Anda di halaman 1dari 41

Farmakologi Eksperimental-

Sistem Pernafasan

Farmasi Unjani - 2016

SISTEM PERNAFASAN

SISTEM PERNAFASAN Picture taken from Martini et al , 2012, Fundamentals of Anatomy and Physiology, 9th

Picture taken from Martini et al, 2012, Fundamentals of Anatomy and Physiology, 9th ed., p. 815

ALERGI

Strategi Terapi Alergi

ALERGI Strategi Terapi Alergi
bronkhospasmolitik ASMA Bentuk asma • Asma eksogen alergik (ekstrinsik) • Asma non alergik dengan berbagai

bronkhospasmolitik

ASMA

bronkhospasmolitik ASMA Bentuk asma • Asma eksogen alergik (ekstrinsik) • Asma non alergik dengan berbagai sub

Bentuk asma

Asma eksogen alergik (ekstrinsik)

Asma non alergik dengan berbagai sub kelompok

• Asma non alergik dengan berbagai sub kelompok - asma infark atau asma kriptogenik - asma

- asma infark atau asma kriptogenik

- asma iritasi fisika

- asma toksik zat kimia

STRATEGI TERAPI ASMA

STRATEGI TERAPI ASMA bronkhospasmolitik Strategi terapi: 1) Blokade pembebasan mediator 2) Menangani spasmus

bronkhospasmolitik

STRATEGI TERAPI ASMA bronkhospasmolitik Strategi terapi: 1) Blokade pembebasan mediator 2) Menangani spasmus
STRATEGI TERAPI ASMA bronkhospasmolitik Strategi terapi: 1) Blokade pembebasan mediator 2) Menangani spasmus
STRATEGI TERAPI ASMA bronkhospasmolitik Strategi terapi: 1) Blokade pembebasan mediator 2) Menangani spasmus

Strategi terapi:

1)

Blokade pembebasan mediator

2)

Menangani spasmus bronkhus

3)

(bronkhospasmolitik) Penanganan antiflogisitik (=antiinflamasi)

4)

Memperbaiki pengeluaran dahak

(=antiinflamasi) 4) Memperbaiki pengeluaran dahak Picture is taken from

PEMILIHAN OBAT UNTUK ASMA (2)

PEMILIHAN OBAT UNTUK ASMA (2)

TERAPI SIMPTOMATIK

Blokade pembebasan mediator (1)

Asam kromoglikat

SIMPTOMATIK Blokade pembebasan mediator (1) Asam kromoglikat Merupakan turunan biskromon, untuk terapi jangka panjang

Merupakan turunan biskromon, untuk terapi jangka panjang

Bekerja dengan menstabilkan membran mastosit

Digunakan sebagai profilaksis, tidak untuk terapi asma oleh penderita asma karena alergi dan non alergi

Ketotifen

Bekerja dengan:

- menstabilkan membran mastosit

- Mempunyai efek antihistamin H1

- Diberikan secara oral

ES : mulut kering, lesu dan pusing

dapat meningkatkan efek obat penenang

lesu dan pusing dapat meningkatkan efek obat penenang Picture taken from

TERAPI SIMPTOMATIK

Bronkospasmolitika (1)

Bronkospasmolitika

TERAPI SIMPTOMATIK Bronkospasmolitika (1) Bronkospasmolitika Parasimpatolitik Turunan xanthin Simpatomimetika langsung dan

Parasimpatolitik

Turunan

xanthin

Simpatomimetika langsung dan tak langsung

Antihistamin

ß2 simpatomimetika

Perangsangan reseptor ß2 relaksasi otot bronkus menanggulangi

bronkospasma

Contoh :

adrenalin (isoprenalin)

- biotransformasi cepat, efek singkat

- Pemakaian oral, absorpsinya kecil

- Rangsangan pada ß1 dan ß2 saat bersamaan merangsang jantung dan bronkhus menaikkan frekuensi jantung, volume jantung dan tekanan darah

Sehingga dicari ß2 simpatomimetika yang mempunyai efek samping lebih rendah

salbutamol, terbutalin, fenoterol, prokaterol (Meptin) dan klenbuterol

TERAPI SIMPTOMATIK

Bronkospasmolitika (2)

TERAPI SIMPTOMATIK Bronkospasmolitika (2) ß2 simpa tomimetika….lanjutan Mekanisme kerja: Stimulasi reseptor ß2 di

ß2 simpatomimetika….lanjutan

Mekanisme kerja:

Stimulasi reseptor ß2 di trakchea dan

bronchi, menyebabkan aktivasi dari adenilatsiklase ATP cAMP + energi

adenilatsiklase

Meningkatnya cAMP akan menghasilkan efek melalui enzim fosfokinase, a.l. berfungsi pada bronhkhodilatasi dan penghambatan pelepasan mediator oleh

sel mast

Penggunaan:

Untuk melawan serangan atau sebagai pemeliharaan bersama kortikosteoid

Salbutamol, dan terbutalin, fenoterol

dan heksoprenalin dapat digunakan oleh wanita hamil pada minggu ke-16

dapat digunakan oleh wanita hamil pada minggu ke-16 Picture taken from http://www.rxlist.com/zaditor-drug.htm

TERAPI SIMPTOMATIK

Bronkospasmolitika (3)

ß2 simpatomimetika tidak langsung

Efedrin membebaskan noradrenalin dari granul cadangan di saraf simpatikus

Bekerja lebih lama Pada dosis tinggi menyebabkan takhifilaksis (1-2 mg) setelah penghentian obat akan hilang karena cadangan not adrenalin terisi kembali Contoh: Asmadex

Brondicum

Asmasolon

TERAPI SIMPTOMATIK

Bronkospasmolitika (4)

Turunan xanthin

Senyawa : teofilin aminofilin

(4) Turunan xanthin Senyawa : teofilin aminofilin dosis : oral 2-4 dd 175-350 mg (tablet salut)

dosis : oral 2-4 dd 175-350 mg

(tablet salut)

kolin teofilinat Mekanisme : menekan pembebasan mediator

Indeks terapi kecil Kadar plasma yang baik antara 10-20 μg/mL

Teofilin i.v. serangan asma akut yang berat, dosis 240 mg Untuk profilaksis :

asma akut yang berat, dosis 240 mg Untuk profilaksis : 3-4 dd 125-250 mg (mikro fine)

3-4 dd 125-250 mg (mikro fine) i.v. : 240 480 mg Hati2 pada penderita epilepsi Perhatian jika diberikan i.v dapat menimbulkan kematian

ES : gangguan ssp (gelisah, tidak dapat tidur, nausea, sakit kepala), takhikardia dan takhiritmia, gangguan saluran cerna

Interaksi obat :

-Kadar plasma teofilin meningkat, jika diberikan bersama dengan antibiotika makrolida dan simetidin -Bekerja sinergis dengan ß simpatomimetika

TERAPI SIMPTOMATIK

Bronkospasmolitika (5)

Parasimpatomimetika (Antikholinergik)

Mekanisme kerja:

- Menghambat sekresi bronkhus

- Melumpuhkan epitel penggerak

Diberikan dalam bentuk aerosol Kerjanya 3-5 menit setelah inhalasi, lama kerja 4-6 jam

Pemberian oral

Contoh obat:

Ipatropium bromida (Atrovent), dosis 0,02mg/hisap Oksitropium bromida (Ventilat), dosis 0,1 mg/hisap

: memperkuat diskrim dan memperseulit pengeluaran dahak

Oksitropium bromida (Ventilat), dosis 0,1 mg/hisap : memperkuat diskrim dan memperseulit pengeluaran dahak kerja lokal

kerja lokal

TERAPI SIMPTOMATIK

Bronkospasmolitika (5)

Antihistamin

Tidak mempunyai efek yang cukup pada terapi asma, penggunaannya kombinasi dengan obat lain

Contoh:

1. Ketotifen : Zaditen Memblok reseptor histamin, berdaya menstabilisasi sel mast. Zat ini dikatakan sama efeknya dengan kromoglikat pada profilaksis asma yang bersifat

alergi. Efek nyata setelah 6 minggu. ES : rasa kantuk, mulut kering, pusing Dosis : 1 mg selama 1 minggu (malam hari), kemudian 2 dd 1-2 mg

: 1 mg selama 1 minggu (malam hari), kemudian 2 dd 1-2 mg 2. Oksatomida :

2. Oksatomida : Tinset Memblok reseptor histamin, serotonin, dan leukotrien di otot dan menstabilisasi sel mast. Dianjut=rkan sebagai obat pemelirahaan dan pencegahan asama alergi, rhinitis alergi, urticaria kronis (dari daya anti serotoninya)

Tidak berguna untuk serangan akut.

ES : Rasa kantuk

TERAPI SIMPTOMATIK

Antiflogistik (=Antiinflamasi) (1)

Kortikosteroid

- Kortisol dan turunannya mengurangi pembengkakan mukosa, serta inflitrasi radang

- Meninggikan kepekaan reseptor

ß-

adrenergik terhadap simpatomimetika

ß-

ß- adrenergik terhadap simpatomimetika ß- Dosis tinggi dapat bekerja sebagai bronkhospasmolitik. Obat:

Dosis tinggi dapat bekerja sebagai

bronkhospasmolitik.

Obat:

1. Hidrokortison, Prednisolon, Deksametason, Triamsolon dll Hanya diberikan per oral pada asma parah, yang tidak dapat dikendalikan dengan obat

asma lainnya Untuk menghindari supresi adrenal, terapi singkat, kurang dari 2-3 minggu. Pada status asmaticus, hidrokortison/prednisolon diberikan i.v dosis tinggi memperkuat efek adrenergik teofilin, dan mengurangi sekresi dahak.

ES: gejala Cushing (osteoporosis, moon face, imunopotensi), serta penekanan anak ginjal

Dosis:

- Prednisolon : 25-40 mg (oral), pemeliharaan : 5-10 mg prednisolon slm 48 jam

- Deksametasaon/Betametason : 0,5 mg/hari

TERAPI SIMPTOMATIK

Antiflogistik (=Antiinflamasi) (2)

2. Kortikosteroid inhalasi (beklometason, Budesonide, Flutikason) Pada awal th 90an, obat2 ini dianggap sebagai obat utama pada terapi pemeliharaan asma, karena daya anti radangnya digunakan sebagai obat tambahan pada obat bronkhodilator

Penggunaan:

Secara tracheal (melalui tenggorokan) aerosol Secara nasal (melalui hidung)

ES:

infeksi dengan candida albicans (candidiasis) dan gejalanya adalah suara parau akibat iritasi ternggorokan dan pita suara; iritasi dapat dikurangi dengan berkumur dengan air sesudah inhalasi

Pada inhalasi nasal dapat pula terjadi infeksi candidiasis, bersin, perdarahan dan atropi

mukosa hidung

sebagai profilaksis dan terapi rhinitis alergi

mukosa hidung sebagai profilaksis dan terapi rhinitis alergi Beklometason (dipropionat)  BECOTIDE< BECONOSE

Beklometason (dipropionat) BECOTIDE< BECONOSE

Dosis : tracheal 3-4 dd 2 puff dari 50 mcg (dipropionat)

intranasal 2-4 dd 1 puff disetiap lubang hidung

TERAPI SIMPTOMATIK

Antiflogistik (=Antiinflamasi) (3)

Budesomida PULMICORT, RHINOCORT Efek setelah 10 hari, tetapi efek 2x lebih kuat dari beklometosane (lokal) Dosis : tracheal 2 dd 2 puff dari 200 mcg intranasal 2 dd 1 puff salep/krim 0,25 mg/g

Flukasonea FLIXONASE, FLIXOTIDE, CUTIVAR

Efek setelah 7 hari, daya kerja lebih panjang dari beklometasone dan budesomide

Dosis pemeliharaan asma: 2 dd 100-500 mcg, maks 2 mg/hari anak 4-16 th 2dd 50-100 mcg untuk kulit 0,05% (Cutivar) ES : dosis tinggi 500 mcg/hari, menimbulkan efek sistemik (menghambat pertumbuhan

anak2)

Flunisolide SYNTARIS Inhalasi intranasal

Dosis : rhinitis alergis intranasal 2-3 dd 25-50 mcg

TERAPI SIMPTOMATIK

Expectorant (1)

Expectorant adalah senyawa yang mempermudah atau mempercepat pembuangan sekret bronkhus dari bronkhus trachea

Dibagi : Sekretolitik Simplisia yang mengandung saponin :

- Radyx Polygalae

- Radyx Primulae

Simplisia yang merangsang muntah :

- Radix Ipecac

- Emetic

- Guaicolat (bekerja refelkstoris atau langsung)

Mukolitika Contoh senyawa : bromheksin dan metabolitnya (ambroxol)

asetil sistein

karbosistein

TERAPI SIMPTOMATIK

Zat anti Leukotrien

Pada pasien asma, leukotrien turut menimbulkan bronkhokonstriksi dan sekretimukus maka dikembangkan obat2 baru, yatiu antagonis leukotrien yang bekerja spesifik dan efektif pada terapi pemeliharaan terhadap asma.

Analgetik dan antiinflamasi yang berkerja pada sintesis prostaglandin juga memiliki efek anti leukotrien.

Mekanisme kerja anti leukotrien :

menghambat sinteis leukotrien dengan cara blokade enzym lipoksigenase atau

menginhibisi pelekatan leutrien pada reseptornya (bersifat LTC4/D4 blocker)

Lipoksigenase blocker -Zylenton

-Setirizin

-Lotaradin

-Azelastin

-Ebasti

Leukotrien receptor blocker:

Zafirlukas (ACCOLATE), Pramlukast (ULTAIS), Montelukast (Singulair)

Metode Eksperimen

Eksperimen dilakukan sesuai sarana dan

prasarana yang dimiliki laboratorium

Eksperimen yang dapat difasilitiasi:

Antiasma

Bronkodilator

Mukolitik

Jumlah Eosinofil

Antiinflamasi (di bahas di sistem imunologi)

Antitusif

Eksperimen Bronkodilator

Bronkodilator adalah obat yang dapat

memperlebar luas permukaan bronkus dan bronkiolus pada paru-paru, dan membuat kapasitas serapan oksigen paru-paru meningkat.

Pengujian Bronkodilator dilakukan secara in vivo menggunakan hewan marmut karena selain lebih tenang dibandingkan tikus, marmot dapat lebih

sensitif terhadap reaksi imunologik. Hal ini

berhubungan dengan banyaknya sel basofil dalam

darah dan sel mastosit dalam jaringan yang

sangat berperan dalam reaksi alergi.

Eksperimen Bronkodilator

Pengujian aktivitas bronkodilator dilakukan

berdasarkan pola pernafasan hewan uji dengan menggunakan program Cool Edit Pro 2.0

Output suatu gelombang dan mengkonversikan amplitudo menjadi :

Intensitas dengan satuan decibel (dB) menyatakan kuat lemahnya suara pernafasan hewan yang

berhubungan dengan gejala asma

Frekuensi gelombang suaranya dalam satuan hertz

(Hz) menyatakan jumlah atau adanya sesak nafas

dengan cara perhitungan banyaknya gelombang

dalam 1 detik.

Eksperimen Bronkodilator

Eksperimen Bronkodilator
Eksperimen Bronkodilator

Eksperimen Bronkodilator

Marmot dibagi menjadi 4 kelompok

Kelompok Uji

Bronkodilator Marmot dibagi menjadi 4 kelompok Kelompok Uji Kelompok Pembanding Dosis 37,5mg/kgBB Dosis 75 mg/kgBB
Bronkodilator Marmot dibagi menjadi 4 kelompok Kelompok Uji Kelompok Pembanding Dosis 37,5mg/kgBB Dosis 75 mg/kgBB
Bronkodilator Marmot dibagi menjadi 4 kelompok Kelompok Uji Kelompok Pembanding Dosis 37,5mg/kgBB Dosis 75 mg/kgBB

Kelompok Pembanding

Dosis 37,5mg/kgBB Dosis 75 mg/kgBB Dosis 150mg/kgBB
Dosis 37,5mg/kgBB
Dosis 75 mg/kgBB
Dosis 150mg/kgBB
Dosis 37,5mg/kgBB Dosis 75 mg/kgBB Dosis 150mg/kgBB Dipuasakan selama 18 jam Pemberian peroral suspensi gom arab

Dipuasakan selama 18 jam

Dosis 75 mg/kgBB Dosis 150mg/kgBB Dipuasakan selama 18 jam Pemberian peroral suspensi gom arab 2% Dimasukkan

Pemberian peroral suspensi gom arab 2%

75 mg/kgBB Dosis 150mg/kgBB Dipuasakan selama 18 jam Pemberian peroral suspensi gom arab 2% Dimasukkan ke

Dimasukkan ke dalam wadah uji

Dimasukkan ke dalam wadah uji

Eksperimen Bronkodilator

- Direkam pola pernafasan normal

selama 2 menit

- Di induksi dengan aerosol histamin

dihidroklorida 0,5 % sebanyak 0,4mL

- Direkam kembali pola pernapasannya

selama 5 menit

- Didiamkan selama 30 menit

Pemberian peroral pembanding dan ekstrak uji

- Didiamkan selama 30 menit

Dimasukkan ke dalam wadah uji

- Direkam pola pernafasan normal

selama 2 menit

- Di induksi dengan aerosol histamin

dihidroklorida 0,5 % sebanyak 0,4mL

- Direkam kembali pola pernapasannya

selama 5 menit

Hasil dianalisis statistik dengan SPSS 17.0

Eksperimen Bronkodilator

Hasil

Eksperimen Bronkodilator Hasil a b c d Keterangan : • a = Pola pernafasan marmot yang
a b c d
a
b
c
d

Keterangan :

a = Pola pernafasan marmot yang diberi gom arab 2% tanpa diinduksi

histamin

b = Pola pernafasan marmot yang diberi gom arab 2% + bronkokontriksi-histamin

c = Pola pernafasan marmot yang diberikan obat pembanding atau ekstrak uji tanpa diinduksi histamin

d = Marmot yang diberikan obat pembanding atau ekstrak uji + bronkokontriksi-

histamin

Eksperimen Mukolitik

Mukolitik adalah obat-obat yang bisa membantu

mengencerkan dahak sehingga mudah dikeluarkan

Pengujian Mukolitik dilakukan secara in vitro :

menggunakan mukus usus sapi karena mukus usus sapi mempunyai stuktur yang hampir sama dengan

lendir manusia. Hal ini berhubungan dengan adanya

persenyawaan mukopolisakarida dan glukoprotein.

Menggunakan putih telur senyawa protein dan

kental.

Eksperimen Mukolitik

Mukolitik adalah obat-obat yang bisa membantu

mengencerkan dahak sehingga mudah dikeluarkan

Pengujian Mukolitik dilakukan secara in vitro :

menggunakan mukus usus sapi karena mukus usus sapi mempunyai stuktur yang hampir sama dengan

lendir manusia. Hal ini berhubungan dengan adanya

persenyawaan mukopolisakarida dan glukoprotein.

Menggunakan putih telur senyawa protein dan

kental.

Eksperimen Mukolitik

Eksperimen Mukolitik Pengamatan : Perbandingan viskositas dalam kurun waktu tertentu secara berkala (misal setiap 5 menit)
Eksperimen Mukolitik Pengamatan : Perbandingan viskositas dalam kurun waktu tertentu secara berkala (misal setiap 5 menit)

Pengamatan : Perbandingan viskositas dalam kurun waktu tertentu secara berkala (misal setiap 5 menit)

Eksperimen Mukolitik

Larutan dahak buatan

- Ditambahkan

Eksperimen Mukolitik Larutan dahak buatan - Ditambahkan Kelompok Pembanding Kelompok Kontrol Kelompok Uji (Air Suling)
Kelompok Pembanding Kelompok Kontrol Kelompok Uji (Air Suling) (Asetilsistein 0,2%) Konsentrasi 1,0% Konsentrasi
Kelompok Pembanding
Kelompok Kontrol
Kelompok Uji
(Air Suling)
(Asetilsistein 0,2%)
Konsentrasi 1,0%
Konsentrasi 2,0%
Konsentrasi 0,5%

Diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit

Konsentrasi 0,5% Diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit Diukur viskositas Hasil dianalisis statistik dengan SPSS

Diukur viskositas

Konsentrasi 0,5% Diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit Diukur viskositas Hasil dianalisis statistik dengan SPSS

Hasil dianalisis statistik dengan SPSS 17.0

Eksperimen Jumlah Eosinofil

Penyakit asma dapat timbul akibat gangguan saraf otonom dan

sistem imun.

Adapun gangguan sistem imun ditandai oleh adanya reaksi hipersensitivitas tipe I, yaitu tubuh mengadakan reaksi imun yang berlebihan terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh.

Hasil dari semua gangguan ini dapat berupa bronkokonstriksi, hipersekresi mukus dan peradangan pada bronkus beserta

cabang-cabangnya.

Pada peristiwa radang terjadi infiltrasi atau perekrutan sel-sel radang antara lain berupa eosinofil.

Eosinofil merupakan sel yang dominan jumlahnya pada peristiwa

radang yang berhubungan dengan reaksi alergi (reaksi hipersensitivitas tipe I).

Eksperimen Jumlah Eosinofil

Hewan Percobaan

(Tikus Wistar atau Spargue Dawley jantan)

Aklimatisasi Hewan Percobaan

atau Spargue Dawley jantan) Aklimatisasi Hewan Percobaan Kelompok Kontrol Positif Kelompok Uji Kelompok Kontrol
atau Spargue Dawley jantan) Aklimatisasi Hewan Percobaan Kelompok Kontrol Positif Kelompok Uji Kelompok Kontrol

Kelompok Kontrol

Positif

Aklimatisasi Hewan Percobaan Kelompok Kontrol Positif Kelompok Uji Kelompok Kontrol Negatif Kelompok

Kelompok

Uji

Hewan Percobaan Kelompok Kontrol Positif Kelompok Uji Kelompok Kontrol Negatif Kelompok Pembanding -

Kelompok Kontrol

Negatif

Kontrol Positif Kelompok Uji Kelompok Kontrol Negatif Kelompok Pembanding - Sensitisasi ovalbumin (OVA) secara

Kelompok

Pembanding

- Sensitisasi ovalbumin (OVA)

secara ip pada h-1 dan h-14

- Sensitisasi ovalbumin (OVA)

secara aerosol pada h-21, 23,

25, 27 dan 29.

h-31 hewan dikorbankan

ip pada h-1 dan h-14 - Sensitisasi ovalbumin (OVA) secara aerosol pada h-21, 23, 25, 27
ip pada h-1 dan h-14 - Sensitisasi ovalbumin (OVA) secara aerosol pada h-21, 23, 25, 27
ip pada h-1 dan h-14 - Sensitisasi ovalbumin (OVA) secara aerosol pada h-21, 23, 25, 27

Eksperimen Jumlah Eosinofil

Organ paru diambil

Dibuat preparat histologi dengan

pengecatan Eosin-Methylen Blue

jaringan paru kanan lobus bawah

Hitung jumlah eosinofil

Analisi melalui SPSS

Konsentrasi OVA (ip) h-1 : 1,5 mL larutan OVA dalam Alumunium Hidroksida [Al(OH)3] dari 2,5 mg OVA yang dilarutkan dalam 7,75 ml Al(OH)3.

Konsentrasi OVA (ip) h-14 : 1,5 ml larutan OVA dalam Buffer Fosfat dari 2,5 mg OVA yang

dilarutkan dalam 10 ml BF.

Konsentrasi OVA aerosol : 600 mg OVA dalam 60 ml BF.

Jumlah eosinofil pada tiap preparat jaringan paru dihitung dengan cara menjumlahkan eosinofil yang tampak pada seluruh bagian dari tiga penampang lintang bronkiolus terminalis yang diameternya hampir sama.

Eksperimen JumlahA

Eosinofil

Eksperimen JumlahA Eosinofil Keterangan : • A : Kelompok kontrol negatif • B : Kelompok kontrol

Keterangan :

A : Kelompok kontrol negatif

B : Kelompok kontrol positif

C : Kelompok Uji

Dikutip dari : Maj Kedokt Indon, Volum: 61, Nomor: 3, Maret 2011

Eksperimen Jumlah Eosinofil

Eksperimen Jumlah Eosinofil

Eksperimen Antitusif

Batuk merupakan salah satu mekanisme

pertahanan pada sirkulasi. Gejala ini efektif untuk membersihkan akumulasi sekresi benda asing dari udara.

Adanya iritasi, batuk tidak produktif, khususnya terjadi setelah infeksi virus pada saluran pernafasan atas.

Antitusif adalah obat yang digunakan untuk

mengurangi gejala batuk dengan cara menekan respon batuk. Biasanya digunakan untuk

mengobati batuk kering.

Eksperimen Antitusif

Marmot dibagi menjadi 4 kelompok

Eksperimen Antitusif Marmot dibagi menjadi 4 kelompok Kelompok Pembanding Kelompok Uji Dimasukkan ke dalam wadah uji
Eksperimen Antitusif Marmot dibagi menjadi 4 kelompok Kelompok Pembanding Kelompok Uji Dimasukkan ke dalam wadah uji
Eksperimen Antitusif Marmot dibagi menjadi 4 kelompok Kelompok Pembanding Kelompok Uji Dimasukkan ke dalam wadah uji

Kelompok Pembanding

Kelompok Uji

Dimasukkan ke dalam wadah uji

- Direkam pola pernafasan normal

selama 2 menit

- Di induksi dengan larutan kapsaisin

10 mnt, 0,25 ml/mnt atau 7,5% asam

sitrat dlm air

- Direkam kembali pola pernapasannya

selama 5 menit (data kontrol positif)

- Didiamkan selama 60 menit

Eksperimen Antitusif

Eksperimen Antitusif Diberikan sediaan uji secara oral atau sc - Didiamkan selama 30 menit - Di

Diberikan sediaan uji secara

oral atau sc

- Didiamkan selama 30 menit

- Di induksi kembali dengan larutan

kapsaisin 10 mnt, 0,25 ml/mnt atau

7,5% asam sitrat dlm air

Jumlah batuk selama 10 menit direkam

0,25 ml/mnt atau 7,5% asam sitrat dlm air Jumlah batuk selama 10 menit direkam Hasil dianalisis

Hasil dianalisis statistik dengan SPSS 17.0

Eksperimen Antitusif

Eksperimen Antitusif

Eksperimen Antitusif

Eksperimen Antitusif
Eksperimen Antitusif

Eksperimen Antitusif

Karakter gelombang suara

Eksperimen Antitusif • Karakter gelombang suara http://www.jap.org 8750-7587/98

http://www.jap.org 8750-7587/98

TERIMA KASIH