Anda di halaman 1dari 2

1.

Penegakan Integritas dan Nilai Etika


Penegakan integritas dan nilai etika adalah salah satu sub unsur yang akan membangun
lingkungan pengendalian karena mempengaruhi rancangan, administrasi, dan pemantauan atas
unsur pengendalian lainnya. Selanjutnya, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 Pasal 5
mengatur penegakan integritas dan nilai etika sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 huruf a, yaitu
sekurang-kurangnya dilakukan dengan:
a. Adanya aturan perilaku berupa Peraturan Menteri Kemenag yang berlaku menyeluruh dan
berlaku di lingkungan Sekjen dan dapat diterapkan;
b. Pegawai dapat mengetahui:
a) perilaku dapat diterima
b) perilaku tidak dapat diterima
c) hukuman yang akan dikenakan terhadap perilaku yang tidak diterima
d) tindakan yang harus dilakukan jika mengetahui ada sikap perilaku yang tidak diterima.
c. Pegawai menandatangani pernyataan untuk menerapkan aturan perilaku dan pakta integritas
secara berkala.
d. Pimpinan melakukan pembinaan dan mendorong terciptanya budaya yang menekankan
pentingnya penegakan integritas dan nilai etika
e. Pegawai melihat adanya dorongan sejawat untuk menerapkan sikap perilaku dan etika yang
baik.
f. Pimpinan melakukan tindakan cepat dan tepat segera setelah timbulnya masalah (perilaku
tidak etis).
g. Adanya pedoman/mekanisme yang mengatur diperkenankannya intervensi dan pengabaian
atas pengendalian intern.
h. Intervensi atau pengabaian terhadap pengendalian intern didokumentasikan secara lengkap
termasuk alasan dan tindakan khusus yang diambil.

Di dalam penerapan pola integritas pegawai, Sekretariat Jenderal Kemenag belum


menetapkan Pakta Integritas yang harus disepakati oleh setiap pegawainya, tetapi mengenai kode
etik/aturan perilaku bagi pegawai sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata Nomor: PM.43/KP.502/MKP/2008. Bentuk penegakan tindakan disiplin di lingkungan
Sekretariat Jenderal Kemenag dilakukan oleh Biro Hukum dan Kepegawaian dengan membentuk
tim yang bertugas untuk menindaklanjuti pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh pegawai.
Namun demikian, tim tersebut bersifat ad-hoc dan penugasannya bersifat kasuistik.

2. Komitmen terhadap Kompetensi


Kompetensi dalam konteks SPIP adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang
Pegawai Negeri Sipil (PNS), berupa pengetahuan, keahlian, dan sikap perilaku, yang diperlukan
dalam pelaksanaan tugas dan jabatannya. Kriteria yang harus diperhatikan dalam pemenuhan
komitmen pada kompetensi adalah sebagai berikut :
a. Pimpinan sudah menetapkan uraian jabatan, syarat jabatan, dan syarat kompetensi yang
dibutuhkan untuk seluruh jabatan/fungsi di lingkungan Kemenag .
b. Adanya mekanisme/proses yang memastikan bahwa pegawai yang terpilih untuk menduduki
suatu jabatan telah memiliki kompetensi yang diperlukan.
c. Kompensasi dan kenaikan jabatan/promosi didasarkan pada prestasi dan kinerja.

Dalam memenuhi butir-butir di atas, kondisi pada Sekretariat Jenderal Kemenag adalah sebagai
berikut:
a. Proses rekrutmen dan penempatan pegawai yang sesuai dengan kompetensi telah
dijalankan tetapi belum dijabarkan dalam SOP.
b. Adanya program Pendidikan dan Latihan dalam peningkatan kompetensi pegawai di
lingkungan Sekjen Kemenag ;
c. Adanya pengiriman pegawai untuk mengikuti tugas belajar.