Anda di halaman 1dari 8

Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar

Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. KESIMPULAN
Dalam penelitian ini, peran ruang terbuka hijau dibagi menjadi
fungsi utama dan fungsi tambahan. Fungsi utama terkait dengan fungsi
ekologis, sedangkan fungsi tambahan terkait dengan fungsi sosial
budaya, ekonomi dan estetika.
Efektifitas suatu ruang terbuka hijau publik dapat dilihat dari dua
aspek, diantaranya meliputi fisik dan non fisik. Kriteria fisik berkaitan
dengan kondisi nyata yang ada saat ini, seperti ukuran, kelengkapan
sarana pendukung, desain dan kondisi. Sedangkan kondisi non fisik
seperti kenyamanan, keamanan dan keselamatan serta kemudahan.
1. Peran Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Karanganyar
a. Fungsi Utama (Fungsi Ekologis)
Lebih dari 70% ruang terbuka hijau publik di Kota
Karanganyar sudah mampu memberikan fungsi ekologis ini.
Hanya pada taman makam pahlawan saja yang belum dapat
memberikan fungsi ini, dikarenakan pada makam pahlawan
sebagian besar di paving, dan tidak terdapat tanaman besar yang
dapat berfungsi sebagai peneduh.
b. Fungsi Tambahan
1) Fungsi Sosial dan Budaya
Fungsi sosial dan budaya berkaitan dengan fungsi ruang
terbuka hijau publik sebagai media pembelajaran atau
penelitian dan media untuk bersosialisasi. Fungsi ini dimiliki
pada lapangan olahraga, taman kota serta TPBU yang
terdapat di Kota Karanganyar, yaitu Taman MemoriaL dan
Taman Makam Pahlawan.
2) Fungsi Ekonomi
Berkaitan dengan nilai ekonomi yang diberikan kepada
masyarakat, seperti misalnya daun-daunan, rumput maupun

105
Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar
Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

ranting pohon. Sejauh ini masyarakat di Kota Karanganyar


baru sedikit yang memanfaatkan hasil kayu-kayuan untuk
dijual. Akan tetapi pada Taman Pancasila, lokasi ini saat ini
sudah menjadi pusat pedagang kaki lima di waktu sore hari.
Sehingga sampai saat ini, baru Taman Pancasila dan hutan
kota saja yang mampu berperan sebagai fungsi ekonomi bagi
masyarakat di kota tersebut.
3) Fungsi Estetika
Nilai estetika berkaitan dengan nilai keindahan dan
kenyamanan yang diberikan ruang terbuka hijau publik.
Nilai estetika ini dimiliki pada taman kota, sebagian hutan
kota dan sebagian lapangan olahraga di Kota Karanganyar,
diantaranya Alun-alun Kabupaten Karanganyar, stadion 45
dan Lapangan Utara DPRD Kabupaten Karanganyar.

2. Efektifitas Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Karanganyar


a. Aspek Fisik
1) Persentase Hijau
Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa persentase
hijau ruang terbuka publik di Kota Karanganyar masih
kurang dari ketetapan yang ada dalam UU no.26 tahun 2007,
yaitu kurang dari 20 % dari luas kota. Begitu juga persentase
hijau masing-masing lokasi ruang terbuka hijau publik juga
menunjukkan bahwa lebih dari 50 % lokasi ruang terbuka
hijau publik di Kota Karanganyar masih kurang dan masih
memerlukan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas.
2) Ukuran
Ukuran luasan ruang terbuka hijau publik yang baik yitu
dengan mengacu pada SNI dan Permen PU no.63 tahun
1993. Luas taman kota di Kota Karanganyar sudah
memenuhi ketentuan luasan yang ditetapkan dalam SNI
tersebut yaitu 26.750 m2. Sedangkan pada lapangan

106
Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar
Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

olahraga masih memerlukan tindakan perluasan atau


penambahan jumlah lapangan baru dikarenakan masih
kurang dari proporsi yang telah ditetapkan.
Untuk pemakaman sudah mencukupi kebutuhan
penduduk di Kota Karanganyar sedangkan pada sempadan
masih kurang dikarenakan masih kurang dari 5 meter.
Sedangkan ukuran untuk pedestrian ways juga masih kurang
dikarenakan hanya memiliki luas sekitar 1-1,5 meter saja.
3) Kelengkapan Sarana Elemen Pendukung
Hampir secara keseluruhan, sarana elemen pendukung
yang ada pada ruang terbuka hijau publik di Kota
Karanganyar masih kurang. Masih cukup banyak lokasi
ruang terbuka hijau yang tidak memiliki sarana tertentu,
seperti misalnya tempat duduk, MCK, area parkir dan
tempat pembuangan sampah.
4) Desain
Pada umumnya taman kota yang baik mampu
menampung berbagai aktivitas pengunjungnya. Akan tetapi
pada taman kota yang terdapat di Kota Karanganyar, ruang
untuk menampung kegiatan serta aktivitas pengunjung
masih kurang. Seperti tidak adanya ruang parkir, tempat
duduk untuk bersantai terbatas bahkan ada yang tidak ada
serta area taman bermain juga belum ada. Bahkan diwaktu
sore hari, kondisi disekitar Taman Pancasila terlihat
semrawut akibat aktivitas berlebih yang tidak diimbangi
dengan perencanaan ruang yang baik dan efisien, karena
desain yang baik akan dapat mendukung fungsi serta
aktivitas didalamnya.
5) Kondisi fisik
Kondisi ruang terbuka hijau publik di Kota Karanganyar
sebenarnya kurang baik. Ini ditunjukkan dari banyaknya
kondisi masing-masing lokasi ruang terbuka hijau publik

107
Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar
Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

yang gundul atau tandus. Bahkan pada saat musim hujan air
menggenang dan becek.

b. Aspek Non Fisik


1) Kenyamanan (comfort)
Taman kota di Kota Karanganyar berada di pusat kota
dan dilintasi Jalan Lawu lebih ramai jika dibanding jenis
ruang terbuka hijau publik lain yang berada di pinggir kota
dan berlokasi jauh dari pusat keramaian. Selain itu juga
kebiasaan masyarakat atau pengunjung disekitar lokasi juga
ikut memperngaruhi kenyamanan. Kebiasaan buruk atau
negatif akan membuat pengunjung merasa tidak tenang dan
tidak ingin berlama-lama berada di lokasi tersebut.
2) Keamanan dan keselamatan ( safety and security )
Tingkat keamanan dan keselamatan di Kota
Karanganyar masih cukup terjamin dengan masih
rendahnya angka kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas.
Ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi
tindak kriminalitas, seperti misalnya menugaskan satuan
kepolisian untuk berjaga di depan Rumah Dinas Bupati yaitu
tepat berada didepan Taman Pancasila. Selain itu juga ada
patroli oleh pihak kepolisian keliling kota untuk
mengantisipasi tindakan kriminalitas.
3) Kemudahan ( accessibility )
Kemudahan akses menuju ruang terbuka hijau publik
ditunjang dari moda transportasi serta kondisi prasarana
jalan. Tingkat aksesibilitas yang paling tinggi berada di pusat
kota, yaitu meliputi Kelurahan Cangakan, Karanganyar,
Bejen dan Tegalgede karena memiliki akses transportasi
yang lebih lengkap dan fleksibel jika dibanding kelurahan
yang lain.

108
Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar
Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

Jika dilihat dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ruang


terbuka hijau publik di Kota Karanganyar belum dapat berperan
dengan maksimal dalam memberikan perannya terhadap masyarakat di
kota tersebut. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya lokasi ruang
terbuka hijau publik yang kondisinya memprihatinkan dan masih
memerlukan upaya perbaikan.
Kekurangan proporsi ruang terbuka hijau publik di Kota
Karanganyar, tidak berarti bahwa Kota Karanganyar kekurangan ruang
hijau. Walaupun proporsi ruang terbuka hijau publik masih dibawah 20
% ditiap kelurahan, tetapi ruang terbuka hijau privat yang didominasi
oleh perkebunan dan sawah memungkinkan untuk melengkapi
kekurangan proporsi ruang hijau di Kota Karanganyar.
Dari hasil yang diperoleh dari studi ini, diperkirakan baru sekitar
10 % - 20 % saja yang memiliki kelengkapan sarana pendukung yang
kondisinya baik. Bahkan ada beberapa lokasi yang belum memiliki
kelengkapan sarana pendukung tersebut. Pada jalur hijau di sempadan
sungai dan sekitar waduk, pihak pengelola belum mengupayakan
bagaimana pengelolaan untuk kedepannya.

B. REKOMENDASI
Rekomendasi disusun berdasarkan hasil temuan studi yang
dilakukan oleh peneliti. Dalam penelitian ini, rekomendasi diberikan
kepada pengelola, masyarakat dan peneliti selanjutnya.
1. Untuk Pihak Pengelola :
Bekerja sama dengan pihak swasta untuk mengembangkan
ruang terbuka hijau publik bersama.
Revitalisasi ruang terbuka hijau publik dan merata dengan
mengacu pada prinsip keberlanjutan dan berwawasan
lingkungan. Perlunya peningkatan jumlah tenaga ahli serta
tenaga pekerja dalam hal pengelolaan ruang terbuka hijau
publik.

109
Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar
Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

Memanfaatkan ruang-ruang terbuka untuk penghijauan agar


bisa lebih maksimal.
Mengelola serta meningkatkan ruang terbuka hijau di pinggiran
kota.
Melengkapi data luasan serta peta sebaran ruang terbuka hijau
publik di Kota Karanganyar agar lebih memudahkan pengelolaan
dan pengembangannya.
2. Untuk Masyarakat:
Masyarakat dapat bekerjasama dengan pihak pengelola untuk
meningkatkan dan menjaga kualitas ruang terbuka hijau publik
di Kota Karanganyar. Peran serta masyarakat dapat berupa :
- Mengadakan kerja bakti setiap satu atau dua minggu sekali
untuk membersihkan lingkungan disekitar tempat tinggal
mereka.
- Mengadakan kegiatan penanaman pohon untuk mengurangi
dampak polusi udara.
- Memberikan penyuluhan terhadap masyarakat akan arti
pentingnya ruang hijau dan bagaimana mengelola ruang
yang baik.

3. Untuk Peneliti Selanjutnya:


Peneliti selanjutnya diharapkan dapat lebih mempertajam isi
dari lanjutan studi ini agar dapat melanjutkan kajian ini dengan
lebih detail pada masing-masing ruang terbuka hijau publik yang
ada, sehingga bisa dibuat suatu kebijakan atau pedoman.

110
Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar
Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

DAFTAR PUSTAKA

Referensi dari Kebijakan dan Undang-Undang

________,Rencana Detail Tata Ruang Kota Kecamatan Karanganyar,


Karanganyar : Bappeda Dati II Karanganyar
________,Peraturan Bupati Karanganyar no.37 Tahun 2006 tentang Tarif
Retribusi Pemakaman. Karanganyar : 2006
________,Peraturan Menteri Dalam Negeri no. 1 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.
________,Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor : 05/Prt/M/2008
Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka
Hijau Di Kawasan Perkotaan. Dept. Pekerjaan Umum. Jakarta, 2008
________,Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no. 63 Tahun 1993 tentang Garis
Sempadan Sungai. Dept. Pekerjaan Umum, Jakarta, 1993
________,SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan
Perumahan di Perkotaan. Dept. Kimpraswil. Jakarta, 2004
________,UU nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dept. Pekerjaan
Umum. Jakarta, 2007
________,UU nomor 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup. Dept.Pekerjaan
Umum. Jakarta, 2009

Referensi dari Buku

Barrow, C. J. 1999. Environmental Management. London : Routledge


Budiharjo, Eko dan Sudanti, H. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan. Alumni :
Bandung
Dahlan, Endes Nurfilmarasa. 2004. Membangun Kota Kebun (Garden City)
Bernuansa Hutan Kota. Bandung: IPB Press
Darmawan, Edy, Prof Ir, M.Eng. 2009. Ruang Publik Dalam Arsitektur Kota.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Direktorat Jendral Penataan Ruang. 2006. Ruang Terbuka Hijau Sebagai
Unsur Utama Tata Ruang Kota. Dept. Pekerjaan Umum. Jakarta
Fathoni, Abdurrahmat , Prof Dr H, Msi. 2006. Metode Penelitian dan Teknik
Penyusunan Skripsi. Rineka Cipta
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung :
Alfabeta
Singarimbun, Effendi. 1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES

Referensi dari Tesis dan Tugas Akhir

Budiyono. 2006. Kajian Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota


Sebagai Sarana Ruang Publik (Studi Kasus Kawasan Sentra Timur
Dki Jakarta). Tesis Insitut Pertanian Bogor

111
Studi Peran & Efektifitas RTH Publik di Kota Karanganyar
Isnaeny Adhi Nurmasari I0606028

Referensi dari Internet

Marshmallow. Kenapa Harus Ada Taman Kota. http://hemmayulfi.blogspot.com/,


diakses 6/04/10
Moleong, J Lexy. Konsep Dasar Analisis Data. http://ayead.blogspot.com/,
diakses 1/03/10
Scarlet, QQ. Ruang Terbuka Hijau. http://id.shvoong.com/social-sciences/,
diakses 4/05/10

112