ikatan kuat dengan suatu badan profesional mereka masing-

masing (Greenwood & Hinings, 1996).


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Dalam ilmu metodologi penelitian terdapat berbagai macam jenis penelitian

yang dapat dilakukan oleh peneliti, yakni penelitian kualitatif dan penelitian

kuantitatif. Saat ini, jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah

penelitian kualitatif. David Williams (1995) dalam Moleong (1989) memaparkan

pernyataan mengenai penelitian kualitatif yakni sebuah pengumpulan data pada

suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh

peneliti yang tertarik secara alamiah. Pendapat lain mengenai penelitian kualitatif

juga telah dikemukakan oleh Denzin & Lincoln (1987) dalam Moleong (1989)

yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang

menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi

dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.

Jenis penelitian kualitatif ini dipilih oleh peneliti dikarenakan penelitian ini

bersifat mementingkan suatu proses dan bersifat deskriptif. Deskriptif dalam

konteks penelitian ini adalah menjelaskan dan menguraikan secara "gamblang"

setiap data yang diperoleh oleh peneliti yang menunjukkan tentang bagaimana

bentuk implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual dalam

perspektif teori institusional di Pemerintah Kota Malang.

24
25

3.2 Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian adalah sebuah pandangan yang dianut oleh peneliti

untuk menunjukkan arah atau pola pikir dalam model penelitiannya. Menurut

Moleong (1989), paradigma juga berarti usaha untuk menemukan kebenaran atau

untuk membenarkan sebuah kebenaran. Pendefinisian mengenai paradigma juga

dikemukakan oleh Baker (1992) dalam Moleong (1989) dimana paradigma

merupakan seperangkat aturan (tertulis dan tidak tertulis) yang menunjukkan dua

hal, yakni (1) hal yang membangun atau mendefinisikan batas-batas; (2) hal yang

menceritakan tentang bagaimana seharusnya melakukan sesuatu di dalam batas-

batas agar dapat berhasil.

Dengan berbagai definisi mengenai paradigma maka dalam sebuah penelitian,

paradigma ini perlu ada dalam konsep dan pemikiran sang peneliti agar mampu

mengembangkan sebuah ilmu pengetahuan yang sebelumnya telah maupun belum

ada. Di sisi lain adanya ilmu pengetahuan ini juga digunakan sebagai seperangkat

keyakinan bagi peneliti atas riset yang sedang dilakukannya (Ludigdo, 2013).

Harapan dari adanya paradigma ini adalah peneliti akan memiliki pendirian yang

tetap atas penelitiannya.

Adapun paradigma yang dianut peneliti dalam riset ini adalah paradigma

interpretif. Paradigma interpretif adalah paradigma yang bertujuan untuk

menafsirkan (to interpret) dan memahami (to understand) suatu fenomena

akuntansi yang merepresentasikan suatu realitas. Sedangkan bentuk ilmu

pengetahuan yang dihasilkan penelitian interpretif ini bersifat induktif yang

menekankan pada suatu kekuatan interpretasi atas realitas yang diteliti dengan
26

logika (common sense) (Burrell & Morgan 1979; Chua, 1986 dalam Triyuwono,

2013).

Alasan peneliti menggunakan paradigma interpretif dikarenakan dalam

penelitian ini, peneliti hanya menjelaskan sesuai dengan subyektifitas informan

tentang bagaimana teori institusional mengiringi proses implementasi standar

akuntansi pemerintahan berbasis akrual dengan mengambil studi kasus di

Pemerintah Kota Malang. Sifat dari teori institusional ini sebagai alat analisis

yang nantinya akan peneliti gunakan sebagai verifikasi teori, yakni apakah

implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual mengandung unsur

teori institusional yang dimana hal ini berkaitan dengan bentuk penyesuaian diri

pemerintah daerah terhadap kebijakan pemerintah pusat.

3.3 Sumber dan Jenis Data

Dalam sebuah penelitian, keberadaan sumber dan jenis data sangatlah penting

guna sebagai bahan dalam analisis hasil penelitian. Menurut Lofland & Lofland

(1984) dalam Moleong (1989), sumber data utama dalam penelitian kualitatif

ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan. Hal demikian juga

diungkapkan oleh Bungin (2001), data kualitatif adalah data dalam bentuk kalimat

serta uraian-uraian. Sedangkan dalam konteks perolehan suatu data, sumber data

terbagi menjadi dua yakni data primer dan data sekunder. Data primer adalah data

yang diperoleh secara langsung dari informan yang menjadi obyek penelitian, data

sekunder adalah data yang diperoleh melalui pihak kedua, ketiga, dan seterusnya,

biasanya data sekunder berasal dari studi literatur.


27

Adapun macam-macam jenis data yang diungkapkan oleh Moleong (1989),

yakni sebagai berikut: (1) kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati

ataupun diwawancarai; (2) sumber tertulis, hal-hal yang berkaitan dengan buku,

majalah ilmiah, arsip data, dokumen pribadi dan dokumen resmi, (3) foto, yang

digunakan untuk menelaah sisi-sisi yang subjektif; (4) data statistik, membantu

untuk memberikan gambaran mengenai tingkat kecenderungan suatu obyek yang

diteliti.

Sumber dan jenis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sumber

data yang berupa kata-kata dan tindakan yang berasal dari sumber data primer

langsung (informan/aktor-aktor yang berperan dalam implementasi Standar

Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual di Pemerintah Kota Malang).

Sedangkan untuk jenis data dalam penelitian ini berupa deskripsi kata-kata dan

tindakan serta sumber tertulis berupa dokumen-dokumen baik pribadi maupun

resmi yang ada di Pemerintah Kota Malang terkait standar akuntansi

pemerintahan.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang valid dan akurat tentang bagaimana

implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual terjadi di

lingkungan Pemerintah Kota Malang dengan mengambil 4 (empat) sampel Satuan

Kerja Perangkat Daerah (SKPD), yakni (1) Badan Pengelola Keuangan dan Aset

Daerah Kota Malang selaku leading sector dari implementasi standar akuntansi

pemerintahan berbasis akrual; (2) Inspektorat Kota Malang selaku Aparat


28

Pengawas Internal Pemerintah; (3) Dinas Kesehatan Kota Malang selaku

perwakilan dari SKPD besar; (4) Kecamatan Blimbing Kota Malang sebagai

perwakilan dari kecamatan dan kelurahan yang ada di Pemerintah Kota Malang.

Dengan demikian, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh peneliti yakni:

observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi (Moleong, 1989). Ketiga

teknik pengumpulan data ini dirasa paling sesuai dengan kebutuhan peneliti

dikarenakan dengan proses yang demikian peneliti dapat menjadi bagian nyata

dari obyek yang akan diteliti sehingga nantinya diperoleh hasil yang sesuai

dengan sebagaimana konsep penelitian kualitatif yakni penelitian alamiah.

Adapun, penjelasan mengenai penggunaan teknik pengumpulan data dalam

penelitian ini, yakni sebagai berikut:

a. Observasi (Pengamatan)

Observasi (pengamatan) menjadi pilihan peneliti dalam proses pengumpulan

data karena peneliti akan terjun langsung dan menjadi bagian dari obyek peneliti

yakni Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Malang, Inspektorat

Kota Malang, Dinas Kesehatan Kota Malang, Kecamatan Blimbing Kota Malang.

Selain terjun langsung ke dalam bagian obyek penelitian, peneliti juga akan

melakukan observasi (pengamatan) secara tidak terstrukur. Menurut Bungin

(2007), observasi tidak terstruktur dilakukan oleh peneliti dengan tidak

menggunakan panduan observasi. Jadi, peneliti mencatat dan merekam

keseluruhan peristiwa yang ditemukan di lapangan dengan fleksibel.

Keuntungan yang diperoleh jika peneliti menggunakan metode observasi

(pengamatan) juga telah diungkapkan oleh Guba & Lincoln (1981), yakni sebagai
29

berikut: (1) teknik pengamatan ini berdasar pada pengalaman secara langsung,

sehingga mudah untuk memahami sebuah data yang diperoleh; (2) teknik

pengamatan dapat melihat dan mengamati kejadian sebagaimana yang terjadi pada

keadaan yang sesungguhnya; (3) pengamatan memungkinkan peneliti untuk

mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan proporsional

maupun pengetahuan yang diperoleh dari data; (4) cara terbaik untuk mengecek

kepercayaan data; (5) teknik pengamatan memungkinkan untuk memahami

situasi-situasi yang rumit; (6) pengganti teknik komunikasi untuk kasus-kasus

tertentu.

b. Wawancara

Penjelasan mengenai wawancara telah tercantum dalam buku Moleong

(1989) dimana wawancara merupakan sebuah percakapan dengan maksud

tertentu, yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak pewawancara (interviewer)

yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan

jawaban atas pertanyaan tersebut. Definisi wawancara juga diungkapkan oleh

Kerlinger (1995), dimana wawancara merupakan situasi peran antarpribadi

melalui tatap muka (face to face), ketika seseorang yakni pewawancara

mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-

jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seseorang yang

diwawancarai atau responden.

Metode wawancara yang dilakukan oleh peneliti dalam konteks penelitian ini

adalah wawancara pembicaraan informal dan wawancara baku terbuka.

Wawancara pembicaraan informal adalah wawancara yang jenis pertanyaannya


30

sangat bergantung pada pewawancara itu sendiri, jadi bersifat spontanitas.

Wawancara baku terbuka adalah wawancara yang menggunakan seperangkat

pertanyaan baku, dengan penyajian yang sama untuk setiap responden. Jenis

wawancara ini dilakukan jika bertujuan untuk mengurangi variasi yang dapat

terjadi antara seseorang terwawancara dengan yang lainnya (Moleong, 1989).

c. Analisis Dokumen

Analisis dokumen dalam sebuah penelitian kualitatif sangatlah penting guna

sebagai bukti analisis secara fisik. Hal ini juga telah diungkapkan oleh Moleong

(1989) dimana dokumen merupakan setiap bahan tertulis ataupun film, yang lain

dengan record. Sebuah record tidak akan dipersiapkan jikalau tidak ada

permintaan dari seorang penyidik. Jenis dokumen yang akan digunakan oleh

peneliti dalam konteks penelitian ini adalah dokumen pribadi pada saat

wawancara, kemudian dokumen-dokumen yang dimiliki oleh Badan Pengelolan

Keuangan dan Aset Daerah Kota Malang selaku penghimpun dokumen dari

keseluruhan SKPD di Pemerintah Kota Malang.

3.5 Merumuskan Informan Kunci

Merumuskan informan kunci dalam sebuah penelitian kualitatif sangatlah

penting karena informan yang mengalami langsung segala peristiwa yang ada di

lapangan (Moleong, 1989). Dalam hal ini, informan yang mengalami secara

langsung peristiwa tentang implementasi Standar Akuntansi Berbasis Akrual, dan

mereka merupakan kunci dalam hasil penelitian ini adalah Kepala Sub Bidang

Akuntansi Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Malang,
31

Penata Laporan Keuangan dan Sistem Akuntansi Instansi BPKAD Kota Malang,

Kepala Sub Bagian Penyusunan Program Inspektorat Kota Malang, Kepala Sub

Bagian Keuangan Dinas Kesehatan Kota Malang, Pejabat Pengelola Keuangan

dan Bendahara Pengeluaran Kecamatan Blimbing Kota Malang.

Adapun analisis dalam penentuan informan kunci yakni berdasar pada kondisi

dimana informan tersebut memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan

daerah, mengetahui secara "gamblang" mengenai Peraturan Pemerintah No.71

Tahun 2010 yang membahas mengenai Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis

Akrual, dan terlibat langsung dalam proses pengimplementasian Standar

Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual di Kota Malang. Berikut ini adalah

daftar dari informan kunci Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota

Malang.

Tabel 3.1
Daftar Informan Kunci

NO. NAMA INFORMAN JABATAN INFORMAN

1 Drias Leusanti, S.Pi., M.M. Kepala Sub Bidang Akuntansi dan


Pelaporan BPKAD Kota Malang

2 Dani Kristianto,S.E., Ak. Penata Laporan Keuangan dan


Sistem Akuntansi Instansi BPKAD
Kota Malang

3 Agus Purnomo Kepala Sub Bagian Penyusunan


Program Inspektorat Kota Malang

4 Budi Indriani, SE., MM. Kepala Sub Bagian Keuangan Dinas


Kesehatan Kota Malang

5 Mahmudah, SH. Pejabat Pengelola Keuangan


kecamatan Blimbing Kota Malang
32

6 S. Tutik Muriani, SE. Bendahara Pengeluaran Kecamatan


Blimbing Kota Malang

3.6 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan cara

bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah data, mensintesiskan data,

mencari pola, menemukan apa yang penting, dan membuat kesimpulan untuk

diceritakan kepada pembaca (Bogdan & Biklen, 1982). Terdapat berbagai teknik

analisis data yang menjadi pendukung dalam sebuah penelitian kualitatif, yaitu

biografi, fenomenologi, grounded theory study, studi kasus, etnografi (Creswell,

1998). Adapun teknik analisis data yang dilakukan peneliti dalam konteks

penelitian ini adalah teknik analisis data studi kasus, tepatnya adalah studi kasus

yang berada di Pemerintah Kota Malang

Studi kasus ini menjadi pilihan bagi peneliti dikarenakan peneliti ingin

memahami suatu keadaan dengan amat mendalam (Creswell, 1998), mengenai

peristiwa yang berasal dari sebuah implementasi Peraturan Pemerintah No. 71

Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual di

Pemerintah Kota Malang yang akan diujikan dengan Teori Institusional. Hal ini

juga tergolong pada studi kasus intrinsik (intrinsic case study), yang dimana

penelitian ini dilakukan karena ketertarikan atau sebuah kepedulian pada suatu

kasus khusus, yang peneliti harus memahami secara utuh kasus tersebut (Basuki,

2006). Penekanan yang terjadi pada analisis data studi kasus ini adalah terletak

pada kedalaman dan kerincian wawancara, penggambaran secara rinci, dan

pengungkapan kasus dengan sungguh-sungguh (Creswell, 1998). Jadi, nantinya


33

seorang peneliti harus menyusun rancangan sebuah laporan, agar hasilnya dapat

dipahami dengan mudah oleh pembaca. Dalam konteks penelitian ini, bentuk

implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual di Pemerintah Kota

Malang yang diujikan dengan teori institusional harus dapat dituliskan secara

"gamblang".

Adapun teknik analisis data studi kasus telah diungkapkan oleh Stake (1995),

yang dimana terdapat 4 (empat) bentuk analisis data beserta interpretasinya dalam

penelitian studi kasus, yaitu :

1. Pengumpulan kategori, peneliti mencari suatu kumpulan data dan

mengategorikannya sesuai dengan karakteristik data tersebut. Dalam konteks

penelitian ini, peneliti akan mencari data-data mengenai proses laporan

keuangan daerah yang disesuaikan dengan standar akuntansi pemerintahan

berbasis akrual dan data-data yang diperoleh dari wawancara langsung

terhadap aktor-aktor yang menjalankan standar tersebut.

2. Interpretasi langsung, peneliti akan menarik langsung makna dari sebuah data

yang telah diperoleh. Jadi, setelah memperoleh data laporan keuangan daerah

Pemerintah Kota Malang serta data-data sosial yang berkaitan dengan teori

institusional, maka peneliti akan menginterpretasikan secara langsung apakah

implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual dapat

dilaksanakan dengan baik sesuai Peraturan Pemerintah 71 Tahun 2010 atau

belum.

3. Peneliti membentuk pola dan mencari kesepadanan antara dua atau lebih

kategori. Kesepadanan ini sebenarnya merupakan pendukung dari tahap


34

sebelumnya yakni interpretasi langsung dimana nantinya hasil dari

implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual dianalisis

dengan teori institusional. .

4. Generalisasi naturalistik, peneliti akan menarik kesimpulan secara umum

(general) mengenai kondisi nyata (natural) yang terjadi di Pemerintah Kota

Malang tentang hal dasar dari implementasi standar akuntansi pemerintahan

berbasis akrual pada tahun anggaran 2015 ini.


BAB IV

IMPLEMENTASI STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN BERBASIS

AKRUAL DI PEMERINTAH KOTA MALANG TAHUN 2015

4.1 Sistem dan Kebijakan Akuntansi Pemerintah Kota Malang

Pemerintah Kota Malang telah menyiapkan dirinya untuk melakukan

perubahan dalam proses penyusunan laporan keuangannya yakni dengan cara

membuat peraturan walikota tentang sistem dan kebijakan akuntansi dengan dasar

PP. No. 71 Tahun 2010. Sistem dan kebijakan akuntansi Pemerintah Kota Malang

tersebut diatur dalam Lampiran I Peraturan Walikota Malang Nomor 14 Tahun

2014 Tentang Sistem dan Kebijakan Akuntansi. Adapun sistem akuntansi berbasis

akrual yang akan digunakan oleh para SKPD di Kota Malang menurut Peraturan

Walikota Malang No. 14 Tahun 2014, yakni sebagai berikut :

a. Berdasarkan bukti transaksi yang sah, PPK-SKPD dan Fungsi Akuntansi

PPKD menganalisa setiap transaksi dan menentukan pengaruhnya terhadap

pemilihan kode akun, yaitu akun apakah yang akan didebit atau dikredit.

b. Memilih kode akun yang sesuai untuk kemudian membuat jurnal, baik Jurnal

LRA serta Jurnal LO dan Neraca ke dalam buku jurnal.

c. Melakukan posting jurnal transaksi ke dalam buku besar masing-masing

rekening (rincian obyek).

d. Membuat Neraca Saldo (trial balance) berdasarkan saldo buku besar masing-

masing rekening (rincian obyek).

35
36

e. Menyusun Kertas Kerja (worksheet) dengan menggunakan data awal

berdasarkan Neraca Saldo yang telah dibuat.

f. Membuat Jurnal Penyesuaian untuk menyesuaikan saldo akun-akun tertentu

termasuk pengakuan atas transaksi-transaksi yang bersifat akrual.

g. Membuat Neraca Saldo Setelah Penyesuaian berdasarkan saldo buku besar

masing-masing rekening (rincian obyek) yang telah disesuaikan.

h. Menyusun Laporan Realisasi Anggaran berdasarkan Neraca Saldo Setelah

Penyesuaian. LRA disusun dengan cara memasukkan nilai saldo akun-akun

Pendapatan-LRA, Belanja, Transfer, dan Pembiayaan. Total Pendapatan-LRA

dikurangi total Belanja dan Transfer akan menghasilkan Surplus/Defisit-

LRA. Kemudian Surplus/Defisit-LRA ditambah dengan Penerimaan

Pembiayaan dan dikurangi dengan Pengeluaran Pembiayaan akan

menghasilkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) atau Sisa Kurang

Pembiayaan Anggaran (SiKPA).

i. Membuat Jurnal Penutup LRA. Kemudian posting Jurnal Penutup LRA ke

Buku Besar LRA untuk meng-nol-kan Buku Besar LRA.

j. Menyusun Laporan Operasional berdasarkan Neraca Saldo Setelah

Penyesuaian. LO disusun dengan cara memasukkan nilai saldo kelompok

akun Pendapatan-LO dikurangi dengan total Beban akan menghasilkan

Surplus/Defisit-LO.

k. Membuat Jurnal Penutup LO, dengan menutup pendapatan dan belanja

sebagai berikut : posting Jurnal Penutup LO ke Buku Besar LO untuk meng-

nol-kan Buku Besar LO.


37

l. Membuat Neraca Saldo Setelah Penutupan LRA dan LO berdasarkan saldo

buku besar masing-masing rekening (rincian obyek) baik LRA maupun LO

yang telah ditutup.

m. Menyusun Neraca berdasarkan Neraca Saldo Setelah Penyesuaian dan

Penutupan LO berdasarkan saldo buku besar masing-masing rekening

(rincian obyek) yang telah disesuaikan.

n. Setelah membuat Neraca, langkah selanjutnya adalah membuat Jurnal

Penutup Akhir untuk menutup Surplus/Defisit-LO. Jurnal Penutup Akhir ini

berfungsi untuk memasukkan unsur Surplus/Defisit-LO ke dalam Ekuitas.

o. Khusus pada pemerintah daerah selaku entitas pelaporan, menyusun Laporan

Perubahan Saldo Anggaran Lebih. Laporan Perubahan SAL disusun dengan

cara memasukkan nilai SAL awal tahun yang merupakan nilai akhir SAL

tahun sebelumnya ke dalam format Laporan Perubahan SAL dikurangi

dengan Penggunaan SAL sebagai Penerimaan Pembiayaan Tahun Berjalan.

Hasilnya kemudian diakumulasikan dengan SiLPA/SiKPA tahun berjalan

yang diperoleh dari LRA, diakumulasikan dengan Koreksi Kesalahan

Pembukuan Tahun sebelumnya serta lain-lain yang mempengaruhi nilai SAL

sehingga akan diperoleh nilai SAL akhir.

p. Khusus pada pemerintah daerah selaku entitas pelaporan menyusun Laporan

Arus Kas. LAK disusun dengan mengklasifikasikan arus kas masuk dan arus

kas keluar ke dalam kategori aktivitas operasi, aktivitas investasi, aktivitas

pendanaan, dan aktivitas transitoris. Informasi terkait arus kas masuk dan arus
38

kas keluar dapat diperoleh dari LRA karena LRA disusun berdasarkan arus

kas masuk dan keluar.

q. Menyusun Laporan Perubahan Ekuitas. LPE disusun dengan cara

memasukkan nilai awal Ekuitas yang diperoleh dari Neraca Awal Tahun ke

dalam format LPE, diakumulasi dengan Surplus/Defisit-LO tahun berjalan,

Dampak Kumulatif Perubahan Kebijakan/Kesalahan Mendasar sehingga

menghasilkan Ekuitas Akhir. Nilai Ekuitas Akhir yang ada di LPE harus

sama dengan nilai Ekuitas yang ada di Neraca. LPE disajikan dengan

menyandingkan nilai perubahan Ekuitas tahun berjalan dan tahun

sebelumnya.

r. Menyusun Catatan Atas Laporan Keuangan yang meliputi penjelasan naratif

atau rincian dari angka yang tertera pada Laporan Realisasi Anggaran,

Laporan Perubahan SAL, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Arus Kas,

dan Laporan Perubahan Ekuitas.

Adanya kebijakan ini merupakan wujud pelaksanaan atas turunnya

Permendagri No. 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar Akuntansi

Pemerintahan Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah Pasal 10 ayat (2) yang

menyebutkan bahwa penerapan SAP berbasis akrual pada pemerintah daerah

paling lambat mulai tahun anggaran 2015. Peraturan yang ada dalam Lampiran I

Peraturan Walikota Malang Nomor 14 Tahun 2014 Tentang Sistem dan Kebijakan

Akuntansi ini telah dibuat dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di Pemerintah

Kota Malang dengan tetap mengacu peraturan yang ada di atasnya mengenai

acuan untuk menerapkan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual.


39

Adapun jika digambarkan dalam bentuk visual yakni sebagai berikut :

Gambar 4.1. Gambaran Umum Sistem Akuntansi Pemerintah Kota Malang


Sumber : Lampiran I Peraturan Walikota Malang Nomor 14 Tahun 2014 Tentang
Sistem Dan Kebijakan Akuntansi

4.2 E-Finance Kota Malang

E- Finance merupakan aplikasi pengelolaan keuangan daerah Kota Malang

yang digunakan untuk mendukung penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan

Berbasis Akrual. Adapun dasar dari implementasi E- Finance digunakan oleh

Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Malang (leading sector) yakni

untuk membantu proses penyusunan laporan keuangan sesuai dengan PP No. 71

Tahun 2010 dengan harapan nantinya laporan keuangan berbasis akrual yang

disusun telah terkomputerisasi dan tersistem dengan baik. Adapun untuk

mendukung penggunaan aplikasi baru dalam basis akrual, maka Badan Pengelola

Keuangan dan Aset Daerah yang notabene sebagai leading sector dalam

implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual, akan melakukan


40

pelatihan untuk menggunakan aplikasi E-Finance ini yang dilaksanakan sebelum

tahun anggaran 2015 berlangsung. Sedangkan, untuk tahun 2015 Badan Pengelola

Keuangan dan Aset Daerah Kota Malang akan melakukan upgrading atas E-

Finance agar diperolehnya kesempurnaan atas sistem yang digunakan. Karena

untuk menggunakan sebuah aplikasi baru perlu berbagai tahapan untuk

menyempurnakannya.

Komponen yang terdapat dalam E-Finance sendiri telah disesuaikan dengan

kebutuhan dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota Malang yang

mengetahui pengelolaan keuangan di Pemerintah Kota Malang, yakni mulai dari

penganggaran sampai kepada keluarnya uang pemerintah untuk mendanai setiap

kegiatan yang dilakukan oleh SKPD. Dengan demikian, fungsi dari E-Finance

menurut Modul Panduan E-Finance Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah

Kota Malang 2014 adalah sebagai berikut :

a. Menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah untuk memenuhi

kebutuhan pengguna laporan keuangan dalam rangka meningkatkan

mengevaluasi kinerja pemerintah agar lebih efisien.

b. Pengguna dapat mengidentifikasi posisi keuangan pemerintah dan

perubahannya, bagaimana pemerintah mendanai kegiatannya sesuai

dengan kemampuan pendanaannya sehingga dapat diukur kapasitas

pemerintah yang sebenarnya.

c. Akuntansi pemerintah berbasis akrual memungkinkan pemerintah untuk

mengidentifikasi dan menganalisa kesempatan dalam menggunakan


41

sumberdaya masa depan dan mewujudkan pengelolaan yang baik atas

sumberdaya tersebut.

4.3 Program Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan Interim

Berbasis Akrual di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kota

Malang

Program pendampingan yang dilakukan oleh Badan Pengelola Keuangan dan

Aset Daerah (BPKAD) Kota Malang merupakan proses implementasi standar

akuntansi pemerintahan berbasis akrual yang ada di Kota Malang. BPKAD Kota

Malang selaku leading sector dari pengelolaan keuangan daerah Kota Malang,

membuat suatu sistem edukasi kepada para SKPD atas adanya standar akuntansi

pemerintahan yang baru, yakni basis akrual. BPKAD Kota Malang melakukan

kerja sama dengan jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya dalam proses

pendampingan ini.

Menurut kerangka acuan kerja yang dibuat oleh BPKAD Kota Malang, yang

melatarbelakangi proses pendampingan standar akuntansi pemerintahan berbasis

akrual ini, yakni sebagai berikut :

a. Adanya perbedaan antara akun anggaran dan akun pertanggungjawaban,

sehingga perlu adanya pengenalan konversi akun;

b. Adanya perbedaan pada penatausahaan Barang Milik Daerah (BMD)

dengan akun pertanggungjawaban, sehingga memerlukan konversi akun

juga dalam menyesuaikannya;


42

c. Belum ada peraturan tentang penyusutan aset, sehingga perlu adanya

edukasi lebih lanjut;

d. Belum adanya optimalisasi penatausahaan Barang Milik Daerah (BMD);

e. Saat ini, penyajian neraca belum bisa disajikan dengan basis akrual penuh,

salah satu contohnya adalah belum adanya penyusutan aset tetap. Oleh

sebab itu, dengan adanya pendampingan sebagai langkah awal BPKAD

Kota Malang untuk melakukan edukasi tentang apa itu penyusutan aset.

f. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki latar belakang

pendidikan akuntansi/ekonomi, membutuhkan perkenalan lebih mendalam

tentang standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual.

Melihat latar belakang yang demikian, maka BPKAD Kota Malang dengan yakin

ingin melakukan kerjasama dengan akademisi jurusan Akuntansi Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya sebagai salah satu usaha untuk

menerapkan standar akuntansi pemerintahan dengan baik di Pemerintah Kota

Malang.

Menurut Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang dibuat oleh BPKAD Kota

Malang, ada beberapa ruang lingkup dalam proses pendampingan laporan

keuangan interim berbasis akrual, yakni sebagai berikut :

a. Melakukan verifikasi kembali nominal dari aset tetap yang akan

disusutkan;

b. Menghitung beban penyusutan di Sistem Informasi Manajemen Barang

Daerah (SIMBADA);
43

c. Menghitung jumlah akumulasi penyusutan di Sistem Informasi

Manajemen Barang Daerah (SIMBADA);

d. Memasukkan jurnal beban penyusutan dan akumulasi penyusutan pada

aplikasi E-Finance;

e. Melakukan verifikasi atas data aset tak berwujud yang belum diketahui

masa manfaatnya, aset yang akan dihapuskan, atau aset yang akan

diamortisasi pada akhir periode;

f. Menganalisa kembali transaksi dan data neraca yang akan dilakukan

penyajian kembali (restatement);

g. Membuat neraca hasil restatement;

h. Menginput neraca hasil restatement sebagai saldo awal di aplikasi e-

Finance;

i. Menganalisa adanya transaksi akrual, seperti beban dibayar dimuka,

pendapatan diterima di muka, dan pembayaran termin belanja modal;

j. Melakukan verifikasi atas kertas kerja yang memberikan penjelasan dari

adanya perbedaan antara Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dengan

Laporan Operasional (LO);

k. Mencocokkan LO dengan neraca lajur, utang belanja, piutang pendapatan,

dan belanja modal;

l. Memverifikasi Laporan Perubahan Ekuitas (LPE);

m. Menghitung piutang dan cadangan piutang tak tertagih;

n. Membuat neraca, LRA, LO, dan LPE basis akrual melalui aplikasi e-

Finance.
44

Pendampingan terhadap SKPD ini dilakukan selama kurang lebih satu

setengah (1,5) bulan. Pada akhirnya, hasil dari pendampingan ini adalah

terciptanya laporan keuangan basis akrual secara bertahap, yakni berupa laporan

interim 30 September 2015 dan restatement laporan keuangan audited 2014 dalam

bentuk basis akrual dengan menambahkan penyusutan terhadap aset tetap.

Adapun daftar yang harus diselesaikan SKPD dalam proses pendampingan, yakni

sebagai berikut :

Tabel 4.1. Checklist Laporan Keuangan (LK) Interim Per 30 September 2015

CHECKLIST LK INTERIM PER 30 SEPTEMBER 2015


SKPD.............................
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
No. Rincian Check Catatan
1 Print out report LRA dari Aplikasi
e-Finance
2. Laporan Operasional (LO)
No. Rincian Check Catatan
1 Print out report LO dari Aplikasi
e-Finance
2 Buku Besar Utang Belanja
3 Kertas Kerja LO dan LRA
4 Neraca Lajur
3. Neraca
No. Rincian Check Catatan
1 Lembar Neraca SKPD per 31 September
2015
2 Form A-1 Kas dan Bank
3 Copy rekening koran bank SKPD Januari
s/d September
4 Surat Keterangan data uang kas (register
penutupan kas) pada bendahara
pengeluaran dan bendahara penerimaan
SKPD Januari s/d September 2015
5 Form A-1.1. Rekapitulasi Jasa giro
rekening bank bendahara pengeluaran
45

(form terlampir di CD)


6 Form A-1.2. Rekapitulasi Penerimaan
Dana Hibah/Bantuan Keuangan (Non
Barang) Non APBD yang Dikelola
Langsung oleh SKPD (form. terlampir di
CD)
7 Form A-3.1. Piutang Pajak
8 Form A-3.2. Piutang Retribusi
9 Form A-3.8. Beban Dibayar Dimuka
10 Form A-3.9. Piutang Lain-lain
11 Form A-3.10. Daftar Umur Piutang dan
Penyisihan Piutang
12 Rincian Piutang dan Rincian Realisasi
Pembayaran Pajak/Retribusi/Pelunasan
Piutang setiap Wajib Pajak/Wajib
Retribusi/Debitur
13 Polis Asuransi/Perjanjian MOU dan SP2D
Beban Dibayar Dimuka
14 Laporan barang persediaan (kartu
persediaan) hasil print out SIMBADA
15 Mapping persediaan per 30 September
2015
16 Mapping aset per 30 September 2015
17 Kartu Inventaris Barang (KIB) A Tanah
hasil print out SIMBADA + KIB A 2015
18 Kartu Inventaris Barang (KIB) B Peralatan
dan mesin hasil print out SIMBADA +
KIB B 2015
19 Kartu Inventaris Barang (KIB) C Gedung
dan Bangunan hasil print out SIMBADA +
KIB C 2015
20. Kartu Inventaris Barang (KIB) D Jalan,
Irigasi dan Jaringan hasil print out
SIMBADA + KIB D 2015
21 Kartu Inventaris Barang (KIB) E Aset
tetap lainnya hasil print out SIMBADA +
KIB E 2015
22 Kartu Inventaris Barang (KIB) F
Konstruksi dalam pengerjaan hasil print
out SIMBADA + KIB F 2015
23 Format Beban Penyusutan dan Akumulasi
Penyusutan hasil print out SIMBADA
24 Format C-5.1 Rekapitulasi Belanja
Pegawai dan Belanja Barang/Jasa yang
harus dikapitalisasi menjadi aset (Formulir
46

terlampir di CD)
25 Form C-5.2. Rekapitulasi Konstruksi
dalam pengerjaan (KDP) (form terlampir
di CD)
26 Form C-5.3. Rekapitulasi Penerimaan
Hibah Berupa Barang (form terlampir di
CD) dilampiri Berita Acara Serah Terima
Hibah Barang
27 Form E. Rekapitulasi Aset Lainnya
28 Form E-1. Buku Aset Lainnya
29 Form E-2. Penambahan Aset Lainnya
30 Form E-3. Pengurangan Aset Lainnya
31 Form E-4. Rekapitulasi Penambahan,
Mutasi, dan Pengurangan Aset Lainnya
32 Form F-1.1 Hutang PFK
33 Form F-1.2 Pendapatan Diterima Dimuka
34 Dokumen Pendukung Pendapatan Diterima
Dimuka seperti Dokumen Perjanjian Sewa,
dsb.
4. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
1 Print out report LPE dari Aplikasi
e-Finance

Sumber : Dokumen Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan Berbasis


Akrual Tahun 2015

Tabel 4.2. Checklist Restatement Neraca Audited 2014

CHECKLIST RESTATEMENT NERACA AUDITED 2014


SKPD.............................
No. Rincian Check Catatan
1 Format Restatement Kas di Bendahara
Penerimaan
Format Restatement Kas di Bendahara
Pengeluaran
Jurnal Restatement Kas
2 Format Restatement Piutang
Jurnal Restatement Piutang
3 Format Restatement Persediaan
Jurnal Restatement Persediaan
4 Format Restatement Aset Tetap Tanah
Jurnal Restatement Aset Tetap Tanah
47

5 Format Restatement Aset Tetap Peralatan


dan Mesin
Jurnal Restatement Aset Tetap Peralatan
dan Mesin
6 Format Restatement Aset Tetap Gedung &
Bangunan
Jurnal Restatement Aset Tetap Gedung &
Bangunan
7 Format Restatement Kas Jalan Irigasi dan
Jaringan
Jurnal Restatement Kas Jalan Irigasi dan
Jaringan
8 Format Restatement Aset Tetap Lainnya
Jurnal Restatement Aset Tetap Lainnya
9 Format Restatement Aset Konstruksi
Dalam Pengerjaan (KDP)
Jurnal Restatement Aset Konstruksi Dalam
Pengerjaan (KDP)
10 Format Restatement Aset Lainnya-BOT
Jurnal Restatement Aset Lainnya-BOT
11 Format Restatement Aset Lainnya-
Software
Jurnal Restatement Aset Lainnya-Software
12 Format Restatement Aset Lainnya-Kajian
Jurnal Restatement Aset Lainnya-Kajian
13 Format Restatement Aset Lain-lain
Jurnal Restatement Aset Lain-lain
14 Format Restatement Utang PFK
Jurnal Restatement Utang PFK
15 Format Restatement Pendapatan
Ditangguhkan
Jurnal Restatement Pendapatan
Ditangguhkan
16 Laporan Rekap Penyusutan Per Bidang
Kelompok Barang
17 Laporan Rekap Penyusutan Per Bidang
Kelompok Barang Sub
18 Neraca Restatement per 31 Desember 2014
19 Format Rincian Aset Tak Berwujud per 31
Desember 2014

Sumber : Dokumen Pendampingan Penyusunan Laporan Keuangan Berbasis


Akrual Tahun 2015
48

Kedua checklist tersebut dibuat secara umum tentang apa saja yang dibutuhkan

untuk memenuhi laporan keuangan yang berbasis akrual, akan tetapi pada

pelaksanaannya menyesuaikan dengan karakteristik SKPD tersebut. Misalnya

checklist dari kelurahan pasti akan berbeda dengan checklist dari bagian

pemerintahan maupun SKPD besar seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pekerjaan

Umum, Dinas Perhubungan, dan sebagainya.

Ketika proses pendampingan telah sampai pada restatement ini, terjadi

beberapa kendala di lapangan yakni bagian aset belum siap atas data aset yang

akan digunakan untuk restatement. Sehingga pihak akademisi dan konsultan yang

membantu dalam proses pendampingan ini, harus mengalami kemoloran waktu

hingga 2 (dua) minggu lamanya. Bagian aset harus melakukan reklasifikasi aset

yang tercantum dalam neraca audited 2014. Sehingga hal ini memakan waktu

yang cukup lama mengingat akun dalam SIMBADA dan E-Finance tidaklah

sama. Karena akun yang terdapat dalam E-Finance telah mengacu pada Bagan

Akun Standar.

Setelah data siap, masalah timbul kembali dari pihak sumber daya manusia di

beberapa SKPD yang terlambat dalam mengerjakannya, sehingga hal ini menjadi

penghambat bagi BPKAD untuk melakukan pengecekan kembali. Meskipun harus

memerlukan waktu yang diluar target, akan tetapi sudah terdapat beberapa hasil

dari pendampingan yang dapat dijadikan acuan dalam Laporan Keuangan

Berbasis Akrual Tahun 2015.


49

Adapun beberapa item hasil dari proses pendampingan laporan keuangan audited

2014, yakni sebagai berikut :

Memo Penyesuaian (Restatement)

Nomor :01/Kel.SWJR/MP/SA/2015
Tanggal :
SKPD : KEL. SAWOJAJAR
(dalam rupiah)
No. Kode Akun Dr. Cr.
1 3 1 1 01 01 Ekuitas 10,071,000.00
1 3 7 01 04 Akumulasi Penyusutan Alat Angkutan Darat 10,071,000.00
Bermotor

2 3 1 1 01 01 Ekuitas 13,498,500.00
1 3 7 01 14 Akumulasi Penyusutan Alat Kantor 13,498,500.00

3 3 1 1 01 01 Ekuitas 10,934,500.00
1 3 7 01 15 Akumulasi Penyusutan Alat Rumah Tangga 10,934,500.00

4 3 1 1 01 01 Ekuitas 18,484,500.00
1 3 7 01 16 Akumulasi Penyusutan Peralatan Komputer 18,484,500.00

5 3 1 1 01 01 Ekuitas 3,800,500.00
1 3 7 01 17 Akumulasi Penyusutan Meja Dan Kursi 3,800,500.00
Kerja/Rapat Pejabat

6 3 1 1 01 01 Ekuitas 30,900,500.00
1 3 7 01 18 Akumulasi Penyusutan Alat Studio 30,900,500.00

7 3 1 1 01 01 Ekuitas 84,375.00
1 3 7 01 23 Akumulasi Penyusutan Unit-Unit Laboratorium 84,375.00

JUMLAH 87,773,875.00 87,773,875.00

Gambar 4.2. Contoh Perhitungan Akumulasi Penyusutan Neraca Audited


2014

Sumber : Dokumen BPKAD Kota Malang (diolah)


50

PEMERINTAH KOTA MALANG


KELURAHAN SAWOJAJAR
NERACA (RESTATEMENT)
PER 31 DESEMBER 2014
(dalam rupiah)
NO URAIAN 2014
1 ASET
2 ASET LANCAR
3 Kas di Bendahara Pengeluaran 6,012.72
4 Kas di Bendahara Penerimaan -
5 Piutang Pajak Daerah -
6 Piutang Retribusi Daerah -
7 Penyisihan Piutang -
8 Beban Dibayar Dimuka -
9 Piutang Lainnya -
10 Persediaan -
11 Jumlah Aset Lancar 6,012.72
12
13 ASET TETAP
14 Tanah -
15 Peralatan dan Mesin 112,109,500.00
16 Gedung dan Bangunan -
17 Jalan, Irigasi dan, Jaringan -
18 Aset Tetap Lainnya 38,850,000.00
19 Konstruksi Dalam Pengerjaan -
20 Akumulasi Penyusutan (59,962,804.00)
21 Jumlah Aset Tetap 90,996,696.00
22
23 ASET LAINNYA
24 Kemitraan dengan Pihak Ketiga -
25 Aset Tak Berwujud -
26 Aset Lain-lain 47,282,024.00
27 Akumulasi Amortisasi -
28 Jumlah Aset Lainnya 47,282,024.00
29
30 JUMLAH ASET 138,284,732.72
31
32 KEWAJIBAN
33 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
34 Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) -
35 Pendapatan Diterima Dimuka -
36 Utang Belanja -
37 Utang Jangka Pendek Lainnya -
38 Jumlah Kewajiban Jangka Pendek -
39 JUMLAH KEWAJIBAN -
40
41 EKUITAS
42 EKUITAS
43 Ekuitas 138,284,732.72
44 RK PPKD -
45 JUMLAH EKUITAS 138,284,732.72
46 JUMLAH KEWAJIBAN D 138,284,732.72

Gambar 4.3. Contoh Neraca Audited 2014 Setelah Penyusutan


Sumber : Dokumen BPKAD Kota Malang
51

Gambar tersebut merupakan hasil nyata BPKAD yang notabene sebagai leading

sector untuk menjadi koordinator bagi SKPD-SKPD lain dalam

mengimplementasikan PP No. 71 Tahun 2010 dan Permendagri No. 64 Tahun

2013 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual. Meskipun harus

melalui tahapan yang cukup panjang dan kerja keras untuk melakukan proses

implementasi standar akuntansi berbasis akrual ini, langkah ini merupakan bentuk

ketaatan Pemerintah Kota Malang dalam menjalankan peraturan tentang standar

akuntansi pemerintahan yang baru, yakni basis akrual.


BAB V

HASIL ANALISIS

Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan mengenai analisis mendalam

tentang standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual dalam perspektif teori

institusional di Pemerintah Kota Malang. Peneliti menggunakan 4 (empat) SKPD

yang mewakili dalam analisis ini, yakni Badan Penglola Keuangan dan Aset

Derah (BPKAD) Kota Malang (leading sector), Inspektorat Kota Malang, Dinas

Kesehatan Kota Malang, dan Kecamatan Blimbing Kota Malang. Keempat SKPD

tersebut telah menggambarkan kondisi yang ada di lapangan mengenai

implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual, karena telah

mewakili dari pihak leading sector pengelolaan keuangan daerah Pemerintah Kota

Malang, pihak audit internal Pemerintah Kota Malang, dinas besar (SKPD yang

memiliki kompleksitas dalam jumlah asetnya), dan bagian kecamatan/kelurahan.

Hasil analisis ini diperoleh dari proses pengambilan data melalui wawancara,

pengamatan secara psikologi terhadap informan, dan melihat kondisi lapangan

secara langsung tentang praktik implementasi standar akuntansi pemerintahan

berbasis akrual di Kota Malang melalui proses pendampingan terhadap para

SKPD. Setelah itu, peneliti akan menjabarkan bagaimana proses institusionalisasi

implementasi standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual ini dapat terjadi di

Pemerintah Kota Malang. Sehingga, nantinya akan diperoleh sebuah penjelasan

secara mendalam tentang kondisi implementasi standar akuntansi pemerintahan

berbasis akrual dalam perspektif teori institusional.

52
53

5.1 Latar Belakang Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan

Berbasis Akrual di Pemerintah Kota Malang

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) merupakan salah satu ujung tombak

dari sebuah pengelolaan keuangan daerah yang baik, akuntabel, dan transparan.

Memiliki standar akuntansi pemerintahan yang baku telah menjadi harapan

bangsa Indonesia sejak masa reformasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bastari

(2004) bahwa implementasi UU No. 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan

Keuangan antara Pusat dan Daerah dan PP No. 105 Tahun 2000 Tentang Pokok-

Pokok Pengelola dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah tidak dapat

terlaksana dengan baik karena pada saat itu belum memiliki pedoman yang jelas

secara teknis mengenai pembuatan laporan keuangan. Setelah itu, pemerintah

melakukan kajian dan langsung mengeluarkan paket undang-undang di bidang

reformasi keuangan khususnya akuntansi pemerintahan yakni dimulai dari UU

No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, PP No. 24 Tahun 2005 Tentang

Standar Akuntansi Pemerintahan (Cash Towards Accrual), PP No. 71 Tahun 2010

Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Accrual), dan puncaknya berada pada

Permendagri No. 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar Akuntansi

Pemerintahan Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah.

Dengan turunnya Permendagri No. 64 Tahun 2013 Pasal 10 Ayat (2) yang

menyebutkan bahwa "Penerapan SAP berbasis akrual pada pemerintah daerah

paling lambat mulai tahun anggaran 2015" inilah yang membuat seluruh

pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kota Malang mau tidak mau harus

mempersiapkan diri untuk menerapkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)


54

Berbasis Akrual. Berbagai cara telah dilakukan oleh BPKAD Kota Malang selaku

leading sector pengelola keuangan daerah Pemerintah Kota Malang, mulai dari

membuat kebijakan, melakukan sosialisasi, melakukan syudi banding, sampai

mengadakan pendampingan/asistensi yang bekerja sama dengan pihak civitas

akademika Universitas Brawijaya untuk membantu serta mengedukasi pembuatan

laporan keuangan basis para SKPD.

5.2 Proses Institusionalisasi dalam Implementasi SAP Basis Akrual di

Pemerintah Kota Malang

Awal mula proses institusionalisasi dalam implementasi SAP basis akrual di

Pemerintah Kota Malang terjadi ketika Kementerian Dalam Negeri mulai

mengeluarkan aturan untuk menerapkan SAP basis akrual paling lambat tahun

2015. Peraturan ini tercantum dalam Permendagri No. 64 Tahun 2013 Pasal 10

ayat (2). Kemudian, peraturan dari pusat mulai turun kepada lembaga yang ada di

bawahnya yakni pemerintah tingkat provinsi dan pemerintah daerah. Hal ini

sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Bu Drias (BPKAD), yakni

sebagai berikut :

"...Untuk pelaksanaan berbasis akrual, sebenarnya Kota Malang mulai tahun


2013, 2014. Kebetulan Dirjen Perbendaharaan Kantor Wilayah yang ada di
Jawa Timur melakukan pembinaan ke seluruh PEMDA, dalam hal ini ada
sosialisasi, bimtek, pelatihan terkait akrual. Kalau saya bandingkan dengan
provinsi daerah lain, Provinsi Jawa Timur pembinaannya bagus. BPKAD
Provinsi Jawa Timur aware terhadap pelaksanaan Standar Akuntansi
Pemerintahan Berbasis Akrual. Salah satunya selain disamping melakukan
bimtek, Dirjen Perbendaharaan memonitor, mengevaluasi, contohnya kan
kita harus membuat kebijakan akuntansi, membuat regulasi terkait akrual,
kita dipantau dan ditanyai bagaimana Kota Malang? Sudah jadi atau belum
regulasinya?...".
55

Dari pernyataan tersebut telah terlihat tentang bagaimana awal mula implementasi

SAP basis akrual ini dapat benar-benar terlaksana di tingkat pemerintah daerah.

Setelah berbagai macam perkenalan mengenai SAP berbasis akrual yang

dijelaskan melalui sosialisasi, bimtek, dan banyak pelatihan lainnya, Pemerintah

Kota Malang mulai melakukan strateginya tentang bagaimana SAP basis akrual

ini dapat terlaksana pada tahun 2015. Adapun langkah-langkah yang dilakukan

BPKAD selaku leading sector dari pengelola keuangan daerah di Kota Malang,

yakni sebagai berikut :

1. Membuat kebijakan : BPKAD selaku leading sector dari pengelola

keuangan daerah Kota Malang memiliki kewajiban untuk mengatur segala

kebijakan terkait mekanisme pengelolaan keuangan daerah Kota Malang,

dalam hal ini termasuk standar akuntansi pemerintahan yang digunakan.

Setelah mendapatkan perintah atas Permendagri No. 64 Tahun 2013,

bidang akuntansi BPKAD Kota Malang langsung melakukan diskusi

terkait sistem dan kebijakan akuntansi Kota Malang pada tahun 2014, dan

akhirnya tertuang dalam Lampiran I Peraturan Walikota Malang Nomor

14 Tahun 2014 Tentang Sistem dan Kebijakan Akuntansi. Dalam Perwal

ini telah tertuang secara tegas mengenai sistem kebijakan akuntansi basis

akrual. Hal ini ada dalam salah satu prinsip akuntansi dan pelaporan

keuangan yang berbunyi bahwa basis akuntansi yang digunakan dalam

laporan keuangan pemerintah daerah adalah basis akrual, untuk pengakuan

pendapatan-LO, beban, aset, kewajiban, dan ekuitas. Dalam hal peraturan

perundangan mewajibkan disajikannya laporan keuangan dengan basis


56

kas, maka entitas wajib menyajikan laporan demikian. Basis akrual untuk

LO berarti bahwa pendapatan diakui pada saat hak untuk memperoleh

pendapatan telah terpenuhi walaupun kas belum diterima di RKUD atau

oleh entitas pelaporan. Beban diakui pada saat kewajiban yang

mengakibatkan penurunan nilai kekayaan bersih telah terpenuhi walaupun

kas belum dikeluarkan dari RKUD atau entitas pelaporan. Pendapatan

seperti bantuan pihak luar/asing dalam bentuk jasa disajikan pula pada LO.

Dalam hal anggaran disusun dan dilaksanakan berdasarkan basis kas,

maka LRA disusun berdasarkan basis kas, berarti bahwa pendapatan dan

penerimaan pembiayaan diakui pada saat kas diterima di RKUD atau oleh

entitas pelaporan. Belanja, transfer, dan pengeluaran pembiayaan diakui

pada saat kas dikeluarkan dari RKUD. Basis akrual untuk Neraca berarti

bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas diakui dan dicatat pada saat terjadinya

transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh

pada keuangan pemerintah daerah tanpa memperhatikan saat kas atau

setara kas diterima atau dibayar. Peraturan Walikota yang dibuat ini juga

tidak terlepas dari undang-undang yang ada di atasnya yakni PP No.71

Tahun 2010.

2. Melakukan Sosialisasi : Sosialisasi dilakukan setelah Peraturan Walikota

tentang Sistem dan Kebijakan Akuntansi telah selesai, yakni sekitar bulan

Oktober 2014. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Bu Drias

(BPKAD) sebagai berikut :


57

"...Sosialisasi ini kita lakukan di bulan Oktober 2014. Kemudian setelah


acara selesai, saya putarkan film pendek tentang proses belajar, bahwa
dalam hidup kita tidak boleh berhenti belajar."

Ketika melakukan sosialiasi, cara yang dilakukan oleh BPKAD untuk

memperkenalkan SAP basis akrual ini unik dan menarik. Bu Drias sampai

memesan mug, kaos, merchandise yang bertuliskan semua tentang SAP

akrual. Tujuannya adalah agar SKPD-SKPD mengenal lebih familiar

tentang akrual dan tidak takut menghadapi perubahan-perubahan yang

terjadi atas sistem akuntansi pemerintahan yang baru ini. Selain

memperkenalkan tentang apa itu akrual, Bu Drias beserta tim akuntansi

BPKAD Kota Malang juga mengajukan beberapa pertanyaan terkait

akrual, atau praktik secara tekni agar mereka lebih paham mengenai SAP

basis akrual.

3. Melakukan Studi Banding : Studi banding juga dilakukan oleh BPKAD

Kota Malang untuk melihat pelaksanaan SAP basis akrual di kota-kota lain

yang telah berhasil menjalankannya terlebih dahulu. Tujuannya adalah

untuk mencari referensi tentang bagaimana menjalankan akrual ini dengan

baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang ada di peraturan PP No. 71

Tahun 2010. Beberapa kota yang dikunjungi oleh BPKAD Kota Malang

yakni Kabupaten Banyuwangi dan Kota Semarang. Menurut Bu Drias,

hasil dari studi banding tersebut, yakni diungkapkan dalam sesi

wawancara dengan peneliti yakni sebagai berikut:

"...Waktu studi banding yang paling siap Banyuwangi, Semarang sudah


jalan sebelum Permendagri 64 karena waktu itu Walikotanya akuntan.
Jadi, Banyuwangi satu langkah lebih cepat meskipun masih adjustment.
58

Jadi mereka prosesnya masih CTA, cuma adjustmennya dia memakai 7


laporan keuangan sesuai SAP akrual".

Pada saat melakukan studi banding, sayangnya BPKAD tidak mengajak

beberap SKPD untuk turut melihat implementasi secara langsung SAP

basis akrual di kota-kota lain. Setidaknya, jika ada beberapa perwakilan

SKPD yang ikut, hal ini akan memacu mereka untuk mengenal akrual

lebih dalam dan menjalankannya sesuai dengan ketentuan dan aturan yang

berlaku.

4. Pendampingan ke SKPD : Pendampingan kepada SKPD ini dilakukan

oleh BPKAD Kota Malang yang bekerja sama dengan civitas akademika

Universitas Brawijaya, yakni jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan

Bisnis. Tujuan BPKAD untuk melakukan pendampingan kepada SKPD

adalah untuk mengedukasi serta membantu pembuatan laporan keuangan

basis akrual pertama kali di Pemerintah Kota Malang. Pendampingan ini,

pertama kali diadakan mulai bulan November 2015 sampai Desember

2015, yakni untuk membantu melakukan restatement, penyusutan, dan

pembuatan laporan keuangan interim cut off 30 September 2015.

Pembuatan laporan keuangan interim ini dilakukan agar BPKAD

mengetahui terlebih dahulu hasil sementara dari laporan keuangan berbasis

akrual sebelum melakukan pembuatan laporan keuangan akhir pada bulan

Februari 2016 nanti. Ketika peneliti melakukan wawancara ke beberapa

SKPD, tanggapan beliau atas adanya pendampingan ini, yakni sebagai

berikut :
59

"Wah, sangat membantu mbak. Dukanya kalau takut kurang gitu aja. Tapi
kan alhamdulillah sudah clear. Sangat membantu adik-adik dari UB".

Dari percakapan ini, jelas terlihat bahwa SKPD sangat membutuhkan

pendamping pada saat melakukan proses pembuatan laporan keuangan

berbasis akrual ini. Mengingat SDM yang ada tidak semua mempunyai

latar belakang akuntansi. Selain itu, kondisi SDM yang ada di kelurahan

juga kebanyakan telah tidak berusia muda, sehingga mereka memerlukan

pendamping untuk menjelaskan jurnal-jurnal, dan segala pernak-pernik

yang ada dalam SAP berbasis akrual.

Proses institusionalisasi dalam implementasi SAP basis akrual adalah suatu

proses pelembagaan yang terjadi di Pemerintah Kota Malang tentang cara-cara

yang dilakukan oleh BPKAD sebagai leading sector pengelolaan keuangan daerah

di Kota Malang untuk melaksanakan sistem akuntansi pemerintahan yang baru ini

sesuai dengan aturan yang berlaku yakni PP No. 71 Tahun 2010 dan Permendagri

No. 64 Tahun 2013.

5.3 Analisis Isomorphism dalam SAP Basis Akrual di Pemerintah Kota

Malang

Menurut DiMaggio & Powell (1983), isomorphism adalah suatu proses yang

memberikan batasan atau memaksa suatu organisasi agar menyerupai dengan

organisasi yang lain dalam kondisi lingkungan yang sama. Hal ini terjadi dalam

implementasi SAP berbasis akrual di Pemerintah Kota Malang yang mana

Pemerintah Kota Malang akan berusaha semaksimal mungkin untuk

melaksanakan SAP berbasis akrual ini, karena Pemerintah Kota Malang sedang
60

berada di lingkungan suatu instansi pemerintah yang mengharuskan untuk

mematuhi peraturan tentang penerapan SAP basis akrual pada tahun 2015 yang

tertuang pada Permendagri No. 64 Tahun 2013 Pasal 10 ayat (2). Menurut

DiMaggio & Powell (1983), ada 3 (tiga) bentuk dalam isomorphism ini, yakni

Mimetic Isomorphism, Coercive Isomorphism, dan Normative Isomorphism.

Dalam hal ini, peneliti akan menguraikan ketiga bentuk isomorphism yang terjadi

di keempat SKPD (BPKAD, Inspektorat, Dinas Kesehatan, dan Kecamatan

Blimbing) yang menjadi sampel dalam penelitian ini.

5.3.1 Mimetic Isomorphism dalam Implementasi SAP Basis Akrual di

Pemerintah Kota Malang

Menurut Nee (2003), alasan dari ketidakpastian dalam mimetic isomorphism

ini karena sedikitnya contoh organisasi yang ditiru, yang menyebabkan mereka

harus mencontoh dengan mengalami ambiguitas (kebingungan). Jadi, karena

implementasi SAP berbasis akrual ini merupakan peraturan yang baru, yang tidak

semua pemerintah daerah telah mampu untuk menjalankan, maka pada saat itu

pemerintah pusat melakukan pilot project pada tahun 2014 untuk menerapkan

SAP berbasis akrual terlebih dahulu. Adapun salah satu pemerintah daerah yang

ditunjuk sebagai pilot project saat itu adalah Kabupaten Banyuwangi. Kemudian,

langkah mimetic isomorphism yang dilakukan oleh BPKAD untuk dapat

menerapkan SAP basis akrual di Pemerintah Kota Malang yakni dengan

melakukan studi banding ke beberapa kota/kabupaten yang sekiranya sudah

mengawali penerapan SAP basis akrual ini, seperti Kabupaten Banyuwangi dan
61

Kota Semarang. Hal ini tercantum dalam percakapan antara peneliti dengan Bu

Drias (BPKAD) yakni sebagai berikut :

"...Waktu studi banding yang paling siap Banyuwangi, Semarang sudah


jalan sebelum Permendagri 64 karena waktu itu Walikotanya akuntan.
Jadi, Banyuwangi satu langkah lebih cepat meskipun masih adjustment.
Jadi mereka prosesnya masih CTA, cuma adjustmennya dia memakai 7
laporan keuangan sesuai SAP akrual".

Terdapat banyak pelajaran yang diterima oleh BPKAD setelah melakukan studi

banding ini, salah satunya BPKAD mengerti bahwa pengakuan penyusutan aset di

kota tersebut. Akan tetapi, dalam menerapkan SAP basis akrual ini secara benar

baik teknis maupun secara teori, BPKAD Kota Malang terus melakukan kajian-

kajian yang dapat mendukung mereka untuk dapat menerapkan SAP basis akrual

ini dengan baik di Kota Malang.

5.3.2 Coercive Isomorphism dalam Implementasi SAP Basis Akrual di

Pemerintah Kota Malang

Menurut DiMaggio & Powell (1983), coercive isomorphism adalah suatu

tekanan yang berasal dari organisasi lain yang memiliki kekuasaan lebih besar,

seperti negara. Dalam peraturan mengenai penerapan SAP berbasis akrual ini,

telah terlihat secara jelas tentang bagaimana proses coercive isomorphism ini

terjadi dalam Pemerintah Kota Malang. BPKAD Kota Malang berusaha dengan

keras untuk mengetahui bagaimana SAP akrual ini dapat diterapkan dengan baik

sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara

yang dilakukan oleh peneliti dengan aktor-aktor yang terlibat secara langsung

proses penerapan SAP berbasis akrual, yakni sebagai berikut:


62

Bu Drias (BPKAD) : "...Begitu tahu bahwa 2015 harus sudah ready, siap
ndak siap, sanggup ndak sanggup kan harus. Kami juga aktif mengikuti
kalau ada sosialisasi atau pelatihan, contohnya ketika ultah IAI,
memberikan undangan kepada kami terkait semacam sosialisasi, diskusi
terkait akrual. Walaupun dengan kontribusi yang lumayan, kita ikut.
Pengen tahu sampai sejauh mana akrual. Karena ini kan hal baru, makanya
ingin tahu lebih dalam, apa sih akrual ini. Soalnya kan saya harus
membuat regulasinya, aplikasinya terkait akrual ini makanya harus
diperlukan pemahaman yang matang. Kemudian tahun 2014, almarhum
Kepala BPKAD Pak Wahyu, setelah melakukan sosialisasi Permendagri
No. 64 di Jakarta, beliau langsung memanggil saya dengan Bu Noka,
tolong buat rencana aksi tentang apa yang harus kita lakukan di tahun 2014
agar tanggal 1 Januari 2015 sudah ready...".

Komitmen mengenai penerapan SAP basis akrual ini ternyata tidak hanya

dilakukan oleh para SKPD, akan tetapi juga kepala daerah. Para Kepala Daerah

akan membuat semacam perjanjian mengenai kesanggupan untuk melaksanakan

SAP berbasis akrual ini, dan nantinya perjanjian ini akan dijadikan indikator

pemeriksaan atas pelaksanaan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual ini

oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hal ini sesuai dengan pernyataan Bu

Drias bahwa,

Bu Drias (BPKAD) : "....Seluruh Kepala Daerah diundang untuk membuat


semacam nota kesepahaman, yang berjanji untuk melaksanakan akrual.
Perjanjian ini nantinya akan menjadi indikator oleh BPK dalam memantau
pelaksanaan akrual di Kota Malang...."

Selain BPKAD, peneliti juga pernah menanyakan kepada pihak inspektorat atas
bagaimana pemaknaan mereka atas SAP berbasis akrual ini. Pada saat itu bapak
agus berpendapat bahwa:
Bapak Agus (Inspektorat) : "Jadi, pemenuhan undang-undang dan atasan
itu pasti. Tapi, kan undang-undang dibuat untuk mendapatkan manfaat
yang lebih baik. Jadi ya dua-duanya. Undang-undang dibentuk namanya
ada naskah akademik, sebelumnya sudah didasarkan karena ada teori-teori
dan praktik-praktik terbaik. Jadi kan ada manfaat lebih baik dibanding
dengan aturan yang kemarin".
63

Kemudian, ada harapan-harapan yang secara tidak langsung mengarah kepada

pengakuan atau legitimasi atas organisasi pemerintah yang ada di atasnya. Hal ini

sesuai dengan pernyataan dari beberapa aktor di SKPD lain, yakni sebagai

berikut:

Bu Indri (Dinas Kesehatan) : "...Untuk penerapan SAP berbasis akrual,


InsyaALLAH Dinkes siap mbak, karena kita berusaha untuk merekrut
tenaga akuntansi non PNS, yang selain untuk membantu menjalankan
akrual, juga menjalankan program-program yang lain seperti persiapan
JKN dan BLUD mbak...".

Bu Indri (Dinas Kesehatan) : "...Sosialisasi itu adanya di BPKAD mbak.


Kemudian, Bapak Walikota mengatakan bahwa kita sudah WTP. Maka,
lebih sempurna lagi untuk menuju WTP tersebut, penerapan akrual ini
harus kita laksanakan. Mau tidak mau harus kita laksanakan...".

Bu Indri (Dinas Kesehatan) : "...Karena SKPD besar akan memberikan


pengaruh yang cukup besar terhadap opini Laporan Keuangan Pemkot
Malang...".

Bu Indri (Dinas Kesehatan) : "...Pernah mbak merasa yang diurusi Dinkes


banyak, akan tetapi karena ini peraturan, ya harus kita laksanakan. Sesuai
dengan slogan Pak Jokowi "Ayo Kerja', ya ayo kita kerja mbak...".

Bu Titik dan Bu Mahmudah (Kecamatan Blimbing) : "...InsyaALLAH siap


mbak untuk WTP. Kan memang tuntutannya dapat WTP lagi. Hal ini juga
terkait dengan aturan mbak, otomatis jika ada aturan maka mau tidak mau
ya harus kita laksanakan, meskipun ada OTODA, akan tetapi untuk aturan
akrual ini kan wajib dilaksanakan untuk semua pemerintahan yang ada di
Indonesia".

Melihat ungkapan-ungkapan dari para aktor di atas juga mengindikasikan bahwa

mereka melakukan SAP berbasis akrual ini semata-mata karena sudah adanya

perintah dari organisasi di atasnya, yang dalam hal ini pemerintah pusat bahwa

mereka harus menjalankan SAP basis akrual ini paling lambat tahun 2015 ini.

Mau tidak mau, suka tidak suka, hal ini merupakan aturan yang harus mereka

laksanakan. Jika kita dapat menarik kesimpulan dari coercive isomorphism ini,
64

ada beberapa tahapan dari aturan-aturan yang menjelaskan mengenai SAP basis

akrual ini, yakni sebagai berikut :

UU No. 17 Tahun 2003


(Tentang Keuangan negara)

PP No. 24 Tahun 2015


(Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan)

PP No. 71 Tahun 2010


(Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan)

Permendagri No. 64 Tahun 2013


(Tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual)

Lampiran I Peraturan Walikota Malang Nomor 14 Tahun 2014


(Tentang Sistem dan Kebijakan Akuntansi)

Gambar 5.1. Alur Peraturan SAP Berbasis Akrual di Kota Malang

Sumber : Olahan Peneliti

Dampak dari adanya coercive isomorphism ini, ada beberapa pengaruh positif

yang mampu diciptakan, yakni berkat komitmen dan kerja keras atas

implementasi standar akuntansi berbasis akrual, hal ini menjadikan Kota Malang

sebagai salah satu kota yang siap dalam menjalankan standar akuntansi
65

pemerintahan berbasis akrual, seperti yang diungkapkan oleh Bapak Dani, yakni

sebagai berikut :

Bapak Dani (BPKAD) : "...Dalam skala Jawa Timur, dengan pandangan


subyektif Pemerintah Kota Malang termasuk kota yang memiliki
komitmen tinggi. Kalau melihat daerah-daerah lain, posisi kendalanya
masih sama seperti inventarisasi aset, akan tetapi komitmen dari BPKAD
untuk menyusun kebijakan sendiri, hal ini mendahului tempat lain.
Misalnya, kalian sudah susun akun standar? sudah susun jurnal? Belum
nanti saja, saya susun jurnalnya di akhir saja. Rata-rata mereka demikian,
akan tetapi sejauh ini, Kota Malang telah melakukan semaksimal
mungkin...".

Pengaruh positif yang ditimbulkan oleh BPKAD Kota Malang selaku leading

sector pengelolaan keuangan daerah Kota Malang, setidaknya hal ini akan

berdampak pada pandangan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang

lain bahwa Kota Malang juga dapat dijadikan contoh sebagai kota yang mampu

menjalankan SAP basis akrual pada tahun 2015 ini. Namun demikian, yang

berkaitan dengan coercive isomorphism ini tidak semua selalu memberikan

dampak positif, akan tetapi juga terdapat dampak negatif, yang hal ini

berpengaruh pada proses pemaknaan secara teoritis dari SAP basis akrual ini. Hal

ini sesuai dengan ungkapan dari Bapak Dani, yakni sebagai berikut :

Bapak Dani (BPKAD) : "...Karena akrual katanya bisa mengukur


ekuitas/modalnya suatu daerah. Misalnya seperti suatu pemda bisa
mengukur potensi daerahnya dengan cara melihat potensi WP di Kota
Malang. Sehingga ketika potensi daerah bisa diukur, maka bisa dilakukan
sebuah perencanaan daerah. Seharusnya demikian kan. Akan tetapi, kalau
pemerintah kembali lagi ada sisi politiknya. Mau tidak mau esensinya akan
tarik ulur dengan kondisi birokrasi. Misalnya, dengan adanya akrual ini
juga dapat digunakan untuk mengukur kinerja, namun jika ada unsur
politiknya, maka kembali lagi pengukuran kinerja tersebut seperti bias. Di
satu sisi, karena ada aturan itu, mau gak mau, sebatas gugur kewajiban,
sesuai dengan amanat dan aturan yang berlaku...".
66

Melihat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ketika suatu peraturan semata-

mata hanya dimaknai sebatas tanggung jawab untuk melaksanakan aturan dari

organisasi yang ada di atasnya, yakni pemerintah pusat maka makna dasar

dariaturan tersebut akan menjadi bias, tidakdapat dimaknai sesuai dengan teori

yang seharusnya.

5.3.3 Normative Isomorphism dalam Implementasi SAP Basis Akrual di

Pemerintah Kota Malang

Menurut DiMaggio & Powell, 1983, normative isomorphism, berkaitan erat

dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu organisasi tersebut. Dalam

penelitian ini, tentu saja hal ini berkaitan dengan karakteristik norma-norma yang

terjadi dalam lingkungan Pemerintah Kota Malang dalam melaksanakan sistem

akuntansi yang baru, yakni SAP berbasis akrual. Hal ini telah diungkapkan oleh

beberapa aktor-aktor yang mempunyai peran penting dalam pelaksanaan SAP

berbasis akrual, yakni sebagai berikut :

Bapak Dani (BPKAD) : "Penegasan kita bermain bahasa resmi, yakni surat
undangan, kita tujukan ke setiap SKPD. Mereka belum mengumpulkan
ini-ini. Memang harus ada reward dan punishment, ini kewajiban
pemerintah harus dikerjakan. Jadi punishmentnya tumpengnya ditunda.
Iya, karena kalau tidak ada aturan kita tidak ada inisiatif. Jadi kalau kita
membicarakan pribadi, ya seharusnya ada inisiatif. Kalau pemerintahan
kelemahannya itu, ada aturan baku, mengikat. Tapi kita ya tidak
menyalahkan kebijakan pemerintah kan berdasakan aturan, makanya harus
ada undang-undang yang mengikat".

Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa budaya yang dilakukan oleh BPKAD

untuk mengkoordinasi para SKPD dalam melaksanakan SAP berbasis akrual ini

adalah dengan menggunakan "bahasa resmi", yakni melalui undangan-undangan


67

resmi yang bahkan sampai mengetahui sekretaris daerah. Hal ini dilakukan oleh

BPKAD, agar SAP berbasis akrual ini dapat terlaksana dengan lancar dan

memenuhi target, mengingat pada awal tahun 2016, Pemerintah Kota Malang

akan diperiksa oleh BPK dengan laporan keuangan yang telah memakai basis

akrual. Jika tidak menggunakan bahasa resmi, maka hal ini akan sulit dilakukan,

seperti yang telah diungkapkan oleh Bu Drias dan Bapak Dani, sebagai berikut :

Bu Drias (BPKAD) : "...Karena mengedukasi SKPD itu gak gampang.


Ketika mereka menggunakan basis kas, pada saat input data, membuat
SPM, sudah bisa jadi laporan. Mereka tidak perlu template jurnal, susun
jurnal. Kalau sekarang mereka harus susun jurnal, dan template jurnal.
Mengedukasi itu tidak mudah. Kita ngajarin secara globah itu saja mereka
masih banyak yang bingung, akhirnya kita melakukan pelatihan per
sepuluh orang...".

Bu Drias (BPKAD) : "...Pokoknya agak termehek-mehek. Saya bertahap


dulu melakukannya, mulai dari LRA harus settle, sampai selisih tidak ada.
Kemudian jika SKPD sudah terkontrol, kemudian baru ngecek LO sampai
settle. Memang harus mau sedikit repot dan pelan-pelan. Sebab mindset
mereka masih basis kas. Kalau ada pendapatan, masih diinput secara basis
kas tanpa memilah pendapatan tahun berjalan atau pendapatan piutang
tahun laul. Padahal posisi mereka kan berbeda. Maka ya kita harus panggil
SKPD tersebut untuk memperbaiki jurnal mereka...."

Bapak Dani (BPKAD) : "...Untuk menerapkan basis akrual ini, seharusnya


ada orang yang bisa memahaminya. Jika pegawai itu adalah pegawai muda
yang memiliki background akuntansi atau ekonomi masih mudah untuk
menerima informasi dengan respon yang cepat. Akan tetapi jika ada SDM
yang kurang paham, dan tidak memiliki motivasi tinggi, maka hal iniakan
kesulitan. Kemudian SDM sendiri juga saat ini masih bergantung dengan
para konsultan...".

Dari pernyataan di atas dapat menjelaskan bagaimana kondisi teknis di lapangan

terkait para SDM. BPKAD tidak hanya memperkenalkan SAP berbasis akrual ini

secara teknis, namun mindset yang ada dalam para SKPD tersebut. Akan tetapi,

tidak mudah mengubah mindset seseorang dalam jangka waktu yang cukup
68

singkat. Mereka harus terus diberikan pemahaman-pemahaman terkait bagaimana

makna akrual ini sebenarnya. Oleh sebab itu, BPKAD selaku leading sector

pengelolaan keuangan daerah akan berusaha untuk membuat lingkungan kerja

(budaya, norma) yang tegas namun perlahan juga memberikan pemaknaan

terhadap para SKPD tentang apa itu akrual.

5.4 Implikasi Penelitian

Secara teoritis, penelitian ini memberikan sebuah implikasi bahwa kondisi

yang dialami oleh Pemerintah Kota Malang saat ini dalam mengimplementasikan

standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual merupakan hal baru yang mana

hampir setiap SKPD menjalankan ini karena bentuk ketaatan dan tanggung jawab

mereka sebagai organisasi pemerintahan. Hal ini sesuai dengan beberapa

pernyataan dari SKPD yang selalu menekankan pada kata-kata "mau tidak mau,

suka tidak suka, hal ini merupakan kewajiban kami untuk menjalankan aturan dari

pemerintah pusat". Keadaan seperti ini sangat sesuai dengan teori institusional

dimana mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyesuaikan diri

dengan kondisi lingkungan organisasi pemerintahannya. Adapun untuk mencapai

institusionalisasi ini, mereka akan berusaha untuk menjadi mirip (isomorphism)

yang ditunjukkan dengan cara coercive pressure yakni tekanan dari organisasi

yang ada di atasnya, yang memiliki kewenangan lebih besar. Bukti adanya

coercive pressure dari penelitian ini adalah ungkapan dari SKPD mengenai

keharusan untuk melaksanakan Permendagri No. 64 Tahun 2013 Tentang

Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual. Selain coercive


69

pressure, juga terdapat bentuk isomorphism yang lain yakni mimetic isomorphism

yang ditandai dengan BPKAD melakukan studi banding kepada beberapa

kota/kabupaten yang telah melaksanakan SAP berbasis akrual terlebih dahulu,

seperti Kabupaten Banyuwangi dan Kota Semarang, sebagai bahan pembelajaran

terkait pelaksanaan SAP akrual. Kemudian untuk normative isomorphism ditandai

dengan budaya yang dilakukan oleh BPKAD untuk mengkoordinir SKPD-SKPD

yang lain dalam melaksanakan SAP basis akrual ini dengan cara memberikan

"surat resmi" yang diketahui oleh Sekretariat Daerah Kota Malang untuk

melaksanakan SAP akrual dan memberikan controlling atas berkas-berkas

keuangan yang telah mereka kerjakan, mulai dari bendahara pengeluaran sampai

ke bendahara barang.

Kondisi dalam perspektif Teori Institusional dalam suatu organisasi sektor

publik ini juga sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Amirya

(2013), yang menghasilkan sebuah penelitian bahwa untuk memperoleh

legitimasi, Universitas Brawijaya berupaya melembagakan sistem anggaran dan

akuntansi Badan Layanan Umum (BLU). Salah satu upaya dalam proses

melembagakan ini adalah menjadi mirip (isomorphism) dengan lingkungan

kelembagaan. Kemudian, berdasarkan hasil interpretasi dari peneliti ini, coercive

isomorphism juga merupakan tipe isomorphism utama yang terjadi karena adanya

faktor pendorong dalam bentuk desakan dan aturan-aturan hukum yang mengikat

organisasi pemerintah tersebut yang diberlakukan oleh Pemerintah Pusat.


70

5.5 Rekomendasi Penelitian

Keadaan yang menuntut suatu pemerintahan harus sama dengan lingkungan

organisasinya hal ini memang merupakan suatu keharusan. Karena, mereka

merupakan lembaga publik yang memiliki indikator penilaian yang sama dengan

pemerintah daerah yang lain. Hal ini sesuai dengan Carruthers (1995) bahwa

paham new institutionalism menggambarkan tentang struktur dari suatu organisasi

yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dimana dia berada. Sedangkan salah satu

cara untuk institusionalisasi ini adalah dengan coercive pressure. Menurut

DiMaggio dan Powell (1983), coercive pressures adalah suatu tekanan yang

berasal dari organisasi lain yang memiliki kekuasaan lebih besar, seperti negara.

Meskipun ada tekanan dari organisasi lain yang memiliki kedudukan yang lebih

tinggi, akan tetapi respon positif dari orang-orang yang melaksanakannya, maka

akan memiliki dampak perubahan yang lebih baik. Hal ini seperti ungkapan dari

Bapak Agus (Inspektorat Kota Malang), bahwa aturan itu pasti dibentuk dengan

untuk perubahan yang lebih baik.

Melihat kondisi yang demikian, peneliti ingin memberikan rekomendasi

untuk penerapan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual ini bisa

dilaksanakan dengan baik, yakni sebagai berikut :

1. Melakukan edukasi kepada para SKPD mengenai pemaknaan secara

mendalam tentang akuntansi berbasis akrual. Karena hal ini penting agar

para SKPD memiliki mindset yang cukup kuat tentang basis akrual dan

apa kelebihannya. Sehingga, SKPD tidak bersifat gugur kewajiban setelah

mampu melaksanakan basis akrual ini.


71

2. Pemerintah harus memperhatikan lagi mengenai kondisi SDM, karena

sebenarnya perlu untuk mendapatkan SDM yang lebih kompeten dengan

memiliki latar belakang pendidikan akuntansi.

3. Perlu melakukan koordinasi antara SKPD-SKPD (BKD, Inspektorat)

terkait dalam proses penerapan standar akuntansi pemerintahan berbasis

akrual ini, agar memiliki masukan-masukan dari berbagai pihak. Sehingga

dapat dilakukan kajian-kajian secara mendalam tentang standar akuntansi

pemerintahan berbasis akrual.


BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Pemerintah Kota Malang mampu menjalankan proses implementasi standar

akuntansi pemerintahan berbasis akrual dikarenakan leading sector pengelolaan

keuangan yakni BPKAD Kota Malang memiliki komitmen yang tinggi agar

berhasil dalam melaksanakan standar akuntansi pemerintahan berbasis akrual.

Akan tetapi, secara psikologis hal ini hanya bentuk tanggung jawab dan dedikasi

yang dilakukan oleh SKPD terhadap PP No. 71 Tahun 2010 dan Permendagri No.

64 Tahun 2013, tanpa mengetahui makna secara mendalam mengenai apa itu basis

akrual. Keadaan yang demikian merupakan bentuk institusionalisasi dari SKPD-

SKPD yang ada di Pemerintah Kota Malang agar nantinya tetap mampu

memberikan kontribusinya dalam mempertahankan opini Wajar Tanpa

Pengecualian (WTP). Meskipun hal ini harus dengan coercive isomorphism yakni

suatu kondisi dimana suatu organisasi akan mengalami tekanan dari organisasi

yang memiliki kewenangan lebih besar. Akan tetapi, mereka yakin dengan

melaksanakannya dengan baik, mereka akan memperoleh pengakuan lebih dari

organisasi yang berada di atasnya (negara).

Akan tetapi, proses dari institusionalisasi implementasi SAP berbasis akrual

ini tidak hanya dipengaruhi oleh coercive isomorphism saja, akan tetapi juga

mimetic isomorphism yang ditandai dengan studi banding yang dilakukan oleh

BPKAD ke kota/kabupaten yang telah melaksanakan SAP akrual terlebih dahulu,

72
73

yakni Kabupaten Banyuwangi dan Kota Semarang. Studi banding ini bertujuan

untuk mencari tahu bagaimana SAP akrual dapat terlaksana dengan baik.

Kemudian, normative isomorphism juga mempengaruhi dalam proses

institusionalisasi implementasi SAP basis akrual yang ditunjukkan dengan budaya

kerja BPKAD Kota Malang mengkoordinir SKPD lain melalui dengan "surat

resmi" dan perintah-perintah resmi lainnya.

Namun, dari analisis keseluruhan proses pelembagaan (institusionalisasi) atas

impelementasi SAP berbasis akrual di Pemerintah Kota Malang ini, lebih

mengarah kepada sebuah pemaksaan atas aturan yang ada di organisasi atasnya

yakni pemerintah pusat dengan keluarnya Permendagri No. 64 Tahun 2013.

Sehingga, implementasi SAP berbasis akrual ini masih sebuah permulaan, masih

belum menuliskan sebuah manfaat dan tidak mengandung konsekuensi ekonomi.

Para aktor di Pemerintah Kota Malang belum memahami accrual accounting

beserta manfaatnya, pada dasarnya mereka saat ini masih hanya pemenuhan

aturan dari organisasi yang memiliki kekuasaan di atasnya (coercive

isomorphism).

6.2 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal interpretasi terhadap data-data

yang diperoleh. Sehingga penelitian ini masih perlu didukung oleh penelitian-

penelitian sejenis. Selain itu, peneliti juga belum mampu untuk melakukan

wawancara langsung kepada para pimpinan dikarenakan waktu yang tidak


74

mengijinkan peneliti untuk melakukan wawancara langsung dengan pihak

pimpinan.

6.3 Saran Penelitian

Dalam suatu penelitian, pasti ada keterbatasan dan kelemahan di dalamnya.

Oleh sebab itu, untuk peneliti selanjutnya, diharapkan dapat menampilkan aktor-

aktor yang lebih berpengaruh, seperti para piminan Pemeirntah Daerah. Sehingga,

nantinya diperoleh kembali berbagai macam sudut pandang mengenai topik

penelitian ini. Selain itu, agar penelitian mengenai teori institusional dalam

organisasi pemerintahan ini dapat terus dikembangkan dan menghasilkan

rekomendasi-rekomendasi yang dapat memberikan efek lebih baik bagi kemajuan

organisasi pemerintahan.
DAFTAR PUSTAKA

Amirya, dkk. 2013. Pengembangan Sistem Anggaran dan Akuntansi Badan


Layanan Umum Universitas Brawijaya: Sebuah Studi Interpretif.

Amriani. 2014. Menyongsong Penerapan Akuntansi Pemerintahan Berbasis


Akrual. (Online). (http://www.bppk.kemenkeu.go.id/berita
makassar/19410-menyongsong-penerapan-akuntansi-pemerintahan
berbasis-akrual, diakses pada tanggal 28 Desember 2015).

Anonim. 2014. Jalan Terjal Menuju Basis Akrual. (Online).


(http://www.kompasiana.com/dinirahmi/jalan-terjal-menuju-basis-
akrual_54f74e5ea33311782f8b4570, diakses pada tanggal 28 Desember
2015).

Ardianto, dkk. 2013. Modul Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual Konsep,


Pemikiran, dan Implementasi Di Indonesia 2013. STAR-BPKP.

Bastari. 2004. Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah dan Standar


Akuntansi Pemerintahan sebagai wujud reformasi manajemen keuangan
daerah. (Online). (http://www.ksap.org/Riset&Artikel/Art5.pdf, diakses
pada tanggal 29 Desember 2015).

Buhr, N. 2010. From Cash to Accrual and Domestic to International Government


Accounting Standard Setting in Last 30 Years. Makalah Disajikan pada
Sixth Accounting History International Conference, Welington. 19
Agustus.

Bunea, C. B. & Cosmina, 2006. Arguments for Introducing accrual based


accounting in Public Sector. (Online).
(http://mpra.ub.muenchen.de/18134/I/MPRA Paper:18134).

BPK. 2012. Laporan Hasil Pemeriksaan BPK-RI Semester II Tahun 2012.


(Online). (http://www.bpk.go.id/news/hasil-pemeriksaan-bpk-semester-ii-
tahun- 2012), diakses pada tanggal 21 Januari 2016).

Carruthers, B.G. 1995. Accounting, Ambiguity, and The New Institusionalism,


Accounting, Organizational and Society 20 (4): 313-328

Creswell, John W. 1998. Qualitative Inquiry And Research Design: Choosing


Among Five Traditions. London: SAGE Publications (Dalam Kusmarni,
Yuni).

Damayanti, Ratna Ayu. 2013. Akuntansi Akrual dan Penerapannya di Sektor


Publik: Sebuah Agenda Pembaruan. Modul Akuntansi Pemerintah
75
76

Berbasis Akrual Konsep, Pemikiran, dan Implementasi di Indonesia


STAR-BPKP.

Darono, Agung. 2012. Pengembangan Sistem Anggaran Dan Akuntansi Badan


Layanan Umum Universitas Brawijaya: Sebuah Studi Interpretif. Seminar
Nasional Aplikasi Teknologi Informasi ISSN : 1907-5022.

Deegan,Craig & Unerman, Jeffry. 2006. Financial Accounting Theory european


edition. London: Mc Graw Hill.

DiMaggio, P.J. & Powell, W. W. 1983. The Iron Cage Revisited: Institutional
Isomorphism and Collective Rationality in Organizational Fields. The New
Institutionalism in Organizational Analysis (p.63-82). The University of
Chicago Press: Chicago.

Djamhuri, A. 2009. A Case Study Of Governmental Accounting And Budgeting


Reform At Local Authority In Indonesia: An Institutionalist Perspective.
Ph.D. dissertation. Universiti Sains Malaysia.

Faradillah, Andi. 2013. Analisis Kesiapan Pemerintah Daerah Dalam Menerapkan


Standar Akuntansi Pemerintahan (Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun
2010) [skripsi]. Makassar (ID) : Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Hasanuddin.

Greenwood, R. & C.R. Hinings. 1996. Understanding Radical Organizational


Change: Bringing Together the Old and the New Institutionalism, The
Academy of Management Review, (21:4) pp.1022-1054.

Hasbiy, Khoirul Umam. 2015. Institusionalisasi Sistem Informasi Manajemen


Daerah (Studi Kasus pada Pemerintah Kabupaten Jombang- Jawa Timur)
[tesis]. Malang (ID): Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya.

Janet, V. & Robert, B. 2007. The New Public Service. New York: M.E. Sharpe.

Ludigdo, Unti. 2013. Asumsi Dasar Paradigma Interpretif. Disampaikan pada


Accounting Research Training Series ke-4 tanggal 26-27 Juni 2013 di
Pascasarjana Akuntansi FEB Universitas Brawijaya.

Mahmudi. 2010. Manajemen Kinerja sektor Publik (edisi 2). Yogyakarta : Unit
Pemerbit dan Percetakan Sekolah tinggi Ilmu Manajemen YKPN.

Mahmudi. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia: Untuk Usaha Kecil dan
Menengah. Jakarta: Ina Publikatama.

Meyer, J.W. & B. Rowan. 1977. Instutional Organizations: Formal Structure as


Myth and Ceremony. American Journal of Sociology, (83) 340-363.
77

Moleong, J. Lexy. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi)


Terjemahan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Nee, Victor. 2003. New Institutionalism, Economic And Sociological. Princeton:


Princeton University Press

Permatasari, dkk. 2014. Accrualization in The Public Sector: The Case Of


Situbondo District. The International Journal of Accounting and Business
Society.

Rahayu, Sari. 2014. Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010


Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual dan Standar
Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual Di Jombang
[skripsi]. Surabaya (ID) : Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur.

Rusmana, Oman. 2013. Model Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual: Suatu


Tinjauan Teoritis Terhadap Format Pelaporan Keuangan Pemerintah Di
Indonesia. Universitas Jenderal Soedirman.

Sangkala. 2012. Dimensi-Dimensi Manajemen Publik. Yogyakarta: Ombak.

Scott, W.R. 1995. Institutions and Organizations. Thousand Oaks, CA: Sage
Publications, Inc.

Setyaningsih, Titik. 2013. Studi Eksplorasi Tingkat Pemahaman Aparatur


Pemerintah Daerah dan Anggota DPRD terhadap Standar Akuntansi
Berbasis Akrual (Kasus di Pemerintah Kota Surakarta). (Online).
(http://multiparadigma.lecture.ub.ac.id/files/2014/10/SNA-16-Sesi-2-
D.pdf), diakses pada tanggal 27 Desember 2015).

Simanjuntak, Binsar H., 2010. Penerapan Akuntansi Berbasis Akrual di Sektor


Pemerintahan di Indonesia, Disampaikan Pada Kongres XI IAI.

Sitorus, Selvina, dkk. 2015. Analisis Kesiapan Penerapan Standar Akuntansi


Pemerintah Berbasis Akrual Berdasarkan PP. No. 71 Tahun 2010 pada
Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Barang Milik Daerah Kota
Tomohon. Jurnal EMBA Vol.3 No.1 Maret 2015, Hal.941-949 ISSN 2303-
1174.

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit


Universitas Indonesia.

Tresnawati & Setiawan. 2013. Ada Apa Dengan SAP (AADS) Akrual?. Jurnal
Akuntansi Multiparadigma Volume 4.
78

Triyuwono, Iwan. 2013. "SUSUSAYA" Melampaui Paradigma-Paradigma


Metodologi Penelitian. Artikel Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Brawijaya.
Upping, P. Oliver, J. 2011. Accounting Change Model for the Public Sector:
Adapting Luder's Model for Developing Countries. International Review
of Business Research Papers Vol. 7. 1: 364 380

.Lampiran I Peraturan Walikota Malang Nomor 14 Tahun 2014 Tentang


Sistem dan Kebijakan Akuntansi.

.Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 23 ayat (1).

. 2015. Kerangka Acuan Kerja Pendampingan Asistensi Laporan


Keuangan Interim SKPD Berbasis Akrual Tahun 2015.

.2003. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.

. 2005. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 Tentang Standar


Akuntansi Pemerintahan.

. 2010. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 Tentang Standar


Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual.

. 2013. Permendagri No.64 Tahun 2013 Tentang Penerapan Standar


Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah.

.Panduan Penggunaan Aplikasi E-Finance Basis Akrual Badan Pengelola


Keuangan dan Aset Daerah Kota Malang 2014.

.Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi


Pemerintahan.

.Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 64 Tahun 2013 Tentang Penerapan


Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah
Daerah.
LAMPIRAN

HASIL WAWANCARA TERHADAP INFORMAN

"Analisis Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Dalam


Perspektif Teori Institusional: Studi Kasus pada Pemerintah Kota Malang"

Informan : Drias Leusanti, S.Pi., M.M.


BPKAD Pemerintah Kota Malang

1. Menurut ibu, bagaimana proses perubahan Standar Akuntansi


Pemerintahan (SAP) dari basis Cash Towards Acrual (CTA) ke basis
akrual?
Informan : Jadi, untuk pelaksanaan SAP berbasis akrual, Pemkot sudah
menyiapkan mulai tahun 2013 dan 2014. Kebetulan kan BPKAD Provinsi
Jawa Timur, dan Dirjen Perbendaharaan kantor wilayah yangada di Jatim
melakukan pembinaan di seluruh Pemda. Dalam hal ini ada sosialisasi,
bimtek, yang diadakan untuk seluruh Pemda di Jawa Timur. Kalau saya
bandingkan dengan provinsi daerah yang lain, mungkin Jawa Timur
pembinaannya bagus. BPKAD Provinsi Jatim ini aware terhadap SAP akrual
selain melakukan sosialisasi,bimtek, Dirjen Perbendaharaan dan BPKAD
Jawa Timur juga melakukan monitoring dan evaluasi. Jadi, tidak hanya
sekedar memberikan sosialisasi, akan tetapi proses pembuatan regulasi yang
ada di masing-masing Pemda juga dimonitor. Begitu tahu tahun 2015 harus
sudah ready, "siap ndak siap, sanggup ndak sanggup" harus. Strateginya,
kami aktif kalau ada sosialisasi-sosialisasi, jadi kemarin ada ulang tahun IAI,
memberikan undangan kepada kami semacam sosialisasi, diskusi terkait
akrual. Meskipun dengan kontribusi yang lumayan kita ikut. Ini kan hal baru,
jadi yakita harus tahu lebih dalam apa itu akrual. Kemudian, setelah terjadi
launching Permedagri No 64 Th. 2013, pada tahun 2014, kita membuat
semacam rencana aksi (action plan) mengenai persiapan implementasi SAP
basis akrual ini. Pertama, membikin kebijakan akuntansi, kita sosialisasi ke
79
80

SKPD, Bendahara Pengeluaran, Bendahara Barang, PPKD dan Kepala


SKPD. Jadi Kepala SKPD harus tahu. Kemudian setelah itu kerjasama
dengan BKD untuk membuat sosialisasi lagi, narasumbernya langsung dari
Kementerian Keuangan. Jadi akrual ini kan memang yang lebih memahami
orang Kemenkeu. Akan tetapi, karena daerah di bawah pembinaan
Kemendagri, jadi adanya Permendagri No. 64 ini sebenarnya dipaksa karena
di PP 71 Tahun 2010 kan harus menerapkan SAP berbasis akrual. Sebenarnya
di tahun 2008 kita harus akrual, hal ini sesuai dengan yang ada di UU No. 17
Tahun 2003, tapi ndak siap, akhirnya mundur-mundur. Jadi, sebenarnya kita
ini sudah molor.
2. Menurut ibu, cukup atau tidak bu waktu 5 (lima) tahun dari basis Cash
Towards Acrual (CTA) ke basis akrual?
Informan : Pemda itu begini, karena sudah ada Permen 64 "mau ndak mau"
kita harus jalan. Jadi ya memang harus dipaksa, namanya aturan. Misalnya
begini, aturan memakai helm, masak harus ditanya mau ndak pakek helm.
Kalau ditanya demikian, ya pasti banyak ndak maunya.
3. Kemudian, apalagi bu yang dipersiapkan untuk akrual ini?
Informan : jadi selain sosialisasi, seluruh kepala daerah membuat semacam
"nota kesepahaman atau pakta integritas" yang mana tiap Pemda berjanji
untuk melaksanakan SAP berbasis akrual. Karena perjanjian itu, akan
menjadi salah satu indikator dalam proses pemeriksaan SAP akrual oleh
BPK. Jadi, kemarin ditanya, mana pakta integritasnya?
4. Apa sarana pendukung untuk penerrapan SAP berbasis akrual ini bu?
Informan : Jadi, kemarin kita beli aplikasi yang bisa mengakomodir, karena
vendor kami ini kebetulan orang akuntansi juga. Jadi, beliau misal ada bultek
terbaru, kami langsung dikabari. Jadi tidak hanya bisa aplikasi, namun juga
paham teorinya. Dulu, awal tahun 2014 kita masih dekstop bukan online,
sedangkan akrual ini mengharuskan kita untuk online, realtime. Jadi ya kita
berdiskusi untuk menentukan jaringan di setiap SKPD. Konsultannya aware
banget keliling mencoba jaringan ke 100 SKPD, akhir tahun 2014 harus siap.
Setelah cek jaringan kita uji coba ke sistem jadi bagaimana jika semua SKPD
81

secara bersamaan input. Kemudian awal tahun 2015 kan harus dilaksanakan.
Jadi bulan Januari, Februari, Maret ya masih termehek-mehek. Karena
mengedukasi itu kan tidak mudah. Tapi sekarang alhamdulillah jalan 4
(empat) bulan ya mulai settle. Namanya sistem baru banyak kendala. Sampai
Maret LRA masih kacau balau. Tapi, setelah itu SKPD nya langsung
dipanggil karena biasanya lupa susun jurnal. Pokoknya agak termehek-mehek.
Jadi, semuanya harus bertahap karena mengedukasi SKPD harus step by step.
5. Jadi, mengingat hal demikian, penerapan akrual ini butuh perjuangan
ya bu?
Informan : Iya memang harus mau sedikit repot, jadi kayak begini, semisal,
untuk mengecek BAST nya SKPD dilakukan sampai 10 (sepuluh) hari. Kalau
saya ndak ngecek, saya ndak tahu titik lemahnya dimana. Kemudian setelah
itu, baru saya update. Kemudian LPE mulai settle, baru lanjut ke neraca lajur.
Sekarang saya masih punya PR di Dispenda. Jadi, mereke mindsetnya masih
basis kas, misalnya ada pendapatan masuk langsung dimasukkan. Padahal
pendapatan ini ada dua jenis yakni pendapatan tahun berjalan atau piutang
tahun lalu. Pendapatan tahun berjalan kan masuk LO, kemudian piutang
tahun lalu masuk neraca. Jadi dispenda kita edukasi lagi. Dengan begini kita
tahu kelemahannya dimana. Intinya akrual itu harus mau telaten ngopeni
(baca : merawat dengan sabar). Karena tidak semua SKPD mau soro (baca :
kerja keras), gak bisa kalau langsungan. Pemda ini terlalu singkat. Padahal,
Kementerian keuangan sudah menyiapkannya sejak 4 tahun yang lalu.
6. Lalu, jika kondisinya demikian mengapa tidak dilakukan persiapan
jauh-jauh hari bu?
Informan : Pemda kalau tidak ada keharusan melaksanakan, (mindsetnya)
kenapa daerah capek-capek melakukan kalau pusat saja belum melakukan.
Sebenarnya, "akrual ini kalau saya bilang berat".
7. Kemudian bagaimana persiapan untuk pendampingan terhadap para
SKPD bu?
Informan : Sebenarnya, interim dan restatement mau saya lakukan waktu
juni. Tapi, saya terlambat, karena kendala dari aset. Jadi saya harus nunggu.
82

Jadi "siap ndak siap" November itu harus dilakukan. Kenapa saya
melaksanakan interim? Karena saya ingin mengedukasi para SKPD, gini lo
cara membuat laporan keuangan akrual. Kalau memberikan edukasi di bulan
Januari (2016) saya ndak sanggup, biar mereka nggak kaget, karena LKD
(Laporan Keuangan Daerah) nya bertambah.
8. Kemudian bagaimana dengan anggaran untuk memepersiapkan akrual
ini bu?
Informan : justru kalau tidak difasilitasi mengenai anggaran akan ditanyakan
oleh BPK, karena ini menjadi salah satu indikator penilaian BPK. Justru
kalau tidak ada perhatian dari pimpinan dan dewan terkait anggaran, ini
menjadi poin yang tidak bagus. Jadi ya memang harus ada dukungan.
9. Ketika BPKAD melakukan studi banding ke berbagai kota terkait
penerapan akrual ini, kota mana yang paling siap menjalankannya bu?
Informan : Waktu studi banding yang paling siap Banyuwangi, Semarang
sudah jalan sebelum Permendari 64 karena waktu itu Walikotanya akuntan.
Jadi, Banyuwangi satu langkah lebih cepat meskipun masih adjustment. Jadi
mereka prosesnya masih CTA, cuma adjustmennya dia memakai 7 laporan
keuangan sesuai SAP akrual.
10. Sebenarnya, apa yang membuat akrual ini sedikit sulit seperti yang
dikatakan oleh ibu tadi?
Jawab : Jadi karena kita tahu SDM nya, yang membuat soro (baca: sulit) itu
kan SDM yang berat sebenarnya disitu. Jadi kemarin waktu sosialisasi,
sampai biar orang itu ndak takut, saya sampai bikin merchandise. Jadi saya
punya moto "akrual itu mudah", biar gak bosen saya bikin games-games, saya
pesenin coklat, mug, dll. Jadi, misal dikasih pertanyan dan bisa jawab saya
kasih mug yang berkaitan dengan akrual tulisannya, yakni dengan ada tulisan
LPE, LO, LRA. Sosialisasi ini kita lakukan di bulan Oktober 2014. Kemudian
setelah acara selesai, saya putarkan film pendek tentang proses belajar, bahwa
dalam hidup kita tidak boleh berhenti belajar.
83

11. Harapan ibu mengenai pelaksanaan SAP akrual di Kota Malang ini
bagaimana bu?
Jawab : WTP aja cukup, susah kalau jadi yang terbaik. Iya kan regulasi itu
harus kita patuhi. Karena begini, pemeriksa mengaudit berdasarkan karena
regulasi, yakni regulasi yang kita bikin, dan regulasi yang di atasnya.
Susahnya akuntansi publik itu, ASP (Akuntansi Sektor Publik) itu banyak
regulasi yang berubah-ubah dan kita harus update. memang kalau di
pemerintahan, karena ini uangnya negara, jadi memang harus dibentengi oleh
banyak aturan. Karena pemerintah tidak berorientasi profit. Gitu aja korupasi
masih ada dimana-mana.
84

Informan : Dani Kristianto,S.E., Ak.


BPKAD Pemerintah Kota Malang

1. Menurut bapak, bagaimana proses masa transisi dari CTA (Cash


Towards Accrual) menuju ke akrual ini?
Informan : PP 71 kan sudah menggambarkan tentang SAP yang basis akrual.
tapi disitu di PSAP masih bisa diberlakukan sampai tahun 2014, otomatis
tahun 2015 pemerintah-pemerintah wajib melaksanakan. Kalau boleh kita
mundur ke belakang ke UU No. 17 Tahun 2003 dan Perbendaharaan Tahun
2004, pengakuan pendapatan dan belanja memang harus berdasarkan basis
akrual. Nah, kemudian ada pasal lagi di kedua undang-undang ini, bahwa
penerapan berbasis akrual dilakukan selambat-lambatnya 5 (lima) tahun
setelah ini, otomatis kan seharunya 2008. Jadi, disini pemerintah berusaha
untuk membuat regulasi-regulasi yang mengarah ke akrual. Dimulai dari PP
No. 24 Tahun 2005 tapi masih belum akrual, kemudian PP No. 71 Tahun
2010, yang imasih berbaur antara basis kas dengan basis akrual. Tapi, PP 71
ini sudah mulai memunculkan penyajian akun aset kewajiban dan ekuitas
menggunakan basis akrual, tapi untuk yang lain masih disesuaikan dengan
kebutuhannya. Hal ini tercantum di PPNo. 71 Tahun 2010, lampiran II, jadi
dasar itulah yang kita gunakan sebagai dasar LKD 2010, 2011, 2012, 2013,
dan 2014.
2. Apakah BPKAD Kota Malang mampu melaksanakan CTA dengan baik
saat itu?
Informan : Kalau menurut saya sudah cukup baik melakukan CTA. Kalau
yang pertama belum ada akun BAS. Tapi, untuk persiapan di SAP PP 71
Tahun 2010 belum bisa terlalu teknis. contohnya aset ya masih sering dicatat
gelondongan karena belum ada BAS, dampaknya menjelang akrual 2015,
akhirnya untuk mengurainya SKPD kita push untuk menjabarkan kode
barangnya. Sejauh tidak menyimpang dari ketentuan, harapannya dapat
menyajikan laporan keuangan dengan wajar.
85

3. Selain, kondisi yang ada di lapangan, indikator apa yang membuat


bapak otimis bahwa CTA kemarin dapat dilakukan dengan cukup baik?
Informan : Indikatornya, kita dapat menyajikan tepat waktu, kemudian
opinin BPK mulai tahun 2011-2014 WTP. Jadi tepat waktu itu, tidak melebihi
3 bulan setalah tahun anggaran berakhir. Hal ini sesuai di Permendagri Pasal
296 bahwa Laporan Keuangan Daerah yang telah diriview oleh Inspektorat
dan diperiksa BPK paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran
berakhir.
4. Kemudian, dengan berhasilnya dilaksanakannya basis CTA, apakah
menurut bapak BPKAD optimis dalam menerapkan SAP akrual ini?
Informan : Kalau berbicara tentang optimis atau tidak, kembali lagi kepada
banyak faktor, seperti koitmen pimpinan, kalau tidak ada komitmen pimpinan
kan susah. Misalnya, tentang bagaimana menyiapkan sistem informasi yang
handal, kalau kita ndak didukung akan berakibat ke anggaran. Kalau melihat
selama ini, komitmen pimpinan cukup. Maksudnya cukup yakni beliau tidak
berusaha untuk menghalangi, jadi anggaran disetujui. Akan tetapi, mereka
belum tidak terjun secara langsung. Namun, setelah itu di tahun-tahun
ditetapkan pelaksaan basis akrual penuh, mereka mulai ada pemikiran
mengenai apa itu akrual.
5. Bagaimana proses penerapan SAP akrual di Kota Malang, apakah ada
instansi-instansi terkait yang ikut membantu?
Informan : Kalau persiapan yang intensif baru Tahun 2014. Kegiatan yang
dilakukan oleh BKD sejalan dengan BPKAD. Memang itu gencar-gencarnya
keluar Permen 64. Akhirnya, BKD mengundang narasumber dari Kemenkeu.
kemudian kalau dari sisi Inspektorat karena mereka belum bisa mereview
laporan keuangan, jadi ya belum terlalu berkecimpung dalam proses teknis
pelaksanaan akrual, yang saya inginkan sebenarnya, Inspektorat harusnya
terlibat, mulai membuat kebijakan sampai ke sosialisasi, terus kemudian
mulai proses pelaksanaan transaksi-transaksi akrual, kemudian memberikan
seperti uji petik, yang dapat memberikan masukan atas proses akrual ini. tapi
kalau Inspektorat harus ada koordinasi lebih.
86

6. Mengapa bisa terjadi hal demikian?


Informan : Yang pertama karena dia paham tapi tidak ada dukungan untuk
menjalankan prosesnya, dan yang kedua karena tidak paham, akhirnya dia
tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi hal ini juga harus berasal dari pihak
pimpinan. BPK juga tanya tentang kenapa kok tidak ada tim satgas penerapan
SAP berbasis akrual? yang dimana tim satgas ini terdiri atas instansi-instansi
terkait yang menggodok secara tim di tingkat kota. Instansi-instansi terkait
tersebut seperti BKD, dan Inspektorat. Akan tetapi ya itu, mungkin
kepahaman pimpinan, akhirnya akrual ini tidak dijadikan Renstra (Rencana
Strategis), tidak dimasukkan ke rencana jangka pendek, sehingga tidak
menjadi prioritas pemerintah. Akan tetapi, mulai tahun 2015 ini mulai
diperhatikan.
7. Kemudian, bagaimana terkait kebijakan penerapan SAP berbasis akrual
di Kota Malang? Mengapa Pemkot Malang pada saat itu tidak ingin
mengawali penerapan akrual?
Informan : Kebijakan kita 2014 tapi itupun, keluarnya Mei. Beratnya
memang inventarisasi, kemudian software yang menampung penyusutan juga
belum memadai. Untuk Pemda-Pemda yang sudah ada inventarisasi itu enak.
Kalau bidang aset ini baru kebentuk 2012 Desember, sebelumnya masih
berupa bagian. Jadi, BPKAD dulu masih belum dalam bentuk SKPD. Karena
masih terpisah-terpisah di bagian maka kan untuk melakukan persiapan
susah. .
8. Menurut Bapak, bagaimana proses implementasi SAP akrual ini di Kota
Malang? dan Bagaimana strategi yang dilakukan?
Informan : Proses implementasi cukup sulit iya, karena terutama di bagian
SDM. Jadi, sebuah organisasi berjalan tidak diimbangi dengan SDM yang
mumpuni. Sehingga paling tidak ada orang yang mengerti proses akuntansi,
tapi dalam hal ini yang mengetahui BKD, mungkin beberapa bisa karena ada
anak-anak muda baru yang mudah untuk belajar itu, jadi kalau ada request
apapun dia mau belajar.
87

Strateginya, ada SAP yang berlaku umum (pusat). berusaha untuk menata
kebijakan akuntansi yang sekiranya dapat dicapai oleh entitasnya. Kalau kita
sudah pendekatan transisi, misalnya piutang dalam pendapatan. kemudian
untuk penyusutan tidak terlalu banyak ragamnya. karena proses simbada
masih baru. Kemudian kita juga membuka arena konsultasi, kalau SKPD ada
kesulitan apa, bisa kita bantu untuk menyelesaikan. Kemudian juga
menyusun laporan interim, ini sebagai strategi, bagaimana kelemahan sistem
ini, jadi di penghujung penyusunan nanti segera mengetahui. Kemudian
pendampingan, kita menggandeng civitas akademika, seperti dari Universitas
Brawijaya, jadi kan dapat mengedukasi teman-teman SKPD. Januari masih
ada proses rekon dan validasi data. Jadi masih ada asistensi nanti sekitar
bulan Januari. Tapi, kalau dilihat di sub. bagian akuntansi ya memang
membutuhkan anggaran yang banyak, misalnya untuk pembuatan laporan
keuangan, pembuatan software, pendampingan.
9. Lalu, apa kendala dari penerapan SAP basis akrual?
Informan : Ketika tahun pertama, sepertinya kita belum siap dengan
mencatat transasksi yang begitu banyak, sehingga hal ini menjadi berat.
mereka menggerutu karena kan mulai menyusun laporan interim, mereka juga
ndak paham, menggerutu, ini "makanan" apa sih. Kemudian itu, kita minta
tolong bagian civitas akademikia, akhirnya ada proses edukasi. Soalnya kan
semakin kompleks.
10. Menurut Bapak, mengapa pemerintah, khususnya pemerintah pusat
ingin merubah basis akuntansi pemerintahan?
Informan : Saya ndak tau ide itu tercetus dari mana, cuma dari tahun 2003
kan sudah muncul akrual. berarti ke depan laporan keuangan ini kan berbasis
akrual. Mungkin mereka memperoleh info dari pihak luar negeri, atau para
akademisi, dari universitas yang melakukan kajian-kajian dimana akrual
memiliki manfaat yang lebih baik bagi sektor publik, katanya. Mereka bisa
menyajikan ekuitas, mengukur ekuitas pemerintah yang bisa didayagunakan
untuk melayani masyarakat. Mereka bisa mengukur gedung dan aset-aset lain.
88

11. Jadi, apakah menurut Bapak Pemerintah Pusat memiliki harapan yang
besar terhadap akrual?
Informan : logikanya iya, dia bisa mengukur potensi. Kalau basis kas kan
tidak mempunyai pisah batas. Jadi potensi pajak di Kota Malang sebesar
sekian, sehingga bisa mengukur potensi daerah. Jadi kalau bisa diukur, ini
dapat memprediksikan kegiatan pemerintah ke depan bagaimana. Cuma saya
belum melakukan kajian khusus, atau membaca jurnal, cuma secara teori kan
begitu. Tapi, di pemerintah kan ada sisi politiknya, ada sisi birokrasinya, itu
mau tidak mau akan tarik ulur dengan implementasi akrualnya. Bagus untuk
pengukuran kinerja, akan tetapi karena ada unsur politiknya, pengukuran ini
menjadi bias. Jadi, seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Saya pernah membaca satu jurnal, intinya kebijakan memilih akrual ini masih
politis, bukan karena akrual ini baik, dipilih, tapi karena masih ada unsur
politik, ya sama, kendalanya nanti kembali lagi kepada politik.
12. Menurut Bapak, apakah Kota Malang ini penerapan akrualnya dapat
dikatakan lebih baik dari kota-kota lain, khususnya di Jawa Timur?
Informan : Saya subjektif, kalau saya liat posisinya masih sama. Aset masih
sama belum inventarisasi. Cuma kalau di Malang ada komitmen dari
BPKAD, maka kita giat untuk membuat kebijakan secara rinci, kita studi
banding, itu mendahului tempat lain, kalian sudah susun jurnal, sudah
membuat BAS. Tapi, ini kita kan masih akan membuat laporan keuangan jadi
ya nanti kita akan tahu kelemahan dimana.
13. Menurut Bapak, apa harapan dari penerapan akrual di Kota Malang?
Informan : Kita ndak terlalu tinggi, yang penting kita dapat menjalankan
tupoksi kita di BPKAD, otomatis acuan kita sap akrual untuk dapat
melaksanakan 7 (tujuh) laporan keuangan, ya kita berusaha untuk
menerapkan itu. Kita bisa menyajikan secara wajar dan bisa menyerahkan
dengan waktu yang secara wajar. Iya itu sudah menjadi target secara tidak
langsung, secara psikologi harus mencapai WTP. Kita berusaha, tapi ya apa
katanya BPK yang menilai.
89

14. Menurut Bapak, selain strategi yang begitu banyak untuk proses
implementasi SAP akrual ini, apakah ada jurus jitu jika ada SKPD yang
sedikit bandel?
Informan : Penegasan kita bermain bahasa resmi, yakni surat undangan, kita
tujukan ke setiap SKPD. Mereka belum mengumpulkan ini-ini. Memang
harus ada reward dan punishment, ini kewajiban pemerintah harus
dikerjakan. Jadi punishmentnya tumpengnya ditunda. Iya, karena kalau tidak
ada aturan kita tidak ada inisiatif. Jadi kalau kita membicarakan pribadi, ya
seharusnya ada inisiatif. Kalau pemerintahan kelemahannya itu, ada aturan
baku, mengikat. Tapi kita ya tidak menyalahkan kebijakan pemerintah kan
berdasakan aturan, makanya harus ada Undang-Undang yang mengikat.
15. Menurut Bapak, secara psikologis Pemkot Malang apa sudah siap?
Informan : secara psikologis, jujur ya belum. Jadi, kembali lagi ke SDM
yang belum siap, kemudian aset masih proses juga perbaikan inventarisasi.
Itupun harus dipandu oleh kita. sehingga iya belum.
90

Informan : S. Tutik Muriani, SE. (Informan 1)


Mahmudah, SH. (Informan 2)
Kecamatan Blimbing Pemerintah Kota Malang

1. Menurut ibu, bagaimana kondisi lingkungan di Kecamatan?


Informan 1: Kalau kecamatan, kelurahan kebanyakan sudah tua-tua seperti
saya ini, jadi pikirannya juga sudah tua mbak.
2. Apakah kesulitan dalam proses pembuatan laporan keuangan
pemerintah daerah ?
Informan 1: Alhamdulillah tidak.
3. Bagaimana pendapat ibu dari laporan keuangan yang menggunakan
basis CTA dengan yang akrual ini?
Informan 1: Saya disini baru mbak, pindahan dari Dishub. Jadi ketika masuk
ke Kecamatan Blimbing langsung sudah akrual. Dulu saya, juga bukan
bendahara, akan tetapi ketika menghadapi akrual ini jika ada kesulitan saya
langsung ke konsultan.
4. Menurut ibu, bagaimana respon SKPD di Pemerintah Kota Malang atas
adanya basis akuntansi baru, yakni akrual ini?
Informan 1: Kayaknya sulit, kayaknya ruwet. Bayangan saya seperti
simbada juga sulit. Tapi lambat laun, belajar dan ada pendamping akhirnya
kami terbantu.
5. Menurut ibu, kalau tidak ada pendamping bagaimana dalam
menerapkan akrual ini?
Informan 1: Wah ya jelas tidak mencukupi mbak tenaganya karena di
BPKAD sendiri kan SDM nya tidak banyak juga.
6. Menurut ibu, bagaimana respon Pak Camat atas akrual ini bu?
Informan 1: Respon positif, mendukung. Kalau pemimpin, asalkan kita mau
belajar, benar mendukung.
91

7. Menurut ibu apakah jangka waktu perpindahan dari CTA ke akrual


terlalu cepat ?
Informan 1: Kalau kita kan tidak merasakan ya mbak karena saya disini kan
langsung akrual. Jadi, kami harus mengikuti program dari BPKAD, dari
Pemkot harus mengikuti. Mengerjakan kan disana. "Mau gak mau harus".
Kalau disuruh milih, ya milih yang dulu-dulu. Tapi ini sudah kebijaksanaan
Pemerintah, sudah diputuskan. Makanya mau gak mau harus. Kendalanya itu
kalau disini sering lemot mbak, internetnya. Saya waktu entry data ya
kendalanya internetnya ini mbak lemot.
8. Kalau menurut Bu Mahmudah bagaimana SAP akrual ini?
Informan 2: Kita melakukan proses keuangan, mulai entry sampai jadi SP2D
kan melalui aplikasi, kita tidak mengerti akuntansi pun, sudah tersetting
dengan sendirinya. Kalau mulai pengajuan, SPJ-an sampai pelaporan sudah
melalui aplikasi. Karena sudah tersetting jadi enak. Jadi proses
perpindahannya ya melalui sosialisasi. Sosialisasi ini untuk menjelaskan
sistem aplikasi tersebut. Kalau Pemkot sudah mencari cara untuk
memudahkan akrual. Kalau semisal manual ya butuh waktu panjang.
9. Kemudian, bagaimana persiapan akrual yang dilakukan di Kota Malang
bu terhadap para SKPD?
Informan 1: Sosialisasi sebelum program ini dijalankan, awal tahun 2015.
Kalau 2014 akhir, sosialisasi di perwal-perwal, belum langsung dipraktiknya.
Iya singkat makanya kalau diukur dari SDM kita, sudah tua-tua. Makanya
pemkot memberikan sistem yang sudah cepat, mudah, dan langsung
meskipun kurang mengerti, langsung cetak. Akrual mempermudah asalkan
telaten, teliti, ndak malu bertanya. Pokok nya saya kalau kesulitan ya ke
konsultan.
10. Bagaimana program pendampingan yang dilakukan oleh BPKAD?
Informan 1: Wah, sangat membantu mbak. Dukanya kalau takut kurang gitu
aja. Tapi kan alhamdulillah sudah clear. Sangat membantu adik-adik dari UB.
92

11. Menurut ibu, apakah sebagai instansi di bawa harus menaati semua
aturan dan perintah dari organisasi yang ada di atasnya bu?
Informan 2: Kalau kita yang dibawah ya harus ngikuti pemkot mbak. Kita
harus ikut aturan mbak, "mau ndak mau ya harus ikut", meskipun dengan cara
mendatangkan konsultan. Bukan piihan itu mbak. mau ndak mau kita harus
menjalankan, apalagi sudah diperwalkan..
12. Menurut ibu, apakah Kecamatan Blimbing yakin bahwa Pemkot Malang
akan mendapatkan lagi opini WTP setelah penerapan akrual ini?
Informan 1: InsyaALLAH. Tuntutannya kan dapat WTP lagi mbak.
Makanya dibuat sistem seperti ini. Karena kalau WTP kan kita dapat
anggaran tambahan mbak, termasuk untuk tumpeng.
13. Motivasi dalam menjalankan akrual apa bu?
Informan 1: Motivasinya menjalankan akrual? ya kita harus bisa, harus
tanggung jawab, sampek direwangi lembur. Karena tuntutan pekerjaan.
14. Menurut ibu, apa manfaat dari akrual ini?
Informan 1: Kita dipermudah secara sistem, yang nangani ini kan sudah
sepuh-sepuh makanya ditemani ini. Karena basicnya semua tidak berasal
akuntansi. Ya, jadi kita harus sendhiko dhawuh, patokan kita ya peraturan.
93

Informan : Budi Indriani, SE., MM.


Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Malang

1. Menurut ibu bagaimana proses sosialisasi SAP basis akrual di


Pemerintah Kota Malang?
Informan: Proses sosialisasi leading sector ada di BPKAD. Kemudian
Bapak Walikota juga mengatakan bahwa kita sudah WTP, kita lebih
sempurna lagi untuk menuju akrual. Maka akrual ini harus dijalankan dengan
baik, "mau tidak mau suka tidak suka".
2. Apakah menurut ibu Dinkes siap dalam menjalankan akrual ini?
Informan: InsyaALLAH siap karena kita berusaha untuk merekrut SDM
yang mempunyai kompetensi di akuntansi.
3. Apakah pernah berpikiran tentang banyaknya tuntutan dari pusat bu?
Informan: Sebenarnya pernah, tapi karena peraturan ya harus kita jalankan.
Pak Jokowi kan ayo kerja, ya ayo kita kerja.
4. Menurut ibu, mengapa kita harus menjalankan akrual ini bu?
khususnya di Dinkes?
Informan: Kan kalau dinas-dinas besar berkontribusi terhadap opini yang
lebih baik. Ya intinya kita harus berubah mbak, Kalau ingin maju ya harus
ada perubahan. Kepala Dinas mendukung. Strateginya dengan mengikuti
asistensi dan harus melakukan konsultasi terus dengan BPKAD. Sebenarnya
kalau kesulitan tidak karena kita kan ada pendampingan. Kalau tidak ada
konsultan bingung.
5. Bagaimana motivasi dari Dinkes, khususnya ibu sebagai Kepala Sub
Bagian Keuangan Dinas Kesehatan Kota Malang dalam menjalankan
akrual ini?
Informan: Motivasi harus ada dari hati nurani sendiri. Ada rekrutmen dari
non pns. yang berbackground akuntansi.
94

6. Menurut ibu, apa keuntungan dari akrual ini bu?


Informan: Keuntungan dari akrual adalah transparansi, aset-aset kita
disusutkan jadi kita mengetahui penyusutan-penyusutan, nilai-nilai bukunya
sisa berapa.
7. Menurut ibu, apakah dengan akrual ini yakin untuk mendapatkan WTP
kembali?
Informan: WTP harus dipertahankan, Karena mempertahankan lebih sulit
daripada meningkatkan.
8. Menurut ibu, apakah Pemkot Malang juga ingin menjadi contoh bagi
kota lain? Kemudian dengan adanya akrual ini apakah ibu tidak merasa
kesulitan?
Informan: Sepertinya begitu mbak karena walikota sekarang kan kreatif
mbak. Kalau saya kan basiknya akuntansi, jadi ya biasa saja menurut saya
mbak. Ya tapi harus belajar lagi. Karena tujuannya baik .
95

Informan : Agus Purnomo


Inspektorat Pemerintah Kota Malang

1. Menurut Bapak, bagaimana roses pemeriksaan dalam pelaksanaan


implemetansi sap akrual?
Informan: Review SAP akan dilaksanakan tahun 2016. Kan rencananya baru
diterapkan 2015 ini. Kemudian di Inspektorat juga timnya belum melakukan
diklat khusus untuk review ataupun evaluasi terkait SAP akrual, mungkin
sekitar bulan Januari Februari 2016, kalau sudah mempunyai ilmunya baru
kita laksanakan. Tertuang di Perwal 20 Tahun 2014, kita memiliki kewajiban
monev, tapi ilmunya yang belum kita dapat. Jadi tidak hanya review laporan
keuangan, akan tetapi juga monev pelaksanaan implementasi SAP akrual
apakah sudah sesuai ketentuan, apakah sudah sesuai dengan bultek-bulteknya.
2. Seharusnya inspektorat ikut mengawal dalam tahapan implementasi
SAP akrual, contohnya proses asistensi yang dilakukan oleh BPKAD,
mengapa demikian pak?
Informan: selama ini BPKAD jalan sendiri, Inspektorat tidak dilibatkan
dalam hal itu. Jadi selama tidak ada penugasan, ya kita melakukan monev
mandiri setelah kita memiliki ilmunya. Selama ini pelaksaan SAP kan leading
sektornya kan BPKAD, seharusnya insiatif itu datangnya dari BPKAD.
3. Bagaimana respon Pemerintah Kota Malang dalam menghadapi SAP
akrual? Apakah ada egosentris?
Informan: Tidak juga sih. Kita selama ini juga kerjasama dengan BPKAD.
Karena kita kan mempunyai tugas sendiri-sendiri. Nah pelaksanaan SAP kan
leading sektornya BPKAD. Jika BPKAD jalan terkait kebijakan dan IT, ya
memang ranahnya BPKAD.
4. Akan tetapi, terkait dengan penerapan akrual ini, bukankah seharusnya
pengawas internal lebih mengetahui terlebih dahulu dari pada eksternal
(BPK), namun sepertinya selama ini BPK yang terlebih dahulu
mengontrol jalannya akrual di Pemkot Malang pak?
96

Informan: Iya memang. Akan tetapi, jika belum melaksanakan diklat, belum
punya ilmunya, ya tidak boleh melaksanakan monev dan reviewnya. Hal ini
disampaikan waktu diklat bulan Oktober di BPK Yogyakarta terkait SAP
akrualnya, masih belum monev dan reviewnya. Kita ndak boleh, kalau tidak
punya senjatanya.
5. Menurut Bapak, seberapa penting akrual ini?
Informan: Penting ndak penting kan tergantung manfaatnya. Setiap aturan
kan ada manfaat dan kekurangannya sendiri-sendiri.
6. Mau tidak mau, suka tidak suka berarti harus dilaksanakan pak?
Informan: Iya mbak. masalahnya begini mbak, pemerintahan dimanapun
juga, melakukan segala sesuatu berdasarkan peraturan, peraturan dibuat pada
dasarnya untuk memperbaiki keadaan. Untuk mencari suatu perbaikan-
perbaikan dari apa yang tadi menjadi tujuan. Karena sudah aturan, pemerintah
semua harus berdasarkan aturan, "senang atau tidak yang harus dilaksankan".
7. Selama ini peraturan bersifat kan lebih ke top down? apakah setiap
aturan ada diskusi?
Informan: Dalam proses pembuatan aturan ada yang namanya konsultasi
publik, dari pusat dikonsultasikan ke daerah. dari konsultasi itu, ada masukan
dari daerah-daerah. Nah itu pasti itu. jadi sebelum peraturan itu ditetapkan,
pasti sudah ada msukan dari daerah. Jadi pasti sudah mengakomodir dari
daerah-daerah tersebut. Jadi, kalau sudah diundangkan "mau gak mau ya
harus dilaksankan".
8. Berarti, jika demikian seharusnya tidak ada keluhan ya Pak dari tiap
Pemda?
Informan: Keluhan berarti kan ada permasalahan. sebenarnya permasalahan
kan tergantung Pemdanya masing-masing. Sebenarnya untuk penerapan SAP
akrual kan aturannya sudah lama. Tapi, tergantung daerahnya masing-masing
kan, mau dilaksanakan sebelumnya atau pas 2015. Kalau dilaksanakan
sebelumnya kan tidak ada kesulitan. Kalau sekarang kan permasalahannya
kan komplek sekali, harus didukung SDM, anggaran, IT. Nah sekarang SDM
banyak yang tidak berada di background akuntansi, IT juga kan terbatas.
97

Karena belum tentu penyediaan anggaran yang besar, bisa dilaksanakan.


Karena terkait SDM juga. kalau anggaran besar, tapi SDM nya tidak
mumpuni, ya tidak terlaksana. Kalau anggaran besar, tapi tidak ada yang
punya basis akuntansi, ya sulit.
9. Jika demikian, untuk permasalahan SDM seharusnya bagaimana pak?
Informan: Sebenarnya aturannya penempatan pegawai berdasarkan
kompetensi, ini di BKD seharusnya. Jadi tidak hanya Inspektorat dan
BPKAD dalam penerapan SAP akrual, tapi juga ada BKD, yang mengetahui
SDM-SDM di bidang akuntansi, jadi harus ada analisis beban kerja.
10. Menurut Bapak, SAP akrual ini ingin menerapkan sesuai dengan
manfaat dan fungsinya, atau sebatas pemenuhan undang-undang?
Informan: Jadi, pemenuhan undang-undang dan atasan itu pasti. Tapi, kan
undang-undang dibuat untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik. Jadi ya
dua-duanya. Undang-undang dibentuk namanya ada naskah akademik,
sebelumnya sudah didasarkan karena ada teori-teori dan praktik-praktik
terbaik. Jadi kan ada manfaat lebih baik dibanding dengan aturan yang
kemarin.
11. Kemudian bagaimana dengan capaian WTP pak, setelah adanya akrual
ini?
Informan: WTP adalah wujud eksistensi diri. Pemerintah pusat, daerah.
segala sesuatunya diatur. Tidak ada yang tidak diatur, itu kewajiban. Kalau
pemerintah mau ndak mau harus sesuai dengan aturan. Karena segala sesuatu
di pemerintah semuanya pasti diikat peraturan. Semuanya berdasarkan aturan.
meskipun implementasi tidak 100 (seratus) persen sesuai dengan aturan.
12. Menurut Bapak, apakah manfaat dari basis akrual di pemerintahan juga
sama dengan yang ada di swasta, yakni sebagai pengambil keputusan
pak?
Informan:. Sama dengan di swasta. Pelaksanaan sebatas kemampuan karena
ya itu SDM, IT, menunjang.
95

Informan : Agus Purnomo


Inspektorat Pemerintah Kota Malang

1. Menurut Bapak, bagaimana roses pemeriksaan dalam pelaksanaan


implemetansi sap akrual?
Informan: Review SAP akan dilaksanakan tahun 2016. Kan rencananya baru
diterapkan 2015 ini. Kemudian di Inspektorat juga timnya belum melakukan
diklat khusus untuk review ataupun evaluasi terkait SAP akrual, mungkin
sekitar bulan Januari Februari 2016, kalau sudah mempunyai ilmunya baru
kita laksanakan. Tertuang di Perwal 20 Tahun 2014, kita memiliki kewajiban
monev, tapi ilmunya yang belum kita dapat. Jadi tidak hanya review laporan
keuangan, akan tetapi juga monev pelaksanaan implementasi SAP akrual
apakah sudah sesuai ketentuan, apakah sudah sesuai dengan bultek-bulteknya.
2. Seharusnya inspektorat ikut mengawal dalam tahapan implementasi
SAP akrual, contohnya proses asistensi yang dilakukan oleh BPKAD,
mengapa demikian pak?
Informan: selama ini BPKAD jalan sendiri, Inspektorat tidak dilibatkan
dalam hal itu. Jadi selama tidak ada penugasan, ya kita melakukan monev
mandiri setelah kita memiliki ilmunya. Selama ini pelaksaan SAP kan leading
sektornya kan BPKAD, seharusnya insiatif itu datangnya dari BPKAD.
3. Bagaimana respon Pemerintah Kota Malang dalam menghadapi SAP
akrual? Apakah ada egosentris?
Informan: Tidak juga sih. Kita selama ini juga kerjasama dengan BPKAD.
Karena kita kan mempunyai tugas sendiri-sendiri. Nah pelaksanaan SAP kan
leading sektornya BPKAD. Jika BPKAD jalan terkait kebijakan dan IT, ya
memang ranahnya BPKAD.
4. Akan tetapi, terkait dengan penerapan akrual ini, bukankah seharusnya
pengawas internal lebih mengetahui terlebih dahulu dari pada eksternal
(BPK), namun sepertinya selama ini BPK yang terlebih dahulu
mengontrol jalannya akrual di Pemkot Malang pak?
96

Informan: Iya memang. Akan tetapi, jika belum melaksanakan diklat, belum
punya ilmunya, ya tidak boleh melaksanakan monev dan reviewnya. Hal ini
disampaikan waktu diklat bulan Oktober di BPK Yogyakarta terkait SAP
akrualnya, masih belum monev dan reviewnya. Kita ndak boleh, kalau tidak
punya senjatanya.
5. Menurut Bapak, seberapa penting akrual ini?
Informan: Penting ndak penting kan tergantung manfaatnya. Setiap aturan
kan ada manfaat dan kekurangannya sendiri-sendiri.
6. Mau tidak mau, suka tidak suka berarti harus dilaksanakan pak?
Informan: Iya mbak. masalahnya begini mbak, pemerintahan dimanapun
juga, melakukan segala sesuatu berdasarkan peraturan, peraturan dibuat pada
dasarnya untuk memperbaiki keadaan. Untuk mencari suatu perbaikan-
perbaikan dari apa yang tadi menjadi tujuan. Karena sudah aturan, pemerintah
semua harus berdasarkan aturan, "senang atau tidak yang harus dilaksankan".
7. Selama ini peraturan bersifat kan lebih ke top down? apakah setiap
aturan ada diskusi?
Informan: Dalam proses pembuatan aturan ada yang namanya konsultasi
publik, dari pusat dikonsultasikan ke daerah. dari konsultasi itu, ada masukan
dari daerah-daerah. Nah itu pasti itu. jadi sebelum peraturan itu ditetapkan,
pasti sudah ada msukan dari daerah. Jadi pasti sudah mengakomodir dari
daerah-daerah tersebut. Jadi, kalau sudah diundangkan "mau gak mau ya
harus dilaksankan".
8. Berarti, jika demikian seharusnya tidak ada keluhan ya Pak dari tiap
Pemda?
Informan: Keluhan berarti kan ada permasalahan. sebenarnya permasalahan
kan tergantung Pemdanya masing-masing. Sebenarnya untuk penerapan SAP
akrual kan aturannya sudah lama. Tapi, tergantung daerahnya masing-masing
kan, mau dilaksanakan sebelumnya atau pas 2015. Kalau dilaksanakan
sebelumnya kan tidak ada kesulitan. Kalau sekarang kan permasalahannya
kan komplek sekali, harus didukung SDM, anggaran, IT. Nah sekarang SDM
banyak yang tidak berada di background akuntansi, IT juga kan terbatas.
97

Karena belum tentu penyediaan anggaran yang besar, bisa dilaksanakan.


Karena terkait SDM juga. kalau anggaran besar, tapi SDM nya tidak
mumpuni, ya tidak terlaksana. Kalau anggaran besar, tapi tidak ada yang
punya basis akuntansi, ya sulit.
9. Jika demikian, untuk permasalahan SDM seharusnya bagaimana pak?
Informan: Sebenarnya aturannya penempatan pegawai berdasarkan
kompetensi, ini di BKD seharusnya. Jadi tidak hanya Inspektorat dan
BPKAD dalam penerapan SAP akrual, tapi juga ada BKD, yang mengetahui
SDM-SDM di bidang akuntansi, jadi harus ada analisis beban kerja.
10. Menurut Bapak, SAP akrual ini ingin menerapkan sesuai dengan
manfaat dan fungsinya, atau sebatas pemenuhan undang-undang?
Informan: Jadi, pemenuhan undang-undang dan atasan itu pasti. Tapi, kan
undang-undang dibuat untuk mendapatkan manfaat yang lebih baik. Jadi ya
dua-duanya. Undang-undang dibentuk namanya ada naskah akademik,
sebelumnya sudah didasarkan karena ada teori-teori dan praktik-praktik
terbaik. Jadi kan ada manfaat lebih baik dibanding dengan aturan yang
kemarin.
11. Kemudian bagaimana dengan capaian WTP pak, setelah adanya akrual
ini?
Informan: WTP adalah wujud eksistensi diri. Pemerintah pusat, daerah.
segala sesuatunya diatur. Tidak ada yang tidak diatur, itu kewajiban. Kalau
pemerintah mau ndak mau harus sesuai dengan aturan. Karena segala sesuatu
di pemerintah semuanya pasti diikat peraturan. Semuanya berdasarkan aturan.
meskipun implementasi tidak 100 (seratus) persen sesuai dengan aturan.
12. Menurut Bapak, apakah manfaat dari basis akrual di pemerintahan juga
sama dengan yang ada di swasta, yakni sebagai pengambil keputusan
pak?
Informan:. Sama dengan di swasta. Pelaksanaan sebatas kemampuan karena
ya itu SDM, IT, menunjang.
98

13. Kemudian, apa harapan dan saran dari bapak atas pelaksanaan akrual
ini pak?
Informan: harapannya ya sesuai dengan ketentuan itu saja. batasannya kan
ketentuan kita kan tidak bisa berharap lebih dari aturan. Sarannya, ya mau
ndak mau suka ndak suka ya harus melaksanakan sap berbasis akrual.