Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN BIOEKIVALENSI

Simulasi Model In Vitro Farmakokinetika Obat Setelah Pemberian


Secara Peroral

Disusun oleh :

Kelompok 4C

11141020000008 Khairul Fadli Akbar

11141020000023 Hanifah Alfiyah

11141020000030 Ferani Nadyn Fatma

11141020000035 Septa Rahmadini

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Oktober / 2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Obat dalam arti luas diartikan sebagai setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses
hidup. Penggunaan obat telah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari- hari, baik untuk
mengatasi sakit yang bersifat ringan maupun berat. Obat dapat digunakan dalam
pengobatan suatu penyakit bila digunakan dengan dosis dan waktu yang tepat (Anief,
2000).
Obat yang telah masuk ke dalam tubuh melalui berbagai rute pemberian akan
mengalami berbagai proses di dalam tubuh sebelum akhirnya mencapai tempat aksi.
Sehingga dapat dikatakan bahwa ketika kita mengkonsumsi suatu obat, selain obat
memberikan pengaruhnya pada tubuh, demikian pula sebaliknya tubuh akan menentukan
nasib dari obat tersebut di dalamnya.
Salah satu jenis obat adalah obat analgesik- antipiretik yang beredar luas di masyarakat
adalah parasetamol. Parasetamol banyak digunakan baik oleh orang dewasa maupun anak-
anak. Daya analgesik parasetamol serupa dengan aspirin tetapi pada dosis terapetik hanya
memiliki daya anti-inflamasi yang lemah. Parasetamol efektif digunakan untuk meredakan
sakit ringan sampai sedang seperti demam, sakit kepala dan dismenorea (Laurence,
Bennett, and Brown, 1997).
Pada umumnya parasetamol diberikan dalam bentuk sediaan tablet. Pemberian obat
secara ekstravaskuler dengan tujuan sistemik harus melalui tahap absorpsi terlebih dahulu
sebelum dapat menimbulkan aktivitas terapetiknya. Absorpsi obat pada saluran pencernaan
dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka praktikum ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh pemberian obat secara oral terhadap profil farmakokinetik dari parasetamol.

1.2. Rumusan masalah


- Bagaimana proses farmakokinetika obat di dalam tubuh setelah pemberian secara oral
dengan simulasi model in vitro farmakokinetika obat?
- Bagaimana memplotkan data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala
semilogaritmik?
- Bagaimana menentukan berbagai nilai parameter farmakokinetiknya?
1.3. Tujuan praktikum
Dapat menjelaskan proses farmakokinetika obat di dalam tubuh setelah pemberian
secara oral dengan simulasi model in vitro farmakokinetika obat.
Mampu memplotkan data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala semilogaritmik.
Mampu menentukan berbagai nilai parameter farmakokinetik
BAB II
TEORI DASAR
Permodelan farmakokinetika obat setelah pemberian obat intravena lebih sederhana
disbanding penghantaran ektravaskuler. Rute penghantaran ektravaskuler, terutama pendosisan
oral, merupakan cara pemberian obat yang penting dan populer. Tidak seperti sediaan
intravena, dimana obat diinjeksikan secara langsung kedalam plasma, model farmakokinetika
pemberian obat ektravaskuler harus mempertimbangkan absorpsi obat sistemik. Absorpsi obat
sistemik dari saluran cerna atau dari beberapa site ektravaskuler lain bergantung pada sifat
fisikakimia obat, bentuk sediaan yang digunakan, dan anatomi dan fisiologi site absorpsi.
Dalam farmakokinetika, keseluruhan laju absorpsi obat dapat digambarkan baik sebagai proses
masukan orde kesatu atau orde nol. Sebagian besar model farmakokinetika menganggap
absorpsi mengikuti orde kesatu (Shargel, 2012).

Absorpsi Eliminasi
DGI Db VD DE

Laju perubahan jumlah obat dalam tubuh bergantung pada laju absorpsi dan eliminasi
obat. DGI adalah jumlah obat dalam saluran cerna dan DE adalah jumlah obat yang dieliminasi.
Kurva menunjukkan suatu kadar plasma-waktu yang menunjukkan proses laju absorpsi dan
eliminasi. Selama fase absorpsi, laju absorpsi obat lebih besar dari pada laju eliminasi. Selama
proses absorpsi, terjadi pula eliminasi selama ada obat dalam plasma, walau absorpsi
mendominasi. Pada konsentrasi obat puncak dalam plasma, laju absorpsi obat sama dengan
laju eliminasi obat. Segera setelah waktu absorpsi obat mencapai puncak, beberapa obat masih
berada pada site absorpsi. Laju eliminasi obat pada saat ini lebih cepat dari pada laju absorpsi
obat atau biasa disebut dengan fase pasca absorpsi. Ketika obat pada site absorpsi semakin
berkurang, laju absorpsi obat mendekati nol atau biasa disebut dengan fase eliminasi (Shargel,
2012).
MODEL ABSORPSI ORDE NOL

K0 k
DGI Db VD DE

Absorpsi obat orde nol dari site pemberian ke dalam plasma diasanya terjadi bila obat
diabsorpsi dengan suatu proses yang dapat jenuh atau digunakan suatu system penghantaran
pelepasan terkendali oleh orde nol. Pada model ini, obat dalam saluran cerna (DGI) diabsorpsi
secara sistemik pada suatu laju yang konstan (k0). Obat secara simultan dan segera dieliminasi
dari tubuh dengan proses orde kesatu yang ditentukan oleh suatu tetapan laju orde kesatu (k).
Laju absorpsi obat adalah tetap sampai jumlah obat dalam susu habis. Waktu untuk absorpsi
sempurna sama dengan DGI/k0. Setelah waktu ini, obat tidak tersedia lagi untuk diabsorpsi
dari dinding usus. Akhirnya konsentrasi obat dalam plasma akan menurun menurut suatu
proses laju eliminasi orde kesatu (Shargel, 2012).

0
Cp = (1 e kt)
.

MODEL ABSORPSI ORDE KESATU

ka k
DGI Db VD

Walau absorpsi orde nol dapat terjadi, absorpsi biasanya dianggap merupakan proses
orde kesatu. Model menganggap suatu masukan melintasi dinding usus orde kesatu dan
eliminasi dari tubuh juga orde kesatu. Pada kasus obat diberikan secara oral, bentuk sediaan
pertama mengalami disintegrasi jika merupakan sediaan padat (Shargel, 2012).

..0
Cp = (e k2t e k1t)
(12)

ka adalah tetapan laju absorpsi orde kesatu dari saluran cerna, F adalah fraksi terabsorpsi,
dan DGI adalah jumlah obat larutan dalam saluran cerna pada berbagai waktu (Shargel, 2012).
LAG TIME

Pada beberapa individu, absorpsi obat setelah dosis oral mungkin tidak segera terjadi,
karena faktor faktor fisiologis seperti waktu pengosongan lambung dan pergerakan usus.
Penundaan waktu absorpsi sebelum permulaan absorpsi obat orde kesatu terjadi dikenal
sebagai lag time. Lag time (t0) menyatakan permulaan absorpsi obat dan hendaknya tidak
dikacauan dengan istilah farmakologis mulai kerja obat, yang menyatakan waktu yang
diperlukan obat untuk mencapai konsentrasi efektif minimum (Shargel, 2012).

2.1. Parasetamol

Parasetamol memiliki rumus kimia C8H9NO2 dan berat molekul sebesar 151,16.
Parasetamol berbentuk serbuk hablur, putih, tidak berbau, dan tidak berasa. Larut dalam air
mendidih dan dalam Natrium Hidroksida 1N serta mudah larut dalam etanol (Depkes, 1995).
Spektrum UV parasetamol pada larutan asam mempunyai panjang gelombang maksimal di
sekitar 245 nm (Moffat, et al., 2014).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. alat dan bahan praktikum
3.1.1. alat praktikum
beaker glass
statis
spektrofotometer uv-visibel
kuvet
vial
stirer
hot plate
kantung dialisis
3.1.2. bahan praktikum
aquadest
NaOH
Parasetamol

3.2. langkah kerja

1. Pertama, dibuat larutan NaOH 0,1 N dengan melarutkan NaOH seberat 2 gram dalam
500 ml aquadest.
Perhitungan banyaknya NaOH yang harus diambil:
1000
N=
()
1000
0,1 N =
40 500
0,1 40
Gram NaOH = = 2 gram.
2

Gram NaOH yang harus diambil sebanyak 2 gram.


2. Kemudian membuat larutan induk 1000 ppm dengan melarutkan parasetamol 100 mg
dalam 100 ml NaOH.
3. Melakukan uji simulasi in vitro oral dengan cara meletakkan beaker glass berisi NaOH
200 mL diatas hot plate bersuhu 350C sambil diaduk menggunakan stirer dengan
kecepatan 7 rpm.
4. Lalu obat yang akan diuji dimasukkan ke dalam kantong dialisis sebanyak 5 mL
kemudian digantungkan di statis dan dikondisikan agar kantong dialisis masuk ke
dalam beaker glass tetapi tidak tenggelam.
5. Setiap 1 menit setelah kantong dialisis dimasukkan, larutan dalam beaker glass di cuplik
pada posisi yang sama sebanyak 10 mL kemudian ditambahkan kembali NaOH
sebanyak 10 mL sebagai pengganti larutan yang telah dicuplik.
6. Pada cuplikan menit ke 10, 20, 30, 40, 50 dan 60 dilakukan pengukuran intensitas
serapan dengan spektrofotometer.
7. Hasil serapan yang diperoleh diplotkan ke dalam kurva kalibrasi dengan sumbu x
sebagai konsentrasi larutan dan sumbu y sebagai serapan yang diperoleh dari masing-
masing konsentrasi yang diukur.
8. Setelah diperoleh konsentrasi larutan pada setiap interval menit, diplotkan pada kurva
konsentrasi dan waktu agar dapat ditentukan parameter farmakokinetiknya.
BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.Hasil
Absorb Cp - Log Cp -
Waktu Cp Log Cp Log Cp Cp
ansi Cp Cp
10 0.629 7.6861 0.8857 1.1357 13.6678 5.9817 0.7768
20 0.760 9.2494 0.9661 1.0727 11.8222 2.5728 0.4104
30 0.753 9.1658 0.9621 1.0097 10.2258 1.0601 0.0253
40 0.714 8.7004 0.9395 0.9467 8.8450 0.1446 -0.8396
50 0.645 7.8770 0.8963 0.8837 7.6506 -0.2263 -
60 0.530 6.5047 0.8132 0.8207 6.6175 0.1129 -0.9473

4.1.1. Perhitungan Konsentrasi Paracetamol Menggunakan Persamaan Kurva


Kalibrasi
y = 0.0838x 0.0151; R2 = 0.9995; y = absorbansi; x = konsentrasi
A. Menit ke 10
= 0.0838 0.0151
0.629 = 0.0838 0.0151
0.0838 = 0.0151 0.629
0.0151 0.629
=
0.0838
= 7.6861
B. Menit ke 20
= 0.0838 0.0151
0.760 = 0.0838 0.0151
0.0838 = 0.0151 0.760
0.0151 0.760
=
0.0838
= 9.2494
C. Menit ke 30
= 0.0838 0.0151
0.753 = 0.0838 0.0151
0.0838 = 0.0151 0.753
0.0151 0.753
=
0.0838
= 9.1658
D. Menit ke 40
= 0.0838 0.0151
0.714 = 0.0838 0.0151
0.0838 = 0.0151 0.714
0.0151 0.714
=
0.0838
= 8.7004
E. Menit ke 50
= 0.0838 0.0151
0.645 = 0.0838 0.0151
0.0838 = 0.0151 0.645
0.0151 0.645
=
0.0838
= 7.8770
F. Menit ke 10
= 0.0838 0.0151
0.530 = 0.0838 0.0151
0.0838 = 0.0151 0.530
0.0151 0.530
=
0.0838
= 6.5047
4.1.2. Kurva Eliminasi

Kurva Eliminasi
0.96
0.94
0.92
0.9
Log Cp

0.88
0.86
0.84
y = -0.0063x + 1.1987
0.82
R = 0.9678
0.8
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu

y = -0.0063x + 1.1987
R2 = 0.9678
4.1.3. Kurva Absorbsi

Kurva Absorbsi
0.9
0.8
0.7
0.6
Log Cp'-Cp

0.5
0.4
0.3
0.2
0.1 y = -0.0376x + 1.1557
R = 0.9998
0
0 5 10 15 20 25 30 35
Waktu

y = -0.0376x + 1.1557
R2 = 0.9998
4.1.4. Kurva Farmakokinetik Paracetamol Oral

Kurva Farmakokinetik Paracetamol Oral


1
0.98
0.96
0.94
0.92
Log Cp

0.9
0.88 y = -0.0017x + 0.9723
0.86 R = 0.304
0.84
0.82
0.8
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu

4.1.5. Parameter Farmakokinetik


A. Ka = 0.0376
A = 3.1762
B. Ke = 0.0063
B = 3.3158
ln ln ln 0.0376ln 0.0063 3.2807(5.0672)
C. = = = = 57.0766
0.03760.0063 0.0313

D. Vd = 200 ml
500 500000
E. = = = 2000
250 250
0.0376 2000 75.2
F. = () = 200 (0.03760.0063) = 6.26 = 12.0128

G. max = ( . - . ) = 12.0128 ( 0.0063 57.0766 - 0.0376 57.0766 )


= 12.0128 ( 0.6980 0.1169) = 6.9806
0.693 0.693
H. 21 =
= 0.0063
= 110

I. = = 200 0.0063 = 1.26


3.3158 3.1762
J. AUC = + = 0,0063 + 0,0376 = 526,3174 + 84,4734 = 610.7908

4.2.Pembahasan
Jalur pemberian obat ada 2 yaitu intravascular dan ekstravaskular. Pada pemberian
intravascular, obat akan langsung berada di sistemik tanpa mengalami absorbs, sedangkan pada
pemberian ekstravaskular umumnya obat mengalami absorpsi. Setelah obat masuk dalam
sirkulasi sistemik, obat akan didistribusikan, sebagian mengalami pengikatan dengan protein
plasma dan sebagian dalam bentuk bebas. Obat bebas selanjutnya didistribusikan sampai di
tempat kerjanya dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi obat
diekskresikan dalam tubuh melalui organ organ eksresi, terutama ginjal. Seluruh proses
meliputi absorpsi, distribusi, metabolism dan diekskresi disebut proses farmakokinetik dan
proses ini berjalan serentak (Zunilda,. Dkk, 1995).
Hal ini berkaitan dengan jumlah obat yang diterima oleh tubuh tidak sama dengan dosis
yg kita berikan. Pertama saat diabsorpsi ada sejumlah obat yang hilang. DGI atau jumlah obat
yang ada di saluran gastrointestinal yang menyangkut juga tentang laju absorbs obat. DE atau
jumlah obat yang dieliminasi. Sehingga jumlah obat yang diterima tubuh/dalam saluran darah
sistemik (DB) itu tergantung pada DGI dan DE.
Pada percobaan kali ini dilakukan simulasi invitro model farmakokinetika rute
ekstravaskuler kompartemen satu terbuka dengan menggunakan paracetamol yang dianggap
sebagai obat terhadap waktu. Parasetamol digunakan sebagai bahan uji karena pada praktikum
sebelumnya sudah ditentukan panjang gelombang maksimum dan kurva kalibrasi dari
parasetamol sehingga mempermudah dalam proses praktikum.
Berdasarkan analisis spektrofotometri dari larutan baku parasetamol, diketahui panjang
gelombang maksimum yaitu 255,5 nm. Analisis selanjutnya dilakukan dengan menggunakan
panjang gelombang 255,5 nm.
Saat praktikum digunakan bantuan alat kantong dialisis sebagai perbandingan
kompartemen nya, hal ini bertujuan agar obat dapat berdifusi kedalam beaker yang telah
disimulasi menyerupai cairan fisiologis tubuh dengan pembawa pada obatnya tetap. Cuplikan-
cuplikan dalam praktikum diambil tiap 1 menit, kemudian di tampung wadah pembuangan,
sedangkan yang dimasukkan ke dalam vial untuk diuji hanya pada menit ke 10,20,30,40,50 dan
60 karena interval 5 dianggap obat keluar dari tubuh karena diekskresikan melalui urin.
Pada rute ekstravaskuler ini, dicari nilai tetapan laju absorpsi (Ka) dan tetapan laju
eliminasi (Ke). Ka adalah tetapan laju absorpsi orde kesatu dengan satuan waktu -1. Ka
diperoleh dengan membuat kurva antara waktu absorpsi dengan ln Cp kemudian diregresikan
sehingga diperoleh persamaan regresi berupa y = -0.0376x + 1.1557.
Sedangkan Ke adalah tetapan laju eliminasi order kesatu dengan satuan waktu-1 . Harga
Ke diperoleh dengan membuat kurva antara waktu eliminasi dengan ln Cp kemudian juga
diregresikan sehingga diperoleh persamaan regresi berupa y = -0.0063x + 1.1987 untuk
selanjutnya dari hasil data-data ini dapat kita gunakan untuk mendapat kurva persamaan
farmakokinetiknya. Terdapat beberapa parameter yang dapat digunakan untuk menjelaskan
profil farmakokinetika obat di dalam tubuh yaitu, meliputi parameter Tmax, T1/2 ,D0, B, Cpmax,
Cl dan AUC, Vd dan klirens.
Berdasarkan hasil didapat nilai - nilai parameter farmakokinetika paracetamol untuk
rute ekstravaskuler nilai Ka yaitu 0.0376 (A = 3.1762), Ke 0.0063(B = 3.3158),
tmax (57.0766), Vd (200 ml), (2000 , (12.0128 , (6.9806), 21
(110 ), (1.26),dan nilai AUC ( 610.7908).
Selain mendapatkan parameter farmakokinetika dari nilai regresi linier kurva yang
terbentuk, praktikan kelompok 4C turut melakukan perhitungan secara teoritis nilai parameter
farmakokinetika yang ada. Diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan secara signifikan
antara hasil perhitungan teoritis dan hasil praktikum. Hal ini menandakan bahwa perlakuan
selama simulasi in vitro telah dilakukan secara maksimal sehingga diperoleh nilai absorbansi
yang cukup linier pada Ka dan Ke.
Dari kurva dapat dilihat bahwa kurva rute ekstravaskuler telah sesuai dengan literatur
yang mana awalnya menaik kemudian menurun secara perlahan, hal ini menggambarkan
perbedaan laju absorbsi dan eliminasi obat. Pada fase absorpsi laju absorpsi obat lebih besar
dari laju eliminasi. Pada waktu konsentrasi puncak (Cmax) maka laju eliminasi obat sama
dengan laju absoprsi. Setelah obat mencapai puncak (fase pasca absorpsi) , obat2 tsb tidak
langsung hilang semua. Namun ada beberapa obat yang masih berada disaluran cerna. Namun
laju eliminasinya lebih cepat dari laju absorpsinya Pada fase eliminasi dimana obat jumlahnya
jauh berkurang, yang terjadi hanyalah eliminasi. Fase absorpsi tidak terjadi dan dianggap nol.
Fase eliminasi ini biasanya mengikuti orde ke satu.
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi obat di
dalam tubuh semakin berkurang secara konstan. Dan didapat nilai - nilai parameter
farmakokinetika paracetamol untuk rute ekstravaskuler nilai Ka yaitu 0.0376 (A = 3.1762), Ke
0.0063(B = 3.3158), tmax (57.0766), Vd (200 ml), (2000 , (12.0128 ,
(6.9806), 21 (110 ), (1.26),dan nilai AUC ( 610.7908).
DAFTAR PUSTAKA
Anief. 2000. Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktek. Jogjakarta: Gadjah Mada University
press.
Hakim, L. 2010. Farmakokinetik. Yogyakarta : Bursa Ilmu.
Laurence, P, Bennet, P, dan Brown, M. 1997. Clinical Pharmacology, 8 edn. London: Churcill
Livingstone.
Moffat, A.C. 2011. Clarkes Analysis of Drug and Poisons 4th Edition. London: Pharmaceutical
Press.
Shargel, Leon., dkk. 2012. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi Kelima.
Surabaya: Airlangga University Press