Anda di halaman 1dari 22

REFRESHING

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik di Bidang


Venereologi dan Differensial Diagnosis Duh Tubuh,
Ulkus Genitalia, Sifilis, dan Tumor Genitalia

Dokter Pembimbing :
dr. Afaf Algi Al Munawar, SpKK

Oleh :
Eza Melinda
2012730034

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIV. MUHAMMADIYAH JAKARTA


RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
PERIODE 14 AGUSTUS 17 SEPTEMBER 2017

1
PENDAHULUAN

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularnnya terutama melalui
hubungan seksual, kontak langsung dengan alat-alat yang tercemar. Cara hubungan seksual
tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital, ano-
genital, sehingga kelainan yang timbul ini tidak terbatas hanya pada daerah genital, tetapi
juga pada daerah ekstra genital. Cara penularan IMS melalui alat-alat yang tercemar seperti:
handuk, termometer, jarum suntik, atau melalui cairan tubuh (darah, cairan vagina, sperma,
saliva), dan penularan dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya atau pada saat inpartu
(proses kelahiran).1

Istilah yang dahulu digunakan sebelum IMS adalah penyakit kelamin atau Venereal
Diseases (V.D) dan hanya terdiri atas 5 penyakit, yaitu sifilis, gonore, ulkus mole,
limfogranuloma venereum, dan granuloma inguinale. Namun, dengan semakin
berkembangnya sarana diagnostic dan teknik labortorium serta ditemukan berbagai penyakit
lain yang dapat timbul akibat hubungan seksual, seperti jenis penyakit epidemic contohnya
herpes genitalis dan hepatitis B, istilah V.D makin lama makin ditinggalkan dan
diperkenalkan istilah Sexually Transmitted Infection (S.T.I).1

Peningkatan insidensi IMS dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah
perubahan demografik, perubahan sikap dan perilaku akibat faktor demografi di atas,
terutama dalam bidang agama dan moral, pemberian pendidikan kesehatan khususnya
kesehatan genitalia belum, pemakaian obat antibiotik tanpa resep dokter, maka timbul
resistensi kuman terhadap antibiotik tersebut, fasilitas layanan kesehatan yang kurang
memadai dan banyak kasus IMS asimtomatik, pasien merasa tidak sakit, tetapi dapat
menulari pasangan seksualnya.1

Dengan kemampuan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik bisa menyingkirkan
diagnosis banding yang kemudian menegakkan diagnosis. Pemeriksaan fisik atau
pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang dokter memeriksa tubuh pasien untuk
menemukan tanda klinis penyakit.

2
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANAMNESIS

Anamnesis dapat dilakukan oleh tenaga medis atau pun paramedis, bertujuan untuk :

Menentukan faktor risiko pasien


Membantu menegakkan diagnosis sebelum dilakukan pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan penunjang lainnya
Membantu mengidentifikasi pasangan seksual pasien
Agar tujuan anamnesis tercapai, diperlukan keterampilan melakukan komunikasi
verbal (cara kita berbicara dan mengajukan pertanyaan kepada pasien) maupun
keterampilan komunikasi non verbal (keterampilan bahasa tubuh saat menghadapi
pasien).2

Sikap saat melakukan anamnesis pada pasien IMS perlu diperhatikan, yaitu :

Sikap sopan dan menghargai pasien yang tengah dihadapi


Menciptakan suasana yang menjamin privasi dan kerahasian, sehingga sebaiknya
dilakukan dalam ruang tertutup dan tidak terganggu oleh keluar masuk petugas
Dengan penuh perhatian mendengarkan dan menyimak perkataan pasien, jangan
sambil menulis saat pasien berbicara dan jangan memutuskan pembicaraan
Gunakan keterampilan verbal anda dengan memulai rangkaian anamnesis
menggunakan pertanyaan terbuka, dan mengakhiri dengan pertanyaan tertutup.
Pertanyaan terbuka memungkinkan pasien untuk memberikan gambaran lebih
jelas, sedangkan pertanyaan tertutup adaalah salah satu bentuk pertanyaan yang
mengharapkan jawaban singkat, sering dengan perkataan ya atau tidak, yang
biasanya digunakan untuk lebih memastikan hal yang dianggap belum jelas.
Gunakan keterampilan verbal secara lebih mendalam, misalnya dengan
memfasilitasi, mengarahkan, memeriksa, dan menyimpulkan, sambil
menunjukkan empati, meyakinkan dan kemitraan.2

3
Untuk menggali faktor risiko perlu ditanyakan beberapa hal tersebut dibawah ini.
Berdasarkan penelitian faktor risiko oleh WHO (World Health Organization) di beberapa
negara (di Indonesia masih belum diteliti), pasien akan dianggap berperilaku berisiko tingi
bila terdapat jawaban ya untuk satu atau lebih pertanyaan di bawah ini :2

Pasangan seksual > 1 dalam 1 bulan terakhir


Berhubungan seksual dengan penjaja seks dalam 1 bulan terakhir
Mengalami 1/ lebih episode IMS dalam 1 bulan terakhir
Perilaku pasangan seksual berisiko tinggi

Adapun hal-hal yang harus ditanyakan kepada pasien tertera dalam kolom dibawah ini:2

Tabel 1: Informasi yang perlu ditanyakan kepada pasien

Informasi yang perlu di tanyakan kepada pasien

1. Keluhan utama 10. Hubungan keluhan dengan keadaan


2. Keluhan tambahan lainnya-menjelang/sesudah haid;
3. Riwayat perjalanan penyakit kelelahan fisik/psikis; penyakit :
4. Siapa menjadi pasangan seksual diabetes, tumor, keganasan, lain-
tersangka (wanita/pria penjaja seks, lain; penggunaan obat : antibiotika,
teman, pacar, suami/isteri) kortikosteroid, kontrasepsi;
5. Kapan kontak seksual tersangka pemakaian alat kontrasepsi dalam
dilakukan rahim (AKDR); rangsangan
6. Jenis kelamin pasangan seksual seksual; kehamilan; kontak seksual.
7. Cara melakukan hubungan seksual 11. Riwayat IMS sebelumnya dan
(genito-genital, orogenital, pengobatannya
anogenital) 12. Hari terakhir haid
8. Penggunaan kondom (tidak pernah, 13. Nyeri perut bagian bawah
jarang, sering, selalu) 14. Cara kontrasepsi yang digunakan
9. Riwayat dan pemberi pengobatan dan mulai kapan
sebelumnya (dokter/bukan
dokter/sendiri)

4
B. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik terutama dilakukan pada daerah genitalia dan sekitarnya, yang
dilakukan di ruang periksa dengan lampu yang cukup terang. Lampu sorot tambahan
diperlukan untuk pemeriksaan pasien perempuan dengan spekulum. Dalam pelaksanaan
sebaiknya pemeriksa didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain. Pada pemeriksaan
terhadap pasien perempuan, pemeriksa didampingi oleh paramedis perempuan, sedangkan
pada pemeriksaan pasien laki-laki, dapat didampingi oleh tenaga paramedis laki-laki atau
perempuan. Beri penjelasan lebih dulu kepada pasien mengenai tindakan yang akan
dilakukan :2

Pada saat melakukan pemeriksaan fisik genitalia dan sekitarnya, pemeriksa harus
selalu menggunakan sarung tangan, jangan lupa mencuci tangan sebelum dan
sesudah memeriksa.
Pasien harus membuka pakaian dalamnya agar dapat dilakukan pemeriksaan
genitalia (pada keadaan tertentu, kadang-kadang pasien harus membuka seluruh
pakainnya secara bertahap).
o Pasien perempuan, diperiksa dengan berbaring pada meja ginekologik
dalam posisi litotomi.
Pemeriksa duduk dengan nyaman sambil melakukan inspeksi dan
palpasi mons pubis, labia, dan perineum.
Periksa daerah genitalia luar dengan memisahkan ke dua labia,
perhatikan adakah kemerahan, pembengkakan, luka/lecet, massa, atau
duh tubuh.

Gambar 1. Posisi Litotomi

o Pemeriksaan pasien laki-laki dapat dilakukan sambil duduk/berdiri,


Perhatikan daerah penis, dari pangkal sampai ujung, serta dan daerah
skrotum

5
Perhatikan adakah duh tubuh, pembengkakan, luka/lecet atau daerah
lain
Lakukan inspeksi dan palpasi pada daerah genitalia, perineum, anus dan
sekitarnya.
Jangan lupa memeriksa daerah inguinal untuk mengetahui pembesaran kelenjar
getah bening setempat (regional)
Bilamana tersedia fasilitas laboratorium, sekaligus dilakukan pengambilan bahan
pemeriksaan.
Pada pasien pria dengan gejala duh tubuh genitalia disarankan untuk tidak
berkemih selama 1 jam (3 jam lebih baik), sebelum pemeriksaan.

Pengambilan Spesimen:

Pasien laki-laki dengan gejala duh tubuh uretra

1. Beri penjelasan lebih dahulu agar pasien tidak perlu merasa takut saat pengambilan
bahan duh tubuh gentalia dengan sengkelit atau dengan swab berujung kecil
2. Bila menggunakan sengkelit, gunakanlah sengkelit steril.
3. Masukkan sengkelit/swab ke dalam orifisium uretra eksterna sampai kedalaman 1-2
cm, putar swab (untuk sengkelit tidak perlu diputar namun cukup menekan dinding
uretra), dan tarik keluar perlahan-lahan
4. Oleskan duh tubuh ke atas kaca obyek yang sudah disiapkan
5. Bila tidak tampak duh tubuh uretra dapat dilakukan pengurutan (milking) oleh
pasien.2

Gambar 2. Insersi Swab ke dalam


uretera dan di putar 1800

Pasien perempuan dengan duh tubuh vagina

Pasien perempuan dengan status sudah menikah, dilakukan pemeriksaan dengan


spekulum serta pengambilan spesimen

6
1. Beri penjelasan lebih dulu mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan agar pasien
tidak merasa takut
2. Bersihkan terlebih dahulu dengan kain kasa yang telah dibasahi larutan NaCl
3. Setiap pengambilan bahan harus menggunakan spekulum steril (sesuaikan ukuran
spekulum dengan riwayat kelahiran per vaginam), swab atau sengkelit steril
4. Masukkan daun spekulum steril dalam keadaan tertutup dengan posisi tegak/vertikal
ke dalam vagina, dan setelah seluruhnya masuk kemudian putar pelan-pelan sampai
daun spekulum dalam posisi datar/horizontal. Buka spekulum dan dengan bantuan
lampu sorot vagina cari serviks. Kunci spekulum pada posisi itu sehingga serviks
terfiksasi,
5. Setelah itu dapat dimulai pemeriksaan serviks, vagina dan pengambilan spesimen
Dari serviks: bersihkan daerah endoserviks dengan kasa steril, kemudian ambil
spesimen duh tubuh serviks dengan sengkelit/ swab Dacron steril untuk
pembuatan sediaan hapus, dengan swab Dacron yang lain dibuat sediaan biakan,
Dari forniks posterior: dengan sengkelit/ swab Dacron steril untuk pembuatan
sediaan basah, dan lakukan tes amin
Dari dinding vagina: dengan kapas lidi/ sengkelit steril untuk sediaan hapus,
Dari uretra: dengan sengkelit steril untuk sediaan hapus
6. Cara melepaskan spekulum: kunci spekulum dilepaskan, sehingga spekulum dalam
posisi tertutup, putar spekulum 90o sehingga daun spekulum dalam posisi tegak, dan
keluarkan spekulum perlahan-lahan.2

Pada pasien perempuan berstatus belum menikah tidak dilakukan pemeriksaan dengan
spekulum, karena akan merusak selaput daranya sehingga bahan pemeriksaan hanya
diambil dengan sengkelit steril dari vagina dan uretra. Untuk pasien perempuan yang
beum menikah namun sudah aktif berhubungan seksual, diperlukan informed consent
sebelum melakukan pemeriksaan dengan spekulum. Namun bila pasien menolak
pemeriksaan dengan spekulum, pasien ditangani menggunakan tanpa spekulum.2

7
Gambar 3. Langkah-langkah pemasangan spekulum

Pasien dengan gejala ulkus genitalis (laki-laki dan perempuan)

1. Untuk semua pasien dengan gejala ulkus genital, sebaiknya dilakukan pemeriksaan
serologi untuk sifilis dari bahan darah vena (RPR=rapid plasma reagin, syphilis rapid
test).
2. Untuk pemeriksaan Treponema pallidum pada ulkus yang dicurigai karena sifilis :
a. Ulkus dibersihkan terlebih dahulu dengan kain kasa yang telah dibasahi larutan
salin fisiologis (NaCl 0,9%).
b. Ulkus ditekan di antara ibu jari dan telunjuk sampai keluar cairan serum
c. Serum dioleskan ke atas kaca obyek untuk pemeriksaan Burry atau mikroskop
lapangan gelap bila ada.2

8
Pemeriksaan Lain :

- Pemeriksaan bimanual

1. Gunakan sarung tangan dan dapat digunakan pelumas


2. Masukkan jari tengah dan telunjuk tangan kanan ke dalam vagina, ibu jari
harus dalam posisi abduksi, sedangkan jari manis dan kelingking ditekuk ke
arah telapak tangan
3. Untuk palpasi uterus; letakkan tangan kiri di antara umbilikus dan tulang
simfisis pubis, tekan ke arah tangan yang berada di dalam pelvik
4. Dengan telapak jari tangan, raba funduk unteri sambil mendorong serviks ke
anterior dengan jari-jari yang berada di pelvik. Perhatikan ukuran, posisi,
konsistensi, mobilitas uterus, dan kemungkinan rasa nyeri saat
menggoyangkan serviks
5. Dengan perlahan, geser jari-jari yang berada di vagina menuju forniks lateral
sambil tangan yang berada di atas perut menekan ke arah inferior.

Gambar 4. Pemeriksaan Bimanual

- Pemeriksaan anoskopi

Indikasi : Bila terdapat keluhan atau gejala pada anus dan rektum, pasien
dianjurkan untuk diperiksa dengan anoskopi bila tersedia alat tersebut.
Pemeriksaan ini sekaligus dapat melihat keadaan mukosa rektum atau
pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium bila tersedia fasilitas.2
Kontra indikasi : Anus imperforata merupakan kontra indikasi absolut untuk
tindakan anoskopi, namun bila pasien mengeluh mengenai nyeri hebat pada
rektum, may preclude awake anoscopic examination in anxious patients in
pain. Posisi pasien pasien berbaring dalam posisi Sim atau miring dengan lutut
ditekuk serta pinggul ditekuk 45%. Posisi di sebelah kiri pemeriksa.2

9
Posisi pasien pasien berbaring dalam posisi sim atau miring dengan lutut
ditekuk serta pinggul ditekuk 45%. Posisi di sebelah kiri pemeriksa.

Gambar 5. Posisi lateral decubitus atau posisi Sim

C. CARA MENENTUKAN DIAGNOSIS PENYAKIT KELAMIN

Infeksi Menular Seksual mempunyai beberapa ciri, yaitu :

1. Penularan infeksi tidak selalu harus melalui hubungan seksual


2. Infeksi dapat terjadi pada orang yang belum pernah melakukan hubungan seksual atau
orang yang tidak berganti-ganti pasangan
3. Sebagian penderita adalah akibat keadaan di luar kemampuan mereka, dalam arti
mereka sudah berusaha untuk tidak mendapat penyakit, tetapi kenyataan masih juga
terjangkit.1

Tabel 2. Penyebab dari IMS dapat dikelompokkan sebagai berikut :1,8


No Penyebab Penyakit
1. BAKTERI
Neisseri gonorrhoeae Uretritis, epididimis, servisitis, proktitis,
faringitis, konjuntivitis, Batholinitis
Chlamydia trachomatis Uretritis, epididimitis, servisitis, proktitis,
Mycoplasma hominis Salpingitis, limfogranuloma venerum
Ureaplasma urealyticum (hanya C.Trachomatis)
Treponema pallidum Sifilis
Gardberella vaginalis Vaginitis
Donovania granulomatis Granuloma inguinale
2. VIRUS
Herpes simplex virus Herpes genitalis
Herpes B virus Hepatitis fulminan akut dan kronik
Human papilloma virus Kandiloma akuminata, papiloma laring

10
pada bayi
Molloscum contagiosum virus Moloskum kontagiosum
Human immunodeficiency virus A.I.D.S
3. PROTOZOA
Trichomonas vaginalis Vaginitis, uretritis
4. FUNGUS
Candida albicans Vulvovaginitis, balanitis, balanopostitis
5. EKTOPARASIT
Phthirus pubis Pedikulosis pubis
Sarcoples scabei var.hominis Skabies

D. DUH TUBUH
Duh tubuh genital adalah cairan yang keluar dari genital bukan urin bukan darah.
Pada pria : duh tubuh uretra. Pada wanita : duh tubuh serviks, duh tubuh vagina dan duh
tubuh uretra.3

Duh tubuh genital pria penyebab Duh tubuh genital wanita - penyebab

1. Gonore

Definisi

Gonore dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh
Neisseria gonorhoeae.4

11
Etiologi

Penyebab gonore adalah gonokok yang ditemukan oleh NEISSER pada tahun
1879 baru diumumkan pada tahun 1882. Kuman tersebut termasuk dalam grup
Neisseria dan dikenal ada 4 spesies, yaitu N.gonorrhoeae dan N.meningitidis yang
bersifat patogen serta N.catarrhalis dan N.pharyngis ini sukar dibedakan kecuali
dengan tes fermentasi.4
Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8
u dan panjang 1,6 u, bersifat tahan asam. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan
Gram bersifat Gram-negatif, terlihat di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di
udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 390C, dan
tidak tahan cat desinfektan.4
Daerah yang mudah terinfeksi adalah daerah dengan mukosa epitel kuboid
atau lapis gepeng yang belum berkembang (immatur), yakni pada vagina wanita
sebelum pubertas.4

Gejala klinis

Masa tunas gonore sangat singkat. Pada pria umumnya sekitar2-5 hari. Pada
perempuan waktu masa tunas sulit untuk ditentukan karena pada umumnya
asimptomatis.3,4

1) Uretritis
Yang paling sering dijumpai adalah uretritis anterior akut dan dapat menjalar
ke proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal, asenden, dan
diseminata. Keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas di bagian distal uretra di
sekitar orifisium uretra eksternum, kemudian disusun disuria, polikisuria, keluar
duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah, dan disertai nyeri
pada waktu ereksi.3,4
Pada pemeriksaan tampak OUE eritematosa, edematosa, dan ektropion.
Tampak pula duh tubuh yang mukopurulen, dan pada beberapa kasus dapat terjadi
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.3,4

12
2) Servisitis

Dapat asimptomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung


bawah. Pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan sekret
mukopurulen. Duh tubuh akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servisitis akut
atau disertai vaginitis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.3,4

3) Bartholinitis
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan.
Kelenjar bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan dan
penderita sukar duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan
dapat pecah melalui mukosa atau kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren
atau menajdi kista.3,4

Diagnosis

Diagnosa ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis
Pada anamnesis ditemukan gejala subjektif berupa : Gatal, panas pada distal uretra,
disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen yang kadang disertai darah,
nyeri pada waktu ereksi.

2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan Gejala objektif :Orificium uretra eksternum
eritematosa, edematosa, dan ektropion.Tampak pula duh tubuh yang seropurulen
atau mukopurulen dan dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening inguinal
unilateral atau bilateral.

13
Gambar 6. Penyakit Gonore8

3. Pemeriksaan penunjang3,4
a. Pewarnaan Gram ( Sediaan langsung )
Gram-negatif diplokokus intrasellular terhadap PMN pada
pemeriksaan eksudat. Pada sediaan langsung dengan pengecatan gram
akan ditemukan gonokokus negatif gram, intraseluler dan ekstra seluler,
berbentuk biji kopi. Selain itu dapat ditemukan juga lekosit PMN
5/lpb. Bahan duh tubuh pria diambil dari daerah fosa navikularis,
sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar bartholin,
serviks, dan rectum.
Pemeriksaan gram dari duh uretra pada pria memiliki sensitivitas
tinggi (90-95%) dan spesifisitas 95-99%. Sedangkan dari endoserviks,
sensitivitasnya hanya 45-65%, dengan spesifisitas 90-99%.

b. Kultur
Isolasi pada media- selektif gonokokkus, contohnya agar darah
coklat, media Martin Lewis, media Thayer Martin. Test kerentanan
mikrobial penting karena adanya strain yang resistensi.

Media Transport
a) Media Stuart: hanya untuk transport saja, sehingga perlu ditanam
kembali pada media pertumbuhan.

14
b) Media Transgrow: selektif dan nutritive untuk N. gonorrhoeae dan
N. meningitidis, dalam perjalanannya dapat bertahan hingga 96 jam
dan merupakan gabungan dari media transport dan media
pertumbuhan. Media ini merupakan modifikasi media Thayer Martin
dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus.

Media Pertumbuhan
a) Media Thayer-martin: selektif untuk mengisolasi gonokok.
Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman
positif-gram, kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri
negatif-gram, dan nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.
b) Modifikasi Thayer-martin: isinya ditambah dengan trimetoprim
untuk menekan pertumbuhan kuman Proteus spp.
c) Agar coklat McLeod: berisi agar coklat, agar serum, dan agar
hidrokel. Dapat ditumbuhi kuman selain gonokokus.

c. Tes Definitif
a) Tes Oksidasi
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilamin
hidroklorida 1% ditambahkan pada koloni gonokok tersangka.
Semua Neisseria memberikan reaksi positif dengan perubahan
warna koloni yang semula bening berubah menjadi merah muda
sampai merah lembayung.
b) Tes Fermentasi
Tes Oksidasi Positif dilanjutkan dengan tes fermentasi memakai
glukosa, maltosa, dan sukrosa. Kuman gonokok hanya meragikan
glukosa.

d. Tes Beta laktamase


Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang
mengandung cheomogenic cephalosporin. Apabila kuman mengandung
enzim beta-laktamase, akan menyebabkan perubahan warna dari kuning
menjadi merah.

15
e. Tes Thomson
Tes Thomson ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi
sudah berlangsung.Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena
pengobatan pada waktu itu ialah pengobatan setempat.

Tabel 3. Hasil pembacaan :


Gelas I Gelas II Arti

Jernih Jernih Tidak ada infeksi

Keruh Jernih Infeksi uretritis


anterior

Keruh Keruh Panuretritis

Jernih Keruh Tidak mungkin

2. Ulkus Mole

Definisi

Ulkus mole adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang akut, setempat,disebabkan
oleh Streptobacillus ducrey (Haemophilusducreyi) dengan gejala klinis yang khas berupa
ulkus nekrotik yang nyeri pada tempat inokulasi, dan sering disertai pernanahan kelenjar
getah bening regional.5

Etiologi

Basil H.ducreyi berbentuk batang pendek, ramping dengan ujung membulat, tidak
bergerak dan tidak membentuk spora, Gram-negatif, anaerob fakultatif yang
membutuhkan hemin (faktor X) untuk pertumbuhan, mereduksi nitrat menjadi nitrit, dan
mempunyai DNA berisi guanosine plus-cytosine fraksi 0,38 mole.5

16
Gejala klinis

Masa inkubasi berkisar antara 3 7 hari, jarang samapi 14 hari, tanpa gejala
prodormal. Lesi kebanyakan multipel, dangkal, jarang soliter, biasanya pada daerah
genital, jarang pada daerah ekstragenital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul,
kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus.

Ulkus kecil, lunak pada perabaan, tidak terdapat indurasi, berbentuk cawan, pinggir
tidak rata, bagian tepi sering bergaung dan eritematosa dan mengalami ulserasi. Ulkus
sering tertutup jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa jaringan granulasi yang mudah
berdarah jika lapisan tersebut diangkat Dasar ulkus ditutupi oleh eksudat abu-abu kuning
berserat yang pirulen dan limpodenopati, dan pada perabaan terasa nyeri, biasanya lebih
nyeri pada laki-laki daripada perempuan.

Tempat predileksi pada laki-laki ialah permukaan mukosa preputium, sulkus


koronarius, frenulum penis, dan batang penis. Dapat juga timbul lesi di dalam uretra,
scrotum, perineum atau anus. Pada wanita ialah labia minora, klitoris, fourchette,
vestivuli, anus, dan serviks.

Gambar 7. Ulkus Mole8

Diagnosis

Berdasarkan gambaran klinis dapat disingkirkan penyakit kelamin yang lain. Harus
dipikirkan juga kemungkinan infeksi campuran. Pemeriksaan serelogik untuk
menyingkirkan sifilis juga harus dikerjakan. Sebagai penyokong diagnosis adalah:
1. Pemeriksaan sediaan hapus
2. Biakan kuman

17
3. Sifilis
Definisi

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum; sangat kronik dan
bersifat sistemik. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat
menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke
janin.6

Gambar 8. Sifilis8

Etiologi

Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman ialah
Treponema pallidum, yang termasuk ordo Spirochaetales, familia Spirochaeraceae dan
genus Treponema.6

Bentuknya sebagai spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri
atas 8-24 lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan
pembuka botol. Membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi
setiap 30 jam.6

Klasifikasi

Sifilis dibagi menjadi sifilis kongenital dan sifilis akuisita (didapat). Sifilis
kongenital dibagi menjadi : dini (sebelum 2 tahun), lanjut (sesudah 2 tahun), dan
stigmata. Sifilis akuisita dapat dibagi menurut dua cara, secara klinis dan

18
epidemiologik. Menurut cara pertama sifilis dibagi menjadi 3 stadium: stadium I (S I),
stadium II (S II), stadium III (S III). Secara epidemiologik menurut WHO dibagi
menjadi :

1. Stadium dini menular (dalam satu tahun sejak infeksi), terdiri atas S I, S II,
stadium rekuren, dan stadium latn dini.
2. Stadium lanjut tak menular (setelah satu tahun sejak infeksi), terdiri atas
stadium laten lanjut dan S III.6

Bentuk lain ialah sifilis kardiovaskuler dan neurosifilis.6


STADIUM DINI MENULAR 1 tahun STADIUM LANJUT TIDAK
MENULAR

Stadium rekuren
S.t. SI S S III
II

2-4 minggu 6-8 minggu

Sifilis laten dini 3-10 tahun


(menular) Sifilis laten lanjut
(tidak menular)

Keterangan :

S.t. = sanggama tersangka

SI = sifilis stadium I

S II = sifilis stadium II

S III = sifilis stadium III

19
Pemeriksaan untuk Diagnosa

1. Pemeriksaan Treponema pallidum

Pemeriksaan - mikroskop lapangan gelap melihat pergerakkan Treponema


Pewarnaan Burri (tinta hitam) tidak adanya pergerakan Treponema, - T.
pallidum telah mati kuman berwarna jernih dikelilingi oleh lapangan yang
berwarna hitam.

2. Serologi Tes sifilis (STS)


STS penting untuk diagnosis dan pengamatan hasil pengobatan. Prinsip
pemeriksaan STS - mendeteksi bermacam antibodi yang berlainan akibat infeksi
T.pallidum
Klasifikasi STS
Non Treponema
Tes Treponema
Ketepatan hasil STS dinilai berdasarkan :
Sensitivitas : % individu yang terinfeksi yang memberi hasil positif
Spesifivitas : % individu yang tidak infeksi yang memberikan hasil
negatif.

4. Kondiloma Akuminatum

Definisi

Kondiloma akuminatum (banyak disebut kondiluma akuminata), atau kutil kelamin


(venereal warts) ialah lesi berbentuk papilomatosis, dengan permukaan verukosa,
disebabkan oleh kuman human papillomavirus (HPV) tipe tertentu (terutama tipe 6 dan 11),
terdapat didaerah kelamin dan atau anus.7

Etiologi

Penyebab kondiluma akuminata adalah human papillomavirus (HPV) yaitu virus DNA
yang tergolong dalam keluarga papovavirus. Beberapa tipe HPV tertentu berpotensi
onkogenik tinggi, yaitu tipe 16 dan 18, yang paling sering dijumpai pada kanker serviks.

20
Tipe 6 dan 11 lebih sering dijumpai pada kondiloma akuminata dan neoplasia intraepitelial
serviks derajat ringan.7

Gejala Klinis

Penyakit ini terutama di daerah lipatan yang lembab, misalnya di daerah genitalia
eksterna. Pada laki-laki tempat predileksinya di perineum dan sekitar anus, sulkus
koronarius, glans penis, dan pangkal penis. Pada perempuan di daerah vulva dan sekitarnya,
introitus vagina, kadang-kadang portio uteri.7

Kondiluma akuminata sering kali tidak menimbulkan keluhan, namun dapat disertai rasa
gatal. Bila terdapat infeksi sekunder, dapat menimbulkan rasa nyeri, bau kurang enak, dan
mudah berdarah.7

Bentuk klinis yang paling sering ditemukan lesi seperti kembang kol, berwarna seperti
daging atau sama dengan mukosa. Ukuran lesi berkisar dari beberapa milimeter sampai
beberapa sentimeter.7

Diagnosis

Kondiloma akuminata terutama didiagnosis secara klinis karena bentuknya yang khas.
Pada keadaan yang meragukan dapat dilakukan tes asam asetat. Lesi dan kulit atau mukosa
sekitarnya dibungkus dengan kain kasa yang telah dibasahi dengan larutan asam asetat 5%
selam 3-5 menit. Setelah kain kasa dibuka, seluruh area yang dibungkus tadi, diperiksa oleh
kaca pembesar (pembesaran 4-8 kali). Hasil tes yang positif disebut sebagai positif
acetowhite, terjadi warna putih akibat ekspresi sitokreatin pada sel suprabasal yang
terinfeksi HPV.7

Gambar 9. Kondiloma Akuminata8

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Daili, SF dan Zubier F. Tinjauan Infeksi Menular Seksual. Dalam: Menaldi, SLSW.
Bramono, K. Indriatmi, W. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketujuh. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI; 2016. Hal. 436-7.
2. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual
2011. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan; 2011. Hal. 11-20.
3. Indriatmi, Wresti. Duh Tubuh Genital. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin. FKUI RSCM. Hal. 2-20.
4. Daili, SF. Nilasari, H. Gonore. Dalam: Menaldi, SLSW. Bramono, K. Indriatmi, W.
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016.
Hal. 443-9.
5. Indriatrmi, Wresti. Ulkus Mole. Dalam: Menaldi, SLSW. Bramono, K. Indriatmi, W.
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016.
Hal. 475-7.
6. Djuanda, A. Sifilis. Dalam: Menaldi, SLSW. Bramono, K. Indriatmi, W. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketujuh. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2016. Hal.
455-60.
7. Indriatmi, W, Handoko, Ronny P. Kondiloma Akuminata. Dalam: Menaldi, SLSW.
Bramono, K. Indriatmi, W. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Ketujuh. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI; 2016. Hal. 481-3.
8. Wolff, K. Johnson, RA. Fitzpatricks Color Atlas & Synopsisof Clinical Dermatology
Fifth Edition. United States: The McGaw-Hill Companies; 2007.

22