Anda di halaman 1dari 3

1.

ORGANISASI SEBAGAI TEMPAT IBADAH


Kerja adalah ibadah , jika kerja diposisikan sebagai ibadah , maka selain
keuntungan dunia yang dicari juga kebahagiaan akhirat . adanya visi akhirat
menyebabkan seseorang bisa mengarahkan tujuannya dengan lebih baik. Orang
yang menjadikan kerja nya adalah ibadah akan mengawalinya dengan niat yang
baik, mengusahakan hasil yang baik, dan dia meyakini bahwa hasil yang baik
hanya diperoleh dari dengan cara yang baik. Cara yang baik adalah cara-cara yang
di benarkan oleh agama dan sesuai dengan hati nurani serta etika bisnis yang
berlaku selama ini .
Seseorang yang menetapkan bahwa kerja adalah ibadah , orang tersebut
akan menghasilkan kualitas kerja yang profesional dan tidak asal-asalan. Orang
yang memosisikan bahwa kerja sebagai ibadah tidak akan mungkin melakukan
kecurangan dan korupsi, dia yakin bahwa Allah SWT Maha Melihat .
Dalam catatan lain mengatakan bahwa kita memosisikan bahwa bekerja
sebagai ibadah adalah orang yang memiliki kecerdasan spiritual. Kecerdasan
spiritual sendiri adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap
perilaku dan kegiata, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah ,
menuju manusia yang seutuhnya (hanif) , dan memiliki pola piker tauhidiah
(integralistik) , serta berprinsip Hanya Karena Allah
Keyakinan bahwa bekerja adalah ibadah membuat kita tidak terlalu pusing
akan gaji dan lain-lain. Dan juga membuat seseorang berfikir dan bervisi lebih
dari sekadar bekerja, tapi meyakini bahwa itu adalah bagian dari proses yang
besar dan bermanfaat.

1. TUJUAN DAN SASARAN PERUSAHAAN


Tujuan perusahaan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan oleh
perusahaan dalam jangka panjang. Pengertian Sasaran adalah hasil- hasil yang
ingin dicapai dalam jangka pendek. Jadi, tujuan dan sasaran dalam perusahaan
saling berkaitan dan saling berkesinambungan, perusahan pun harus berusaha
keras dalam mencapainya. Tujuannya antara lain Memberikan pondasi yang untuk
membangun integritas moral yang kokoh. Pengembangan etos kerja yang
berorientasi pada kemajuan dan keunggulan kinerja.
2. MODEL SPIRITUAL PERUSAHAAN
Spirit ibadah kepada Allah menjadi landasan bisnis yang sangat kokoh.
Karena, setiap aktivitas mendapatkan keuntungan yang selalu berkait erat kepada
Sang Pencipta (Creator). Itulah sebabnya tatanan kerja yang terbangun menjadi
lebih sakral dibanding sekadar mendapatkan keuntungan finansial semata.
Kekuatan inilah yang menjadi turbin penggerak semangat berjuang para
penganutnya (man). Karena, setiap langkah perjuangan menjadikan catatan
sejarah kehidupan yang abadi. Yang pasti, landasan peribadahan dalam
perjuangan di lahan bisnis harus menuju pada terciptanya dan terbaginya
kemakmuran secara adil (creation) kepada semua pihak yang terlibat. Yaitu, crew
(karyawan), customer (pelanggan), capital provider (pemilik modal), dan
community (masyarakat).

3. SPIRITUAL DAN KEUNGGULAN ORGANISASI


Kini, semakin banyak perusahaan yang menyandarkan aktivitasnya pada
aspek spiritualitas (menjadi spiritual company). Berkebalikan dengan perusahaan
yang mengabaikan faktor spiritual dalam operasionalnya, perusahaan-perusahaan
yang melandaskan aktivitasnya pada nilai-nilai spiritual terbukti mampu bertahan
dan berkembang secara baik. Secara umum, diidentifikasikan ada enam manfaat
yang didapat perusahaan dengan menyandarkan bisnisnya pada aspek spiritualitas.

Pertama, perusahaan akan jauh dari berbagai kecurangan (fraud) yang


mungkin terjadi akibat 'menghalalkan segala cara'. Karena, dari sinilah
kebangkrutan perusahaan dimulai. Kedua, meningkatnya produktivitas dan kinerja
perusahaan. Ketiga, terbangunnya suasana kerja yang harmonis atau hadirnya
sinergi di antara karyawan dan pimpinan perusahaan. Keempat, meningkatnya
citra (image) positif perusahaan. Kelima, perusahaan menjadi tumbuh dan
berkembang secara berkesinambungan (sustainable company). Keenam,
menurunkan perpindahan (turnover) karyawan.

Secara sadar, perusahaan diposisikan sebagai sebuah organisme yang


berdiri di atas akar rumput dan menyandang misi spiritualitas. Kehadirannya
bukan hanya sekadar untuk mendapatkan keuntungan bagi pribadi-pribadi semata.
Lebih dari itu, keberadaannya bertujuan untuk mengangkat marwah manusia
secara keseluruhan. Pendekatannya bukan hanya pragmatis semata. Jauh dari itu,
paradigma yang dibentuk adalah membangun peradaban.