Anda di halaman 1dari 17

Sistem Pencernaan

Puspa Sari Dewi


Antidispepsi
Sindrom dispepsia adalah suatu kumpulan
gejala dari berbagai penyakit yang
diakibatkan oleh kelainan fungsi dan
anatomik organ-organ di sistem
pencernaan.
Manifestasi dispepsia adalah gangguan
pencernaan antara lain mual, vomitus,
kembung, disfagia, diare/konstipasi, nyeri
daerah perut, dll
Dispepsi yang Disebabkan
Hiperklorhidria (1)
Prinsip : Sekresi asam lambung distimulasi
dengan pemberian suntikan histamin secara iv
pada tikus yang pilorusnya terikat dan
dipuasakan sebelumnya selama 48 jam. Obat
antagonis histamin dan obat lain yang dapat
menekan sekresi asam lambung yang diberikan
sebelum histamin dapat mengurangi sekresi
asam lambung yang berlebihan
Dispepsi yang Disebabkan
Hiperklorhidria (2)
Hewan percobaan : tikus dewasa 180 g,
jantan/betina
Bahan : sediaan uji, histamin,
pembanding, pembawa, air suling,
anastetik
Alat : timbangan, alat bedah, benang
bedah, alat sentrifuge, pH meter, spuit,
jarum jahit, lampu duduk
Hewan percobaan dipuasakan 48 jam

Ditimbang, dikelompokkan secara acak, min 15/kelp

T=0, semua hewan diberi perlakuan sesuai kelompoknya, kemudian


diinduksi histamin 0,12 g/100 g bb (iv)

T=30, Hewan dibius, daerah pilorus dipaparkan dan diikat

Tikus dikorbankan tiap 1 jam selama 5 jam. Periksa volume dan pH isi
lambung.

Analisis Data

Catatan :
Parameter : % pengurangan sekresi asam lambung tiap jam dan
dibandingkan thd kontrol
Antidiare
Diare adalah suatu keadaan dimana frekuensi
defekasi melebihi frekuensi normal dengan
konsistensi feses yang encer.
Sifat : akut dan kronis
Protokol penapisan terbatas pada aktivitas obat
yang dapat memperlambat peristaltik usus.
Metode : proteksi diare karena ol. Ricini dan
transit intestinal
Metode Proteksi Terhadap Diare Oleh
Oleum Ricini
Prinsip : TAG dari asam risinoleat yang merupakan
kandungan utama dari Ol. Ricini akan mengalami
hidrolisis di dalam usus halus oleh lipase pankreas
menjadi gliserin dan asam risinoleat. Sebagai surfaktan
anionik, zat ini bekerja mengurangi absorpsi netto cairan
dan elektrolit serta menstimulasi peristaltik usus.
Hewan percobaan : mencit 20-25 g
Bahan : zat pembawa, zat pembanding, zat uji, kertas
saring, ol. Ricini
Alat : timbangan, bejana pengamatan, spuit, sonde,
batang pengaduk
Hewan percobaan dipuasakan 1 jam

Ditimbang, dikelompokkan secara acak

T=0, semua hewan diberi perlakuan

T=60, semua hewan diinduksi ol. Ricini 0,75 ml

Mengamati respon tiap mencit selang 30 sampai 4 jam, kemudian selang


1 jam sampai 6 jam

Analisis Data

Catatan :
Parameter : onset diare, frekuensi diare, konsistensi feses, jumlah/bobot
feses, durasi diare
Metode Transit Intestinal
Prinsip : berdasarkan pengaruh obat pada rasio
jarak usus yang ditempuh oleh suatu marker
dalam waktu tertentu thd panjang usus
keseluruhan pada hewan percobaan
Hewan percobaan : mencit 20-25 g atau tikus
150 g
Bahan : zat pembawa, obat pembanding,
marker, kertas saring
Alat : kandang, alat pengukur jarak, alat bedah,
spuit dan sonde oral
Hewan percobaan dipuasakan 18 jam

Ditimbang, dikelompokkan secara acak

T=0, semua hewan diberi perlakuan

T=45 (po) atau T=15 (sc), semua hewan diberi marker

T=65 (po) atau T=35 (sc), semua hewan dikorbankan, usus dikeluarkan
dan diukur

Analisis Data

Catatan :
Bila obat yang diuji mempunyai aktivitas antidiare, maka nilai rasionya akan
lebih kecil bila dibandingkan dengan kelp kontrol
Laksansia
Laksansia adalah obat yang digunakan
untuk meningkatkan defekasi
Metode : transit intestinal dan pengamatan
pola defekasi
Metode Transit Intestinal
Prinsip : Senyawa aktif yang bekerja sebagai
laksansia dapat meningkatkan laju lintas usus
yang dinilai menggunakan suatu marker
Hewan percobaan : tikus 150 g atau mencit 20-
25 g
Bahan : zat uji, pembanding, pembawa, marker,
kertas saring
Alat : kandang, pengukur jarak, alat bedah,
spuit dan sonde
Prosedur
Dilakukan seperti pada protokol penapisan
terarah aktivitas antidiare
Sediaan uji yang bekerja sebagai
laksansia akan mempercepat secara
bermakna lintas usus dibanding terhadap
hewan kontrol
Pengamatan Pola Defekasi
Prinsip : sediaan uji yang berkhasiat sebagai
laksansia akan merubah pola defekasi hewan
percobaan yaitu meningkatkan frekuensi
defekasi, merubah konsistensi feses menjadi
lembek, menambah massa feses yang
dikeluarkan.
Bahan : pembawa, pembanding, kertas saring,
penginduksi (jika perlu)
Alat : timbangan, kandang individual
Hewan percobaan dipuasakan 1 jam

Ditimbang, dikelompokkan secara acak

T=0, semua hewan diberi perlakuan

T=60, semua hewan diinduksi ekstrak gambir / tidak diinduksi

Mengamati respon tiap mencit selang 30 sampai 4 jam, kemudian selang


1 jam sampai 6 jam

Analisis Data

Catatan :
Parameter : onset diare, frekuensi diare, konsistensi feses, jumlah/bobot
feses, durasi diare