Anda di halaman 1dari 44

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

World Healt Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu

keadaan sempurna baik fisik, mental, sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau

kelemahan (Effendi, 1998 ). Sedangkan menurut Undang-Undang Kesehatan RI

No 23 tahun 1992, sehat didefinisikan sebagai keadaan sejahtera dari badan jiwa dan

sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Dari sekian banyak masalah kesehatan yang cenderung meningkat, kesehatan

jiwa merupakan masalah yang makin nyata peningkatannya. Gangguan jiwa (Mental

disorder) merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara

maju, modern dan industri. Keempat masalah kesehatan utama tersebut adalah

penyakit degeneratif, kanker, gangguan jiwa dan kecelakaan. Gangguan jiwa muncul

akibat terjadinya konflik internal (dunia dalam) pada diri seseorang dengan dunia luar

(Hawari 2001). Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan

yang menyebabkan kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut

dalam arti ketidakmampuan baik secara individu maupun kelompok akan

menghambat pembangunan, karena mereka tidak produktif dan tidak efisien ( Hawari

, 2001).

1
2

Data yang diperoleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukan 10 persen

dari populasi penduduk dunia membutuhkan pertolongan atau pengobatan bidang

kesehatan/psikiatri. Bahkan menurut studi World Bank tahun 2003 di beberapa negara

8,1 % dari Global Buden Disease (Penyakit Akibat Beban Globalisasi) disebabkan

oleh masalah kesehatan jiwa. (Muslim, 2004)

Hasil Survei Bahar, 1995 dan Direktorat Kesehatan Jiwa tahun 1996

menyatakan, bahwa di Indonesia, 1-3 dari setiap 10 orang mengalami gangguan jiwa.

Gangguan jiwa yang dimaksud bukanlah gangguan jiwa yang dipahami oleh sebagian

masyarakat sebagai Orang gila tetapi dalam bentuk gangguan mental serta perilaku

yang gejalanya mungkin tidak disadari oleh masyarakat ; Seperti defresi, kecemasan,

kepanikan, penyakit yang berhubungan dengan kondisi psikologis (psikomatis); juga

yang berhubungan dengan kondisi psikososial. (Muslim, 2004) Dari sekian banyak

masalah kesehatan jiwa, masalah yang dirasakan cukup berat dan memiliki prevalensi

cukup tinggi dibanding masalah kesehatan jiwa lainnya adalah masalah Skizoprenia

(Ilmawati dalam Muslim, 2004).

Hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) yang dilakukan

oleh jaringan epidemiologi psikiatrik Indonesia menemukan 185 dari 1000 penduduk

menunjukan gejala gangguan jiwa skizoprenia (Kuntjoro, 2000)

Berdasarkan data yang diambil di medical record Rumah Sakit Ernaldi Bahar

pada tahun 2004, jumlah penderita gangguan jiwa yang dirawat berjumlah 21.471

orang. Dari sekian orang tersebut terdapat 5.367 jiwa (25 %) klien skizoprenia.

Sedangkan pada tahun 2005 jumlah penderita gangguan jiwa yang menjalani
3

perawatan berjumlah 21.786 orang, dari sekian orang tersebut 5.882 Jiwa (27 %)

klien skzoprenia. Sedangkan pada tahun 2006 terhitung sejak Januari- April

didapatkan 1.890 jiwa klien gangguan jiwa yang menjalani perawatan dari sekian

orang tersebut 378 orang (20%) penderita skizofrenia.

Dalam perawatan klien gangguan jiwa skizofrenia perawat memegang

peranan penting dikarenakan perawat merupakan unit yang paling dekat dengan klien,

dan merupakan perawat utama bagi klien. (Keliat, 1996). Dalam melakukan

perawatan pada klien gangguan jiwa perawat harus tetap memberikan perawatan yang

bermutu, didasari ketulusan dan sikap empati.

Pentingnya perhatian dan adanya penanganan yang baik pada penderita

gangguan jiwa dikuatkan dengan adanya dasar hukum atau legalitas yang mengatur

mengenai perawatan penderita gangguan jiwa yakni dengan adanya Undang-Undang

No 33 tahun 1966 tentang kesehatan jiwa.

Asuhan keperawatan bermutu yang diberikan oleh perawat dapat dicapai salah

satu titik pentingnya adalah apabila perawat dapat memperlihatkan sikap caring

kepada klien gangguan jiwa. Dalam memberikan asuhan, perawat menggunakan

keahlian, kata-kata yang lemah lembut, sentuhan, memberikan harapan, selalu berada

disamping klien, dan bersikap caring sebagai media pemberi asuhan (Curruth,

Steele, Moffet, Rehmeyer, Cooper, & Burroughs, 1999 dalam Nurachmah 2000).

Pada perawat dapat diminta untuk merawat, namun mereka tidak dapat diperintah

untuk memberikan asuhan dengan menggunakan spirit caring. Spirit caring

idealnya harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal dari hati perawat yang
4

terdalam. Spirit caring bukan hanya memperlihatkan apa yang dikerjakan perawat

yang bersifat tindakan fisik, tetapi juga mencerminkan siapa dia. Oleh karenanya,

setiap perawat dapat memperlihatkan cara yang baik, sopan dan ramah ketika

memberikan asuhan kepada klien.

Seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi

dirasakan untuk aspek sarana dan prasarana dirasakan dapat diberikan oleh pihak

Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan tetapi untuk aspek penerapan

sikap caring perawat dalam melakukan perawatan sebagai bagian penting yang

mendukung proses keperawatan masih dipertanyakan.

Terkait dengan pentingnya aspek caring atau penerapan sikap caring oleh

perawat dalam memberikan perawatan, maka penulis tertarik untuk mengetahui

faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan sikap caring perawat pada klien

gangguan jiwa skizofrenia di Provinsi Rumah Sakit Ernaldi Bahar Sumatera Selatan

Tahun 2006.

1.2. Rumusan Masalah

Dari paparan di atas maka dirumuskan masalah penelitianya adalah belum

diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan sikap caring perawat

pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi

Sumatera Selatan Tahun 2006.


5

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Apakah ada hubungan antara karakteristik perawat (umur, jenis kelamin)

terhadap penerapan sikap caring pada klien gangguan jiwa skizofrenia di

Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 ?

2. Apakah ada hubungan antara pendidikan perawat terhadap penerapan sikap

caring pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi Bahar

Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006 ?

3. Apakah ada hubungan antara masa kerja perawat terhadap penerapan sikap

caring pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi Bahar

Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan sikap

caring perawat pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi

Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahuinya gambaran penerapan sikap caring perawat pada klien gangguan

jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan

Tahun 2006.
6

2. Diketahui ada tidaknya hubungan antara karakteristik perawat (umur dan jenis

kelamin) dengan penerapan sikap caring pada klien gangguan jiwa skizofrenia

di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.

3. Diketahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan perawat dengan

penerapan sikap caring perawat pada klien gangguan jiwa skizofrenia di

Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.

4. Diketahui ada tidaknya hubungan antara masa kerja perawat dengan

penerapan sikap caring pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit

Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1 Bagi Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur bagi perawat setempat maupun

perawat lain untuk dapat meningkatkan pelayanan kesehatan, meningkatkan

sikap empati dan care didalam memberikan pelayanan.

1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan / STIK Bina Husada

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk dapat

meningkatkan kualitas pendidikan bagi mahasiswa Program Studi Ilmu

Keperawatan (PSIK) STIK Bina Husada Palembang khususnya dan

mahasiswa kesehatan lainnya pada umumnya.


7

1.5.2 Bagi peneliti

Sebagai wadah untuk meningkatkan kemampuan kognitif, apektif dan

psikomotor bagi peneliti dan pembaca dalam mengaplikasikan ilmu dan teori-

teori yang berkaitan dengan konsep keperawatan jiwa dan konsep metodelogi

penelitian.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian tentang penerapan sikap caring perawat dan faktor-

faktor yang berhubungan dengan penerapan sikap caring perawat pada klien

gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan

Tahun 2006. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2006. Penelitian

akan dilakukan di Unit Rawat Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan

Tahun 2006. Sampel dalam penelitian ini adalah sejumlah perawat Rumah Sakit

Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006. Desain yang digunakan pada

penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan crossectional.


8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada penelitian ini peneliti ingin mempelajari penerapan sikap caring

perawat pada klien skizofrenia. Pada bab ini akan dibahas atau dijabarkan teori-teori

dan konsep yang berkaitan hal tersebut.

2.1 Keperawatan

2.1.1 Definisi keperawatan

Menurut International Council of Nurse (ICN, 1973) dalam Effendi (1998)

Keperawatan adalah fungsi yang unik membantu individu yang sakit atau sehat,

dengan penampilan kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan atau penyembuhan,

hingga individu dapat merawat kesehatannya sendiri apabila memiliki kekuatan,

kemauan dan pengetahuan.

Keperawatan berdasarkan hasil Lokakarya Nasional tahun 1983 adalah suatu

bentuk pelayanan di bidang kesehatan yang meliputi aspek bio-psiko-sosio-spritual

yang komprehensif dan didasari ilmu dan kiat keperawatan ditujukan kepada

individu, keluarga, dan masyarakat baik yang sakit maupun sehat yang mencakup

siklus hidup manusia. (Effendi, 1998).

8
9

2.1.2 Pelayanan keperawatan

Pelayanan keperawatan profesional dilaksanakan di berbagai tatanan

pelayanan kesehatan, menjangkau seluruh golongan dan lapisan masyarakat yang

memerlukan, baik di tatanan pelayanan kesehatan di masyarakat, maupun di tatanan

pelayanan rumah sakit. Pelayanan dikembangkan bersifat berjenjang mulai dari

keperawatan dasar sampai dengan keperawatan yang bersifat rumit atau spesialistik

bahkan subspesialistik, disertai dengan sistem rujukan keperawatan sebagai bagian

dari rujukan kesehatan yang efektif dan efisien. Pelayanan/asuhan keperawatan yang

bersifat spesialistik, baik keperawatan klinik maupun keperawatan komunitas antara

lain adalah keperawatan anak, keperawatan maternitas, keperawatan medikal bedah,

keperawatan jiwa, keperawatan gerontik dan keperawatan komunitas.

Pelayanan keperawatan (Nursing Service) mencakup bidang yang sangat

luas, tetapi secara sederhana Henderson (1980) merumuskannya sebagai berikut :

Pelayanan keperawatan merupakan suatu upaya untuk membantu individu baik

yang sakit maupun sehat, dari lahir sampai meninggal dalam bentuk penigkatan

pengetahuan, kemauan dan kemampuan yang dimiliki sehingga individu tersebut

dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dan optimal .

Pelayanan keperawatan berbeda dengan pelayanan medis, namun demikian

keduanya merupakan dua sisi mata uang yang saling berhubungan erat dan saling

mengisi dalam rangka penyembuhan pasien. Pelayanan keperawatan bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan dasar manusia, sedangkan pelayanan medis mengutamakan

pada upaya penentuan diagnosis dan pengobatan. Pelayanan keperawatan yang


10

diberikan dalam bentuk asuhan keperawatan, dilakukan melalui proses pengkajian

terhadap penyebab utama tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, penentuan

diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan

pengevaluasian. Seluruh proses diatas disebut proses keperawatan. Sasaran

pengkajian ini meliputi kebutuhan dasar biologis, psikologis, sosial serta spiritual

baik sebelum maupun setelah keadaan sakit.

Kelancaran pelayanan keperawatan di suatu ruang rawat baik rawat inap

maupun rawat jalan dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain adanya;

1. Visi, misi dan tujuan rumah sakit yang dijabarkan secara lokal ruang rawat.

2. Struktur organisasi local, mekanisme kerja (standar-standar) yang

diberlakukan di ruang rawat.

3. Sumber daya manusia keperawatan yang memadai baik kuantitas mapun

kualitas.

4. Metoda penugasan/pemberi asuhan dan landasan model pendekatan kepada

klien yang ditetapkan.

5. Tersedianya berbagai sumber/fasilitas yang mendukung pencapaian kualitas

pelayanan yang diberikan.

6. Kesadaran dan motivasi dari seluruh tanaga keperawatan yang ada.

7. Komitmen dari pimpinan rumah sakit ( Nurachmah, 2000).

Pelayanan keperawatan profesional diberikan kepada klien oleh tenaga keperawatan

yang memiliki kewenangan dan kompetensi yang telah ditetapkan oleh profesi.
11

Asuhan keperawatan ini seyogyanya berlandaskan ilmu pengetahuan, prinsip dan

teori keperawatan serta keterampilan dan sikap sesuai dengan kompetensi dan

kewenanganMyangndiembanMkepadaNperawatNtersebut.

Asuhan keperawatan yang bermutu merupakan asuhan manusiawi yang

diberikan kepada klien, memenuhi standar dan kriteria profesi keperawatan, sesuai

dengan standar biaya dan kualitas yang diharapkan rumah sakit serta mampu

mencapai tingkat kepuasan dan memenuhi harapan klien. Kualitas asuhan

keperawatan sangat ditentukan oleh berbagai faktor antara lain: kondisi klien,

pelayanan keperawatan termasuk tenaga keperawatan di dalamnya, sistem manajerial

dan kemampuan rumah sakit dalam melengkapi sarana prasarana, serta harapan

masyarakat terhadap pelayanan kesehatan/keperawatan yang diberikan di rumah sakit

tersebut.

Asuhan keperawatan yang bermutu dan dapat dicapai jika pelaksanaan

asuhan keperawatan dipersepsikan sebagai suatu kehormatan yang dimiliki oleh para

perawat dalam memperlihatkan sebagai suatu kehormatan yang dimiliki oleh perawat

dalam memperlihatkan haknya untuk memberikan asuhan yang manusiawi, aman,

serta sesuai dengan standar dan etika profesi keperawatan yang berkesinambungan

dan terdiri dari kegiatan pengkajian, perencanaan, implementasi rencana, dan evaluasi

tindakanmkeperawatanMyangntelahMdiberikan.

Untuk dapat melaksanakan asuhan keperawatan dengan baik seorang perawat

perlu memiliki kemampuan untuk (1) berhubungan dengan pasien dan keluarga, serta

berkomunikasi dengan anggota tim kesehatan lain; (2) mengkaji kondisi kesehatan
12

klien baik melalui wawancara, pemeriksaan fisik maupun menginterpretasikan hasil

pemeriksaan penunjang; (3) menetapkan diagnosis keperawatan dan memberikan

tindakan yang dibutuhkan klien; (4) mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah

diberikan serta menyesuaikan kembali perencanaan yang telah dibuat.

Disamping itu, asuhan keperawatan bermutu dapat dilaksanakan melalui

pendekatan metodologis keperawatan. Pendekatan ini dapat berupa pendekatan

keperawatan tim, modular, kasus, atau keperawatan primer (Grohar-Murray & Croce,

1997). Penetapan pendekatan ini sangat dipengaruhi oleh visi, misi, dan tujuan rumah

sakit dan ruang rawat, ketersediaan tenaga keperawatan baik jumlah mapun

kualifikasi, fasilitas fisik ruangan, tingkat ketergantungan dan mobilitas klien,

tersedianya prosedur dan standar keperawatan, sifat ruangan dan jenis pelayanan

keperawatannyangndiberikan.

Dalam mewujudkan asuhan keperawatan bermutu diperlukan beberapa

komponen yang harus dilaksanakan oleh tim keperwatan yaitu (1) terlihat caring

ketika harus memberikan asuhan keperawatan kepada klien, (2) adanya hubungan

perawat - klien yang terapeutik, (3) kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain,

dan (4) kemampun dalam memenuhi kebutuhan klien, serta (5) kegiatan jaminan

mutu (quality assurance).

2.1.3. Keperawatan Jiwa


13

Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk

meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang

terintegrasi. Pasien atau sistem klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok,

organisasi, atau komunitas.

ANA (American Nurses Association) mendefinisikan kesehatan mental dan

psikiatri sebagai : Suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan

teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik

sebagai kiatnya.

Pelayanan yang diberikan adalah upaya mencapai derajat kesehatan semaksimal

mungkin sesuai dengan potensi yang dimiliki dalam menjalankan kegiatan dalam

bidang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dengan menggunakan pendekatan

proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, perencanaan, dan evaluasi

keperawatan.(Effendi, 1995)

2.1.4 Peran dan Fungsi Keperawatan Jiwa

Dalam memberikan asuhan dan pelayanan keperawatan jiwa, perawat jiwa

dapat melakukan aktivitas pada tiga area utama yaitu aktifitas memberikan asuhan

keperawatan langsung pada klien, aktivitas komunikasi, aktivitas dalam pengelolaan.

(Stuart dan Sundeen, 1995)

Dalam hubungan perawat pasien, elemen peran keperawatan jiwa meliputi :

Kompetensi Klinik, Advokasi pasien keluarga, Tanggung jawab fiskal (keuangan),


14

Kerjasama antar disiplin ilmu di bidang keperawatan dan pengobatan klien, Tanggung

gugat sosial, Parameter etik legal.

Peran perawat dalam masing-masing tingkat pelayanan kesehatan jiwa,

(Dep.Kes.RI, 2000). :

1. Peran dalam prevensi primer

a) Memberi penyuluhan tentang prinsip-prinsip sehat jiwa

b) Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan, tingkat

kemiskinan dan pendidikan

c) Memberikan pendidikan dalam kondisi normal, pertumbuhan dan

perkembangan dan pendidikan seks

d) Melakukan rujukan yang sesuai sebelum gangguan jiwa terjadi,

berdasarkan pada stressor dan perubahan kehidupan yang potensial

e) Membantu klien di RSU untuk menghindari masalah psikiatri di masa

mendatang

f) Bersama-sama keluarga memberi dukungan pada anggota keluarga

dan meningkat fungsi kelompok

g) Aktif dalam kegiatan masyarakat dan politik yang berkaitan dengan

kesehatan jiwa

2. Peran perawat dalam prevensi sekunder

a) Melakukan skrining dan pelayanan evaluasi kesehatan jiwa

b) Melakukan kunjungan rumah atau pelayanan penanganan di rumah


15

c) Memberikan pelayanan kedaruratan psikiatri di RSU

d) Menciptakan lingkungan terapeutik

e) Melakukan supervisi pasien yang mendapatkan pengobatan

f) Memberikan pelayanan pencegahan bunuh diri

g) Memberikan konsultasi

h) Melaksanakan intervensi krisis

i) Memberikan psikoterapi individu, keluarga dan kelompok pada

berbagai tingkat usia

j) Memberikan intervensi pada komunitas dan organisasi yang telah

teidentifikasi masalah yang dialaminya.

3. Peran perawat dalam prevensi tersier

a) Melaksanakan latihan vokasional dan rehabilitasi

b) Mengorganisasi after care untuk klien yang telah pulang dari

fasilitas kesehatan jiwa untuk memudahkan transisi dari rumah sakit

ke komunitas

c) Memberikan pilihan partial hospitalization (perawatan rawat siang)

pada pasien

2.1.5mmSikapNCaringmperawat

Asuhan keperawatan bermutu yang diberikan oleh perawat dapat dicapai

apabila perawat dapat memperlihatkan sikap Caring kepada pasien. Dalam

memberikan asuhan, perawat menggunakan keahlian, kata-kata yang lemah lembut,


16

sentuhan, memberikan harapan, selalu berada disamping pasien, dan bersikap

Empati sebagai media pemberi asuhan (Curruth, Steele, Moffet, Rehmeyer, Cooper,

& Burroughs, 1999).

Sikap caring seyogyanya harus tumbuh dari dalam diri perawat dan berasal

dari hati perawat yang terdalam. Sikap empati bukan hanya memperlihatkan apa

yang dikerjakan perawat yang bersifat tindakan fisik, tetapi juga mencerminkan siapa

dia. Oleh karenanya, setiap perawat dapat memperlihatkan cara yang berada ketika

memberikanbasuhannkepadanpasien.

Sikap caring diberikan melalui kejujuran, kepercayaan, dan niat baik.

Prilaku empati menolong klien meningkatkan perubahan positif dalam aspek fisik,

psikologis, spiritual, dan sosial. Diyakini, bersikap empati untuk pasien dan bekerja

bersama dengan pasien dari berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan.

Watson menekankan dalam sikapcaring ini harus tercermin sepuluh

faktor karatif yaitu:

1. Pembentukan sistem nilai humanistic dan altruistik. Perawat menumbuhkan

rasa puas karena mampu memberikan sesuatu kepada pasien. Selain itu,

perawat juga memperlihatkan kemapuan diri dengan memberikan pendidikan

kesehatan pada pasien.

2. Memberikan kepercayaan - harapan dengan cara memfasilitasi dan

meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik. Di samping itu, perawat

meningkatkan prilaku klien dalam mencari pertolngan kesehatan.


17

3. Menumbuhkan sensitifan terhadap diri dan orang lain. Perawat belajar

menghargai kesensitifan dan perasaan kepada klien, sehingga ia sendiri dapat

menjadi lebih sensitif, murni, dan bersikap wajar pada orang lain.

4. Mengembangan hubungan saling percaya. Perawat memberikan informasi

dengan jujur, dan memperlihatkan sikap empati yaitu turut merasakan apa

yang dialami klien.

5. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien.

Perawat memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan

perasaan klien.

6. Penggunaan sistematis metoda penyalesaian masalah untuk pengambilan

keputusan. Perawat menggunakan metoda proses keperawatan sebagai pola

pikir dan pendekatan asuhan kepada klien.

7. Peningkatan pembelajaran dan pengajaran interpersonal, memberikan asuhan

mandiri, menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk

pertumbuhan personal klien.

8. Menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural, dan spritual yang

mendukung. Perawat perlu mengenali pengaruhi lingkungan internal dan

eksternal klien terhadap kesehatan kondisi penyakit klien.

9. Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan manisiawi. Perawat perlu

mengenali kebutuhan komperhensif diri dan klien. Pemenuhan kebutuhan

paling dasar perlu dicapai sebelum beralih ke tingkat selanjutnya.


18

10. Mengijinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenomologis agar pertumbuhan

diri dan kematangan jiwa klien dapat dicapai. Kadang-kadang seseorang klien

perlu dihadapkan pada pengalaman/pemikiran yang bersifat profokatif.

Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan pemahaman lebih mendalam

tentang diri sendiri.

Kesepuluh faktor karatif ini perlu selalu dilakukan oleh perawat agar semua

aspek dalam diri klien dapat tertangani sehingga asuhan keperawatan profesional dan

bermutu dapat diwujudkan. Selain itu, melalui penerapan faktor karatif ini perawat

juga dapat belajar untuk lebih memahami diri sebelum mamahami orangnlain.

Keperawatan merupakan suatu proses interpersonal yang terapeutik dan

signifikan. Inti dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien adlah hubungan

perawat-klien yang bersifat profesional dengan penekanan pada bentuknya tinteraksi

aktif antara perawat dan klien. Hubungan ini diharapkan dapat memfasilitasi

partisipasi klien dengan memotivasi keinginan klien untuk bertanggung jawab untuk

prosesnkesembuhannya.

2.2 Skizoprenia

2.2.1 Batasan Skizoprenia

Definisi skizoprenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi

berbagai area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima, dan
19

menginterpretasikan realitas , merasakan dan menunjukan emosi, dan berperilaku

dengan sikap yang dapat diterima secara sosial.

Skizoprenia dapat pula dikatakan sebagai kemunduran intelegensi sebelum

waktunya (Dementia Prekok). Skizoprenia adalah gangguan jiwa yang penderitanya

tidak mampu menilai realita dan dirinya sendiri (Hawari, 1999).

2.2.2 Penyebab Skizoprenia

Seacara umum penyebab timbulnya gangguan skizoprenia belum diketahui

secara pasti penyebabnya, oleh karena itu diperlukan sekali pengetahauan dan

pemahaman terhadap penyakit skizoprenia yang dapat dilakukan pendekatan yang

sifatnya holistik, untuk melihat berbagai faktor kausal seperti :

2.2.2.1 Faktor Organobiologik

Dalam penelitian dengan menggunakan CT Scan otak ternyata ditemukan

banyak perubahan pada natomi otak penderita skizoprenia terutama pada penderita

lama perubahan-perubahan natomi tersebut antara lain pelebaran lateral ventrikel,

atrofi korteks bagian depan dan atrofi otak kecil, adanya perubahan secara anatomis

mempengaruhi atau dapat menimbulkan gangguan pada sistem transmisi sinyal

penghantar saraf (neuro transmiter) dan reseptor di sel-sel saraf otak (neuron) dan

interaksi zat neuro kimia seperti dopamin dan serootinin; yang ternyata

mempengaruhi fungsi kognitif, afektif dan psikomotor yang menjelma dlam bentuk

gejala positif atau negatif penderita skizoprenia.


20

Secara organobiologik, berapa temuan penting menyatakan bahwa gen

sebagai penyebab skizoprenia lebih besar pada anak monozygote dibanding

dysighote, fakktor lingkungan memegang peranan atau implikasi 50 % pada pasangan

Monozygote, pada analisa studi keterkaitan (Lynkage Analysis)disebutkan bahwa

pada waktu terjadi pembelahan kromosom (meosis) merupakan kesempatan bagi

proses silang gen (crossing) dan kemungkinan terjadi rekomendasi adalah 50 %.

Secara studi genetika dinyatakan bahwa penyakit Skizoprenia diturunkan melalui gen

yang ditarnsmisikan.

Penelitian lain mengemukakan bahwa gangguan perlembangan otak janin

pada saat dalam kandungan mempunyai peran terhadap timbulnya penyakit

Skizoprenia. Perkembangan otak janin tersebut dapat diakibatkan, infeksi virus,

malnutrisi, trauma, toksin dan kelainan hormonal yang terjadi selama kehamilan.

2.2.2.2 Faktor Psikodinamik

Mekanisme terjadinya skizoprenia pada diri seseorang dari sudut

psikodinamika didalam teori hemostatik deskriftip, diakibatkan adanya gangguan

keseimabangan atau hemostatik pada diri seseorang, gangguan jiwa skizoprenia dapat

diakibatkan atau muncul akibat terjadinya komplik internal (dunia dalam) pada diri

seseorang yang yidak dapat beradaptasi dengan dunia luar (Freud 1926 dalam

Hawari, 1999).
21

2.2.2.3 Faktor Psikoreligius

Pentingnya riwayat kehudupan beragama bagai penderita gangguan jiwa

dikemukakan oleh Kaplan dan Sadock (1991) dalam Hawari (2001), yang

menyatakan bahwa wawancara psikiatrik perlu ditelusuri latar belakang keagamaan

antra lain, kehidpan beragama kedua orang tua dan anak (penderita) di dalam

pendidikan agama di rumah. Dikarenakan sering kali dijumpai dalam praktek

kedokteran jiwa (psikiatrik) pada penderita skizoprenia terdapat gejala-gejala waham

atau delusi keagamaan yang patologis, seperti keyakinan bahwa dirinya utusan tuhan

dan sebagainya.

2.2.2.4 Faktor Psikososial

Situasi atau kondisi yang tidak kondusif pada diri seseorang dapat merupakan

sumber stressor psikososial, stresor psikosoial adalah setiap keadaan atau peristiwa

yang menyababkan perubahan dalam kehidupan seseorang : sehingga orang tersebut

terpakasa menyesuaikan diri (adaptasi) untuk menanggulangi stresor (tekanan mental)

yang timbul, tidak semua orang mampu melakukan adaptasi dan mampu

menanggulanginya sehingga timbulah keluhan-keluhan kejiwaan, anatara lain

berbagai jenis gangguan jiwa yang salah satuhnya adalah skizoprenia (Hawari, 2001).

2.2.3 Gambaran Klinik

Pada skizoprenia terdapat gejala-gejala berupa gejala positif dan negatif,

Gejala positif terdiri dari waham (keyakinan yang salah dan berlebih-lebihan),

perilaku halusinasi, kekacauan proses pikir, gaduh gelisah, waham grandia,


22

kecurigaan dan permusuhan, sedangkan gejala negatif meliputi afek tumpul,

kemiskinan inisiatif, penarikan emosional, penarikan diri dari hubungan sosial secara

pasif/apatis, kesulitan dalam pemikiran abstrak, kurangnya spontanitas dan arus

percakapan serta terdapat pemikiran yang sterotif (Maramis, 1994).

Prevalensi : 2-4 per mil dari populasi.

Perjalanan penyakit : dapat akut, sub-akut atau kronik.

Usia timbul : dapat pada semua usia sering terjadi pada remaja.

2.2.4 Penatalaksanaan Keperawatan

Sesuai dengan misi dan keyakinan keperawatan, yaitu membantu klien untuk

menyelesaikan masalahnya secara bio-psiko-sosio-spiritual kepada individu,

keluarga, kelompok dan komunitas dengan menggunakan teori prilaku manusia

sebagi ilmunya dan pengetahuan sebagai kiatnya, maka keperawatan yang merupakan

bagian integral dari sistim kesehatan di Indonesia turut menentukan dalam

menanggulangi masalah kesehatan jiwa. Perawat merupakan kelompok mayoritas

tenaga kesehatan dan mempunyai kesempatan 24 jam dalam memberikan Asuhan

Keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan baik yang bersifat promotif,

preventif, kurtif dan rehabilitatif ; menerapkan terapi modalitas secara profesional dan

komprehensif untuk meningkatkan, mempertahanan, memulihkan respon adaptif

serta mencegah dan merehabilitasi respon maladaptif dari pasien. (Hawari 2001

dalam Janna 2004)


23

Intervensi keperawatan dapat mencakup kolaborasi dlam pengobatan

psikososial dan psikobiologik yang luas ang dilandasi pada pengkjian perawat tentang

kebutuhan dan kekuatan pasien. Orang terdekat sedapat mungkin dilibatkan.

Pendekatan utama dalam intervensi keperawatan dengan pasien yang mengalami

skizoprenia dapat diuraikan sebagai berikut :

a). Hubungan yang terapeutik :

1. Mendengarkan dengan cermat

2. Menjaga keteladanan

3. Merencanakan kontak singkat jika pasien merasa tidak nyaman dengan

hubungan interpersonal.

4. Menghargai privasi.

5. Bersikap terbuka dan jujur.

6. Menjelaskan kerahasiaan harapan

7. Melibatkan pasien dan keluarga dalam perencanaan asuhan.

8. Menghindari penafsiran perilaku yang terlalu dini.

9. Mempertahankan keselarasan perilaku verbal dan nonverbal.

10. Memberikan umpan balik tentang perilaku

11. Mengorientasikan pada realitas memberikan suatu yang terstruktur.

12. Membantu untuk mengidentifikasi pilihan, dan membatasi pilihan.


24

b). Menangani Delusi

1. Bina hubungan saling percaya dengan meyakinkan bahwa dia berada

dalam keadaan aman dan tidak berbahaya.

2. Identifikasi jenis atau isi pikiran yang membantu dalam pemahaman

pasien.

3. Identifikasi arti delusi dengan mengkaji area dalam kehidupan individu

yang dapat diatur dan dikendalikan oleh pasien.

4. Kaji Intensitas dan lamanya delusi

5. Terima ungkapan klien tanpa membenarkan.

6. Identifikasi kebutuhan emosional yang mungkin dapat dipenuhi oleh

delusi.

c. Menangani halusinasi

1. Katakan secara singkat bahwa perawat tidak merasakan stimulus yang

dirasakan oleh pasien.

2. Bantu individu untuk menguraikan dan membandingkan halusinasi yang

sekarang dengan yang terakhir ia rasakan.

3. Dorong individu untuk meguraikan dan mengamati pikiran, perasaan dan

tindakannya, sekarang atau yang lalu berkaitan dengan halusinasi yang

dialaminya.

4. Sarankan dan perkuat penggunaan hubungan interpersonal dalam

pemenuhan kebutuhan.
25

5. Identifikasi bagaimana gejala psikosis lain telah mempengaruhi

kemampuan individu untuk melaksanakan aktivitas sehari-hari.


26

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam suatu penelitian adalah kerangka hubungan antara

konsep-konsep yang diamati dan diukur melalui penelitian yang akan dilakukan

(Notoatamodjo, 2002).. Berdasarkan tujuan penelitian dan tinjauan pustaka maka

disusun kerangka konsep sebagai berikut.

Gambar 3.1
Kerangka Konsep Penelitian

Variabel Independent Variabel Dependent

Karakteristik

- Umur
Penerapan sikap caring
- Jenis kelamin
perawat pada klien
Skizofrenia
Tingkat Pendidikan di Rumah Sakit Ernaldi
Bahar Provinsi
Sumatera Selatan
Masa Kerja

3.2. Definisi Oprasional

26
27

No Variabel Definisi Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur Skala


Ukur
1 Umur Jarak antara hari Kuesioner Wawancara 1. Dewasa Muda : ordinal
ulang tahun terakhir < 35 tahun
perawat dengan hari
kelahiran 2. Dewasa Tua :
(> 35 tahun

2 Jenis Kelamin Karakteririk biologis Kuesioner Wawancara 1. Laki Nominal


individu 2. Perempuan

3. Pendidikan Pendidikan formal Kuesioner Wawancara 1. Pendidikan Rendah : Ordinal


terakhir yang SPK
ditempuh oleh 2. Pendidikan Tinggi :
responden(perawat) DIII Keperawatan

4 Masa Kerja Kurun waktu yang Kuesioner Wawancara 1. Baru Ordinal


menunjukan lamanya < 5 tahun
seseorang bekerja 2 Lama
5 tahun

5 Penerapan Tindakan atau respon Kuesioner Wawancara 1. Baik = Ordinal


sikap Caring perawat yang . mean (nilai rata-rata)
menunjukan bentuk 2. Tidak baik =
kepedulian perawat < mean = nilai rata-rata
terhadap klien
skizofrenia

3.3. Hipotesa Penelitian

3.3.1. Ada hubungan antara karakteristik perawat (umur, jenis kelamin) terhadap

penerapan sikap caring pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah

Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.

3.3.2. Ada hubungan antara pendidikan perawat terhadap penerapan sikap

caring pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi

Bahar Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.


28

3.3.3. Ada hubungan antara masa kerja perawat terhadap penerapan sikap caring

pada klien gangguan jiwa skizofrenia di Rumah Sakit Ernaldi Bahar

Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006.


29

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan

kuantitatif dan dengan rancangan Cross Sectional yaitu suatu penelitian untuk

mempelajari dinamika hubungan antara variabel independent meliputi umur, jenis

kelamin, pendidikan, dan masa kerja perawat dengan variabel dependent yani

penerapan sikap caring perawat di Rumah Sakit Ernaldi Bahar Tahun 2006 yang

akan dilaksanakan dalam waktu bersamaan (Notoatmodjo, 2002).

4.2 Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang terdapat di Rumah Sakit

Ernaldi Bahar Tahun 2006 yang berjumlah yakni 100 orang

4.2.2. Sampel

Sampel diambil melalui perhitungan menggunakan rumus untuk populasi kecil

atau lebih kecil dari 10.000, dapat menggunakan formula yang lebih sederhana

( Notoadmodjo, 2002 ).

Dengan menggunakan rumus :

27
30

N Keterangan :
n = n = Besar sampel
1+N(d2 ) N = Jumlah populasi
d2 = Tingkat penyimpangan 10 %
( 0.01 )

Berdasarkan data terakhir yang diperoleh terhitung paling lambat April 2006

terdapat jumlah perawat sebanyak 100 orang di Rumah Sakit Ernaldi Bahar,

berdasarkan populasi tersebut maka akan dicari sampel penelitian dengan

mrnggunakan rumus perhitungan sampel sebagai berikut :

n = 100
1+ 100 ( 0.01)

= 100
2

= 50

= 50 Sampel

Berdasarkan hasil perjitungan jumlah sampel didapatkan sampel penelitian

yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 50 orang perawat. Sampel

diambil secara sistematik random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak

dengan cara membagi jumlah anggota populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang

diinginkan, hasilnya adalah interval sampel. Sampel diambil dengan membuat daftar

elemen anggota populasi secara acak antara 1 sampai n (Notoadmdjo, 2002)


31

4.3 Pengumpulan Data

4.3.1 Data Primer

Data yang didapat dari observasi terhadap responden dengan menggunakan

Check list

4.3.2 Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan dari Rumah

Sakit Ernaldi Bahar.

4.4 Pengolahan dan Analisa Data

a. Kode (Coding)

Merupakan suatu pemberian kode atau menandai jawaban responden atau

pertanyaan yang ada pada kuesioner.

b. Edit (editing)

Untuk meneliti kembali apakah pengisian kuesioner lengkap atau belum,

sehingga apabila kekurangan dapat segera dilengkapi.

c. Pemprosesan (Processing)

Setelah data selesai dan lengkap maka akan dilanjutkan dengan

pemprosesan dengan cara mengentri data dari kuesioner

d. Entry

Memasukan data melalui pengolahan komputer.


32

e. Pembersihan (Cleaning )

Untuk melihat apakah data sudah benar-benar bebas dari keliru.

4.5 Tekhnik Analisis Data

Analisa yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif variabel

yang diteliti terdiri dari variabel penerapan umur, jenis ekelamin, pendidikan

dan masa kerja perawat sebagai variabel independen dan penerapan sikap

caring perawat sebagai variabel dependen.

4.5.1 Analisa univariat

Pada analisa ini semua data yang terkumpul disajikan dalam bentuk tabel

distribusi frekuensi untuk mendapatkan gambaran distribusi dari responden

atau variabel yang diteliti (Hastono, 2001)

4.5.2 Analisa bivariat

Analisa data bertujuan untuk melihat hubungan antara umur, jenis ekelamin,

pendidikan dan masa kerja perawat dengan penerapan sikap caring perawat

sehingga dilakukan tabulasi silang & uji statistik dengan menggunakan rumus

chi-square dengan derajat kepercayaan 95 % bila p 0,05menujukan

hubungan bermakna. Keterangan :

Rumus (Chi-Square) : X2 = Chi-Square

(O E ) 2 O = Nilai observasi
X2
E
E = Nilai diharapkan
33

Kiriteria uji :

1. HO ditolak bila x2 hitung >x2 tabel atau P< (0,05) bearti ada hubungan

bermakna

2. HO diterima bila x2 hitung < x2 tabel atau P > (0,05) berarti tidak ada

hubungan bermakna

Daftar Pustaka
34

Effendi N (1998). Perawatan Kesehatan Masyarakat . EGC, Jakarta.

Hawari, (1999). Al Quran, Ilmu Kedokteran jiwa dan Kesehatan Jiwa, Yogyakarta :
PT Dhana Bakti Prima Yasa

Hawari, 2001.Pendekatan holistik Pada Hangguan Jiwa Skizoprenia, Jakarta :


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ilmawati, Zadia (2000), Depresi dan Akar penyebabnya


http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000

Keliat. B A .(1996). Perawatan penderita Skizoprenia. Jakarta : EGC

Kuntjoro, Zainudin sri (2000). Mengenal gangguan jiwa


http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000.

Maramis, (1998),Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Surabaya : Airlangga Univesity


press

Maslim, R.(2003). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III

Muslim, Syabab (2004) Gangguan jiwa ; Teori dan akar permasalahannya.


http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000.

Notoatmodjo. S. (2002) Metodelogi Penelitian Kesehatan.Jakarta : PT Rineka cipta

Notoatmodjo. S. (2003). Ilmu perilaku dalam kesehatan. Jakarta : PT Rineka cipta


35

Nursalam .(2003). Konsep dan Penerapan Metodologi penelitian Ilmu


Keperawatan : Pedoman Skripsi, Tesis dan Istrumen Penelitian
Keperawatan. Jakart : Salemba Medika.

Rasmun, (2001) Keperawatan Kesehatan Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga.


Jakarta. CV Sagung Seto

Stuart and Sudent (1998) Buku saku keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

PENERAPAN SIKAP CARING PERAWAT PADA KLIEN SKIZOFRENIA


DI RUMAH SAKIT ERNALDI BAHAR
PROVINSI SUMATERA SELATAN
TAHUN 2006
36

OLEH

EKA SUSIANINGSIH

02.10105.20.11

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA HUSADA
JL.Syech Abdul Somad No.28
PA L E M B A N G
2006

Kepada Yth :
Bapak/ibu/saudara/saudari rekan perawata di RS Ernaldi Bahar
37

di
Palembang

Dengan hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Eka Susianingsih
NPM : 02.10105.20.11

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIK Bina Husada Palembang


tingkat akhir yang sedang melakukan penelitian dengan judul Penerapan sikap caring
perawat terhadap klien skizofrenia di RS Ernaldi Bahar provinsi Sumatera Selatan
. bermaksud meminta kesediaan bapak/ibu untuk menjawab kuisioner ini dengan
sejujur-jujurnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Karakteristik,
Pengetahuan dan Sikap lansia dalam berpartisipasi terhadap Kegiatan Posyandu
Lansia di Puskesmas Sosial
Segala informasi yang diberikan diperuntukkan hanya untuk penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan tanpa ada maksud lain serta kami menjamin
kerahasiaan bapak/ibu
Bila bila bapak/ibu menyetujui, dimohon menandatangani lembar persetujuan
(Informed Consent), yang ada di lembar belakang. Atas kesediaan dan kerjasamanya
Saya sampaikan terima kasih.

Hormat saya,

(Eka Susianingsih)
38

FORMAT PERSETUJUAN

(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, bersedia dan tidak berkeberatan
untuk menjadi responden setelah mendengar penjelasan dari peneliti dalam penelitian
yang dilakukan oleh Eka Susianingsih Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan
(PSIK) Bina Husada Palembang, dengan judul: Penerapan sikap caring perawat
terhadap klien skizofrenia di RS Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera Selatan, yang
mana dalam penelitian ini menggunakan alat ukur berupa angket.
Demikianlah surat persetujuan ini saya buat dengan sejujur-jujurnya dan tanpa
paksaan atau tekanan dari pihak manapun.

Palembang, Juni 2006


Responden

( )
39

DAFTAR PERTANYAAN

PETUNJUK

Tuliskan jawaban anda pada tempat yang telah disediakan

Tidak perlu menuliskan nama anda

Jawablah pertanyaan berikut dengan sejujur mungkin

Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini menurut kemampuan anda.

A. IDENTITAS RESPONDEN

1. Inisial Responden :

2. Jenis kelamin :..

3. Umur :.

4. Pendidikan terakhir :.

5. Masa Kerja :
40

B. Penerapan Sikap Caring Perawat


Petunjuk pengisian :

Beri tanda ( ) pada kotak yang telah tersedia sesuai dengan jadwal anda

Jawaban
No Pernyataan Kadang- Tidak
Selalu
kadang pernah
1 Apakah perawat sering mengajak klien
gangguan jiwa untuk berkomunikasi
2 Apakah saudara/saudari menyiapkan alat-alat
yang diperlukan untuk keperluan sehari-hari
klien gangguan jiwa seperti, makan, mandi, dan
merawat diri ?
3 Apakah saudara/saudari memberikan makanan
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan gizi
klien gangguan jiwa skizofrenia ?

4 Apakah saudara/saudari memberikan aktivitas


seperti senam atau kegiatan lain sesuai
kemampuan fisik klien gangguan jiwa
skizofrrenia untuk mempertahan- kan
kebugaran tubuhnya
5 Apakah saudara melakukakan kolaborasi
dengan tim kesehatan lain dalam proses
penyembuhan klien ?
6 Apakah saudara/saudari membantu dan
memfasilitasi klien gangguan jiwa skizofrenia
untuk berinteraksi dengan lingkungan ?
7 Apakah saudara/saudari menghargai pendapat
klien skzofrenia ?
8 Apakah saudara/saudari membantu klien
gangguan jiwa skizofrenia dalam merawat diri
seperti mandi, berpakaian dan kebersihan diri?
9 Apakah saudara/saudari membantu
memfasilitasi klien gangguan jiwa memnuhi
kebutuhan spiritualnya seperti sholat, dll
10 Apakah saudara/saudari membantu dan
memfasilitasi klien gangguan jiwa untuk
minum obat secara teratur ?
41

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .. i
KATA PENGANTAR. ii
DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN .. 1
1.1 Latar Belakang . 1
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Pertanyaan Penelitian .. 4
1.4 Tujuan penelitian 5
1.5 Manfaat Penelitian .... 6
1.6 Ruang Lingkup Penelitian 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Keperawatan 8
2.1.1 Definisi keperawatan
8
2.1.2 Pelayanan keperawatan 8
2.1.3. Keperawatan Jiwa .. 13
2.1.4 Peran dan Fungsi Keperawatan Jiwa... 13
2.1.5mSikapNCaringmperawat.. 15
2.2 Skizoprenia. 18
2.2.1 Batasan Skizoprenia. 18
2.2.2 Penyebab Skizoprenia.. 19
2.2.3 Gambaran Klinik . 21
42

2.2.4 Penatalaksanaan Keperawatan. 22

BAB III KERANGKA KONSEP &DEFINISI OPERASIONAL


3.1 Kerangka Konsep 26
3.2. Definisi Operasional... 27
3.2. Hipotesa penelitian... 27

BAB IV METODE PENELITIAN


4.1 Desain Penelitian .. 29
4.2 Populasi . 29
4.2.1 Populasi. 29
4.2.2. Sampel.. 29
4.3 Pengumpulan data.. 31
4.4 Pengolahan Data 31
4.5 Tehnik Analisa Data 32

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
43

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan proposal skripsi ini

yang berjudul Penerapan Sikap Caring Perawat Pada Klien Gangguan Jiwa

Skizofrenia Di Provinsi Rumah Sakit Ernaldi Bahar Sumatera Selatan Tahun 2006.

Dalam penulisan proposal skripsi penulis mengucapkan banyak terima kasih

kepada orang tuaku serta saudara-saudaraku yang telah memberikan dukungan baik

moril maupun materi. Ucapan Terima kasih kepada Bapak Abu bakar Sidik, S.Kp

sebagai pembimbing I dan Bapak Iman Suwono, SKM, S.Sos, MPH sebagai

pembimbing II yang telah memberikan bimbingan selama penulisan proposal skripsi

ini, selain itu penulis menyadari banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terima

kasih kepada :

1. Bapak Dr. H.Danardono Soekimin, MPA, ASC. sebagai Ketua SekolahTinggi

Ilmu Kesehatan Bina Husada Palembang.

2. Ibu Ismar Agustin, S.Kp. M.Kes sebagai Ketua Program Studi Ilmu

Keperawatan STIK Bina Busada yang telah memberikan kemudahan dalam

pengurusan administrasi penulisan skripsi ini.


44

3. Pimpinan berserta staff Rumah Sakit Ernaldi Bahar Provinsi Sumatera

Selatan.

4. Seluruh dosen dan staff STIK Bina Husada Palembang

5. Rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan bantuan.

Penulis menyadari kekurangan dan keterbatasan yang ada pada penulisan

proposal skripsi ini oleh karena itu kritik dan saran yang membangun yang dapat

memberikan perubahan ke arah yang lebih positif dalam proses pembelajaran di masa

yang akan datang sangat penulis harapkan sekali. Semoga Allah melimpahkan rahmat

dan ridhanya kepada kita semua. Amin ya rabbalallamin

Palembang, Juni 2006

Penulis