Anda di halaman 1dari 70

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

KLIEN PNEUMONIA
Posted on December 9, 2012 by rikayuhelmi116
Standard

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia_Nya kami dapat
menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Medikal Bedah 1 ( KMB 1 ) ini.

Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang membantu
memberikan semangat dan dorongan demi terwujudnya karya ini, yaitu makalah
Keperawatan Medical Bedah 1 (KMB 1) ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yaitu Ns. Febbryanti, S.Kep
yang telah membantu kami, sehingga kami merasa lebih ringan dan lebih mudah menulis
makalah ini. Atas bimbingan yang telah berikan, kami juga mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang juga membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari bahwa teknik penyusunan dan materi yang kami sajikan masih kurang
sempurna.Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dengan tujuan
untuk menyempurnakan makalah ini.

Dan kami berharap, semoga makalah ini dapat di manfaatkan sebaik mungkin, baik itu bagi
diri sendiri maupun yang membaca makalah ini.

Padang, 25 November
2012

Penulis
BAB I
LATAR BELAKANG

1. I. LATAR BELAKANG

Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap tahunnya menyerang sekitar
1% dari seluruh penduduk Amerika. Meskipun sudah ada kemajuan dalam bidang antibiotic,
pneumonia tetap merupakan penyebab keatian keenam di Amerika Serikat.

Pneumonia sering terjadi pada anak usia 2 bulan 5 tahun, pada usia dibawah 2 bulan
pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali/menit juga disertai
penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah kedalam.

Pada usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali/menit
dan pada usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40
kali/menit.

Pneumonia berat ditandai dengan adanya gejala seperti anak tidak bisa minum atau menetek,
selalu memuntahkan semuanya, kejang dan terdapat tarikan dinding dada kedalam dan suara
nafas bunyi krekels (suara nafas tambahan pada paru) saat inspirasi.

Kasus terbanyak terjadi pada anak dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak pada bayi yang
berusia kurang dari 2 bulan. Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat di
puskesmas atau balai pengobatan, maka anak perlu segera dirujuk setelah diberi dosis
pertama antibiotik yang sesuai.

Munculnya orhanisme nosokomial, yang resisten terhadap antibiotic, ditemukannya


organism- organisme baru (seperti Legionella), bertambahnya jumlah pejamu yang lemah
daya tahan tubuhnya dan adanya penyakit seperti AIDS semakin memperluas spectrum dan
derajat kemungkinan penyebab-penyebab pneumonia, dan ini juga menjelaskan mengapa
pneumonia masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok.

Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mererka masih
belum berkembang dengan baik. Pneumonia pada orang tua dan orang yang lemah akibat
penyakit kronik tertentu.

Pasien peminum alcohol, pasca bedah dan penderita penyakit pernapasan kronik atau infeksi
virus juga mudah terserang penyakit ini. Hamper 60% dari pasien-pasien yang kritis di ICU
dapat menderita pneumonia, dan setengah dari pasien-pasien tersebut

1. II. TUJUAN
2. Tujuan Umum
Mahasiswa mendapat gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan
keperawatan secara komprehensif terhadap klien pneumonia

1. Tujuan Khusus

Setelah melakukan pembelajaran tentang asuhan keperawatan dengan pneumonia. maka

mahasiswa/i diharapkan mampu :

1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan pneumonia


2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan pneumonia
3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan pneumonia
4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan pneumonia
5. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan pneumonia

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

1. I. DEFENISI

Pneumonia adalah inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian alveoli
dengan cairan. Penyebabnya karena agen infeksi, irirtan kimia dan terapi radiasi. bakterinya
bernama pneumococcal pneumonia.( Doenges, Marilynn E., 1999)

Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi
akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli.(Axton & Fugate, 1993).

Peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi, disebut pneumonia.
(Sylvia)

Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairan di
dalam alveoli. Hal ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah adanya kondisi
yang mengganggu tahanan saluran. Trakhabrakialis adalah beberapa keadaan yang
mengganggu mekanisme pertahanan sehingga timbul infeksi paru misalnya, kesadaran
menurun, umur tua, trakheastomi, pipa endotrakheal, dan lain-lain. Dengan demikian flora
endogen yangmenjadi patogen ketika memasuki saluran pernapasan.( Ngasriyal,Perawatan
Anak Sakit, 1997)

Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada masa anak-anak
dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul sebagai penyakit primer dan dapat juga
akibat penyakit komplikasi. (A. Aziz Alimul : 2006).

Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah. Penyakit ini adalah infeksi akut
jaringan paru oleh mikroorganisme (Elizabeth J. Corwin)
Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli)
yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi inflame dan terisi oleh
cairan. (wikipedia.com)

1. II. ETIOLOGI

Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:

v Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah staphylococcus aureus,


streptococus, aeruginosa, legionella, hemophillus, influenza, eneterobacter.

Bakteri-bakteri tersebut berada pada kerongkongan manusia sehat, setelah system pertahanan

v menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri tersebut segera memperbanyak diri
dan menyebabkan kerusakan.

v Virus penyebab pneumonia diantaranya yaitu virus influenza, adenovirus,chicken-pox


(cacar air). Meskipun virus-virus ini menyerang saluran pernafasan bagian atas, tetapi
gangguan ini dapat memicu pneumonia, terutama pada anak-anak.

v Organism mirip bakteri yaituMicoplasma pneumonia. Pneumonia jenis ini berbeda dengan
pneumonia pada umumnya. Karena itu pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang
belum ditemukan ini sering disebut pneumonia yang tidak tipikal. Mikoplasma ini menyerang
segala jenis usia.

v Jamur penyebab pneumonia yaitu candida albicans

III. MANIFESTASI KLINIS

Orang dengan pneumonia sering kali disertai batuk berdahak, sputum kehijauan atau kuning,
demam tinggi yang disertai dengan menggigil. Disertai nafas yang pendek, nyeri dada seperti
pada pleuritis ,nyeri tajam atau seperti ditusuk. Salah satu nyeri atau kesulitan selama
bernafas dalam atau batuk.

Orang dengan pneumonia, batuk dapat disertai dengan adanya darah, sakit kepala atau
mengeluarkan banyak keringat dan kulit lembab. Gejala lain berupa hilang nafsu makan,
kelelahan,kulit menjadi pucat, mual, muntah, nyeri sendi atau otot. Tidak jarang bentuk
penyebab pneumonia mempunyai variasi gejala yang lain.

Misalnya pneumonia yang disebabkan oleh Legionella dapat menyebabkan nyeri perut dan
diare, pneumonia karena tuberkulosis atau Pneumocystis hanya menyebabkan penurunan
berat badan dan berkeringat pada malam hari. Pada orang tua manifestasi dari pneumonia
mungkin tidak khas. Bayi dengan pneumonia lebih banyak gejala, tetapi pada banyak kasus,
mereka hanya tidur atau kehilangan nafsu makan

1. IV. ANATOMI FISIOLOGI


Sistem organ yang terkait dengan penyakit ini adalah sistem pernafasan. Sistem pernafasan
terdiri dari :

1. Hidung Rongga hidung dilapisi oleh epitelium gergaris. Terdapat sejumlahkelenjar


sebaseus yang ditutupi oleh bulu kasar. Partikel-partikel debuyang kasar dapat
disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalamlubang hidung, sedangkan partikel
yang halus akan terjerat dalam lapisanmukus yang disekresi oleh sel goblet dan
kelenjar serosa.

Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan kesuperior
di dalam sistem pernafasan di bagian bawah menuju ke faring.Dari sini lapisan mukus akan
tertekan atau dibatukkan keluar. Air untuk kelembaban diberikan oleh lapisan mukus,
sedangkan panas yang disuplaike udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang kaya
akan pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian rupasehingga bila
udara mencapai faring hampir bekas debu, bersuhumendekati suhu tubuh, dan
kelembabannya mencapai 100%.

1. Faring Terdapat di bawah dasar tengkorak di belakang rongga hidung danrongga


mulut, dan di depan ruas tulang leher

Merupakan pipa yang menghubungkan rongga mulut denganesofagus. Faring terbagi atas 3
bagian : nasofaring di belakang hidung,orofaring di belakang mulut, dan faring laringeal di
belakang laring.Rongga ini dilapisi oleh selaput lendir yang bersilia. Di bawa selaputlendir
terdapat jaringan kulit dan beberapa folikel getah bening.Kumpulan folikel getah bening ini
disebut adenoid. Adenoid akanmembesar bila terjadi infeksi pada faring

1. Laring Terletak di depan bagian terendah faring. Laring merupakanrangkaian cincin


tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan di sanaterdapat pita suara. Di antara
pita suara terdapat ruang berbentuk segitigayang bermuara ke dalam trakea dan
dinamakan glotis. Pada waktumenelan, gerakan laring ke atas, penutupan glotis, dan
fungsi seperti pintu pada aditus laring dari epiglotis yang berbentuk daun,
berperananuntuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke dalam esofagus. Namun
jika benda asing masih mampu untuk melampaui glotis, makalaring yang mempunyai
fungsi batuk akan membantu menghalau bendadan sekret keluar dari saluran
pernafasan.
2. Trakea dan cabang-cabangnya Panjangnya kurang lebih 9 centimeter. Trakea berawal
dari laringsampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima, trakea
bercabangmenjadi dua bronkus. Trakea tersusun atas enam belas sampai dua
puluhlingkaran tak lengkap berupa cincin tulang rawan yang diikat bersamaoleh
jaringan fibrosa. Letaknya tepat di depan esofagus. Trakea dilapisioleh selaput lendir
yang terdiri atas epitelium bersilia. Tempat percabangan bronkus disebut karina.
Karina memiliki banyak saraf dandapat menyebabkan spasme dan batuk yang kuat
jika dirangsang. Struktur bronkus sama dengan trakea. Bronkus-bronkus tersebut
tidak simetris.

Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar dan merupakankelanjutan dari trakea yang
arahnya hampir vertikal, sebaliknya bronkuskiri lebih panjang dan lebih sempit dan
merupakan kelanjutan dari trakeadengan sudut yang lebih tajam. Cabang utama bronkus
kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis.
Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil
sampaiakhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yangtidak
mengandung alveoli. Bronkiolus terminalis memiliki garis tengahkurang lebih 1 mm.
Bronkiolus dikelilingi oleh otot polos bukan tulangrawan sehingga bentuknya dapat berubah.
Setelah bronkiolus terminalisterdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru, yaitu
tempat pertukaran gas.

Asinus terdiri dari :

1) bronkiolus respiratorius

2) duktusalveolaris

3) sakus alveolaris terminalis, merupakan struktur akhir paru- paru. terdapat sekitar 23 kali
percabangan mulai dari trakea sampai sakusalveolaris terminalis. Alveoli terdiri dari satu
lapis tunggal sel epitelium pipih, dan di sinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan
udara.Dalam setiap paru-paru terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas permukaan total
seluas sebuah lapangan tenis.

5. Paru-paruMerupakan alat pernafasan utama. Paru-paru merupakan organ


yangelastis,berbentuk kerucut, dan letaknya di dalam rongga dada. Karena paru-paru saling
terpisah oleh mediastinum sentral yang di dalamnyaterdapat jantung dan beberapa pembuluh
darah besar. Setiap paru-parumemiliki apeks (puncak paru-paru) dan basis. Paru-paru ada
dua. Paru- paru kanan lebih besar dari pada paru-paru kiri. Paru-paru kanan dibagimenjadi
tiga lobus oleh fisura interlobaris, paru-paru kiri dibagi menjadidua lobus. Setiap lobus
tersusun atas lobula.Paru-paru dilapisi suatu lapisan tipis membran serosa rangkap duayang
mengandung kolagen dan jaringan elastis yang disebut pleura

1. V. PATOFISIOLOGI

Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru oleh mikroorganisme

dan respon sistem imun terhadap infeksi. Meskipun lebih dari seratus jenis mikroorganisme
yang dapat menyebabkan pneumonia, hanya sedikit dari mereka yang bertanggung jawab
pada sebagian besar kasus. Penyebab paling sering pneumonia adalah virus dan bakteri.
Penyebab yang jarang menyebabkan infeksi pneumonia ialah fungi dan parasit.

1) Virus

Virus menyerang dan merusak sel untuk berkembang biak. Biasanya virus masuk kedalam
paru-paru bersamaan droplet udara yang terhirup melalui mulut dan hidung. setelah masuk
virus menyerang jalan nafas dan alveoli. Invasi ini sering menunjukan kematian sel, sebagian
virus langsung mematikan sel atau melalui suatu tipe penghancur sel yang disebut apoptosis.

Ketika sistem imun merespon terhadap infeksi virus,dapat terjadi kerusakan paru.Sel darah
putih,sebagian besar limfosit, akan mengaktivasi sejenis sitokin yang membuat cairan masuk
ke dalam alveoli.

Kumpulan dari sel yang rusak dan cairan dalam alveoli mempengaruhi pengangkutan oksigen
ke dalam aliran darah. Sebagai tambahan dari proses kerusakan paru,banyak virus merusak
organ lain dan kemudian menyebabkan fungsi organ lain terganggu.Virus juga dapat
membuat tubuh rentan terhadap infeksi bakteri, untuk alasan ini, pneumonia karena bakteri
sering merupakan komplikasi dari pneumonia yang disebabkan oleh virus.

Pneumonia virus biasanya disebabkan oleh virus seperti vitus influensa,virus syccytial
respiratory(RSV),adenovirus dan metapneumovirus.Virus herpes simpleks jarang
menyebabkan pneumonia kecuali pada bayi baru lahir. Orang dengan masalah pada sistem
imun juga berresiko terhadap pneumonia yang disebabkan oleh cytomegalovirus(CMV).

2) Bakteri

Bakteri secara khusus memasuki paru-paru ketika droplet yang berada di udara dihirup,tetapi
mereka juga dapat mencapai paru-paru melalui aliran darah ketika ada infeksi pada bagian
lain dari tubuh.

Banyak bakteri hidup pada bagian atas dari saluran pernapasan atas seperti hidung,mulut,dan
sinus dan dapat dengan mudah dihirup menuju alveoli.Setelah memasuki alveoli,bakteri
mungkin menginvasi ruangan diantara sel dan diantara alveoli melalui rongga
penghubung.Invasi ini memacu sistem imun untuk mengirim neutrophil yang adalah tipe dari
pertahanan sel darah putih,menuju paru.Neutrophil menelan dan membunuh organisme yang
berlawanan dan mereka juga melepaskan cytokin,menyebabkan aktivasi umum dari sistem
imun.

Hal ini menyebabkan demam,menggigil,dan mual umumnya pada pneumoni yang disebabkan
bakteri dan jamur. Neutrophil,bakteri,dan cairan dari sekeliling pembuluh darah mengisi
alveoli dan mengganggu transportasi oksigen. Bakteri sering berjalan dari paru yang
terinfeksi menuju aliran darah menyebabkan penyakit yang serius atau bahkan fatal seperti
septik syok dengan tekanan darah rendah dan kerusakan pada bagian-bagian tubuh seperti
otak,ginjal,dan jantung.

Bakteri juga dapat berjalan menuju area antara paru-paru dan dinding dada(cavitas pleura)
menyebabkan komplikasi yang dinamakan empyema. Penyebab paling umum dari pneumoni
yang disebabkan bakteri adalah Streptococcus pneumoniae,bakteri gram negatif dan bakteri
atipikal.Penggunaan istilah Gram positif dan Gram negatif merujuk pada warna
bakteri(ungu atau merah) ketika diwarnai menggunakan proses yang dinamakan pewarnaan
Gram.Istilah atipikal digunakan karena bakteri atipikal umumnya mempengaruhi orang
yang lebih sehat,menyebabkan pneumoni yang kurang hebat dan berespon pada antibiotik
yang berbeda dari bakteri yang lain.

Tipe dari bakteri gram positif yang menyebabkan pneumonia pada hidung atau mulut dari
banyak orang sehat. Streptococcus pneumoniae, sering disebutpneumococcus adalah
bakteri penyebab paling umum dari pneumoni pada segala usia kecuali pada neonatus.Gram
positif penting lain penyebab dari pneumonia adalah Staphylococcus aureus. Bakteri Gram
negatif penyebab pneumonia lebih jarang daripada bakteri gram negatif.Beberapa dari bakteri
gram negatif yang menyebabkan pneumoni termasuk bkan demam, menggigil, dan mual
umumnya pada pneumoni yang disebabkan bakteri dan jamur. Neutrophil, bakteri, dan cairan
dari sekeliling pembuluh darah mengisi alveoli dan mengganggu transportasi oksigen.
Bakteri sering berjalan dari paru yang terinfeksi menuju aliran darah menyebabkan penyakit
yang serius atau bahkan fatal seperti septik syok dengan tekanan darah rendah dan kerusakan
pada bagian-bagian tubuh seperti otak,ginjal,dan jantung.Bakteri juga dapat berjalan menuju
area antara paru-paru dan dinding dada(cavitas pleura) menyebabkan komplikasi yang
dinamakan empyema. Penyebab paling umum dari pneumoni yang disebabkan bakteri adalah
Streptococcus pneumoniae,bakteri gram negatif dan bakteri atipikal.

Penggunaan istilah Gram positif dan Gram negatif merujuk pada warna bakteri(ungu
atau merah) ketika diwarnai menggunakan proses yang dinamakan pewarnaan Gram.Istilah
atipikal digunakan karena bakteri atipikal umumnya mempengaruhi orang yang lebih
sehat,menyebabkan pneumoni yang kurang hebat dan berespon pada antibiotik yang berbeda
dari bakteri yang lain. Tipe dari bakteri gram positif yang menyebabkan pneumonia pada
hidung atau mulut dari banyak orang sehat. Streptococcus pneumoniae, sering
disebutpneumococcus adalah bakteri penyebab paling umum dari pneumoni pada segala
usia kecuali pada neonatus.Gram positif penting lain penyebab dari pneumonia adalah
Staphylococcus aureus.

Bakteri Gram negatif penyebab pneumonia lebih jarang daripada bakteri gram
negatif.Beberapa dari bakteri gram negatif yang menyebabkan pneumoni termasuk
Haemophilus influenzae,Klebsiella pneumoniae,Escherichia coli,Pseudomonas
aeruginosa,dan Moraxella catarrhalis.Bakteri ini sering hidup pada perut atau intestinal dan
mungkin memasuki paru-paru jika muntahan terhirup.Bakteri atipikal yang

menyebabkan pneumonia termasuk Chlamydophila pneumoniae,Mycoplasma


pneumoniae,dan Legionella pneumophila.

3) Jamur

Pneumonia yang disebabkan jamur tidak umum,tetapi hal ini mungkin terjadi pada individu
dengan masalah sistem imun yang disebabkan AIDS,obat-obatan imunosupresif atau masalah
kesehatan lain.patofisiologi dari pneumonia yang disebabkan oleh jamur mirip dengan
pneumonia yang disebabkan bakteri,Pneumonia yang disebabkan jamur paling sering
disebabkan oleh Histoplasma capsulatum,Cryptococcus neoformans,Pneumocystis jiroveci
dan Coccidioides immitis.

Histoplasmosis paling sering ditemukan pada lembah sungai Missisipi,dan Coccidiomycosis


paling sering ditemukan pada Amerika Serikat bagian barat daya.

4) Parasit

Beberapa varietas dari parasit dapat mempengaruhi paru-paru.Parasit ini secara khas
memasuki tubuh melalui kulit atau dengan ditelan.Setelah memasuki tubuh,mereka berjalan
menuju paru-paru,biasanya melalui darah.

Terdapat seperti pada pneumonia tipe lain ,kombinasi dari destruksi seluler dan respon imun
yang menyebabkan ganguan transportasi oksigen.Salah satu tipe dari sel darah putih,eosinofil
berespon dengan dahsyat terhadap infeksi parasit.Eosinofil pada paru-paru dapat
menyebabkan pneumonia eosinofilik yang menyebabkan komplikasi yang mendasari
pneumonia yang disebabkan parasit.Parasit paling umum yang dapat menyebabkan
pneumonia adalah Toxoplasma gondii,Strongioides stercoralis dan Ascariasis. a adalah
Toxoplasma gondii,Strongioides stercoralis dan Ascariasis.

1. VI. WOC
VIRUS BAKTERI NIKROPLASMA JAMUR

Masuk ke dalam saluran pernapasan

Paru paru

Bronkus alveoli reseptor peradangan

Mengganggu kerja mikrofak


hipotalamus

infeksi hipertermi

peradangan inflamasi keringat berlebih

edema resiko kekurangan


cairan dan elektrolit
dispnae difusi gangguan o2&co2 terganggu

produksi secret

kelelahan
batuk
transportasi 02 menurun

nadi lemah jalan napas/ gangguan


pertukaran
tidak efektif gas

(penekanan diafragma)

gangguan pola napas

tekanan
abdomen

anoreksi saraf pusat

nutrisi berkurang peningkatan metabolism resiko thdp ggn


nutrisi

1. VII. KLASIFIKASI

Secara Garis Besar Pneumonia Dapat Dibedakan Menjadi 3 Yaitu:

1. Aspirasi pneumonia

Terjadi apabila tersedak dan ada cairan /makanan masuk ke paru- paru.pada bayi baru lahir,
biasanya tersedak karena air ketuban atau asi.

1. Pneumonia karena infeksi virus, bakteri, atau jamur


Umumnya penyebab infeksi paru adalah virus dan bakteri sepertistreptococcus pneumonia
dan haemophylus influenzae. Gejala akanmuncul 1-2 hari setelah terinfeksi. Gejala yang
muncul mulai dari demam,batuk lalu sesak nafas.

1. Pneumonia akibat faktor lingkungan

Polusi udara menyebabkan sesak nafas terutama bagi yang alergi.bila tidak segera dilakukan
pengobatan maka akan mengakibatkan bronchitis dan selanjutnya menjadi pneumonia.

1. VIII. KOMPLIKASI
1. Gangguan pertukaran gas
2. Obstruksi jalan napas
3. Gagal pernapasan pleura effusion (bactery pneumonia)

1. IX. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


1. Sinar X : mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial);
dapat juga menyatakan abses).
2. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi
semua organisme yang ada.
3. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme
khusus.
4. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat
penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
5. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi.
7. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.

1. X. PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan yang intensive bila terdapat virus pneumonia
2. Bila kondisi berat harus di rawat
3. Berikan oksigen, fisioterapi dada dan cairan intravena
4. Antibiotic sesuai dengan program
5. Pemeriksaan sensitivitas untuk pemberian antibiotik

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

1. I. PENGKAJIAN
2. Biodata
1. Identitas Klien, meliputi :
1. Nama/Nama panggilan
2. Tempat tgl lahir/usia
3. Jenis kelamin
4. A g a m a
5. Pendidikan
6. Alamat
7. Tgl/jam masuk
8. Tgl pengkajian
9. Diagnosa medic
10. Rencana terapi

1. Identitas Orang tua


1. Ayah
2. Ibu

1. Keluhan utama

sesak naps

1. Riwayat kesehatan
1. Riwayat Penyakit sekarang, tanyakan :

Apakah masih ada batuk, berapa lama


Apakah masih ada panas badan
Apakah nyeri dada kalau batuk
Apakah ada riak kalau batuk

1. Riwayat kesehatan yang lalu, tanyakan :

Frekuensi ISPA
Riwauat Alergi
Kebiasaan merokok
Pengguaan obat-obatan
Imunisasi
Riwayat penyakit keturunan

1. Riwayat Keluarga, tannyakan:

Apakah ada keluarga yang menderita batuk


Apakah ada keluarga yang menderita alergi
Apakah ada keluarga yang menderita TBC, Cancer paru

1. Riwayat Lingkungan

Apakah rumah dekat dengan pabrik


Apakah banyak asap atau debu
Apakah ada keluarga yang merokok

1. Riwayat pekerjaan, tanyakan :

Apakah bekerja pada tempat yang banyak debu,asap


Apakah bekerja di pabrik
Apakah saat bekerja menggunakan alat pelindung.

1. Pengkajian Fisik
1. Ispeksi:

Amati bentuk thorax


Amati Frekuensi napas, irama, kedalamannya
Amati tipe pernapasan : Pursed lip breathing, pernapasan diapragma, penggunaan
otot Bantu pernapasan
Tanda tanda reteraksi intercostalis , retraksi suprastenal
Gerakan dada
Adakan tarikan didinding dada , cuping hidung, tachipnea
Apakah daa tanda tanda kesadaran meenurun

1. Palpasi

Gerakan pernapasan
Raba apakah dinding dada panas
Kaji vocal premitus
Penurunan ekspansi dada

1. Auskultasi

Adakah terdenganr stridor


Adakah terdengar wheezing
Evaluasi bunyi napas, prekuensi,kualitas, tipe dan suara tambahan

1. Perkusi

Suara Sonor/Resonans merupakan karakteristik jaringan paru normal


Hipersonor , adanya tahanan udara
Pekak/flatness, adanya cairan dalan rongga pleura
Redup/Dullnes, adanya jaringan padat
Tympani, terisi udara.

1. Faktor Psikososial/Perkembangan
1. Usia, tingkat perkembangan.
2. Toleransi/kemampuan memahami tindakan.
3. Koping
4. Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.
5. Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya

1. Pengetahuan Keluarga, Psikososial


1. Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia.
2. Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.
3. Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.
4. Koping keluarga
5. Tingkat kecemasan
1. Pemeriksaan Fisik
1. Aktivitas/istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia

Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

1. Sirkulasi

Gejala : riwayat adanya

Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat

1. Makanan/cairan

Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus


Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi)

1. Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)

Tanda : perusakan mental (bingung)

1. Nyeri/kenyamanan

Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgi
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)

1. Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda : sputum: merah muda, berkarat

perpusi: pekak datar area yang konsolidasi

premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi

Bunyi nafas menurun : Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku

1. Keamanan

Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar

1. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kroni

Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 8 hari

Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah


1. II. DIAGNOSA
2. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen
darah.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.
6. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
7. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
8. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan berlebihan, penurunan masukan oral.

III. INTERVENSI

A. Dx 1 : Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea


bronchial, peningkatan produksi sputum, ditandai dengan:

Perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan.


Bunyi nafas tak normal.
Dispnea, sianosis
Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.

Tujuan : Jalan nafas efektif

Kriteria hasil :

Batuk teratasi
Nafas normal
Bunyi nafas bersih
Tidak terjadi Sianosis

Intervensi:

Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada


Rasional : Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi
karena ketidaknyamanan.
Auskultasi area paru, catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas.
Rasional: Penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
Ajarkan teknik batuk efektif

Rasional : Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan
jalan nafas paten.
Penghisapan sesuai indikasi.

Rasional: Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang
tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran.

Berikan cairan sesuai kebetuhan.

Rasional: Cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik.


Rasional: Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret,
analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan
tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya
batuk/menekan pernafasan

B. Dx 2 : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen


darah, gangguan pengiriman oksigen, ditandai dengan:

Dispnea, sianosis
Takikardia
Gelisah/perubahan mental
Hipoksia

Tujuan : gangguan gas teratasi

Kriteria hasil :

Tidak nampak sianosis


Nafas normal
Tidak terjadi sesak
Tidak terjadi hipoksia
Klien tampak tenang

Intervensi

Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas

Rasional: Manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru
dan status kesehatan umum.

Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis perifer
(kuku) atau sianosis sentral.

Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap


demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga, membran mukosa dan kulit sekitar
mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.

Kaji status mental.


Rasional: gelisah mudah terangsang, bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia
atau penurunan oksigen serebral.

Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif.
Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal, meningkat pengeluaran secret
untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.
Kolaborasi
Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master, master venturi.
Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. O2 diberikan dengan metode
yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pernapasan.

C. Dx 3 : Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan


ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit
kronis, malnutrisi.

Tujuan: Infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil :

Waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat


Penularan penyakit ke orang lain tidak ada

Intervensi:

Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi


Rasional: selama awal periode ini, potensial untuk fatal dapat terjadi.
Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik
Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi.
Batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain
Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. Tingkatkan masukan
nutrisi adekuat.
Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah
Kolaborasi untuk pemberian antibiotic.
Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal
penicillin, eritromisin, tetrasiklin, amikalin, sepalosporin, amantadin.
Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.

D. Dx 4 :Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan


kebutuhan oksigen ditandai dengan:

Dispnea
Takikardia
Sianosis

Tujuan : Intoleransi aktivitas teratasi

Kriteria hasil :

Nafas normal
Sianosis tidak terjadi
Irama jantung normal

Intervensi

Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas

Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan.

Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.
Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi.
Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.

E. Dx 5 : Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai


dengan:

Nyeri dada
Sakit kepala
Gelisah

Tujuan : Nyeri dapat teratasi

Kriteria hasil :

1) Nyeri dada teratasi

2) Sakit kepala terkontrol

3) Tampak tenang

Intervensi:

Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk.


Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga
dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis.
Pantau tanda vital

Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alas an
lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat.

Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik


tenang/berbincangan.
Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat
menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik.
Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat
keefektifan upaya batuk.
Kolaborasi : Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi
Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan
mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum.

1. F. Dx 6 : Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam
dan proses inflamasi

Tujuan: Nutrisi tubuh dapat teratasi

Kriteria hasil :

Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan


Pasien mempertahankan meningkat BB

Intervensi :

Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri.


Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.

Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini

Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang)
makanan yang menarik oleh pasien.

Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat
untuk kembali.

Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.

Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi,


rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi.

1. G. Dx 7 : Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan


dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut,
penurunan masukan oral.

Tujuan : Kekurangan volume cairan tidak terjadi

Kriteria hasil :

Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat
misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.

Intervensi :
Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia.
Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan
kehilangan cairan untuk evaporasi.
Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah)
Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran
mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan.
Catat laporan mual/muntah

Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral

Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan
cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi.

Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan


penggantian.

Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual


Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi.

Kolaborasi : Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik.

Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan

Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan


penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan

D. EVALUASI

1. Bersihan jalan nafas efektif ditandai dengan :


1. Batuk teratasi
2. Nafas normal
3. Bunyi nafas bersih
4. Tidak terjadi sianosis
5. Tidak terjadi gangguan pertukaran gas ditandai dengan :
1. Tidak nampak sianosis
2. Nafas normal
3. Tidak terjadi sesak
4. Tidak terjadi hipoksia
5. Klien tampak tenang
6. Tidak ada resiko terhadap infeksi ditandai dengan :
1. Waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat
2. Penularan penyakit ke orang lain tidak ada
7. Toleran terhadap aktivitas sehari-hari ditandai dengan :
1. Nafas normal
2. Sianosis tidak terjadi
3. Irama jantung normal
8. Nyeri (akut) teratasi ditandai dengan :
1. Nyeri dada teratasi
2. Sakit kepala terkontrol
3. Tampak tenang
9. Nutrisi adekuat ditandai dengan :
1. Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan.
2. Pasien mempertahankan meningkat BB.
10. Tidak ada tanda kurang volume cairan ditandai dengan : pasien
menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter
individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit
baik, tanda vital stabil.
DAFTAR PUSTAKA

Gabs, G. 2010. Askep Anak Pneumonia. (http://gardengab.com/, diakses tanggal 24


November 2012).

KTW. 2010. Suplementasi Zinc Menurunkan Kejadian Pneumonia Pada Anak-anak.

Mansjoer, Arif., Suprohaita, Wardhani, W.A., dan Setiowulan, wiwiek Eds.. Kapita
Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Auscalapius.

Prasetya, Danzka. Askep Pneumonia. (http://wildanprasetya.blog.com/

Carpenito, Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan edisi 8 , EGC , Jakarta


Perawatan Medikal Bedah, Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran, Bandung

Luckmanns Sorensen (1996),

Baughman C Diane.2000,Keperawatan medical bedah, EGC, Jakrta

Doenges E Mailyn.1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaandan


pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. EGC, Jakarta

Nanda. (2007). Diagnose Nanda: Nic dan Noc.

Nursalam. (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Penyakit. Salemba

Medika. Jakarta.

Nursalam. (2005). Asuhan Keperawatan Pada Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan).

Salemba Medika. Jakarta.

Advertisements
A. PENDAHULUAN
Saat ini banyak sekali penyakit yang baru pada saluran pernafasan dan
penyebabnya bermacam-macam, ada di sebabkan oleh virus, bakteri, dan lain
sebagainya. Dengan penomena ini harus menjadi perhatian bagi kita semua. Salah satu
penyakit pada saluran pernafasan adalah pneumonia. Penyakit Pneumonia sering kali
diderita sebagian besar orang yang lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki
penyakit kronik sebagai akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh (Imun), akan tetapi
Pneumonia juga bisa menyerang kaula muda yang bertubuh sehat. Saat ini didunia
penyakit Pneumonia dilaporkan telah menjadi penyakit utama di kalangan kanak-kanak
dan merupakan satu penyakit serius yang meragut nyawa beribu-ribu warga tua setiap
tahun. (Jeremy, dkk, 2007, Hal 76-78)
Penanggulangan penyakit Pneumonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA
(Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Program ini mengupayakan
agar istilah Pnemonia lebih dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan
penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangan Pnemonia. Program
P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia:
Usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) Usia 2 bulan
sampai kurang dari 5 tahun (2 bulan - Pnemonia, Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia
). Klasifikasi Bukan-pnemonia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak
menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya
penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pnemonia ini
antara lain: batuk-pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsilitis dan
otitis. Pharyngitis, tonsilitis dan otitis, tidak termasuk penyakit yang tercakup dalam
program ini.
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya
tinggi, tidak saja dinegara berkembang, tapi juga di negara maju seperti AS, Kanada
dan negara-negara Eropah. Di AS misalnya, terdapat dua juta sampai tiga juta kasus
pneumonia per tahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang (S. A. Price, 2005,
Hal 804-814)
Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi
angka kematian. Gejala Pneumonia adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat,
dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen
memperlihatkan kepadatan pada bagian paru
Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya
merupakan reaksi tubuh untuk mematikan luman. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu,
penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang untuk oksigen.
Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya, disebabkan oleh bakteri, virus atau
mikoplasma ( bentuk peralihan antara bakteri dan virus ). Bakteri yang umum adalah
streptococcus Pneumoniae, Staphylococcus Aureus, Klebsiella Sp, Pseudomonas
sp,vIrus misalnya virus influensa(Jeremy, dkk, 2007, Hal 76-78)
Dari uraian di atas, maka kelompok tertarik untuk membahas tentang Asuhan
keperawatan pada klien dengan Pneumonia

1. Defenisi
Pneumonia adalah peradangan paru dimana asinus paru terisi cairan radang
dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang kedalam dinding alveoli dan rongga
interstisium. (secara anatomis dapat timbul pneumonia lobaris maupun lobularis /
bronchopneumonia.
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan yang
terbanyak didapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir di seluruh
dunia. Di Indonesia berdasarkan survei kesehatan rumah tangga tahun 1986 yang
dilakukan Departemen Kesehatan, pneumonia tergolong dalam penyakit infeksi akut
saluran nafas, merupakan penyakit yang banyak dijumpai.

2. Etioligi
Menurut Corwin (2001), Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah
bakteri positif-gram, streptococcus pneumonia yang menyebabkan pneumonia
steptrokokus. Bakteri staphylococcus aureus adalah streptokokus beta-hemolitikus
grup A yang juga sering menyebabkan pneumonia, demikian juga pseudomonas
aeroginosa. Pneumonia lain disebabkan oleh virus misalnya influenza. Pneumonia
mikoplasma, suatu pneumonia yang relative sering dijumpai yang disebabkan oleh
suatu organisme yang berdasarkan beberapa aspeknya berada diantara bakteri dan
virus.

3. Manifestasi Klinis
Menurut Corwin (2001), gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis
pneumonia, tetapi terutama mencolok pada pneumonia yang disebabakan oleh bakteri.
Gejala-gejala mencakup:
1) Demam dan menggigil akibat proses peradangan
2) Batuk yang sering produktif dan purulen
3) Sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae), merah
muda (untuk staphylococcus aureus), atau kehijauan dengan bau khas (untuk
pseudomonas aeruginosa)
4) Krekel (bunyi paru tambahan).
5) Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan edema.
6) Biasanya sering terjadi respons subyektif dispnu. Dispnu adalah peasaan
sesak atau kesulitan bernafas yang dapat disebabkan oleh penurunan
pertukaran gas-gas.
7) Mungkin timbul tanda-tanda sianosis
8) Ventilasi mungkin berkurang akibat penimbunan mucus, yang dapat
menyebabkan atelektasis absorpsi.
9) Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat cedera toksin langsung pada
kapiler atau akibat reaksi peradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.

4. Patofisiologi
Menurut Chirstman (1995) dalam Asih & Effendy (2004), Dari berbagai macam
penyebab pneumonia, seperti virus, bakteri, jamur, dan riketsia, pneumonitis
hypersensitive dapat menyebabkan penyakit primer. Pneumonia juga dapat terjadi
akibat aspirasi, yang paling jelas adalah pada klien
yang diintubasi, kolonisasi trachea dan terjadi mikroaspirasi sekresi saluran
pernafasan atas yang terinfeksi, namun tidak semua kolonisasi akan mengakibatkan
pneumonia.
Menurut Asih & Effendy (2004), mikroorganisme dapat mencapai paru
melalui beberapa jalur, yaitu:
1) Ketika individu terinfeksi batuk, bersin atau berbicara, mikroorganisme
dilepaskan kedalam udara dan terhirup oleh orang lain.
2) Mikroorganisme dapat juga terinspirasi dengan aerosol (gas nebulasi) dari
peralatan terapi pernafasan yang terkontaminasi.
3) Pada individu yang sakit atau hygiene giginya buruk, flora normal orofaring
dapat menjadi patogenik
4) Staphylococcus dan bakteri gram-negatif dapat menyebar melalui sirkulasi
dari infeksi sistemik, sepsis, atau jarum obat IV yang terkontaminasi.
Pada individu yang sehat, pathogen yang mencapai paru dikeluarkan atau
bertahan dalam pipi melalui mekanisme perubahan diri seperti reflex batuk, kliens
mukosiliaris, dan fagositosis oleh makrofag alveolar. Pada individu yang rentan,
pathogen yang masuk ke dalam tubuh memperbanyak diri, melepaskan toksin yang
bersifat merusak dan menstimulasi respon inflamasi dan respon imun, yang keduanya
mempunyai efek samping yang merusak.
Reaksi antigen-antibodi dan endotoksin yang dilepaskan oleh beberapa
mikroorganisme merusak membrane mukosa bronchial dan membrane alveolokapiler.
Inflamasi dan edema menyebabkan sel-sel acini dan bronkiales terminalisterisi oleh
debris infeksius dan eksudat, yang menyebabkan abnormalitas ventilasi-perfusi. Jika
pneumonia disebabkan oleh staphilococcuc atau bakteri gram-negatif dapat terjadi
juga nekrosis parenkim paru.
Pada pneumonia pneumokokus, organism S. pneumonia meransang respons
inflamasi, dan eksudat inflamsi menyebabkan edema alveolar, yang selanjutnya
mengarah pada perubahan-perubahan lain . sedangkan pada pneumonia viral
disebabkan oleh virus biasanya bersifat ringan dan self-limited tetapi dapat membuat
tahap untuk infeksin sekunder bakteri dengan memberikan suatu lingkungan ideal
untuk pertumbuhan bakteri dan dengan merusak sel-sel epitel bersilia, yang
normalnya mencegah masuknya pathogen ke jalan nafas bagian bawah.
.
5. Penyimpangan KDM

B. PEMERIKSAAN RONTGEN
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan kelainan sebelum hal ini dapat ditemukan
secara pemeriksaan fisik. Pada bronchopneumonia bercak bercak infiltrat
didapatkan pada satu atau beberapa lobus. Pada pneumonia lobaris terlihat
adanya konsosolidasi pada satu atau beberapa lobus. Pada pneumonia lobaris terlihat
adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus. Foto rongent dapat juga
menunjukkan adanya komplikasi pada satu atau beberapa lobus. Foto rongent dapat
juga menunjukkan adanya komplikasi seperti pleuritis, abses paru, perikarditis dll.

C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leucosit, biasanya
> 10.000/l kadang mencapai 30.000 jika disebabkan virus atau mikoplasma jumlah
leucosit dapat normal, atau menurun dan pada hitung jenis leucosit terdapat
pergeseran kekiri juga terjadi peningkatan LED. Kultur darah dapat positif pada 20
25 pada penderita yang tidak diobatai. Kadang didapatkan peningkatan ureum darah,
akan tetapi kteatinin masih dalah batas normal. Analisis gas darah menunjukan
hypoksemia dan hypercardia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.

D. KOMPLIKASI
Menurut Suyono (2003) komplikasi pneumonia antara lain Efusi pleura dan
emfisema. Terjadi pada sekitar 45% kasus, terutama pada infeksi bakterial akut
berupa efusi para pneumonik gram negatif sebesar 60%, staplilococus aureus 50%, S.
Pneumoniae 40-60%, kuman anaerob 35%. Sedang pada mycoplasma pneumoniae
sebesar 20%. Cairannya transudat dan sterill, Komplikasi sistemik, dapat terjadi
akibat invasi kuman atau bakteriemia berupa menungitis. Dapa juga terjadi dehidrasi
dan hiponatremia, anemia pada infeksi kronik, peningkatan ureum dan enzim hati,
Hipoksemia akibat gangguan difusi, Pneumonia kronis yang dapat terjadi bila
pneumonia berlangsung lebih dari 4-6 minggu akibat kuman anaerob s. Aureus dan
kuman gram (-), Bronkietaksis. Biasanya terjadi karena pneumonia pada masa
anakanak tetapi dapat juga oleh infeksi berulang di lokasi bronkus distal pada cystic
fibrosis atau hipogamaglobulinemia, tuberkolosis, atau pneumonia nekrotikans.

E. PROGNOSIS
Pada umumnya prognosis adalah baik, tergantung dari faktor penderita,
bakteri penyebab dan penggunaan antibiotik yang tepat serta adekuat. Perawatan
yang baik dan intensif sangat mempengaruhi prognosis penyakit pada penderita yang
dirawat. Angka kematian penderita pneumonia komuniti kurang dari 5% pada
penderita rawat jalan , sedangkan penderita yang dirawat di rumah sakit menjadi
20%. Menurut Infectious Disease Society Of America ( IDSA ) angka kematian
pneumonia komuniti pada rawat jalan berdasarkan kelas yaitu kelas I 0,1% dan kelas
II 0,6% dan pada rawat inap kelas III sebesar 2,8%, kelas IV 8,2% dan kelas V
29,2%. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya risiko kematian penderita
pneumonia komuniti dengan peningkatan risiko kelas. Di RS Persahabatan
pneumonia rawat inap angka kematian tahun 1998 adalah 13,8%, tahun 1999 adalah
21%, sedangkan di RSUD Dr. Soetomo angka kematian 20 -35%.
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG LAZIM MUNCUL
Diagnosa Keperawatan Menurut Nanda (2013) antara lain:
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi jalan nafas:
spasme jalan nafas, sekresi tertahan, banyaknya mukus, adanya jalan nafas
buatan, sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus, adanya benda asing di jalan
nafas.
NOC : ventilasi, kepatenan jalan nafas
Kriteria Hasil : klien tidak merasa tercekik, irama, frekwency dalam batas
normal,
tidak ada bunyi abnormal.
NIC :
1) Pastikan kebutuhan oral suctioning
2) Auskultasi nafas sebelum dan sesudah suctioning
3) Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning
4) Lakukakn fisioterapi dada jika perlu
5) Monitor status O2 pasien
2. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan apnea: ansietas, posisi tubuh,
deformitas dinding dada, gangguan koknitif, keletihan hiperventilasi, sindrom
hipovnetilasi, obesitas, keletihan otot spinal
NOC : ventilasi, kepatenan jalan nafas, status TTV
Kriteria Hasil : mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan
mudah,
tidak ada pursed lips, klien tidak merasa tercekik, irama,
frekwency dalam batas normal, tidak ada bunyi abnormal.
NIC :
1) Posisikan semi fowler
2) Lakukan fisioterapi dada jika perlu
3) Pasang mayo jika perlu
4) Berikan bronkodilator
5) Auskultasi suara nafas
6) Monitor pola nafas
3. Defisit volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, takipneu,
demam, kehilangan volume cairan secara aktif, kegagalan mekanisme
pengaturan NOC : fluid balance, Hidration, Status Nutrisi; intake nutrisi dan
cairan Kriteria Hasil : mempertahankan urine output sesuai dengan usia, dan
BB, BJ
urine normal, HT normal, TTV normal, Tidak ada tanda
dehidrasi
(turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa
haus
berlebihan)
NIC :
1) Pertahankan intake dan output yang akurat
2) Monitor status hidrasi
3) Monitor Vital sign
4) Monitor masukan makanan/ cairan dan hitung intake kalori
5) Berikan cairan IV pada suhu ruangan
6) Kolaborasikan pemberian cairan IV
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan isolasi respiratory: tirah baring atau
imobilisasi, kelemahan menyeluruh, ketidak seimbangan suplai O2 dengan
kebutuhan.
NIC : ADL, pemulihan tenaga
Kriteria Hasil : mampu melakukan aktivitas secara mandiri, berpartisipasi
dalam
aktivitas fisik tanpa disretai peningkatan TTV
NIC :
1) Kolaborasi dengan tenaga rehabilitasi medik dalam menyiapkan
program terapi yang tepat
2) Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
3) Kaji adanya faktor penyebab kelelahan
4) Monitor respons kardiovaskuler terhadap aktivitas
5) Monitor lama istirhatanya pasien
6) Monitor nutrisi dan sumber tenaga adekuat

5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan keadaan penyakit keterbatasan


kognitif, salah interpretasi informasi, kurang paparan
NOC : proses penyakit, proses penyembuhan
Kriteria Hasil : klien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang
penyakit,
prognosis dan program pengobatan
NIC :
1) Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang
prose penyakit yang spesifik
2) Jelaskan patofisiologi tentang penyakit
3) Gambarkan tanda dan gejala yang muncul pada penyakit
4) Gambarkan proses penyakit
5) Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat

ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
1. Biodata / Data Biografi
Identitas Klien:
Nama : An. E No Register : 08.110.900
Umur : 1 tahun
Suku/bangsa : Jawa
Status Perkawinan :-
Agama : Islam
Pendidikan :-
Pekerjaan :-
Alamat : jl.Cimanuk
Tanggal masuk RS : 25 Mei 2012
Tanggal Pengkajian : 26 Mei 2012
Catatan kedatangan : Kursi roda ( ), Ambulan ( ), Brankar ( )

Keluarga Terdekat yang dapat dihubungi:


Nama/Umur : Ny.N / 29 No telepon : (0736)23145
Pendidikan : S1
Pekerjaan : PNS
Alamat : jl.Cimanuk
Sumber Informasi : Pasien dan keluarga

2. Riwayat Kesehatan/keperawatan
a. Keluhan utama/alasan masuk RS
An E (59 th) datang ke RS dr. M. Yunus Bengkulu pada tanggal 25
Mei 2012, jam 10.20 wib dengan keluhan batuk berdahak dan sesak napas.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS) :
Faktor pencetus: Orang tua anak mengatakan sesak napas didahului oleh
batuk pilek seminggu sebelum masuk RS.
Muncul keluhan ( ekaserbasi) : Orang tua anak mengatakan sesak napas
sejak 6 hari sebelum masuk RS.
Sifat keluhan : Orang tua anak mengatakan sesak napas timbul perlahan-
lahan, sesak napas terus menerus dan bertambah dengan aktivitas.
Berat ringannya keluhan : Orang tua anak mengatakan sesak napas
cenderung bertambah sejak 2 hari sebelum masuk RS.
Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi : Orang tua anak mengatakan
upaya untuk mengatasi sesak adalah dengan istirahat dan minum obat batuk
( OBH ).
Keluhan lain saat pengkajian : Orang tuan anak juga mengatakan batuk
dengan dahak yang kental dan sulit untuk dikeluarkan, sehingga terasa
lengket di tenggorokkan. Orang tua anak mengatakan kesulitan
bernapas.Orang tua anak mengutarakan kondisi badan anak nya terasa lemah
dan ujung - ujung jarinya terasa dingin.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD) :
Orang tua anak mengatakan tidak ada riwayat alergi terhadap makanan, debu,
dan lain-lain.
d. Riwayat kesehatan keluarga (RKK) :
Orang tua anak mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mempunyai
penyakit sesak napas seperti yang dialaminya dan tidak ada anggota keluarga
yang menderita penyakit keturunan dan penyakit menular lainnya seperti
penyakit jantung, hipertensi, asma,TB dan lain-lain.

3. Pola Fungsi kesehatan


a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Persepsi terhadap penyakit:
Orang tua pasien tidak mengetahui penyakit yang dideritanya.
Penggunaan :
Alergi (obat-obatan, makanan, plester, dll): pasien tidak ada alergi.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Diet/suplemen khusus: tidak ada
Intruksi diet sebelumnya: -
Nafsu makan (nomal, meningkat, menurun): menurun
Penurunan sensasi kecap, mual-muntah, stomatitis : pasien mual-mual
Fluktuasi BB 6 bulan terakhir (naik/turu) :
BB pasien menurun sebanyak 4 kg (65 kg menjadi 61).
Kesulitan menelan (disfagia): tidak ada
Gigi (lengkap/tidak, gigi palsu): lengkap
Riwayat masalah kulit/penyembuhan (ruam,kering,keringat berlebihan,
penyembuhan abnormal: tidak ada
Jumlah minimum/24 jam dan jenis (kehausan yang sangat): tidak ada
Frekuensi makan: Normal (3X sehari)
Jenis makanan : KH, protein, lemak
Pantangan/alergi : tidak ada
c. Pola Eliminasi
Buang air besar (BAB) :
Frekuensi : 1x 2 hari Waktu : Pagi
Warna : Kuning Konsistensi : Lembek
Kesulitan (diare, konstipasi, inkontinensia) : Tidak ada
Buang air kecil (BAK) :
Frekuensi : 2X sehari Warna : pagi dan sore hari
Kesulitan (disuria, nokturia, hematuria, retensi inkontinensia): Tidak
ada
Alat bantu (kateter intermitten, indwelling, kateter eksternal): tidak ada
Lain-lain
d. Pola aktivitas dan latihan
Kemampuan perawatan dari:
0 Mandiri 3 Dibantu orang lain dan peralatan
1 Dengan alat bantu 4 ketergantungan/tidak mampu
2 Dibantu orang lain
Kegiatan/aktivitas 0 1 2 3 4
Makan/minum
Mandi
Berpakaian/berdandan
Toileting
Mobilisasi di tempat
tidur
Berpindah
Berjalan
Menaiki tangga
Berbelanja
Memasak
Pemeliharaan rumah
e. Pola istirahat dan tidur
Lama tidur : 7 jam/malam Tidur siang: 2 Tidur sore: -
Waktu : 21.00 WIB
Kebiasaan menjelang tidur : -
Masalah tidur (insomnia, terbangun dini, mimpi buruk): Insomnia
Lain-lain (merasa segar/tidak setelah bangun) : merasa segar

f. Pola Kognitif Dan Persepsi


Status mental (sadar/tidak, orientasi baik/tidak) : orientasi baik
Bicara : Normal (), tak jelas ( ), gagap ( ), aphasia ekspresif ( )
Kemampuan berkomunikasi : Ya ( ), tidak ( )
Kemampuan memahami : Ya ( ), tidak ( )
Pendengaran : DBN ( ), tuli ( ), kanan/kiri, tinnitus ( ), alat bantu
dengar ( )
Penglihatan (DBN, buta, katarak, kacamata, lensa kontak, dll) : DBN
Vertigo : Ada
Ketidak nyamanan/nyeri (akut/kronik) : Pasien mengalami nyeri akut pada
daerah dada
Penatalaksanaan nyeri : Pasien beristirahat untuk mengurangi nyeri
Lain-lain : -
g. Persepsei Diri Dan Konsep Diri
Perasaan klien tentang masalah kesehatan ini : Pasien merasa tidak
nyaman
Lain-lain : -
h. Pola Peran Hubungan
Pekerjaan : -
Sistem pendukung : pasangan ( ), tetangga/teman ( ), tidak ada ( ),
keluarga serumah (), keluarga tinggal berjauhan ( )
Masalah keluarga berkenaan dengan perawatan di RS : Tidak ada
Kegiatan sosial :
Sejak menderita penyakit pneumonia pasien jarang bergaulo dengan
teman sebaya nya.
Lain-lain :
i. Pola Seksual Dan Reproduksi
Masalah seksual b.d penyakit : -
j. Pola koping dan toleransi stress
Perhatian utama tentang perawatan di RS atau penyakit (financial,
perawatan diri) : Pasien tidak mengalami kesulitan mengeanai biaya
perawatan rumah sakit.
Kehilangan/perubahan besar dimasa lalu : tidak ada
Hal yang dilakukan saat ada masalah (sumber koping) : pasien bersifat
terbuka terhadap masalahnya
Penggunaan obat untuk menghilangkan stress : tidak ada
keadaan emosi dalam sehari-hari (santai/tegang) : tegang
lain-lain : -
k. Keyakinan agama dalam kehidupan
Agama : Pasien beragama Islam
Pengaruh agama dalam kehidupan : Pasien beranggapan bahwa penyakit
yang dideitanya adalah cobaan.
4. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Klien tampak lemah, klien tampak kesulitan bernapas dan klien tampak
gelisah.
- BB : 10 kg (turun 2 kg dari 60 kg menjadi 58 kg )
- TB : 70 cm
TTV :
- TD : 130 / 90 mmHg
- ND : 120 x / i
- RR : 32 x / i
- S : 39 C
Sistem integumen (kulit) : turgor kulit buruk (tidak elastis) dan pucat
Kepala : Simestris dan rambut warna hitam, tidak ada ketmbe, bersih.
Mata : DBN, konjuntiva tidak anemis,ukuran pupil normal.
Telinga : DBN
Kuku : Kuku pucat dan sedikit sinosis
Hidung : Pernapasan cuping hidung
Mulut : Mukosa bibir kering dan pucat
Thorak /paru
- Inspek : RR : 32x/i, penggunaan otot bantu pernapasan (+), takipnea
(+),dispnea (+),pernapasan dangkal, dan rektrasi dinding dada tidak ada.
- Palpasi : fremitus menurun pada kedua paru
- Perkusi : redup
- Auskultrasi : bunyi napas bronkial, krekels (+),stridor (+).
Vaskular periper : akral dingin, capilarry repille kembali dalam 5 detik
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Hasil foto rontgen : menunjukkan infiltrasien lobaris (sebagianlobus pada kedua
paru).
b. AGD :menunjukkan alkalosis respiratorik (pH naik,PCO2 turun,HCO3 normal)
c. Pemeriksaan sputum: ditemukan kuman Stapilococcus aureus dan Diplococcus
pneumonia
d. Pemeriksaan darah rutin didapatkan :
Leokosit = 16.000/mm3
Hb = 10,5 gr/dl
Trombosit =265.000/mm3
Hematokrit = 44%
Albumin = 3,01 gr/dl
Protein total = 5,86 gr/dl
2. ANALISA DATA
Nama klien : An. E (59 th)
Ruang rawat : Anggrek, RSUD M. Yunus Bengkulu
Diagnosa medik : Pneumonia

No Data Etiologi Masalah

1 DS: Inflamasi trakeo Bersihan Jalan


Klien mengatakan batuk berdahak dan bronkial dan farenkim nafas tidak efektif
sesak napas paru, pembentukkan
Klien mengatakan batuk dengan dahak edema dan peningkatan
yang kental dan sulit untuk dikeluarkan produksi sputum.
Klien mengatakan dahaknya terasa
lengket di tengorokkan
Klien Mengatakan Kesulitan bernapas
DO:
Klien tampak kesulitan bernapas
TTV:
- TD: 130/90 mmHg
- N : 12X/i
- RR : 32x /i
Pernafasan Cuping Hidung
Takipnea (+)
Dispnea (+)
Pernafasan dangkal
Penggunaan otot bantu pernafasan (+)
Perfusi paru redup
Premetus menurun pada kedua paru
Bunyi nafas bronkial, kreleks (+), stridor (+)
Hasil Rontgen : menunjukkan infiltrasi
lobaris
Pemeriksaan seputum : ditemukan kuman
stapilococcus aureus dan diplococcus
pneumonia
2 DS: Inflamasi parenkim Nyeri
Klien mengatakan nyeri dada paru, reaksi seluler
Klien mengatakan sakit kepala terhadap sirkulasi
Klien mengatakan sendi nyeri toksin dan batuk
DO: menetap.
Klien tampak gelisah
Klien tampak meringis kesakitan akibat
nyeri
Klien tampak memegang di daerah dada
dan melindungi daerah yang sakit
TTV:
- TD : 130/90 mmhgs
- N : 120x/i
- RR : 32x /i
Akral dingin
Kuku pucat dan sedikit sianosis
Mukosa bibir kering dan pucat
Kapilary reffill kembali dalam 5 detik
Takipnea (+)
3 DS: Anoreksia, akibat Perubahan nutrisi
Klien mengatakan batuk berdahak toksin bakteri, bau dan kurang dari
Klien mengatakan dahaknya terasa rasa sputum kebutuhan tubuh
lengket ditenggorokkan
Klien mengatakan tidak nafsu makan dan
hanya mampu menghabiskan porsi
setiap kali makan (pagi,siang dan
malam)
Klien mengatakan mual
Klien mengatakan berat badan turun 4 Kg
dari 65 Kg menjadi 64 Kg
Klien mengatakan lemah
DO:
Klien tampak mengeluarkan sputum saat
batuk
Klien tampak lemah
Klien tampak hanya mampu
mengabiskan makanan porsi setiap
kali makan
Kulit klien tampak kering
Turgor kulit buruk
Mukosa bibir klien kering
Hb : 10 gr / dl
Protein total : 5,86 gr / dl
Albumin 3,00 gr / dl
BB : 61 kg
TTV:
- TD : 130/90 mmhgs
- N : 120 x/i
- RR : 32x /i
Akral dingin
Kuku pucat dan sedikit sianosis
Mukosa bibir kering dan pucat
Kapilary reffill kembali dalam 5 detik
Takipnea (+)

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa data Tanggal Ditemukan Tanggal Teratasi

Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan


dengan inflamasi trachea bronchial, peningkatan Selasa, 25 Mei 2012 Jumat, 28 Mei 2012
produksi sputum
Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim
paru, reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin dan Selasa, 25 Mei 2012 Jumat, 28 Mei 2012
batuk menetap.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia, akibat toksin Selasa, 25 Mei 2012 Jumat, 28 Mei 2012
bakteri, bau dan rasa sputum

4. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa
Tujuan Rencana Rasional
keperawatan
Bersihan jalan Setelah Mandiri :
nafas tak efektif dilakukan 1. Kaji frekuensi/kedalaman
1. Takipnue pernafasan dangkal dan
berhubungan intervensi pernapasan dan gerakan dada. gerakan dada tak simetris sering
dengan keperawatan terjadi karena ketidak
inflamasi selama 3 x nyamanan. Simetris yang sering
trachea 24 jam, terjadi karena ketidaknyamanan
bronchial, diharapkan gerakan dinding dada dan/ atau
peningkatan jalan nafas cairan paru.
produksi kembali 2. Auskultasi area paru, catat
2. Penurunan aliran udara terjadi
sputum efektif area penurunan/tak ada aliran pada area konsolidasi dengan
udara dan bunyi napas cairan. Bunyi napas bronkial
adventisius, mis, krekels, (normal pada bronkus) dapat
mengi stridor. juga terjadi pada area
konsilidasi. Krekel, ronki, dan
mengi terdengar pada inspirasi
dan/atau ekpirasi pada respon
terhadap pengumpulan cairan,
sekret kental, dan spesme jalan
napas/obstruksi.
3. Merangsang batuk atau
pembersihan nafas secara
3. Bantu pasien latih napas mekanik pada pasien yang tidak
sering Tunjukan/bantu pasien mampu melakukan karena
mempelajari melakukan batuk tak efektif atau penurunan
batuk, mis., menekan dada tingkat kesadaran.
dan batuk efektif sementara
posisi duduk tinggi. 4. Cairan (khususnya yang
hangat) memobilisasi dan
4. Penghisapan sesuai mengeluarkan sekret
indikasi. 5. Cairan (khususnya yang
hangat) memobilisasi dan
5. Berikan cairan paling mengeluarkan sekret.
sedikit 2500 ml/hari (Kecuali
kontra indikasi). Tawarkan air
hangat, daripada air dingin.
Kolaborasi : 6. Alat untuk menurunkan
6. Berikan obat sesuai spasme bronkus dengan
indikasi: mukolitik, mobilisasi sekret, analgetik
ekspektoran, bronkodolator, diberikan untuk memperbaiki
analgesik. batuk dengan menurunkan
ketidaknyamanan tetapi harus
digunakan secara hati-hati,
karena dapat menurunkan upaya
batuk/menekan pernafasan.
7. Cairan diperlukan untuk
mengganti kehilangan dan
memobilisasi sekret.
7. Berikan cairan tambahan
misalnya : Intravena,oksigen
humidifikasi, dan ruang
8. Mengevaluasikan kemajuan
humidifikasi. dan efek proses penyakit dan
8. Awasi sinar X dada, memudahkan pemilihan terapi
GDA, nadi oksimetri. yang diperlukan.
9. Kadang-kadang diperlukan
untuk membuang perlengketan
mukosa. Mengeluarkan sekresi
9. Bantu bronkostropi / purulen, mencegah atelektasis.
toresentesis bila
diindikasikan.
Nyeri Nyeri Mandiri :
berhubungan berhubungan1. Tentukan karakteristik
1. Nyeri dada biasanya ada
dengan dengan nyeri, misalnya : tajam, dalam beberapa derajat pada
inflamasi inflamasi konstan, selidiki perubahan peneumonia,juga dapat timbul
parenkim paru, parenkim karakter / lokasi nyeri dan komplikasi pneumonia seperti
reaksi seluler paru, reaksi ditusuk. perikarditis dan indokarditis.
terhadap seluler 2. perubahan frekuensi jantung
sirkulasi toksin terhadap 2. Pantau tanda vital. atau TD menunjukkan bahwa
dan batuk sirkulasi pasien mengalami nyeri,
menetap. toksin dan khususnya bila alasan lain
batuk untuk perubahan tanda vital
menetap. telah terlihat.
3. tindakan non analgesik
diberikan dengan sentuhan
3. Berikan tindakan nyaman lembut dapat menghilangkan
misalnya, pijatan punggung, ketidak nyamanan dan
perubahan posisi, musik memperbesar efek terapi
tenang, relaksasi atau latihan analgesik.
napas. 4. Pernapasan mulut dan terapi
oksigen dapat mengiritasi dan
4. Tawarkan pembersihan mengeringkan membran
mulut dengan sering. mukosa, potensial ketidak
nyamanan umum.

5. Alat untuk menontorl ketidak


nymanan dada sementara
meningkatkan keefektifan
5. Anjurkan dan bantu pasien upaya batuk.
dalam teknik menekan dada
selama episode batuk.
6. Obat ini digunakan untuk
menekan batuk non produktif
Kolaborasi : atau proksismal atau
6. Berikan analgesik dan menurunkan mukosa
atitusip sesuai indikasi. berlebihan, meningkatkan
kenyamanan atau istirahat
umun.

Perubahan Setelah Mandiri :


nutrisi kurang dilakuakn 1. Identifikasi faktor yang
1. Pilihan intervensi
dari kebutuhan intervensi menimbulkan mual atau terganggung pada penyebab
tubuh keperawatan muntah misalnya: sputum masalah.u kebersihanmulut
berhubungan selama 3 x banyak, pengobatan aerosol, setelah muntah, setelah
dengan 24 jan, dispenea berat, nyeri. tindakan aerosol dan drainase
anoreksia, diharapkan postur sebelem maka.
akibat toksin kebutuhan 2. Menghilangkan tanda bahaya,
bakteri dan rasa nutrisi dapat
2. Berikan wadah tertutup rasa bau, dari lingkungan pasien
sputum . terpenuhi. untuk sputum dan buang dan dapat menurunkan mual.
sesering mungkin. Berikan
3. Menurunkan efek mual yang
atau bantu. berhubungan dengan
3. Jadwalkan pengobatan pengobatan ini.
pernapasan sedikitnya 1 jam
4. Bunyi usus mungkin menurun
sebelum makan. / tak ada bila proses infeksi
4. Auskultasi bunyi usus. memanjang. Distensi abdomen
Observasi atau palpasi terjadi sebagai akibat menelan
distensi abdomen. udara atau menunjukkan
pengaruh toksin, bakteri pada
saluran GI.
5. Tindakan ini dapat
meningkatka masukkan
meskipun nafsu makan
5. Berikan makan dengan pori mungkin lambat untuk kembali.
kecil dan sring termasuk
dengan makan kering ( roti
6. Adanya kondisi kronis (
panggang ) dan makanan PPOM atau alkoholisme ) atau
yang menarik untuk pasien. keterbatasan keuangan dapat
6. Evaluasi status nutrisi menimbulkan malnutrisi,
umum, ukuran berat badan rendahnya tahanan terhadap
dasar. innfeksi lambatnya respon
terhadap terapi.

5. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

No.Dx Tanggal Jam Implementasi Paraf/Nama

1 Rabu, 26 00.09 1. Mengkaji frekuensi/kedalaman pernapasan


Mei 2012 WIB dan gerakan dada.
Dengan Hasil : RR = 32x/i, pernapasan cepat
dan dangkal, fremitus menurun pada kedua
paru.
2. Mengukur TTV
Dengan hasil :
TD : 130/90 mmhg
N : 120 x/i
RR : 32x /i
3. Mengauskultasi area paru, mencatat area
penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi
napas adventisius, mis, krekels, mengi stridor.
Dengan hasil : bunyi nafas bronkial, krekels,
mengi, dan srtidor ada.
4. Membantu pasien latihan napas dan
mengajarkan melakukan batuk
efektif, Dengan Hasil : Klien dapat
melakukan batuk efektif dan mengeluarkan
dahak.
5. Melakukan Penghisapan sekret sesuai
indikasi.
Dengan Hasil : sekret bisa keluar
6. Memberikan cairan paling sedikit 2500
ml/hari (Kecuali kontra indikasi) dan
menaawarkan air hangat
Dengan Hasil : Pasien mau minum air hangat
7. Memberikan obat sesuai indikasi: mukolitik,
ekspektoran, bronkodolator, analgesik.
8. Memberikan oksigen sesuai indikasi
9. Mengawasi sinar X dada, GDA,
Dengan Hasil: Rontgen menunjukkan
infiltrasi meyebar, dan GDA tidak normal.
10. Membantu bronkostropi sesuai indikasi
Dengan Hasil : Perlengketan mukosa teratasi
2 Rabu, 26 00.09 1. Mententukan karakteristik nyeri, misalnya :
Mei 2012 WIB tajam, konstan, selidiki perubahan karakter /
lokasi nyeri dan ditusuk.
Dengan Hasil : Nyeri Konstan dan lokasi di
bagian dada.
2. Memantau tanda vital
Dengan hasil :
TD : 130/90 mmhg
N : 120 x/i
RR : 32x /i
3. Memberikan tindakan nyaman misalnya,
pijatan punggung, perubahan posisi, musik
tenang, relaksasi atau latihan napas.
Dengan Hasil: Pasien sudah merasa agak
nyaman
4. Menawarkan pembersihan mulut dengan
sering.
Dengan Hasil: Pasien menerima tawaran
5. Menganjurkan dan bantu pasien dalam teknik
menekan dada selama episode batuk.
Dengan Hasil: Pasien mematuhi anjuran
6. Memberikan analgesik dan antitusip sesuai
indikasi.
3 Rabu, 26 09.00 1. Mengidentifikasikan faktor yang menimbulkan
Mei 2012 WIB mual atau muntah misalnya: sputum banyak,
pengobatan aerosol, .dispenea berat, nyeri.
Dengan Hasil : Klien mual dan muntah
disebabkan sputum banyak.
2. Memberikan wadah tertutup untuk sputum dan
buang sesering mungkin.
Dengan Hasil : Klien membuang dahaknya di
wadah
3. Menjadwalkan pengobatan pernapasan
sedikitnya 1 jam sebelum makan.
Dengan Hasil:
4. Mengauskultasikan bunyi usus. Observasi atau
palpasi distensi abdomen.
Dengan Hasil: Terdapat bising usus
5. Memberikan makan dengan pori kecil dan
sering termasuk dengan makan kering ( roti
panggang ) dan makanan yang menarik untuk
pasien.
Dengan Hasil: Klien mau makan dalam porsi
kecil
6. Mengevaluasikan status nutrisi umum, ukuran
berat badan dasar.
Dengan Hasil:BB : 61 Kg

1 Kamis, 27 09.00 1. Mengkaji frekuensi/ kedalaman pernapasan


Mei 2012 WIB dan gerakan dada.
Dengan Hasil : RR = 25x/i,
2. Mengukur TTV
Dengan hasil :
TD : 120/80mmhg
N : 80 x/i
RR : 26x /i
3. Mengauskultasi area paru, mencatat area
penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi napas
adventisius, mis, krekels, mengi stridor.
Dengan hasil : bunyi nafas bronkial, krekels,
mengi, dan srtidor tidak ada.
4. Membantu pasien latihan napas dan
mengajarkan melakukan batuk efektif, Dengan
Hasil : Klien melaksanakan latihan nafas sesuai
yang dianjurkan dan dapat melakukan batuk
efektif dan mengeluarkan dahak.
5. Melakukan Penghisapan sekret sesuai
indikasi.
Dengan Hasil : sekret bisa keluar
6. Memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari
(Kecuali kontra indikasi) dan menaawarkan air
hangat
Dengan Hasil : intake cairan 2000 ml dan
pasien mau minum air hangat.
7. Memberikan obat sesuai indikasi: mukolitik,
ekspektoran, bronkodolator, analgesik.
8. Mengawasi sinar X dada, GDA,
Dengan Hasil: Rontgen menunjukkan infiltrasi
meyebar, dan GDA tidak normal.
2 Kamis, 27 09.00 1. Mententukan karakteristik nyeri, misalnya :
Mei 2012 WIB tajam, konstan, selidiki perubahan karakter /
lokasi nyeri dan ditusuk.
Dengan Hasil: nyeri tidak ada lagi
2. Memantau tanda vital.
Dengan Hasil:TTV :
TD : 120/80 mmHg
N : 80 x/i
RR : 25x /i
3. Menawarkan pembersihan mulut dengan
sering.
Dengan Hasil: pasien mematuhi hal yang
dianjurkan
4. Menganjurkan dan bantu pasien dalam teknik
menekan dada selama episode batuk.
Dengan Hasil : Klien mengikuti anjuran
Kolaborasi :
5. Memberikan analgesik dan atitusip sesuai
indikasi.
3 Kamis, 27 09.00 1. Mengidentifikasikan faktor yang menimbulkan
Mei 2012 WIB mual atau muntah misalnya: sputum banyak,
pengobatan aerosol, .dispenea berat, nyeri.
Dengan Hasil : Klien dapat mengeluarkan
sputum
Memberikan wadah tertutup untuk sputum dan
buang sesering mungkin.
Dengan Hasil : Klien membuang dahaknya di
wadah
2. Mengauskultasikan bunyi usus. Observasi atau
palpasi distensi abdomen.
Dengan Hasil: Terdapat bising usus
3. Memberikan makan dengan pori kecil dan
sering termasuk dengan makan kering (roti
panggang) dan makanan yang menarik untuk
pasien.
Dengan Hasil: Klien menghabiskan makanan
dalam porsi kecil
4. Mengevaluasikan status nutrisi umum, ukuran
berat badan dasar.
Dengan Hasil: BB = 61 Kg
1 Jumat, 28 09.00 1. Mengkaji frekuensi/ kedalaman pernapasan dan
Mei 2012 WIB gerakan dada.
Dengan Hasil : RR = 24x/i.
2. Mengukur TTV
Dengan hasil :
TD : 120/80 mmhg
N : 80 x/i
RR : 24x /i
3. Mengauskultasi area paru, mencatat area
penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi napas
adventisius, mis, krekels, mengi stridor.
Dengan hasil : Bunyi nafas bronkial, krekels,
mengi, dan srtidor tidak ada
4. Memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari
(Kecuali kontra indikasi) dan menaawarkan air
hangat
Dengan Hasil : Pasien mau minum air hangat
dan intake 2500 ml
5. Memberikan obat sesuai indikasi: mukolitik,
ekspektoran, bronkodolator, analgesik.
6. Memberikan oksigen sesuai indikasi
7. Mengawasi sinar X dada, GDA,
Dengan Hasil: Rontgen menunjukkan infiltrasi
meyebar, dan GDA normal.
2 Jumat, 28 09.00 1. Memantau tanda vital.
Mei 2012 WIB Dengan Hasi l: TTV :
TD : 120/80 mmHg
N : 80 x/i
RR : 25x /i
2. Menawarkan pembersihan mulut dengan
sering.
Dengan Hasil: pasien mematuhi hal yang
dianjurkan
3. Memberikan analgesik dan atitusip sesuai
indikasi.
3 Jumat, 28 09.00 1. Mengidentifikasikan faktor yang menimbulkan
Mei 2012 WIB mual atau muntah misalnya: sputum banyak,
pengobatan aerosol, .dispenea berat, nyeri.
Dengan Hasil : Klien tidak mual lagi
2. Mengauskultasikan bunyi usus. Observasi atau
palpasi distensi abdomen.
Dengan Hasil: tidak terdapat bising usus
3. Memberikan makan dengan porsi kecil dan
sering termasuk dengan makan kering (roti
panggang) dan makanan yang menarik untuk
pasien.
Dengan Hasil: Klien menghabiskan makanan 1
porsi penuh
4. Mengevaluasikan status nutrisi umum, ukuran
berat badan dasar.
Dengan Hasil: BB = 62 Kg

6. EVALWASI

No.Dx Tanggal Jam Perkembangan SOAP Paraf/Nama

1 Rabu, 26 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan sudah dapat
mengeluarkan dahak
Klien mengatakan sesaknya sudah
berkurang
O:
Klien dapat mengeluarkan dahaknya
Krekels dan stredor (+)
Dispnea berkurang
TTV:
- TD : 125/80 mmHg
- N : 100x/i
- RR : 27x /i
Klien masih mendapat oksigen

A : Masalah teratasi sebagian : klien dapat


mengeluarkan dahak dengan efektif dan
sesak nafas berkurang.

P : Intervensi dilanjutkan :
Kaji frekuensi kedalaman nafas
Pantau terus TTV
Auskultasi area paru
Ingatkan kembali pasien untuk latihan
nafas dan batuk efektif
Lanjutkan pemberian obat sesuai indikasi
Lanjutkan pemberian oksigen sesuai
indikasi
Awasi GDA

2 Rabu, 26 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan nyeri berkurang
Klien mengatakan badannya masih lemah
O:
Klien tampak agak nyaman
Gelisah berkurang
Dispneu berkurang
TTV:
- TD : 125/80 mmHg
- o N : 100 x/i
- RR : 27x /i
Mukosa bibir masih kering dan pucat
Dispnea (+)
Perfusi paru redup
Premetus menurun pada kedua paru
- Akral hangat sianosis
- Kapilari refile kembali dalam 2-3 detik
- Klien masih pucat dan sianosis

A : Masalah teratasi sebagian : klien


mengatakan nyeri berkurang, klien merasa
agak nyaman.
P : Intervensi dilanjutkan :
Kaji terus karekteristik nyeri
Pantau terus TTV
Ingatkan kembali pasien untuk latihan
nafas dan batuk efektif
Lanjutkan pemberian obat sesuai indikasi
3 Rabu, 26 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan batuk berdahak
Klien mengatakan dahaknya terasa
lengket ditenggorokkan
Klien mengatakan tidak nafsu makan dan
hanya mampu menghabiskan porsi
setiap kali makan (pagi,siang dan malam)
Klien mengatakan mual
Klien mengatakan lemah
O:
Klien tampak mengeluarkan sputum saat
batuk
Klien tampak lemah
Klien tampak hanya mampu mengabiskan
makanan porsi setiap kali makan
Kulit klien tampak kering
Turgor kulit buruk
Hb : 10 gr / dl
Protein total : 5,86 gr / dl
Albumin 3,00 gr / dl
BB : 61 kg
TTV:
- TD : 125/80 mmhgs
- o N : 100 x/i
- RR : 27x /i
Akral hangat
Kuku pucat dan sedikit sianosis
Mukosa bibir kering dan pucat
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi Keperawatan dilanjutkan
Indentifikasi mual
Menjadwalkan pengobatan
Memberikan makanan dengan porsi kecil
tapi sering
Evaluasi terus status nutrisi
1 Kamis, 27 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan sudah dapat
mengeluarkan dahak
Klien mengatakan sudah tidak sesak

O:
Klien dapat mengeluarkan dahaknya
Krekels dan stredor (-)
Dispnea tidak ada
TTV:
- TD : 120/80 mmHg
- N : 80x/i
- RR : 25x /i

A : Masalah teratasi sebagian : klien dapat


mengeluarkan dahak dengan efektif,
dispnuea tidak ada

P : Intervensi dilanjutkan :
Pantau terus TTV
Auskultasi area paru
Ingatkan kembali pasien untuk latihan
nafas dan batuk efektif
Lanjutkan pemberian obat sesuai indikasi
Awasi GDA
2 Kamis, 27 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan tidak nyeri lagi
Klien mengatakan badannya sudah merasa
segar
O:
Klien merasa nyaman
TTV:
- TD : 120/80 mmHg
- N : 80 x/i
- RR : 25x /i
Mukosa bibir masih kering dan pucat
Dispnea (-)
Perfusi paru redup
Akral hangat
Kapilari refile kembali dalam 2-3 detik
Klien masih pucat dan sianosis

A : Masalah teratasi sebagian : klien mengatakan


nyeri tidak ada, klien merasa nyaman, badan
pasien segar,

P : Intervensi dilanjutkan :
Pantau terus TTV
Ingatkan kembali pasien untuk latihan
nafas dan batuk efektif
Lanjutkan pemberian obat sesuai indikasi
3 Kamis, 27 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan saat batuk sputum
keluar.
Klien mengatakan masih blum nafsu makan
dan hanya mampu menghabiskan porsi
setiap kali makan (pagi, siang dan malam)
O:
Klien tampak mengeluarkan sputum saat
batuk dan sudah berkurang
Klien tampak mengabiskan makanan
dalam porsi setiap kali makan
Kulit klien masih tampak kering
Hb : 10 gr / dl
Protein total : 5,86 gr / dl
Albumin 3,00 gr / dl
BB : 61 kg
TTV:
- TD : 120/80 mmhgs
- N : 80 x/i
- RR : 25x /i
Akral hangat
A : Masalah teratasi sebagian : Mengidentifikasi
pengeluaran sputum, observasi distensi
abdomen, dan status gizi
P : Intervensi Keperawatan dilanjutkan
Indentifikasi mual
Menjadwalkan pengobatan
Memberikan makanan dengan porsi kecil
tapi sering
Evaluasi terus status nutrisi
1 Jumat, 28 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan sudah tidak batuk
Klien mengatakan sudah tidak sesak

O:
Klien mengatakan tidak ada sputum
Krekels dan stredor (-)
TTV:
- TD : 120/80 mmHg
- N : 80x/i
- RR : 24x /i
A : Masalah teratasi : klien tidak batuk. Tidak
lagi
sesak, tidak ada lagi sputum, auskultasi area
paru normal, intake cairan tercukupi

P : Intervensi dihentikan
2 Jumat, 28 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan tidak nyeri lagi
Klien mengatakan badannya sudah segar

O:
Klien merasa nyaman
TTV:
- TD : 120/80 mmHg
- o N : 80 x/i
- RR : 24x /i
Mukosa bibir normal dan tidak pucat lagi
Dispnea (-)
Perfusi paru Normal
Akral hangat
Kapilari refile kembali dalam 2 detik

A : Masalah teratasi.

P : Intervensi dihentikan.
3 Jumat, 28 13.30 S:
Mei 2012 Wib Klien mengatakan tidak batuk lagi
Klien mengatakan sudah nafsu makan dan
mampu menghabiskan 1 porsi penuh setiap
kali makan (pagi, siang dan malam)
O:
Klien tidak tampak batuk lagi dan tidak ada
sputum
Klien tampak mengabiskan makanan dalam 1
porsi penuh setiap kali makan
Kulit klien sudah normal
Hb : 14 gr / dl
Protein total : 7,5 gr / dl
Albumin 3,4gr / dl
BB : 62 kg
TTV:
- TD : 120/80 mmhg
- N : 80 x/i
- RR : 24x /i
Akral hangat

A : Masalah teratasi.

P : Intervensi Keperawatan dihentikan


DAFTAR PUSTAKA

http://montanitalyano.blogspot.com/2013/12/asuhan-keperawatan-pada-klien-
dengan.html
http://retnopuspasari.blogspot.com/2014/04/asuhan-keperawatan-pada-pasien-
pneumonia.html
http://chandwicaksono.blogspot.com/2013/09/askep-pneumonia.html
http://sehati11022012.blogspot.com/2013/11/makalah-askep-pneumonia-
lengkap.html
http://eprints.ums.ac.id/25860/18/NASKAH_PUBLIKASI.pdf
DEFINISI
Pneumonia adalah suatu infeksi dari satu atau dua paru-paru yang biasanya
disebabkan oleh bakteri-bakteri, virus-virus, atau jamur.
Pneumonia adalah inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian
alveoli dengan cairan. ( Doenges : 164 )
Menurut Engram (1998) pneumonia adalah proses inflamasi pada parenkim paru. Hal
ini terjadi sebagai akibat adanya invasi agen infeksius atau adanya kondisi yang mengganggu
tahanan saluran trakeobrokialis sehingga flora endogen yang normal berubah menjadi
patogen ketika memasuki saluran jalan nafas.
Pneumonia adalah penyakit infeksi akut paru yang disebabkan terutama oleh bakteri;
merupakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang paling sering menyebabkan
kematian pada bayi dan anak balita (Said 2007).
Sedangkan menurut Betz dan Sowden (2002) pneumonia adalah inflamasi atau infeksi
pada parenkim paru yang disebabkan oleh satu atau lebih agens berikut virus, bakteri,
mikoplasma dan aspirasi substansi asing.
Pneumonia atau radang paru-paru ialah inflamasi paru-paru yang disebabkan oleh
bakteria, virus atau fungal (kulat). Ia juga dikenali sebagai pneumonitis, bronchopneumonia
dan 'community-acquired pneumonia (Mansjoer, 2000 : 254).

EPIDEMIOLOGI
Said (2007) menyatakan bahwa diperkirakan 75% pneumonia pada anak balita di negara
berkembang termasuk di Indonesia disebabkan oleh pneumokokus dan Hib. Di seluruh dunia
setiap tahun diperkirakan terjadi lebih 2 juta kematian balita karena pneumonia. Di Indonesia
menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001 kematian balita akibat pneumonia 5 per
1000 balita per tahun. Ini berarti bahwa pneumonia menyebabkan kematian lebih dari
100.000 balita setiap tahun, atau hampir 300 balita setiap hari, atau 1 balita setiap 5 menit.
Menunjuk angka-angka di atas bisa dimengerti para ahli menyebut pneumonia sebagai The
Forgotten Pandemic atau "wabah raya yang terlupakan" karena begitu banyak korban yang
meninggal karena pneumonia tetapi sangat sedikit perhatian yang diberikan kepada masalah
pneumonia. Tidak heran bila melihat kontribusinya yang besar terhadap kematian balita
pneumonia dikenal juga sebagai "pembunuh balita nomor satu". Senada dengan Said, Betz
dan Sowden (2002) menyatakan bahwa insidens dari pneumonia antara lain :
Pneumonia virus lebih sering dijumpai daripada pneumonia bacterial.
Pneumonia streptokokus paling sering terdapat pada 2 tahun pertama kehidupan. Pada 30 %
anak dengan pneumonia yang berusia kurang dari 3 bulan dan pada 70 % anak dengan
pneumonia yang berusia kurang dari 1 tahun.
Pneumonia pneumokokus mencakup 90 % dari semua pneumonia.
4. Mikoplasma jarang menimbulkan pneumonia pada anak yang berusia 5 tahun, mereka
berhubungan dengan 20 % kasus pneumonia yang di diagnosis pada pasien antara umur 16
dan 19 tahun.
Pneumonia akan terjadi lebih berat dan lebih sering pada bayi dan anak-anak kecil.
Virus sinsisium respiratori merupakan penyebab terbesar dari kasus pneumonia virus.
Infeksi virus saluran nafas atas adalah penyebab kematian kedua pada bayi dan anak kecil.
Pneumonia mikoplasma mencakup 10 sampai 20 % pneumonia yang dirawat di rumah sakit.

ETIOLOGI
Penyebabnya termasuk berbagai agen infeksi iritan kimia dan terapi radiasi. Penyebab
pneumonia antara lain :
a. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa) yakni Streptococcus
pneumoniae, Staphylococcus aureus, Legionella, dan Hemophilus influenzae.
b. Virus : virus influenza, chicken-pox (cacar air).
c. Organisme mirip bakteri : Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak-anak dan dewasa
muda).
d. Jamur tertentu
Pneumonia juga bisa terjadi setelah pembedahan (terutama pembedahan perut) atau cedera
(terutama cedera dada), sebagai akibat dari dangkalnya pernafasan, gangguan terhadap
kemampuan batuk dan lendir yang tertahan. Yang sering menjadi penyebabnya adalah
Staphylococcus aureus, pneumokokus, Hemophilus influenzae atau kombinasi ketiganya.
Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri, yang tersering yaitu
bakteri Streptococcus pneumoniae pneumococcus. Pneumonia pada anak-anak paling sering
disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia
sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae .

TANDA DAN GEJALA


Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah:
a. Batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan atau seperti nanah) .
b. Nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik nafas dalam
atau terbatuk) .
c. Menggigil
d. Demam
e. Mudah merasa lelah
f. Sesak nafas
g. Sakit kepala
h. Nafsu makan berkurang
i. Mual dan muntah .
j. Merasa tidak enak badan
k. Kekakuan sendi
l. Kekakuan otot.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan antara lain kulit lembab, batuk darah, pernafasan
yang cepat, cemas, stress, tegang dan nyeri perut .

PATOFISIOLOGI
Pneumonia bakteri terjadi akibat inhalasi mikroba yang ada di udara. Aspirasi
organisme dari nasofaring ( penyebab pneumonia bacterial yang paling sering ) atau
penyebaran hematogen dari focus infeksi yang jauh. Bakteri yang masuk melalui saluran
pernafasan, masuk bronkiolus dan alveoli lalu menimbulkanreaksi peradangan hebat dan
menimbulkan reaksi peradangan hebat dan menghasilkan cairan edema yang kaya protein
dalam alveoli dan jaringan intrastitial.
Bakteri pneumokokus dapat meluas melalui porus Kohn dari alveoli ke alveoli di
seluruh segmen / lobus. Timbulnya hepatisasi merah adalah akibat perembesan eritrosit dan
beberapa leukosit dari kapiler paru. Alveoli dan septa menjadi penuh dengan cairan edema
yang berisi eritrosit dan fibrin. Serta relative sedikit leukosit sehingga kapiler alveoli menjadi
melebar. Paru menjadi tidak berisi udara lagi, kenyal, dan berwarna merah. Pada tingkat
lanjut, aliran darah menurun, alveoli penuh dengan leukosit, dan relative sedikit eritrosit.
Bakteri pnuemokokus di fagositosis oleh leukosit dan sewaktu resolusi berlangsung, makrofag
masuk ke dalam alveoli dan menelan leukosit bersama bakteri pnuemokukos didalamnya.
Paru masuk dalam tahap hepatisasi abu abu dan tampak berwarna abu abu kekuning
kuningan. Secara perlahan lahan sel darah merah yang mati dan eksudat fibrin dibuang
dari alveoli. Terjadi resolusi sempurna, paru menjadi normal kembali tanpa kehilangan
kemampuannya dalam melakukan pertukaran gas.
Tidak terjadinya pneumonia pada orang normal yang sehat adalah akibat adanya
mekanisme pertahanan yang terdiri ats refleks glottis dan batuk, lapisan mucus dan gerakan
silia yang mengeluarkan organisme yang melekat pada lapisan mucus tersebut, dan sekresi
humoral setempat. Sel sel yang melapisi trakeobronkhial menghasilkan zat kimia yang
mempunyai sifat anti mikroba yang tidak spesifik meliputi :
1. Lisozim, suatu enzim yang menghancurkan bakteri terutama jika ada komplemen.
2. Laktoferin, suatu ikatan besi dengan glikoprotein yang mempunyai sifat bakteriostatik.
3. Interferon, suatu protein dengan berat molekul rendah dengan aktivitas antivirus.
KLASIFIKASI
Pneumonia dikelompokkan berdasarkan sejumlah sistem yang berlainan. Salah satu
diantaranya adalah berdasarkan cara diperolehnya, dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu
"community-acquired" (diperoleh diluar institusi kesehatan) dan "hospital-acquired"
(diperoleh di rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya).
Pneumonia yang didapat diluar institusi kesehatan paling sering disebabkan oleh
Streptococcus pneumoniae. Pneumonia yang didapat di rumah sakit cenderung bersifat lebih
serius karena pada saat menjalani perawatan di rumah sakit, sistem pertahanan tubuh
penderita untuk melawan infeksi seringkali terganggu. Selain itu, kemungkinannya terjadinya
infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah lebih besar.
Secara klinis, pneumonia dapat terjadi baik sebagai penyakit primer maupun sebagai
komplikasi dari beberapa penyakit lain. Secara morfologis pneumonia dikenal sebagai berikut:
Pneumonia lobaris, melibatkan seluruh atau satu bagian besar dari satu atau lebih lobus paru.
Bila kedua paru terkena, maka dikenal sebagai pneumonia bilateral atau ganda.
Bronkopneumonia, terjadi pada ujung akhir bronkiolus, yang tersumbat oleh eksudat
mukopurulen untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus yang berada didekatnya,
disebut juga pneumonia loburalis.
Pneumonia interstisial, proses inflamasi yang terjadi di dalalm dinding alveolar (interstisium)
dan jaringan peribronkial serta interlobular.
Pneumonia lebih sering diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, virus, atipikal
(mukoplasma), bakteri, atau aspirasi substansi asing. Pneumonia jarang terjadi yang mingkin
terjadi karena histomikosis, kokidiomikosis, dan jamur lain.
Pneumonia virus, lebih sering terjadi dibandingkan pneumonia bakterial. Terlihat pada anak
dari semua kelompok umur, sering dikaitkan dengan ISPA virus, dan jumlah RSV untuk
persentase terbesar. Dapat akut atau berat. Gejalanya bervariasi, dari ringan seperti demam
ringan, batuk sedikit, dan malaise. Berat dapat berupa demam tinggi, batuk parah, prostasi.
Batuk biasanya bersifat tidak produktif pada awal penyakit. Sedikit mengi atau krekels
terdengar auskultasi.
Pneumonia atipikal, agen etiologinya adalah mikoplasma, terjadi terutama di musim gugur
dan musim dingin, lebih menonjol di tempat dengan konsidi hidup yang padat penduduk.
Mungkin tiba-tiba atau berat. Gejala sistemik umum seperti demam, mengigil (pada anak yang
lebih besar), sakit kepala, malaise, anoreksia, mialgia. Yang diikuti dengan rinitis, sakit
tenggorokan, batuk kering, keras. Pada awalnya batuk bersifat tidak produktif, kemudian
bersputum seromukoid, sampai mukopurulen atau bercak darah. Krekels krepitasi halus di
berbagai area paru.
Pneumonia bakterial, meliputi pneumokokus, stafilokokus, dan pneumonia streptokokus,
manifestasi klinis berbeda dari tipe pneumonia lain, mikro-organisme individual menghasilkan
gambaran klinis yang berbeda. Awitannya tiba-tiba, biasanya didahului dengan infeksi virus,
toksik, tampilan menderita sakit yang akut , demam, malaise, pernafasan cepat dan dangkal,
batuk, nyeri dada sering diperberat dengan nafas dalam, nyeri dapat menyebar ke abdomen,
menggigil.
Berdasarkan usaha terhadap pemberantasan pneumonia melalui usia, pneumonia
dapat diklasifikasikan:
Usia 2 bulan 5 tahun
a. Pneumonia berat, ditandai secara klinis oleh sesak nafas yang dilihat dengan adanya tarikan
dinding dada bagian bawah.
b. Pneumonia, ditandai secar aklinis oleh adanya nafas cepat yaitu pada usia 2 bulan 1 tahun
frekuensi nafas 50 x/menit atau lebih, dan pada usia 1-5 tahun 40 x/menit atau lebih.
c. Bukan pneumonia, ditandai secara klinis oleh batuk pilek biasa dapat disertai dengan demam,
tetapi tanpa terikan dinding dada bagian bawah dan tanpa adanya nafas cepat.

Usia 0 2 bulan
a. Pneumonia berat, bila ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau nafas cepat yaitu
frekuensi nafas 60 x/menit atau lebih.
b. Bukan pneumonia, bila tidak ada tarikan kuat dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas
cepat.
Menurut Depkes RI (2002) klasifikasi pneumonia menurut program P2 ISPA antara lain
:
a. Pneumonia sangat berat
Ditandai dengan sianosis sentral dan tidak dapat minum.
b. Pneumonia berat
Ditandai dengan penarikan dinding dada, tanpa sianosis dan dapat minum.
c. Pneumonia sedang
Ditandai dengan tidak ada penarikan dinding dada dan pernafasan cepat.
Klasifikasi pneumonia atas dasar anatomis dan etiologis, antara lain :
1. Pembagian anatomis
a. Pneumonia lobaris
b. Pneumonia lobularis (bronchopneumonia).
c. Pneumonia interstitialis (brochitis)
2. Pembagian etiologis:
a. Bakteria : diplococcus pneumoniae, pneumococcus, streptococcus nerus, dll.
b. Virus : respiratory syncytial virus, virus influensa, adenovirus, dll
c. Mycoplasma pneumonia
d. Jamur : aspergillus species, candida albicans, dll
e. Aspirasi : karosen, makanan, cairan amnion, benda asing.
f. Pneumonia hipostatik.
g. Sindrom loeffler
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang menurut Betz dan Sowden (2002) dapat dilakukan antara lain
:
a. Kajian foto thorak diagnostic, digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru dan status
pulmoner (untuk mengkaji perubahan pada paru).
b. Nilai analisa gas darah, untuk mengevaluasi status kardiopulmoner sehubungan dengan
oksigenasi.
c. Hitung darah lengkap dengan hitung jenis untuk menetapkan adanya anemia, infeksi dan
proses inflamasi.
d. Pewarnaan gram (darah) untuk seleksi awal antimikroba.
e. Tes kulit untuk tuberkulin mengesampingkan kemungkinan TB jika anak tidak berespons
terhadap pengobatan.
f. Jumlah leukosit leukositosis pada pneumonia bacterial
g. Tes fungsi paru, digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan beratnya
penyakit dan membantu mendiagnosis keadaan.
h. Spirometri statik, digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi.
i. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agens penyebabnya seperti virus dan
bakteri.
j. Kultur cairan pleura spesimen cairan dari rongga pleura untuk menetapkan agens penyebab
seperti bakteri dan virus.
k. Bronkoskopi, digunakan untuk melihat dan memanipulasi cabang-cabang utama dari pohon
trakeobronkhial; jaringan yang diambil untuk diuji diagnostik, secara terapeutik digunakan
untuk menetapkan dan mengangkat benda asing.
l. Biopsi paru selama torakotomi, jaringan paru dieksisi untuk melakukan kajian diagnostik.
Sedangkan menurut Engram (1998) pemeriksaan penunjang meliputi :
a. Pemeriksaan laboratorium :
3. Leukosit, umumnya pneumonia bakteri didapatkan leukositosis dengan predominan
polimorfonuklear. Leukopenia menunjukkan prognosis yang buruk.
4. Cairan pleura, eksudat dengan sel polimorfonuklear 300-100.000/mm. Protein di atas 2,5 g/dl
dan glukosa relatif lebih rendah dari glukosa darah.
5. Titer antistreptolisin serum, pada infeksi streptokokus meningkat dan dapat menyokong
diagnosa.
6. Kadang ditemukan anemia ringan atau berat.
b. Pemeriksaan mikrobiologik
1. Spesimen: usap tenggorok, sekresi nasofaring, bilasan bronkus atau sputum darah, aspirasi
trachea fungsi pleura, aspirasi paru.
2. Diagnosa definitif jika kuman ditemukan dari darah, cairan pleura atau aspirasi paru.
3. Pemeriksaan imunologis
Sebagai upaya untuk mendiagnosis dengan cepat. Mendeteksi baik antigen maupun antigen
spesifik terhadap kuman penyebab.
4. Spesimen: darah atau urin.
5. Teknik lain: Conunter Immunoe Lectrophorosis, ELISA, latex agglutination, atau latex
coagulation.
c. Pemeriksaan radiologis, gambaran radiologis berbeda-beda untuk tiap mikroorganisme
penyebab pneumonia.
1. Pneumonia pneumokokus: gambaran radiologiknya bervariasi dari infiltrasi ringan sampai
bercak-bercak konsolidasi merata (bronkopneumonia) kedua lapangan paru atau konsolidasi
pada satu lobus (pneumonia lobaris). Bayi dan anak-anak gambaran konsolidasi lobus jarang
ditemukan.
2. Pneumonia streptokokus, gambagan radiologik menunjukkan bronkopneumonia difus atau
infiltrate interstisialis. Sering disertai efudi pleura yang berat, kadang terdapat adenopati
hilus.
3. Pneumonia stapilokokus, gambaran radiologiknya tidak khas pada permulaan penyakit.
Infiltrat mula=mula berupa bercak-bercak, kemudian memadat dan mengenai keseluruhan
lobus atau hemithoraks. Perpadatan hemithoraks umumhya penekanan (65%), < 20%
mengenai kedua paru.
PENATALKASANAAN MEDIK dan PENCEGAHAN
Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-
oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah. Penderita yang lebih tua dan penderita dengan
sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik
diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat
bantu nafas mekanik. Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan
dan keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu .
Engram (1998) menyatakan bahwa penatalaksanaan medis umum terdiri dari :
a. Farmakoterapi : antibiotik (diberikan secara intravena), ekspektoran, antipiretik dan analgetik.
b. Terapi oksigen dan nebulisasi aerosol.
c. Fisioterapi dada dengan drainage postural.
Dalam melakukan terapi pada penderita pneumonia, yang perlu diperhatikan antara lain :
a. Perhatikan hidrasi.
b. Berikan cairan i.v sekaligus antibiotika bila oral tidak memungkinkan.
c. Perhatikan volume cairan agar tidak ada kelebihan cairan karena seleksi ADH juga akan
berlebihan.
d. Setelah hidrasi cukup, turunkan ccairan i.v 50-60% sesuai kebutuhan.
e. Disstres respirasi diatasi dengan oksidasi, konsentrasi tergantung dengan keadaan klinis
pengukuran pulse oksimetri.
Pengobatan antibiotik:
a. Penisillin dan derivatnya. Biasanya penisilin S IV 50.000 unit/kg/hari atau penisilil prokain i.m
600.000 V/kali/hari atau amphisilin 1000 mg/kgBB/hari . Lama terapi 7 10 hari untuk kasus
yang tidak terjadi komplikasi.
b. Amoksisillin atau amoksisillin plus ampisillin. Untuk yang resisten terhadap ampisillin.
c. Kombinasi flukosasillin dan gentamisin atau sefalospirin generasi ketiga, misal sefatoksim.
d. Kloramfenikol atau sefalosporin. H. Influensa, Klebsiella, P. Aeruginosa umumnya resisten
terhadap ampisillin dan derivatnya. Dapat diberi kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari aatu
sefalosporin.
e. Golongan makrolit seperti eritromisin atau roksittromisin. Untuk pneumonia karena M.
Pneumoniae. Roksitromisin mempenetrasi jaringan lebih baik dengan rasio konsentrasi
antibiotik di jaringan dibanding plasma lebih tinggi. Dosis 2 kali sehari meningkatkan
compliance dan efficacy.
f. Klaritromisin. Punya aktivitas 10 kali erirtomisin terhadap C. pneumonie in vitro dan
mempenetrasi jaringan lebih baik.
PENCEGAH
Untuk orang-orang yang rentan terhadap pneumonia, latihan bernafas dalam dan
terapi untuk membuang dahak, bisa membantu mencegah terjadinya pneumonia
(www.sehatgroup.we.id). Vaksinasi bisa membantu mencegah beberapa jenis pneumonia
pada anak-anak dan orang dewasa yang beresiko tinggi yakni :
a. Vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena Streptococcus pneumoniae)
b. Vaksin flu
c. Vaksin Hib (untuk mencegah pneumonia karena Haemophilus influenzae type b).
Upaya pencegahan merupakan komponen strategis dalam pemberantasan pneumonia
pada anak; terdiri dari pencegahan melalui imunisasi dan upaya pencegahan non-imunisasi.
Program Pengembangan Imunisasi (PPI) yang meliputi imunisasi DPT dan campak yang telah
dilaksanakan pemerintah selama ini dapat menurunkan proporsi kematian balita akibat
pneumonia. Hal ini dapat dimengerti karena campak, pertusis dan juga difteri bisa juga
menyebabkan pneumonia atau merupakan penyakit penyerta pada pneumonia balita. Di
samping itu, sekarang telah tersedia vaksin Hib dan vaksin pneumokokus konjugat untuk
pencegahan terhadap infeksi bakteri penyebab pneumonia dan penyakit berat lain seperti
meningitis. Namun vaksin ini belum masuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI)
Pemerintah.
Yang tidak kalah penting sebenarnya adalah upaya pencegahan non-imunisasi yang
meliputi pemberian ASI eksklusif, pemberian nutrisi yang baik, penghindaran pajanan asap
rokok, asap dapur dIl; perbaikan lingkungan hidup dan sikap hidup sehat; yang kesemuanya itu
dapat menghindarkan terhadap risiko terinfeksi penyakit menular termasuk penghindaran
terhadap pneumonia (Said 2007).
KOMPLIKASI
Menurut Engram (1998) dan Betz dan Sowden (2002) komplikasi yang sering terjadi
menyertai pneumonia adalah abses paru, efusi pleural, empiema, gagal nafas, perikarditis,
meningitis, pneumonia interstitial menahun, atelektasis segmental atau lobar kronik,
atelektasis persiten, rusaknya jalan nafas, kalsifikasi paru, fibrosis paru, bronkitis obliteratif
dan bronkiolitis. Pada pasien usia lanjut usia risiko terjadinya komplikasi tinggi sebab struktur
sistem pulmonal telah berubah karena proses penuaan (komplain jaringan paru menurun,
kemampuan batuk efektif menurun dan kemampuan ekspansi paru menurun sebagai akibat
dari kalsifikasi kartilago vertebra.

DAFTAR PUSTAKA
Betz, C. L., & Sowden, L. A 2002, Buku saku keperawatan pediatri.RGC: Jakarta.

Depkes RI 2002, Pedoman penanggulangan P2 ISPA, Depkes RI, Jakarta.

Doenges, Marilynn, E., 2002, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, EGC, Jakarta.

Engram, B 1998, Rencana asuhan keperawatan medikal bedah, Volume 1, EGC, Jakarta.

Hidayat, A. A., 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Salemba Medika: Jakarta.

Iqbal, 2007, Sistem Pernafasan dan Penyakitnya, Artikel diakses dari www.sehatgroup.com

Mansjoer, Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius FK-UI, Jakarta.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan sistem pernafasan. Jakarta
: Salemba Medika

Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit. EGC, Jakarta.

Sacharin, R. M., 2000, Prinsip Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta.

Said, M 2007. Pneumonia penyebab utama mortalitas anak balita di indonesia, Retrieved
December 7, from http://www.idai.or.id.htm.
Diposting oleh githawika di 06.06
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

1 komentar:

1.

mybisnis26 Februari 2016 08.25