Anda di halaman 1dari 10

OPTIMALISASI SIFAT - SIFAT MEKANIK MATERIAL S45C

TUGAS AKHIR
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana Teknik Industri

Era Satyarini
09 06 05987

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ATMA JAYA
YOGYAKARTA
2013

1
OPTIMALISASI SIFAT-SIFAT MEKANIK MATERIAL S45C
Era Satyarini 1), Baju Bawono 2)
Fakultas Teknologi Industri, Program Studi Teknik Industri,
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
erasatyarini@gmail.com 1), bajubawono@gmail.com 2)

Abstrak

Permasalahan yang terjadi di Politeknik ATMI Surakarta adalah kekerasan material S45C tidak
sesuai (lebih rendah) dengan data standar kekerasan yang dikeluarkan oleh BOHLER, karena
itu perlu dilakukan perbaikan metode untuk mengatasi permasalahan tersebut. Metode yang
digunakan untuk merancang alternatif perbaikan proses hardening S45C adalah Metode
Campuran Eksploratoris Sekuensial Pragmatik. Metode ini digunakan karena pada penelitian
ini penulis mengambil data kualitatif melalui diskusi, wawancara, literatur jurnal, observasi
lapangan, dokumentasi, dan hasil brainstorming. Pengambilan data kuantitatif didapatkan dari
interpretasi hasil kuesioner dan hasil percobaan yang diperoleh. Hubungan penggunaan data
kualitatif dengan data kuantitatif ini disebabkan survei terhadap pengalaman pekerja dan
penilaian dari konsumen dapat dilakukan dengan lebih baik hanya jika eksplorasi terhadap cara
proses hardening oleh pekerja dan konsumen terlebih dahulu diterapkan. Hasil penelitian ini
adalah usulan perbaikan metode proses hardening material S45C dengan cara mengubah media
quenching menjadi water kemudian oil dengan hasil kekerasan rata-rata 54 HRC dan kenaikan
28,07% dari metode yang diterapkan sebelumnya.
Kata Kunci : Material S45C, Heat Treatment, Metode Campuran, Hardening.

1. Pendahuluan Kualitas produk dikatakan baik apabila


1.1. Latar Belakang produk tersebut tidak mengalami cacat dan
Dunia industri saat ini sedang berkembang mencapai standar yang telah ditentukan
pesat. Kebutuhan dan selera masyarakat agar memiliki nilai kegunaan yang optimal
yang semakin banyak ragamnya, serta daya sesuai dengan umur produk. Permasalahan
beli masyarakat yang cenderung meningkat ini umumnya terlihat jelas pada industri
menyebabkan persaingan industri semakin manufaktur. Produk yang dihasilkan harus
ketat. Persaingan ketat tersebut menuntut optimal agar mendapatkan kepuasan
perusahaan memiliki strategi untuk pelanggan dan meningkatkan daya saing.
bersaing, yaitu menyesuaikan antara harga Politeknik ATMI Surakarta yang dijadikan
produk dengan kemampuan atau daya beli objek penelitian merupakan institusi
masyarakat. Faktor utama yang berkaitan pendidikan tinggi sekaligus industri yang
dengan harga produk adalah biaya produksi. berkonsentrasi pada pendidikan vokasi di
Biaya produksi ditentukan oleh penggunaan bidang manufaktur (mesin industri) di
bahan baku dan metode kerja yang Indonesia. Politeknik ATMI Surakarta
digunakan. Salah satu faktor yang beralamat di Jalan Mojo No. 1,
mempengaruhi metode kerja adalah prinsip Karangasem, Laweyan, Surakarta.
efektifitas dan efisiensi. Prinsip efektifitas Politeknik ATMI Surakarta memproduksi
memfokuskan agar tujuan dapat tercapai precision parts and tools, single purpose
tepat pada sasaran, sedangkan prinsip machine, sheet metals product, dan
efisiensi memfokuskan pemilihan cara yang injection plastic. Salah satu proses untuk
tepat agar mencapai sasaran tersebut. memproduksi precision parts and tools dan
Metode kerja yang baik akan berdampak single purpose machine adalah proses heat
pada penekanan biaya produksi dan treatment.
terjaminnya kualitas produk yang
Penulis mengambil topik perbaikan metode
dihasilkan.
hardening sebagai salah satu permasalahan
yang dialami Politeknik ATMI Surakarta.

2
Proses heat treatment yang sering material di bawah 57 HRC memberikan
dikerjakan Politeknik ATMI Surakarta sifat ulet, cepat aus, dan mudah mengalami
adalah machinery steel S45C yang deformasi sehingga dalam penggunaannya
diaplikasikan sebagai bahan pembuat tidak sesuai dengan harapan konsumen.
komponen mesin seperti gear, shaft, Buku data produksi material S45C di
coupling, pulley dan komponen lain. Politeknik ATMI Surakarta selama 1 tahun
Material S45C sangat sering digunakan terakhir menunjukkan adanya kejanggalan,
karena harganya yang sangat murah yaitu terdapat rentang nilai kekerasan yang
dibanding machinery steel lainnya seperti besar pada penggunaan metode dan
VCL 140, VCN 150, dan V330. Material perlakuan yang sama. Hal ini menimbulkan
S45C adalah merk salah satu produk baja ketidakpastian hasil kekerasan yang
yang diproduksi oleh BOHLER. S45C diperoleh dalam penerapan metode dan
memiliki kesamaan dengan beberapa merk perlakuan yang sama untuk mendapatkan
lain seperti AISI 1045, DIN C 45 W, hasil kekerasan tertentu yang diinginkan.
HITACHI NS 1045, ASSAB 760, dan
Berdasarkan permasalahan diatas maka
THYSSEN 1730. Setiap material tersebut
perlu dilakukan penentuan metode
memiliki jumlah kadar carbon, silizium,
perbaikan yang tepat, agar kekerasan
dan mangan yang sama, namun material
material S45C dapat sesuai dengan standar
tersebut diproduksi oleh pabrik yang
kekerasan BOHLER dan sesuai dengan
berbeda-beda. Sifat material S45C yang
harapan konsumen. Setidaknya toleransi
perbedaan kekerasan material 57 1 HRC,
dibutuhkan adalah keras, tahan aus, tahan
beban puntir, dan cukup ulet pada bagian
sesuai data BOHLER. Variabel bebas yang
inti. Sifat tersebut dapat diperoleh secara
digunakan adalah media pelindung, suhu
optimal bila kekerasan material tersebut 57
austenitizing, media quenching dan
HRC, sesuai dengan buku pedoman
perlakuan stress relieving, variabel terikat
BOHLER. HRC adalah satuan nilai
yang digunakan adalah suhu pre-heating,
kekerasan Rockwell seri C. Kualitas hasil
suhu tempering, waktu tahan/holding time
produk material S45C dicapai melalui tahap
austenitizing, ukuran diameter dan tebal
hardening dan tempering. Kedua tahap ini
material. Ukuran diameter dan tebal
bertujuan untuk meningkatkan kekerasan
material dijadikan konstan agar hasil yang
material, agar material tersebut sesuai pada
didapat memiliki rentang yang pendek
fungsi dan kondisi penggunaannya.
(Brammer dkk, 2011). Lamanya waktu dan
Masalah yang terjadi di Politeknik ATMI suhu sangat menentukan kenaikan
Surakarta adalah kekerasan material kekerasan yang dapat dicapai (Kuscu dkk,
tersebut tidak sesuai dengan standar 2008). Quenching merupakan proses
kekerasan (HRC) yang telah ditentukan lanjutan autenitizing, dengan menggunakan
oleh BOHLER. Cara pengerjaan material media pendingin untuk mencapai
S45C di Politeknik ATMI Surakarta saat ini kekerasan. Tanpa salah satu proses tersebut
dilakukan dengan cara heat treatment maka kekerasan tidak akan tercapai
berulang sebanyak dua kali dengan hasil (Raygan dkk, 2008). Perlakuan-perlakuan
akhir kekerasan maksimal 52 HRC. Heat tersebut akan membuat perubahan
treatment berulang ini dimaksudkan agar microstructure material awal menjadi lebih
kekerasan dapat meningkat, karena pada kuat dan keras (Clarke dkk, 2011).
hasil heat treatment pertama tidak diperoleh Kekerasan juga tidak dapat tercapai apabila
kekerasan yang diinginkan. Efek heat terjadi dekarburisasi (Shin dkk, 2009).
treatment berulang ini adalah struktur Metode yang tepat akan memberi beberapa
mikro besi menjadi sangat besar yang akan keuntungan seperti meminimalkan biaya
berpengaruh pada sifat mudah patah. produksi, menjaga agar kualitas dan standar
BOHLER menyatakan bahwa material tetap terpenuhi, serta meningkatkan
S45C seharusnya mampu mencapai persaingan di dalam pasar industri.
kekerasan 57 HRC dalam satu kali
pengerjaan heat treatment. Kekerasan

3
1.2. Rumusan Masalah Percobaan hardening ini terbatas pada
Berdasarkan latar belakang di atas diketahui proses austenitizing dan proses quenching,
bahwa permasalahan yang dialami mengingat kedua proses tersebut
Politeknik ATMI Surakarta dibagi menjadi merupakan proses kunci yang menentukan
2. Pertama adalah kekerasan material S45C hasil.
lebih rendah dengan data standar kekerasan
yang dikeluarkan oleh BOHLER. Kedua 2. Metode Penelitian
adalah adanya ketidakpastian hasil Menurut Creswell (2010), Metode
kekerasan (variasi nilai dengan rentang nilai Campuran merupakan pendekatan
yang besar) yang diperoleh saat penelitian yang mengkombinasikan atau
menggunakan metode serta ketentuan yang mengasosiasikan bentuk kualitatif dan
sama. bentuk kuantitatif. Pendekatan ini
melibatkan asumsi-asumsi filosofis,
1.3. Tujuan Penelitian aplikasi pendekatan-pendekatan kualitatif
Tujuan penelitian ini adalah : dan kuantitatif, dan pencampuran (mixing)
a. Merancang uji percobaan untuk proses kedua pendekatan tersebut dalam satu
hardening S45C. penelitian. Pendekatan ini lebih kompleks
b. Mengidentifikasikan dan dari sekadar mengumpulkan dan
membandingkan hasil percobaan untuk menganalisis dua jenis data, ia juga
dianalisis. melibatkan fungsi dari dua pendekatan
c. Menemukan metode yang tepat untuk penelitian tersebut secara kolektif sehingga
proses hardening S45C. kekuatan penelitian ini secara keseluruhan
lebih besar ketimbang penelitian kualitatif
1.4. Batasan Masalah dan kuantitatif.
Batasan masalah penelitian mengenai
Peneliti tidak menggunakan metode desain
perbaikan metode hardening material S45C
eksperimen Taguchi karena parameter yang
adalah:
digunakan dalam proses hardening tidak
a. Lingkup pembahasan terbatas pada
bisa diubah (harus sesuai dengan parameter
proses hardening material S45C,
Politeknik ATMI Surakarta) dan
mengingat permasalahan yang terjadi
keterbatasan akses penulis untuk masuk ke
adalah hasil kekerasan yang dicapai
area pengerjaan hardening. Keterbatasan
proses hardening material S45C tidak
akses ini dikarenakan pihak Politeknik
sesuai dengan data yang diberikan oleh
ATMI Surakarta tidak mengijinkan pihak
BOHLER dan tidak pasti meski
luar untuk melihat secara langsung proses
metode yang dilakukan sama.
pengerjaan hardening. Politeknik ATMI
b. Proses hardening dilakukan dengan
Surakarta hanya menyediakan jasa
menggunakan oven listrik, mengingat
hardening dan pembelian material saja,
permasalahan terjadi di Politeknik
sehingga penulis membeli material dan
ATMI Surakarta yang menggunakan
menggunakan jasa hardening di Politeknik
oven listrik sebagai alat utama proses
ATMI Surakarta.
heat treatment.
c. Material yang dipakai dalam Penulis menggunakan filosofis/pandangan
percobaan berukuran diameter 30 mm dunia pragmatik. Pandangan ini lebih
dan tebal 25 mm, mengingat pada berfokus pada efek-efek tindakan, berpusat
aplikasinya material ini hanya pada masalah, bersifat pluralistik, dan
membutuhkan kekerasan pada kulit berorientasi pada praktik dunia nyata. Para
dengan kedalaman +/- 5 mm per sisi. peneliti pragmatik lebih menekankan pada
d. Material trial disediakan oleh pihak pemecahan masalah dan menggunakan
Politeknik ATMI Surakarta, mengingat semua pendekatan yang ada untuk
persentase penggunaan bahan baku memahami masalah.
Politeknik ATMI Surakarta untuk
Penelitian ini menggunakan strategi
proses hardening mencapai 95%.
pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif

4
secara sekuensial dengan Metode Penelitian ini melakukan pengajuan
Campuran Eksploratoris Sekuensial pertanyaan-pertanyaan melalui diskusi,
Pragmatik. Eksploratoris Sekuensial wawancara, dan kuesioner. Pengumpulan
melibatkan pengumpulan dan analisis data data dilakukan dengan kuesioner dan
kualitatif pada tahap pertama dan kemudian rekapan data hasil kekerasan material S45C
diikuti oleh pengumpulan dan analisis data selama 1 tahun terakhir. Analisis data
kuantitatif pada tahap kedua yang dilakukan dengan mengecek hasil
didasarkan pada hasil-hasil tahap pertama. kekerasan dan analisis kuesioner. Laporan
Prosedur-prosedur eksploratoris dilakukan tertulis dilakukan dengan membuat
melalui pertanyaan-pertanyaan, penjelasan hasil yang diperoleh dari
pengumpulan data, analisis data, percobaan dan membuat perbandingan nilai
interpretasi, laporan tertulis, dan validasi. kekerasan rata-rata. Validasi dilakukan
dengan pengujian sekali lagi terhadap
Berdasarkan penjelasan diatas dapat
alternatif yang diambil.
disimpulkan bahwa metode yang tepat
untuk penelitian percobaan proses
3. Hasil dan Pembahasan
hardening adalah Metode Campuran
3.1. Pengujian Kekerasan Awal
Eksploratoris Sekuensial Pragmatik dengan
Material di Politeknik ATMI
strategi pengumpulan data kuantitatif dan
Surakarta
kualitatif secara sekuensial melalui
Pengujian kekerasan dilakukan sebanyak 3
prosedur eksploratoris. Hal ini dikarenakan
kali di 3 posisi berbeda dengan hasil 11
peneliti dengan Metode Campuran ini
HRC, 11 HRC, 12 HRC. Penelitian ini
melakukan suatu penelitian dengan asumsi
menggunakan pengujian kekerasan dengan
bahwa mengumpulkan berbagai jenis data
satuan Rockwell-C karena metode
yang dianggap terbaik dapat memberikan
pengujian tersebut sangat tepat
pemahaman yang menyeluruh tentang
penggunaannya untuk hardened steel, serta
masalah yang diteliti. Penelitian ini dapat
sama penggunaannya dengan alat uji
dimulai dengan survei secara luas agar
kekerasan di Politeknik ATMI Surakarta,
dapat dilakukan generalisasi terhadap hasil
sehingga hasil pengujian sama (tidak perlu
penelitian dari populasi yang telah
konversi ke satuan lain) dan lebih sesuai
ditentukan. Tahap selanjutnya dilakukan
dengan kondisi nyata di lapangan.
wawancara kualitatif secara terbuka agar
dapat mengumpulkan pandangan-
pandangan dari partisipan.

3.2. Parameter-Paramater yang Digunakan Dalam Proses Hardening Menurut


BOHLER
Tabel 3.1. Parameter Hardening BOHLER
Heat Temperatur, Applications
0
treatment C
Hot forming 1100-800 Low stressed parts in set of tools, all types of
Normalizing 850 hand tools and agricultural tools, structural
Annealing 680-710 parts for composite tools.
Stress 600-650
Relieving
Hardening 800-830
Quenchant After Average HRC after tempering at ...0C
Hardening 100 200 300 400 500 600
Water 54-57 HRC 57 54 48 49 42 38

5
3.3. Parameter-Paramater yang Digunakan Dalam Proses Hardening Menurut ATMI
Tabel 3.2. Parameter Hardening Politeknik ATMI Surakarta
Heat treatment Temperatur, Applications
0
C
Normalizing 40-50 di atas Low stressed parts in set of tools, all types of
suhu austenit hand tools and agricultural tools, structural
Annealing 50-150 di parts for composite tools.
bawah suhu
austenit
Stress 600-650
Relieving
Hardening 850
Quenchant After Average HRC after tempering at ...0C
Hardening 100 200 300 400 500 600
Oil Max 52 HRC - 54 - - - -

3.4. Rekapan Data Pengerjaan S45C = 38,841 dan 38,731


di Politeknik ATMI Surakarta g. Kedalaman luka tekan (e)
Selama ini Politeknik ATMI Surakarta e mm
HR = a
menggunakan media quenching oil untuk 0,002 mm
material S45C. Berikut ini adalah data 1 e = 0,002 a HR
tahun terakhir dari Politeknik ATMI = 0,002 100 38,786
Surakarta yang menggunakan suhu = 0,122 mm
tempering 2000C dengan media quenching
oil. 3.5. Parameter Variabel Percobaan
Perhitungan kekerasan rata-rata dengan Kekerasan Material S45C
media oil. Proses hardening merupakan sekumpulan
a. Jumlah data (n)= 14 proses yang saling terkait satu sama lain.
b. Nilai rata-rata (Xr)= = 38,786 Hal tersebut berarti setiap langkah atau

proses begitu penting peranannya karena
,
c. SD = = dapat menentukan keberhasilan atau
= 63,72 = 7,982
kegagalan proses hardening. Beberapa hal
,! ,! penting yang mempengaruhi kegagalan
d. SDr= = = , = 2,133
hardening, antara lain :
e. DR = 100% a. Suhu Austenitizing
,
b. Holding time (waktu tahan)
= 100% = 5,499%
, % Austenitizing (lihat tabel 3.3)
f. Nilai kekerasan (HR) = Xr Dr c. Media pelindung Austenitizing
= 38,786 5,499% d. Media Quenching (lihat gambar 3.1
= 38,786 0,055 dan 3.2)

Tabel 3.3. Ketentuan Holding Time Menurut Associated Swedish Steels AB


Thickness (mm) Holding Time at Austenitizing Temperature
(minutes)
<6 4
12 6
18 8
25 10
38 15
50 15
75 15
100 15

6
Tabel 3.3. Lanjutan
Thickness (mm) Holding Time at Austenitizing Temperature
(minutes)
125 15
150 15
175 15
>200 15

Gambar 3.2. Grafik TTT-Diagram dan Laju


Gambar 3.1. Grafik TTT-Diagram dan Laju
Pendinginan Pada Baja Karbon Bukan
Pendinginan Pada Baja Karbon Bukan
Paduan Dengan Kadar Karbon 0,83% Paduan Dengan Kadar Karbon 0,7%

Keempat hal di atas merupakan faktor menggunakan waktu 7 menit sesuai tabel
penting yang menentukan keberhasilan dari buku ASSAB. Hal-hal lain diluar
proses hardening (kekerasan material variabel tersebut dijadikan parameter tetap,
tinggi). Suhu austenitizing, media antara lain:
pelindung austenitizing, dan media a. Suhu pre-heating : 500C
quenching digunakan sebagai variabel b. Suhu tempering : 200C
bebas untuk memperoleh hasil pengerasan c. Holding time 7 menit
yang terbaik. Waktu tahan/holding time

3.6. Analisis Data Hasil Percobaan Alternatif 1, 2, 3, 4, 5, dan 6


Berdasarkan 6 alternatif yang telah dilakukan dapat dibandingkan hasil pengujian kekerasan
tiap-tiap alternatif, yaitu:

Tabel 3.4. Hasil Kekerasan Percobaan Alternatif 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 di Pengujian ATMI


Alternatif Kekerasan setelah Kekerasan setelah Kekerasan rata-rata
quenching (HRC) tempering (HRC) setelah tempering
1 46;47;49;49;48 48;43;48;47,5;47 47
2 58;56;59;58;57 56;56;57;56;55,5 56
3 54;55;54;55;56 54;54;56;54;55 54
4 50;51;53;52;50 51;52;51;51,5;52 51
5 61;60;61;60;59 58;60;59;58,5;59 59
6 56;56;55;55;54 55;56;54;55,5;54,5 55

Berdasarkan data hasil percobaan, juga dapat diketahui bahwa:

7
Tabel 3.5. Hasil Kekerasan Percobaan 1, 2, 3, 4, 5, dan 6
Alt. Kelebihan Kekurangan
1 a. Waktu proses efisien (tidak perlu set Kekerasan material rendah
ulang suhu oven)
b. Tidak ada resiko crack
2 a. Waktu proses efisien (tidak perlu set Resiko crack sangat besar karena laju
ulang suhu oven) pendinginan sangat cepat, terutama komponen
b. Kekerasan material tinggi dan sesuai dengan desain kritis
data BOHLER
3 a. Waktu proses efisien (tidak perlu set Kekerasan material tinggi namun belum sesuai
ulang suhu oven) data BOHLER
b. Resiko crack dapat diminimalisir karena
ada pengurangan laju pendinginan
4 Tidak ada resiko crack a. Perlu waktu lebih untuk setting ulang suhu
oven
b. Kekerasan material tinggi namun belum
sesuai data BOHLER
5 Kekerasan paling tinggi di antara alternatif a. Perlu waktu lebih untuk setting ulang suhu
lain oven
b. Resiko crack sangat besar karena laju
pendinginan sangat cepat, terutama
komponen dengan desain kritis
c. Kekerasan terlalu tinggi dibandingkan
dengan data BOHLER, sehingga besar
kemungkinan material sangat getas
6 a. Kekerasan material tinggi dan sesuai Perlu waktu lebih untuk setting ulang suhu
data BOHLER oven
b. Resiko crack dapat diminimalisir karena
ada pengurangan laju pendinginan

Berdasarkan 6 alternatif percobaan di atas, c. Resiko material mengalami crack juga


dapat disimpulkan bahwa alternatif ke 6 menjadi minimal karena ada
merupakan alternatif terbaik karena: penurunan laju kecepatan pendinginan.
a. Alternatif 6 memberikan hasil Ketiga alasan tersebut menunjukkan bahwa
kekerasan yang paling maksimal dan alternatif 3 dipilih sebagai alternatif terbaik
sesuai data BOHLER dibandingkan agar hasil penelitian ini semakin riil
metode hardening yang lain (55 HRC). mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.
b. Resiko material mengalami crack juga
menjadi minimal karena ada 3.7. Analisis Data Hasil Percobaan
penurunan laju kecepatan pendinginan. Alternatif 3 dan alternatif 7
Penulis dan pihak Politeknik ATMI Alternatif 7 menghasilkan kekerasan
Surakarta lebih memilih alternatif 3 dengan sebesar 54 HRC. Percobaan tersebut
alasan: memberi kesimpulan bahwa metode
a. Kekerasan yang diperoleh sudah cukup alternatif yang terbaik adalah alternatif 3
mendekati data BOHLER dan hasil karena hasil kekerasan yang diperoleh tidak
tersebut masih masuk dalam toleransi jauh berbeda, namun alternatif 7
nilai kekerasan yang digunakan di membutuhkan waktu holding time yang
ATMI, yaitu 2 HRC. Hasil kekerasan lebih lama (+30 menit). Perbandingan
yang diperoleh hanya berbeda sedikit percobaan tersebut membuktikan bahwa
dari hasil alternatif 6. alternatif 3 lebih baik daripada alternatif 7.
b. Penghematan waktu proses dan
penghematan listrik penggunaan oven 3.8. Analisis Data Hasil Percobaan
juga menjadi pertimbangan terbesar Alternatif 3 dan Alternatif 8
untuk memilih alternatif 3. Alternatif 8 menghasilkan kekerasan
sebesar 57 HRC. Percobaan tersebut

8
memberi kesimpulan bahwa metode Penulis menyimpulkan bahwa alternatif 3
alternatif 8 lebih baik daripada alternatif 3 merupakan metode hardening yang cocok
karena memberi kekerasan yang lebih untuk digunakan pada proses hardening
tinggi (57 HRC) dan menghilangkan material S45C secara umum mengingat
adanya resiko crack. Tambahan proses hasil kekerasan yang tinggi dan waktu
stress relieving yang memakan banyak proses yang pendek, namun apabila terdapat
waktu perlu diperhatikan dengan material/produk dengan desain yang kritis
output/hasil yang diperoleh sepadan atau (memperbesar resiko crack) maka penulis
tidak dengan biaya yang dikeluarkan. menyarankan untuk menggunakan alternatif
8 sebagai metode hardening.
Tabel 3.6. Analisis Data Hasil Alternatif 3 dan 8
Pembanding Alternatif 3 Alternatif 8
Kekerasan (HRC) 54, 54, 56, 54, 55 HRC 57 HRC
Resiko Crack Ada tapi minimal Tidak ada (karena ada stress relieving).
Jumlah proses 1 (hardening) 2 (stress relieving dan hardening)
Lama proses Hardening = 7 menit stress relieving = 3 jam. Hardening = 7
menit

3.9. Analisis Data Hasil Percobaan bagian tengah oven. Hal ini dikarenakan
Alternatif 3 dan Hasil Yang udara panas selalu berada di posisi atas.
Telah Dicapai ATMI 1 Tahun
Terakhir 4. Kesimpulan
Berdasarkan data yang ada, dapat diketahui Hasil dari percobaan material S45C
bahwa selama 1 tahun terakhir ini ATMI yang telah dilakukan penulis adalah
menggunakan media quenching oil. sebagai berikut :
Perhitungan nilai kekerasan yang tercapai 1. Suhu stress relieving yang digunakan
selama ini memiliki rata-rata 38 HRC. alternatif 8 adalah 6500C. Holding time
Tentunya hal ini dapat diperbaiki dengan stress relieving yang digunakan
penggunaan alternatif 3 dengan nilai rata- alternatif 8 adalah 180 menit. Holding
rata kekerasan 54 HRC. Metode yang time pendinginan stress relieving yang
diubah adalah media quenching oil menjadi digunakan alternatif 8 adalah metode
water kemudian oil. Perbandingan nilai slow cooling. Suhu pre-heating yang
kekerasan yang telah dicapai ATMI 1 tahun digunakan alternatif 1 sampai dengan
terakhir dengan alternatif 3, menunjukan alternatif 8 adalah 5000C. Suhu
adanya kenaikan sebesar 28,07%. austenitizing yang digunakan alternatif
1 sampai dengan alternatif 8 secara
3.10. Kendala Pembuatan Alternatif berturut-turut adalah 8500C, 8500C,
Kendala selama pembuatan alternatif adalah 8500C, 8100C, 8100C, 8100C, 8500C,
penggunaan oven tanpa pelindung yang dan 8500C. Holding time austenitizing
dapat menyebabkan terjebaknya oksigen di yang digunakan alternatif 1, 2, 3, 4, 5,
dalam oven sehingga terjadi oksidasi. 6, dan 8 adalah 7 menit. Alternatif 7
Peristiwa ini dapat dicegah jika Politeknik menggunakan holding time
ATMI Surakarta mengganti dengan oven austenitizing 7 menit + 30 menit.
vacuum. Selama melakukan percobaan di Media austenitizing yang digunakan
Politeknik ATMI Surakarta, posisi alternatif 7 adalah arang, sedangkan
peletakan benda uji di dalam oven berada di alternatif lainnya tidak menggunakan
dasar oven. Hal ini dapat mempengaruhi arang. Media quenching yang
perataan panas benda uji. Alasan Politeknik digunakan alternatif 1 sampai dengan
ATMI Surakarta meletakan benda uji di alternatif 8 secara berturut-turut adalah
bagian dasar oven dikarenakan tidak adanya oil, water, water-oil, oil, water, water-
keranjang bantu untuk wadah di dalam oil, water-oil, dan water-oil. Suhu
oven. Letak yang paling bagus adalah di tempering yang digunakan alternatif 1
bagian atas dalam oven atau setidaknya di sampai dengan alternatif 8 adalah

9
2000C. Holding time yang digunakan 2. Brammer, P., Mauvoisin, G., Bartier,
alternatif 1 sampai dengan alternatif 8 O., Hernot, X., & Sablin, S.-S. (2011).
adalah 1 jam. Hasil kekerasan Influence of sample thickness and
alternatif 1 sampai dengan alternatif 8 experimental device configuration on
secara berturut-turut adalah 47 HRC, the spherical indentation of AISI 1095
56 HRC, 54 HRC, 51 HRC, 59 HRC, steel. Journal of Materials Research,
55 HRC, 54 HRC, dan 57 HRC. 27(01), 7684.
2. Penerapannya penulis dan pihak doi:10.1557/jmr.2011.247
Politeknik ATMI Surakarta lebih 3. Clarke, K. D., Van Tyne, C. J., Vigil,
memilih alternatif 3. Pertama, C. J., & Hackenberg, R. E. (2011).
kekerasan yang diperoleh sudah cukup Induction Hardening 5150 Steel:
mendekati data BOHLER dan hasil Effects of Initial Microstructure and
tersebut masih masuk dalam toleransi Heating Rate. Journal of Materials
nilai kekerasan yang digunakan di Engineering and Performance, 20(2),
Politeknik ATMI Surakarta, yaitu 2 161168. doi:10.1007/s11665-010-
HRC. Hasil kekerasan yang diperoleh 9825-8
hanya berbeda sedikit dari hasil 4. Creswell, J. W. (2010). Research
alternatif 6. Kedua, penghematan Design Pendekatan Kualitatif,
waktu proses dan penghematan listrik Kuantitatif, dan Mixed. Hal 3-28 dan
penggunaan oven juga menjadi 304-324. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
pertimbangan terbesar untuk memilih 5. H.M., Jogiyanto. (2008). Pedoman
alternatif 3. Ketiga, resiko material Survei Kuesioner (Ed. 1). Hal 169-175.
mengalami crack juga menjadi Badan Penerbit Fakultas Ekonomika
minimal karena ada penurunan laju dan Bisnis UGM. Yogyakarta.
kecepatan pendinginan. Ketiga alasan 6. Kuscu, H., Becenen, I., & Sahin, M.
tersebut menunjukkan bahwa alternatif (2008). Evaluation of temperature and
3 dipilih sebagai alternatif terbaik agar properties at interface of AISI 1040
hasil penelitian ini semakin riil steels joined by friction welding.
mendekati kondisi sebenarnya di Assembly Automation, 28 (4), 308
lapangan. 316. doi: 10.1108/
3. Penulis menyimpulkan bahwa 01445150810904468
alternatif 3 merupakan metode 7. Rajan, T.V., Sharma, C.P., dan
hardening yang cocok untuk Sharma, A. (1994). Heat Treatment-
digunakan pada penerapan proses Principles and Techniques (Ed. 4). 1-3,
hardening material S45C secara umum 97-122, 238-240. Jaipur-India:
mengingat hasil kekerasan yang tinggi Prentice Hall of India.
dan waktu proses yang pendek, namun 8. Raygan, S., Rassizadehghani, J., &
apabila terdapat material/produk Askari, M. (2008). Comparison of
dengan desain yang kritis Microstructure and Surface Properties
(memperbesar resiko crack) maka of AISI 1045 Steel After Quenching in
penulis menyarankan untuk Hot Alkaline Salt Bath and Oil.
menggunakan alternatif 8 sebagai Journal of Materials Engineering and
metode hardening. Performance, 18(2), 168173.
doi:10.1007/s11665-008-9273-x
Catatan: artikel ini disusun berdasarkan 9. Shin, H. S., Kim, S. W., Kim, H. P., &
skripsi penulis Era Satyarini dengan Park, J. K. (2009). Effect of
Pembimbing 1 Baju Bawono, S.T.,M.T. Decarburization Heat Treatment and
Chromium Addition on Corrosion
Daftar Pustaka Behavior of Carbon Steel, (May)
1. BOHLER. Special Steel. PT. Bhinneka 10. Suroto, A. dan Sudibyo, B. (1983).
Bajanas (Distributor) : Jakarta. Ilmu Logam Metallurgy. ATMI
Michael College. Solo: ATMI PRESS.

10