Anda di halaman 1dari 81

DAFTAR ISI

DAFTAR HALAMAN
DAFTAR ISI..........................................................................................................................1
BAB 1. RINGKASAN EKSEKUTIF .................................................................................3
BAB 2. LATAR BELAKANG ............................................................................................4
2.1 DATA PERUSAHAAN...................................................................................5
2.2 BIODATA PEMILIK/PENGURUS ................................................................ 9
2.3 STRUKTUR ORGANISASI ...........................................................................9
2.4 SUSUNAN PEMILIK .................................................................................... 9
BAB 3. ANALISA PASAR DAN PEMASARAN .......................................................... 11
3.1 PELAYANAN / JASA PELAYANAN ......................................................... 11
3.2 GAMBARAN PASARAN.............................................................................13
3.3 SEGMEN PASAR / TARGET ......................................................................16
3.4 PERKEMBANGAN PASAR (TREND) .......................................................26
3.5 PROYEKSI MARKET ..................................................................................29
3.6 STRATEGI MARKET ..................................................................................34
3.7 ANALISA PESAING ....................................................................................35
3.8 JARINGAN....................................................................................................36
BAB 4. ANALISA PELAYANAN ....................................................................................38
4.1 PROSES PENGEMBANGAN ......................................................................38
BAB 5. ANALISIS SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) .............................................43
5.1 ANALISIS KOMPETENSI SDM ................................................................ 43
5.2 ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM .....................43
5.3 RENCANA KEBUTUHAN PENGEMBANGAN SDM .............................. 48
BAB 6. RENCANA PENGEMBANGAN USAHA ........................................................ 52
6.1 TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN USAHA ..........................................53
BAB 7. ANALISIS KEUANGAN ....................................................................................55
7.1 LAPORAN KEUANGAN ............................................................................55
7.2 RENCANA KEBUTUHAN INVESTASI....................................................57

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 1


7.3 RENCANA ARUS KAS (CASH FLOW) ...............................................59
7.4 RENCANA KEBUTUHAN PINJAMAN ...................................................61
7.5 RENCANA PENGEMBALIAN DANA PINJAMAN ..................................61
BAB 8. ANALISIS DAMPAK DAN RESIKO USAHA ..............................................63
8.1 DAMPAK TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR .................................63
8.2 DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN ....................................................64
8.3 ANALISIS RESIKO USAHA .......................................................................66
8.4 ANTISIPASI RESIKO USAHA....................................................................72
BAB 9. RENCANA PENGEMBANGAN MUTU ........................................................... 74
9.1 PENGEMBANGAN RSU. MITRA MULIA HUSADA DALAM MENUJU
AKREDITASI .............................................................................................. 74
9.2 SASARAN PENYUSUNAN POA AKREDITASI RSU. MITRA MULIA
HUSADA ......................................................................................................75
9.3 POA AKREDITASI RSU.MITRA MULIA HUSADA HAK DAN
KEWAJIBAN PASIEN ................................................................................76
9.4 POA AKREDITASI RSU. MITRA MULIA HUSADA SASARAN
KESELAMATAN PASIEN..........................................................................77
9.5 POA AKREDITASI RSU.MITRA MULIA HUSADA PENCEGAHAN DAN
PENGENDALIAN INFEKSI .......................................................................78
9.6 POA AKREDITASI RSU.MITRA MULIA HUSADA KUALIFIKASI
PEGAWAI STAF ......................................................................................... 79
9.7 TUJUAN POA AKREDITASI RSU. MITRA MULIA HUSADA................80
BAB 10. PENUTUP ...........................................................................................................81

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 2


BAB 1
RINGKASAN EKSEKUTIF

RINGKASAN

Pembangunan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia ini merupakan sebuah rencana bisnis
untuk membangun sebuah Rumah Sakit yang berfungsi sebagai pemberi pelayanan
kesehatan. Lokasi pembangunan Rumah Sakit di Bandar Jaya dengan memanfaatkan
area/lahan yang sudah ada. Dalam merencanakan sebuah bisnis dibutuhkan suatu analisis
baik analisis internal maupun analisis eksternal dari lingkungan usaha. Untuk merencanakan
sebuah bisnis dibutuhkan juga suatu perencanaan strategi, pembiayaan, pemasaran, sumber
daya manusia dan operasional agar bisnis tersebut dapat bertahan dan bersaing. Dibawah ini
dapat dilihat hal yang menjadi dasar latar belakang rencana bisnis Rumah Sakit Umum Mitra
Mulia Husada .

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 3


BAB 2
LATAR BELAKANG

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia memprediksi bahwa pertumbuhan Industri


Jasa Kesehatan adalah 4,1% pertahun dalam jangka waktu 10 tahun, yakni sejak tahun 2000
hingga 2010. Bahkan ditahun 2020, diprediksi jumlah kunjungan rawat jalan di Lampung
Tengah telah mencapai 4.000 orang. Adapun tingkat pertumbuhan kunjungan rawat jalan
terbesar akan berada di wilayah Panggungan dan sekitarnya (5,9%), Bandar Jaya dan
sekitarnya (5,7%) dan Gunung Sugih sekitarnya (5,2%) dimana tingkat pertumbuhan
kunjungan pasien ditiga kawasan ini adalah lebih tinggi dibandingkan rata-rata tingkat
pertumbuhan kunjungan wilayah lainnya selama kurun waktu 2009-2018. Sebelumnya,
Dinas Kesehatan Lampung Tengah memprediksi bahwa disadari atau tidak, pelayanan
kesehatan akan menjadi Mega Industri, dan diperkirakan akan menjadi salah satu penggerak
utama perekonomian di abad 21. Dinas Kesehatan Lampung Tengah juga memprediksi
pertumbuhan pelayanan kesehatan dan pelayanan rawat jalan, rawat inap mencapai rata-rata
4,4% pertahun selama periode 2009-2018 dan menyumbang PDB global sebesar 10,5 % pada
tahun 2018 serta menciptakan pekerjaan secara global.

Dengan desain prospek rumah sakit yang kuat tersebut, posisi sektor pariwisata dalam
perekonomian Lampung Tengah semakin penting. Hal ini dapat juga dilihat dari kontribusi
sektor jasa kesehatan bagi perekonomian provinsi yang semakin meningkat sejak tahun
2008. Indikator untuk hal ini antara lain tampak dari jumlah kunjungan rawat jalan ke
Lampung Tengah dan perolehan pendapatan daerah yang meningkat. Disamping itu bisnis
rumah sakit di Lampung Tengah sangat pesat, hal ini karena pengunjung tempat-tempat
klinik di Lampung Tengah mempunyai ciri yang berbeda-beda seperti lokasi, biaya, dan
kenyamanan. Permintaan akan tempat rumah sakit ini cenderung meningkat dari tahun
ketahun dengan semakin meningkatnya kunjungan ke sarana kesehatan di kabupaten.
Kenaikan pendapatan perkapita masyarakat Lampung Tengah juga mendorong meningkatnya
jumlah kunjungan rawat inap dan rawat jalan yang datang ke berbagai rumah sakit didaerah
yang pada akhirnya akan mempengaruhi perkembangan permintaan rumah sakit. Selain itu

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 4


juga dengan pesatnya pertumbuhan bisnis pada umumnya juga ikut meningkatkan kebutuhan
tempat-tempat pelayanan kesehatan.

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat kunjungan
pasien rawat inap pada rumah sakit di Kabupaten Lampung Tengah tahun 2010 di
Kecamatan Bandar Jaya 42,56 %. Yang terdiri dari pasien rawat jalan dan pasien rawat
inap, sedangkan pada tahun 2012 terjadi peningkatan menjadi 63,93 % yang terdiri dari
pasien rawat inap 375 dan pasien rawat jalan 1.102 Dibandingkan dengan tingkatan pasien
rawat inap pada rumah sakit yang setiap tahunnya semakin menurun. Melihat besarnya
pangsa pasar rumah sakit umum yang merupakan rumah sakit umum kelas D .Hal ini dapat
menjadi peluang untuk membangun Rumah Sakit sebagai suatu rencana bisnis yang sangat
menarik.

Rumah sakit merupakan salah satu industri pelayanan kesehatan. Rumah sakit adalah
usaha jasa pelayanan kesehatan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas, kamar inap, dan
sarana penunjang lainnya. Pengertian lain dari rumah sakit adalah suatu jenis akomodasi
yang berupa pertolongan atau bantuan , penyesuaian diri dan penggunaan.

2.1 DATA PERUSAHAAN


Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada merupakan rumah umum dengan
kapasitas 72 tempat tidur, merupakan milik PT. MITRA MULIA HUSADA. Rumah
Sakit Umum Mitra Mulia Husada mempunyai fungsi memberikan pelayanan kesehatan
paripurna dengan motto Melayani Dengan Sepenuh Kasih.

SUMBER DAYA MANUSIA


Tabel 1. SDM RSU Mitra Mulia Husada
DOKTER JUMLAH
a. Dokter Spesialis 7
b. Dokter Umum 7
c. Dokter Gigi 1
Jumlah 15

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 5


TENAGA KESEHATAN LAIN JUMLAH
a. Sarjana Keperawatan 7
c. Sarjana Farmasi/Apoteker 1
d. D3 Keperawatan dan Kebidanan 77
e. Radiografer 3
f. Analis 5
g. SPK/sederajad 1
h. Asisten Apoteker 9
i. Fisioterapis 1
Jumlah 104
TENAGA ADMINISTRASI JUMLAH
a. Sarjana ( S1 ) 3
b. Sarjana ( S2 ) 0
c. Sarjana Muda ( D1 dan D3 ) 13
d. SLTA/sederajad 5
e. SLTP 0
f. SD 0
Jumlah 21
STAF LAIN JUMLAH
a. Gizi 2
b. Pramusaji 6
c. Security 7
d. Loundry 3
e. Cleaning Service 16
f. Tukang Kebun 2
g. IPRS 2
h. Supir Ambulan 2
Jumlah

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 6


Tabel 2. JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT JALAN TAHUN 2012 s/d 2015

No. Klinik 2012 2013 2014 2015


1 Penyakit Umum 204 377 243
2 Obsgyn 37 55 85 331
3 Spesialis Bedah 419 609 832 1109
4 Anak 97 127 130 143
5 Penyakit Dalam 1276 2036 1839 3131
6 Spesialis Saraf 97 150 166 324
7 Rawat Darurat 892 1567 1459 1266
TOTAL 2818 4748 4888 6547

GRAFIK 1. JUMLAH KUNJUNGAN PASIEN RAWAT JALAN


Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada
Periode 2012 s/d 2015

3500
3131
3000

2500 Penyakit Umum


2036 Obsgyn
2000 1839 Spesialis Bedah
1567 Anak
1459
1500
1276 1266 Penyakit Dalam
1109
892 Spesialis Saraf
1000 832
Rawat Darurat
609
500 419 377 331 324
204 243
150 166 143
97 97 55 127 85 130
0 37
0
2012 2013 2014 2015

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 7


Tabel 3. JUMLAH PASIEN RAWAT INAP 2012 s/d 2015

No Jenis Pelayanan 2012 2013 2014 2015


1 Penyakit Dalam 1241 1171 1510 1811
2 Bedah 323 414 452 532
3 Kesehatan Anak 201 242 251 244
4 Obstetri 479 703 630 728
5 Saraf 147 156 207 194
6 Umum 71 87 101 64
7 Perinatologi 271 456 408 497
TOTAL 2733 3229 3559 4070

GRAFIK 2. JUMLAH PASIEN RAWAT INAP


Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada
Periode 2012 s/d 2015

2000
1811
1800

1600 1510

1400
1241
1171
1200

1000

800 703 728


630
600 532 497
479 456 452
414 408
400 323
271 242 251 244
201 207 194
147 156
200 71 87 101 64
0
2012 2013 2014 2015

Penyakit Dalam Bedah Kesehatan Anak Obstetri & Ginekologi


Saraf Umum Perinatologi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 8


Grafik 3.

INDIKATOR MUTU PELAYANAN RSU MITRA MULIA HUSADA

80
62
55
60 BOR LOS

40
BTR TOI
20
36% 3 4 42% 3 3
0
2014 2015

2.2 BIODATA PEMILIK/PENGURUS


Direktur : dr. I Luh Wahyuni
Direktur PT : dr. H. Cecep Sulaiman Iskandar Sp.PD FINASIM
Komisaris : Dra. Agustina Soeradi. Apt

2.3 STRUKTUR ORGANISASI


Berdasarkan Akte Pendirian dari Notaris Sri Mulyono Herlambang,S.H. Nomor 3,
disahkan dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman Nomor C-734.HT.03.01-Th.1989
tanggal 15 Desember 1998 dan Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor
14-XI/1998. Tanggal 31 Agustus 1998. Hukum dan Hak Azazi Manusia Nomor W6-
00001 HT 01.01-tahun 2007. maka susunan pengurus PT. MITRA MULIA
HUSADAterdiri dari :
Direktur : dr. I Luh Sriwahyuni
Direktur PT : dr. H. Cecep Sulaiman Iskandar Sp.PD FINASIM
Komisaris : Dra. Agustina Soeradi. Apt

2.4 SUSUNAN PEMILIK


Direktur : dr. I Luh Sriwahyuni
Direktur Utama : dr. H.Cecep Sulaiman Iskandar Sp.PD FINASIM
Komisaris : Dra. Agustina Soeradi. Apt

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 9


STRUKTUR ORGANISASI
RUMAH SAKIT UMUM MITRA MULIA HUSADA

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 10


BAB 3
ANALISA PASAR DAN PEMASARAN

Rumah sakit sebagai lembaga sosio-ekonomi mempunyai tanggung jawab sosial


terhadap kesehatan masyarakat. Dalam melaksanakan fungsi sosialnya diperlukarn dana
yang cukup agar rumah sakit dapat terus melangsungkan kegiatan operasionalnya secara
wajar. Oleh karena itu rumah sakit harus mempunyai unit-unit layanan yang
menghasilkan pendapatan (revenue). Dalam pelaksanaan pendanaan rumah sakit terdapat
suatu sistem subsidi-silang (cross subsidi) yang sifatnya melalui alokasi dana dari unit-
unit yang menghasilkan pendapatan (revenue) terhadap unit-unit yang dianggap merugi.
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada merupakan salah satu rumah sakit yang
melakukan pengelolaan keuangan dengan sistim subsidi silang. Hal hirarki untuk
melaksanakan misi rumah sakit yang pada intinya adalah pengabdian sosial bagi
masyarakat. Unit-unit layanan yang diharapkan dapat menghasilkan pendapatan (revenue)
diantaranya adalah ruang rawat inap kelas I Utama dan kelas I, serta penunjang medis.
Dalam hal rawat inap kelas I Utama dan kelas kebawah di Rumah Sakit Umum Mitra
Mulia Husada, (BOR) yang optimal sehingga menjadi pendukung sistim subsidi-silang.
Untuk mencapai tingkat penggunaan yang optimal harus dicari suatu strategi
yang sesuai dengan keadaan rumah sakit. Dengan melakukan analisis situasi dan
pengambilan keputusan strategis maka diharapkan akan terpilih strategi yang tepat.

3.1 PELAYANAN / JASA PELAYANAN


Era global berdampak pada tingginya kompetisi dalam sektor kesehatan,
Persaingan antar rumah sakit semakin keras untuk merebut pasar yang semakin terbuka
bebas. Rumah sakit perlu memahami secara tepat kebutuhan dan harapan pengguna jasa
sehingga nantinya mampu menyajikan pelayanan kesehatan yang menarik dan
memuaskan pelanggan.Namun pengguna jasa layanan kesehatan memiliki karakteristik
yang sangat heterogen. Rumah sakit akan kesulitan dalam menyajikan pelayanan yang
sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna jasa layanan dalam pasar yang heterogen.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka rumah sakit perlu mensegmentasikan pasar yang
heterogen ke dalam kelompok-kelompok yang relatif homogen.Selanjutnya rumah sakit
menetapkan pasar sasaran utama yang paling sesuai dengan karakteristik yang dimiliki
oleh rumah sakit itu sendiri.Segmentasi pasar mempunyai tujuan untuk memuaskan
kebutuhan pelanggan memastikan retensi pelanggan dan loyalitas pelanggan.Segmentasi
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 11
memberikan peluang bagi perusahaan untuk menyesuaikan produk atau jasa dengan
permintaan pembelian secara efektif. Dewasa ini banyak rumah sakit yang telah
melaksanakan pemasaran sasaran. Seperti hasil survey (2010) menemukan bahwa Rumah
Sakit di Lampung telah menetapkan 85 instansi/perusahaan sebagai salah satu pasar
sasarannya, dan telah menghasilkan peningkatan angka kunjungan pasien yang signifikan
dari sejumlah 1.881 kunjungan pada tahun 2010 menjadi 2.173 kunjungan pada tahun
2012.
Berdasarkan data kunjungan pasien di Rumah Sakit Umum yang ada di Lampung
dalam kurun waktu tiga tahun terakhir terlihat berfluktuasi yakni tahun 2010 sejumlah
1.110 orang, tahun 2011 sejumlah 1.682 orang, dan tahun 2012 sejumlah 2.477 orang.
Jumlah kunjungan pasien rawat inap yang berfluktuasi memberikan asumsi bahwa
strategi pemasaran Rumah Sakit Umum Mitra Muliabelum dirumuskan secara tepat.
Pertama, karena estimasi jumlah kunjungan memberikan indikasi adanya kepastian
pelanggan, dan hal ini terjadi apabila apa yang menjadi kebutuhan, keinginan atau
harapan pelanggan tidak dapat dipenuhi. Mengingat pasar pelayanan kesehatan rumah
sakit sangat heterogen dimana keinginan dan kebutuhan masyarakat akan pelayanan
kesehatan tidak sama. Kondisi ini akan sangat menyulitkan bagi rumah sakit dalam
menentukan jenis pelayanan kesehatan mana dan kepada golongan masyarakat dengan
karakteristik seperti apa yang dapat dilayani secara optimal, untuk itu diperlukan
segmentasi pasar Kedua, adanya persaingan yang sangat kompetitif dengan rumah sakit
dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dalam memperebutkan pasar karena letaknya
yang berdampingan dengan beberapa rumah sakit pesaingnya. Terlihat dari jumlah
kunjungan rawat inap salah satu rumah sakit pesaingnya yaitu Rumah Sakit Umum di
Lampung yang meningkat dari 1328 pasien di tahun 2010 menjadi 1695 di tahun 2011
Untuk dapat memenangkan persaingan dengan kompetitornya Rumah Sakit Mitra Mulia
perlu menampilkan pelayanan prima sesuai dengan visi Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada Menjadikan Rumah Sakit Unggulan dan Terpercaya di Wilayah Lampung Tahun
2015 dan motto Melayani Sepenuh Hati . Menghadapi kondisi di atas, Rumah Sakit
Umum Mitra Mulia Husada harus memiliki kemampuan untuk memahami kebutuhan dan
keinginan konsumen agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan
cara yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan pesaingnya.
Dalam konteks ini, tidak mungkin rumah sakit untuk dapat memuaskan semua
kebutuhan dan keinginan masyarakat, mengingat keterbatasan rumah sakit dalam

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 12


kepemilikan sumber daya dalam kelompok-kelompok yang homogen untuk kemudian
menentukan satu atau beberapa segmen pasar tersebut yang dapat dilayani secara optimal
sesuai kemampuan dan ketersediaan sumber daya yang dimiliki.

3.2 GAMBARAN PASARAN


Potensi Pasar
Potensi pasar bagi pengguna jasa layanan kesehatan di Indonesia sangat besar.
Pada dasarnya penduduk dalam semua kelompok usia dapat menggunakan jasa layanan
kesehatan. Mereka berpotensi menggunakan jasa layanan kesehatan, meskipun jenis jasa
layanan kesehatan yang mereka gunakan berbeda untuk setiap kelompok umur (Tabel
4).Kelompok umur bayi sampai dengan anak-anak umumnya menggunakan jasa layanan
kesehatan imunisasi, kesehatan anak, gizi, dan sebagainya. Sedangkan kelompok usia
remaja hingga usia produktif menggunakan jasa layanan kesehatan reproduksi, gizi,
imunisasi, KB, dan jasa layanan kesehatan kerja. Sementara untuk penduduk usia lanjut
biasanya menggunakan jasa layanan kesehatan usia lanjut.

Tabel 4
Penggunaan Jasa Layanan Kesehatan Pada Setiap Kelompok Umur
No KELOMPOK UMUR PROGRAM
1 Perinatal 07 Kunjungan
2 Neonatal 0 28 hari Kunjungan
3 Bayi Kurang dari 1 tahun Imunisasi, kesehatan anak, gizi
4 Balita Kurang dari 5 tahun Imunisasi, kesehatan anak, gizi
5 Anak Pra Sekolah 5-6 tahun Imunisasi, kesehatan anak,gizi
6 Usia Sekolah 12-19 tahun Imunisasi, UKS, gizi
7 Usia Remaja 19-24 tahun Kesehatan reproduksi, gizi
8 Wanita usia subur 15-49 tahun Kesehatan ibu, imunisasi, gizi,
KB
9 Usia produktif 15-64 tahun Kes.reproduksi, Kes.kerja, KB
10 Prasenilis (pra usila) 45-59 tahun Kes.reproduksi, Kes.jiwa, dll
11 Usia lanjut Lebih dari 60 tahun Kesehatan usila
12 Usila resiko tinggi Lebih dari 70 tahun Kesehatan usila
Sumber: Kementerian Kesehatan RI
Secara bisnis masyarakat yang menjadi target layanan adalah yang bekerja,
dengan asumsi kelompok masyarakat ini memiliki daya beli yang tinggi. Kelompok anak-
anak pun dapat menjadi target, terutama anak-anak dari kelompok masyarakat yang
berdaya beli tinggi. Namun, dimasa mendatang , ketika sistem jaminan sosial bidang
kesehatan mulai dilaksanakan, maka semua kelompok umur dapat menjadi target pasar
layanan kesehatan. Walaupun demikian, kelompok yang bekerja tetap memiliki

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 13


kelebihan, karena sistem jaminan sosial bidang kesehatan memiliki keterbatasan dalam
hal pertanggungan. Total penduduk Lampung Tengah 1.227.185 jiwa , yang berada dalam
usia kerja sebesar 756.077 orang, sedangkan jumlah penduduk yang bekerja sekitar
709.399 orang. Topografi penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Topografik Penduduk Lampung Tengah

Jumlah
Luas Wilayah
No Kecamatan Ibu kota Kampung/Kelurahan
KM2 % Kampung Kelurahan
1 Padang Ratu Haduyang Ratu 204,44 4,27 15 -
2 Anak Ratu Aji Gedung Sari 308,52 6,44 6 -
3 Selagai Lingga Negeri Katon 173,88 3,63 13 -
Negeri
4 Pubian Kepayungan 161,64 3,37 19 -
5 Anak Tuha Negara Aji Tua 68,39 1,43 12 -
6 Kalirejo Kalirejo 101,31 2,12 13 -
7 Sendang Agung Sendang Agung 108,89 2,27 9 -
8 Bangun Rejo Bangun Rejo 132,63 2,77 15 -
9 Gunung Sugih Gunung Sugih 130,12 2,72 11 4
10 Bekri Kusumadadi 93,51 1,95 8 -
11 Bumi Ratu Nuban Bulusari 65,14 1,36 10 -
12 Trimurjo Simbarwaringin 68,43 1,43 11 3
13 Punggur Tanggul Angin 118,45 2,47 9 -
14 Kota Gajah Kota Gajah 68,05 1,42 6 -
15 Seputih Raman Rukti Harjo 146,65 3,06 14 -
16 Terbanggi Besar Bandar Jaya 208,65 4,36 7 3
17 Seputih Agung Dono Arum 122,27 2,55 9 -
18 Way Pengubuan Tanjung Ratu Ilir 210,72 4,40 7 -
19 Terusan Nunyai Gunung Batin Ilir 302,05 6,31 7 -
20 Seputih Mataram Kurnia Mataram 120,01 2,51 12 -
21 Bandar Mataram Jati Datar 1.055,28 22,03 12 -
22 Seputih Banyak Tanjung Harapan 145,92 3,05 13 -
23 Way Seputih Suko Binangun 77,84 1,63 6 -
24 Rumbia Reno Basuki 106,09 2,21 8 -
25 Bumi Nabung Bumi Nabung Ilir 108,94 2,27 6 -
26 Putra Rumbia Binakarya Putra 95,02 1,98 10 -
27 Seputih Surabaya Gaya Baru I 144,6 3,02 13 -
28 Bandar Surabaya Surabaya Ilir 142,39 2,97 10 -
Jumlah 4.789,82 100.00 294 10
Sumber : BPS. Lampung Tengah, 2013
Kabupaten Lampung Tengah dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 1999 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Lampung Tengah tanggal 20 April
1999.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 14


Dengan adanya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1999 maka Kabupaten
Lampung Tengah yang semula mencakup Wilayah Kabupaten Lampung Timur dan Kota
Metro maka Kabupaten Lampung Tengah secara resmi dimekarkan menjadi 3 (tiga)
Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten Lampung Timur, Kota Metro dan Kabupaten Lampung
Tengah sendiri. Kemudian pada tahun itu juga terjadi perpindahan Ibu Kota dari Metro ke
Gunung Sugih. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebelum pemekaran adalah
8.208,52 ha. Setelah pemekaran berdasarkan UU No. 12 tahun 1999 luas wilayah
Kabupaten Lampung Tengah adalah 4.789,82 Km. , yang merupakan bagian dari
Propinsi Lampung

Gambar 1.Peta Wilayah Lampung Tengah

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 15


3.3 SEGMEN PASAR / TARGET
A. SEGMENTASI PASAR (SEGMENTING)
Segmentasi pasar adalah suatu proses menempatkan konsumen ke dalam
subkelompok yang memiliki respons yang sama terhadap suatu program pemasaran
(Cravens,1997).Menurut Rambat Lupiyoadi (2001), segmentasi pasar adalah
membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang dibedakan menurut kebutuhan,
karakteristik, atau tingkah laku, yang mungkin membutuhkan produk yang berbeda.
Sedangkan Swasta (1997), segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar
yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar yang bersifat
homogen. Berdasarkan definisi diatas, segmentasi pasar dapat diartikan sebagai
proses membagi pasar yang heterogen kedalam kelompok-kelompok yang lebih
homogen, yang memiliki kesamaan kebutuhan atau karakteristik dan respons
terhadap program pemasaran.

Dasar Segmentasi Pasar


Ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai dasar segmentasi,
namun secara garis besar mengikuti kategori yang dipelopori oleh Kotler sebagai
bapak pema-saran:
1. Geografis: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi-bagi
pasar dalam beberapa unit geografis yang berbeda-beda seperti daerah, populasi,
kepadatan dan iklim.
2. Demografis: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi-bagi
pasar dalam beberapa grup dengan basis-basis variabel seperti usia, jenis
kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, ukuran keluarga, siklus hidup
keluarga, agama, ras, generasi, kewarganegaraan, dan kelas sosial.
3. Psikografis: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi
konsumen atas beberapa grup yang berbeda-beda dengan basis variabel gaya
hidup dan kepribadian.
4. Perilaku: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi konsumen
atas grup-grup yang berbeda dengan basis variabel seperti status pengguna,
kesetiaan merek, tingkat penggunaan, manfaat yang dicari, kesempatan
penggunaan, kesiapan membeli dan sikap terhadap produk.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 16


Kriteria Memilih Target Pasar
Setelah segmen pasar dievaluasi, langkah selanjutnya yaitu memilih segmen
yang akan dijadikan target atau pasar sasaran. Dalam memilih pasar sasaran yang
optimal, perlu diperhatikan beberapa kriteria berikut:
1. Responsif
Pasar sasaran harus responsif terhadap produk atau program-program pemasaran
yang dikembangkan. Langkah ini harus dimulai dengan studi segmentasi yang
jelas karena tanpa pasar sasaran yang jelas produsen menanggung resiko yang
terlalu besar.
2. Potensi penjualan
Potensi penjualan harus cukup luas. Semakin besar pasar sasaran, semakin besar
nilainya. Besarnya bukan hanya ditentukan oleh jumlah populasi tapi juga daya
beli dan keinginan pasar untuk memiliki produk tersebut.
3. Pertumbuhan yang memadai
Pasar tidak dapat dengan segera bereaksi. Pasar tumbuh perlahan-lahan sampai
akhirnya meluncur dengan cepat dan mencapai titik pendewasaan.
4. Jangkauan media
Pasar sasaran dapat dicapai dengan optimal kalau pemasaran tepat memilih media
untuk mempromosikan dan memperkenalkan produknya.
Menurut Bradley yang dikutip dari Setiadi (2003), dalam memilih pasar
sasaran mana yang akan diambil ada faktor-faktor yang perlu diperhatikan yaitu:
a) Sumber daya organisasi
Dalam memilih segmen maka perlu diperhatikan sumber daya yang ada karena
semakin banyak segmen yang dipilih maka biaya yang dibutuhkan akan semakin
banyak. Pemasaran terpusat akan menjadi pilihan organisasi kecil yaitu dengan
cara mengarahkan pemasaran pada segmen-segmen yang kecil, unik, dan kurang
mendapatkan perhatian pesaing besar yang dinamakan juga sebagai market niche.
b) Tipe produk
Ada produk yang disebut high-differentiated product maka strategi yang
digunakan bisa differentiated atau con-centrated marketing karena pada produk
tersebut mudah diciptakan keunikan yang membedakannya dari produk lain. Ada
juga yang low differentiated product, maka strategi yang dipilih yaitu undiffer-

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 17


entiated marketing karena pada produk jenis ini sulit diciptakan keunikan-
keunikan.
c) Tahap dalam daur hidup produk
Produk memiliki siklus, yang dimulai dengan tahap perkenalan pasar, pertumbu-
han, dewasa, dan menurun. Pada masa perkenalan, dapat diterapkan pemasaran
serba sama. Pada masa pertumbuhan produk semakin dapat diterima dan pasar
mulai menginginkan variasi produk, maka dapat diterapkan pemasaran serba
aneka. Pada masa dewasa persaingan sudah mencapai titik maksimal dan seluruh
segmen sudah terisi, maka organisasi mulai mencari segmen-segmen yang belum
dilayani secara maksimal oleh pesaing sehingga pemasaran dapat diterapkan
pemasaran terkonsentrasi. Pada masa penurunan, organisasi perlu membatasi
investasi, memperkecil biaya pemasaran serta memusatkan sumber daya pada
produk dan segmen yang lebih menguntungkan dan pemasaran terkonsentrasi
yang sesuai untuk diterapkan.
d) Strategi pesaing dan strategi bersaing organisasi
Untuk memilih strategi mana yang akan diterapkan oleh organisasi, maka perlu
memperhatikan juga strategi yang diterapkan oleh pesaing dan strategi bersaing
yang dipilih organisasi. Pilihan strateginya bisa berhadapan langsung atau
menghindar. Kalau berhadapan langsung, maka organisasi akan memilih segmen
yang dimasuki oleh pesaing. Sedangkan kalau menganut strategi menghindar,
maka organisasi memasuki segmen yang belum dimasuki oleh pesaing.

B. PENETAPAN POSISI PASAR (Positioning)


Penetapan posisi adalah tindakan merancang tawaran dan citra organisasi
sehingga menempati suatu posisi yang terbedakan (diantara pesaing) di dalam benak
pelanggan sasarannya. Kotler memandang posisi sebagai suatu latihan kreatif yang
dilakukan terhadap produk yang ada. Penetapan posisi dimulai dengan produk, suatu
barang, jasa, organisasi, lembaga, atau bahkan orang.
Tujuan penetapan posisi adalah untuk membedakan persepsi organisasi
berikut produk dan jasanya dari pesaing (Lupiyoadi, 2001). Dikatakan pula bahwa
penetapan posisi banyak mengedepankan unsur komunikasi dan merupakan strategi
komunikasi. Produk barang dikomunikasikan lewat atribut yang dimiliki barang
tersebut dan produk jasa dikomunikasikan seputar karakteristik jasa.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 18


Penetapan posisi produk adalah tempat produk yang berbeda, jelas dan
memiliki nilai lebih secara relatif dibandingkan dengan produk pesaing di benak
konsumen (Setiadi, 2003). Penetapan posisi bukanlah hanya menyangkut apa yang
dilakukan terhadap produk tetapi apa yang kita lakukan terhadap pikiran/benak
pasien. Strategi ini sangat berhubungan dengan bagaimana konsumen menempatkan
produk organisasi dalam ingatan mereka, sehingga calon konsumen yang ditargetkan
dan segmen yang dipilih memiliki penilaian tertentu dan mengidentifikasikan dirinya
dengan produk tersebut.
Organisasi menggunakan berbagai dasar dalam penetapan posisi, meliputi:
atribut, harga dan kualitas, pemakaian atau aplikasi, pemakaian produk, kelas
produk, dan pesaing.
Ada beberapa yang harus diperhatikan berhubungan dengan proses penetapan posisi :
a) Penetapan posisi adalah strategi komunikasi
b) Bersifat dinamis
c) Penetapan posisi berhubungan dengan atribut-atribut produk
d) Atribut produk yang dipilih harus unik
e) Penetapan posisi harus memberi arti dan arti ini harus penting bagi konsumen
f) Penetapan posisi harus diungkapkan dalam bentuk suatu pernyataan

a) Segmentasi Pasar Berdasarkan


Karakteristik Demografi
Usia responden sebagian besar berada pada rentang usia 25 sampai
31tahun yakni sejumlah 100 orang (54,9%)diikuti kelompok usia 32-38 tahun
sebanyak 48 orang (26,4%), 18 sampai24 tahun sebanyak 30 orang (16,5%), dan
persentase terkecil terdapat pada kelompok usia 39 sampai 45 tahun sebanyak 4
orang(2,2%).

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 19


Tabel 6.
Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi
Di Rumah Sakit Mitra Mulia HusadaTahun 2015

Karakteristik Jumlah Persen (%)


Kelompok Umur
18-24 30 16.5
25-31 100 54.9
32-38 43 26.4
39-45 4 2.2
Total 182 100.0
Pendidikan 5 2.7
SD 17 9.3
SMP/ Sederajat 51 28.8
SMU/ Sederajat 36 47.3
Akademi/Perguruan Tinggi 23 12.6
Total 182 100.0
Pekerjaan 16 8.8
PNS/TNI/POLRI 24 13.2
Pegawai Swasta 14 7.7
Petani/Penambak/Nelayan 1 0.5
Ibu Rumah Tangga (IRT) 112 61.5
Honorer/Buruh 15 8.2
Total 182 100.0
Pendapatan KK / Bulan
< 1.000.000 - 52 28.6
1.500.000 2.000.000 67 36.8
2.000.000 2.500.000 31 17
2.000.000 2.500.000 27 14.8
2.500.000 5 2.7
Total 182 100.0
Ukuran Keluarga (Orang)
<2 4 2.2
3-4 89 48.9
5-6 76 41.8
7 13 7.1
Total 182 100.0
Sumber : Data Primer 2014

Tingkat pendidikan responden, sebagian besar(47,3%) berpendidikan


SMA, diikuti tingkat pendidikan SMP (28,0%), Perguruan Tinggi(12,6%), SD

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 20


(9,3%), dan tidak tamat SD sebanyak 2,7%. Pekerjaan responden umumnya
adalah IRT yakni sebanyak 61,5%, diikuti Pegawai Swasta sebanyak 13,2%,
PNS/TNI/Polri sebanyak 8,8%, honorer/Buruh sebanyak8,2%, dan terkecil
Petani/Penambak/Nelayan sebanyak 0,5%. Tingkat pendapatan keluarga sebagian
besar berada pada kelompok pendapatan menengah ke bawah, yakni sebanyak
36,8% memiliki pendapatan antara Rp.1.000.000 sampai Rp.1.500.000, diikuti
tingkat pendapatan di bawah Rp. 1.000.000 sebanyak 28,6% dan pendapatan >Rp.
1.500.000 sampai Rp. 2.000.000 sebanyak17%. Responden yang berpendapatan
tinggi (> Rp. 2.000.000 Rp. 2.500.000 dan di atas Rp. 2.500.000) hanya
berjumlah 17,5%. Jumlah anggota keluarga responden sebagian besar 3-4 orang
sebanyak 48,9%, yang berjumlah 5-6 orang (41,8%), yang lebih dari 7 orang ada
7,5% dan yang 2orang hanya 2,2%.

b) Segmentasi Pasar Berdasarkan Karakteristik Geografi


Dilihat dari lokasi tempat tinggal dan status tempat tinggal responden
umumnya merupakan masyarakat Bandar Jaya yakni sebanyak 90,1% dan yang
berasal dariluar kota lampung Tengah hanya sebanyak 9,9%.

Tabel 7.
Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi
Di Rumah Sakit Umum Mitra Mulia HusadaTahun 2014

Karakteristik Jumlah Persen (%)


Lokasi Tempat Tinggal
Dalam Kota Lampung Tengah 164 90.1
Luar Kota Lampung Tengah 18 9.9
Total 182 100.0
Status Tempat Tinggal
Rumah Sendiri 112 61.5
Rumah Keluarga 35 19.2
Rumah Kontrakan 25 13.7
Rumah Dinas 10 5.5
Total 182 100.0
Sumber : Data Primer 2011
Responden yang berasal dari luar kota Bandar jaya umumnya merupakan
penduduk Kotamadya Metro dan Kabupaten Lampung Utara. Sedangkan dari
status tempat tinggal, sebagian besar responden telah memiliki rumah sendiri

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 21


(61,5%),tinggal di rumah keluarga sebanyak19,2%, rumah kontrakan (13,7%), dan
sebanyak 5,5% tinggal di rumah dinas.

c) Segmentasi Pasar Berdasarkan Karakteristik Psikografi


Semua responden sangat termotivasi untuk menggunakan jasa pelayanan
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada karena beberapa alasan sebagai berikut:
memiliki perawat yang ahli dan professional (60%), memiliki tenaga bidan
professional tenaga dokter ahli dan professional (99,5%), pelayanannya baik dan
cepat (99,5%), tenaga kesehatan yang ramah dan professional (98,4%), tarif yang
terjangkau (92,3%), memiliki sarana dan prasarana yang baik dan lengkap
(90,7%), kebersihan dan kenyamanan rumah sakit (88,5%),adanya keringanan
dalam pembayaran (84,1), menggunakan fasilitas jaminan kesehatan (81,3%),dan
Faktor lainnya seperti dirujuk dokter (69,2%), letak rumah sakit dekat dan
strategis (63,2%),dan. Ke-sebelas faktor tersebut mendapatkan penilaian baik oleh
pasien dengan kisaran antara 63,2% sampai100%. Persepsi responden terhadap
Rumah Sakit Mitra Mulia terlihat dari jawaban responden yang menilai bahwa
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia memiliki Citra rumah sakit yang memiliki
Dokter, Bidan dan Perawat lengkap (99,5%), pelayanan yang terampil
professional dan ramah (98,4%), tarifnya sesuai pelayanan yang diterima (97,8%),
prosedur penerimaan dan pemulangan mudah (97,8%), melayani jaminan
kesehatan (95,1%), kebersihan dan kerapihan ruangan terjaga (90,1%), fasilitas
lengkap (89,6%), dan pembayaran yang dapat dicicil (26,4%).Sumber informasi
tentang Rumah Sakit Mitra Mulia dan pelayanannya umumnya bersumber dari
rujukan dokter dan keluarga atau teman.

d) Segmentasi Pasar Berdasarkan Karakteristik Perilaku


Cara pembayaran jasa pelayanan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
mayoritas responden melalui JPKM (43,4%), asuransi kesehatan (24,7%), tunai
(18,7) dan jaminan perusahaan (13,2%).Umumnya responden melakukan
pengobatan sendiri dengan membeli obat di apotek/toko obat dan menggunakan
jasa pelayanan Puskesmas dan pada saat menderita sakit ringan dan sedang.
Pada kondisi sakit berat, umumnya responden (individu dankeluarga)
menggunakan jasa pelayanan rumah sakit. Frekuensi pemanfaatan Rumah Sakit

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 22


Umum Mitra Mulia oleh individu adalah: 1 sampai 2 kali sebanyak 86,8%; 3
sampai 4 kali sebanyak12,6%; 5 sampai 6 kali hanya 0,5%.Sedangkan keluarga
responden adalah: 1sampai 2 kali sebanyak 61%; 3 sampai 4 kali sebanyak 17%; 5
sampai 6 kali sebanyak 6%; lebih dar 6 kali sebanyak 1,6%; dan tidak pernah
sama sekali sebanyak 14,3%. Perilaku responden ketika sakit berupaya melakukan
pengobatan ke dokter ketika sakit sedang maupun berat namun dalam jumlah
frekuensi yang berbeda-beda. Mayoritas diantara mereka tidak pernah ke dokter
ketika sakit ringan 82 orang (45,1%). Ketika sakit sedang dan berat mayoritas
mereka kadang-kadang ke dokter dengan jumlah masing-masing 83 orang (45,6%)
dan 82 orang (45,1%).
Untuk mengetahui jumlah dan keanggotaan segmen pasar yang terbentuk,
dilakukan analisis klaster.Analisis klaster adalah berkenaan dengan obyek-obyek
yang memiliki kemiripan karakteristik.Obyek yang karakteristiknya berbeda
secara ekstrim dengan obyek yang lainnya tidak dapat memberikan sumbangan
terhadap kesamaan (similarlity) sebagai dasar dalam melakukan pengelompokan
obyek.Obyek yang berbeda secara ekstrim dengan obyek lainnya dinamakan
dengan outliers. Kehadiran outliers akan sangat mengganggu hasil analisis data,
sehingga harus dikeluarkan dari analisis. Hasil uji statistik dan output analisis
klaster hirarkhis dalam bentuk diagram dendogram menunjukkan bahwa dari 182
responden penelitian, tidak ada satupun obyek/responden yang karakteristiknya
berbeda secara ekstrim dengan responden lainnya. Artinya, dari 182 responden
penelitian ini tidak ada satupun yang dikeluarkan dari analisis. Berdasarkan skedul
aglomerasi, memperlihatkan bahwa solusi tiga segmen merupakan yang terbaik
dan menghasilkan keanggotaan segmen sebagai berikut:
a)Segmen I beranggotakan responden No: 1, 2, 5, 6, 7, 9, 10, 13, 14, 15, 16, 17,
18, 19, 20, 23, 25, 27, 28, 30, 31, 34, 35, 36, 39, 40, 41, 44, 45, 46, 47, 48, 49,
50, 51, 52, 53, 55, 56, 58, 62, 63, 64, 68, 72, 82, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91,
92, 93, 94, 97, 98, 102, 104, 105, 106, 107, 108, 110, 111, 114, 118, 119, 120,
121, 123, 124, 125, 126, 131, 132, 133, 137, 138, 143, 144, 145, 146, 147, 148,
150, 153, 157, 159, 160, 163, 164, 166, 167, 169, 174, 176, 177.
b) Segmen II beranggotakan respondenNo: 3, 4, 12, 22, 24, 26, 29, 32, 33, 37, 38,
42, 43, 54, 130, 134, 135, 141, 142, 149, 151, 156, 162, 165, 170, 179, 180, 182.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 23


c) Segmen III beranggotakan: 8, 11, 21, 57, 59, 60, 61, 65, 66, 67, 69, 70, 71, 73,
74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 83, 95, 96, 99, 100, 101, 103, 109, 112, 113, 115,
116, 117, 122, 127, 128, 129, 136, 139, 140, 152, 154, 155, 158, 161, 168, 171,
172, 173, 175, 178, 181.
Hasil analisis k-mean klaster juga mendapatkan ukuran klaster sebagai
berikut: segmen I sebanyak 100 orang,segmen II sebanyak 28 orang, dan segmen
III sebanyak 54 orang. Dilihat dari jumlah anggota masing-masing segmen
tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa ukuran relatif dari masing-masing
segmen yang terbentuk cukup besar, sehingga solusi penetapan jumlah tiga
segmen untuk segmentasi pasar Rumah Sakit Az Zahra Kalirejo, sangat
baik.Hasil uji survey memperlihatkan 19 karakteristik yang nilai signifikansinya
lebih kecil dari 0,005.Hal ini berarti terdapat 19 karakter yang berbeda antara
segmen. Karakteristik dari masing-masing segmen, memperlihatkan bahwa
segmen I umumnya merupakan masyarakat Kalirejo yang berada pada rentang
umur 25-31 tahun. Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat
tinggal, pendapatan, maka status sosial anggota segmen ini diduga merupakan
kelompok masyarakat menengah.Tingkat pendapatan rumah tangga perbulan yang
cukup tinggi dan anggota kelompok ini pada umumnya Ibu Rumah Tangga (IRT),
mereka melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Mitra
Muliamelalui asuransi kesehatan sosial. Faktor yang membuat anggota kelompok
I tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum
Mitra Mulia Husada adalah karena rumah sakit memiliki dokter yang ahli dan
profesional. Segmen ini umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga
penyaji layanan baik pada saat sakit sedang maupun berat.Sedangkan ketika sakit
ringan, mereka cenderung melakukan pengobatan dengan membeli obat di
toko/apotik.Intensitas penggunaan rumah sakitnya sedang.Jadi anggota segmen ini
tidak terlalu giat menggunakan pelayanan di rumah sakit sehingga dapat disebut
pengguna yang inertia.Segmen I, memiliki karakteristik kunci memanfaatkan jasa
lembaga penyaji layanan kesehatan jika sakit.Tingkat kepercayaan pada tempat
fasilitas kesehatan cukup tinggi yang ditandai dengan pencarian pengobatan di
tempat fasilitas kesehatan rumah sakit ketika sakit beratdan saat menderita sedang
ke puskesmas. Adapun intensitas penggunaan jasa layanan di rumah sakit
tergolong sedang.Dengan karakteristik seperti ini maka segmen ini di sebut

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 24


Hospital aversion.Segmen II umumnya adalah masyarakat Kota Bandar Jaya
yang berada pada rentang umur 25-31 tahun.Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat
pendidikan, status tempat tinggal, dan pendapatan maka status sosial, anggota
segmen ini diduga merupakan kelompok masyarakat menengah ke bawah. Dengan
tingkat pendapatan rumah tangga perbulan <1.000.000, anggota kelompok ini
pada umumnya melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan dengan JPKM
yakni Jamkesmas/Jamkesda saat memanfaatkan pelayanan di rumah sakit
tersebut. Faktor yang membuat anggota kelompok segmen II tertarik untuk
menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada adalah
karena pelayanan yang baik dan cepat.Pada segmen ini, umumnya mereka
mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan terutama
pada saat sakit berat.Mereka biasanya membeli obat di apotek/toko obat saat
menderita sakit ringan dan sedang.Intensitas pemanfaatan rumah sakit rendah
yakni 1-2 kali dalam setahun.Jadi anggota segmen II digolongkan sebagai
pengguna yang tidak loyal.Segmen II, memiliki karakteristik kunci memanfaatkan
jasa lembaga penyaji layanan kesehatan jika sakit. Tingkat kepercayaan pada
tempat fasilitas kesehatan cukup tinggi yang ditandai dengan pencarian
pengobatan di tempat fasilitas kesehatan rumah sakit ketika sakit berat dan saat
menderita sakit ringan dan sedang ke puskesmas.Adapun intensitas penggunaan
jasa layanan di rumah sakit tergolong rendah dan tidak terlalu giat sehingga
segmen ini disebut dengan health care minimixer.
Segmen III umumnya adalah masyarakat Kalirejo yang berada pada
kelompok umur 25-31 tahun. Anggota segmen ini umumnya merupakan
karyawan swasta.Berdasarkan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, status tempat
tinggal, dan pendapatan keluarga, maka status sosial anggota segmen ini diduga
merupakan kelompok menengah ke atas. Dengan tingkat pendapatan rumah
tangga yang cukup besar, anggota kelompok ini umumnya bekerja sebagai
karyawan swasta sehingga melakukan pembayaran jasa pelayanan kesehatan
dengan jaminan perusahaan yang telah bekerja sama dengan rumah sakit dan ada
pula yang membayar secara tunai. Faktor yang membuat anggota kelompok III
tertarik untuk menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada adalah tenaga dokter dan perawat yang ramah dan professional Segmen
ini umumnya mencari pelayanan kesehatan ke lembaga penyaji layanan kesehatan

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 25


baik pada saat sakit ringan sedang maupun sakit berat.Ketika menderita sakit
ringan, mereka biasanya menggunakan jasa pelayanan puskesmas terdekat.
Sedangkan pada kondisi sakit sedang dan berat mereka mencari pelayanan rumah
sakit.Intensitas pemanfaatan rumah sakit baik oleh anggota keluarga maupun
pribadi pasien, sangat tinggi yakni 3-4 kali.Jadi anggota segmen III digolongkan
sebagai pengguna yang loyal.Segmen III memiliki karakteristik yang lebih
berorientasi pada pelayanan kesehatan rumah sakit.Hal ini terlihat dari sikap dan
perilaku pencarian pengobatan individu maupun keluarga.Intensitas
penggunaannya tinggi karena manfaat yang dicari adalah untuk pemeliharaan
kesehatan.Segmen ini tergolong dalam kelompok status sosial menengah ke
atas.Status tempat tinggal segmen ini tinggal di rumah sendiri.Intensitas
kunjungan ke rumah sakit cukup tinggi.Dengan karakteristik seperti itu, maka
segmen III disebut dengan health care maximizer.Berdasarkan identifikasi
karakteristik kunci dari masing-masing ketiga segmen, nampak bahwa profil
segmen III merupakan segmen yang paling baik karena syarat-syarat dari segmen
yang efektif dan bermanfaat dapat terpenuhi.Segmen III juga memiliki sikap dan
perilaku pencarian pelayanan kesehatan yang berorientasi pada rumah sakit.

3.4 PERKEMBANGAN PASAR (TREND)


Trend pertumbuhan ekonomi nasional terus membaik dalam beberapa tahun
terakhir, dan Indonesia tercatat sebagai tiga negara terbesar pertumbuhan ekonominya
pasca-krisis keuangan global, dimana mencapai 4,5% pada 2009 dan melonjak 6,02%
pada tahun 2013 (triwulan ke-2).Semakin kuatnya laju pertumbuhan tersebut menciptakan
kondisi yang lebih baik, terutama dalam hal kesejahteraan masyarakat. Alhasil,
pendapatan masyarakat Indonesia turut terdongkrak naik.
Fakta ini ternyata sesuai dengan hasil survey tentang Perilaku Belanja Konsumen
Indonesia, dimana status sosial ekonomi konsumen kita mengalami pergeseran cukup
signifikan, terutama konsumen Kesehatan yang meningkat 12 %, sementara konsumen
Kesehatan alternatif mengalami penurunan dibandingkan dengan survey sebelumnya.
Konsumen Indonesia memiliki heterogenitas yang cukup tinggi dikarenakan
adanya perbedaan suku dan kedaerahan. Perbedaan ini menyangkut kebiasaan dan gaya
hidup, terutama kebiasaan makan, gaya mengkonsumsi, bahkan perilaku konsumen dalam
mengunjungi pusat perbelanjaan. Selain itu secara ekonomi, antara daerah ini juga ada
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 26
perbedaan dalam daya beli, kepemilikan disposible income, dan lain-lain. Semua yang
menyangkut aktivitas dan preferensi belanja dengan segala pernak-perniknya . Dibawah
ini dapat kita lihat sebagai pedoman analisis dalam perkembangan pasar :

1. Perkembangan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan :


Perkembangan teknologi, telekomunikasi dan ilmu pengetahuan kesehatan
akan meningkat sangat pesat. Sistem jaringan informasi kesehatan dan surveilans
akan semakin menjadi andalan dalam membangun perencanaan pembangunan
kesehatan berbasis bukti dan menjalankan prinsip good governance. Ilmu
pengetahuan kedokteran dan kesehatan akan terus berkembang dan mendorong upaya
perbaikan mutu pelayanan kesehatan yang lebih baik, namun demikian akan diiringi
pula dengan biaya investasi yang semakin tinggi dan membutuhkan perencanaan
jangka panjang lebih matang.
2. Persaingan global dalam pasar kesehatan di Lampung Tengah :
Perkembangan metode dan teknologi medis di tingkat internasional
berlangsung cepat dan dinamis, harus diikuti peningkatan profesionalisme pelayanan
kesehatan, serta ketercukupan jumlah tenaga-tenaga medis dan spesialis serta
paramedis, bidan, ahli gizi, dan ahli sanitasi. Sarana pelayanan kesehatan modern dari
berbagai daerah atau negara lain akan dengan mudah masuk ke wilayah Lampung
Tengah dan jika tidak diatur dengan baik berpotensi menimbulkan persaingan yang
tidak sehat dan berdampak kepada akses dan pemerataan kwalitas pelayanan dan
dalam pembiayaan penduduk Lampung Tengah.
3. Konsekuensi borderless diseases:
Peningkatan ekonomi berbagai daerah akan berpengaruh terhadap peningkatan
aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik. Di sisi lain
iklim tersebut juga akan meningkatkan mobilitas penduduk yang jika tidak
diperhitungkan dengan sebaik-baik akan memberikan konsekuensi terhadap berbagai
perkembangan penyakit menular. Dalam hal ini borderless diseasesakan semakin
mengancam jika tatanan kerjasama antar wilayah dan penguatan sistem pelayanan
kesehatan tidak ditingkatkan.
4. Gender :
Perspektif (penggarusstaman) gender semakin menguat tidak hanya di tingkat
internasional dan nasional tetapi sudah masuk ke dalam wilayah daerah.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 27


Perkembangan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pelayanan kesehatan di
bidang kesehatan dengan mengedepankan berbagai kepentingan yang peka gender.
Program kesehatan yang peka gender tidak hanya akan menjadi wacana tetapi sudah
menjadi entitas wajib untuk semua jenis dan level pelayanan.
5. Pengentasan kemiskinan :
Kemiskinan merupakan variabel yang sangat berpengaruh terhadap
pencapaian derajad kesehatan. Kemiskinan berpengaruh secara langsung terhadap
akses pelayanan kesehatan baik dalam memperoleh pelayanan. Kemiskinan juga
mempengaruhi pola pikir kesehatan individu, kelompok dan masyarakat. Dengan
demikian permasalahan kemiskinan akan menjadi sangat terkait dengan pencapaian
MDGs, pencapaian Visi, Misi dan Visi pembangunan kesehatan. Perbaikan ekonomi
menjadi agenda penting bagi pemerintah Lampung Tengah yang dilakukan tidak
hanya melalui pendekatan ekonomi secara langsung. Sektor kesehatan ikut
mendukung melalui pemberian jaminan kesehatan kepada penduduk miskin yang
diharapkan akan dapat memberikan kesempatan dan kelonggaran pengalokasian
pembiayaan pengobatan bagi hal-hal produktif. Perbaikan mutu pelayanan juga akan
menjamin kepada kecepatan dalam pemulihan kesehatan yang diharapkan akan
meningkatkan produktifitas khususnya pada kelompok miskin.
Kemampuan dan kwalitas komoditas kesehatan Indonesia yang masih sangat
kurang, apabila tidak segera beranjak tumbuh akan menjadi sangat rentan terhadap
dinamika pasar bebas dan yang akan menjadi korban adalah masyaralat khususnya
masyarakat dari kelompok penduduk miskin. Di sisi lain perdagangan bebas akan
mendatangkan peluang bagi perkembangan kualitas pelayanan kesehatan namun di
sisi lain liberalisasi di bidang pelayanan kesehatan jika tidak dikontrol dengan ketat
akan berdampak kepada pengabaian hak asasi dan keadilan khususnya kepada
kelompok masyarakat miskin. Sementara itu, jika kapasitas dan kwalitas sarana
kesehatan, institusi pendidikan/pelatihan kesehatan dan tenaga kesehatan daerah akan
tergusur oleh keberadaan tenaga dan sarana pelayanan / pendidikan / pelatihan
kesehatan asing jika mutunya tidak dikembangkan secara radikal.
6. Perilaku Sehat Masyarakat :
Perilaku sehat penduduk Lampung Tengah masih belum baik. Sebanyak 56%
rumah tangga di Lampung Tengah tidak bebas asap rokok, sementara 18,7% remaja
di Lampung Tengah adalah perokok aktif. Sebanyak 52% penduduk Lampung

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 28


Tengah kurang melakukan aktifitas olahraga. Hanya 19,8% penduduk Lampung
Tengah yang mengkonsumsi serat mencukupi. Sementara 3,8% wanita dan 4,1% pria
di Lampung Tengah mengalami obesitas. Dalam tiga tahun terakhir angka obesitas
pada anak-anak di Lampung Tengah meningkat hampir 7%. Kegemukan pada usia
dini memberikan risiko lebih besar untuk terjadinya penyakit-penyakit seperti
kardovaskuler dan diabetes mellitus di masa dewasanya.

3.5 PROYEKSI MARKET


a) Analisa target pasar
Pada aspek pasar dan pemasaran calon pebisnis perlu meninjau beberapa hal
penting.Tinjauan mengenai latar belakang bisa menjelaskan mengenai kronologis
produk dan alasan mengapa objek tersebut dipilih, serta kondisi pasar atas produk
secara umum.
Sementara pada bagian penawaran menjelaskan tentang jumlah produk
sejenis yang ditawarkan oleh perusahaan lain, atau jumlah produk sejenis yang ada di
pasaran, volume produksi perusahaan perusahaan sejenis, sumber data lainnya
yang dapat dimanfaatkan adalah data dari pengguna produk sejenis. Berdasarkan
hasil analisis sebelumnya yaitu permintaan dan penawaran , maka dapat dilakukan
analisis peluang yaitu selisih antara permintaan dan penawaran. Perlu juga
mendefinisikan produk yang menjelaskan tentang kwalitas, spesifikasi, kemasan,
bentuk fisik, material yang digunakan, dan nama produk (brand), disamping harga
yang menjelaskan tentang metode penetapan harga yang digunakan, dan berapa
harga yang ditetapkan untuk produk yang akan dilaunching. Tak kalah penting di
bagian pasar dan pemasaran ini yang dilihat adalah jalur distribusi ke konsumen.
Dalam hal promosi, ditentukan media apa yang akan digunakan untuk
mempromosikan produk, berapa biayanya dan dalam waktu berapa lama. Selain juga
strategi pemasaran yang digunakan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil
oleh calon pebisnis berdasarkan data-data sebelumnya. Calon pebisnis juga perlu
menentukan posisi yang tepat, apa saja kekuatan dan kelemahan perusahaan saat ini,
dan peluang serta ancaman apa yang akan dihadapi oleh perusahaan dengan
menggunakan analisis SWOT. Menentukan langkah dan strategi yang tepat atau
keputusan strategi, sehingga produk dan perusahaan akan berhasil dalam persaingan.
Dari penelusuranpenelusuran tersebut barulah calon pebisnis bisa melakukan

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 29


penilaian kelayakan, apakah objek studi berdasarkan aspek pasar dan pemasaran ini
dapat dinilai layak atau tidak.

b) Gambaran Umum Prospek Pasar Produk


Rumah Sakit Mitra Mulia Husada juga menyediakan beberapa terobosan program
kesehatan yang didukung dengan peralatan yang modern. Tentunya dengan demikian
target dari Rumah Sakit Mitra Mulia Husada adalah. Namun, selain itu Rumah Sakit
Mitra Mulia Husada juga menyediakan fasilitas lain seperti Check- Up dan
pelayanan poliklinik yang terbuka untuk seluruh masyarakat.Untuk pelayanan-
pelayanan lain tersebut pihak Rumah Sakit Mitra Mulia Husada akan menjalin
kerjasama dengan berbagai instansi seperti asuransi dan perusahaan-perusahaan lain.

c) Produk
Rumah Sakit Mitra Mulia Husada merupakan Rumah Sakit Umum yang
memiliki berbagai pelayanan medis dan alat penunjang medis yang memadai yang
akan menunjang empat pelayanan dasar dan jugakesehatan ibu dan anak. Pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada masyarakat diantaranya adalah :
Pelayanan Rawat Inap
Pelayanan rawat inap di Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada dibagi
menjadi beberapa kelas sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Pembagian kelasnya
adalah sebagai berikut:
a) R. Rawat VIP
b) R. Rawat Kelas 1
c) R. Rawat Inap Kelas 2
d) R. Rawat Inap Kelas 3

Pelayanan Medis
Pelayanan medis yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada ini kepada masyarakat diantaranya :
a) Poliklinik Anak
b) Poliklinik Obgyn
c) Poliklinik Penyakit Dalam
d) Poliklinik Bedah
e) Poliklinik Saraf
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 30
f) Poliklinik USG
g) General Check Up
h) Unit Gawat Darurat
i) Unit Kebidanan
j) Unit Gawat Darurat, dilengkapi dengan 1 unit ambulance

Penunjang Medis
Penunjang medis yang diberikan oleh Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada ini kepada masyarakat,diantaranya :
a. Laboratorium
b. Gizi
c. Farmasi

d) Proyeksi Permintaan dan Penawaran


PERMINTAAN
Berdasarkan pengamatan dan data yang telah diperoleh, didapatkan gambaran
pasar total dan potensial yang ada terutama di daerah Lampung Tengah.

Tabel 8.
Penduduk Menurut Rasio dan Jenis Kelamin per Kabupaten

Kabupaten Laki-laki Perempuan Jumlah Total Sex Ratio


Bandar Lampung 444.373 435.278 879.651 102.09
Lampung Barat 222.161 196.399 418.560 113.12
Lampung Selatan 468.445 441.544 909.989 106.09
Lampung Timur 487.217 463.357 950.574 105.15
Lampung Tengah 597.867 572.181 1.170.048 104.49
Lampung Utara 297.702 286.223 583.925 104.01
Metro 72.825 72.521 145.346 100.42
Mesuji 98.159 89.127 187.286 110.13
Pesawaran 204.934 192.360 397.294 106.54
Pringsewu 187.440 177.385 364.825 105.67
Tanggamus 279.355 255.240 534.595 109.45
Tulang Bawang 205. 996 191.360 379.079 107.80
Tulang Bawang Barat 128.831 121.377 250.208 106.14
Way Kanan 210.061 196.674 406.735 106.81
Jumlah 3.905.366 3.690.748 7.596.115 105.81
Sumber: Badan Statistik Prof. Lampung

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 31


Tabel 9.
Jumlah Penduduk, dan kepadatan menurut kabupaten per KM2

Kabupaten Penduduk Kepadatan Penduduk


(Orang) Orang/Km2
Bandar Lampung 881.801 4.569,86
Lampung Barat 419.037 84.65
Lampung Selatan 912.490 454.65
Lampung Timur 951.639 219.38
Lampung Tengah 1.170.717 244.42
Lampung Utara 584.277 214.36
Metro 145.471 2.354,28
Mesuji 187.407 85.81
Pesawaran 398.848 339.80
Pringsewu 365.369 584.59
Tulang Bawang 397.906 90.73
Tulang Bawang Barat 250.707 208.75
Tanggamus 536.613 196.45
Way Kanan 406.123 103.56
Jumlah 7.608.405 215.61
Sumber: Badan Statistik Prof. Lampung

Dari data pada tabel 8 dan 9 terlihat bahwa terjadi pertambahan jumlah
penduduk di wilayah Lampung Tengah dan jumlah penduduk perempuan di
Lampung Tengah lebih tinggi dari jumlah penduduk laki-laki, dimana dari faktor ini
dapat diambil kesimpulan bahwa kemungkinan terjadinya kelahiran lebih besar.
Tingginya tingkat kelahiran pada Kabupaten Lampung Tengah yang hampir
mencapai 25% dari tingkat kelahiran di Lampung Tengah, sehingga di daerah ini
memungkinkan untuk dibentuk sebuah usaha pelayanan masyarakat dalam bentuk
rumah sakit ibu dan anak.
Berdasarkan Tabel 8, diketahui bahwa sejak tahun 2010-2015 laju
pertumbuhan penduduk di daerah Lampung Tengah adalah sebesar 2,33 %, paling
tinggi dibandingkan wilayah lainnya di Lampung. Dengan laju pertumbuhan sebesar
ini, sudah pasti dibutuhkan pelayanan kesehatan dan kebidanan yang memadai.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 32


Tabel 10. Jumlah Fasilitas Kesehatan, Tenaga Kesehatan, Penolong Kelahiran,
Angka Harapan Hidup, dan Kesakitan.
Uraian 2012 2013 2014
(1) (2) (3) (4)
I.Jumlah Fasilitas Kesehatan
Rumah Sakit 5 5 5
Puskesmas 36 36 37
Pustu 114 114 113
BP/Klinik 28 48 42
Apotek 30 35 36
II.Jumlah Tenaga Kesehatan
Dokter 69 79 159
Bidan 440 493 372
Nakes Lain 491 493 997
III.Penolong Kelahiran
Dokter 10,10 9,22 13,69
Bidan 72,70 74,63 74,03
Nakes Lain 1,10 0,58 1,32
Dukun/Lain 16,00 15,57 10,96
IV.Angka Harapan
Hidup 69,09 69,25 69,48
V.Angka Kesakitan 36,00 34,30 41,68
Sumber: Lam-Teng Dalam Angk 2012

Jumlah penduduk di Lampung Tengah dalam kurun waktu 2010-2015


mengalami peningkatan yang paling besar diantara Kabupaten Lampung Tengah
yang lainnya. Bila kita analisa jumlah pertambahan penduduk dengan kebutuhan
akan rumah sakit saat ini, maka akan terjadi ketidakseimbangan pada nantinya.
Kenaikan jumlah penduduk ini harusnya diimbangi dengan fasilitas pelayanan yang
memadai. Hal ini tentu saja membutuhkan pelayanan medis tingkat tinggi yang dapat
tersedia di Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada.

Pada tahun 2000 dengan jumlah penduduk sebesar 6.730.749 jiwa, Lampung
Tengah hanya memiliki 3 rumah sakit dengan kapasitas sekitar 340 tempat tidur yang
melengkapinya. Pada tahun 2005 jumlah penduduk Lampung Tengah sebesar
1.170.048 jiwa dengan fasilitas rumah sakit yang bertambah, yaitu sebanyak 4 rumah
sakit .
Dari perbandingan ini kita bisa melihat bahwa tingginya tingkat kebutuhan
penduduk akan rumah sakit dalam jangka waktu 6 tahun sensus terakhir tidak
diimbangi dengan fasilitas rumah sakit yang bisa mengimbanginya. Karena hal ini

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 33


perlu adanya pertambahan rumah sakit di daerah Lampung Tengah untuk dapat
mengatasi pemenuhan jasa kesehatan.
Banyaknya rumah sakit di Lampung Tengah tahun 2006 berjumlah 4 buah
dengan rincian rumah sakit umum sebanyak 3 buah dan 1 rumah sakit umum daerah.
Dari jumlah rumah sakit tersebut 3 dikelola oleh pihak swasta sedangkan rumah sakit
pemerintah sebanyak 1 buah.

3.6 STRATEGI MARKET


Dari perbandingan ini kita bisa melihat bahwa tingginya tingkat kebutuhan
penduduk akan rumah sakit dalam jangka waktu 6 tahun sensus terakhir tidak diimbangi
dengan fasilitas rumah sakit yang bisa mengimbanginya. Karena hal ini perlu adanya
pertambahan rumah sakit di daerah Lampung Tengah untuk dapat mengatasi pemenuhan
jasa kesehatan.
Tabel 11. Jumlah Faslitas Kesehatan di Lampung Tengah tahun 2012
Fasilitas Kesehatan 2012
Rumah Sakit 5
Puskesmas 37
Pustu 113
Balai Pengobatan / Klinik 42
Apotek 36
Jumlah 233
Sumber: BPS Lam-Teng 2012

Tabel 12. Jumlah Rumah Sakit dan Tempat Tidur menurut Kabupaten
Dokter Dokter Dokter Sarjana
No Unit Kerja Apoteker
Ahli Umum Gigi Kesehatan
1. Rumah Sakit Propinsi 54 67 5 8 70
2. Rumah Sakit/Kota 66 138 23 18 112
3. Dinas Kesehatan Propinsi - 15 6 10 43
4. Balai POM - - - 35 -
5. Balai Laboratorium - 1 - 3 3
4. Kantor Kesehatan Pelabuhan - 5 - - 12
5. BAPELKES - 2 2 1 5
6. Poltekes - 4 7 2 19
7. Dinas Kesehatan Kab/Kota - 28 9 23 217
8. Rumah Sakit Jiwa 3 9 2 2 1
9. Puskesmas 2 352 134 4 115
125 621 188 106 597
Sumber: Dinkes Prof Lampung

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 34


Berdasarkan tabel tenaga kesehatan tersebut maka disimpulkan bahwa di wilayah
Lampung Tengah memiliki potensi tenaga kesehatan yang lebih besar.Maka diharapkan
Rumah Sakit Mitra Muliaini dapat memanfaatkan peluang ini sehingga menghasilkan
tenaga medis yang berkwalitas.

Dari jumlah fasilitas rumah sakit, terutama dari jumlah tempat tidur yang ada di
Lampung Tengah dapat terlihat bahwa jumlah tersebut belum memadai dan sebanding
dengan kotamadya lain. Maka dari itulah, Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada
mengutamakan aspek kenyamanan dengan menyediakan ruangan dan 78 tempat Tidur.

ANALISIS PELUANG
Pada daerah Lampung Tengah ini belum ada rumah sakit yang mengkhususkan
pelayanannya pada kelahiran dan kesehatan ibu-anak. Khususnya dikelola oleh pihak
swasta, sehingga kesempatan masih terbuka lebar untuk Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan sebelumnya terhadap kondisi
penawaran dan permintaan atas kebutuhan Rumah Sakit dengan kualitas baik, diketahui
bahwa pasar yang begitu besar baru dikelola oleh sebagian kecil RS yang bergerak
khusus melayani kebutuhan ibu dan anak. Sehingga peluang untuk Rumah Sakit Umum
Mitra Mulia ini mampu menjalankan usaha kesehatannya dengan baik masih begitu besar.

3.7 ANALISA PESAING


PERSAINGAN
Dalam peninjauan aspek pasar, kita juga perlu membandingkan adanya pesaing
ataupun pembanding dalam penentuan penjualan jasa. Di daerah Lampung Tengah sudah
terdapat 5 rumah sakit besar yang sudah berjalan saat ini. Namun, yang memfokuskan
pelayanannya kepada yang khas tidak ada. Sehingga pada proyek ini memiliki pangsa
pasar yang masih luas di lingkup Lampung Tengah.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 35


Tabel 13 Daftar Rumah Sakit di Lampung Tengah

RUMAH SAKIT
Rumah Sakit Umum Daerah Demang Sepulau Raya
Rumah Sakit Umum Islam Asy-Syfa
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada
Rumah Sakit Umum Yukum Medikal Center
Rumah Sakit Umum Harapan Bunda

Dari daftar rumah sakit tersebut fasilitas-fasilitas yang bisa dibandingkan dengan
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada adalah fasilitas yang ada pada RSU di Bandar
Lampung.

3.8 JARINGAN
Program layanan kesehatan masayarakat dan ibu dan anak memiliki dedikasi yang
tinggi untuk memberikan layanan kesehatan yang berfokus pada keluarga serta
berinisiatif untuk selalu berkoordinasi dengan kelompok komunitas ibu dan anak.
Ibu dan anak merupakan target segment serta merupakan brand yang diusung dan
dibanggakan serta dijadikan program unggulan oleh Rumah Sakit Mitra Mulia Husada.
Dengan dukungan lingkungan serta fasilitas rumah sakit, pasien mendapatkan jaminan
akan hasil akhir yang positif dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.
Rumah Sakit Mitra Mulia Husada memiliki komitmen untuk memberikan layanan
kesehatan yang bersifat holistik bagi pasien wanita, sehingga pasien dengan menciptakan
suasana yang tenang dan menyenangkan. Tim kami memiliki dedikasi yang tinggi untuk
memberikan layanan terbaik untuk pasien wanita kami dengan cara memberikan
rekomendasi pelatihan fisik, pengobatan serta perubahan gaya hidup yang dibutuhkan
oleh pasien untuk mendukung proses pengobatan. Rumah Sakit Mitra Mulia Husada
memberikan pengalaman yang membebaskan pasien dari tekanan stress sehingga
pasienakan dapat kembali pulih sedini mungkin.

Kebidanan
Kehamilan adalah salah satu kenikmatan dalam hidup seseorang. Rumah Sakit
Umum Mitra Mulia Husada akan berusaha terus bersama anda dalam setiap langkah

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 36


selama kehamilan, mulai dari kebutuhan pelayanan antenatal sampai post natal. RS kami
memiliki dokter-dokter spesialis dan teknologi yang dibutuhkan oleh pasien normal
maupun pasien dengan kehamilan resiko tinggi.

Kandungan
Kami menyediakan pelayanan yang menyeluruh yang didukung tim dokter dari
berbagai disiplin ilmu. Dokter Uroginekologi Rumah Sakit Umum Mitra Mulia adalah
dokter spesialis yang menangani kandung kemih, prolaps organ pelvis, dan masalah-
masalah pada dasar pelvis.
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada secara konstan menggunakan teknologi
terkini dalam merawat pasien wanita dengan permasalahan kandung kemih yang
mempengaruhi kondisi kandungan mereka.

Pediatrik
Kami menawarkan dokter-dokter spesialis dan pelayanan kelas atas yang beragam
untuk memenuhi kebutuhan pencegahan, diagnosis, dan juga pengobatan bagi pasien
anak-anak mulai dari bayi yang baru lahir hingga umur 16 tahun. Unit Pediatrik kami
dilengkapi dengan fasilitas tertentu untuk menangani beragam kasus pediatrik mulai dari
kasus yang umum, radang tonsil, radang usus buntu (apendiks), sinus, asthma, alergi,
kelainan bentuk tulang, dan THT. Unit Perawatan Sehari (Day Care) kami termasuk
layanan kemoterapi dan observasi juga tersedia di sini. Orang tua tidak perlu khawatir,
karena dokter-dokter spesialis kami dan timnya akan menolong pasien anak-anak agar
dapat cepat sembuh dan kembali ke kehidupan normal seperti sedia kala.

Penyakit Dalam
Kami menawarkan dokter spesialis dan pelayanan terbaik yang beragam untuk
memenuhi kebutuhan pencegahan, diagnosis dan juga pengobatan bagi pasien usia
produktif, dewasa dan pasien-pasien gerontologi. Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada dilengkapi fasilitas diagnostik Endoskopi guna menunjang proses diagnostik
yang dilakukan oleh dokter spesialis penyakit dalam.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 37


BAB 4
ANALISA PELAYANAN

Untuk menggambarkan pola pelayanan umum, akan dilihat trend dan juga
distribusi pemanfaatan pelayanan kesehatan pasien umum secara lokal. Selanjutnya
dianalisis distribusi berdasarkan Kabupaten. Analisis yang menyajikan trend lima tahun
yang di berak-down untuk masing-masing lokal juga dilakukan untuk beberapa variabel
yang memungkinkan. Trend atau pola pelayanan kesehatan selama 5 (lima) tahun terakhir
didapatkan berdasarkan pengakuan responden. Lebih lanjut dianilisis berdasarkan
karakteristik individu.
Selain analisis yang dilakukan berdasarkan lokal maupun karakteristik individu,
dalam bagian terakhir hasil dan pebahasan juga dilakukan proyeksi selama lima tahun
kedepan. Proyeksi dilakukan untuk indikator utama pelayanan kesehatan ibu dan anak..
Metode proyeksi dilakukan secara sederhana dengan menggunakan rentang frekuensi
antar tahun. Rentang terkecil antar tahun digunakan sebagai acuan proyeksi minimal,
sedang rentang terbesar untuk acuan proyeksi maksimal. Selain itu juga dilakukan
proyeksi berdasarkan mean (rata-rata) untuk melihat proyeksi rata-rata sampai dengan 5
(lima) tahun ke depan.
Penentuan asumsi merupakan faktor kunci di dalam penentuan nilai proyeksi.
Untuk itu dalam menentukan beberapa asumsi, dilakukan bersama-sama dan
berkonsultasi dengan ahli yang sudah biasa melakukan proyeksi pelayanan kesehatan
pasien pada umumnya. Beberapa asumsi yang kemungkinan bisa berpengaruh terhadap
proyeksi pelayanan kesehatan umum pada dasarnya adalah rencana dikembangkannya
Jaminan Kesehatan Nasional, perluasan jangkauan pelayanan dengan penambahan jumlah
Pelayanan kesehatan didaerah terpencil, dan kebijakan pemenuhan kecukupan tenaga
Kesehatan.

4.1 RENCANA PENGEMBANGAN PELAYANAN


Pengembangan program yang detail dan penjabarannya menjadi berbagai
rekomendasi sumber daya yang dibutuhkan RS, mencakup SDM, fasilitas fisik, peralatan
yang dibutuhkan.
Sumber daya ketenagaan merupakan bagian penting dalam menjalankan kegiatan
atau program pada semua unit pelayanan baik langsung maupun tidak langsung.
Peningkatan derajat kesehatan, yang di tandai dengan menurunnya angka kematian ibu
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 38
dan bayi, menurunnya angka kesakitan pada masyarakat dan tidak ditemukannya masalah
gizi buruk dimasyarakat, tentunya sangat dipengaruhi oleh sumber daya ketenagaan, baik
secara kwantitas maupun kwalitas.
Keadaan ketenagaan khususnya tenaga kesehatan di Kabupaten Lampung Tengah
perlu diperhatikan baik secara pengadaan maupun pendistribusian. Seperti diketahui
Kabupaten ini secara geografi dan topografi merupakan wilayah yang kurang
menguntungkan bagi tenaga tenaga yang notabene memilih daerah perkotaan saja. Hal
ini yang menyebabkan terjadinya penumpukan tenaga di beberapa unit pelayanan tertentu
dan pada sisi lain masih ada unit-unit pelayanan yang mengalami kekurangan tenaga.
Sehingga penunjang dan peralatan yang telah ada pada rumah sakit dan puskesmas
tidak bisa dimaksimalkan dalam penggunan dalam pelayanan, sehingga pelayanan yang
diharpakan tidak bisa memenuhi apa yang di targetkan di harapkan oleh pemberi sarana
kesehatan. Selain keberadaan tenaga kesehatan, namun yang tidak kalah penting untuk
membantu melaksanakan pelayanan, diperlukan juga tenaga non kesehatan serta
penunjang sarana pada umumnya.
Rumah sakit dalam menjalankan fungsinya diharapkan senantiasa memperhatikan
fungsi sosial dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Keberhasilan
rumah sakit dalam menjalankan fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima
rumah sakit.Mutu rumah sakit sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor.Adapun faktor
yang paling dominan adalah sumber daya manusia (Depkes, 2002). Sumber daya manusia
yang terlibat secara langsung dalam pemberian pelayanan kepada pasien adalah dokter,
perawat, bidan, serta tenaga penunjang lainnya. Menurut Depkes (2002) di antara tenaga
tersebut, tenaga perawat menempati urutan jumlah terbanyak, yaitu 40%. Tenaga
keperawatan yang merupakan jumlah tenaga kesehatan terbesar diharapkan dapat
memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Pelayanan keperawatan merupakan salah satu jenis pelayanan utama yang
disediakan oleh rumah sakit yang berada dalam posisi harus berubah dengan cara selalu
meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan sesuai dengan meningkatnya ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pelayanan keperawatan merupakan tulang punggung rumah
sakit dan seringkali mencerminkan reputasi rumah sakit yang bersangkutan. Oleh karena
itu diharapkan dalam perencanaan manajemen keperawatan dan pengembangan
keperawatan diperlukan suatu konsep manajemen yang bermutu. Saat ini telah disusun
standar tenaga keperawatan di rumah sakit yang diharapkan dapat digunakan untuk

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 39


menetapkan kebutuhan tenaga keperawatan berdasarkan kwalifikasi dan jenis pelayanan
keperawatan di rumah sakit. Kebutuhan tenaga keperawatan ditetapkan berdasarkan
karakteristik klien, model penugasan dan kompetensi yang dipersyaratkan untuk
mencapai tujuan pelayanan keperawatan. Kesesuaian tenaga keperawatan yang mencakup
jumlah, jenis dan kualifikasi dengan kebutuhan pelayanan diperlukan untuk mencapai
tujuan pelayanan keperawatan yang efektif dan efisien.
Kebutuhan tenaga keperawatan harus memperhatikan unit kerja yang ada di
rumah sakit. Rumah Sakit Mitra Muliamerupakan rumah sakit swasta milik pribadi.
Secara garis besar terdapat pengelompokan unit kerja di rumah sakit yaitu: unit rawat
inap dewasa, rawat inap anak/perinatal, rawat inap intensif, kamar bersalin, kamar
operasi, rawat jalan, dan gawat darurat (Depkes, 2002). Pelayanan pasien gawat darurat
adalah pelayanan yang memerlukan pelayanan segera, yaitu cepat, tepat, dan cermat
untuk mencegah kematian dan kecacatan. Pelayanan pasien gawat darurat memegang
peranan yang sangat penting (time saving is life saving) bahwa waktu adalah nyawa.
Salah satu indikator mutu pelayanan berupa respon time (waktu tanggap), di mana
merupakan indikator proses untuk mencapai indikator hasil yaitu kelangsungan hidup
(Depkes, 2004).
Waktu tanggap perawat merupakan gabungan dari waktu tanggap saat pasien tiba
di depan pintu rumah sakit sampai mendapat tanggapan atau respon dari perawat IGD
dengan waktu pelayanan yaitu waktu yang diperlukan pasien sampai selesai. Waktu
tanggap perawat dapat dihitung dengan hitungan menit dan sangat dipengaruhi oleh
berbagai hal baik mengenai jumlah tenaga maupun komponen-komponen lain yang
mendukung seperti pelayanan laboratorium, radiologi, farmasi, dan administrasi.
Seiring dengan kemajuan teknologi dan dinamika masyarakat, akan peningkatan
pelayanan kesehatan ibu dan anak merupakan suatu tantangan yang cukup berat,
membutuhkan dana, tenaga dan fasilitas yang memadai. Mengingat factor keterbatasan
dana yang tersedia bagi pengembangan pelayana kesehatan, maka semua permasalahan
memerlukan perencanaan serta pengelolaan yang cermat. Untuk mendapatkan daya guna
yang maksimal dalam menggunakan kemampuan.
Di era otonomi daerah dan kemandirian yang sekarang ini sedang gencar
dilaksanakan, jasa pelayanan kesehatan termasuk efektifitas dan efesiansi SDM.
Kewenangan dan kemandirian tersebut memiliki nilai strategis bagi rumah sakit untuk
berkompetisi dalam upaya meningkatkan kwalitas SDM kesehatan.Peranan SDM menjadi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 40


bagian dari alam dan sekaligus bagian dari kultur yakni hasil perubahan yang menyeluruh
yang disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri, yang pada nilainya SDM merupakan hasil
akal budidaya disertai pengetahuan serta pengalaman yang dikumpulkan dengan penuh
kesadaran melalui jerih payah dan perjuangan berat untuk mencapai tujuan organisasi.
Adabeberapa unsur (variable) SDM meliputi :
- kemampuan-kemampuan(copabilities)
- sikap(attitutude)
- nilai-nilai(values)
- kebutuhan-kebutuhan(needs) dan
- karakteristik-kerakteristik demografi
Unsur-unsur SDM tersebut banyak dipengaruhi oleh lingkungan
sekitarnya.Seperti norma-norma dan nilai-nilai masyarakat, tingkat pendidikan dan
peluang-peluang yang tersedia. Pada akhirnya unsure tersebut akan mempengaruhi perana
dan perilaku manajer dalam organisasi, unsure unsur tersebut saling berinteraksi satu
dengan yang lainnya.
Suatu hal yang makin disadari pada dasawarsa ini adalah SDM merupakan asset
organisasi yang paling tinggi dibandingkan dengan sumber daya lainnya.Tingkat sumber
daya lainnya, baik financial maupun non-finansial sangat tergantung pada tingkat
efektifitas SDM.Pada saat ini organisasi RS pelayanan kesehatan menghadapi dua
tuntutan secara stimulant, yakni pertama ; tuntutan masyarakat untuk mendapatkan
layanan kesehatan yang bermutu dangan harga yang dapat dijangkau, yang kedua; adalah
sulitnya mendapatkan sumber daya manusia yang semakin terbatas untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang bermutu tersebut.Dalam kondisi seperti in I organisasi Rumah
Sakit di tuntut untuk mampu mengoptimalkan SDM dan khususnya dengan lebih efektif
dalam menjalankan tugas dan fungsinya.Teori organisasi modern berorientasi pada
konsep system pada pendekatan system, sebuah organisasi rumah sakit di pandang
sebagai sebuah kumpulan bagian yang berinteraksi dan saling tergantung satu sama
lain.Sebuah system terbentuk dari sub sistem yang saling berhubungan system dapat
dibagi menjadi system terbuka dan system tertutup.Masukkan pada sebuah organisasi
rumah sakit terdiri dari atas dua sumber daya yaitu sumber daya manusia dan sumber
daya lainnya. Adapun yang dimaksud dengan sumber daya manusia antara lain : tenaga
professional, non professional dan tenaga administrasi, sedangkan yang dimaksud dengan
sumber daya lain adalah uang, metode, peralatan dan bahan-bahan.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 41


Pengorganisasian sumber daya kesehatan
Setiap organisasi rumah sakit apapun bentuknya senentiasa akan berupaya untuk
dapat tercapainya tujuan organisasi yang bersangkutan dengan efektif dan
efisian.Efisiensi dan efektifitas organisasi rumah sakit sangat tergantung pada baik
buruknya pengembangan sumber daya manusia sebagai anggota organisasi rumah sakit.
Hal ini berarti bahwa sumber daya manusia yang ada di dalam organisasi rumah
sakit tersebut harus dikembangkan agar tercapainya tingkat kemampuan yang diingainkan
untuk mencapai tujuan. Pada dasarnya tujuan pengembangan sumber daya manusia secara
berkesinambungan dalam kurun waktu yang lama, mempunyai dampak terhadap
peningkatan iklim organisasi rumah sakit yang kondusif, terjadi proses perubahan
didalam organisasi secara berkala, diharapkan mampu merespon tuntutan eksternal yang
secara nyata hal ini menjadi tantangan organisasi untuk selalu mempersiapkan dan
tujuannya adalah agar tercapai kelangsungan dan sekaligus terjadi peningkatan prestasi
organisasi rumah sakit.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 42


BAB 5
ANALISIS SUMBER DAYA MANUSIA (SDM)

Perencanaan Sumber Daya Manusia (SDM) memastikan bahwa perusahaan


mengetahui dan mendapat orang-orang yang dibutuhkan untuk menjalankan kegiatan
usaha sekarang dan masa mendatang. Perencanaan ini dimulai dari sasaran strategis
perusahaan dan analisis sumber daya manusia yang diperlukan untuk mencapainya.
Perencanaan SDM mengatur persyaratan kuntitatif dan kualitatif. Perencanaan ini
menjadi dasar program penerimaan pegawai yang dilakukan oleh manajemen RSU Mitra
Mulia Husada.
Penentuan kebutuhan dibuat berdasarkan sistem informasi sumber daya manusia
yang memberikan dasar untuk perencanaan sumber daya manusia (jangka panjang) dan
anggaran sumber daya manusia (jangka pendek). Analisis masing-masing data dapat
memberikan informasi untuk membantu perencanaan dan penganggaran sumber daya
manusia. Jadi setiap karyawan dianilisis berdasarkan kompetensinya, pekerjaan,
lokasi,departemen, usia, masa kerja, keahlian, atau golongan.

5.1 ANALISIS KOMPETENSI SDM


Sumber Daya timbul dari tujuan interaksi antara manusia yang selalu mencari alat
untuk mencari tujuan dan sesuatu diluar manusia pada saat itu. Manusia dihadapkan pada
alam untuk mencapai sebuah keinginan dan kebutuhan,sehingga kita memandang
manusia berada pada tatanan dinamis untuk mencapai tujuan individu maupun organisasi.

5.2 ANALISIS KEBUTUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM


Pedoman cara perhitungan kebutuhan tenaga perawat dan bidan menurut
direktorat pelayanan keperawatan Dirjen Yan-Med Depkes RI (2001) dengan
memperhatikan unit kerja yang ada pada masing-masing rumah sakit. Model pendekatan
yang digunakan adalah sebagai berikut :

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 43


a. Rawat inap
Berdasarkan klasifikasi pasien cara perhitungannya berdasarkan :
tingkat ketergantungan pasien berdasarkan jenis kasus
rata-rata pasien per hari
jumlah perawatan yang diperlukan / hari / pasien
jam perawatan yang diperlukan/ ruanagan / hari
jam kerja efektif tiap perawat atau bidan 7 jam per hari

Contoh perhitungannya
Rata-rata pasien/ Rata-rata jam perawatan Jumlah jam
No Jenis kategori
hari pasien / hari * perawatan/ hari (cx d)
a b c d e
1 Pasien P. dalam 10 3,5 35
2 Pasien bedah 8 4 32
3 Pasien gawat 1 10 10
4 Pasien anak 3 4,5 13,5
5 Pasien kebidanan 1 2,5 2,5
Jumlah 23 93,0

Keterangan :
* berdasarkan penelitian dari luar negeri
Jadi jumlah tenaga keperawatan yang diperlukan adalah:
Jumlah jam perawatan = 93 = 13 perawat
Jam kerja efektif per shift 7

Untuk penghitungan jumlah tenaga tersebut perlu ditambah (factor koreksi) dengan :
Hari libur/ cuti/ hari besar (loss day)
Jumlah hari miggu dalam setahun + cuti + hari besar x Jumlah perawat tersedia
Jumlah hari kerja efektif
52 +12 + 14 x 13 = 3,5
286
Perawat atau bidan yang mengejakan tugas-tugas non-profesi (non-nursing
jobs) Seperti: membuat perincian pasien pulang, kebersihan ruangan, kebersihan alat-
alat makan pasien, dll. Diperkirakan 25% dari jam pelayanan keperawatan.
(Jumlah tenaga perawat + loss day) x 25% = (13 + 3,5) x 25% = 4,1
Jadi jumlah tenaga yang diperlukan= tenaga yang tersedia + factor koreksi
= 13 + 3,5 + 4,1 = 20,6 (dibulatkan menjadi 21 orang perawat/ bidan)
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 44
Tingkat ketergantungan pasien
Pasien diklasifikasikan berdasarkan pada kebutuhan terhadap asuhan
keperawatan/ asuhan kebidanan, meliputi:
1. asuhan keperawatan minimal
2. asuhan keperawatan sedang
3. asuhan keperawatan agak berat
4. asuhan keperawatan maksimal

Rata-rata jml Jml jam perawat/ Jml jam perawatan


No Kategori*
pasien/ hari hari** ruangan/ hari (c x d)

a b c d e
1 Askep Minimal 7 2,00 14,00
2 Askep sedang 7 3,08 21,56
3 Askep agak berat 11 4,15 45,65
4 Askep maksimal 1 6,16 6,16
Jumlah 26 87,37
Keterangan:
* : uraian ada pada model Gillies di halaman depan
** : berdasarkan penelitian di luar negeri

Jumlah perawat yang dibutuhkan adalah


Jumlah jam perawatan ruangan/ hari = 87,37 = 12,5 perawat
Jam kerja efektif perawat 7
ditambah (factor koreksi) dengan :
loss day:
52 +12 + 14 x 12,5 = 3,4
286
non-nursing jobs 25%
(Jumlah tenaga perawat + loss day) x 25% = (12,5 + 3,4) x 25% = 3,9
Jadi, jumlah tenaga yang diperlukan= tenaga yang tersedia + factor koreksi
= 12,5 + 3,4 + 3,9 = 19,8 (dibulatkan menjadi 20 orang perawat/ bidan)

b. Jumlah tenaga untuk kamar operasi


Dasar penghitungan tenaga di kamar operasi :
- jumlah dan jenis operasi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 45


- jumlah kamar operasi
- Pemakain kamar operasi (diprediksi 6 jam perhari) pada hari kerja
Tugas perawat di kamar operasi: instrumentator, perawat sirkulasi (2 orang/ im)
Tingkat ketergantungan pasien:
i. Operasi besar: 5 jam/ operasi
ii. Operasi sedang: 2 jam/ operasi
iii. Operasi kecil: 1 jam / operasi

( Jml. Jam perawatan/ hari x jml. Operasi) x jml perawat dlm tim x 2
jam kerja efektif/ hari

Contoh kasus:
Dalam satu rumah sakit terdapat 30 operasi perhari, dengan perincian:
operasi besar: 6 orang; operasi sedang: 15 orang; operasi kecil: 9 orang
cara penghitungan:
{(6 x 5 jam) + (15 x 2) + (9 x 1)} x 2 = 19,71 + 1 (perawat cadangan inti)
7 jam

c. Di Ruang Penerimaan
Ketergantungan pasien di ruang penerimaan : 15 menit
Ketergantungan di RR : 1 jam
1,15 x 30 = 4,92 orang (dibulatkan 5 orang)
7
Perhitungan diatas dengan kondisi: alat tenun dan set operasi dipersiapkan oleh CSSD.

d. Jumlah tenaga di Instalasi Gawat Darurat


Dasar perhitungan di gawat darurat adalah:
rata-rata jumlah pasien perhari
Jumlah jam perawatan perhari
Jam efektif perhari

Contoh kasus:
Rata-rata jumlah pasien perhari = 50
Jumlah jam perawatan perhari = 4 jam
Jam efektif perhari = 7 jam
Jadi kebutuhan tenaga perawat di IGD:
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 46
50 x 4 = 28,6 = 29 orang + loss day ( 78 x 29) = 29 orang + 8 orang = 37 orang
7 286

e. Critical Care
Rata-rata jumlah pasien perhari = 10
Jumlah jam perawatan perhari = 12
Jadi jumlah kebutuhan tenaga perawat di Critical Care:
10 x 12 = 17,14 = 17 orang +loss day ( 78 x 17) = 17 + 5 orang = 22 orang
7 286

f. Rawat Jalan
Jumlah pasien perhari = 100
Jumlah jam perawatan perhari = 15
Jadi kebutuhan tenaga perawat di rawat jalan:
100 x 15 = 4 orang + koreksi 15% ( 4 x 15%) = 4 orang + 0,6 = 5 orang
7 x 60

g. Kamar Bersalin
Waktu yang diperlukan untuk pertolongan persalinan mencakup kala I s.d. kala IV = 4
jam/ pasien
Jam efektif kerja bidan 7 jam/ hari
Rata-rata jumlah pasien setiap hari = 10 orang
Contoh: jumlah bidan yang diperlukan adalah:
10 x 4 jam = 40= 5,7 = 6 orang + loss day ( 78 x 1,6 ) = 6 + 2 = 8 orang
7 jam/hr7 286

Salah satu aspek yang sangat penting untuk mencapai pelayanan keperawatan
yang bermutu adalah tersedianya tenaga keperawatan yang sesuai dengan situasi dan
kebutuhan baik kuantitas maupun kualitasnya. Untuk itu diperlukan perencanaan yang
baik dalam menetukan pengembangan tenaga perawat. Perencanaan yang salah bisa
mengakibatkan kekurangan tenaga atau kelebihan tenaga, bila tenaga berlebih akan
mengakibatkan kerugian pada rumah sakit, dan apabila tenaga kurang bisa
mengakibatkan beban kerja yang tinggi sehingga kualitas pelayanan akan menurun. Bila
kualitas pelayanan menurun bisa berdampak pada kunjungan pasien akan menurun dan
ini akan mengakibatkan income rumah sakit menurun dan seterusnya bisa membuat
kesejahteraan karyawan juga menurun.
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 47
Manajer keperawatan dituntut untuk bisa merencanakan jumlah tenaga rawat yang
betul-betul sesuai dengan kebutuhan yang real, sehingga mutu pelayanan dapat terjamin.
Disamping itu manajer harus mempunyai visi dan misi sesuai dengan visi dan misi rumah
sakit. Dalam setiap pengambilan keputusan harus betul-betul mempertimbangkan
berbagai aspek, baik aspek mikro maupun aspek makro rumah saikit.

5.3 RENCANA KEBUTUHAN PENGEMBANGAN SDM


Perencanaan sumber daya manusia ini, terdiri dari 4 (empat) tahapan perencanaan.
Dalam tiap tahapan perencanaan beberapa hanya melakukan proses adopsi terhadap
peraturan rumah sakit percontohan, sedangkan yang lainnya akan disesuaikan dengan
kondisi rumah sakit saat ini.

a) Penyusunan Struktur Organisasi.


Struktur organisasi disusun berdasarkan keperluan manajemen rumah sakit
didasarkan pada Permenkes no. 147 tahun 2010 tentang Perizinan Rumah Sakit pasal
6 ayat (1) jo. Permenkes no. 340 tahun 2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit pasal 5.
Menurut kedua peraturan ini menyebutkan bahwa manajemen rumah sakit setidaknya
harus terdiri dari:
1. Kepala Rumah Sakit atau Direktur;
2. Unsur Pelayanan Medis;
3. Unsur Keperawatan;
4. Unsur Penunjang Medis;
5. Komite Medis;
6. Satuan Pemeriksaan Internal;
7. Administrasi Umum dan Keuangan.

Dari persyaratan yang ada, didapatkan gambaran mengenai struktur organisasi


yang dapat dijadikan acuan untuk analisa kebutuhan sumber daya manusia.Struktur
organisasi yang ditawarkan bisa dilihat pada gambar di bawah ini.Strukur ini
diharapkan bisa memenuhi tuntutan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
juga nantinya diharapkan bisa memenuhi kebutuhan rumah sakit dalam menghadapi
kendala internal.Dari struktur ini diharapkan bahwa pada saat rumah sakit sudah

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 48


mulai beroperasi terhadap rantai komando yang cukup jelas dan memiliki mekanisme
pemecahan masalah yang lebih teroganisir.

b) Spesifikasi Jabatan yang Dibutuhkan.


Spesifikasi jabatan yang dibutuhkan secara lebih detail akan mengacu pada
spesifikasi jabatan yang telah ada pada peraturan rumah sakit yang akan diadopsi.
Spesifikasi secara umum dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

No. Jabatan Spesifikasi


1. Wa. Dir Dokter Umum
2. Ka. Bid. Pel Medis Dokter Umum
3. Ka. Bid. Umum Perawat / S-1 Akuntansi /S-1 Administrasi
4. Ka. Bag. Pel Med Dokter Umum
5. Ka. Bag. Penj. Med Dokter Umum/Dokter Gigi
6. Ka. Bag Keperawatan Perawat
7. Ka. Bag. Admin & Keuangan Perawat / S-1 Akuntansi /S-1 Administrasi
8. Ka. Bag. Umum Perawat / S-1 Akuntansi /S-1 Administrasi
9. Ka. Sie. Perawatan Intensif Dokter Umum
10. Ka. Sie. Asuhan Keperawatan Perawat
11. Ka. Sie. Asuhan Kebidanan Bidan
12. Ka. Sie. Pelayanan Medik Perawat
13. Ka. Sie. Perawat Perawat
14. Ka. Sie. Bidan Bidan
15. Ka. Sie. Apotik Apoteker
16. Ka. Sie. Laboratorium D-3 Analis Medis
17. Gizi (Tata Boga) SMK Tata Boga
18. Ka. Sie. Keuangan (Kasir) Perawat/S-1 Segala Jurusan
19. Ka. Sie. Admin (Pendaftaran) Perawat/S-1 Segala Jurusan
20. Ka. Sie. Rekam Medik D-3 Rekam Medis/S-1 Administrasi
21. Pengelolaan Limbah & Penampungan SMK
Air Bersih
22. Teknik dan Pemeliharaan, Gudang, dan D-3 Teknik Elektro
Komunikasi
23. Laundry SMU
24. Kamar Jenazah & Ambulance SMU & SIM A
25. Pengelolaan Gas Medik SMU

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 49


c) Deskripsi Jabatan.
Deskripsi jabatan akan mengadopsi dari peraturan rumah sakit percontohan.
Adopsi ini tidak dilakukan secara menyeluruh sebagaimana duplikasi, tetapi akan
terdapat penyesuaian dengan posisi jabatan yang telah dipersiapkan dalam struktur
organisasi.

d) Analisa Kebutuhan Sumber Daya Manusia.


Analisa kebutuhan sumber daya manusia akan disesuaikan persyaratan yang
diberikan pada Permenkes no. 340 tahun 2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit dan
kebutuhan rumah sakit disesuaikan dengan struktur organisasi.
Menurut analisa kebutuhan sesuai dengan Permenkes no.340 tahun 2010,
rumah sakit kelas D membutuhkan 4 (empat) dokter umum dan 1 (satu) dokter gigi
yang menjadi pekerja tetap di rumah sakit. Jika dikaitkan dengan UU no. 29 tahun
2004 tentang Praktik Kedokteran jo. UU no. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit,
maka dokter umum dan dokter gigi yang dijadikan tenaga tetap di rumah sakit harus
memiliki STR dan SIP di rumah sakit.
Selain kebutuhan dokter umum, menurut Permenkes No.340 tahun 2010,
rumah sakit kelas D harus memiliki 2 dokter spesialis dari 4 dokter umum yang
memiliki STR dan SIP di rumah sakit. Spesialis dasar yang dimaksud antara lain:
1. Spesialis Anak;
2. Spesialis Obstetri dan Ginekologi.
3. Spesialis Penyakit Dalam
4. Spesialis Mata
5. Spesialis Bedah

Kebutuhan ini masih harus ditambah dengan adanya asuhan keperawatan.


Banyaknya jumlah perawat dan bidan yang dibutuhkan untuk penetapan klasifikasi
adalah 2:3 dari jumlah tempat tidur yang dimiliki.Jika dihitung, total perawat dan
bidan yang harus dimiliki kurang lebih 34 orang.Kebutuhan sumber daya lain selain
medis dan paramedis berjumlah 25 orang. Rincian tenaga non-medis dan non-
paramedis ini bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 50


No Jabatan Jumlah

1. Ka. Bid. Umum 1


2. Ka. Bag. Admin & Keu 1
3. Ka. Bag. Umum 1
4. Satuan Pengawas Internal 1
5. Apoteker 1
6. Laboran 1
7. Rekam Medis 1
8. Gizi 1
9. Pengelolaan Limbah & Penampungan Air Bersih 1
10. Teknik dan Pemeliharaan Fasilitas, Gudang & Komunikasi 1
11. Kamar Jenazah & Ambulan 1
12. Laundry 1
13. Pengelolaan Gas Medik 1
14. Penunjang Medis Lain 6
15. Admin Lain 6
Total 25

Strukur ini diharapkan bisa memenuhi tuntutan peraturan perundang-undangan


yang berlaku dan juga nantinya diharapkan bisa memenuhi kebutuhan rumah sakit
dalam menghadapi kendala internal. Dari struktur ini diharapkan bahwa pada saat
rumah sakit sudah mulai beroperasi terhadap rantai komando yang cukup jelas dan
memiliki mekanisme pemecahan masalah yang lebih teroganisir.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 51


BAB 6
RENCANA PENGEMBANGAN USAHA

Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada berdiri pada tahun 2005 sudah perlu
untuk mengembangkan/meningkatkan pelayanan menjadi rumah sakit, mengingat Rumah
Sakit Umum Mitra Mulia Husada telah memiliki sumber daya manusia yang mencukupi
untuk pengembangan tersebut antara lain 4 (empat) dokter spesialis pelayanan dasar,
dokter spesialis saraf, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis radiologi, dan dokter gigi.
Selain itu Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada mempunyai performance yang baik
untuk dapat mengembangkan dirinya. Maka dibuatlah perencanaan kegiatan pendirian
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada dilokasi yang baru. Rumah Sakit mulai
beroperasional tanggal 1 April 2004. Sebagai rumah sakit baru harus mampu untuk
menghadapi persaingan pasar maka perlu memfokuskan strategi agar rumah sakit mampu
memberikan pelayanan memuaskan, profesional dengan harga bersaing, sehingga strategi
dan kinerja rumah sakit pun harus berorientasi pada keinginan pelanggan tersebut. Untuk
itu diterapkan Balanced score card agar rumah sakit berkembang tidak hanya mengejar
untung saja, namun juga berusaha untuk mengejar kepuasan pengguna, pengembangan
sumber daya manusia dan mempunyai proses kegiatan yang bermutu.
Tujuan pembuatan Bisnis plan ini adalah untuk mengetahui strategi agar
meningkatkan ke empat perspektif Balanced Score card dalam pengembangan Rumah
Sakit Umum Mitra Mulia Husada.
Penelitian ini adalah Studi Kasus Deskriptif dengan menggunakan pendekatan
Balanced Score card. Data-data diperoleh dari Profil Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada
mempunyai strategi Cost Leadership Strategy. Pada perspektif keuangan memperlihatkan
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada dalam kondisi insolvabel dan ilikuid artinya
rumah sakit dalam keadaan kesukaran keuangan karena segera menghadapi tagihan-
tagihan krediturnya. Perspektif pelanggan memberikan pelayana bermutu dengan biaya
murah. Perspektif Proses Bisnis Internal menunjukkan bahwa BOR-nya belum optimal,
ALOSnya sudah ideal, kunjungan rawat jalan masih didominasi dari poliklinik penyakit
dalam dan poliklinik bedah sebagai unit pelayanan yang diunggulkan, untuk penunjang
medis kegiatan tidak mencapai target karena peran promosi masih kurang. Perspektif
Pembelajaran dan Pertumbuhan terlihat dari kegiatan-kegiatan karyawan yang berupa
Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 52
medis dan non medis (keagamaan, rapat organisasi, olah raga) disertai gaji ditambah
dengan tunjangan kesehatan dan tunjangan keluarga.
Dalam menjalankan usaha Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada, dimulai
dengan menentukan strategi yang kemudian dengan konsep Balanced Score card untuk
dapat dilakukan pengukuran berbagai perspektif yang didalamnya terdapat berbagai
indikator menyeluruh sehingga dapat dipergunakan untuk menilai rumah sakit tersebut.
Melalui saran yang bertujuan meningkatkan usaha rumah sakit seperti penambahan
modal, meningkatkan pemasaran, meningkatkan mutu SDM.

6.1 TAHAP-TAHAP PENGEMBANGAN USAHA


Trend yang terjadi pada sepuluh tahun terakhir menunjukkan tingkat kepedulian
manajemen korporasi yang tinggi terhadap kepentingan stakeholders, hal ini
memunculkan istilah Return On Capital Employed (ROCE). ROCE adalah bagaimana
suatu korporasi mengolah dana investasi yang diberikan oleh pemodal untuk diputarkan
dalam operasional korporasi, sehingga setelah dikurangi dengan biaya operasional, biaya
pajak, biaya depresiasi, biaya investasi dan pembagian deviden akan didapat Free Cash
Flow (FCF) yang sesungguhnya bagi korporasi tersebut. Dari paragraf diatas yang paling
sulit bagi manajemen suatu korporasi adalah menyisihkan biaya investasi untuk
kepentingan pengembangan bisnisnya, sehingga yang terjadi adalah korporasi sudah
dapat melaksanakan pembagian deviden bagi stakeholders namun bisnisnya mengalami
stagnasi atau jalan ditempat karena tidak mampu menjalankan re-investasi.
Kondisi tersebut diatas juga terjadi pada industri rumah sakit, banyak pengelola
rumah sakit yang mengkeluhkan akan ketidakmampuan dalam hal berreinvestasi dengan
alasan tidak memiliki dana berlebih sehingga mereka takut untuk menambah struktur
modal investasi dengan cara meminjam dana dari pihak Bank, hal inilah yang menjadi ide
awal munculnya konsep Kerja Sama Operasional (KSO) dalam pengelolaan bisnis Rumah
Sakit.
Investasi rumah sakit merupakan investasi yang aman.Banyak para pemilik modal
perseorangan maupun sekelompok orang belum mengetahui hal tersebut. Pihak Rumah
Sakit, selalu mengkaitkan pengembangan rumah sakit dengan perubahan struktur neraca
yang otomatis berhubungan langsung dengan struktur modal milik mereka sendiri. Dasar
dari konsep KSO sendiri adalah penggabungan kebutuhan pengembangan rumah sakit,
dengan investasi para pemilik modal di luar rumah sakit sehingga tercapai sebuah kerja

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 53


sama yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, tanpa merubah struktur modal
maupun kepemilikan saham pada rumah sakit tersebut.
Tahapan pelaksanaan Kerja Sama Operasional adalah sebagai berikut:
a) Manajemen Rumah Sakit membentuk tim khusus yang terdiri dari dokter spesialis
sebagai calon operator dari alat yang akan dibeli, bagian pengadaan dari rumah sakit
yang bertugas sebagai seleksi akan nama supplier ataupun penyedia alat yang akan
dibeli dan yang terakhir bagian keuangan rumah sakit yang berfungsi sebagai pencari
pola pembiayaan yang akan dipakai dan seleksi terhadap calon mitra KSO pada alat
tersebut.
b) Medical Decision : Tim dokter operator bersama manajemen rumah sakit (dalam hal
ini diwakili oleh bidang marketing) akan menentukan kebutuhan alat yang akan
dibeli termasuk kondisi kompetisi pasar yang akan dimasuki dengan alat tersebut,
pada tahap ini dibutuhkan data dari marketing rumah sakit atas kondisi keberadaan
alat sejenis pada rumah sakit kompetitor di daerah yang sama sehingga didapat suatu
feasibility study yang valid akan tingkat keberhasilan dari alat yang akan dibeli.
c) Screening Decision : Pada tahap ini hasil dari pemetaan pasar serta hasil dari
kebutuhan alat yang akan dibeli sudah masuk ke dalam tim pengadaan rumah sakit
dan tim ini menindak lanjuti dengan menyeleksi (screening) terhadap nama supplier
(minimal tiga nama) agar mereka memberikan penawaran dan presentasi akan
kelebihan alat yang akan diadakan, sehinga didapat nama alat yang akan dibeli.
d) Financing Decision : Setelah didapat nama supplier dan alat yang akan dibeli maka
tugas bagian keuangan rumah sakit akan mencarikan mitra KSO yang layak dan
mampu untuk membantu pembiayaan pada pembelian alat tersebut .
e) Legal Decision : Pada tahap ini tim legal dari rumah sakit akan membuat suatukontrak
kesepakatan perjanjian dengan mitra KSO demi keamanan dari pelaksanaan kontrak
KSO ini (biasanya lama kontrak ditentukan dari perhitungan bagi hasil dan nilai
pengembalian investasi pada alat yang akan dibeli).

Dengan konsep KSO diatas segala sesuatunya terkesan mudah walau pada
implementasinya tidaklah sesederhana itu, tetapi tujuan dari tetap rampingnya struktur
modal / struktur neraca pada rumah sakit akan tercapai dengan masuknya mitra KSO.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 54


BAB 7
ANALISIS KEUANGAN

7.1 ASUMSI UMUM


Project Description
Land Area : 1.453 M2
No. Of Bed : 50 Bed
Building Area : 1798 M2

No. Of
Tipe Of Bed Bed Percentace
VIP 3 4%
Kelas I 8 10%
Kelas II 24 31%
Kelas III 36 46%
Isolasi 1 1%
Bayi 6 8%
Total 78 100%

INVESTMENT EXPENDITURE
Tipe Of Bed % Price

Land 2.000.000.000

Contruction and Supervision 17.600.000.000

Medical Equipment 3.625.000.000

Provisi Bank 1,50% 120.000.000

Total 23.345.000.000

Ratio Invesment Esp. To No. Of


Bed 777.036.000

Interest During Contrucstion 13,50%


Interest 13,50%

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 55


REVENUE FORECASTING

BED RATE
No. Of Bed Rate
Tipe Of Bed Bed (Rp.) Total (Rp.)

Super VIP 1 425.000 425.000

VIP 4 375.000 1.500.000

Kelas I 7 250.000 1.750.000

Kelas II 13 200.000 2.600.000

Kelas III 8 110.000 880.000

Bayi Sehat 8 70.000 560.000

Bayi Sakit 2 90.000 180.000

Total 43 7.895.000

BED OCCUPANCY
Year Of Operation Occupancy Rate
Year -1 33%
Year -2 35%
Year -3 40%
Year -4 46%
Year -5 51%
Year -6 56%
Year -7 62%
Year -8 65%
Year -9 to Year 20 70%

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 56


REVENUE COMPOSITION
Percentace From Hospital /
ITEMS Bed
=Bed Revenue 100%
=Rawat Jaln 35%
=Rawat Medis 40%
=Sewa Alat Medis 46%
=Pelatanan Medis 51%
=Pelayanan Lainnya 56%
=Penunjang Medis 62%
=Obat 65%
=Pendapatan Lainnya 70%

Average Bed Rate In Year I 350.000


Annul Weihted Average Of Bed
Rate 10%

EXPENCES OPERATING
DIRECT EXPENCES
Items Percentase
= Pokok Jasa Pelayanan 10,00%
= Penunjang Medik 15,00%
= Obat 40,00%

INDIRECT EXPENCES
Items Pertahun
= Administrasi 282.000.000
= Personil 576.000.000
= Pemeliharaan 360.000.000
= Lainnya 10,00%

7.2 RENCANA KEBUTUHAN INVESTASI


Proyeksi biaya opersional rumah sakit yang berhubungan dengan pembangunan
Rumahsakit baru dalam analisis berikut ini hanya berhubungan dengan biaya yang benar-
benar secara realitas terjadi dan tidak termasuk biaya penyusutan.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 57


Dasar-dasar analisis untuk proyeksi biaya operasional adalah sebagai berikut :
a. Biaya kamar pasien umum sebesar 15% dari total pendapatan kamar pasien umum.
Yang dimaksud dengan biaya ini adalah pengeluaran yang merupakan fasilitas kamar
pasien seperti biaya bahan medis habis pakai yang tidak dibayar pasien. Yang tidak
termasuk biaya kamar pasien adalah biaya penyusutan, gaji dan biaya obat yang
dibayar pasien.
b. Biaya kamar bedah sebesar 40% dari total pendapatan kamar bedah untuk jasa Rumah
sakit. Biaya kamar adalah pengeluaran yang terjadi di kamar bedah yang merupakan
fasilitas pasien kecuali biaya penyusutan, gaji, dan obat yang dibayar pasien.
c. Biaya rawat jalan di proyeksikan sebesar 35% dari pendapatan rawat jalan. Yang
tidak termasuk biaya rawat jalan adalah biaya penyusutan, gaji, dan obat yang dibayar
pasien. Biaya rawat jalan adalah segala bentuk pengeluaran yang terjadi dan
merupakan fasilitas pasien rawat jalan kecuali ketiga item biaya tersebut.
d. Biaya lab, sebesar 35% dari pendapatan masing-masing unit tersebut. Pada dasarnya
definisi biaya-biaya adalah segala bentuk pengeluaran yang terjadi di setiap unit
tersebut kecuali biaya penyusutan, gaji, dan obat yang dibayar pasien.
e. Harga pokok penjualan obat farmasi (apotik) sebesar 75% dari pendapatannya.
Sedangkan biaya atas pendapatan lainnya sebesar 10% atas pendapatannya. Harga
pokok penjualan obat adalah harga beli obat ditambah biaya lainnya diluar biaya
penyusutan dan gaji.
f. Biaya gaji diproyeksikan sebesar 30% dari total biaya minimal biaya pemeliharaan
dan penyusutan.
g. Biaya pemeliharaan untuk tahun pertama sebesar 10% dari total biaya min biaya
penyusutan. Untuk tahun kedua dan selanjutnya meningkat 25% dari tahun pertama.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 58


7.3 RENCANA ARUS KAS (CASH FLOW)
Tabel 7. RENCANA KEBUTUHAN INVESTASI
KETERANGAN 1 2 3 4 5 6 7 8
Penerimaan Operasi/ Hasil Penjualan 4.645.525.500 5.419.779.750 6.856.021.384 8.672.867.050 10.494.169.131 12.697.944.649 15.364.513.025

Pengeluaran Operasi
- Beban Langsung 1.193.346.000 1.392.237.000 1.761.179.805 2.227.892.453 2.695.749.869 3.261.857.341 3.946.847.383
- Beban Tak Langsung 1.142.334.600 1.493.147.700 1.557.120.461 1.631.411.775 1.706.369.967 1.791.716.614 1.889.526.236
- Pajak 119.198.220 389.265.765 764.935.460 1.265.441.722 1.699.865.789 2.165.562.208 2.730.692.822
2.454.878.820 3.274.650.465 4.083.235.726 5.124.745.950 61.019.985.625 7.219.136.163 8.567.066.441

Cash Flow From Operation 2.190.646.680 2.145.129.285 2.772.785.658 3.548.121.100 4.392.183.506 5.478.808.486 6.797.446.584

Investment Expenditure 13.281.150.000

EQUTTY
Equity Investasi 4.774.900.000
Equity (IDC) 506.250.000
Total Equity 5.281.150.000

PINJAMAN
Pinjaman Investasi 8.000.000.000
Pinjaman (IDC)
Total Equity dan Pinjaman 13.281.150.000

Pembayaran
Kredit Investasi 1.180.000.000 1.300.000.000 2.170.000.000 3.350.000.000
IDC
Bunga Pinjaman 980.437.500 811.012.500 562.106.250 169.593.750

Total Pembayaran 2.160.437.500 2.111.012.500 2.732.106.250 3.519.593.750

Net Cash Flow 0 30.209.180 34.116.785 40.679.408 28.527.350 4.392.183.506 5.478.808.486 6.797.446.584
Ending Balance 0 30.209.180 64.325.965 105.005.373 133.532.723 4.525.716.229 10.004.524.715 16.801.971.299

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 59


KETERANGAN 9 10 11 12 13 14 15
Penerimaan Operasi/ Hasil Penjualan 17.831.302.234 21.123.234.954 22.571.685.351 23.733.463.273 26.106.809.601 28.717.490.561 29.159.298.108

Pengeluaran Operasi
- Beban Langsung 4.580.518.005 5.426.152.098 5.798.231.099 6.096.669.465 6.706.336.411 7.376.970.052 7.490.461.899
- Beban Tak Langsung 1.982.790.128 2.097.848.304 2.166.160.866 2.227.731.457 2.321.059.442 2.421.131.322 2.446.149.193
- Pajak 3.252.649.230 3.952.021.366 4.254.439.016 4.494.969.705 4.996.075.124 5.548.067.756 5.633.057.105
9.815.957.363 11.476.021.768 12.218.830.981 12.819.370.627 14.023.470.977 15.346.169.130 15.569.668.197

Cash Flow From Operation 8.015.344.871 9.647.213.186 10.352.854.370 10.914.092.646 12.083.338.624 13.371.321.431 13.589.629.911

Investment Expenditure

EQUTTY
Equity Investasi
Equity (IDC)
Total Equity

PINJAMAN
Pinjaman Investasi
Pinjaman (IDC)
Total Equity dan Pinjaman

Pembayaran
Kredit Investasi
IDC
Bunga Pinjaman

Total Pembayaran

Net Cash Flow 8.015.344.871 9.647.213.186 10.352.854.370 10.914.092.646 1.208.338.624 13.371.321.431 13.589.629.911
Ending Balance 24.817.316.171 34.464.529.357 44.817.383.717 55.731.476.373 67.814.814.997 81.186.136.428 94.775.766.339

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 60


7.4 RENCANA KEBUTUHAN PINJAMAN
Total Biaya proyek untuk pembangunan tambahan Rumah Sakit Umum Mitra
Mulia Husada adalah sebesar Rp. 1.500.000.000,-. Alokasi dana tersebut khusus untuk
pembangunan gedung dan biaya instalasinya.
Sumber dana untuk pembangunan rencana kebutuhan investasi Rumah Sakit
Umum Mitra Mulia Husada direncanakan berjalan tahun 2011. Total Investasi yanng
dibutuhkan dan untuk pembangunannya diharapkan pinjaman investasi dari pihak Bank
sebesar Rp. 8.000.000.000,- dengan rencana penarikan pinjaman dimulai pada triwulan 2
(dua) tahun 2011. Rincian mengenai dapat dilihat pada lampiran.

7.5 RENCANA PENGEMBALIAN DANA PINJAMAN


Proyeksi Income statement dan cash flow
Income statemen saat mulai operasi yaitu pada tahun ke 2, laba bersih Rumah
Sakit Mitra Mulia Husada diperkirakan sudah positif dengan nilai sebesar Rp.
278.129.180,-Laba tersebut terus meningkat seiring dengan peningkatan Bed Occupancy.
Akumulasi laba bersih pada tahun ke -15 beroperasi diperkirakan mencapai Rp. 13.
143.799.911,-. Proyeksi rugi-laba selama tahun proyeksi dapat dilihat pada lampiran .
Dari analisa aliran kas untuk proyek pembangunan Rumah Sakit Ibu Anak Puri Adhya
Paramita menunjukkan bahwa pada tahu ke-2, yaitu awal operasi kas sudah berada pada
posisi positif. Pinjaman investasi diperkirakan akan lunas pada tahun ke-5. Proyeksi arus
kas selama tahun proyeksi dapat dilihat pada lampiran. Kelayakan proyek pembangunan
Rumah Sakit Ibu dan Anak Puri Adhya Paramita dilihat berdasarkan Tingkat Return
proyek itu sendiri. Kriteria kelayakan investasi yang dipersiapkan dalam laporan ini
adalah Net Present Value (NPV) serta Internal Rate Of Return (IRR). Berdasarkanhasil
analisa investasi yang disajikan pada Lampiran , dapat disampaikan bahwa NPV = Rp.
8.041. 301.023,- dan IRR = 30,49% dari hasil tersebut menunjukkan bahwa IRR yang
diperoleh lebih besar dibandingkan suku bunga komersil yang ditetapkan yaitu sebesar
13,5%.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 61


NO URAIAN 1 2 3 4 5 6 7 8

IRR Dan NPV 2.190.646.680 2.145.129.285 2.772.785.658 3.548.121.101 4.392.183.507 5.478.808.486 6.797.446.585
Surplus (Defisit) Operasi
13.281.150.000 13.281.150.000
Biaya Investasi dan IDC
Nilai

Proceed 13.281.150.000 2.190.646.680 2.145.129.285 2.772.785.658 3.548.121.101 4.392.183.507 547.880.886 6.797.446.585


Pay Back
Pay Back Period

Pay Back 13.281.150.000 11.090.503.320 8.945.374.035 6.172.588.377 2.624.467.276 (1767716231) (7246524717) (14043971302)

Interest 13,5%

Discount Factor 100.000 1 1 1 1 1 0 0

Present Value 13.281.150.000 1.930.085.181 1.665.182.158 1.896.394.619 2.138.035.875 2.331.853.001 2.562.777.784 2.801.397.733

NO URAIAN 9 10 11 12 13 14 15

IRR Dan NPV 8.015.344.871 9.647.213.186 10.352.854.370 10.914.092.646 12.083.338.623 13.371.321.430 13.569.629.911

Surplus (Defisit) Operasi 13.281.150.000 8.015.344.871 9.647.213.186 10.352.854.370 10.914.092.646 12.083.338.623 13.371.321.430 13.569.629.911
Biaya Investasi dan IDC

Nilai 6.813.280.000

Proceed 8.015.344.871 9.647.213.186 10.352.854.370 10.914.092.646 12.083.338.623 13.371.321.430 20.382.909.911


Pay Back
Pay Back Period
Pay Back

Interest 13,5% 8 9 10 11 12 13 14

Discount Factor - - - - - - -

Present Value 2.910.417.687 3.086.306.987 2.918.108.863 2.710.398.568 2.643.848.760 2.577.674.819 3.461.976.564

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 62


BAB 8
ANALISIS DAMPAK DAN RESIKO USAHA

Dalam membuat bussiness plan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada perlu
dilakukan identifikasi tentang hal-hal yang perlu diperhatikan agar aset tersebut
memberikan hasil yang maksimum. Analisa yang digunakan dalam proses identifikasi
tersebut yaitu analisa SWOT. Dalam analisa SWOT tersebut akan dikaji faktor internal
yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan serta faktor eksternal yang terdiri dari peluang
dan ancaman.
Identifikasi faktor internal dalam analisa SWOT yaitu kekuatan (strength) yang
dimiliki oleh aset harus optimal, sebaliknya faktor yang menjadi kelemahan dari aset
harus diantisipasi agar pengaruhnya dapat diminimalkan. Analisa SWOT dari faktor
eksternal dimaksudkan untuk memanfaatkan peluang yang ada pada masa mendatang
serta mengantisipasi kemungkinan adanya ancaman pada masa mendatang.

8.1 DAMPAK TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR


Berdasarkan minat masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah dan sekitarnya
akan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang bermutu dan yang berkualitas, maka
rencana bussines plan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada merupakan salah satu
solusi untuk menampung keinginan masyarakat Lampung Tengah khususnya Bandar Jaya
dan sekitarnya akan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Hal ini
dikarenakan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada akan melengkapi pelayanan
kesehatan yang integral mulai dari penegakan diagnosa yang dilengkapi fasilitas
pemeriksaan penunjang seperti laboratorium sampai memberikan layanan perawatan dan
rehabilitasi bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada diharapkan akan menjadi leader dalam
pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan untuk
wilayah Bandar Jaya dan sekitarnya. Image dokter spesialis yang memiliki kualitas bagus
dan telah banyak dikenal oleh masyarakat Bandar Jaya, serta sistem pelayanan yang baik
dan dilengkapi dengan peralatan yang modern diharapkan akan meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada akan
dikembangkan dengan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kepuasan konsumen

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 63


dan didukung oleh dokter-dokter yang berpengalaman dibidangnya dan perawat yang
trampil dan terdidik yang siap melakukan tindakan medis selama 24 jam.
Adanya ketersediaan fasilitas rawat jalan dan poliklinik dokter spesialis serta
apotek akan menjadi peluang berpotensi untuk dikembangkan pada fasilitas layanan
kesehatan ini, dengan perkembangan poliklinik yang memadai, tidak mustahil layanan ini
akan menjadi produk yang mampu menjadi pusat pendapatan rumah sakit.
Faktor penting sangat berpengaruh adalah kualitas produk, yang diindikasikan
dengan kualitas lokasi, desain, dan kualitas bangunan, fasilitas medik dan non medik,
pelayanan, manajemen, dan kualitas tenaga dokter. Dari segi lokasi, Rumah Sakit umum
Mitra Mulia Husada mempunyai lokasi yang cukup strategis karena berada didekat Pusat
ekonomi kabupaten Lampung Tengah dan Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan
kabupaten-kabupaten lain dengan kota Bandar Lampung. Desain dan kualitas
bangunannya akan dibuat lebih baik, dilengkapi dengan fasilitas medik dan non medik
yang lebih lengkap, dan kualitas pelayanan yang lebih prima guna memberikan kepuasan
bagi calon pasien/konsumen. Kualitas dokter dan paramedisnya juga akan menjadi
peranan penting, dengan memberikan kesempatan pada dokter dan perawat yang
berkualitas tinggi bekerja di Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada akan diberikan
traning / pelatihan di rumah sakit khusus yang ada di Jakarta.
Berdasarkan pertimbangan analisis dan prospek secara makro pasar rumah sakit
pada masa yang akan datang dan kualitas produk yang akan dikembangkan, maka dapat
disimpulkan bahwa, Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada memiliki dampak yang
posistif terhadap masyarakat sekitarnya.

8.2 DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN


Dalam kegiatannya di tengah masyarakat dalam keseharian, Rumah Sakit Umum
Mitra Mulia Husada mempunyai berbagai dampak baik positif maupun negatif bagi
lingkungan sekitarnya. Dampak ini muncul baik pada tahap konstruksi maupun tahap
operasi. Dampak positif pada kedua tahap ini cenderung sama yaitu:
a. Mitra masyarakat dalam mewujudkan hidup dan lingkungan yang sehat
b. Penyerapan tenaga kerja dari lingkungan masyarakat sekitar
c. Pusat pelayanan kesehatan masyarakat dengan biaya yang terjangkau
d. Mempercepat dan mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 64


e. Menggairahkan perekonomian masyarakat sekitar, mereka dapat membuka
warung nasi, toko keperluan sehari-hari, wartel, dll

Sedangkan dampak negatif pada masing-masing tahap saling berbeda. Dampak


negatif pada tahap konstruksi:
a. Polusi debu
b. Kegiatan membangun dengan berbagai material menimbulkan debu yang dapat
mengganggu kebersihan udara sekitar lingkungan.
c. Polusi suara
d. Tahap konstruksi, dimana terjadi kegiatan pertukangan banyak menimbulkan
suara ataupun kebisingan dari berbagai alat pembantu seperti mollen, genset,
diesel, bor, dll.
e. Limbah sisa konstruksi
f. Proses pembangunan juga menimbulkan berbagai limbah dan sampah. Seperti sisa
kayu, besi, kantong semen, dll
g. Gangguan kelancaran lalu lintas
h. Arus kendaraan yang lalu lalang membawa bahan material dapat menyebabkan
kemacetan arus lalu lintas.

Tahap operasi mempunyai dampak negatif seperti:


a. Limbah padat medis
b. Limbah ini berupa: kapas, darah alat suntik, botol infus, botol obat, plastik
kemasan obat, toples obat, kasa, dll
c. Limbah padat non medis
d. Plastik, sisa makanan, kertas, daun, kulit buah, dll
e. Limbah cair medis
f. Darah, urine, air ketuban, dll
g. Limbah cair non medis
h. Urine, air limbah kamar mandi, dll
i. Polusi gas atau debu
j. Asap genset (pemakaian ketika listrik dari PLN mati), asap dapur, asap kendaraan
bermotor
k. Polusi suara

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 65


l. Suara mesin genset, kendaraan bermotor, ambulance
m. Gangguan arus lalu lintas

Arus kendaraan keluar masuk, Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada dapat
mengganggu kelancaran lalu lintas di Jalan Lintas Sumatera. Selain itu munculnya para
pedagang kaki lima di pinggir-pinggir jalan, juga dapat mengganggu kelancaran arus lalu
lintas.
Dampak positif dari Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada berupa layanan
kesehatan bagi masyarakat Bandar Jaya dan sekitarnya, penyerapan tenaga kerja (medis
dan non medis), memberikan kontribusi keuangan kepada Pemda dan sebagai sarana
pendidikan bagi tenaga kesehatan. Sedangkan dampak negatif yang dapat ditimbulkan
dari kegiatan tersebut antara lain pencemaran air dan limbah domestik yang dihasilkan
oleh kegiatan rawat inap maupun rawat jalan, limbah B3 dari kegiatan radiologi,
pencemaran sampah/bau, Nasokomial, kemacetan lalu lintas dan lain-lain.

8.3 ANALISIS RESIKO USAHA


A. SEGMENTASI PASAR (SEGMENTING)
Segmentasi pasar adalah suatu proses menempatkan konsumen ke dalam
subkelom-pok yang memiliki respons yang sama terhadap suatu program pemasaran
(Cravens,1997).Menurut Rambat Lupiyoadi (2001), segmentasi pasar adalah
membagi pasar menjadi kelompok pembeli yang dibedakan menurut kebutuhan,
karakteristik, atau tingkah laku, yang mungkin membutuhkan produk yang berbeda.
Sedangkan Swastha (1997), segmentasi pasar adalah kegiatan membagi-bagi pasar
yang bersifat heterogen dari suatu produk ke dalam satuan-satuan pasar yang
bersifat homogen. Berdasarkan definisi diatas, segmentasi pasar dapat diartikan
sebagai proses membagi pasar yang heterogen kedalam kelompok-kelompok yang
lebih ho-mogen, yang memiliki kesamaan kebutuhan atau karakteristik dan respons
terhadap program pemasaran.

Dasar Segmentasi Pasar


Ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai dasar segmentasi,
namun secara garis besar mengikuti kategori yang dipelopori oleh Kotler sebagai
bapak pemasaran:

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 66


1. Geografis: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi-bagi
pasar dalam beberapa unit geografis yang berbeda-beda seperti daerah, popu-
lasi, kepadatan dan iklim.
2. Demografis: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi-bagi
pasar dalam beberapa grup dengan basis-basis variabel seperti usia, jenis
kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, ukuran keluarga, siklus hidup
keluarga, agama, ras, generasi, kewarganegaraan, dan kelas sosial.
3. Psikografis: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi kon-
sumen atas beberapa grup yang berbeda-beda dengan basis variabel gaya hidup
dan kepribadian.
4. Perilaku: Suatu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan membagi
konsumen atas grup-grup yang berbeda dengan basis variabel seperti status
pengguna, ke-setiaan merek, tingkat penggunaan, manfaat yang dicari,
kesempatan penggunaan, kesiapan membeli dan sikap terhadap produk.

Kriteria Memilih Target Pasar


Setelah segmen pasar dievaluasi, langkah selanjutnya yaitu memilih segmen
yang akan dijadikan target atau pasar sasaran. Dalam memilih pasar sasaran yang
optimal, perlu diperhatikan beberapa kriteria berikut :
1. Responsif
Pasar sasaran harus responsif terhadap produk atau program-program pemasaran
yang dikembangkan. Langkah ini harus dimulai dengan studi segmentasi yang
jelas karena tanpa pasar sasaran yang jelas produsen menanggung resiko yang
terlalu besar.
2. Potensi penjualan
Potensi penjualan harus cukup luas. Semakin besar pasar sasaran, semakin besar
nilainya. Besarnya bukan hanya ditentukan oleh jumlah populasi tapi juga daya
beli dan keinginan pasar untuk memiliki produk tersebut.
3. Pertumbuhan yang memadai
Pasar tidak dapat dengan segera bereaksi. Pasar tumbuh perlahan-lahan sampai
akhirnya meluncur dengan cepat dan mencapai titik pendewasaan.
4. Jangkauan media

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 67


Pasar sasaran dapat dicapai dengan optimal kalau pemasar tepat memilih media
untuk mempromosikan dan memperkenalkan produknya.

Menurut Bradley yang dikutip dari Setiadi (2003), dalam memilih pasar
sasaran mana yang akan diambil ada faktor-faktor yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Sumber daya organisasi
Dalam memilih segmen maka perlu diperhatikan sumber daya yang ada karena
semakin banyak segmen yang dipilih maka biaya yang dibutuhkan akan semakin
banyak. Pemasaran terpusat akan menjadi pilihan organisasi kecil yaitu dengan
cara mengarahkan pema-saran pada segmen-segmen yang kecil, unik, dan
kurang mendapatkan perhatian pesaing besar yang dinamakan juga sebagai
market niche.
2. Tipe produk
Ada produk yang disebut high-differentiated product maka strategi yang
digunakan bisa differentiated atau con-centrated marketing karena pada produk
tersebut mudah diciptakan keunikan yang membedakannya dari produk lain.
Ada juga yang low differentiated product, maka strategi yang dipilih yaitu
undiffer-entiated marketing karena pada produk jenis ini sulit diciptakan
keunikan-keunikan.
3. Tahap dalam daur hidup produk
Produk memiliki siklus, yang dimulai dengan tahap perkenalan pasar,
pertumbuhan, dewasa, dan menurun. Pada masa perkenalan, dapat diterapkan
pemasaran serba sama. Pada masa pertumbuhan produk semakin dapat diterima
dan pasar mulai menginginkan variasi produk, maka dapat diterapkan
pemasaran serba aneka. Pada masa dewasa persaingan sudah mencapai titik
maksimal dan seluruh segmen sudah terisi, maka organisasi mulai mencari
segmen-segmen yang belum dilayani secara maksimal oleh pesaing sehingga
pemasaran dapat diterapkan pemasaran terkonsentrasi. Pada masa penurunan,
organisasi perlu membatasi investasi, memperkecil biaya pemasaran serta
memusatkan sumber daya pada produk dan segmen yang lebih menguntungkan
dan pemasaran terkonsentrasi yang sesuai untuk diterapkan.
4. Strategi pesaing dan strategi bersaing organisasi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 68


Untuk memilih strategi mana yang akan diterapkan oleh organisasi, maka
perlu memperhatikan juga strategi yang diterapkan oleh pesaing dan strategi
bersaing yang dipilih organisasi. Pilihan strateginya bisa berhadapan langsung
atau menghindar. Kalau berhadapan langsung, maka organisasi akan memilih
segmen yang dimasuki oleh pesaing. Sedangkan kalau menganut strategi
menghindar, maka organisasi memasuki segmen yang belum dimasuki oleh
pesaing.

B. PENETAPAN POSISI PASAR (Positioning)


Penetapan posisi adalah tindakan merancang tawaran dan citra organisasi
sehingga menempati suatu posisi yang terbedakan (diantara pesaing) di dalam benak
pelanggan sasarannya. Kotler memandang posisi sebagai suatu latihan kreatif yang
dilakukan terhadap produk yang ada. Penetapan posisi dimulai dengan produk,
suatu barang, jasa, organisasi, lembaga, atau bahkan orang.
Tujuan penetapan posisi adalah untuk membedakan persepsi organisasi
berikut produk dan jasanya dari pesaing. Dikatakan pula bahwa penetapan posisi
banyak mengedepankan unsur komunikasi dan merupakan strategi komunikasi.
Produk barang dikomunikasikan lewat atribut yang dimiliki barang tersebut dan
produk jasa dikomunikasikan seputar karakteristik jasa.
Penetapan posisi produk adalah tempat produk yang berbeda, jelas dan
memiliki nilai lebih secara relatif dibandingkan dengan produk pesaing di benak
konsumen (Setiadi, 2003). Penetapan posisi bukanlah hanya menyangkut apa yang
dilakukan terhadap produk tetapi apa yang kita lakukan terhadap pikiran/benak
konsumen seperti yang diungkapkan oleh Al Ries dan Trout yang dikutip dari
Lupiyoadi (2001). Strategi ini sangat berhubungan dengan bagaimana konsumen
menempatkan produk organisasi dalam ingatan mereka, sehingga calon konsumen
yang ditargetkan dan segmen yang dipilih memiliki penilaian tertentu dan
mengidentifikasikan dirinya dengan produk tersebut.
Organisasi menggunakan berbagai dasar dalam penetapan posisi, meliputi:
atribut, harga dan kualitas, pemakaian atau aplikasi, pemakaian produk, kelas
produk, dan pesaing.
Ada beberapa yang harus diperhatikan berhubungan dengan proses
penetapan posisi :

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 69


a) Penetapan posisi adalah strategi komunikasi
b) Bersifat dinamis
c) Penetapan posisi berhubungan dengan atribut-atribut produk
d) Atribut produk yang dipilih harus unik
e) Penetapan posisi harus memberi arti dan arti ini harus penting bagi konsumen
f) Penetapan posisi harus diungkapkan dalam bentuk suatu pernyataan

Pada saat ini masalah kesehatan sudah menjadi kebutuhan yang utama bagi
masyarakat. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan yang prima. Seiring dengan meningkatnya taraf kehidupan
masyarakat, maka semakin meningkat pula tuntutan masyarakat akan nilai-nilai
kesehatan. Hal ini yang menjadikan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada
dituntut untuk meningkatkan kualitas akan pelayanan jasa kesehatan yang lebih
baik, tidak saja pelayanan kesehatan yang bersifat menyembuhkan saja, tetapi
lembaga kesehatan juga dituntut untuk dapat memberikan kepuasan pasien rumah
sakit. Fungsi Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada dewasa ini makin lebih baik
ke arah pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan terintegrasi seiring dengan
berkembangnya ilmu dan teknologi. Baik dalam upaya penyembuhan bagi pasien
yang sakit maupun bagi pasien yang membutuhkan konsultasi kesehatan dan upaya
pencegahan serta peningkatan kesehatan. Di Indonesia terdapat tiga jenis rumah
sakit dengan fungsi yang berbeda-beda. Pertama adalah rumah sakit pemerintah
yang mengemban fungsi politis dan sosial. Kedua adalah rumah sakit swasta yang
berfungsi sosial. Sedangkan ketiga adalah rumah sakit swasta yang berfungsi
sebagai usaha berorientasi laba. Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada termasuk
dalam kategori rumah sakit swasta yang memiliki fungsi sosial.
Dalam upaya mencapai efisiensi penyelenggara rumah sakit, upaya
pendayagunaan fasilitas secara lebih baik kini menjadi salah satu kegiatan pokok.
Hal ini juga dilakukan oleh Rumah Sakit Mitra Mulia Husada yang berusaha
memberikan nilai yang lebih bagi pasiennya. Pelayanan yang baik juga merupakan
suatu keharusan apabila manajemen rumah sakit ingin menarik jumlah pasien yang
lebih banyak lagi. Sejalan dengan persaingan yang semakin tajam saat ini, berbagai
fasilitas ditawarkan rumah sakit kepada pasien. Manajemen harus bisa menerapkan
kebijakan serta strategi yang tepat untuk konsumen maupun pesaing dalam

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 70


mempertahankan keberlangsungan usahanya. Rumah sakit mempengaruhi pasien
untuk berobat dengan menawarkan fasilitas-fasilitas baru yang semakin beragamnya
dan bervariasi. Salah satunya dengan memberikan fasilitas fisik, meliputi gedung,
tempat parkir yang luas, kebersihan yang terjaga dan fasilitas pelayanan
administrasi yang tertata rapi. Hal ini menjadikan Rumah Sakit Mitra Mulia Husada
berbeda dan memiliki nilai lebih dibandingkan dengan rumah sakit lain.
Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dalam
lingkup pelayanan kesehatan oleh rumah sakit dan Undang-undang No. 23 tahun
1992 tentang kesehatan, membawa konsekuensi hukum tentang kewajiban dan
tanggung jawab rumah sakit atau dokter untuk memenuhi hak-hak pasien. Para
pelaku usaha atau pemberi jasa diwajibkan untuk memberikan kompensasi, ganti
rugi, atau penggantian bila ada keluhan dari konsumen. Melalui pemahaman ini
diharapkan perusahaan jasa mampu mengeliminasi tuntutan konsumen dan
mengoptimalkan kepuasan konsumen.
Alasan pemasaran jasa profesional sebuah rumah sakit adalah karena iklim
hukum dan etika yang cepat berubah, suplai profesional yang banyak, meningkatnya
ketidakpuasan terhadap profesional dan kemajuan teknologi. Persaingan rumah sakit
yang semakin ketat menuntut peningkatan kualitas pelayanan sebuah rumah sakit.
Persaingan yang terjadi bukan saja dari sisi teknologi peralatan kesehatan, tetapi
juga persaingan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas. Kualitas pelayanan
kesehatan rumah sakit dicerminkan sebagai pelayanan jasa kesehatan dalam rangka
untuk memenuhi kebutuhan pasien sebagai pemakai jasa pelayanan rumah
sakit.Sedemikian penting arti loyalitas seorang konsumen bagi organisasi atau
perusahaan, maka sudah seharusnya bila perusahaan jasa selalu menempatkan
konsumen pada posisi yang paling utama untuk dipuaskan dalam setiap perencanaan
dan aktivitas yang dilakukan. Ini berarti standar-standar yang dibuat oleh produsen
dalam rangka menyediakan produknya itu selalu berdasarkan pada bagaimana
memberikan kepuasan terbaik bagi konsumennya.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 71


8.4 ANTISIPASI RESIKO USAHA
A. PENENTUAN TARGET PASAR RSU. MITRA MULIA HUSADA
Setelah mengevaluasi segmen-segmen yang ada, tahap selanjutnya adalah
menentukan target pasar. Evaluasi terhadap segmen-segmen yang ada dengan
memperhatikan ukuran dan pertumbuhan segmen, daya tarik segmen, serta sasaran
dan sumber daya yang dimiliki perusahaan (Setiadi, 2003). Penentuan target pasar
dimulai dengan menganalisis segmen yang paling sesuai dan memenuhi kriteria
segmentasi pasar yang efektif yaitu: harus dapat diukur (measurable), jumlahnya
cukup besar (subtantial), dapat dijangkau (accesible), dapat dibedakan
(differentiable), dan dapat dilaksanakan (actionable).
Potensi penjualanRumah Sakit Mitra Mulia Husada terhadap target yang
telah ditentukan memiliki peluang yang cukup besar, hal ini dipersepsikan karena
tidak adanya perubahan dalam industri pembangunan rumah sakit ibu anak yang ada
di lampung tengah. Hal ini terlihat dari dari beberapa jumlah pembangunan rumah
sakit semuanya bersifat umum .

B. PENENTUAN POSISI RSU. MITRA MULIA HUSADA


Positioning atau penentuan posisi yaitu nilai lebih yang dimiliki Rumah
Sakit Umum Mitra Mulia Husada relatif dibanding dengan pesaing yang tertanam di
benak pelanggan. Pada bagian terakhir dari semua tahap ini adalah menentukan
posisi Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada dengan cara melihat produk Rumah
Sakit Umum Mitra Mulia Husada kompetitor dan mencari tahu posisinya.
Kompetitor tidak hanya yang letaknya dekat dengan Rumah Sakit Umum Mitra
Mulia Husada namun juga bagi penyelenggara pelayanan kesehatan yang
mempunyai produk sejenis.
Home care atau perawatan di rumah tidak hanya bisa dilakukan oleh rumah
sakit, namun juga bisa dilaksanakan oleh praktek perorangan atau kelompok baik itu
praktek dokter atau perawat. Praktek ini bisa dilakukan dengan syarat sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Sederhananya, jika ada perawat Rumah Sakit Umum Mitra
Mulia Husada yang dipanggil ke rumah untuk membantu merawat orang mereka
(perawat/petugas kesehatan Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada atau
masyarakat) menamakannya home care.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 72


Dibandingkan dengan pesaing, maka Rumah Sakit Umum Mitra Mulia
Husada memiliki keunggulan di bidang product, price, promotion, poeple, dan
process, sedangkan kekurangannya dibandingkan dengan pesaing adalah pada
place. Home care Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada menetapkan posisi yang
ingin disandang baik di benak pelanggan dengan positioning claim yaitu Pelayanan
Home Care yang peduli. Penetapan posisi ini sangat tepat karena posisi yang dibuat
harus terbedakan dengan yang lain.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 73


BAB 9
RENCANA PENGEMBANGAN MUTU

9.1 PENGEMBANGAN RSU MITRA MULIA HUSADA DALAM MENUJU


AKREDITASI.
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) merupakan komitmen Nasional di bidang
kesehatan yang menjadi dasar dari segala kebijakan pemerintah dalam menangani
masalah kesehatan, termasuk pelayanan rumah sakit. Dalam rangka untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam hal pelayanan kesehatan, maka Rumah Sakit
Umum Mitra Mulia Husada telah merencanakan program Akredetasi untuk pelayanan
rumah sakit Rumah Sakit dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
khususnya dalamhal pelayanan kesehatan.
Pada prisnsipnya adalah mutu pelayanan rumah sakit harus memenuhi standard
yang dapat dipertanggngjawabkan, pada saat ini telah mulai dituntut masyarakat
pengguna jasa pelayanan rumah sakit. Peningkatan mutu pada hakekatnya bertujuan
untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat menjadi lebih sejahtera baik lahir maupun
bathin. Untuk menjamin terciptanya kondisi yang demikian, maka faktor kesehatan
menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya Rumah Sakit
Umum Mitra Mulia Husada ini akan memberikan manfaat positif baik secara langsung
maupun tidak langsung akan tetapi di lain pihak disadari bahwa setiap kegiatan di Rumah
Sakit ini akan menimbulkan perubahan yang dapat menurunkan daya dukung dan kualitas
lingkungan. Untuk itu pemerintah telah mencanangkan konsep pembangunan yang
berwawasan lingkungan dengan konsep Mutu Pelayanan Rumah Sakit harus memenuhi
standar dan dapat dipertanggung jawabkan.
Dalam konsep tersebut ditegaskan bahwa setiap kegiatan/usaha harus selalu
memperhatikan aspek akredetasi dan standarisasi agar hasil kegiatan/usaha yang
dilakukan dapat meningkatkan kesejahteraan dengan sasaran dari faktor kesehatan
menjadi prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada berkepentingan menyusun
suatu rencana kerja/Bussines Plan kedepan serta Mengupayakan Pengelolaan manajemen
dan Upaya Pemantauan Kualitas mutu Sumber Daya Manusia agar hasil kegiatan/usaha
yang dilakukan kedepan dapat tercapai maksud dan tujuanya. Namun pemenuhan standar

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 74


untuk menuju rencana kerja tersebut tidaklah mudah, karena memerlukan tenaga waktu
dan dana yang tidak sedikit. Untuk itu diperlukan kesepakatan antara pemilik saham
dengan pengelola Rumah Sakit sehingga dapat dicapai kesepakatan agar proses
pemenuhan standar Akredetasi dapat berjalan lancar. Untuk mempermudah pelaksanaan
standar diperlukan pedoman rencana kerja yaitu PLAN OF ACTION (POA).

9.2 SASARAN PENYUSUNAN POA AKREDITASI RSU. MITRA MULIA


HUSADA
a) Komite Akreditasi RSU Mitra Mulia Husada
b) Sosialisasi Akreditasi RSU Mitra Mulia Husada
c) Program Kerja
d) Self Assesment RSU Mitra Mulia Husada
e) RSU Mitra Mulia Husada mengajukan Kesiapan Akreditasi ke Komite Akreditasi
Rumah Sakit.
f) Pelaksanaan survey dilokasi oleh Tim Survey Komite Nasional Akredetasi Rumah
Sakit.
g) Mendapatkan Rekomendasi hasil survey Akredetasi dari Komite Nasional
Akredetasi Rumah Sakit

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 75


9.3 PLAN OF ACTION AKREDITASI RUMAH SAKIT UMUM MITRA MULIA HUSADA HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN

Tahun 2015 Tahun 2016


No Kegiatan
OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT
1 Membentuk tim HPK oleh Direktur
2 Direktur mendukung hak pasien dan keluarga dengan
mengeluarkan kebijakan dan penandatanganan SPO yang
berkaitan dengan hak pasien da keluarga selama dalam
pelayanan
3 Sosialisasi kebijakan dan SPO yang berkaitan dengan hak
pasien da keluarga selama dalam pelayanan oleh tim HPK
4 Membentuk tim handling complain oleh Direktur
5 Pelatihan yang bersertifikasi mengenai komunikasi efektif
bagi seluruh staf rumah sakit dalam pemberian informasi
dan edukasi
6 Pembahasan mengenai daftar tindakan/prosdur dan
pengobatan yang memerlukan informed consent oleh DPJP
7 Melakukan perjanjian kerjasama dengan pemuka lima
agama dalam pemberia pelayanan kerohanian di rumah
sakit
8 Pembuatan alat edukasi hak pasien dan keluarga berupa
banner, leaflet
9 Tim HPK melakukan monitoring evaluasi dokumen-
dokumen elemen hak pasien dan keluarga tiap tiga bulan
10 Melakukan bimbingan akreditasi
11 Sosialisasi perbaikan dokumen HPK
12 Pelaksanaan akreditasi
13 Pengumuman akreditasi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 76


9.4 PLAN OF ACTION AKREDITASI RUMAH SAKIT UMUM MITRA MULIA HUSADA SASARAN KESELAMATAN PASIEN
Tahun 2015 Tahun 2016
No Kegiatan
OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT
1 Membentuk tim SKP oleh Direktur
2 Direktur mendukung enam sasaran keselamatan pasien
dengan mengeluarkan kebijakan dan penandatanganan
SPO
3 Sosialisasi kebijakan dan SPO pemakaian gelang
identifikasi pasien secara berkelanjutan
4 Kepala Ruangan selalu mengevaluasi pemasangan gelang
identifikasi pasien setiap hari
5 Sosialisasi SPO identifikasi sebelum memberikan obat,
darah /produk darah, mengambil darah/ spesimen lainnya,
pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur
6 Sosialisasi kebijakan dan SPO komunikasi efektif secara
lisan via telpon
7 Melakukan dokumentasi mengenai obat-obat yang high
alert minimal mencakup identifikasi, lokasi, pelabelan, dan
penyimpanan obat high alert
8 Sosialisasi SPO Penandaan Lokasi Operasi kepada Tim
Kamar Operasi dan staf keperawatan secara berkelanjutan
9 Sosialisasi SPO penilaian resiko jatuh kepada seluruh
perawat Rawat Jalan, UGD dan Rawat Inap dan
pemasangan gelang resiko jatuh
10 Pendidikan penyuluhan tentang hand hygiene dengan
metode 6 lagkah dan 5 momen
11 Tim SKP melakukan monitoring evaluasi enam sasaran
keselematan pasien tiap bulan
12 Pelaksanaan akreditasi
13 Pengumuman akreditasi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 77


9.5 PLAN OF ACTION AKREDITASI RUMAH SAKIT UMUM MITRA MULIA HUSADA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
INFEKSI
Tahun 2015 Tahun 2016
No Kegiatan
OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT
1 Pembentukan komite PPI dibawah Direktur
2 Membentuk tim PPI dibawah Komite PPI
3 Memiliki tenaga IPCN purna waktu
4 Direktur mendukung budaya hand hygiene dengan
mengeluarkan kebijakan, dengan penandatanganan SPO
5 Memperbaiki infrastruktur dan penyediaan fasilitas
6 Membuat rencana anggaran
7 Sosialisasi hand hygiene terhadap semua karyawan
8 Menyelenggarakan pelatihan pelatihan
9 Memasukkan materi hand hygiene pada SPO edukasi hak
dan kewajiban pasien saat masuk dan pada orientasi
karyawan baru
10 Melakukan monitoring oleh IPCN setiap hari
11 Melakukan survey dan evaluasi setiap 3 bulan oleh Komite
PPI
Dan tiap bulan oleh Tim PPI
12 Memberikan feedback kepada semua unit 3 bulan sekali
13 Membuat stiker tentang cara mencuci tangan yang baik di
tempat dekat wastafel dan didekat handscrub
14 Pendidikan penyuluhan tentang hand hygiene
15 Saling mengingatkan tentang hand hygiene
16 Pelaksanaan akreditasi
17 Pengumuman akreditasi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 78


9.6 PLAN OF ACTION AKREDITASI RUMAH SAKIT UMUM MITRA MULIA HUSADA KUALIFIKASI PEGAWAI STAF

Tahun 2015 Tahun 2016


No Kegiatan
OKT NOV DES JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGU SEP OKT
1 Membentuk tim KPS oleh Direktur
2 Direktur dibantu oleh tim KPS menyusun regulasi pola
ketenagaan rumah sakit
3 Penyusunan tata naskah regulasi rumah sakit, kebijakan,
pedoman dan panduan
4 Penyusunan pedoman pengorganisasian rumah sakit dan
unit kerja
5 Pelatihan Basic Life Support bagi seluruh karyawan rumah
sakit
6 Program pelayanan kesehatan staf rumah sakit
7 Program vaksinasi hepatitis bagi seluruh staf secara
bertahap
8 Penyusunan Program K3 rumah sakit
9 Tim KPS melakukan monitoring evaluasi dokumen-
dokumen kepegawain tiap tiga bulan
10 Pelaksanaan bimbingan akreditasi
11 Pelaksanaan akreditasi
12 Pengumuman akreditasi

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 79


Berdasarkan Undang-undang No.22 tahun 1992 tentang Kesehatan, yang juga
memuat tentang tujuan Pembangunan adalah untuk menjadikannya masyarakat mampu
mencapai derajat kesehatan yang optimal. Dalam rangka untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam hal pelayanan kesehatan, maka PT. Mitra
Mulia Husada telah merencanakan pembangunan Rumah Sakit Umum yang berlokasi di
Bandar Jaya. Pembangunan pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat menjadi lebih sejahtera baik lahir maupun batin. Untuk menjamin terciptanya
kondisi yang demikian , maka faktor kesehatan menjadi prioritas utama dalam kehidupan
sehari-hari.

Dengan adanya Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husadaini akan memberikan
manfaat positif baik secara langsung maupun tidak langsung akan tetapi dilain pihak
disadari bahwa setiap kegiatan di Rumah Sakit ini akan menimbulkan perubahan yang
dapat menurunkan daya dukung dan kualitas lingkungan. Untuk itu pemerintah telah
mencanangkan konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan. Dalam konsep
tersebut ditegaskan bahwa setiap kegiatan/usaha harus selalu memperhatikan aspek
kelestarian lingkungan agar hasil kegiatan/usaha yang dilakukan dapat meningkatkan
kesejahteraan tanpa harus mengorbankan kelestarian lingkungan. Untuk itu Rumah Sakit
Umum Mitra Mulia Husada berkepentingan menyusun suatu rencana kerja kedepan serta
Mengupayakan Pengelolaan manajemen dan Upaya Pemantauan kualiatas SDM agar
hasil kegiatan / usaha yang dilakukan kedepan dapat tercapai maksud dan tujuanya.

9.7 TUJUAN PLAN OF ACTION (POA) RUMAH SAKIT UMUM MITRA


MULIA HUSADA
Memberikan informasi dan sebagai acuan bagi pemilik Rumah Sakit Umum Mitra
Mulia Husada serta staf Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husadadalam upaya
pemenuhan standar untuk persiapan Akredetasi. Agar upaya pemenuhan standar dapat
dilaksanakan secara sistematis dan terarah.
Dapat dijadikan sebagai panduan dalam melakukan pengembangan dan
peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada.

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 80


BAB 10
PENUTUP

Demikian Business Plan ini kami buat yang dapat kami sampaikan sebagai bahan
evaluasi dari pelaksanaan program kesehatan. Mudah-mudahan hasil business plan dan
evaluasi kegiatan ini dapat menjadi dasar acuan untuk perbaikan dan peningkatan
jangkauan dan cakupan pelayanan program pada masa mendatang.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa business plan ini masih banyak kekurangan,
untuk itu kami mengharapkan adanya kritik dan saran guna perbaikan dalam pelaksanaan
Business Plan untuk tahun-tahun berikutnya.
Selanjutnya, kami berharap dalam penyusunan business plan ini dapat
memberikan manfaat kepada kita semua, untuk dapat mengupayakan semaksimal
mungkin agar tujuan Business Plan ini dapat kita wujudkan terutama di Kabupaten
Lampung Tengah.

Bandar Jaya, 30 September 2016

Tim Penyusun Business Plan

Business Plan RSU. Mitra Mulia Husada 81