Anda di halaman 1dari 36

3.

DASAR TEORI

3.1. Lereng
Lereng merupakan bagian dari permukaan bumi yang memiliki sudut kemiringan
tertentu dengan bidang datar (horizontal). Lereng dapat terjadi secara alami ataupun
karena buatan manusia dengan tujuan tertentu. Wesley (1977) membagi lereng
menjadi tiga ditinjau dari segi terbentuknya, yaitu :

Lereng alam, yaitu lereng yang berbentuk karena peristiwa alam, misalnya
lereng suatu bukit.
Lereng yang dibuat dari tanah asli, misalnya tanah yang dipotong untuk
pembuatan jalan atau saluran air untuk irigasi.
Lereng yang dibuat dari tanah yang dipadatkan, misalnya tanggul untuk jalan
atau bendungan tanah.

Lereng buatan dibuat karena adanya persyaratan perubahan ketinggian guna


keperluan proyek yang telah ditetapkan, misalnya pembuatan gedung, lapangan
udara, dan juga jalan raya (Herianto, 1983). Gaya-gaya yang bekerja pada lereng
dapat menyebabkan stabilitas tanah terganggu. Apabila tahanan geser tanah lebih
kecil dari tegangan geser yang terjadi, maka akan terjadi longsoran tanah. Perbedaan
elevasi pada permukaan tanah seperti lereng dapat mengakibatkan pergerakan massa
tanah dari bidang dengan elevasi yang tinggi menuju bidang dengan elevasi yang
lebih rendah, pergerakan ini diakibatkan oleh gravitasi. Pergerakan massa tanah
tersebut juga dapat dipengaruhi oleh air dan gaya gempa. Pergerakan atau gaya
tersebut akan menghasilkan tegangan geser yang berfungsi sebagai gaya penahan dan
apabila berat massa tanah yang bekerja sebagai gaya pendorong itu lebih besar dari
tegangan geser tersebut maka akan mengakibatkan

3-1
KLASIFIKASI TANAH

Pengelompokan jenis tanah dapat dilakukan melalui pengukuran-pengukuran di


laboratorium maupun di lapangan juga standar klasifikasi yang ada. Suatu pekerjaan
tanah untuk suatu pembangunan sebuah bangunan konstruksi memerlukan nilai atau
besaran pada tanah berupa gradasi butiran, plastisitas, permeabilitas, dan kekuatan
geser tanah. Besaran tersebut dilakukan dengan pengujian-pengujian sebagai berikut :

1. Analisa Saringan
Tanah terdiri dari campuran berbagai butiran. Suatu tanah disebut bergradasi
seragam (uniformly graded) apabila tersusun atas butir-butir yang seluruhnya
ukurannya hampir sama. Tanah bergradasi baik/tidak seragam (well graded)
apabila terdiri dari bermacam-macam butir. Analisa ini dapat digunakan melalui
uji saringan yang dapat dihasilkan suatu bentuk grain size distribution curve untuk
memberikan informasi gradasi tanah yang akan digunakan. Menurut USCS
(Unified Soil Classification System) butiran dibedakan 3 fraksi : a. Pasir (sand) :
(4,75 0,074) mm b. Lanau (silt) : (0,074 0,01) mm c. Lempung (clay) : < 0,01
mm Tanah digolongkan berbutir halus apabila lebih dari 50% dari berat sample
lolos ayakan no. 200, dan sebaliknya jika lebih dari 50% tertahan saringan no. 200
maka digolongkan tanah berbutir kasar. Untuk butiran kasar (> 0,074 mm)
digunakan analisa saringan (sieve analysis) Untuk butiran halus (< 0,074 mm)
digunakan analisa sedimentasi (hydrometer analysis)
2. Indeks Plastisitas Tanah
Sifat-sifat fisik tanah kohesif berbutir halus (lempung atau lanau) sangat
dipengaruhi oleh kadar air tertentu yang disebut konsistensi, dalam hal ini tanah
dapat berwujud cair, plastis, semi padat atau padat yang digambarkan pada
Gambar 2.1.

3-2
Gambar 2. 1 Wujud Fisik Tanah pada Konsistensi Tertentu
Batas antara fase-fase tanah seperti di atas disebut Batas-batas Konsistensi / Batas-
batas Atterberg. Batas-batas kadar air tersebut adalah :
a. Batas cair ( Liquid Limit) = LL adalah kadar air pada perbatasan dari fase
tanah antara keadaan plastis cair.
b. Batas Plastis (Plastic Limit) = PL merupakan kadar air minimum dimana
tanah masih dalam keadaan plastis.
c. Batas Susut (Shrinkage Limit) = SL adalah batas kadar air dimana tanah tidak
kenyang air lagi. Indeks Plastisitas = Plastisitas Index = PI adalah interval
kadar air dimana tanah dalam keadaan plastis. PI = LL PL.
Nilai ini menunjukkan bahwa dengan PI tinggi berarti tanah mengandung banyak
butiran lempung, sedangkan untuk PI yang rendah (misal pada lanau) maka
penurunan sedikit kadar air berakibat tanah menjadi kering. Berikut klasifikasi tanah
dengan nilai plastisitas masing-masing jenis tanah pada Tabel 2.1

Tabel 2. 1 Nilai Plastisitas pada Jenis Tanah

Indeks kekentalan menyatakan perbandingan antara selisih batas cair dan kadar air
tanah asli terhadap indeks plastisitas

3-3
Tabel 2. 2 Nilai konsistensi dalam Range Plastis

Konsep tingkat keaktifan dikembangkan oleh Skempton (1953) yang menunjukkan


bahwa suatu jenis lempung tertentu PI bergantung pada partikel yang lebih halus dari
0,002 mm (c) dan angka PI adalah konstan. Tingkat keaktifan (A) didefinisikan Ac =
PI dimana c adalah kadar lempung (persen butiran < 0,002 mm)

Angka yang berbeda diperoleh untuk jenis lempung yang berbeda tetapi angkanya
bisa dianggap konstan untuk masing-masing jenis lempung

3 Permeabilitas Tanah

Kemampuan fluida untuk mengalir melalui medium yang berpori disebut


permeabilitas. Penentuan koefisien permeabilitas dapat diperoleh dari laboratorium
dengan menggunakan pengujian permeabilitas tinggi-konstan (constant-head)
ataupun tinggi-jatuh (falling-head). Beberapa nilai orde k untuk bebrbagai jenis tanah
oleh Darcy dirumuskan sebagai berikut :

Tabel 2. 4 Orde nilai-nilai permeabilitas k yang didasarkan pada deskripsi tanah

Sumber : Bowles, Analisis dan Desain Pondasi Jilid 1, 1997 hal 49.

4 Kekuatan Geser Dalam


Kekuatan geser dalam mempunyai variabel kohesi dan sudut geser dalam. Kohesi
merupakan gaya tarik menarik antar partikel tanah. Bersama dengan sudut geser
dalam, kohesi merupakan parameter kuat geser tanah yang menentukan ketahanan

3-4
tanah terhadap deformasi akibat tegangan yang bekerja pada tanah dalam hal ini
berupa gerakan lateral tanah. Deformasi ini terjadi akibat kombinasi keadaan kritis
pada tegangan normal dan tegangan geser yang tidak sesuai dengan faktor aman dari
yang direncanakan. Nilai ini juga didapatkan dari pengukuran properties tanah berupa
Triaxial Test dan Direct Shear Test.

5 Modulus Young
Nilai modulus young menunjukkan besarnya nilai elastisitas tanah yang merupakan
perbandingan antara tegangan yang terjadi terhadap regangan. Nilai ini bisa
didapatkan dari Triaxial Test atau Unconfined Compression Test. Berikut ini adalah
berbagai harga-harga dari Modulus Young (Modulus Elastisitas) untuk berbagai tipe
tanah yang berbeda

Tabel 2. 5 Nilai-nilai Modulus Young untuk deskripsi tanah

Sumber : Braja M. Das, Mekanika Tanah Jilid 1, 1998 hal 218.

3-5
3.2. Kelongsoran
Tanah longsor (longsoran) adalah pergerakan massa tanah atau batuan kearah miring,
mendatar, atau vertikal pada salah satu lereng. Longsor terjadi karena terganggunya
keseimbangan lereng akibat pengaruh gaya gaya yang berasal dari dalam lereng
seperti gaya gravitasi bumi, tekanan air pori dalam tanah atau lereng, dan gaya dari
luar lereng seperti getaran kendaraan dan pembebanan kendaraan. (Terzaghi 1950,
dalam Hardiyatmo, 2003) membagi penyebab longsoran lereng terdiri dari akibat
pengaruh dalam (internal effect) dan pengaruh luar (external effect). Pengaruh luar,
yaitu pengaruh yang menyebabkan bertambahnya gaya geser dengan tanpa adanya
perubahan kuat tegangan geser tanah. Contohnya, akibat perbuatan manusia
mempertajam kemiringan tebing atau memperdalam galian tanah dan erosi sungai.
Pengaruh dalam, yaitu longsoran yang terjadi dengan tanpa adanya perubahan kondisi
luar atau gempa bumi. Contoh yang umum untuk kondisi ini adalah pengaruh
bertambahnya tekanan air pori di dalam lereng. Kelongsoran lereng alam dapat terjadi
dari hal-hal sebagai berikut: (Hardiyatmo,):

Penambahan beban pada lereng.


Penggalian atau pemotongan tanah pada kaki lereng.
Penggalian yang mempertajam kemiringan lereng.
Perubahan posisi muka air secara cepat (rapid drawdown).
Kenaikan tekanan lateral oleh air (air yang mengisi retakan akan mendorong tanah
ke arah lateral).
Gempa bumi.

Aktivitas manusia yang memicu terjadinya longsoran pada umumnya berkaitan


pekerjaan konstruksi dan kegiatan yang merubah sudut kemiringan lereng serta
kondisi air permukaan juga air tanah. Perubahan sudut kemiringan lereng antara lain
disebabkan oleh kegiatan pertanian, galian dan timbunan untuk konstruksi jalan raya,
konstruksi gedung, konstruksi jalan raya, serta operasi tambang terbuka. Apabila
aktivitas- aktivitas tersebut dikerjakan atau dirancang dengan sembarangan maka
longsoran dapat terjadi karena beban yang bekerja pada lereng yang melebihi tahanan

3-6
geser yang dimiliki oleh lereng. Bagian-bagian longsoran menurut Varnes (1978,
dalam Karnawati, 2001, dalam Widiyanto, 2005) ditunjukkan sebagai berikut:

Tabel 3.1. Bagian-Bagian Longsoran

3-7
3.3. Stabilitas Lereng (Slope Stability)

Permukaan tanah yang tidak datar, yaitu memiliki kemiringan tertentu terhadap
bidang horisontal dapat menyebabkan komponen berat tanah yang sejajar dengan
kemiringan bergerak kearah bawah. Bila komponen berat tanah tersebut cukup besar
kelongsoran tanah dapat terjadi seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5, yaitu
tanah dalam zona a, b, c, d, e dapat tergelincir. Dengan kata lain, gaya dorong
(driving force) melampaui gaya yang berlawanan dari kekuatan geser tanah sepanjang
bidang longsor. (Braja M. Das,Mekanika Tanah )

Gambar 2.5 Kelongsoran talud

Dalam setiap kasus, tanah yang tidak datar akan menghasilkan komponen gravitasi
dari berat yang cenderung menggerakkan masa tanah dari elevasi yang lebih tinggi ke
elevasi yang lebih rendah. Rembesan dapat merupakan pertimbangan yang penting
dalam bergeraknya tanah apabila terdapat air. Gaya gaya gempa kadang kadang
juga penting dalam analisa stabilitas. Beberapa gaya ini menghasilkan tegangan geser
pada seluruh massa tanah, dan suatu gerakan akan terjadi kecuali tahanan geser pada
setiap permukaan runtuh yang mungkin terjadi lebih besar dari tegangan geser yang
bekerja. (Joseph E. Bowles, Sifat Sifat Fisis dan Geoteknis Tanah) Faktor-faktor
penyebab kelongsoran secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu akibat pengaruh
luar (external effect) dan akibat pengaruh dalam (internal effect). Penjelasan
mengenai dua hal tersebut dipaparkan sebagai berikut : a. Gangguan luar, yang
meliputi :

3-8
1. Getaran yang ditimbulkan gempa bumi, peledakan, kereta api, dan lain-lain.

2. Pembebanan tambahan, terutama disebabkan aktifitas manusia misalnya


adanya bangunan atau timbunan di atas tebing.

3. Hilangnya penahan lateral, yang dapat disebabkan oleh pengikisan (erosi


sungai, pantai) atau penggalian.

4. Hilangnya tumbuhan penutup yang dapat menimbulkan alur pada beberapa


daerah tertentu yang akan mengakibatkan erosi dan akhirnya akan terjadi
longsoran.

5. Iklim, beberapa jenis tanah mengembang pada saat musim hujan dan
menyusut pada musim kemarau. Pada musim hujan, kuat geser tanah ini
menjadi sangat rendah dibandingkan dengan pada saat musim kemarau. Oleh
karena itu kuat geser yang dipakai dalam analisis stabilitas lereng harus
didasarkan pada kuat geser tanah dimusim hujan atau kuat geser tanah pada
saat tanah jenuh.

6. Penataan lahan yang kurang tepat seperti pembukaan areal pemukiman tanpa
memperhitungkan kondisi struktur tanah dan kurang memperhatikan
lingkungan. Hal ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama dapat
menyebabkan terjadinya gerakan tanah terutama pada daerah yang
mempunyai kemiringan tinggi.

b. Gangguan dalam, yang meliputi :

1. Naiknya berat massa tanah batuan, masuknya air ke dala tanah menyebabkan
terisinya rongga antar butir sehingga massa tanah bertambah.

2. Larutnya bahan pengikat butir yang membentuk batuan oleh air, misalnya perekat
dalam batu pasir yang dilarutkan air sehingga ikatannya hilang.

3. Naiknya muka air tanah, muka air dapat naik karena rembesan yang masuk pada
pori antar butir tanah yang menyebabkan tekanan air pori naik sehingga kekuatan
gesernya turun.

3-9
4. Pengembangan tanah, rembesan air dapat menyebabkan tanah mengembang
terutama untuk tanah lempung.

5. Pengaruh Geologi

Proses geologi dalam pembentukan lapisan-lapisan kulit bumi dengan cara


pengendapan sedimen ternyata memungkinkan terbentuknya suatu lapisan yang
potensial mengalami kelongsoran.

6. Pengaruh Morfologi

Variasi bentuk permukaan bumi yang meliputi daerah pegunungan dan lembah
dengan sudut kemiringan permukaannya yang cenderung besar, maupun daerah
dataran rendah yang permukaannya cenderung datar, ternyata memiliki peranan
penting dalam menentukan kestabilan daerah tersebut sehubungan dengan kasus
kelongsoran. Secara logis daerah dengan kemiringan besar lebih potensial mengalami
kelongsoran dibanding daerah datar, sehingga kasus kelongsoran seringkali ditemui
di daerah gunung atau perbukitan, dan pada pekerjaan galian atau timbunan yang
memiliki sudut kemiringan besar. Kestabilan lereng terganggu akibat lereng yang
terlalu terjal, perlemahan pada kaki lereng dan tekanan beban yang berlebihan di
kepala lereng. Hal tersebut bisa terjadi karena erosi pada kaki lereng dan kegiatan
penimbunan atau pemotongan lereng yang dilakukan manusia.

Pengaruh Proses Fisika Perubahan temperatur, fluktuasi muka air tanah musiman,
gaya gravitasi dan relaksasi tegangan sejajar permukaan, ditambah dengan proses
oksidasi dan dekomposisi akan mengakibatkan suatu lapisan tanah kohesif lambat
laun tereduksi kekuatan gesernya terutama nilai kohesi(c) dan sudut geser
dalamnya().

7. Pengaruh Air

Dalam Tanah Keberadaan air dapat dikaitkan sebagai faktor dominan penyebab
terjadinya kelongsoran, karena hampir sebagian besar kasus kelongsoran melibatkan
air di dalamnya.

3-10
a. Tekanan air pori memiliki nilai besar sebagai tenaga pendorong terjadinya
kelongsoran, semakin besar air pori semakin besar pula tenaga pendorong.

b. Penyerapan maupun konsentrasi air dalam lapisan tanah kohesif dapat


melunakkan lapisan tanah tersebut yang pada akhirnya mereduksi nilai kohesi
dan sudut geser dalam sehingga kekuatan gesernya berkurang.

Aliran air juga dapat menyebabkan erosi yaitu pengikisan lapisan oleh aliran air
sehingga keseimbangan lereng menjadi terganggu. Secara lebih umum, faktor-faktor
yang menyebabkan ketidakstabilan lereng dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Faktor-faktor yang menyebabkan naiknya tegangan. Meliputi naiknya berat unit


tanah karena pembasahan, adanya tambahan beban eksternal misalnya bangunan,
bertambahnya kecuraman lereng karena erosi alami atau karena penggalian, dan
bekerjanya beban goncangan.

2. Faktor-faktor yang menyebabkan turunnya kekuatan. Penurunan atau kehilangan


kekuatan dapat terjadi karena adanya absorbsi air, kenaikan tekanan pori, beban
goncangan atau beban berulang, pengaruh pembekuan dan pencairan, hilangnya
sementasi material, proses pelapukan, hilangnya kekuatan karena regangan
berlebihan pada lempung sensitif. (I.S Dunn, L.R Anderson, dan F.W Kiefer,
Dasar-dasar Analisis Geoteknik) Tipe keruntuhan lereng yang paling penting
ditunjukkan pada Gambar 2.6.

Dalam kelongsoran rotasi (rotational slip) bentuk permukaan runtuh pada


potongannya dapat berupa busur lingkaran atau kurva bukan lingkaran. Pada
umumnya, kelongsoran lingkaran berhubungan dengan kondisi tanah yang homogen
dan longsoran bukan lingkaran berhubungan dengan kondisi tidak homogen.
Kelongsoran translasi

(translational slip) dan kelongsoran gabungan (compound slip) terjadi bila bentuk
permukaan runtuh dipengaruhi oleh adanya kekuatan geser yang berbeda pada lapisan
tanah yang berbatasan. (R.F.Craig, Mekanika Tanah )

3-11
Gambar 2.6 Tipe-tipe keruntuhan lereng

Bagian-bagian longsoran menurut Varnes, 1978 dalam Karnawati, 2001 ditunjukkan


sebagai berikut :

Tabel 2. 6 Bagian-bagian longsoran

3-12
3-13
Gambar 2.7 Bagian-bagian longsoran
Sumber : Varnes, 1978 dalam Karnawati, 2001

3-14
Kemantapan Lereng (Slope Stability) sangat dipengaruhi oleh kekuatan geser tanah
untuk menentukan kemampuan tanah menahan tekanan tanah mengalami keruntuhan.
Dalam prakteknya, analisa stabilitas lereng didasarkan pada konsep keseimbangan
batas plastis (limit plastic equilibrium). Adapun maksud analisa stabilitas lereng
adalah untuk menentukan faktor aman dari bidang longsor yang potensial. Dalam
laporan tugas akhir ini, dasar-dasar teori yang dipakai untuk menyelesaikan masalah
tentang stabilitas lereng dan daya dukung tanah menggunakan teori Irisan (Method of
Slice), metode Bishops (Bishops Method) dan metode Fellinius. Dalam menganalisa
stabilitas lereng digunakan beberapa anggapan yaitu :

Kelongsoran terjadi di sepanjang permukaan bidang longsor tertentu dan dianggap


sebagai masalah bidang dua dimensi.

Masa tanah yang longsor dianggap sebagai benda masif.

Tahanan geser pada setiap titik sepanjang bidang lonsor tidak tergantung pada
orientasi permukaan longsor dengan kata lain kuat geser tanah dianggap isotropis.

Faktor keamanan didefinisikan dengan memperhatikan tegangan geser sepanjang


permukaan longsoran. Jadi kuat geser tanah mungkin terlampaui di titik-titik tertentu
pada bidang longsornya, padahal faktor aman hasil hitungan lebih besar dari 1.

Hukum Coloumb berlaku untuk kondisi runtuh, r = C r + r tan r

Bentuk tegangan adalah lurus.

Semua gaya yang bekerja telah diketahui.

Berlaku hukum tegangan total dan tegangan efektif, = +

Bentuk umum untuk perhitungan stabilitas lereng adalah mencari angka keamanan
() dengan membandingkan momen-momen yang terjadi akibat gaya yang bekerja.

3-15
dimana :

= Faktor Keamanan

W = Berat tanah yang akan longsor (kN)

LAC = Panjang Lengkungan (m) c = Kohesi (kN/m2)

R = Jari-jari bidang longsor yang ditinjau

Y = Jarak pusat berat W terhadap O (m)

Jika : < 1 maka lereng tidak stabil

= 1 maka lereng dalm keadaan kritis artinya dengan sedikit gangguan atau
tambahan momen penggerak maka lereng menjadi tidak stabil.

> 1 maka lereng stabil

Untuk memperoleh angka keamanan suatu lereng, maka perlu dilakukan trial and
errors terhadap beberapa bidang longsor yang umumnya berupa busur lingkaran dan
kemudian diambil nilai minimum sebagai indikasi bidang longsor kritis. Analisa
stabilitas lereng dapat dilihat pada Gambar 2.8.

Gambar 2.8 Analisa Stabilitas Lereng

3-16
1. Metode Irisan (Method of Slice)

Metode irisan adalah cara-cara stabilitas lereng yang telah dibahas sebelumnya hanya
dapat berlaku apabila tanah homogen. Apabila tanah tidak homogen dan aliran
rembesan terjadi di dalam tanahnya memberikan bentuk aliran dan berat volume
tanah tidak mementu, maka metode ini tidak cocok digunakan. Gaya normal bekerja
pada suatu titik di lingkaran bidang longsor, terutama dipengaruhi berat tanah di atas
titik tersebut. Dalam metode Irisan ini, massa tanah yang longsor dipecah-pecah
menjadi beberapa irisan (pias) vertikal. Kemudian keseimbangan dari tiap-tiap
lapisan diperhatikan. Gaya-gaya ini terdiri dari gaya geser (Xr dan Xi) dan gaya
normal efektif (Er dan Ei) disepanjang sisi irisannya, dan juga resultan gaya geser
efektif (Ti) dan resultan gaya normal efektif (Ni) yang bekerja di sepanjang dasar
irisannya. Pada irisannya, tekanan air pori Ui dan Ur bekerja di kedua sisinya,
tekanan air pori Ui bekerja pada dasarnya. Dianggap tekanan air pori sudah diketahui,
seperti pada Gambar 2.9.

Gambar 2.9 Gaya yang Bekerja pada Irisan Bidang Longsor

2. Metode Bishops (Bishops Method)


Metode Bishops ini merupakan dasar teori bagi program Mira Slope dan merupakan
penyederhanaan dari metode irisan Sliding. Metode Bishops menganggap bahwa
gaya-gaya yang bekerja pada sisi irisan mempunyai resultan nol pada arah vertikal.
Persamaan kuat geser dalam tinjauan tegangan efektif yang dapat dikerahkan,

3-17
sehingga tercapainya kondisi keseimbangan batas dengan memperhatikan faktor
keamanan.

Dimana :

= Tegangan normal total pada bidang longsor

u = Tekanan air pori

Untuk irisan (pias) yang ke-i, nilai Ti = a , yaitu nilai geser yang berkembang pada
bidang longsor untuk keseimbangan batas, karena itu :

Kondisi keseimbangan momen terhadap pust rotasi O antara berat massa tanah yang
akan longsor dengan gaya geser total pada dasr bidang longsornya dapat dinyatakan
dengan :

Dimana :

F = Faktor keamanan

C = Kohesi tanah efektif

= Sudut geser dalam tanah efektif

bi = Lebar irisan ke i

Wi = berat irisan tanah ke i

i = Sudut yang diasumsikan dalam Gambar 2.9

Ui = tekanan air pori pada irisan ke i

3-18
Nilai banding tekana pori (pore pressure ratio) didefinisikan sebagai :

Dimana :

ur = Nilai banding tekanan pori

u = Tekanan air pori

b = Lebar irisan

= Berat volume tanah

h = tinggi irisan rata-rata

Adapun bentuk persamaaan faktor keamanan untuk analisia stabilitas lereng cara
Bishops adalah

Persamaan faktor aman Bishop ini lebih sulit pemakaiannya dibandingkan dengan
metode lainnya seperti Fellinius karena membutuhkan cara coba-coba (trial and
error), karena nilai faktor aman F nampak di kedua sisi persamaannya. Akan tetapi,
cara ini terbukti memberikan nilai faktor aman yang mendekati nilai faktor aman dari
perhitungan yang lain yang lebih teliti. Untuk mempermudah perhitungan dapat
digunakan untuk menentukan nilai fungsi Mi dengan rumus.

Mi = cos i (1+tg i tg / F)

Lokasi lingkaran sliding (longsor) kritis pada metode Bishops (1955), biasanya
mendekati dengan hasil pengamatan di lapangan. Karena itu, metode Bishops lebih
disukai karena menghasilkan penyelesaian yang lebih teliti. Dalam praktek,
diperlukan untuk melakukan cara coba-coba dalam menemukan bidang longsor
dengan nilai faktor aman terkecil. Jika bidang longsor dianggap lingkaran, maka lebih

3-19
baik bila dibuat kotak-kotak dimana tiap titik potong garis-garisnya merupakan
tampat kedudukan pusat lingkaran longsornya. Pada titik-titik potongan garis yang
merupakan pusat lingkaran longsornyadituliskan nilai faktor aman terkecil pada titik
tersebut. Kemudian setelah faktor keamanan terkecil diperoleh, digambarkan garis
kontur yang menunjukkan tempat kedudukannya dari titik-titik pusat lingkaran yang
mempunyai faktor aman yang sama. Dari faktor aman di setiap kontur tentukan letak
kira-kira dari pusat lingkaran yang menghasilkan faktor keamanan terkecil.

3. Metode Fellinius
Analisa stabilitas lereng dengan cara Fellinius (1927) menganggap gaya-gaya yang
bekerja pada sisi kanan kiri dari sembarang irisan mempunyai resultan nol pada arah
tegak lurus bidang longsornya. Metode Fellinius ini yang menjadi dasar yang
digunakan dalam program Plaxis. Faktor keamanan didefinisikan sebagai :

Lengan momen dari berat massa tanah tiap irisan adalah R sin, maka :

Dimana :

R = Jari-jari bidang longsor

N = Jumlah irisan

Wi = Berat massa tanah irisan ke-i

i = Sudut yang didefinisikan pada gambar di atas

3-20
Dengan cara yang sama, momen yang menahan tanah akan longsor adalah :

Karena itu, faktor keamanannya menjadi :

Gaya-gaya dan asumsi bidang pada tiap pias bidang longsor seperti terdapat pada
Gambar 2.10.

Gambar 2.10 Gaya Bidang Longsor Pada Tiap Pias Bidang Longsor

Bila terdapat air pada lerengnya, tekanan air pori pada bidang longsor tidak
berpengaruh pada Md, karena resultan gaya akibat tekanan air pori lewat titik pusat
lingkaran. Subtitusi antara persamaan yang sudah ada.

3-21
Dimana :

F = Faktor keamanan

c = Kohesi tanah

= Sudut geser dalam tanah

ai = panjang bagian lingkaran pada irisan ke-i

Wi = Berat irisan tanah ke-i

Ui = Tekanan air pori pada irisan ke-i

i = Sudut yang didefinisikan pada gambar

Jika terdapat gaya-gaya selain berat lereng sendiri, seperti beban bangunan di atas
lereng, maka momen akibat beban ini diperhitungkan sebagai Md. Metode Fellinius
memberikan faktor aman yang lebih rendah dari cara hitungan yang lebih teliti. Batas
batas nilai kesalahan dapat mencapai kira-kira 5%-40% tergantung dari faktor aman,
sudut pusat lingkaran yang dipilih, dan besar tekanan air pori, walaupun analisis
ditinjau dalam tinjauan tegangan total, kesalahan masih merupakan fungsi dari faktor
aman dan sudut pusat dari lingkarannya (Whitman dan Baily,1967). Cara ini telah
banyak digunakan prakteknya karena cara hitungan yang sederhana dan kesalahan
yang terjadi pada sisi yang aman.

Menentukan Lokasi Titik Pusat Bidang Longsor Untuk memudahkan cara trial and
error terhadap stabilitas lereng maka titik-titik pusat bidang longsor yang berupa
busur lingkaran harus ditentukan dahulu melalui suatu pendekatan seperti Gambar
2.11. Fellinius memberikan petunjuk untuk menentukan lokasi titik pusat busur
longsor kritis yang melalui tumit suatu lereng pada tanah kohesif (c-soil) seperti
pada Tabel 2.7.

3-22
Gambar 2.11 Lokasi Pusat Busur Longsor Kritis pada Tanah Kohesif

Tabel 2.7 Sudut-sudut petunjuk menurut Fellinius

Pada tanah c untuk menentukan letak titik pusat busur lingkaran sebagai bidang
longsor yang melalui tumit lereng dilakukan secara coba-coba dimulai dengan
bantuan sudut sudut petunjuk Fellinius untuk tanah kohesif ( =0).

Grafik Fellinius menunjukkan bahwa dengan meningkatnya nilai sudut geser ()


maka titik pusat longsor akan bergerak naik dari Oo yang merupakan titik pusat busur
longsor tanah c ( = 0) sepanjang garis Oo K yaitu O1,O2,O3,.....,On. Titik K
merupakan koordinat pendekatan dimana X = 4,5H dan Z = 2H, dan pada sepanjang
garis Oo K inilah diperkirakan terletak titik pusat bidang longsor. Dan dari busur

3-23
longsor tersebut dianalisa masing-masing angka keamanannya untuk memperoleh
nilai n yang paling minimum sebagai indikasi bidang longsor kritis, untuk lebih
jelasnya lihat Gambar 2.12.

Gambar 2. 12 Posisi Titik Pusat BusurLongsor pada Garis Oo K

.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Longsoran


Gaya-gaya yang bekerja pada lereng secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua
(2) yaitu gaya-gaya yang cenderung untuk menyebabkan material pada lereng untuk
bergerak kebawah dan gaya-gaya yang menahan material pada lereng sehingga tidak

3-24
terjadi pergerakan atau longsoran. Berdasarkan hal tersebut, Terzaghi (1950)
membagi penyebab-penyebab terjadinya longsoran menjadi dua kelompok yaitu:
1. Gangguan Eksternal
Getaran yang ditimbulkan oleh antara lain: gempa bumi, peledakan, kereta
api, dapat mengakibatkan gerakan tanah sebagai Pembebanan tambahan,
temtama disebabkan oleh aktivitas manusia, misal-nya adanya bangunan atau
timbunan di atas tebing.
Hilangnya penahan lateral, dapat disebabkan antara lain oleh pengikisan (erosi
sungai, pantai), aktivitas manusia (penggalian).
Hilangnya tumbuhan penutup, dapat menyebabkan timbulnya alur pada
beberapa daerah tertentu. Erosi makin meningkat dan akhimya tejadi gerakan
tanah.

2. Gangguan Internal
Hilangnya rentangan permukaan selaput air yang terdapat diantara butir tanah
memberikan tegangan tarik yang tidak kecil. Sebaliknya jika air merupakan
lapisan tebal, maka akibatnya akan berlawanan. Karena itu makin banyak air
masuk ke dalam tanah, parameter kuat gesemya makin berkurang.
Naiknya berat massa tanah batuan masuknya air ke dalam tanah menye-
babkan terisinya rongga antarbutir sehingga massa tanah bertambah.
Pelindian bahan perekat, air mampu melarutkan bahan pengikat butir yang
membentuk batuan sedimen. Misalnya perekat dalam batu pasir yang
dilarutkan air sehingga ikatannya hilang.
Naiknya muka air tanah muka air dapat naik karena rembesan yang masuk
pada pori antar butir tanah. Tekanan air pori naik sehingga kekuatan gesernya
turun.
Pengembangan tanah rembesan air dapat menyebabkan tanah mengmbang
terutama untuk tanah lempung tertentu,jika lempung semacam itu terdapat di
bawah lapisan lain.

3-25
Surut cepat jika air dalam sungai atau waduk menurun terlalu cepat, maka
muka air tanah tidak dapat mengikuti kecepatan menurunnya muka air.

Pencairan sendiri dapat terjadi pada beberapa jenis tanah yang jenuh air,
seperti pasir halus lepas hilang terkena getaran (dikarenakan gempa
bumi,kereta api dan sebagainya).

Gambar 3.1. Perubahan Kuat Gese Tanah Pada Waktu Hujan Akibat Peningkatan
Muka Air Tanah dan Penjenuhan Lapisan Tanah

Akan tetapi menurut Varnes (1978) terdapat sejumlah penyebab internal maupun
eksternal yang dapat menyebabkan naiknya gaya geser sepanjang bidang runtuh
maupun menyebabkan turunnya kekuatan geser material, bahkan kedua hal tersebut
juga dapat dipengaruhi secara serentak. Terdapatnya sejumlah tipe longsoran
menunjukkan beragamnya kondisi yang dapat menyebabkan lereng menjadi tidak
stabil dan proses-proses yang memicu terjadinya longsoran, yang secara garis besar
dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu kondisi material (tanah atau batuan),
proses geomorfologi, perubahan sifat fisik dari lingkungan dan proses yang

3-26
ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Kondisi material bukan merupakan penyebab
terjadinya longsoran melainkan kondisi yang diperlukan agar longsoran dapat terjadi.
Meskipun material pada lereng mempunyai kekuatan geser yang cukup lemah,
longsoran tidak akan terjadi apabila tidak ada proses-proses pemicu longsoran yang
bekerja. Proses-proses pemicu terjadi longsoran dapat terjadi secara alami maupun
oleh aktivitas manusia. Terdapat beberapa faktor alami yang dapat memicu terjadinya
longsoran antara lain yaitu hujan lebat, erosi, pelapukan dan gempa bumi. Hujan
dengan intensitas yang cukup tinggi sehingga menyebabkan permukaan air tanah
naik, kekuatan geser berkurang, berat massa gelinciran bertambah besar.

Erosi pada lereng dapat menyebabkan tergerusnya kaki lereng sehingga sudut
kemiringan lereng bertambah terjal atau erosi dapat merusak struktur penahan yang
berada pada kaki lereng. Pelapukan adalah suatu proses alami yang dapat merubah
sifat kekuatan material sehingga menjadi lebih lemah dan mudah runtuh. Proses
pelapukan dapat terjadi secara mekanik maupun kimiawi. Gempa bumi akan
menyebabkan goncangan pada tanah sehingga kekuatan material akan berkurang atau
bahkan hilang serta akan menambah resultan gaya geser yang bekerja pada lereng.
Aktivitas manusia yang memicu terjadinya longsoran pada umumnya berkaitan
dengan pekerjaan konstruksi dan kegiatan yang merubah sudut kemiringan lereng
serta kondisi air permukaan dan air tanah.

3.4. Analisa Lboratorium


Semua benda yang ada di bumi memiliki berat tertentu. Sering kali kita melihat suatu
benda dengan ukuran tertentu (besar/kecil). Misalkan terdapat dua benda yaitu kayu
dan batu, dengan volume yang sama besar setelah ditimbang ternyata beratnya
berbeda. Ini menandakan bahwa kayu dan batu memiliki berat/bobot isi yang
berbeda.

3.4.1. Pengujiuan Sifat Fisik


Parameter pengujian sifat fisik tanah ditentukan dari pengujian-pengujian
laboatorium pada benda uji yang diambil dari lapangan yaitu berupa sampel tanah

3-27
yang dianggap mewakili. Tanah yang diambil dari lapangan harus diusahakan tidak
berubah kondisinya, terutama pada contoh tanah asli ( undisturbed ), dimana
masalahnya adalah harus menjaga kadar air dengan dan susunan tanah dilapangan
tidak terganggu ( disturbed sample ) maupun didalam tabung contoh. Sifat fisik tanan
meliputi :
Wn
Boboti isi asli (natural density) = (3.1)
Ww Ws
Ww
Bobot isi kering (dry density) = (3.2)
Ww Ws
Ww
Bobot isi jenuh (saturated density) = (3.3)
Ww Ws
Wo
Apperent specific grafity = : bobot isi air (3.4)
Ww Ws
Wo
True specific grafity = : bobot isi air (3.5)
Wo Ws
Wn Wo
Kadar air asli (natural water content) = x 100% (3.6)
Wo
Ww Wo
Kadar air jenu (absorption) = x 100% (3.7)
Wo
Wn Wo
Derajat kejenuan = x 100% (3.8)
Ww Wo
Ww Wo
Porositas = x 100% (3.9)
Ww Ws
n
Angka pori (void ratio) = (3.10)
1 n

Dengan:
Wn = Berat conto asli (natural)
Wo = Berat contoh (setela di Oven selama 24 jam)
Ww = Berat contoh jenuh (setela dijenuhkan selama 24 jam)
Ws = Berat contoh jenuh yang tergantung dalam air
Wo-Ws = Volume contoh tanpah pori-pori

3-28
Ww-Ws = Volume cotoh total

3.4.2. Uji geser langsung (Direct Shear)


Parameter kuat geser tanah diperlukan untuk analisis-analisis kapasitas daya dukung
tanah, stabilitas lereng, dan gaya dorong pada dinding penahan tanah. Menurut teori
Mohr (1910, dalam Hardiyatmo, 2002) kondisi keruntuhan suatu bahan terjadi oleh
akibat adanyakombinasi keadaan kritis dari tegangan normal dan tegangan geser.
Hubungan fungsi antara tegangan normal dan tegangan geser dinyatakan dalam
persamaan:
= f ().....(3.11)

dengan, adalah tegangan geser pada saat terjadinya keruntuhan atau kegagalan
(failure) dan dalah tegangan normal pada saat kondisi tersebut. Kuat geser tanah
adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau
tarikan. Coulomb (1776, dalam Hardiyatmo,2002) mendefinisikan f() sebagai:

= c + tan ...(3.12)

dengan:
= kuat geser tanah (kN/m2)
c = kohesi tanah(kN/m2)
= tegangan normal pada bidang runtuh (kN/m2)
= sudut gesek dalam tanah (derajat)
Tegangan-tegangan efektif yang terjadi di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh
tekanan air pori. Oleh sebab itu, Terzaghi (1925, dalam Hardiyatmo,2002) mengubah
persamaan Coulomb dalam bentuk tegangan efektif sebagai berikut:
= c + ( u) tan .......(3.13)
= c + tan ......(3.14)
dengan: = kuat geser tanah (kN/m2)
c = kohesi tanah efektif (kN/m2)
= tegangan normal efektif (kN/m2)
= sudut gesek dalam tanah efektif (derajat)

3-29
u = tekanan air pori (kN/m2)

Parameter-parameter kekuatan gesek untuk suatu tanah tertentu dapat ditentukan dari
hasil-hasil pengujian laboratorium pada contoh-contoh tanah lapangan (in-situ soil)
yang mewakili. Diperlukan ketelitian dan perhatian yang besar terhadap proses
pengambilan contoh, penyimpanan contoh, dan perawatan contoh sebelum pengujian,
terutama untuk contoh tidak terganggu (undisturbed), dimana struktur tanah di
lapangan dan kadar airnya harus dipertahankan.

3.5. Analisa Kestabilan Lereng


Dalam prakteknya, analisis kestabilan lereng didasarkan pada konsep keseimbangan
plastis batas (limit plastic equilibrim). Adapun maksud analisis stabilitas adalah untuk
menentukan faktor aman dari bidang longsor yang potensial. Dengan diketahuinya
faktor keamanan memudahkan pekerjaan pembentukan atau perkuatan lereng untuk
memastikan apakah lereng tersebut mempunyai resiko longsor atau cukup stabil.
Dalam analisis stabilitas lereng, beberapa anggapan dibuat, yaitu (Hardiyatmo, 2003):

1. Kelongsoran lereng terjadi di sepanjang permukaan bidang longsor tertentu dan


dapat dianggap sebagai masalah bidang dua dimensi.
2. Massa tanah yang longsor dianggap sebagai benda masif.
3. Tahanan geser dari massa tanah pada setiap titik sepanjang bidang longsor tidak
tergantung dari orientasi permukaan longsor, atau dengan kata lain kuat geser
tanah dianggap isotropis.
4. Faktor aman didefinisikan dengan memperhatikan tegangan geser rata-rata
sepanjang bidang longsor potensial, dan kuat geser tanah rata-rata sepanjang
permukaan longsoran. Jadi, kuat geser tanah mungkin terlampaui di titik-titik
tertentu pada bidang longsornya, padahal faktor aman hasil hitungan lebih dari
satu

Faktor keaman didefinisikan sebagai nilai banding antara gaya yang menahan dan
gaya yang menggerakkan, atau:

3-30
= .(3.15)

dengan
=tahanan geser maksimum yang dapat dikerahkan oleh tanah,
d = adalah tegangan geser yang terjadi akibat gaya berat tanah yang akan longsor
F = adalah faktor aman.

3.6. Metode Bishop Yang Disederhanakan (Simplified Bishop Method)


Metode Bishop disederhanakan (Bishop, Hardiyatmo, 2003) menganggap bahwa
gaya-gaya yang bekerja pada sisi-sisi irisan mempunyai resultan nol pada arah
vertikal. Metode Bishop dipakai untuk menganalisis permukaan gelincir (slip surface)
yang berbentuk lingkaran. Pada metode ini ada beberapa asumsi, diantaranya:

1. metode ini keruntuhan diasumsikan akibat gerakan rotasi dari tanah tersebut yang
mana keruntuhan tersebut berbentuk lingkaran. Metode ini tidak bias digunakan
untuk menghitung factor keamanan dari sebuah keruntuhan yang tidak memiliki
bidang keruntuhan berbentuk lingkaran.
2. Nilai dari gaya horisontal pada kedua sisi dapat diabaikan karena tidak diketahui
nilainya dan sulit untuk dihitung.
3. Gaya normal yang bekerja diasumsikan bekerja ditengah bidang irisan dan
diperoleh dengan menjumlahkan gaya-gaya dalam arah vertikal.

Dengan metode irisan, massa tanah yang longsor dipecah-pecah menjadi beberapa
irisan vertical. Kemudian, keseimbangan dari tiap-tiap irisan diperhatikan. gambar 8
memperlihatkan satu irisan dengan gaya gaya yang bekerja padanya. Gaya gaya
ini terdiri dari gaya geser (Xr dan X1) dan gaya normal efektif (Er dan E1) di
sepanjang sisi irisannya, dan juga resultan gaya geser efektif (Ti) dan resultan gaya
normal efektif (Ni) yang bekerja di sepanjang dasar irisannya. Pada irisannya,
tekanan air pori U1 dan Ur bekerja di kedua sisinya, dan tekanan air pori bekerja pada
dasarnya. Dianggap tekana air porisudah diketahui sebelumnya.

3-31
Gambar 3.2. Gaya-Gaya yang Bekerja Pada Irisan

Persamaan kuat geser dalam tinjauan tegangan efektif yang dapat dikerahkan tanah,
hingga tercapainya kondisi keseimbangan batas dengan memperhatikan faktor aman,
adalah:

= ......(3.16)
dengan adalah tegangan normal total pada bidang longsor dan u adalah tekanan air
pori. Untuk irisan ke i, nilai Ti = ai, yaitu gaya geser yang dikerahkan tanah pada
bidang longsor untuk keseimbangan batas. Karena itu:

=.....(3.17)
Kondisi keseimbangan momen dengan pusat rotasi O antara berat massa tanah yang
akan longsor dengan gaya geser total yang dikerahkan tanah pada dasar bidang
longsor, dinyatakan oleh persamaan (Gambar 8):
Wi xi = Ti R .....(3.18)
dengan xi adalah jarak Wi ke pusat titik rotasi O. Dari Persamaan (3.16) dan (3.18),
dapat diperoleh:

=(3.19)

3-32
Pada kondisi keseimbangan vertikal, jika X1=Xi dan Xr= Xi+1 : Ni cosi + Ti sini
= Wi + Xi Xi+1

=....(.203)
Dengan Ni = Ni ui ai, substitusi Persamaan (3.18) ke Persamaan (3.19), dapat
diperoleh persamaan:

=...(3.21)
Substitusi Persamaan 12 ke Persamaan 10, diperoleh:

=....(3.22)
Untuk penyederhanaan dianggap Xi Xi+1 = 0 dan dengan mengambil:
xi = R sin i.(3.23)
bi = ai cos i ......(3.24)
Substitusi Persamaan (3.22) dan (3.24) ke Persamaan (3.21), diperoleh persamaan
faktor aman:

=(3.25)
dengan:
F = faktor aman
c = kohesi tanah efektif (kN/m2)
= sudut gesek dalam tanah efektif (derajat)
bi = lebar irisan ke-i (m)
Wi = berat irisan tanah ke-i (kN)
i = sudut yang didefinisikn dalam Gambar 8 (derajat)
ui = tekanan air pori pada irisan ke-i (kN/m2)

Rasio tekanan air pori (pore pressure ratio) didefinisikan sebagai:

3-33
=......(3.26)
dengan:
ru = rasio tekanan air pori
u = tekanan air pori (kN/m2)
b = lebar irisan (m)
= berat volume tanah (kN/m3)
h = tinggi irisan rata-rata (m)
Perhitungan nilai faktor aman dengan menggunakan simplified bishop method ini
dibutuhkan cara coba-coba (trial and error), karena nilai factor aman F nampak di
kedua sisi persamaannya. Akan tetapi, cara ini telah terbukti menghasilkan nilai
faktor aman yang mendekati hasil hitungan dengan cara lain yang lebih teliti. Untuk
mempermudah hitungan secara manual, gambar 9 dapat digunakan untuk menentukan
nilai fungsi Mi, dengan:
Mi = cos i (1 + tg i tg / F).(3.27)

Gambar 3.3. Diagram untuk Menentukan M

3-34
Maka, nilai faktor keamanan dalam metode ini dihitung dengan rumus:

.= ...(3.28)
dengan:
W1 = bh1 = berat tanah di atas muka air di saluran (kN)
W2 = bh2 = berat efektif tanah terendam di bawah muka air (kN)
b = lebar irisan arah horisontal (m)
u = hw w = tekanan air dihitung dari muka air saluran (m)
hw = tinggi tekanan air rata-rata dalam irisan yang ditinjau (m).

Menentukan nilai faktor aman yang terkecil dari bidang longsor dengan pusat
lingkaran pada titik tersebut, yaitu dengan cara mengubah jari-jarilingkarannya.
Kemudian, setelah faktor aman terkecil pada tiap-tiap titik pada kotaknya diperoleh,
digambarkan garis kontur yang menunjukkan tempat kedudukan dari titik-titik pusat
lingkaran yang mempunyai factor aman yang sama. Gambar 10 menunjukkan contoh
kontur-kontur faktor aman yang sama. Dari kontur faktor aman tersebut dapat
ditentukan letak kira-kira dari pusat lingkaran yang menghasilkan faktor aman
terkecil

Gambar 3.4. Contoh Kontur Faktor Aman

3-35
3-36