Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOLOGI PERKEMBANGAN TUMBUHAN

STRUKTUR BUNGA

Disusun Oleh:
Maryatul Qibtiyah (13304241059)
Fitarahmawati (13304241062)
Yosi Titriasari Arrumadewi (13304244014)
Dwi Astuti (13304244017)
Triajeng Nur Amalia (13304244021)

Pendidikan Biologi Internasional 2013


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015
STRUKTUR BUNGA
A. Tujuan
1. Mengamati struktur bunga
2. Mengamati bagian-bagian bunga yang mempunyai peranan penting pada proses
reproduksi seksual
3. Mengamati bagian bunga yang berkembang menjadi buah
B. Metode
1. Alat dan Bahan
Bahan :
a. Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
b. Bunga anggrek kalajengking (Arachnis flos-aeris)
c. Bunga markisa (Passiflora sp.)
d. Bunga biduri (Calotropis gigantea)
Alat :
a. Kaca objek dan penutupnya
b. Pinset, silet, dan pipet
c. Mikroskop cahaya
2. Cara Kerja
Mengamati bagian-bagian bunga secara utuh

Menggambar hasil pengamatan dan memberi keterangan selengkap-lengkapnya

Mengamati perhiasan bunga, mencatat bentuk, warna, serta masing-masing


bagiannya saling berlekatan atau tidak

Mengamati benang sari, mencatat jumlah dan posisi kepala sari terhadap tangkai
sari (filamen)

Mengambil satu buah benang sari yang sudah tua (masak) dengan menggunakan
pinset dan meletakkan di atas gelas benda yang telah diberi air, lalu menekan
kepala sari agar serbuk sari keluar.

Menutup sediaan serbuk sari dengan kaca penutup, lalu mengamati di bawah
mikroskop dan menggambar hasil pengamatan.

Mengamati putik dengan kaca pembesar, memperhatikan bentuk ovarium,


tangkai putik dan kepala putiknya, lalu menggambar hasil pengamatan

Memotong ovarium secara membujur, lalu mengamati dan menggambar ovulum

Mengamati bagian tambahan lain yang ada pada bunga

C. Hasil dan Pembahasan


Bunga merupakan bagian yang sangat penting pada tumbuhan Angiospermae
karena tahapan penting reproduksi seksual (meiosis dan fertilisasi) pada Angiospermae
terjadi pada bunga. Pengamatan struktur bunga dilakukan dengan mengamati bagian-
bagian organ bunga secara utuh, kemudian mengamati bagian bunga yang berperan
dalam proses reproduksi seksual, serta mengamati bagian bunga yang berkembang
menjadi buah. Bunga yang diijadikan objek pengamatan meliputi bunga sepatu
(Hibiscus rosa-sinensis), bunga anggrek kalajengking (Arachnis flos-aeris), bunga
markisa (Passiflora sp.), dan bunga biduri (Calotropis gigantea). Pemilihan bunga-
bunga tersebut didasarkan pada adanya struktur-struktur yang berbeda pada setiap
bunga.
Bagian-bagian bunga menurut Tjitrosoepomo (2011), pada umumnya terdiri
dari :
1. tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang.
Pada bagian ini seringkali terdapat daun-daun peralihan, yaitu bagian-bagian yang
menyerupai daun, berwarna hijau, yang seakan-akan merupakan peralihan dari
daun biasa ke hiasan bunga. Tangkai bunga atau pedisel merupakan bagian sumbu
yang merupakan ruas batang yang diakhiri oleh bunga.
2. dasar bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan
ruas-ruas yang amat pendek. Menurut Hidayat (1995), bunga terdiri dari sejumlah
bagian steril dan bagian reproduktif atau fertil yang melekat pada sumbu, yakni
dasar bunga atau reseptakulum.
3. hiasan bunga atau perianthum, yaitu bagian bunga yang merupakan penjelmaan
daun yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang-tulang atau urat-urat
yang masih jelas. Bagian steril dari bunga terdiri atas perhiasan bunga, yaitu
sejumlah helai daun kelopak atau sepal dan sejumlah helai daun mahkota atau
petal. Keseluruhan sepal dalam bunga disebut kaliks dan keseluruhan petal disebut
korola. Menurut Tjitrosoepomo (2011), hiasan bunga yang tidak dapat dibedakan
dalam kelopak dan mahkotanya, atau kelopak dan mahkotanya sama baik bentuk
dan warnanya, disebut tenda bunga (perigonium). Perigonium terdiri dari sejumlah
daun tenda bunga (tepala).
4. bagian reproduktif :
a. benang sari atau stamen (mikrosporofil) merupakan alat kelamin jantan.
Keseluruhan stamen disebut andresium. Bagian dari benang sari adalah :
Tangkai sari (filamentum), merupakan bagian dari benang sari yang
biasanya berbentuk benang dengan penampang melintang yang biasanya
berbentuk bulat.
Kepala sari (anthera), yaitu bagian benang sari yang terdapat pada ujung
tangkai sari.
Penghubung ruang sari (connectivum), merupakan bagian dari lanjutan
tangkai sari yang menjadi penghubung kedua bagian kepala sari (ruang
sari) yang terdapat di kanan kiri penghubung.
b. daun buah atau karpel (megasporofil), keseluruhan karpel disebut ginesium.
Ginesium pada bunga merupakan bagian yang disebut putik (pistillum), juga
putik terdiri atas metamorfosis daun yang disebut daun buah (carpella).
Bagian putik yang mengandung sel telur (ovum) disebut bakal biiji (ovulum)
yang akan berkembang menjadi biji, sedangkan bagian putik yang terdapat
bakal biji tadi disebut bakal buah (ovarium) yang akan berkembang menjadi
buah (Tjitrosoepomo, 2011 : 144 dan 181).
Menurut Budiwati (2015), bakal buah (ovarium) dengan bakal biji (ovulum)
melekat apda bagian dinding bakal buah yang disebut plasenta. Jika karpel berada
di bagian paling tinggi dari sumbu bunga, maka bakal buah dikatakan menumpang
(superus) dan bunganya disebut hipogin. Perhiasan bunga dan stamen terdapat di
tepi reseptakulum yang berbentuk cekungan dan bakal buah ada di tengahnya,
disebut bunga perigin dan bakal buahnya disebut separuh inferus atau separuh
tenggelam. Cekungan dapat menutup sehingga letak bakal buah jelas lebih rendah
dibanding bagian bunga lainnya, disebut bunga epigin atau bakal buah tenggelam
(inferus).
Pada umumnya bunga terdiri dari keempat bagian bunga dan tempatnya
berturut-turut dari tepi luar bunga ke bagian tengah : kaliks, korola, andresium, dan
ginesium (Hidayat, 1995 : 223).

1. Struktur Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)


Klasifikasi bunga sepatu menurut Tjitrosoepomo (2007) adalah :
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Dycotyledonae
Sub Classis : Dialypetalae
Ordo : Malvales (Columniferae)
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus rosa-sinensis
Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) memiliki mahkota berwarna merah,
bentuk dasar bunga seperti cawan sehingga bakal buah disebut menumpang (superus).
Perhiasan bunga terdiri dari petala, epikaliks, dan kaliks, sementara bagian fertil bunga
terdiri dari ovarium dan stamen yang didukung oleh androginofor. Bunga ini
merupakan bunga banci karena terdapat putik dan stamen dalam satu bunga.
Kelopak merupakan bagian yang berguna untuk melindungi bunga, terutama
saat bunga masih kuncup. Warna kelopak pada bunga sepatu hijau, di luar lingkaran
kelopak terdapat daun-daun yang menyerupai kelopak yang disebut epikaliks atau
kelopak tambahan. Menurut bentuknya, kelopak bunga sepatu termasuk kelopak
beraturan atau aktinomorf (regularis, actinomorphus) berbentuk bintang. Jumlah
kelopak bunga sepatu ada lima dan tidak saling berlekatan. Epikaliks berbentuk seperti
corong dan terletak di atas kaliks. Mahkota bunga (korola) berwarna merah, terdiri dari
lima helai petala yang tidak saling berlekatan.
Bagian yang berperan dalam reproduksi seksual bunga (bagian fertil) terdiri dari
ovarium dan stamen yang didukung oleh androginofor. Androginofor panjang berwarna
merah, terdapat 5 kepala putik di bagian ujung dan banyak benang sari di bagian yang
lebih rendah. Stamen terletak di bagian atas androginofor dan letaknya lebih rendah
dari kepala putik. Kepala sari (anther) tegak, berwarna kuning, berbentuk seperti ginjal
dan dasarnya melekat pada tangkai sari (filament). Benang sari berberkas satu atau
bertukal satu (monadelphus), atau semua tangkai sari berlekatan menjadi satu. Polen
(serbuk sari) Hibiscus rosa-sinensis berbentuk seperti gada dengan permukaan
berbintil.
Bakal buah menumpang di bagian dasar bunga dan berwarna kuning, beruang 5
dengan banyak bakal biji. Menurut Tjitrosoepomo (2007), biji kebanyakan mempunyai
endosperma dan lembaga yang lurus atau bengkok. Penyerbukan pada Hibiscus rosa-
sinensis dibantu oleh polinator serangga yang mendarat pada mahkota bunga (korola).
2. Struktur Bunga Anggrek Kalajengking (Arachnis flos-aeris)
Klasifikasi anggrek kalajengking menurut Cronquist (1981) adalah:
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub Classis : Lilidae
Ordo : Orchidales
Familia : Orchidaceae
Genus : Arachnis
Species : Arachnis flos-aeris
Bunga Anggrek kalajengking berwarna kuning cerah dengan bintik-bintik hitam
di seluruh mahkota bunga. Bunga ini merupakan bunga majemuk yang tak terbatas
yang bertipe malai (panicula), yakni ibu tangkainya mengadakan percabangan secara
monopodial, demikian pula cabang-cabangnya, sehingga suatu malai dapat disamakan
dengan suatu tandan majemuk (Tjitrosoepomo, 2003: 135). Dasar bunga berbentuk rata.
Bunga Arachnis flos-aeris termasuk bunga banci (hermaphroditus), terdapat putik dan
benang sari dalam satu bunga.
Anggrek memiliki bunga dengan lima bagian utama, yaitu sepal (daun kelopak),
petal (daun mahkota), stamen (benang sari), pistil (putik) dan ovary (bakal buah).
Anggrek memiliki 3 helai sepal dan 3 helai petal. Satu buah sepal bagian atas disebut
sepal dorsal, sedangkan dua lainnya disebut sepal lateral. Salah satu dari petal bunga
anggrek termodifikasi menjadi bibir bunga (labellum) yang merupakan bagian
terpenting karena merupakan alat reproduksi anggrek. Tangkai putik dan tangkai sari
berlekatan membentuk suatu tiang (columna). Columna merupakan perpanjangan
gagang bunga atau bakal buah. Bibir bunga memiliki gumpalan-gumpalan seperti
massa sel (callus) yang mengandung protein, minyak dan zat pewangi fungsinya untuk
menarik serangga (Iswanto, 2005). Menurut Tjitrosoepomo (2007), labellum biasanya
terdiri atas tiga bagian, berturut-turut dari ujung ke pangkal disebut epichillium,
mesochillium, dan hypochillium.
Hiasan bunga epigin, tersusun atas 6 segmen (daun tenda bunga) yang terdapat
dalam dua lingkaran. Pada bunga anggrek terdapat bagian yang merupakan penyatuan
antara benang sari, stigma dan stilus yang disebut ginostemium. Benang sari terdapat 2,
kepala sari menghadap ke dalam, beruang 2, dan membuka dengan celah membujur.
Serbuk sari berbentuk butir yang bergumpal membentuk kelompok serbuk sari yang
bertepung/berlilin yang disebut polinium.
Putik berupa putik majemuk (compositus), dengan bakal buah tenggelam
(inferus), beruang 1 dengan 3 tembuni pada dindingnya. Menurut Tjitrosoepomo
(2007), bakal biji banyak, anatrop, dan sangat kecil, memanjang pada 2 ujung dan
jarang sekali bersayap, tidak terdapat endosperm (exalbuminous), lembaga belum
terbentuk atau belum terdiferensiasi. Buah berupa buah kendaga, membuka ke samping
dengan 3-6 celah membujur.
3. Struktur Bunga Markisa (Passiflora coccinea)
Klasifikasi ilmiah dari markisa adalah :
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Passifloraceae
Genus : Passiflora
Spesies : Passiflora coccinea L.
Bunga ini merupakan bunga banci (hermaphrodit) dan aktinomorf. Bunga ini
memiliki 5 sepala (daun kelopak) dan 5 petala (daun mahkota) yang aksilar (letak
biji/plasenta di sudut tengah). Warna petala merah agak jingga dan terdapat braktea
(daun pelindung). Dasar bunga epigin dengan bakal buah tenggelam. Terdapat mahkota
tambahan (corona) berwarna merah tua, terdiri atas badan seperti tangkai sari atau
sisik-sisik yang tersusun dalam 2 lingkaran atau lebih.
Androginofor berwarna coklat muda, terdiri dari lima stamen dan tiga stigma.
Stamen memiliki kepala sari (anther) yang melekat pada suatu titik pada ujung tangkai
sari, sehingga kepala sari dapat digerakkan atau bergoyang (versatile). Kepala sari
memiliki dua ruang sari (theca), dengan masing-masing ruang sari terdiri dari dua
kantong sari (locumentum). Polen berbentuk bulat dengan permukaan yang berbintil-
bintil. Bakal buah beruang satu (unilocularis) tersusun atas lebih dari satu daun buah
dengan banyak bakal biji.
Buah berkembang dari ovarium atau bakal buah. Menurut Tjitrosoepomo
(2007), buahnya berupa buah kendaga atau buah buni, biji dengan kulit biji bernoktah
diselubungi salut biji yang berdaging, mempunyai endosperm dengan lembaga yang
lurus dan besar. Pada buah yang masih muda, terdapat bagian-bagian bunga yang
tertinggal, yaitu androginofor di bagian bawah buah, sisa mahkota, dan sisa putik di
ujung buah.
4. Struktur Bunga Biduri (Calotropis gigantea)
Klasifikasi biduri (Calotropis gigantea) adalah:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Apocynales
Famili : Asclepiadaceae
Genus : Calotropis
Spesies : Calotropis gigantea R. Br.
Bunga biduri merupakan bunga banci, aktinomorf, dengan bentuk dasar bunga
seperti cawan. Bunga ini merupakan bunga majernuk berbentuk payung, terletak di
ujung atau di ketiak daun. Bunga memiliki warna petala putih dan tidak berlekatan,
dengan petala tambahan (corona) berwarna ungu. Petala dan petala tambahan masing-
masing berjumlah lima, petala tambahan membentuk suatu tegakan di atas petala.
Tangkai putik dan tangkai sari berlekatan membentuk suatu tiang (columna).
Benang sari berlekatan membentuk tabung, terdapat alat-alat tambahan pada pangkal
dan punggung benang sari. Jumlah benang sari ada lima, filamen-filamen bersatu
membentuk tabung yang mengelilingi putik (monadelphus). Kepala putik lebar
berbentuk segi lima dengan tangkai putik panjang dan bergandengan dengan tangkai
sari membentuk columna.
Bakal buah berjumlah 2, bebas, menumpang (superus), berisi beberapa bakal
biji. Menurut Tjitrosoepomo (2011), buahnya berupa buah bumbung, tersusun atas
sehelai daun buah, mempunyai ruangan dengan banyak biji. Jika sudah masak, buah
pecah menurut salah satu kampuhnya, biasanya pecah menurut kampuh perutnya.

D. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Terdapat bermacam-macam struktur bunga, yaitu pada bunga :
a. Hibiscus rosa-sinensis meliputi petala (5 helai), kaliks, epikaliks,
androginofor (mendukung stamen dan pistil). Bentuk polen bunga ini seperti
gada dan berbintil.
b. Arachnis flos-aeris, meliputi sepala (3 helai), petala (3 helai, 1 helai menjadi
labellum), ginostemium, ovarium, dan stamen. Polen bunga ini menggumpal
membentuk polinium.
c. Passiflora coccinea, meliputi sepala (5 helai), petala (5 helai), corona,
androginofor, stamen, dan pistil. Polen bunga ini bulat dan berbintil.
d. Calotropis gigantea, meliputi petala (5 helai), corona (5 helai), columna,
stamen, dan ovarium.
2. Bagian yang berperan dalam proses reproduksi seksual pada bunga adalah stamen
dan ovarium. Stamen menghasilkan polen, sedangkan ovarium melindungi ovulum
yang berisi ovum (sel telur).
3. Bagian bunga yang berkembang menjadi buah pada Hibiscus rosa-sinensis,
Arachnis flos-aeris, Passiflora coccinea, dan Calotropis gigantea adalah ovarium.

E. Daftar Pustaka
Budiwati. 2015. Diktat Reproduksi Tumbuhan Angiospermae. Yogyakarta : FMIPA
UNY.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : Penerbit ITB.
Iswanto, H. 2005. Merawat dan Membungakan Anggrek Phaleonopsis (Ed. Revisi).
Jakarta: Agromedia Pustaka.
Luan V. Q., N. Q. Thien, D. V. Khiem, dan D. T. Nhut. 2006. In Vitro Germination
Capacity and Plant Recovery of Some Native and Rare Orchids. Vietnam
Proceedings of International Workshop of Biotechnology in Agriculture, Nong
Lam University Ho Chi Minh City.
Purwantoro, A. 2002. Kekerabatan Antar Anggrek Spesies Berdasarkan Sifat Morfologi
Tanaman dan Bunga. Yogyakarta: Fakultas Pertanian UGM.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
____________________. 2007. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta :
Gadja Mada University Press.
____________________. 2011. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.

Anda mungkin juga menyukai