Anda di halaman 1dari 27
S ISTEM S ARAF Puspa Sari Dewi

SISTEM SARAF

Puspa Sari Dewi

SSP

Otak adalah organ yang sangat sensitif. Organ tersebut mengontrol sensasi, emosi, memori, dan proses fisiologi tubuh termasuk bernafas dan sirkulasi.

Otak adalah pusat sistem saraf pada vertebrata dan banyak invertebrata lainnya

Otak mengatur dan mengkoordinasi sebagian besar gerakan, perilaku dan homeostasis tubuh seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh.

Otak terbentuk dari 2 jenis sel : neuron dan glia.

jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh.  Otak terbentuk dari 2 jenis sel

SSP sangat peka terhadap obat-obatan.

Sawar darah otak adalah sebuah antar muka yang memisahkan serebrospinal dengan pembuluh darah. Antarmuka tersebut merupakan sel endotelial yang saling mengikat begitu erat dengan ikatan dimer dan mempunyai transporter seperti occludin, claudins, junctional adhesion molecule (JAM) yang dihubungkan oleh suatu kompleks protein.

Kemampuan obat menembus sawar darah otak tergantung pada kelarutan bentuk nonion dalam lemak

Obat-obat yang bekerja terhadap SSP ada yang menstimulasi dan ada pula yang mendepresi SSP

bentuk nonion dalam lemak  Obat-obat yang bekerja terhadap SSP ada yang menstimulasi dan ada pula

FARMAKOLOGI EKSPERIMENTAL SS

Psikotropik dan neurotropik : sedatif, antikonvulsi

Mempengaruhi daya ingat/memori :

ketergantungan obat

Mempengaruhi sistem saraf perifer : anastesi

Analgetik, Antipiretik, antiinflamasi

Siegmund Test

obat  Mempengaruhi sistem saraf perifer : anastesi  Analgetik, Antipiretik, antiinflamasi  Siegmund Test

CONTOH :

Metode ketergantungan obat (Stephanie-Tesis S2 ITB)

Antikonvulsi (Serli W-skripsi S1 Unjani)

Sedatif (Mutia-skripsi S1 Unjani)

Analgetik

S2 ITB)  Antikonvulsi (Serli W-skripsi S1 Unjani)  Sedatif (Mutia-skripsi S1 Unjani)  Analgetik

KETERGANTUNGAN OBAT

Kelainan/gangguan kronis, kambuhan Terdapat perilaku pencarian-obat dan konsumsi-obat yang persisten Tidak memperdulikan efek negatif yang menyertainya

Terdapat perilaku pencarian-obat dan konsumsi-obat yang persisten  Tidak memperdulikan efek negatif yang menyertainya

MEKANISME KETERGANTUNGAN OBAT

M EKANISME K ETERGANTUNGAN O BAT (Tomkins, 2001)
M EKANISME K ETERGANTUNGAN O BAT (Tomkins, 2001)

(Tomkins, 2001)

JALUR ASAM ARAKIDONAT

J ALUR A SAM A RAKIDONAT

KETERLIBATAN JALUR ASAM ARAKIDONAT PADA KETERGANTUNGAN OBAT

THC meningkatkan PGE2 di otak (Hunter, 1991; Bhattacharya, 1986)

PGE2 mengurangi reaksi putus obat yang disebabkan antagonis pada mencit ketagihan THC (Anggadiredja,

2003).

Pemberian inhibitor COX mengurangi kembalinya perilaku pencarian METH (Anggadiredja, 2004)

THC dan anandamide menginduksi stimulasi asam

arakidonat (Reichman, 1988; Hunter, 1997). Keterlibatan jalur asam arakidonat pada efek reward obat- obat yang menyebabkan ketergantungan (tinjauan:

Yamamoto, 2004) Inhibitor COX mengurangi efek reward nikotin pada mencit dengan menggunakan metode CPP (hasil TA)

Yamamoto, 2004) Inhibitor COX mengurangi efek reward nikotin pada mencit dengan menggunakan metode CPP (hasil TA)

CONDITIONED PLACE PREFERENCE

C ONDITIONED P LACE P REFERENCE (Le Foll, 2005) • Mempelajari efek reward obat adiktif •

(Le Foll, 2005)

Mempelajari efek reward obat adiktif

Berlatih mengasosiasikan injeksi obat dengan kompartemen tertentu

Menyukai kompartemen

dipasangankan obat CPP

Menghindari kompartemen

dipasangankan obat CPA

tertentu • Menyukai kompartemen dipasangankan obat  CPP • Menghindari kompartemen dipasangankan obat  CPA

ALAT CPP

A LAT CPP

PLACE CONDITIONING

Hari 1- Hari 4 • Mencit menerima kondisi obat atau saline (counter- balanced order) •
Hari 1- Hari 4
• Mencit menerima kondisi
obat atau saline (counter-
balanced order)
• Segera ditempatkan pada
salah satu kompartemen
selama 30’
• Beberapa jam kemudian:
kondisi alternatif
Hari 5 • Uji preferensi setelah pengkondisian
Hari 5
• Uji preferensi
setelah
pengkondisian

KONDISI ALTERNATIF

Pagi
Pagi
Siang
Siang

Obat

K ONDISI A LTERNATIF Pagi Siang Obat Saline Saline Obat

Saline

Saline

K ONDISI A LTERNATIF Pagi Siang Obat Saline Saline Obat

Obat

K ONDISI A LTERNATIF Pagi Siang Obat Saline Saline Obat

PARAMETER

Nilai Preference = waktu tinggal pada kompartemen dipasangankan obat

waktu tinggal pada kompartemen dipasangankan obat serta kompartemen dipasangankan saline

kompartemen dipasangankan obat waktu tinggal pada kompartemen dipasangankan obat serta kompartemen dipasangankan saline

SELF-ADMINISTRATION

S ELF -A DMINISTRATION (Le Foll, 2005)  Berlatih menekan tuas untuk mendapatkan sejumlah obat yang

(Le Foll, 2005)

Berlatih menekan tuas untuk mendapatkan sejumlah obat yang diinjeksikan melalui kateter

Obat adiktif dapat meningkatkan jumlah dan frekuensi penekanan tuas

sejumlah obat yang diinjeksikan melalui kateter  Obat adiktif dapat meningkatkan jumlah dan frekuensi penekanan tuas

TIPE DASAR

Continuous or direct

Subjek menerima obat uji tetapi sebelumnya belum pernah menerima obat uji tersebut atau senyawa standar

Substitution

Diberi obat yang telah diketahui memberikan efek reinforce kemudian diganti dengan senyawa uji dan dibandingkan dengan standar (kontrol positif) dan pembawa (kontrol negatif)

kemudian diganti dengan senyawa uji dan dibandingkan dengan standar (kontrol positif) dan pembawa (kontrol negatif)

OPERASI

Operasi dilakukan untuk memasang kateter yang digunakan untuk menyampaikan obat.

Kateter ditanamkan di vena jugular (vena leher, membawa darah ke otak) atau vena superfisial lain

Hewan diistirahatkan beberapa hari sebelum latihan dimulai

Setidaknya 2x seminggu kateter dibilas dengan saline atau air steril dan diisi dengan larutan heparin

Ketika tidak dipakai, kateter bisa ditutup dengan katup (misal dari besi) untuk mencegah kontaminasi

larutan heparin  Ketika tidak dipakai, kateter bisa ditutup dengan katup (misal dari besi) untuk mencegah

LATIHAN

Sebelum pengujian, hewan dilatih untuk dapat menekan tuas agar dapat memperoleh makanan atau saline atau obat uji. Ketika sudah mencapai kriteria tertentu, percobaan menggunakan obat uji atau senyawa lain dilakukan

Fixed-Ratio

Jumlah penekanan tuas yang diperlukan untuk memperoleh obat merupakan suatu nilai tertentu yang tetap

Progressive-Ratio

Jumlah penekanan tuas yang diperlukan untuk memperoleh obat meningkat secara bertahap setelah hewan menerima obat

 Jumlah penekanan tuas yang diperlukan untuk memperoleh obat meningkat secara bertahap setelah hewan menerima obat

PARAMETER

Jumlah atau frekuensi penekanan tuas

Antagonis obat adiktif dapat mengurangi angka atau frekuensi penekanan tuas

Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil pengujian (cth. adanya cahaya lampu atau suara ketika obat diberikan)

tuas  Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil pengujian (cth. adanya cahaya lampu atau suara ketika obat

ANALGETIK ???

ANALGETIK ???

DAFTAR PUSTAKA

Anggadiredja, K., T. Yamaguchi, H. Tanaka, Y. Shoyama, S. Watanabe, T.

Yamamoto, 2003, Prostaglandin E2 Attenuates SR141716A-Precipitated Withdrawal in Tetrahydrocannabinol-Dependent Mice, Brain Res, 966, 47-

53.

Anggadiredja, K., M. Nakamichi, T. Hiranita, H. Tanaka, Y. Shoyama, S. Watanabe and T. Yamamoto, 2004, Endocannabinoid System Modulates Relapse to Methamphetamine Seeking: Possible Mediation by the Arachidonic Acid Cascade, Neuropsychopharmacology, 29(8), 1470-1478.

Balster, R. L. and S. E. Lukas, 1985, Review of Self-Administration, Drug Alcohol Depend, 14, 249-261.

Bhattacharya, S. K., 1986, Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) increases brain prostaglandin in the rat, Psychopharmacology, 90(4), 499-502.

Buccafusco, J. J. (ed.), 2001, Methods of Behavior Analysis in Neuroscience, CRC Press, Boca Raton, 81-110.

Cami, J., M. Farre, 2003, Drug Addiction, N Eng J Med, 349(10), 975-986.

Hunter, S. A., C. A. Audette, S. H. Burnstein, 1991, Elevation of Brain Prostaglandin E2 Level in Rodents by Delta 1-Tetrahydrocannabinol, Prostaglandins Leukot Essent Fatty Acids, 43(3), 185-190.

E2 Level in Rodents by Delta 1-Tetrahydrocannabinol, Prostaglandins Leukot Essent Fatty Acids , 43(3), 185-190.

DAFTAR PUSTAKA

Hunter, S. A., S. H. Burnstein, 1997, Receptor Mediation in Cannabinoid Stimulated Arachidonic Acid Mobilization and Anandamide Stimulation, Life Sci, 60(18), 1563-1573.

Le Foll, B., S. R. Goldberg, 2005, Cannabinoid CB1 Receptor Antagonists as Promising New Medications for Drug Dependence, J Pharmacol Exp Ther, 312(3), 875-883.

Reichman, M., W. Nen, L. E. Hokin, 1988, Δ9-Tetrahydrocannabinol Increases Arachidonic Acid Levels in Guinea Pig Cerebral Cortex Slices, Mol Pharmacol, 34(6), 823–828.

Tomkins, D. M., E. M. Sellers, 2001, Addiction and the Brain: The Role of Neurotransmitters in the Cause and Treatment of Drug Dependence, CMAJ, 164(6), 817-821.

Tzschentke, T. M., 1998, Measuring Reward with the Conditioned Place Preference Paradigm: A Comprehensive Review of Drug Effects, Recent Progress and New Issues, Prog Neurobiol, 56(6), 613-672.

Van Ree, J. M., M. A. F. M. Gerrits and L. J. M. J. Vanderschuren, 1999, Opioids, Reward and Addiction: An Encounter of Biology, Psychology and Medicine, Pharmacol Rev, 51(2), 342-384.

Yamamoto, T., K. Anggadiredja and T. Hiranita, 2004, New Perspectives in the Studies on Endocannabinoid and Cannabis: A Role for the Endocannabinoid- Arachidonic Acid Pathway in Drug Reward and Long-Lasting Relapse to Drug Taking, J Pharmacol Sci, 96(4), 382-388.

Arachidonic Acid Pathway in Drug Reward and Long-Lasting Relapse to Drug Taking, J Pharmacol Sci, 96(4),