Anda di halaman 1dari 8

Pengujian Keserempakan Pemutus Tenaga (PMT)

Three Pole 150 kV Bay Trafo Gardu Induk


Simulator Udiklat Semarang (TLM Academy)
Anindita Singgih Pambudi1, Dr. Ir. Hermawan, DEA2
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Jl. Prof. H. Soedharto, SH, Tembalang 50275, Semarang, (024) 7460053-7460055; Fax (024) 7460055
Email:aninditasinggihp@gmail.com

Abstrak Circuit Breaker (Pemutus tenaga) atau sebagian sistem tersebut termasuk salah satunya adalah performa
besar orang lebih sering menyebutnya dangan PMT peralatan saluran transmisi. Ada berbagai macam peralatan
merupakan peralatan yang sangat penting bagi keandalan pada saluran transmisi dan kebanyakan alat-alat ini berada di
penyaluran energi listrik. PMT harus dapat memutus aliran gardu induk. Peralatan ini dikelompokan menjadi bay-bay
arus beban suatu saluran baik dalam keadaan normal dalam gardu induk. Apabila peralatan-peralatan dalam kondisi
maupun ketika terjadi gangguan. Untuk itu, perlu dilakukan yang baik, maka penyaluran energi listrik juga akan baik,
pemeliharaan terhadap PMT baik secara mekanis maupun sedikit gangguan dan rugi daya juga kecil.
elektris. Salah satu pemeliharaan yang penting adalah pada Circuit Breaker (Pemutus tenaga) atau sebagian besar
bagian interrupter PMT. Pada bagian ini biasa dilakukan orang lebih sering menyebutnya dangan PMT merupakan
pemeliharaan yaitu pengujian tahanan kontak, pengujian peralatan yang sangat penting bagi keandalan penyaluran
tahanan isolasi dan pengujian keserempakan. energi listrik. PMT harus dapat memutus aliran arus beban
Pengujian keserempakan mengukur seberapa cepat baik dalam kondisi normal maupun ketika terjadi gangguan
kontak PMT untuk open (trip) maupun close dan juga pada saluran tenaga listrik .Untuk itu, perlu dilakukan
selisih waktu kerja kontak. Ini merupakan salah satu pemeliharaan terhadap PMT baik secara mekanis maupun
pemeliharaan yang penting dilakukan pada interrupter elektris. Salah satu yang penting dilakukan terhadap PMT
PMT. Kerja kontak PMT pada setiap fasanya tidak boleh adalah pengujian keserempakan. Pengujian ini mengukur
memiliki perbedaan waktu yang besar. Apabila kontak PMT seberapa cepat kontak PMT untuk open (trip) dan untuk close.
menutup dengan tidak serempak maka bisa menyebabkan Kerja kontak PMT tersebut pada setiap fasanya baik open
peralatan yang terhubung dengan PMT menjadi rusak maupun close tidak boleh memiliki perbedaan waktu yang
akibat adanya lonjakan arus maupun tegangan. besar (harus serempak). Apabila kontak PMT menutup dengan
Pada laporan kerja praktek ini, penulis akan sedikit tidak serempak maka bisa menyebabkan peralatan yang
membahas mengenai pengujian pada interrupter PMT. terhubung dengan PMT menjadi rusak akibat adanya lonjakan
Kemudian lebih spesifik lagi akan diambil pokok bahasan arus maupun tegangan. Untuk itu, diperlukan suatu
mengenai prosedur kerja pengujian keserempakan PMT. pengetahuan mengenai pengujian keserempakan pada PMT.
Pengujian dilakukan pada PMT 150 kV bay trafo di Gardu
B. Tujuan
Induk Simulator Udiklat Semarang (Transmission and Live
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
Maintanance Academy).
1. Mengetahui pengujian pada interrupter PMT
2. Mengetahui prinsip dan prosedur kerja pengujian
Kata KunciPMT,Pengujian Keserempakan,prosedur kerja
keserempakan PMT.
I. PENDAHULUAN 3. Mengetahui peralatan kerja dalam pengujian
keserempakan PMT.
A. Latar Belakang
4. Mengetahui keserempakan PMT three pole 150 kV bay
Pada Beberapa tahun terakhir, kebutuhan masyarakat
trafo di Gardu Induk Simulator Udiklat Semarang.
Indonesia akan energi listrik semakin meningkat. Dengan
semakin banyak kebutuhan listrik yang harus dipenuhi, maka C. Batasan Masalah
PLN harus meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik agar Dalam penulisan makalah ini, penulis menjelaskan
tidak mengalami kerugian yang besar. Diharapkan daya yang tentang proses pengujian keserempakan PMT three pole 150
dikirim oleh pembangkit listrik sama dengan daya yang kV bay trafo di Gardu Induk Simulator yang ada di PT. PLN
diterima oleh beban. Namun dalam prakteknya, energi listrik Udiklat Semarang, beserta peralatan-peralatan yang digunakan
yang dikirimkan tersebut tidaklah seluruhnya diterima beban. selama proses pengujian keserempakan tersebut. Pengujian
Hal ini dikarenakan oleh adanya rugi-rugi daya listrik pada keserempakan hanya meliputi pengujian kerja PMT open dan
sistem transmisi. PMT close. Tidak membahas secara mendetail mengenai kerja
Keandalan sistem tenaga listrik juga sangat penting PMT dan performa alat uji (Breaker Analyzer) yang
agar energi listrik dapat disalurkan dengan baik. Keandalan digunakan selama pengujian.

1
Mahasiswa
2
Dosen Pembimbing
1
II. DASAR TEORI 1. Pemeliharaan Preventive
Berdasarkan IEV (International Electrotechnical Pemeliharaan Preventive merupakan pemeliharaan
Vocabulary) 441-14-20 disebutkan bahwa Circuit Breaker yang dilaksanakan untuk mencegah terjadinya kerusakan
(CB) atau Pemutus Tenaga (PMT) merupakan peralatan saklar peralatan secara tiba-tiba dan dapat mempertahankan
/switching mekanis, yang mampu menutup, mengalirkan dan unjuk kerja yang optimum sesuai unsur teknisnya.
memutus arus beban dalam kondisi normal serta mampu Kegiatan pemeliharaan ini dilaksanakan secara berkala
menutup, mengalirkan (dalam periode waktu tertentu) dan berdasarkan periode waktu (Time Base Maintenance).
memutus arus beban dalam spesifik kondisi abnormal/ 2. Pemeliharaan Corrective
gangguan seperti kondisi short circuit / hubung singkat. Pemeliharaan Corrective merupakan pemeliharaan
Berdasarkan jumlah mekanik penggerak, PMT dapat yang dilaksanakan dengan berencana pada waktu-waktu
dibedakan menjadi: tertentu ketika peralatan mengalami kelainan atau unjuk
PMT Single Pole kerja rendah pada saat menjalankan fungsinya. Biasanya,
PMT jenis ini mempunyai mekanik penggerak pada pemeliharaan ini berbentuk trouble shooting, penggantian
masing-masing pole, umumnya PMT jenis ini dipasang bagian yang rusak.
pada bay penghantar agar PMT bisa reclose satu fasa. 3. Pemeliharaan Detective
PMT Three Pole Pemeliharaan Detective merupakan pemeliharaan
PMT jenis ini mempunyai satu mekanik penggerak yang dilakukan setelah terjadinya kerusakan mendadak
untuk tiga fasa, guna menghubungkan fasa satu dengan (biasanya karena gangguan tiba-tiba).
fasa lainnya di lengkapi dengan kopel mekanik, umumnya Circuit Breaker (CB) atau yang lebih dikenal dengan
Pemutus Tenaga (PMT) merupakan salah satu peralatan
PMT jenis ini di pasang pada bay trafo dan bay kopel serta tegangan tinggi di gardu induk yang sangat penting. PMT ini
PMT 20 kV untuk distribusi. harus dapat memutuskan arus beban pada saat kondisi normal
Sistem Pemutus (PMT) terdiri dari beberapa sub-sistem maupun pada kondisi gangguan. Untuk itu, diperlukan
yang memiliki beberapa komponen. Penghantar merupakan pemeliharaan khusus pada alat ini. Berdasarkan fungsi dan
bagian PMT yang bersifat konduktif dan berfungsi untuk kondisi peralatan bertegangan atau tidak, jenis pemeliharaan
menghantarkan/ mengalirkan arus listrik. Bagian penghantar pada Pemutus Tenaga (PMT) dikelompokkan menjadi 5
pada PMT yang paling penting adalah interrupter. berdasarkan review SE.032/PST/1984 dan Suplemennya.
Interrupter merupakan bagian terjadinya proses Yang mengacu pada Failure Mode Effect Analysis / FMEA.
membuka atau menutup kontak PMT. Di dalamnya terdapat
beberapa jenis kontak yang berkenaan langsung dalam proses A. In Service / Visual Inspection
penutupan atau pemutusan arus. In Service Inspection adalah inspeksi/pemeriksaan
terhadap peralatan yang dilaksanakan dalam keadaan
peralatan beroperasi / bertegangan (on-line). Ini menggunakan
5 panca indera (five senses) dan metering secara sederhana
1. Terminal utama atas (seperti menggunakan Thermo Gun) dengan pelaksanaan
2. Konduktor arus atas periode waktu tertentu.
3. Kontak diam
4. Kontak bergerak B. In Sevice Measurement / On Line Monitoring
5. Konduktor pelepas tekanan Merupakan pengukuran yang dilakukan pada periode
6. Konduktor arus bawah tertentu dalam keadaan peralatan bertegangan (On Line).
7. Terminal utama bawah Pengukuranyang dilakukan bertujuan untuk mengetahui/
8. Isolator penggerak memonitor kondisi peralatan dengan menggunakan alat ukur
yang advanced (seperti Thermal Image thermovision).
Gambar 1 Bagian Interrupter
C. Shutdown Measurement / Shutdown Function Check
Sistem Penggerak pada PMT berfungsi untuk Merupakan pengukuran yang dilakukan pada periode
menggerakkan kontak gerak (moving contact) untuk operasi tertentu dalam keadaan peralatan tidak bertegangan (Off Line).
pemutusan atau penutupan PMT. Terdapat beberapa jenis Pengukuran dilakukan bertujuan untuk mengetahui kondisi
sistem penggerak pada PMT, antara lain Penggerak pegas peralatan dengan menggunakan alat ukur.
(Spring Drive)yang terdiri dari pegas pilin (helical spring) dan Pada PMT, salah satu pengukuran yang penting
pegas gulung (scroll spring). Selain itu, ada Penggerak dilakukan adalah pengukuran pada bagian interrupter. Berikut
Hidrolik ,Penggerak Pneumatik, dan SF6 Gas Dynamic. SF6 pengujian/ pengukuran pada bagian interrupter yang terkait
gas dinamik memanfaatkan gas SF6 yang berfungsi ganda dalam pemeliharaan Shutdown Measurement.
selain sebagai pemadam busur api, tekanan gas juga
dimanfaatkan sebagai media penggerak. 1. Pengukuran Tahanan Isolasi
Dalam suatu sistem tenaga listrik, sistem transmisi Pengukuran tahanan isolasi pemutus tenaga (PMT) ialah
misalnya, keandalan dalam menyalurkan tenaga listrik sangat proses pengukuran dengan suatu alat ukur Insulation Tester
dipengaruhi oleh performa peralatan. Agar peralatan-peralatan (megger) untuk memperoleh besar tahanan isolasi pemutus
ini bisa beroperasi dengan baik, maka diperlukan suatu tenaga antara bagian yang diberi tegangan (fasa) terhadap
pemeliharaan. Pada hakikatnya, pemeliharaan merupakan badan (case) yang ditanahkan maupun antara terminal
suatu pengawasan atau kegiatan yang dilakukan terhadap masukan dengan terminal keluaran pada fasa yang sama. Pada
peralatan agar peralatan dapat beroperasi normal, optimal, dasarnya pengukuran tahanan isolasi PMT adalah untuk
andal dan memenuhi pedoman kerja. Secara umum, mengetahui besar (nilai) kebocoran arus. Kebocoran arus yang
pemeliharaan dapat dibedakan berdasarkan sifat yaitu: memenuhi ketentuan akan memberikan jaminan bagi PMT itu
2
sendiri sehingga terhindar dari kegagalan isolasi. Opening Time
2. Pengukuran Tahanan Kontak Close Open Time
Pertemuan dari beberapa konduktor (sambungan) Open Close Time
menyebabkan suatu hambatan/ resistan terhadap arus yang Open Close Open Time
melaluinya sehingga akan terjadi panas dan menjadikan Closing Time merupakan waktu yang dibutuhkan oleh
kerugian teknis. Rugi ini sangat signifikan jika nilai tahanan PMT untuk menutup kontak. Sedangkan Opening Time adalah
kontaknya tinggi yang terjadi ketika jumlah sambungan waktu yang dibutuhkan oleh PMT untuk membuka kontak.
banyak. Ini bisa dihindari dengan melakukan pemeliharaan D. Overhaull
pada sambungan. Jadi pemeliharaan tahanan kontak sangat Overhaull adalah pemeliharaan yang dilaksanakan
diperlukan sehingga memenuhi syarat nilai tahanan kontak. sekurang-kurangnya sekali dalam tiga tahun atau lebih
3. Pengukuran Keserempakan (Breaker Analyzer) berdasarkan manual instruction, ketentuan pabrikan atau
Tujuan dari pengujian keserempakan PMT adalah untuk pengalaman/ketentuan unit setempat. Pemeliharaan overhaull
mengetahui waktu kerja PMT secara individu serta untuk merupakan pemeliharaan secara keseluruhan PMT dan bebas
mengetahui keserempakan PMT pada saat menutup ataupun dari tegangan. Pemeliharaan ini lebih difokuskan untuk
membuka . pemeliharaan bagian dalam PMT seperti interrupter, media
Berdasarkan cara kerja penggerak, maka PMT dapat pemadam busur api, dan lain sebagainya.
dibedakan atas jenis three pole dan single pole. Untuk Bay E. Pasca Gangguan/ Relokasi
Penghantar biasanya PMT menggunakan jenis single pole Pekerjaan pemeliharaan yang dilaksanakan pasca
dengan maksud PMT tersebut dapat trip satu fasa apabila gangguan atau relokasi peralatan, misalnya karena bencana
terjadi gangguan satu fasa ke tanah dan dapat reclose satu fasa alam/gempa. Ini sangat penting karena kemungkinan
yang biasa disebut SPAR (Single Pole Auto Reclose). Namun kerusakan peralatan setelah terjadi bencana itu sangat besar
apabila gangguan pada penghantar fasa fasa maupun tiga dan biasanya merupakan kerusakan yang parah. Jadi
fasa maka PMT tersebut harus trip 3 fasa secara serempak. kebanyakan pemeliharaan pasca gangguan merupakan
Apabila PMT tidak trip secara serempak akan menyebabkan pemeliharaan dalam keadaan tanpa tegangan.
gangguan.
Hal yang sama juga untuk proses menutup PMT maka III. PENGUJIAN KESEREMPAKAN PEMUTUS TENAGA
yang tipe single pole ataupun three pole harus menutup (PMT) THREE POLE BAY TRAFO GARDU INDUK
secara serentak pada fasa R,S,T, kalau tidak maka dapat SIMULATOR UDIKLAT SEMARANG
menjadi suatu gangguan di dalam sistem tenaga listrik dan Pengujian keserempakan Pemutus Tenaga (PMT)
menyebabkan system proteksi bekerja. merupakan salah satu tahap dalam pemeliharaan PMT.
Pada waktu PMT trip akibat terjadi suatu gangguan Pengujian ini masuk dalam klasifikasi shutdown measurement
pada system tenaga listrik diharapkan PMT bekerja dengan yaitu pemeliharaan dalam keadaan tidak bertegangan / offline.
cepat sehingga clearing time yang diharapkan sesuai standard Jadi, untuk melakukan pengujian keserempakan, maka bay
SPLN No 52-1 1983 untuk system 70 KV = 150 milli detik PMT yang akan dilakukan pengujian tersebut harus
dan SPLN No 52-1 1984 untuk system 150 kV = 120 milli dibebaskan dahulu dari tegangan dengan melakukan manuver
detik, dan final draft Grid Code 2002 untuk system 500 kV = pembebasan tegangan.
90 milli detik dapat terpenuhi. Pengujian keserempakan PMT menggunakan alat uji
Pengujian keserempakan PMT dilakukan dalam keadaan yang bernama Breaker Analyzer. Alat ini akan mengukur
tidak bertegangan (offline). Pentanahan (Grounding) lokal kecepatan kontak PMT untuk membuka/trip (opening) dan
dipasang untuk mengurangi resiko induksi yang masih juga kecepatan kontak PMT untuk menutup (closing) pada
mengalir melalui alat uji dan menghindari bahaya bagi para masing-masing fasa PMT. Kemudian dari hasil pengukuran
pekerja. Selanjutnya juga harus dipasang pentanahan tersebut, kecepatan kontak masing-masing fasa akan
(grounding) untuk alat uji keserempakan sebagai pengaman dibandingkan satu sama lain sehingga akan terdapat
apabila ada gangguan. Rangkaian alat uji keserempakan perbedaan kecepatan kontak masing-masing fasanya.
Perbedaan kecepatan ini menunjukan apa yang disebut
keserempakan PMT. Semakin besar perbedaan kecepatan
kontak antar fasa menunjukan keserempakan PMT semakin
Trip coil
buruk dan diperlukan perbaikan pada PMT tersebut. Apabila
110 perbedaan kecepatan kontak PMT antar fasanya besar atau
dapat dikatakan keserempakannya jelek, maka dapat
Closin menyebabkan kerusakan peralatan lain yang terdapat pada bay
PMT tersebut. Selain itu, kecepatan kontak baik open maupun
close memiliki standarisasi kecepatan maksimal yang
diperbolehkan dalam satuan waktu milidetik (ms).
R T A. PMT Pengujian
Pada praktek pengujian keserempakan ini, PMT yang
Trip diuji adalah PMT three pole bay trafo pada sisi 150 KV di
Close coil
Gardu Induk Simulator Udiklat Semarang (TLM Academy).
Gambar 2 Rangkaian pengujian keserempakan PMT Berikut gambar PMT 150 KV bay trafo tersebut:
Pengujian Keserempakan pada PMT terdiri dari
beberapa kondisi,
Closing Time
3
Gambar 5 Breaker Analyzer

2. Safety Helmet dan Safety boot


Perlengkapan K3 ini wajib digunakan oleh semua
pekerja pelaksana pengujian keserempakan PMT.

Gambar 3 PMT three pole 150 kV gardu induk simulator Udiklat


Semarang (TLM Academy)

PMT yang diuji merupakan PMT 150 kV dengan


pemadam busur api gas SF6 dan penggerak mekanik adalah
spring. Berikut nameplate dari PMT yang diuji
keserempakannya:
Gambar 6 Safty helmet dan safety boot

3. Sarung tangan dan Safety belt


Perlengkapan K3 ini digunakan khusus oleh pekerja
yang memanjat PMT untuk memasang kabel kontak pole atas
dan pole bawah PMT disamping safety helmet dan safety boot
juga harus digunakan.

Gambar 4 Nameplate PMT pengujian

Dari nameplate yang ada pada PMT, maka dapat


diketahui karakteristik dari PMT. Berikut tabel keterangan
Gambar 7 Sarung tangan dan safety belt
nameplate PMT yang ada di gardu induk simulator Udiklat
Semarang (TLM Academy). C. Rangkaian Pengujian Keserempakan PMT
Pengujian keserempakan PMT three pole 150 KV bay
Tabel 1 Keterangan Namepalte PMT
trafo di Gardu Induk Simulator Udiklat Semarang (TLM
Nama merk PMT ABB (Asea Brown Boveri)
Academy) menggunakan breaker analyzer CT 6500 produk
Type EDF SV 3-1
Nomor Seri 331 2024/7
dari Vanguard dengan 3 kontak. Berikut bagian-bagian
Tahun Pembuatan 1988
Breaker Analyzer yang digunakan pada saat pengujian
No Namplate Keterangan 1 2
1 U 170 kV Tegangan nominal PMT adalah 170 kV
2 Uw 750 kV Tegangan maksimal PMT adalah 750 kV
3 f 50 Hz Bekerja pada Frekuensi 50 Hz
4 In 3150 A Arus nominal PMT adalah 3150 A
5 Isc 31,5 kA Arus maksimal PMT adalah 31,5 kA
Tegangan DC untuk injeksi coil adalah 110 3
6 Ua 110 VDC
V
Tegangan kerja peralatan kontrol PMT 4
7 U 220V 50 Hz
seperti motor dan sistem penggerak lainnya
8 U 110 V Tegangan pada wiring kontrol PMT 12
M 5
Gas SF6 di dalam PMT memiliki tekanan
9 Pabs SF6 /200 C 700 kPa 11
sebesar 700 kPa
10 Vol (SF6 ) 8,0 kg Volume Gas SF 6 sebesar 8,0 Kg
11 M 1200 kg Berat PMT adalah 1200 Kg 10
Setelah PMT open, maka 0,3 detik
setelahnya baru bisa dilakukan kerja close. 3
12 O- 0,3 s CO 3 min CO 9
menit waktu pengisian pegas agar PMT
dapat reclose kembali. 6

B. Peralatan Kerja dan Peralatan K3


Dalam melakukan pengujian keserempakan PMT three
pole 150 KV bay trafo di gardu induk simulator Udiklat
Semarang ini diperlukan peralatan kerja dan juga peralatan 8 7
Keamanan, dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai berikut: Gambar 8 Bagian Breaker Analyzer vanguard CT 6500
1. Breaker Analyzer
Breaker Analyzer sebagai alat uji keserempakan PMT Berikut keterangan gambar dari breaker analyzer di atas.
termasuk di dalamnya kabel-kabel konektor untuk pengujian. 1. Konektor Kontak pole PMT
2. Input tegangan
3. Sumber tegangan 120/220 V AC, 50/60 Hz
4
4. Konektor ground dengan garis warna hitam. Kabel konektor initiate terdiri dari
5. Transducer Input empat pin (kabel kecil), 2 berwarna hijau dan 2 berwarna
6. Printer putih. Berikut gambar kabel initiate.
7. Display LCD
8. Keypad
9. Tombol Safety
10. Konektor Fast-Blow Open dan Close
11. Konektor Initiate
12. Komputer Interface
Pada saat pengujian keserempakan PMT three pole 150
KV bay trafo di gardu induk Simulator Udiklat Semarang
(TLM Academy), dari bagian-bagian konektor yang ada pada Gambar 11 Kabel konektor Initiate
alat Breaker Analyzer, tidak semuanya digunakan pada saat
2 kabel berwarna hijau merupakan kabel open (trip),
pengujian. Berikut rangkaian pengujian keserempakan PMT
sedangkan 2 kabel berwarna putih merupakan kabel close.
di gardu induk simulator tersebut.
Empat kabel ini akan dihubungkan ke kotak kontrol PMT
yang menempel di bawah PMT. Selain melalui kotak kontrol
PMT, kabel initiate dapat dirangkai melalui kotak manual
220 V kontrol bay trafo yang ada di sebelah PMT.

Gambar 12 Kotak kontrol PMT 150 KV

Gambar 9 Rangkaian pengujian keserempakan PMT

1. Konektor kontak pole PMT


Dari slot konektor kontak yang ada pada Breaker
analyzer dihubungkan ke pole atas dan pole bawah PMT. Gambar 13 Kotak manual kontrol pada bay trafo
Pada gambar ditunjukkan dengan garis warna merah, kuning Dapat dilihat dalam gambar bahwa kontak-kontak yang
dan biru. Warna ini sama dengan warna pada PMT pengujian terdapat baik pada kotak kontrol PMT maupun kotak manual
yang menunjukkan fasa dari PMT. Merah menunjukkan fasa kontrol bay trafo sangat banyak. Akan tetapi, untuk
R, kuning adalah fasa S, dan biru adalah fasa T. Konektor melakukan pengujian keserempakan, kabel initiate hanya
yang digunakan adalah kabel konektor seperti berikut. dihubungkan ke 3 kontak saja yaitu kontak sumber, kontak
open dan kontak close. Dalam kotak tersebut masing-masing
kontak sudah diberi nomor untuk mempermudah pencarian.
Berikut penggamabaran wiring kabel initiate untuk pengujian
keserempakan.

No kontak Fungsi
X 360-7 Open/Trip Coil
X 412-5 Sumber Positif
X 360-2 Close Coil
Gambar 10 Kabel konektor Ke PMT Gambar 14 Wiring kabel initiate pada kotak kontrol
Kabel konektor ini terdiri dari 2 penjepit, merah dan Pada saat melakukan pengujian waktu kerja kontak PMT
hitam. Masing-masing penjepit dihubungkan ke pole atas dan open maka kontak close coil (X 360-2) tidak perlu
pole bawah PMT. Terdapat 3 kabel konektor sehingga dihubungkan. Begitu juga ketika melakukan pengujian PMT
masing-masing fasa (R, S dan T) dihubungkan dengan satu close maka kontak open coil (X 360-7) tidak perlu
kabel yang memiliki dua penjepit. Penjepit merah bisa dihubungkan. Akan tetapi, untuk lebih effisien kedua kontak
dihubungkan dengan pole atas PMT sedangkan penjepit hitam langsung dihubungkan pada saat awal merangkai. Hal ini juga
untuk pole bawah PMT. Akan tetapi, bisa juga apabila berguna pada saat melakukan pengujian Open-Close (OC),
dipasang dengan kondisi sebaliknya. close-open (CO), dan open-close-open (OCO).
2. Konektor Initiate
Pada slot Konektor Initiate dihubungkan ke kotak D. Prosedur pengujian Keserempakan PMT
kontrol PMT. Pada gambar rangkaian di atas ditunjukkan Pengujian yang dilakukan hanya untuk pengujian
keserempakan PMT waktu open dan waktu close. Sedangkan
5
pengujian open-close, close-open dan open-close-open tidak waktu OpenClose, CloseOpen dan OpenCloseOpen tidak
dilakukan. Berdasarkan pengalaman penggunaan alat breaker dilakukan. Breaker Analyzer Vanguard CT 6500
analyzer merk Vanguard CT 6500, ketika melakukan mengeluarkan hasil pengujian langsung melalui printer yang
pengujian yang kontinyu (misalnya open-close) maka hasil terdapat pada alat. Berikut adalah contoh data printout dari
yang dikeluarkan tidak menunjukan hasil yang sesuai. Ini Breaker analyzer hasil pengujian keserempakan PMT three
karena spesifikasi PMT yang diuji memiliki waktu kerja yang pole 150 kV bay trafo di Gardu Induk Simulator Udiklat
di luar jangkauan alat breaker analyzer. Berikut prosedur Semarang (TLM Academy):
pengujian keserempakan PMT three pole 150 KV bay trafo di
gardu induk simulator Udiklat Semarang (TLM Academy).
1. Melakukan briefing sebelum melakukan pekerjaan yang
dipimpin oleh ketua regu pemeliharaan. Briefing
membahas pekerjaan pemeliharaan yang akan dilakukan.
2. Berdoa bersama
3. Memakai perlengkapan Keamanan dan Kesehatan Kerja
(K3)
4. Menyiapkan Breaker Analyzer dan kabel-kabel konektor.
5. Memakai Safety belt untuk pekerja yang bertugas
memanjat PMT
6. Memasang grounding lokal di salah satu sisi PMT
(konduktor pole atas/pole bawah) pada setiap fasa PMT.
7. Menghubungkan kabel Kontak input dari alat uji ke kontak
fasa R, S dan T di pole atas dan pole bawah PMT.
8. Menghubungkan kabel Initiate (konektor 4 pin/kabel) pada
rangkaian kontrol yang terdapat pada kotak control PMT
maupun kotak control bay.
9. Memasang kabel Grounding pada terminal safety ground Gambar 15 Printout Data close time PMT pengujian
pada alat uji dan menghubungkan ke sistem pentanahan.
10. Menghubungkan alat uji Breaker Analyzer ke sumber
tegangan yang sesuai (220 V. AC ). Dan pastikan Power
On/Off alat pada posisi Off.
11. Mengaktifkan alat uji Breaker Analyzer dengan
memposisikan saklar On/Off pada posisi On.
12. Masukkan data/spesifikasi PMT yang akan di uji dengan
media keypad dan disply monitor pada alat uji.
13. Melakukan operasi alat Breaker Analyzer untuk pengujian
Keserempakan PMT dengan mengikuti petunjuk/panduan
pada disply alat uji.
14. Memastikan PMT dalam kondisi open apabila akan
melakukan pengujian keserempakan close time. Demikian
juga sebaliknya. Hal ini bisa dilihat pada indikator di kotak
kontrol PMT. Apabila PMT dalam kondisi open indikator
menunjukkan 0 sedangkan PMT kondisi close
indikatornya adalah 1.
15. Menekan tombol Safety pada alat uji sebelum melakukan
pengujian. Tombol ditekan dan tahan sampai PMT
bekerja. Gambar 16 Printout Data open time PMT pengujian 2
16. Menekan tombol start agar PMT bekerja (open/close) Dari tiga kali hasil pengujian keserempakan PMT three
untuk melakukan pengujian keserempakan PMT kerja pole 150 kV bay trafo PT PLN Udiklat Semarang, maka dapat
kontak Open dan Close. dibuat rangkuman hasil pengujian keserempakan. Berikut
17. Melepas tombol Safety setelah PMT close/open (ditandai tabel rangkuman hasil pengujian tersebut:
dengan bunyi dentuman yang keras).
18. Menunggu Breaker Analyzer mengeluarkan printout hasil Tabel 2 Hasil pengujian keserempakan PMT
Waktu kerja
pengujian. Pengujian Open/Close Fasa
PMT
Delta time
19. Stop alat uji dengan memposisikan saklar On/Off pada R -
posisi Off. Open S - -
20. Melepas alat uji Breaker Analyzer dari sumber tegangan T -
1
dan kabel ground. R 64,00 ms
Close S 00,00 ms 0 ms
21. Melepas kabel kabel yang terhubung dari alat uji ke T 00,00 ms
internal PMT. R 27,40 ms
Open S 25,10 ms 2,3 ms
E. Hasil Pengujian Keserempakan PMT T 25,10 ms
Pengujian keserempakan dilakukan sebanyak 3 kali. 2
R 17,60 ms
Pengujian yang dilakukan hanya pengujian keserempakan Close S 61,30 ms 44,5 ms
waktu open/trip dan juga waktu close. Sementara pengujian T 62,10 ms
6
R 27,00 ms Triping coil maupun Memperbaiki atau
Open S 25,00 ms 2 ms closing coil putus/ mengganti coil
T 25,00 ms rusak sehingga tidak dengan yang baru.
3 bisa diinjeksikan arus.
R 55,00 ms
Close S 59,00 ms 5 ms
T 60,00 ms Wiring / pengkabelan Memeriksa
pada kotak kontrol kembali wiring
PMT salah pengujian PMT.
Pada pengujian keserempakan yang pertama, dilakukan
pengujian waktu close. Hasil pengujian menunjukkan bahwa 2 Hasil pengujian Kabel alat yang Memeriksa
hanya satu fasa yang terbaca oleh alat yaitu fasa R dengan waktu kerja dihubungkan ke pole kembali kabel
nilai 64 ms. Tidak terdeteksinya fasa lain (S dan T) karena kontak PMT yang PMT tidak terpasang pada pole PMT
dikeluarkan pada konduktor dan melakukan
pemasangan kabel kontak pada pole PMT krang benar. breaker analyzer dengan benar. Ada pembersihan pole
Dengan demikian, hasil selisih kecepatan kontak (delta time) menunjukkan nilai isolator (cat, debu, dll jika terdapat
tidak bisa diketahui sehingga pengujian keserempakan nol. yang menghalangi) sesuatu yang
dianggap gagal. Selanjutnya pengujian diulang tetapi PMT menghalangi.
tidak mau bekerja. Setelah diperiksa, ternyata coil yang ada 3 Hasil kerja kontak Mekanik penggerak Memperbaiki /
pada PMT putus dan harus diganti. Ini yang menyebabkan PMT (Open/close) memiliki kekuatan mensetting
PMT tidak bekerja dan Breaker analyzer tidak menunjukkan melebihi standar yang sudah menurun. ulang mekanik
hasil. yang ditentukan ( penggerak (pegas/
open = 55 ms dan hidrolik/
Clearing time PMT 150 kV diharapkan sesuai standard close = 77 ms) pneumatik) agar
SPLN No 52-1 1984 yaitu sebesar 120 milli detik. Clearing memiliki kekuatan
time merupakan waktu mulai bekerjanya relay ketika yang lebih baik
gangguan pada sistem tenaga listrik sampai dengan kontak untuk
menggerakan
PMT bekerja. Untuk memenuhi standar tersebut, maka PLN kontak PMT lebih
memberi batas maksimal kecepatan kerja kontak untuk PMT cepat.
close sebesar 77 ms sedangkan maksimal kecepatan kerja Terdapat kerak-kerak Melakukan
kontak PMT open adalah 55 ms. Selain itu, pada sistem 150 sisa SF6 hasil overhaull untuk
pemadaman busur api membersihkan
kV, Standar maksimal PLN untuk perbedaan kecepatan antar
yang terdapat pada kerak-kerak pada
fasa PMT baik kerja open maupun close (delta time) ujung fix contact kontak.
maksimal adalah 10 ms. Waktu delta time inilah yang maupun moving
menunjukkan keserempakan dari suatu PMT. Semakin kecil contact
nilainya maka PMT semakin serempak. Apabila dari hasil 4 Hasil kerja kontak Kekuatan mekanik Memperbaiki
PMT (Open/close) penggerak PMT mekanik
pengujian tidak sesuai standar yang diterapkan maka PMT terlalu cepat (pegas, hidrolik,dll) penggerak
perlu dilakukan perbaikan. terlalu kuat sehingga
Pada pengujian kedua, delta time pada kerja PMT open kerja kontak sangat
adalah 2,3 ms dan ini sudah sesuai standar. Akan tetapi, pada cepat
5 Selisih waktu Posisi antara mekanik Melakukan
kerja PMT close, delta time mencapai 44,5 ms jauh lebih kerja kontak PMT penggerak dan moving penyesuaian jarak
besar dari standar maksimal yaitu 10 ms. Ini terjadi karena (baik open contact pada setiap antara moving
pemasangan kabel initiate pada kotak kontrol tidak benar. maupun close) fasa PMT berbeda. Ini contact dan fix
Selanjutnya pada pengujian yang ke tiga, delta time PMT open melebihi batas menyebabkan jarak contact agar setiap
standar yang antara moving contact fasa relatif sama
2 ms sedangkan PMT close sebesar 5 ms. Ini sudah sesuai ditentukan yaitu dan fix contact sehingga waktu
standar yaitu kurang dari 10 ms. Semua hasil uji menunjukkan 10 ms berbeda-beda keserempakan jadi
waktu kerja dari PMT sudah sesuai standar yaitu kurang dari (Keserempakan lebih baik.
77 ms untuk close dan 55 ms untuk kerja open. PMT jelek)
Pada beberapa kasus lain mengenai pengujian
IV. PENUTUP
keserempakan PMT, menunjukan hasil yang kurang bagus. Ini
bisa disebabkan oleh beberapa hal dan juga bisa diatasi A. Kesimpulan
dengan melakukan pemeliharaan pada PMT tersebut. Berikut Dari kerja praktek yang telah dilakukan di PT. PLN
diuraikan dalam tabel tentang kondisi yang berkaiatan baik (Persero) Udiklat Semarang (TLM Academy) dapat diambil
proses maupun hasil pengujian keserempakan dan juga solusi kesimpulan sebagai berikut :
yang bisa digunakan untuk mengatasinya. 1. Pengujian pada interrupter PMT dalam keadaan offline
sebagai salah satu pemeliharaan terdiri dari pengujian
Tabel 3 Gangguan dan solusi dalam pengujian keserempakan PMT
tahanan kontak, pengujian tahanan isolasi dan pengujian
Pengujian
No
Keserempakan
Penyebab Solusi waktu keserempakan PMT.
1 Ketika pengujian Grounding lokal Memasang 2. Alat uji keserempakan yaitu Breaker analyzer yang
keserempakan, dipasang di kedua sisi grounding lokal bekerja dengan menginjeksikan arus pada closing coil
pada PMT tidak pole PMT hanya pada salah maupun triping coil agar kontak PMT bekerja. Waktu
mau bekerja (baik satu sisi PMT saja
kerja open (Konduktor pole kerja PMT pada setiap fasanya akan dihitung mealui kabel
maupun close). atas /bawah) kontak yang sudah terhubung di pole atas dan pole bawah
Isolator penghubung Memasangan PMT. Keserempakan dapat dilihat dari selisih waktu kerja
antara moving kontak isolator peng- kontak PMT antar fasanya. Semakin kecil selisih waktu
dengan mekanik hubung kembali kerja kontak antar fasa PMT maka keserempakan semakin
penggerak terlepas saat dilakukan
overhaull PMT.
baik.

7
3. Peralatan kerja yang digunakan dalam pengujian BIODATA PENULIS
keserempakan diantaranya adalah Breakaer Analyzer
sebagai alat untuk pengujian. Untuk peralatan K3, semua Anindita Singgih Pambudi lahir di
pekerja wajib menggunakan safety helmet, dan safety Banyumas pada tanggal 6 Januari 1994.
boot. Untuk pekerja yang bertugas memanjat PMT maka Telah menempuh studi mulai dari SD
diperlukan safety belt dan sarung tangan. Negeri Pesantren, SMP Negeri 1
4. Hasil pengujian keserempakan PMT three pole 150 kV Sumpiuh dan SMA Negeri 1 Gombong.
bay trafo di Gardu Induk Simulator Udiklat Semarang Saat ini sedang melanjutkan studi S1 di
(TLM Academy) menunjukkan bahwa waktu kerja kontak Jurusan Teknik Elektro konsentrasi
dan waktu keserempakan masih dalam kondisi baik dan Tenaga Listrik (Power), Fakultas
sesuai standar. Kerja kontak PMT untuk waktu open (trip) Teknik, Universitas Diponegoro,
masing-masing fasa kurang dari 55 ms dan untuk waktu Semarang.
close masing-masing kurang dari 77 ms. Sedangkan waktu
keserempakan PMT dibawah 10 ms.
B. Saran
Semarang, 12 Mei 2014
Saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah
sebagai berikut :
Menyetujui,
1. Pemeliharaan PMT, termasuk pengujian keserempakan Dosen Pembimbing
PMT, sebaiknya dilakukan berdasarkan periode waktu
tertentu untuk mencegah kerusakan yang parah pada PMT.
Tindakan pencegahan yang termasuk dalam pemeliharaan
preventive ini bisa mengurangi kerugian yang besar akibat
kerusakan. Apabila sudah terjadi kerusakkan pada PMT
akibat gangguan pada sistem tenaga listrik, maka perlu
dilakukan pemeliharaan baik pemeliharaan corrective Dr. Ir. Hermawan, DEA
maupun pemeliharaan detective. NIP 196002231986021001
2. Pengetahuan akan pemeliharaan PMT termasuk di
dalamnya pengujian keserempakan ini hendaknya lebih
dikenalkan kepada kalangan akademika. Tidak hanya
terbatas pada PMT saja namun juga pada peralatan
tegangan tinggi. Dengan demikian, kalangan akademika
ini dapat lebih mengetahui, mengkaji dan hingga bisa
mengembangkan proses pemeliharaan tersebut.
Harapannya, dari kalangan akdemika dapat
menyumbangkan inovasi agar penyaluran energi listrik di
Indonesia menjadi lebih optimal.

REFERENSI
[1] Arismunandar, Adan Kuwahara S. 1991. Teknik Tenaga
Listrik. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
[2] Arismunandar, Artono. 1984. Teknik Tegangan Tinggi.
Jakarta: Pradnya Paramita.
[3] PT. PLN (Persero) Pusat Pendidikan dan Pelatihan.
2009. Diklat Profesi dan Penyaluran Pemeliharaan
Pemutus Tenaga. Jakarta: PT. PLN (Persero)
[4] Sulasno. 2001. Teknik dan Sistem Distribusi Tenaga
Listrik Jilid I. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
[5] Tobing, Bonggas L. 2003. Peralatan Tegangan Tinggi.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.