Anda di halaman 1dari 7

KARAKTERISTIK LINDI HITAM HASIL SAMPING PEMASAKAN KRAFT

BAGAS SORGHUM (Sorghum bicolor L Moench)

Widya Fatriasari*1, Suprianto2, A.Heri Iswanto3

1
Pusat Penelitian Biomaterial, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Jl Raya Bogor KM 46 Cibinong 16911, Indonesia
2
SEAMEO BIOTROP
Jl. Raya Tajur Km 6 PO BOX 116 Bogor, Indonesia
3
Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
* Corresponding author; widya.fatriasari@biomaterial.lipi.go.id

Abstrak
Proses pemasakan kraft mendominasi proses pulping dalam produksi pulp dan kertas di dunia termasuk
Indonesiam dimana lindi hitam dihasilkan sebagai produk hasil sampingnya. Lindi hitam banyak mengandung
lignin yang dapat dimanfaatkan menjadi produk turunan bernilai, dimana 86%-nya dimanfaatkan untuk sumber
panas dan pembangkit listrik untuk industri. Salah satu biomassa yang termasuk limbah yaitu bagas sorghum
berpotensi sebagai bahan pulp dan kertas. Bagas sorghum ini diperoleh dari hasil ekstraksi batang sorghum
untuk produksi gula. Dengan proses pulping kraft bagas sorghum tersebut, telah dihasilkan pulp dan kertas
yang memiliki karakteristik yang baik. Namun belum dilakukan evaluasi karakteristik lindi hitam hasil
samping proses pulping kraft tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk megobservasi pengaruh konsentrasi alkali
aktif dan sulfiditas dalam proses pulping kraft bagas sorghum terhadap karakteristik lindi hitam. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkali berkisar 16.09-16.84 %. Konsumsi alkali terendah diperoleh
pada sulfiditas 22% dan alkali aktif 17%. Semakin rendah konsumsi alkali semakin baik sifat pulp yang
diperolehnya. Lindi hitam bersifat basa yang ditunjukkan oleh pH yang berkisar 10.47-12.79 dan antar
pelakuan tidak berbeda secara signifikan. Total padatan dalam lindi hitam berkisar 65.877,78-81.556,22 mg/L
dengan total padatan tertinggi pada alkali aktif 22% dan sulfiditas 24%. Kadar padatan tersuspensi dari lindi
hitam berkisar 0.26917-4.27042 mg/L.
Kata kunci: pulping kraft, karakteristik lindi hitam, bagas sorghum, konsentrasi bahan pemasak

Pendahuluan
Sampai saat ini kayu merupakan bahan baku utama dalam industri pulp dan kertas
di dunia termasuk Indonesia. Kayu cepat tumbuh (fast growing species) dari hutan tanaman
industri (HTI) digunakan sebagai sumber bahan baku di industri ini. Meskipun selama kurun
waktu 10 tahun terakhir telah terjadi peningkatan konsumsi pulp dan kertas, namun tidak
diimbangi dengan ketersediaan bahan baku secara berkesinambungan (World Pulp and
Paper 2010; Jeminez et al. 2009). Hal ini memerlukan alternatif bioamssa lain sebagai
subtitusi bahan baku yaitu dari residu bahan pertanian, serat sekunder dan kertas daur ulang
baik berupa serat pendek maupun panjang termasuk dari bagas sorghum. Sorgum merupakan
tanaman multiguna yang bersifat adatif pada berbagai kondisi lahan. Kandungan selulosa
yang cukup tinggi (42.3 %) dan dengan kandungan lignin katagori sedang (17.4 %) membuat
sorghum dapat menjadi alternatif menarik sebagai bahan baku pulp dan kertas (Fatriasari et
al. 2015). Dibandingkan dengan kayu cepat tumbuh dengan daur tebang 7 tahun, sorghum
mampu menghasilkan selulosa 3.5 kali lipat lebih tinggi (Suprianto 2012). Pemanfaatan yang
umum dari sorghum antara lain sebagai sumber energi, sumber pangan, dan pakan ternak.
Dalam proses pemasakan untuk produksi pulp dan kertas selain dihasilkan pulp juga
dihasilkan lindi hitam (black liquor) sebagai hasil samping proses produksi. Rendemen
pemasakan pulp umumnya berkisar 50 %, maka sekitar 50 % berupa lindi hitam dimana
sekitar 86%-nya dimanfaatkan untuk sumber panas dan pembangkit listrik untuk industri
dan 14% berupa loss yang masih belum dimanfaatkan secara optimal (Mercer International
2008). Semakin terbukanya pasar pulp dan kertas di dunia mendorong semakin tingginya
produksi pulp dan kertas. Hal ini mendorong peningkatan ketersediaan lindi hitam dalam
industri. Lindi hitam dari pemasakan kraft dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan
(Santoso 2001) karena kandungan senyawa kimia bivalen seperti metil merkaptan, dimetil
sulfida (C-H2)2S) dan dimetil disulfida ((CH3)2S) yang merupakan turunan hidrogen sulfida
(Sjostrom 1995) yang bersifat racun. Degradasi asam lemak menjadi asam-asam lemak
berantai pendek seperti asam butirat, senyawa hasil degradasi karbohidrat, terbentuknya
asam format dan asam asetat (Gillingan 1974).
Secara kandungan, lindi hitam tersebut merupakan campuran sangat kompleks terdiri
dari 2 komponen utama yaitu air dan lignin serta produk-produk degradasi karbohidrat juga
ekstraktif dan produk reaksinya (Sjostrom 1995). Lignin tersusun dari unit-unit fenil propana
dan banyak mengandung senyawa aromatik. Berat molekul lignin bisa mencapai lebih dari
15.000 (McCrady 1991; Vanholme et al. 2010). Berdasarkan sifatnya (dispersitas, daya
rekat, kestabilan emulsi), lignin hasil isolasi lindi hitam dapat dimanfaatkan menjadi bahan
perekat kayu, aditif, biosurfaktan, bahan pewarna, bahan pengemulsi, dispersan bahan kimia
pertanian, pengkondisi tanag, pengeboran sumur minyak, resin fenolformaldehida (Setiawan
dan Ruhyat 2001), pelunak kompon karet (Cipriadi 2013), lignosulfonat (Syabirin 2009),
biosurfaktan berbasis lignin seperti amphipilic lignin derivatives (A-LD) (Fatriasari et al.
2017).
Sebelumnya Fatriasari et al. (2015) telah melaporkan sifat pulp dan kertas yang
dihasilkan pada berbagai macam konsentrasi bahan pemasak yaitu alkali aktif dan sulfiditas.
Namun, pengaruh perbedaan kondisi pemasakan terhadap karakteristik lindi hitam yang
diperoleh belum diobservasi. Oleh karena itu, untuk melengkapi penelitian sebelumnya
maka penelitian ini penting dilakukan.

Bahan dan Metode


Bahan
Bagas sorghum dari varietas Numbu hasil penanaman di kebun SEAMEO BIOTROP, Bogor
Indonesia diperoleh dari hasil ekstraksi batang sorghum untuk produksi bioetanol. Bagas
sorghum kemudian dipotong secara manual berukuran 4-5 cm kemudian diproses dengan
drum chipper dan hammer mill sehingga diperoleh ukuran partikel 2-3 cm. Selanjutnya
partikel direbus pada suhu 100 C selama 1 jam dan dicuci air bersih 3 kali. Partikel tersebut
selanjutnya dikering udarakan dan dikeringkan dengan oven pada suhu 40 C untuk
mencapai kadar air 7-10 %. Bahan kimia teknis (NaOH dan Na2S) digunakan sebagai
bahan kimia pemasak, sedangkan bahan kimia analisis untuk karakteristik lindi hitam dalam
Pure Analitik (P.A).

Metode
Pemasakan pulping kraft
Kondisi pemasakan kraft bagas sorghum dilakukan berdasarkan Fatriasari et al. (2015)
yaitu partikel bagas sorghum sebanyak 250 g BKO dimasak dengan proses kraft dengan
menggunakan variasi konsentrasi alkali aktif yaitu 17, 19, 22% dan sulfiditas yaitu 20, 22,
24%. Suhu maksimum pemasakan dicapai selama 1.5 jam dan suhu pemasakan 170 C
dipertahankan dalam waktu 2.5 jam. Rasio antara bahan kimia pemasak dan partikel adalah
10: 1. Setelah proses pemasakan, dilakukan pemisahan pulp dengan lindi hitam. Pulp
kemudian dicuci untuk menghilangkan alkali yang terkandung dalam pulp.
Karakteristik lindi hitam

Padatan total (total solid) dan padatan tersuspensi (suspended solid)


Pengukuran padatan total dilakukan dengan mengambil lindi hitam sebanyak 50 mL
dan ditmbang (W1) dan kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 105 C selama 24
jam. Berat kering oven (W2) hasil pengeringan lindi hitam kemudian ditimbang untuk
mendapatkan berat akhir lindi hitam. Penentuan total padatan mengikuti rumus berikut.
12
Total padatan = 1 x 100% (1)
Prinsip pengukuran padatan tersuspensi dilakukan dengan penyaringan lindi hitam
yang telah ditimbang terlebih dahulu. Penyaringan dilakukan dengan menggunakan IG3
kemudian dilakukan pengeringan dalam oven 1050 C, selama 24 jam dan ditimbang berat
akhirnya. Ulangan pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali dan data disajikan dalam rata-rata
dan standard deviasi.

Konsumsi alkali
Sebanyak 12.5 mL lindi hitam dan BaCl210% dimasukkan ke dalam elemeyer 250 mL
dan ditambahkan aquades hingga mencapai tanda tera. Kemudian larutan tersebut dikocok
hingga homogen dan didiamkan selama 24 jam. Tahap selanjutnya adalah bagian larutan
bening sebanyak 12.5 mL larutan bening dimasukan dalam elemeyer 100 mL dan
ditambahkan dengan indikator sindur metil sebanyak 2-3 tetes dan larutan dititrasi dengan
HCl 0,1 N, sampai titik setara.Pengukuran dilakukan 3 kali ulangan dan data disajikan dalam
bentuk rata-rata dan standard deviasi.

pH lindi hitam
Pengukuran pH lindi hitam dilakukan dengan pH meter (Eutec) dengan 3 ulangan.
Nilai PH ditampilkan dalam bentuk rata-rata dan standard deviasi.

Hasil dan Pembahasan


Lindi hitam hasil samping sebagai hasil samping berbagai kondisi proses pemasakan
kraft mengandung bahan organik yang didominasi oleh lignin yang terlarut dengan pH relatif
tinggi (>7) (Tabel 1). Lignin merupakan komponen terbesar yang berwarna coklat dan atau
hitam dilihat asecara penampakan lindi hitamnya dan lignin sulit dioksidasi (Edgar 1971).
Umumnya, senyawa lignin dapat diidentifikasi melalui penampilan gugus penyusunnya
seperti OH yang dapat diidentifikasi pada bilangan gelombang 3400-3450 cm-1, pita C-H
metil pada bilangan gelombang 2820-2940 cm-1, gugus aromatik pada bilangan gelombang
1600-1515 cm-1 , bilangan gelombang 1460-1470 cm-1 sebagai pita C-H asimetrik. Pada
bilangan gelombang 1330-1315 cm-1 dan 1270-1280 cm-1 merupakan pita cincin syringil,
dan cincin guaiacyl, bilangan gelombang 1030-1085 cm-1 menunjukkan ikatan eter dan 850-
875 cm-1 menunjukkan gugus aromatik C-H (Hergert 1971).
Lignin kraft yang terkandung dalam lindi hitam merupakan produk degradasi dari
proses delignifikasi dalam proses kraft. Selama proses kraft, polimer lignin akan
terdegradasi dan kemudian terlarut dalam cairan pemasak karena transfer ion hidrogen dari
gugus hidroksil dari lignin ke ion hidroksil (Gillingan 1974). Alkali juga dapat melarutkan
hemiselulosa (Darnoko et al. 1995) dalam proses delignifikasi. Reaksi antara linin dengan
gugus hidroksil dari NaOH selama proses delignifikasi ditunjukkan pada Gambar 1 berikut
ini.
Gambar 1. Reaksi lignin dengan gugus hidroksil dari NaOH pada proses delignifikasi
(Gilligan 1974)

Lignin kraft lebih mudah terlarut dalam air dalam bentuk padatan tersuspensi, karena
adanya ion-ion hidroksil dan hidrogen sulfida. Kehadiran ion hidrogen sulfida yang memiliki
nukleosilisitas yang berat dibandingkan ion-ion hidroksil Sjostrom (1995), berperan
meningkatkan padatan tersuspensi. Pemecahan ikatan-ikatan eter yang didorong oleh ion-
ion hidroksil dan hidrogen sulfida meningkatkan hidrofilisitas lignin karena pelepasan
gugus-gugus hidroksi fenol. Lignin yang terdegradasi larut dalam lindi pemasakan sebagai
natrium fenolat.
Konsumsi alkali merupakan salah satu parameter untuk mengevaluasi sifat lindi
hitam setelah proses pemisahan untuk memperoleh pulp. Penentuan konsumsi alkali
digunakan untuk mengevaluasi jumlah alkali yang dikonsumsi selama proses pulping.
Konsumsi alkali pada berbagai variasi konsentrasi alkali aktif dan sulfiditas berkisar 16.09-
16.84% (Gambar 1), dengan nilai tertinggi dan terendah masing-masing pada alkali aktif
19% dan sulfiditas 22% dan alkali aktif 17% dan sulfiditas 24%. Sjostrom (1981)
melaporkan bahwa 60-70% dari alkali yang digunakan dalam proses pulping dibutuhkan
untuk menetralisasi asam hidroksil dari degradasi alkali pada polisakarida; sedangkan 20-
30% dari alkali digunakan untuk mentralisisasi produk degradasi lignin, sedangkan 10%
alkali untuk mentralisasi asam uronik dan asam asetat. Semakin rendah konsumsi alkali
cenderung menghasilkan sifat pulp yang lebih baik (semakin tinggi klasifikasi kualitas pulp)
(Misra 1973 dalam Wahyudin 2001).Semua perlakuan memiliki konsumsi alkali yang lebih
rendah dari 18% dan termasuk dalam kelas I berdasarkan evaluasi kriteria sifat pulp dari
kayu daun lebar. Meskipun demikian, tidak terdapat pola konsumsi alkali dengan
peningkatan konsentrasi alkali.
18
Alkali Consumption(%)

17
17
Sulfidity 20%
16
Sulfidity 22%
16
Sulfidity 24%
15
15
17 19 22
Alkali aktif (%)
Gambar 1. Pengaruh konsentrasi alkali aktif terhadap konsumsi alkali dari lindi hitam

Sifat lain dari lindi hitam ditabulasi pada Tabel 1. pH lindi hitam yang berkisar 10.2-
12.79 cenderung bersifat basa yang dipengaruhi oleh bahan kimia pemasak dimana reaksi
degradasi lignin terjadi pada suasana alkali atau basa. Hail ini sesuai dengan Sjostrom (1995)
yang menyatakan bahwa larutan sisa pemasak pulp yang menggunakan proses alkali tidak
kurang dari 12. Menurut Santoso et al.(1995), terjadinya penurunan pH pada larutan sisa
pemasak disebabkan oleh terbentuknya gas CO2, asam asetat, asam format selama pulping.
Dan jika dibandingkan dengan pH lindi hitam proses kraft yang dilaporkan oleh Lubis
(2007), lindi hitam yang dihasilkan dalam penelitian ini memiliki pH yang lebih bersifat
asam. Pada lindi hitam juga mengandung komponen karbohidrat yang tertinggal yang
dengan mudah dapat terdegradasi terutama dari hemiselulosa akibat delignifikasi paa suhu
tinggi dan waktu yang relatif lama. Telah dinyatakan sebelumnya bahwa lindi hitam banyak
mengandung lignin yang dapat diisolasi dengan berbagai metode termasuk dengan asam kuat
untuk mengendapkan lignin. Monomer-monomer lignin dalam lindi hitam akan mengumpul
dalam bentuk endapan membentuk molekul lignin dengan berat molekul yang lebih besar.
Tidak ada perbedaan signifikan antar perlakuan terhadap sifat lindi hitam. Peningkatan
konsentrasi alkali cenderung meningkatkan nilai pH. Sedangkan peningkatan konsentrasi
sulfiditas menyebabkan penurunan pH pada alkali aktif 17 dan 19%. Hal ini mungkin
disebabkan semakin banyak alkali dalam cairan lindi hitam.

Table 1. Pengaruh variasi kondisi pemasakan terhadap sifat lindi hitam

Kondisi Pulping Padatan terlarut


Padatan total (mg/L) Nilai pH
(mg/L)
Alkali aktif Sulfiditas Rata-rata stdev Rata-rata Stdev Rata-rata Stdev
(%) (%)
17 20 66.380,22 4.169,41 0,31833 0,285 10,8750 0,431
17 22 65.877,78 950,30 0,68478 0,618 10,5900 0,046
17 24 70.594,22 3.890,96 4,21578 6,737 10,4700 0,193
19 20 73.493,33 1.460,70 0,37656 0,236 11,4300 0,534
19 22 75.756,22 2.908,02 0,26917 0,094 11,2467 0,536
19 24 81.556,22 7.741,00 1,53667 1,874 10,7533 1,173
22 20 82.592,22 6.607,97 4,27042 5,839 11,4933 1,033
22 22 102.108,33 13.711,74 1,11133 1,138 12,7250 0,106
22 24 116.011,33 13.284,34 1,09983 1,222 12,7967 0,100

Padatan total lindi hitam mengindikasikan jumlah senyawa organik dan inorganik
yang terlarut dalam lindi hitam. Pada penelitian ini kadar padatan berkisar 65.877,78-
81.556,22 mg/L dengan nilai tertinggi pada kondisi pulping denagn alkali aktif 22% dan
sulfiditas 24%. Semakin tinggi kadar padatan lindi hitam berarti semakin tinggi kandungan
bahan organik dan inorganik dalam lindi hitam (Damat 1989). Lebih mudahnya pelarutan
lignin dalam pulping kraft berkontribusi terhadap tingginya kadar padatan dalam lindi hitam.
Senyawa yang terlarut berupa ekstraktif, hemiselulosa, lignin terdegradasi, selulosa dengan
berat molekul yang rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi alkali,
semakin baik rendemen dari total padatannya. Penambahan konsentrasi sulfiditas dan alkali
cenderung meningkatkan total padatan. Hal ini mungkin berkaitan dengan peningkatan
konsentrasi sodium hidroksida yang menfasilitasi pemecahan ikatan senyawa lignin dan
kemudian akan menyebabkan peningkatan kadar total padatan dan rendemen lignin (Damat
1989).
Kadar padatan terlarut lindi hitam pada berbagai variasi kondisi pulping berkisar
0.26917-4.27042 mg/L. Nilai ini menunjukkan jumlah bahan padat atau partikel dalam lindi
hitam yang terlarut melalui proses penyaringan menggunakan gelas penyaring (IG3).
Tingginya kadar padatan tidak selalu menghasilkan padatan terlarut yang tinggi (Table 1).
Lignin mudah terlarut dalam air dalam proses pulping kraft sebab kehadiran ion hidroksl dan
ion hidrogen sulfida. Ion HS- ions mempercepat proses delignifikasi. Senyawa organik
selain selulosa seperti lignin lebih mudah terpisah dari pulp pada proses kraft dibandingkan
pada proses soda, sehingga padatan total dan senyawa organik pada lindi hitam kraft lebih
tinggi dibandingkan pada lindi hitam soda (Lubis 2007).

Kesimpulan
Perbedaan kondisi pulping tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai pH,
dimana pH lindi hitam cenderung bersifat basa. Kondisi pulping dengan sulfiditas 22% dan
alkali aktif 17% memberikan nilai konsumsi alkali yang terendah yang berpengaruh terhadap
sifat pulp. Kadar padatan yang tinggi dari lindi hitam tidak selalu berkorelasi langsung
dengan kadar padatan total tersuspensi. Semakin tingginya konsentrasi alkali cenderung
samikin tinggi kadar padatan totalnya.

Daftar Pustaka
Cifriadi A. 2013. Penggunaan lindi hitam sebagai bahan pelunak dalam kompon karet alam
Jurnal Penelitian Karet 31(1): 20 29
Damat.1989. Isolasi lignin dari larutan sisa pemasak pabrik pulp dengan menggunakan
H2SO4 dan HCl. Skrpsi Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Darnoko. 1992. Potensi pemanfaatan limbah lignoselulosa kelapa sawit melalui biokonversi.
Berita Penelitian Perkebunan 2(2):85-87
Edgar, L.1971.Paper mill waste : treatment for color removed. Water and Sewage Work
118(3) (March):IW/15-IW/25
Fatriasari W, D T Nugroho Adi, R P B Laksana, T Fajriutami, R Raniya, M Ghozali, E
Hermiati. 2017. The effect of amphipilic lignin derivatives addition on enzymatic
hydrolysis performance of kraft pulp from sorghum bagasse. Prensentation in
2ndInternational Conference on Biomass, July24 25th 2017 Bogor-Indonesia
Fatriasari, W., Supriyanto, A. H. Iswanto. 2015.The kraft pulp and paper properties of sweer
sorghum bagasse (Sorghum bicolor L Moench). Journal of Engineering and
Technological Sciences 47(2): 149-159.
Gilligan, J. J. 1974. The Organic Chemicals Industries. Dalam J.L. Pyle. Chemistry and the
Technological Backlash. Prentice-Hall, Inc., New Jersey
Jimenez, L., L. Serrano, A. Rodriguez, and R. Sanchez. 2009. Soda-anthraquinone pulping
of palm oil empty fruit bunches and beating of the resulting pulp. Bioresource
Technology, 100: 1262-1267.
Lubis, A.A. 2007Isolasi lignin dari lindi hitam (black liquor) proses pemasakan pulp soda
dan pulp kraft (Kraft). Skripsi Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
McCrady, E. 1991. The Nature of Lignin. Alkaline Paper Advocat 4(4).
www.cool.conservation-us.org
Mercer International Groups. 2008.
https://www.sec.gov/Archives/edgar/data/1333274/000094523408000047/o39326ex
v99w1.htm [Accessed: 13 September 2017].
Santoso, A, S.Ruhendi, S.A.Achmadi, E.Suhendang. 1995. Isolasi dan pencirian lignin dari
lindi hitam dan sengon untuk bahan perekat. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 13(2):60-
70
Santoso, A. S. Ruhendi, S. S. Achmadi, dan Y. S. Hadi. 2001. Kualitas kopolimer lignin
fenol formaldehida sebagai perekat kayu lapis. Majalah Polimer Indonesia (4) 1 & 2.
Setiawan, Y.dan E. Ruhyat C.C. 2001. Pemanfaatan lindi hitam (black liquor ) industri kertas
sembahyang (joss paper) untuk pembuatan dispersan. Berita Selulosa (37) 3 & 4. Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Selulosa.
Sjostrom, E. 1995. Kimia Kayu : Dasar-dasar dan Penggunaannya Edisi 2. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Supriyanto, Iswanto, A.H., Fatriasari, W. 2012.Production of Liquid
Organic Fertilizer, Particle Board and Kraft Paper Derived from Sweet
Sorghum, Research Proposal DIPA Biotrop
Syahbirin G. 2009. Pemanfaatan lignin kraft dari lindi hitam pabrik pulp untuk pembuatan
natrium lignosulfonat dan sulfonat hidroksimetil fenol lignin asam sulfat sebagai
bahan pendispersi. Desertasi Pasca Sarjana. Institut pertanian Bogor.
Vanholme, R., B. Demedts, K.Morreel, J. Ralph, and W. Boerjan. 2010. Lignin
biosynthesisand structure. Plant Physiology 153 (3):895-905
Wahyudin. 2001. Sifat-sifat pulp sulfat kayu dadap (Erythrina variegata linn). Skrpsi
Fahutan IPB.Bogor
World Pulp and Paper.2010.(http://www.mbendi.com/indy/pulp/p0005.htm.[26 Januari
2010]