Anda di halaman 1dari 20

Nama : Desbin Raja Irsanto Siallagan

NIM : 1501113385

Mata Kuliah : Politik Global China

Tiongkok & Politik Internasional

Dalam konstelasi politik dan ekonomi internasional, hingga kini

Amerika Serikat (AS) masih memegang posisi dominan. Akan tetapi,

belakangan ini muncul beberapa pesaing, yang lantas menyebabkan

pengaruh AS mulai sedikit berkurang. Pesaing yang disebut-sebut paling

memiliki kesempatan besar untuk menjadi pemain dominan dalam politik

dan ekonomi internasional adalah Cina, sebuah negara dengan jumlah

penduduk mencapai 1,3 bilyun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi

yang semakin pesat. Dominannya Cina dalam dunia internasional tidak

terjadi begitu saja. Jika mau ditilik dari sejarah, awalnya Cina tidak terlalu

dominan. Akan tetapi, setelah Cina fokus untuk mengembangkan

pembangunan ekonomi dan mulai melakukan modernisasi, Cina lalu

berkembang dengan pesat. Perkembangan pesat Cina tersebut antara

lain terjadi dari sisi perdagangan, manufaktur, investasi, tingkat tabungan,

dan berbagai perkembangan lain. Fareed Zakaria dalam tulisannya yang

berjudul The Challenger kemudian membahas mengenai

perkembangan Cina dalam dunia internasional, dan bagaimana AS

sebagai kekuatan utama dunia menyikapinya.

1|Tiongkok & Politik Internasional


Cina yang berdiri sebagai negara komunis-sosialis melakukan

suatu kebijakan yang melangkahi aturan ideologi Cina sendiri. Namun hal

ini malah berdampak positif pada perekonomian Cina. Sosialisme dengan

karakteristik Cina, kemudian dianggap sebagai salah satu legitimasi bagi

diterapkannya sistem ekonomi pasar dari paham kapitalis menggantikan

sistem ekonomi terpusat yang selama itu telah ditetapkan, dan terbukanya

Cina bagi investasi asing. Oleh Karena itu pada tahun 1980 Cina

menciptakan Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones), yaitu di

Propinsi Guangdong (kabupaten Shenzhen, Zhuhai, Shantou) dan Fujian

(Pulau Xiamen). Para penanam modal asing di zona ekonomi tersebut

mendapat pelbagai keringanan pajak, juga tersedia pelbagai prasarana

seperti : jalan raya, tenaga listrik, dan pelabuhan.

Reformasi ekonomi Cina dimulai dengan sektor pertanian dengan

inti gerakan reformis pada penekanan hak-hak milik terutama atas tanah,

liberalisasi harga produk pertanian dan pengembangan pasar domestik.

Pada masa ini, sumbangan modal asing dan perdagangan internasional

relatif tidak berarti bagi pertumbuhan ekonomi Cina. Sampai sekitar tahun

1995, komposisi tenaga kerja sekitar 80% berada di sektor pertanian.

Pada tahun 2000, angka tersebut menurun menjadi sekitar 70% dari

sekitar 711,5 juta angkatan kerja di tahun 2000, 499 juta penduduk

bekerja di sektor pertanian. Sebanyak 150 juta orang dari angka ini

diperkirakan migrasi ke daerah kota untuk mencari pekerjaan yang

menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi. Dari survey pertanian di

tahun 1996, sekitar 25% yang hidup di pedesaan tidak bekerja sebagai

2|Tiongkok & Politik Internasional


petani tetapi bekerja di industri pedesaan/rumah tangga atau jasa-jasa.

Masuknya investasi asing dan peranan perdagangan internasional di

tahun 1980-an pada perekonomian Cina menyebabkan tumbuhnya

industri-industri di wilayah perkotaan.

Pada Februari 1992, Deng Xiaoping melakukan perjalanan ke selatan.

Perjalanan ini ditengarai sebagai tonggak penentu dari sejarah Cina

modern karena ucapan Deng selama perjalanan itu memberi pencerahan

besar kepada semua pemimpin rakyat Cina untuk meneruskan

keterbukaan dan meneruskan pembangunan ekonomi. Sejak saat itu,

kemajuan demi kemajuan ekonomi dilaporkan baik dari Cina sendiri

maupun dari luar negeri.20 Dalam buku yang berjudul Charting China's

Future : Political, Social, and International Dimensions, menurut Jae Ho

Chung (2006) kesuksesan reformasi ekonomi Cina terkait pada 5 (lima)

proses, yaitu : 1) Desentralisasi; 2) Marketisasi adalah berorientasi pada

mekanisme pasar; 3) Diversifikasi kepemilikan adalah penganekaragaman

kepemilikan; 4) Liberalisasi tidak hanya di bidang ekonomi tapi juga

pemikiran; 5) Internasionalisasi.

Dalam tulisannya, Fareed Zakaria menjelaskan mengenai peran

dominan dari pemerintah Cina yang berhasil menjadikan Cina sebagai

negara yang maju secara ekonomi. Pemerintah Cina, yang menjalankan

prinsip pragmatisme dan kompetensi, telah berhasil membawa Cina ke

dalam suatu bentuk kapitalisme dengan karakteristik Cinakapitalisme

dengan memberikan peran besar pada pemerintah, melalui besarnya

3|Tiongkok & Politik Internasional


peran state-owned enterprises dalam mengelola perekonomiannya.

Dominannya pemerintah Cina ini juga ternyata memberikan dampak

negatif berupa terciptanya gap antara pemerintah dan rakyat Cina, yang

lantas menyebabkan munculnya tekanan sosial di mana-mana. Fareed

Zakaria menamakan masalah ini sebagai desentralisasi spiral (spiraling

decentralization), masalah yang ia nilai merupakan masalah besar yang

harus dipecahkan Cina di masa depan. Dalam memecahkan masalah

desentralisasi spiral ini, lanjut Zakaria, Cina telah menuju ke arah yang

benar; reformasi ekonomi telah membawa Cina ke arah keterbukaan dan

akuntabilitas, kebebasan individu juga kini mulai diakui. Terlalu dini

mungkin untuk memprediksi apakah Cina akan menjadi demokratis di

masa depan, yang jelas kini Cina semakin menunjukkan tanda-tanda yang

semakin positif, dengan mengkombinasikan partisipasi masyarakat

dengan hirarki dan kontrol elitrejim yang dinamakan oleh Zakaria

sebagai mixed regime. Langkah yang positif menuju reformasi politik

Cina.

Menyinggung masalah kondisi domestiknya, Cina memang kini

sedang berbenah memperbaiki kondisi domestiknya. Fokus strategi politik

internasional Cina lebih diarahkan untuk memaksimalkan

pertumbuhannya, bukan untuk memperluas pengaruh Cina dalam dunia

internasional. Untuk mencapai pertumbuhan ekonominya, Cina terus

membangun hubungan baik dengan negara-negara dunia; Cina juga

cenderung menghindari konflik dengan negara-negara dunia, dan

karenanya permasalahan politik luar negeri merupakan hal yang agak

4|Tiongkok & Politik Internasional


sensitif bagi Cina. Cina lebih suka menyembunyikan cahayanya dengan

menjalankan prinsip-prinsip non-intervensi dan non-konfrontasi. Prinsip

non-intervensi dan non-konfrontasi Cina ini diwujudkan melalui terminologi

peaceful rise, yang kemudian dijadikan salah satu bentuk politik luar

negeri Cina. Bentuk politik luar negeri Cina yang lain adalah Christian

Confucians, yang mengacu pada bagaimana Cina menjalankan pola

pemikiran Barat dalam menjalankan perekonomiannya, yaitu secara

modern dan rasional; dengan tetap memegang prinsip-prinsip

Konfusianisme yang mengacu pada etika, moralitas, dan keadilan dalam

kehidupan politiknya.

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Cina menganut prinsip

peaceful rise dan Christian Confucians, yang berarti seharusnya

Cina tidak akan berusaha untuk memperluas kekuasaannya. Akan tetapi,

berbagai usaha yang telah dilakukan Cina dalam pencarian sumber energi

dan sumber bahan mentah, pada akhirnya akan membawa Cina semakin

ke arah ekspansionis. Hal ini ditunjukan melalui hubungan yang semakin

solid antara Cina dan negara-negara di Benua Afrika, di mana Cina

banyak memberikan pinjaman finansial pada negara-negara Afrika

seperti Zimbabwe, Sudan, dan Afrika Selatanyang lantas menimbulkan

friksi antara Cina dengan great power lain yang juga ingin mendekati

Afrika. Bantuan finansial itu pun terkadang diberikan dengan cuma-cuma,

yang membuat motif netralitas Cina dipertanyakan. Kerjasama juga

dilakukan Cina pada negara-negara Asia, di mana Cina semakin aktif

melancarkan diplomasi dan soft power-nya. Cina yang tadinya dinilai

5|Tiongkok & Politik Internasional


sebagai tetangga yang bermasalah, mulai menjadi lebih bersahabat,

sabar, berprospek jangka panjang, lebih akomodatif, dan lebih mau

terlibat dalam kerja sama regional; perubahan positif yang membuat Cina

semakin disambut di Asia.

Sejak tahun 2005 perkembangan ekonomi, perdagangan dan

industri Cina mengalami peningkatan, begitu pula dampak keanggotaan

Cina di World Trade Organization (WTO) juga telah memberikan arti yang

positif, terintergrasinya kegiatan perekonomian, perdagangan dan industri

Cina dengan pasar global menyebabkan terjadinya ekspansi besar-

besaran dari industri manufaktur Cina ke seluruh dunia, maka pada tahun

2005 perkembangan ekonomi Cina ditandai dengan sebagai worlds

foremost manufacturing base,sehingga menjadi salah satu negara

terkemuka di Asia. Tiga implikasi penting dari perkembangan ekonomi

Cina yang bercirikan pada industri manufaktur dan teknologi tinggi, yaitu :

1. Perekonomian Cina dapat dikatakan sudah masuk dalam taraf

berorientasi pada mekanisme pasar.

2. Perekonomian Cina tidak saja amat besar dalam ukurannya

dibanding periode 1990-an, tapi strukturnya juga berbeda, dan

dapat dikatakan perekonomian Cina kini lebih maju.

3. Faktor dan peran political imperative of high economic growth,

yang telah menjadi satu kesatuan yang cukup kuat bagi proses

pembangunan Cina.

6|Tiongkok & Politik Internasional


Dalam mendukung kebijakan ekonomi Cina yang bersifat

industrialis atau worlds foremost manufacturing base, pemerintah Cina

melakukan berbagai reformasi yang pada intinya pertumbuhan ekonomi

harus memperkuat legitimasi politik pemerintah, hal ini ditandai dengan

reformasi perusahaan pemerintah, pembangunan non-state enterprise,

perkembangan small and medium enterprise, dan reformasi sistem

perbankan.

Semua Reformasi yang menyangkut Perusahaan Pemerintah

(SOE atau Stated Own Enterprise) berhubungan dengan dua kata kunci

yaitu power-delegating and profit sharing (fangquan rangli), kedua hal

tersebut menjadi penting dalam mengatasi berbagai masalah yang biasa

terjadi pada SOE, untuk mengatasi hal-hal tersebut terdapat beberapa hal

yang harus menjadi prioritas antara lain, (a) kekuatan pengambilan

keputusan terkosentrasi pada pemerintah pusat, (b) pemerintah

mengimplementasikan intervensi administratif pada pihak pengusaha, (c)

para manajer dan pekerjanya bersifat menyesuaikan kebijakan dengan

keinginan pemerintah, (d) Partai maupun organ tertentu dari pemerintah

dapat menunjuk orang tertentu di SOE.

Sistem ekonomi terpusat yang dianut Cina terdapat beberapa

karakteristik dari sistem uang yaitu uang adalah atau hanya finansial,

uang adalah pasif dimana hanya digunakan untuk harga (pricing) dan

pencatatan (accounting), bank hanya berfungsi sebagai kasir termasuk

untuk pembayaran pajak dan lain-lain, individu maupun rumah tangga

7|Tiongkok & Politik Internasional


tidak diperbolehkan berpartisipasi pada kegiatan finansial, kecuali

membuka deposit accounts. Cina juga melakukan pengembangan dan

perbaikan pasar uang dengan fokus sebagai berikut ; (a)

mengembangkan pasar modal yang sesuai dengan apa yang sudah

berjalan di negara-negara maju lainnya, (b) mengembangkan pasar uang

dengan mengembangkan pinjaman antar bank dan pemberian diskon

pada surat berharga (commercial papers), (c) memberikan dukungan

penuh pada berbagai organisasi penghubung dibidang pelayanan,

komunikasi, notarisasi dan supervisi, (d) mereformasi sistem mata uang

asing.

Cina menunjukkan kebijakan ekonomi dan perdagangannya

demikian aktif dan progresif sejak tahun 1980-an, perkembangan tersebut

dari waktu ke waktu menunjukan peningkatan kuantitas dan kualitas,

pertumbuhan ekonomi terus mengalami peningkatan kemajuan yang

cukup signifikan. Demikian pula dalam hal perkembangan perdagangan

Cina yang tidak hanya meningkat tapi juga muncul sebagai one of giant

market. Globalisasi perdagangan mengakibatkan liberalisasi lintas barang

dan jasa menjadi tidak terbatasi. Dalam hal ini faktor tersebut bisa

dimanfaatkan oleh Cina sehingga mengakibatkan negara Cina menjadi

pionir di dalam perdagangan internasional khususnya di kawasan Asia.

Perkembangan Cina yang semakin pesat, baik dari segi ekonomi

maupun dari segi politik melalui soft power diplomacy-nya yang semakin

akomodatif, menjadikan Cina sebagai lawan yang berdiri sejajar dengan

8|Tiongkok & Politik Internasional


AS dalam konstelasi politik internasional. Kemajuan pesat Cina tersebut

lantas melahirkan kekhawatiran pada beberapa kalangan AS, yang mulai

melihat Cina sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional AS.

Keberadaan Cina sebagai ancaman ini, lanjut Zakaria, lebih merupakan

ancaman yang sifatnya asymmetrical superpower, di mana Cina akan

menunjukkan kekuatannya bukan dalam hal militer, melainkan lebih ke

kekuatan ekonomi dan kekuatan non-militer lain. Kekuatan Cina dalam

hal-hal non-militer inilah yang sulit diatasi AS, yang selama ini cenderung

menggunakan kapabilitas militernya untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Pergerakan Cina yang pelan namun pasti dalam menarik simpati dari

berbagai negara dunia melalui kekuatan ekonomi dan kekuatan non-

militernya, mau tidak mau merupakan ancaman besar bagi dominasi AS di

dunia internasional.

Pasca Perang Dingin, kekuatan kekuatan geopolitik baru muncul

dalam akhir tahun 1980-an, cenderung meningkatkan hubungan Cina-

ASEAN. Cina secara konsisten dan terbuka menyatakan sokongannya

kepada organisasi ASEAN, dan mengadakan forum diskusi terhadap issu

kepentingan Cina dan ASEAN. Perubahan hubungan Cina- ASEAN

dimulai setelah Deng Xiaoping melancarkan reformasi politik ekonominya.

Sejak akhir tahun 70-an, Deng membuat Cina mulai terbuka dengan dunia

luar dan mulai membuka pintu bagi investasi asing. Maka perdagangan

Cina-ASEAN telah melonjak menjadi 7%-8% dari total pendapatan Cina.

Selama bertahun-tahun, dua ciri utama telah masuk ke dalam struktur

perdagangan Cina-ASEAN. Pertama, pasar ASEAN merupakan saluran

9|Tiongkok & Politik Internasional


yang sangat penting bagi hasil pertanian dan produk industri ringan yang

diekspor Cina ke luar negeri. Kedua, Cina telah mengembangkan suatu

pola perdagangan yang tangguh dengan berusaha mencapai surplus

perdagangan dengan negara-negara berkembang dengan mendorong

ekspor beras, bahan pangan, produk-produk tradisional dan berbagai

barang manufaktur yang padat karya, sementara defisit perdagangan

dengan negara-negara industri dengan mengimpor pangan murah

(gandum), peralatan modal dan teknologi. Ada beberapa faktor yang

menyebabkan Cina membangun hubungan di bidang ekonomi dengan

ASEAN, yaitu :

1. Kebijakan Cina dalam hal berhubungan dengan tetangga secara

bersahabat

2. Kedekatan geografis dan sejarah serta budaya dengan ASEAN

3. Keterbatasan bahan mentah di Cina dan kepentingan nasional Cina

yang ingin menggantikan posisi hegemoni dalam perekonomian

dengan Jepang

Tahun 1982, perekonomian Cina telah secara progresif terbuka

terhadap perdagangan luar negeri yang lebih besar dan pemasukan

modal asing serta dibolehkan bereaksi terhadap kebebasan yang lebih

besar dari kekuatan-kekuatan pasar. Meningkatnya fleksibilitas politik dan

ekonomi mempermudah Cina memasuki kerjasama pembangunan

dengan ASEAN atas dasar non-ideologi, manfaat perdagangan itu tentu

saja timbal balik. Dari sudut pandang ASEAN, peningkatan perdagangan

10 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
dengan Cina dianggap sebagai salah satu cara terpenting untuk

mendiversifikasikan konsentrasi perdagangannya yang sangat geografis

itu. Pertumbuhan Cina-ASEAN pada umumnya adalah sesuai dengan

strategi diversifikasi pasar jangka panjang yang hendak dilaksanakan oleh

pemerintah negara-negara ASEAN. Secara keseluruhannya dipandang

dari perspektif ASEAN, perdagangan Cina- ASEAN adalah didasarkan

atas landasan ekonomis yang kuat. Bagi ASEAN, Cina adalah pasar

raksasa bagi produk yang dihasilkan ASEAN. Sementara ASEAN

merupakan pasar bagi produk Cina seperti tekstil, barang-barang

konsumen, sepeda motor, dan barang elektronik. ASEAN juga kawasan

menarik bagi para turis asal Cina. Lebih dari dua juta turis Cina

mengunjungi negara-negara ASEAN sepanjang tahun 2000.

Dinamika perluasan hubungan ekonomi Cina-ASEAN dipengaruhi

oleh kekuatan-kekuatan ekonomi internalnya sendiri dan prospek untuk

pertumbuhan perdagangan Cina-ASEAN sangat bergantung pada

keberhasilan usaha modernisasi Cina yang sedang berlangsung.Ekonomi

Cina tumbuh begitu cepat dalamperdagangan global dan manufaktur.

Antara tahun 1985-2003, Pertumbuhan ekonomi riil Cina tumbuh secara

konsisten yaitu dengan rata-rata pertumbuhan 9% setiap tahunnya. Pada

2004, pangsa perdagangan global Cina mencapai sekitar 6%. Pada tahun

2005 Cina sudah melesat melampaui sebagian besarnegara Eropa dalam

ukuran ekonomi, dan mengambil alih peran Jepang sebagai pedagang

tingkat dunia. Dengan kekuatan yang sedang meningkat, baik Cina

mencari peluang yang lebih besar melalui multilateralisme dan kerjasama

11 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
regional. Cina melihat ASEAN untuk kepentingan strategis Cina terutama

dalam hal perdagangan dan investasi. Keterlibatan dan partisipasi dalam

proses regional seperti ACFTA sangat penting dengan tujuan untuk

memperoleh manfaat dari kerjasama regional, membangun kekuatan yang

lebih besar, memainkan peranan, serta menjaga keseimbangan.

Reformasi Cina yang dicanangkan oleh Deng Xiaoping pada

tahun 1978, melalui program Reformasi dan Keterbukaan (Gaige Kaifang)

telah membawa Cina kepada sebuah sistem perekonomian baru ala Cina

yaitu sistem pasar-sosialis. Reformasi ini membuat Cina terbuka dengan

dunia luar dan membuka pintu bagi investasi asing. Oleh karena itu pada

tahun 1980 Cina menciptakan Zona Ekonomi Khusus (Special Economic

Zones), yaitu di Propinsi Guangdong (KabupatenShenzhen, Zhuhai,

Shantou) dan Fujian (Pulau Xiamen). Para penanam modal asing di zona

ekonomi tersebut mendapat berbagai keringanan pajak, juga tersedia

pelbagai prasarana seperti : jalan raya, tenaga listrik, dan pelabuhan.

Bahwa kunci kesuksesan reformasi ekonomi Cina terkait pada 5

(lima) proses, yaitu : 1) Desentralisasi; 2) Marketisasi; 3) Diversifikasi

kepemilikan; 4) Liberalisasi tidak hanya dibidang ekonomi tapi juga

pemikiran; 5) Internasionalisasi (Jae Ho Chung, 2006). Ini terlihat pada

tahun 2005 perkembangan ekonomi, perdagangan dan industri Cina

mengalami peningkatan, hal ini ditandai dengan Cina menjadi salah satu

negara worlds foremost manufacturing base di Asia. Dalam mendukung

kebijakan ekonomi Cina yang bersifat worlds foremost manufacturing

12 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
base, pemerintah Cina melakukan berbagai reformasi yaitu reformasi

perusahaan pemerintah, pembangunan Non-State Enterprise (NSE),

perkembangan Small and Medium Enterprise (SME), dan reformasi sistem

perbankan.

Tulisan Fareed Zakaria kurang membahas mengenai bagaimana

AS menyikapi kemunculan Cina tersebut dan bagaimana prospek

hubungan Cina-AS di masa depan, dua hal yang menurut penulis

merupakan hal yang penting dalam konstelasi politik internasional di masa

depan. Zakaria seperti hanya membahas mengenai kemajuan Cina yang

sangat pesatyang menjadikan Cina mampu berdiri sejajar dengan AS

sebagai kekuatan utama dunia. Akan tetapi, walaupun Zakaria kurang

membahas dengan jelas mengenai prospek hubungan Cina-AS di masa

depan, penulis menangkap dalam beberapa penjelasannya, Zakaria

cenderung pesimis dengan adanya kerjasama antara Cina-AS. Seperti

misalnya, Zakaria cenderung memberikan fakta-fakta yang menunjukkan

bahwa kekuatan Cina akan semakin berkembang serta Cina akan

semakin ekspansionis dalam memperluas pengaruhnya. Dua fakta

tersebut, lanjut Zakaria, lantas melahirkan ancaman dalam diri AS, serta

melahirkan ketakutan AS akan tergesernya posisinya sebagai kekuatan

utama dunia internasional. Penjelasan Zakaria tersebut, menurut penulis,

merupakan pandangan yang cenderung pesimis dalam memandang

prospek hubungan Cina-AS di masa depanpandangan yang cenderung

sesuai dengan perspektif Realisme dalam hubungan internasional, yang

selalu pesimis dengan adanya kerjasama dan percaya bahwa hubungan

13 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
internasional bersifat konfliktual. Penulis sendiri kurang setuju dengan

pandangan Fareed Zakaria tersebut. Meskipun tidak dapat dipungkiri

bahwa Cina semakin menunjukkan perkembangan yang pesatbaik

secara ekonomi, maupun secara soft power diplomacypenulis

cenderung percaya akan adanya kerjasama pada prospek hubungan

Cina-AS di masa depan, pandangan yang sejalan dengan pandangan

kaum liberal optimis. Adapun, menurut penulis, kerjasama antara Cina-AS

di masa depan akan berlandaskan pada tiga faktor utama yang saling

bergantung satu sama lain, yaitu adanya ketergantungan ekonomi,

keanggotaan dalam institusi internasional, serta demokratisasi1.

Faktor utama yang melandasi pemikiran penulis mengenai akan

adanya hubungan kerjasama solid antara Cina-AS di masa depan adalah

adanya ketergantungan ekonomi antar keduanya. Motif ini sebenarnya

sudah dibahas sedikit mengenai Fareed Zakaria, yang sepertinya juga

tidak dapat menyangkal bahwa di antara Cina dan AS terdapat saling

ketergantungan ekonomi yang dalam. Ketergantungan ekonomi inilah

yang, menurut penulis, akan memaksa baik Cina maupun AS untuk terus

bekerja samadan karenanya menghindari konflikdi masa depan.

Adanya ketergantungan ekonomi antara Cina-AS dan tendensi untuk

bekerja sama di masa depan juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri

Cina, Yang Jiechi, yang mengatakan bahwa fondasi strategis bagi

hubungan Cina-AS terletak pada kepentingan Cina dan AS yang sama

1
Anggapan penulis ini senada dengan anggapan yang disampaikan Aaron L. Friedberg, The Future
of US-China Relations: Is Conflict Inevitable?
http://belfercenter.ksg.harvard.edu/files/is3002_pp007-045_friedberg.pdf, diakses pada 5
Oktober 2010, pukul 08.07.

14 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
dalam mengusahakan pembangunan ekonomi yang stabil, terutama untuk

menghindari krisis di masa depan2. Bilapun tidak terjadi krisis di masa

depan, baik Cina maupun AS harus tetap membangun kerjasama yang

solid dan berkelanjutan, lanjut Yang Jiechi. Lebih lanjut lagi, kerjasama

ekonomi antara Cina-AS sebenarnya sudah berlangsung sejak 1978.

Ketika itu, volume perdagangan Cina-AS yang tadinya hanya berjumlah 1

bilyum Dollar AS mencapai angka 120 bilyun Dollar AS3, dan pada tahun

2004, angka tersebut mencapai 245 bilyun Dollar AS4. Di masa depan,

Cina dan AS juga akan membangun sebuah dialog ekonomi, the China-

US Strategic and Economic Dialogues, yang semakin akan memperdalam

kerjasama antar keduanya. Cina juga telah berkomitmen untuk membantu

menstabilkan pasar finansial dan menstimulasi perbaikan ekonomi di AS,

dengan harapan perekonomian AS akan kembali tumbuh dalam waktu

dekat5.

Faktor kedua yang berperan penting dalam pembentukan

kerjasama antara Cina-AS di masa depan adalah peran institusi

internasional dalam mendorong terjadinya kerjasama antar keduanya. Di

sini penulis, senada dengan pandangan kaum liberal, percaya bahwa

adanya institusi internasional akan meningkatkan komunikasi Cina dan

2
China Daily, US, China Should Foster Win-Win Relationship in the 21st Century.
http://www.chinadaily.com.cn/ opinion/2009-03/18/content_7589598.htm, diakses pada 5
Oktober 2010,, pukul 08.29.
3
U.S.-China Security Review Commission, The National Security Implications of the Economic
Relationship between the United States and China. (Washington, D.C.: U.S. Government Printing
Office, July 2002), hal. 3839.
4
U.S.-China Business Council, U.S.-China Trade Statistics and Chinas World Trade Statistics.
http://www.uschina.org/ statistics/tradetable.html, diakses pada 5 Oktober 2010,, pukul 07.24.
5
China Daily, op.cit.

15 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
AS, yang kemudian akan memperkecil kecurigaan antar kedua negara

mengenai intensi masing-masing, dan pada akhirnya akan menghasilkan

komitmen kerjasama antar keduanya. Institusi internasional juga dapat

mencegah efek-efek negatif dari anarki internasional, dengan mewujudkan

kerjasama dan kepercayaan antar negara-negara anggotanya.6 Sejak

Perang Dingin berakhir, Cina telah bergabung dalam berbagai institusi

internasional, mulai dari yang sifatnya regional seperti APEC (Asia-Pacific

Economic Cooperation), ARF (the ASEAN Regional Forum), hingga yang

sifatnya internasional seperti masuknya Cina dalam WTO (World Trade

Organization). Cina juga telah bermain semakin aktif dalam wadah PBB

(Perserikatan Bangsa-Bangsa). Dari tahun 1977 hingga tahun 1997,

tercatat Cina telah bergabung dalam 52 institusi internasional formal7, di

mana AS merupakan negara yang dominan pada institusi internasional

tersebut. Meningkatnya jumlah institusibaik regional maupun

internasionalyang dimasuki Cina, dan besarnya peran AS pada

berbagai institusi tersebut akan menghasilkan ikatan yang kuat antara

kedua negara, ikatan yang dipercaya oleh kaum liberal optimis akan

meningkatkan komunikasi dan kontak, yang kemudian akan menghasilkan

general mutual understanding dan kepercayaan antar keduanya.

Keinginan Cina untuk terus menikmati manfaat dari keanggotaannya

dalam institusi internasional tersebut akan mendorong Cina untuk tidak

mengambil langkah yang dapat merusak status quo, sehingga akhirnya

akan mengurangi kemungkinan konflik antara Cina dan AS yang

merupakan perencana sekaligus pelindung sistem internasional.8

16 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
Faktor ketiga yang juga akan mendorong terciptanya hubungan

kerjasama antara Cina-AS adalah faktor demokratisasi. Zakaria telah

menyebutkan di awal bahwa Cina sekarang telah menunjukan berbagai

tanda positif menuju demokratisasi melalui pembentukan mixed regime

di negaranya. Berbagai tanda positif itu bukan tidak mungkin akan

menghasilkan Cina yang demokratis di masa depan. Bila Cina benar-

benar menjadi demokratis, makasesuai pandangan kaum liberal

optimishubungan Cina dan AS akan menjadi stabil karena keduanya

akan memasuki democratic zone of peace.9 Adapun kaum liberal optimis

percaya bahwa demokrasi adalah alat untuk menciptakan perdamaian.

Rejim yang meletakkan kekuasaan dan legitimasi pada consent of the

governed cenderung tidak akan terlibat dalam perang, yang tujuan

akhirnya adalah untuk memuaskan ambisi pemimpinnya. Kaum liberal

optimis juga percaya bahwa negara yang demokratis tidak akan saling

berperang dengan negara demokratis lainnya sehingga kaum liberal

optimis melihat korelasi antara meningkatnya negara demokratis dengan

menurunnya konflik internasional. Cina yang kini semakin menuju ke arah

demokratisasi10, kemudian akan memiliki hubungan yang cenderung

stabil dan tanpa konflik dengan AS di masa depan.

Memprediksi mengenai hubungan Cina-AS di masa depan

memang bukanlah hal yang mudah. Beberapa pihak meramalkan akan

adanya konflik besar antar keduanya, anggapan yang cenderung sama

dengan anggapan Fareed Zakaria, sementara pihak lain meramalkan

akan terciptanya kerjasama yang semakin dalam antar keduanya. Penulis

17 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
sendiri lebih menyetujui prediksi kedua, yaitu akan terciptanya suatu

hubungan kerjasama antara Cina-AS dengan berlandaskan pada tiga

faktor utama, yaitu ketergantungan ekonomi antar keduanya yang

semakin dalam, faktor institusi internasional yang akan semakin

menyatukan keduanya, dan faktor demokratisasi Cina yang membuat

hubungan keduanya akan cenderung lebih stabil di masa depan.

Kedepannya, pada masa ini, Cina mengembangkan

perekonomiannya lewat perdagangan jasa dan juga investasi. Saat ini,

Amerika Serikat dapat dikatakan berada pada kekuasaan Cina, dimana

Cina menanamkan investasi yang cukup besar diAmerika. Investasi Cina

diAmerika sejumlah 60% dari jumlah investasi yang ditanamkan dunia

diAmerika. Hal ini semakin memperkuat posisi Cina dalam konstelasi

politik. Namun demikian, sampai saat ini Cina tidak ingin dirinya disebut

sebagai negara maju.

Sementara dalam melakukan perdagangan jasanya, Cina memilih

bidang konstruksi. Di Asia sendiri Cina memiliki beberapa proyek

konstruksi besar, seperti kereta cepat diIndonesia, jalur laut Jepang,

pembangunan diAfrika dan lainnya. Hal ini dilakukan Cina dengan

menggunakan sumber daya manusia yang awalnya berada diluar Cina

dan diminta pulang untuk melakukan proyek-proyek tersebut atas nama

perusahaan milik Cina.

Cina, yang termasuk dalam anggota BRICS(Brazil, Rusia, India,

Cina dan Afrika Selatan), merupakan negara new emerging power. Walau

18 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
secara kondisi baik perekonomian, jumlah arm power serta kekuatan soft

diplomacynya dapat menyaingi negara maju manapun, Cina tidak serta

merta mau melepas dirinya dari sebutan new emerging power menjadi

negara maju. Hal ini terbukti dari tidak dilakukannya pembukaan

perusahaan multinasional milik Cina. Sesuai dengan persyaratan negara

maju, yaitu memiliki perusahaan multi nasional diberbagai negara, Cina

tidak melakukan ini. Hal ini dilakukan untuk tetap berada diposisi negara

new emerging power namun dengan kekuatan negara adikuasa. Hal ini

diterapkan sebagai salah satu teknik diplomasi yang dimiliki Cina.

Hal-hal diatas menjelaskan politik internasional yang dimiliki oleh

Cina. Dimana Cina memulainya dari awal keterpurukan disaat kegagalan

ekonomi oleh kepemimpinan Mao Zedong sampai dititik ia dapat

menguasai negara-negara adikuasa dunia, seperti Amerika Serikat. Bukti-

bukti ini menyatakan bahwa politik internasional Cina dapat menyaingi

negara adikuasa yang ada saat ini. Namun demikian Cina tidak serta

merta membiarkan negara berkembang dan negara miskin bermain

ditelap tangannya, yang artinya Cina tidak mempermainkan negara-

negara lain. Namun Cina tetap berfokus pada soft diplomacy dan

menekankan bantuan pada negara-negara lainnya yang mana akan

meninggkatkan nilai Cina dimata internasional.

Memang banyak sekali kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh

Cina dalam mencapai posisinya saat ini. Cina melanggar banyak sekali

aturan kode etik produksi perusahaan, melanggar aturan-aturan

19 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l
internasional yang telah ditandatangani oleh Cina dan tutupmata atas

ketidakmerataan kesejahteraan diCina. Namun bukanlah pencapaian jika

tidak ada yang dikorbankan.

20 | T i o n g k o k & P o l i t i k I n t e r n a s i o n a l