Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA Ny. S DENGAN TINDAKAN LAPAROTOMI


PADA OBSTRUKSI ILEUS DI RUANG BEDAH MAYOR IGD
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MOEWARDI

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar


Profesi Ners (Ns)

Disusun oleh :
FAJAR ADHITYA ROMADHAN
J 230 113 022

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
NASKAH PUBLIKASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

KARYA TULIS ILMIAH, 2012

FAJAR ADHITYA ROMADHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN TINDAKAN


LAPAROTOMY PADA OBSTRUKSI ILEUS DI RUANG BEDAH MAYOR
IGD RSUD Dr MOEWARDI

Xvii + 31 halaman, 2 gambar/skema, 4 lampiran

ABSTRAK

Obstruksi ileus adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana


merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi
usus, di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus obstruksi ileus paralitik dan obstruktif
tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004.
Sedangkan angka kejadian pada pasien obstruksi ileus dengan tindakan Laprotomi
di RSUD Dr Moewardi dari bulan Januari sampai bulan Juli 2012 sebanyak 52
pasien. Tujuan umum dari penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk
mengetahui gambaran asuhan keperawatan yang tepat bagi pasien dengan
tindakan operasi obstruksi ileus dengan tindakan laparotomy. Penyusunan karya
tulis ini dengan metode diskriptif dengan pendekatan studi kasus yaitu metode
ilmiah yang bersifat mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik
kesimpulan data. Tehnik pengambilan data menggunakan wawancara, observasi,
pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi, kesimpulan dari karya tulis ilmiah ini
adalah pada klien Ny. S muncul beberapa diagnosa diantaranya saat pre operasi
adalah ansietas teratasi dengan anciety reduction, diagnosa resiko infeksi teratasi
dengan infection protection dan infection control, diagnosa intra operasi adalah
resiko perdarahan teratasi dengan rehidrasi, diagnosa resiko cidera teratasi dengan
pengawasan intensif, serta diagnosa post operasi adalah resiko infeksi teratasi
dengan infection protection dan infection control. Dari semua diagnosa yang tidak
muncul sesuai dengan teori dan kasus adalah diagnosa nyeri.

Kata Kunci: Obstruksi Ileus, Laparotomi, Asuhan keperawatan

Daftar Pustaka: 14 (2000 2009)


Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 1
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

NASKAH PUBLIKASI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN TINDAKAN LAPAROTOMI


PADA OBSTRUKSI ILEUS DI RUANG BEDAH MAYOR IGD
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MOEWARDI

Fajar Adhitya Romadhan. *


Priyo Prabowo S.Kep., Ns. **
Amir Nuryanto S.Kep., Ns. ***

Abstrak

Obstruksi ileus adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan
penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus, di Indonesia
tercatat ada 7.059 kasus obstruksi ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat
inap dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004. Sedangkan angka kejadian pada
pasien obstruksi ileus dengan tindakan Laprotomi di RSUD Dr Moewardi dari bulan
Januari sampai bulan Juli 2012 sebanyak 52 pasien. Tujuan umum dari penulisan Karya
Tulis Ilmiah ini adalah untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan yang tepat bagi
pasien dengan tindakan operasi obstruksi ileus dengan tindakan laparotomy.
Penyusunan karya tulis ini dengan metode diskriptif dengan pendekatan studi kasus yaitu
metode ilmiah yang bersifat mengumpulkan data, menganalisis data dan menarik
kesimpulan data. Tehnik pengambilan data menggunakan wawancara, observasi,
pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi, kesimpulan dari karya tulis ilmiah ini adalah
pada klien Ny. S muncul beberapa diagnosa diantaranya saat pre operasi adalah
ansietas teratasi dengan anciety reduction, diagnosa resiko infeksi teratasi dengan
infection protection dan infection control, diagnosa intra operasi adalah resiko perdarahan
teratasi dengan rehidrasi, diagnosa resiko cidera teratasi dengan pengawasan intensif,
serta diagnosa post operasi adalah resiko infeksi teratasi dengan infection protection dan
infection control. Dari semua diagnosa yang tidak muncul sesuai dengan teori dan kasus
adalah diagnosa nyeri.

Kata Kunci: Obstruksi Ileus, Laparotomi, Asuhan keperawatan


Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 2
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

NURSING CARE IN Ny. S WITH ACTION LAPAROTOMY ILEUS


OBSTRUCTION MAJOR SURGERY IN THE EMERGENCY ROOM
HOSPITAL Dr MOEWARDI

Abstract

Obstruction ileus is a mechanical obstruction is a blockage in the intestine which


completely shut down or interfere with the course of the intestinal contents, in Indonesia
there were 7059 cases of paralytic ileus and obstructive obstruction without hernia,
hospitalized and 7024 outpatients in 2004. While the incidence of ileus obstruction in
patients with Laprotomi measures in hospitals Dr Moewardi from January to July 2012 as
many as 52 patients. The general objective of Scientific Writing writing is to find the right
picture of nursing care for patients with obstructive ileus surgery with laparotomy action.
The preparation of this paper by the method of descriptive case study approach is the
scientific method is to collect data, analyze data and draw conclusions the data.
Technical data retrieval using interviews, observation, physical examination and
documentation study, the conclusions of scientific writing is on the client Ny. S appears
multiple diagnoses such as pre surgery was resolved with anciety anxiety reduction,
diagnosis infection risk for infection resolved with protection and infection control,
operating intra diagnosis is resolved with rehydration bleeding risk, the risk of injury
diagnoses resolved with intensive supervision, and postoperative diagnosis are risk
resolved infection with infection protection and infection control. Of all the diagnoses that
did not appear consistent with the theory and the case was diagnosed pain.

Keywords: Obstruction Ileus, Laparotomy, Nursing care


Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 3
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

PENDAHULUAN komplikasi yang menunggu jika


permasalahan semakin berat, maka
Obsruksi ileus merupakan pasien yang sudah di diagnosa
kegawatan dalam bedah abdominal obstruksi ileus harus siap dilakukan
yang sering dijumpai, sekitar 60 - tindakan pembedahan karena
70% dari seluruh kasus akut keterlambatan pembedahan
abdomen yang bukan appendicitis menyebabkan berbagai masalah
akuta. Obstruksi ileus adalah suatu pada organ cerna, diantaranya
penyumbatan mekanis pada usus perforasi appendiks, peritonitis,
dimana merupakan penyumbatan pileflebitis, dan bahkan kematian.
yang sama sekali menutup atau Di Indonesia tercatat 7.059
menganggu jalannya isi usus kasus obstruksi ileus paralitik dan
(Brunner & Suddarth, 2002). obstruktif tanpa hernia yang dirawat
Sebagai makhluk biologis, inap dan 7.024 pasien rawat jalan
manusia memerlukan makanan yang pada tahun 2004 (Bank Data
mengandung gizi untuk menunjang Departemen Kesehatan Indonesia,
kebutuhan metabolisme, makanan 2004). Sedangkan angka kejadian
tersebut sebelum diabsorbsi terlebih pada pasien obstruksi ileus dengan
dahulu diproses disaluran cerna. tindakan laprotomi di RSUD Dr
Proses pencernaan berlangsung Moewardi dari bulan Januari sampai
dengan baik apabila sistem bulan Juli 2012 sebanyak 52 pasien.
pencernaan makanan ditubuh kita Pada pasien dengan tindakan
normal, apabila salah satu dari laparotomi dengan indikasi obstruksi
bagian sistem pencernaan kita ileus di RSUD Dr Moewardi perlu
mengalami gangguan, maka proses memerlukan perhatian yang khusus
pencernaan makanan terhambat dalam melakukan perawatan di
(Zwani, 2007). ruang operasi, dari kesiapan pre
Penyakit ini sering terjadi operasi, intra operasi dan post
pada individu yang memilikki operasi.
kebiasaan mengkonsumsi makanan Dari masalah yang muncul di
yang rendah serat, dari kebiasaan atas maka penulis tertarik untuk
tersebut akan muncul permasalahan mengambil kasus dengan judul
pada kurangnya kemampuan Asuhan Keperawatan Pada Ny. S
membentuk massa feses yang dengan Tindakan Laparotomi Pada
menyambung pada rangsangan Obstruksi Ileus di Ruang Bedah
peristaltik usus, kemudian saat Mayor Instalasi Gawat Darurat
kemampuan peristaltik usus RSUD Dr Moewardi.
menurun maka akan terjadi
konstipasi yang mengarah pada LANDASAN TEORI
feses yang mengeras dan dapat
menyumbat lumen usus sehingga Obstruksi Ileus
menyebabkan terjadinya obstruksi
(Mansjoer, 2001). Menurut Obstruksi Ileus adapat
Salah satu penanganan pada didefinisikan sebagai gangguan
pasien dengan permasalahan aliran normal isi usus sepanjang
obstruksi ileus adalah dengan saluran usus (Arif Mansjoer, 2000).
pembedahan laparotomi, Obstruksi ileus adalah sumbatan
penyayatan pada dinding abdomen total atau parsial yang mencegah
atau peritoneal (Fossum, 2002). aliran normal melalui saluran
Gangren dan perforasi adalah pencernaan (Brunner & Suddart,
2001).
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 4
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

Dari defenisi di atas dapat atau berdarah atau mengandung


disimpulkan bahwa obstruksi usus darah (Price &Wilson, 2007).
adalah sumbatan total atau parsial
yang menghalangi aliran normal METODELOGI PENELITIAN
melalui saluran pencernaan atau
parsial yang menghalangi aliran Pendekatan
normal melalui saluran pencernaan Penyusunan karya tulis ilmiah
atau gangguan di sepanjang usus. ini penulis menggunakan metode
Adhesimerupakan penyebab te deskriftif dengan pendekatan studi
rsering ileus obstruktif, sekitar 50- kasus yaitu metode ilmiah yang
70% dari semua kasus, adhesi bisa bersifat mengumpulkan data,
disebabkan oleh riwayat operasi menganalisis data dan menarik
intra abdominal sebelumnya atau kesimpulan data.
proses inflamasi intra abdominal.
Obstruksi yang disebabkan oleh Tempat dan Waktu
adhesi berkembang sekitar 5% dari Penulisan karya ilmiah ini
pasien yang mengalami operasi mengambil kasus di Ruang Bedah
abdomen dalam hidupnya, Mayor Instalasi Gawat Darurat
perlengketan kongenital juga dapat RSUD Dr Moewardi pada tanggal 12
menimbulkan obstruktif ileus di Juli 2012.
dalam masa anak-anak (Sabara,
2007). Langkah-Langkah
Gejala yang muncul pada 1. Pengkajian
obstruksi ileus pada mekanik Pengkajian dilakukan pada
sederhana sampai pada usus halus tanggal 12 Juli 2012 jam 12.30
atas muncul tanda gejala berupa WIB. Pengkajian adalah
kolik (kram) pada abdomen pemikiran dasar dari proses
pertengahan sampai ke atas, keperawatan yang bertujuan
distensi, muntah, peningkatan bising untuk mengumpulkan informasi
usus, nyeri tekan abdomen. atau data tentang klien, agar
Sedangkan pada mekanik dapat mengidentifikasi,
sederhana sampai dengan usus mengenali masalah-masalah,
halus bawah muncul tanda kolik kebutuhan kesehatan dan
(kram) signifikan midabdomen, keperawatan klien, baik fisik,
distensi berat, bising usus mental, sosial dan lingkungan
meningkat, nyeri tekan abdomen. Doengoes (2000).
Pada mekanik sederhana sampai 2. Perencanaan
dengan kolon muncul tanda kram Petunjuk tertulis yang
(abdomen tengah sampai bawah), menggambarkan secara tepat
distensi yang muncul terakhir, mengenai rencana tindakan
kemudian terjadi muntah (fekulen), yang dilakukan terhadap klien
peningkatan bising usus, nyeri tekan sesuai dengan kebutuhannya
abdomen. Gejala berkembang berdasarkan diagnosis
dengan cepat nyeri hebat, terus keperawatan Doengoes (2000).
menerus dan terlokalisir, distensi 3. Pelaksanaan
sedang, muntah persisten, biasanya Pengelolaan, perwujudan
bising usus menurun dan nyeri tekan dari rencana keperawatan yang
terlokalisir hebat. Feses atau telah disusun pada tahap
vomitus menjadi berwarna gelap perencanaan. Jenis tindakan
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 5
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

keperawatan menurut Carpenito Analisa Data


(2000) bersifat: Dalam penulisan ini penulis
a. Mandiri (independen): melakukan analisa dengan
adalah tindakan yang menggunakan mekanisme
diprakarsai sendiri oleh compare and contrast untuk
perawat untuk membantu mendiagnosa yang muncul pada
klien dalam mengatasi saat pemberian asuhan
masalahnya atau keperawatan dengan diagnosa
menanggapi reaksi karena yang muncul pada teori.
adanya stressor.
b. Ketergantungan Keabsahan Data
(interdependent/kolaborasi): Untuk menghindari
adalah tindakan kesalahan atau kekeliruan data
keperawatan atas dasar yang telah terkumpul, perlu
kerjasama sesama tim dilakukan pengecekan keabsahan
perawatan atau dengan tim data. Pengecekan keabsahan data
kesehatan lainnya seperti didasarkan pada kriteria derajat
dokter, fisioterapi, analis kepercayaan (crebility) dengan
kesehatan dan sebagainya. teknik trianggulasi, ketekunan
c. Rujukan/ketergantungan pengamatan, pengecekan teman
(dependen): adalah sejawat (Moleong, 2004).
tindakan keperawatan atas
dasar rujukan dari profesi Etika
lain, diantaranya dokter, Sebelum melakukan
psikolog, psikiater, ahli gizi, pengkajian, peneliti mengajukan
fisioterapi, dan sebagainya permohonan ijin kepada Kepala
4. Evaluasi atau penilaian Ruang Bedah Mayor Instalasi Gawat
Perbandingan yang Darurat RSUD Dr Moewardi.
sistematik dan terencana Kemudian setelah mendapatkan
tentang kesehatan klien persetujuan barulah melakukan
dengan tujuan yang telah pengambilan data dengan
ditetapkan, dilakukan dengan menekankan masalah etika yang
cara bersinambungan meliputi:
dengan melibatkan klien dan
tenaga kesehatan lainnya. 1. Lembar Persetujuan (Inform
Serta untuk mengetahui Concent), Lembar persetujuan
pemenuhan kebutuhan klien diberikan kepada subyek yang
secara optimal dan mengukur diteliti, peneliti menjelaskan
hasil dari proses maksud dan tujuan yang
keperawatan. dilakukan.
2. Anonimity, Peneliti tidak
Teknik pengumpulan data mencantumkan nama pasien,
Dalam memperoleh data tetapi cukup dengan memberi
penulis menggunakan beberapa inisial dari pasien.
cara diantaranya sebagai berikut: 3. Confidentiallity, Semua informasi
wawancara, observasi, pemeriksaan yang diberikan pasien terjaga
fisik dan studi dokumentasi. kerahasiannya.
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 6
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

HASIL PENELITIAN DAN nampak penggunaan otot bantu


PEMBAHASAN nafas dan retraksi, palpasi: fremitus
Data Profil Objek vokal kanan kiri sama,
Pengkajian dilakukan pada pengembangan dada kanan kiri
tanggal 12 Juli 2012 jam 12.30 WIB sama, perkusi: sonor lapang paru,
di peroleh data: Inisial: Ny. S, Umur: auskultasi: bunyi paru vesikuler
48 tahun, Agama: Islam, Alamat: tanpa ada bunyi paru tambahan.
Wonogiri, Pendidikan: SD, Pemeriksaan jantung inspeksi: ictus
Pekerjaan: Tani dan Nomor Rekam cordis tidak nampak, palpasi: ictus
Medis: 01139330, Penanggung cordis teraba lemah di line mid
jawab: Tn. W, Umur 51 tahun clavikula sinistra intercosta ke V,
(Suami Pasien), Agama: Islam. perkusi: pekak seluruh lapang
jantung, auskultasi: bunyi jantung
Gambaran Kasus reguler S1 dan S2 tanpa bunyi
Riwayat kesehatan pasien, jantung tambahan. Pemeriksaan
pasien datang ke RSUD Dr abdomen inspeksi: perut datar, tidak
Moewardi pada tanggal 11 Juli 2012 ada luka bekas operasi, auskultasi: 5
pada pukul 20.30 WIB dengan x/menit, perkusi: tympani, palpasi:
keluhan tidak bisa BAB dan kentut, teraba keras, supel, dan tidak ada
pasien mengatakan keluhannya pembesaran organ di abdomen.
sudah dirasakan selama 2 hari Eliminasi: anus memerah, terasa
yang lalu. Pasien mengatakan perih tidak ada hemoroid.
muntah tiap makan dan minum, oleh Hasil pemeriksaan
keluarga dibawa ke RSUD Wonogiri labolatorium pada tanggal 12 Juli
karena dokter bedah tidak ditempat 2012 jam 09.00 WIB diperoleh hasil:
maka dirujuk ke RSUD Dr Moewardi nilai Hemoglobin 14,7 gr/dl (13-16),
dengan diagnosa obstruksi ileus. Leokosit 6,2 ribu/ul (4-12 ribu/ul),
Pasien tidak memiliki riwayat Eritrosit 5,15 juta/ul, Hematokrit 43
penyakit hipertensi dan alergi % (36-47 %), Trombosit 217 ribu/ul
terhadap apapun baik makanan, (150-400 ribu/ul), Albumin 3,6 g/dl,
obat. Untuk pola eliminasi buang air Kreatinin 0,8 mg/dl, Ureum 39 mg/dl,
besar belum bisa dilakukan pasien, Natrium: 838 mmol/L, Kalium: 4,0
diperberat dengan pasien juga tidak mmol/L, Klorida: 103 mmol/L,
bisa kentut. Buang air besar terakhir HbsAg: negatif (-). Hasil
2 hari yang lalu dengan warna pemeriksaan USG pada tanggal 12
kuning kecoklatan, terasa susah Juli 2012 diperoleh hasil: gambaran
saat keluar dan perih pada area dilatasi udara usus preperitonial,
anus. tidak nampak kelainan. Terapi yang
Keadaan umum pasien: baik diperoleh pada tanggal 12 Juli 2012:
dengan tanda-tanda vital: Tekanan Infus RL 20 tpm, injeksi ceftriaxon 2
Darah: 110/60mmHg, nadi 96 gr/24 jam, injeksi ranitidin 50 mg/12
x/menit, suhu 36,50C, respirasi jam, injeksi ondansetron 50 mg/12
24x/menit, SPO2 98%, akral dingin, jam, injeksi ketorolac 30 mg/8 jam di
pasien terpasang dower cateter berikan pada pukul 12.00.
ukuran 24. Pemeriksaan head to toe
diperoleh beberapa hasil Asuhan Keperawatan
pemeriksaan fokus di antaranya: Pasien datang di ruang
pemeriksaan paru inspeksi: bedah mayor instalasi gawat darurat
pengembangan dada kanan kiri hari Kamis, 12 Juli 2012 pukul 13.00.
sama, tidak ada bekas luka, tidak Penulis melakukan checking
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 7
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

terhadap kelengkapan berkas dan keperawatan selama 1 x 15


inform consent yang harus menit pasien terbebas dari
ditandatangani pasien atau keluarga. agen-agen mikroorganisme
1. Pre Operasi dari luar. Intervensi
Persiapan pre operasi dilakukan keperawatannya adalah:
dengan mengecek identitas pantau tanda-tanda vital,
pasien, pemeriksaan fisik, hasil obesrvasi tanda-tanda
tes diagnostik, inform consent infeksi, lakukan cuci tangan
pembedahan dan anestesi. sebelum dan sesudah
Inform consent sudah tindakan keperawatan,
ditandatangani oleh memakai masker dan
penanggungjawab yaitu Tn. W. sarung tangan sebagai alat
Pasien mengatakan tidak perlindungan diri,
memiliki alergi dan puasa sejak pertahankan lingkungan
jam 24.00 WIB, pasien aseptik selama dilakukan
terpasang infus RL 20 tpm di tindakan pembedahan,
tangan kanan. Alat dan obat pakaikan baju dan topi
anestesi yang diberikan telah operasi, lepaskan semua
lengkap, instrument asesoris yang dipakai oleh
pembedahan dalam keadaan pasien, dokumentasikan
steril, hasil USG telah dipasang semua hal yang dilakukan.
di ruang operasi sebagai wacana Implemenatsi yang
area yang akan dilakukan insisi dilaksanakan penulis pada
agar tidak mengalami kesalahan. pukul 13.10 WIB dengan
a. Resiko Infeksi berhubungan memberikan baju operasi
dengan dampak prosedur dan topi operasi, mengkaji
invasife: IV line, dower tanda-tanda vital,
cateter. mengobservasi IV line
Diagnosa tersebut lancar dan tidak ada tanda-
muncul didukung data tanda infeksi (flebitis),
bahwa pasien akan meminta pasien melepas
dilakukan tindakan smua asesoris yang dipakai,
perbedahan dengan mempertahankan
membuka dinding abdomen lingkungan aseptik selama
dan menangani jalannya pembedahan.
permasalahan yang muncul Evaluasi dari diagnosa
dan pasien terpasang IV line resiko infeksi dilakukan
RL 20 tpm pada tangan penulis pada pukul 13.20
kanan serta dower cateter WIB dengan hasil pasien
ukuran 24. Tujuan dari memakai baju dan topi
diagnosa tersebut adalah operasi, pasien melepas
untuk tidak terjadinya infeksi semua asesosris yang
pada saat dilakukan dipakai, terpasang IV line
pembedahan. RL 20 tpm di tangan kanan,
Intervensi keperawatan tidak ada tanda-tanda
untuk diagnosa resiko flebitis, Tanda-tanda vital:
infeksi yaitu dengan tujuan Tekanan darah: 120/80
mencegah terjadinya infeksi, mmHg, RR: 22 x/menit,
dengan kriteria hasil setelah Nadi: 80 x/menit, Suhu:
dilakukan asuhan 26,50 C, Peristaltik: 6
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 8
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

x/menit, lingkungan Implementasi oleh


dipertahankan dalam situasi penulis dilakukan pada pukul
aseptik. 13.10 WIB dengan mengkaji
b. Cemas berhubungan dengan tanda-tanda vital, melakukan
krisis situasional pendekatan yang
Diagnosa muncul dengan menenangkan, menjelaskan
didukung data bahwa pasien prosedur serta apa yang
mengatakan belum pernah dirasakan selama tindakan,
sakit sampai dilakukan mengorientasika pasien pada
tindakan operasi, pasien ruangan dan staff,
menanyakan bagaimana mengintruksikan pasien
jalannya operasi nanti. nafas dalam.
Pasien cemas ditandai Evaluasi keperawatan
dengan: akral dingin, suara dilakukan penulis pada pukul
pasien saat berbicara 13.20 WIB dengan hasil
gemetar, pasien banyak sebagai berikut untuk data
bertanya tentang hal terkait subyektif: pasien
operasi. Tanda-tanda vital: mengatakan lebih merasa
Tekanan darah tenang karena sudah
110/60mmHg, nadi 96 mengetahui tentang tindakan
x/menit, suhu 36,50C, dan orang menanganinya,
respirasi 24x/menit. pasien mengatakan akan
Perencanaan untuk melakukan relaksasi (nafas
mencapai tujuan, setelah dalam). Data obyektif tanda-
dilakukan asuhan tanda vital: tekanan darah:
keperawatan selama 1 x 15 120/80 mmHg, RR: 22
menit diharapkan pasien x/menit, Nadi: 80 x/menit,
mampu mengontrol cemas. Suhu: 26,50 C, pasien lebih
Dengan kriteria hasil, pasien tenang ditandai dengan: aktif
mampu mengidentifikasi, dalam berkomunikasi, suara
mengungkapkan dan saat berbicara sudah tidak
menunjukkan tehnik bergetar, pasien mampu
mengontrol cemas, tidak melakukan nafas dalam,
muncul tanda kecemasan, evaluasi masalah cemas
tanda-tanda vital batas teratasi.
normal: Tekanan darah: 2. Intra Operasi
120/80 mmHg, N: 80-100 Pasien dilakukan anestesi pada
x/menit, RR: 16-24 x/menit. pukul 13.30 WIB dan dilakukan
Rencana keperawatan yang pembedahan pada pukul 13.45
akan dilakukan adalah WIB, jenis anestesi yang
gunakan pendekatan yang digunakan adalah general
menenangkan, jelaskan anestesi. Sebelumnya pasien
semua prosedur dan apa memperoleh injeksi atravenon 30
yang dirasakan selama mg, propofol 40 mg, midazolam
prosedur pembedahan, 30 mg untuk premedikasi selama
orientasikan ruangan dan jalannya tindakan operasi. Insisi
staff dalam operasi, monitor sepanjang 30 cm dilakukan
tanda-tanda vital, intruksikan pada ujung sternum melewati
pasien melakukan relaksasi umbilikus sampai pada atas
(nafas dalam). simpisis pubis, pemotongan
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 9
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

pada linea alba dengan scapel perdarahan walaupun


pada insisi garis tengah, insisi minimal.
diperdalam sehingga memotong Perencanaan disusun
lemak subkutis, anterior dan untuk mencapai tujuan yang
posterior sheath dari m. rectus diharapkan setelah dilakukan
serta peritonium, membuka asuhan keperawatan selama
peritonium secara hati-hati dan tindakan pembedahan tidak
terlihat usus kecil yang menonjol terjadi perdarahan berlebih
dibalik insisi peritonium, dengan kriteria hasil tidak
kemudian insisi peritonium terjadi syok hipovolemik dan
diperluas sampai ke cephalad dehidrasi. Dengan intervensi
dengan gunting mayo kearah yang dilakukan penulis
umbilikus,setelah dibuka sesuai sebagai berikut pantau tanda
dengan area obstruksi dilakukan perdarahan, pantau tanda-
pengecekan kondisi usus, serta tanda vital, pantau status
pengeluaran cairan jernih serta dehidrasi, beri terapi IV line
menjaga kelembapan. Setelah (sesuai progam).
diobservasi kondisi usus masih Implementasi yang
baik, terdapat peristaltik usus dilakukan penulis untuk
serta tidak nampak adanya diagnosa resiko perdarahan
perforasi jadi tidak ada indikasi sebagai berikut memantau
dilakukan pemtongan hanya tanda-tanda vital, memantau
mengeluarkan secara manual tanda-tanda perdarahan,
sumbatan usus dengan memberikan terapi IV line RL
melakukan pemijatan kearah 20 tpm. Evaluasi setelah
usus besar, kemudian dilakukan tindakan operasi selesai,
pengecekan perdarahan pasien tidak mengalami
menggunakan kasa serta perdarahan berlebih, tidak
pergerakan peristaltik usus dan muncul tanda-tanda
organ abdominalis kondisi baik. perdarahan, terpasang IV
Selanjutnya peritonium dijahit line RL 20 tpm, tanda-tanda
menggunakan cromic 2.0, vital: Tekanan darah: 120/80
aproksimasi muskulus dengan mmHg, nadi: 85 x/menit, RR:
plain 2.0, fasia dengan polisorb 22 x/menit, Suhu: 36,80 C,
2.0, subkutan dengan plain 3.0, Masalah resiko perdarahan
selanjutnya jahit kulit srta teratasi.
subkutikuler menggunakan silk b. Resiko cedera berhubungan
3.0. Diagnosa keperawatan yang dengan gangguan sensorik
muncul pada fase intra operasi akibat medikasi: Anestesi,
antara lain: penggunaan instrumen
a. Resiko perdarahan operasi.
berhubungan dengan efek Diagnosa tersebut
samping terkait terapi muncul karena didukunga
pembedahan: Laparotomi. data diantaranya pasien akan
Diagnosa ini muncul dilakukan prosedur
karena didukung data bahwa pembedahan Laparotomi
pembedahan yang dilakukan tepatnya pada abdomen,
akan bersinggungan dengan sehingga anestesi yang
pembuluh darah sekitar yang digunakan adalah General
dapat menimbulkan Anesthesi (GA). Akan
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 10
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

dilakukan anestesi dengan RL / NaCl 20 tpm. Saat di ruang


Induksi Propofol 40 mg, recovery penulis melakukan
atravenon 30 mg, midazolam pengkajian data dan diperoleh
50 mg, ketorolac 30 mg, hasil sebagai berikut: keadaan
meintenance N2O2, umum: Baik, tanda-tanda vital:
Endotraceal Cuffed, 120/70 mmHg, nadi: 90 x/menit,
traceostomi no 7,0. RR: 21 x/menit, suhu: 36,70 C.
Perencanaan yang kesadaran pasien apatis dengan
disusun oleh penulis untuk GCS: E3 V4 M5, terpasang DC
mencapai tujuan diharapkan kateter ukuran 24 difiksasi pada
setelah dilakukan asuhan kaki kiri dengan produksi urine
keperawatan selama 100 cc warna kekuningan. Luka
tindakan operasi berlangsung operasi terbungkus kasa steril
tidak mengalami cidera, dengan panjang 30 cm tidak
dengan kriteria hasil tidak ada perembesan darah pada
ada tanda cedera pada tubuh kasa.
pasien. Intervensi yang akan Dari hasil pengkajian yang
dilakukan antara lain pantau diperoleh di atas saat post
pasien terkait gerakan, jaga operasi penulis menegakan
keseimbangan pasien di diagnose keperawatan sebagai
meja operasi, atur berikut:
pencahayaan, dan fiksasi a. Resiko infeksi berhubungan
ektrimitas pasien. dengan dampak tindakan
Implementasi yang infasive: tindakan
dilakukan oleh penulis adalah Laparotomi, terputusnya
mengatur pencahayaan kontiunitas jaringan.
ruangan, mengawasi gerak Diagnosa tersebut
pasien, memfiksasi kedua muncul didukung oleh data
ektrimitas atas pada sayap luka post operasi dengan
meja operasi. Evaluasi yang panjang 30 cm tidak ada
dilakukan penulis sebagai perembesan darah pada
berikut, proses operasi kasa tersebut, tanda-tanda
berlangsung lancar dan tidak vital: tekanan darah 120/70
terjadi cedera pada pasien mmHg, nadi: 90 x/menit,
karena kelalaian, untuk RR: 21 x/menit, suhu: 36,70
masalah resiko cedera C.
teratasi. Intervensi yang
3. Post Operasi dirancang perawat dengan
Pasien tiba di ruang recovery tujuan setelah dilakukan
pada tanggal 12 Juli 2012 pada asuhan keperawatan
pukul 15.15 WIB, di intruksikan selama 1 x 60 menit pasien
di ruang recovery: posisi paham dan mampu
supinasi, O2 2 lpm nasal kanul, mengontrol bahaya infeksi,
awasi tanda-tanda vital setiap 15 tidak terjadi infeksi dengan
menit, apabila tekanan darah kriteria hasil pasien bebas
turun di bawah 90/60 mmHg dari infeksi dengan tidak
berikan epedrin 5 mg, apabila muncul tanda-tanda infeksi,
muntah berikan endonsetron 4 menunjukkan kemampuan
mg, apabila mengeluh nyeri mencegah bahaya infeksi.
berikan ketorolac 30 mg, infuse Rencana keperawatan, kaji
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 11
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

tanda-tanda vita, kaji tanda- skornya < 8, pasien harus


tanda infeksi, pertahankan dimasukkan ke dalam ruang ICU.
teknik aseptik, mencuci Dari perhitungan dengan
tangan sebelum dan Alderette Score diperoleh hasil
sesudah kontak dengan pasien tidak mengeluh pusing. tidak
pasien, beri terapi antibiotic mengeluh mual muntah, dengan
bila perlu. tekanan darah 120/70 mmHg yang
Implementasi yang merupakan indikasi pasien dapat
diberikan penulis pada pukul dipindahkan diruang perawatan.
15.05 WIB antara lain, Kemudian penulis melakukan
mengkaji tanda-tanda vital: operan ke perawat ruangan dengan
tekanan darah 120/70 rincian sebagai berikut: Posisi
mmHg, nadi: 90 x/menit, supinasi, O2 2 lpm nasal kanul,
RR: 21 x/menit, suhu: 36,70 awasi tanda-tanda vital setiap 15
C, mengkaji tanda-tanda menit, apabila tekanan darah turun
infeksi, mencuci tangan di bawah 90/60 mmHg berikan
sebelum dan sesudah epedrin 5 mg, apabila muntah
kontak dengan pasien, berikan endonsetron 4 mg, apabila
mempertahankan tehnik mengeluh nyeri berikan ketorolac
aseptic dalam segala hal. 30 mg, infuse RL / NaCl 20 tpm,
Evaluasi yang dilakukan lanjutkan terapi injeksi/oral sebagai
penulis memperoleh hasil berikut: Ceftriaxon 2 gr/24 jam,
berupa data subyektif, Ketorolac 30 mg/8 jam, Ranitidin 25
pasien mengatakan paham mg/ 12 jam dan IV lien RL 20 tpm.
dengan tindakan yang
dilakukan perawat, keluarga
mengatakan paham untuk KESIMPULAN DAN SARAN
cuci tangan sebelum dan Kesimpulan
sesudah kontak dengan 1. Dalam kasus ini pengkajian
pasien. Data obyektif, meliputi pemeriksaan fisik head
tanda-tanda vital: tekanan to toe dan uji diagnostik yang
darah 120/70 mmHg, nadi: sudah dilakukan. Dengan hasil
90 x/menit, RR: 21 x/menit, USG diketahui adanya dilatasi
suhu: 36,70 C, tidak muncul udara usus.
tanda-tanda infeksi (tumor, 2. Diagnosa keperawatan yang
dolor, kalor, rubor, function muncul saat pre operasi adalah
lesia), masalah resiko cemas dan resiko infeksi, pada
infeksi teratasi sebagian dan intra operasi adalah resiko
untuk rencana salanjutnya: perdarahan, resiko cedera, pada
kaji tanda-tanda vital, kaji post operasi adalah resiko
tanda-tanda infeksi, lakukan infeksi. Sedangkan diagnosa
perawatan luka prinsip steril. keperawatan yang tidak muncul
Setelah dilakukan asuhan sesuai dengan teori adalah nyeri.
keperawatan dan pengawasan 3. Intervensi yang dilakukan pada
selama di ruang recovery penulis diagnosa pre operasi untuk
melakukan penilaian dengan resiko infeksi dengan infection
hitungan Alderette Score dengan control dan infection protection,
batasan skornya 8, namun masuk cemas dengan anciety reduction,
diruang rawat inap jika Aldrette orientasi ruangan. Intervensi
untuk diagnosa intra operasi
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 12
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

resiko perdarahan dengan keyakinan pada klien yang akan


intervensi rehidration dan vital menjalani tindakan operasi.
sign monitor, resiko cedera 4. Institusi Pendidikan
dengan pengawasan intensif dan Diharapkan karya tulis ilmiah ini
manipulasi lingkungan. dapat digunakan sebagai
Intervensi diagnosa keperawatan referensi yang menunjang
pada post operasi untuk resiko pembelajaran.
infeksi dengan infection control
dan infection protection.
4. Implementasi tindakan
DAFTAR PUSTAKA
dikerjakan secara kolaboratif Brunner & Suddarth. 2002. Buku
dalam tim operasi. Seluruh Ajar: Keperawatan Medikal
intervensi yang diberikan Bedah. Jakarta: EGC.
dilakukan secara mandiri Carpenito. 2000. Rencana Asuhan
maupun kolaboratif sehingga Keperawatan. Edisi 6.
tujuan rencana tindakan tercapai Jakarta: EGC.
5. Evaluasi dari setiap diagnosa Departemen Kesehatan RI. 2010.
yang muncul pada tahap operasi Profil Kesehatan Indonesia.
sebagai berikut, tahap pre Jakarta: Departemen
operasi dengan resiko infeksi Kesehatan Republik
teratasi sebagian, kecemasan Indonesia.
diperoleh hasil masalah teratasi. Doengoes. Marylin. 2002.
Pada tahap intra operasi dengan Rencana Asuhan
resiko perdarahan masalah Keperawatan: pedoman
teratasi, serta resiko cedera untuk perencanaan dan
diperoleh masalah teratasi. Pada pendokumentasian
tahap post operasi dengan perawatan pasien. Ed 3.
masalah resiko infeksi diperoleh Jakarta: EGC.
hasil masalah teratasi sebagian Ferlina, I. S. 2002. Hubungan
dan perlu adanya perawatan antara pengetahuan dengan
yang intensif di ruang rawat inap. kecemasan pada pasien
preoperasi. Skripsi tidak
Saran diterbitkan. Malang: Progam
Diharapkan demi kemajuan Studi Ilmu Keperawatan
selanjutnya maka penulis UMM.
menyarankan kepada: M. Ruswan. 2009. Petunjuk Praktis
1. Instansi Rumah Sakit Anestesiologi dan Terapi
Diharapkan meningkatkan kinerja Intensif FK-UI: Jakarta.
perawat dan tenaga medis pada Mansjoer. A. 2000. Kapita Selekta
setiap tindakan operasi baik saat Kedokteran. Edisi III, jilid II,
pre, intra dan post operasi. Media Aeculapius FKUI:
2. Perawat Jakarta.
Diharapkan lebih teliti dalam Moeloeng, L. J. 2004. Metodologi
pelaksaan pengakajian pada Penelitian Kualitatif.
setiap pasien serta Bandung: PT Remaja
dokumentasikan tindakan yang Rosdakarya.
dikerjakan. Nursalam. M.Nurs. 2002.
3. Keluarga Managemen Keperawatan :
Disaranakan keluarga Aplikasi dalam Praktek
memberikan motivasi dan
Asuhan Keperawatan Pada Ny. S Dengan Tindakan Laparotomi Pada Obstruksi Ileus Di Ruang Bedah Mayor 13
IGD Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi (Fajar Adhitya Romadhan)

Keperawatan Profesional,
Jakarta: Salemba Medika.
Russel C Swanburg, Pengantar
Keparawatan, 2000, EGC,
Jakarta.
Setiawan, 2005. Efek Komunikasi
Terapuetik Terhadap Tingkat
Kecemasan Pasien Pre
Operasi di Rumah Sakit Haji
Adam Malik Medan. Skripsi
tidak dierbitkan. PSIK FK
USU.
Smeltzer, Suzanne C & Brenda G
Bare. 2002. Buku Ajar
Keperawatan Medical Bedah.
Ed 8 vol 2. Jakarta: EGC.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku
Saku Diagnosis Keperawatan
dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC, Ed 7.
Jakarta: EGC.
Zwani. 2007. Asuhan Keperawatan
Pada Pasien dengan
Obstruksi Usus
(http://wawanjokamblog.blog
spot.com/. Diakses tanggal
11 Januari 2011).

*Fajar Adhitya Romadhan:


Mahasiswa Profesi Ners FIK UMS.
Jln A Yani Tromol Post 1 Kartasura

** Priyo Prabowo S.Kep., Ns


: Pembimbing Klinik Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Moewardi.

*** Amir Nuryanto S.Kep., Ns:


Pembimbing Klinik Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Moewardi