Anda di halaman 1dari 1

ACTIO POPULARIS FOR BLACKOUT

Bicara soal listrik, maka dengarkanlah jeritan konsumen saat listrik tiba-tiba padam.
potret jebloknya layanan PT PLN selaku penyedia tunggal ketenagalistikan di Indonesia
memang bukan kisah baru. sejak tahun 1997 hingga sekarang, dilihat dari data pengaduan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), kasus pengaduan selalu bertengger pada
posisi the Big Five, tercatat sekitar 5.893 pengaduan dari 10 area pelayanaan PLN di
Indonesia dan kota Palu masuk urutan lima besar pula.
khusus untuk kota palu kenyataan bahwa pelayanan PT. PLN terhadap konsumen
sudah sangat memprihatinkan. tercatat sejak tahun 2003 2010 listrik di kota Palu terus
mengalami kemunduran. begitu banyak alasan yang mulai samar dilontarkan oleh PT.
PLN cabang Sulteng, mulai dari alasan beban puncak, sampai dengan pasokan batu
bara yang kurang oleh PLTU. alasan-alasan ini seperti halnya alasan-alasan lainnya tidak
pernah menjadi perhatian PT. PLN cabang Sulteng. terbukti ada saja alasan untuk
memadamkan listrik di kota palu.
lantas apa sekarang daya upaya masyarakat kota palu dalam menyikapi
pemadaman listrik yang terus menerus merugikan kepentingan masyarakat kota palu?.
apakah teriakan dan hujatan sudah cukup menganti kerugian materil yang diakibatkan
oleh pemadaman listrik? jawabannya tentu saja tidak!, karena dalam hal pemadaman
listrik yang dilakukan oleh PT. PLN cabang sulteng itu meninggalkan sejumlah kerugian
baik materil maupun inmateril di pihak konsumen, menjadikan masalah ini sebagai Legal
matter yang seyogyanya di selesaikan melalui jalur Pro justitia.
tentunya pilihan akan jatuh kepada gugatan citizen law suit atau gugatan
warganegara (actio popularis). Terlebih lagi Karena masalah kelistrikan dewasa ini telah
menjadi masalah nasional. Michael D. Axeline menegaskan bahwa citizen law suit
memberikan kekuatan kepada warga Negara untuk menggugat pihak tertentu (Privat)
yang melanggar undang-undang, selain kekuatan kepada warganegara untuk menggugat
Negara dan lembaga-lembaga Negara yang melakukan pelanggaran undang-undang, atau
yang gagal dalam memenuhi kewajibannya dalam pelaksanaan (implementasi) undang-
undang.
di dalam Pasal 29 ayat (1) huruf b UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang
Ketenagalistrikan, konsumen berhak mendapat tenaga listrik secara terus menerus dengan
mutu dan keandalan yang baik, dengan tentunya menjalankan kewajiban. tentunya
dengan dasar inilah PT. PLN cabang Sulteng telah melakukan tindakan wanprestasi yang
menimbulkan kerugian di pihak konsumen baik materil maupun inmateril, sebagaimana
juga tercantum dalam SK Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 144 Tahun 2003,
bahwa menimbulkan kerugian sehingga konsumen layak mendapatkan ganti rugi.
singkat kata, semua tindakan-tindakan Non-litigasi dirasa telah lebih dari cukup
untuk sekedar memberikan sight warning kepada penyedia tenaga listrik untuk segera
berbenah diri. namun tetap saja kemerosotan tetap saja dirasakan. maka sudah saatnya
masyarakat kota palu peduli dan berpartisipasi untuk ambil bagian dalam proses litigasi
meminta kembali hak yang telah dirampas oleh penyedia tenaga listrik, memperingkat
penyedia tenaga listrik bahwa masyarakat kota palu bisa tegas dan sadar hukum. saatnya
PALU MENGGUGAT.