Anda di halaman 1dari 29

SEKELUMIT ANALISIS BEBAN GEMPA PADA PROGRAM SAP 2000

Mar 16
Tidak terasa, sudah lama saya tidak menulis di blog. Bahayanya ketika
merekomendasikan teman untuk berkunjung ke blog ini, saya hampir lupa alamatnya.
Waduh, kacau (tepuk dahi).

Beruntung, hari ini datang seorang teman untuk asistensi. Perbincangan mengenai
analisis gempa menggunakan program SAP 2000. Menarik sekali, teman saya ini
memang tergolong pandai dan pede. Bahasanya cukup tinggi, terkadang membuat saya
tersenyum. Tetapi saya menangkap, sepertinya kurang memahami cara SAP 2000 dalam
menganalisis beban gempa. Alhamdulillah, saya mendapat dorongan untuk menulis lagi.

Dalam SAP 2000, analisis bebsn gempa dapat dihitung dengan 3 metode yaitu analisis
statik ekuivalen, Response spektrum dan Time History.

Dalam metode statik ekuivalen, tanah dasar dianggap tidak bergetar dan beban gempa
diekuivalensikan menjadi beban lateral statik yang disebar pada elemen-elemen gedung.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan adalah beban nominal, wilayah gempa,
jenis tanah, respon spektrum gempa rencana, wsktu getar alami fundamental, faktor
keutamaan dan faktor reduksi.

Dalam metode response spektrum, spketrum respons disusun berdasarkan respons


terhadap percepatan tanah beberapa rekaman gempa. Spektrum design merupakan
representasi gerakan tanah akibat getaran gempa yang pernah terjadi untuk suatu
lokasi. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan untuk pemilihan design spectrum
adalah besar skala gempa, jarak lokasi ke pusat gempa, mekanisme sesar, jalur
rambatan gelombang gempa dan kondisi tanah lokal (Chopra,1995)

Selanjutnya, perhitungan respon dinamik struktur gedung tidak beraturan terhadap


pengaruh gempa rencana juga dapat dihitung dengan metode analisis dinamik 3 dimensi
berupa analisis respons dinamik linear dan non linier riwayat waktu ( time history)
dengan suatu akselerogram gempa yang fiangkakan sebagai gerakan tanah ( Ground
Motion) masukan.

Nah, jika anda masih berpikir menghitung gempa dengan SAP 2000 tidak bisadam
membuat kita hanya gigit jari, saya sarankan untuk membeli buku tentang SAP 2000
edisi analisis gempa, kemudian mempelajarinya lebih mendalam.

Semoga bermanfaat.

Sumber :

Chopra, A.K, 1995, Dynamic of Structures Theory and Application to Earthquake


Engineering, Prentice-Hall, New Jersey
Satyarno I, Nawangalam P, Pratomo Indra R, 2012, Belajar SAP 2000 Analisis Gempa,
Zamil Publishing, Yogyakarta.

BAHAN STRUKTUR

Mutu beton : K - 350

Kuat tekan beton fc' = 0.83 * K / 9.81 = 29.61 MPa

Modulus elastik Ec = 4700 * fc' = 25576 MPa

Angka poisson u = 0.2

Modulus geser G = Ec / [2*(1 + u)] = 10657 MPa

Koefisien muai beton, e = 1.0E-05 / C

Mutu baja :

Untuk baja tulangan dengan > 12 mm : U - 40

Tegangan leleh baja, fy = 400 MPa

Untuk baja tulangan dengan 12 mm : U - 24

Tegangan leleh baja, fy = 240 Mpa

A. ANALISIS BEBAN JEMBATAN

1. BERAT SENDIRI ( MS )

Faktor beban ultimit : KMS = 1.3

Berat sendiri ( self weight ) adalah berat bahan dan bagian jembatan yang
merupakan elemen struktural, ditambah dengan elemen non-struktural yang
dipikulnya dan bersifat tetap. Berat sendiri elemen struktural seperti elemen box
girder, pylon, cable, dihitung secara otomatis oleh Program SAP2000. Berat sendiri
yang tidak termasuk elemen struktur adalah berat trotoar yang dihitung sbb. :

No Lebar Tinggi Shape w Berat

(m) (m) (kN/m3) (kN/m)

1 0.85 0.25 1 25.00 5.313

2 0.25 0.55 1 25.00 3.438

3 0.85 0.20 0.5 25.00 2.125

4 0.60 0.20 1 25.00 3.000

5 0.30 0.20 1 24.00 1.440


6 Railing pipa galvanis 2.5" 1.250

Total berat sendiri trotoar, QMS = 16.565 kN/m

Berat sendiri trotoar dianggap sebagai beban terpusat setiap jarak 5 m, sehingga

PMS = 5 x 16.565 = 82.825 kN

Gambar 2. Beban berat sendiri (MS)

2. BEBAN MATI TAMBAHAN ( MA )

Faktor beban ultimit : KMA = 2.0

Beban mati tambahan ( superimposed dead load ), adalah berat seluruh bahan yang
menimbulkan suatu beban pada jembatan yang merupakan elemen non-struktural,
dan mungkin besarnya berubah selama umur jembatan.
Jembatandirencanakan mampu memikul beban tambahan sebagai berikut.

No Jenis beban Tebal w Berat

(m) (kN/m3) (kN/m2)

1 Lapisan aspal + overlay 0.10 22.00 2.200

2 Genangan air hujan 0.05 9.80 0.490


QMA = 2.690 kN/m2

Gambar 3. Beban mati tambahan (MA)

3. BEBAN LAJUR "D" ( TD )

Faktor beban ultimit : KTD = 1.8

Beban lajur "D" terdiri dari beban terbagi merata (Uniformly Distributed Load), UDL
dan beban garis (Knife Edge Load), KEL seperti terlihat pada gambar.

UDL mempunyai intensitas q (kPa) yang besarnya tergantung pada panjang total L
yang dibebani dan dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

q = 9.0 kPa untuk L 30 m

q = 9.0 *( 0.5 + 15 / L ) kPa untuk L > 30 m

KEL mempunyai intensitas, p = 49.0 kN/m

Faktor beban dinamis (Dinamic Load Allowance) untuk KEL diambil sebagai berikut :

DLA = 0.4 untuk L 50 m

DLA = 0.4 - 0.0025*(L - 50) untuk 50 < L < 90 m


DLA = 0.3 untuk L 90 m
Gambar 4. Beban lajur D (TD) untuk UDL dan KEL

Lebar jalur lalu-lintas, b1 = 7.00 m

Panjang bentang jembatan bagian tengah, L1 = 200.00 m

Panjang bentang jembatan bagian tepi, L2 = 100.00 m

Panjang bentang rata-rata, Lav = 150.00 m

Panjang bentang maksimum, Lmax = 200.00 m

Panjang bentang ekivalen, LE = ( Lav * Lmax ) = 173.2 m

Untuk LE > 30 m : q = 9.0 *( 0.5 + 15 / LE ) = 5.28 kPa

Beban merata (UDL) pada lantai jembatan :

QTD = [ 5.5 * q * 100% + ( b1 - 5.5 ) * q * 50% ] / b1 = 4.71 kN/m2

Beban garis (KEL) pada lantai jembatan : p = 49.00 kN/m

p = [ 5.5 * p * 100% + ( b1 - 5.5 ) * p * 50% ] / b1 = 43.75 kN/m

Faktor beban dinamis untuk 50 < LE < 90 m, DLA = 0.30


Distribusi beban KEL pada joint :

PTD = ( 1 + DLA ) * p * b1 / 3 = 132.71 kN

Gambar 5. Beban lajur D (TD) untuk UDL


Gambar 6. Beban lajur D (TD) untuk KEL

4. GAYA REM ( TB )

Faktor beban ultimit : KTB = 2.0

Pengaruh pengereman dari lalu-lintas diperhitungkan sebagai gaya dalam arah


memanjang, dan dianggap bekerja pada permukaan lantai jembatan. Besarnya gaya
rem arah memanjang jembatan tergantung panjang total jembatan (L t) sebagai
berikut :

Gaya rem, TTB = 250 kN untuk Lt 80 m

Gaya rem, TTB = 250 + 2.5*(Lt - 80) kN untuk 80 < Lt < 180 m

Gaya rem, TTB = 500 kN untuk Lt 180 m

Panjang total jembatan, Lt = L1 + 2 * L2 = 400 m

Besarnya gaya rem yang bekerja (untuk 2 jalur lalu-lintas),

TTB = 500 * 2 = 1000 kN

Beban lajur "D" tanpa reduksi akibat panjang bentang (penuh) :

q = 4.71 kPa p = 49 kN
5% x Beban lajur "D" penuh tanpa faktor beban dinamis :

5% * TD = [ 0.05 * (q * b1 * Lt + 3 * p * b1) ] * 2 = 710.85 kN

Karena, TTB > 5%*TD maka diambil gaya rem, TTB = 1000 kN
Gaya rem tsb. didistribusikan ke setiap joint pertemuan balok lantai jembatan dengan jumlah
joint, n = 240 maka gaya rem pada setiap joint, TTB = 4.2 kN

Gambar 7. Gaya rem (TB)

5. PEMBEBANAN UNTUK PEJALAN KAKI ( TP )

Faktor beban ultimit : KTP = 2.0

Trotoar pada jembatan jalan raya harus direncanakan mampu memikul beban
pejalan kaki sebagai berikut :

A = luas bidang trotoar yang dibebani pejalan kaki (m 2)

Beban hidup merata pada trotoar :

Untuk A 10 m2 : q = 5 kPa

Untuk 10 m2 < A 100 m2 : q = 5 - 0.033 * ( A - 10 ) kPa

Untuk A > 100 m2 : q = 2 kPa


Panjang bentang total, Lt = 145.000 m

Lebar satu trotoar, b2 = 1.00 m

Luas bidang trotoar, A = 2 * ( b2 * Lt ) = 800 m2

Intensitas beban pada trotoar, q = 2 kPa

Pembebanan jembatan untuk trotoar, PTP = q * b2 * 5 = 10.0 kN/m

Gambar 8. Beban pedestrian (TP)

6. BEBAN ANGIN ( EW )

Faktor beban ultimit : KEW = 1.2

Gaya akibat angin dihitung dengan rumus sebagai berikut :

TEW = 0.0006*Cw*(Vw)2*Ab kN

Cw = koefisien seret = 1.25

Vw = Kecepatan angin rencana = 35 m/det

Ab = luas bidang samping jembatan (m2)

Gaya angin didistribusikan merata pada bidang samping pylon yg lebarnya 2,50 m :
QEW = 0.0006*Cw*(Vw)2 * 2.50 = 2.3 kN/m

Beban angin pada box girder dengan lebar bidang samping 2 m, didistribusikan
pada setiap joint setiap jarak 5 m sehingga :

TEW = 0.0006*Cw*(Vw)2 * 2 * 5 = 9.2 kN

Beban garis merata tambahan arah horisontal pada permukaan lantai jembatan
akibat angin yang meniup kendaraan di atas jembatan dihitung dengan rumus :

TEW = 0.0012*Cw*(Vw)2 kN/m dengan Cw = 1.2

TEW = 0.0012*Cw*(Vw)2 = 1.764 kN/m

Bidang vertikal yang ditiup angin merupakan bidang samping kendaraan dengan
tinggi 2.00 m di atas lantai jembatan.h = 2.00 m

Jarak antara roda kendaraan x = 1.75 m

Transfer beban angin ke joint lantai jembatan, T'EW = [ 1/2*h / x * TEW ]


*5 T'EW = 5.04 kN

Gambar 9. Transfer beban angin


Gambar 10. Beban angin (EW) pada box-girder

Gambar 11. Beban angina (EW) pada pylon


7. PENGARUH TEMPERATUR (ET)

Faktor beban ultimit : KET = 1.2

Untuk memperhitungkan tegangan maupun deformasi struktur yang timbul akibat


pengaruh temperatur, diambilperbedaan temperatur yang besarnya sama dengan
selisih antara temperatur maksimum dan temperatur minimum rata-rata pada lantai
jembatan.

Koefisien muai panjang untuk beton, = 1.0E-05 /C

Temperatur maksimum rata-rata Tmax = 40 C

Temperatur minimum rata-rata Tmin = 25 C

Perbedaan temperatur pada lantai jembatan, T = Tmax - Tmin T = 15 C

Gambar 12. Beban temperature

8. PENGARUH SUSUT DAN RANGKAK (SR)

Faktor Beban Ultimit : KSR = 1.0

8.1. Pengaruh rangkak (Creep)

Regangan akibat creep, cr = ( fc / Ec) * kb * kc * kd * ke * ktn


kb = koefisien yang tergantung pada pemakaian air semen (water cement ratio).

Untuk beton normal dengan faktor air semen, w = 0.45 dan cement content = 3.5
kN/m3, maka nilai : kb = 0.75

kc = koefisien yang tergantung pada kelembaban udara,

Untuk perhitungan diambil kondisi kering dengan kelembaban udara < 50 %, maka
nilai : kc = 3

kd = koefisien yang tergantung pada derajat pengerasan beton saat dibebani dan
pada suhu rata-rata di sekelilingnya selama pengerasan beton.

Jumlah hari dimana pengerasan terjadi pada suhu rata-rata T, t = 28 hari

Temperatur udara rata-rata, T = 27.5 C

Umur pengerasan beton terkoreksi saat dibebani :

t' = t * (T + 10) / 30 = 35 hari, untuk semen normal tipe I maka nilai : k d = 0.938

ke = koefisien yang tergantung pada tebal teoritis (e m)

Luas penampang box girder, A = 1.40 m2

Keliling penampang balok yang berhubungan dengan udara luar, K = 5.10 m dan
em = 2 * A / K = 0.549 m, maka nilai : ke =0.734

ktn = koefisien yang tergantung pada waktu (t) dimana pengerasan terjadi dan tebal
teoritis (em).

Untuk, t = 28 hari dan em = 0.549 m, maka nilai : ktn = 0.2

Kuat tekan beton, fc' = 29.61MPa

Modulus elastik beton, Ec = 25576.22 MPa

Regangan akibat creep, cr = ( fc' / Ec ) * kb * kc * kd * ke * ktn = 0.00036

8.2. Pengaruh susut (shrinkage)

Regangan akibat susut, su = b * kb * ke * kp

b = regangan dasar susut (basic shrinkage strain).

Untuk kondisi kering udara dengan kelembaban <50 %, maka b = 0.00038

kb = koefisien yang tergantung pada pemakaian air semen (water cement ratio)
Untuk beton dengan faktor air semen, w = 0.45 dan cement content = 3.5 kN/m3
maka nilai : kb = 0.75

ke = koefisien yang tergantung pada tebal teoritis (em), ke = 0.734

kp = koefisien yang tergantung pada luas tulangan baja memanjang non prategang.
Presentase luas tulangan memanjang terhadap luas tampang balok rata-rata :

p = 2.50% maka : kp = 100 / (100 + 20 * p) = 0.995

Regangan akibat susut, su = b * kb * ke * kp = 0.00021

8.3. Pengaruh susut dan rangkak (SR)

Regangan akibat susut dan rangkak, sr = sh + cr = 0.00057

Gambar 13. Beban susut dan rangkak (SR)

9. BEBAN GEMPA ( EQ )

Faktor beban ultimit : KEQ = 1.0

9.1. Metode Statik Ekivalen

Beban gempa rencana dihitung dengan rumus : T EQ = Kh * I * Wt

dengan, Kh = C * S
TEQ = gaya geser dasar total pada arah yang ditinjau (kN).

Kh = koefisien beban gempa horisontal .

I = faktor kepentingan.

Wt = berat total jembatan yang berupa berat sendiri dan beban mati tambahan.

= PMS + PMA kN

C = koefisien geser dasar untuk wilayah gempa, waktu getar, dan kondisi tanah.

S = faktor tipe struktur yang berhubungan dengan kapasitas penyerapan energi

gempa (daktilitas) dari struktur jembatan.

Waktu getar struktur dihitung dengan rumus : T = 2 * * [ WTP / ( g * KP ) ]

WTP = berat sendiri struktur dan beban mati tambahan (kN)

g = percepatan grafitasi (= 9.81 m/det2)

KP = kekakuan struktur yang merupakan gaya horisontal yang diperlukan untuk


menimbulkan satu satuan lendutan (kN/m).

Waktu getar alami / foundamental struktur jembatan dihitung


dengan software SAP2000 untuk pemodelan struktur 3-D (space frame) yang
memberikan respons berbagai ragam (mode) getaran yang menunjukkan perilaku
dan fleksibilitas sistem struktur. Hasil analisis menunjukkan bahwa struktur
jembatan mempunyai waktu getar struktur yang berbeda
pada arah memanjang dan melintang, sehingga beban gempa rencana statik
ekivalen yang berbeda harus dihitung untuk masing-masing arah.

Dalam analisis struktur terhadap beban gempa, massa bangunan sangat


menentukan besarnya gaya inersia akibat gempa. Dalam analisis modal (modal
analysis) untuk penentuan waktu getar alami / fundamental struktur, mode shapedan
analisis dinamik dengan Spectrum Respons maupun Time History, maka massa
tambahan yang di-input pada SAP2000 meliputi massa akibat beban mati yang
bukan merupakan elemen struktur (MS) dan beban mati tambahan (MA). Dalam hal
ini massa akibat berat sendiri elemen struktur (kolom, balok, dan plat) sudah dihitung
secara otomatis karena factor pengali berat sendiri (self weight multiplier)
pada Static Load Case untuk berat sendiri (DEAD) adalah = 1. Dari hasil analisis
dinamik (modal analysis) diperoleh waktu getar struktur sbb :

Arah melintang jembatan, T = 1.95919 detik (mode-1)

Arah memanjang jembatan, T = 1.86508 detik (mode-2)


Gambar 14. Mode-1 (arah y) dengan waktu getar T = 1.95919 detik

Gambar 15. Mode-2 (arah x) dengan waktu getar T = 1.86508 detik


Gambar 16. Wiayah gempa di Indonesia
Gambar 17. Respon spectrum gempa wilayah 3

9.1.1. Koefisien gempa statik arah Y (melintang jembatan)

Waktu getar alami, T = 1.95919 detik

Kondisi tanah dasar sedang (medium).

Lokasi di wilayah gempa : Zone-3 maka dari kurva spectrum diperoleh, C = 0.10

Untuk struktur jembatan dengan daerah sendi plastis berupa beton bertulang dan
bangunan atas bersatu dengan bangunan bawah dan struktur dapat berperilaku
daktail, maka diambil faktor tipe bangunan, S = 1

Koefisien beban gempa horisontal, Kh = C * S = 0.10

Untuk jembatan yang memuat > 2000 kendaraan / hari, jembatan pada jalan raya
utama atau arteri, tetapi terdapat route alternatif, maka diambil faktor kepentingan, I
= 1.0 sehingga, TEQ = Kh * I * Wt TEQy = 0.10 * Wt

9.1.2. Koefisien gempa static arah X (memanjang jembatan)

Waktu getar alami, T = 1.86508 detik

Kondisi tanah dasar sedang (medium).

Lokasi di wilayah gempa : Zone-3 maka dari kurva spectrum diperoleh, C = 0.10
Untuk struktur jembatan dengan daerah sendi plastis berupa beton bertulang
dan bangunan atas bersatu dengan bangunan bawah dan struktur dapat berperilaku
daktail, maka diambil faktor tipe bangunan, S = 1

Koefisien beban gempa horisontal, Kh = C * S = 0.10

Untuk jembatan yang memuat > 2000 kendaraan / hari, jembatan pada jalan raya
utama atau arteri, tetapi terdapat route alternatif, maka diambil faktor kepentingan, I
= 1.0 sehingga, TEQ = Kh * I * Wt TEQx = 0.10 * Wt
Gaya gempa arah memanjang maupun arah melintang jembatan didistribusikan secara
otomatis ke setiap joint oleh Program SAP2000.

Gambar 18. Koefisien gaya geser gempa

9.2. Metode Analisis Response Spectrum

Besar beban gempa ditentukan oleh percepatan gempa rencana dan massa total
struktur. Massa total struktur terdiri dari berat sendiri elemen struktur (DEAD), berat
sendiri elemen non-struktur (MS) dan beban mati tambahan (MA). Percepatan
gempa diambil dari data zone 3 Peta Wilayah Gempa Indonesia menurut Tatacara
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2002).
Input data kurva spectrum gempa rencana ke dalam SAP2000 seperti Gambar 19.
Gambar 19. Input data kurva spectrum gempa rencana

Nilai spectrum respons tersebut harus dikalikan dengan suatu factor skala (scale
factor) yang besarnya = g x I/Sdengan g = percepatan grafitasi (g = 9,81
m/det2). Scale factor = 9,81 x 1 / 1 = 9,81.

Analisis dinamik dilakukan dengan metode superposisi spectrum response. dengan


mengambil response maksimum dari 2 arah gempa, yaitu arah memanjang (arah X)
dan melintang (arah Y) jembatan. Nilai redaman untuk struktur beton
diambil, Damping = 0,05. Digunakan number eigen NE = 12 dengan mass
partisipation factor 90 % dengan kombinasi dinamis (modal combination) CQC
dan directional combination SRSS. Input data respons spectrum gempa rencana
pada SAP2000 seperti pada Gambar 20.
Gambar 20. Input data spectrum respons gempa rencana

9.2. Metode Analisis Dinamik Time History

Analisis dinamik linier riwayat waktu (time history) sangat cocok digunakan untuk
analisis struktur yang tidak beraturan terhadap pengaruh gempa rencana. Mengingat
gerakan tanah akibat gempa di suatu lokasi sulit diperkirakan dengan tepat, maka
sebagai input gempa dapat didekati dengan gerakan tanah yang disimulasikan.
Dalam analisis ini digunakan hasil rekaman akselerogram gempa sebagai input data
percepatan gerakan tanah akibat gempa. Rekaman gerakan tanah akibat gempa
diambil dari akselerogram gempa El-Centro N-S yang direkam pada tanggal 15 Mei
1940. Input data akselerogram gempa El-Centro ke dalam SAP2000 dilakukan
seperti pada Gambar 21.

Dalam analisis ini redaman struktur yang harus diperhitungkan dapat dianggap 5%
dari redaman kritisnya. Faktor skala yang digunakan = g x I/S dengan g =
percepatan grafitasi (g = 9,81 m/det2). Scale factor = 9,81 x 1 / 1 = 9,81

Untuk memasukkan beban gempa Time History ke dalam SAP2000 maka harus
didefinisikan terlebih dahulu ke dalamTime History Case seperti terlihat pada
Gambar 21. Mengingat akselerogram tersebut terjadi selama 10 detik, maka dengan
interval waktu 0,1 detik, jumlah output step-nya menjadi = 10/0,1 = 100. Data-data
tersebut diinputkan ke dalam SAP2000 untuk gempa Time History arah X dan Y
seperti Gambar 22.
Gambar 21. Input data akselerogram gempa El-Centro

Gambar 22. Input data gempa Time History


KOMBINASI PEMBEBANAN

Kombinasi beban dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Perencanaan Teknik Jembatan, 1992
seperti table berikut :
Aksi / Beban Faktor KOMBINASI

Beban 1 2 3 4

A. Aksi Tetap

Berat sendiri KMS 1.30 1.30 1.30 1.30

Beban Mati Tambahan KMA 2.00 2.00 2.00 2.00

Susut dan rangkak KSR 1.00 1.00 1.00 1.00

B. Aksi Transien

Beban Lajur "D" KTD 1.80 1.00 1.00

Gaya Rem KTB 2.00 1.00 1.00

Beban Trotoar KTP 2.00

C. Aksi Lingkungan

Pengaruh Temperatur KET 1.00 1.00 1.00

Beban Angin KEW 1.00 1.20

Beban Gempa KEQ 1.00

MERANCANG PONDASI MENGGUNAKAN


SAP2000
AJI PAMUNGKAS ON SOFTWARE, TEKNIK SIPIL ON 12/01/2014 WITH NO COMMENTS

Setelah sebelumnya saya pernah membahas soal penggunaan SAP2000 untuk


memodelkan pit terutama yang berkaitan dengan beban segitiga disini, serta
mendesain pondasi dengan bantuan Allpile disini, maka kali ini saya mencoba
memodelkan pondasi secara keseluruhan dengan bantuan SAP2000. Hal- hal
dasar mengenai cara membuat model atau asumsi pembebanan tidak saya
jelaskan disini dengan asumsi bahwa teman- teman semua telah menguasainya.

Sebagai contoh permodelan maka disini saya melakukan pemodelan untuk


pondasi Boiler pada suatu plant. Data yang mutlak diperlukan sebelum memulai
desain adalah vendor loading data, yang berisi posisi kaki mesin (grid dan
orientasi) beserta besarnya loading di masing- masing titik.
Gambar Posisi grid dan orientasi kaki boiler

Tabel Loading masing- masing grid

Dari tabel loading di atas dapat diketahui bahwa enam jenis pembebanan yang
diterapkan adalah: Dead Load (DL); Live Load (LL); Earthquake X-dir (Ex);
Earthquake Y-dir (Ey); Windload X-dir (Wx). Keenam jenis pembebanan ini yang
nantinya akan digunakan untuk permodelan pondasi Boiler.

Data lain yang diperlukan adalah data investigasi tanah. Melalui penyelidikan
tanah diperoleh data bore-log dan data laboratorium. Data tersebut diolah
menggunakan bantuan software Allpile untuk mendapatkan parameter constanta
spring yang akan digunakan dalam SAP2000.

Tahap Pemodelan

Data- data yang telah diperoleh kemudian di-input ke dalam SAP2000. Tiang
pancang dimodelkan sebagai joint spring, pile cap sebagai shell-thick dan tied
beam sebagai beam. Grid dan dimensi mengacu kepada vendor loading data
yang telah saya sebutkan di atas. Jangan lupa untuk menyesuaikan material
yang dipakai sesuai spesifikasi yang diminta

Gambar pemodelan pondasi di SAP2000

Setelah tahap pemodelan selesai maka tahap berikutnya adalah menerapkan


pembebanan sesuai loading data. Dalam memasukkan loading ini yang harus
diperhatikan adalah orientasi arah sumbu koordinatnya apakah sesuai atau
belum.

Gambar Proses input loading

Yang tidak kalah penting adalah kombinasi pembebanan serta standar yang
dipakai. Dalam model ini saya menggunakan standar ACI 318-2002 Building
Code Requirement for Structural Concrete sekaligus standar SNI 03-2847-2002
Tata Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung.

Setelah semua terlengkapi maka model dapat di Run oleh SAP2000. Dari analisis
tersebut maka kita mencari output joint spring reaction yang merupakan gaya
yang ditahan oleh tiang pancang. Gaya inilah yang kemudian dikontrol agar bisa
dipastikan gaya yang terjadi lebih kecil dari kapasitas dukung satu pile.
Gambar Joint spring reaction

Selain joint spring reaction, dari hasil SAP2000 juga diperoleh moment yang
terjadi dalam pile cap sehingga dapat digunakan untuk menghitung penulangan,
untuk hal ini saya akan membahas dilain waktu.

Kelemahan Desain

SAP2000 merupakan salah satu program komputer yang terbukti handal untuk
digunakan dalam pemodelan struktur. Akan tetapi bukan berarti program ini
tidak memiliki kelemahan. Sebagai program fined-element yang basis
perhitungannya berdasarkan iterasi matriks, maka terkadang output yang
dihasilkan kurang tepat menggambarkan perilaku struktur yang sebenarnya.
Sebagai contoh, untuk analisis pondasi maka pilecap seharusnya dianggap
sangat kaku sehingga displacement akan terjadi dalam satu arah saja. Yang
terjadi adalah output SAP2000 menunjukkan displacement terjadi acak ke segala
arah.

Dalam hal ini justifikasi engineer yang dibutuhkan, dan ini tentunya menjadi
tanggung jawab masing- masing engineer. Apabila hasil joint spring reaction
yang dihasilkan menunjukkan perilaku yang tidak wajar maka engineer yang
bersangkutan harus menganalisa lebih lanjut. Perbandingan dengan hasil
hitungan software lain sangat disarankan. Mengenai justifikasi teknis ini secara
khusus saya bahas dalam artikel berikut ini. Semoga dapat memberikan sedikit
pencerahan mengenai prinsip kehati- hatian dalam melakukan justifikasi.

Demikian artikel singkat dari saya, sharing ilmu pengetahuan sangat saya
harapkan. Please feel free untuk kontak atau tinggalkan komentar..
Perencanaan Pondasi Tiang Pancang
Posted by Muttaqin on Selasa, 28 Juni 2011

Pondasi suatu bangunan berfungsi untuk memindahkan beban-beban pada struktur atas ke
tanah. Substruktur ini meliputi pondasi dan balok penghubung.
Dalam tulisan ini terlampir contoh perencanaan / perhitungan Pondasi tiang pancang.
Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang
1. Daya Dukung berdasarkan Kekuatan bahan
P=(Ap*Tbk)+(As*Tau) ; dimana ; P = daya dukung tiang pancang ijin (kg)
Ap = Luas penampang tiang pancang (cm2)
As = Luas tulangan tiang pancang (cm2)
Tbk = Tegangan ijin beton (kg/cm2)
Tau = Tegangan ijin tulangan (kg/cm2)
2. Daya dukung tiang pancang berdasarkan data sondir (CPT/Cone Penetration Test)
P =(qc*Ap)/3 + (JHL*Ka)/5 ;
dimana ; P = Daya dukung tiang pancang ijin (kg)
qc = Nilai konus (kg/cm2)
Ap = Luas penampang tiang pancang (cm2)
Ka = Keliling penampang tiang (cm1)
JHL = Jumlah hambatan lekat
SF = Safety factor ; 3 dan 5
3. Daya dukung tiang pancang berdasarkan Data SPT/ Standart Penentration Test

Qu = (40*Nb*Ap)

dimana ; Qu = Daya dukung batas pondasi tiang pancang


Nb = nilai N-SPT rata-rata pada elevasi dasar tiang pancang
Nb = (N1+N2)/2 ;

N1 = Nilai SPT pada kedalaman 3B pada ujung tiang ke bawah

N2 = nilai SPT pada kedalaman 8B pada ujung tiang ke atas


Ap = luas penampang dasar tiang pancang (m2)

Qsi = qs*Asi; dimana ;

Qsi = Tahanan limit gesek kulit


qs = 0.2N untuk tanah pasir
0.5N untuk tanah lempung
Asi = keliling penampang tiang*tebal lapisan
Daya Dukung Tiang Pancang (SPT)
P = (Qu +Qsi)/3

DARI HASIL KE TIGA PERHITUNGAN DI ATAS NANTI , DAYA DUKUNG IJIN TIANG
PANCANG YANG AKAN DIPERGUNAKAN ADALAH NILAI DAYA DUKUNG TERKECIL.

CONTOH PERHITUNGAN
Beban Normal maksimum N=814.07 ton ; M=90.671Ton
kuat tekan beton rencana fc=35Mpa ; fy=400Mpa

Data Sondir pada kedalaman 12m (qc=250kg/cm2 dan JHL=1200 kg/cm)

Dimensi tiang pancang yang akan dipasang 4040 cm

Daya dukung ijin satu tiang pancang berdasarkan data Sondir (CPT/Cone Penetration Test)
P = (qc*Ap)/3 + (JHL*Ka)/5
= (250*40*40)/3 + (1200*40*4)/5
= 133,333+38,400
= 171733.33 kg
= 171,7 Ton
Daya dukung satu tiang pancang berdasarkan Sondir/CPT adalah 171.7ton
Daya dukung satu tiang pancang berdasarkan data SPT/Standart Penetration Test
P = (Qu + Qsi)/3
Data SPT
Kedalaman (m) Jenis tanah N
0.0 s/d 2.0 (lempung) 4
2.0 s/d 4.0 (lempung) 10
4.0 s/d 6.0 (lempung) 13
6.0 s/d 8.0 (lempung) 36
8.8 (8D) (lempung) 40 > (8*0.4)=3.2 m ; -> 12m-3.2m = 8.8 m
10 (lempung) 44
10.0 s/d 12.0 (pasir) 50 > kedalaman tiang pancang rencana 12m
13.2 (3D) (pasir) 52 > (3*0.4)= 1.2 ; -> 12m+1.2m = 13.2 m
Qu = (40*Nb*Ap) ; -> Nb = (N1 + N2)/2
Nb1 = (40+50)/2 ; > Nb1= 45
Nb2 = (50+52)/2 ; > Nb2= 51
Nb = (45+51)/2 ; > Nb = 48
Qu = (40*48*Ap) ; > Ap = 0.4*0.4 ; > Ap=0.16
= (40*48*0.16)
= 307.2ton
Daya dukung Gesek/Friction tiang pancang berdasarkan data SPT
Qsi = qs*Asi
pada lapisan tanah hingga kedalam1- 10 m adalah jenis tanah lempung, dan lapisan tanah pada
kedalaman 10-12 m adalah pasir .
qs > untuk pasir 0.2N
qs > untuk lempung 0.5N
kedalaman 0-10 (jenis tanah lempung)
qs1 = 0.5N*Asi ; (ket ; 0.5N adalah karena jenis tanah lempung)
Asi = keliling penampang tiang pancang*tebal
Asi = (0.4*4)*10; > Asi = 16 m2
qs1 = 0.5*48*16 ; > qs1=384ton
kedalaman 12 m > jenis tanah pasir
qs2 = 0.2N*Asi ; (ket 0.2N karena jenis tanah adalah pasir)
Asi = 0.4*4*2
Asi = 3.2 m2
qs2 = 0.2*48*3.2
= 30.72Iton
Qsi = qs1+qs2 ; Qsi = 384+30.72
Qsi = 414.72ton
Daya dukung satu tiang pancang berdasarkan SPT
Pu = (Qu +Qsi)/3 ;
Pu = (307.2+414.72)/3
Pu = 240.64ton
kesimpulan
Nilai terkecil daya dukung satu tiang pancang dari metode CPT dan SPT yang akan
dipergunakan pada perencanaan selanjutnya.
Daya dukung satu tiang pancang
berdasarkan CPT = 171.7ton
berdasarkan SPT = 240.67ton

Maka nilai daya dukung satu tiang pancang yang akan dipergunakan selanjutnya adalah
berdasarkan CPT

Anda mungkin juga menyukai