Anda di halaman 1dari 56

Farmakologi Eksperimental

Darah - Antibiotik
Farmasi Unjani 2016
DARAH
PENDAHULUAN - DARAH
Darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk
45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai
hematokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan yang
berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang lain berupa cairan
kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut
plasma darah.
Korpuskula darah terdiri dari:
Sel darah merah/eritrosit (sekitar 99%)
Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah
merah juga berperan dalam penentuan golongan darah.
Keping-keping darah/trombosit (0,6 - 1,0%)
Trombosit bertanggung jawab dalam proses pembekuan darah.
Sel darah putih/ leukosit (0,2%)
Leukosit bertanggung jawab terhadap sistem imun tubuh dan bertugas
untuk memusnahkan benda-benda yang dianggap asing dan berbahaya
oleh tubuh, misal virus atau bakteri. Leukosit bersifat amuboid atau tidak
memiliki bentuk yang tetap.
PENDAHULUAN - DARAH

Platelet : Platelet adalah potongan kecil dari sebuah sel yang


ditemukan dalam darah yang terlepas dari sel besar yang
ditemukan di sumsum tulang. Platelet membantu menyembuhkan
luka dan mencegah perdarahan dengan membentuk gumpalan
darah. Juga disebut trombosit.
Laju Enap Darah : adalah kecepatan sel2 darah merah mengendap
di dalam tabung uji dengan satuan mm/jam. Uji LED bertujuan
untuk memantau keberadaan radang atau infeksi di dalam tubuh.
Faktor - faktor yang mempengaruhi hasil uji LED adalah kadar fibrinogen, rasio
sel darah merah dibandingkan dengan plasma darah, keadaan sel darah merah
yang abnormal, dan beberapa faktor teknis.
Kadar fibrinogen dalam darah akan meningkat saat terjadi radang atau infeksi
dan menyebabkan sel - sel darah merah lebih mudah
membentuk menggumpal sehingga sel darah merah lebih cepat mengendap.
Laju endap darah cenderung dikaitkan dengan keberadaan radang atau infeksi,
namun dapat juga membantu pemantauan kelainan kekebalan tubuh,
diabetes, tbc, anemia bahkan kanker.
PENDAHULUAN - DARAH

Proses Pembekuan Darah


METODE EKSPERIMENTAL - DARAH

Eksperimen dilakukan sesuai dengan sarana


dan prasarana yang dimiliki laboratorium
Eksperimen yang dapat difasilitasi :
Antitrombositopenia
Laju Enap Darah
Aklimatisasi Hewan Percobaan

Hewan dibagi 8 kelompok, masing-


masing kelompok 5 ekor mencit

Normal Kelompok Uji Kelompok Uji


Kontrol
(Ekstrak Air) (Ekstrak Etanol)
(Hanya diberi Dosis 45 mg/kg bb Dosis 36 mg/kg bb
(Diberi Suspensi
larutan NaCI Dosis 90 mg/kg bb Dosis 72 mg/kg bb
NaCMC 0,5%)
fisiologis 0,9%) Dosis 135 mg/kg bb Dosis 108 mg/kg bb

30 menit kemudian
Diinduksi Larutan Adrenalin
Dosis 0,08 mg/kg bb

Setelah30 menit,
darah mencit diambil
melalui vena ekor.

Uji Laju Endap Darah Uji Hitung Trombosit


(detik) (Trombosit/L darah)

Evaluasi Data
(Independent T-test)
METODE EKSPERIMENTAL - DARAH
Cara Perhitungan Trombosit
Sampel darah diambil dengan
menggunakan mikropipet 5 L, kemudian
dimasukkan ke tabung eppendorf yang
telah diisi 995 L larutan Rees Ecker,
kemudian dicampurkan dengan
menggunakan homogenizer.
Kamar hitung diisi dengan menyentuhkan
ujung mikropipet ke pinggir kaca penutup
sampai terlihat cairan menutup seluruh
sisi sebelah dalam bilik hitung.
Kamar hitung dimasukkan ke dalam
cawan petri tertutup yang telah diberi
alas kapas basah kemudian dibiarkan
selama 20 menit agar trombosit dalam
kamar hitung mengendap.
METODE EKSPERIMENTAL - DARAH
Cara Perhitungan Trombosit (Lanjutan)
Kamar hitung diletakan di bawah mikroskop menggunakan lensa
objektif 10 kali dan lensa okuler 10 kali.
Platelet dihitung pada 5 kotak dari 25 kotak yang ada pada bidang
besar tengah (bagian kanan atas dan kanan bawah, bagian kiri atas
dan kiri bawah serta bagian tengah), yang masing-masing terdiri
dari 16 kotak kecil dengan total luas 1 mm2 dan volume 0,1 mm3.
Arah gerakan menghitung tetap, dimulai dari kotak kiri paling atas
dan berakhir pada kotak kanan paling bawah. Trombosit yang
menyinggung garis batas sebelah kiri dihitung. Sedangkan
trombosit yang menyinggung garis batas sebelah kanan tidak
dihitung.
Perhitungan jml trombosit dalam kamar hitung = jumlah x faktor
koreksi x perbandingan pelarut
Faktor koreksi : 2,5

Jumlah Trombosit = jumlah trombosit dalam kamar hitung x 10000


METODE EKSPERIMENTAL - DARAH

Laju Enap Darah


Kecepatan laju enap darah dihitung ketika terjadinya
luka sampai waktu terbentuknya benang fibrin,
dengan cara ekor mencit dilukai kemudian, darah
dimasukkan ke pipa kapiler sampai terbentuknya
jaring fibrin
METODE EKSPERIMENTAL - DARAH

Pengambilan Kesimpulan
Suatu bahan uji mempunyai aktivitas sebagai
antitrombositopenia dan berbeda bermakna
bila dibandingkan dengan kontrol
Suatu bahan uji dapat meningkatkan laju
enap darah, dan berbeda bermakna bila
dibandingkan dengan kontrol
ANTIBIOTIK
INFEKSI

Infeksi adalah proses invasi dan multiplikasi berbagai


mikroorganisme (seperti bakteri, virus, jamur, dan
parasit) ke dalam tubuh.
Penyakit infeksi dapat disebabkan oleh :
Bakteri : TBC, Tetanus, Diare, Pneumonia, Sifiis
Virus : Influenza, campak, rabies
Jamur : Kurap, kutu air
Parasit : Malaria
INFEKSI

Masuknya agen infeksi melalui :


1. Kontak
Langsung, tidak langsung, droplet
2. Udara
Debu, kulit lepas
3. Alat
Darah, makanan, cairan intra vena
4. Vektor/ serangga
Nyamuk, lalat
BAKTERI YANG UMUM MENGINFEKSI
Mouth Skin/Soft Tissue Bone and Joint
Peptococcus S. aureus S. aureus
Peptostreptococcus S. pyogenes S. epidermidis
Actinomyces S. epidermidis Streptococci
Pasteurella N. gonorrhoeae
Gram-negative rods

Abdomen Urinary Tract Upper Respiratory


E. coli, Proteus E. coli, Proteus S. pneumoniae
Klebsiella Klebsiella H. influenzae
Enterococcus Enterococcus M. catarrhalis
Bacteroides sp. Staph saprophyticus S. pyogenes

Lower Respiratory Lower Respiratory Meningitis


Community Hospital S. pneumoniae
S. pneumoniae K. pneumoniae N. meningitidis
H. influenzae P. aeruginosa H. influenza
K. pneumoniae Enterobacter sp. Group B Strep
Legionella pneumophila Serratia sp. E. coli
Mycoplasma, Chlamydia S. aureus Listeria
INFEKSI

Infeksi bakteri diobati dengan obat yang


disebut antibiotik.

Pengobatan Tergantung pada jenis dan


tingkat keparahan infeksi, serta kesehatan
secara keseluruhan pasien, antibiotik dapat
diminum, dioleskan pada kulit, atau
disuntikkan ke dalam vena.
SIFAT KERJA ANTIBIOTIK

Bakterio statik
menghambat
pertumbuhan bakteri
(penicillin, sefalosforin)
Bakterisida
membunuh bakteri
(tetracyclin, sulfonamida)
Tergantung dari dosis dan kadar dlm serum
obat2 tertentu dpt bersifat bakteriostatik atau
bakterisid
SPEKTRUM KERJA ANTIBIOTIK
Spektrum luas:
sefalosforin dan tetrasiklin efektif terhadap bakteri gram+ (pos) dan Gram
(neg)
Spektrum sempit
melawan satu jenis organisme
penisilin, eritromisin pada bakteri Gram + (pos)
MEKANISME KERJA ANTIBIOTIK
RESISTENSI ANTIBIOTIK

Resistensi antibiotik adalah kondisi ketika suatu strain


bakteri dalam tubuh manusia menjadi resisten(kebal)
terhadap antibiotik.
Resistensi ini berkembang secara alami melalui mutasi
evolusi acak dan jugabisa direkayasa oleh pemakaian
obat antibiotik yang tidak tepat.
RESISTENSI ANTIBIOTIK
Menurut CLSI, 2012 dari konsentrasi hambat minimum (KHM) dan zona
hambatan yang terbentuk pada suatu uji resistensi, suatu bakteri dapat
dikategorikan menjadi :
Kategori sensitif menunjukkan bahwa suatu infeksi bakteri tersebut
mungkin dapat diobati dengan dosis yang direkomendasikan untuk
Sensitif (S) tipe/jenis infeksi dan spesies tsb, jika tidak ada kontraindikasi.
Hal ini berarti bahwa antibiotika masih menunjukkan efektivitasnya
terhadap bakteri tersebut.

Intermediate menunjukkan bahwa bakteri tersebut mulai kurang


Intermediet (I) sensitif terhadap antibiotika yang digunakan.
Antibiotika dapat digunakan hanya pada dosis yang besar.

Bakteri tersebut sudah tidak dapat dihambat/dibunuh oleh antibiotika


Resisten (R) uji, biasanya efektivitas klinik antibiotik sudah hilang/tidak dipercaya
untuk jenis infeksi tersebut.
RESISTENSI ANTIBIOTIK

Interpretasi kriteria kepekaan bakteri

KHM (g/mL) Zona Diameter Hambat


(mm)
Sensitif 4 20

Intermediet 816 1519

Resisten 32 14
METODE EKSPERIMENTAL - ANTIBIOTIK

Eksperimen dilakukan sesuai dengan sarana dan


prasarana yang dimiliki laboratorium
Eksperimen yang dapat difasilitasi :
Pengujian sifat bakteri
Pengujian aktivitas antibiotik in vitro dengan cara :
KHM
Diameter Hambat
Pengujian aktivitas antibiotik in situ
Pengujian aktivitas antibiotik in vivo
Pengujian kombinasi antibiotik
Metode Dilusi Checkerboard
Metode Difusi Pita Kertas
Metode Difusi agar
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO

Pengujian kepekaan bakteri terhadap antibiotik ialah


dengan menentukan kemampuan suatu antibiotik
untuk menghambat pertumbuhan bakteri secara in
vitro.
Pengujian ini dapat dilaksanakan dengan dua metode
(Vandepitte, 2003), antara lain :
Metode difusi agar/cakram kertas diameter zona
hambat
Metode pengenceran agar nilai konsentrasi hambat
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO

Metode Difusi Agar/Cakram Kertas


Ditentukan konsentrasi minimum antibiotik yang masih
menghambat pertumbuhan mikroba tertentu dalam
satuan g/cakram kertas.
Metode ini digunakan untuk membandingkan kepekaan
mikroba terhadap berbagai antibiotik.
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO

Bakteri
ditumbuhkan dalam Ukur kekeruhan
Pembuatan dengan spektro :
media broth
Inokulum Bakteri
selama24 jam pada T 25%, 530 nm
suhu 37C

Antibiotik
Pembuatan dilarutkan dalam Buat beberapa
Larutan Antibiotik pelarutnya konsentrasi uiji
(biasanya aquadest)

sambil
Media agar digoyang, Tuang kedalam
Pembuatan campur dengan cawan petri,
dicairkan, 0,5 mL
Lempeng Agar biarkan
45C suspensi memadat
bakteri
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO
Sterilisasi Alat

Pembuatan Inokulum Bakteri


M C K
Pembuatan larutan antibiotik
E A E berbagai konsentrasi
T K R
Pembuatan lempeng agar
O R T
Pembuatan lubang cakram pada
D A A lempeng agar
E M S
Peletakkan cakram kertas steril pd
tiap lempeng agar

Teteskan 10 l masing-masing konsentrasi


antibiotik pd cakram kertas (duplo)

Ukur diameter hambat (mm) setelah


inkubasi 24 jam, pd 37C
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO

Metode Pengenceran Agar (Mikrodilusi)


Ditentukan konsentrasi antibiotik terendah yang
masih menghambat pertumbuhan daam satuan g
antibiotik per mL medium agar.
Metode ini digunakan untuk menghitung dosis
antibiotik secara klinik dengan dosis 8-10 kali KHM
(g/mL)
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO
Pembuatan Suspensi Bakteri

Inkubasi 24jam,
37C

suspensi bakteri uji diencerkan


dengan MHB hingga menghasilkan
5 mL Suspensi absorban 0,08 - 0,13, 625 nm
MHB (setara dengan 0,5 McFarland)

diencerkan lagi dengan MHB


hingga setara dengan kira-
kira 5x105 CFU/mL (rentang
2-8x105 CFU/mL). (CLSI,2012)
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO
Sterilisasi Alat
M
I Pembuatan Suspensi Bakteri

K Pembuatan larutan antibiotik dgn


M konsentrasi terbesar
R
E Masukkan 100 L media steril
O pada seluruh lubang pelat
T
D
O Masukkan 100 L larutan antibiotik pada lubang pelat
I paling kanan (12A), aduk perlahan hingga homogen
D
L Pipet 100 L larutan dalam lubang
E 12 A, pindahkan ke lubang 11 A
U
S Pengenceran dilakukan hingga ke lubang 3A
I Masukkan 100 L media steril pada seluruh lubang pelat
hingga volume total tiap sumur 200 L.
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO

M
I Pada kontrol negatif (lubang 1A)
diisi 200 L media
K
M Pada kontrol positif (lubang 2A) diisi dengan 100 L media
R dan 100 L suspensi bakteri uji
E
O
T Inkubasi selama 18-24 jam pada
D
O suhu 37C
I
D
L Tentukan KHM
E
U
Pengujian dilakukan triplo
S
I
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO

Metode Pengenceran Agar (Mikrodilusi)


Kontrol - Kontrol + Konsentrasi ekstrak

8 16 32 64 128 256 512 1024 2048 4096 (g/ml)

E
k
s
t
r
a
k

A
n
t
i
b
i
o
t
i
k
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VITRO

(-) (+) 8 16 32 64 128 256 512 1024 2048 4096 g/mL


(a)

Nilai KHM ekstrak etanol rimpang temulawak terhadap (a) K.pneumoniae


PENGUJIAN SIFAT ANTIBIOTIK

Sifat bakterisid dan


bakteriostatik dapat
ditetapkan dengan metode :
- Turbidimetri
- Menghitung jumlah sel
koloni

Mengitung jumlah koloni :


Buat kurva antara log jumlah sel dan
waktu
PENGUJIAN SIFAT ANTIBIOTIK

Metode Turbidimetri
Buat inokulum bakteri dalam media broth, inkubasi pada
37C selama 18-24 jam
Ukur transmitan pada 530 nm, T 25%
Siapkan media broth dalam tabung reaksi masing2 10 mL
sebanyak 6 tabung untuk antibiotik uji dan 6 tabung untuk
kontrol.
Pada masing2 tabung tambahkan 5 tetes (0,25 mL) suspensi
bakteri hingga absorban = 0,06-0,07 inkubasi 30 menit
Ukur absorban pada tabung, tambahkan 0,5 mL antibiotik.
Ukur harga absorban setiap 30 menit
Buat kurva pertumbuhan pada kertas semi logaritmik
PENGUJIAN SIFAT ANTIBIOTIK
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN SITU

Hewan Uji

diinduksi 0,1 mL suspensi


S. aureus intrakutan
Pembuatan
sediaan krim Pemberian sediaan salep
dan salep dan krim uji (30 hr)
ekstrak uji
Tutup kassa steril

Penilaian efek
Pengamatan terhadap
iritasi sediaan
eritema dan udem selama
uji
30 hari

Iritasi primer pd Iritasi okuler pd


punggung kelinci mata kelinci
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN SITU

Sebelum pengujian, dilakukan aklimatisasi kelinci di laboratorium


selama 1 minggu. Kelinci yang hendak diuji dicukur bulunya pada
bagian punggung tanpa merusak kulitnya.
Suspensi bakteri uji berusia 18 24 jam dengan transmitan 25%
disuntikkan secara intrakutan sebanyak 0,1 ml pada kedua sisi
punggung kelinci, kemudian dibiarkn selama 24 jam. Pemberian
sediaan dilakukan setelah 24 jam infeksi.
Pada punggung kelinci sebelah kanan dioleskan sediaan salep dan
krim uji, sedangkan punggung sebelah kiri tidak diberikan sediaan
uji dilakukan sebagai kontrol.
Untuk mencegah terjadinya kontaminasi oleh bakteri lain, lokasi
infeksi ditutup oleh kassa steril.
Selanjutnya dilakukan pengamatan dan pengobatan setiap hari
sampai infeksi sembuh. Pengamatan meliputi berkurangnya infeksi
yang ditandai dengan berkurangnya skor eritema dan skor udem
pada kelinci uji.
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN SITU
Eritema Diameter
0 = tidak ada eritema -
1= eritema sangat ringan 10 mm
1. = eritema ringan 10,01 20,00 mm
Penilaian 2. = eritema sedang 20,01 30,00 mm
Infeksi 3. = eritema parah 30,01 40,00 mm
4. = eritema sangat parah 40,00 mm
Pembentukan Udem Ketebalan
0 = tidak ada udem -
1= udem sangat ringan 0,10 mm
2 = udem ringan 0,11 0,20 mm
2. = udem sedang 0,21 0,30 mm
4 = udem parah 0,31 0,40 mm
5 = udem sangat parah 0,40 mm
Nanah Diameter
0 = tidak ada nanah -
1 = nanah sangat ringan 10 mm
2. = nanah ringan 10,01 20,00 mm
3. = nanah sedang 20,01 30,00 mm
4. = nanah parah 30,01 40,00 mm
5 = nanah sangat parah 40,00 mm
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN SITU
Sebanyak 0,5 g sediaan salep dan krim m/a yang mengandung ekstrak uji dioleskan
pada sisi kanan punggung kelinci, ditutup dengan kassa dan plester hipoalergi.
Punggung kiri sebagai kontrol tidak diberikan sediaan uji. Sediaan dipaparkan
selama 4 jam, kemudiang punggung dibersihkan.
Pengamatan dilakukan setelah 1, 24, 48 dan 72 jam setelah sediaan uji dihilangkan
dari kulit. Eritema Pembentukan Udem
0 = tidak ada eritema 0 = tidak ada udem
1= eritema sangat ringan 1= udem sangat ringan (hampir
(hampir tidak nampak) tidak nampak)
Penilaian 2. = eritema ringan (nampak 2 = udem ringan (area tepi
jelas) mengalami penebalan yg jelas)
Iritasi Kulit
3. = eritema sedang 3 = udem sedang (penebalan
4. = eritema parah (merah- 1 mm)
ungu sampai membentuk 4 = udem parah (penebalan 1
lesi/luka dalam) mm dan meluas sampai ke luar
daerah paparan zat)
Skor iritasi primer total yang mungkin = 8; Keterangan : Skor indeks iritasi primer (IIP); 0 = tidak
mengiritasi; 0-2 = iritasi ringan; 2-5 = iritasi sedang; 5-8 = iritasi parah
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN SITU
Parameter Nilai Skor
Nilai kornea Tidak ada ulserasi atau kekeruhan 0
Penilaian Area kekeruhan tersebar dan iris terlihat jelas 1
Iritasi Area yg tembus cahaya mudah terlihat,bagian iris sedikit gelap 2
Okuler Area keruh, iris tidak terlihat jelas, ukuran pupil sedikit yg terlihat 3
Kornea kerus, iris tidak terlihat 4
Nilai iris Normal 0
Melipat melebihi normal,bengkak,iris msih bereaksi dengan cahaya 1
Tidak bereaksi dengan cahaya, terjadi pendarahan 2
Nilai Normal 0
konjungtiva Beberapa pembuluh darah mengalami peningkatan aliran darah 1
Lebih besar, berwarna merah, pembuluh darah tdk mudah terlihat 2
Warna merah semakin tersebar 3
Kemosis Normal 0
Sedikit pembengkakan 1
Pembengkakakn jelas, sebagian kelopak menutup 2
Bengkak, bagian kelopak menutup 3
Bengkak, lebih dari bagian kelopak menutup 4
Keterangan : Skor indeks iritasi okuler (IIO); 0 = tidak mengiritasi; 0-4 = iritasi ringan; 4-8 = iritasi
sedang; 8-13= iritasi parah
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VIVO
Pengujian Antidiare
Normal Kontrol Uji

Pengambilan 1 gram feses pada t0

Inokulasikan feses pada media MCA (Mac Conkey


Agar) pada pengenceran 106

Pada kelompok kontrol dan kelompok uji diberi suspensi bakteri


E coli dengan transmitan 40% po sebanyak 0,1 ml
Diamkan 5 menit

Diberi sediaan sesuai kelompok

Mencit ditempatkan di dalam bejana individual

Pengamatan dilakukan setiap hari selama 5 hari


setelah hewan uji diinduksi oleh E coli.
Parameter yang diamati adalah jumlah koloni E coli yang tumbuh pada
media MCA.
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VIVO
Pengujian Antitipus dengan induksi Salmonella
typhimurium

Contoh pembagian kelompok antitipus, dengan obat uji


adalah probiotik
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBIOTIK IN VIVO
Perbedaan dengan prosedur antidiare :
Konsentrasi S. typhimurium adalah 108
Waktu pengamatan dan waktu pemberian obat
Parameter yang diamati :
Bobot badan harian
Konsistensi dan warna feses harian
Suhu tubuh harian
Konsentrasi IgA dideterminasi menggunaan kit ELISA
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK

Pengujian dilakukan secara in vitro


Dapat digunakan dengan metode sbb :
Dilusi Checkerboard
Difusi Pita Kertas
Difusi agar
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK

Metode Papan Catur (Checkerboard)


Menentukan sifat interaksi kombinasi ekstrak uji terhadap
mikroba uji dengan menggunakan parameter Fraksi
Konsentrasi Inhibisi (FKI).
FKI merupakan penjumlahan dari FKI antibiotik a (FKI-a)
dengan antibiotik b (FKI-b).
FKI-a = KHM a dalam kombinasi dengan B/ KHM a sendiri
FKI-b = KHM b dalam kombinasi dengan A/ KHM b sendiri
Kesimpulan dari sifat kombinasi :
sinergis diperoleh bila nilai FKI kurang dari 1,
aditif diperoleh bila nilai FKI sama dengan 1 dan
antagonis diperoleh bila nilai FKI lebih dari 1.
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK

Pola kombinasi
ekstrak etanol daun
rosemary dengan
ampisiln terhadap
K.pneumoniae
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK

Dugaan Sifat Kombinasi Antimikroba dengan metode Checkerboard

Aditif

Sinergis

Antagonis
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK
Metode Difusi agar (Cakram Kertas)
Melihat KHM antibiotik dari pustaka/percobaan
penentuan aktivitas antibiotik
Buat kombinasi konsentrasi antibiotik seperti berikut
dengan volume penetesan tiap cakram kertas 10 L :
KHM antibiotik a + KHM antibiotik B
KHM antibiotik a + KHM antibiotik B
KHM antibiotik a + KHM antibiotik B
KHM antibiotik a + KHM antibiotik B
Teteskan masing-masing antibiotik pada agar yg
mengandung bakteri uji biarkan 30 mnt inkubasi
selama 24 jam.
Lihat polannya
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK

Metode Pita Kertas


Siapkan larutan agar yang mengandung bakteri uji dalam
cawan petri
Celupkan pita kertas steril dalam larutan antibiotik a dan
tempelkan pada lempeng agar
Celupkan pita kertas steril dalam larutan b dan
tempelkan menyilang pada pita kertas pertama.
Inkubasi selama 18-24 jam dengan suhu 37C
Amati bentuk hambatan
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK
PENGUJIAN KOMBINASI ANTIBIOTIK