Anda di halaman 1dari 6
KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA No 8. 4324 /01-16/07/2017 27 Juli 2017 Sifat Segera Lampiran 1 (Satu) berkas Perihal Penguatan Aparat Pengawasan intern Pemerintah (APIP) Yth. Presiden RI di Jakarta Berdasarkan kewenangan KPK dalam Pasal 6 dan Pasal 14 Undang Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kami telah ‘melakukan kajian bersama Kementerian Dalam Negeri. Penguatan APIP diperiukan untuk efektifitas upaya mencegah dan memberantas korupsi, memperkuat Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan mencapai target RPJMN yaitu seluruh APIP mencapai level 3 (tiga) pada akhir tahun 2019. Penguatan APIP kami rekomendasikan agar dilakukan mencakup 3 (tiga) aspek penting, yaitu’ 1. Aspek Kelembagaan - untuk memperkuat independensi para APIP; 2. Aspek Anggaran - untuk menjamin kecukupan anggaran bagi pelaksanaan kegiatan Pengawasan; dan 3. Aspek Sumber Daya Manusia baik jumiah SDM maupun kompetensi teknis. Independensi APIP merupaken prasyarat untuk pengawasan yang efektif meskipun UU 23 tentang Pemerintah Daerah tahun 2014 menyatakan bahwa APIP merupakan perangkat Daerah. Kami rekomendasikan ager APIP diangkat dan diberhentikan oleh MenteriKepala Lembaga dan Kepala Daerah berdasarkan persetujuan dari Presiden, Menteri Dalam Negeri dan Gubernur masing masing untuk APIP Kementerian/Lembaga, APIP Provinsi dan APIP Kabupaten/Kota. Kami merekomendasikan kenaikan tingkat eselon untuk APIP daerah menjadi setara dengan eselon Sekertaris Daerah dari posisi selama ini yang berada dibawah Sekertaris Daerah, Untuk menjamin independensi terhadap hasil pemeriksaan kepatuhan (audit) dan Pomeriksaan investigasi termasuk tindak lanjut atas hasil pemeriksaan APIP, kami rekomendasikan agar melibatkan BPKP Perwakilan dan Pusat. Pelibatan ini perlu diatur melalui nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Dalam Negeri dan BPKP (bagan terlampir) Laporan pengaduan dari masyarakat yang diterima KPK juga akan disampaikan ke APIP_ Kementerian/Lembaga, APIP Provinsi dan APIP Kabupaten/Kota . untuk ditindaklanjuti termasuk melakukan audit investigasi bekerja sama dengan BPKP Perwakilan/Pusat. Jain Kuningan Persada Kav. 4, Setiabudi, Jakarta Selatan 12950 Teip. (62 21) 25578300, Faks. (62 21) 25578333, httpy/www.kpkgo.id Untuk menjamin tersedianya anggaran yang memadai untuk pelaksanaan kegiatan Pengawasan oleh APIP, Kementerian Dalam Negeri/Kementerian Keuangan akan menerbitkan regulasi yang mewajibkan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga untuk mengalokasikan persentase tertentu dari nilai APBD/APBN per tahun, Persentase ini akan mengecil untuk pemerintah daerah yang tergolong kaya, sebaliknya akan membesar untuk daerah miskin. Dengan adanya jaminan besaran anggaran tahunan, maka diharapkan APIP dapat melakukan fungsi pengawasan yang lebih luas. Dibutuhkan sedikitnya 46.000 (empat puluh enam ribu) orang tenaga APIP daerah. Saat ini baru terisi 16.000 (enam belas ribu) orang sehingga terdapat kekurangan sedikitnya 30.000 (tiga puluh ribu) orang APIP. Kami merekomendasikan agar jumlah SDM APIP di pemerintah daerah dipenuhi selain melalui proses inpassing pegawai selama ini, juga melalui penerimaan lulusan IPDN dan STAN setiap tahunnya. Demikian kami sampaikan dan atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih Tembusan Yth: 1. Menteri Dalam Negeri 2. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 3. Kepala BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) 4, Deputi PIPM KPK Lampiran Surat Nomor : B-43244 /01-16/07/2017 Tanggal 23 Juli 2017 Star) WN Cabr eat Pee Daa ask Te oe Cae a Suess cc cenaaiig mb ae aos ees Crain els Dre Tay Goh} Keterangan: I Penyampaian Laporan Hasil Pemeriksaan dan Pemeriksaan Investigasi. & Monitoring tindak lanjut audit dan Pelaksaan Audit investigasi. RINGKASAN HASIL KAJIAN “PENGUATAN APIP” Aparat Pengawasan Intemal Pemerintah (APIP) baik yang berada di tingkat Kementerian Lembaga, Provinsi dan Kabupaten/kota dirasakan tidak berkontribusi terhadap perbaikan tata kelola pemerintahan. Lebih spesifik lagi, erannya dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. ada hampir- seluruh kasus Korupsi yang teyjadi di kementerianfembaga dan pemerintah daereh, APIP tidak terlinat mendeteksi atau bahkan mencegah kejadian tersebut. APIP dipandang hanya sebagai unit organisasi yang merupakan kepanjangan tangan dari pemimpin lembaga termasuk pemerintah daerah, Independensi APIP disebut sebagai penyebab tidak efektifnya APIP dalam pemberantasan korupsi dan perbaikan tata kelola pemerintah. Simpulan ini dibangun karena APIP diangkat dan diberhentikan oleh pemimpin lembaga balk renter, kepala lembaga, gubernur maupun bupatiwalkota. Dengan Kondisi seperti ini tentu saja independensinya dalam merjalankan fungsi pengawasan tidak akan efektf. APIP tidak mungkin dapat melakukan engawasan,mendeteksi atau mencegah tindak pidana korupsi ketike atasannya yang menjadi sasaran. APIP ‘merupakan perangkat pemerintah daerah'. APIP dimandatkan menjalankan fungsi (a) audit (pemeriksaan), (b) review atas laporan keuangan (c) evaluasi, (4) pemantauan, (e) pengawasan serta (f) penegakan hukum:? Namun dari pelaksanaan mandat tac tidak seluruhnya memibutuhikan independensi balk in-fact maupun in appearance. Bahkan untuk penugasan evaluasi dan pemantauan, APIP justru harus bekerjasama erat dengan pihak lain, Faktor faktor yang menyebabkan tidak efektifnya APIP antara lain: ~ Kelembagaan yaitu posisi dalam struktur organisasi pemerintah daerah yang terlalu rendah. APIP Daerah berada dibawah Sekda + Sumber Daya Manusia,baik jumiah aparat maupun kompetensi yang dimiik + Kecukupan anggaran. Berikut uraian dari masing masing faktor datas: Kelembagaan. APIP akan lebih efektif dalam pelaksanaan fungsi yang dimandatkan ketika independensinya terjaga terutama untuk fungsi Audit (pemeriksaan), pengawasan serta penegakan hukum termasuk deteksi dan tindak lanjut pengaduan tentang korupsi. Pada saat yang sama, perannya sebagai bagian dari perangkat daerah atau kementerian lembaga untuk membanty kepala daerah dapat terlaksana yaitu fungsi review atas laporan keuangan evaluasi dan pemantauan, Usuian bentuk kelembagaan untuk APIP daerah dan pusat dapat digambarkan sebagai berikut ¥ pasal 209 UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah * pasal 48 Peraturan Pemerintah No.60/2008 tentang Sistem Pengendalian internal Pemerintah-SPIP Untuk APIP daerah, struktur ini disebut Kuasi Vertikal dimana perangkat daerah melaksanakan fungsidengan keterlibatan dari instansi pusat. uanerer ci ie ale cle) bal ge Cue ie Cre cid ca erasers Can 1. PenganokataniPemberhentian Pengangkatan/pemberhertian pejabat struktural APIP menggunakan metode quasi vertkal secara berjeniang, sebagai beriut: a. Pejebat struktural APIP Kabupaten/Kota diangkat dan dibethentikan oleh Bupati(Walikota berdasarkan persetujuan Gubemur. b. Pejabat struktural APIP Provinsi diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur berdaserkan persetujuan Menteri Dalam Negeri. ©. Pejabat struktural APIP KementerianiLembaga diangkat dan diberhentixan oleh Menter/Kepala Lembaga berdasarkan oersetujuan Presiden/Wakil Presiden, 2. Pelaporan Hasil Pengawasen ‘2. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, APIP menyampaikan laporan hasil pengewasan kepada Kepala Daerah/MenteriKepala Lembaga, '. Khusus untuk Laporan Hasil Pengawasan atas pengaduan yang berindikasi korupsi, Pemeriksaan investigasi, Rekomendasi hasi! audit, disampaikan sebagai berkut i. Inspektorat KabupateniKota kepada Gubemur. ii, Inspektorat Provinsi kepada Mendagri il, InspektoratlSP! Kementerian/Lembaga kepada Wakil Presiden 3. Penjaminan Mutu & Suoervisi Hasil Penoawasan Dalam rangka meningkatkan kualitas hasil pengawasan dan memastikan tindak lanjut atas hasi! pengawasan yang telah dilaporkan APIP sebagaimana disebutkan dalam angka 2.b di atas, Gubemur (melalui APIP Provinsi) akan berkoordinesi dan mendapat bantuan teknis dari BPKP Perwakilan. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (melalui jen Kemdagr) dan Wakil Presiden dari BPKP Pusat. SUMBER DAYA MANUSIA Berdasarkan hasil kajian Kementerian Dalam Negeri, jumlah APIP baik Auditor maupun P2UPD se Indonesia kurang lebin 16,000 orang dengan kebutuhan ideal 26,000 orang. Kebijakan moratorium PNS menjadi salah satu tantangan dalam mencukupi kebutuhan SDM APIP [Untuk mengatasi Kekurangan jumlah APIP ini, maka perlu dibuat kebijakan afirmatifdiantaranya: , Inpassing jabatan fungsional (Jafung) P2UPD sesuai SE Mendagri Nomor $00/712/SJ dan dengan pembinaan yang ketat untuk memastikan penguatan kompetensi b. Penempatan lulusan Praja IPON ke Inspektorat Daerah dengan memberikan pelatihan pengawasan yang memadai untuk memastikan syarat kompetensi terpenuhi ©. Pemerintah Daerah melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk memenuhi Kebutukan SDM APIP dengan persyaratan yang memadai dan pelatinan yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan pengewasan Kompetensi SDM APIP dapat ditingkatkan dengan koordinasi antara BPKP, Asosiasi Auditor Internal Pemerintah Indonesia- AAIP! untuk penyusunan pedoman pendidikan berkelanjutan bagi APIP. Kecukupan Anggaran Terdapat setidaknya 31 (tiga puluh satu) jenis kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh APIP di Pemerintah Daerah. Secara umum dibagi 4 (empat), yaitu: pengawasan rutin, pengawasan atas kegiatan yang menjadi orioritas nasional/daerah, pengawalan reformasi birokrasi, dan penegakan integritas. Mengingat pentingnya fungsi pengawasan yang ditakukan oleh APIP, maka anggaran pengawasan harus dipastikan ketercukupannyat asal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah memeritehkan kepada Menteri Dalam Negeri dan menteri teknis/kepala lembaga untuk mencantumkan program pembinaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintah daerah dalam dokumen perencanaan dan penganggaran kementeriar/lembaga. Pasal 14 tersebut juga mewajbkan Kepala Daerah untuk merencanakan, menganggarkan, dan mengalokasikan anggaran pembinaan dan pengawasan. Kementerian Dalam Negeri sudah berkomitmen untuk mengatur penganggaran kegiatan pengawasan oleh setian Pemerintah Daerah melalui Peraturan Menteri Dalam Neger tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang ditrbitkan setiap tahun sebagai pedoman penyusunan APBD berdasarkan Pasal 14 PP 12/2017, Salah satu metode penganggaran yang diusulkan akan persentase tertentu berdasarkan cluster daerah. Daerah yang tergolong kaya dengen rilai absolut APBD beser akan mengapikasikan persentase yang lebih Kec dibandingkan dengan daerah yang tergolong miskin ‘Surat endogs Nomor 9002500, anggal 23 Seplenber 2008 merdorong Pea agar mengelokoikn enggeran pengawasan minima 1% dah APBD. "Nama hasiny kureng elk korea ek meng pinsip money flows progr sesual UU No 17 Tahun 2003. Sebabnye adalah belum adanya aewan ar Pusat tert stardar anal beara kejlan gongavasan yang hans danggartan yang elput nis hegatn pengawasan,jumlah person, jumiah hat pengawasen cl