Anda di halaman 1dari 19

Laporan Family Folder

Puskesmas Kecamatan Wanakerta Kabupaten Karawang


Periode 2 Oktober 2017 28 Oktober 2017

Disusun oleh:
Jonathan Kurnia Wijaya
11 2015 304

Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Karawang, Oktober 2017
1
Bab I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Salah satu indikator kesehatan suatu negara dapat dinilai dari Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Neonatus (AKN) . Menurut data SDKI (Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia), AKI pada tahun 2012 adalah 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka
ini kurang lebih tiga kali lebih besar dari tujuan MDG 2015 yaitu 102 per 100.000 kelahiran.
Angka Kematian Neonatus (AKN) adalah angka kematian pada bayi usia 0 28 hari, meskipun
angka ini menurun hingga pada tahun 2012 tercatat oleh SDKI sebesar 19 per kelahiran hidup,
namun angka ini berkontribusi terhadap 56% dari keseluruhan kematian bayi sehingga ini
merupakan suatu masalah.1
Tetanus pada maternal dan neonatal merupakan penyebab kematian yang paling sering
terjadi akibat persalinan dan penanganan tali pusat tidak bersih. Tetanus ditandai dengan kaku
otot yang nyeri yang disebabkan oleh neurotoxin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani pada
luka anaerob (tertutup). Tetanus neonatorum (TN) adalah tetanus pada bayi usia hari ke 3 dan
28 setelah lahir dan Tetanus maternal (TM) adalah tetanus pada kehamilan dan dalam 6 minggu
setelah melahirkan.2
Imunisasi merupakan salah satu cara mencegah penyakit menular, khususnya Penyakit
yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), yang tidak hanya diberikan kepada bayi
hingga remaja tetapi juga pada orang dewasa dengan memberikan antigen bakteri atau virus
tertentu yang telah dilemahkan atau dimatikan untuk membentuk antibodi dalam tubuh.2
Imunisasi tetanus toxoid tidak hanya diberikan pada usia balita dan anak sekolah, tetapi
juga pada wanita subur yang didalamnya termasuk ibu hamil sebagai bentuk imunisasi
tambahan.2

1.2. Tujuan
Dengan melakukan kunjungan ke rumah salah seorang pasien, diharapkan kita dapat
melakukan analisa keadaan pasien atau kasus penyakit yang dideritanya dengan
pendekatan keluarga, yakni diantaranya sebagai berikut :
- Mengetahui diagnosis kerja beserta diagnosis banding yang terjadi pada pasien
tersebut melalui anamesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang.
- Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan kesehatan pada pasien
tersebut seperti status imunisasi pasien.
2
- Dapat menyusun strategi yang akan dilakukan untuk meningkatkan kesehatan
pasien.
- Mengingatkan kesadaran pasien dan keluarganya mengenai pentingnya imunisasi
tetanus toxoid pada ibu hamil.
- Memberikan penjelasan mengenai pentingnya gaya hidup sehat selama masa
kehamilan.

1.3. Masalah
Masalah yang akan dibahas adalah mengenai pelayanan imunisasi tetanus toxoid pada
ibu hamil, yang mana akan dilakukan bersamaan dengan pendekatan kedokteran
keluarga. Hal ini dilakukan karena cakupan pelayanan imunisasi tetanus toxoid di
wilayah Puskesmas Wanakerta belum mencapai target. Hal ini dikarenakan banyak
faktor salah satunya adalah lingkungan masyarakat yang masih belum menyadari akan
pentingnya imunisasi tetanus toxoid pada ibu hami dan distribusi vaksin tetanus toksoid
yang terbatas.

1.4. Sasaran
Sasaran dalam hal ini adalah ibu hamil yang belum melakukan imunisasi tetanus
toxoid di wilayah kerja Puskesmas Wanakerta periode 2 Oktober 28 Oktober 2017.

3
Bab II
Metode dan Materi

2.1 Metode
Metode yang digunakan adalah penemuan penderita pasif (Passive case finding).
Penemuan penderita pasif adalah kegiatan mendatangi pasien ke rumahnya dengan
berdasarkan data yang didapat dari puskesmas, atau dari pasien yang sedang berobat ke
Puskesmas.

Hal yang dilakukan adalah :


Mendapatkan data lengkap mengenai pasien dari aspek biologis, psikologis, dan
sosialnya.
Mendapatkan data lengkap mengenai keadaan rumah dan keluarga pasien.
Mendapatkan data lengkap tentang keadaan lingkungan tempat tinggal pasien.
Menganalisa dan memberikan penjelasan pada pasien mengenai pelayanan antenatal
yang terpadu dan menyeluruh.

2.2 Materi
Materi yang disampaikan pada saat kunjungan adalah:
1. Persiapan kehamilan dan persalinan.
2. Pelaksanaan imunisasi tetanus toxoid.

4
Bab III
Kerangka Teori

Tetanus Neonatorum (TN)


Tetanus Neonatorum adalah penyakit infeksi yang terjadi melalui luka pada saat
pemotongan umbilikus yang tidak steril sehingga spora dari Clostridium tetani yang berasal
dari alat persalinan yang kurang bersih yang menginfeksi bayi berusia 3 28 hari.3
Gejala tetanus neonatorum adalah: bayi sadar, terjadi spasme otot berulang, mulut bayi
mencucu seperti ikan, trismus, perut teraba keras, opiostonus, tali pusat kotor dan berbau,
anggota gerak spastik (boxing position), kejang terutama karena rangsangan sentuham, cahaya
dan suara, wajah kebiruan, dan demam.4
Pencegahan tetanus sendiri dimulai dari saat usia balita dan usia anak sekolah dalam
bentuk vaksinasi DPT dan DT kemudian diberikan pada wanita usia subur (WUS) dalam
bentuk vaksin TT.1

Imunisasi Tetanus Toxoid (TT)


Imunisasi tetanus toksoid ditujukan untuk membangun kekebalan sebagai upaya
pencegahan terhadap infeksi tetanus. Vaksin TT adalah vaksin yang mengandung toksoid
tetanus yang telah dimurnikan dan terabsorpsi kedalam 3 mg/ml aluminium fosfat yang
ditambahkan Thimersol 0,1 mg/ml sebagai pengawet. Dalam 0,5 ml vaksin mengandung
sedikitnya 40 IU dipergunakan untuk mencegah tetanus pada bayi yang baru lahir.5
Menurut BPS (2012), Kemenkes menerapkan program imunisasi pada ibu hamil
diberikan saat kontak pertama dengan petugas medis yaitu dalam kunjungan K1 untuk
mendapatkan pelayanan antenatal yang salah satu programnya adalah imunisasi tetanus toksoid
(TT).5
Tujuan dari program imunisasi ini adalah untuk mewujudkan eliminasi tetanus
neonatorum, tetanus neonatorum ditemukan kurang dari 1 per 1000 kelahiran hidup, dapat
diukur dengan cakupan imunisasi TT pada ibu hamil dari unti terkecil pada tingka
kabupaten/kota.1

Jumlah dan Dosis Pemberian Imunisasi TT


Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali, dengan dosis 0,5ml disuntikan secara
intramuskuler.
5
1. Kemasan Vaksin TT
a) 1 bok vaksin terdiri dari 10 vial.
b) 1 vial berisi 10 dosis.
c) Vaksin TT berbentuk cairan.

2. Jarak Pemberian Imunisasi TT1 dan TT2


Jarak minimal pemberian imunisasi TT1 dengan TT2, yakni 4 minggu.

3. Jadwal Pemberian Imunisasi TT:


a) Imunisasi TT1 diberikan dengan dosis 0,5ml.
b) Imunisasi TT2, diberikan dengan jarak pemberian 4 minggu setelah TT1, dapat
memberikan perlindungan selama 3 tahun dengan dosis 0,5ml.
c) Imunisasi TT3, jarak pemberian 6 bulan setelah TT2, masa perlindungan 5 tahun, dosis
pemberian 0,5ml.
d) Imunisasi TT4, jarak pemberian 1 tahun setelah TT3, masa perlindungan 10 tahun,
dosis pemberian 0,5ml.
e) Imunisasi TT5, jarak pemberian 1 tahun setelah TT4, masa perlindungan 25 tahun,
dosis pemberian 0,5ml.

Cara Pemberian:
a) Vaksin dikocok terlebih dahulu sebelum digunakan. Tujuannya agar suspensi menjadi
homogen.
b) Penyuntikkan vaksin TT untuk mencegah tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer
yang disuntikkan secara intramuskular, dengan dosis pemberian 0,5ml dengan interval
4 minggu. Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk
mempertahankan titer antibodi terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka
dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan ke lima diberikan dengan interval
minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke tiga dan ke empat.
c) Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada
trimester pertama.
d) Di unit pelayanan statis: vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4
minggu, dengan ketentuan: vaksin belum kadaluawarsa, vaksin disimpan dalam suhu

6
2oC hingga 8oC, tidak pernah terendam air, terjaga sterilitasnya, tidak beku, VVM
masih dalam kondisi A atau B.
e) Di posyandu: vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi.

Efek Samping Imunisasi TT


Biasanya hanya terjadi gejala-gejala ringan, antara lain: nyeri, kemerahan dan
pembengkakan pada tempat suntikan yang dapat berlangsung selama 1-2 hari dan dapat
sembuh tanpa pengobatan. Imunisasi TT menggunakan antigen yang telah dilemahkan
sehingga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil
mendapatkan imunisasi TT.4

Cara menilai cakupan Imunisasi TT pada Ibu hamil adalah:5

= Jumlah Ibu Hamil yang Mendapat Imunisasi TT2, TT3, TT4, TT5 di
Wilayah Kerja Puskesmas dalam Kurun Waktu Satu Tahun
x100
Jumlah Sasaran Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas %
dalam Kurun Waktu Satu Tahun

7
Bab IV
Pengumpulan Data

Puskesmas : Kecamatan Wanakerta


Tanggal Kunjungan : 17 Oktober 2017

4.1. Identitas Pasien


a. Nama : Ny. Sinta
b. Umur : 34 tahun
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
e. Pendidikan : Sekolah Menengah Atas
f. Alamat : Desa Lewiasem

4.2. Riwayat Biologis Keluarga


a. Keadaan kesehatan sekarang : Cukup
b. Kebersihan Perorangan : Cukup
c. Penyakit yang sering diderita : Tidak ada
d. Penyakit keturunan : Tidak ada
e. Penyakit kronis/ keturunan : Tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
g. Penyakit keluarga : Tidak ada
h. Pola makan : Teratur, variasi kurang, 1 hari makan 3 kali
i. Pola istirahat : Cukup
j. Jumlah anggota keluarga : 4 orang

4.3. Psikologis Keluarga


a. Kebiasaan : Tidak ada
b. Pengambilan keputusan : Musyawarah bersama
c. Ketergantungan obat : Tidak ada
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas/Praktek bidan
e. Pola rekreasi : Kurang

8
4.4. Keadaan Rumah/Lingkungan
a. Jenis bangunan : Permanen
b. Lantai Rumah : Keramik
c. Luas Rumah : 90 m2
d. Penerangan : Kurang
e. Kebersihan : Kurang
f. Ventilasi : Baik
g. Dapur : Ada
h. Jamban keluarga : Ada
i. Sumber air minum : Air isi ulang
j. Sumber pencemaran air : Tidak Ada
k. Pemanfaatan perkarangan : Tidak Ada
l. Sistem pembuangan limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah : Ada
n. Sanitasi lingkungan : Cukup

4.5. Keadaan Sosial dan Ekonomi


a. Ketaatan beribadah : Baik
b. Keyakinan tentang kesehatan : Cukup

4.6. Keadaan Sosial Keluarga


a. Tingkat pendidikan : Cukup
b. Hubungan antar anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
d. Kegiatan organisasi sosial : Baik, mengikuti kegiatan pengajian
e. Keadaan ekonomi : Kurang

4.7. Kultural Keluarga


a. Adat yang berpengaruh : Sunda
b. Lain-lain : Tidak ada

9
4.8. Daftar Anggota Keluarga

Keterangan:

4.9. Keluhan Utama


Pasien mengatakan sering mengalami mual dan pusing disertai pegal pada pinggang

4.10. Keluhan Tambahan


Tidak ada

4.11. Riwayat Penyakit Sekarang


Ibu G4P3A0 H-28 minggu mengeluh mual dan pusing sejak 1 bulan terakhir. HPHT 7
April 2017 Mual sering muncul saat pagi hari. Ibu terkadang mengalami muntah. Tidak
demam, dan nyeri perut hebat. Pasien sudah melakukan pemeriksaan di bidan terdekat.
Pasien belum pernah menerima imunisasi Tetanus Toxoid. Riwayat minum obat
sebelumnya disangkal pasien. Riwayat BAB dan BAK tidak ada kelainan.

4.12. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat kelainan jantung (-), ginjal (-). DM (-), alergi (-), Hipertensi (-)

10
4.13. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda vital
Frekuensi nadi : 80 kali / menit
Tekanan darah : 100/80 mmHg
Frekuensi napas : 18 kali / menit
Suhu : 36,4 oC
Tinggi badan : 159 cm
Berat badan : 53 kg

4.14. Pemeriksaan Lokalis


Kepala
Bentuk dan ukuran : Normocephali, tidak ada deformitas
Rambut dan kulit kepala : Rambut berwarna hitam, distribusi merata,
kulit kepala tidak ada kelainan
Wajah : Normal
Mata : Conjunctiva anemis +/+, sklera ikterik -/-
Telinga : Bentuk normal, liang telinga lapang, sekret -/-
Hidung : Bentuk normal, sekret -/-, Pernapasan cuping hidung (-)
Bibir : Merah, tidak kering, sianosis (-)
Gigi-geligi : Dalam batas normal
Mulut : Bentuk normal, stomatitis (-), sianosis (-)
Lidah : Bentuk normal, lidah kotor (-)
Tonsil : T1-T1 tenang, hiperemis (-)
Faring : Hiperemis (-)

Leher
Tidak ada kelainan bentuk, tiroid dan kelenjar getah bening tidak teraba membesar.

Toraks
Paru : Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)
11
Abdomen
Inspeksi : Tampak membuncit
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-) epigastrium, hepar dan lien tidak
teraba. Ballotement (+)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
TFU : 27 cm
Anus dan Rektum : (tidak dilakukan)
Genitalia : (tidak dilakukan)
Anggota Gerak : Akral hangat, Udem (-)

4.15. Diagnosis kerja


G4P3A0 gravida 26 minggu dengan dispepsia.

4.15. Diagnosis Keluarga


-

4.16. Anjuran Penatalaksanaan Penyakit


a. Promotif
- Menjelaskan pasien mengenai pentingnya imunisasi tetanus toxoid pada ibu
hamil.
- Memotivasi pasien untuk tetap makan 3 kali sehari dengan 2 kali makanan
cemilan sehat di antara waktu makan saat mual tidak terasa.
- Mengedukasi pasien dan keluarga pasien untuk mengurangi konsumsi makanan
yang terlalu asam dan pedas bila mual.
b. Preventif
- Menghindari makanan dan minuman yang terlalu asam, lemak dan atau pedas
- Makan-makanan yang bergizi dan seimbang.
- Memotivasi pasien untuk mengubah pola makan menjadi sehari 3 kali dengan
2 kali makanan cemilan sehat di antara waktu makan
- Memberikan tablet suplementasi besi untuk kehamilannya.
c. Kuratif
- Memberikan antasida doen sirup 60 ml diminum 3 kali sehari 1 sendok teh 1
jam setelah makan
12
- Memberikan paracetamol tablet 500mg diminum 3 kali sehari setelah makan.
d. Rehabilitatif
- Istirahat cukup
- Menjaga makanan dan minuman sehari-hari
- Kontrol ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut jika gejala
berulang dan bertambah parah.
- Kontrol ke fasilitas kesehatan atau posyandu untuk memeriksakan
kehamilannya secara rutin.

4.17. Prognosis
a. Penyakit : Ad bonam
b. Keluarga : Ad bonam
c. Masyarakat : Ad bonam

13
Bab V

1.1 Analisa Kasus


Ny Sinta dengan keluhan mual dan pusing sejak 1 bulan terakhir. Mual muntah sering
muncul saat pagi hari, terkadang sampai muntah. Pasien mengaku sedang hamil 28
minggu. Pasien memeriksakan kehamilannya di bidan terdekat secara teratur. Riwayat
imunisasi saat kecil lengkap. Pasien belum menerima imunisasi tetanus toxoid. Pasien
makan 1-2 kali sehari dengan variasi menu lauk pauk, sering makan pedas dan atau asam
dan jarang mengkonsumsi cemilan di antara waktu makan. Riwayat penyakit bawaan atau
riwayat kecacatan tidak ada

1.2 Riwayat Keluarga


Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit. Keadaan keluarga baik. Semua
anggota keluarga dalam keadaan baik-baik saja.

1.3 Analisa Kunjungan Rumah


1.3.1 Kondisi pasien
Kondisi pasien tampak sakit ringan dan belum pernah diperiksakan ke tenaga
medis sebelumnya.
1.3.2 Keadaan Rumah
1. Lokasi :
Rumah pasien terdapat dalam desa Lewiasem, kondisi rumah dan
lingkungan sekitar rumah bertanah dan masih menggunakan air sumur
untuk MCK tetapi untuk minum dan memasak menggunakan air isi
ulang.
2. Kondisi :
Jenis bangunan rumah pasien adalah permanen. Rumah tersebut
lantainya keramik, beratap genteng. Rumah tampak kurang rapi.
3. Luas Rumah : 90 m2

1.3.3 Ventilasi
Sirkulasi udara kurang baik. Suasana rumah kurang nyaman.

14
1.3.4 Pencahayaan
Pencahayaan didalam rumah kurang cukup.

1.3.5 Kebersihan
Kebersihan dalam rumah kurang dan barang barang kurang tersusun rapi.

1.3.6 Sanitasi Dasar


Sumber air berasal dari air sumur untuk MCK, sumber air minum dari air isi
ulang.

1.4 Analisa Fungsi Keluarga


1.4.1 Keadaan Biologis
Keadaan biologis pasien cukup baik.
1.4.2 Keadaan Psikologis
Hubungan pasien dengan semua anggota keluarga terjalin dengan baik.
1.4.3 Keadaan Sosiologis
Pasien dan keluarga jarang mengikuti kegiatan di lingkungan sekitar.
1.4.4 Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi pasien cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
1.4.5 Keadaan Religius
Semua anggota kelurganya menjalankan ibadah mereka dengan baik.

15
Bab VI
Penutup

I Kesimpulan
Setiap ibu hamil tentu menginginkan proses kehamilan dan persalinannya
berjalan dengan lancar serta bayi yang dilahirkan sehat, salah satu caranya adalah dengan
imunisasi tetanus toxoid. Imunisasi tetanus toxoid diberikan tidak hanya saat usia balita
dan usia sekolah namun juga untuk wanita usia subur, termasuk didalamnya ibu hamil.
Pemberian imunisasi tetanus toxoid ini sebagai salah satu upaya Indonesia didalam
mengeliminasi tetanus neonatal dan maternal akibat persalinan dan perawatan tali pusat
yang kurang baik.

II Saran
a. Puskesmas
4. Menyediakan dan melakukan pemasangan poster, pembagian leaflet dan
penyuluhan bervariasi tentang imunisasi tetanus toxoid ibu hamil di puskesmas
dan posyandu sehingga lebih banyak masyarakat yang terpapar informasi
mengenai imunisasi TT tentang pengertian dan manfaat dari imunisasi TT pada
ibu hamil.
5. Setiap kader posyandu membuat jadwal kunjungan keluarga agar para kader
memiliki target yang harus dicapai, dengan banyaknya paparan pendampingan
dan informasi yang diberikan kepada ibu hamil, akan memberikan dampak
perubahan perilaku yang lebih baik.
b. Pasien
Memperbaiki pola makan menjadi 3 kali sehari dengan 2 cemilan sehat di
antara waktu makan
Mengurangi makan makanan yang terlalu asam dan atau pedas
Memvariasikan menu makanan tiap harinya.
Mengkonsumsi tablet suplementasi besi selama kehamilannya.

16
Daftar Pustaka
1. Kementrian Kesehatan RI. Profil kesehatan Indonesia 2012. Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI; 2013.
2. Kementrian Kesehatan RI. Eliminasi tetanus maternal dan neonatal. Volume 1. Jakarta
Pusat: Pusat Data dan Informasi Kesehatan; 2012. H.1-2, 8-9, 17.
3. Diana RA. Gamabaran epidemiologi tetanus neonatorum di kabupaten serang tahun 2005
2009 2 Juli 2009 Diundih dari: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/125373-S-5814-
Gambaran%20epidemiologi-Abstrak.pdf, 28 Juli 2017.
4. Imunisasi TT. Diunduh dari:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/48320/Chapter%20II.pdf;jsession
id=9FCDC2D1704923D7035D41CA33EA1E1F?sequence=4, 28 Juli 2017.
5. Direktorat Jenderal PP dan PL Kementerian Kesehatan RI. Buku acuan peningkatan
cakupan dan mutu pelayanan imunisasi di Puskesmas. Jakarta: DepKes, 2011.

17
Lampiran

18
19