Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN 2


MODUL XII
LARUTAN UNTUK MATA

Disusun oleh:

Nama : Diah Mukti Sari K 100140067

Zahrotul Uyun K 100140068

Ariesta Rachmawati K 100140069

Nur Cholis Endriyatno K 100140071

Dina Meryta Putri G K 100140074

Bintari Wita Alifiah K 100140075

Kelompok : C-4

Korektor : Diah Wahyuningsih

LABORATORIUM TEKNOLOGI DAN FORMULASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA


2016
MODUL XII

LARUTAN UNTUK MATA

I. TUJUAN

1. Menjelaskan cara membuat larutan tetes mata.


2. Menghitung dan mengatur tonisitas larutan tetes mata.
3. Melakukan sterilisasi sediaan larutan tetes mata.
4. Melakukan uji sterilitas dan pirogen terhadap larutan tetes mata.
5. Melakukan uji kebocoran vial larutan tetes mata.
6. Melakukan uji kejernihan, warna dan deteksi keberadaan partikel
dalam larutan tetes mata.
7. Melakukan uji keseragaman volume larutan tetes mata.

II. DASAR TEORI


Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, yang
digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir
mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Semua alat yang digunakan
untuk pembuatan tetes mata,begitu juga wadahnya, harus bersih betul
sebelum digunakan, jika perlu disterilkan.
(Departemen Kesehatan RI, 1979)
Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang
digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di
sekitar kelopak mata dan bola mata. Tetes mata harus memenuhi syarat-
syarat yang telah ditentukan yaitu:
1. Steril
2. Sedapat mungkin isohidris
3. Sedapat mungkin isotonis
Bila obatnya tidak tahan pemanasan, maka sterilitas dicapai dengan
menggunakan pelarut steril, dilarutkan obatnya secara aseptis, dan
menggunakan penambahan zat pengawet dan botol atau wadah yang
steril. Isotonis dan pH yang dikehendaki diperoleh dengan menggunakan
pelarut yang cocok.
(Anief, 2000)
Tetes mata berupa larutan, harus steril, harus jernih, serta bebas
partikel asing, serat, dan benang. Jika harus menggunakan dapar,
sebaiknya obat tetes mata didapar pada pH 7,4; hal ini karena mengingat
waktu kontak obat tetes mata dengan mata relatif singkat.
Secara ideal larutan mata mempunyai nilai isotonisitas sama
dengan larutan NaCl P 0,9%, tetapi mata tahan terhadap nilai isotonisitas
yang setara dengan larutan NaCl P antara 0,6%-2,0%.
Beberapa larutan obat mata perlu bersifat hipertonis untuk:
a. Meningkatkan daya serap
b. Menyediakan kadar zat aktif yang cukup tinggi sehingga
menghasilkan efek obat yang cepat dan efektif.
Sterilisasi larutan mata yang digunakan untuk mata yang luka
sangat penting. Sterilisasi dapat dilakukan dengan menggunakan
penyaring membran steril atau penyaring bakteri secara aseptis, atau jika
pemanasan tidak memengaruhi kestabilan sediaan, maka sterilisasi obat
dalam wadah akhir dengan cara autoklaf dapat dianjurkan.
Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau
membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. Pemakaiannya
secara topikal, tidak boleh secara parenteral. Pada etiket harus tertulis
tidak dapat digunakan untuk injeksi.
(Syamsuni, 2006)

III. ALAT DAN BAHAN


Tetes Mata Khloramfenikol

ALAT BAHAN

a. Glassware 1. Kloramfenikol
b. Vial 2. Asam Borat
c. Timbangan 3. Na Tetra Borat
4. Nipagin
5. Aqua Destilata
6. HCl 0,1 N NaOH 0,1 N

Intraocular Irrigating Solution

ALAT BAHAN

a. Glassware 1. NaCl
b. Vial 2. KCl
c. Timbangan 3. CaCl dihydrate
4. MgCl Hexahidrate
5. Na Acetate Trihydrate
6. Na Citrate Dehydrate
7. NaOH 0,1 N HCl 0,1 N
8. Aqua p.i
IV. PERHITUNGAN BAHAN

Tetes Mata Khloramfenikol


Tiap 10 mL mengandung ad 50 mL
R/ Kloramfenikol 50 mg R/ Kloramfenikol 250 mg
Asam borat 150 mg Asam borat 750 mg
Na tetra borat 30 mg Na tetra borat 150 mg
Nipagin 100 g Nipagin 500 g

Intraocular irrigating solution


R/ NaCl 0,64 g
KCl 0,075 g
CaCl dehydrate 0,048 g
MgCl hexahidrate 0,03 g
Na Acetate trihydrate 0,39 g
Na Citrate dehydrate 0,17 g
Aqua P.I ad 100 ml
V. CARA KERJA SKEMATIS

Tetes Mata Khloramfenikol


Dilarutkan asam borat dan natrium tetra borat dalam aquadest

Dilarutkan preservative dalam aquadest dan ditambahkan pada larutan 1

Dilarutkan kloramfenikol dalam larutan 2 dan ditambahkan sisa aquadest

Disterilkan menurut cara B

Dimasukkan dalam wadah dan diberi etiket

Intraocular Irrigating Solution


Dilarutkan semua bahan dalam aqua p.i

Diatur pH 7.2 7.6, jika kurang asam ditambahkan HCl 0.1 N sedangka bila
kurang basa ditambahkan NaOH 0.1 N

Dimasukkan ke dalam vial dan ditutup

Disterilisasikan dengan autoclave 120 C selama 20 menit

Diberi etiket
VI. PEMBAHASAN CARA KERJA
Pada pembuatan larutan tetes mata kloramfenikol, terlebih dahulu
dilarutkan asam borat dan natrium tetraborat dalam aquadest. Larutan
tersebut berfungsi sebagai dapar, yaitu untuk menstabilkan pH sehingga
dapat mengurangi rasa sakit akibat fluktuasi pH larutan, menjaga stabilitas
obat selama pemakaian maupun penyimpanan, serta sebagai kontrol
aktivitas terapeutik. Setelah larut, ditambah preservative (pengawet) yang
telah dilarutkan dalam aquadest agar meningkatkan kelarutan bahan,
kemudian ditambahkan sisa aquadest. Larutan kloramfenikol dimasukkan
ke dalam vial (90% dari kapasitas vial) dan disterilkan dengan cara B.
Menurut Farmakope Indonesia Edisi 3, sterilisasi cara B ialah sterilisasi
dengan cara pemanasan pada suhu 100oC selama 30 menit menggunakan
bakterisida.
Pada pembuatan larutan irigasi intraokuler, bahan dilarutkan dalam
aqua pro injeksi (p.i), kemudian pH diatur hingga mencapai 7,2-7,6.
Digunakan NaCl karena merupakan kation utama dalam cairan
ekstraseluler dan memegang peranan penting dalam regulasi tekanan
osmotik. KCl merupakan kation dalam cairan intraseluler dan sangat
essensial dalam mencegah ketidakseimbangan asam-basa serta isotonis sel.
Penambahan HCl dilakukan apabila larutan kurang asam dan NaOH
ditambahkan apabila larutan kurang basa. Larutan irigasi intraokuler
dimasukkan ke dalam vial dan disterilkan dengan autoclave pada suhu
1200 C selama 20 menit.
VII. HASIL DAN PERHITUNGAN

A. Perhitungan Tonisitas

Tetes Mata Kloramfenikol

( 0,25 ) + ( 0,75 ) +( 0,15 ) + ( 0,0006 ) < 0,28

0,0014 + 0,022 + 0,0007 + 0,000007 < 0,28

0,024 < 0,28

Intraocular Irrigating Solution

( 0,64 ) + ( 0,076) + ( 0,048) + ( 0,03) + ( 0,39) + ( 0,17 ) < 0,28

0,019 + 0,0018 + 0,00059 + 0,00027 + 0,0052 + 0,001 < 0,28

0,028 < 0,28


B. Berat Bahan yang Ditimbang

Tetes Mata Khloramfenikol

Bahan Jumlah yang ditimbang

Kloramfenikol 250,9 mg

Asam Borat 754,1 mg

Na Tetra Borat 153,1 mg

Napagin 600 mg

Aqua Destillata 50 mL

HCl 0,1N NaOH 0,1N -

Intraocular Irrigating Solution

Bahan Jumlah yang ditimbang

NaCl 640,1 mg

KCl 76,1 mg

CaCl dehydrate 48,3 mg

MgCl hexahydrate 30,8 mg

Na Acetate trihydrate 391,2 mg

Na Citrat dehydrate 171,7 mg

Aqua p.i 100 ml


C. Cara Sterilisasi

Tetes Mata Khloramfenikol

Dikukus pada suhu 100C selama 30 menit.

Intraocular Irrigating Solution

Sterilisasi Basah menggunakan autoclave pada suhu 120C selama 20 menit.

D. Pengaturan pH

Penambahan HCl 0,1N Penambahan NaOH 0,1N

-- 45 tetes

pH akhir larutan : 7,2 7,6


VIII. PEMBAHASAN

Percobaan ini bertujuan agar dapat memahami dan mampu


membuat sediaan tetes mata Kloramfenikol dan Intraocular Irrigating
Solution. Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi
yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada mata di sekitar
kelopak mata dan bola mata. Tetes mata disebut juga Guttae
Opthalmitae. Obat tetes mata yang digunakan harus diserap masuk ke
dalam mata untuk dapat memberi efek. Larutan obat tetes mata segera
campur dengan cairan lakrimal dan meluas di permukaan kornea dan
konjungtiva, dan obatnya harus masuk melalui kornea menembus mata.
Untuk pembuatan obat mata ini perlu diperhatikan mengenai
kebersihan, pH yang stabil, dan mempunyai tekanan osmosis yang sama
dengan tekanan osmosis darah. Pada pembuatan obat cuci mata tak perlu
disterilkan, sedangkan pada pembuatan obat tetes mata harus disterilkan.
Sediaan ini diteteskan ke dalam mata sebagai antibakteri, anestetik,
diagnose, midratik, miotik, dan antiinflamasi. Obat tetes mata sering
digunakan pada mata yang luka karena habis dioperasi atau karena
kecelakaan. Syarat-syarat untuk tetes mata dikehendaki syarat-syaratnya
yaitu obatnya harus stabil secara kimia, harus mempunyai aktivitas
terpeutik yang optimal, harus tidak mengiritasi dan tidak menimbulkan
rasa sakit pada mata, harus teliti dan tepat secara jernih, harus bebas dari
mikroorganismeyg hidup dan tetap tinggal demikian selama
penyimpanan yang diperlukan. Jadi pada prinsipnya obat tetes mata harus
steril, jernih, dan bebas partikel asing.
Obat biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek local pada
pengobatan bagian permukaan, mata, atau bagian dalamnya. Yang sering
dipakai adalah larutan dalam air, akan tetapi juga biasa dipakai suspensi
cairan bukan air dan salep mata, karena kapasitas mata untuk menahan
atau menyimoan cairan dan salep terbatas. Pada umumnya obat mata
dibiarkan dalam volume yang kecil. Preparat cairan sering diberikan
dalam bentuk sediaan tetes mata dan salep mata dengan mengoleskan
salep yang tipis pada pelupuk mata. Volume sediaan cairan yang lebih
besar dapat digunakan untuk menyegarkan dan mencuci mata.
Dalam percobaan ini bahan obat yang digunakan sebagai zat aktif
adalah Kloramfenikol yang mempunyai daya sebagai antimikroba yang
kuat melawan infeksi mata dan merupakan antibiotika spektrum luas
bersifat bakteriostatik. Kloramfenikol juga mengandung tidak lebih
103,0% dan tidak kurang dari 97,0% C11H12Cl2N2O5, dihitung dari zat
yang telah dikeringkan. Selain kloramfenikol digunakan asam borat
sebagai buffer, Na tetra borat sebagai antiseptic eksternal, Nipagin
sebagai preservative, dan aquadest sebagai pelarut. Digunakan Nipagin
sebagai karena zat tersebut dapat larut dalam air dan biasanya mudah
ditumbuhi mikroba. Asam borat merupakan asam lemah dan Na
tetraborat merupakan garam, yang keduanya berfungsi sebagai pelarut
yang isotonis dan larutan dapar. Larutan dapar ini menetralkan pH dan
tetes mata agar sesuai cairan mata sehingga mencegah dari
ketidaknyamanan, mengurangi rasa sakit, menjaga stabilnya obat dalam
larutan, dan juga sebagai kontrol aktivitas terapeutik. Larutan dapar
merupakan larutan yang digunakan untuk meniadakan perubahan pH
dengan penambahan sedikit asam atau basa.
Pembuatan larutan tetes mata khloramfenikol pertama kali
dilakukan dengan melarutkan campuran asam borat dan Na tetra borat
dalam aquadest, kemudian nipagin dilarutkan dalam sebagian aquadest
dan ditambahkan pada larutan asam borat dan Na tetraborat. Lalu
kloramfenikol dilarutkan dalam aquadest dan semua larutan
dihomogenkan. Asam borat dan Na tetraborat digunakan sebagai pelarut
yang isotonis dan pH 6,5 sesuai dengan cairan mata, nipagin digunakan
untuk mempertahankan sterilitas karena dikhawatirkan masih ada
kontaminannya. Kemudian larutan dimasukkan ke dalam vial dan
disterilkan menurut cara B, yaitu dengan dididihkan dalam suhu 1000C
selama 30 menit. Jika disterilisasi dengan autoklaf akan merusak
kloramfenikol dan nipagin. Wadah ditutup rapat dan obat diberi label
untuk pemakaian luar dan tidak boleh digunakan lebih dari 1 bulan
setelah tutupnya dibuka. Digunakan suhu 980 1000C karena dengan
suhu tersebut dapat lebih efektif membunuh mikroorganisme. Pada hasil
percobaan didapatkan hasil pH 7-8 yaitu pH netral diukur menggunakan
stik pH. Untuk uji kebocoran didapat hasil tidak terjadi kebocoran dan
pada uji kejernihan hasilnya jernih.
Sedangkan untuk pembuatan Intraocular Irrigating Solution, yaitu
dengan mencampur semua bahan yang telah ditimbang dengan pelarut
aquadest pi. Setelah itu diatur kemudian diatur pH 7,2-7,6. Hal ini
dimaksudkan pH tersebut sesuai dengan pH air normal. Pengaturan pH
dengan menambahkan NaOH 0,1 N jika larutan kurang basa dan
menambahkan HCl 0,1 N. Lalu larutan tersebut dimasukkan ke dalam
vial dan ditutup, setelah itu disterilkan dengan menggunakan autoklav
pada suhu 1200C selama 20 menit agar larutan tetes mata bebas dari
mikroorganisme. Terakhir kita letakkan dalam wadah dan beri etiket
untuk pemakaian luar (biru) dan kita lakukan evaluasi yang meliputi pH,
kebocoran, kejernihan, keseragaman, volume. Dari hasil evaluasi
diperoleh hasil yaitu pH 7-8 diukur menggunakan stik pH, tidak terjadi
kebocoran, dan larutan jernih. Maka, Intraocular Irrigating Solution layak
dipakai.
Dari uraian diatas dan dari percobaan yang telah dilakukan,
didapatkan tonisitas sediaan tetess mata kloramfenikol sebesar 0,024 dan
tonisitas intraocular irrigating sebesar 0,028 dari kedua sediaan tersebut
dapat dikatakan memenuhi persyaratan, kemudian dalam pengaturan pH
kita menambahkan 45 tetes NaOH 0,1 untuk mencapai persyaratan yang
telah dibahas di atas.
IX. KESIMPULAN

1. Cara pembuatan obat tetes mata dan obat cuci mata harus dilakukan
secara steril dan aseptis.
2. Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspense yang
digunakan dengan cara meneteskan obat pada s mata di sekitar
kelopak mata dan bola mata.
3. Tetes mata kloramfenikol ini layak pakai karena memenuhi syarat
karena memenuhi syarat yaitu pH 7-8, tidak ada kebocoran, dan
larutan jernih.
4. Intraocular Irrigating Solution layak dipakai karena memenuhi
syarat karena memenuhi syarat yaitu pH 7-8, tidak ada kebocoran,
dan larutan jernih.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi 3.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Syamsuni, H.A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.